ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS)
OLEH KELOMPOK 8
1. HARYANTO N.LEONG
2. NAOMI M.LAMALEI
3. WINANDO A.NEKEN
KELAS/SEMESTER : B/VI PRODI :S1-KEPERAWATAN
MATAKULIAH : KEPERAWATAN KOMUNITAS II
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MARANATHA KUPANG
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nyalah, kami dapat meyelesaikan Asuhan Keperawatan Komunitas Pada Penyakit ISPA.
Tak lupa terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman satu kelompok dalam pembuatan asuhan keperawatan ini. Semoga asuhan keperawatan ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi para pembaca. Tentu saja asuhan keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan guna untuk menjadikan lebih baik kedepannya nanti.
Kupang 20 Mey 2022
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I PENDAHULUAN...4
A. LATAR BELAKANG...4
B. TUJUAN...5
a. Tujuan Umum...5
b. Tujuan Khusus...5
BAB II PEMBAHASAN...6
1. Konsep Dasar Infeksi Saluran Pernafasan Akut...6
A. Deinisi Ispa...6
B. Etiologi ISPA...6
C. Tanda dan gejala...10
D.Patofisiologi...7
E. Pathway...8
F. Manifestasi klinis...9
G. Pemeriksaan penunjang...11
H. Penatalaksanaan...12
I. Komplikasi...12
2. Konsep Asuhan Keperawatan...12
A. Pengkajian...12
B. Diagnosa Keperawatan (SDKI)...15
C. Intervensi keperawatan...15
D. Implementasi Keperawatan...18
E. Evaluasi...19
BAB III PENUTUP...20
A. KESIMPULAN...20
B. SARAN...20
DAFTAR PUSTAKA...21 BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Infeksi pernafasan merupakan radang akut yang paling banyak terjadi pada anak- anak yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus, maupun tanpa atau disertai dengan radang parenkim paru (Wong, 2013). ISPA adalah masuknya mikroorganisme (bakteri, virus, riketsi) ke dalam saluran pernapasan yang menimbulkan gejala penyakit yang dapat berlangsung sampai 14 hari. (Sari, 2013).
Penyakit ISPA sering terjadi pada anak Balita, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali pertahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk-pilek 3 sampai 6 kali setahun. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya, terutama yang disebabkan oleh virus, sering terjadi pada semua golongan umur, jika berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak hygiene. (Sundari, dkk.
2014.
Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kejadian, beratnya penyakit dan kematian karena ISPA, yaitu status gizi (gizi kurang dan gizi buruk memperbesar risiko), pemberian ASI (ASI eksklusif mengurangi risiko), suplementasi vitamin A (mengurangi risiko), suplementasi zinc (mengurangi risiko), bayi berat badan lahir rendah (meningkatkan risiko), vaksinasi (mengurangi risiko), dan polusi udara dalam kamar terutama asap rokok dan asap bakaran dari dapur (meningkatkan risiko). (Kemenkes RI, 2015).
World Health Organization (2018), memperkirakan insidens Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Pada
tahun 2018, jumlah kematian pada balita Indonesia sebanyak 151.000 kejadian, dimana 14% dari kejadian tersebut disebabkan oleh pneumonia (Agrina, 2019).
Period prevalence ISPA dihitung dalam kurun waktu 1 bulan terakhir. 2 Lima provinsi dengan ISPA tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Sumatera Utara (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%). Pada Riskesdas 2017, Nusa Tenggara Timur juga merupakan provinsi tertinggi dengan ISPA.
Period prevalence ISPA Indonesia menurut Riskesdas 2013, (25,0%) tidak jauh berbeda dengan 2017 (25,5%). Karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (25,8%). Menurut jenis kelamin, tidak berbeda antara laki- laki dan perempuan. Penyakit ini lebih banyak dialami pada kelompok penduduk dengan kuintil indeks kepemilikan terbawah dan menengah bawah (Kemenkes RI, 2018)
Sampai dengan tahun 2018, angka cakupan penemuan ISPA balita tidak mengalami perkembangan berarti yaitu berkisar antara 20%-30%. Pada tahun 2019, terjadi peningkatan angka cakupan penemuan ISPA sebesar 63,45%. Angka kematian akibat ISPA pada balita sebesar 0,16%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2017 yang sebesar 0,08%. Pada kelompok bayi angka kematian sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 0,17% dibandingkan pada kelompok umur 1-4 tahun yang sebesar 0,15%
(Kemenkes RI, 2018).
B. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Untuk menggambarkan secara umum asuhan keperawatan komunitas pada masyarakat dengan gangguan sistem pernafasan : ISPA
b. Tujuan Khusus
Mampu melaksanakan pengkajian keperawatan komunitas dengan gangguan sistem pernafasan : ISPA
Mampu menegakkan diagnosa keperawatan komunitas dengan gangguan sistem pernafasan : ISPA
Mampu menentukan rencana keperawatan komunitas dengan gangguan sistem pernafasan : ISPA
Mampu melaksanakan tindakan keperawatan komunitas dengan gangguan sistem pernafasan : ISPA
Mampu melaksanakan evaluasi hasil keperawatan komunitas dari tindakan keperawatan yang sudah dilakukan dengan masalah gangguan sistem pernafasan : ISPA
BAB II PEMBAHASAN
1. Konsep Dasar Infeksi Saluran Pernafasan Akut A. Deinisi Ispa
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA akan menyerang host, apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Penyakit ISPA ini paling banyak di temukan pada anak di bawah lima tahun karena pada kelompok usia ini adalah kelompok yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih rentan terhadap berbagai penyakit. (Karundeng Y.M, et al.
2016)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan andeksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsung selama 14 hari. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang banyak dijumpai pada balita dan anak-anak mulai dari ISPA ringan sampai berat. ISPA yang berat jika masuk kedalam jaringan paru-paru akan menyebabkan Pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak (Jalil, 2018).
B. Etiologi ISPA
Proses terjadinya ISPA diawali dengan masuknya beberapa bakteri dari genus streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, hemofillus, bordetella, dan korinebakterium
dan virus dari golongan mikrovirus (termasuk didalamnya virus para influenza dan virus campak), adenoveirus, koronavirus, pikornavirus, herpesvirus ke dalam tubuh manusia melalui partikel udara (droplet infection). Kuman ini akan melekat pada sel epitel hidung dengan mengikuti proses pernapasan maka kuman tersebut bisa masuk ke bronkus dan masuk ke saluran pernapasan yang mengakibatkan demam, batuk, pilek, sakit kepala dan sebagainya. (Marni,2014).
Selain bakteri dan virus ISPA juga dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu kondisi lingkungan (polutan udara seperti asap rokok dan asap bahan bakar memasak, kepadatan anggota keluarga, kondisi ventilasi rumah kelembaban, kebersihan, musim, suhu), ketersediaan dan efektifitas pelayanan kesehatan serta langkah-langkah pencegahan infeksi untuk pencegahan penyebaran (vaksin, akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, kapasitas ruang isolasi), faktor penjamu (usia, kebiasaan merokok, kemampuan penjamu menularkan infeksi, status gizi, infeksi sebelumnya atau infeksi serentak yang disebabkan oleh pathogen lain, kondisi kesehatan umum) dan karakteristik pathogen (cara penularan, daya tular, faktor virulensi misalnya gen, jumlah atau dosis mikroba). (WHO,2007).
Menurut Widoyono (2008), Kondisi lingkungan yang berpotensi menjadi faktor risiko ispa adalah lingkungan yang banyak tercemar oleh asap kendaraan bermotor, bahan bakar minyak, asap hasil pembakaran serta benda asing seperti mainan plastik kecil.
C. Tanda dan gejala
Tanda dan gejala dari infeksi yang terjadi pada sluran pernafasan tergantung pada fungsi saluran pernafasan yang terjangkit infeksi, keparahan proses infeksi, dan usia seseorang serta status kesehatan secara umum (Porth, 2014).
tanda dan gejala ISPA sesuai dengan anatomi saluran pernafasan yang terserang yaitu:
a. Gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas. Gejala yang sering timbul yaitu pengeluaran cairan (discharge) nasal yang berlebihan, bersin, obstruksi nasal, mata berair, konjungtivitis ringan, sakit tenggorokan yang ringan sampai berat, rasa kering pada bagian posterior palatum mole dan uvula, sakit kepala, malaise, lesu, batuk seringkali terjadi, dan terkadang timbul demam.
b. Gejala infeksi saluran pernafasan bagian bawah. Gejala yang timbul biasanya didahului oleh gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas seperti hidung buntu,
pilek, dan sakit tenggorokan. Batuk yang bervariasi dari ringan sampai berat, biasanya dimualai dengan batuk yang tidak produktif. Setelah beberapa hari akan terdapat produksi sputum yang banyak; dapat bersifat mucus tetapi dapat juga mukopurulen. Pada pemeriksaan fisik, biasanya akan ditemukan suara wheezing atau ronkhi yang dapat terdengar jika produksi sputum meningkat.
Dan juga tanda dan gejala lainnya dapat berupa batuk, kesulitan bernafas, sakit tenggorokan, pilek, demam dan sakit kepala. Sebagian besar dari gejala saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk, kesulitan bernapas, sakit tenggorokan, pilek, demam dan sakit kepala tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotic (Rahmayatul, 2016).
Adapun tanda dan gejala ISPA yang seering ditemui adalah :
a. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,50C-40,50C.
b. Meningismus, adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, 11 gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.
c. Anorexia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit.
Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum.
d. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.
e. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.
f. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.
g. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
h. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.
i. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Wong, 2015).
D. Patofisiologi
Menurut Amalia Nurin, dkk, (2014) Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 4 tahap yaitu:
1. Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
2. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit, timbul gejala demam dan batuk.
4. Tahap lanjut penyaklit, dibagi menjadi empat yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh dengan atelektasis, menjadi kronis dan meninggal akibat pneumonia.
Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gas yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi. Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih). Makrofag banyak terdapat di alveoli dan akan dimobilisasi ke tempat lain bila terjadi infeksi. Asap
rokok dapat menurunkan kemampuan makrofag membunuh bakteri, sedangkan alkohol akan menurunkan mobilitas sel-sel ini.
Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini banyak ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita yang rentan (imunokompkromis) mudah terkena infeksi ini seperti pada pasien keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau radiasi. Penyebaran infeksi pada ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen, perkontinuitatum dan udara nafas.
E. Pathway
F. Manifestasi klinis
Gambaran klinis secara umum yang sering didapat adalah rinitis, nyeri tenggorokan, batuk dengan dahak kuning/ putih kental, nyeri retrosternal dan konjungtivitis. Suhu badan meningkat antara 4-7 hari disertai malaise, mialgia, nyeri
Multi faktor (Bakteri, Virus, mikroplasma, dll)
Inflamasi saluran bronkus Respon pada dinding
bronkus
Merangsang tubuh mengeluarkan zat pirogen
oleh leukosit Kuman melepaskan
endotoksin Peradangan pada saluran pernapasan (faring/laring
dan tonsil)
Obstruksi jalan nafas
Hipertermi
Suhu tubuh meningkat bersihan jalan nafas tidak efektif Peningkatan produksi
sekret Bronkus menyempit
Bronkospasme
pola nafas tidak efektif
kepala, anoreksia, mual, muntah dan insomnia. Bila peningkatan suhu berlangsung lama biasanya menunjukkan adanya penyulit. (Suriani, 2018)
Gejala ISPA berdasarkan tingkat keparahan adalah sebagai berikut Rosana (2016):
a) Gejala dari ISPA ringan Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
a. Batuk.
b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (pada waktu berbicara atau menangis).
c. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.
d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37°C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas.
b) Gejala dari ISPA sedang Seseorang balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
1) Pernapasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu: untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih untuk umur 2 -< 5 tahun.
2) Suhu tubuh lebih dari 39°C.
3) Tenggorokan berwarna merah.
4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
6) Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
G. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang lazim dilakukan adalah :
a. Pemeriksaan kultur/biakan kuman (swab) : hasil yang didapatkan adalah biakan kuman (+) sesuai jenis kuman
b. Pemeriksaan hidung darah (deferential count) : laju endap darah meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga disertai dengan adanya thrombositopenia
c. Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Saputro, 2013)
H. Penatalaksanaan keperawatan
Terapi untuk ISPA atas tidak selalu dengan antibiotik karena sebagian besar kasus ISPA atas disebabkan oleh virus. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atas yang disebabkan oleh virus tidak memerlukan antiviral, tetapi cukup dengan terapi suportif.
a) Terapi Suportif Berguna untuk mengurangi gejala dan meningkatkan performa pasien berupa nutrisi yang adekuat, pemberian multivitamin.
b) Antibiotik Hanya digunakan untuk terapi penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab, utama ditujukan pada pneumonia, influenza, dan aureus. (Kepmenkes RI, 2011)
I. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi akibat ISPA antaralain :
Gagal napas,karena paru-paru berhenti berfungsi
Gagal jantung kogestif.
Dan dapat menyebabkan kematian
Asma
Asma adalah mengi berulang atau batuk persisten yang disebabkan oleh suatu kondisi alergi non infeksi dengan gejala: sesak nafas, nafas berbunyi wheezing, dada terasa tertekan, batuk biasanya pada malam hari atau dini hari.
Kejang demam
Kejang demam adalah bangkilan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rentan lebih dari 38Oc) dengan geiala berupa serangan kejang klonik atau tonikklonik bilateral. Tanda lainnya seperti mata terbalik keatas dengan disertai kejang kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan atau hanya sentakan kekauan fokal.
Tuli
Tuli adalah gangguan system pendengaran yang terjadi karena adanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau virus dengan gejala awal nyeri pada telinga yang mendadak, persisten dan adanya cairan pada rongga telinga.
Syok
Syok merupakan kondisi dimana seseorang mengalami penurunan f'ungsi dari system tubuh yang disebabkan oleh babagai faktor antara lain: faktor obstruksi contohnya hambatan pada system pernafasan yang mengakibatkan seseorang kekurangan oksigen sehingga seseorang tersebut kekurang suplay oksigen ke otak dan mengakibatkan syok
2. ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS DENGAN ISPA A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
DATA INTI 1. Geografi
a. Keadaan tanah: tanah kering namun tidak berdebu b. Luas daerah: 8 Ha
2. Demografi
a. Jumlah KK:37KK
b. Jumlah penduduk keseluruhan: 400 jiwa
c. Mobilitas penduduk: penduduk jarang dirumah ketika pagi dan siang hari karena bekerja, sedangkan anak-anak pada sekolah
d. Jumlah keluarga: 47 keluarga e. Kepadatan penduduk: padat f. Tingkat pendidikan penduduk:
1) Perguruan tinggi: 10 orang 2) TK : 17 – 20 orang
3) SMA : 16 orang 4) SMP : 15 orang 5) SD : 20 orang g. Pekerjaan:
1) PNS : 10% jumlah penduduk 2) Buruh : 10% jumlah penduduk 3) Pedagang : 70% jumlah penduduk 4) IRT : 10% jumlah penduduk h. Pendapatan rata-rata:
1) Rp 800.000,- : 20%
2) Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
3) Rp 2.000.000,- : 30%
i. Tipe masyarakat: Masyarakat niaga
j. Agama: 100% Islam
k. Keluhan yang dialami di komunitas
No. Keluhan yang dialami Frekuensi %
1. Risiko terkena penyakit ispa dan mengatakan belum begitu faham tentang penyakit Ispa
4 50%
2. Merasa diabaikan
dilingkungannya
3 25%
3. Terlalu khawatir dengan anggota keluargga yang terkena Ispa
3 25%
Total 10 100%
Berdasarkan tabel diatas sebagian besar masyarakat yang tertena penyakit Ispadengan frekuensi 50%
a. Penyakit Yang Diderita di komunitas No
.
Penyakit Yang Diderita Frekuensi %
1. Ispa 11 70%
2. Reumatik 2 10%
3. Hipertensi 3 20%
Total 10 100%
Berdasarkan tabel diatas sebagian besar penyakit yang ada dikomunitas adalah Ispa sebanyak 70%.
B. DATA SUB SISTEM 1. Lingkungan fisik
Kondisi lingkungan (misalnya, polutan udara, kepadatan anggota keluarga), kelembaban, kebersihan, musim, temperatur)
a. Ventilasi : ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat merupakan salah satu faktor risiko ISPA
b. Jenis lantai : jenis lantai juga dapat menyebabkan seeorang terkena ispa karena,Debu yang terhirup akan menyebabkan saluran pernafasan terganggu dan dapat menyebabkan ISPA.
c. Kepadatan penduduk: kepadatan penduduk bisa berhubungan dengan kejadian ISPA jika salah satu penghuni merupakan penderita ISPA.
2. Status pendidikan: SMA sederajat, yang terdiri dari:
a. Perguruan tinggi : 10 orang b. TK : 12 – 30 orang
c. SMA : 10 orang d. SMP : 15 orang e. SD : 20 orang
Sarana pendidikan: terdapat 1 taman kanak-kanak 3. Keamanan dan keselamatan
a. Pemadam kebakaran: tidak ada
b. Polisi: tidak ada namun terdapat siskamling secara rutin c. Sarana transportasi: sepeda motor dan mobil pribadi
d. Keadaan jalan: jalanan sudah diaspal dan ramai akan kendaraan bermotor Pemilihan ketua RT/ RW dengan cara voting bersama
4. Struktur Pemerintahan
a. Masyarakat swadaya yang terdiri dari 1 RW dan 4 RT b. Pamong desa: 1 orang
c. Kader desa: 5 orang
d. PKK: ada dan masih berjalan aktif tiap bulan e. Kontak tani: tidak ada
f. Karang taruna: ada dan berjalan aktif tiap bulan g. Kumpulan agama: ada dan aktif di masyarakat
5. Sarana dan Fasilitas Kesehatan
a. Pelayanan kesehatan: Tidak terdapatpraktik bidan swasta maupun praktik klinikswasta yang lain.
b. Tenaga kesehatan: 2 perawat dan 1 bidan c. Tempat ibadah: terdapat masjid dan mushola d. Sekolah: terdapat 1 taman kanak-kanak e. Panti sosial: tidak terdapat
f. Pasar: tidak ada, namun terdapat banyak toko kelontong yang menyediakan banyak kebutuhan dari masyarakat sekitar
g. Tempat pertemuan: terletak di rumah ketua RW dalam setiap acara yang diadakan oleh lokasi setempat
h. Hygiene perumahan: sanitasi warga RW dalam kategori baik i. Sumber air bersih: air sumur galian
j. Pembuangan air limbah: dialirkan lancar ke selokan dan tidak menggenang k. Jamban: 80% sudah mempunyai jamban di rumah masing-masing
l. Sarana MCK: semua dilakukan di kamar mandi masing masing dan hampir tidak ada yang di sungai
m. Pembuangan sampah: dibuang dan dikumpulkan di TPS dekat makam setempat n. Sumber polusi: air selokan
6. Komunikasi
Terdapat infrastruktur komunikasi yang memadai dan modern seperti internet, ponsel, koran, majalah, radio dan televisi. Masyarakat juga bisa menggunakan alat-alat komunikasi tersebut. Untuk papan informasi untuk menyampaikan kabar berita dari desa maupun dari yang disediakan tempat di dekat rumah pak RW.
7. Ekonomi
Keadaan ekonomi masyarakat dalam kategori baik dan diatas gariskemiskinan. Warga masyarakat juga tidak ada yangmenganggur di rumah. Rata-rata pekerjaanwarga setempat adalah pedagang, baik dirumah maupun masyarakat. Rata-rata gajih:
a. Rp 800.000,- : 20%
b. Rp 800.000,- s/d Rp 2.000.000.- : 50%
c. Rp 2.000.000,- : 30%
8. Rekreasi
Karang taruna dari wilayah setempat seringmengadakan wisata bersama-sama ke suatutempat. Kelompok khusus seperti anggota kaderjuga sering mengadakan rekreasi bersama yangdiharapkan dapat mengurangi stresor danbeban pikiran.
C. DATA FOKUS PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN
1. Aktivitas / istirahat
Gejala: Mudah lelah, aktifitas menurun,terjadi kelemahan fisik,sering menguap dan tidak bias tidur dimalam hari,
Tanda: Kelemahan otot, menurunnya massa otot
Respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan dalam TD, frekuensi jantung, pernapasan
2. Nyeri / kenyamanan
Gejala:Nyeri dada dan kesulitan dalam bernapasadanya suara tambahan (stridor) ketika sedang tidur.
Tanda : nyeri tekan,Penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan / pincang Gerak otot melindungi bagian yang sakit
3. . Pernapasan
Gejala:Isksering, menetap,Napas pendek yang progresif,Batuk (sedang sampai parah), produktif / non produktif sputum (tanda awal dari adanya PCP mungkin batuk spasmodic saat napas dalam)Bendungan atau sesak dada
Tanda:Takipnea, distres pernapasanPerubahan pada bunyi napas / bunyi napas adventisius ,Sputum: kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum)
D. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
a. Defisit perawatan komunitas b.d infeksi saluran napas atas (D.0110) b. Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar infomasi (D.0111)
c. Pola napas tidak efektif b.d obstruksi bronkospasme, respon pada dinding bronkus.
E. Intervensi keperawatan
N o
Diagnose Tujuan (SLKI) Intervensi (SIKI)
1 Defisit perawatan komunitas b.d infeksi saluran napas atas
Status kesehatan komunitas( L.12109) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan status kesehatan komunitas meningkat.dengan kriteria hasil:
Ketersediaan program promosi kesehatan meningkat (5)
Kesehatan komunitas meningkat (5)
Kesehatan
Pengembalian kesehatan masyarakat (I.14548)
Observasi
1. Identifikasi isu atau masalah kesehatan dan prioritasnya 2. Identifikasi asset dalam
masyarakat terkait isu yang dihadapi
3. Identifikaasi pemimpin atau tokoh dalam masyarakat.
Terapeutik
a. Berikan kesempatan kepada setiap anggota masyarakat untuk berpartisipasi sesuai asset yang dimiliki
b. Libatkan anggota masyarakat
lingkungan meningkat (5)
Angka mortalitas menurun (5)
Angka morbiditas menurun (5)
Angka kebiasaan merokok menurun (5)
untuk untuk meningkatkan kesadaran terhadap masalah kesehatan yang dihadapi c. Libatkan anggota masyarakat
dalam pengembangan jaringan kesehatan
2 Defisit
pengetahuan b.d kurang terpapar infomasi
Tingkat
pengetahuan( L.12111 ) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan tingkat pengetahuan masyarakat
meningkat dengan
kriteria hasil:
Perilaku sesuai anjuran meningkat (5)
Kemampuan
menjelaskan tentang suatu topic meningkat (5)
Perilaku sesuai dengan pengetahuan
meningkat (5)
Edukasi kesehatan ( I.12383) Observasi
Identifikasi kesiapan dan
kemampuan menerima
informasi
Identifikasi factor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat
Terapeutik
Sediakan materi dan pendidikan kesehatan
Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
Persepsi tentang masalah menurun (5)
Perilaku membaik (5)
Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
Jelaskan factor risiko yang dapat
mempengaruhi kesehatan
Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat
3 Pola napas tidak efektif b.d obstruksi
bronkospasme, respon pada dinding
bronkus.
Pola napas ( L.01004 ) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola napas membaik dengan kriteria hasil
Ventilasi semenit meningkat (5)
Tekanan ekspirasi meningkat (5)
Pemantauan respirasi ( I.01014 ) Observasi
Monitor
ferkuensi,irama,kedalaman dan upaya napas
Monitor pola napas
Monitor adanya sumbatan jalan napas
Palpasi kesimetrisan eskpansi paru
Auskultasi bunyi napas
Tekanan inspirasi meningkat (5)
Dyspnea menurun (5)
Pengunaan otot bantu napas menurun (5)
Ortopnea menurun (5)
Frekuensi napas membaik (5)
Monitor hasil x-ray toraks
Terapeutik
Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
Informasikan hasil pemantauan,jika perlu
F. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah proses keperawatan yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan. Sebelum mengimplementasikan intervensi keperawatan, gunakan pemikiran kritis untuk menentukan ketepatan intervensi terhadap situasi klinis. Persiapan proses implementasi akan memastikan asuhan keperawatan yang efisien, aman, dan efektif. Lima kegiatan persiapan tersebut adalah pengkajian ulang, meninjau dan merevisi rencana asuhan keperawatan yang ada, mengorganisasikan sumber daya dan pemberian asuhan, mengantisipasi dan mencegah komplikasi, serta mengimplementasikan intervensi keperawatan. (Potter & Perry, 2010)
G. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah proses keperawatan untuk menentukan apakah intervensi keperawatan telah berhasil meningkatkan kondisi klien. Selama evaluasi, lakukan berfikir kritis dalam membuat keputusan dan mengarahkan asuhan keperawatan dalam upaya memenuhi kebutuhan klien. Pencapaian tujuan keperawatan dilakukan dengan membandingkan antara respon klien dengan hasil yang diharapkan. (Potter &
Perry,2010)
BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan andeksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura. ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan yang berlangsung selama 14 hari. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang banyak dijumpai pada balita dan anak-anak mulai dari ISPA ringan sampai berat. ISPA yang berat jika masuk kedalam jaringan paru-paru akan menyebabkan Pneumonia. Pneumonia merupakan penyakit infeksi yang dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak.
Tanda dan gejala dari infeksi yang terjadi pada sluran pernafasan tergantung pada fungsi saluran pernafasan yang terjangkit infeksi, keparahan proses infeksi, dan usia seseorang serta status kesehatan secara umum.
B. SARAN
Beberapa saran yang dapat penulis sampaikan dalam penulisan makalah ini adalah 1) Bagi perawat
Harus berusaha untuk memahami asuhan keperawatan yang dialami oleh klien sehingga terjadi peningkatan pengetahuan dan dapat membantu mencegah kompleksitas masalah yang mungkin terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap masalah yang timbul dalam perawatan komunitas.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim , 2016, Pedoman Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita,. Dit.Jen.PPM-PLP, Jakarta.
Corwin, Elizabeth J. 2018. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Departemen Kesehatan RI, 2016. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut Untuk Penanggulangan Pneumonia Pada Balita: Jakarta.
Nelson, W. E., 2018, Ilmu Kesehatan Anak, 1453-1454, Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta.
WHO. 2018. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang Cenderung Menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.