• Tidak ada hasil yang ditemukan

Visualisasi Koreografi Tari Balet dalam Film "Terbit di Bawah Binar"

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Visualisasi Koreografi Tari Balet dalam Film "Terbit di Bawah Binar""

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)Hak cipta dan penggunaan kembali: Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli. Copyright and reuse: This license lets you remix, tweak, and build upon work non-commercially, as long as you credit the origin creator and license it on your new creations under the identical terms.. Team project ©2017 Dony Pratidana S. Hum | Bima Agus Setyawan S. IIP.

(2) BAB III METODOLOGI 3.1.. Gambaran Umum. Film “Terbit di Bawah Binar” ini merupakan tugas akhir peminatan Film dan Televisi yang akan dijadikan bahasan mengenai pengadeganan dan visualisasi tari balet pada film “Terbit di Bawah Binar” ini. Film tersebut bercerita tentang ketertekanan penari balet terhadap pelatih keras dan tegas. Penulis sebagai sutradara bertanggung jawab memvisualisasikan tarian balet yang ada pada film tersebut. Ada beberapa aspek yang akan dibahas oleh penulis dalam memvisualisasikan koreografi balet, antara lain analisa naskah sebagai landasan pembentukan koreografi dan blocking aktor serta kamera. 3.1.1 Penelitian Kualitatif Menurut Raco (2010) metode kualitatif merupakan sebuah metode yang digunakan untuk memahami dan mengerti gejala, fakta, realita serta pristiwa yang dialami oleh manusia. Raco menambahkan jika gejala dan fakta yang terjadi selalu dipahami berbeda dari setiap manusia dan manusia lainnya sehingga dalam setiap permasalahan tersebut tidak bisa dihitung secara sistematis dan matematis (hlm. prakata). 3.2.. Sinopsis. Rani (19) adalah seorang remaja yang hendak mengikuti audisi menjadi penari balet utama. Pada awalnya, Rani bisa menari dengan sangat indah sampai akhirnya ia melakukan kesalahan. Konsentrasinya terpecah sehabis melakukan kesalahan. Rasa 24 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(3) takut menghampiri dirinya dan memunculkan gangguan pada gerakan yang ia lakukan. Rasa takut tersebut menimbulkan halusinasi sehingga Rani seperti sedang berhadapan dengan figur hitam yang terus mengganggunya, terdengar juga suara pelatih (P/40) yang sedang memarahi dirinya. Rani menjadi sangat tidak percaya diri. Hingga akhirnya figur hitam berada tepat di hadapan wajahnya dan Rani tersadar bahwa itu hanya khayalan. Pelatih kemudian menghampiri Rani yang sedang termenung melihat ke arah panggung. Pelatih memarahi Rani karena melakukan hal yang tidak produktif di saat audisi akan dimulai. Rani terlihat serius pada saat melakukan pemanasan, setiap gerakan dilakukan dengan serius. Semua instruksi dari pelatih dilakukan dengan sesempurna mungkin. Selesai pemanasan, Tasya (19) menghampiri Rani untuk sekedar bercanda dan memberi informasi bahwa juri yang akan menilai gerakan mereka ada tiga orang. Rani hanya tersenyum dan Tasya berjalan kebelakang panggung. Sesampainya di belakang penggung, Rani melihat banyak penari sedang berkumpul dengan pelatih. Di sana pelatih sedang mengumumkan urutan tampil audisi, pelatih yang melihat Rani baru sampai di backstage langsung memanggil Rani dan memberikan Rani urutan tampil yang pertama. Rani hanya terdiam ketika selesai mengambil urutan tampil. Rani merias wajahnya di ruang make up dan mengganti baju balet untuk tampil nanti. Ketika sedang merias diri, pelatih masuk ke dalam ruangan make up tersebut. Pelatih mengingatkan Rani harus menari dengan bagus. Rani hanya mengangguk tanpa menatap pelati. Ketika Rani menatap pelatih, Rani terbawa lagi oleh halusinasinya dan 25 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(4) melihat pelatih sebagai figur hitam. Rani belari keluar ruangan make up dengan perasaan takut. Tasya yang sedang merapihkan pakaiannya di backstage melihat Rani sedang berlari dengan ketakutan. Tasya menegur Rani dan bertanya ada apa dengannya. Rani tidak bisa menjawab, kemudian Tasya mengingatkan Rani bahwa Rani sudah ditunggu di atas panggung. Langkah Rani sempat terhenti di pinggir panggung, Rani masih memiliki rasa ketakutan. Rani memberanikan diri dan akhirnya memasuki panggung. Rani memulai tarian balet, namun khayalan tentang figur hitam merasuki ingatannya. Rani kembali teringat di hari sebelum audisi ketika Rani dan pelatih sedang berada di ruang latihan balet. Di ruangan tersebut Rani beberapa kali dimarahi oleh pelatihnya. Pada akhirnya pelatih berkata bahwa Rani lebih baik tidak perlu mengikuti audisi karena hasilnya akan sia-sia. Rani kembali dari ingatannya dan Rani mulai menggerakan badannya dengan percaya diri. Rani mulai menari tanpa beban. Hingga akhirnya Rani dapat menyelesaikan tariannya dan mendapatkan tepuk tangan juri. Rani tersenyum bangga. Rani berjalan menuju samping panggung dan di samping panggung sudah ada pelatih yang memberikan senyuman serta tepuk tangan. 3.3.. Posisi Penulis. Dalam film pendek “Terbit di Bawah Binar” ini penulis berperan sebagai sutradara. Sebagai sutradara, penulis ingin memvisualisasikan tarian balet dalam film ini karena balet menjadi sebuah ikon tersendiri dalam film “Terbit di Bawah Binar”.. 26 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(5) 3.4.. Tahapan Kerja. Sebagai sutradara, penulis bertanggung jawab penuh terhadap semua aspek kreatif yang ada dalam film “Terbit di Bawah Binar”. Penulis harus bisa memvisualisasikan script yang ditulis oleh scriptwriter menjadi sebuah visual yang terarah. Analisa naskah tersebut menjadi landasan utama dalam terbentuknya koreografi tari balet. Penulis juga berdiskusi dengan sinematografer, production designer, produser dan sound designer untuk merancang visual dan audio yang mampu menunjang pergerakan balet. Penulis membagi menjadi dua tahapan untuk merancang visualiasi koreografi balet yaitu tahapan pra produksi dan produksi. 3.4.1. Pra produksi 1. Script analisis Dalam tahap ini, penulis melakukan script analisis terlebih dahulu. Dalam pembuatan script analisis, penulis dibantu dengan scriptwriter. Penulis berdiskusi tentang 3 dimensional karakter yang dimiliki oleh karakter-karakter yang terdapat di dalam script. Penulis juga berdiskusi tentang karakter yang terdapat di dalam script. Penulis juga menentukan tema, director statement dan director treatment dari script yang sudah dibuat. 1.. Tema. Setelah menganalisa script yang sudah dibuat oleh scriptwriter, penulis menarik kesimpulan bahwa tema dari film “Terbit di Bawah Binar” adalah kesempurnaan. Karena pada dasarnya, script yang ditulis menceritakan tentang seseorang yang ingin. 27 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(6) menari indah di atas panggung audisi dan hal tersebut merujuk kepada kesempurnaan gerak tari yang ingin ditampilkan. 2.. Statement. Setelah mendapatkan tema yang tepat, penulis menentukan statement yaitu: Kesempurnaan tidak dapat dapat diraih seorang diri. Statement itu dipilih karena pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Adapula hal lain yang membantu untuk meraih kesempurnaan dengan caranya masing-masing. 3.. Treatment. Setelah mendapatkan statement, penulis membuat director treatment. Director treatment pada film “Terbit di Bawah Binar” mengacu kepada tema yang sudah ditentukan sebelumnya yaitu kesempurnaan. Kesempurnaan dapat didukung dari beberapa aspek dalam film dari audio dan visual. 4.. Karakter Rani. Dalam film “Terbit di Bawah Binar” terdapat Rani. Menurut Egri (1946) seorang karakter wajib memilik tiga dimensional karakter, antara lain fisiologi, sosiologi dan psikologi (hlm. 33). Karakter Rani didesain dengan tiga dimensi sebagai berikut: 1.. Fisiologi. Rani merupakan seorang perempuan berumur 19 tahun. Rani memiliki rambut panjang sebahu berwarna hitam. Rani memiliki kulit berwarna coklat muda. Rani berpakaian secara kesual. Rani tidak memiliki latar belakang penyakit. 2.. Sosiologi 28 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(7) Rani tinggal di Jakarta Selatan. Keadaan keuangan keluarga Rani adalah menengah. Saat ini, Rani merupakan seorang mahasiswi semester 1 di sebuah kampus swasta. Rani memulai balet pada umur 10 tahun di sebuah balet company Jakarta Selatan. Rani tinggal bersama dengan kedua orang tua dan satu adik perempuan berumur 17 tahun. Ibu dan Ayah Rani tidak berkecimpung di dunia seni. Ayah Rani menjadi karyawan swasta di sebuah perusahaan. Ibu Rani adalah ibu rumah tangga. Hubungan Rani dan kedua orang tuanya tidak terlalu baik, karena orang tua Rani tidak terlalu menyukai seni. Rani dengan adik perempuannya berhubungan baik, namun karena passion keduanya berbeda, Rani dan adik perempuannya tidak terlalu akrab. Di lingkup pertemanan, Rani adalah seorang yang baik kepada temantemannya. Rani dikenal ramah dan hanya banyak bicara ketika membahas sesuatu yang ia sukai. Rani memiliki teman dekat bernama Tasya, mereka berdua sudah kenal sejak lama ketika masing sama-sama berada di balet company. 3.. Psikologi. Rani memiliki cita-cita untuk menjadi penari balet profesional. Rani merupakan seorang yang memendam dan menutupi ketakutannya sehingga memunculkan pemikiran negatif pada benaknya. Rani tidak banyak memperlihatkan kesedihannya kepada orang lain. Rani juga tidak memperlihatkan kebahagiannya secara berlebihan. Ketika melakukan kesalahan, Rani menjadi tidak percaya diri. Berdasarkan teori Corbett (2013) mengenai dimensional karakter, bahwa setiap karakter memiliki emosi, perasaan, gairah hidup, ketakutan, cinta yang mendalam,. 29 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(8) kebencian, rasa malu, kesombongan, hingga keraguan. Berikut adalah psikologi karakter Rani yang didesain berdasarkan teori Corbett, antara lain: 1.. Keinginan (desire). Rani memiliki keinginan untuk menjadi penari utama dalam sebuah pementasan tarian balet. Hal tersebut dipacu oleh yang sudah tertulis dalam psikologi Rani dalam teori sebelumnya bahwa Rani ingin menjadi penari balet professional. Rani tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa menjadi penari utama di pementasan tersebut walaupun harus Rani lalui lewat audisi.. 2.. Ketakutan (fear). Seperti yang dikatakan Corbett bahwa ada beberapa macam emosi dan perasaan dalam ketakutan. Corbett berpendapat bahwa beberapa ketakutan muncul sebagian besar karena di luar kendali seperti perasaan kehilangan. Dalam hal ini, Rani memiliki ketakutan tentang kehilangan kesempatannya untuk menjadi penari utama.. 3.. Keberanian (courage). Corbett menjelaskan bahwa keberanian adalah kebalikan dari ketakutan yang dimiliki oleh karakter. Dalam film “Terbit di Bawah Binar”, karakter Rani selalu ada dalam bayang-bayang pelatihnya sehingga Rani selalu merasa tertekan. Keberanian yang dimiliki Rani adalah titik balik dari karakter Rani ketika ia sudah tidak mendengarkan lagi cacian dari pelatihnya dan memilih untuk fokus dengan tarian yang dibawakannya.. 4.. Malu (shame). Rasa malu Rani muncul ketika Rani salah teknik dalam menari. Rasa malu yang dialami Rani berdampak buruk karena Rani menjadi tidak percaya diri.. 30 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(9) Penulis juga membuat scene analisis dengan tujuan lebih mengerti konflik yang terdapat pada karakter di setiap scene. Penulis menjabarkan want, hingga kata kunci tentang scene tersebut dalam bentuk tulisan agar kepala departemen terkait dapat membuat gambaran yang sepemahaman dengan penulis. 1.. Wants. Penulis membuat beats pada setiap scene. Pada scene pertama yaitu scene Rani sedang melakukan tarian balet terdapat dua beats yang berarti karakter Rani memiliki perubahan want. Want pertama adalah Rani ingin menari dengan indah. Want yang kedua adalah Rani ingin menjauhi dan menghindari figur hitam. 2.. Casting. Penulis melakukan casting untuk dua karakter yang ada di dalam film yaitu karakter Rani dan karakter Tasya. Pada saat casting, penulis tidak hanya melihat kemampuan acting tetapi melihat juga kemampuan aktor dalam menari balet. Hasil dari casting pertama penulis hanya mendapatkan karakter Tasya tapi tidak mendapatkan aktor yang sesuai dengan karakter Rani. Penulis dan produser akhirnya memutuskan untuk melakukan pengamatan langsung ke sanggar balet agar bisa mendapatkan karakter yang diinginkan. 3.. Pembuatan koreografi. Setelah pembuatan musik balet selesai, penulis bertemu dengan koreografer balet di FX Sudirman untuk berdiskusi tentang koreografi yang akan ada dalam film “Terbit di Bawah Binar”. Penulis menceritakan tentang kemungkinan gerakan balet yang penulis inginkan berada di dalam film. Pendekatan yang penulis lakukan dengan koreografer 31 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(10) adalah dengan memberikan referensi-referensi film balet. Penulis juga memberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan dari koreografi balet yang diinginkan. 4.. Latihan koreografi balet. Pada proses ini, penulis berperan untuk memberikan masukan ke koregrafer tentang gerakan yang sudah dibuat. Koreografer juga memberikan pengertian tentang gerakan balet yang dibuat, mulai dari konsekuensi aktor yang akan menarikan koreografi tersebut hingga durasi yang tepat untuk menari balet. Segala pendalaman tentang tarian balet berada pada proses ini. Dalam proses pembuatan koreografi, penulis juga selalu hadir mengamati koreografi balet yang diberikan oleh koreografer untuk aktor. Penulis memberikan masukan kepada koreografer tentang gerakan yang koreografer ciptakan agar tetap sejalan dengan film “Terbit di Bawah Binar”. Terkadang penulis mengajak Christian Yonathan selaku sinematografer untuk berdikskusi langsung tentang visual yang akan ditampilkan dalam film. Penulis dan koreografi akhirnya memutuskan untuk menggunakan beberapa teknik tarian balet untuk scene 1 antara lain 4th positon opposite 5th, couru in 5th position, allonge, chasse fouette to arabesque, pas de valse en tourant, developpe a la seconde, pose to arabesque, grand jete en tournant, pose turn, releve in attitude derriere dan pirouette. Kemudian ada tambahan gerakan untuk scene 9 yaitu pose turn, chaines dan pas de bourre grand jete.. 32 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(11) 5.. Pembuatan shot list dan story board. Setelah gerakan balet sudah menjadi sebuah koreografi yang utuh dan lokasi shooting telah ditentukan, penulis dibantu dengan sinematografer membuat shot list. Penulis mengajak sinematografer untuk ikut berdiskusi tentang shot yang akan diwujudkan. Sinematografer membantu penulis tentang kemungkinan-kemungkinan shot yang penulis inginkan bisa diwujudkan atau tidak. Setelah penulis dan sinematografer selesai membuat shot list, penulis dibantu dengan story board artist membuat story board. Story board berguna untuk memvisualkan shot list dalam bentuk gambar. 6.. Rehearsal dan test camera. Rehearsal dilakukan di Gedung Wayang Orang Barata di daerah Pasar Senen Jakarta Pusat. Rehearsal yang dilakukan adalah Reheasal tentang pengadeganan tarian balet pada scene 1. Rehearsal berfokus pada blocking, emosi dan motivasi aktor. Departemen kamera juga melakukan rehearsal seperti lighting dan penepatan framing berdasarkan story board. 3.4.2. Produksi 1.. On Set Directing. Penulis melakukan shooting dengan acuan semua yang sudah dirancang dalam pre production. Penulis juga berpegangan pada hasil rehearsal yang sudah dilakukan sebelumnya. Penulis melakukan penyutradaraan koreografi balet dengan mengacu kepada tema yang sudah dibuat sebelumnya yaitu kesempurnaan. Set, kamera dan sound juga mengacu kepada tema yang sudah di tentukan.. 33 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(12) 3.5.. Acuan. Dalam proses merancang koreografi tarian balet untuk film “Terbit di Bawah Binar” penulis mendapatkan inspirasi dari beberapa film di bawah ini: 1.. “First Position” (Kargman, 2012). Gambar 3.1. First Position (First Position, 2012). Film dokumenter yang disutradarai oleh Bess Kargman ini menceritakan tentang penari-penari balet yang sedang berkompetisi balet di Amerika. Penulis mengambil banyak referensi tentang tarian balet yang ada di dalam film tersebut. Penulis juga mengambil referensi tentang bagaimana kehidupan para penari balet dan perbedaan ketika penari balet berada di atas panggung dan di luar panggung. Penulis juga terinspirasi dengan cara ballerina berkompetisi secara nyata.. 34 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(13) 2.. “Black Swan” (Aronofsky, 2010). Gambar 3.2. Black Swan (Black Swan, 2010). Film Black Swan merupakan karya sutradara Darren Aronofsky. Menceritakan tentang karakter Nina yang ingin menjadi swan queen. Dalam penceritaannya karakter Nina merasa sangat kesulitan dalam memerankan tarian menjadi swan queen karena pada dasarnya hal yang membuatnya kesulitan dalam memerankan swan queen adalah dirinya sendiri. Karakter Nina memiliki dua kepribadian yang saling bertolak belakang karena Nina memiliki sisi black swan di dalam dirinya padahal di satu sisi ia ingin menjadi swan queen. Lewat film black swan, penulis terinspirasi tentang koreografi yang dipakai oleh Nina pada saat menjadi swan queen. Penulis juga terinspirasi tentang cara Nina mengatasi rasa takutnya ketika berada di atas panggung. Penulis juga menjadikan film ini referensi visual tarian balet untuk film “Terbit di Bawah Binar”.. 35 Visualisasi Koreografi Tari..., Reynaldy Wiranata, FSD UMN, 2019.

(14)

Gambar

Gambar 3.1. First Position  (First Position, 2012)
Gambar 3.2. Black Swan  (Black Swan, 2010)

Referensi

Dokumen terkait

Efisiensi industri perbankan merupakan parameter kinerja yang cukup banyak digunakan.Pengukuran efisiensi ini banyak digunakan karena merupakan jawaban atas

Maka dari itu butuh upaya kerjasama dalam mengatasi perdagangan perempuan yang terjadi, bentuk kerjasama ini seperti upaya pencegahan agar tidak terjadi kembali

Kaunang (2013), dalam penelitiannya dengan judul: Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Perusahaan menggunakan Rasio Profitabilitas dan Economic Value Added pada

Adapun saran yang dapat diberikan sebagai hasil evaluasi bagi pihak rumah sakit dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Mamuju yaitu pihak rumah sakit

Daftar Kelompok Petani-Nelayan Kecil (KPK) Penerima Pinjaman Modal Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani- Nelayan Kecil (P4K)

RencanaTerpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah(RPI2-JM) Bidang Cipta Karya, sebagai upaya mewujudkanketerpaduan pembangunan di

Perbandingan antara energi suara yang diserap oleh suatu bahan dengan energi suara yang datang pada permukaan bahan tersebut didefenisikan sebagai koefesien absorpsi

m~nJadi sinyal audto, maka sound .-.;:rd ini akan dapat difungsikan untuk mengirim data dengan kccepatan transmisi tertentu. Dalam tugas akhir ini akan dtbahas