• Tidak ada hasil yang ditemukan

60 Leon A. Abdillah. Cover Bab 4. Model Pembelajaran Era Society 5.0

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "60 Leon A. Abdillah. Cover Bab 4. Model Pembelajaran Era Society 5.0"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

BAB 4

WEB-BASED LEARNING

A. Web-based Learning Overview

Teknologi Informasi (TI) telah memberikan sejumlah dampak positif di berbagai bidang (Abdillah et al., 2020). Pada dunia bidang pendidikan, TI memberikan corak tersendiri dengan berbagai mode yang mungkin digunakan. Pendidikan modern di masa globalisasi dan berbasis Teknologi Informasi telah bertransformasi ke arah digital. TI telah menjadi tulang punggung proses pembelajaran modern (Abdillah et al., 2021). Proses pendidikan yang tadinya dilakukan secara klasik dengan mode tatap muka secara langsung telah mengalami pergeseran ke arah mode pembelajaran jarak jauh (distance learning). Pada mode pembelajaran distance learning, para peserta didik dapat mengakses materi perkuliahan melalui internet.

Gambar 4.1 Tipe Sistem Distance Education (Davidson-Shivers, Rasmussen and Lowenthal, 2018)

(3)

Internet dan World Wide Web atau Web menciptakan sejumlah pilihan pendidikan jarak jauh (Distance Education). Setidaknya ada 5 (lima) macam bentuk Distance Education (Davidson-Shivers, Rasmussen and Lowenthal, 2018) seperti yang nampak pada Gambar 4.1, yaitu:

1. Internet & World Wide Web, 2. Computer & Digital Technologies,

3. Teleconference Systems & Communication Networks, 4. Broadcast Systems, dan

5. Correspondence Courses.

Khusus untuk pembelajaran yang memberdayakan internet dan WWW atau dikenal dengan e-learning memiliki 5 (lima) tipe (Horton and Horton, 2003), yaitu:

1. Learner-led e-learning. 2. Facilitated e-learning. 3. Instructor-led e-learning. 4. Embedded e-learning.

5. Telementoring and e-coaching.

Pada bab ini, penulis akan mengulas “Web-Based Learning” sebagai salah satu trend TI di bidang pendidikan. Pembelajaran berbasis web sering juga disebut online learning atau e-learning karena di dalamnya terdapat konten kursus

online (McKimm, Jollie and Cantillon, 2003) dan mencakup

semua intervensi pendidikan yang menggunakan internet (atau intranet lokal) (Cook, 2007).

Selanjutnya bab ini akan membahas: 1. Web-based Learning Framework

(4)

3. Developing Web-based Learning

4. Web-based Learning Menggunakan Platform Moodle 5. Virtual Web-based Learning Menggunakan WordPress 6. Social Media Web-based Learning

7. Web-based Learning Evaluation by using Google Forms B. Web-based Learning Framework

Web-Based Learning (WBL) mengacu pada penggunaan

teknologi Internet untuk menyampaikan instruksi (Aggarwal, 2003) dari dosen/guru/pendidik ke mahasiswa/siswa/peserta. Ketika merancang suatu

Web-Based Learning perlu memerhatikan 8 (delapan) dimensi dari

Web-Based Learning atau E-Learning Framework (Khan, 2005):

1. Pedagogical 2. Technological 3. Interface Design 4. Evaluation 5. Management 6. Resource Support 7. Ethical 8. Institutional

(5)

Gambar 4.2

Web-Based Learning Framework (Khan, 2005)

Lebih lanjut, Web-Based Learning atau E-Learning

Framework yang ada di Gambar 4.2 dapat diuraikan dalam

bentuk deskripsi yang nampak pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Dimensi E-Learning Dimensi

E-Learning Deskripsi

Institutional Dimensi kelembagaan berkaitan dengan

masalah administrasi, akademik, dan layanan kemahasiswaan yang berkaitan

(6)

Dimensi

E-Learning Deskripsi

dengan e-learning.

Management Manajemen e-learning mengacu pada

pemeliharaan lingkungan belajar dan distribusi informasi.

Technological Dimensi teknologi e-learning mengkaji

masalah infrastruktur teknologi di lingkungan e-learning. Ini termasuk perencanaan infrastruktur, perangkat keras, dan perangkat lunak.

Pedagogical Dimensi pedagogis e-learning mengacu

pada pengajaran dan pembelajaran. Dimensi ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan analisis konten, analisis audiens, analisis tujuan, analisis media, pendekatan desain, organisasi, dan strategi pembelajaran.

Ethical Pertimbangan etis dari e-learning

berkaitan dengan pengaruh sosial dan politik, keragaman budaya, bias, keragaman geografis, keragaman pelajar, kesenjangan digital, etiket, dan masalah hukum.

Interface design Desain antarmuka mengacu pada

tampilan dan nuansa program e-learning secara keseluruhan. Dimensi desain antarmuka mencakup desain halaman dan situs, desain konten, navigasi, aksesibilitas, dan pengujian kegunaan.

Resource support Dimensi dukungan sumber daya dari

e-learning memeriksa dukungan online dan

(7)

Dimensi

E-Learning Deskripsi

mendorong pembelajaran yang bermakna.

Evaluation Evaluasi untuk e-learning mencakup

penilaian peserta didik dan evaluasi instruksi dan lingkungan belajar.

Kedelapan dimensi tersebut akan memudahkan para pengembang WBL ketika membangun suatu WBL, baik yang bersifat open source maupun yang dibangun dari awal.

C. Advantages & Disadvantages Web-based Learning Model WBL menawarkan Virtual Learning Environment (VLE) atau Internet-based Training (IBT) yang komprehensif baik untuk para pendidik maupun peserta didik. Dengan VLE yang berbasiskan TI, memberikan pengalaman baru dana berbeda. Berikut ada sejumlah keuntungan dan kerugian dari penerapan WBL.

Adapun keuntungan (advantages) dari model Web-Based

Learning (McKimm, Jollie and Cantillon, 2003; Cook, 2007),

sebagai berikut:

1. Kemampuan untuk menghubungkan (link) sumber daya dalam berbagai format.

2. Dapat menjadi cara yang efisien (efficient) dalam menyampaikan materi kursus, termasuk distance learning. 3. Sumber daya dapat tersedia (available) dari lokasi mana

pun dan kapan pun. Sumber daya abadi (perpetual

(8)

4. Potensi untuk memperluas (wide) akses — misalnya, ke siswa paruh waktu, dewasa, atau berbasis pekerjaan. WBL menawarkan penjadwalan yanag fleksibel (flexible

scheduling).

5. Dapat mendorong pembelajaran lebih mandiri dan aktif (independent & active learning), serta mendukung pembelajaran individual (Individualised learning).

6. Dapat memberikan sumber bahan pelengkap (supplementary) yang berguna untuk program konvensional.

7. Metode pembelajaran baru (novel instructional methods), baik pada penympaian materi maupun pelaksanaan asesmen dan dokumentasi (assessment and documentation).

Selain sejumlah keuntungan diatas, penerapan WBL juga memiliki sejulah kerugian (disadvantages), sebagai berikut (McKimm, Jollie and Cantillon, 2003; Cook, 2007):

1. Akses ke peralatan komputer yang sesuai dapat menjadi masalah (problem) bagi siswa, yaitu berupa masalah teknis (technical problems).

2. Peserta didik merasa frustasi (frustating) jika mereka tidak dapat mengakses grafik, gambar, dan klip video karena peralatan yang buruk.

3. Infrastruktur yang diperlukan harus tersedia dan terjangkau. Hal ini bisa menilnulkan biaya (cost) tambahan.

4. Kualitas dan keakuratan informasi dapat berbeda-beda, sehingga diperlukan panduan dan penunjuk arah. Jika tidak jelas, maka terjadi Instruksi de-individualisasi (de-individualised instruction).

(9)

5. Siswa dapat merasa terisolasi secara sosial (social

isolation).

6. Desain instruksional yang buruk (poor instructional

design) dapat membuat WBL menjadi tidak efektif.

D. Developing Web-based Learning

Untuk meningkatkan proses belajar mengajar sebaiknya memerhatikan 3 (tiga) area dasar (fundamental) yang meliputi (Song and Kidd, 2009):

1. Desain (Design): Identifikasi sistematis kebutuhan pendidikan dan desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi bahan untuk digunakan di ruang kelas dan di tempat yang jauh.

2. Pengembangan (Development): Produksi materi untuk memenuhi tujuan pendidikan tertentu termasuk multimedia program, grafik, dan video.

3. Penelitian/Evaluasi (Research/Evaluation): Perencanaan, desain, dan pelaksanaan penelitian dan/atau pengembangan proyek yang menerapkan prinsip-prinsip teknologi pendidikan untuk setiap aspek pendidikan atau pelatihan dalam berbagai pengaturan, termasuk sekolah, industri, kedokteran, dan militer.

Sedangkan tahapan pengembangan website pendidikan terdiri dari 3 (tiga) tahap (Astuti, Wihardi and Rochintaniawati, 2020), yaitu:

1. Tahapan analisis (Analysis). a. Analisis material (material). b. Analisis pengguna (user).

(10)

c. Analisis kebutuhan perangkat lunak (software). d. Analisis kebutuhan perangkat keras (hardware). 2. Tahapan desain (Design).

a. Desain materi pembelajaran (learning material). b. Desain diagram alur (flowchart).

c. Desain papan cerita (storyboard). 3. Tahap pengembangan (Development).

a. Pembangunan antarmuka (interface). b. Pembangunan pembuatan koding (coding).

E. Web-based Learning Menggunakan Platform Moodle Moodle adalah salah satu Learning Management Systems (LMS) paling populer untuk model Web-Based Learning. Moodle mungkin paling populer di kalangan perguruan tinggi dan universitas karena Moodle merupakan platform berbasis pengembang kaya fitur yang cocok untuk perguruan tinggi dan universitas dengan anggaran terbatas (Fenton, 2018).

Moodle tidak hanya sebagai salah satu varian WBL atau e-learning, namun Moodile juga bisa dimanfaatkan sebagai fasilitator Knowledge Management Systems (KMS) di bidang pendidikan. Sejumlah fasilitas yang disediakan oleh Moodle memungkinnya untuk menjadi media KMS yang cukup handal. Moodle bisa digunakan untuk Information and

Knowledge Sharing dari sumber ke destinasi. Sumber dapat

berupa orang atau individu atau kelompok dalam suatu organisasi. Destinasi juga bisa serupa dengan sumber tetapi mereka mungkin dari organisasi yang sama atau dari luar organisasi tertentu (Abdillah, 2014).

(11)

Tampilan awal Moodle dashboard nampak seperti Gambar 4.3. Pada bagian “Recently accessed courses” nempak sejumlah mata kuliah yang baru saja diakses. Pada contoh ini ada 4 (empat) mata kuliah yang baru saja diakses, yaitu:

1. Business Process in Procurement. 2. Analysis and Design Systems. 3. Human-Computer Interaction. 4. Management at Administration.

Gambar 4.3 Tampilan Moodle Dashboard

Moodle menyediakan sejumlah features yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan para peserta didik. Fasilitas tersebut dibagi menjadi 2 (dua) kelompok (Tabel 4.2), yaitu:

1. Activities. 2. Resources.

(12)

Tabel 4.2 Fasilitas Moodle Activities Resources 1) Assignment 2) Chat 3) Choice 4) Custom certificate 5) Database 6) External tool 7) Feedback 8) Forum 9) Glossary 10) Lesson 11) Quiz 12) SCORM package 13) Survey 14) Wiki 15) Workshop 1) Book 2) edu-sharing resource 3) File 4) Folder

5) IMS content package 6) Label

7) Page 8) URL

Untuk contoh pada mata kuliah “Analysis and Design Systems” pendidik dapat mengubah periode belajar perminggunya menjadi “01) 15 February – 22 February”. Artinya, pertemuan pertama dihitung mulai dari tanggal 15 – 22 Februari. Kemudian dengan menggunakan fasilitas “Label” dapat menampilkan “Label” untuk pertemuan pertama berupa “01) INTRODUCTION”.

ZOOM Meetings dilibatkan sebagai media tatap muka secara online. Selanjutnya screen shoot dari ZOOM Meetings ditampilkan sebagai bukti bahwa telah berlangusng perkuliahan secara online pada pertemuan 01. Jika diperlukan, Moodle juga memiliki fasilitas Unified Resource Locator (URL) untuk memasukkan link materi dari sumber-sumber lainnya.

(13)

Interaksi dengan para peserta didik juga bisa memanfaatkan fasilitas “Forum”. Sedangkan materi perkuliahan dibuat dalam bentuk Portabel Document Format (PDF) yang disematkan melalui fasilitas “File”.

Gambar 4.4 menampilkan contoh pertemuan pada Moodle yang dikombinasikan dengan aplikasi ZOOM Meetings, sehingga perkuliahan dapat berjalan dengan mode “Blended Learning” juga. ZOOM Meetings (L. A. Abdillah, 2020) digunakan untuk melakukan pertemuan tatap muka secara online dengan para peserta didik (synchronous). Fasilitas “Forum” dimanfaatkan untuk menerima respon dari para peserta didik secara asynchronous.

(14)

F. Virtual Web-based Learning Menggunakan WordPress Varian lain dari WBL ada dengan memanfaatkan blog

platforms seperti WordPress. Open-source technologies seperti

WordPress membawa serta akses ke komunitas dukungan yang komprehensif, termasuk pembaruan gratis, teknologi terkini, dan berbagai alat untuk penyesuaian yang dibuat dan ditawarkan (kebanyakan) secara bebas oleh komunitas (Roseth, Akcaoglu and Zellner, 2013). Dengan menggunakan WordPress, para pendidik dapat dengan mudah dan fleksibel menampilkan materi-materi kurssu yang akan disampaikan kepada para peserta didik.

Pada contoh kali ini, blog dengan menggunakan WordPress dimanfaatkan untuk menampilkan daftar materi per mata kuliah yang tidak hanya bisa diakses oleh para peserta didik, namun juga bisa diakses oleh public. WordPress memiliki fasilitas berupa “Page” untuk mengelompokkan sejumlah “Post” dari masing-masing materi kursus.

Pada contoh yang nampak seperti pada Gambar 4.5, daftar kursus atau mata kuliah untuk satu semester di-list berupa label mata kuliahnya. Label tersebut berisikan hyperlink ke halaman “Page” dari masing-masing mata kuliah.

(15)

Gambar 4.5 Daftar Mata Kuliah di WordPress

Setiap mata kuliah akan berisikan informasi seputar konten dari mata kuliah tersebut. Salah satu cara untuk menarik mahasiswa misalnya dengan menampilkan overview dari mata kuliah yang bersangkutan dengan menggunakan infografis (Gambar 4.6). di infografis tersebut berisikan:

Descriptions, Prerequesite Courses, Assesments, Lengths, Tools,

(16)

Gambar 4.6 Contoh Mata Kuliah A&DIS di WordPress

G. Social Media Web-based Learning

Web 2.0 membuka sejumlah aplikasi yang selanjutnya menjadi trend di dunia internet. Social Media muncul sebagai salah satu instance aplikasi berbasiskan internet yang banyak diminati oleh para penggunanya. Media sosial sebagai salah satu aplikasi internet menawarkan banyak manfaat bagi sistem pembelajaran modern. TI telah mengubah cara gaya dan pendekatan belajar. Media sosial dapat digunakan untuk mendukung TI atau cyber universities (Abdillah, 2016).

(17)

Berbagai platforms bermunculan dengan keunggulaan dan ciri khasnya masing-masing. Pada sub-bab ini akan diulas pemanfataan Facebook dalam pembelajaran berbasiskan web.

Facebook telah menjelma menjadi rajanya social media, bahkan menjadi salah satu icon di dunia TI yang memiliki sangat banyak penggunanya. Facebook adalah jejaring sosial pertama yang melampaui 1 (satu) miliar akun terdaftar (L. Abdillah, 2020). Walaupun Facebook tidak secara khusus dibuat untuk kepentingan pendidikan, namun Facebook memiliki sejumlah fasilitas yang bisa diatur menjadi

semi-vitual learning environment. Fasilitas yang bisa digunakan

untuk membuat virtual class adalah “Group”. Pendidik dapat mengatur Facebook Group (FBG) menjadi private. Para peserta didik harus join untuk bisa masuk ke FBG tersebut melalui URL-nya.

(18)

Gambar 4.7 Contoh Assignment Mata Kuliah A&DIS di Facebook

Pada contoh Gambar 4.7, FBG dimanfaatkan untuk menerima pengumpulan tugas mahasiswa. Para mahasiswa mengerjakan tugas kelompok yang disimpan di “DropBox”. DropBox digunakan untuk menyimpan laporan kelompok siswa (Abdillah, Sari and Indriani, 2018). Kemudian, URL dari DropBox dikumpulkan di FBG mata kuliah yang bersangkutan.

(19)

H. Web-based Learning Evaluation by using Google Forms Salah satu kegiatan terpenting pada suatu perkuliahan adalah aktivitas evaluasi atau ujian. Evaluasi bisa berupa Ujian Harian (UH), Ujian Tengah Semester (UTS), atau Ujian Akhir Semester (UAS). Nilai atau skor yang didapat dari ujian-ujian tersebut dapat digunakan oleh para pendidik untuk memetakan capaian para peserta didik dalam bentuk nilai (angka atau huruf).

Pada mode Web-Based Learning Evaluation

menggunakan “Google Forms”, para pendidik dapat membuat skema evaluasi secara online baik untuk skema ujian

synchronous maupun asynchrinous (Gambar 4.8). Pada ujian

menggunakan Google Forms, para pendidik dapat menggunakan sejumlah pilihan format untuk soalnya. Google Forms menyediakan pilihan feedback untuk jawaban pertanyaan-pertanyyan dalah bentuk:

1. Multiple choice. 2. Short answer. 3. Paragraph. 4. Checkboxes. 5. Drop-down. 6. Linear scale. 7. Multiple-choice grid. 8. Tick box grid.

9. File upload. 10. Date. 11. Time.

(20)

Gambar 4.8 Contoh Soal Ujian A&DIS Menggunakan Google Forms

Setiap soal juga bisa diberi bobot, sehingga setelah para peserta didik submit ujiannya, Google Forms dapat secara

(21)

otomatis menghitung total skor yang didapat. Fasilitas ini sangat membantu proses pemberian nilai atau marking. Google Forms juga dilengkapi dengan fasilitas yang memungkinkan rekapitulasi dalambentuk bagan-bagan sehingga memudahkan proses analisis evaluasi hasil ujian para peserta didik.

Gambar 4.9 Bagan Rekapitulasi Jawaban Benar dengan Google Forms

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, L. (2020) ‘Green Computer Science Millennial Students Examination’, in Proceedings of the 2nd

International Conference on Quran and Hadith Studies Information Technology and Media in Conjunction with the 1st International Conference on Islam, Science and Technology, ICONQUHAS & ICONIST. Bandung:

European Alliance for Innovation (EAI), pp. 599–611. doi: 10.4108/eai.2-10-2018.2295467.

Abdillah, L. A. (2014) ‘Managing information and knowledge sharing cultures in higher educations institutions’, in

The 11th International Research Conference on Quality, Innovation, and Knowledge Management (QIK2014).

Bandung: Monash University, Australia & Universitas Padjadjaran, Indonesia.

Abdillah, L. A. (2016) ‘Exploring Student’s Blended Learning through Social Media’, ComTech: Computer, Mathematics and Engineering Applications, 7(4), p. 245.

doi: 10.21512/comtech.v7i4.2495.

Abdillah, L. A. et al. (2020) Aplikasi Teknologi Informasi: Konsep

dan Penerapannya. Medan: Yayasan Kita Menulis.

Abdillah, L. A. (2020) Online Learning Menggunakan Zoom

Teleconference: Work Form Home During COVID-19 Global Pandemic, Computer Science and Information

Systems. Available at:

http://eprints.binadarma.ac.id/4162/2/Abdillah2020 %5BOnline Learning Menggunakan Zoom

(23)

Teleconference%5D 2020415.pdf.

Abdillah, L. A. et al. (2021) ‘Collaborating Digital Social Media for Teaching Science and Arabic in Higher Education during COVID-19 Pandemic’, IJAZ ARABI: Journal of

Arabic Learning, 4(1), pp. 12–25. doi:

10.18860/ijazarabi.v4i1.10793.

Abdillah, L. A., Sari, I. N. and Indriani, D. E. (2018) ‘Computer science students simulation in capturing tacit knowledge by using NGT for reducing traffic jam’,

International Journal of Engineering and

Technology(UAE). Science Publishing Corporation Inc,

7(3), pp. 1463–1467. doi: 10.14419/ijet.v7i3.12719. Aggarwal, A. K. (2003) Web-Based Education: Learning from

Experience. Hershey, PA, USA: IRM Press (Idea Group

Inc.).

Astuti, L., Wihardi, Y. and Rochintaniawati, D. (2020) ‘The Development of Web-Based Learning using Interactive Media for Science Learning on Levers in Human Body Topic’, Journal of Science Learning, 3(2), pp. 89–98. doi: 10.17509/jsl.v3i2.19366.

Cook, D. A. (2007) ‘Web-based learning: Pros, cons and controversies’, Clinical Medicine, Journal of the Royal

College of Physicians of London, 7(1), pp. 37–42. doi:

10.7861/clinmedicine.7-1-37.

Davidson-Shivers, G. V., Rasmussen, K. L. and Lowenthal, P. R. (2018) Web-based Learning: Design, Implementation

and Evaluation. 2nd edn. Cham, Switzerland: Springer

International Publishing AG. doi: 10.1007/978-3-319-67840-5.

(24)

Fenton, W. (2018) The Best (LMS) Learning Management

Systems. Available at:

https://sea.pcmag.com/first- looks/10984/the-best-lms-learning-management-systems (Accessed: 30 April 2021).

Horton, W. and Horton, K. (2003) E-learning Tools and

Technologies: A consumer’s guide for trainers, teachers,

educators, and instructional designers, Publish.

Indianapolis, Indiana, USA: Wiley Publishing, Inc. Khan, B. H. (2005) Managing E-Learning Strategies: Design,

Delivery, Implementation and Evaluation. Hershey, PA,

USA: Information Science Publishing (Idea Group Inc.). doi: 10.4018/978-1-59140-634-1.

McKimm, J., Jollie, C. and Cantillon, P. (2003) ‘Web based learning’, BMJ, 326(7394), pp. 870–873. doi: 10.1136/bmj.326.7394.870.

Roseth, C., Akcaoglu, M. and Zellner, A. (2013) ‘Blending Synchronous Face-to-face and Computer-Supported Cooperative Learning in a Hybrid Doctoral Seminar’,

TechTrends, 57(3), pp. 54–59. doi:

10.1007/s11528-013-0663-z.

Song, H. and Kidd, T. (2009) Handbook of Research on Human

Performance and Instructional Technology. Hershey, PA,

(25)

PROFIL PENULIS

Leon A. Abdillah, lahir di

Limau Barat, Prabumulih/Muara Enim, Sumatera Selatan. Ia pernah belajar Information Systems, Information Systems Management,

dan Information Retrieval Systems selama masa studi. Tahun 2001 bergabung sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Kota Palembang. Tahun 2010 menjadi Associate

Professor (Assoc. Prof.) pada

Fakultas Ilmu Komputer Program Studi Sistem Informasi (Terakreditasi A). Assoc. Prof. Leon A. Abdillah aktif menjadi

speaker, author, editor, reviewer, committee pada sejumlah journals, conferences/seminars, books/book chapters, dll. Beliau

termasuk 500 Indonesian scientist (Webometrics, 2015),

examiner di Monash University (Group of Eight), Australia, dan mentor di Publons, New Zealand. Beliau juga sering

mendapatkan awards untuk kategori best undergraduate and

post graduate, the best computer science lecturer, the best reference article, excellent paper, top reviewer, selected article, dsb.

Gambar

Gambar 4.1 Tipe Sistem Distance Education (Davidson- (Davidson-Shivers, Rasmussen and Lowenthal, 2018)
Gambar 4.3 Tampilan Moodle Dashboard
Tabel 4.2 Fasilitas Moodle  Activities  Resources  1) Assignment 2) Chat 3) Choice 4) Custom certificate 5) Database 6) External tool 7) Feedback 8) Forum 9) Glossary 10) Lesson 11) Quiz 12) SCORM package 13) Survey 14) Wiki 15) Workshop 1) Book 2) edu-sha
Gambar  4.4  menampilkan  contoh  pertemuan  pada  Moodle  yang  dikombinasikan  dengan  aplikasi  ZOOM  Meetings, sehingga perkuliahan dapat berjalan dengan mode
+6

Referensi

Dokumen terkait

Untuk pengukuran polarisasi, saat wireless USB adapter yang ada di dalam waveguide antena wajanbolic berada pada posisi vertikal dan antena pada access point juga pada

[r]

Pengaruh pemanasan terhadap pertumbuhan tanaman diuji dengan menumbuhkan biji kedelai 6 hari setelah berkecambah, yaitu sebanyak 35 benih kecambah untuk masing- masing

Analisis Efisiensi Relatif dan Perilaku Petani terhadap Risiko Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Bantul (Tesis).. Universitas

Adanya gula yang terikat pada flavonoida (bentuk yang umum ditemukan) cenderung menyebabkan flavonoida lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut yang

Hasil simulasi penurunan subsidi ekspor di negara maju berdasarkan usulan yang diajukan KN-20, AS dan UE serta KTM Hongkong menunjukkan bahwa pemotongan subsidi ekspor

Dewi berharap, program tahunan tersebut dapat meningkatkan hubungan dan kerjasama universitas antar Amerika dan Indonesia, khususnya UNAIR, sebagai salah satu

BB081 -Adiatma Yudistira Manogar Siregar, SE.,MEconSt..