• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Anak Binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Klas 1 Tanjung Gusta Medan Terhadap Program Awareness Campaign oleh Yayasan Rumah Singgah Caritas Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respon Anak Binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Klas 1 Tanjung Gusta Medan Terhadap Program Awareness Campaign oleh Yayasan Rumah Singgah Caritas Medan"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Respon

Kata respon berasal dari Bahasa Inggris yaitu response, yang berarti jawaban, balasan, reaksi atau tanggapan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia edisi ketiga dijelaskan bahwa definisi respon adalah berupa tanggapan, reaksi dan jawaban. Respon bermula dari adanya suatu tindakan pengamatan yang menghasilkan suatu kesan sehingga konsep respon manusia lebih banyak dikemukakan oleh bidang-bidang ilmu sosial yang melihat respon pada tindakan dan perilaku individu, kelompok, atau masyarakat.

Secara umum dapat dikatakan bahwa terdapat tiga faktor yang mempengaruhi respon seseorang, yaitu:

1. Diri orang yang bersangkutan yang melihat dan berusaha memberikan interprestasi tentang apa yang dilihatnya itu, ia dipengaruhi oleh sikap, motif, kepentingan dan harapannya.

2. Sasaran respon tersebut berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap respon orang melihatnya. Dengan kata lain gerakan, suara ukuran, tindak-tanduk dan ciri-ciri lain dari sasaran respon turut menentukan cara pandang orang.

3. Faktor situasi, respon dapat dilihat secara kontekstual yang berarti dalam situasi dimana respon itu timbul pula mendapat perhatian. Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam pembentukan atau tanggapan seseorang (Sarwono, 1991:35)

(2)

masyarakat. Secara keseluruhan respon individu atau kelompok terhadap suatu situasi fisik dan non fisik dapat dilihat dari tiga tingkatan, yaitu persepsi, sikap, dan tindakan. Simon dalam Wijaya membagi respon seseorang atau kelompok terhadap program pembangunan mencakup tiga hal, yaitu:

1. Persepsi, berupa tindakan penilaian (dalam benak seseorang) terhadap baik buruknya objek berdasarkan faktor keuntungan dan kerugian yang akan diterima dari adanya objek tersebut.

2. Sikap, berupa ucapan secara lisan atau pendapat untuk menerima atau menolak objek yang dipersiapkan.

3. Tindakan atau partisipasi, melakukan kegiatan nyata untuk peran serta atau tindakan terhadap suatu kegiatan yang terkait dengan objek tersebut (http://id.shvoong.com diakses pada tanggal 28 Januari 2016 pukul 11.20)

2.1.1 Persepsi

Persepsi merupan keseluruhan proses mulai dari stimulus (rangsangan) yang diterima panca indera, kemudian stimulus diantar ke otak dimana ia dikodekan serta diartikan dan selanjutnya mengakibatkan pengalaman yang disadarai. Ada yang mengatakan bahwa persepsi merupakan stimulus yang ditangkap oleh pancaindera individu lalu diorganisasikan dan kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari dan mengerti apa yang diindera itu. Ada yang dengan singkat mengatakan persepsi adalah yang memberikan makna stimulus inderawi. Jadi persepsi merupakan suatu proses (Maramis, 2006: 15-16)

(3)

di sekitar kita, dengan kata lain persepsi dapat pula didefenisikan sebagai segala sesuatu yang dialami oleh manusia. Berdasarkan hal tersebut William James menyatakan bahwa persepsi terbentuk atas dasar data-data yang kita peroleh dari pengolahan ingatan kita kemudian diolah kembali berdasarkan pengalaman yang kita miliki (Adi, 1994:105). Cara kita mempersepsi situasi sekarang tidak terlepas dari adanya pengalaman sensoris terlebih dahulu. Kalau pengalaman terdahulu itu sering muncul, maka reaksi kita lalu menjadi salah satu kebiasaan. Mungkin 90% dari pengalaman-pengalaman sensoris kita sehari-hari dipersepsi dengan kebiasaan yang didasarkan pada pengalaman terdahulu yang diulang-ulang. Jadi, dalam kebanyakan situasi, persepsi itu pada umumnya merupakan proses informasi yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman masa lampau (Mahmud, 1990:49).

Persepsi didefinisikan sebgai proses yang kita gunakan untuk menginterpretasikan data-data sensoris. Salah satu definisi menyatakan bahwa persepsi merupakan proses yang kompleks dimana orang memilih, mengorganisasikan dan mnginterpretasikan respons terhadap suatu rangsangan ke dalam situasi masyarakat dunia yang penuh arti dan logis. Bennet, Hoffman, dan Prakash menyatakan bahwa persepsi merupakan aktivitas aktif yang melibatkan pembelajaran, pembaharuan cara pandang, dan pengaruh timbale balik dalam pengamatan (Severin, dan Tankard 2008: 83-84)

2.1.2 Sikap

(4)

afeksi pada seseorang. Thurstone melihat sikap hanya sebagai tingkatan afeksi saja, belum mengkaitkan sikap dengan perllaku. Dengan kata lain dapat dikemukakan Thurstone secara eksplisit melihat sikap hanya mengandung komponen afeksi saja.

Sikap merupakan kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi, atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap obyek sikap. Obyek attitude boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi kelompok. Dengan demikian pada kenyataannya tidak ada istilah sikap yang berdiri sendiri (Sunarjo, 1997:104).

Sikap tumbuh dan berkembang dalam basis sosial yang tertentu, misalnya ekonomi, politik, agama dan sebagainya. Didalam perkembangannya sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan, norma-norma atau group. Hal ini akan mengakibatkan perbedaan sikap antara satu individu dengan individu yang lain karena perbedaan pengaruh atau lingkungan yang diterima. Sikap tidak akan terbentuk tanpa interaksi manusia, terhadap objek tertentu atau suatu objek. Sikap juga dapat berubah dan faktor-faktor yang dapat menyebabkan perubahan sikap adalah :

1. Faktor Internal, yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri. Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Pilihan terhadap pengaruh dari luar biasanya disesuaikan dengan motif dan sikap di dalam diri manusia, terutama yang menjadi minat perhatiannya.

(5)

2.1.3 Partisipasi

Selain persepsi, sikap dan partisipasi juga menjadi hal yang penting dalam mengukur respon. Partisipasi merupakan keikutsertaan seseorang di dalam kelompok sosial untuk mengambil bagian dari kegiatan masyarakatnya, di luar pekerjaan atau profesinya sendiri. Partisipasi juga merupakan proses anggota masyarakat sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mangambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan , pelaksanaan dan pemantauan kebijakan-kebijakan yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka(Theodorson dan Sumarto dalam Soelaeman, 2012:76)

Partisipasi secara umum pengertiannya adalah adanya keterlibatan langsung suatu masyarakat dalam melakukan suatu kegiatan. Partisipasi merupakan keterlibatan masyarakat secara aktif dan terorganisasikan dalam seluruh tahapan pembangunan, sejak tahap sosialisai, persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pemahaman, pengendalian, evaluasi sehingga pengembangan atau perluasannya. Pendekatan partisipasi bertumpu pada kekuatan masyarakat untuk secara aktif berperan serta dalam proses pembangunan secara menyeluruh. Partisipasi atau keikutsertaan para pelaku dalam masyarakat untuk terlibat dalam proses pembangunan ini akan membawa manfaat dan menciptakan pertumbuhan ekonomi didaerah (Suprapto, 2007:20). Menurut Sudarningrum dalam Sugiyah (2001:38) mengklasifikasikan partisipasi menjadi 2 (dua) berdasarkan cara keterlibatannya, yaitu :

(6)

permasalahan, mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap ucapannya.

2. Partisipasi tidak langsung, yakni partisipasi yang terjadi apabila individu mendelagasikan hak partisipasinya (eprints.uny.ac.id) .

2.2 Anak

2.2.1 Pengertian Anak

Menurut The Minimum Age Convention nomor 138 tahun 1973, pengertian tentang anak adalah seseorang yang berusia 15 tahun ke bawah. Pengertian anak pada Pasal 1 Convention On The Rights of The Child, anak diartikan sebagai setiap orang dibawah usia 18 tahun, kecuali berdasarkan hukum yang berlaku terhadap anak, kedewasaan telah diperoleh sebelumnya. Beberapa negara juga memberikan definisi seseorang dikatakan anak atau dewasa dilihat dari umur dan aktifitas atau kemampuan berpikirnya. Di negara Inggris, pertanggungjawaban pidana diberikan kepada anak berusia 10 (sepuluh) tahun tetapi tidak untuk keikutsertaan dalam politik. Anak baru dapat ikut atau mempunyai hak politik apabila telah berusia di atas 18 (delapan belas) tahun. Menurut Pasal 1 ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

(7)

menyebutkan bahwa anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 tahun tetapi belum mecapai 18 tahun dan belum pernah kawin. UU RI No. 20 tahun 1999 tentang Ratifikasi Konvensi ILO tentang batas usia minimum anak bekerja adalah 15 tahun. UU RI No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 1 ayat 5 menyebutkan anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun dan belum menikah.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan beberapa peraturan perundang-undangan diatas, maka dapat dilihat bahwa pengertian anak adalah bervariatif dimana hal tersebut dilihat dari pembatasan batas umur yang diberikan kepada seorang anak apakah anak tersebut dibawah umur atau belum dewasa dan hal tersebut dapat dilihat dari pengertian masing-masing peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Namun meskipun demikian pada prinsipnya anak adalah seseorang yang tumbuh dalam perkembangannya yang mana anak tersebut memerlukan pemeliharaan, pendidikan, bimbingan, dan perlindungan untuk masa depannya.

2.2.2 Anak yang Berkonflik dengan Hukum

(8)

peradilan pidana anak mencakup banyak ragam dan kompleksitas isu mulai dari anak melakukan kontak pertama dengan polisi, proses peradilan, kondisi tahanan, dan reintegrasi sosial, termasuk pelaku-pelaku dalam proses tersebut. Dengan demikian, istilah sistem peradilan pidana anak merujuk pada legislasi, norma dan standar, prosedur, mekanisme dan ketentuan, institusi dan badan yang secara khusus diterapkan terhadap anak yang melakukan tindak pidana (Volz, 2009:10).

Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, yang dimaksut dengan anak yang berhadapan dengan hukum (children in conflict with the law), adalah sebagai berikut : Anak yang Berhadapan dengan Hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana. Dalam Pasal 1 ayat (3) UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak juga menjelaskan tentang anak yang berkonflik dengan hukum, yaitu : Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.

(9)

1. Anak yang berhadapan dengan hukum, yang mana akan ditangani melalui sistem peradilan pidana;

2. Anak yang berisiko, yang mana menjadi fokus pelayanan sosial dan tidak dihadapkan di pengadilan;

3. Anak sebagai korban atau saksi, yang mana harus mendapatkan manfaat dari setiap upaya perlindungan

Dalam upaya membangun rezim hukum anak yang berhadapan hukum, terdapat 4 (empat) fondasi KHA (Komite Hak Anak) yang relevan untuk mengimplementasikan praktik peradilan pidana anak, yakni:

1. Kepentingan terbaik bagi anak, sebagai pertimbangan utama dalam setiap permasalahan yang berdampak pada anak (Pasal 3);

2. Prinsip non diskriminasi, terlepas dari ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lain, kewarganegaraan, etnis, atau asal-usul sosial, harta kekayaan, cacat, kelahiran atau status yang lain dari anak atau orang tua anak (Pasal 2);

3. Hak anak atas kelangsungan hidup dan tumbuh kembang (Pasal 6);

4. Hak anak atas partisipasi dalam setiap keputusan yang berdampak pada anak, khususnya kesempatan untuk didengar pendapatnya dalam persidangan-persidangan pengadilan dan administratif yang mempengaruhi anak (Pasal 12).

(10)

secara melanggar hukum atau dengan sewenang-wenang. Penangkapan, penahanan atau pemenjaraan seorang anak harus sesuai dengan undang-undang, dan hanya digunakan sebagai upaya terakhir dan untuk jangka waktu terpendek dan tepat.

Dalam berbagai regulasi nasional, ada beberapa penyebutan untuk anak yang berkonflik dengan hukum. Dalam UU Pengadilan Anak disebut anak nakal, sementara dalam UU Perlindungan Anak terdapat dua penyebutan, yakni anak yang berhadapan dengan hukum dan anak yang berkonflik dengan hukum. Apapun sebutannya, yang terpenting adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan anak harus dilakukan dengan mempertimbangan kepentingan terbaik bagi anak, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku.

Penegak hukum harus mempertimbangan kepentingan terbaik bagi anak dalam proses penegakan hukum. Salah satunya dengan menggunakan alternatif hukuman lain selain pidana formal. Misalnya dengan mengembalikan kepada orangtua atau menempatkan mereka di pusat-pusat pembinaan. Jadi anak yang tertangkap tangan melakukan kejahatan tidak langsung ditangkap, ditahan dan diajukan ke pengadilan, tetapi harus menjalani proses-proses tertentu seperti pendampingan dan konseling untuk mengetahui apa yang menjadi kepentingan terbaik bagi mereka. Untuk mencegah masalah-masalah sejenis di masa mendatang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan penegak hukum dalam rangka mempertimbangan kepentingan terbaik bagi anak yang berkonflik dengan hukum: 1. Pertama usia pertanggungjawaban pidana. Hal ini bermanfaat agar tidak

(11)

tahun. Seringkali usia ini menjadi masalah karena banyak anak tidak memiliki akta kelahiran sehingga sulit untuk mengasumsikan usia anak yang tidak diketahui usianya. Kondisi ini menyebabkan anak diberlakukan seperti orang dewasa saat berhadapan dengan hukum. Padahal berdasarkan Asian Guidelines for Child Trafficking dinyatakan bahwa apabila usia anak sulit ditebak, maka dia harus diasumsikan sebagai anak.

2. Kedua proses hukum dan sistem administrasi peradilan anak. Mulai dari tahap penyidikan, persidangan dan pemenjaraan seringkali sebagai tempat dilanggarnya hak-hak anak. Pada tahap awal proses penyidikan, semestinya orangtua anak harus telah diberitahukan mengenai kondisi anak. Bila orangtua tidak ada, maka harus dipilih walinya. Selanjutnya anak harus mendapatkan pendampingan, baik pendampingan untuk proses konseling oleh psikolog, maupun pendamping hukum dengan biaya yang ditanggung negara.

3. Ketiga mengenai kesehatan. Perawatan kesehatan fisik dan psikis anak sering tidak menjadi perhatian negara selama anak menjalani proses penahanan dan pemidanaan. Bahkan dalam banyak kasus anak mengalami kekerasan fisik baik yang dilakukan oleh aparat negara, maupun sesama tahanan atau narapidana lainnya.

(12)

maka seluruh hak-haknya yang lain wajib diberikan, misalnya hak atas pendidikan, hak untuk terbebas dari tindak kekerasan (http://www.kksp.or.id diakses 1 Februari 2016 Pukul 17.55 WIB).

Mengingat bahwa kegiatan narkotika dinyatakan terlarang bagi untuk melibatkan anak dalam berbagai tingkat sebagaimana dinyatakan oleh UU Perlindungan Anak, maka pada dasarnya berlaku ketentuan Pasal 1 angka 2 huruf b dan Pasal 24 UU No. 3/1997 di mana Hakim menjatuhkan putusan dengan jenis putusan tindakan terhadap anak yang terlibat dalam kegiatan narkotika. Maka putusan tindakan tersebut dapat berupa :

1. mengembalikan kepada orang tua, wali, atau orang tua asuh;

2. menyerahkan kepada negara untuk mengikuti pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja; atau

3. menyerahkan kepada Departemen Sosial, atau Organisasi Sosial Kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan, pembinaan, dan latihan kerja.

2.2.3 Perlindungan Anak

Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menentukan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasaan dan diskriminasi.

(13)

1. Pasal 2 yaitu penyelenggara perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar konvensi hak anak meliputi:

a. Non diskriminasi

b. Kepentingan yang terbaik bagi anak

c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan d. Penghargaan terhadap anak.

2. Pasal 3 perlindungan terhadap anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat martabat manusia, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak, mulia dan sejahtera.

Pasal 2 huruf c Undang-Undang tentang Perlindungan Anak menegaskan hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan merupakan hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintrah, keluarga, orang tua, sekaligus merupakan hak setiap manusia yang paling asasi.

Perlindungan anak diusahakan oleh setiap orang, orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah maupun Negara. Pasal 20 Undang-Undang Perlindungan Anak menentukan: “Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua

berkewajiban dan bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.”

Kewajiban dan tanggung jawab negara dan pemerintah dalam usaha perlindungan anak diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Anak yaitu:

(14)

2. Memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak (Pasal 22);

3. Menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secara umum bertanggung jawab terhadap anak dan mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak (Pasal 23);

4. Menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak (Pasal 24)

Kewajiban dan tanggungjawab masyarakat terhadap perlindungan anak dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan anak (Pasal 25 Undang-Undang Perlindungan Anak). Kewajiban tanggungjawab keluarga dan orang tua dalam usaha perlindungan anak diatur dalam Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Anak, yaitu:

1. Mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak;

2. Menumbuhkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; 3. Mencegah kerja

2.2.4 Hak dan Kewajiban Anak

(15)

1. Hak Anak

Berdasarkan Konvensi Hak Anak dalam Djamil (2013:14), hak-hak anak secara umum dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) kategori hak-hak anak, antara lain:

1. Hak untuk kelangsungan hidup (the right to survival) yaitu hak-hak untuk melestarikan dan mempertahankan hidup dan hak untuk memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan sbeaik-baiknya.

2. Hak terhadap perlindungan (protection rights) yaitu hak-hak yang meliputi hak perlindungan dari diskriminasi, tindak kekerasan dan keterlantaran bagi anak yang tidak mempunyai keluarga dan bagi anak-anak pengungsi.

3. Hak untuk tumbuh kembang (development rights) yaitu hak-hak anak yang meliputi segala bentuk pendidikan (formal dan nonformal) dan hak untuk mencapai standar hidup yang layak bagi perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial (the right of standar living).

4. Hak untuk berpartisipasi (participation rights), yaitu hak-hak anak yang meliputi hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang mempengaruhi anak (the rights of a child to express her/his views freely in all matters affecting the child). Hak untuk berpartisipasi juga merupakan hak anak mengenai identitas budaya mendasar bagi anak, masa kanak-kanak dan pengembangan keterlibatannya di dalam masyarakat luas.

Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, hak-hak anak antara lain:

(16)

2. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat.

3. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesame peserta didik, dan/atau pihak lain.

4. Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.

5. Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam kerusuhan sosial, pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsure kekerasan, pelibatan dalam peperangan, dan kejahatan seksual.

2. Kewajiban Anak

Menurut Wahyudi dalam Djamil (2013:21), bahwa anak melakukan kewajiban bukan semata-mata sebagai beban, tetapi justru dengan melakukan kewajiban-kewajiban menjadikan anak tersebut berpredikat “anak yang baik”. Anak yang baik tidak hanya meminta hak-haknya saja, tetapi akan melakukan kewajiban-kewajibannya. Kewajiban anak dijelaskan di dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, antara lain:

a. Menghormati orang tua, wali, dan guru.

b. Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman. c. Mencintai tanah air, bangsa, dan Negara.

(17)

e. Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.

2.3 Respon Anak Binaan

Respon anak binaan adalah tingkah laku balas atau tindakan anak binaan yang merupakan wujud dari persepsi, sikap dan partisipasi anak binaanyang berkonflik dengan hukum terhadap suatu objek yang dapat dilihat melalui proses pemahaman, penilaian, pengaruh atau penolakan, suka atau tidak suka serta pemanfaatan terhadap objek tersebut.

Persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam memahami informasi tentang lingkungannya baik lewat penglihatan, pendengaran, perasaan dan penerimaan. Persepsi individu akan mempengaruhi sikap individu terhadap suatu program pembangunan. Dalam suatu program pembangunan terkandung ide-ide baru atau cara-cara baru yang disosialisasikan kedalam suatu anak binaan, dengan harapan dapat mengubah pola berpikir dan cara bertindak anak binaan yang terkena program. Perubahan tersebut berproses dan terwujud dalam perubahan sikap.

Sikap anak binaan dalam hal ini adalah sikap tumbuh dan berkembang dalam basis sosial yang tertentu, misalnya ekonomi, politik, agama dan sebagainya. Didalam perkembangannya sikap banyak dipengaruhi oleh lingkungan, norma-norma atau group. Hal ini akan mengakibatkan perbedaan sikap antara satu individu dengan individu yang lain karena perbedaan pengaruh atau lingkungan yang diterima. Sikap tidak akan terbentuk tanpa interaksi manusia, terhadap objek tertentu atau suatu objek.

(18)

merupakan proses anak binaan dalam mangambil peran serta ikut mempengaruhi proses perencanaan , pelaksanaan dan pemantauan program yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka.

2.4 Lembaga Pembinaan Khusus Anak

Komite Hak Anak (Committee on the Rights of the Child) menandaskan bahwa sistem peradilan pidana anak merupakan sistem peradilan pidana yang dipisahkan secara khusus bagi anak sehingga anak dapat menikmati perlindungan hukum (due process) dan hak asasi yang melekat padanya. Pemisahan ini menjadi conditio sine quanon karena mereka masih di bawah umur. Lebih jauh Komite mengintepretasikan bahwa sistem peradilan pidana yang bersifat khusus ini merupakan upaya perlindungan khusus karena anak yang berhadapan dengan hukum dikategorikan sebagai kelompok rentan (vulnerable groups). Sepuluh kerentanan anak yang berhadapan dengan hukum menjadi rasionalitas dan justifikasi bagi Komite Hak Anak untuk menekan negara mengupayakan suatu konstruksi sistem peradilan pidana yang memberikan perlindungan khusus. Hal ini disebabkan anak-anak rentan menjadi korban tindak kekerasan oleh aparat penegak hukum manak-anakala ia ditangkap dan ditahan, seperti: pemukulan, penyiksaan, atau tindakan lain yang kejam dan tidak manusiawi. Pada titik ini pula anak seringkali tidak didampingi atau tanpa kehadiran orang tuanya, pekerja sosial atau pengacara sehingga risiko mengalami kekerasan dan intimidasi semakin tinggi. Lebih jauh mereka juga berpotensi menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan oleh individu-individu yang berada dalam institusi-institusi penegak hukum.

(19)

Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan (selanjutnya disebut Undang-Undang Pemasyarakatan) yang pada pasal 4 disebutkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan termasuk Lembaga Pemasyarakatan Anak didirikan disetiap ibukota kabupaten atau kotamadya. Lembaga Pemasyarakatan ini setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (selanjutnya disebut Undang-Undang SPPA) berganti istilah menjadi Lembaga Pembinaan Khusus Anak ( selanjutnya disebut LPKA).

Dicampurnya anak dengan narapidana ini juga tidak sesuai dengan ketentuan pasal 3 huruf (b) Undang-Undang SPPA. Karena dalam Undang-Undang SPPA disebutkan bahwa setiap anak dalam proses peradilan pidana berhak dipisahkan dari orang dewasa. Serta tidak sesuai dengan pasal 17 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak (selanjutnya disebut Undang-Undang PA) yang menyebutkan bahwa setiap anak yang dirampas kemerdekaannya berhak mendapatkan perlakuan manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa. Selain itu dalam Undang-Undang Pemasyarakatan pada pasal 18 ayat (1), pasal 25 ayat (1) dan pasal 32 ayat (1) disebutkan bahwa Anak Didik Pemasyarakatan yang terdiri dari Anak Pidana, Anak Negara dan Anak Sipil ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan Anak.

Istilah Anak Didik Pemasyarakatan pada saat ini sudah tidak digunakan lagi. Hal ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Undang-Undang SPPA yaitu pada pasal 1 huruf 3 yang berbunyi, “Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang

(20)

hukum yang menjalani pembinaan yang biasanya disebut dengan Anak Didik Pemasyarakatan, dengan berlakunya Undang-Undang SPPA disebut sebagai anak .

Ketentuan mengenai penempatan anak yang terpisah dengan narapidana ini pada kenyataannya tidak di dukung dengan jumlah LPKA yang memadai di Indonesia. Di Indonesia, sampai saat ini hanya terdapat 18 provinsi yang telah memiliki LPKA, antara lain Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Jambi, dan Lampung. Di Pulau Jawa, minus DKI Jakarta, seluruh provinsi telah memiliki LPKA, yakni di Banten. LPKA juga baru disediakan di Jawa Barat, tahun 2013. LPKA lainnya berada di Jawa Tengah, dan di Jawa Timur. Di luar itu, baru ada LPKA di Bali; di Nusa Tenggara Barat; di Nusa Tenggara Timur; di Sulawesi Selatan; di Sulawesi Utara; di Kalimantan Barat; di Kalimantan Selatan dan di Batam. Hal ini berarti terdapat 16 provinsi di Indonesia yang tidak memiliki LPKA.

Ada 10 (sepuluh) prinsip pembinaan yang diberikan kepada anak terkait LPKA:

1. Anak adalah amanah Tuhan Yang Maha Esa, generasi penerus bangsa wajib mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

2. Penahanan dan penjatuhan pidana penjara bagi anak merupakan upaya terakhir dan dilakukan paling singkat dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

3. Tujuan sistem pembinaan dan pembimbingan anak adalah keadilan restorative berbasis budi pekerti.

(21)

5. Selama menjalankan pembinaan dan pembimbingan tidak boleh diasingkan dari keluarga dan masyarakat.

6. Dalam proses pembinaan dan pembimbingan anak berhak mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan segala bentuk diskriminasi lainnya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

7. Pendidikan merupakan intisari pembinaan dan pembimbingan bagi anak dalam rangka meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, pengembangan potensi diri serta pelatihan keterampilan dalam upaya pengembangan minat dan bakat.

8. Pembinaan dan pembimbingan anak wajib diarahkan untuk sesegera mungkin dikembalikan kepada keluarga dan masyarakat dalam bentuk program Asimilasi dan Reintegrasi.

9. Negara menjamin perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak melalui penyediaan sumberdaya dan sarana prasarana yang ramah anak.

10. Pembinaan dan pembimbingan terhadap anak dilaksanakan secara sinergi antara pengasuh, pembimbing kemasyarakatan, keluarga, dan masyarakat. (http://banten.kemenkumham.go.id/2015/08/07/diakses pada tanggal 10 Januari 2016 pukul 22:15 WIB).

2.5 Penyalahgunaan Narkoba

2.5.1 Narkoba

(22)

ke dalam tubuh dapat mengubah pikiran, suasana hati, perasaan dan perilaku seseorang.

1. Narkotika

Pasal 1 butir 1 UU Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (selanjutnya disebut UU Narkotika 1997), menentukan: Narkotika adalah zat-zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik yang sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang. ini atau yang kemudian ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan. Jenis-jenis narkotika yang sering disalahgunakan yaitu ganja, heroin, morfin, kodein dan lain-lain.

2. Psikotropika

Psikotropika adalah suatu zat atau obat baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Jenis-jenis psikotropika yang sering disalahgunakan yaitu amfetamine, amobarbital, diazepam dan lain-lain.

3. Bahan Adiktif

(23)

Pada dasarnya narkoba dilarang untuk diedarkan maupun untuk dikonsumsi di masyarakat, terkecuali jika narkoba digunakan untuk hal yang benar seperti untuk kepentingan medis misalnya untuk operasi dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan smisalnya di laboratorium. Penggunaan narkoba diluar dua hal tersebut dilarang oleh Undang-Undang. Apabila seseorang menggunakan narkoba di luar itu tergolong penyalahgunaan dan peredaran gelap dan akan mendapatkan sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Hal ini makin diperjelas dengan keluarnya kebijakan pemerintah, yaitu:

1. Dikeluarkan UU No.35 tahun 2009 tentang Narkotika 2. Dikeluarkan UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika 3. Keppres No.3 Tahun 1997 tentang Minuman Beralkohol

4. Keppres No.17 tahun 2002 tentang pembentukan BNN sebagai pengganti Keppres No.116 Tahun 1999 tentang BKNN

5. Pernyataan presiden RI tanggal 12 Mei tahun 2000 bahwa Narkoba sudah menjadi Bencana Nasional. (Zulkarnain, 2014:19)

Narkoba perlu dihindari karena dapat merugikan bagi sipemakai dan orang lain, yaitu:

1. Terhadap pribadi atau individu

a. Narkotika dapat merubah kepribadian si korban secara drastis seperti berubah menjadi pemurung, pemarah, bahkan melawan terhadap apa atau siapapun

(24)

c. Semangat belajar menjadi menurun dan suatu ketika bisa saja si korban bersikap seperti orang gila karena reaksi dari penggunaan narkoba tersebut.

d. Tidak ragu untuk mengadakan hubungan seks secara bebas karena padangannya terhadap norma-norma masyarakat, hukum, agam sudah longgar.

e. Menjadi pemalas bahkan hidup santai

f. Tidak segan-segan menyiksa diri karena ingin menghilangkan rasa nyeri atau menghilangkan sifat ketergantungan terhadap obat bius.

2. Terhadap keluarga

a. Tidak segan mencuri uang atau bahkan menjual barang-barang di rumah yang bisa diuangkan

b. Tidak segan lagi menjaga sopan santun di rumah bahkan melawan pada orang tua

c. Kurang menghargai harta milik yang ada di rumah, seperti mengendarai kendaraan dengan ugal-ugalan

d. Mencemarkan nama keluarga dan keharmonisan keluarga sirna/terganggu

e. Kerugian material (membeli dan mengobati). 3. Terhadap masyarakat

a. Berbuat tidak senonoh (mesum) dengan orang lain,yang berakibat tidak saja bagi diri yang berbuat melainkan mendapat hukuman masyarakat yang berkepentingan

(25)

c. Mengganggu ketertiban umum, seperti mengendarai kendaraan bermotor dengan kecepatan tinggi

d. Melakukan tindakan kekerasan, baik fisik, psikis maupun seksual

e. Menimbulkan bahaya bagi ketentraman dan keselamatan umum antara lain tidak menyesal apabila berbuat kesalahan.

4. Terhadap bangsa dan negara

a. Hilangnya generasi muda (lost generation) b. Kualitas generasi menurun

c. Hilangnya rasa patriotisme atau rasa cinta bangsa pada gilirannya mudah untuk dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang menajadi ancaman terhadap ketahanan nasional dan stabilitas nasional

d. Negara terjajah kembali. (Zulkarnain, 2014:20-21)

2.5.2 Penyalahgunaan Narkoba

Bagi Indonesia, bila dipandang dengan negara-negara lain masalah narkoba tidak terlalu serius. Namun akibat posisi geografis dan perkembangan hasil-hasil pembangunan yang meningkat, maka kewaspadaan terhadap ancaman ini perlu secara dini diantisipasi. Penanggulangan bahaya yang ditimbulkan atas penyalahgunaan narkoba harus didekatkan dengan pedoman falsafah bangsa, yaitu Pancasila dan UUD 1945 serta ketentuan peraturan perundang-undangan nasional yang ada, di samping ketentuan-ketentuan internasional yang telah disepakati bersama. Oleh karena itu, menurut A. Qirom Syamsudin Meilala bahwa secara umum untuk menanggulangi permasalahan anak dan remaja dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

(26)

mengekang nafsu untuk kembali ke narkoba. Sistem ini hendaknya mendapat perhatian khusus, baik oleh orang tua sendiri, apalagi bagi para ahli yang bersangkutan dan begitu juga dengan pemerintah.

2. Cara abolisionistik, yaitu dengan memberantas sebab-sebab terjadinya penyalahgunaan narkoba, misalnya telah diselidiki bahwa faktor ekonomi (kemiskinan dan kesejahteraan) merupakan penyebabnya maka usaha mencapai kesejahteraan dan kemakmuran adalah mengurangi tindakan penyalahgunaan narkoba.

3. Preventif, yaitu usaha untuk menghindari penyalahgunaan narkoba jauh sebelum rencana menyalahgunakan narkoba itu terjadi dan terlaksana. Tindakan preventif ini adalah berupa memberikan kesibukan yang berarti kepada anak-anak, karena memasukkan ke dalam kursus-kursus keterampilan, pendidikan, keagamaan dan lain-lain.

Namun selain tiga upaya yang telah dijelaskan di atas, terdapat jalur-jalur upaya yang lebih efektif, yaitu:

1. Upaya preventif, artinya terhadap penyalahgunaan narkoba dilakukan dengancara integral dan dinamis antara unsur-unsur aparat dan potensi masyarakat.

2. Upaya represif, artinya upaya penegakan hukum terhadap mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.

(27)

Menurut Ny. Jeanne mandagi dan M. Wresniwiro sistem penanggulangan narkotika dan psikotropika dapat dilakukan dengan cara:

1. Upaya pencegahan

Upaya pencegahan terhadap penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dapat dilakukan dengan cara integral dan dinamis antara unsur-unsur aparat dan potensi masyarakat. upaya dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan untuk mengubah sikap dan perilaku serta cara berpikir dari kelompok masyarakat yang mudah mempunyai kecenderungan menyalahgunakan narkotika dan psikotropika.

Menurut Soedjono Dirdjosisworo bahwa usaha-usaha penanggulangan terhadap penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dapat dilakukan dalam bentuk upaya-upaya prefentif, represif dan kuratif. Usaha-usaha tersebut adalah antara lain: Inpres serta kerja sama antara instansi-instansi yang bersangkutan (preventif dan represif); kerja sama dengan luar negeri (preventif dan kuratif); partisipasi masyarakat (preventif, represif dan kuratif); penyempurnaan fasilitas dan perlengkapan (preventif, represif dan kuratif), peningkatan kemampuan aparatur penegak hukum dan meningkatkan pembinaan edukatif.

(28)

pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dengan menuruti syarat dan caranya.

2. Upaya pengendalian dan pengawasan

Upaya pengendalian dan pengawasan, yaitu penggunaan narkotika dan psikotropika bagi kepentingan pengobatan sampai saat ini masih diperlukan. oleh karena itu, penggunaan yang dilakukan untuk pengobatan diperlukan pengendalian dan pengawasan.

3. Upaya penindakan atau refresif

Penindakan atau represif adalah upaya penegakan hukum terhadap mereka yang terlibat dalam penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Upaya penindakan atau represif yaitu penyalahgunaan narkotika dan psikotropika merupakan perbuatan pidana sebab dapat mengakibatkan dampak politis, ekonomi, sosial budaya ataupun menjaga kondisi Kamtibmas demi kestabilan nasional.

4. Pengobatan dan rehabilitasi

(29)

2.6 Program

2.6.1 Pengertian Program

Program adalah unsur pertama yang harus ada demi terciptanya suatu kegiatan. Di dalam program dibuat beberapa aspek, disebutkan bahwa di dalam setiap program dijelaskan mengenai:

1. Tujuan kegiatan yang akan dicapai.

2. Kegiatan yang diambil dalam mencapai tujuan.

3. Aturan yang harus dipegang dan prosedur yang harus dilalui. 4. Perkiraan anggaran yang dibutuhkan.

5. Strategi pelaksanaan.

Menurut Charles O. Jones, pengertian program adalah cara yang disahkan untuk mencapai tujuan, beberapa karakteristik tertentu yang dapat membantu seseorang untuk mengindentifikasi suatu aktivitas sebagai program atau tidak yaitu: 1. Program cenderung membutuhkan staf, misalnya untuk melaksanakan atau

sebagai pelaku program.

2. Program biasanya memiliki anggaran tersendiri, program kadang biasanya juga diidentifikasikan melalui anggaran.

3. Program memiliki identitas sendiri, yang bila berjalan secara efektif dapat diakui oleh publik.

(30)

2.6.2 Program Awareness Campaign

Program Awareness Campaign adalah program yang menjalankan kegiatan penjangkauan di Lembaga Pemasyarakatan kelas 1 Tanjung Gusta Medan dimana yang diberikan dari program ini adalah bentuk pelayanan sosial bagi yang terkena dampak narkoba. Program yang diberikan dari Yayasan Rumah Singgah Caritas tergolong mnejadi 2 (dua) pelayanan sosial, diantaranya:

1. Penyuluhan

Penyuluhan dalam arti umum adalah ilmu sosial yang mempelajari sistem dan proses perubahan pada individu serta masyarakat agar dapat terwujud perubahan yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan. Penyuluhan, dengan demikian dapat diartikan sebagai suatu sistem pendidikan yang bersifat nonformal di luar sistem sekolah yang biasa. Pendidikan bagi masyarakat sendiri, menurut Carter V, adalah merupakan proses perkembagan pribadi, proses sosial, proses pengembangan keterampilan sesuai profesi serta kegiatan bersama dalam memahami ilmu pengetahuam yang tersusun dan dikembangkan dari masa ke masa oleh setiap generasi bangsa (Setiana, 2005: 2).

Dalam proses kegiatan penyuluhan harus mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

1. Pendidikan untuk mengubah pengertahuan, sikap dan keterampilan.

2. Membantu anak binaan agar mampu menolong dirinya sendiri, oleh karenanya harus ada kepercayaaan dari anak binaan sasaran.

3. Belajar sambil melakukan sesuatu, sehingga ada keyakinan atas kebenaran terhadap apa yang diajarkan.

(31)

1. Penyuluhan adalah proses pengembangan individu maupun kelompok untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga meningkat harkat dan martabatnya.

2. Penyuluhan adalah pekerjaan yang harus diselaraskan dengan budaya masyarakat setempat.

3. Penyuluhan adalah proses dua arah dan harus merupakan penndidikan yang berkelanjutan.

4. Penyuluhan adalah hidup dengan saling berhubungan, saling menghormati dan saling mempercayai.

5. Penyuluhan harus mampu menumbuhkan cita-cita yang melandasi untuk berpikir kreatif, dinamis dan inovatif.

6. Penyuluhan harus mengacu pada kenyataan-kenyataan dan selalu disesuaikan dengan keadaan yang dihadapi (Setiana, 2005: 5)

Fungsi penyuluhan:

1. Penyuluhan sebagai proses penyebarluasan informasi 2. Penyuluhan sebagai proses penerangan

3. Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku 4. Penyuluhan sebagai proses pendidikan

5. Penyuluhan sebagai proses rekayasa sosial (Setiana, 2005:11)

2. Pembinaan

(32)

Pada umumnya pembinaan terjadi melalui proses melepaskan hal-hal yang bersifat menghambat, dan mempelajari pengetahuan dengan kecakapan baru yang dapat meningkatkan taraf hidup dan kerja yang lebih baik. Pembinaan tersebut menyangkut kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pembiayaan, koordinasi, pelaksanaan, dan pengawasan suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan hasil yang maksimal. Dalam definisi tersebut secara implicit mengandung suatu interpretasi bahwa pembinaan adalah segala usaha dan kegiatan mengenai perencanaan, pengorganisasian, pembiayaan, koordinasi, pelaksanaan, dan pengawasan suatu pekerjaan dalam mencapai tujuan hasil yang maksimal.

(33)

2.7 Kerangka Pemikiran

Seperti yang kita ketahui narkoba adalah masalah yang sedang gencar dibicarakan, baik itu pencegahan (preventif) dan pemulihan (rehabilitatif). Khususnya di bidang preventif, banyak lembaga yang membuat program-program pemberantasan narkoba. Dilihat dari sudut pandang kesejahteraan sosial pecandu narkoba bukanlah tersangka, melainkan korban yang didasari oleh berbagai faktor sehingga disebut korban penyalahgunaan narkoba.

Dalam upaya memerangi pengaruh buruk narkoba dilakukanlah beberapa usaha. Salah satunya adalah dengan upaya penyuluhan dan pembinaan bagi korban penyalahgunaan narkoba seperti yang dilakukan di Yayasan Rumah Singgah Caritas Medan. Penyluhan ini dimaksudkan untuk membantu seseorang dari bahayanya narkoba.

(34)
(35)

2.8 Definisi Konsep dan Definisi Operasional

2.8.1 Definisi Konsep

Konsep istilah khusus yang digunakan para ahli dalam upaya menggambarkan secara cermat fenomena sosial yang akan dikaji. Dan konsep merupakan proses dan upaya penegasan dan pembatasan makna konsep dalam suatu penelitian. Untuk menghindari salah pengertian atas makna konsep-konsep yang dijadikan objek penelitian, maka seorang peneliti harus menegaskan dan membatasi makna konsep-konsep yang diteliti (Siagian, 2011: 136-138).

Dengan kata lain, peneliti berupaya menggiring para pembaca hasil penelitian itu memaknai konsep sesuai yang diindinkan dan dimaksudkan oleh peneliti, jadi definisi konsep adalah pengertian yang terbatas dari suatu yang dianut dalam suatu penelitian (Siagian, 2011: 136-138).

Untuk lebih memfokuskan penelitian ini, maka peneliti memberikan batasan konsep sebagai berikut:

1. Anak yang berhadapan dengan hukum adalah seorang anak yang sedang terlibat dengan masalah hukum atau sebagai pelaku tindak pidana, sementara anak tersebut belum dianggap mampu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, menginggat usianya yang belum dewasa dan sedang bertumbuh berkembang, sehingga berhak untuk dilindungi sesuai dengan undang-undang.

2. Respon, membagi respon seseorang atau kelompok terhadap program pembangunan mencakup tiga hal, yaitu:

(36)

b. Sikap berupa ucapan secara lisan atau pendapat untuk menerima atau menolak objek yang dipersiapkan.

c. Partisipasi, melakukan kegiatan nyata untuk peran serta atau tindakan terhadap suatu kegiatan yang terkait dengan objek tersebut.

3. Lembaga Pembinaan Khusus Anak, dalam Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak bahwa Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) adalah lembaga atau tempat Anak menjalani masa pidananya.

4. Penyalahgunaan narkoba adalah penggunaan narkoba yang digunakan tidak hanya untuk maksud pengobatan, tetapi karena ingin menikmati pengaruhnya 5. Program Awareness Campaign adalah program yang menjalankan kegiatan

penjangkauan di Lembaga Pemasyarakatan kelas 1 Tanjung Gusta Medan dimana yang diberikan dari program ini adalah bentuk pelayanan sosial bagi yang terkena dampak narkoba.

2.8.2 Definisi Operasional

Perumusan definisi operasional adalah langkah lanjutan dari perumusan definsi konsep. Definisi operasional sering disebut sebagai proses operasionalisasi konsep. Operasionalisasi konsep berarti menjadikan konsep yang semula bersifat statis menjadi dinamis. Definisi operasional merupakan petunjuk bagaimana suatu variabel dapat diukur (Siagian, 2011:141).

Adapun yang menjadi indikator dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Persepsi anak binaan terhadap program Awareness Campaign, meliputi:

a. Pengetahuan anak binaan tentang program Awareness Campaign.

(37)

2. Sikap anak binaan terhadap program Awareness Campaign, meliputi: a. Penilian anak binaan terhadap program Awareness Campaign.

b. Penolakan atau penerimaan anak binaan terhadap program Awareness Campaign.

c. Pengharapan terhadap program Awareness Campaign.

3. Partisipasi anak binaan terhadap program Awareness Campaign, meliputi: a. Anak binaan ikut serta dalam kegiatan program Awareness Campaign. b. Anak binaan memelihara situasi kondusif selama kegiatan program

Awareness Campaign berlangsung.

Referensi

Dokumen terkait

Evaluasi injeksi air yang saya lakukan yaitu untuk mengetahui keberhasilan injeksi air berdasarkan harga recovery factor sebelum dilaksanakan dan setelah dilaksanakan injeksi

Dengan sistem informasi pengelolaan keuangan sekolah ini, diharapkan bisa membantu proses pengelolaan keuangan dari tahap pembuatan rencana anggaran, pencatatan dana

Pelatihan Kerajinan Mozaic Kaca pada anak Yatim di Yayasan Permata Hati,Nyuh Kuning, Ubud.. Pelatihan Cetak Sablon Pada Yayasan Bunga di Bali

Hasil yang diperoleh dari analisis penelitian tersebut adalah adanya pengaruh signifikan positif antara tiap dimensi keadilan organisasi dan kepercayaan organisasi,

1) Perusahaan AJB Bumiputera adalah salah satu perusahaan jasa yang bergerak pada asuransi jiwa, pengalaman yang diberikan sudah dari tahun 1912 membuktikan bahwa

informasi dan rancangan percobaan, oleh karena itu peneliti melakukan peneltian mengenai : “ Penggunaan Fenomena Biologi dalam Menstimulasi Kemampuan Memroses

Sedangkan yang menjadi Objek dalam penelitian ini adalah pengaruh penggunaan mobile banking dan ATM terhadap kepuasan dan loyalitas nasabah di Bank Riau Kepri

Jika lanskapnya seragam secara sosial – contohnya jika keseluruhan lanskap dihuni oleh masyarakat tradisional yang hidup berdasarkan subsisten – maka kemungkinan besar