• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1."

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS 2.1. Kajian Pustaka

2.1.1 Perubahan Sosial

Teori perubahan sosial pada dasarnya terbagi menjadi dua keyakinan, pertama bahwa perubahan budaya terjadi secara progresif dan yang kedua perubahan terjadi secara perkembangan. Salah satu variabel yang menjadi tantangan bagi budaya indonesia untuk memulai perubahan adalah kokohnya praktik bawaan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan individu bukanlah salah satu siklus kemajuan yang terjadi begitu saja dalam lingkaran kehidupan. Hal ini terkait dengan orang atau perkumpulan dan bahkan desain yang melakukan atau mengantisipasi perubahan sosial atau ada individu yang memperkenalkan kehidupan, sehingga perubahan terjadi dengan cepat di lingkungan setempat. Perubahan sosial sebagian besar dicirikan sebagai proses menggerakkan atau mengubah permintaan/struktur di arena publik yang menggabungkan mentalitas, cara pandang, dan aktivitas publik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih unggul. Mengenai pandangan, seorang tokoh humanistik Comte membentuk dan memberikan pemikirannya bahwa perkembangan yang terjadi adalah adanya pasal-pasal yang ada sepanjang kehidupan sehari-hari dan melampaui kekuatan pada manusia. Selain itu perubahan masalah sosial yang terjadi karena munculnya atau peningkatan pemikiran atau pemikiran inovatif di mata publik untuk membuat kemajuan atau pencapaian sehari-hari.

Manusia adalah mahluk yang dinamis, bermaksud agar tidak ada manusia yang tidak melakukan perubahan dalam latihan kehidupan sehari-hari. Perubahan sosial terjadi karena manusia sangat penting karena efek samping dari perubahan sosial dan perubahan sosial yang terjadi di satu sisi serta di berbagai bidang dan

(2)

variabel yang mengalami perubahan yang berbeda di berbagai bidang..

Menurut Farley (1990:hlm.626) dalam Sztompka (2004:hlm.5) dalam Indraddin (2016:hlm.35), bahwa perubahan sosial adalah perubahan pada contoh perilaku, hubungan sosial, organisasi dan konstruksi sosial pada waktu tertentu. Hal ini terkait dengan perubahan kolaborasi di arena publik ketika mereka bergerak di arena publik itu sendiri. Sejalan dengan itu, menurut Gillin dan Gillin dalam Leibo (1986:hlm.52) dalam Indraddin (2016:hlm.35), Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam pengakuan keberadaan manusia, terletak pada perubahan budaya material sosio- geografis, penataan penduduk, sistem kepercayaan dan penyebaran pengungkapan hal-hal baru. Lebih lanjut, Adam Smith mengungkapkan bahwa perubahan akan terjadi terkait dengan perekonomian daerah yang sedang mengalami perubahan (Midgley, 2005:hlm.62 dalam Indraddin, 2016:hlm.35).

Moore dalam Laurer (1993:hlm.4) dalam Indraddin (2016:hlm.35), bahwa perubahan sosial adalah deklarasi desain di arena publik seperti standar, nilai, dan desain yang saling menutupi.

Perubahan sosial adalah interaksi yang membawa perubahan dalam desain dan kapasitas kerangka sosial. Perubahan sosial merupakan mata rantai dalam kehidupan ini, sehingga perubahan yang bersahabat tampaknya berlangsung sesuai dengan kondisi di mana daerah setempat merombak komponen-komponen desain sosial yang terkena dampak perubahan tersebut. (Martono, 2011:hlm.12 dalam Indraddin, 2016:hlm.36).

Definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas memberikan anggapan skala besar. Sehingga Sztompka (2004:hlm.5) dalam Indraddin (2016:hlm.36), mencoba membatasi berbagai pemahaman yang telah dibicarakan mengenai isu perubahan sosial. Menurut Sztompka, perubahan sosial terkait erat dengan perubahan primer

(3)

daripada berbagai jenis, di mana perubahan mendasar mendorong perubahan kerangka kerja. Dengan asumsi konstruksi berubah, semua komponen di mata publik akan berubah. Sejalan dengan itu, Seokanto (2000:hlm.338) dalam Indraddin (2016:hlm.36) berpendapat bahwa keadaan sosial yang esensial bahwa penyesuaian masyarakat akan membawa perubahan yang berbeda. Misalnya, ada perubahan dalam ekonomi, masalah legislatif, geologi, dll yang mencakup perubahan di berbagai bagian kehidupan.

2.1.1.1 Kategori Perubahan Sosial

Perubahan tidak terjadi di satu sisi tetapi banyak elemen atau area yang menyebabkan perubahan sosial dalam kehidupan individu.

Kajian perubahan sosial terbagi menjadi 3 kelas perubahan sosial dalam kehidupan sehari-hari, lebih spesifiknya:

1) Immanent Change

Perubahan sosial adalah perubahan yang tidak hanya terjadi dalam kehidupan individu kecil tetapi juga perubahan dalam jaringan besar, menyiratkan bahwa masyarakat harus menghadapi perubahan, karena masyarakat tidak statis tetapi kuat. Perubahan yang melekat adalah salah satu klasifikasi perubahan sosial, khususnya perubahan ramah yang dimulai di dalam kerangka aktual dengan hampir tidak ada dorongan dari luar. Hal ini mengandung pengertian bahwa perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan individu dipengaruhi oleh unsur- unsur batiniah.

2) Selective Contact Change

Perubahan sosial memiliki banyak unsur atau wilayah yang mempengaruhi pelaksanaan kehidupan sehari-hari. Perubahan Kontak Khusus merupakan salah satu perubahan sosial yang dipengaruhi oleh unsur luar atau dari pihak luar. Tanpa disadari dan secara cepat, perubahan-perubahan sosial yang terjadi memperoleh pemikiran-pemikiran baru atau pemikiran-

(4)

pemikiran yang melatih kehidupan daerah kepada individu- individu daerah.

3) Directed Contact Change

Kelas-kelas dalam menyelidiki perubahan sosial tidak hanya terbagi pada dua yang telah kita kaji di atas, namun kita dapat memecah perubahan dari klasifikasi perubahan kontak terkoordinasi yang tersirat oleh perubahan kontak terkoordinasi, yaitu perubahan sosial yang terjadi pada individu. ' hidup karena faktor atau pemikiran baru. dari luar yang dilakukan dengan sengaja.

2.1.1.2 Dimensi Peubahan Sosial

Dilihat dari aspek perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan individu, dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1) Aspek Perubahan Sosial dalam Struktur

Perubahan yang mendasarinya adalah perubahan cara berperilaku individu karena faktor dari dalam dan dari luar.

Masyarakat mengalami perubahan yang bersahabat di satu sisi maupun di banyak sisi yang membuat individu melakukan perubahan. Di wilayah agraris, misalnya, salah satu perubahan sosial karena berjalannya inovasi yang mengubah aspek yang mendasarinya. Perubahan konstruksi masyarakat terkait dengan pengaturan memberi.

2) Aspek Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial adalah penyesuaian nilai-nilai atau pemikiran-pemikiran yang melandasi masyarakat terkait dengan faktor-faktor ke dalam, maupun variabel-variabel luar yang mempengaruhinya. Biasanya perubahan ramah dalam budaya adalah karena modernisasi atau pengungkapan baru yang tergabung dalam kehidupan individu. Peristiwa perubahan sosial budaya berhubungan dengan slack budaya, ketahanan budaya, perjuangan budaya, dan kejutan budaya.

(5)

3) Aspek Perubahan Sosial dalam Interaksi

Orang-orang yang terpengaruh oleh bagian inovasi telah membawa hubungan yang semakin jauh dari hari ke hari.

Asosiasi yang dibuat pada dasarnya mempengaruhi permintaan hidup untuk memiliki pilihan untuk melakukan latihan sehari- hari. Perbaikan inovatif juga membuat eksistensi manusia tidak orisinal dalam segala aktivitas. Karena pergantian peristiwa yang mekanis, membatasi kapasitas buruh untuk bekerja sama dan seringkali menimbulkan perjuangan secara lokal. Individu- individu yang dekat dengan inovasi dan inovasi dimanfaatkan sebagai mekanisme hidupnya, membuat relasi sosial wajah sirna dan menimbulkan perjuangan di arena publik.

2.1.1.3 Perubahan Sosial sebagai Studi Sosiologi

Manusia adalah makhluk sosial yang dinamis, derajat keragaman sebagai makhluk yang bersahabat terkoordinasi dari tingkat yang mudah hingga yang kompleks. Orang-orang dalam kerangka waktu gaya lama, terkekang kehidupan mereka mulai dari berburu, kegiatan sosial hingga bergantung pada diri mereka sendiri di tingkat modern (Sanderson, 2011: hlm.1 dalam Indraddin 2016: hlm.39). Sebagaimana ditunjukkan oleh Ibn Khaldun, bahwa pada dasarnya manusia menolong dirinya sendiri dalam latihannya, manusia mengenal dirinya sendiri dan juga orang lain, misalnya menanam, memasak, dll. (Laurer, 1993:hlm.43 dalam indraddin, 2016: hlm.39).

Humanisme pada dasarnya bukan ilmu murni melainkan ilmu yang menciptakan informasi terapan. Penyelidikan ilmu sosial adalah penyelidikan aktivitas publik manusia. Penyelidikan ilmu sosial membahas tentang sifat dan alasan aktivitas manusia untuk mengikuti sesuatu, penyelidikan ilmu sosial memandang cara berperilaku manusia yang secara umum dilihat dan dihubungkan dengan konstruksi masyarakat dan budaya yang diklaim, dimiliki

(6)

bersama. dan dijunjung bersama dalam mencapai tujuan tersebut.

Bagaimanapun, penyelidikan humanisme berkonsentrasi pada pertemuan atau jaringan yang terus berubah atau dinamis. Dalam disiplin humanisme, ada faktor-faktor di balik pengenalannya ke dunia, khususnya keadaan darurat yang terjadi dalam latihan sehari-hari.

Ilmu sosial adalah ilmu yang berkonsentrasi pada keanehan yang terjadi dalam kehidupan individu, kekhasan tersebut berhubungan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan individu karena manusia adalah hewan yang mengalami perubahan. Hal ini sebenarnya bermaksud agar tidak ada manusia atau masyarakat yang tidak mengalami perubahan dalam latihan eksistensinya sehari-hari. Kemajuan ini berada pada tingkat skala besar serta pada tingkat miniatur. Perubahan juga dapat terjadi dari semua sudut pandang, baik sudut pandang yang luas maupun sudut yang lebih kecil, sudut-sudut tersebut dapat berupa sudut tingkah laku dan sudut yang dicurigai, khususnya pada sudut terbatas dan dalam perspektif luas, hal itu terjadi pada sudut pandang yang mendasari yang mempengaruhi kemajuan dalam kehidupan individu.

Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan individu bukanlah salah satu siklus kemajuan yang terjadi secara tidak terduga dalam lingkaran kehidupan. Hal ini berkaitan dengan orang atau perkumpulan dan bahkan desain yang melakukan atau bersiap- siap untuk perubahan sosial atau sesuatu yang menyertai sepanjang kehidupan sehari-hari, sehingga perubahan terjadi dengan cepat dalam latihan area lokal. Berkaitan dengan melihat, seorang tokoh humanistik, misalnya Comte, membentuk dan memberikan pemikirannya bahwa perkembangan yang terjadi adalah adanya artikel-artikel yang ada sepanjang kehidupan sehari-hari dan melampaui kekuatan pada manusia. Dengan asumsi kami memeriksa bahwa jenis artikel konseptual atau tidak asli dan tidak

(7)

terlihat oleh orang-orang. Meskipun demikian, kekuatan itu mengawasi dan mengatur dunia dan kita dapat mengakuinya dengan pemikiran atau penilaian yang baik.

Penilaian yang baik menggambarkan pandangan dunia yang melampaui kemampuan untuk berpikir secara mendalam dan konkret. Orang-orang mulai menerima tanpa henti bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan individu diwakili oleh kekuatan luar biasa yang menjadi standar dalam rutinitas mereka sehari-hari.

Semua yang terjadi mendapat perubahan yang jelas atas kehendak dan persetujuan dari kekuatan dunia lain yang meliputi tindakan manusia.

Selain itu perubahan sosial yang terjadi karena munculnya atau tumbuhnya pemikiran atau pemikiran baru di arena publik untuk membuat kemajuan atau pencapaian sehari-hari. Orang bisa berkarya dan membuat artikel terbaru dan luar biasa. Menurut Max Weber, perubahan sosial di mata publik terkait dengan kemajuan kewajaran manusia (Martono, 2011:hlm.47), Menurut Max Weber, perkembangan rasionalitas manusia adalah jalan masuk ke pemeriksaan objektif tentang kepentingan abstrak dan alasan korelasi berbagai jenis aktivitas sosial. Dengan demikian, Max Weber menelaah tipe penegasan manusia yang dipisahkan menjadi dua, yaitu (sarana) dan penutup (closes).

Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan individu, salah satu unsur manusia adalah hewan yang imajinatif dan dinamis untuk menghasilkan produk dan menumbuhkan pemikiran.

Misalnya, masyarakat bisa membuat inovasi baru, misalnya membuat mesin pengolah beras, melacak penerangan rumah, seperti lampu listrik, dll. Banyaknya kegiatan ini dilakukan masyarakat untuk menciptakan dan mengembangkan apa yang diketahui masyarakat dan diatur dalam perubahan.

(8)

Dalam salah satu teori perubahan bundaran yang dikemukakan oleh Vifredo Pareto, penelitian gaya lama tentang perubahan sosial bundaran ditempatkan di depan ukuran yang lebih terbatas dalam tatanan sosial tertentu daripada dalam peradaban besar. Pareto melihat masyarakat sebagai kerangka sosial yang tercipta melalui interaksi yang berputar-putar. Dari unsur-unsur yang mendorong perubahan, ada hipotesis mengenai pemecah masalah sejak awal peradaban, orang telah mengajukan banyak upaya untuk melacak alasan perubahan, untuk lebih spesifik kekuatan mana yang bertanggung jawab atas perubahan tersebut perbuatan yang harus mereka alami yang untuk selanjutnya dikenal sebagai teori agen perubahan, keberhasilan dari adanya agen perubahan ada delapan yaitu: 1) Gencarnya usaha promosi, 2) Berorientasi pada klien, 3) Kesesuaian dengan kebutuhan klien, 4) Empati terhadap klien, 5) Homofili dengan klien, 6)Kerjasama dengan tokoh masyrakat, 7) Kredibilitas agen pembaharu dimata klien, 8) Peningkatan kemampuan klien untuk mengevaluasi inovasi. Pada awalnya agen perubahan dibebankan pada aspek supra-natural, alam. Manusia besar dan terakhir adalah masyarakat itu sendiri, dalam fungsionalisme struktural modern diyakini bahwa penyebab perubahan sosial berasal dari orang yang berprilaku menyimpang, dalam pengertian orang yang meruntuhkan norma sosial yang sudah mapan. Selanjutnya diakui juga bahwa setiap individu mempunyai peran yang sangat kecil pada perubahan sosial, akan tetapi perubahan sosial harus juga dipandang sebagai hasil gabungan dari apa yang dikerjakan oleh semua individu. Dapat disimpulkan bahwa peran perorangan memiliki kekuatan yang sangat kecil akan tetapi secara kolektif akan memiliki kekuatan yang besar. (Andri. (2016). Peran Agen Perubahan Pada Masyarakat Tradisional Untuk Diverifikasi Produk

(9)

Mandau Sebagai Bentuk Perubahan Sosial. Jurnal Interas Rekarupa. Vol. 4(1). 71-80).

2.1.2 Strategi

Kata strategi berasal dari kata strategos atau strategus. Strategos berarti umum atau juga berarti pejabat negara, jendral ini adalah orang yang bertanggung jawab mengatur sistem yang membimbing pasukan untuk mencapai kemenangan. Sementara itu, seperti yang ditunjukkan oleh J. Salusu strategi perencanaan sebagai spesialisasi penggunaan kemampuan dan aset untuk mencapai tujuannya melalui asosiasi yang menarik dengan iklim dan kondisi terbaik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknik menyiratkan pengaturan latihan yang hati-hati untuk mencapai tujuan yang jelas. Strategi adalah metode untuk mengumpulkan energi, aset, aset, dan perangkat keras yang diklaim untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Strategi adalah cara yang akan dilakukan atau dilaksanakan agar bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Orang adalah makhluk inventif yang dapat membuat barang dagangan dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Sesuai dengan itu hipotesis aktivitas sosial yang dikemukakan oleh Max Weber bahwa seorang individu melakukan suatu tindakan ada tujuan yang ingin dicapai dan manusia adalah binatang yang berimajinasi.

Pandangan dunia menggambarkan seseorang bergerak karena ada alasan, kegiatan tersebut harus memiliki tujuan dalam mencapai keinginan untuk kegiatannya.

Tujuan yang dicapai adalah salah satu cara bagi daerah setempat untuk melakukan latihan kehidupan sebagai manusia. Orang-orang bertindak fokus pada kecenderungan mereka, tetapi juga desain yang membuat mereka mengikuti latihan ini.

Pilihan yang diambil untuk memiliki pilihan untuk menyelesaikan latihan hidup adalah melakukan prosedur sosial untuk memiliki pilihan untuk bertindak, bertindak dan berproduksi. Sistem

(10)

sosial jelas bukan gagasan lain, melainkan gagasan yang harus diciptakan untuk mencapai suatu tujuan. Metodologi sosial adalah cara atau kiat yang dilakukan seseorang atau bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Sistem sosial juga menyiratkan cara yang diambil oleh orang-orang atau jaringan bersama untuk memiliki pilihan untuk melakukan latihan hidup mereka.

Strategi meningkatkan partisipasi masyarakat oleh agen pembaharu (Rogers, 1981:hlm.98) ada 8 diantaranya:

1. Gencarnya usaha promosi 2. Berorientasi pada klien

3. Kesesuaian dengan kebutuhan klien 4. Empati terhadap klien

5. Homofilinya dengan klien

6. Kerjasama dengan tokoh masyarakat 7. Kredibilitas agen pembaharu dimata klien

8. Peningkatan kemampuan klien untuk mengevaluasi inovasi Seorang individu yang memahami ilmu humaniora tidak hanya melihat masalah sosial di satu sisi, tetapi banyak sisi yang mempengaruhi seseorang untuk bergerak. Kegiatan tersebut tidak hanya selesai begitu saja, harus ada dampak yang besar, sehingga individu mengambil perspektif dan keputusan hidup dalam mencapai cara hidup yang layak. Sesuai Berger (1985) dalam Narwoko (2007:

hlm. 15) dalam Indraddin (2016: hlm. 15), mengungkapkan bahwa masalah humanistik bukan hanya mengapa ada sesuatu yang off-base menurut perspektif individu atau pejabat normal, namun subjek tentang bagaimana seluruh kerangka berfungsi, apa jangkauannya, dan bagaimana mereka secara umum terintegrasi.

Perspektif humanistik yang menjadi subjek kajian komunikasi sosial sangat menarik untuk dikaji dalam subjek perubahan sosial, hal ini terkait dengan perubahan sosial yang terjadi sebagai suatu proses pembentukan realitas sosial. Secara hipotetis, ada dua

(11)

keadaan untuk asosiasi sosial, khususnya kontak dan korespondensi.

Kontak dan surat menyurat yang terjadi tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan individu dalam menyelesaikan latihan hidupnya. Seorang individu melakukan kontak sosial tidak hanya melalui tatap muka atau pertemuan langsung dan menentukan apa alasan untuk kegiatan tersebut, namun kontak ramah harus dimungkinkan melalui kontak yang menyimpang atau tanpa pertemuan antara orang satu sama lain. Pengertian kontak sosial dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu kontak sosial khusus yang disebut esensial (bertemu langsung) dan kontak sosial yang disebut opsional (tanpa pertemuan).

Kontak sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari biasa terjadi dalam dua kegiatan, yaitu positif dan negatif tertentu. Artinya, seorang individu melakukan suatu tindakan secara spontan atau egois serta atas kebutuhan yang harus dilakukan atau dibagi.

Banyaknya kegiatan ini memiliki arti penting dan alasan atas kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang dalam kehidupan mereka.

Apalagi korespondensi sosial yang dilakukan oleh orang-orang memiliki arti penting bagi kegiatan yang dilakukan. Kontak bantu akan membawa berbagai pemahaman tentang kegiatan dan kontemplasi mereka, karena mereka tidak memiliki gagasan yang paling kabur tentang apa yang terjadi dalam latihan kehidupan.

Klarifikasi di atas menyiratkan bahwa seorang individu bekerja sama secara sosial dalam kelompok dengan cara yang berbeda.

Pendekatan ini dipengaruhi oleh keadaan di mana mereka berada dan dalam beberapa kasus terkait dengan kolaborasi dan kemampuan.

Sistem kolaborasi adalah cara yang dilakukan oleh seorang individu dalam suatu pertemuan yang bergantung pada jenis partisipasi atau kontes untuk kegiatan yang diambil. Max Weber menyatakan bahwa seseorang melakukan suatu aktivitas dengan alasan tertentu yang tidak ada habisnya..

(12)

Ide sistem sosial sebagai realitas sosial yang dilakukan oleh seseorang untuk latihan yang dilakukan. Dalam hubungan persahabatan ada dua prosedur kerjasama sosial, yaitu:

1. Untuk memulainya, kolaborasi adalah kegiatan yang selesai mengingat kata-kata saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Kerja sama suatu usaha yang dilakukan kelompok masyarakat atau individu dalam mencapai suatu tujuan, kerja sama terbagi atas dua bentuk yaitu kerja sama spontan, merupakan kerja sama langsung, partisipasi langsung, khususnya kolaborasi pesanan dari tempat yang lebih tinggi dan lebih rendah.

2. Kedua, kompetensi Khususnya latihan yang diselesaikan untuk mencapai tujuan tetapi strategi yang dilakukan tidak sesuai dengan peraturan material dan dapat merugikan orang lain. Pada dasarnya, prosedur kemampuan dipilih oleh seseorang berdasarkan kerangka penghargaan. Latihan yang diselesaikan tergantung pada manfaat yang didapat.

2.1.3 Partisipasi masyarakat

Partisipasi berasal dari bahasa Inggris, khususnya “Kerja sama”

yang dapat diartikan sebagai gerakan untuk membangkitkan sentimen dan dimasukkan atau berpartisipasi dalam latihan suatu asosiasi.. Partisipasi menurut Keith Devis (1962:hlm.242) adalah

“as mental and emotional linvolvement of a person in group situasion wich encourages him to contribute to group goals and share responsibilityin them”. Menurut Davis Partisipasi merupakan Kontribusi tak terbatas disertai dengan kesadaran dan kewajiban terkait kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Davis (2001:hlm.142), Partisipasi adalah jaminan mentalitas dan kontribusi kerinduan individu mengalami hal yang sama dan keadaan asosiasi sehingga pada akhirnya mendesak orang untuk mengambil bagian dalam pencapaian tujuan hierarkis dan

(13)

berpartisipasi dalam setiap tanggung jawab bersama. Partispasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat baik itu individu atau kelompok dalam suatu kegiatan pembangunan baik itu dalam kegiatan perencenaan, pelaksanaan, pemanfaatan, maupun evaluasi di mana individu ataupun kelompok tersebut memberikan kontribusi langsung baik berupa materi maupun non materi.

Partisipasi menurut FAO (Food Agricultutural Organitation) dalam Mikkelsen (1989:1999:hlm.64) arti kata partisipan adalah sebagai berikut:

1) Partisipasi adalah suatu komitmen yang disengaja dari daerah setempat kepada usaha tanpa ikut serta dalam pelayaran.

2) Partisipasi adalah “penyempurnaan” daerah setempat untuk memperluas kemampuannya dalam mengakui dan menjawab proyek-proyek perbaikan.

3) Partisipasi adalah siklus fungsi yang menunjukkan bahwa individu atau kelompok yang bersangkutan melangkah ke atas dan menggunakan kesempatan mereka untuk melakukan hal itu.

4) Partisipasi adalah penguatan wacana antara jaringan lingkungan dan staf yang menyelesaikan tugas kesiapan, pelaksanaan, pengamatan, untuk memperoleh data tentang lingkungan terdekat dan efek sosial.

5) Partisipasi adalah kontribusi yang disengaja oleh daerah setempat dalam perubahan yang ditentukan sendiri.

6) Partisipasi adalah kontribusi daerah dalam kemajuan diri dan keadaannya saat ini.

Jadi menurut FAO Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam peningkatan diri mereka sendiri dan keadaan mereka saat ini dengan memberikan kontribusi secara sukarela untuk membangun kemampuan untuk mengakui dan kemampuan untuk menjawab proyek peningkatan yang sedang dilaksanakan sehingga lingkungan sekitar

(14)

dan staf yang melakukan pengaturan proyek, pelaksanaan, pengamatan, untuk mendapatkan data tentang pengaturan lingkungan dan efek sosial.

Tujuan dari minat menurut Schiler dan Antolv yang dikutip oleh Hetifahh(2003:hlm.152) adalahhsebagaiiberikutt:

a. Menciptakan Visi Bersama b. Membangun Rencana c. Mengumpulkan gagasan d. Menentukan Prioritas e. Menjaring Aspirasi f. Mengumpulkan Informasi

Secara umum, alasan sebenarnya untuk dukungan adalah untuk melibatkan lingkungan sekitar untuk memiliki pilihan untuk mengambil bagian dalam interaksi perbaikan, baik dalam mengatur, melaksanakan, mengamati, menilai dan mengambil bagian dalam dampak dari pergantian peristiwa.

2.1.3.1 Tahap Partisipasi Masyarakat

Pendekatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dapat dilakukan melalui tiga tahapan Slamet, 1994 dan Wulandari (2013:hlm.16), sebagai berikut:

a) Partisipasi dalam tahap penyusunan.

Partisipasi pada tahap ini maksudnya adalah melibatkan seseorang dalam menyusun rencana dan strategi dalam penyusunan kepentingan selanjutnya, rencana pengeluaran untuk suatu gerakan atau usaha. Kelompok masyarakat tertarik dengan memberikan ide, gagasan, dan reaksi melalui pertemuan biasa dilaksanakan.

b) Partisipasi di dalam tahap eksekusi.

(15)

Partisipasi di dalam tahap pelaksaan maksudnya adalah melibatkan seseorang pada saat pelaksaan sebuah tugas.

Kelompok masyarakat dapat memberikan energi, uang tunai atau materi atau barang dagangan dan pikiran sebagai jenis dukungan ada pelaksaan proyek tersebut.

c) Partisipasi di dalam penggunaan.

Partisipasi di dalam penggunaan maksudnya adalah melibatkan seseorang pada tahap pemanfaatan suatu proyek. Masyarakat bisa berpartisipasi melalui tenaga dan uang untuk mengerjakan dan memelihara proyek yang telah dibangun.

2.1.3.2 Bentuk Partisipasi

Oakley (1991:hlm.1-10) dalam Darmawi (2014:hlm.11) menguraikan dukungan menjadi tiga struktur, secara spesifik sebagai berikut:

a) Partisipasi sebagai jenis komitmen, misalnya pemahaman dominan tentang investasi yang dikembangkan di dunia ketiga melihatnya sebagai penyertaan yang disengaja atau jenis komitmen lain dari jaringan pedesaan yang telah ditetapkan sebelumnya proyek dan kegiatan perbaikan.

b) Partisipasi sebagai asosiasi, atau setidaknya meskipun dinaungi oleh diskusi yang panjang namun dapat dikemukakan bahwa perbedaan asosiasi yang umumnya dibingkai atau muncul dan dibentuk karena siklus partisipatif.

c) Partisipasi sebagai penguatan, yaitu usaha untuk membina kemampuan dan kapasitas wilayah kota untuk memilih dan terlibat yang sedang dikembangkan.

Jim Ife (2006) partisipasi masyarakat secara kualitatif seperti berikut:

(16)

1) Masyarakat mengambil bagian dalam kegiatan yang akan dilaksanakan

2) Dukungan masyarakat pada program yang akan dilaksanakan,

3) Masyarakat mengikuti setiap program yang akan dilaksanakan,

4) Dampak dari adanya program bagi masyarakat, 5) Pemimpin yang terlibat dalam program,

6) Adanya bantuan dana untuk program yang akan dilaksanakan dan

7) Adanya perubahan kebijakan di desa 2.1.4 Program KB

Program Keluarga Berencana merupakan program strategi administrasi yang dilaksanakan untuk menjawab kemajuan pembangunan kependudukan yang tidak terkendali. Program Keluarga Berencana ini merupakan program yang dijalankan dengan harapan akan benar-benar ingin mengontrol angka kelahiran dan mengatur jarak antara kehamilan seorang ibu yang tentunya akan berdampak pada permasalahan sosial yang dapat muncul karena banyaknya jumlah individu dengan disabilitas.

kualitas. Menata keluarga berarti mengatur jumlah anak sesuai keinginan dan memilih sendiri kapan harus hamil sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang RI No. 52 Tahun 2009 tentang peningkatan kependudukan dan kemajuan keluarga. . Program keluarga berencana ini dilakukan untuk latihan waktu terbatas, jaminan dan bantuan dengan kesepakatan dengan kebebasan regeneratif pasangan usia subur untuk memiliki pilihan untuk membuat keluarga yang berkualitas.

2.1.5 Sekoper Cinta

Sekoper Cinta merupakan pendidikan informal bagi perempuan di provinsi Jawa Barat, Sekoper Cinta merupakan salah

(17)

satu model pemberdayaan perempuan dengan mengembangkan kepemimpinan dalam memperjuangkan kesetaraan dan inklusi gender. (Gerfianti S, 2019). Sekoper Cinta merupakan pemecah masalah permasalahan perempuan di provinsi Jawa Barat, pelaksanaan program Sekoper Cinta yang mengikuti modul utama dan modul tematik yang menjadikan kegiatan ini terstruktur secara sistematis. (dalam Jurnal Nurlatifah dkk, 2020)Program sekoper cinta ini dimulai sebagai jawaban atas isu kebiadaban, pelecehan dan perpisahan bagi wanita di Provinsi Jawa Barat serta untuk menggarap kepuasan pribadi wanita. Sekoper Cinta adalah sekolah nonformal khusus wanita di Provinsi Jawa Barat di mana menggunakan metode pembelajarannya unik, peserta didik yang mengikuti kegiatan Sekoper Cinta diajarkan untuk menjadi diri sendiri, mencari cara untuk mengajar anak-anak dengan baik dan mempersiapkan pintu terbuka bisnis di bidang keuangan.

Diharapkan dengan mengikuti program Sekoper Cinta ini, maka perempuan jawa barat akan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam berbagai masalah terkait dengan penguatan wanita baik dalam bidang sosial maupun ekonomi. Program Sekoper Cinta ini diharapkan dapat mecapai tujuan, yaitu agar perempuan-perempuan jawa barat memiliki beberapa hal berikut:

a. Memiliki informasi yang berhubungan dengan orientasi ekuitas dan ekuitas.

b. Memiliki informasi dan menerapkan kemampuan yang berhubungan dengan hubungan keluarga serta moral dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

c. Memiliki informasi dan kemampuan yang berhubungan dengan kesejahteraan keluarga.

d. Memiliki informasi dan kemampuan yang berhubungan dengan bencana para pelaksana dan pelestarian ekologi.

(18)

e. Miliki informasi dan kemampuan dasar wanita dalam kehidupan sehari-hari.

f. Bekerja pada kapasitas untuk berpikir secara mendasar dan menawarkan sudut pandang.

Dengan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tersebut diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku perempuan Jawa Barat sehingga semakin tercipta lingkungan yang kondusif menuju kesejahteraan bersama. Dengan program sekoper cinta ini melakukan pemberdayaan pada perempuan, maka diharapkan akan memberikan dampak pada kesehatan, peningkatan ekonomi dan kebahagiaan keluarga dan masyarakat secara umum.

2.1.6 Hasil penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Joko Adi Prasetyo dan Anggaunitakiranantika (2020) tentang Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Program Keluarga Sejahtera di Kampung KB.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Kualitatif dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program di Kampung KB. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa mekanisme program pemberdayaan kampung KB adalah kegiatan pelaksanaan sudah diatur dan terkonsep lengkap dari DPPKB pusat, diperlukan dukungan dan kerja sama dari masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjalankan semua program yang diberikan oleh kampung KB.

Penelitian yang dilakukan oleh Fitria Kusuma Wardani (2010) tentang Partisipasi Masyarakat dalam Mengikuti Program Keluarga Berencana di Desa Sidoharjo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian Kualitatif dengan menggunakan metode

(19)

wawancara, observasi dan dokumentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai program KB, mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi masyarakat dalam mengikuti program KB dan mengetahui jenis-jenis alat kontrasepsi yang digunakan oleh masyarakat di kampung KB tersebut.

Berdasarkan dari pembahasan dapat diambil hasil sebagai berikut bahwa partisipasi masyarakat mengenai Program KB adalah suatu kewajiban perempuan sehingga perempuanlah yang seharusnya menjadi akseptor KB bukan pria, KB hanya dilakukan dengan alat kontrasepsi dan beberapa alat kontrasepsi menakutkan bagi akseptor seperti IUD, Implan dan tubektomi.

Penelitian yang dilakukan oleh An-Nur Vicky Sabila dan Ninuk Purnaningsih (2020) tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Program Kampung Keluarga Berencana (KB). Metode yang digunakan adalah metode survei dengan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat dalam program kampung KB, menganalisis hubungan antara faktor internal dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam program KB dan menganalisis hubungan antara faktor eksternal dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam program Kampung KB. Mengacu pada hasil pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam Program Kampung KB secara keseluruhan berada pada kategori tinggi, tingkat partisipasi yang paling tinggi berada pada tahap perencanaan kegiatan.

Penelitian yang dilakukan oleh

MuhammaddFebriansyahh(2015) tentang Studi Mengenai Partisipasi Masyarakat dalam Program Keluarga Berencana di Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode yang digunakan adalah metode dengan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan

(20)

keadaan subyek atau obyek penelitian seseorang pada saat penelitian sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui partisipasi masyarakat untuk menjalankan program Keluarga Berencana di Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kuai Kertanegara dan untuk mengetahui faktor penghambat partisipasi masyarakat dalam program Keluarga Berencana di Kecamatan Kota Bangun Kabupaten Kuai Kertanegara berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa minat masyarakat sangat diperlukan karena sangat membantu UPT, BKBP3A, minat masyarakat dipengaruhi dari keyakinan masyarakat. Masyarakat sangat diperlukan karena tanpa adanya yang berpartisipasi maka program KB ini tidak akan berjalan dengan lancar, kesuksesan program KB ini sangat bergantung pada partisipasi masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh Sabar Ginting (2003). Tentang Pengaruh Partisipasi Masyarakat dalam Program KB Terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Cinta Damai Kecamatan Patumbak Deli Serdang. Metode yang digunakan yaitu metode survei dengan pertimbangan bahwa penelitian ini dipusatkan pada Keluarga Berencana. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Partisipasi Masyarakat terhadap program KB terhadap pendapatan keluarga. Hasil dari penelitian ini adalah faktor pendapatan keluarga berpengaruh terhadap partisipasi ibu- ibu dalam program KB.

(21)

2.2 Kerangka Konseptual Pemberdayaan

Masyarakat

Instrumental Input Kader Penyuluh Sarana Prasarana

Row Input Masyarakat

Proses

Gencarnya usaha promosi Kerjasama dengan tokoh

masyarakat Pelatihan Life skill

Environmental Input Lingkungan Sosial dan

Budaya Pemerintah Lingkungan Geografis

Output

Outcome

Jangka Pendek Perempuan menjadi lebih

mandiri

Mampu mendidik anak sesuai dengan perkembangan Mampu mengatur keuangan

Jangka Panjang

 Dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya

dalam berbagai hal yang terkait dengan pemberdayaan perempuan baik dalam bidang

sosial maupun ekonomi

 Menjadikan kampung yang handal dalam mewujudkan keluarga sejahtera seimbang

yang berkualitas

(22)

Maksud dari kerangka konseptual di atas adalah pemberdayaan yang ada di Kampung KB yaitu kegiatan sekoper cinta di mana dengan adanya partisipasi dari masyarakat yang ada di lingkungan Kampung KB maka kegiatan sekoper cinta akan berjalan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, setelah adanya program sekoper cinta dan dukungan dari Kader, Penyuluh dan sarana prasarana yang memadai maka kegiatan sekoper cinta bisa berjalan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan dan juga adanya proses agar masyarakat mau untuk mengikuti kegiatan sekoper cinta.

Dengan begitu masyarakat bisa mendapatkan hasil dari mengikuti kegiatan sekoper cinta yaitu untuk jangka pendek masyarakat bisa menjadi perempuan yang lebih mandiri, mampu mendidik anak sesuai dengan perkembangan dan mampu untuk mengatur keuangan. Sedangkan untuk jangka panjang masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dalam berbagai hal yang terkait dengan pemberdayaan perempuan baik dalam bidang sosial maupun politik.

2.3 Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan konsep dan kerangka berpikir di atas, muncul beberapa pertanyaan penelitian sebagai dasar untuk mengeksplorasi, dan menggali lebih dalam informasi terkait dengan judul penelitian sebagai berikut:

a. Bagaimana Strategi meningkatkan partisipasi masyarakat yang diterapkan oleh DPPKBP3A melalui Sekoper Cinta di Kampung Keluarga Berencana (KB) Bantarsari Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya?.

b. Bagaimana Partisipasi masyarakat pada program Sekoper Cinta di Kampung Keluarga Berencana (KB) Bantarsari Kelurahan Nagarasari Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya?.

Referensi

Dokumen terkait

Pada zona I terjadi proses elektrolisis Faraday, dimana arus akan semakin meningkat seiring dengan adanya peningkatan tegangan listrik.. Pada zona ini terbentuk

Oleh karena itu, kebutuhan pasar bagi dunia industri sabun sangat luas sekali, hal ini tentu akan sangat menguntungkan bagi negara yang memiliki sumber daya alam

Belum adanya formulasi peraturan perundangan yang integral dalam penyidikan tipikor yang dapat mengeleminir munculnya egoisme sektoral.(3). Model alternatif

melibatkan 10 orang siswa untuk menguji dan menyempurnakan produk yang sudah dibuat. Beberapa masukan selama uji coba awal digunakan untuk melakukan evaluasai dan revisi

Di sini muncul daerah warna warna Ungu dikarenakan bahwa pada campuran ini menggunakan Oksigen murni sehingga reaksinya menjadi sangat reaktif ssehingga daerah

Berdasarkan analisis data penelitian yang telah dilakukan tentang Pengaruh susunan lamina komposit berpenguat serat E-glass dan serat Carbon terhadap kekuatan tarik

Adapun alasan penulis mengangkat problem kejiwaan tokoh utama dalam novel Bulan Nararya karya Sinta Yudisia ini sebagai bahan kajian karena di dalam novel tersebut

Dalam penelitian ini, strategi komunikasi yang baik adalah strategi yang dapat menempatkan posisi seorang guru secara tepat ketika berkomunikasi dengan muridnya,