• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAWATAN DIRI SEBAGAI FAKTOR RISIKO KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERAWATAN DIRI SEBAGAI FAKTOR RISIKO KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PERAWATAN DIRI SEBAGAI FAKTOR RISIKO KECACATAN PADA PENDERITA KUSTA

Cucu Herawati

Program Studi Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Cirebon

Info Artikel Abstrak

Diterima 4 April 2019 Disetujui 9 Mei 2019 Diterbitkan 31 Mei 2019

Latar Belakang: Kecacatan yang dialami oleh penderita kusta menyebabkan berbagai dampak diantaranya dampak sosial, psikologis, dan ekonomi. Dampak sosial yang dialami penderita yaitu terisolasi dari pergaulan karena adanya stigma dan dsikriminasi, masalah psikologis menimbulkan stres, cemas dan depresi, serta dampak ekonomi dapat meningkatkan kemiskinan karena kurangnya produktifitas penderita. Maka diperlukan upaya pencegahan supaya tidak mengalami cacat diantaranya dengan perawatan diri.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pendidikan, pendapatan, tipe kusta, dan perawatan diri terhadap cacat tingkat II kusta. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain Cross Sectional. Total populasi 43 penderita dengan jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 35 responden. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik cluster sampling, untuk menentukan mana saja yang termasuk sampel dari tiap Puskesmas menggunakan teknik simple random sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan telaah dokumen. Hasil: Didapatkan tidak ada hubungan antara tipe kusta (p=0.234) dengan cacat tingkat II dan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan (p=0.042), pendapatan (p=0.009), dan perawatan diri (0.001) dengan cacat tingkat II di Kabupaten Cirebon Tahun 2019. Nilai OR perawatan diri sebesar 11.73 maka perawatan diri yang kurang mempunyai risiko 12 kali terjadinya cacat tingkat II dibandingkan dengan yang melakukan perawatan diri baik. Kesimpulan: Perlunya peningkatan peran aktif penderita untuk mencari informasi tentang penyakit kusta dan meningkatkan perilaku kebiasaan perawatan diri yang rutin untuk mencegah terjadinya cacat.

Kata Kunci:

Kusta

Perawatan diri Kecacatan tingkat II

e-ISSN:

2613-9219

Coresponding author:

[email protected]

Abstract Keywords:

Leprosy Selfcare

Level II disability

Background: Disabilities experienced by people living with leprosy cause various impacts including social, psychological, and economic impacts. Social impact experienced by them namely isolated from association because of stigma and discrimination, psychological problems may cause stress, anxiety and depression, and the economic impact can increase poverty due to a lack of patient productivity. Thus, prevention efforts are needed to help people living with leprosy not to experience defects including self-care. This study aims to determine the relationship between education, income, type of leprosy, and self-care of level II leprosy. Methods: The study type was analytical study with Cross Sectional design. The total population was 43 patients with a total sample of 35 respondents. The sampling technique in this study used a cluster sampling technique, to determine which samples were included from each Puskesmas using a simple random sampling technique. Data collection was carried out by interviews and document review. Results: There was no relationship between the type of leprosy (p = 0.234) with level II disability and there was a significant relationship between education (p = 0.042), income (p = 0.009), and self-care (0.001) with level II disability in Cirebon Regency in 2019. Self-care OR value was 11.73. Thus, poor self- care had 12 times risk of the occurrence of level II disability compared to those who did good self-care. Conclusions: There is a need to increase the active role of patients to find information about leprosy and improve routine self-care habits to prevent disability.

© 2019 Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang

Original Article Open Access

(2)

Pendahuluan

Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya masalah dari segi medis, tapi juga masalah sosial, budaya, ekonomi, keamanan, dan juga ketahanan nasional [1]. Beban akibat kusta yang paling utama adalah kecacatan yang ditimbulkan, oleh karena itu telah ditetapkan target global yang harus dicapai pada tahun 2015 adalah angka cacat tingkat 2 per 100.000 penduduk turun 35% [2]. Kecacatan pada penyakit kusta dapat dicegah dengan diagnosis dini dan pengobatan secara teratur dengan Multi Drug Theraphy (MDT).

Kecacatan pada kusta bisa terjadi juga selama pengobatan MDT dan setelah selesai pengobatan [3], [4].

Beban akibat kecacatan kusta di Indonesia masih tinggi, bukan hanya fisik, sosial, tetapi juga ekonomi dan psikis. Penanganan kusta harus komprehensif mulai dari kegiatan promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif Enhance Global Startegy WHO tahun 2011–2015 [5]. Tingginya angka kecacatan serta dampak maka perlu adanya upaya pencegahan yang adekuat. Upaya pencegahan tidak cukup hanya dengan pengobatan MTD saja karena pengobatan hanya dapat membunuh kuman kusta, namun kecacatan yang dialami oleh penderita kusta akan terus ada seumur hidup [2].

Berdasarkan data WHO angka penemuan kasus baru kusta di dunia mulai tahun 2013 hingga 2017 mengalami penurunan yang tidak signifikan. Pada tahun 2013 di temukan 215.656 kasus, tahun 2014 ditemukan 213.899 kasus, tahun 2015 ditemukan 210.758 kasus, tahun 2016 ditemukan 217.972 kasus dan tahun 2017 di temukan 210.671 kasus. Asia Tenggara merupakan regional dengan jumlah penderita kusta terbanyak di dunia pada tahun 2017 dengan angka kejadian sebesar 153.487 kasus dan 12.189 per 1.000.0000 mengalami kecacatan tingkat 2 [1]. Di Indonesia penemuan kasus baru (Case Detection Rate/CDR) penyakit kusta masih terus berlanjut, statis dan cenderung terlihat peningkatan prevalensi. CDR tahun 2015 sebesar 6,73 dan tahun 2016 sebesar 6,5. Tahun 2016 angka kecacatan tipe 2 mencapai 1.116 per 1.000.000 penduduk [6]. Pada tahun 2011-2013 terdapat 14 Provinsi (42,4%) termasuk Jawa Barat dalam kategori beban kusta tinggi dan 19 Provinsi lainnya (57,6%) termasuk dalam beban kusta rendah [1].

Berdasarkan profil kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon ditemukan NCDR (New Case Detection Rate) per 100.000 penduduk pada 2016 sebesar 10,91%, tahun 2017 sebesar 10,2%, dan tahun 2018 sebesar 10,15 dan cacat tingkat 2 pada tahun 2016 sebesar 7%, tahun 2017 sebesar 10%, dan tahun 2018 sebesar 11% [7]

Pengetahuan, diagnosis dini, keteraturan berobat dan perawatan diri merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kecacatan yang dialami pasien.

5

Risiko terjadinya kecacatan pada kusta dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah

pendidikan, tipe kusta, reaksi, pengetahuan, lamanya sakit, ketaatan obat, diagnosis, perawatan diri, dan sosial ekonomi [5], [8].

Upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan kecacatan pada penderita kusta yaitu dengan melakukan perawatan diri [2]. Perawatan diri dapat digunakan untuk mencegah kecacatan baru dan mengurangi keparahan kecacatan yang telah ada [5]. Salah satu program pemerintah untuk mengurangi kecacatan yang dialami oleh klien kusta adalah dengan membentuk Kelompok Perawatan Diri (KPD). Aktivitas perawatan diri yang baik akan mampu mencegah atau mengurangi kecacatan pada penderita kusta [9]. WHO/ILEP menyebutkan bahwa penyakit kusta memiliki dampak negatif pada orang yang mengalaminya karena menyebabkan kecacatan fisik jika tidak dilakukan perawatan diri yang baik.

Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain Cross Sectional. Tempat penelitian dilakukan di 3 (tiga) wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Cirebon yaitu Puskesmas Astana Japura, Puskesmas Kedawung dan Puskesmas Pangenan.

Sampel dalam penelitian ini yaitu penderita baru.

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yaitu menggunakan teknik cluster sampling, kemudian untuk menentukan mana saja yang termasuk sampel dari tiap Puskesmas menggunakan teknik simple random sampling [10].

Populasi dalam penelitian ini sebesar 43 penderita dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan telaah dokumen. Analisis univariat pada penelitian ini menggambarkan distribusi frekwensi masing-masing variabel dan analisis bivariat pada penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pendidikan, pendapatan, tipe kusta, dan perawatan diri terhadap cacat tingkat II pada penderita kusta.

Penelitian ini sudah mendapat ijin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon dengan nomor surat 070/2069-SDK/2018 dan telah terdaftar di Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP dr Kariadi Semarang dengan nomor Ethical Clearance: 525/EC/FK-RSDK/VII/2018.

Hasil

Berdasarkan tabel 1. karakteristik penderita kusta dari 35 responden didapatkan sebagian besar mempunyai pendidikan rendah sebanyak 23 (65.7%) dan pendidikan tinggi sebanyak 12 (34.3%) responden.

Pendapatan responden sebagian besar di bawah Upah

Minimum Regional (UMR) yaitu sebanyak 27 (77.1%),

ditemukan hampir semua responden yaitu sebanyak 33

(94.3%) responden menderita tipe kusta MB, perawatan

diri penderita kusta didapatkan kurang sebanyak 16

(45.7%) dan baik sebanyak 19 (54.3%), dan ditemukan

21 (60%) penderita tidak cacat dan yang mengalami

cacat tingkat II ditemukan 14 (40%) responden.

(3)

Secara jelas ditunjukkan pada tabel 2 diketahui variabel yang mempunyai hubungan dengan cacat tingkat II yaitu pendidikan p value 0.042, pendapatan p value 0.009, dan perawatan diri p value 0.001 sedangkan variabel yang tidak mempunyai hubungan tipe kusta (0.234). Nilai Odd rasio untuk pendidikan sebesar 5.4 maka pendidkan rendah mempunyai risiko lebih besar yaitu sebesar 5.4 kali untuk menyebabkan terjadinya cacat tingkat II dibandingkan dengan yang mempunyai pendidikan tinggi dan nilai OR untuk perawatan diri sebesar 11.73 maka responden yang melakukan perawatan diri kurang mempunyai risiko terjadinya cacat tingkat II lebih besar yaitu sebesar 12 kali dibandingkan dengan responden yang melakukan perawatan dirinya baik.

Pembahasan

Berdasarkan penelitian didapatkan sebagian besar responden menderita tipe kusta MB dan tidak ada hubungan tipe kusta dengan kejadian cacat tingkat II, hal ini salah satunya dikarenakan hampir semua responden menderita tipe MB sebanyak 33 (94.3%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya bahwa tipe kusta tidak ada hubungan dengan cacat tingkat II dengan tempat dan desain penelitian yang berbeda [11]. Pada penelitian ini tidak terdapat kecacatan kusta yang terjadi pada tipe PB sedangkan pada tipe MB yang mengalami kecacatan sebanyak 42.4%. Kusta tipe MB cenderung lebih banyak menimbulkan kecacatan daripada tipe PB karena memiliki penyebaran basil lebih cepat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Witama (2014) yang menyatakan bahwa penderita kusta dengan tipe MB lebih banyak menderita cacat tingkat 2 dari pada tipe PB [12].

Sebagian besar penderita kusta mempunyai pendidikan rendah (65,7%) dan didapatkan hubungan antara pendidikan dengan kejadian cacat tingkat II dengan nilai OR 5.4. Tingkat pendidikan mempunyai hubungan dengan kecacatan penderita kusta. Proporsi yang tinggi pada penderita kusta dengan pendidikan rendah mengakibatkan gaya hidup sehat juga rendah [13]. Rendahnya pendidikan sebagai salah satu faktor risiko terjadinya kecacatan pada penderita kusta, walau efek tersebut masih belum dimengerti secara jelas.

Variabel n %

Pendidikan

Rendah (SD – SMP) 23 65.7

Tinggi ( SMU – PT) 12 34.3

Pendapatan

< UMR 27 77.1

≥ UMR 8 22.9

Tipe Kusta

PB 2 5.7

MB 33 94.3

Perawatan Diri

Kurang 16 45.7

Baik 19 54.3

Cacat tingkat II

Cacat 14 40.0

Tidak cacat 21 60.0

Tabel 1. Distribusi Frekwensi Karakteristik Dan Perawatan Diri Pada Penderita Kusta

Tabel 2. Hubungan Karakteristik Dan Perawatan Diri Terhadap Cacat Tingkat II Pada Penderita Kusta

Variabel Cacat Tidak Cacat Jumlah OR p

n % n % n %

Pendidikan

5.4 0.042

Rendah 12 52.2 11 47.8 23 100

Tinggi 2 16.7 10 83.3 12 100

Pendapatan

0.48 0.009

< UMR 14 51.9 13 48.1 27 100

≥ UMR 0 0.0 8 100.0 8 100

Tipe Kusta

1.73 0.234

PB 0 0.0 2 100.0 2 100

MB 14 42.4 19 57.6 33 100

Perawatan Diri

11.73 0.001

Kurang 11 68.8 5 31.3 16 100

Baik 3 15.8 16 84.2 19 100

(4)

Pendidikan yang rendah pada penderita kusta sangat berdampak pada pekerjaan dan kesejahteraan [11]

Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu tingkat pengetahuan seseorang, apabila pengetahuan seseorang tentang suatu penyakit tinggi maka individu akan berupaya dalam kesembuhan dirinya maupun terhadap upaya pencegahan suatu penyakit terhadap dirinya [12]. Status pendidikan mempengaruhi terhadap tindakan pengobatan pasien kusta, semakin rendah tingkat pendidikan maka semakin lambatnya pencarian pengobatan sehingga disabilitas akan semakin parah [14]. Tingkat pendidikan rendah dapat mempengaruhi penderita kusta untuk tidak merawat kondisi luka akibat penyakit kusta sehingga kondisi cacat semakin memburuk [15]. Pendidikan seseorang akan mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan perilaku seseorang dalam mencari bantuan pelayanan kesehatan, maka semakin rendah pendidikan penderita kusta akan berakibat pada akses dalam mendapatkan pelayanan kesehatan akan sangat terbatas, hal ini akan berdampak pada tingkat kesembuhan penyakit kusta yang diderita.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan penderita kusta sebagian besar mempunyai pendapatan

< UMR (77.1%) dan terdapat hubungan antara pendapatan dengan kejadian cacat tingkat II. Sosial ekonomi mempunyai hubungan dengan kecacatan fisik pada penderita kusta. Menurut WHO menyebutkan bahwa sekitar 90% penderita kusta menyerang kelompok sosial ekonomi lemah atau miskin. Sosial ekonomi rendah akan meyebabkan kondisi kepadatan hunian yang tinggi, buruknya lingkungan, dan kemampuan daya beli pangan untuk kebutuhan sehari- hari terbatas sehingga menyebabkan masalah kurang gizi [16]. Pendapatan merupakan salah satu tolak ukur dalam kesanggupan individu atau keluarga dalam memperoleh pelayanan kesehatan [17].

Individu dengan pendapatan yang tinggi akan dengan mudah mampu memenuhi kebutuhannya dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai untuk dirinya, sebaliknya orang dengan pendapatan kurang akan lebih sulit memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang memadai [12]. Rendahnya pendapatan pada penderita kusta dapat mempengaruhi kemampuan untuk mendapatkan pelayanan dan perawatan kesehatan akan sangat terbatas sehingga meningkatkan risiko terjadinya cacat tingkat II lebih besar dibandingkan dengan yang mempunyai pendapatan lebih tinggi.

Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara perawatan diri dengan cacat tingkat II dan nilai OR 11.73 artinya responden yang melakukan perawatan diri kurang mempunyai risiko terjadinya cacat tingkat II lebih besar yaitu sebesar 12 kali dibandingkan dengan responden yang melakukan perawatan diri baik. Sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan, bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perawatan diri dengan tingkat kecacatan pada penderita kusta [8]. Ada hubungan antara perawatan diri dengan kecacatan fisik pada penderita kusta [16].

Perawatan diri memiliki pengaruh terhadap disabilitas penyakit kusta secara langsung [13]. Perawatan diri

kusta sangat diperlukan untuk mencegah kecacatan baru dan kerusakan fisik penderita serta dapat mengurangi keparahan kecacatan fisik yang sudah ada sehingga produktivitas penderita kusta tetap terjaga [2]. Penderita kusta yang aktif mengikuti kelompok perawatan diri memiliki tingkat kecacatan yang lebih rendah dibandingkan pada penderita kusta yang tidak aktif mengikuti kelompok perawatan diri [12].

Self-care atau perawatan diri bermanfaat untuk mempertahankan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan hidup, jika dilakukan secara efektif, upaya perawatan diri dapat memberi kontribusi bagi integritas struktural fungsi dan perkembangan manusia [18]. Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna mempertahankan hidupnya, kesehatannya, dan kesejahteraannya sesuai dengan kondisi kesehatannya [19]. Perawatan diri pada penderita kusta yang meliputi perawatan mata, tangan, dan kaki sangat berpengaruh untuk mencegah terjadinya kecacatan dan upaya perawatan diri ini dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama dengan penderita lain dengan membentuk kelompok perawatan diri (KPD) di Puskesmas. Peran aktif penderita dalam melakukan perawatan diri ini sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan pengetahuan penderita.

Kesimpulan

Kesimpulan pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara tipe kusta dengan cacat tingkat II dan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan, pendapatan, dan perawatan diri dengan cacat tingkat II pada penderita kusta di Kabupaten Cirebon Tahun 2019.

Perawatan diri yang kurang mempunyai risiko 12 kali terjadinya cacat dibandingkan dengan yang melakukan perawatan diri baik, maka peran perawatan diri sangat bermanfaat terhadap pencegahan terjadinya cacat pada penderita kusta.

Perlunya peningkatan peran aktif penderita untuk mencari informasi tentang penyakit kusta dan meningkatkan perilaku kebiasaan perawatan diri yang rutin untuk mencegah terjadinya cacat baik perawatan diri di rumah atau dalam kelompok perawatan diri di Puskesmas, sebaiknya mengenali gejala dini kusta dan segera memeriksakan ke Puskesmas. Perlunya dukungan peran petugas kesehatan dalam upaya promosi dan preventif ditingkatkan misalnya dalam penyuluhan, penemuan kusta secara aktif, dan meningkatkan advokasi untuk membetuk kelompok perawatan diri. Untuk penelitian lebih lanjut diperlukan jumlah sampel yang lebih besar dan faktor risiko lain yang dapat mempengaruhi cacat tingkat II pada kusta.

Daftar Pustaka

[1] Kemenkes RI. Hari Kusta Sedunia. 1 (2015).

[2] Kemenkes RI. Pedoman Nasional Program Pengendalian Kusta. Direktoral Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. (2012).

[3] Wilder-Smith, A. et al. Disability in people

(5)

affected by leprosy: the role of impairment, activity, social participation, stigma and discrimination. Glob. Health Action 5, 18394 (2012).

[4] Wewengkang, K., Palandeng, H. M. F. & Rombot, D. V. Pencegahan Kecacatan Akibat Kusta di Kota Manado. J. Kedokt. Komunitas dan Trop. 4, 87–92 (2016).

[5] Wahjudi Ulfa Azimatul, P. K. Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecacatan Pada Penderita Kusta Baru Di Rumah Sakit Kusta Kediri. Ikesma 12, 141–145 (2010).

[6] Kemenkes RI. Laporan Direktoral Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2017).

[7] Dinkes Kabupaten Cirebon. Profil Kesehatan Kabupaten Cirebon. (2018).

[8] Nugroho, S. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Cacat Penderita Kusta. (UGM, 2006).

[9] Eldiansyah Wantiyah; Siswoyo, Siswoyo, F. W.

Perbedaan Tingkat Kecacatan Klien Kusta yang Aktif dan Tidak Aktif Mengikuti Kegiatan Kelompok Perawatan Diri (KPD) di Kabupaten Jember (The Difference in Impairment Level of Leprosy Clients who were Active and Inactive participating Self Care Group ( S. Pustaka Kesehat. 4, 286–292 (2016).

[10] Kasjono HS, Y. Teknik Sampling Untuk Penelitian Kesehatan. (Graha Ilmu, 2009).

[11] Herawati, C. S. Apakah Upaya Pencegahan, Faktor Penyakit dan Faktor Individu Mempunyai Dampak Terhadap Cacat Tingkat II Kusta. J. Ilm. Indones.

3, 45–53 (2018).

[12] Nur Laili, A. F. Hubungan Dukungan Keluarga Dan Pengetahuan Terhadap Perawatan Diri Penderita Kusta Di Puskesmas Grati Tahun 2016.

Indones. J. Public Heal. 12, 13 (2018).

[13] Nadhiroh, U., Murti, B. & Dharmawan, R.

Determinants of Disability in Patients with Leprosy at Kelet Hospital, Central Java. J.

Epidemiol. Public Heal. 3, 143–252 (2018).

[14] Peters ES and Eshiet AL. Malefemale (sex) differences in leprosy patients in south eastern Nigeria: females present late for diagnosis and treatment and have higher rates of deformity.

(2002).

[15] Iyor FT. Knowledge and attitude of Nigerian physiotherapy students about leprosy, Asia Pacific Disability Rehabilitation Journal. 1, 85–92 (2005).

[16] Husen, S. H. & Muhammad, R. Jurnal Riset

Kesehatan Kecacatan Pada Pasien Kusta Di Wilayah Kerja. 6, 41–47 (2017).

[17] Notoatmodjo, S. Masyarakat Ilmu dan Seni.

(2007).

[18] Werdiningsi, Retno. Agusni, I. Kecacatan Pada Penderita Kusta Baru Di divisi Kusta URJ Penyakit Kulit Dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. (2009).

[19] Astutik, E. & Maria, N. Faktor-faktor yang

berhubungan dengan perilaku perawatan diri eks-

penderita kusta di unit pelaksana teknis rehabilitasi

sosial eks-penderita kusta Nganget , Tuban , Jawa

Timur. J. Epidemiol. Kesehat. Indones. 1, 15–21

(2016).

Gambar

Tabel 1. Distribusi Frekwensi Karakteristik Dan Perawatan Diri Pada Penderita Kusta

Referensi

Dokumen terkait

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kuantitatif prosentase dan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk mengolah peta Google Earth. Hasil

If people are more accurate for truths than deception (the veracity effect), which is clearly the case in Professor Burgoon’s data, then as the pro- portion of truthful senders

Menganalisis perbedaan status pemberian ASI eksklusif, umur ibu tingkat pengetahuan ibu, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendapatan ibu, jenis pekerjaan, paritas,

Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2, kelimpahan relatif famili Eulophidae, Encyrtidae dan Scelionidae pada lanskap Nyalindung jauh lebih tinggi dari famili lainnya,

21.1 Anda mesti menyelesaikan semua aduan, tuntutan dan pertikaian secara langsung dengan Pedagang yang Dibenarkan atau Rangkai Niaga Tunai yang Dibenarkan, dan

7 Biasanya pada usia ini tinggi badan anak hanya akan bertambah 5 cm pertahun dan berat badan akan bertambah banyak daripada tinggi badan juga pada usia sekitar 10

SIMULASI PROTOTYPE PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO DENGAN MENGGUNAKAN TURBIN CROSS FLOW DITINJAU DARI VARIASI JUMLAH SUDU TURBIN TERHADAP DAYA..

Oleh karena itu, penulis memilih aplikasi tapestri dan batik kontemporer sebagai bentuk aksen estetika pada artwear yang akan diwujudkan sebagai sebuah karya