• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saturnus, Planet Bercincin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Saturnus, Planet Bercincin"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Saturnus, Planet Bercincin

Saturnus, riwayatmu dulu ...

Zaman dahulu, Saturnus dianggap sebagai pembawa sial. Jika dibandingkan dengan yang lain, Saturnus terlihat suram. Dilihat dengan mata telanjang, Saturnus tampak sebagai sebuah bintang yang amat cerah. Akan tetapi, kecerahan Saturnus kalah jauh dibanding Venus, Mars, dan Jupiter. Saturnus hanya memiliki kecerahan yang hampir sama dengan Merkurius –planet terdekat dengan Matahari–.

(2)

Saturnus adalah planet keenam dalam sistem tata surya. Planet raksasa kedua ini merupakan planet yang sangat indah. Sistem cincin Saturnus memberikan pemandangan yang menakjubkan. Sebagai kelompok empat planet raksasa dalam sistem taat surya, Saturnus mempunyai diameter 119.871 km dengan massa kira-kira 586,5 x 1024 kg. Massa Saturnus 95 kali massa Bumi.

Dengan mata telanjang, sistem cincin Saturnus tidak dapat dilihat. Keindahan Saturnus dapat kita nikmati setelah adanya penemuan teleskop pada abad XVII. Pada tanggal 12 Juli 1981, pesawat ruang angkasa Voyager 2 berhasil mengabadikan gambar Saturnus yang diambil dari jarak 43 juta km.

Gerakan Saturnus

Jarak rata-rata Saturnus dari Matahari adalah 1.428 juta km. Planet dengan diameter 120.536 km ini membutuhkan waktu 29,5 tahun Bumi untuk sekali mengorbit Matahari. Waktu yang dibutuhkan Saturnus untuk satu kali rotasi adalah 10,67 jam.

Atmosfer Saturnus

Seperti Jupiter, atmosfer Saturnus merupakan lapisan permukaan yang tipis dibandingkan luas bagian dalamnya. Suhu di permukaan Saturnus mencapai −170 C.

(3)

Awan Saturnus tidak lebih berwarna dibandingkan Jupiter. Ini dikarenakan atmosfer Saturnus mengandung belerang. Belerang inilah yang menyebabkan Saturnus terlihat berwarna kuning.

Ada tiga lapisan awan di Saturnus dan masing-masing tersusun oleh melokul yang berbeda. Ada awan Amonia, awan Hidrogen Sulfida, dan awan air. Ketiga lapisan awan ini terdapat di troposfer.

Foto di atas diambil oleh Teleskop ruang angkasa Hubble. Foto di atas menunjukkan sebuah badai yang terjadi di dekat ekuator Saturnus. Besar badai ini mencapai 12.700 kilometer, sama dengan garis tengah Bumi. Angin terkencang yang pernah terjadi di Saturnus tercatat oleh pesawat ruang angkasa Voyager mencapai kecepatan 1.600 kilometer/jam.

(4)

Saturnus tidak memiliki lapisan-lapisan seperti planet terestrial. Saturnus tidak memiliki banyak bahan-bahan padat di dalamnya. Sebaian bahan penyusun Saturnus adalah Hidrogen dan Helium yang berwujud cair dalam tekanan yang tinggi berada di lapisan luar. Saturnus tersusun oleh 75 persen Hidrogen dan 25 persen Helium dengan sedikit air, Metana, amoniak, dan batu. Gerakan yang terjadi di bagian dalam Saturnus menyebabkan munculnya medan maget yang menghasilkan magnetosfer.

Cincin-cincin Saturnus

Galileo adalah orang pertama yang mengamati Saturnus menggunakan teleskop, yaitu pada tahun 1610. Dalam pengamatannya, Galileo menemukan keanehan pada Saturnus. Galileo melihat adanya dua gumpalan di sekeliling Saturnus, tapi dia tidak tahu gumpalan apakah itu. Selanjutnya, Christian Huygens menemukan bahwa gumpalan itu adalah cincin.

Bagian dalam Saturnus

Hidrogen cair

Cairan logam Hidrogen

Hidrogen, Helium, Gas Metana Mantel (air, Ammonis, Es Metana)

Inti (es, batu)

Yang isimewa …

Atmosfer cincin

Sesuai data yang diperoleh pesawat ruang angkasa Cassini, cincin Saturnus ternyata memiliki atmosfernya sendiri. Atmosfer itu terpisah dari atmosfer Saturnus.

(5)

Cincin-cincin Saturnus Garis putus-putus pada gambar menunjukkan lintasan satelit alam Saturnus [buat ilustrasi serupa]

(6)

Pada tahun 1675, Cassini menemukan celah di antara cincin A dan B. Selanjutnya celah ini disebut divisi Cassini. Cincin ketiga, yang dinamakan cincin C, ditemukan pada tahun 1800. Selanjutnya, sampai tahun 1979, ditemukan cincin E, F, dan G, ketika pesawat ruang angkasa Pioner 11 dan Voyager terbang ke Saturnus. Mereka juga menemukan celah kecil di antara cincin A dan F, dan disebut sebagai divisi Encke.

(7)

Cincin-cincin Saturnus masih merupakan misteri bagi para ilmuwan. Adanya gravitasi Saturnus menyebabkan partikel-partikel kecil tersusun dalam daerah cincin. Ini juga mencegah bongkahan-bongkahan es dan batu untuk bersatu membentuk satelit alam.

Setiap planet mempunyai jarak tertentu dari planet yang disebut sebagai batas Roche. Tergantung dari besar kecil gaya gravitasi planet, sesuatu yang berada di dalam batas Roche tidak dapat bersatu membentuk sebuah benda yang lebih besar. Itulah sebabnya kebanyakan partikel hanya berukuran beberapa sentimeter. Bagaimanapun, sebagian besar satelit alam-satelit alam Saturnus berada di luar batas Roche, sehingga mereka dapat berkumpul bersama.

Cincin Saturnus terutama tersusun oleh partikel-partikel es dan batu. Cincin-cincin Saturnus terlihat berada dalam satu luasan yang lebar dan serupa pita berwarna, tapi sebenarnya antarcincin terpisah oleh pita kecil. Ukuran partikel penyusun cincin beragam, dari beberapa sentimeter sampai lebih dari satu kilometer.

Cincin Saturnus merupakan lapisan yang luar biasa tipis. Cincin yang diameternya mencapai 250.000 km atau lebih ini mempunyai ketebalan yang tidak lebih dari 1 km! Meskipun memberikan penampakan yang mengesankan, sesungguhnya

(8)

cincin Saturnus hanya mengandung sedikit material. Jika cincin-cincin Saturnus dipadatkan maka diperoleh sebuah benda yang membentang tidak lebih dari 100 km.

Lalu, mengapa lapisan cincin Saturnus yang sangat tipis dapat terlihat begitu indah? Partikel-partikel es dalam cincin membentuk efek pelangi seperti semprotan warna yang terpancar dari Matahari. Sinar Matahari dibiaskan oleh partikel-partikel es sehingga memberikan penampakan warna yang begitu indah.

Banyak orang yang terpesona dengan keindahan cincin Saturnus. Meskipun Saturnus bukan satu-satunya planet bercincin, tetapi Saturnus merupakan planet terkenal di antara planet-planet bercincin.

Satelit alam-satelit alam Saturnus

Titan, Satelit alam beratmosfer

Titan ditemukan oleh astronom Belanda Christian Huygens pada tahun 1655. Titan merupakan satelit alam Saturnus yang terbesar. Diameter Titan mencapai 5.150 kilometer. Titan lebih besar daripada Merkurius dan Pluto. Titan mengorbit Saturnus pada jarak 1.221.830 kilometer.

Titan memiliki atmosfer seperti Bumi. Atmosfer Titan sebagian besar tersusun atas Nitrogen. Titan merupakan satelit alam yang memiliki atmosfer yang tebal. Tekanan atmosfer Titan kira-kira 60 persen lebih banyak daripada tekanan

(9)

atmosfer Bumi di atas permukaan laut, kira-kira sama dengan tekanan di dasar kolam renang. Permukaan Titan cukup dingin. Suhunya mencapai 178 derajat celcius di bawah nol.

Tethys

Tethys ditemukan oleh Giovanni Cassini pada tahun 1864. Tethys memiliki kepadatan 1,2 gram/cm3. Kepadatan ini menandakan hampir seluruhnya Tethys tersusun dari

air beku (es). Permukaan Tethys dipenuhi kawah dan rekahan-rekahan yang merupakan patahan es. Di pemukaan Tethys terdapat palung yang panjangnya mencapai 65 kilometer. Suhu permukaan Tethys mencapai 187 derajat di bawah nol.

Rhea

Rhea ditemukan pada tahun 1672 oleh Giovanni Cassini. Rhea tidak memiliki atmosfer dan permukaannya diselimuti es. Dengan kepadatan hanya 1,33 gram/cm3,

menandakan Rheaa terususun sebagian besar atas air beku atau es. Susunan Rheaa hampir sama dengan Dionee. Suhu permukaan Rheaa yang menghadap Matahari sebesar 174 derajat celcius di bawah nol, sedangkan permukaan yang tidak terkena cahaya Matahari 200 derajat celcius di bawah nol.

Dione

Tethys

(10)

Dione ditemukan pada tahun 1684 oleh Giovanni Cassini. Sebagian besar tubuh Rhea tersusun atas es. Kepadatannya hanya sekitar 1,43 gram/cm3. Beberapa daratan

Rhea dipenuhi kawah dan beberapa tidak. Permukaan Rhea yang dipenuhi kawah memiliki kawah dengan garis tengah lebih dari 30 kilometer.

Gambar

Foto di atas diambil oleh Teleskop ruang angkasa Hubble. Foto di atas menunjukkan  sebuah  badai  yang  terjadi  di  dekat  ekuator  Saturnus

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana benda-benda bermassa yang jika berada dalam medan gravitasi akan mengalami gaya gravitasi, muatan listrik yang bergerak dalam induksi magnetik juga akan mengalami

Metode Kecepatan Radial seperti metode astrometri, juga melihat bahwa bintang dengan planet akan bergerak dalam orbitnya yang kecil karena pengaruh dari gravitasi planet.. Tujuan

Walaupun belum banyak ditemukan, baru 18 buah planet, planet-planet dengan massa lebih dari 10 Massa Jupiter, pada gambar 3.5, menunjukkan bahwa sebagian besar planet tersebut

Dalam semua kasus, migrasi disebabkan oleh pertukaran momentum sudut antara gerak rotasi gas dalam cakram dan gerak orbital planet akibat torsi gravitasi yang diberikan oleh planet

Dengan demikian, kuat medan gravitasi atau percepatan gravitasi pada ketinggian h di atas permukaan planet sebagai berikut.. Besar percepatan gravitasi yang dialami semua benda

Gaya gravitasi menyebabkan batuan yang berdensitas lebih ringan seperti bebatuan yang menyusun benua-benua akan berada pada posisi yang lebih tinggi elevasinya dibandingkan dengan

Keputusan Pertemuan Astronomi Internasional di Praha, Agustus 2006 Benda/obyek di luar definisi Planet dan Planet Kerdil Benda/obyek di luar definisi Planet dan Planet Kerdil →→→ →

Kriteria Planet Planet Kerdil Orbit Bersih dari benda langit lain Berada di zona "ramai" Bentuk Bulat sempurna Bulat, tapi kadang tak beraturan Gravitasi Stabil pada orbitnya