• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Arifin Aji Nugroho M0114005

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Artikel Arifin Aji Nugroho M0114005"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KAMBUH: MODEL SUSCEPTIBLE VACCINATED INFECTED RECOVERED

Arifin Aji Nugroho, Purnami Widyaningsih, Dewi Retno Sari Saputro Program Studi Matematika FMIPA UNS

Abstrak. Indikator penanggulangan TB yaitu angka prevalensi, angka insiden, dan

mortalitas. Ketiga indikator tersebut dipengaruhi banyaknya penderita TB. Pemodel-an matematika dapat digunakPemodel-an untuk mengamati perubahPemodel-an bPemodel-anyaknya penderita TB. Dalam artikel ini, model penyebaran penyakit TB dengan memperhatikan vaksinasi dan kambuh yaitu modelsusceptible vaccinated infected recovered(SV I R) dengan kasus

kam-buh diturunkan dan diterapkan di Indonesia. Model tersebut berbentuk sistem per-samaan diferensial nonlinier orde satu. Estimasi parameter ditentukan berdasarkan data tahun 2004-2014. Keakuratan model diukur berdasarkan eror relatif tahun 2015-2016. Mutlak eror relatif yang terjadi cukup kecil yaitu kurang dari 0.06 sehingga model cukup

akurat dan dapat digunakan untuk menentukan prediksi angka prevalensi, angka insiden, dan mortalitas TB di Indonesia. Selama 2017-2035, ketiga indikator tersebut mengalami penurunan dengan rata-rata persentase penurunan per tahun yaitu 1.90% untuk angka prevalensi dan mortalitas TB serta 1.68% untuk angka insiden TB.

Kata Kunci: insiden, kambuh, mortalitas, prevalensi, SVIR, TB

1. Pendahuluan

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri

Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini ditularkan melalui bakteri yang menyebar

ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet) karena batuk, bersin, atau meludah.

Penyakit ini umumnya menyerang organ paru-paru, tetapi juga dapat menyerang

organ lain seperti sistem limfa, otak, tulang belakang, dan ginjal (Kemenkes RI [4]).

Pada tahun 2015, WHO [12] melaporkan terjadi 10.4 juta kasus baru TB di

dunia. 60% kasus baru tersebut terjadi di India, Indonesia, China, Nigeria, Pakistan,

dan Afrika Selatan. Selain itu, penyakit TB juga masuk dalam 10 daftar penyebab

kematian terbesar di dunia pada tahun 2015 versi WHO [12]. Tercatat terjadi 1.4

juta kematian karena TB dan 0.4 juta kematian karena TB yang positif HIV.

Pencegahan TB dilakukan melalui vaksinasiBacillus Calmette-Geurin (BCG).

Sedangkan, penanganan TB dilakukan melalui Directly Observed Treatment

Short-course (DOTS) yaitu pengawasan langsung dalam minum obat (Tim Pusdatin [9]).

Dalam proses pengobatan ini, penderita terkadang tidak disiplin dalam menjalaninya

karena merasa sudah sembuh. Dengan demikian, bakteri penyebab TB tidak

benar-benar hilang dari tubuh dan hanya melemah yang memungkinkan penderita yang

(2)

Vaksinasi dan kasus kambuh merupakan dua faktor yang memengaruhi

penye-baran penyakit TB. Pemodelan matematika dapat digunakan sebagai alat untuk

mengetahui penyebaran penyakit TB yang diamati berdasarkan perubahan

banyak-nya penderita TB. Enagi dan Ibrahim [2] dan Shahidet al. [7] telah meneliti model

penyebaran penyakit TB dengan memperhatikan vaksinasi BCG. Model

terse-but oleh Shahid et al. [7] disebut model vaccinated susceptible infected recovered

(V SIR). Pada model tersebut, sasaran vaksinasi BCG adalah individu yang baru

lahir.

Berbeda dengan Enagi dan Ibrahim [2] dan Shahid et al. [7], dengan

memper-hatikan waktu pelaksanaan vaksinasi BCG yaitu beberapa hari setelah kelahiran

sampai bayi berusia satu bulan sehingga pada penelitian ini bayi baru lahir

digo-longkan sebagai individu sehat namun rentan terinfeksi TB (susceptible) dan sasaran

vaksinasinya adalah kelompok individu susceptible. Dengan memperhatikan hal

tersebut, dikonstruksikan model susceptible vaccinated infected recovered (SV IR).

Selain itu juga diperhatikan kasus kambuh TB yang terjadi sehingga lebih lanjut

diteliti model SV IR dengan kasus kambuh pada penyebaran penyakit TB.

Selan-jutnya model diterapkan pada penyebaran penyakit TB di Indonesia, kemudian

diukur keakuratannya. Penyelesaian model digunakan untuk memprediksi angka

prevalensi, angka insiden dan angka kematian (mortalitas) TB di Indonesia.

2. Model SIR

Pada tahun 1989, Hethcote [3] memperkenalkan tiga model dasar dalam

epidemi-ologi. Salah satu diantaranya adalah model susceptible infected recovered (SIR).

Hethcote [3] membagi populasi (N) menjadi tiga kelompok individu yaitu kelompok

individu sehat tetapi rentan terinfeksi penyakit (susceptible/S), kelompok individu

terinfeksi penyakit (infected/I), dan kelompok individu sembuh dan memiliki

keke-balan permanen (recovered/R).

Masih menurut Hethcote [3], dalam model SIR diasumsikan hanya terdapat

satu penyakit dalam populasi dan populasi diasumsikan konstan sehingga laju

ke-lahiran dan laju kematian bernilai sama yaitu µ. Selain itu, juga diasumsikan

indi-vidu yang lahir adalah indiindi-vidu sehat yang rentan terhadap penyakit. Banyaknya

(3)

Setiap kelompok individu S, I, dan R terdapat kematian sehingga banyaknya

indi-viduS,I, Rberturut-turut berkurang sebesarµS,µI, danµR. Kelompok individu

S dapat terinfeksi penyakit setelah melakukan kontak dengan kelompok individuI.

Jika β adalah besarnya laju kontak, maka banyaknya individu S berkurang

sebe-sar βSI

N dan banyaknya individu I bertambah sebesar β SI

N. Kelompok individu

I dimungkinkan untuk sembuh dan memiliki kekebalan permanen. Jika γ adalah

besarnya laju kesembuhan, maka banyaknya individu I berkurang sebesar γI dan

banyaknya individu R bertambah sebesar γI. Dengan demikian, secara lengkap

model SIR ditulis sebagai

dS

dt = µN−β

SI

N −µS

dI

dt = β

SI

N −γI −µI (2.1)

dR

dt = γI−µR

dengan S(0) ≥ 0, I(0) > 0, R(0) ≥ 0, µ, β, γ > 0. Model (2.1) merupakan sistem

persamaan diferensial nonlinier orde satu.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1. Model SV IR dengan Kasus Kambuh. Tiga indikator yang diperhatikan dalam penanggulangan TB yaitu angka prevalensi, angka kesakitan (insiden), dan

angka kematian (mortalitas). Angka prevalensi TB merupakan proporsi banyaknya

penderita TB terhadap jumlah penduduk suatu wilayah pada periode waktu

ter-tentu. Sedangkan angka insiden TB merupakan proporsi banyaknya penderita baru

dan kambuh terhadap jumlah penduduk suatu wilayah yang berisiko terinfeksi TB

pada periode waktu tertentu (Kemenkes RI [5]). Ketiga indikator tersebut biasanya

dinyatakan dalam per 100000 penduduk (Sutopo, dkk. [8]). Besarnya nilai ketiga

in-dikator tersebut dipengaruhi oleh banyaknya penderita TB. Pemodelan matematika

dapat digunakan untuk mengamati perubahan banyaknya penderita TB dari waktu

ke waktu. Model ini kemudian disebut model penyebaran penyakit TB.

Penyakit TB memiliki karakteristik penularan terjadi melalui kontak langsung

(4)

yang dapat disembuhkan. Karakteristik tersebut secara matematis dapat

dimodel-kan sebagai modelSIR. Asumsi populasi konstan pada modelSIR(2.1) tidak sesuai

dengan keadaan sekarang sehingga pada penelitian ini diasumsikan populasi tidak

konstan. Adanya asumsi tersebut mengakibatkan laju kelahiran dan laju kematian

bernilai tidak sama. Jika θ menyatakan laju kelahiran maka banyaknya kelahiran

sebesar µN berubah menjadi sebesar θN.

Terkait dengan indikator penanggulangan TB yaitu mortalitas sehingga pada

penelitian ini kematian dibedakan menjadi dua macam yaitu kematian karena TB

dan kematian selain karena TB (alami). Jika δ menyatakan laju kematian

kare-na TB, maka banyaknya individu I berkurang sebesar δI dan jika µ menyatakan

laju kematian alami, maka banyaknya masing-masing individu S, I, R, berkurang

sebesar µS, µI, dan µR.

Upaya pencegahan penyakit TB dilakukan melalui vaksinasi BCG. Vaksin

ini diberikan pada bayi berusia di bawah satu bulan dengan dosis pemberian yaitu

0.01ml sebanyak satu kali (Pusdiklatnakes [6]). Shahid et al. [7] mendefinisikan

individu yang telah memperoleh vaksinasi BCG sebagai vaccinated (V). Dengan

memperhatikan masa pemberian vaksin tersebut, bayi yang baru lahir diasumsikan

sehat namun rentan terinfeksi TB (susceptible). Dengan demikian, sasaran vaksinasi

merupakan kelompok individu S. Jika α menyatakan laju vaksinasi BCG, maka

banyaknya individu S berkurang sebesar αS dan banyaknya individuV bertambah

sebesar αS.

Pada kondisi terbaiknya, vaksinBCG memiliki efikasi sebesar 80% yang

efek-tif mencegah TB selama 15 tahun (CDC [1]). Hal tersebut menunjukkan bahwa

pencegahan ini tidak sepenuhnya memberikan perlindungan secara total sehingga

dimungkinkan individu tersebut menjadi rentan kembali terhadap infeksi TB. Jikaλ

adalah laju efektifitas vaksin BCG, maka banyaknya individuV berkurang sebesar

λV dan banyaknya individu S bertambah sebesar λV. Selain itu, kelompok

indi-vidu V juga dapat mengalami kematian sehingga banyaknya individuV berkurang

sebesar µV.

Penyakit TB merupakan penyakit yang dimungkinkan kambuh. Hal tersebut

(5)

Hal tersebut mengakibatkan bakteri penyebab TB tidak benar-benar hilang dari

tubuh dan hanya melemah yang kemudian dapat aktif kembali untuk menginfeksi.

Dengan memperhatikan hal tersebut, perlu didefinisikan ulang kelompok individu R

yaitu kelompok individu yang sembuh dari TB. Jikaσmenyatakan laju kekambuhan

TB, maka banyaknya individu R berkurang sebesar σR dan banyaknya individu I

bertambah sebesar σR. Dengan demikian, secara lengkap model SV IR dengan

kasus kambuh pada penyebaran penyakit TB dapat dituliskan sebagai

dS

dt = θN−β

SI

N −(µ+α)S+λV

dV

dt = αS−(λ+µ)V

dI

dt = β

SI

N −(γ+µ+δ)I+σR (3.1) dR

dt = γI−(σ+µ)R

dengan S(0) ≥ 0, V(0) ≥ 0, I(0) >0, R(0) ≥ 0 dan θ, β, γ, µ, δ, α, λ, σ > 0.

Kede-lapan parameter tersebut berturut-turut menyatakan laju kelahiran, laju kontak,

laju kesembuhan, laju kematian alami, laju kematian karena TB, laju vaksinasi

BCG, laju efektifitas vaksin BCG, dan laju kekambuhan. Model (3.1) merupakan

sistem persamaan diferensial nonlinier orde satu. Penyelesaian model (3.1) dapat

digunakan untuk menentukan angka prevalensi, angka insiden, dan mortalitas TB.

3.2. Penerapan. Model (3.1) diterapkan pada penyebaran TB di Indonesia. Data yang digunakan merupakan data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Indonesia [9],

World Bank [10], dan WHO [11] tahun 2004-2016 meliputi jumlah penduduk, crude

birth rate,crude death rate, banyaknya kasus baru dan kambuh TB, banyaknya

ke-matian karena TB, banyaknya individu yang baru mendapatkan vaksinasi BCG,

dan banyaknya individu yang baru sembuh dari TB. Berdasarkan data tersebut,

di-tentukan banyaknya masing-masing kelompok individuS,V,I, danR. Selanjutnya,

data tahun 2004-2014 digunakan untuk mengestimasi parameter model, sedangkan

data tahun 2015-2016 digunakan untuk mengukur keakuratan model.

Berdasarkan data tahun 2004-2014, diperoleh nilai laju kelahiran (θ) sebesar

(6)

kematian alami (µ) sebesar 0.00663, laju kematian karena TB (δ) sebesar 0.13198,

laju vaksinasi BCG (α) sebesar 0.02120, dan laju kekambuhan TB (σ) sebesar

0.00522. Sedangkan nilai laju efektifitas vaksin BCG (λ) ditentukan berdasarkan

masa efektifitas vaksin yaitu 15 tahun sehingga diperoleh λsebesar 1/15≈0.06667.

Dengan mensubstitusikan nilai-nilai parameter tersebut ke model (3.1) diperoleh

model SV IR dengan kasus kambuh untuk penyebaran TB di Indonesia yaitu

dS

dt = 0.02108N −0.34080 SI

N −0.02783S+ 0.06667V dV

dt = 0.02120S−0.0733V dI

dt = 0.34080 SI

N −0.29862I+ 0.00522R (3.2) dR

dt = 0.16001I−0.01185R

Model (3.2) merupakan sistem persamaan diferensial nonlinier orde satu yang

secara analitik sulit ditentukan penyelesaiannya. Oleh karena itu ditentukan

penye-lesaian pendekatan menggunakan algoritme Runge-Kutta orde empat. Nilai awal

yang digunakan mengacu pada banyaknya kelompok individu S, V, I, dan R pada

tahun 2004 (t = 0). Berdasarkan data, diketahui nilai awal untuk masing-masing

kelompok individu yaitu

S(0) = 217890382 V(0) = 4169722 I(0) = 985000 R(0) = 119545. (3.3)

Selanjutnya ditentukan penyelesaian model (3.2) dengan syarat awal (3.3)

dalam kurun waktu 12 tahun pertama (2005-2016). Penyelesaian pada tahun ke-11

dan ke-12 dibandingkan dengan data tahun 2015-2016. Selain itu, pada tahun yang

sama juga dapat dibandingkan insiden (kasus baru dan kambuh) TB. Eror relatif

untuk kelompok individu I dan insiden TB ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Eror relatif kelompok individu I dan insiden TB

(7)

Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa mutlak eror relatif untuk kelompok

in-dividu I dan insiden TB bernilai kurang dari 0.06 sehingga model (3.2) dapat

dikatakan cukup akurat. Angka prevalensi dan mortalitas TB dipengaruhi oleh

banyaknya individu I sehingga prediksi angka prevalensi dan mortalitas TB dapat

ditentukan. Selain itu juga dapat ditentukan prediksi angka insiden TB. Prediksi

angka prevalensi, angka insiden, dan mortalitas TB di Indonesia pada tahun

2017-2035 ditunjukkan dalam Gambar 1.

397

2017 2020 2025 2030 2035 Tahun

50

Gambar 1. Prediksi angka prevalensi, angka insiden, dan mortalitas TB di Indonesia tahun 2017-2035

Berdasarkan Gambar 1 terlihat ketiga indikator penanggulangan TB

mengala-mi penurunan dari tahun ke tahun dengan rata-rata persentase penurunan setiap

tahunnya adalah 1.90% untuk angka prevalensi dan mortalitas TB serta 1.68% untuk

angka insiden TB.

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, diambil tiga kesimpulan.

(1) Model SV IR dengan kasus kambuh pada penyebaran penyakit TB yaitu

(8)

denganS(0)≥0,V(0) ≥0,I(0)>0, dan R(0) ≥0, sertaθ, β, γ, µ, δ, α, λ, σ

bernilai positif.

(2) Model SV IR dengan kasus kambuh diterapkan pada penyebaran TB di

Indonesia dengan estimasi parameter menggunakan data tahun 2004-2014.

Penyelesaian model dibandingkan dengan data tahun 2015-2016. Berdasarkan

eror relatifnya, modelSV IR dengan kasus kambuh untuk penyebaran TB di

Indonesia cukup akurat sehingga model dapat digunakan untuk memprediksi

angka prevalensi, angka insiden, dan mortalitas TB di Indonesia.

(3) Angka prevalensi, angka insiden, dan mortalitas TB di Indonesia pada tahun

2017-2035 mengalami penurunan dari tahun ke tahun dengan rata-rata

persen-tase penurunan per tahun yaitu 1.90% untuk angka prevalensi dan mortalitas

TB serta 1.68% untuk angka insiden TB.

Daftar Pustaka

1. CDC, The Role of BCG Vaccine in the Prevention and Control of Tuberculosis in United State: A Joint Statement by the Advisory Council for the Elimination of Tuberculosis and the Advisory Committee on Immunization Pratices, MMWR45 (1996), No. RR–4.

2. Enagi, A.I. and M.O. Ibrahim,Preventing Mother to Child Transmission of Tuberculosis Using Bacillus Calmette-Geurin Vaccine: A Deterministic Modelling Approach, Research Journal of Mathematics and Statistics 32(2011), 67–71.

3. Hethcote, H. W., Three Basic Epidemiological Models, Applied Mathematical Ecology 18

(1989), 119–144.

4. Kemenkes RI [Kementerian Kesehatan Republik Indonesia],Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, 2011.

5. Kemenkes RI [Kementerian Kesehatan Republik Indonesia], Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis, 2016.

6. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan,Buku Ajar Imunisasi, 2014.

7. Shahid, M., N. Khan, M. Hussain, M.L. Ali, and A. Mansoor, Vaccinated Susceptible Infected and Recovered (VSIR) Mathematical Model to Study the Effect of Bacillus Calmette-Geurin Vaccine and the Disease Stability Analysis, International Journal of Mathematical, Computational, Physical, Electrical and Computer Engineering9(2015), No. 2.

8. Sutopo, Agus, Dian Fitriana Arthati, and Utari Azalika Rahmi,Kajian Indikator Sustainable Development Goals (SDGs), Badan Pusat Statistik, Jakarta, 2014.

9. Tim Pusdatin [Pusat Data dan Informasi],Profil Kesehatan Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2006-2017.

10. World Bank,Birth and Death Rate, Crude, 2017.

11. WHO [World Health Organization],Global Health Observatory Data Repository:Tuberculosis, 2017.

Gambar

Gambar 1. Prediksi angka prevalensi, angka insiden, dan mortalitasTB di Indonesia tahun 2017-2035

Referensi

Dokumen terkait

Terbentuk model matematika SIRS0I0V0 (Susceptible pada manusia – Infected pada manusia – Recovered pada manusia – Susceptible pada unggas – Infected pada unggas –

Model epidemi susceptible infected susceptible (SIS ) merupakan model yang menggambarkan penyebaran penyakit dengan karakteristik setiap individu sem- buh dapat terinfeksi

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebaran penyakit diare menggunakan model SIS (Susceptible-Infected-Susceptible) dan menganalisis karakteristik

Model yang digunakan adalah model SIDV yang meliputi klas Susceptible, Infectious, Dormant, dan Vaccinated dengan pengaruh vaksinasi dan treatment.. Analisis terhadap

Model yang digunakan dalam penyebaran penyakit Covid-19 adalah model SVIR (Susceptible Vaccine Infected Recovered) yang dibagi ke dalam empat kelas, yaitu: Susceptible (S)

Data yang digunakan yaitu data rekam medik penderita TB yang telah dikelompokkan ke dalam kelompok individu susceptible (S), exposed (E), infected (I), dan recovered

Besarnya perubahan jumlah individu vaccinated menjadi susceptible pada selang waktu ∆t adalah k dan besarnya perubahan jumlah individu infected menjadi recovered pada selang waktu ∆t

Model tersebut adalah susceptible infected recovered SIR dimana total populasi dibagi menjadi 3 kelas, yaitu Susceptible S adalah populasi yang sehat tetapi rentan, Infected I adalah