• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kemandirian Lanjut Usia Di Wilayah Kerja Puskesmas Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kemandirian Lanjut Usia Di Wilayah Kerja Puskesmas Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu Tahun 2012"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan bertujuan agar setiap penduduk mampu hidup sehat sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal, yang merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan pembangunan nasional. Hal tersebut sejalan dengan tujuan sistem kesehatan nasional yaitu tercapainya kemampuan hidup sehat (Aditama, 2003).

Struktur penduduk dunia termasuk Indonesia saat ini menuju proses penuaan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah dan proporsi penduduk lansia (lanjut usia). Proporsi penduduk lanjut usia di Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan disebabkan peningkatan angka harapan hidup sebagai dampak dari peningkatan kualitas hidup (Depkes RI, 2009).

Jumlah lanjut usia diseluruh dunia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pula tahun 2025 akan mencapai 1,2 miliyar (Nugroho, 2000). Menurut data demografi penduduk internasional yang dikeluarkan Burreau of the Cencus USA dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990-2025 akan mengalami kenaikan jumlah lanjut usia sebesar 4,4%, merupakan suatu angka tertinggi diseluruh dunia (Nugroho, 2008).

(2)

harapan hidup. Pada tahun 1980 penduduk lanjut usia baru berjumlah 7,7 juta jiwa atau 5,2 % dari seluruh jumlah penduduk. Pada tahun 1990 jumlah penduduk lanjut usia meningkat menjadi 11,3 juta orang atau 8,9 %. Jumlah ini meningkat di seluruh Indonesia menjadi 15,1 juta jiwa pada tahun 2000 atau 7,2 % dari seluruh penduduk, pada tahun 2010 menjadi 19,3 juta jiwa atau 8,37 % dari seluruh penduduk. Dan diperkirakan pada tahun 2020 akan menjadi 29 juta orang atau 11,4 %. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk lanjut usia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu. Angka harapan hidup penduduk Indonesia berdasarkan data Biro Pusat Statistik pada tahun 1970 adalah 45,7 tahun, pada tahun 1980 : 55.30 tahun, pada tahun 1990 : 61,12 tahun, dan tahun 2000 : 64,05 tahun serta tahun 2010 : 67,4 tahun (BPS, 2010)

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia akan membawa dampak terhadap sosial ekonomi baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pemerintah. Implikasi ekonomis yang penting dari peningkatan jumlah penduduk adalah peningkatan dalam ratio ketergantungan usia lanjut (old age ratio dependency). Setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk usia lanjut. Angka ketergantungan usia lanjut pada tahun 1990 adalah 6,93% dan tahun 2010 menjadi 8,74% yang berarti bahwa pada tahun 1990 sebanyak 100 penduduk produktif harus menyokong 7 orang usia lanjut yang berumur 65 tahun ke atas

sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 100 penduduk produktif harus menghidupi 9 orang usia lanjut yang berumur 65 tahun ke atas. Ketergantungan lanjut usia

(3)

psikis, artinya mereka mengalami perkembangan dalam bentuk perubahan-perubahan yang mengarah pada perubahan yang negatif.

Secara umum kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perubahan : (1) perubahan penampilan pada bagian wajah, tangan, dan kulit, (2) perubahan bagian dalam tubuh seperti sistem saraf : otak, isi perut : limpa, hati, (3) perubahan panca indra : penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan (4) perubahan motorik antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan dan belajar keterampilan baru. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang akhirnya akan berpengaruh juga pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari.

Masalah umum yang dialami lanjut usia yang berhubungan dengan kesehatan fisik, yaitu rentannya terhadap berbagai penyakit, karena berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh dari luar. Menurut data SKRT (Survey Kesehatan Rumah Tangga) tahun 2010 masih tinggi, yaitu angka kesakitan penduduk usia 55 tahun ke atas sebesar 31,11 %. (Depkes RI, 2010)

(4)

Ketergantungan lanjut usia disebabkan kondisi orang lanjut usia banyak mengalami kemunduran fisik maupun psikis. Sedangkan bila dilihat dari tingkat kemandiriannya yang dinilai berdasarkan kemampuan untuk melakukan aktifitas sehari-hari (Maryam, 2008). Kurang imobilitas fisik merupakan masalah yang sering dijumpai pada pasien lanjut usia akibat berbagai masalah fisik, psikologis, dan lingkungan yang di alami oleh lanjut usia. Imobilisasi dapat menyebabkan komplikasi pada hampir semua sistem organ (Suyono, 2001). Kondisi kesehatan mental lanjut usia menunjukkan bahwa pada umumnya lanjut usia tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari (Suryani, 1999).

Salah satu contoh permasalahan yang ditimbulkan dari peningkatan jumlah penduduk lanjut usia adalah peningkatan rasio ketergantungan lanjut usia (old age dependency ratio). Setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk lanjut usia. Memperhatikan permasalahan ini, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan, program dan kegiatan guna menunjang derajat kesehatan dan mutu kehidupan para lanjut usia agar mandiri, sehat dan berdaya guna sehingga dapat mengurangi atau bahkan tidak menjadi beban bagi keluarga maupun masyarakat. Berbagai kebijakan dan program yang dijalankan pemerintah diantaranya tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan

Upaya Peningkatan Kesejahteraan Lanjut Usia, yang antara lain meliputi: 1) pelayanan keagamaan dan mental spiritual, seperti pembangunan sarana ibadah

(5)

geriatrik/gerontologik; 3) pelayanan untuk prasarana umum, yaitu mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, keringanan biaya, kemudahan dalam

melakukan perjalanan, penyediaan fasilitas rekreasi dan olahraga khusus; 4) kemudahan dalam penggunaan fasilitas umum, seperti pelayanan administrasi

pemerintahan (Kartu Tanda Penduduk seumur hidup), pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan milik pemerintah, pelayanan dan keringanan biaya untuk pembelian tiket perjalanan, akomodasi, pembayaran pajak, pembelian tiket rekreasi, penyediaan tempat duduk khusus, penyediaan loket khusus, penyediaan kartu wisata khusus, mendahulukan para lanjut usia.

Semua hal tersebut di atas memerlukan keterlibatan peran dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat serta lembaga maupun organisasi sosial untuk bersama-sama berkomitmen dalam mewujudkan kesejahteraan bagi para lanjut usia. Seluruh upaya ini dilakukan dengan memberdayakan para lanjut usia untuk ikut aktif berpartisipasi dalam pembangunan guna mengurangi kemiskinan, memperoleh kesehatan yang lebih baik dan mendukung kehidupan sosial kemasyarakatan.

(6)

saja. Untuk dapat membantu mencapai tujuan pemerintah dalam mengupayakan kehidupan usia lanjut yang sehat, bahagia dan mandiri selama mungkin, diperlukan peranan yang lebih besar dari petugas kesehatan. Selain upaya kuratif dan rehabilitatif, upaya promosi dan prevensi saat ini juga merupakan bagian dari pekerjaan petugas kesehatan, khususnya ditujukan pada individu yang berada pada usia pertengahan (middle adult) agar mereka kelak mampu menjalani masa usia lanjut dengan sehat, bahagia dan mandiri selama mungkin.

Untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia lanjut usia perlu mengetahui kondisi lanjut usia di masa lalu dan masa sekarang sehingga orang lanjut usia dapat diarahkan menuju kondisi kemandirian. Sehubungan dengan kepentingan tersebut perlu diketahui kondisi lanjut usia yang menyangkut kondisi kesehatan, kondisi ekonomi, dan kondisi sosial. Dengan mengetahui kondisi-kondisi itu, maka keluarga, pemerintah, masyarakat atau lembaga sosial lainnya dapat memberikan perlakuan sesuai dengan masalah yang menyebabkan orang lanjut usia tergantung pada orang lain. Jika lanjut usia dapat mengatasi persoalan hidupnya maka mereka dapat ikut serta mengisi pembangunan salah satunya yaitu tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian angka ratio ketergantungan akan menurun, sehingga beban pemerintah akan berkurang.

Masalah utama yang dihadapi lanjut usia pada umumnya adalah : (1) menurunnya daya tahan fisik (2) masa pensiun bagi lanjut usia yang dahulunya

(7)

orang tua (5) urbanisasi penduduk usia muda yang menyebabkan lanjut usia terlantar, (6) kurangnya dukungan dari keluarga lanjut usia (7) pola tempat tinggal lanjut usia; lanjut usia yang hidup di rumah sendiri, tinggal bersama dengan anak /menantu dan tinggal di panti werdha. Bertitik tolak dari uraian yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, maka konsep kemandirian pada lanjut usia mengacu kepada indeks Katz berdasarkan pada evaluasi 6 pertanyaan seperti: makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur dan mengontrol buang air besar/buang air kecil.

Dengan permasalahan yang komplek yang dialami oleh lanjut usia maka peneliti memilih permasalahan tentang faktor-faktor yang memengaruhi kemandirian lanjut usia. Untuk dapat hidup secara mandiri lansia harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan yang terjadi. Suhartini (2004) dalam penelitiannya ada beberapa faktor yang berhubungan dengan kemandirian pada lanjut usia yaitu kondisi kesehatan, kondisi sosial, dan kondisi ekonomi. Lanjut usia dapat mandiri jika kondisi kesehatannya dalam keadaan baik. Secara sosial, lanjut usia yang mandiri itu melakukan aktivitas sosial, memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat. Secara ekonomi memiliki penghasilan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

(8)

Kesehatan Kabupaten Labuhan Batu dalam menetapkan lokasi pelaksanaan Program Puskesmas Santun Lanjut usia. Tujuan program ini secara umum adalah meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan lanjut usia untuk mencapai masa tua yang bahagia, mandiri, produktif dan berdayaguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Sedangkan tujuan khususnya adalah: (a) meningkatkan kesadaran para lanjut usia untuk hidup sehat, (b) meningkatkan kemampuan dan peran keluarga atau masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan lanjut usia dan (c) meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan lanjut usia.

Pelaksanaan Program Puskesmas Santun Lanjut Usia melalui pelayanan promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif dengan menekankan unsur proaktif, kemudahan proses pelayanan, santun, sesuai standar pelayanan dan kerjasama dengan unsur lintas sektor. Pelaksanaan Program Puskesmas Santun Lanjut usia tersebut tidak terbatas pada pelayanan kesehatan di klinik saja, tetapi juga pelayanan kesehatan di luar gedung dan perberdayaan masyarakat.

(9)

Fenomena yang menunjukkan rendahnya tingkat kemandirian lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Rantau Utara berdasarkan survei pendahuluan ditemukan fakta empiris antara lain: (a) penurunan kondisi fisik lanjut usia dan menurunnya fungsi panca indra menyebabkan lanjut usia merasa rendah diri, mudah tersinggung dan merasa tidak berguna lagi, (b) masalah kesepian sebagai dari aspek psikologis yang paling banyak dialami lanjut usia, (2) berkurangnya teman/relasi akibat kurangnya aktifitas di luar rumah (3) kurangnya aktifitas sehingga waktu luang bertambah banyak (4) meninggalnya pasangan hidup (5) anak-anak yang meninggalkan rumah karena menempuh pendidikan, bekerja atau membentuk keluarga sendiri. Dari segi inilah lanjut usia mengalami masalah psikologis sehingga menyebabkan orang lanjut usia kurang mandiri.

Penelitian tentang tingkat kemandirian lanjut usia yang terkait pelayanan yang diberikan sebagaimana dilakukan Ardianto (2009) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemandirian lanjut usia yang tinggal di panti dengan lanjut usia yang tinggal di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor dalam kehidupan lanjut usia begitu kompleks dalam memengaruhi kemandirian.

(10)

1.2 Permasalahan

Masih rendahnya tingkat kemandirian lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu.

1.3 Tujuan Penelitian

Menganalisis pengaruh faktor-faktor : usia, jenis kelamin, kesehatan fisik dan kesehatan mental terhadap kemandirian lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu.

1.4 Hipotesis

Faktor : usia, jenis kelamin, kesehatan fisik dan kesehatan mental berpengaruh terhadap kemandirian lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Rantau Utara Kabupaten Labuhan Batu.

1.5 Manfaat Penelitian

1. Memberikan masukan bagi Puskesmas Rantau Utara dan Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhan Batu dalam manajemen pelayanan kesehatan lanjut usia. 2. Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan

Referensi

Dokumen terkait

Ketentuan Lampiran Peraturan Bupati Bantul Nomor 03 Tahun 2016 tentang Tarif Layanan pada Badan Layanan Umum Daerah Puskesmas (Berita Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2016 Nomor

bahwa sehubungan dengan huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Jadwal Retensi Arsip Substantif dan Fasilitatif di Lingkungan

melakukan penyiapan bahan kebijakan teknis pengembangan sistem, model, dan media pembelajaran pendidikan dasar dan pendidikan luar sekolah berbasis teknologi

(3) Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh staf Desa sesuai kebutuhan dan kemampuan desa, yang berkedudukan di

bahwa berdasaran pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, b, dan c, perlu menetapkan peraturan menteri tentang Prosedur Penetapan Organisasi Perguruan

Ciri khas Perangkat Lunak pengolah kata secara umum adalah mengolah mulai dari karakter, kata, kalimat, yang akhirnya membentuk suatu paragraf, sekumpulan paragraf membentuk

Antono Adhi Pengambilan Keputusan Pemilihan Handphone Terbaik Dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) Bagaimana cara menentukan handphone terbaik dari tiga

Dalam kasus finansial sekolah, misalkan seorang siswa mungkin akan berpendapat bahwa negara seharusnya tidak melegalisasi anggaran yang akan dikeluarkan sekolah