• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Bahasa dijadikan sebagai sarana komunikasi antar manusia untuk mendapatkan informasi dalam melakukan segala kegiatan. Menurut pendapat Devianty (2017:227) bahasa yakni sistem lambang bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia untuk dipakai sebagai alat komunikasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahasa dijadikan alat berinteraksi untuk memperoleh informasi yang disampaikan oleh pembicara dan diterima oleh lawan bicaranya melalui alat ucap manusia.

Bahasa daerah adalah suatu bahasa turun-temurun dihasilkan dari warisan nenek moyang yang perlu dilestarikan dan dipertahankan. Serupa dengan pendapat Widianto (2018:1) Ia mengatakan bahasa daerah ialah aset berharga dalam sebuah bangsa. Sebagaimana yang termuat pada Asrif (2010:13) dilihat dari fungsinya, bahasa daerah yang berfungsi sebagai (1) lambang kebanggan daerah, (2) lambang suatu daerah (3) alat berinteraksi di keluarga, (4) jembatan pelestarian budaya daerah dan bahasa indonesia, serta (5) pendukung sastra daerah dan sastra indonesia. Maka dari itu, bahasa sudah menjadi hal penting untuk dijaga dan dikembangkan sebagai wujud simbol identitas penutur dari suatu daerah yang menjadikan ciri khas makhluk pribumi yang tinggal di permukiman daerah khususnya di indonesia.

Dari banyaknya bahasa daerah di Indonesia salah satunya adalah Provinsi Jambi terkhusus bahasa Kerinci, Kabupaten Kerinci. Bahasa Kerinci merupakan bahasa yang dijadikan alat komunikasi antar masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

(2)

Menurut Nikelas dan Sahwi (1985:1) bahasa Kerinci salah satu hal faktor pendukung kebudayaan daerah Kerinci sampai sekarang digunakan sebagai alat komunikasi bagi masyarakat Kerinci di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, serta sejumlah pemukiman suku Kerinci yang ada di perantauan. Selain sebagai alat interaksi dalam keseharian, bahasa Kerinci berfungsi juga sebagai media sastra yang diungkapkan melalui pantun, nyanyian dan petatah-petitih.

Pada umumnya bahasa Kerinci memiliki banyak dialek yang khas. Menurut Nandra dan Reniwati (2009:5) terdapat tiga jenis dialek berdasarkan kelompok pemakaiannya salah satunya dialek daerah. Dialek daerah yaitu variasi bahasa yang berdasarkan letak dalam wilayah bahasa. Pada Kabupaten Kerinci pun juga memiliki banyak dialek bahasa mulai dari Kerinci bagian hilir, Kerinci bagian tengah dan Kerinci bagian hulu atau mudik tiap wilayahnya memiliki dialek tersendiri.

Kerinci bagian hilir khususnya Kecamatan Danau Kerinci menurut BPS (2021) terbagi menjadi beberapa desa yakni Sanggarang Agung, Talang Kemulun, Koto Baru Sanggarang Agung, Pendung Talang Genting, Koto Tengah, Seleman, Tebing Tinggi, Simpang Empat, Tanjung Tanah, Cupak, Pasar Sore Seleman, Baru Tanjung Tanah, Tanjung Harapan. Seluruh desa yang tergabung dalam Kecamatan Danau Kerinci tersebut memiliki beberapa dialek diantaranya, dialek Sanggarang Agung, dialek Pendung Talang Genting, dialek Talang Kemulun, dialek Seleman, dialek Tebing Tinggi, dialek Tanjung Tanah, dialek Cupak.

Namun dalam penelitian ini hanya berfokus pada satu dialek saja yaitu dialek Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci. Dialek Tebing Tinggi adalah dialek yang memiliki fungsi yaitu untuk komunikasi masyarakat setempat pada semua kalangan

(3)

dan digunakan hingga saat ini. Adapun pusat penutur bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi adalah anggota masyarakat yang tinggal di desa Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci dan anggota masyarakat perantauan yang berasal dari Desa Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci baik itu di Provinsi Jambi atau bahkan di luar provinsi. Namun, fokus informan dan penelitian hanya pada masyarakat Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci yang tinggal di daerah setempat. Menurut BPS (2021) masyarakat Tebing Tinggi terhitung 1.321 jumlah penduduk, 658 laki-laki, 663 perempuan dengan luas wilayah 7, 03 km.

Adapun alasan memilih dialek Tebing Tinggi sebagai fokus penelitian karena;

pertama, penggunaan dialek Tebing Tinggi masih digunakan untuk menjalin komunikasi antar masyarakat setempat. Kedua, dialek Tebing Tinggi yang masih dilestarikan saat ini dan sangat kental sekali. Ketiga, untuk melestarikan bahasa daerah karena belum ada penelitian sebelumnya di desa tersebut mengenai bahasa atau linguistik. Maka dari itu dengan ada penelitian ini secara tidak langsung akan mengangkat eksistensi dialek Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci ke ranah yang lebih luas.

Berhubungan dengan membahas bahasa sebagai alat komunikasi maka tidak terlepas dari makna yang merupakan kajian semantik. Semantik sendiri yang memiliki arti ilmu yang memahami perihal kemaknaan bahasa. Chaer (2018:2) mengatakan bahwa semantik yakni salah satu bagian ilmu bahasa yang membahas perihal kemaknaan atau arti bahasa. Pada teori ilmu semantik terdapat salah satu sub pembahasan yaitu relasi makna. Chaer (2018:83) mengatakan bahwa relasi makna yaitu hubungan makna atau relasi semantik pada sebuah kata atau satuan bahasa

(4)

lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya. Membicarakan relasi makna tentunya akan berkaitan dengan (sinonim), (antonim), (hiponimi), (homonimi), (ambiguitas dan polisemi) dan (redundansi). Akan tetapi penelitian ini hanya berfokus pada relasi makna sinonim dan antonim saja.

Sinonim menurut Chaer (2018:84) adalah makna kurang lebih sama atau kesamaannya tidak utuh hanya kurang lebih saja. Contohnya BI = “banyak”

sedangkan DTT = “banyeak” dan kata BI = “amat” sedangkan DTT = “amaut”.

Menurut Dewi (2009:16-17) sinonim dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) kata yang sama maknanya dan 1) kata yang hampir sama maknanya. Antonim menurut verhaar (1997 dalam chaer 2018:89) adalah hubungan makna antara dua buah satuan ujaran atau kata yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan serta kontras antara yang satu dan lainnya. Contohnya BI = “Atas” DTT= “ateh” dan BI=“bawah”

DTT= “awoah”. Menurut Chaer (2018:90-93) terdapat lima jenis antonimi yaitu: 1) antonim mutlak, 2) antonim kutub, 3) antonim hierarki, 4) antonim hubungan dan 5) antonim majemuk.

Adapun penelitian sebelumnya yang meneliti bahasa kerinci sebagai objeknya, namun dalam hal ini peneliti sebelumnya meneliti dialek bahasa Rawang yang di tulis oleh Putia Resti Permana pada tahun 2021 dengan judul “homonim dalam bahasa Kerinci di Hamparan Rawang” Tujuannya yakni untuk

mendeskripsikan bagaimana bentuk homonim, makna homonim dan pemakaiannya dalam bahasa Kerinci, di Hamparan Rawang. Dengan hasil penelitian terdapat 130 kata, yang memiliki dua makna sebanyak 125 kata, yang memiliki tiga makna sebanyak 4 kata dan memiliki empat makna sebanyak 1 kata.

(5)

Selain itu Aripudin juga melakukan penelitian dengan objek kajian bahasa Kerinci dengan judul “bentuk dan penggunaan homonim dalam bahasa Kerinci di Pulau Tengah” pada tahun 2017. Pada penelitian ini metode yang digunakan yaitu

metode deskriptif, adapun cara pengumpulan datanya dengan metode simak dan metode cakap dengan teknik libat cakap dan teknik catat dengan hasil penelitian yang ditemukan yakni bahasa Kerinci di Pulau Tengah memiliki dua bentuk homonim yaitu homonim yang homograf dan homonim yang homofon beserta homograf.

Dari dua penelitian tersebut terdapat kesamaan yaitu metode penelitian yakni deskriptif kualitatif dengan objek kajian bahasa Kerinci, namun pada penelitian ini terletak perbedaan pada dialek yang diteliti dan jenis relasi maknanya, penelitian ini terdapat tiga relasi makna yang diteliti yaitu sinonim dan antonim sedangkan pada penelitian terdahulu hanya satu relasi makna yaitu relasi makna homonimi.

Dari pemaparan diatas peneliti memilih topik Analisis Relasi Makna (Sinonim dan Antonim) Bahasa Kerinci Dialek Tebing-Tinggi Kecamatan Danau Kerinci yang belum pernah ada sebelumnya. Penelitian ini menjadi upaya untuk melestarikan bahasa daerah terkhusus bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci.

1.2 Rumusan Masalah

Dari penjelasan diatas rumusan masalah pada penelitian ini yaitu apa saja bentuk relasi makna sinonim dan antonim pada bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci?

(6)

1.3 Tujuan Penelitian

Dari pemaparan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan bentuk relasi makna sinonim dan antonim dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci.

1.4 Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian diharapkan bermanfaat untuk khalayak publik, baik secara teoritis maupun praktis.

a. Manfaat Teoritis

Diharapkan Menjadikan sarana penunjang ilmu pengetahuan di bidang linguistik terkhusus kajian semantik pada bagian relasi makna beserta diharapkan bisa memperluas pengetahuan bagi mahasiswa tentang ilmu kebahasaan, khususnya semantik pada bagian relasi makna bahasa Kerinci, b. Manfaat Praktis

Sebagai sumber referensi untuk melakukan penelitian dengan objek penelitian lain setelahnya, Untuk mengangkat eksistensi, mengembangkan dan melestarikan bahasa daerah khususnya Desa Tebing Tinggi Kecamatan Danau Kerinci agar tidak hilang oleh perkembangan zaman dan menjadikan hasil temuan dari penelitian ini sebagai arsip daerah.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini difokuskan pada karakteristik berupa lirik, laras/ tangganada, lagu serta dongkari/ ornamentasi yang digunakan dalam pupuh Kinanti Kawali dengan pendekatan

Dari hasil perhitungan back testing pada tabel tersebut tampak bahwa nilai LR lebih kecil dari critical value sehingga dapat disimpulkan bahwa model perhitungan OpVaR

Dari area bisnis yang ada, ditemukan beberapa hal menyangkut permasalahan yang ada, yaitu: (1) Pihak manajemen dalam melakukan perencanaan penjualan dan produksi memperoleh data dari

Hasil uji reliabilitas instrumen variabel motivasi belajar (Y) akan diukur tingkat reliabilitasnya berdasarkan interpretasi reliabilitas yang telah ditentukan pada

RSUD.Prof.Dr.Aloei Saboe kota Gorontalo Pencegahan flebitis dapat dilakukan dengan cara bagaimana perawat bisa memilih ukuran yang tepat untuk vena pasien, letak

tidak dapat mengukur non-perform dari suatu kredit padahal terdapat variabel total loans dalam perhitungan efisiensi; investor di Indonesia masih berorientasi short term

Penelitian dilaksanakan dengan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan mengikuti desain penelitian Kemmis dan Mc. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi

Bahan yang digunakan adalah data penggunaan antibiotik untuk pasien rawat jalan selama 1 Januari sampai 31 Desember 2012 dan 1 Januari sampai 31 Desember 2013 yang