• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR LISTRIK SUB SEKTOR ELEKTRONIKA INDUSTRI MERAKIT DAN MENGUJI AMPLIFIER ELK.EL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR LISTRIK SUB SEKTOR ELEKTRONIKA INDUSTRI MERAKIT DAN MENGUJI AMPLIFIER ELK.EL"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR LISTRIK

SUB SEKTOR ELEKTRONIKA INDUSTRI

MERAKIT DAN MENGUJI AMPLIFIER

ELK.EL.02.015.01

BUKU INFORMASI

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

BALAI BESAR PENGEMBANGAN LATIHAN KERJA LUAR NEGERI

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 1

BAB I PENGANTAR ... 4

1.1. Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi ...4

1.2. Penjelasan Modul ...4

1.2.1 Isi Modul ...4

1.2.2 Pelaksanaan Modul ...5

1.3. Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC) ...6

1.4. Pengertian-pengertian Istilah ...6

BAB II STANDAR KOMPETENSI ... 8

2.1. Peta Paket Pelatihan ...8

2.2. Pengertian Unit Standar ...8

2.3. Unit Kompetensi yang Dipelajari ...9

2.3.1. Kode dan Judul Unit ...9

2.3.2. Deskripsi Unit ...9 2.3.3. Elemen Kompetensi ...9 2.3.4. Batasan Variabel ...11 2.3.5. Panduan Penilaian ...11 2.3.6. Kompetensi Kunci ...12 BAB III STRATEGI DAN METODE PELATIHAN ... 13

3.1. Strategi Pelatihan ...13

(3)

BAB IV MATERI UNIT KOMPETENSI ... 15

4.1 Tujuan Instruksional Umum ...15

4.2 Tujuan Instruksional Khusus ...15

4.3 Pengertian Sistem Audio ……….…….……….. 16

4.3.1 Pengertian Amplifier …..….……….. 16

4.3.2 Sistem Audio ………..……….……….. 17

4.3.3 Blok Diagram Dan Cara Kerja Audio Amplifier ……...….……… 18

4.3.4 Penguat Audio Stereo ...………..………..……… 21

4.3.5 Rangkaian Penguat Mula (Tone Control) ....…………..………..…………. 23

4.3.6 Rangkaian Penguat Daya ….……….. 27

4.3.7 Rangkaian Sistem Penguat Audio Stereo ……….………... 30

4.3.8 Pengujian Sistem Daya ……….……….. 32

4.3.8.1 Distorsi (cacat) ………..……….. 33

4.3.8.2 Respons frekuensi ………..……… 38

4.3.8.3 Daya output .………..………... 39

4.3.8.4 Kelebaran daya (Power Bandwidth) ……….... 41

4.3.8.5 Faktor Damping ...………..…... 41 4.3.8.6 Respons Transient ………..………... 42 4.3.8.7 Stabilitas ...………..……….. 42 4.3.8.8 Pengatur nada …….………... 43 4.3.8.9 Filter ………..………... 44 4.3.8.10 Pengatur Loudness ………... 44

4.3.8.11 Dengung dan Derau ………... 45

4.3.8.12. Kepekaan (Sensitivity) ……….... 46

4.3.8.13 Keseimbangan kanal ………... 47

4.3.8.14 Cakap silang (Crosstalk) ……….... 47

(4)

BAB V

SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI ... 49

5.1 Sumber Daya Manusia ...49

5.2 Sumber-sumber Perpustakaan ...50

5.3 Daftar Peralatan/Mesin dan Bahan ...51

(5)

BAB I

PENGANTAR

1.1. Konsep Dasar Pelatihan Berbasis Kompetensi

Apakah pelatihan berdasarkan kompetensi?

Pelatihan berdasarkan kompetensi adalah pelatihan yang memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan di tempat kerja agar dapat melakukan pekerjaan dengan kompeten. Standar Kompetensi dijelaskan oleh Kriteria Unjuk Kerja.

Apakah artinya menjadi kompeten ditempat kerja?

Jika Anda kompeten dalam pekerjaan tertentu, Anda memiliki seluruh keterampilan, pengetahuan dan sikap yang perlu untuk ditampilkan secara efektif ditempat kerja, sesuai dengan standar yang telah disetujui.

1.2

Penjelasan Modul

Modul ini didisain untuk dapat digunakan pada Pelatihan Klasikal dan Pelatihan Individual/mandiri :

• Pelatihan klasikal adalah pelatihan yang disampaikan oleh seorang pelatih.

• Pelatihan individual/mandiri adalah pelatihan yang dilaksanakan oleh peserta dengan menambahkan unsur-unsur/sumber-sumber yang diperlukan dengan bantuan dari pelatih.

1.2.1. Isi Modul

a. Buku Informasi

Buku informasi ini adalah sumber pelatihan untuk pelatih maupun peserta pelatihan.

(6)

b. Buku Kerja

Buku kerja ini harus digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencatat setiap pertanyaan dan kegiatan praktik baik dalam Pelatihan Klasikal maupun Pelatihan Individual / mandiri.

Buku ini diberikan kepada peserta pelatihan dan berisi :

Kegiatan-kegiatan yang akan membantu peserta pelatihan untuk mempelajari dan memahami informasi.

• Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

• Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta pelatihan dalam melaksanakan praktik kerja.

c. Buku Penilaian

Buku penilaian ini digunakan oleh pelatih untuk menilai jawaban dan tanggapan peserta pelatihan pada Buku Kerja dan berisi :

• Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai pernyataan keterampilan.

• Metode-metode yang disarankan dalam proses penilaian keterampilan peserta pelatihan.

• Sumber-sumber yang digunakan oleh peserta pelatihan untuk mencapai keterampilan.

• Semua jawaban pada setiap pertanyaan yang diisikan pada Buku Kerja. • Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktik.

• Catatan pencapaian keterampilan peserta pelatihan.

1.2.2. Pelaksanaan Modul

Pada pelatihan klasikal, pelatih akan :

• Menyediakan Buku Informasi yang dapat digunakan peserta pelatihan sebagai sumber pelatihan.

(7)

• Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama dalam penyelenggaraan pelatihan.

• Memastikan setiap peserta pelatihan memberikan jawaban / tanggapan dan menuliskan hasil tugas praktiknya pada Buku Kerja.

Pada Pelatihan individual / mandiri, peserta pelatihan akan :

• Menggunakan Buku Informasi sebagai sumber utama pelatihan. • Menyelesaikan setiap kegiatan yang terdapat pada buku Kerja. • Memberikan jawaban pada Buku Kerja.

• Mengisikan hasil tugas praktik pada Buku Kerja.

• Memiliki tanggapan-tanggapan dan hasil penilaian oleh pelatih.

1.3 Pengakuan Kompetensi Terkini (RCC)

• Apakah Pengakuan Kompetensi Terkini (Recognition of Current Competency). Jika Anda telah memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk elemen unit kompetensi tertentu, Anda dapat mengajukan pengakuan kompetensi terkini (RCC). Berarti Anda tidak akan dipersyaratkan untuk belajar kembali.

• Anda mungkin sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan, karena Anda telah :

a. Bekerja dalam suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pengetahuan dan keterampilan yang sama atau

b. Berpartisipasi dalam pelatihan yang mempelajari kompetensi yang sama atau c. Mempunyai pengalaman lainnya yang mengajarkan pengetahuan dan

keterampilan yang sama.

1.4 Pengertian-pengertian Istilah a) Profesi

Profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang menuntut sikap, pengetahuan serta keterampilan/keahlian kerja tertentu yang diperoleh dari proses pendidikan,

(8)

pelatihan serta pengalaman kerja atau penguasaan sekumpulan kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu pekerjaan/jabatan.

b) Standardisasi

Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan serta menerapkan suatu standar tertentu.

c) Penilaian / Uji Kompetensi

Penilaian atau Uji Kompetensi adalah proses pengumpulan bukti melalui perencanaan, pelaksanaan dan peninjauan ulang (review) penilaian serta keputusan mengenai apakah kompetensi sudah tercapai dengan membandingkan bukti-bukti yang dikumpulkan terhadap standar yang dipersyaratkan.

d) Pelatihan

Pelatihan adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan untuk mencapai suatu kompetensi tertentu dimana materi, metode dan fasilitas pelatihan serta lingkungan belajar yang ada terfokus kepada pencapaian unjuk kerja pada kompetensi yang dipelajari.

e) Kompetensi

Kompetensi adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan serta penerapan dari ketiga aspek tersebut ditempat kerja untuk mencapai unjuk kerja yang ditetapkan.

f) Standar Kompetensi

Standar kompetensi adalah standar yang ditampilkan dalam istilah-istilah hasil serta memiliki format standar yang terdiri dari judul unit, deskripsi unit, elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja, ruang lingkup serta pedoman bukti.

g) Sertifikat Kompetensi

Adalah pengakuan tertulis atas penguasaan suatu kompetensi tertentu kepada seseorang yang dinyatakan kompeten yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi.

h) Sertifikasi Kompetensi

Adalah proses penerbitan sertifikat kompetensi melalui proses penilaian / uji kompetensi.

(9)

BAB II

STANDAR KOMPETENSI

2.1. Peta Paket Pelatihan

Modul yang sedang Anda pelajari ini adalah untuk mencapai satu unit kompetensi, yang termasuk dalam satu paket pelatihan, yang terdiri atas unit-unit kompetensi berikut:

Untuk mempelajari modul ini perlu membaca dan memahami modul – modul lain yang berkaitan diantaranya :

2.1.1 TIK.PR02.021.01 2.1.2 TIK.PR02.024.01

2.2. Pengertian Unit Standar Kompetensi

Apakah Standar Kompetensi?

Setiap Standar Kompetensi menentukan :

a. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi. b. Standar yang diperlukan untuk mendemonstrasikan kompetensi.

c. Kondisi dimana kompetensi dicapai.

Apa yang akan Anda pelajari dari Unit Kompetensi ini?

Anda akan diajarkan untuk merancang bagaimana sebuah amplifier bisa dirakit sehingga dapat dioperasikan, serta menguji kemampuan (performance) amplifier dengan berbagai macam pengujian.

Berapa banyak/kesempatan yang Anda miliki untuk mencapai kompetensi?

Jika Anda belum mencapai kompetensi pada usaha/kesempatan pertama, Pelatih Anda akan mengatur rencana pelatihan dengan Anda. Rencana ini akan memberikan Anda kesempatan kembali untuk meningkatkan level kompetensi Anda sesuai dengan level yang diperlukan.

(10)

Jumlah maksimum usaha/kesempatan yang disarankan adalah 3 (tiga) kali.

2.3. Unit Kompetensi yang Dipelajari

Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan menjadi panduan bagi peserta pelatihan untuk dapat :

• mengidentifikasikan apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan. • memeriksa kemajuan peserta pelatihan.

• menyakinkan bahwa semua elemen (sub-kompetensi) dan kriteria unjuk kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan penilaian.

2.3.1 Kode dan Judul Unit

Kode Unit : ELK.EL.02.015.01

Judul Unit : Merakit dan Menguji Amplifier

2.3.2 Deskripsi Unit

Unit kompetensi ini menetapkan bagaimana seseorang mempunyai ketrampilan pengetahuan dan sikap kerja bagaimana merakit dan menguji sebuah amplifier.

2.3.3 Elemen Kompetensi

Sub Kompetensi / Elemen

Kriteria Unjuk Kerja

1.0 Menjelaskan bagaimana sebuah penguat sistem audio bekerja.

1.1. Pengertian dan Sistem Audio dijelaskan 1.2. Blok Diagram Dan Cara Kerja Audio Amplifier

dijelaskan

1.3. Penguat sistem Audio Stereo dijelaskan

2.0 Merakit rangkaian penguat mula & pengatur nada (tone control).

2.1 Cara kerja penguat mula dijelaskan.

2.2 Merancang sebuah penguat mula & pengatur nada dijelaskan.

2.3. Merakit penguat mula & pengatur nada didemonstrasikan

(11)

Sub Kompetensi / Elemen

Kriteria Unjuk Kerja

3.0 . Menguji

rangkaian penguat mula (tone control).

3.1. Cara kerja sinyal injector dijelaskan

3.2. Pengukuran respon frequensi rangkaian penguat mula didemonstrasikan

3.3. Pengukuran penguatan /pelemahan bass dan treeble didemonstrasikan .

4.0 Merakit rangkaian penguat daya

4.1. Spesifikasi penguat daya yang baik dijelaskan 4.2. Merancang sebuah piranti penguat daya

dijelaskan.

4.3. Merakit sebuah piranti penguat daya didemonstrasi kan

5.0 Menguji rangkaian penguat daya.

5.1. Pengujian dengan sinyal injector didemonstrasikan .

5.2. Pengukuran tegangan dan arus didemonstrasikan 5.3. Pengukuran kemampuan penguatan daya

didemonstrasi kan

6.0 Menentukan spesifikasi sebuah piranti amplifier Hi-Fi.

6.1. Spesifikasi teknis yang diperlukan sebuah piranti amplifier dijelaskan.

6.2. Pengukuran distorsi piranti amplifier didemonstrasikan.

(12)

2.3.4 Batasan Variabel

1. Unit ini berlaku untuk seluruh sektor listrik.

2. Menguji sebuah amplifier merupakan keahlian khusus untuk menetapkan sebuah amplifier mempunyai sifat Hi Fi

2.3.5 Panduan Penilaian

1. Pengetahuan dan keterampilan penunjang

Untuk mendemontrasikan kompetensi, diperlukan bukti keterampilan dan pengetahuan dibidang berikut ini :

1.1 Dasar yang dibutuhkan :

1.1.1 Pengetahuan komponen elektronika. 1.1.2 Dasar Kelistrikan

1.1.3 Dasar elektronika

1.2 Keterampilan dasar.

1.2.1 Keterampilan menyolder. 1.2.2 Kerja bangku plat. 1.2.3 Pengkabelan.

1.2.4 Penggunaan multimeter 1.2.5 Asembli.

2. Konteks penilaian

Kompetensi harus diujikan di tempat kerja atau tempat lain secara praktek dengan kondisi kerja sesuai dengan keadaan normal.

3. Aspek penting penilaian

Aspek yang harus diperhatikan :

3.1 Kemampuan merakit sebuah amplifier. 3.2 Kemampuan mengoperasikan alat ukur. 3.3 Kemampuan menguji amplifier.

(13)

4. Kaitan dengan unit-unit lainnya

4.1 Unit ini juga mendukung kinerja dalam unit-unit kompetensi yang berkaitan dengan :

4.1.1 Asembli

4.1.2 Pengukuran dan Instrumentasi

4.2 Pengembangan pelatihan untuk memenuhi persyaratan dalam unit ini perlu melakukan perakitan berbagai macam amplifier yang dayanya kecil maupun yang besar. yang menggunakan transistor maupun IC.

2.3.6 Kompetensi Kunci

NO KOMPETENSI KUNCI DALAM UNIT INI TINGKAT

1 Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa informasi 3

2 Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi 3

3 Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas 3

4 Bekerja dengan orang lain dan kelompok 2

5 Menggunakan ide-ide dan teknik matematika 3

6 Memecahkan masalah 3

(14)

BAB III

STRATEGI DAN METODE PELATIHAN

3.1. Strategi Pelatihan

Belajar dalam suatu sistem Berdasarkan Kompetensi berbeda dengan yang sedang “diajarkan” di kelas oleh Pelatih. Pada sistem ini Anda akan bertanggung jawab terhadap belajar Anda sendiri, artinya bahwa Anda perlu merencanakan belajar Anda dengan Pelatih dan kemudian melaksanakannya dengan tekun sesuai dengan rencana yang telah dibuat.

Persiapan/perencanaan

a. Membaca bahan/materi yang telah diidentifikasi dalam setiap tahap belajar dengan tujuan mendapatkan tinjauan umum mengenai isi proses belajar Anda.

b. Membuat catatan terhadap apa yang telah dibaca.

c. Memikirkan bagaimana pengetahuan baru yang diperoleh berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah Anda miliki.

d. Merencanakan aplikasi praktik pengetahuan dan keterampilan Anda.

Permulaan dari proses pembelajaran

a. Mencoba mengerjakan seluruh pertanyaan dan tugas praktik yang terdapat pada tahap belajar.

b. Merevisi dan meninjau materi belajar agar dapat menggabungkan pengetahuan Anda.

Pengamatan terhadap tugas praktik

a. Mengamati keterampilan praktik yang didemonstrasikan oleh Pelatih atau orang yang telah berpengalaman lainnya.

(15)

Implementasi

a. Menerapkan pelatihan kerja yang aman.

b. Mengamati indicator kemajuan personal melalui kegiatan praktik. c. Mempraktikkan keterampilan baru yang telah Anda peroleh.

Penilaian

Melaksanakan tugas penilaian untuk penyelesaian belajar Anda.

3.2. Metode Pelatihan

Terdapat tiga prinsip metode belajar yang dapat digunakan. Dalam beberapa kasus, kombinasi metode belajar mungkin dapat digunakan.

Belajar Secara Mandiri

Belajar secara mandiri membolehkan Anda untuk belajar secara individual, sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing. Meskipun proses belajar dilaksanakan secara bebas, Anda disarankan untuk menemui Pelatih setiap saat untuk mengkonfirmasikan kemajuan dan mengatasi kesulitan belajar.

Belajar Berkelompok

Belajar berkelompok memungkinkan peserta untuk dating bersama secara teratur dan berpartisipasi dalam sesi belajar berkelompok. Walaupun proses belajar memiliki prinsip sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing, sesi kelompok memberikan interaksi antar peserta, Pelatih dan pakar/ahli dari tempat kerja.

Belajar Terstruktur

Belajar terstruktur meliputi sesi pertemuan kelas secara formal yang dilaksanakan oleh Pelatih atau ahli lainnya. Sesi belajar ini umumnya mencakup topik tertentu.

(16)

BAB IV

MATERI UNIT KOMPETENSI

4.1 Tujuan Instruksional Umum

• Siswa memahami kebutuhan bahan dalam merakit amplifier • Siswa memahami langkah-langkah merakit sebuah amplifier • Siswa memahami pengujian kemampuan sebuah amplifier

4.2 Tujuan Instruksional Khusus

• Siswa dapat menjelaskan pengertian dan Sistem Audio.

• Siswa dapat menjelaskan Blok Diagram Dan Cara Kerja Audio Amplifier • Siswa dapat menjelaskan Penguat sistem Audio Stereo

• Siswa dapat menjelaskan Cara kerja penguat mula dan pengatur nada.

• Siswa dapat menjelaskan apa saja persiapan dan langkah-langkah ketika merakit sebuah penguat mula dan tone control.

• Siswa dapat merakit sebuah penguat mula dan tone control. • Siswa dapat menjelaskan cara kerja sinyal injector dijelaskan

• Siswa dapat mendemonstrasikan pengukuran respon frequensi penguat mula.

• Siswa dapat mendemonstrasikan pengukuran penguatan / pelemahan bass dan treble pada rangkaian penguat tone control.

• Siswa dapat merakit rangkaian penguat daya

• Siswa dapat menjelaskan spesifikasi penguat daya yang baik

• Siswa dapat membuat rancangan sebuah penguat daya sesuai kebutuhan • Siswa dapat mendemonstrasikan cara merakit sebuah penguat daya • Siswa dapat menguji rangkaian penguat daya dengan sinyal injector • Siswa dapat menguji penguat daya dengan mengukur arus dan tegangan

• Siswa dapat menguji kemampuan penguat daya dengan mengukur output rangkaian • Siswa dapat menjelaskan spesifikasi sebuah amplifier kelas Hi Fi

(17)

4.3 Pengertian Sistem Audio

Musik apakah itu, pop, jazz, rock, klasik, dangdut, kroncong, gamelan dan sebagainya merupakan salah satu sarana hiburan bagi kita semua. Untuk menikmatinya, bisa secara langsung dari rombongan yang memainkannya, melalui suatu per-tunjukan musik atau secara tidak langsung melalui reproduksinya dari piringan hitam atau pita cassette. Hasil reproduks: dapat pula kita nikmati melalui radio dengan memilih stasiun yang sedang memutar reproduksi ph atau cassette yang kita senangi.

Dalam menikmati musik hasil reproduksi, kita mengharapkan mutu suara yang dihasilkan oleh sistem tata suara seperti cassette player atau turntable, radio penguat dan loud-speaker, "sesuai dan seindah bunyi aslinya," bersih tanpa ada tambahan bunyi-bunyi lainnya. Paling tidak kita berharap bisa mendekatinya dan kalau pun ada bunyi tambahan (dengung, gemerisik) bisa sekecil mungkin dan tidak begitu mengganggu. Selain itu kita akan bertambah puas apabila musik yang direproduksi mengandung efek ruang (stereophonic, quadraphonic atau ambisonic), sehingga kita seolah-olah berhadapan langsung dengan rombongan yang memainkannya.

Untuk mewujudkan harapan kita di atas maka kita harus memiliki suatu peralatan sistem tata suara stereophonic yang berkwalitas tinggi (HI-FI). Peralatan tersebut bisa di-peroleh di toko penjual peralatan audio. Tetapi bagi seorang penggemar hobby elektronika membeli peralatan yang sudah jadi tidak akan memuaskan hatinya. Sebab dengan membuat sendiri, apalagi kalau kwalitasnya bisa menyaingi buatan pabrik, akan merupakan kebanggaan tersendiri.

Penguat daya yang berkualitas sanggup menghasilkan suara output (sound reproduction) yang tidak cacat , selain daya yang dihasilkan cukup kuat. Penguat jenis ini dapat digolongkan penguat High Fidelity (Hi-Fi)

Pengertian Amplifier (Penguat)

Kalau kita lihat uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian umum yag dimaksud dengan amplifier (penguat) adalah piranti yang digunakan untuk menguatkan suara yang dapat didengar oleh manusia (audio). Piranti ini disebut juga power amplifier,

(18)

karena maksud dari piranti ini adalah menguatkan daya dari getaran yang berasal dari piranti-piranti yang menghasilkan suara audio

Audio adalah frekuensi-frekuensi (getaran) yang dapat didengar oleh telinga manusia, yang besarnya antara 20 sampai dengan 20 000 Hz, disebut juga frekuensi audio (AF =audio frekuensi).

Untuk lebih membatasi pengertian amplifier disini, maka harus ada 2 kata yaitu audio dan penguat (amplifier). Jadi Audio Amplifier adalah piranti elektronik yang dapat menguatkan atau memperbesar sinyal dalam kisaran frekuensi audio. Besarnya penguatan tergantung dari rancangan amplifier tersebut.

Pengertian amplifier secara umum tidak dibatasi untuk frekuensi audio saja. Amplifier dapat dirancang untuk menguatkan semua frekuensi gelombang elektronik.

2. SISTEM AUDIO (Audio System)

Blok diagram dibawah ini menggambarkan sebuah perangkat lengkap sistem audio. Secara garis besarnya sistem audio terdiri dari bagian:

1. Penguat mula (Pre-amplifier). 2. Penguat daya

3. Penguat Equalizer

4. Cassette player + penguat head (preamp head). 5. Radio tuner AM/FM

6. Sumber tenaga/daya.

Untuk selanjutnya hanya akan dibahas mengenai perangkat yang seringkali dijual terpisah yaitu penguat audio (audio amplifier) yang terdiri dari penguat mula dan penguat daya. Penguat mula diurai menjadi blok penguat awal dan blok pengatur nada (tone control) dan penguat daya diurai menjadi blok penguat tegangan dan blok penguat arus (daya)

(19)

Gambar 2.1. Blok diagram Audio sistem yang lumrah

3. BLOK DIAGRAM DAN CARA KERJA AUDIO AMPLIFIER

Berikut ini blok diagram sebuah audio amplifier secara umum. Sistem ini disebut juga mono, karena mempunyai input dan output masing-masing satu atau disebut satu kanal.. Pre amplifier Tone Control Voltage amplifier Power amplifier Power Suply in out

(20)

3.1. Penguat mula (Preamplifier)

Sinyal listrik dari piranti seperti mikrofon, tape recorder head, mempunyai amplitude yang sangat kecil. Agar sinyal ini mempunyai amplitude yang besar maka blok rangkaian preamplifier digunakan. Sebuah preamplifier membesarkan tegangan sinyal pada level yang ditentukan sehingga dapat diproses oleh tingkat blok berikutnya.

Pada kondisi dibawah normal level sinyal pada input tingkat preamplifier sangat kecil dan memerlukan penguatan yang dipersiapkan untuk dapat menggerakkan speaker sehingga dapat didengar oleh telinga kita. Pada keadaan dimana sebuah amplifier harus mempunyai kemampuan untuk dapat melayani berbagai piranti input, seperti tape recorder, piringan hitam, AM FM tuner, CD, atau mikrifone maka sebuah unit amplifier harus menggunakan blok preamplifier untuk menghasilkan sinyal yang cukup untuk selanjutnya dapat menggerakkan speaker.

3.2. Tone Control

Rangkaian dalam blok ini berfungsi untuk mengontrol sinyal listrik, agar penguatan level (emphasis) frekuensi tinggi (treble) atau penguatan level frekuensi rendah (bass) atau kadang-kadang juga frekuensi menengah (middle) dapat dikendalikan sesuai dengan kebutuhan. Blok ini juga mengontrol pelemahan level (deemphasis) frekuensi tinggi, frekuensi rendah dan frekuensi menengah. Dengan memutar knob tone control dapat dihasilkan nada-nada frekuensi tinggi dan rendah.pengturan control level dengan cara mulai dari pelemahan sampai dengan penguatan level lebar bidang (bandwidth) frekuensi-frekuensi tersebut.

3.4. Penguat Tegangan (Volt Amplifier)

Sinyal yang dihasilkan oleh input dan diproses oleh preamplifier dan tone control, Tegangan (amplitude) sinyal ini masih sangat kecil sekitar 0.5 1 m Volt. Sinyal ini harus dikuatkan jauh lebih agar dapat menggerakkan blok rangkaian berikutnya. Hal ini dilakukan oleh penguat tegangan sehingga dihasilkan tegangan sinyal 1.000 1.500 m Volt. Ini berarti diperlukan sebuah tingkat penguatan tegangan lebih dari 2000 kali.

(21)

3.5. Penguat Daya

Penguat daya diperlukan agar dapat menghasilkan daya (tegangan dan arus) yang nantinya dapat menggerakkan peralatan keluaran (Transducer). Blok penguat daya dirancang untuk meningkatkan daya listrik yang sangat besar sesuai dengan kebutuhan jumlah audience (pendengar). Transducer yang lumrah digunakan seperti pengeras suara (speaker) membutuhkan tegangan yang kecil tetapi arus yang besar untuk dapat menghasilkan medan magnet pada speaker.

Sebuah peralatan yang besar seperti yang digunakan oleh band musik atau sistem PA (public address) membutuhkan daya listrik yang sangat besar untuk mereproduksi seluruh frekuensi suara aslinya. Umumnya impedansi keluaran tingkat penguat daya harus sesuai dengan impedansi transducer. Jika ini ada perbedaan yang besar akan terjadi kerugian daya yang tidak dapat sepenuhnya menjadi energi suara.

(22)

3.6. Catu Daya

Setiap peralatan elektronika membutuhkan energi listrik agar dapat bekerja sesuai dengan fungsinya. Energi ini digunakan untuk memdaya gunakan kerja sistem. Energi ini diambil dari sumber luar misalnya PLN kemudian diubah menjadi tegangan-tegangan yang diperlukan. Blok ini disebut catu daya, yaitu satu unit rangkaian yang menyediakan daya listrik secara terus-menerus dan terlegulasi. Catu daya juga harus menyediakan tegangan dan arus yang cukup untuk kebutuhan peralatan elektronika tersebut.

4. PENGUAT AUDIO STEREO

Sejauh ini kita membahas unit rangkaian pengolah suara yang mempunyai satu kanal (mono). Sekarang ini dipasaran banyak terdapat unit rangkaian yang stereo, dimana unit ini mempunyai dua kanal. Unit stereo dibangun dari dua penguat audio dan bekerja sebagai satu unit dengan dua input dan dua output. Kedua sistem prenguat tersebut beroperasi pada waktu yang sama.

Tujuan dari sistem ini adalah agar dihasilan efek stereo (ruang) sehingga pendengar seolah olah sedang mendengarkan suatu pagelaran musik dalam suatu ruang yang besar. Pre amplifier R Tone Control L Voltage amplifier R Power amplifier R In R Out R Pre amplifier L Voltage amplifier L Power amplifier L Out L Tone Control R In L

(23)

Quad (singkatan dari Quadraphonic)

Sistem unit ini mempunyai empat kanal. Prinsipnya seperti sistem stereo dan ditambah dua kanal output untuk efek suara (gema). Perspektif pendengar dalam ruangan menjadikan efek ECHO (gema atau pantul), sehingga pendengar dapat merasakan musik seperti keadaan sesungguhnya (live). Efek ini dibentuk dengan sistem stereo dtambah dua kanal amplifier tambahan yang meengolah suara yang lebih lemah dan tertunda sehingga mempunyai efek gema atau pantul.

Instalasi yang lumrah agar supaya terdengar kuadraphonic speaker ditempatkan dimasing-masing pojok ruangan pendengar. Pendengar sebaiknya duduk ditengah ruangan. Sebagaian besar suara datang dari dua speaker depan (front speaker). Pengurangan level suara diperlukan dan juga adanya penundaan waktu sinyal datang pada speaker belakang (rear speaker).

(24)

5 . RANGKAIAN PENGUAT MULA (Tone Control)

Dari gambar 1 juga dapat dilihat bahwa bagian penguat mula atau preamp terdiri dari, penguat ekualiser dan penguat bass dan treble (tone control). Penguat ekuiliser berfungsi memperkuat sinyal input (radio, turn table atau cassette player) dengan karakteristik penguatan tertentu, seperti diperlihatkan pada gambar 2a. Dalam gambar tersebut bisa dilihat bahwa karakteristik penguatan untuk masing-masing input berbeda. Karakteristik penguatan ini ditentukan oleh rangkaian catu balik yang berupa susunan komponen pasip (tahanan dan kapasitor).

Penguat pengatur bass-treble (tone control) berfungsi memperkuat sinyal yang keluar dari penguat ekuiliser dengan karakteristik penguatan seperti pada gambar 2b. Pada kedudukan pengatur bass minimum maka sinyal dengan frekuensi di bawah 500 Hz akan diredam sampai dengan 20 dB (diperkuat -20 dB) atau di-perkecil 10 kali. Ketika posisi pengatur bass di tengah-tengah, sinyal di bawah 500 Hz tidak diredam dan tidak pula diperkuat. Ketika posisi pengatur bass maksimum sinyal 500 Hz ke bawah akan diperkuat +20 dB (10 kali).

Sama halnya dengan pengatur bass, ketika kedudukan treble minimum, tengah-tengah dan maksimum sinyal yang berfrekuensi 500 Hz keatas diredam sampai dengan -20 dB sampai dikuatkan sampai dengan 20 dB

Rangkaian lengkap dari bagian preamp. ini dapat pembaca lihat pada gambar 3. Baik penguat ekualisernya maupun penguat bass-treblenya menggunakan op amp jenis LM 387. Kedua op amp tersebut terbungkus menjadi satu dalam paket DIL (Dual In Line, kaki-kakinya tersusun dalam dua deret). Mengapa dipilih jenis LM 387? Hal ini mengingat; terutama faktor penguatan terbuka 104 dB atau +150.000 kali (ingat teori op amp., semakin besar semakin baik). Derau yang ditimbulkan kecil. Penekanan terhadap tegangan kerut 110 dB atau kira-kira 300.000 kali (ini berarti tegangan sumber tenaga tidak perlu distabilkan).

Rangkaian catu balik yang terdiri dari bagian tetap, yaitu R7 dan C5 dan bagian dipilih yaitu R10untuk input radio; R12, R13, C7, C8 untuk turn-table (PU) dan R18, R19, C9 untuk input cassette player. Dengan memilih rangkaian ini maka akan didapatkan karakteristik penguatan sesuai dengan gambar 2a. Tahanan R6 dan R8 merupakan rangkaian pembagi tegangan yang akan diberikan pada input inverting (—). Sinyal yang

(25)

sudah diperkuat penguat ekuiliser kemudian dihubungkan ke penguat bass-treble melalui C6 dan pengatur volume RV1 dan tahanan R12

Karakteristik penguatan bass-treble ditentukan oleh R14, R\/2, R22, C11 Yang merupakan rangkaian pengatur treeble dan R15, R20, R23, RV3, C3, C10, C12 pengatur bass. Tahanan R21 dan R26 merupakan pembagi tegangan untuk mencatu input inverting (—). R24 dan C13 berfungsi mengkompensasikan sinyal-sinyal frekuensi tinggi.

(26)
(27)

DAFTAR KOMPONEN PENGUAT MULA DAN TONE CONTROL No. Komponen Nilai komponen No. Komponen Nilai komponen R1, R2, R3, R4 22 K IC LM 387 R5, R20 220 K Tr1 BC 141 Rb, R24, R27 1 K ZD1 Zener dioda 12 volt R7, R26 4.7 K S1 Saklar putar 4 induk 2 anak R8, R25 680 K S2 Saklar tekan 2 induk 2 anak R9 6,8 K PCB

R10 100 ohm C1,C4a,b 4,7 UF/16V,

tantalum R11 1,8 K C2 22 UF/16V, elektrolyt R12, R19 1 M C3 470 UF/16V, elektrolyt R12 2,2 K C5, C9 3,3 nF, mylar R14, R21 3,9 K C6 820 pF, mylar R15, R18, R22 10 K C7, C10 33 nF, mylar R16 100 K C12 10 nF, mylar R17 47 K C13 100 nF, mylar R23 680 ohm C14 220 uF/16V, elektrolyt R28 3,3 K C15, C17 10 uF/16V, tantalum RV1 50K/A, potensiometer C16 100 uF/16V, elektrolyt RV2, RV3 100 K/B, potensiometer C8 5 nF mylar

(28)

RV4

1K/B, potensiometer

C11 4,7 uF/16V, tantalum Semua tahanan karbon 0,25W

5%.

5.1. Rangkaian Tone Control

Berikut ini adalah rangkaian penguat mula (preamp) dengan tone control. Rangkaian ini menggunakan IC Opamp BiFET 084 yang mempunyai kehandalan dalam menekan noise.

Gambar 5.3. Rangkaian penguat mula (preamp) dan tone control sederhana

Rangkaian penguat mula (preamp) dan tone control ini lebih sederhana. Perhatikan pengatur volume ditempatkan pada input. Rangkaian preamp ini tidak dilengkapi dengan rangkaian pilihan equalisasi. Pengatur balans ditempatkan berdekatan dengan pengatur volume di bagian awal. Rangkaian Tone Control ini terdiri dari rangkaian penguat sekaligus sebagai penyesuai impedansi (Maching Impedance) dan rangkaian filter LPF dan HPF . LPF (Low Pass Filter) melalukan frekuensi rendah dan frekuensi tingginya ditekan sedangkan HPF (High Pass Filter) melalukan frekuensi tnggi dan frekuensi rendahnya ditekan.

6. RANGKAIAN PENGUAT DAYA

Rangkaian penguat daya disini kita bahas sebuah penguat daya yang sederhana. Disini dipergunakan kit ES serial AXH. Kit serial AXH tidak menggunakan komponen diskrit melainkan suatu hybrid IC di mana hampir semua komponen terkumpul menjadi satu

(29)

dalam suatu paket. Dengan demikian rangkaian menjadi sederhana karena hanya perlu menambah beberapa buah tananan dan kapasitor.

Salah satu kerugian dari penggunaan hybrid IC adalah, bila salah satu komponen di dalamnya rusak, terutama yang sering rusak adalah bagian transistor outputnya, maka kita harus mengganti seluruh hybrid IC tersebut. Tetapi tidak perlu khawatir, asal kita memasang sekering yang tepat haj ini bisa dicegah.

Serial AXH ini terdiri dari AXH 4015 yang memberikan daya output 15 watt, AXH 4020-20 watt, AXH 4025-25 watt dan AXH 4030-30 watt. Kita tinggal memilih mana yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk suatu ruangan kecil cukup dengan AXH 4015, sedang untuk ruang tengah cukup dengan AXH 4020.

Rangkaian lengkap penguat serial AXH diperlihatkan pada gambar. Tahanan input R^ berfungsi mengurangi besarnya sinyal input agar sesuai dengan kepekaan input yang di-butuhkan berdasarkan faktor penguat-an IC^ Sebagai contoh misalnya memakai serial AXH 4020 di mana dipergunakan IC STK 025. Untuk mendapatkan daya output sebesar 20 watt pada beban 8 ohm, maka tegangan RMS pada beban haruslah

P = V2 / R 20 = V2 / 8 V = 12,6 vrms

Faktor penguatan tegangan IC adalah kira-kira 30 kali, jadi tegangan input yang dibutuhkan 12,6 / 30 V = 0,42V. Agar input mempunyai kepekaan 1V maka tegangan yang harus dikurangi

Sehingga: Rc = 0,58 / 0,42 x Zin = 1,38 x 27 K = 37 K

Sekering F1 sebaiknya jenis fast-blow artinya kalau melampaui batas arus maksimumnya segera sekering itu putus. Jenis sekering biasa umumnya tidak segera putus kalau melampaui batas arus maksimumnya. Jika rangkaian bermasalah atau IC rusak sehingga arus meningkat, maka dengan cepat putusnya F1 speaker tidak akan turut rusak.

(30)

Gambar 6.1. Rangkaian penguat daya (power amp) dan catu daya terbagi

Gambar 6.2. Layout dan PCB penguat daya (power amp)

DAFTAR KOMPONEN PENGUAT DAYA

R1 lihat uraian

R2a, R2b 1,8 k

R3 4,7 ohm

C1 1,5 nF/mylar

(31)

C3, C4, C9 47 nF, mylar C5 10 uF/25V, elektrolyt C6 47 uF/63V, elektrolyt C7, C8 10 uF/63V, elektrolyt IC1 STK 022, 025, 032, 036 F1 lihat tabel 1.

7. RANGKAIAN SISTEM PENGUAT AUDIO STEREO :

Sistem penguat audio stereo merupakan gabungan dari dua buah penguat daya mono dengan sumber daya yang sama. Fungsi penguat daya stereo adalah menguatkan dua jalur frekuensi suara yang berbeda dan berasal dari perekam pita stereo atau piringan hitam stereo dan sebagainya, sehingga keluaran yang diberikan pada corong suara akan berbeda. Karena itu corong suara stereo selalu terdiri atas corong suara kanan dan corong suara kiri, agar perbedaan yang dimaksud dapat terdengar jelas. Perbedaan suara ini terjadi akibat masukan yang berbeda pada penguat daya, bila masukannya sama maka hasil pada kedua corong suara itu akan sama.

Pada prinsipnya, suatu penguat audio stereo memiliki,

- Dua system penguat yang terpisah, yaitu penguat frekuensi tinggi (treble) dan penguat frekuensi rendah (bass),

- Volume, dengan potensiometer ganda berfungsi mengatur besar-kecil suara. - Balance, berfungsi mengatur kesetimbangan suara kanan dan kiri,

- Pre-amplifier, berfungsi sebagai penguat awal yang diumpankan ke system penguat daya. Bagian ini dapat digabung dengan penguat daya dalam satu kotak terpisah atau masing-masing menggunakan kotak terpisah seperti yang banyak beredar di pasaran saat ini.

Untuk lebih memahami fungsi stereo yang sebenarnya berikut ini diberikan bahan acuan, bagaimana menggabungkan dua buah penguat audio mono menjadi penguat audio stereo. Untuk menggabungkan dua unit penguat audio mono maka bandingkan

(32)

karakteristik dari bagian-bagian yang dijelaskan diatas, sehingga dapat diperoleh hasil yang memuaskan.

Gbr. 7.1.

Gambar 7.1. memperlihatkan diagram pengawatan campuran untuk menempatkan pengatur volume dan pengatur balance secara berdekatan dengan penguat daya stereo. Potensiometer Vr1 (ganda) berfungsi sebagai penguat volume stereo dan Vr2 sebagai pengatur balance.

Komponen yang dibutuhkan dalam gambar 7.1, adalah :

C1, C2, C5, C6 = 0,1 µF/50V ; Vr2 = 50 KΩ (Balance) C3, C4 = 3,3 µF/25V ; LS1,LS2 = 8 Ω

Vr1 = 50 KΩ (stereo) ; R1,R2 = 4,7 KΩ

Gambar 7.2.

Gambar 7.2 memperlihatkan diagram hubungan campuran untuk menempatkan pengaturan volume yang disatukan pada satu sumbu (potensiometer ganda yang bertingkat dua) dan penempatan balance diantara bass/treble dan penguat daya.

Hubungan lainnya merupakan pemisahan antara volume treble dan bass yang masing-masing menggunakan potensiometer ganda sedang penempatan balance sama seperti

(33)

yang diperlihatkan pada gambar 175. Cara penempatan ini mengakibatkan volume, treble, dan bass dapat diatur secara terpisah sesuai keinginan. Pemasangan kedua jalur treble dilakukan pada satu potensiometer ganda sama seperti memasang bagian bass. Pemasangan dan penambahan komponen lainnya seperti sakelar, indicator dan lain-lain, bergantung pada si perancang, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip elektronika.

8. PENGUJIAN SISTEM PENGUAT AUDIO STEREO

Memiliki suatu peralatan sistem tata-suara (sound-system) yang berkwalitas tinggi (High-Fidelity) dan sempurna adalah merupakan idaman bagi setiap penggemar audio (audio-fans). Dalam usaha memiliki peralatan tersebut pada umumnya para penggemar audio lebih cenderung membeli peralatan yang sudah jadi, hasil produksi suatu perusahaan audio, daripada membuatnya sendiri. Hal ini disebabkan karena pertama tidak semua penggemar audio juga punya hobby dalam elektronik, kedua hasil buatan sendiri kadangkala jauh dari memuaskan, ketiga faktor waktu. Dengan membuat sendiri makan waktu cukup banyak, apalagi kalau tidak tokcer berarti banyak waktu yang terbuang. Ini tidak berarti bahwa tidak ada penggemar audio yang mem-punyai peralatan sistem tata suara hasil buatan sendiri, bahkan ada yang bisa membuatnya dengan kwalitas me-nyaingi merek yang sudah cukup terkenal .

Telah disebutkan di atas bahwa, mengingat alasan-alasan tadi para penggemar audio umumnya lebih banyak yang membeli peralatan yang sudah jadi. Akan tetapi walaupun tinggal membelinya di toko peralatan audio para audio fans terutama yang belum berpengalaman biasanya menemui kesulitan di dalam menentukan pilihan merek mana yang terbaik. Kadangkala merek terpengaruh oleh pendapat orang lain yang juga belum berpengalaman, hanya saja memiliki peralatan merek tertentu yang menurut orang tersebut yang terbaik. Atau bisa juga terpengaruh oleh iklan-iklan yang tidak menyajikan spesifikasi teknisnya secara lengkap. Sebagai akibatnya, setelah ratusan ribu rupiah dia keluarkan, ternyata peralatan yang dibelinya itu tidak memuaskan. Tentu hal ini bisa dihindari seandainya calon pembeli mengetahui sendiri bagaimana penyuguhan dari peralatan yang dipilihnya, sehingga dia yakin bahwa pilihannya tepat dan tidak

(34)

terpengaruh oleh kabar-kabar ataupun iklan-iklan yang kurang jelas. Lalu bagaimana caranya mengetahui baik buruknya penyuguhan suatu peralatan audio?

Penyuguhan peralatan audio dapat diketahui secara pasti melalui pengujian teknis dengan peralatan khusus. Namun umumnya peralatan audio yang baik dan sudah terkenal reputasinya selalu sudah diuji dalam laboratorium masing-masing ataupun laboratorium lembaga konsumen. Hasil pengujian tersebut kemudian diserta-kan dalam buku petunjuk pemakaian berupa spesifikasi teknis. Adakalanya hasil pengujian ini dimuat pula dalam media masa teknik. Jadi kita tidak perlu mengujinya sendiri dan ini pasti tidak akan bisa dilakukan oleh setiap audio fans mengingat alat-alat ukur yang dipakai untuk pengujian berharga jutaan rupiah.

Disini akan dibahas apa saja yang perlu diperhatikan di dalam menilai hasil pengujian suasatu peralatan sistem tata suara yaitu, amplifier, yang antara lain adalah:

1. Distorsi (cacat), 2. respons frekuensi, 3. faktor damping, 4. daya output, 5. stabilitas,

6. dengung dan derau (noise), 7. cakap silang (cross-talk), 8. keseimbangan kanal, 9. pengatur nada,

10.filter dan fasilitas umum lainnyanya.'

Tidak kalah penting adalah faktor non-teknis yaitu faktor keindahan, tapi ini tergantung dari penilaian masing-masing.

8.1. Distorsi (cacat)

Kalau dilihat dari kacamata teknik maka sampai saat ini tidak akan ada satupun amplifier yang sempurna, artinya bisa menghasilkan suara 100% sesuai dengan aslinya, mengapa?

Seperti kita ketahui bahwa sebuah amplifier mempunyai fungsi untuk memperkuat sinyal-sinyal listrik yang berasal dari tape/cassette deck, turn-table, mikrofon atau

(35)

radio-tuner, sedemikian sehingga mampu menggerakkan loudspeaker. Untuk melakukan proses penguatan ini dibutuhkan komponen aktip berupa tabung-elektron (amplifier model lama), transistor diskrit dan yang mutakhir dengan IC (Integrated Circuit) Ternyata komponen-komponen aktip ini kerjanya tidak linier, artinya antara sinyal input (yang belum diperkuat) dan sinyal output (sudah diperkuat) tidak be-banding lurus atau dengan kata lain setiap sinyal yang mempunyai level (kuat sinyal) atau frekuensi berlainan akan diperkuat berlainan pula. Akibat dari ini maka sinyal-sinyal yang diperkuat tidak akan sesuai dan seindah bunyi aslinya lagi, dan bentuknya akan distorsi (cacat). Dengan suatu rangkaian khusus dan menggunakan rangkaian catu balik (feed-back) ternyata distorsi masih bisa ditekan sampai pada suatu nilai tertentu sehingga tidak akan "terasa" oleh telinga manusia.

Secara garis besarnya distorsi (cacat) ini dapat dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, meskipun sebenarnya dalam sebuah amplifier keduanya selalu berhubungan erat.

a) distorsi harmonik b) distorsi intermodulasi,

a) Distorsi harmonik adalah cacat bentuk yang diakibatkan oleh timbul-nya sinyal tambahan yang frekuensi-nya merupakan kelipatan (harmonik) dari frekuensi sinyal input. Misalnya saja suatu sinyal 50 Hz dimasukkan pada input sebuah penguat.. Seharusnya pada output hanya timbul sinyal 50 Hz yang sudah diperkuat, tapi karena adanya distorsi harmonik timbul pula siriyal harmonik kedua 100 Hz, harmonik ketiga 150 Hz, harmonik keempat 200 Hz dan seterusnya.

Gambar 8.1. memperlihatkan bentuk gelombang distorsi akibat pengaruh timbulnya harmonik kedua. Jika hanya terdapat tambahan harmonik kedua maka suara yang dihasilkan tidaklah begitu buruk, bahkan mungkin tidak akan terasa oleh telinga kita. Lain halnya kalau distorsi beberapa harmonik cukup besar maka suara yang keluar akan lain dari aslinya.

(36)

Gambar 8.1.

Seperti telah kita ketahui bahwa setiap instrumen musik mempunyai karakteristik warna nada atau timbre yang berlainan. Sebagai contoh misal-nya suara terompet bunyinya akan berbeda dengan suara piano walaupun not nadanya sama. Warna nada ini ditentukan oleh sejumlah tertentu harmonik yang dihasilkan oleh alat musik tersebut. Seandainya ada tambahan harmonik dari luar maka warna nada akan berubah, hingga bunyi piano akan bisa jadi terompet dan mungkin bisa jadi bunyi kaleng dipukul atau sebagainya. Adanya distorsi harmonik pada amplifier akan mengakibatkan hal yang sama yaitu suara yang tidak sesuai dan seindah aslinya lagi.

Gambar 8.3 menunjukkan cara pengukuran distorsi harmonik suatu amplifier. Biasanya pengetesan distorsi harmonik dilakukan dengan frekuensi standard 400 Hz atau 1K Hz.

Gambar 8.2. Nada dasar dan harmonik-harmonik dari piano nada £ (42,1 Hz}.

Distorsi harmonik total (THD) dapat dicari dari persamaan berikut ini. E2 + E3 + E4

THD = --- x 100% E1 + E2 + E3 + E4

(37)

E1 = tegangan sinyal frekuensi dasar E

E2 , E3, E4 dst.= tegangan sinyal harmonik ke n (n = 2, 3, . . . ).

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan oleh laboratorium audio menunjukkan bahwa distorsi harmonik sebesar 0,5% pada sinyal 1000 Hz sudah mulai terasa. Pengukuran se-lanjutnya dapat menyimpulkan bahwa suatu amplifier disebut baik apabila mempunyai distorsi harmonik (THD) paling besar 0,3% pada 1000 Hz, 0,6% pada 40 Hz, 1% pada 10.000 Hz. Umumnya kebanyakan pabrik hanya memberikan spesifikasi teknis THD hanya untuk 1000 Hz, tetapi dengan melihat distorsi Intermodulasi akan kelihatan apakah THD akan naik atau tidak pada daerah atas dan bawah respons frekuensi.

b) Distorsi intermodulasi adalah cacat bentuk gelombang akibat timbul-nya sinyal tambahan hasil jumlah atau selisih dua buah sinyal dan harmoniknya atau lebih bila dimasukkan ke dalam penguat yang linier. Pada gambar 1b diperlihatkan dua sinyai masing-masing 50 Hz dan 1000 Hz yang dimasukkan ke dalam sebuah amplifier merek B. Jika amplifier ter-sebut jelek maka pada outputnya akan timbul pula sinyal 1050 Hz, 950 Hz, 1100 Hz, 900 Hz, 1150 Hz, 850 Hz, 2050, 1950, 1900, 2100, dan seterusnya. Dengan demikian sinyal yang keluar tidak akan sesuai lagi dengan warna nada aslinya.

(38)

Walaupun antara distorsi harmonik (HD) dan distorsi intermodulasi (IM) tidak ada hubungan langsung, namun suatu amplifier yang baik akan mempunyai perbandingan HD : IM = 4 : 1. Dengan kata lain kalau distorsi harmonik besarnya 0,25% maka distorsi intermodulasinya adalah 1%.

Pada spesifikasi teknis distorsi IM dinyatakan untuk standar frekuensi 40 Hz dan 7000 Hz atau 60 Hz dan 7000 Hz di mana perbandingan terhadap distorsi harmonik 4 : 1 (60 Hz : 7000 Hz = 4 : 1). Bila distorsi IM dalam spesifikasi teknik lebih besar dan distorsi harmonik total (THD) berarti bahwa THD naik pada daerah atas dan bawah respons frekuensi. Distorsi IM tidak boleh lebih dari 1,5% pada daya output optimum.

(39)

Gambar 8.5. Karakteristik distorsi harmonik total suatu amp

8.2. Respons Frekuensi

Yang dimaksud dengan respons frekuensi (frequency response) adalah jangkauan penguatan amplifier untuk suatu daerah frekuensi tertentu di mana penguatannya masih optimum. Misalnya suatu amplifier mempunyai frekuensi respons dari 20 Hz sampai 20 kHz, artinya, amplifier tersebut mampu untuk memperkuat secara optimum sinyal-sinyal dengan frekuensi di antara 20 Hz sampai 20.000 Hz, sinyal-sinyal di luar di daerah itu praktis hampir tidak diperkuat. Lalu apa hubungannya dengan kwalitas suatu amplifier? Setiap alat musik mempunyai warna nada tertentu yang ditentukan oleh sejumlah harmoniknya. Bunyi alat musik yang direproduksi oleh penguat jelas tidak boleh berubah, ini berarti semua bagian dari bunyi alat musik tersebut termasuk harmonik-harmoniknya harus diperkuat secara bersamaan dengan faktor penguatan yang sama. Andaikan suatu amplifier mempunyai respons frekuensi dari 20 Hz sampai 10.000 Hz. Amplifier ini kemudian dipakai untuk memperkuat sinyal bunyi alat musik yang mempunyai harmoniknya sampai melampaui 10.000 Hz. Maka jelas bahwa suara yang dihasilkan oleh amplifier tidak akan sesuai dengan aslinya lagi. Lalu masalahnya adalah, sampai seberapa jauh respons frekuensi yang termasuk baik itu?

Memang yang paling baik adalah penguat yang mempunyai respons frekuensi sangat lebar sekali, mulai dari dc (0 Hz) sampai tak terhingga. Tapi hal ini tidak mungkin bisa

(40)

ter-capai, selain mengingat keterbatasan kemampuan alat, di samping itu ada beberapa pertimbangan lain yang sengaja respons frekuensi suatu amplifier sampai suatu batas tertentu.

Manusia sebagai mahluk yang paling cerdas di alam ini mempunyai batas pendengaran antara 20 Hz sampai 20.000 Hz. Batas ini relatip, artinya ada yang mampu sebegitu (ini termasuk orang istirnewa) atau lebih sempit, tetapi umumnya kebanyakan hanya mampu sampai 15.000 Hz saja. Semakin tua kemampuan juga semakin menurun. Nah berdasarkan ini maka bunyi-bunyian yang bisa didengar oleh manusia umumnya hanyalah sampai 15.000 Hz maka penguat dengan respons frekuensi dari 20 Hz sampai 20.000 Hz sudah dianggap baik.

Ada suatu pendapat yang menyatakan bahwa berdasarkan teori Hemholtz bahwa bunyi musik sebenar-nya merupakan deretan kejutan-kejutan bunyi yang berpadu dalam telinga kita. Menurut hasil penelitian, suatu amplifier yang baik harus mempunyai respons frekuensi sampai sepuluh kali frekuensi dari sinyal-sinyal kejutan. Sedangkan sinyal kejutan mempunyai frekuensi 20 kHz (20.000 Hz). Jadi dengan demikian amplifier harus mempunyai respons frekuensi sampai 200.000 Hz.

Memang suatu amplifier yang mempunyai respons frekuensi dari 20 Hz sampai 200 kHz adalah sangat baik. Namun berdasarkan pengalaman praktis dengan respons 20 sampai 20 kHz pun akan memberikan hasil yang baik pula, yang terpenting faktor-faktor patokan baik lainnya bisa di-penuhi. Buat apa mempunyai respons sebegitu lebar (s/d 200 kHz) kalau distorsinya besar atau faktor lainnya jelek.

8.3. Daya output

Pemilihan daya output tergantung dari beberapa faktor, antara lain, besar kecilnya ruangan tempat pemutaran reproduksi musik, efisiensi (rendemen) dari loudspeaker dan keadaan lingkungan sekitarnya (jauh atau dekat dengan tetangga, kompleks perkantoran, perdagangan dan sebagainya).

Suatu sistem loudspeaker yang baik mempunyai efisiensi kira-kira 25%. Dengan efisiensi sebesar itu maka ruangan kecil cukup memakai daya 15-20 watt, ruangan agak besar 30-40 watt, ruangan besar 50-100 watt semuanya dalam RMS watt dan bukan Musik Power (PMPO).

(41)

Yang dimaksud dengan "Musik Power" (PMPO= Power Music Peak Output) adalah daya maksimum sesaat dari musik yang sedang direproduksi dimana distorsinya tidak melampaui batas-batas yang sudah ditentukan dalam spesifikasi teknisnya. Daya RMS atau daya gelombang sinus (sinewave power) atau pula daya kontinu (continous power) adalah daya maksimum yang dihasilkan oleh amplifier bila diberi input sinyal berupa gelombang sinusoida murni dengan tetap memperhatikan distorsi total yang tidak melebihi ketentuan spesifikasi teknis.

(42)

8.4. Kelebaran Daya (Power Bandwidth)

Pengertian kelebaran daya (Power Bandwidth) hampir sama dengan respons frekuensi, tetapi di sini lebih ditekankan untuk menghasilkan daya optimum. Jelasnya adalah jangkauan penguatan amplifier dalam daerah frekuensi tertentu di mana masih dihasilkan daya yang optimum.

Contoh amplifier 20 watt yang mempunyai kelebaran daya 20 Hz-100 kHz arti-nya amplifier tersebut dapat menghasilkan daya sekitar 20 watt di antara frekuensi 20 Hz sampai 100 kHz. Di luar frekuensi itu daya yang di-hasilkan relatip lebih kecil, bahkan yang agak. jauh sangat kecil atau nol. Kelebaran daya seperti halnya dengan respons akan menentukan kwalitas reproduksi musik untuk daya yang optimum. Kelebaran daya 20 Hz sampai 200 kHz adalah sangat baik dan 20 Hz sampai 20 kHz sudah cukup baik.

8.5. Faktor Damping

Yang dimaksud dengan faktor damping adalah perbandingan antara impendansi beban (loudspeaker)

dengan impedansi output dalam dari amplifier. Misalnya suatu amplifier mempunyai faktor damping 50 pada beban 8 Ohm artinya impedansi dalam dari amplifier 8% ohm atau 0,16 ohm. Semakin tinggi faktor damping maka loudspeaker akan "melihat" tahanan yang semakin kecil pula dan apa artinya ini untuk loudspeaker?

Kalau kita perhatikan konus (bentuk kerucut) membran loudspeaker terutama woofer (loudspeaker khusus nada bass) maka, kita akan melihat gerak mundur maju membran

(43)

tersebut pada saat ada bunyi bass. Pada saat tersebut loudspeaker tengah mengubah sinyal listrik menjadi bunyi. Kwalitas suara yang dihasilkan loudspeaker akan sesuai dengan aslinya dengan sinyal listrik (katakan amplifier yang memperkuat sinyal musik ber-kwalitas baik hingga sinyal sesuai dengan aslinya). Sebuah loudspeaker akan mempunyai kecenderungan ber-getar setelah digetarkan oleh sinyal listrik. Kalau ini terjadi berarti getaran tidak sesuai dengan aslinya dan mungkin mengganggu sinyal berikut-nya. Agar loudspeaker bergetar jika hanya ada sinyal maka harus ada sesuatu yang menghentikan getaran tambahan tersebut. Impedansi dari amplifier seolah-olah berfungsi sebagai beban pada saat tidak ada sinyal. Jika nilai kecil maka getaran tambahan pada loudspeaker akan cepat diredam (damped).

Semakin tinggi faktor damping, berarti semakin kecil impedansi dalam dan getaran tambahan akan semakin diredam. Akan tetapi adanya tahanan kabel penghubung antara amplifier dengan loudspeaker dan tahanan dari loudspeaker itu sendiri akan membatasi faktor damping pada suatu nilai tertentu. Amplifier yang baik umumnya mempunyai faktor damping 50 pada beban 8 ohm. Ada juga yang punya sampai 70 dan ini jelas baik sekali.

8.6. Respons Transient

Transient biasanya didefinisikan sebagai bunyi yang singkat seperti misalnya yang dihasilkan oleh piano, cymbal dan alat-alat perkusi (drum, bongo, dsb). Sebenarnya instrumen lain juga menghasilkan transient, yaitu pada saat mulai dibunyikan.

Amplifier yang baik harus bisa mengikuti transient (beresponsi terhadap transient). Dan karena transient mempunyai frekuensi audio yang relatip tinggi maka amplifier bisa beresponsi bila mempunyai respons frekuensi cukup lebar yaitu minimal 20 Hz sampai 20 kHz.

8.7. Stabilitas

Tidak jarang bahwa faktor stabilitas sering tidak diikutsertakan dalam spesifikasi teknis, yang sebenarnya cukup penting. Suatu amplifier yang baik akan tetap stabil dalam keadaan beban induktip (L) atau kapasitip (C) ataupun kombinsi keduanya. Karena adanya catu balik (feedback) negatip untuk mengurangi distorsi, maka ada beberapa

(44)

amplifier yang mempunyai stabilitas sangat terbatas. Akibatnya jika beban kompleks (kombinasi L dan C) seperti yang diakibatkan oleh crossover, akan terjadi pergeseran fasa yang menyebabkan adanya catu balik positip atau ketidakstabilan.

Dalam prakteknya, "problema" beban yang terutama banyak ditimbulkan oleh loud speaker elektrostatik, harus diperhitungkan secara matang. Apabila hendak menggunakan loudspeaker sejenis itu, hendaknya diperiksa apakah amplifiernya cocok atau tidak.

8.8. Pengatur nada

Bagian ini biasanya terletak pada bagian pre-amp. Terdiri dari pengatur nada menengah (middle). Tujuan dari pemberian pengatur nada terutama adalah untuk mengkompensasi keadaan ruang akustik sehingga akan diperoleh kenyamanan dalam menikmati musik yang sedang diputar.

Ada dua jenis rangkaian pengatur nada yaitu, pengatur nada pasif dan pengatur nada aktif. Amplifier modern pada umumnya menggunakan pengatur aktif yang ditemukan oleh P.J. Baxandall, karena pengatur aktif ternyata penyuguhannya jauh lebih baik dari-pada pengatur pasif. Gambar 8 memperlihatkan karakteristik dari jenis masing-masing pengatur. Suatu amplifier dengan pengatur nada yang mempunyai jangkauan penguatan (boost) dan penekanan (cut) sebesar 10 dB (+ 3 kali) sudah cukup baik dan 20 dB (10 kali) sangat baik sekali. Perlu tidaknya ada pengatur nada menengah tergantung dari selera setiap orang. Kalau suara yang dihasilkan sudah cukup dengan dua pengatur nada saja, tidak perlu memilih amplifier dengan tiga pengatur nada sebab harga-nya tentu lebih mahal.

(45)

8.9. Filter

Walaupun suatu amplifier sudah memenuhi persyaratan teknis yang baik tap! kalau rekaman musik yang kita putar mengandung bunyi tambahan maka bunyi tersebut akan ikut diperkuat, hingga akan ikut terdengar pula. Contohnya bunyi desis (hiss) dari pita cassette, sinyal pemancar yang masuk karena stasiunnya sangat dekat, bunyi gemerisik dari piringan hitarn atau radio dan sebagainya. Agar suara musik bisa bersih maka suara-suara tersebut harus dihilangkan.

Usaha untuk menghilangkan bunyi-bunyi di atas yang umumnya mempunyai frekuensi relatip tinggi dapat dilakukan dengan melakukannya melalui Low Pass Filter (pelalu frekuensi tinggi) atau biasa disebut High Filter. Kegunaan lain dari LPF ini kalau misalnya ada salah satu alat musik yang nadanya tinggi sehingga menyakitkan telinga, sedang bila pengatur treble dikurangi akan meng-ganggu bunyi lainnya, maka untuk mengurangi bunyi tersebut adalah dengan LPF atau High Filter.

Kalau kita memutar piringan hitam turn-table (pick-up), khususnya yang berkwalitas kurang baik, sering-kali mengalami suara yang keluar dari speaker seperti gemetar. Gejala ini disebut rumble akibat dari kurang stabilnya putaran motor penggerak piringan berputar pada turn-table. Kalau dianalisa rumble ini beoupa gelombang dengan frekuensi sangat rendah dan untuk menghilangkannya adalah dengan melakukannya melalui High Pass Filter (Pelalu frekuensi tinggi) atau Low Filter.

Mengingat adanya keanekaragaman mutu rekaman, bunyi desis dari pita cassette yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan, adanya gejala rumble bahkan pada turn-table terbaik pun, maka suatu amplifier yang cukup baik tentunya akan dilengkapi dengan Low dan High Filter atau beberapa filter. Dengan demikian audio fans dapat menikmati musik seoptimal mungkin.

8.10. Pengatur Loudness

Telinga manusia, selain mempunyai batas pendengaran antara 20 Hz sampai 20 kHz ternyata mempunyai kepekaan yang berbeda-beda terhadap bunyi yang frekuensinya berlainan. Dari hasil penelitian di-peroleh bahwa telinga manusia sangat peka terhadap bunyi-bunyian yang mempunyai frekuensi sekitar 1000 Hz. Kepekaan semakin menurun di luar frekuensi itu, teristimewa pada frekuensi rendah. Oleh karena itu rekaman

(46)

walaupun level (kuat) setiap bunyi instrumen dalam suatu rekaman musik dibuat sama kuat, namun oleh telinga manusia akan terdengar lebih nyaring adalah instrumen yang mengeluarkan frekuensi dasar sekitar 1000 Hz. Agar telinga manusia dapat menerima dengan sama kuat maka bunyi-bunyian di luar sekitar 1000 Hz teristimewa nada rendah harus diperkuat lebih besar.

Suatu hasil rekaman mungkin dirasakan kurang keras bagian nada rendahnya, akibat kepekaan telinga tadi. Nah untuk menonjolkan bagian nada rendah ini bisa dilakukan dengan pengatur loudness. Ada amplifier yang melengkapi pengatur loudness satu posisi artinya tanpa atau dengan loud-ness, atau beberapa posisi loudness.

Perlu atau tidaknya memiliki suatu amplifier dengan pengatur loudness tergantung dari beberapa keadaan. Misalnya nada rendah bisa ditonjolkan pula dengan menambah pengatur bass dan mengurangi pengatur treble, apakah cukup puas dengan ini? Kalau kita sudah mempunyai sistem loudspeaker yang benar-benar baik, maka pengaruh pengatur loudness tidak akan begitu besar. Dan selain itu perlu diingat bahwa amplifier dengan pengatur loudness ini mungkin relatip lebih mahal.

8.11. Dengung dan Derau

Tidak kalah pentingnya yang menentukan kwalitas suatu amplifier adalah bunyi dengung dan derau (noise). Bunyi dengung biasanya ber-asal dari bagian power supply yang kurang sempurna, sehingga sinyal bolak-balik jala-jala PLN 50 Hz atau harmonik kedua 100 Hz ikut diperkuat.

Derau atau noise ini biasanya berupa bunyi desis (hiss) akibat ada-nya gerakan-gerakan elektron pada tabung, transistor, tahanan dan pada semua komponen yang dilalui arus listrik. Karena gerakan ini tidak ber-aturan maka derau ini tidak tertentu frekuensinya, bisa dari frekuensi rendah sampai tak terhingga (white noise). Dalam audio biasanya derau dianggap sampai batas yang meng-ganggu telinga manusia (pink noise). Noise ini akan terdengar bila volume dibuka penuh tanpa ada sinyal input.

Dalam spesifikasi teknik umum-nya dicantumkan adalah: noise yang dibandingkan terhadap sinyal. Meski-pun demikian pernyataan perbandingan sinyal terhadap noise (S/N: baca S to N) sudah mencakup juga mengenai dengung. Besaran S/N dinyatakan dalam deciBel (dB). Misal suatu amplifier mempunyai S/N 60 dB, berarti bahwa pada

(47)

output hanya akan terdengar derau/dengung yang dayanya hanya sepersejuta dari daya sinyal.

Sampai seberapa besar derau/ dengung itu bisa mengganggu kenya manan dalam menikmati musik? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab secara tepat, karena banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya saja respons frekuensi dari amplifier, semakin lebar semakin besar deraunya, respons dan kepekaan (sensitivity) dari sistem loudspeaker, ruangan akustik, derau sekitarnya dan lain-lain. Tetapi sebagai pedoman umum maka S/N suatu amplifier harus tidak kurang dari nilai berikuti

Input Kepekaan S/N

Tape Head 2 mV 70 dB

Phono 3 mV 70 dB

Radio/Tuner 100 mV 90 dB

Tape 200 mv 90 dB

Angka-angka di atas biasanya adalah untuk bagian pre-amp yang umumnya bagian yang peka terhadap derau dan dengung.

8.12. Kepekaan (Sensitivity)

Kepekaan atau sensitivity suatu amplifier adalah nilai minimal besarnya sinyal input sehingga pada kedudukan volume penuh akan menghasilkan daya output yang optimum. Contoh sebuah amplifier 100 watt mempunyai kepekaan 3 mV untuk input piringan hitam (phono) artinya, amplifier akan menghasilkan daya output 100 watt bila pada volume penuh diberi sinyal sebesar 3 mV.

Mengingat bahwa tranduser input (alat pengubah getaran mekanik menjadi getaran listrik) pada alat-alat reproduksi musik seperti, tape-head, catridge (jarum) turn-table dan mikrofon hanya bisa menghasilkan sinyal listrik yang besar rata-ratanya (RMS) sudah tertentu, maka kepekaan input amplifier harus disesuaikan dengan besar sinyal setiap jenis input. Pada pembahasan dengung dan derau sudah disebutkan berapa kepekaan untuk berbagai jenis input.

Walaupun kepekaan suatu amph fier merupakan nilai minimal yang bisa menghasilkan daya output optimum pada kedudukan volume penuh, tetapi mempunyai batas maksimal juga. Dalam hal ini kalau sinyal input terlalu besar dan melampaui batas maksimalnya

(48)

maka walaupun volume dibuat minimal suarayang keluar akan distorsi atau cacat sehingga tidak akan karuan kedengarannya. Keadaan ini disebut pembebanan berlebihan (overload). Untuk mencegahnya, radio atau tape (dari deck) jangan sekali-kali dimasuk-kan ke dalam input phono atau tape head.

8.13. Keseimbangan kanal

Kebanyakan amplifier yang di-reproduksi akhir-akhir ini adalah jenis efek ruang seperti stereophonic, quadraphonic dan ambisonic (dua yang terakhir masih jarang dipasarkan di Indonesia). Jenis stereophonic mempunyai dua kanal yaitu kanal kiri dan kanal kanan, quadraphonic empat kanal yaitu kiri depan, kanan depan, kiri belakang dan kanan belakang.

Efek ruang akan terasa dengan baik kalau antara kanal terdapat keseimbangan yang baik, artinya kalau volume dibesarkan maka setiap kanal akan tetap menghasilkan sinyal yang sama kuat. Kalaupun ada per-bedaan maka harus masih bisa diatasi dengan pengatur keseimbangan (balans).

8.14. Cakap Silang (Crosstalk)

Cakap silang atau crosstalk adalah masuknya sinyal salah satu kanal ke lainnya atau sebaliknya. Agar efek ruang tetap baik maka cakap silang harus dihindari, tapi ini tidak mungkin bisa dilakukan mengingat komponen setiap kanal bersatu dalam satu kotak. Usaha yang bisa direalisasikan adalah menekannya pada suatu nilai di mana walaupun masih ada cakap silang tetapi tidak akan terasa pengaruhnya oleh telinga manusia. Suatu amplifier yang cukup baik akan mempunyai daya tekan (pisah) terhadap crosstalk paling kecil 30 dB.

8.15. Fasilitas Tambahan

Selain mempunyai fasilitas umum yang biasa terdapat pada sebuah amplifier, untuk lebih menarik pembeli banyak amplifier yang memberikan fasilitas tambahan. Misalnya saja soket head phone, VU meter atau Power Meter, mode speaker, tape dubbing dan sebagainya.

(49)

Selain dari soket head phone, maka fasilitas yang lain harus anda perhitungkan apakah anda betul-betul membutuhkannya atau tidak. Soalnya jelas bahwa amplifier dengan tambahan fasilitas tersebut pasti lebih mahal dari yang satu merek tapi tidak mempunyai fasilitas tambahan.

(50)

BAB V

SUMBER-SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI

5.1. Sumber Daya Manusia

Pelatih

Pelatih Anda dipilih karena dia telah berpengalaman. Peran Pelatih adalah untuk : a. Membantu Anda untuk merencanakan proses belajar.

b. Membimbing Anda melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.

c. Membantu Anda untuk memahami konsep dan praktik baru dan untuk menjawab pertanyaan Anda mengenai proses belajar Anda.

d. Membantu Anda untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang Anda perlukan untuk belajar Anda.

e. Mengorganisir kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.

f. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja untuk membantu jika diperlukan.

Penilai

Penilai Anda melaksanakan program pelatihan terstruktur untuk penilaian di tempat kerja. Penilai akan :

a. Melaksanakan penilaian apabila Anda telah siap dan merencanakan proses belajar dan penilaian selanjutnya dengan Anda.

b. Menjelaskan kepada Anda mengenai bagian yang perlu untuk diperbaiki dan merundingkan rencana pelatihan selanjutnya dengan Anda.

(51)

Teman kerja/sesama peserta pelatihan

Teman kerja Anda/sesama peserta pelatihan juga merupakan sumber dukungan dan bantuan. Anda juga dapat mendiskusikan proses belajar dengan mereka. Pendekatan ini akan menjadi suatu yang berharga dalam membangun semangat tim dalam lingkungan belajar/kerja Anda dan dapat meningkatkan pengalaman belajar Anda.

5.2. Sumber-sumber Perpustakaan

Pengertian sumber-sumber adalah material yang menjadi pendukung proses pembelajaran ketika peserta pelatihan sedang menggunakan Pedoman Belajar ini.

Sumber-sumber tersebut dapat meliputi : 1. Buku referensi dari perusahan 2. Lembar kerja

3. Gambar

4. Contoh tugas kerja

5. Rekaman dalam bentuk kaset, video, film dan lain-lain.

Ada beberapa sumber yang disebutkan dalam pedoman belajar ini untuk membantu peserta pelatihan mencapai unjuk kerja yang tercakup pada suatu unit kompetensi.

Prinsip-prinsip dalam CBT mendorong kefleksibilitasan dari penggunaan sumber-sumber yang terbaik dalam suatu unit kompetensi tertentu, dengan mengijinkan peserta untuk menggunakan sumber alternative lain yang lebih baik atau jika ternyata sumber-sumber yang direkomendasikan dalam pedoman belajar ini tidak tersedia/tidak ada.

Sumber-sumber bacaan yang dapat digunakan : Judul Pengarang Penerbit : : :

Panduan Membuat Halaman Web Thomas Powell

(52)

5.3. Daftar Peralatan dan Bahan yang digunakan

1. Judul/Nama Pelatihan : Merakit dan menguji amplifier 2. Kode Program Pelatihan :

NO UNIT KOMPETENSI

KODE

UNIT DAFTAR PERALATAN DAFTAR BAHAN KETERANGAN

1. Membuat Halaman Web Dinamis Dasar TIK.PR04. 002.01 -

(53)

DAFTAR PUSTAKA

• Majalah Elektronika dan Science no.5 tahun 1979 Bandung

• Radio, Television and Sound System Repair, Joel Goldberg, Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs, New Jersey 1978

(54)

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

SEKTOR LISTRIK

SUB SEKTOR ELEKTRONIKA INDUSTRI

MERAKIT DAN MENGUJI AMPLIFIER

ELK.EL02.015.01

BUKU KERJA

DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I.

DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS

BALAI BESAR PENGEMBANGAN LATIHAN KERJA LUAR NEGERI

Gambar

Gambar 2.1. Blok diagram Audio sistem yang lumrah
Gambar 5.1. Rangkaian penguat mula (preamp) dengan tone control
Gambar 5.2. Layout dan PCB  penguat mula (preamp) dengan tone control
Gambar 5.3. Rangkaian penguat mula (preamp) dan tone control sederhana
+6

Referensi

Dokumen terkait

Adapun hasil dari pengabdian ini (1) Masyarakat memiliki pemahaman dasar tentang pentingnya terlibat berorganisasi; (2) Masyarakat tahu bahwa organisasi menjadi wadah

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) karena bidang yang diteliti adalah Bimbingan Konseling dan peneliti

Materi ditujukan untuk penguasaan kosakata, polakalimat, dan kanji yang digunakan, perencanaan dan penerapan empat keterampilan berbahasa, yakni keterampilan

Dengan banyak nya kemasan gelas mineral yang masuk ketempat penampungan yang dapat mencapai ± 100 kg/hari, Mesin pemotong ring ini dirancang dan dibuat

Unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau di luar kerja

1) Kompetensi ini memberikan kejelasan untuk melakukan pengujian material aspal sebagai tambahan kepastian spesifikasi pabrik yang telah ditetapkan. 2) Unit ini berlaku

Tiba saatnya pada penerbitan Surat Keputusan (SK) Pendirian Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Tentang Izin Pendirian Sekolah Tinggi Fiqh Syeikh Nawawi Tanara

Empat orang anggota PDP cabang Kabupaten Jayawijaya, yang telah dijatuhi hukuman penjara selama empat tahun pada tahun 2000, masih tetap berada dalam tahanan kota di Wamena.. Mereka