• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

80 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Metode Penelitian

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif, karena penelitian ini akan mengungkapkan data-data objektif, terukur, dan sistematis mengenai karakteristik motivasi belajar khususnya peserta didik SMAN 1 Cimalaka. Selain itu juga pengumpulan data penelitian berupa angka-angka dan dianalisis menggunakan statistik.Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sukmadinata (2008:53) bahwa penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivism yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif.Maksimalisasi objektivitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, dan pengolahan statistik.

Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif yanag akan mendeskripsikan motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik SMA khususnya peserta didik SMAN 1 Cimalaka sebagai dasar untuk pengembangan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Menurut Sukmadinata (2008:54) penelitian deskriptif (descriptive research) adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau.Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan tertentu terhadap variabel atau merancang sesuatu yang diharapkan terjadi pada variabel, tetapi semua kegiatan, keadaan, kejadian, aspek, komponen atau variabel berjalan sebagaimana adanya.Penelitian ini berkenaan dengan keadaan atau kejadian-kejadian yang bisa berjalan.Satu-satunya unsur manipulasi atau perlakuan yang diberikan hanyalah penelitian itu sendiri, yang dilakukan melalui pengedaran angket dan studi dokumentasi.

Hasil penelitian akan mendeskripsikan motivasi belajar peserta didik kelas XI khususnya di SMAN 1 Cimalaka yang menjadi data awal dalam

(2)

pengembangan program bimbingan dan konseling belajar yang secara hipotetik dapat meningkatkan motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik.

Data awal pengukuran kebutuhan penyusunan program bimbingan belajar untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik diambil berdasarkan motivasi belajar.Empat tahapan kegiatan program bimbingan yang layak dilaksanakan meliputi sebagai berikut:

1. Tahap pengidentifikasian, pengidentifikasian dilakukan melalui penyebaran angket kepada peserta didik yaitu identifikasi tentang motivasi belajar peserta didik.

2. Tahap pengembangan program layanan bimbingan dan konseling belajar di SMAN 1 Cimalaka berdasarkan kajian terhadap data hasil pengidentifikasian.

3. Tahap diskusi program hipotetik. Sebagai pertimbangan dalam pengembangan program untuk menguji kelayakan sebuah program langkah berikutnya adalah melakukan pertimbangan (judgement) kepada dosen dan guru bimbingan dan konseling.

4. Tahap penyempurnaan program. Setelah

melaksanakanpertimbangkanprogram disempurnakan dan dinyatakan sebagai program yang layak untuk dilaksanakan.

B. Batasan Masalah 1. Batasan Konseptual

Mc. Donald (Oemar Hamalik, 1992: 173) mengatakan bahwa, motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Belajar menurut Cronbach (Djamarah, 2002:13) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experiences. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.

Melihat pemaparan diatas, motivasi belajar dalam penelitian ini merupakan perubahan energi atau dorongan dari dalam diri (internal) maupun luar

(3)

diri (eksternal) individu untuk melakukan aktivitas yang dapat merubah perilaku menjadi lebih baik sebagai hasil dari pengalaman yang sudah diperoleh.

Penelitian ini berdasar pada konsep teori motivasi jenjang kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow.Setiap individu memiliki keinginan dan harapan yang dianggap sebagai kebutuhan dalam hidupnya.Pada hakikatnya setiap individu selalu dituntut dan berkeinginan untuk melakukan hal yang lebih setelah selesai melakukan suatu pekerjaan untuk melanjutkan pekerjaan yang lain dan mendapatkan sesuatu yang lebih baik lagi. Maslow sangat percaya bahwa perilaku manusia dibangkitkan dan diarahkan oleh kebutuhan-kebutuhan tertentu, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan aktualisasi diri, mengetahui dan mengerti, dan kebutuhan estetik. Kebutuhan-kebutuhan inilah menurut Maslow yang mampu memotivasi perilaku individu (Djamarah, 2002:114-115).

Maslow (Uno, 2011) mengemukakan lima tingkatan atau hierarki kebutuhan setiap individu, yaitu: (1) Kebutuhan Fisiologis: kebutuhan yang harus dipuaskan untuk dapat tetap hidup, termasuk makanan, perumahan, pakaian, udara untuk bernapas, dan sebagainya; (2) Kebutuhan Rasa Aman: setelah kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi, perhatian dapat diarahkan kepada kebutuhan akan keselamatan. Keselamatan itu, termasuk merasa aman dari setiap jenis ancaman fisik atau kehilangan, serta merasa terjamin; (3) kebutuhan akan Cinta Kasih atau Kebutuhan Sosial: ketika seseorang telah memuaskan kebutuhan fisiologis dan rasa aman, kepentingan berikutnya adalah hubungan antarmanusia. Cinta kasih dan kasih sayang yang diperlukan pada tingkat ini, mungkin disadari melalui hubungan-hubungan antarpribadi yang mendalam, tetapi juga dicerminkan dalam kebutuhan untuk menjadi bagian berbagai kelompok sosial; (4) Kebutuhan akan Penghargaan: percaya diri dan harga diri maupun kebutuhan akan pengakuan orang lain; (5) Kebutuhan Aktualisasi Diri: kebutuhan tersebut ditempatkan paling atas pada hierarki Maslow dan berkaitan dengan keinginan pemenuhan diri. Ketika semua kebutuhan lain sudah terpenuhi individu ingi mencapai secara penuh potensi yang dimilikinya.

(4)

Dasar teori di atas mengalami perkembangan menjadi lebih detail dalam penentuan hierarkinya. Hierarki kebutuhan Maslow terbagi atas dua bagian utama yaitu: (1) kebutuhan dasar, berada pada hierarki paling bawah yang terdiri dari: (a) kebutuhan fisiologis, (b) kebutuhan akan rasa aman, (c) kebutuhan untuk dicintai, (d) kebutuhan untuk dihargai; dan (2) kebutuhan tumbuh, yang berada di atas kebutuhan dasar, kebutuhan ini adalah: (a) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami, (b) kebutuhan keindahan, (c) kebutuhan aktualisasi diri. Pembagian hierarki ini semakin memperjelas tingkatan-tingkatan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap individu. Pengembangan teori ini menjadikan teori jenjang kebutuhan lebih spesifik dalam penentuan jenjang kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap individu.Selain itu, hierarki tersebut lebih memperjelas tingkatan yang dilalui oleh individu dalam pemenuhan kebutuhannya dengan pembagian antara kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh.

Konsep penting yang diperkenalkan oleh Maslow adalah perbedaan antara kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh.Kebutuhan dasar adalah kebutuhan yang penting untuk kebutuhan fisik dan psikologis yang harus terpenuhi. Sebaliknya kebutuhan tumbuh, sebagai misal kebutuhan untuk mengetahui dan memahami sesuatu, menghargai keindahan atau menumbuhkan dan mengembangkan apresiasi (penghargaan) dari orang lain belum dapat dipenuhi secara keseluruhan. Namun bila kebutuhan yang lebih dasar dapat terpenuhi oleh individu maka semangat untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi akan meningat. Semakin banyak individu dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka akan mengetahui dan memahami dunia di sekeliling mereka, begitupun dengan motivasi belajar mereka dapat menjadi semakin besar dan kuat. Motivasi peserta didik untuk belajar akan menjadi dasar dalam proses belajar yang dilakukan peserta didik untuk memenuhi setiap jenjang hierarki kebutuhan yang dilaluinya untuk dapat mengaktualisasikan diri yang diwujudkan dengan meraih prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin terjadi proses belajar. Proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik hendaklah didasarkan

(5)

pada suatu kewajiban dan motif-motif tertentu yang akan mendorong dan memberikan motivasi kepada peserta didik untuk meningkatkan usaha-usaha dalam proses belajar sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapakan. Proses belajar yang dilakukan atas dasar kewajiban namun tidak memiliki motif yang mengarahkan pada satu tujuan yang harus dicapai, akan menghasilkan proses belajar yang kurang baik bahkan cenderung seenaknya dan hasil belajar yang kurang baik.

Berbeda dengan proses belajar yang sudah menjadi kebutuhan bagi para peserta didik. Proses belajar yang sudah menjadi kebutuhan karena didasari oleh pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri akan memberikan motivasi dan semangat yang besar kepada individu tersebut untuk melakukan kegiatan belajar dengan baik dan sungguh-sungguh yang mengarah pada satu tujuan yang harus dicapai. Keinginan tersebut disebabkan oleh motivasi yang ada dalam diri sendiri maupun dari lingkungan seperti dorongan orang tua, dorongan untuk meraih prestasi belajar di kelas, bersaing untuk mendapatkan nilai sebagai hasil belajar yang memuaskan, menghadapi tuntutan dan persaingan global yang ada di lingkungan masyarakat dan sebagainya.

Menurut Surya (2003) motivasi mempunyai karakteristik: (1) sebagai hasil dari kebutuhan, (2) terarah kepada suatu tujuan, (3) menopang perilaku. Motivasi dapat dijadikan sebagai dasar penafsiran, penjelasan, dan penaksiran perilaku.Motivasi muncul dalam setiap individu agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dimulai dari yang paling dasar hingga ke tahap yang paling tinggi dengan memenuhi setiap tingkatan kebutuhan yang dimilikinya. Setiap individu yang sudah melewati satu tingkatan kebutuhan akan memiliki motivasi untuk melanjutkan memenuhi kebutuhannya yang lebih tinggi. Motivasi yang dimiliki oleh setiap individu memiki tujuan akhir pada setiap jenjang pemenuhan kebutuhan yang akan menjadi dasar dalam perilaku keseharian dalam usaha belajar yang dilakukannya. Peserta didik yang memiliki kebutuhan tumbuh dan tujuan yang terarah dalam hidupnya akan menunjukkan perilaku yang selaras dan motivasi yang kuat untuk dapat memenuhi kebutuhannya dan mencapai tujuan yang dia miliki dalam proses belajarnya.

(6)

Motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menentukan tinggi atau rendahnya motivasi yang dimiliki oleh peserta didik. Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik adalah (1) faktor internal yang disebabkan oleh kondisi fisik, cita-cita yang dimiliki dan kondisi psikologis peserta didik; (2) faktor lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat; dan (3) faktor lingkungan keluarga yang dipengaruhi keharmonisan di dalam keluarga dan harapan orang tua.

Berdasarkan pemaparan di atas, batasan motivasi belajar pada penelitian ini adalah dorongan untuk mewujudkan perilaku atau aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman belajar untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri sebagai peserta didik berupa pencapaian prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik.

2. Batasan Konstektual

Penelitian akan lebih terarah dan terfokus pada masalah motivasi belajar yang dikemukakan di atas, maka peneliti memberikan batasan yaitu subjek yang diambil pada penelitian ini adalah peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka Tahun Ajaran 2012. Sampel penelitian diambil dari Kelas XI karena beberapa faktor pertimbangan sebagai berikut :

a. Secara psikologis, peserta didik kelas XI berada pada masa remaja yang sedang mencari jati diri dan memiliki semangat untuk mencari pembelajaran dalam hidupnya.

b. Peserta didik kelas XI mulai menimba ilmu lebih terfokus pada jurusan IPA, IPS atau Bahasa, sehingga gambaran mengenai motivasi belajar peserta didik dapat lebih heterogen berdasarkan jurusan yang ada.

c. Peserta didik kelas XI sudah memiliki pengalaman belajar sebagai hasil dari adapasi pada saat kelas X dan telah memiliki data yang lebih lengkap seperti hasil tes intelegensi, nilai rapot kelas X, dan prestasi belajar selama kelas X yang dapat menunjang untuk melengkapi gambaran motivasi yang dimiliki oleh peserta didik.

(7)

d. Motivasi belajar harus dimiliki oleh setiap individu sejak dini untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mencapai prestasi belajar yang optimal, sebagai pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri.

C. Definisi Operasional Variabel

Mc. Donald (Oemar Hamalik, 1992: 173) mengatakan bahwa, motivation is a energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reactions. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan. Belajar menurut Cronbach (Djamarah, 2002:13) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experiences. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.

Melihat pemaparan di atas, motivasi belajar dalam penelitian ini merupakan perubahan energi atau dorongan dari dalam diri (internal) maupun luar diri (eksternal) individu untuk melakukan aktivitas yang dapat merubah perilaku menjadi lebih baik sebagai hasil dari pengalaman yang sudah diperoleh.

Menurut Surya (2003) Motivasi mempunyai karakteristik: (1) sebagai hasil dari kebutuhan, (2) terarah kepada suatu tujuan, (3) menopang perilaku.Motivasi dapat dijadikan sebagai dasar penafsiran, penjelasan, dan penaksiran perilaku.Motivasi muncul dalam setiap individu agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dimulai dari yang paling dasar hingga ke tahap yang paling tinggi dengan memenuhi setiap tingkatan kebutuhan yang dimilikinya. Setiap individu yang sudah melewati satu tingkatan kebutuhan akan memiliki motivasi untuk melanjutkan memenuhi kebutuhannya yang lebih tinggi. Motivasi yang dimiliki oleh setiap individu memiki tujuan akhir pada setiap jenjang pemenuhan kebutuhan yang akan menjadi dasar dalam perilaku keseharian dalam usaha belajar yang dilakukannya. Peserta didik yang memiliki kebutuhan tumbuh dan tujuan yang terarah dalam hidupnya akan menunjukkan perilaku yang selaras dan motivasi yang kuat untuk dapat memenuhi kebutuhannya dan mencapai tujuan yang dia miliki dalam proses belajarnya.

(8)

Motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menentukan tinggi atau rendahnya motivasi yang dimiliki oleh peserta didik. Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar peserta didik adalah (1) faktor internal yang disebabkan oleh kondisi fisik, cita-cita yang dimiliki dan kondisi psikologis peserta didik; (2) faktor lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat; dan (3) faktor lingkungan keluarga yang dipengaruhi keharmonisan di dalam keluarga dan harapan orang tua.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan motivasi belajar adalah dorongan yang dimiliki oleh peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka untuk mewujudkan perilaku atau aktivitas yang ditunjukkan dengan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman belajar untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri, berupa pencapaian nilai prestasi belajar maksimal, yang diungkap kuesioner dan pencapaian nilai prestasi belajar, sebagai gambaran pencapaian aktualisasi diri.

Indikator ketercapaian motivasi belajar dalam penelitian ini merujuk pada teori hierarki kebutuhan manusia dalam memenuhi setiap jenjang kebutuhan dalam hidup manusia yang dikemukakan oleh Abraham Maslow. Konsep teori tersebut diadaptasikan dengan tingkat motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik dalam proses belajarnya dari mulai belajar sebagai kebutuhan dasar sampai kepada tingkat kebutuhan aktualisasi diri. Karakteristik motivasi belajar tersebut meliputi aspek-aspek belajar sebagai:

1. Kebutuhan Fisiologis

Pada proses belajar, aplikasi dari tahap kebutuhan yang paling mendasar ini adalah peserta didik menjadikan proses belajar sebagai kebutuhan pokok utuk dapat mempertahan hidup (survival). Sehingga proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik dilakukan atas dasar dari dalam diri bukan lagi karena tuntutan dari orang lain seperti orang tua. Pencapaian belajar dalam tahap kebutuhan ini, akan dapat dilihat dengan indikator:

a. dapat belajar dengan baik pada saat kebutuhan fisik terpenuhi, b. adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar dan

c. tidak mudah putus asa dalam belajar. 2. Kebutuhan Rasa Aman

(9)

Bagi remaja, untuk pemenuhan kebutuhan rasa aman ini perlu diciptakan iklim kehidupan yang memberi kebebasan untuk berekspresi yang kondusif yang dapat memberikan pembelajaran yang positif terhadap remaja untuk menyelesaikan tugas perkembannya secara optimal.Oleh karena itu, pemberian kebebasan berekspresi kepada remaja pun perlu bimbingan dari orang dewasa untuk mencegah terjadinya maladjustment yang dapat menimbulkan perilaku-perilaku salahsuai dalam perkembangannya. Aplikasi kebutuhan rasa aman ini dalam proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik dapat ditandai dengan indikator peserta didik:

a. memiliki usaha untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri.

b. memiliki dorongan belajar yang lebih baik dari sebelumnya. 3. Kebutuhan Pengakuan dan Kasih Sayang

Kebutuhan akan kasih sayang, atau mencintai dan dicintai dapat dipenuhi melalui hubungan yang akrab dengan orang lain. Perumusan makna cinta disini, Maslow sependapat dengan rumusan cinta dari Rogers yaitu: keadaan dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati. Maslow berpendapat bahwa kegagalan dalam mencapai kepuasan kebutuhan cinta atau kasih sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional atau maladjustment. Peserta didik yang melakukan proses belajar untuk memenuhi kebutuhan pengakuan dan kasih sayang dapat terlihat dengan indikator:

a. dorongan untuk diterima oleh orang lain di kelas dalam belajar, dan b. kemampuan peserta didik untuk mengelola emosi dalam proses belajar

dengan menerima hasil belajar. 4. Kebutuhan Penghargaan

Pemenuhan kebutuhan penghargaan dalam proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik di sekolah dapat terlihat dengan indikator:

a. memiliki kemampuan menghargai diri sendiri dalam proses dan hasil belajar,

b. memiliki kemampuan untuk bersaing dalam belajar dengan orang lain, c. adanya penghargaan dalam belajar.

(10)

5. Kebutuhan Kognitif

Perkembangan remaja yang sudah masuk dalam tahap berfikir operasional formal yang suda mulai mencari segala sesuatu lebih mendalam dengan kemampuan berfikir abstrak yang dimilikinya sehingga mampu menganalisis suatu fenomena.Hal tersebut menyebabkan rasa ingin tahu yang lebih besar dari para remaja terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya. Pemenuhan kebutuhan ini dilakukan oleh peserta didik dengan indikator:

a. peserta didik aktif bertanya pada proses pembelajaran, b. memiliki minat yang tinggi dalam belajar,

c. memiliki konsentrasi pada saat belajar, dan d. keinginan menambah pengetahuan.

6. Kebutuhan Estetik

Kontribusi kebutuhan estetik dalam pemenuhan kebutuhan peserta didik akan belajar adalah memunculkan rasa nyaman dan peserta didik mampu memahami karakteristik belajar yang sesuai dengan gaya belajarnya dan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Peserta didik yang memiliki motivasi belajar untuk memenuhi belajar sebagai kebutuhan keindahan dapat diukur dengan indikator:

a. mengikuti kegiatan ekstrakulikuler secara aktif sesuai dengan minat dan bakat,

b. menyukai keindahan dan kerapihan dalam proses belajar, dan c. menciptakan kegiatan yang menarik dalam belajar.

7. Kebutuhan Aktualisasi Diri

Kebutuhan aktualisasi diri yang dapat diraih oleh peserta didik adalah dengan memperoleh prestasi belajar yang maksimal sebagai hasil dari proses belajar. Prestasi belajar yang diraih tersebut disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan pemahaman yang dimilik oleh diri sendiri sehingga peserta didik merasa puas dengan hasil yang dicapai setelah berusaha sendiri, sehingga peserta didik memiliki perencaan yang matang untuk merih cita-cita yang diinginkannya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Motivasi yang dimiliki oleh peserta didik dalam pemenuhan kebutuhan ini ditandai dengan indikator:

(11)

a. adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil, b. adanya harapan dan cita-cita masa depan, dan c. mampu mewujudkan prestasi yang terbaik. D. Penentuan Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka Tahun Ajaran 2012-2013. Sampel penelitian diambil dari Kelas XI karena beberapa faktor pertimbangan sebagai berikut:

a. Secara psikologis, peserta didik kelas XI berada pada masa remaja yang sedang mencari jati diri dan memiliki semangat untuk mencari pembelajaran dalam hidupnya.

b. Motivasi belajar harus dimiliki oleh setiap individu sejak dini untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mencapai prestasi belajar yang optimal, sebagai pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri.

c. Selain itu, peserta didik kelas XI telah memilki pengalaman belajar di kelas X sebagai hasil dari adaptasi yang akan memberikan dasar dalam penyesuaian cara belajar dan kebutuhan belajar yang dimiliki olehnya, sehingga peserta didik dapat menjaga motivasinya untuk dapat tetap melakukan proses belajar dengan optimal.

Adapun jumlah populasi pada penelitian ini adalah 296 peserta didik yang terbagi dalam tiga jurusan dengan jumlah keseluruhan 9 rombongan belajar sebagai berikut:

Tabel 3.1 Anggota Populasi

No. Jurusan Kelas Peserta

didik Jumlah Peserta didik

1 IPA XI IPA 1 36 143 XI IPA 2 36 XI IPA 3 36 XI IPA 4 35 2 IPS XI IPS 1 33 133 XI IPS 2 32 XI IPS 3 33

(12)

No. Jurusan Kelas Peserta

didik Jumlah Peserta didik

XI IPS 4 35

3 Bahasa XI BHS 20 20

Total Peserta didik 296

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah pengambilan acak sederhana (simple random sampling), yang berarti seluruh individu yang menjadi anggota populasi memiliki peluang yang sama dan bebas dipilih sebagai anggota sampel. Setiap individu memiliki peluang yang sama untuk diambil sebagai sampel, karena individu-individu tersebut dianggap memeliki karakteristik yang sama. Setiap individu juga bebas dipilih karena pemilihan individu-individu tersebut tidak akan mempengaruhi individu yang lainnya (Sukmadinata, 2008: 255).

Surakhmad (Jarnadiyanto, 2010: 71) menyarankan, apabila ukuran populasi sebanyak kurang atau sama dengan 100, pengambilan sampel sekurang– kurangnya 50% dari populasi. Apabila ukuran populasi sama atau lebih dari 100, ukuran sampel diharapkan sekurang – kurangnya 15% - 50% dari jumlah populasi.

Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Riduwan (2006:65) yaitu sebagai berikut:

S = 19% + 1000 – n (50% - 15 %) 1000 – 100

Dimana :

S = jumlah sample yang diambil n = jumlah anggota populasi

S = 19% + 1000 – 296 (50% - 15 %) 1000 – 100 S = 19% + 704 (35 %) 900 S = 19% + 0,782 (35 %) S = 19% + 27,37 %

(13)

S = 19% + 27,37 % S = 46,37 %

Dari hasil perhitungan di atas, maka jumlah sampel penelitian sebesar 46,37 % x 296 = 137,26 = 137 peserta didik.

E. Teknik Pengumpulan Data

Terdapat banyak cara dalam mengumpulkan data yang dapat digunakan dalam sebuah penelitian. Teknik yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan peneliti dan tujuan dari penelitian itu sendiri.Dalam penelitian, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah penyebaran instrumen untuk mendapatkan gambaran karakteristik motivasi belajar yang dimiliki oleh peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka Tahun Ajaran 2012-2013.Instrument yang digunakan beruapa angket berstruktur dengan bentuk jawaban tertutup.Responden diminta untuk memilih alternatif respon dari setiap butir pernyataan yang sudah disediakan.Data yang diperoleh dalam penelitian berupa angka-angka yang diolah dengan pemberian bobot skor pada tiap item pernyataan instrument penelitian.

Angket atau kuesioner dalam penelitian digunakan untuk memperoleh data tentang karakteristik motivasi belajar peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka Tahun Ajaran 2012-2013. Terlebih dahulu dirumuskan kisi-kisi instrumen berdasarkan indikator yang memuat aspek pemenuhan kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan pengakuan dan kasih sayang, kebutuhan penghargaan, kebutuhan kognitif, kebutuhan estetika dan kebutuhan aktualisasi diri. Perumusan kisi-kisi instrumen disajikan dalam tabel 3.2.

Tabel 3.2

Kisi-kisi Instrumen Motivasi Belajar

No Aspek Indikator Pernyataan

+ -

1 Kebutuhan Fisiologis

a. Dapat belajar dengan baik pada saat kebutuhan fisik terpenuhi.

1, 2, 4, 5

3 5

b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar

6,7,8, 10

9 5

(14)

No Aspek Indikator Pernyataan

+ -

belajar 13

2 Kebutuhan Rasa Aman

a. Memiliki usaha untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri

16, 18, 17,19, 20

5

b. Memiliki dorongan belajar yang lebih baik dari sebelumnya 21, 23, 24, 22, 25, 26, 27 7 3 Kebutuhan pengakuan dan kasih sayang

a. Dorongan untuk diterima oleh orang lain di kelas dalam belajar.

28, 29, 30, 31

32 5

b. Kemampuan peserta didik untuk mengelola emosi dalam proses belajar dengan

menerima hasil belajar.

33, 34 35.36 4

4 Kebutuhan Penghargaan

a. Kemampuan menghargai diri sendiri dalam proses dan hasil belajar

37,38, 39

40 4

b. Kemampuan untuk bersaing dalam belajar dengan orang lain

41,42, 43, 44

45 5

c. Adanya penghargaan dalam belajar 46, 47, 48, 49 50 5 5 Kebutuhan Kognitif

a. Peserta didik aktif bertanya pada proses pembelajaran

51, 52, 53, 54

55 5 b. Memiliki minat yang tinggi

dalam belajar

56,57 58, 59, 60

5 c. Memiliki konsentrasi pada

saat belajar 61, 62, 63 64, 65 5 d. Keinginan menambah pengetahuan 66, 67 68,69 4 6 Kebutuhan Estetika

a. Menyukai keindahan dan kerapihan dalam proses belajar

70, 71, 72

73, 74 5

b. Menciptakan kegiatan yang menarik dalam belajar

75, 77 76, 78, 79

5 c. Mengikuti kegiatan

ekstrakurikuler secara aktif sesuai dengan minat dan bakat. 80, 81 82, 83, 84, 5 7 Kebutuhan Aktualisasi diri

a. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil

85, 86, 88, 89

(15)

No Aspek Indikator Pernyataan

+ -

b. Adanya harapan dan cita-cita masa depan

90, 91, 94

92, 93 5 c. Mampu menunjukkan prestasi

yang terbaik

95, 96, 98

97 4

Jumlah Item 61 37 98

F. Uji Coba Alat Pengumpul Data 1. Uji Kelayakan Instrumen

Uji kelayakan instrument bertujuan untuk mengetahui kelayakan alat ukur dari segi konstruk, isi dan bahasa yang sesuai dengan kebutuhan. Apabila terdapat butir pernyataan yang tidak sesuai, maka butir pernyataan tersebut akan dibuang atau direvisi sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian.

Uji kelayakan dilakukan oleh dua dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yaitu Dra. S.A. Lily Nurillah, M.Pd., dan Eka Sakti Yudha, M.Pd., serta satu dosen Jurusan Paedagogik yaitu Dr. H. Mubiar Agutin, M.Pd.. Hasil uji kelayakan, ada pengajuan dari penimbang untuk menambahkan satu indikator pada aspek kebutuhan fisiologis, yaitu dapat belajar dengan baik pada saat kebutuhan fisik terpenuhi. Selain dilakukan penambahan indikator tersebut, dari 98 item pernyataan, semuanya dapat digunakan meski ada beberapa pernyataan yang harus diperbaiki seperti yang tertera pada tabel 3.3 berikut.

Tabel 3.3

Hasil Judgment Instrumen

Kesimpulan Nomor Item Jumlah

Memadai 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 41, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95, 96, 97, 98 88 Revisi 10, 11, 13, 19, 21, 30, 31, 42, 53, 54 10 Buang --- 0 2. Uji Keterbacaan

Uji keterbacaan bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana instrument yang dikembangkan dapat dipahami oleh peserta didik kelas XI

(16)

SMAN 1 Cimalaka. Uji keterbacaan instrument dilakukan kepada lima peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka yang tidak termasuk dalam sampel penelitian.

Berdasarkan hasil uji keterbacaan, responden dapat memahami dengan baik seluruh pernyataan yang baik dari segi bahasa maupun makna yang terdapat dalam pernyataan, dengan demikian dapat disimpulkan seluruh item pernyataan dapat digunakan dan mudah dimengerti oleh peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka.

3. Uji validitas dan Reliabilitas

Uji validitas dan reliabilitas merupakan kriteria utama dalam penelitian kuantitatif terhadap data hasil penelitian.Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjdi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh peneliti.Sedangkan reliabilitas merupakan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan.

Validitas dan reliabilitas instrumen dapat diketahui setelah dilakukan uji coba.Uji coba angket dilakukan kepada 30 peserta didik kelas XI SMAN 1 Cimalaka Tahun Ajaran 2012-2013 dengan diberitahukan terlebih dahulu petunjuk pengisian angket sebelum mengisi angket.

a. Validitas butir

Pengujian validitas butir yang dilakukan dalam penelitian adalah dengan mengkorelasikan skor butir dengan skor total.Uji validitas dilakukan dengan menggunakan Microsoft Office Excel 2007. Pengujian validitas alat pengumpul data menggunakan rumus korelasi pearson product-moment dengan skor mentah.

rxy = 𝑁∑XY − ∑X (∑Y)

{𝑁∑X2− ∑X)2 {𝑁∑Y2− ∑Y)2

Keterangan (Arikunto, 2007:72): rxy = Koefisien korelasi ∑x = Jumlah skor item

∑y = Jumalh total (seluruh item ∑xy = Jumlah perkalian x dan y N = Jumlah responden

Pengujian validitas butir dilakukan terhadap 98 butir pernyataan dengan jumlah subjek 30 peserta didik, dari 98 butir pernyataan diperoleh 64 butir

(17)

pernyataan yang valid dan 34 butir pernyataan yang tidak valid dengan korelasi rata-rata 2, 06.

Tabel 3.4

Hasil Uji Validitas Instrumen

Keterangan Nomor item

Valid 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 22, 24, 25, 26, 28, 31, 33, 34, 38, 39, 41, 43, 44, 47, 48, 50, 51, 53, 55, 57, 58, 59, 61, 62, 65, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85, 86, 87, 88, 89, 90, 91, 95. 64 Tidak Valid 1,2, 5, 19, 21, 23, 27, 29, 30, 32, 35, 36, 37, 40, 42, 45, 46, 49, 52, 54, 56, 60, 63, 64, 66, 76, 77, 78, 92, 93, 94, 96, 97, 98. 34

Setelah dilakukan uji validitas terhadap instrument yang diuji cobakan, maka bentuk instrument yang layak digunakan hanya 64 butir sebagaimana yang dipaparkan dalam tabel 3.5 dibawah ini.

Tabel 3.5

Instrument Motivasi Belajar Setelah Uji Validitas

No. Aspek Indikator Pernyataan

+ -

1 Kebutuhan Fisiologis

a. Dapat belajar dengan baik pada saat kebutuhan fisik terpenuhi.

1 2 2

b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar

3, 4, 5, 7

6 5

c. Tidak mudah putus asa dalam belajar

8,9, 10 11,12 5 2 Kebutuhan Rasa

Aman

a. Memiliki usaha untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri

13, 15, 14, 16 4

b. Memiliki dorongan belajar yang lebih baik dari sebelumnya 17, 18, 19, 20, 4 3 Kebutuhan pengakuan dan kasih sayang

a. Dorongan untuk diterima oleh orang lain di kelas dalam belajar.

21, 22 2

b. Kemampuan peserta didik untuk mengelola emosi dalam proses belajar dengan

(18)

No. Aspek Indikator Pernyataan

+ -

menerima hasil belajar. 4 Kebutuhan

Penghargaan

a. Kemampuan menghargai diri sendiri dalam proses dan hasil belajar

25, 26 2

b. Kemampuan untuk bersaing dalam belajar dengan orang lain

27, 28, 29

3

c. Adanya penghargaan dalam belajar

30, 31, 32 3 5 Kebutuhan

Kognitif

a. Peserta didik aktif bertanya pada proses pembelajaran

33, 34, 35

3 b. Memiliki minat yang tinggi

dalam belajar

36 37, 38, 3 c. Memiliki konsentrasi pada

saat belajar 39, 40, 41 3 d. Keinginan menambah pengetahuan 42 43,44 3 6 Kebutuhan Estetika

a. Menyukai keindahan dan kerapihan dalam proses belajar

45, 46, 47

48, 49 5

b. Menciptakan kegiatan yang menarik dalam belajar

50, 51 2

c. Mengikuti kegiatan

ekstrakurikuler secara aktif sesuai dengan minat dan bakat. 52, 53 54, 55, 56, 5 7 Kebutuhan Aktualisasi diri

a. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil

57, 58, 60, 61

59 5 b. Adanya harapan dan cita-cita

masa depan

62, 63, 2

c. Mampu menunjukkan prestasi yang terbaik

64 1

Jumlah Item 42 22 64

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas instrumen merupakan penunjuk sejauh mana hasil pengukuran dengan menggunakan instrumen tersebut dapat dipercaya. Reliabilitas instrumen

(19)

ditunjukkan sebagai derajat keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh oleh subjek penelitian dengan instrumen yang sama dalam kondisi yang berbeda.

Derajat konsistensi diperoleh sebagai proporsi varian skor perolehan subjek dengan memanfaatkan program Microsoft Office Excel 2007. Adapun rumus yangdigunakan dengan metode metode belah dua (split-half method) dimana jumlah butir pernyataan dibagi dua menjadi jumlah pernyataan nomor ganjil dan jumlah pernyataan nomor genap dengan menggunakan rumus Spearmen-Brown sebagai berikut:

𝑟𝑙𝑙 = 2 𝑟 1 2 1 2 (1 + 𝑟 1 2 1 2 ) Keterangan(Arikunto, 2007: 93):

rll = korelasi antara skor-skor setiap belahan tes 𝑟 1 2 1 2 = koefisein reliabilitas yang sudah disesuiakan

Hasil uji reliabilitas menunjukan nilai reliabilitas instrumen (rll) sebesar

0.96009.dengan tingkat kepercayaan 95%, artinya tingkat korelasi atau derajat keterandalan tinggi, yang menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan sudah baik dan dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data.

Keterangan(Arikunto, 2006: 276):

0,00 – 0,199 derajat keterandalan sangat rendah 0,20 – 0,399 derajat keterandalan rendah

0,40 – 0,599 derajat keterandalan cukup 0,60 – 0,799 derajat keterandalan tinggi 0,80 – 1,00 derajat keterandalan sangat tinggi G. Prosedur Pengelolaan Data

1. Penyeleksian data

Penyeleksian data bertujuan untuk memilih data yang memadai untuk diolah berdasarkan kelengkapan jawaban, baik identitas maupun jawaban.Jumlah angket yang terkumpul harus sesuai dengan jumlah angket yang disebar.

(20)

2. Penskoran

Pengukuran instrumen dalam penelitian ini disusun dalam bentuk skala ordinal.Alat yang digunakan dibuat dalam bentuk skala Likert.Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, mengenai motivasi belajar. Alternatif jawaban yang diberikan kepada responden pada angket ini terdiri atas lima pilihan jawaban seperti yang tertera pada tabel 3.6.

Tabel 3.6

Pola Skor Alternatif Respon

Model Summated Ratings (Likert)

Alternatif Jawaban Pemberian Skor Positif (favorable) Negatif (unfavorable) Sangat Sesuai (SS) 5 1 Sesuai (S) 4 2 Ragu-ragu ( R ) 3 3 Tidak Sesuai (TS) 2 4

Sangat Tidak Sesuai (STS) 1 5

Pada alat ukur, setiap item diasumsikan memiliki skor 1-5 dengan bobot tertentu. Bobotnya ialah:

a. Untuk pilihan jawaban sangat sesuai (SS) memiliki skor 5 pada pernyataan positif atau skor 1 pada pernyataan negatif.

b. Untuk pilihan jawaban sesuai (S) memiliki skor 4 pada pernyataan positif atau skor 2 pada pernyataan negatif.

c. Untuk pilihan jawaban ragu-ragu (R) memiliki skor 3 pada pernyataan positif dan negatif.

d. Untuk pilihan jawaban tidak sesuai (TS) memiliki skor 2 pada pernyataan positif atau 4 pada pernyataan negatif.

e. Untuk pilihan jawaban sangat tidak sesuai (STS) memiliki skor 1 pada pernyataan positif atau 5 pada pertanyaan negatif.

3. Pengelompokan Skor

Penentuan pengelompokkan skor digunakan sebagai standardisasi dalam menafsirkan skor yang ditujukan untuk mengetahui makna skor yang dicapai peserta didik dalam pendistribusian respons terhadap instrumen.Pengelompokkan

(21)

skor disusun berdasarkan skor yang diperoleh subjek uji coba pada setiap aspek maupun skor total instrumen. Untuk mengetahui lima katogeri motivasi belajar dilakukan pembuatan kategori dengan langkah-langkah, sebagai berikut:

a. Menghitung skor total masing-masing responden. b. Menentukan nilai ideal tertinggi dan terendah. c. Menentukan selisih dari nilai tertinggi dan terendah. d. Selisih yang didapat kemudian dibagi lima.

e. Hasil selisih yang didapat adalah besar rentang dari kedua kategori. f. Menentukan kategori motivasi belajar:

Hasil penelitian diklasifikasikan ke dalam lima kategori sebagai berikut. Tabel 3.7

Katagori Motivasi Belajar

Rentang Kategori 64-115 Sangat Rendah (SR) 116-167 Rendah (R) 168-219 Sedang (S) 220-271 Tinggi (T) 272-323 Sangat Tinggi (ST)

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penentuan kriteria kategori motivasi belajar peserta didik secara keseluruhan adalah sebegai berikut.

a. Menentukan nilai tertinggi dan terendah dari skor ideal.

Nilai tertinggi: skor maksimal x jumlah pernyataan = 5 x 64 = 320. Nilai terendah: nilai minimal x jumlah pernyataan = 1 x 64 = 64.

b. Menentukan besar rentang antar kelas dengan menghitung selisih antara skor tertinggi dengan skor terendah lalu dibagi 5: (320-64)/5 = 51,2. Sehingga diambil rentang kelas sebanyak 51.

Secara lebih rinci perhitungan skor kriteria motivasi belajar peserta didik pada gambaran umum, setiap aspek dan setiap indikator dijelaskan dalam tabel 3.8.

Tabel 3.8

Kategori Motivasi Belajar berdasarkan Aspek dan Indikator

No. Aspek dan Indikator Katagori Rentang

1. Kebutuhan Fisiologis

SR 12-21

R 22-31

(22)

No. Aspek dan Indikator Katagori Rentang

T 42-51

ST 52-61

a. Dapat belajar dengan baik pada saat kebutuhan fisik terpenuhi

SR 2-3

R 4-5

S 6-7

T 8-9

ST 10-11

b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar SR 5-9 R 10-14 S 15-19 T 20-24 ST 25-29

c. Tidak mudah putus asa dalam belajar

SR 5-9 R 10-14 S 15-19 T 20-24 ST 25-29 2.

Kebutuhan Rasa Aman

SR 8-14

R 15-21

S 22-28

T 29-35

ST 36-42

a. Memiliki usaha untuk menyelesaikan masalah dengan kemampuan sendiri

SR 4-7

R 8-11

S 12-15

T 16-19

ST 20-24

b. Memiliki dorongan belajar yang lebih baik dari sebelumnya SR 4-7 R 8-11 S 12-15 T 16-19 ST 20-23 3.

Kebutuhan Pengakuan dan Kasih sayang

SR 4-7

R 8-11

S 12-15

T 16-19

ST 20-23

a. Dorongan untuk diterima oleh orang lain di kelas dalam belajar

SR 2-3

R 4-5

S 6-7

T 8-9

ST 10-11 b. Kemampuan peserta didik untuk mengelola

emosi dalam proses belajar dengan menerima hasil belajar SR 2-3 R 4-5 S 6-7 T 8-9 ST 10-11

(23)

No. Aspek dan Indikator Katagori Rentang 4 Kebutuhan Penghargaan SR 8-14 R 15-21 S 22-28 T 29-35 ST 36-42

a. Memliki kemampuan menghargai diri sendiri dalam proses dan hasil belajar

SR 2-3

R 4-5

S 6-7

T 8-9

ST 10-11

b. Memiliki kemampuan untuk bersaing dalam belajar dengan orang lain

SR 3-5

R 6-8

S 9-11

T 12-14

ST 15-17

c. Adanya penghargaan dalam belajar

SR 3-5 R 6-8 S 9-11 T 12-14 ST 15-17 5 Kebutuhan Kognitif SR 12-21 R 22-31 S 32-41 T 42-51 ST 52-61

a. Peserta didik aktif bertanya ada proses pembelajaran SR 3-5 R 6-8 S 9-11 T 12-14 ST 15-17

b. Memiliki minat yang tinggi dalam belajar

SR 3-5

R 6-8

S 9-11

T 12-14

ST 15-17

c. Memiliki konsentrasi pada saat belajar

SR 3-5

R 6-8

S 9-11

T 12-14

ST 15-17

d. Keinginan menambah pengetahuan

SR 3-5 R 6-8 S 9-11 T 12-14 ST 15-17 6 Kebutuhan Estetik SR 12-21 R 22-31

(24)

No. Aspek dan Indikator Katagori Rentang

S 32-41

T 42-51

ST 52-61

a. Mengikuti kegiatan ekstrakulikuler secara aktif sesuai dengan minat dan bakat

SR 5-9

R 10-14

S 15-19

T 20-24

ST 25-29

b. Menyukai keindahan dan kerapihan dalam proses belajar SR 2-3 R 4-5 S 6-7 T 8-9 ST 10-11

c. Menciptakan kegiatan yang menarik dalam belajar SR 5-9 R 10-14 S 15-19 T 20-24 ST 25-29 7

Kebutuhan Aktualisasi Diri

SR 8-14

R 15-21

S 22-28

T 29-35

ST 36-42

a. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil

SR 5-9

R 10-14

S 15-19

T 20-24

ST 25-29

b. Adanya harapan dan cita-cita masa depan

SR 2-3

R 4-5

S 6-7

T 8-9

ST 10-11

c. Mampu mewujudkan prestasi yang baik

SR 1-1,9

R 2-2,9

S 3-3,9

T 4-4.9

ST 5-5,9

4. Uji Validitas Program

Program bimbingan belajar diharapkan dapat mengembangkan motivasi belajar peserta didik SMAN 1 Cimalaka. Dimensi-dimensi pengembangan program bimbingan belajar hipotetik yang dianalisis yaitu: rumusan judul, penggunaan istilah, sistematika program, rumusan rasional program, rumusan

(25)

tujuan program, rumusan komponen program, rumusan kompetensi motivasi belajar peserta didik, kesesuaian antar komponen program, struktur Satuan Layanan Bimbingan dan Konseling (SKLBK), teknik evaluasi, dan rumusan indikator keberhasilan.

Teknik yang digunakan dalam menganalisis kelayakan program, adalah sebagai berikut.

a. Uji rasional program melibatkan pakar bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh Dra. S.A. Lily Nurillah, M.Pd., dan Eka sakti Yudha, M.Pd.

b. Uji keterbacaan (readability) program melibatkan guru pembimbing di sekolah yang dilakukan oleh Dra. Euis Arwati.

c. Diskusi terfokus untuk menganalisis kepraktisan model melibatkan beberapa guru pembimbing di SMAN 1 Cimalaka.

H. Prosedur Penelitian

Prosedur dalam pelaksanaan penelitian meliputi langkah-langkah sebagai berikut :

1. Membuat proposal penelitian dan dikonsultasikan dengan dosen mata kuliah Metode Riset Bimbingan Konseling.

2. Persetujuan dari dari dewan skripsi, calon dosen pembimbing skripsi serta Ketua Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan.

3. Mengajukan permohonan pengangkatan dosen pembimbing skripsi pada tingkat fakultas.

4. Mengajukan permohonan izin penelitian dari Jurusan PPB yang memberikan rekomendasi untuk melanjutkan ke tingkat Fakultas dan Rektor UPI, Badan Kesatuan Bangsa, Perlindungan dan Pemberdayaan Provinsi dan Kota Bandung, Kepala Dinas Kota Bandung, kemudian disampaikan pada Kepala Sekolah SMAN 1 Cimalaka.

5. Membuat instrumen penelitian berikut penimbangannya kepada dua dosen dari Jurusan PPB, yaitu: Dra. S.A. Lily Nurillah, M.Pd., dan Eka Sakti

(26)

Yudha, M.Pd., serta dosen Jurususan Paedagogik yaitu Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd.

6. Melaksanakan penelitian dan pengumpulan data di SMAN 1 Cimalaka. 7. Mengolah dan menganalisis data hasil penyebaran instrumen untuk

memperoleh gambaran motivasi belajar dengan motivasi belajar.

8. Pembuatan program bimbingan hipotetik berdasarkan hasil analisis data deskripsi motivasi belajar peserta didik baik dalam bentuk angka maupun analisis situasi dan kondisi sekolah, menentukan program layanan bimbingan yang hendak dicapai, menentukan jenis kegiatan yang akan dilakukan, penetapan metode dan teknik yang akan digunakan dalam kegiatan, penetapan personel-personel yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan, dan persiapan fasilitas pelaksanaan kegiatan-kegiatan bimbingan yang direncanakan.

9. Uji kelayakan (validasi) program bimbingan hipotetik dilaksanakan kepada dua dosen jurusan PPB, yaitu: Dra. S.A. Lily Nurillah, M.Pd., dan Eka Sakti Yudha, M.Pd., sedangkan dari pihak praktisi dilaksanakan kepada guru BK SMAN 1 Cimalaka, yaitu Dra. Euis Arwati.

10. Penyempurnaan program berdasarkan hasil diskusi dan penilaian yang telah dilakukan, sehingga program tersebut memiliki kelayakan untuk dilaksanakan.

Gambar

Tabel 3.1   Anggota Populasi  No.  Jurusan  Kelas  Peserta

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut dengan membuat sebuah rancangan prototype sistem informasi pelayanan

Orang perseorangan warga Indonesia dan/ atau Badan Hukum Indonesia yang telah memiliki sertifikat operasi pelayanan jasa terkait untuk menunjang kegiatan pelayanan

Sementara itu dari kawasan eropa, setelah bergerak fluktuatif, pasar saham Ero- pa berhasil ditutup menguat diawal pekan seiring kenaikan harga minyak dalam dua hari

Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif, Untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam

Terakhir peserta disajikan Pos-Test tentang materi akuntansi secara umum untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman akuntansi masing-masing pelaku IKM KUB RRT

Kemudian secara terminologis yang berdasarkan pada pendapat para ahli bahwa politik hukum adalah kebijakan dasar penyelenggara negara dalam bidang hukum yang akan, sedang dan

Terdapat tiga aturan keserasian yang digunakan dalam penelitian ini, oleh karena itu pengujian ini dilakukan untuk mengetahui aturan keserasian mana yang sangat

Biaya perjalanan bersifat at cost, artinya biaya yang akan diganti sebesar yang tercantum dalam bukti perjalanan pulang pergi, berupa tiket pesawat udara kelas