• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Belajar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sumber Belajar"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

9 A. Landasan Teori

1. Sumber Belajar

a. Pengertian Sumber Belajar

Sumber belajar memiliki pengertian yang sangat luas. Sumber

belajar menurut Ahmad Rohani & Abu Ahmadi (1995: 152) adalah

guru dan bahan-bahan pelajaran berupa buku bacaan atau

semacamnya. Pengertian selanjutnya dari sumber belajar adalah

segala daya yang dapat dipergunakan untuk kepentingan proses

pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung, di luar diri

peserta didik yang melengkapi diri mereka pada saat pembelajaran

berlangsung.

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat mendukung

proses belajar sehingga memberikan perubahan yang positif. Hal

tersebut sesuai dengan pernyataan Arif S Sadiman (dalam Ahmad

Rohani & Abu Ahmadi, 1995: 152-153) yang berpendapat bahwa

sumber belajar adalah segala macam sumber yang ada di luar yang

memungkinkan terjadinya proses belajar. Peranan sumber-sumber

belajar (seperti: guru, dosen, buku, film, majalah, laboratorium,

peristiwa, dan sebagainya) memungkinkan individu berubah dari

(2)

tidak terampil menjadi terampil, dan menjadikan individu dapat

membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jadi segala

apa yang bisa mendatangkan manfaat atau mendukung dan

menunjang individu untuk berubah ke arah yang lebih positif,

dinamis, atau menuju perkembangan dapat disebut sumber belajar.

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat memberikan

informasi dalam pembelajaran. Abdul Majid (2008:170)

mengungkapkan bahwa sumber belajar ditetapkan sebagai informasi

yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang

dapat membantu siswa dalam belajar, sebagai perwujudan dari

kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan,

video, perangkat lunak, atau kombinasi dari beberapa bentuk

tersebut yang dapat digunakan siswa dan guru. Sumber belajar juga

dapat diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan, orang, dan

benda yang mengandung imformasi yang menjadi wahana bagi

siswa untuk melakukan proses perubahan perilaku.

Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat membantu

siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Wina Sanjaya (2010:

175) menyebutkan bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang

dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari bahan dan

pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Sumber belajar disini meliputi, orang, alat dan bahan, aktivitas, dan

(3)

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan

bahwa sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan

oleh siswa untuk mempelajari suatu hal. Pengertian dari sumber

belajar sangat luas. Sumber belajar tidak terbatas hanya buku saja

tetapi dapat berupa, orang, alat, bahan, dan lingkungan yang dapat

mendukung proses pembelajaran.

b. Klasifikasi Sumber Belajar

Pengertian sumber belajar sangat luas. Namun secara umum

ada beberapa klasifikasi sumber belajar. AECT (Association of

Education Communication Technology) mengklasifikasikan sumber

belajar dalam enam macam yaitu message, people, materials, device,

technique, dan setting (Akhmad Rohani & Abu Ahmadi, 1995: 155).

Enam klasifikasi sumber belajar tersebut dapat dijelaskan sebagai

berikut:

1) Message (pesan), yaitu informasi/ajaran yang diteruskan oleh

komponen lain dalam bentuk gagasan, fakta, arti dan data.

2) People (orang), yakni manusia yang bertindak sebagai

penyimpan, pengolah, dan penyaji pesan. Termasuk kelompok

ini misalnya dosen, guru, tutor, dll.

3) Materials (bahan), yaitu perangkat lunak yang mengandung

pesan untuk disajikan melalui penggunaan alat/perangkat

(4)

termasuk kategori materials, seperti transportasi, slide, film,

audio, video, modul, majalah, buku dan sebagainya.

4) Device (alat), yakni sesuatu (perangkat keras) yang digunakan

yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan

dalam bahan. Misalnya overhead proyektor, slide, video

tape/recorder, dll

5) Technique (teknik), yaitu prosedur atau acuan yang

dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang,

lingkungan untuk menyampaikan pesan. Misalnya pengajaran

terprogram/modul, simulasi, demonstrasi, tanya jawab, dll.

6) Setting (lingkungan), yaitu situasi atau suasana sekitar dimana

pesan disampaikan. Baik lingkungan fisik ataupun non fisik.

Teori lain mengklasifikasikan sumber belajar menjadi lima hal

yaitu tempat, benda, orang, buku, dan peristiwa. Hal tersebut

diungkapkan oleh Abdul Majid (2008: 170-171). Klasifikasi tersebut

secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Tempat atau lingkungan sekitar dimana seseorang dapat

belajar dan melakukan perubahan tingkah laku, seperti sungai,

pasar, gunung, museum, dll.

2) Segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan

tingkah laku peserta didik, misalnya situs, dll.

3) Orang yang memiliki keahlian tertentu sehingga siswa dapat

(5)

4) Segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh

siswa.

5) Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi.

Berdasarkan klasifikasi di atas, sumber belajar dapat

digolongkan menjadi: pesan, orang, alat, bahan, teknik, dan

lingkungan. Penelitian ini mengembangkan sumber belajar bentuk

majalah. Berdasarkan klasifikasi di atas, dapat dilihat majalah

merupakan salah satu bentuk sumber belajar yang termasuk ke dalam

klasifikasi sumber belajar bahan atau materials. Majalah

mengandung pesan yang dapat menjadi sumber belajar bagi siswa.

Majalah merupakan sumber informasi aktual yang dapat digunakan

secara mandiri oleh siswa.

c. Manfaat Sumber Belajar

Sumber belajar memiliki berbagai manfaat penting dalam

kegiatan pembelajaran. Sumber belajar tidak hanya bermanfaat

untuk menyalurkan pesan, tetapi juga strategi, metode, dan

tekniknya. Tim Pengembang Ilmu Pendidikan dari FIP UPI (2007:

201) mengungkapkan manfaat sumber belajar adalah: 1)

Meningkatkan produktifitas pembelajaran; 2) Memberikan

kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual; 3)

Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran; 4)

Lebih memantapkan pembelajaran; 5) Memungkinkan belajar secara

(6)

Sumber belajar bermanfaat untuk memfasilitasi kegiatan

belajar agar menjadi lebih efektif dan efisien. Eveline Siregar &

Hartini Nara (2010: 128-129) menjelaskannya secara rinci sebagai

berikut: 1) memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret dan

langsung; 2) menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan,

dikunjungi, atau dilihat secara langsung; 3) menambah dan

memperluas cakrawala sains yang ada di dalam kelas; 4)

memberikan informasi yang akurat dan terbaru; 4) membantu

memecahkan masalah pendidikan dalam lingkup makro maupun

mikro; 5) memberikan motivasi positif; dan 6) merangsang untuk

berfikir kritis, merangsang untuk bersikap lebih positif serta

berkembang lebih jauh.

Berdasarkan beberapa manfaat yang diungkapkan ahli tersebut,

maka dapat disimpulkan bahwa sumber belajar tidak hanya

menyalurkan pesan saja, melainkan juga dapat meningkatkan

efektifitas proses pembelajaran. Peningkatan proses pembelajaran

pada akhirnya akan meningkatkan kualistas siswanya. Khususnya

untuk sumber belajar bentuk majalah yang dikembangkan dalam

penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat untuk

memberikan pengalaman belajar yang lebih konkret, memperluas

cakrawala, memberi informasi yang akurat, serta merangsang untuk

(7)

d. Komponen-Komponen Sumber Belajar

Komponen adalah bagian-bagian yang selalu ada di dalam

sumber belajar, dan bagian-bagian itu merupakan satu kesatuan yang

sulit berdiri sendiri sekalipun mungkin dapat dipergunakan secara

terpisah. Komponen-komponen sumber belajar menurut Nana

Sudjana & Ahmad Rivai (1989: 81-83) diantaranya adalah: 1)

tujuan, misi, atau fungsi sumber belajar; 2) bentuk, format, atau

keadaan fisik sumber belajar; 3) pesan yang dibawa oleh sumber

belajar; dan 4) tingkat kesulitan atau kompleksitas pemahaman

sumber belajar.

Komponen-komponen sumber belajar di atas dapat diuraikan

lebih jauh sebagai berikut:

1) Tujuan, misi, atau fungsi sumber belajar, artinya setiap sumber

belajar selalu memiliki tujuan atau misi yang akan dicapai.

Tujuan setiap sumber itu selalu ada, baik secara eksplisit

maupun secara implisit. Tujuan sangat dipengaruhi oleh sifat

dan bentuk sumber belajar itu sendiri.

2) Bentuk, format, atau keadaan fisik sumber belajar satu dengan

lainnya berbeda-beda. Keadaan fisik sumber belajar ini

merupakan komponen penting. Penggunaan atau

pemanfatannya hendaknya dengan memperhitungkan segi

(8)

3) Pesan yang dibawa oleh sumber belajar. Setiap sumber belajar

selalu membawa pesan yang dimanfaatkan atau dipelajari oleh

para pemakainya. Komponen pesan merupakan informasi yang

penting. Oleh karena itu para pemakai sumber belajar

hendaknya memperhatikan bagaimana pesan disimak. Hal-hal

yang perlu diperhatikan antara lain: isi pesan harus sederhana,

sukup jelas, lengkap, mudah disimak maknanya.

4) Tingkat kesulitan atau kompleksitas pemakaian sumber

belajar. Tingkat kompleksitas penggunaan sumber belajar

berkaitan dengan keadaan fisik dan pesan sumber belajar.

Sejauh mana kompleksitasnya perlu diketahui guna

menentukan apakah sumber belajar itu masih bisa

dipergunakan, mengingat waktu dan biaya yang terbatas.

Komponen-komponen tersebut saling berkaitan sehingga

membentuk satu sistem yang menyusun sumber belajar. Setiap

komponen merupakan satu kesatuan yang sulit berdiri sendiri

sekalipun mungkin dapat dipergunakan secara terpisah. Dalam

penelitian dan pengembangan ini, peneliti mengembangkan sumber

belajar dengan tujuan pembelajaran disesuaikan dengan KI dan KD

yang telah dipilih. Bentuknya berupa majalah cetak, dengan memuat

pesan berbagai rubrik yang mendukung materi dan disajikan dengan

(9)

e. Evaluasi Sumber Belajar

Pengembangan sumber belajar memerlukan evaluasi untuk

mengetahui mutu dari sumber belajar tersebut. Evaluasi sumber

belajar IPS bentuk majalah ini mengadopsi dari evaluasi buku teks

yang disampaikan oleh Masnur Muslich (2010: 291-313), yang

kemudian disesuaikan dengan evaluasi pembuatan majalah. Evaluasi

sumber belajar meliputi kelayakan isi, kelayakan penyajian,

kelayakan kebahasaan dan kelayakan kegrafikan. Secara lebih rinci

evaluasi sumber belajar dijabarkan dalam berbagai indikator berikut

ini:

1) Penilaian kelayakan isi

Ada tiga indikator yang harus diperhatikan. Yaitu kesesuaian

uraian materi dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar

yang terdapat dalam kurikulum mata pelajaran yang

bersangkutan, keakuratan materi, dan materi pendukung

pembelajaran.

2) Penilaian kelayakan penyajian

Terdapat tiga indikator yang harus diperhatikan dalam

kelayakan penyajian, yaitu: teknik penyajian, penyajian

pembelajaran, dan kelengkapan penyajian.

3) Penilaian kelayakan bahasa

Ada tiga indikator yang harus diperhatikan dalam menilai

(10)

tingkat perkembangan siswa, pemakaian bahasa yang

komunikatif, dan pemakaian bahasa memenuhi syarat

keruntutan dan keterpaduan alur berpikir.

4) Penilaian kelayakan kegrafikan

Ada tiga indikator yang harus diperhatikan dalam hal

kegrafikan, yaitu ukuran buku, desain kulit buku, dan desain isi

buku

Evaluasi sumber belajar bentuk majalah ini akan mengadobsi

dari kriteria evaluasi tersebut yang disesuaikan dengan kriteria

majalah yang baik. Evaluasi sumber belajar dilakukan oleh ahli

materi, ahli media, dan guru. Sehingga instrumen evaluasi

disesuaikan dengan kepentingan masing-masing.

2. Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP a. Pengertian IPS

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata

pelajaran yang diajarkan pada siswa Sekolah Menengah Pertama

(SMP). Terdapat beberapa pengertian IPS menurut ahli yang akan

dijabarkan di bawah ini.

Menurut National Council for Sosial Studies (NCSS) (dalam

Supardi, 2011: 182) menyebutkan bahwa:

(11)

appropriate content from the humanities, mathematics, and the natural sciences.

Menurut Numan Somantri (2001: 44) batasan dan tujuan IPS

adalah suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, psikologi,

filsafat, ideologi negara dan agama yang diorganisasikan, disajikan

secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Berdasarkan

batasan tujuan tersebut, maka IPS untuk tingkat sekolah diartikan

sebagai: 1) pendidikan yang menekankan pada tumbuhnya nilai-nilai

kewarganegaraan, moral, ideologi negara dan agama; 2) pendidikan

yang menekankan pada isi dan metode berpikir ilmuan sosial; 3)

pendidikan yang menekankan pada reflectif inquiry; dan 4)

pendidikan yang mengambil kebaikan-kebaikan dari butir 1, 2, dan 3

tersebut.

Menurut beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa IPS adalah integrasi dari berbagai macam ilmu sosial seperti

geografi, sejarah, sosiologi, ekonomi, politik, hukum, psikologi, dan

lain-lain yang disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan

pendidikan. Tetapi secara konseptual seperti yang diungkapkan

Sapriya (2011: 200-201) bahwa pelajaran IPS di SMP belum

mencakup dan mengakomodasi seluruh disiplin ilmu sosial. Jadi

pembelajaran IPS di SMP saat ini merupakan integrasi empat bidang

(12)

b. Tujuan Pendidikan IPS di SMP

Pendidikan IPS tidak hanya bertujuan untuk memberikan

pengetahuan saja kepada siswa, tetapi harus sampai kepada

penerapan pengetahuannya dalam kehidupan. Hal tersebut dapat

dilihat dalam tujuan pendidikan IPS yang termuat dalam NCSS

(Supardi, 2011: 184-185) yang meliputi: tujuan informasi dan

pengetahuan (knowledge and information), nilai dan tingkah laku

(attitude and values), dan tujuan ketrampilan (skill): sosial, bekerja

dan belajar, kerja kelompok, dan ketrampilan intelektual. Gross

(dalam Etin Sholihatin & Raharjo, 2009: 14) menyebutkan bahwa

tujuan IPS adalah untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara

yang baik dalam kehidupannya di masyarakat dan mengembangkan

kemampuan siswa untuk menggunakan penalaran dalam mengambil

keputusan yang dihadapinya.

Sesuai dengan tingkatannya mata pelajaran IPS di SMP

disusun secara sistematis dan terpadu dalam pembelajaran menuju

kedewasaan dan keberhasilan dalam masyarakat. Dalam hal ini,

Sapriya (2011: 201) merumuskan tujuan IPS ditingkat SMP adalah:

1) mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan

masyarakat dan lingkungannya; 2) memiliki kemampuan dasar untuk

berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, keterampilan sosial

dalam memecahkan masalah; 3) memiliki komitmen dan kesadaran

(13)

kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, serta berkompetisi dalam

masyarakat majemuk.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa

pendidikan IPS di SMP bertujuan untuk memberikan informasi dan

pengetahuan kepada siswa, memperbaiki nilai dan tingkah laku, dan

mengembangkan keterampilan. Selain itu, pendidikan IPS di sekolah

juga mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik

dan mampu menggunakan penalaran untuk mengambil keputusan.

3. Majalah

a. Pengertian Majalah

Majalah adalah sekumpulan artikel atau kisah yang diterbitkan

teratur secara berkala (Marcel Danesi, 2010: 89). Majalah

menampilkan beragam informasi, opini, dan hiburan konsumsi

massa dengan berbagai ilustrasi pendukung.

Nurudin (2009: 14) mengungkapkan bahwa majalah (biasanya

terbit mingguan, tengah bulanan, bulanan, atau triwulanan)

menampilkan tulisan yang lebih mendalam disertai data dan analisis

yang tajam. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Indah Suryawati

(2011: 42) yang mendeskripsikan majalah sebagai media komunikasi

yang menyajikan informasi secara dalam, tajam, dan memiliki nilai

aktualitas yang lama serta menampilkan gambar/foto yang banyak.

(14)

tersendiri. Majalah dapat diterbitkan secara mingguan,

dwimingguan, bulanan, bahkan dwi atau triwulan.

Slamet Soeseno (1997: 8-11) memberikan batasan mengenai

majalah yaitu berisi kumpulan tulisan yang menghibur dan

menyenangkan pembacanya. Majalah lebih banyak berisi feature

penyuluhan, kisah perjalanan, artikel masalah dan pendirian

penulisnya, cerita kocak, laporan hasil penyelidikan, sajak dan

jenis-jenis kesusasteraan lainnya. Majalah sering kali disertai dengan foto

dan gambar ilustrasi. Majalah lebih mementingkan kemenarikan

bahan yang ditulis daripada aktualitasnya. Karena sifat tulisan dari

majalah adalah tak lekang oleh waktu.

Dari beberapa definisi majalah di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa majalah adalah kumpulan tulisan yang

menghibur dan menyenangkan pembacanya melalui berbagai rubrik

seperti: feature, artikel dan kisah. Majalah memiliki ciri-ciri:

menyajikan informasi yang menarik, disajikan secara mendalam,

disertai gambar, dan terbit secara berkala.

b. Jenis-Jenis Majalah

Majalah terbagi menjadi dua kategori yaitu majalah umum

(untuk semua golongan masyarakat) dan majalah khusus (untuk

bidang profesi/golongan/kalangan tertentu) (Indah Suryawati, 2011:

(15)

dituju, artinya redaksi sudah menentukan sebelumnya siapa yang

akan menjadi sasaran pembacanya.

Dominick (dalam Indah Suryawati: 2011: 43)

mengklasifikasikan majalah ke dalam lima kategori yaitu: 1) general

consumer magazine (majalah konsumen umum); 2) business

publication (majalah bisnis); 3) literacy reviews and academic jurnal

(kritik sastra dan majalah ilmiah); 4) newsletter (majalah khusus

terbitan berkala); dan 5) public relations magazines (majalah

humas).

Slamet Soeseno (1997: 8) menggolongkan majalah menjadi

dua jenis, yaitu majalah yang bersifat umum dan majalah yang

bersifat khusus. Majalah bersifat khusus hanya mengurusi

bidang-bidang tertentu, seperti pertanian, kedokteran, kewanitaan, sport,

film, fotografi, hobi, atau keilmuan tertentu.

Dalam penelitian pengembangan ini, peneliti

mengembangkan majalah dalam kategori majalah khusus, yaitu

majalah yang digunakan sebagai sumber belajar IPS dengan materi

interaksi manusia dan lingkungan untuk siswa SMP kelas VII.

Karena tujuan dari pengembangan majalah sebagai sumber belajar,

maka majalah yang dikembangkan bersifat ilmiah populer.

Majalah ilmiah populer ringan untuk dibaca. Menurut Mien

A. Rifai (2005: 59) majalah ilmiah populer berisi tulisan ilmiah

(16)

sederhana, sering kali kocak dan bercanda, penuh bunga-bunga, serta

sedikit sekali memakai istilah teknis. Karena ditujukan untuk

konsumsi masyarakat umum itu, kosakata yang dipakai biasanya

tidak sampai berjumlah 1500.

Ada dua ciri majalah ilmiah populer. Slamet Soeseno (1997:

83-100) mengungkapkan majalah ilmiah populer memiliki ciri

kedalaman pembahasan materi dan keobjektifan pandangan yang

dikemukakan. Tulisan tidak hanya mengungkapkan mengapa dan

bagaimana suatu fakta, tetapi juga mengapa dan bagaimana suatu

proses disertai penjelasan ilmiahnya. Ciri yang selanjutnya adalah

pembahasan tersebut ditulis dengan bahasa yang populer.

Majalah dalam penelitian ini disusun khusus sebagai sumber

belajar IPS dengan materi pokok mengenai interaksi manusia dan

lingkungan. Majalah disajikan dengan memunculkan tiga feature

disertai beberapa rubrik pendukung dan diungkapkan dengan bahasa

yang populer. Sasaran pembaca yang dituju adalah siswa kelas VII

SMP. Sehingga penyusunan majalah disesuaikan dengan sasaran dan

fungsi majalah tersebut.

c. Syarat Majalah Ilmiah Populer

Majalah ilmiah populer berisi artikel atau tulisan ilmiah

populer. Menurut Sugihastuti (2000: 116) tulisan ilmiah populer

harus memenuhi syarat, antara lain: 1) fakta atau gejala dan hasil

(17)

dimengerti, tetapi bukan berbentuk tulisan sendau gurau. Tulisan

dalam majalah bersifat ilmiah dan disajikan secara populer.

Tulisan ilmiah populer diharapkan mampu menjelaskan

mengapa dan bagaimana objek, fakta, dan gejala itu terjadi secara

objektif. Tulisan mengandung kebenaran secara objektif karena

didukung oleh informasi yang sudah teruji kebenarannya. Data yang

disajikan bukan data subjektif. Tulisan disajikan secara mendalam

berkat penalaran dan analisis yang tidak pandang bulu.

Majalah ilmiah populer disajikan dengan bahasa yang populer.

Populer tidak berarti ceroboh. Istilah populer digunakan untuk

menyatakan topik yang akrab, menyenangkan bagi populus (rakyat),

atau disukai oleh orang kebanyakan karena menarik dan mudah

dipahami. Agar dapat menarik harus enak dibaca, teratur dan lancar

bahasanya. Agar mudah dipahami, tulisan yang menarik itu harus

mampu pula menyederhanakan persoalan yang dikemukakan.

Tulisan ilmiah populer dikonsumsi oleh massa, sehingga ada

beberapa hal yang harus dipenuhi yaitu singkat, padat, sederhana,

lancar, lugas, menarik, dan populer. Tulisan ilmiah populer

menggunakan kalimat-kalimat yang pendek, padat, dan sederhana.

d. Langkah-Langkah Membuat Majalah

Langkah-langkah membuat majalah meliputi empat tahap,

(18)

Kanis Barung, Djony Hervan & Joko Pinurbo (1998: 86-94)

menjelaskan secara rinci sebagai berikut:

1) Tahap Perencanaan

Pembuatan majalah harus memiliki perencanaan yang

matang. Hal-hal yang harus direncanakan dalam pembuatan

majalah meliputi perencanaan jenis majalah, perencanaan kala

penerbitan, perencanaan rubrik, perencanaan perwajahan,

perencanaan biaya, perencanaan personalia, dan perencanaan

evaluasi.

2) Tahap Pelaksanaan

Inti kegiatan pembuatan majalah adalah tahap

pelaksanaan. Pada tahap ini setidaknya ada tiga sub tahap yang

harus dilaksanakan. Ketiga sub tahap tersebut adalah

pengadaan bahan, pengelolaan bahan, dan produksi/penerbitan.

3) Tahap Evaluasi

Ada beberapa hal yang harus dievaluasi, diantaranya: hasil

yang dicapai bermutu atau tidak, ada unsur kreativitas atau

monoton, bahan yang muncul menarik atau tidak; ilustrasi

yang muncul bernilai didaktis atau destruktif, serta bagaimana

(19)

4) Tahap Dokumentasi

Pada tahapan ini redaksi menghimpun bahan yang pernah

terbit dengan cara tertentu sebagai arsip yang bermanfaat pada

kesempatan lain.

Dalam penelitian dan pengembangan ini, langkah pembuatan

majalah mengikuti langkah-langkah tersebut. Untuk memenuhi

persyaratan majalah ilmiah populer seperti yang diungkapkan

sebelumnya, maka dalam tahapan pengelolaan bahan diperlukan

pedoman penulisan majalah ilmiah populer.

Penulisan ilmiah populer mengikuti pada pedoman yang

disampaikan oleh Slamet Soeseno. Slamet Soeseno (1997: 15-32)

mengungkapkan ada empat langkah dalam menulis majalah ilmiah

populer, yaitu: 1) menelaah tema; 2) menguji kelayakan topik

(pokok bahasan yang akan ditulis); 3) mengumpulkan bahan sumber

tulisan; dan 4) menyususn bahan informasi menjadi salah satu

bentuk penulisan yang cocok. Secara lebih rinci, langkah-langkah

tersebut dijelaskan di bawah ini.

Menelaah tema dilakukan agar tidak mengalami salah tafsir

yang akhirnya akan salah dalam mencari dan mengumpulkan bahan

informasi. Menelaah tema tidak hanya cukup dengan hanya mencari

jawaban atas pertanyaan “apa”, tetapi perlu mencari jawaban atas

(20)

Langkah selanjutnya adalah menguji kelayakan topik.

Kelayakan topik dapat dilihat dari kemenarikan suatu topik untuk

dibahas, serta apakah topik tersebut dapat menambah pengetahuan

pembaca atau mampu memecahkan suatu permasalahan. Jika kedua

hal tersebut terpenuhi, maka topik tersebut layak untuk ditulis.

Setelah tema dan topik ditentukan, maka langkah selanjutnya

adalah pengumpulan bahan tulisan. Hal ini dilakukan untuk mencari

dasar-dasar atau informasi lebih mendalam dalam tulisannya. Ketika

bahan telah terkumpul tibalah saatnya untuk menulis sesuai dengan

bentuk tulisan yang cocok.

e. Langkah-Langkah Penggunaan Majalah Sebagai Sumber Belajar

Majalah merupakan sember belajar dalam bentuk bacaan.

Terdapat beberapa hal dalam penggunaan majalah sebagai sumber

balajar bentuk bacaan. Kokom Komalasari (2013: 129-130)

menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

1) Sumber belajar bacaan dapat digunakan siswa sebagai sumber

referensi penunjang pemahaman siswa untuk mendampingi

buku teks.

2) Sumber belajar bacaan dimanfaatkan guru dalam pembelajaran

dengan memberi kesempatan kepada siswa secara individual

(21)

pertanyaan dari bacaan, dan menjawab pertanyaan yang

tersedia.

3) Teknik pemanfaatan sumber belajar bacaan dapat pula

menggunakan kelompok belajar kooperatif, dimana guru

menyodorkan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh

siswa dengan cara membaca sumber belajar tersebut, kemudian

siswa menyampaikan hasil diskusi kelompok di depan kelas.

4) Guru dapat mebuat pointer-pointer penting dari isi bacaan

untuk memperjelas pemahaman siswa tentang isi bacaan

tersebut.

Majalah sebagai sumber belajar bacaan dalam pembelajaran

IPS khususnya pada penerapan kurikulum 2013 dapat digunakan

dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Guru memberikan satu atau beberapa permasalahan sosial

kepada siswa. Siswa diminta untuk memecahkan permasalahan

tersebut dengan menggunakan berbagai sumber.

2) Siswa menyusun pertanyaan-pertanyaan yang kemudian akan

digunakan untuk mengumpulkan data.

3) Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan

membaca, memahami, dan mengumpulkan data-data dari

majalah. Jadi, peran majalah disini adalah sebagai sumber data

(22)

4) Siswa menganalisis dan menarik kesimpulan dari data-data

yang telah dikumpulkan.

5) Langkah terakhir, siswa mempresentasikan hasil

pengamatannya di depan kelas.

Langkah-langkah tersebut tidak harus dilaksanakan secara

paten. Guru dapat menggunakannya secara fleksibel. Tetapi yang

perlu menjadi catatan adalah fungsi dari majalah itu sendiri adalah

sebagai sumber data yang dapat dugunakan saat siswa melakukan

pengamatan dan pengumpulan data.

f. Format Sumber Belajar IPS Bentuk Majalah.

Majalah disusun sebagai sumber belajar IPS mengikuti format

penulisan majalah ilmiah populer yang disesuaikan dengan kriteria

sumber belajar. Tulisan di dalamnya bersifat ilmiah, tetapi disajikan

dengan bahasa yang ringan. Sajian materi yang ditampilkan

disesuaikan dengan materi interaksi manusia dan lingkungan.

Majalah diterbitkan dalam dua edisi. Edisi pertama mengangkat tema

pokok Hakikat Interaksi Manusia dan Lingkungan, dan edisi kedua

mengankat tema pokok Dampak Aktivitas Manusia terhadap

Lingkungan Alam, Ekonomi, dan Sosial Budaya. Majalah sebagai

sumber belajar IPS disesuaikan dengan KI dan KD yang telah

ditentutan dengan materi interaksi manusia dan lingkungan.

Majalah sebagai sumber belajar IPS diterbitkan dalam dua

(23)

menyajikan rubrik-rubrik yang mendukung materi tersebut.

Berdasarkan sifat isinya, Kanis Barung, dkk (1998: 49-65)

mengklasifikasikan rubrik dalam tiga golongan besar yaitu rubrik

opini, rubrik informasi, dan rubrik berita. Rubrik opini terdiri dari

tajuk rencana, pojok, karikatur, surat pembaca, artikel, silang

pendapat dan esai. Rubrik informasi atau berita terdiri dari pengantar

redaksi, berita, resensi, ruang iptek, feature, apa dan siapa, kronik,

dan kosakata. Rubrik hiburan terdiri dari puisi, cerita pendek,

anekdot, kartun, kata-kata mutiara, dan vinyet. Majalah sebagai

sumber belajar IPS ini menyajikan rubrik Dari Editor, Pariwara

Khusus, Kini, Kelak, Sajian Utama berupa tiga feature, Refleksi,

Cerpen, dan Socia Word.

Ukuran majalah adalah B5 (17x22,5cm) dengan jumlah

halaman adalah 24 dan disajikan dalam dua kolom. Hal ini sesuai

dengan format majalah yang disampaikan oleh R Masri Sareb Putra

(2008: 98-99) yang menyebutkan bahwa paling ideal, jumlah

halaman majalah adalah 16, 24, 32, 48, 56, atau 64. Sedangkan

ukuran majalah berkisar pada lima format, yaitu: 13x20cm,

17x22.5cm, 14x21cm, 15x23cm, dan 22x28.5cm. Kelima format

tersebut dianjurkan karena efektif dan ekonomis. Format pertama

bagus jika diset satu kolom. Format kedua sampai keempat dapat

(24)

Tim Redaksi majalah terdiri dari ketua, sekertaris, penyunting,

pembantu penyunting, dan penata letak. Tim redaksi merupakan

mahasiswa Pendidikan IPS 2010 Fakultas Ilmu Sosial UNY. Feature

yang disajikan sebagai sajian utama ditulis oleh enam mahasiswa

Pendidikan IPS UNY angkatan 2010 dan diolah oleh tim redaksi

majalah. Hal ini untuk menyiasati keterbatasan peneliti dalam

mengembangkan majalah sebagai sumber belajar. Majalah IPS yang

sudah tersusun kemudian divalidasi oleh ahli materi, ahli media, dan

guru sebagai sarana perbaikan produk. Setelah dinyatakan layak

pada tahapan validasi, produk kemudian diujicobakan kepada siswa.

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan terhadap penelitian ini sebagai berikut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Anita Hartini Suryaman (2010) yang

berjudul Pengembangan Media Pembelajaran Geografi Bentuk Majalah

untuk Siswa SMA pada Materi Hidrosfer dan Dampaknya Terhadap

Kehidupan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media pembelajaran

geografi bentuk majalah layak digunakan dengan penilaian oleh ahli

materi 4, ahli media 4.42, guru 4.21, dan siswa 4.45. Persamaan

penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah

pengembangan majalah. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang

yang dilakukan peneliti adalah pada fungsi majalah, materi dan sasaran

pembaca. Dalam penelitian ini majalah berfungsi sebagai media,

(25)

Materi dalam penelitian ini adalah Hidrosfer dan Dampaknya terhadap

Kehidupan dengan sasaran pembaca siswa SMA, sedangkan peneliti

mengembangkan majalah dengan materi Interaksi Manusia dan

lingkungan dengan sasaran pembaca siswa SMP kelas VII.

2. Penelitian oleh Dian Ardhina (2012) dengan judul Pengembangan Media

Pembelajaran Geografi Bentuk Majalah Elektronik untuk Siswa SMA

Kelas X. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa media

pembelajaran geografi bentuk majalah elektronik layak digunakan untuk

pembelajaran di kelas maupun belajar mandiri. Persamaan penelitian ini

dengan penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti adalah pengembangan

majalah. Perbedaan dengan penelitian yang akan peneliti laksanakan

adalah pada bentuk produk majalahnya. Penelitian ini menghasilkan

produk majalah elektronik, sedangkan peneliti menghasilkan produk

berupa majalah cetak.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Fajar Rahmawati (2012) dengan

judul Pengembangan Majalah Kimia Reaksi Redoks dan Elektrokimia

sebagai Alternatif Sumber Belajar Mandiri pada Mata Pelajaran Kimia

untuk Peserta Didik SMA/MA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

penggunaan majalah kimia reaksi redoks dan elektrokimia sebagai

alternatif sumber belajar mandiri pada mata pelajaran kimia untuk peserta

didik SMA/MA menunjukkan hasil baik dengan skor rata-rata penilaian

4,09. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti

(26)

dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah mengenai materi

sasaran pembacanya. Materi dalam majalah yang dikembangkan dalam

penelitian ini adalah reaksi redoks dan elektrokimia dengan sasaran

pembaca siswa SMA sedangkan majalah yang dikembangkan oleh

peneliti menghadirkan materi mengenai Interaksi Manusia dan

Lingkungan dengan sasaran pembaca siswa SMP kelas VII.

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan dalam latar belakang

masalah, dapat kita lihat bahwa pelaksanaan pembelajaran di sekolah-sekolah

saat ini belum maksimal. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya sumber

belajar di sekolah, terutama sumber belajar IPS.

Kurangnya sumber belajar di sekolah, mempengaruhi pembelajaran IPS

oleh guru di kelas. Terutama dengan adanya tuntutan kurikulum 2013 yang

menuntut penggunaan berbagai macam sumber belajar untuk memperluas dan

memperdalam materi, mengingat buku paket yang tersedia hanya menyajikan

pokok-pokok materi saja. Ketersediaan sumber belajar yang sesuai dengan

kurikulum 2013 masih terbatas. Ditambah lagi dengan tuntutan pembelajaran

IPS yang harus lebih kontekstual. Salah satu sumber belajar yang diharapkan

sesuai dengan kebutuhan pembelajaran IPS tersebut adalah sumber belajar

bentuk majalah. Dalam penelitian dan pengembangan ini peneliti

mengembangkan majalah IPS dengan materi interaksi manusia dan

(27)

Produk yang dikembangkan divalidasi oleh ahli materi dan ahli media,

kemudian dilakukan revisi tahap pertama. Produk hasil revisi dinilai oleh dua

guru SMP dan kemudian dilakukan revisi tahap kedua. Hasil dari revisi

tersebut kemudian diujicobakan kepada 32 siswa kelas VII SMP. Melalui

tahapan-tahapan tersebut maka didapatkan produk akhir sumber belajar

bentuk majalah yang layak untuk digunakan.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disusun skema alur berpikir

sebagai berikut.

Gambar 1. Bagan Alur Kerangka Pikir

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, dapat diidentifikasi

beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana mengembangkan sumber belajar IPS bentuk majalah?

2. Bagaimana penilaian ahli materi terhadap sumber belajar IPS bentuk

(28)

3. Bagaimana penilaian ahli media terhadap sumber belajar IPS bentuk

majalah yang dikembangkan dalam penelitian ini?

4. Bagaimana penilaian guru terhadap sumber belajar IPS bentuk majalah

yang dikembangkan dalam penelitian ini?

5. Bagaimana tanggapan siswa terhadap sumber belajar IPS bentuk majalah

Gambar

Gambar 1. Bagan Alur Kerangka Pikir

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (a) Bagaimana hasil belajar IPS materi Sejarah siswa kelas VII SMP Negeri 5 Jepara yang memanfaatkan Museum

Penelitian ini dapat disimpulkan (1) pelaksanaan pendekatan jelajah alam sekitar sebagai sumber belajar IPS pada siswa kelas VII SMP Al Hayat Jlamprang Kabupaten

Objek penelitian adalah proses dan hasil belajar geografi pada materi interaksi manusia dan lingkungan dalam dinamika atmosfer kaitannya dengan optimalisasi sumber

Judul Penelitian : Pengembangan Media Visual Kirigami Pop Up dengan Materi Potensi dan Sebaran Sumber Daya Alam Indonesia untuk Pembelajaran IPS di SMP Kelas VII Sasaran Program

MELALUI OPTIMALISASI LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR DENGAN PENDEKATAN SCIENTIFIC PADA MATERI INTERAKSI MANUSIA.. DAN LINGKUNGAN DALAM DINAMIKA ATMOSFER TAHUN

terhadap hasil belajar IPS ekonomi siswa kelas VII SMP Negeri 26 Padang. Dimana ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,287. Artinya apabila lingkungan sekolah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara lingkungan belajar dengan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas VII di

3 kendala penerapan metode Outdoor Learning untuk meningkatkan hasil belajar IPS materi interaksi manusia dengan lingkungan pada siswa kelas V SDN Purwodadi Kecamatan Kuwarasan tahun