Akhlak merupakan fondasi yang kokoh bagi terciptanya hubungan baik antara hamba dengan Allah SWT (hablun min Allah) dan antar sesama (hablun min Al-Nas). Akhlak yang mulia tidak lahir berdasarkan keturunan atau terjadi secara tiba-tiba. Akan tetapi, membutuhkan proses panjang, yakni melalui pendidikan akhlak.
Pendidikan akhlak mulia yang ditawarkan oleh Islam tentunya tidak ada kekurangan di dalamnya. Karena, berasal langsung dari al-khaliq Allah SWT.
yang disampaikan melalui Rasulullah Muhammad SAW. Dengan Al-Qur’an dan Sunnah kepada umatnya. Rasulullah SAW. sebagai uswah, dan manusia terbaik selalu mendapatkan tarbiyah ‘pendidikan’ langsung dari Allah melalui malaikat Jibril. Sehingga beliau mampu dan berhasil mencetak para sahabat menjadi sosok- sosok manusia yang memiliki izzah di hadapan umat lain dan akhlak mulia di hadapan Allah.1
Akhlak merupakan salah satu bagian yang sangat urgen dari perincian takwa. Oleh sebab itu, pendidikan akhlak merupakan salah satu pondasi yang vital dalam membentuk insan yang berakhlak mulia, guna menciptakan manusia yang bertaqwa dan menjadi seorang muslim yang sejati. Dengan pelaksanaan
1Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia (Jakarta: Gema Insani Press, 2004), 9.
pendidikan akhlak tersebut, diharapkan setiap muslim mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan akhlak dapat mengantarkan pada jenjang kemuliaan akhlak, karena dengan pendidikan akhlak tersebut, manusia menjadi semakin mengerti akan kedudukan dan tugasnya sebagai hamba dan khalifah di bumi. Hal ini sesuai dengan tugas Nabi Muhammad SAW diutus kemuka bumi ini yaitu sebagai penyempurna akhlak. Kerasulan Muhammad ini menunjukan bahwa pembentukan akhlak merupakan kebutuhan utama bagi tumbuhnya cara beragama yang dapat menciptakan peradaban.
Sebagaimana yang terungkap dalam Undang- Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 yang berbunyi :
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensidirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara”.2
Pokok utama kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah menyempurnakan akhlak yang mulia. Akhlak mulia merupakan akhlak yang berlaku berdasarkan Al-Qur’an. Firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 21:
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
2Undang- Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Citra Umbara, 2003), 150.
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(QS. Al- Ahzab: 21).3
kitab Waşīyat Al-Muştāfā yang berisikan tentang pesan Nabi Muhammad SAW kepada Ali Karomallahu wajhah, merupakan kitab yang sangat membanggakan. Khususnya bagi masyarakat Muslim Indonesia. Namun, di sisi lain kita belum mendapati hasil karya nyata yang merupakan buah dari kajian terhadap kitab tersebut, khususnya dalam dunia pendidikan. Budaya masyarakat kita yang kurang kritis dalam mempelajari sesuatu, mengakibatkan kurang tergalinya nilai-nilai berharga yang terdapat dalam sesuatu tersebut, termasuk dalam hal ini nilai-nilai pendidikan akhlak yang terkandung dalam Kitab Waşīyat Al-Muştāfā.
Berbagai hal di atas itulah yang membuat penulis menjadikan Waşīyat Al- Muştāfā sebagai obyek pembahasan dalam skripsi ini. Pembahasan ini diharapkan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi dunia pendidikan di Indonesia, khususnya Pendidikan Islam. Oleh karena itu, penulis sangat berkeinginan untuk mengangkat judul “NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM KITAB WAŞĪYAT AL-MUŞTĀFĀ KARYA SYAIKH ABDUL WAHHAB AL-SYA’RĀNĪ.
3Al Qur’ân, 33:21.
B. Fokus Kajian
Bedasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa saja nilai-nilai pendidikan akhlak kepada Allah dalam kitab Waşīyat Al- Muştāfā karya Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’Rānī?
2. Apa saja nilai-nilai pendidikan akhlak sesama manusia dalam kitab Waşīyat Al-Muştāfā karya Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’Rānī?
C. Tujuan Penelitian
Bedasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan akhlak kepada Allah dalam kitab Waşīyat Al-Muştāfā karya Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’Rānī.
2. Untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan akhlak sesama manusia dalam kitab Waşīyat Al-Muştāfā karya Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’Rānī.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah : 1. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan, informasi dan yang berkenaan dengan kependidikan sebagai referensi yang berupa bacaan ilmiah.
2. Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam memberikan informasi dan sumbangan pemikiran bagi para pemerhati pendidikan, baik kalangan pengajar, maupun masyarakat dalam mendidik, membina dan mengembangkan tingkat pendidikan akhlak seorang pelajar atau pencari ilmu dalam mengemban tugas dan tanggungjawabnya sebagai pelajar atau pencari ilmu terhadap Agama, Bangsa dan Negaranya.
E. Definisi Istilah
Untuk mempermudah pemahaman dan menghindari kesalahan persepsi dalam penelitian ini, maka akan dikemukakan secara singkat pengertian istilah yang terkandung dalam judul sebagai berikut:
1. Nilai merupakan sesuatu yang abstrak yang dijadikan pedoman serta prinsip- prinsip umum dalam bertindak dan berprilaku.4
2. Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.5
3. Pendidikan Akhlak adalah pendidikan yang mengarah pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia, sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya.6
4Basrowi, Pengantar Sosiologi (Bogor:Ghalia Indonesia,2005),79-80.
5Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam (Bandung:RemajaRosda Karya, 2005), 24.
6Suwito, Filsafat Pendidikan Akhlak Ibnu Maskawih (Yogyakarta: Belukar, 2004), 38.
4. Kitab Waşīyat Al-Muştāfā adalah Kitab yang berisikan wasiat-wasiat Rasulullah Muhammad SAW kepada Ali bin Abi Thalib Karromalloohu Wajhah, baik yang menyangkut ibadah, aqidah, dan akhlak.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diartikan bahwa nilai-nilai Pendidikan Akhlak adalah kemampuan untuk mengembangkan akhlak atau prilaku yang ada dalam diri seseorang itu dapat dibina dan dibentuk untuk mengarah kepada prilaku yang baik dan berbudi pekerti yang luhur.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan informasi dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian adalah cara utama yang digunakan peneliti untuk mencapai untuk mencapai tujuan dan menentukan jawaban atas masalah yang diajukan.
1. Jenis Penelitian
a. Deskriptif Kualitatif
Pendekatan penelitian berintikan uraian tentang pendekatan penelitian yang dipilih, yaitu pendekatan penelitian kualitatif. Menurut David Wiliams dalam Moleong penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh atau peneliti yang tertarik secara alamiah. Jelas definisi ini memberi gambaran bahwa penelitian kualitatif mengutamakan latar
alamiah, metode alamiah dan dilakukan oleh orang yang mempunyai perhatian alamiah.7
Jenis penelitian yang digunakan adalah peneliatian kualiatatif deskriptif yang ditanyakan dalam bentuk deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo dan dokumen resmi lainnya.8
2. Metode Analisis
a. Metode Analisis Isi (Content Analysis)
Metode yang dugunakan dalam menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis isi (Content Analysis).9 Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.10 Analisis isi dapat digunakan untuk menganalisis semua bentuk komunikasi, baik surat kabar, berita radio, iklan televisi maupun semua bahan-bahan dokumentasi yang lain.
Neuman menyebutkan content analysis is technique for gathering and analyzing the content of text. Pengertian analisis isi dari teks ini
7Lexy Moleong, Metodelogi penelitaian Kuatitatif: Edisi Revisi (Bandung:Remaja Rosdakarya, 2012), 5.
8Ibid., 10.
9Abudin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta : Grafindo Persada, 2001), 144.
10Metode Analisis Isi Reliabilitas Adanva Validitas Dalam Metode Penelitian Komunikasi,(On line), http://massofa.wordpress.com/2008/01/28/.
bukan hanya tulisan atau gambar saja melainkan juga ide, tema, pesan, arti maupun simbol-simbol yang tersimpan dalam teks, baik dalam bentuk tulisan (seperti buku, majalah, surat kabar, iklan, surat resmi, lirik lagu, puisi, dan sebagainya), gambar (film, foto, lukisan) atau pidato.11
Analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial.
Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut:
1) Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript).
2) Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan tentang dan sebagai metode pendekatan terhadap data tersebut.
3) Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan- bahan/data-data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik.
Penelitian ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan penelitian survei dan eksperimen karena subjek penelitiannya adalah benda mati tidak bereaksi dan peneliti dapat membandingkan dengan lebih mudah antara satu subjek dengan subjek yang lain.12
11Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah, Metode Panelitian Kuantitatif, Teori & Aplikasi (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2005), 167.
12Ibid., 28.
3. Studi Literatur (Library Research)
Setiap penelitian memerlukan bahan yang bersumber dari perpustakaan. Bahan ini meliputi buku-buku, majalah-majalah, pamphlet dan bahan documenter lainnya.
Menurut Prof. Dr. S Nasution, MA.Sumber kepustakaan diperlukan untuk:
a. Untuk mengetahui apakah topik penelitian kita telah diselidiki orang lain sebelumnya, sehingga pekerjaan kita tidak merupakan duplikasi.
b. Untuk mengetahui hasil penelitian orang lain dalam bidang penyelidikan kita, sehingga kita dapat memanfaatkannya bagi penelitian kita.
c. Untuk memperoleh bahan yang mempertajam orientasi dasar teoritis kita tentang masalah penelitian kita.
d. Untuk mempermudah informasi tentang teknik-teknik penelitian yang telah diterapkan.13
Jadi data yang langsung diperoleh dari lapangan termasuk laboratorium disebut data sumber primer. Sedangkan bahan bacaan disebut sumber sekunder. Sumber sekunder yang bersifat umum antara lain dokumen-dokumen dalam arsip badan-badan pemerintahan yang terbuka bagi umum. Sumber sekunder umum yang utama adalah perpustakaan.
13S. Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah) (Jakarta :Bumi Aksara, X 2006), 146.
Perpustakaan menggunakan sistem tertentu yang perlu dikenal untuk memudahkan mencari buku yang diperlukan.14
4. Sumber Data
Karena penelitian ini bersifat library, maka diperlukan beberapa literature sebagai berikut:
a. Data primer
kitab Waşīyat Al -Muştāfā karya syaikh abdul wahhab Al-Sya’Rānī terjemahan Kitab Waşīyat Al-Muştāfā karya syaikh abdul wahhab Al- Sya’Rānī.
b. Data sekunder
Sumber pendukung buku yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya: Pembelajaran Nilai- Karakter; Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Fikih Akhlak, Aqidah dan Akhlak, Pengantar Studi Akhlak.Pendidikan tanpa Kekerasan:
tipologi kondisi kasus dan konsep, Pengantar Sosiologi, Reinventing Human Character; Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah, Bimbingan Remaja Berakhlak Mulia, Menjadi Muslim Kaffah, Dasar-dasar Kependidikan, Kuliah Akhlak, Akhlak Mulia, Membina Moral dan Akhlak, Prinsip Dasar Akhlak Mulia, Dasar-Dasar Pendidikan Moral. Pemikiran Pendidikan Islam, Filsafat Pendidikan Akhlak Ibnu Maskawi, Studi Akhlak, Ilmu Pendidikan Perspektif Islam, Pendidikan
14Ibid.,150.
Karakter, Pengantar Study Akhlak, Akhlak Tasawuf I, Akhlak Tasawuf II, Islamic Relationship.
5. Teknik Pengumpulan Data
Melihat jenis dan sumber data yang digunakan, maka metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi.
Dokumentasi dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, agenda dan sebagainya.15
G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. Format penulisan sistematika pembahasan adalah dalam bentuk deskriptif naratif, bukan seperti daftar isi.16Adapun sistematika pembahasan dari penelitian ini adalah:
1. Bagian awal skripsi
Bagian ini berisi halaman judul, halaman pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar abstrak dan daftar isi.
15Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 274.
16Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: STAIN Jember Press, 2014), 73.
2. Bagian Inti
BAB I : Penulis mengemukakan pendahuluan yang memberikan deskripsi tentang latar belakang masalah, fokus kajian, tujuan penelitian, manfaat penelitian definisi istilah, metode penelitian, sistematika pembahasan. Bab ini menjadi pijakan awal penulis untuk mengkaji masalah pada bab berikutnya.
BAB II : Berisi tentang penelitian terdahulu untuk mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan. Dan dalam bab ini berisi tentang kajian teori yang berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai perspektif dalam melakukan penelitian.
BAB III : Bab ini berisi Biografi dari Syaikh Abdul Wahhab Al-Sya’Rānī selaku pengarang kitab Waşīyat Al-Muştāfā, yang berisikan tentang riwayat hidup, karya-karya dari beliau, dan kitab Waşīyat Al- Muştāfā.
BAB IV : Bab ini berisi paparan data dan diskusi hasil yang meliputi: Nilai- nilai pendidikan akhlak dalam kitab Waşīyat Al-Muştāfā. Yang mencakup : akhlak kepada Allah dan akhlak kepada sesama manusia (akhlak berkeluarga, akhlak bermasyarakat, dan akhlak bernegara).
BAB V : Bab ini berisikan kesimpulan dan saran. Kesimpulan dilakukan untuk menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan pada bab pertama. Sedangkan saran diberikan sebagai masukan bagi
penelitian selanjutnya. Bab kelima ini berfungsi untuk menyampaikan hasil yang ditemukan melalui pembahasan yang telah dilakukan.
3. Bagian Akhir
Berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran yang mendukung dalam skripsi.
Bedasarkan tinjauan terhadap hasil penelitian terdahulu ada beberapa hasil penelitian yang penulis anggap mempunyai relevansi dengan penelitian yang penulis lakukan.
a. Skripsi Karya Tutik Haryanti (2004) dengan judul “Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibnu Maskawih dan Aplikasinya Dalam Pendidikan Islam” Menurut Maskawih Akhlak adalah keadaan jiwa yang daripadanya lahir perbuatan dengan mudah tanpa melalui pemikiran. Selain itu, skripsi ini membahas tujuan, metode, dan materi pendidikan akhlak menurut Maskawih dan aplikasinya dalam Pendidikan Islam.
b. Skripsi Nur Aeni (2006) dengan judul “Konsep Pendidikan Akhlak Dalam kitab Washoya AL-Aba Li al-Abna Karangan Muhammad Syakir Al- Iskandari Relevansinya dengan Pendidikan Islam”. Skripsi ini menjelaskan konsep pendidikan akhlak yang ada dalam kitab tersebut, meliputi meteri pendidikan akhlak yang meliputi akhlak kepada Allah dan Rasul-Nya, serta akhlak seorang murid terhadap gurunya.
c. Skripsi yang ditulis oleh Yunita (2003) dengan judul “Pendidikan Akhlak dalam kitab Akhlaqu li al-Banat dan kitab li al-Banin (Perspektif Gender)”. Yuanita memaparkan adanya perbedaan gender menjadi
penyebab perbedaan yang spesifik dalam muatan akhlak yang terdapat dalam kitab Akhlaqu li al-Banat dan kitab li al-Banin.
Judul Penelitian Persamaan Perbedaan Konsep
Pendidikan Akhlak Menurut Ibnu Maskawih dan Aplikasinya Dalam Pendidikan Islam.
1. Jenis penelitian Library
research 2. Tentang
Pendidikan Akhlak.
1. Penelitian tersebut terfokus pada konsep pendidikan akhlak, sedangkan penelitian ini pada nilai-nilai pendidikan akhlak.
Konsep
Pendidikan Akhlak Dalam kitab Washoya AL-Aba
Li al-Abna
Karangan
Muhammad Syakir Al-Iskandari Relevansinya dengan Pendidikan Islam.
1. Jenis penelitian Library
research.
2. Tentang Pendidikan Akhlak.
1. Penelitian tersebut terfokus pada konsep pendidikan akhlak, sedangkan penelitian ini terfokus pada nilai-nilai pendidikan akhlak.
2. Penelitian tersebut menggunakan kitab Washoya AL-Aba Li al-Abna, sedangkan penelitian ini
menggunakan kitab
WAŞĪYAT AL-MUŞTĀFĀ.
Pendidikan Akhlak dalam kitab Akhlaqu li al- Banat dan kitab li al-Banin
(Perspektif Gender).
1. Jenis penelitian Library research.
2. Tentang Pendidikan Akhlak.
1. Penelitian tersebut terfokus pada pendidikan akhlak perspektif gender sedangkan penelitian ini terfokus pada nilai- nilai pendidikan akhlak.
2. Penelitian tersebut meneliti kitab Akhlaqu li al-Banat dan kitab li al-Banin (Perspektif Gender) penelitian ini menggunakan kitab WAŞĪYAT AL- MUŞTĀFĀ.
2. Kajian Teori
Bagian ini berisi tentang pembahasan teori yang dijadikan perspektif dalam melakukan penelitian. Pembahasan teori secara lebih luas dan mendalam akan semakin memperdalam wawasan peneliti dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Berbeda dengan penelitian kuantitatif, posisi teori dalam penelitian kualitatif diletakkan sebagai perspektif, bukan untuk diuji.
a. Nilai-nilai
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa kata nilai berarti banyak sedikitnya isi, kadar, mutu, sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.1
Sedangkan nilai dalam bahasa Inggrisnya adalah value, berasal dari kata valere dalam bahasa Latin atau valoir dalam bahasa Prancis Kuno, yang biasa diartikan sebagai harga, penghargaan, atau taksiran.
Maksudnya adalah harga yang melekat pada sesuatu atau penghargaan pada sesuatu.2
Menurut Steeman, sebagaimana yang dikutip oleh sutarjo, nilai adalah suatu yang memberi makna pada hidup, yang memberi acuan, titik tolak dan tujuan hidup.3 Sedangkan menurut Raths, Nilai merupakan suatu yang abstrak, nilai mempunyai sejumlah indikator yang dapat kita cermati, yaitu:4
1) Nilai memberi tujuan atau arah kemana kehidupan harus menuju, harus berkembang, atau harus diarahkan
2) Nilai memberi aspirasi atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, yang baik, yang positif bagi kehidupan
1Ebta Setiawan, KBBI- Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI Offline Versi 1.5, Freewere, 2010.
2Muchson dan Samsuri, Dasar-Dasar Pendidikan Moral (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013), 21.
3 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter; Konstruktifisme dan VCT sebagai inovasi pendekatan Pembelajaran Efektif ( Jakarta : Rajawali Pers, 2012), 56.
4Ibid., 58-59.
3) Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku, atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai ini memberi acuan atau pedoman bagaimana seharusnya seseorang harus bertingkah laku 4) Nilai itu menarik, memikat hati seseorang untuk dipikirkan, untuk
direnungkan, untuk dimiliki, untuk diperjuangkan dan untuk dihayati 5) Nilai mengusik perasaan, hati nurani seseorang ketika sedang
mengalami berbagai perasaan atau suasana hati
6) Nilai terkait dengan meyakini atau kepercayaan seseorang, suatu kepercayaan dan keyakinan terkait dengan nilai-nilai tertentu
7) Suatu nilai menuntut adanya aktivitas perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, dan
8) Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan, mengalami dilema atau menghadapi berbagai persoalan hidup.
Nilai mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena nilai selain sebagai pegangan hidup, juga menjadi pedoman penyelesaian konflik, memotifasi dan mengarahkan hidup manusia. Nilai itu bila ditanggapi positif akan membantu manusia hidup lebih baik. Sedangkan bila dorongan itu tidak ditanggapi positif, maka orang akan merasa kurang bernilai dan bahkan kurang bahagia sebagai manusia.
Ada dua sumber nilai yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, yaitu :5
1) Nilai Ilahi
Nilai ilahi merupakan nilai yang dititahkan Allah melalui para Rasulnya, yang membentuk taqwa, iman, adil yang diabadikan. Nilai Ilahi selamanya tidak mengalami perubahan. Nilai-nilai pundamental yang mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan anggota masyarakat, serta tidak berkecenderungan untuk berubah mengikuti selera hawa nafsu manusia dan berubah sesuai dengan tuntutan perubahan sosial, dan tuntutan individual. Konfigurasi dari nilai-nilai ilahi mungkin dapat mengalami perubahan, namun secara intrinstik tanpa berubah. Hal ini dikarenakan bila nilai intrinstik itu berubah, maka nilai kewahyuan dari sumber nilai yang berupa kitab suci Al-Qur’an akan mengalami kerusakan. Pada nilai ilahi, tugas manusia adalah menginterpretasikan nilai-nilai tersebut, dengan interpretasi tersebut manusia akan mampu menghadapi ajaran agama yang dianut.
2) Nilai Insani
Nilai Insani adalah sebuah nilai yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Pada nilai insani, fungsi tafsir adalah lebih memperoleh konsep itu sendiri
5Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam (Bandung ; Trigenda 1993), 111-112.
atau lebih memperkaya isi konsep atau juga memodifikasi bahkan mengganti konsep baru. Nilai-nilai insani yang kemudian melembaga menjadi tradisi-tradisi yeng diwariskan turun menurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi tetap mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan tata nilai. Kenyataannya ikatan-ikatan tradisional sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan manusia. Disisni terjadi kontradiksi antara kepercayaan yang diperlukan sebagai sumber tata nilai guna menopang kehidupan peradaban manusia.
Akan tetapi, nilai-nilai itu melembaga dalam tradisi yang membeku dan mengikat yang justru merugikan peradaban. Dari situlah perkembangan peradaban menginginkan sikap meninggalkan bentuk kepercayaan dan nilai-nilai yang sungguh-sungguh merupakan kebenaran.
b. Pendidikan Akhlak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa kata pendidikan yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, dan perbuatan mendidik.6
Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yaitu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya pendidikan
6Ebta Setiawan, KBBI- Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI Offline Versi 1.5, Freewere, 2010
yaitu menuntun kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.7
Pendidikan adalah suatu proses belajar yang bertujuan untuk membekali seseorang dengan pengetahuan dan keterampilan. Dengan bekal dan keterampilan tersebut memungkinkan mereka untuk hidup memuaskan, terus belajar dan mengejar karis. Dengan adanya pendidikan maka manusia mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan Khalifahnya.8
Kata ‘Akhlak’ berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari kata Khuluq yang berarti tingkah laku, budi pekerti, tingkah aku atau tabiat.9 Kadang juga diartikan syakhsiyyah yang artinya lebih dekat dengan personality (kepribadian).10
Menurut istilah, definisi akhlak yang dikutip oleh M. Amin Syukur dalam buku Studi Akhlak,11yaitu:
7Agus Wibowo, Pendidikan Karakter (Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 17.
8 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Peran dan Fungsi Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung : Mizan, 1994), 173.
9 Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir; Arab-Indonesia Terlengkap, Cet. Ke-25 (Surabaya : Pustaka Proggresif, 2002), 364.
10Agus Zaenul Fitri. Reinventing Human Character; Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah, Cet, I ( Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2012), 20.
11Amin Syukur, Studi Akhlak (Semarang: Walisongo Press, 2010), 5.
1) Menurut Moh. Aziz al-Khully, Akhlak adalah sifat jiwa yang terlatih demikian kuatnya sehingga mudahlah bagi yang empunya melakukan suatu tindakan tanpa dipikir dan direnungi lagi.
2) Menurut Ibnu Maskawih, Akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong (mengajak) untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikir dan dipertimbangkan terlebih dahulu.
3) Menurut Muhammad Ibnu Qoyyim, Akhlak adalah perangai atau tabiat yaitu ibarat dari satu sifat batin dan perangai jiwa yang memiliki oleh semua manusia.
4) Menurut Al-Ghazali, akhlak adalah sifat atau bentuk atau keadaan yang tertanam dalam jiwa, yang dari padanya lahir perbuatan- perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu dipikirkan dan dipertimbangkan lagi.
Menurut Ibrahim Anis, sebagaimana yang dikutif oleh Yanuar Ilyas, Akhlak adalah Sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.12
Menurut para ahli ilmu akhlak, akhlak adalah sesuatu keadaan jiwa seseorang yang menimbulkan terjadinya perbuatan-perbuatan seseorang dengan mudah. Dengan demikian, bilamana perbuatan, sikap, dan
12Yanuhar Ilyas, Kuliah Akhlak, Cet. III (Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 2007), 2.
pemikiran seseorang itu baik, niscaya jiwanya baik.13 Prof. Dr. Ahmad Amin, mengemukakan bahwa akhlak merupakan suatu kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak. Disamping istilah akhlak, juga dikenal istilah etika dan moral. Ketiga istilah ini sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia.14
Pada dasarnya akhlak mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan Tuhan Allah Penciptanya, sekaligus sebagaimana seseorang harus berhubungan dengan sesama manusia. Inti dari ajaran akhlak adalah niat kuat untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan ridha Allah SWT.15 Akhlak bersumber dari apa yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran islam, sumber akhlak adalah al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan moral.16
c. Nilai-nilai Pendidikan Akhlak
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat diartikan bahwa nilai- nilai pendidikan akhlak adalah kemampuan untuk mengembangkan akhlak atau perilaku yang ada dalam diri seseorang, baik yang terdapat
13M. Mayhur Amin, dkk. Aqidah dan Akhlak, Cet. III (Yagyakarta : Kota Kembang, 1996), 47.
14Zahruddin AR. M., Prngantar Study Akhlak (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2004), 4.
15Sutarjo, Pembelajaran Nilai-Karakter., 55.
16Yanuhar Ilyas, Kuliah Akhlak., 4.
dalam diri seorang itu perilaku baik atau buruk. Dengan bimbingan pendidikan, maka perilaku buruk yang terdapat dalam seseorang itu dapat dibina dan dibentuk untuk mengarah kepada perilaku yang baik dan berbudi pekerti yang luhur.
Ruang lingkup akhlak dibagi menjadi lima bagian, yaitu :17 1) Akhlak Pribadi (al-akhlak al-fardiyah). Terdiri dari :
(a) yang diperintah (al-awamir) (b) yang dilarang (an-nawahi) (c) yang dibolehkan (al-mubahat
(d) akhlak dalam keadaan darurat (al-mukhalafah bi al-idhthirar).
2) Akhlak Berkeluarga (al-akhlak al-usariyah). Terdiri dari :
(a) Kewajiban timbal balik orang tua dan anak (wajibat nahwa al- ushub wa al-furu’)
(b) Kewajiban suami istri (wajibat baina al azwaj)
(c) Kewajiban terhadap karib kerabat (wajibat nahwa al-aqarib).
3) Akhlak bermasyarakat (al-akhlak al-ijtima’iyah). Terdiri dari : (a) Yang dilarang (al-mahdzurat)
(b) Yang diperintahkan (al-awamir) (c) Kaidah-kaidah adab (qawaid al-adab).
17Yanuhar Ilyas, Kuliah Akhlak, 13-14.
4) Akhlak bernegara (akhlak ad-daulah). Terdiri dari :
(a) Hubungan antara pemimpin dan rakyat (ad-alaqab baina ar-rais wa as-sya’b)
(b) Hubungan luar negeri (al-alaqat al-kharijiyah)
(c) Akhlak beragama (al-akhlak ad-diniyah). Yaitu kewajiban terhadap Allah SWT (Wajibat nahwa Allah).
Sedangkan tujuan akhlak tidak akan lepas dari tujuan pendidikan agama Islam karena pendidikan akhlak merupakan bagian dari pendidikan agama Islam. Tujuan pendidikan agama Islam adalah mendidik insan yang paripurna yang taqarruf kepada Allah dengan tujuan tersebut maka akan selamat dari perbuatan jelek.
Ruang lingkup akhlak adalah sebagai berikut :
1) Akhlak Terhadap Allah Swt a) Sabar
Menumbuh kembangkan sikap yang mampu menerima beban moral, sanggup menerima sesuatu yang tidak disenangi dan mampu memahami diri dari kecenderungan hawa nafsunya dengan hati yang tabah.
adapun pembagian sabar menurut mahjuddin ada 3 macam:18
1. ketabahan menerima perintah allah dan melaksanakannya yang disebut sabar ala al-taah.
2. ketabahan menerima cobaan allah yang sering menimpang dirinya, keluarganya dan harta kekayaan yang disebut sabar ala al-musibah.
3. ketabahan meninggalkan maksiat baik yang akan dihadapinya maupun yang sedang dikerjakannya yang disebut sabar ala al-ma’siyah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bersabar adalah menahan diri dari apa yang disenangi menurut kebiasaan dan juga bersabar diri dari kesulitan yang dihadapinya dan kemudian di akhiri dengan ikhtiar dan ridho kepada-nya.
b) Syukur
Menumbuhkan sikap syukur kepada manusia, sehingga manusia mampu menerapkan sesuai dengan harapan agama yaitu hamba yang mampu melihat dengan mata hatinya. Kemudian kesyukuran dengan merealisasikan amalan baik terhadap pemberi nikmat dan sesama manusia yang didahului dengan
18Mahjuddin, Konsep Dasar Pendidikan Akhlak Dalam Al-Qur’an Dan Petunjuk Penerapan Dalam Hadis (Jakarta: Kalam Mulia, 2000), 39.
perasaan hati bahwa Allah memberikan nikmat kepada hambanya karena maksud kebaikan dan kesempurnaan hidup.
Firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 114 yaitu19.
Artinya : Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah
c) Tawakal
Tawakal yaitu menumbuh kembangkan sikap yang selalu menyerahkan segala persoalan kepada Allah. Tawakal harus dimulai dengan pemahaman tentang kepasrahan kepada Allah lalu menjadi penghayatan dan sikap yang terkondisi dalam pribadi manusia kemudian mengamalkannya dengan cara melewati 4 macam tahapan:
1. Harus dimulai dengan niat untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi manusia.
2. Harus ada usaha untuk menghilangkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan.
19DEPAG, Al-Qur’an, 280.
3. Harus ada usaha untuk memanfaatkan faktor-faktor yang dapat mengatasi kesulitan itu.
4. Harus memasrahkan sepenuhnya usaha-usaha terakhir kepada Allah.
Dalam pengertian di atas tawakal adalah untuk membentuk perilaku muslim agar mampu melakukan kepasrahan kepada Allah bila telah melakukan sesuatu.
Sebagaimana firman Allah SWT surat Ath-Thalaq ayat 3 :20
Artinya: Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka- sangkanya. Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya.
Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
2) Akhlak Siswa Terhadap Sesama Manusia a) Akhlak Terhadap Orang Tua
Dalam Al-Qur’an Allah Yang Maha Esa tidak menyertakan sesuatu beribadah kepadanya, kecuali berbuat baik
20DEPAG, Al-Qur’an, 558.
kepada orang tua dan tidak pula mengaitkan syukurnya seseorang kepada syukurnya kecuali syukur kepada ibu dan bapak.
Pada realita kehidupan kita melihat orang-orang yang berhasil yang dicintai Allah, maka kita temukan orang yang tercela yang terhalang dari rehmat Allah mereka yang selalu durhaka kepada orang tua. Akhlak terhadap orang tua yaitu:21
1. Sopan santun lemah lembut dan tidak mengeraskan suara ketika berbicara dengan keduanya.
2. Memperbanyak doa dan memohon ampun untuk keduanya.
3. Menjauhi hal-hal yang bisa menyebabkan durhaka kepada keduanya.
4. Apabila sudah meninggal memperbanyak berziarah ke makam.
Oleh karena itu pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kepada bapak dan ibu wajib berbakti dan berakhlak yang baik dalam prilaku hidup sehari-hari karena beliau telah mmengasuh kita. Mendidik dengan ikhlas agak kelak bisa menjadi manusia yang baik berguna bagi masyarakat dan bahagia di dunia dan akhirat.
21M. Fauzi Rachman, Islamic Relationship (Jakarta: Erlangga, 2012), 86.
b) Akhlak kepada masyarakat social
Manusia adalah mahluk social. Ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima Nabi SAW, dapat dipahami sebagai salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut. Khalaqal insana min
‘alaqi bukan saja diartika sebagai menciptakan manusia dari segumpal darah atau sesuatu yang berdempetan di dinding Rahim, tetapi juga dapat dipahami sebagai diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri.
Ada bebarapa hal yang dapat dilakukan demi memelihara hubungan yang islami kepada masyarakat social ini, yaitu:
(1) Tolong menolong (ta’awun) dalam hal kebaikan
Kesetiaan dengan sesama manusia merupakan salah satu syarat bagi terciptanya ukhuwah Islamiyah. Kesetiaan itu di aplikasikan dalam berbagai keadaan, baik di waktu susah maupun di waktu senang. Salah satu bentuk kesetiaan seorang muslim terhadap manusia lainnya adalah selalu berusaha membantunya (kerja sama) dalam kebaikan, bahkan sedapat mungkin menolongnya bila dalam kesusahan, meskipun dia sendiri berada dalam kesusahan, dia harus mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana dia mencintaii
dirinya sendiri dan umat lain yang tidak memeluk agama islam.
(2) Tidak mengucilkan seseorang atau berprasangka buruk tanpa alasan
Mengingat kedudukan hubungan social yang sedemikian penting, maka memeliharanya menjadi sesuatu yang sangat ditekankan. Di samping harus mengecek kebenaran suatu berita buruk yang menyangkut saudara kita muslim pada hususnya, dan non-muslim pada umumnya, ada beberapa hal yang harus kita hindari agar hubungan social bisa tetap terpelihara.
Enam hal yang harus kita hindari agar hubungan sesama muslim pada khususnya dan kepada non-muslim pada umumnya tetap terpelihara. Pertama, memperolok-olokkan, mencaci atau menghina, memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai, berburuk sangka, mencari-cari kesalahan orang lain, bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu ia tidak menyukainya.
(3) Mendahulukan orang lain (Itsar)
Mendahulukan orang lain merupakan perbuatan terpuji yang sangat di anjurkan, namun, perlu diingat bahwa mendahulukan orang lain hanya di anjurkan dalam urusan duniawi / social, sedangkan untuk urusan ibadah tidak dianjurkan. Oleh karena itu, tidak boleh mendahulukan orang lain di dalam kesempatan ibadah atau kesempatan mendapatkan air yang suci, pakaian untuk menutupi aurat dan barisan pertama dalam jamaah. Sebab maksud dari ibadah adalah mengagungkan Allah SWT.
(4) Saling memaafkan
Manakalaseseorang melakukan kesalahan, mungkin saja ia bisa membalas kesalahannya itu, namun balaslah dengan balasan yang setimpal, jangan sampai pembalasan melebihi dari kesalahan yang dilakukannya. Sedangkan memaafkan kesalahan orang tersebut merupakan sesuatu yang lebih baik, ini merupakan akhlak islami sesama manusia, sehingga Allah SWT menyiapakan pahala untuknya, firman Allah SWT
c) Akhlak Terhadap Teman
Seseorang membutuhkan teman, setiap hari sedangkan teman adalah bervariasi ada yang pendiam, sabar, keras. Dalam hal ini anak harus mempunyai, etika bila bertemu dengan temannya. Antara lain etika tersebut adalah :
1. Memberi salam kepada teman-teman.
2. Tidak mengejek teman dan mencelanya yang nantinya akan mengundang permusuhan.
3. Sopan santun.
4. Memilih teman yang baik pandai dan rajin belajar.
Dengan demikian maka hendaklah memilih teman yang dapat memberikan manfaat yang baik dan mendapat pengalaman yang berguna dan harus menciptakan sesuatu keharmonisan dalam berteman.
Firman Allah surat Al-Hujarat ayat 10 yaitu22
Artinya : Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara.
sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua
22DEPAG, Al-Qur’an, 515.
saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
3) Akhlak Terhadap Lingkungan Hidup
Sebagai makhluk hidup, kita amat memerlukan tempat kehidupan didunia ini yang baik; indah, bersih, aman, dan nyaman.
Itu sebabnya, kita amat memerlukan apa yang disebut dengan lingkungan hidup yang asri. Karena itu, menjadi keharusan kita bersama untuk memiliki hubungan yang baik kepada lingkungan hidup, agar lingkunga yang kita dambakan itubisa terwujud.
Ada beberapa hal yang harus kita pahami sebagai bentuk hubungan baik kepada lingkungan hidup agar kita bisa melaksanakannya yaitu23
a) Keharusan menjaga lingkungan hidup
Menjaga kelangsungan lingkungan hidup dan tidak melakukan kerusakan didalamnya merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia, oleh karena itu, siapapun orangnya, melakukan kerusakan lingkungan hidup dianggap sebagai sesuatu yang tidak baik, sehingga orang munafik sekalipun tidak mau dituduh melakukan kerusakan di muka buni ini, meskipun ia sebenarnya telah melakukan kerusakan, Allah SWT berfirman :24
23M. Fauzi Rachman, Islamic Relationship (Jakarta: Erlangga, 2012), 210.
24DEPAG, Al-Qur’an, 3.
Artinya:11.Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab:
"Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan."12. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
b) Anjuran Menanam Pohon
Agar lingkungan hidup yang kita diami tetap asri dan lestari, maka kaum muslimin sangat dianjurkan menanam pohon, karena dengan adanya pohon, apalagi pohon yang besar, manusia akan memperoleh keuntungan seperti penghijauan, air hujan dapat menyerap lebih banyak kedalam tanah sebagai cadangan air, udara tidak terlalu panas, buah yang dihasilkan serta kayu yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia.
Apabila pohon yang ditanam itu menghasilkan buah yang banyak, maka pahala untuk yang menanam pohon itu akan lebih besar lagi.
c) Tidak Buang Hajat Di Jalan, Temapt Bernaung dan Dekat Sumber Air
Lingkungan hidup yang bersih, indah dan nyaman merupakan dambaan bagi setiap orang, karena itu harus dicegah adanya usaha yang dapat mengotori lingkungan, karena Rasulullah SAW. Melarang siapapun membuang hajat ( buang air kecil/
besar) di jalan, tempat bernaung maupun dekat sumber air.
d) Tidak Buang Air di Air Yang Tergenang
Air merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Dalam kehidupan sekarang, manusia tidak hanya mengandalkan air dalam tanah, tapi justru sekarang ini banyak orang yang mengandalakan air sungai yang dibersihkan dan disucikan. Karena itu manusia jangan sampai mengotori atau mencemari air sungai. Disamping itu, kebersihan lingkungan juga harus dijaga dan dipelihara dengan tidak buang hajat pada air yang tergenang, karena hal itu akan mendatangkan penyakit dan bau yang tidak sedap.
e) Memelihara Tanaman
Ketika para sahabat telah menanam pohon kurma, meraka ingin kurma itu tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang banyak, tapi meraka bingung bagaimana harus mengurusnya.
Karenanya, mereka bertanya kepada Nabi SAW tentang hal itu,
namun Nabi SAW menjawab, “kalian lebih tau tentang urusan duniamu”.
Kisah diatas menunjukkan bahwa pohon yang sudah ditanam harus dijaga dengan sebaik-baiknya, namun teknisnya diserahkan kepada masing-masing orang sesuai dengan perkembangannya. Dalam kaitan dengan memelihara tanaman, menebang pohonpun sedapat mungkin harus dihindari, kecuali bila hal itu memang sangat diperlukan, itupun bila tidak mengganggu lingkungan.
f) Tidak Memakan Buah Jika Belum Matang
Bagi seorang muslim, disadari bahwa Allah SWT telah menganugerahkan buah yang begitu banyak macamnya, karenanya boleh saja kita memakannya, namun jangan sampai berlebih-lebihan. Setelah itu jangan sampai lupa memanjatkan rasa syukur dengan menunaikan zakatnya pada saat panen.
Perhatikan, memakan buah hanya diperbolehkan jika buahnya telah benar-benar matang. Mengapa? Karena memakan buah yang belum matang berarti tidak mengantarkan buah tersebut kepada kesempurnaanya, dan hal itu berarti tidak mensyukuri salah satu ciptaan Allah Sang Maha Pencipta.
g) Tidak Menggunakan Air Secara Boros
Hal yang juga amat penting untuk mendapatkan perhatian kita adalah menggunakan air secara hemat, karenanya wudhu itu masing-masing dilakukan maksimal tiga kali, meskipun wudhu di air yang banyak, bahkan wudhu di sungai sekalipun, karenanya, Rasulullah SAW hamya menggunakan sedikit air. Anas RA meriwayatkan bahwa,“Nabi SAW biasa mandi dengan memakai satu sha’ sampai lima mud air, dan berwudhu dengan satu mud air.”
Mengacu pada analisa diatas, dapat dikatakan bahwa pendidikan akhlak merupakan penanaman akhlak agar menjadi sifat pada diri seseorang dan karenanya mewarnai kepribadian atau watak seseorang.
Tujuan dari pendidikan itu sendiri antara lain untuk membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berakhlak mulia. Insan yang berakhlak mulia ini dinilai dari perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari penjelasan di atas tentang pendidikan akhlak dapat diambil satu pemahaman bahwa ruang lingkup pembahasan pendidikan akhlak adalah membahas tentang semua perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Menurut Al- Ghazali mengatakan bahwa daerah pembahasan akhlak adalah meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu (perseorangan) maupun kelompok
(masyarakat). Dikaitkan dengan kitab WAŞĪYAT AL-MUŞTĀFĀ, maka objek pembahasan akhlak nantinya adalah akhlak kepada Allah dan akhlak ke sesama manusia. Orang dapat dikatakan berahlak tinggi, bila anggota lahir dan anggota batinnya bersih dari penyakit-penyakit ahlak dan kumankuman yang merusak budi pekerti.
Dalam menjalankan kehidupannya, manusia diberi pedoman al- Qur’an dan al-Hadits untuk berinteraksi dengan tuhan, maupun interaksi dengan sesama manusia. Dalam berinteraksi dengan sesama, seseorang dituntut untuk menjaga ahlaknya di hadapan orang lain, seseorang tidak boleh sombong terhadap yang lain, dan kesombongan itu seperti tidak mau mengambil manfaat kecuali dari orang-orang besar yang terkenal.
d. Dasar Pendidikan Akhlak
Dari sekian banyak agama yang ada dimuka bumi ini hanya agama islamlah yang paling sempurna dalam arti Islam telah mengatur semua sendi-sendi dalam kehidupan ini, oleh sebab itu setiap ajaran yang ada didalamnya memiliki dasar pemikiran termsuk tentang pendidikan akhlak.
Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab (Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran) kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat- ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
(QS : al-Imron : 19).25
Al-Qur'an adalah kalam Allah dan al-Hadits adalah ucapan, perbuatan dan ketetapan nabi. Yang dimana kebenaranyan adalah bersifat mutlak, maka setiap ajaran yang sesuai dengan al-Qur'an dan al-Hadits harus dilaksanakan dan apabila bertentangan maka harus ditinggalkan. Dengan demikian berpegang teguh kepada al- Qur'an dan sunnah Nabi akan menjamin seseorang dapat terhindar dari kesesatan.
Oleh karena itu semua permasalahn yang ada dalam kehidupan ini haruslah berlandaskan dengan al-Qur'an dan al-Hadist, dan dasar-dasar yang lain senantiasa dikembalikan kepada al-Qur'an dan al-Hadits. Di antara ayat al-Qur'an yang menjadi dasar pendidikan akhlak adalah, sebagaimana berikut:
Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang- orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS : Lukman
25Al Qur’ân, 3:19.
25Ibid., 31:18.
[31]: 1 8).26
Selain ayat diatas ada al-sunnah yang juga dapat dijadikan dasar atas pendidikan akhlak. al-Sunnah adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan dan pernyataan (taqrir).27
Adapun dasar tentang pendidikan akhlak yang bersumber dari al-sunnah adalah sebagimana berikut “"Bercerita padaku Abu Bakar dan Usman keduanya putra syaibah keduanya berkata bercerita padaku waqi' dari 'usman dari ma'bad bin kholid dari haritsah bin wahab haritsah berkata : rosulu Allah berkata tidak akan masuk surga orang yang keras dan jelek akhlaqnya." ( H.R : Abu Dawud ).28
Hadits memiliki nilai yang tinggi setelah al-Qur'an, dan di antara fungsi dari al-Hadist adalah sebagai penjelas apa yang ada di dalam al- Qur'an. Oleh karena itu, mengikuti jejak Rasulallah SAW sangatlah besar pengaruhnya dalam pembentukan pribadi dan watak sebagai seorang muslim sejati. Dari penjelasan diatas dapat diambil satu pemhaman bahwa dengan mengikuti al-Qur'an dan al-Hadist seseorang akan dapat hidup bahagia baik didunia taupun diakhirat. Sesungguhnya Rasulallah SAW adalah contoh serta teladan bagi umat manusia yang mengajarkan serta menanamkan nilai-nilai akhlak yang sangat mulia
27Abd. Wahab Khallaf, Ilmu Ushul al- Fiqh, ( Bairut : Dar al-'ilmi 1987 ) cet. XII. 23.
28Abi Dawud Sunan Abi Dawud ( Semarang : Toha Putra , tt ) vol 2. 444
kepada umatnya.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling mulia akhlaknya dan manusia yang paling sempurna adalah yang memiliki akhlak al-karimah.
Karena akhlak al- karimah merupakan cerminan dari iman yang sempurna.
e. Tujuan Pendidikan Akhlak
Al-qur'an menyebut manusia dengan berbagai sebutan di antaranya adalah basyar yang berrti bahwa manusia adalah sebagai mahluk biologis, Ibnu adam yang berarti bahwa manusia adalah sebagai mahluk intlektual, insan yang berarti manusia adalah sebagai mahluk spiritual, dan nas yang berarti bahwa manusia adalah sebagai mahluk sosial. Pernyataan tersebut berdasrkan dengan firman Allah :
Artinya : Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim.
Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. ( Q S : al-Nisa [4]: 1 ).29
Berangkat dari asumsi bahwa manusia adalah mahluk
29Al Qur’ân, 4: 1.
sosial maka mereka butuh interaksi dengan yang lainnya, dan di dalam berinteraksi manusia butuh yang namanya etika agar interaksi yang mereka lakukan dapat berjalan sebagaimana yang telah diperintahkan oleh al-Qur'an ataupun al-Hadist. Dan ilmu pengetahuan pada dasarnya dibina atas dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, dan tujuan dari pendidikan tak lain hanyalah untuk mempersiapkan manusia yang bisa berperan dan bisa menyesuaikan diri dalam masyarakatnya masing-masing.
Berdasarkan hal ini, tujuan dan target pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik agar bisa terbiasa dengan sesuatu yang baik demi untuk meraih kebahagiaan yang optimal baik dunia ataupun akhirat melalui pencapaian kesuksesan kehidupan bermasyarakat dan berekonomi.
Tujuan merupakan suatu harapan yang ingin dicapai setelah melakukan usaha.30 Setiap usaha tanpa tujuan tidak akan berarti apa-apa, oleh karenanya setiap usaha mesti ada tujuannya, Tujuan pendidikan antara lain dalam rangka menjadikan manusia utama dan bijaksana, menjadi warga negara yang baik, menjadi orang dewasa yang bartanggung jawab, bisa hidup sejahtera dan bahagia. Oleh karenanya tujuan pendidikan selalu dikaitkan dengan yang lebih yaitu tujuan hidup manusia.
30Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992),. 29.
Dengan demikian tujuan pendidikan harus sesuai dengan hak dengan tugas manusia, mampu melaksanakan amanat dari Tuhan dan tugas pribadi. Secara ringkas tujuan pendidikan Islam adalah ingin membentuk anak didik menjadi manusia muslim yang bertakwa kepada Allah. Demikian orang yang sudah takwa masih perlu mendapat pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan.31 Dengan kata lain tujuan pendidikan adalah .untuk membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, maju dan mandiri sehingga memiliki ketahanan rohaniah yang tinggi serta mampu beradaptasi dengan dinamika perkembangan masyarakat. Walkasil tujuan dari pendidikan akhlak adalah;
1) Supaya seseorang terbiasa melakukan yang baik, indah, mulia, terpuji serta menghindari yang buruk, jelek, hina dan tercela.
2) Supaya interaksi manusia dengan Allah SWT dan dengan sesama makhluk lainnya senantiasa terpelihara dengan baik dan harmonis.
Agar seseorang memiliki budi pekerti yang baik maka upaya yang harus dilakukan adalah dengan cara pembiasaan sehari-hari. Dengan upaya seperti ini seseorang akan nampak
31Ibid., 31.
dalam perilakunya sikap yang mulia dan timbul atas faktor kesadaran, bukan karena adanya paksaan dari pihak manapun, yang pada ahirnya dia akan bisa menjadi panutan bagi yang lain.
Karena tujuan pendidikan adalah pembentukan dan pembinaan akhlak mulia. Akhlak adalah hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras serta sungguh-sungguh.
Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Ghozali
“Sesungguhnya akhlaq yang mulia itu dapat diusahakn dengan melalui riyadhoh dengan diawali dari memaksakan yang ahirnya nanti kan menjdi suatu tabiat (kebiasaan) ."32
Dari penjelasan diatas dapat diambil satu pemahaman bahwa andaikan saja tabiat manusia tidak mungkin dapat dirubah, tentu nasehat dan bimbingan tidak ada gunanya. Dan seandainya akhlak itu tidak dapat menerima perubahan niscaya fatwa, nasehat dan pendidikan itu tidak lagi dibutuhkan. Dan lahirnya lembaga- lembaga pendidikan dalam rangka pembinaan akhlak akan semakin memperkuat pendapat bahwa akhlak memang perlu dibina dan dilatih, dalam hal ini pendidik punya tugas untuk dapat mengarahkan peserta didik agar bisa bertindak santun kepada sesama, menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda.
32. Imam Ghozali, Ihya Ulumuddin, ( Bairut : Dar al-Fikr , tt ) Vol 3, 97.
Nama lengkapnya adalah Abd al-Wahhab ibn Ali ibn Muhammad ibn Zawfan ibn Syaikh Musa. Imam al-Sya’rani adalah seorang sufi asal mesir dan juga ahli fikih syafi’i.23 keterangan lain menjelaskan ia adalah seorang ahli fikih perbandingan hanafi.24bukannya syafi’i namun ada penjelasan selanjutya yang mengatakna bahwa ia menganut Asy’ariyah dalam teologinya dan Imam Syafi’i.25dalam mazhabnya dan banyak menulis buku-buku tentang fikih dan tasawuf. Lahir di perkampungan Qalaqsyandah, Mesir pada 27 Ramadhan 898 H/ 1493 M dan meninggal dunia di Kairo, Mesir pada 973 H/ 1565 M. Dalam silsilah keturunan, al-Sya’rani masuk dalam keturunan Ali bin Abi Thalib melalui jalur keturun anaknya, Muhammad ibn al-Hanafiyyah. Al-Sya’rani sendiri adalah termasuk generasi kesembilan belas setelah Ali bin Abi Thalib.
Pada usia empat puluh kelahirannya di Qalaqsyandah, ia dipindahkan oleh orang tuanya ke kampung ayahnya, Saqiyah Abi Sya’rah, dalam wilayah Manufiyah. Dengan demikian, sebutan al-Sya’rani berasal dari nama kampung ayahnya26, sya’rah sebuah desa di wilayah mesir.27
Kedua orang tuanya meninggal saat ia berumur sepuluh tahun, Oleh sebab itu tanggung jawab terpundak pada kakaknya, Syaikh Abd al-Qadir.
23Azyumardi Azra, Ensiklopedi Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah (Bandung: Prangkasa), 31
24 Muhammad Hisyam Kabbani, Ensiklopedia Aqidah Ahlusunah Tasawuf dan Ihsan, (Jakarta:
Serambi), h. 169
25Azyumardi Azra, Ensiklopedia, 31.
26Ibid., 31.
27http://al-ishlah.com/?p=440diakses pada tanggal 15 april 2015
keilmuan, kendati itu hanya terjadi beberapa tahun. Bimbingan orang tua dan kakak al-Sya’rani terhadap dirinya, meskipun tidak lama telah meninggalkan pengaruh yang demikian mendalam dalam perjalanan hidupnya. Kehidupan keluarga dalam suasana kesufian yang sederhana ternyata telah membangkitkan semangat belajar dan keuletan hidup yang luar biasa pada diri al-Sya’rani. Sejak kecil ia telah mampu menghafal al-Quran tepatnya saat umur 8 tahun28, kemudian ia juga menghafal Matn Abi Syuja’ , kitab permulaan pelajaran fikih, dan Matn al-Ajrumiyyah, kitab permulaan tata bahasa arab. Kedua kitab itu dipelajarinya dari kakaknya sendiri , Abd al- Qadir ibn Ahmad, yang menggantikan ayahnya mengajar di Zawiyah.
Dengan kesederhanaan hidupnya al-Sya’rani memiliki motivasi dalam dirinya untuk senantiasa belajar dan berupaya hidup mandiri sehingga mendorongnya meninggalkan kampung halaman dan menuju Kairo.
Kemudian Ia diperbolehkan tinggal di masjid jami’ Sayyid Abu al-Abbas al- Ghamri bersama keluarga syaikh dan mengajar dimasjid itu. Ketertarikan syaikh Abu Abbas terhadap al-Sya’rani membuatnya diangkat sebagai anak sendiri bagi Abu Abbas. Tanpa pamrih mereka membesarkannya dan membiayainya belajar sampai umur tujuh belas tahun.
Setelah umur tujuh belas tahun al-Sya’rani pindah ke Madrasah Umm Khund. Disini kepiawaian dan kecerdasannya semakin cemerlang.
Pengetahuan yang luas telah membawa keharuman namannya dalam berbagai
28 Sri MulyatI.dkk, Hasil Penelitian Kolektif, (Jakarta: Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta), h. 95
didatangi oleh para siswa untuk menimba ilmu.
Kendati dapat mengenyam berbagai kemewahan duniawi, jiwa al- Sya’rani senantiasa terpanggil untuk hidup dalam suasana kesederhanaan.
Sebab itu ia bergabung dengan sejumlah syaikh sufi untuk mendapatkan kasyf (ketersingkapan batin). Dalam pencarian ruhani itu, al- Sya’rani bertemu dengan seseorang yang dikatakannya sebagai orang yang telah membimbingnya. Gurunya itu adalah seorang tunanetra yang ummi(buta aksara), Ali al-Khawwas (w. 938 H/ 1532 M).
Dikatakan dalam hasil penelitian Sri Mulyati, al-Sya’rani memiliki jumlah guru kurang lebih 50 syaikh, dan mereka selalu mengkombinasikan ilmu dan amal. Walaupun Sya’rani tidak pernah sekolah dan tinggal (mujawir) di al-Azhar, beberapa orang gurunya mempunyai kedudukan sebagai dosen, mufti, dan da’i di institut tersebut.
Diantara guru-gurunya adalah Amin al-Din (w. 1523), pendidik pertamanya di Kairo, seorang Imam saudaranya Sultan Salim selama Ia tinggal di Mesir, murid dari Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 1449). Gurunya yang lain yaitu kepada Hakim Madzhab Syafi’i (Syaikh al-Islam), Zain al-Din Zakariyya al-Anshari, murid Muhammad al-Ghamri dan penulis komentar atas Risalah al-Qusyairiyah. Beliau juga seorang sufi yang telah membai’at Sya’rani menjadi muridnya.29
29Ibid, 96.
penganut tarekat Syadziliyah. Karena itu, perjalanan ruhani al-Sya’rani tidak dapat dipisahkan dari tradisi Syadziliyah. Selain banyak mendapatkan bimbingan ruhani dari Ali al-Khawwas, al-Sya’rani juga mendapat bimbingan ruhani dari sufi lain yaitu Muhammad al-Syinnawi. Selain itu al-Sya’rani menerima inisiasi (pengajaran) tarekat-tarekat Suhrawardiyah. Dia menjelaskan silsilah tarekat yang diterimanya ini secara detail dalam karyanya al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifat Qawa’id al-Sufiyyah.30
B. KARYA-KARYA SYAIKH ABDUL WAHHAB AL-SYA’RĀNĪ.
1. Al-Jawahir wa al-Durar al-Kubra (Mutiara-mutiara dan Permata-permata agung)
2. Al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Aqa’id al-Akabir (Permata-permata Yakut dan Mutiara-mutiara tentang Akidah-akidah para ulama Besar [kalangan sufi]
3. Al-Tabaqat al-Kubra (peringkat-peringkat atau generasi-generasi yang Agung) atau disebut juga Lawaqih al-Anwar fi Tabaqat al-Akhyar (kilatan- kilatan Cahaya tentang Peringkat-peringkat atau generasi-generasi Orang- orang Terpilih)
4. Al-Anwar al-qudsiyyah fi ma’rifat qawa’id al-Sufiyyah (cahaya-cahaya kudus dalam hal mengenal kaidah-kaidah para sufi)
5. Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah fi Bayan al-Uhud al-muhammadiyyah (kilatan-kilatan kudus dalam menjelaskan jani-janji (pesan-pesan) Muhammad
30Sri MulyatI.dkk, Hasil Penelitian, 33.