C - REACTIVE PROTEIN SEBAGAI DETEKSI AWAL TERHADAP INFEKSI PADA OPERASI FRAKTUR TERTUTUP DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN
Teks penuh
(2) ii Universitas Sumatera Utara.
(3) iii Universitas Sumatera Utara.
(4) iv Universitas Sumatera Utara.
(5) PANITIA PENGUJI TESIS Moderator. : dr. OK. Ilham Abdullah Irsyam, Sp.OT. Penguji. : dr. Pranajaya Dharma Kadar, Sp.OT(K) : dr. Husnul Fuad Albar, Sp.OT : dr. Otman Siregar, SpOT(K). v Universitas Sumatera Utara.
(6) KATA PENGANTAR. Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya saya dapat menyelesaikan proposal penelitian magister saya yang berjudul “C-reactive Protein Sebagai Deteksi Awal Terhadap Infeksi Pada Operasi Fraktur Tertutup di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.”. Penelitian ini merupakan karya ilmiah saya dalam rangka menyelesaikan Program Studi Magister di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Kepada dr. Heru Rahmadhany, SpOT(K) dan dr. Benny, M.Ked(Surg), SpOT selaku pembimbing penulisan karya ilmiah ini, saya ucapakan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bimbingan, saran dan pengarahan yang telah membuka wawasan saya dan memacu saya dalam menyelesaikan proposal penelitian magister ini. Berkat bantuan berupa bimbingan, dorongan, kerja sama, dan pengorbanan dari berbagai pihak sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian ini. Oleh karena itu perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih kepada: Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih atas nasehat dan bimbingan yang diberikan selama proses pendidikan. Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, M.Ked(Oph), Sp.M(K) sebagai Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih atas nasehat dan bimbingan yang diberikan selama proses pendidikan. Dr. dr. Mohd Rhiza Z. Tala, M. Ked(OG), SpOG(K) sebagai Sekretaris Program Studi Magister Kedokteran Klinik, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih atas nasehat dan bimbingan yang diberikan selama proses pendidikan.. vi Universitas Sumatera Utara.
(7) Prof. dr. Hafas Hanafiah, SpB, SpOT(K) FICS sebagai Guru Besar Ilmu Bedah Orthopaedi dan Traumatologi, saya haturkan terima kasih yang setinggi-tingginya atas segala nasehat dan bimbingannya selama saya dalam pendidikan. Prof. dr. Nazar Moesbar, SpB, SpOT(K) sebagai Guru Besar Ilmu Bedah Orthopaedi dan Traumatologi, pendidik, dan pengajar Bagian Bedah Orthopaedi dan Traumatologi, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sedalamdalamnya atas bimbingan, nasehat, dan teladan yang pernah diberikan. dr. Nino Nasution, SpOT(K), Ketua Departemen Orthopaedi dan Traumatologi, pendidik dan pengajar Ilmu Bedah Orthopaedi dan Traumatologi, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang setulus-tulusnya atas didikan, nasehat dan bimbingan yang diberikan selama pendidikan. dr. Pranajaya Dharma Kadar, SpOT(K), Ketua Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi, pendidik dan pengajar Ilmu Bedah Orthopaedi dan Traumatologi, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang setulus-tulusnya atas didikan, nasehat dan bimbingan yang diberikan selama pendidikan. dr. Husnul Fuad Albar, SpOT, sebagai Sekretaris Departemen Orthopaedi dan Traumatologi FKUSU / RSUP HAM; saya ucapkan terima kasih atas segala nasehat dan bimbingannya selama saya dalam pendidikan. dr. Aga Shahri Putra Ketaren, SpOT, Sekretaris Program Studi Orthopaedi dan Traumatologi, pendidik dan pengajar Ilmu Bedah Orthopaedi dan Traumatologi, saya sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang setulus-tulusnya atas didikan, nasehat dan bimbingan yang diberikan selama pendidikan. dr. Chariandi Siregar, SpOT(K), dr. Otman Siregar, SpOT(K), dr. Iman Dwi Winanto, SpOT, dr Andriandi, M.Ked(Surg), SpOT, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediannya membimbing serta menjadi mentor selama pendidikan berlangsung. Prof. DR. dr. Aznan Lelo, SpFK, saya mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya atas kesediaannya meluangkan waktu serta membimbing saya dalam bidang statistika pada penelitian ini. Terima kasih kepada Sdri. Soe Santi, Sdri. Evita Sari, dan Sdri. Dinda, Sekretaris di Tata Usaha Departemen Medik Orthopaedi dan Traumatologi FK. vii Universitas Sumatera Utara.
(8) USU / RSUP HAM, atas bantuan dan kerja samanya selama saya menyelesaikan penelitian magister ini. Saya sangat menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu segala koreksi, kritik dan saran yang membangun untuk kemajuan pengetahuan di bidang ilmu yang saya tekuni ini, sangat saya harapkan. Semoga segala yang saya sampaikan dalam karya ilmiah ini dapat bermanfaat untuk kemajuan yang kita cita-citakan. Medan,. Maret. 2019 dr. Randy Susanto NIM 137041161. viii Universitas Sumatera Utara.
(9) DAFTAR RIWAYAT HIDUP Curriculum Vitae. I. Data Pribadi. 1. Nama. :. RANDY SUSANTO. 2. Tempat dan Tanggal Lahir. :. MEDAN, 28 SEPTEMBER 1988. 3. Jenis Kelamin. :. LAKI - LAKI. 4. Agama. :. KATOLIK. 5. Status Pernikahan. :. SUDAH MENIKAH. 6. Warga Negara. :. INDONESIA. 7. Alamat KTP. :. JL. MULTATULI FF8, MEDAN. 8. Alamat Sekarang. :. JL. MULTATULI FF13, MEDAN. 9. Nomor Telepon / HP. :. 061- 4153922/ 085270806486. 10. e-mail. :. [email protected]. 11. Kode Pos. :. 20151. II. Pendidikan Formal. :. Periode (Tahun). Sekolah / Institusi / Universitas. Jurusan. Jenjang Pendidikan. 1994. -. 2000. St. Kristoforus II. -. SD. 2000. -. 2003. St. Thomas I. -. SLTP. 2003. -. 2006. St. Thomas I. IPA. SLTA. 2006. -. 2012. FK-USU. KEDOKTERAN. S1. ix Universitas Sumatera Utara.
(10) 2014. -. sekarang. FK-USU. Magister Kedokteran. S2. 2014. -. sekarang. Orthopaedi & Traumatologi FK- USU. Spesialis Orthopaedi & Traumatologi. S2. III. Pendidikan Non Formal / Training – Seminar Tahun. Lembaga / Instansi. Keterampilan. 2013. Departemen Ilmu Bedah. ATLS. 2016. PABOI. Grand round Musculoskeletal Tumor. 2016. PABOI/IOA. COE 63rd (Continuing Orthopaedic Education). 2017. PABOI/AO Trauma. AO Trauma (Basic). 2017. PABOI/IOA. COE 65th (Continuing Orthopaedic Education). IV. Riwayat Pengalaman Kerja Periode. Instansi / Perusahaan. Posisi. 2012. -. 2013. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara. Dokter Internsip. 2013. -. 2014. RSUD Sidikalang. Dokter IGD. x Universitas Sumatera Utara.
(11) PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama. : Randy Susanto. NIM. : 137041161. Program Studi. : Ilmu Orthopaedi & Traumatologi. Jenis Karya. : Tesis Magister. Demi pengembangan Ilmu Pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera utara Hak Bebas Royalti Non-Eksklusif (Non-Exclusive Royalty Free Right) atas disertasi saya yang berjudul: C - REACTIVE PROTEIN SEBAGAI DETEKSI AWAL TERHADAP INFEKSI PADA OPERASI FRAKTUR TERTUTUP DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN beserta perangkat yang ada (jika diperlukan), dengan Hak Bebas Royalti NonEksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/formatkan,. mengelola. dalam. bentuk. database,. merawat. dan. mempublikasikan disertasi saya tanpa meminta izin dari saya sebagai penulis dan sebagai pemilik hak cipta. Demikian pernyataan ini saya perbuat dengan sebenarnya. Medan, Maret 2019 Yang Menyatakan, dr. Randy Susanto. xi Universitas Sumatera Utara.
(12) LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS C - REACTIVE PROTEIN SEBAGAI DETEKSI AWAL TERHADAP INFEKSI PADA OPERASI FRAKTUR TERTUTUP DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN Dengan ini penulis menyatakan bahwa penulisan ujian tertutup ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran (Surgery) pada Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri. Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan disertasi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas, sesuai norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah. Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian disertasi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi akademik dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.. Medan, Maret 2019 Yang Menyatakan, dr. Randy Susanto. xii Universitas Sumatera Utara.
(13) ABSTRAK C - REACTIVE PROTEIN SEBAGAI DETEKSI AWAL TERHADAP INFEKSI PADA OPERASI FRAKTUR TERTUTUP DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN Randy Susanto*, Heru Ramadhany**, Benny*** *Resident of Orthopaedic & Traumatology, Faculty of Medicine University of Sumatera Utara/ Haji Adam Malik General Hospital-Medan ** Consultant of Orthopaedic and Traumatology, Spine Division, Faculty of Medicine University of Sumatera Utara/ Haji Adam Malik General HospitalMedan ***Staff of Orthopaedic and Traumatology, Spine Division, Faculty of Medicine University of Sumatera Utara/ Haji Adam Malik General Hospital-Medan Objektif Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar CRP antara pasien dengan infeksi dan pasien tanpa infeksi fraktur tertutup pasca operasi sebelum tanda-tanda klinis infeksi muncul. Material and Metode Delapan belas pasien didiagnosis dengan fraktur tertutup telah menjalani ORIF, sembilan pasien telah menunjukkan tanda-tanda infeksi dan sembilan pasien yang tidak memiliki tanda-tanda infeksi. Kedua subjek kelompok memiliki pemeriksaan protein C-Reaktif yang dilakukan pada hari ke-2 dan ke-4 paska operasi. Penelitian ini dilakukan pada periode Maret 2018 hingga Juli 2018. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross-sectional, untuk menganalisis perbedaan nilai C-Reactive Protein. Hasil Subjek yang menjalani operasi fraktur tertutup adalah 18 subjek, 4 (22,2%) subjek perempuan, 14 (77,8%) subjek laki-laki. Dengan lokasi fraktur humerus sebanyak 1 (5,6%) subjek, radius 2 (11,1%) subjek, femur 3 (16,7%) subjek, tibia 10 (55,6%) subjek, fibula 2 (11,1%) subjek . Dari hasil data yang dikumpulkan, CRP 2 hari setelah operasi 1,93 ± 0,83, CRP 4 hari setelah operasi 1,74 ± 1,1. Kesimpulan Dari hasil analisis statistik perbandingan kadar CRP pada pasien dengan infeksi dan pasien tanpa infeksi fraktur tertutup paska operasi terdapat perbedaan yang signifikan, hal ini ditunjukkan oleh nilai p 0,001 (p <0,05). Kadar CRP setelah debridemen pada hari ke 2 dan 4 menetap atau meningkat pada pasien dengan infeksi. Keywords C-Reactive Protein, Fraktur tertutup, infeksi. xiii Universitas Sumatera Utara.
(14) ABSTRACT C-REACTIVE PROTEIN AS EARLY DETECTION OF INFECTIONS IN CLOSED FRACTURE POST ORIF IN HAJI ADAM MALIK GENERAL HOSPITAL Randy Susanto*, Heru Ramadhany**, Benny*** *Resident of Orthopaedic & Traumatology, Faculty of Medicine University of Sumatera Utara/ Haji Adam Malik General Hospital-Medan ** Consultant of Orthopaedic and Traumatology, Spine Division, Faculty of Medicine University of Sumatera Utara/ Haji Adam Malik General HospitalMedan ***Staff of Orthopaedic and Traumatology, Spine Division, Faculty of Medicine University of Sumatera Utara/ Haji Adam Malik General Hospital-Medan Objective The purpose of this study was to to find out the difference in CRP levels between patients with infection and patients without infection post-operative closed fracture before the clinical signs of infection arise. Material and Methods Eighteen patients were diagnosed with closed fracture had underwent an ORIF, nine patients had shown a signs of infection and 9 other patients had no signs of infection. Both of the group subject had a C-Reactive protein examinatioin conducted on the 2nd and 4th day post-operative . The study was done in the period March 2018 to July 2018. The study was conducted with a cross-sectional approach, to analyze differences in C-Reactive Protein values. Results Subjects who performed closed fracture surgery was 18 subjects, 4 (22.2%) female subjects, 14 (77.8%) male subjects. With the location of the fracture of the humerus as much as 1 (5.6%) subjects, radius 2 (11.1%) subjects, femur 3 (16.7%) subjects, tibia 10 (55.6%) subjects, fibula 2 (11.1%) subjects. From the results of the data collected, CRP 2 days after surgery 1.93 ± 0.83, CRP 4 days after surgery 1.74 ± 1.1. Conclusion From the results of the statistical analysis of the comparison of CRP levels in patients with infection and patients without infection post-operative closed fracture there were significant differences, this was indicated by the p value of 0.001 (p <0.05). CRP levels after debridement on day 2 and 4 remain or increased in patients with infection. Keywords C-Reactive Protein, Closed Fracture, Infection. xiv Universitas Sumatera Utara.
(15) DAFTAR ISI. HALAMAN PENGESAHAN…………………………………………... ii SURAT KETERANGAN……………………………………………... iv. KATA PENGANTAR………………….……………………………….. vi. RIWAYAT HIDUP……………………………………………………. ix. PERNYATAAN. PERSETUJUAN. PUBLIKASI. KARYA x. ILMIAH… LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS……………….………... xii. ABSTRAK……………….……………….……………….……………... xiii. ABSTRACT……………….……………….……………….…………… xiv DAFTAR ISI………..…………………………………………………... xv. DAFTAR TABEL………………………………………………………. xviii. DAFTAR GAMBAR……………………………………………………. xix. DAFTAR GRAFIK……………………………………………………... xx. BAB I PENDAHULUAN. 1. 1.1 Latar Belakang………………………………………………….... 1. 1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………. 2. 1.3. 2. Hipotesis…………………………………………………………………. 3. 1.4 Tujuan Penelitian………………………………………………….. 1.4.1 Tujuan Umum……………………………………………. 3. 1.4.2 Tujuan Khusus…………………………..………………. 3. 1.4 Manfaat Penelitian…………………………………..…………….. 3. 1.4.1 Manfaat Teoritik………………………………..………... 3. 1.4.2 Manfaat Praktis…………...………………………..……. 3. xv Universitas Sumatera Utara.
(16) BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 5. 2.1. 5. Fraktur…………………………………………...……………………… 2.1.1 Definisi…………………………………..……………….... 5. 2.1.2 Epidemiologi………………………..…………………….. 5. 2.1.3 Etiologi………….…….……….…………………………... 6. 2.1.4 Patofisiologi…….……….………………………………... 7. 2.1.5 Klasifikasi………….……………………………………….. 8. 2.1.6 Diagnosis………………………………………………….. 10. 2.1.8 Penanganan Fraktur…………………………………..…. 13. 2.1.9 Komplikasi…….……………………………………….…. 2.2 C-Reactive Protein ……………………..………………………….. 25. 2.2.1 Definisi…………………….………………………………. 25. 2.2.2 Sintesis dan Struktur CRP………………………………. 26. 2.2.3 Fungsi Biologis CRP…………………………………….. 29. 2.2.4 Inflamasi dan Respon Fase Akut………………………. 29. 2.3 Kerangka Teori……………………………………………………. 32. 2.4 Kerangka Konsep…………………………………………………. 33. BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 34. 3.1 Desain Penelitian……………………………….…………………. 34. 3.2 Populasi Penelitian…………………………….………………….. 34. 3.3 Subyek Penelitian…………………………….………………….... 34. 3.4 Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………..... 35. 3.5 Perkiraan Besar Sampel………………………………………….. 35. 3.6 Metode Pengambilan Sampel Penelitian……………………….. 36. 3.7 Persetujuan Tindakan Medis……………………………………... 36. 3.8 Variabel Penelitian……………………………………………….... 36. 3.9 Definisi Operasional……………………………………………….. 37. 3.10 Analisis Data………………………………………………………. 38. xvi Universitas Sumatera Utara.
(17) 3.11 Alur Penelitian…………………………………………………….. 39. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 40. 4.1 Hasil Penelitian……………………………………………………... 40. 4.1.1. Gambaran. umum. subyek. 40. 4.1.2 Karakteristik subyek penelitian…………………………. 40. penelitian…………………… 4.2. 43. Pembahasan……………………………………………………….. BAB V SIMPULAN DAN SARAN. 45. 5.1 Simpulan…………………………………………………………….. 45. 5.2 Saran…………..…………………………………………………….. 45. DAFTAR PUSTAKA. 46. LAMPIRAN Lampiran 1. Inform Consent Lampiran 2. Lembar Persetujuan Subjek Lampiran 3. Persetujuan Komite Etik Tentang Pelaksanaan Penelitian Kesehatan Lampiran 4. Data Responden Penelitian Lampiran 5. Output SPSS. xvii Universitas Sumatera Utara.
(18) DAFTAR TABEL Tabel 1.. Distribusi Karakteristik Demografi Subyek. Tabel 2.. Analisis statistik perbedaan kadar C-reactive protein antara pasien yang tidak mengalami infeksi dengan pasien yang mengalami infeksi paska operasi fraktur tertutup. Tabel 3.. Distribusi karakteristik demografi subyek kadar nilai Ca 125 spondilitis tuberkulosis yang belum mengkonsumsi OAT dan yang sudah mengkonsumsi OAT. xviii Universitas Sumatera Utara.
(19) DAFTAR GAMBAR Gambar 1.. Pola Fraktur. Gambar 2.. Patofisiologi Fraktur. Gambar 3.. Tipe-tipe Fraktur Secara Umum. Gambar 4.. Metode Traksi. Gambar 5.. Teknik Plaster. Gambar 6.. Fiksasi Internal. Gambar 7.. Klasifikasi Fraktur Terbuka (Gustilo dan Anderson). Gambar 8.. Sintesis CRP. Gambar 9.. Kerangka Teori. Gambar 10.. Kerangka Konsep. Gambar 11.. Alur Penelitian. xix Universitas Sumatera Utara.
(20) DAFTAR GRAFIK. Grafik 1.. Kadar CRP Pasien dengan Infeksi. Grafik 2.. Kadar CRP Pasien tidak Infeksi. xx Universitas Sumatera Utara.
(21) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktural tulang. Fraktur dapat bersifat total ataupun parsial yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan, sering diikuti oleh kerusakan jaringan lunak dengan berbagai macam derajat, mengenai pembuluh darah, otot dan persarafan. Fraktur dapat berupa retakan, patah, atau serpihan dari korteks; sering patahan terjadi sempurna dan bagian tulang bergeser. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur.1 Fraktur bukan hanya persoalan terputusnya kontinuitas tulang dan bagaimana mengatasinya, akan tetapi harus ditinjau secara keseluruhan dan harus diatasi secara simultan. Harus dilihat apa yang terjadi secara menyeluruh, bagaimana, jenis penyebabnya, apakah ada kerusakan kulit, pembuluh darah, syaraf, dan infeksi.2 Antibiotik profilaksis terbukti mengurangi kejadian infeksi dan dianjurkan untuk tindakan dengan resiko infeksi yang tinggi. Selain itu, antibiotik profilaksis juga diberikan jika diperkirakan akan terjadi infeksi dengan resiko yang serius seperti pada pemasangan implan, penggantian sendi, dan operasi yang lama. Pemberian. antibiotik. profilaksis. harus. mempertimbangkan. kemungkinan. terjadinya alergi, resistensi bakteri, superinfeksi, interaksi obat, dan biaya. Pemberiannya dilakukan 30 menit sebelum insisi, dengan jenis antibiotik disesuaikan dengan jenis kuman yang paling sering mengakibatkan infeksi pada daerah tersebut. Pada umumnya adalah sepalosporin generasi I atau II. Pada tahap intra operatif, yang harus diperhatikan adalah bahwa semakin lama operasi, resiko infeksi semakin tinggi, tindakan yang mengakibatkan terbentuknya jaringan 1 Universitas Sumatera Utara.
(22) 2. nekrotik harus dihindarkan, kurangi dead space, pencucian luka operasi harus dilakukan dengan baik, dan bahan yang digunakan untuk jahitan harus sesuai kebutuhan seperti bahan yang mudah diserap atau monofilamen. 3 Deteksi awal terhadap kejadian infeksi paska operasi dapat meminimalkan angka morbiditas. Indikator yang. dapat digunakaan sebagai penanda infeksi. secara klinis diantaranya adalah demam, takikardi, dan peningkatan jumlah leukosit dan eritrocyte sedimentation rate (ESR). Pemeriksaan laboratorium lainnya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan C–reactive protein (CRP). C– reactive protein (CRP) merupakan fase akut protein yang bereaksi secara cepat sehingga berguna untuk mendeteksi awal terjadinya infeksi.. Peningkatan CRP. lebih jelas terlihat pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri, dimana peningkatan ini lebih spesifik dari pada gejala klinis.4 White dkk membandingkan kadar CRP setelah dilakukan operasi total hip repleacement (THR) dan total knee repleacement (TKR). Mereka menemukan bahwa kadar CRP meningkat mencapai puncaknya 48 jam setelah operasi, dan kadar CRP paska TKR lebih besar bila dibandingkan dengan paska THR. Selain itu White juga menyatakan bahwa hasil penelitiannya mendukung CRP sebagai indikator awal untuk mendeteksi adanya infeksi. 5 Pada penelitian yang dilakukan oleh Douraiswami dkk di Departement of Orthopaedics and Microbiology, Jawaharlal Institute of Post Graduate Medical Education and Research (JIPMER) India, dari 30 pasien yang mengalami fraktur terbuka 11 diantaranya mengalami infeksi, kadar CRP hari ke dua mengalami peningkatan pada 27 pasien dan mengalami penurunan kembali secara nyata pada hari ke 4, namun pada pasien yang mengalami infeksi kadar CRP tidak mengalami penurunan.4. I.2.. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, dirumuskan pertanyaan. penelitian sebagai berikut, “Apakah kadar CRP dapat digunakan sebagai deteksi. Universitas Sumatera Utara.
(23) 3. awal terhadap infeksi pada pasien pasca operasi fraktur tertutup di RSUP H. Adam Malik Medan?” I.3.. Hipotesis “Terdapat perbedaan kadar C-reaktive protein antara pasien yang tidak. mengalami infeksi dengan pasien yang mengalami infeksi paska operasi fraktur tertutup”. I.4.. Tujuan Penelitian. 1.4.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pemeriksaan kadar CRP dapat digunakan sebagai deteksi awal terhadap infeksi paska operasi fraktur tertutup di RSUP H. Adam Malik Medan. 1.4.2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui perbedaan kadar CRP antara pasien yang tidak mengalami infeksi dan pasien yang mengalami infeksi paska operasi fraktur tertutup sebelum tanda klinis infeksi timbul. I.5.. Manfaat Penelitian. I.5.1. Manfaat teoritik Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui ada atau tidaknya perbedaan kadar CRP antara pasien yang tidak mengalami infeksi dan pasien yang mengalami infeksi paska operasi fraktur tertutup. Selain itu penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian yang berkaitan secara lebih lanjut. I.5.2. Manfaat Praktis Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat di terapkan kepada pasien-pasien dengan fraktur tertutup. khususnya di RSUP H. Adam. Universitas Sumatera Utara.
(24) 4. malik Medan, sehingga gejala awal terjadinya infeksi pada fraktur tertutup dapat diketahui dengan segera.. Universitas Sumatera Utara.
(25) 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.. Fraktur. 2.1.1. Definisi Fraktur adalah kerusakan struktural kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur dapat terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsi . 6 2.1.2. Epidemiologi Kecelakaan lalu lintas sering sekali terjadi. Ratusan orang meninggal dan luka-luka tiap tahun karena peristiwa ini. Kecelakaan lalulintas merupakan pembunuh nomor tiga di Indonesia, setelah penyakit jantung dan stroke. Menurut data kepolisian Republik Indonesia Tahun 2003, jumlah kecelakaan di jalan mencapai 13.399 kejadian, dengan kematian mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat, dan 8.694 mengalami luka ringan. Dengan data itu, rata-rata setiap hari terjadi 40 kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan 30 orang meninggal dunia. Adapun di Sulawesi Selatan, jumlah kecelakaan juga cenderung meningkat di mana pada tahun 2001 jumlah korban mencapai 1717 orang, tahun selanjutnya 2.277 orang, 2003 sebanyak 2.772 orang. Tahun 2004, jumlah ini meningkat menjadi 3.977 orang. Tahun 2005 dari Januari sampai September, jumlah korban mencapai 3.620 orang dengan korban meninggal 903 orang. Trauma yang paling sering terjadi dalam sebuah kecelakaan adalah fraktur (patah tulang). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur dibagi atas fraktur terbuka, yaitu jika patahan tulang itu menembus kulit sehingga berhubungan dengan udara luar dan fraktur tertutup, yaitu jika fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar. Secara umum, fraktur terbuka bisa diketahui dengan melihat adanya tulang yang menusuk kulit dari dalam, biasanya disertai. Universitas Sumatera Utara.
(26) 6. perdarahan. Adapun fraktur tertutup, bisa diketahui dengan melihat bagian yang dicurigai mengalami pembengkakan, terdapat kelainan bentuk berupa sudut yang mengarah ke samping, depan, atau belakang. Selain itu, ditemukan nyeri gerak, nyeri tekan, dan perpendekan tulang. Dalam kenyataan sehari-hari, fraktur yang sering terjadi adalah fraktur ekstremitas dan fraktur vertebra. Fraktur ekstremitas mencakup fraktur pada tulang lengan atas, lengan bawah, tangan, tungkai atas, tungkai bawah, dan kaki.7 2.1.3. Etiologi Terdapat perbedaan konsep penyebab fraktur berdasarkan jenis tulang. Pada tulang kortikal, karena ia dapat menahan kompresi dan shearing force, maka penyebabnya adalah tension failure, dimana tulang diputar atau ditarik oleh gaya yang menarik tulang ke arah yang berlawanan. Gaya ini cukup kuat sehingga menyebabkan tulang panjang ini bengkok sehingga menimbulkan sisi yang cekung pada tulang dan biasanya menyebabkan fraktur tipe transvers atau oblik. Terdapat perhatian yang khusus pada anak-anak dimana tulang kortikalnya adalah seperti batang pohon muda, kekuatan berputar menyebabkan tension failure pada daerah cekung yang bengkok dan menyebabkan greenstick fracture. Pada tulang cancellous, gaya kompresi menyebabkan fraktur kompresi serta buckle fracture, torus fracture pada anak-anak.4 Fraktur umumnya disebabkan oleh energi tinggi akibat trauma, paling sering dari pukulan langsung, seperti dari jatuh atau tabrakan kendaraan bermotor. Dapat juga disebabkan oleh luka tembak, maupun kecelakaan kerja. Tingkat keparahan fraktur berhubungan langsung dengan lokasi dan besarnya gaya yang mengenai tubuh. Ukuran luka bisa hanya beberapa milimeter hingga terhitung diameter. Tulang mungkin terlihat atau tidak terlihat pada luka.5. Universitas Sumatera Utara.
(27) 7. Gambar 1. Pola Fraktur A) pola spiral (twisting) B) pola oblique (kompresi) C), triangular „butterfly‟ fragment (bending) dan pola transversal (peregangan) 2.1.4. Patofisiologi Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang dimana trauma yang terjadi kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Ada 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur yaitu ekstrinsik (meliputi kecepatan, durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan), dan faktor intrinsik meliputi kapasitas tulang mengabsorbsi energi trauma. Yang dapat menyebabkan terjadinya patah tulang meliputi trauma langsung dan tidak langsung.4 Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur dan biasanya jaringan lunak tetap utuh. Tekanan pada tulang dapat berputar, kompresi bahkan tarikan. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.5. Universitas Sumatera Utara.
(28) 8. Gambar 2. Patofisiologi Fraktur 2.1.5. Klasifikasi Berdasarkan kontinuitas tulangnya, fraktur dapat dibagi menjadi:6 1. Fraktur komplit, terjadi jika tulang terpisah menjadi dua fragmen atau lebih. 2. Fraktur inkomplit, terjadi jika tulang tidak terpisah sepenuhnya dan periosteum tidak mengalami kerusakan pada kontinuitasnya. 3. Fraktur physeal, fraktur yang melewati fisis yang sedang tumbuh merupakan kasus yang berbeda. Kerusakan terhadap kartilago epifisis. Universitas Sumatera Utara.
(29) 9. dapat memberikan dampak deformitas secara progresif jika dibandingkan terhadap derajat keparahan cedera yang tampak.. Gambar 3. Tipe-tipe fraktur secara umum. (a) Incomplete (‘greenstick’) fracture (pada ulna); (b) Displaced transverse fracture; (c) Oblique fracture; (d) Spiral fracture (e) Segmental fracture (f) Compression fracture of lumbar vertebra; and (g) avulsion fracture (pada lateral condyle humerus. Dapat juga dipakai klasifikasi secara anatomis atau yang dikenal sebagai klasifikasi AO/OTA (Orthopaedic Trauma Association/Arbeitsgemeinschaft für Osteosynthesenfragen) yang pertama diperkenalkan Müller dan kawan-kawan :7 Nomor pertama menunjukkan tulang yang terkena . 1 = humerus. . 2 = radius/ulna. . 3 = femur. . 4 = tibia/fibula. . 5 = spine. . 6 = pelvis/acetabulum. . 7 = hand. . 8 = foot. . 9 = Craniomaxillofacial bones. Nomor kedua menunjukkan segmen . 1 = proximal. . 2 = diaphyseal. Universitas Sumatera Utara.
(30) 10. . 3 = distal. . 4 = malleolar. Huruf Menunjukkan pola fraktur . A = simple; extra-articular (pada metafisis). . B = wedge; partial- articular (pada metafisis). . C = complex; complete-articular (pada metafisis). Dua huruf terakhir menunjukkan morfologi fraktur. . Klasifikasi klinis o Fraktur tertutup (simple fracture): suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. o Fraktur terbuka (compound fracture): fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from without (dari luar). Fraktur terbuka dibagi berdasarkan klasifikasi GustiloAnderson, yang pertama kali diajukan pada tahun 1976 dan modifikasi pada tahun 1984.5. 2.1.6. Diagnosis Diagnosis ditegakan berdasarkan pada kondisi pasien yang datang. Pada umumnya adalah masalah trauma, oleh karena itu penanganan pasien haruslah mengikuti prinsip ATLS (Advanced Trauma Life Support).3,4 . Anamnesis Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik,. fraktur), baik yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak.4 . Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya : a. Syok, anemia atau perdarahan. b. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.. Universitas Sumatera Utara.
(31) 11. c. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis. . Pemeriksaan lokal a. Inspeksi (Look) Bandingkan dengan bagian yang sehat. Perhatikan posisi anggota gerak. Keadaan umum penderita secara keseluruhan. Ekspresi wajah karena nyeri. Lidah kering atau basah. Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan. Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup atau fraktur terbuka. Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari. Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan. Lakukan survey pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain. Perhatikan kondisi mental penderita. Keadaan vaskularisasi. 2. Palpasi (Feel) Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena biasanya mengeluh sangat nyeri. Temperatur setempat yang meningkat. Nyeri tekan. Nyeri tekan yang bersifat superficial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang. Krepitasi dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati.. Universitas Sumatera Utara.
(32) 12. Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma, temperatur kulit. Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai. 3. Pergerakan (Move) Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.6 Pemeriksaan Neurologis Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia .Kelainan saraf yang didapatkan harus dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan selanjutnya.7 Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaliknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis. Untuk mendeskripsikan fraktur pada pemeriksaan radiologi dapat diikuti panduan sebagai berikut:1 Site Extent. Universitas Sumatera Utara.
(33) 13. Configuration Relationship of Fracture fragment to each other Relationship of the fracture of external environment Complications 2.1.7. Penanganan Fraktur Penanganan Fraktur Tertutup Banyak pasien dengan fraktur tertutup mengalami cedera ganda. Terapi yang tepat di tempat kecelakaan sangat penting. Luka harus ditutup dengan pembalut steril atau bahan yang bersih dan dibiarkan tidak terganggu hingga pasien mencapai bagian rawat kecelakaan. Sedangkan bagian yang mengalami fraktur harus distabilisasi dengan pemasangan bidai.3,4 Di Rumah Sakit, penilaian umum yang cepat merupakan langkah yang pertama, dan setiap keadaan yang membahayakan jiwa dapat diatasi. Luka kemudian diperiksa, idealnya dipotret dengan kamera polaroid. Setelah itu dapat ditutup lagi dan dibiarkan tidak terganggu hingga pasien berada di kamar bedah. Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab: 1. Mechanism of Injury 2. Injury Sustained 3. Signs and Symptoms 4. Treatment 5. Allergies 6. Medications 7. Past Illness & Pregnancy 8. Last Meal 9. Events/Environment Surrounding Injury Prinsip umum penanganan fraktur yang dapat dipakai adalah :5 1. First, do no harm. Universitas Sumatera Utara.
(34) 14. 2. Tatalaksana dengan pengetahuan diagnosis dan prognosis yang diketahui dengan pasti. 3. Pilih terapi dengan target tertentu. Pada posisi ini, seorang dokter haruslah berbicara kepada pasiennya mengenai apa yang penting dalam hidupnya dan kemungkinan yang bisa dilakukan untuk kecelakaan yang dialaminya. 4. Kerjasamalah dengan “Hukum Alami” 5. Tatalaksana haruslah realistis dan praktis Penatalaksanaan fraktur tertutup meliputi tindakan life saving dan life limb dengan resusitasi sesuai dengan indikasi, pembersihan luka dengan irigasi, eksisi jaringan mati dan debridement, penutupan luka, stabilisasi fraktur dan fisioterapi. Tindakan definitif dihindari pada hari ketiga atau keempat karena jaringan masih inflamasi/ infeksi dan sebaiknya ditunda sampai 7-10 hari, kecuali dapat dikerjakan sebelum 6-8 jam pasca trauma. Alur penanganan fraktur secara umum adalah sebagai berikut : 1. Pertolongan pertama Secara umum adalah untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dan mencegah gerakan-gerakan fragmen yang dapat merusak jaringan sekitarnya. Stabilisasi fraktur bisa menggunakan splint atau bandage yang mudah dikerjakan dan efektif. Luka ditutup dengan material yang bersih dan steril. Perdarahan dikontrol dengan bebat-tekan. 2. Resusitasi Penatalaksanaan. sesuai. dengan. ATLS (Advanced. Trauma. Life. Support) dengan memberikan penanganan sesuai prioritas (resusitasi), bersamaan itu pula dikerjakan stabilisasi fraktur agar terhindar dari komplikasi. Kehilangan banyak darah pada fraktur tertutup dapat mengakibatkan syok hipovolemik dan dapat diperberat oleh rasa nyeri yang dapat menyebabkan syok neurogenik. Tindakan resusitasi dilakukan dilakukan bila ditemukan tanda syok hipovolemik, gangguan nafas atau denyut jantung karena fraktur terbuka seringkali bersamaan dengan cedera organ lain. Penderita diberikan resusitasi cairan Ringer Laktat. Universitas Sumatera Utara.
(35) 15. atau transfusi darah dan pemberian analgetik selama tidak ada kontraindikasi. Pemeriksaan radiologis dilakukan setelah pasien stabil. Meski, terdapat beberapa indikasi dimana pasien harus didorong ke kamar bedah untuk dilakukan pembedahan (surgical bleeding control) segera. 3. Penilaian awal Pemeriksaan. yang. teliti. dan. hati-hati. merupakan. dasar dalam. observasi dan penanganan awal yang memadai. Fakta-fakta pada pemeriksaan harus direkam dengan baik termasuk trauma pada daerah atau organ lain dan komplikasi akibat fraktur itu sendiri. 4. Debridement Operasi bertujuan untuk membersihkan luka dari benda asing dan jaringan mati, memberikan persediaan darah yang baik di seluruh bagian itu. Dalam anestesi umum, pakaian pasien dilepas, sementara itu asisten mempertahankan traksi pada tungkai yang mengalami cedera dan menahannya agar tetap ditempat. Pembalut yang sebelumnya digunakan pada luka diganti dengan bantalan yang steril dan kulit di sekelilingnya dibersihkan dan dicukur. Kemudian bantalan tersebut diangkat dan luka diirigasi seluruhnya dengan sejumlah besar garam fisiologis. Irigasi akhir dapat disertai obat antibiotika, misalnya basitrasin. Turniket tidak digunakan karena akan lebih jauh membahayakan sirkulasi dan menyulitkan pengenalan struktur yang mati. Debridement dapat juga dilakukan dengan : Pembersihan luka Pembersihan luka dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. . Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridement) Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi. Universitas Sumatera Utara.
(36) 16. pada kulit, jaringan subkutaneus, lemak, fasia, otot dan fragmenfragmen yang lepas. . Pengobatan fraktur itu sendiri Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu traksi skeletal atau reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna tulang. Fraktur grade II dan III sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna.. . Penutupan kulit Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai dari terjadinya kecelakaan), maka sebaiknya kulit ditutup. Hal ini tidak dilakukan apabila penutupan membuat kulit sangat tegang. Dapat dilakukan split thickness skin-graft serta pemasangan drainase isap untuk mencegah akumulasi darah dan serum pada luka yang dalam. Luka dapat dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak lebih dari 10 hari. Kulit dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure. Yang perlu mendapat perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang mengakibatkan sehingga kulit menjadi tegang.. . Pemberian antibiotik Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dalam dosis yang adekuat sebelum, pada saat dan seudah tindakan operasi.. 5. Penanganan jaringan lunak Pada kehilangan jaringan lunak yang luas dapat dilakukan soft tissue transplantation atau flap pada tindakan berikutnya, sedangkan tulang yang hilang dapat dilakukan bone grafting setelah pengobatan infeksi berhasil baik. 6. Penutupan luka Pada luka yang kecil dan tidak banyak kontaminasi setelah dilakukan debridement dan irigasi dapat langsung dilakukan penutupan secara primer tanpa tegangan. Pada luka yang luas dan dicurigai kontaminasi yang berat sebaiknya dirawat secara terbuka, luka dibalut kasa steril dan dilakukan evaluasi setiap hari. Setelah 5 – 7 hari dan luka bebas dari. Universitas Sumatera Utara.
(37) 17. infeksi dapat dilakukan penutupan kulit secara sekunder atau melalui tandur kulit. Penyambungan tulang pada anak relatif lebih cepat, maka reposisi. dan. fiksasi. dikerjakan. secepatnya. untuk. mencegahnya. deformitas. 7. Stabilitas fraktur Dalam melakukan stabilitas fraktur awal penggunaan gips sebagai temporary splinting dianjurkan sampai dicapai penanganan luka yang adekuat, kemudian bisa dilanjutkan dengan pemasangan gips sirkuler atau diganti fiksasi dalam dengan plate and screw, intermedullary nail atau external fixator devices sebagai terapi stabilisasi definitif. Pemasangan fiksasi dalam dapat dipasang setelah luka jaringan luka baik dan diyakini tidak ada infeksi lagi. Traksi Traksi digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. Menurut Brunner & Suddarth (2005), traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh untuk meminimalisasi spasme otot, mereduksi, mensejajarkan, serta mengurangi deformitas. Jenis – jenis traksi meliputi: a) Traksi kulit : Buck traction, Russel traction, Dunlop traction. b) Traksi skeletal: traksi skelet dipasang langsung pada tulang dengan menggunakan pin metal atau kawat. Beban yang digunakan pada traksi skeletal 7 kilogram sampai 12 kilogram untuk mencapai efek traksi.. Universitas Sumatera Utara.
(38) 18. Gambar 4. Metode traksi A). Traksi dengan gravitasi (B,C,D) Skin Traksi (E) skeletal traksi Imobilisasi Gips (Plaster of Paris) Penggunaan gips sebagai fiksasi agar fragmen-fragmen fraktur tidak bergeser setelah dilakukan manipulasi / reposisi atau sebagai pertolongan yang bersifat sementara agar tercapai imobilisasi dan mencegah fragmen fraktur tidak merusak jaringan lunak disekitarnya. Keuntungan lain dari penggunaan gips adalah murah dan mudah digunakan oleh setiap dokter, non toksik, mudah digunakan, dapat dicetak sesuai bentuk anggota gerak, bersifat radiolusen dan menjadi terapi konservatif pilihan. Pada fraktur terbuka derajat III, dimana terjadi kerusakan jaringan lunak yang hebat dan luka terkontaminasi, penggunaan gips untuk stabilisasi fraktur cukup beralasan untuk mempermudah perawatan luka. Setelah luka baik dan bebas infeksi penggunaan gips untuk fiksasi fraktur dapat dilanjutkan. Universitas Sumatera Utara.
(39) 19. untuk menunjang secondary bone healing dengan pembentukan kalus.. Gambar 5. Teknik Plaster. Teknik plester Menerapkan plester yang pas dan efektif memerlukan pengalaman dan perhatian terhadap detail. (a) Troli plester yang lengkap (b) anestesi yang memadai danStudi film x-ray yang teliti sangat diperlukan. (c) Untuk plester di bawah lutut paha terbaik didukung di blok empuk. (d) Stockinette diulirkan dengan lancar ke kaki. (e) Untuk plester empuk wol digulung (f) Plaster selanjutnya diaplikasikan dengan lancar, mengambil selip dengan setiap belokan, dan (g) merapikan setiap lapisan dengan kuat ke yang di bawahnya. (h)Saat masih basah para pemain mencetak dari titik poin. Pemasangan fiksasi Pilihan metode yang dipergunakan untuk fiksasi dalam ada beberapa macam, yaitu: 1. Pemasangan plate and screws Pemasangan fiksasi dalam mempunyai resiko terjadi komplikasi infeksi, non-union, fraktur berulang. Pada penelitian awalnya pemasangan plat pada fraktur terbuka diketahui telah memperbaiki. Universitas Sumatera Utara.
(40) 20. fraktur dengan penyambungan korteks langsung tanpa pembentukan kalus. Osteosit langsung menyeberangi gap antar fragmen fraktur. Tapi pada kenyataannya terjadi osteogenesis meduler dan sedikit pembentukan kalus periosteum. Pada penelitian selanjutnya diketahui bahwa pada pemasangan plat itu sendiri telah mengganggu vaskularisasi ke kortek tulang oleh plat yang berakibat gangguan aliran darah yang menyebabkan nonunion. Mengatasi permasalahan ini para pakar AO/ASIF (Association of Osteosynthesis/Association for the Study of Internal Fixation) dari Swiss telah menciptakan antara lain LCDCP (Limited Contact Dynamic Compression Plate) dan ada yang membuat inovasi baru dengan merekonstruksi plat yang non-rigid dengan tidak memasang sekrup yang banyak sehingga terjadi pembentukan kalus.7 Pemasangan plat perlu hati-hati dalam melakukan irisan jaringan lunak agar tidak terjadi kerusakan periosteum, fascia dan otot karena dapat mengakibatkan non-union. Penutupan kulit diatas plat sering mengalami. kesulitan. dan. dapat. terjadi. nekrosis. kulit. atau. infeksi superfisial. Untuk pencegahan kerusakan jaringan lunak dilakukan dengan pemasangan plat dibawah kulit dan sekrup langsung dipasang ke tulang dengan bantuan alat fluoroskopi. 7 2. Pemasangan screws or wires Untuk melakukan fiksasi fraktur diafisis jarang menghasilkan fraktur yang stabil. Pemasangan screw banyak digunakan dalam fiksasi fraktur intraartikuler dan periartikuler, baik digunakan secara tunggal atau kombinasi bersamaan dengan pemasangan plat atau external fixation device.3,4,5 3. Pemasangan intramedullary nails/rods Pada pemasangan reamed intramedullary nails dapat menyebabkan ujung ujung fragmen fraktur diafisis mengalami robekan periosteum kehilangan blood supply sehingga meningkatkan kejadian infeksi dan. Universitas Sumatera Utara.
(41) 21. non-union. Secondary nailing dilaksanakan setelah fiksasi luar dengan syarat tidak ada tanda infeksi local maupun pin tract infection. 7. Gambar 6. Fiksasi Internal. a) Screws, b) plate and screws, c) flexible intermedullary nail d) interlocking nails and screws, e) dynamic compression srew and plate, f) K-wires, g) tension-band wiring. Universitas Sumatera Utara.
(42) 22. Penanganan Fraktur Terbuka Pasien dengan fraktur terbuka mungkin memiliki cedera multipel. Penatalaksanaan ditentukan oleh type fraktur, sifat perlukaan jaringan lunak (meliputi ukuran luka) dan derajat kontaminasi. Klasifikasi Gustilo pada fraktur terbuka merupakan yang paling banyak dipakai. Menurut Gustilo dan Anderson, fraktur terbuka dibagi menjadi 3 kelompok : Grade I. : kulit terbuka < 1 cm, bersih, biasanya dari luar ke dalam; kontusio otot minimal; fraktur simple transverse atar short oblique.. Grade II. : laserasi > 1 cm, dengan kerusakan jaringan lunak yang luas, kerusakan komponen minimal hingga sedang; fraktur simple transverse atau short oblique dengan kominutif yang minimal. Grade III. : kerusakan jaringan lunak yang luas, termasuk otot, kulit, struktur neurovaskularl seringkali merupakan cidera oleh energy yang besar dengan kerusakan komponen yang berat. III A : laserasi jaringan lunak yang luas, tulang tertutup secara adekuat; fraktur segmental, luka tembak, periosteal stripping yang minimal III B : cedera jaringan lunak yang luas dengan periosteal stirpping dan tulang terekspos, membutuhkan penutupan flap. jaringan. lunak;. sering. berhubungan. dengan. kontaminasi yang massif III C : cedera vaskuler yang membutuhkan perbaikan 1. Universitas Sumatera Utara.
(43) 23. Gambar 7. Klasifikasi Fraktur Terbuka (Gustilo dan Anderson) Prinsip penanganan fraktur terbuka : a. Semua fraktur terbuka dikelola secara emergensi. b. Lakukan penilaian awal akan adanya cedera lain yang dapat mengancam jiwa. c. Pemberian antibiotik. d. Lakukan debridement dan irigasi luka. e. Lakukan stabilisasi fraktur. f. Pencegahan tetanus. g. Lakukan rehabilitasi ektremitas yang mengalami fraktur. Debridement adalah pengangkatan jaringan yang rusak dan mati sehingga luka menjadi bersih. Untuk melakukan debridement yang adekuat, luka lama dapat diperluas, jika diperlukan dapat membentuk irisan yang berbentuk elips untuk mengangkat kulit, fasia serta tendon ataupun jaringan yang sudah mati.. Universitas Sumatera Utara.
(44) 24. Debridement yang adekuat merupakan tahapan yang penting untuk pengelolaan. Debridement harus dilakukan sistematis, komplit serta berulang. Diperlukan cairan yang cukup untuk fraktur terbuka. Grade I diperlukan cairan yang bejumlah 1-2 liter, sedangkan grade II dan grade III diperlukan cairan sebanyak 5-10 liter, menggunakan cairan normal saline. Pemberian antibiotika adalah efektif mencegah terjadinya infeksi pada pada fraktur terbuka. Antibiotika yang diberikan sebaiknya dengan dosis yang besar. Untuk fraktur terbuka antibiotika yang dianjurkan adalah golongan cephalosporin dan dikombinasi dengan golongan aminoglikosida. Perawatan lanjutan dan rehabilitasi fraktur terbuka : 1.. Hilangkan nyeri.. 2.. Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dan flagmen patah tulang.. 3.. Mengusahakan terjadinya union.. 4.. Mengembalikan fungsi secara optimal dengan mempertahankan fungsi otot dan sendi dan pencegahan komplikasi.. 5.. Mengembalikan fungsi secara maksimal dengan fisioterapi. 4, 5. Tindakan Pembedahan Hal ini penting untuk menstabilkan patah tulang sesegera mungkin untuk mencegah kerusakan jaringan yang lebih lunak. Tulang patah dalam fraktur terbuka biasanya digunakan metode fiksasi eksternal atau internal. Metode ini memerlukan operasi. 4, 5 a.. Fiksasi Internal Selama operasi, fragmen tulang yang pertama direposisi (dikurangi) ke posisi normal kemudian diikat dengan sekrup khusus atau dengan melampirkan pelat logam ke permukaan luar tulang. Fragmen. juga. dapat. diselenggarakan. bersama-sama. dengan. memasukkan batang bawah melalui ruang sumsum di tengah tulang. Karena fraktur terbuka mungkin termasuk kerusakan jaringan dan. Universitas Sumatera Utara.
(45) 25. disertai dengan cedera tambahan, mungkin diperlukan waktu sebelum operasi fiksasi internal dapat dilakukan dengan aman. b.. Fiksasi Eksternal Fiksasi eksternal tergantung pada cedera yang terjadi. Fiksasi ini digunakan untuk menahan tulang tetap dalam garis lurus. Dalam fiksasi eksternal, pin atau sekrup ditempatkan ke dalam tulang yang patah di atas dan di bawah tempat fraktur. Kemudian fragmen tulang direposisi. Pin atau sekrup dihubungkan ke sebuah lempengan logam di luar kulit. Perangkat ini merupakan suatu kerangka stabilisasi yang menyangga tulang dalam posisi yang tepat.. 2.1.8. Komplikasi Komplikasi yang paling sering adalah infeksi akut, osteomyelitis, non union, mal union dan gangguan atau kehilangan fungsi.(13). 2.2.. C-Reactive Protein. 2.2.1. Definisi C – reactive protein (CRP), disebut demikian karena ketika pertama kali ditemukan merupakan suatu substansi pada pasien dengan inflamasi akut yang bereaksi dengan C- (capsular) polysaccharida dari pneumococcus.(14) CRP pertama kali ditemukan oleh Tillet dan Francis pada tahun 1930. Ketika itu, kedua peneliti tersebut sedang mengadakan studi klinis dan laboratorium untuk mengembangkan terapi bagi infeksi pneumococcal pneumonia. Mereka menemukan suatu antigen baru yang disebut Fraksi C dan melanjutkannya dengan pemeriksaan imunologi terhadap pasien penderita infeksi pneumonia. Tilett dan Francis membuktikan bahwa Fraksi C dapat bereaksi kuat terhadap pasien yang berada dalam tahap awal infeksi dan infeksi akut, namun setelah pasien sembuh maka reaksi dengan Fraksi C menghilang. Dalam percobaan lanjutan, ternyata. Universitas Sumatera Utara.
(46) 26. Fraksi C tersebut juga dapat bereaksi dengan pasien penderita penyakit atau inflamasi lainnya, seperti endocarditis dan demam rematik akut. (14,15) CRP adalah suatu protein fase akut yang dapat menggambarkan suatu respon fase akut pada inflamasi. Fase akut tersebut dapat bersifat lokal dan sistemik. Fase akut inflamasi yang bersifat lokal diantaranya adalah vasodilatasi, agregasi platelet, neutrophil chemotaxis dan pelepasan enzim lysosomal. Sedangkan fase akut inflamasi yang bersifat sistemik adalah demam, leukositosis, dan perubahan pada sintesis protein fase akut di hepar.(4,6,10,14,15,17) Efek fase akut (acute phase response) yang timbul dapat dijumpai pada berbagai macam cedera jaringan seperti infeksi, reaksi imunoalergi, cedera thermal, hipoksia, trauma, pembedahan dan keganasan. Secara. klinis,. pemeriksaan dari acute phase protein berguna untuk membantu menegakkan diagnosa. Dikarenakan protein ini tidak bersifat spesifik, maka lokasi atau letak organ yang mengalami infeksi atau inflamasi tidak dapat diketahui sehingga kadar dari pemeriksaan acute phase protein. ini. dapat digunakan untuk menilai. perluasan aktivitas penyakit. Serupa dengan tumor markers, acute phase protein dapat digunakan untuk memonitor perkembangan penyakit terhadap respon terapi yang telah diberikan.(15) CRP bukan satu-satu nya protein fase akut. Protein fase akut lainnya adalah transport protein (hepatoglobin, ceruloplasmin,α1-trypsin inhibitor dan lain-lain), coagulation protein (fibrinogen, protrombin dan lain-lain) dan komponen komplemen (C3, C4, C5 dan lain-lain). CRP lebih dipilih untuk memonitor fase akut ini dikarenakan konsentrasi CRP meningkat relatif lebih tinggi dibandingkan konsentrasi dasarnya, bila dibandingkan dengan ESR CRP juga memiliki waktu yang singkat dan lebih sensitif dalam merespon suatu inflamasi. Selain itu tidak diperlukan biaya yang tinggi untuk melakukan pemeriksaan CRP. (15,19) 2.2.2. Sintesis dan struktur CRP CRP disintesis oleh hepatosit dan digolongkan sebagai suatu acute phase protein. CRP akan meningkat didalam konsentrasi plasma apabila terjadi infeksi. Universitas Sumatera Utara.
(47) 27. ataupun inflamasi. Apabila terjadi infeksi, sel-sel inflamasi seperti neutrophil granulocyte dan makropag akan melepas cytokines yaitu : IL-1, IL-6, IL8 dan lain- lain. Cytokines, terutama IL-6, merangsang sintesis CRP di dalam hepar.(14,15,17) Sintesa CRP di hati berlangsung sangat cepat setelah ada sedikit rangsangan, konsentrasi serum meningkat diatas 5mg/L selama 6-8 jam dan mencapai puncak sekitar 24-48 jam. Waktu paruh dalam plasma adalah 19 jam dan menetap pada semua keadaan sehat dan sakit, sehingga satu-satunya penentu konsentrasi CRP di sirkulasi adalah menghitung sintesa IL-6 dengan demikian menggambarkan secara langsung intensitas proses patologi yang merangsang produksi CRP. Kadar CRP akan menurun tajam bila proses peradangan atau kerusakan jaringan mereda dan dalam waktu sekitar 24-48 jam telah mencapai nilai normal kembali .Kadar CRP stabil dalam plasma dan tidak dipengaruhi variasi diurnal. (17) Clearance rate CRP adalah konstan, oleh karena itu kadar CRP di dalam darah hanya diatur oleh sintesis. CRP berfungsi sebagai opsonin terhadap bakteri, parasit dan kompleks immune. Pengukuran serial CRP dapat digunakan sebagai diagnostik untuk infeksi, monitoring efek terapi, dan deteksi dini pada kasuskasus rekuren.(15) CRP terdapat dalam serum normal walaupun dalam konsentrasi yang amat kecil. Dalam keadaan tertentu dengan reaksi inflamasi atau kerusakan jaringan baik yang disebabkan oleh penyakit infeksi maupun yang bukan infeksi, konsentrasi CRP dapat meningkat sampai 100 kali. Sehingga diperlukan suatu pemeriksaan yang dapat mengukur kadar CRP.. Universitas Sumatera Utara.
(48) 28. Gambar 8. Sintesis CRP. Kadar CRP normal di dalam plasma biasanya adalah 1 mg/L dengan batasan normal <10 mg/L. Kadar CRP di dalam plasma mulai meningkat antara 4-6 jam setelah trauma dan mencapai puncaknya setelah 24 sampai 48 jam dan kembali menurun pada hari ke 3. Peningkatan kadar CRP yang menetap setelah hari ke 3 paska pembedahan menandakan adanya infeksi.(4,15) CRP adalah anggota keluarga dari protein pentraksin, suatu protein pengikat kalsium dengan sifat pertahanan imunologis. Molekul CRP terdiri dari 5-6 subunit polipeptida non glikosilat yang identik, terdiri dari 206 residu asam amino, dan berikatan satu sama lain secara non kovalen, membentuk satu molekul berbentuk cakram (disc) dengan berat molekul 110 – 140 kDa, setiap unit mempunyai berat molekul 23 kDa. Eisenhardt dkk pada tahun 2009 menemukan bahwa C-Reactive Protein terdapat dalam 2 bentuk, yaitu bentuk pentamer (pCRP) dan monomer (mCRP). Bentuk pentamer dihasilkan oleh sel hepatosit sebagai reaksi fase akut dalam respon terhadap infeksi, inflamasi dan kerusakan jaringan. Bentuk monomer berasal dari pentamer CRP yang mengalami dissosiasi dan mungkin dihasilkan. Universitas Sumatera Utara.
(49) 29. juga oleh sel-sel ekstrahepatik seperti otot polos dinding arteri, jaringan adiposa dan makrofag.(15) 2.2.3. Fungsi biologis CRP Fungsi dan peranan CRP di dalam tubuh ( in vivo ) belum diketahui seluruhnya, banyak hal yang masih merupakan hipotesis. Meskipun CRP bukan suatu antibodi, tetapi CRP mempunyai berbagai fungsi biologis yang menunjukkan peranannya pada proses peradangan dan mekanisme daya tahan tubuh terhadap infeksi. Beberapa hal yang diketahui tentang fungsi biologis CRP ialah: (17) 1) CRP dapat mengikat C-polisakarida (CPS) dari berbagai bakteri melalui reaksi presipitasi/aglutinasi. 2) CRP dapat meningkatkan aktivitas dan motilitas sel fagosit seperti granulosit dan monosit/makrofag. 3) CRP dapat mengaktifkan komplemen baik melalui jalur klasik mulai dengan C1q maupun jalur alternatif. 4) CRP mempunyai daya ikat selektif terhadap limfosit T. Dalam hal ini diduga CRP memegang peranan dalam pengaturan beberapa fungsi tertentu selama proses keradangan. 5) CRP mengenal residu fosforilkolin dari fosfolipid, lipoprotein membran sel rusak, kromatin inti dan kompleks DNA-histon. 6) CRP dapat mengikat dan mendetoksikasi bahan toksin endogen yang terbentuk sebagai hasil kerusakan jaringan. 2.2.4. Inflamasi dan respon fase akut Inflamasi merupakan mekanisme proteksi yang terbatas terhadap trauma atau invasi mikroba dengan reaksi yang menghancurkan atau membatasi bahan yang berbahaya dan merusak jaringan. Inflamasi diperlukan tubuh untuk mempertahankan diri dari berbagai bahaya yang mengganggu keseimbangan tetapi juga dapt memperbaiki kerusakan struktur serta gangguan fungsi jaringan.. Universitas Sumatera Utara.
(50) 30. Reaksi inflamasi termasuk dalam respons imun nonspesifik. Bila terjadi inflamasi, sel-sel sistem imun yang tersebar di seluruh tubuh akan bergerak ke lokasi infeksi beserta produk-produk yang dihasilkannya.(17) Selama respon ini berlangsung terjadi 3 proses yang penting yaitu: . Peningkatan aliran darah ke daerah infeksi.. . Peningkatan permeabilitas kapiler akibat retraksi sel-sel endotel yang mengakibatkan molekul-molekul besar dapat menembus dinding vaskuler.. . Migrasi leukosit ke vaskuler. Gejala inflamasi dini ditandai oleh pelepasan berbagai mediator sel mast setempat seperti histamin dan bradikinin. Kejadian ini disertai dengan aktivasi komplemen, sistem koagulasi, sel-sel inflamasi dan sel endotel yang masingmasing melepas mediator yang menimbulkan efek sistemik seperti panas, neutrofilia dan protein fase akut. Proses inflamasi akan berjalan terus sampai antigen dapat disingkirkan. Sejumlah protein plasma secara bersama disebut protein-protein fase akut. Protein-protein ini menunjukkan peningkatan dramatis dalam menanggapi mediator-mediator yang bertindak sebagai tanda bahaya dini. (17) Suatu sifat utama dari CRP adalah kemampuannya mengikat ( dengan pola yang bergantung dengan kalsium ) sejumlah mikroorganisme yang mengandung fosforilkolin. dalam. membran. mereka,. kompleks. yang. berguna. untuk. mengaktifkan komplemen ( melalui jalur klasik ). Ini mengakibatkan deposisi C3b diatas permukaan mikroba yang kemudian diopsonisasi untuk perlekatan pada fagosit. Aktivasi komplemen berikutnya adalah terjadinya penarikan dan pemacuan neutrofil, fagosit yang telah aktif terikat pada mikroba yang telah diselaputi oleh C3b melalui permukaan reseptor C3b dan kemudian menelan mereka. CRP juga diikat C1q dan karenanya dapat mengaktifkan komplemen atau bekerja sebagai opsonin melalui interaksi dengan reseptor C1q pada fagosit. Peningkatan sintesis CRP akan meningkatkan viskositas plasma sehingga laju endap darah juga akan meningkat. Adanya CRP yang tetap tinggi menunjukkan infeksi yang tetap persisten.(15,17). Universitas Sumatera Utara.
(51) 31. Pemeriksaan CRP tidak dapat digunakan untuk mendiagnosa penyakit secara spesifik, namun dapat digunakan sebagai indikator jika ditemukan adanya inflamasi dan infeksi. Pemeriksaan CRP dapat berguna untuk menilai keadaan sebagai berikut : (14) . Inflammatory bowel disease. . Rheumatoid arthritis. . Gangguan system imun (penyakit lupus). . Pelvic inflammatory disease (PID). . Osteomyelitis. . Lymphoma. . Penyakit jaringan ikat. . Penyakit jantung. . Infeksi. . Pneumonia pcpneumococcal. . Demam rheumatik. . tuberkulosa. Universitas Sumatera Utara.
(52) 32. 2.3.. Kerangka teori Fraktur tertutup. Penatalaksanaan. Komplikasi. Infeksi. Antibotik. stabilisasi. Akut. fraktur. rehabilitasi. Non union. Malunion. Delayed union. Kronik. laboratorium. Gejala klinis. Peningkatan suhu. Peningkatan leukosir. Nyeri. Peningkatan ESR. Kemerahan. Peningkatan CRP. discharge. pembengkakan. Gambar 9. Kerangka teori. Universitas Sumatera Utara.
(53) 33. 2.4.. Kerangka Konsep. Infeks (+). CRP Meningkat Fraktur Tertutup. Tindakan Operatif. Infeksi (-). Infeksi (+) CRP Normal Infeksi (-). Gambar 10. Kerangka Konsep. Universitas Sumatera Utara.
(54) 34. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian yang bersifat analitik prospektif dengan pendekatan crossectional dengan tujuan menganalisa apakah terdapat perbedaan kadar C-reactive protein antara pasien yang tidak mengalami infeksi dengan pasien yang mengalami infeksi paska operasi fraktur tertutup. 3.2. Populasi Penelitian Populasi target dari penelitian adalah pasien yang menjalani operasi di RSUP H. Adam Malik. Populasi terjangkau penelitian ini adalah pasien laki-laki dan perempuan bangsa Indonesia yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP H. Adam Malik Medan dengan fraktur tertutup dan menjalani operasi. 3.3. Subyek Penelitian Subyek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari seluruh populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Sedangkan subyek yang diteliti adalah subyek yang diinginkan yang tetap bertahan sampai akhir penelitian dan masuk kedalam analisa akhir. A. Kriteria Inklusi 1. Laki – laki dan perempuan dengan fraktur tertutup pada ekstremitas atas dan atau bawah. 2. Menjalani tindakan operatif 3. Dirawat di rumah sakit minimal 5 hari 4. Bersedia ikut dalam penelitian B. Kriteria Ekslusi 1. Pasien dengan fraktur terbuka yang disertai trauma lain. 2. Pasien dengan infeksi traktus urinarius, infark micardial, pneumonia dan gejala infeksi yang terdeteksi lainnya.. Universitas Sumatera Utara.
(55) 35. 3.4. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dan seleksi sampel dilaksanakan di rumah sakit yaitu RSUP. Haji Adam Malik. Penelitian dimulai bulan Maret 2018 sampai dengan bulan Juli 2018 dengan mengambil data pasien dan melakukan pemeriksaan C-reactive protein antara pasien yang tidak mengalami infeksi dengan pasien yang mengalami infeksi paska operasi fraktur tertutup. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit tipe A. 3.5. Perkiraan Besar Sampel Besarnya sampel dihitung berdasarkan rumus analitik tidak berpasangan numerik kategorikal. Besar sampel dihitung berdasarkan rumus :21 (zα + zβ) s. n=. x 1 – x2. . Kesalahan tipe I ditetapkan sebesar 99%, sehingga Zα = 1.96. . Kesalahan tipe II ditetapkan dengan power 99%, maka Zß = 1.96. . Dengan standar deviasi gabungan sebesar 0.58. . Dengan X1= 26 dan X2= 1.9 8. Dengan memasukan nilai-nilai diatas, maka dapat diperoleh besar sampel minimum adalah sebanyak 1.017 ~ 2 subyek. Dari hasil penghitungan didapatkan besar sampel minimum sebesar 2 orang. Jadi minimum sampel yang dibutuhkan untuk masing-masing kelompok infeksi dan tidak infeksi sebanyak 2 orang. Cara pemilihan sampel yaitu consecutive sampling dimana semua subjek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subjek yang diperlukan terpenuhi.. Universitas Sumatera Utara.
(56) 36. 3.6.. Metode Pengambilan sampel Penelitian Metode pengambilan sampel dilakukan secara konsekutif sesuai dengan. urutan masuk di rumah sakit sampai jumlah yang diinginkan terpenuhi dalam periode tertentu. Sampel penelitian didapatkan dari data rekam medis dan mempunyai data yang lengkap. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan melakukan pemeriksaan kadar CRP pada pasien – pasien dengan fraktur tertutup paska operasi yang memenuhi kriteria inklusi yang masuk ke RSUP.H. Adam Malik Medan. Semua pasien mendapatkan antibiotik prophylaxis golongan cefalosporin. Dilakukan X – ray pada extremitas yang telibat, suhu tubuh diukur dan dilakukan pengambilan sampel darah rutin termasuk CRP dari vena perifer pasien, hari ke 2 dan hari ke 4 paska operasi. Pengukuran kadar CRP dilakukan secara semi kwantitatif dengan menggunakan metode Latex agglutinasi. 3.7.. Persetujuan Tindakan Medik Dalam pelaksanaan penelitian ini, setiap tindakan dilakukan setelah. pemberian informasi dan penanda tanganan informed consent. 3.8. Variabel Penelitian A. Variabel Bebas 1. Infeksi B. Variabel Terikat 1. Luka infeksi 2. Laboratorium: Leukosit, LED C. Variabel Perancu 1. Fraktur tertutup 2. Tindakan Operatif. 3.9. Definisi Operasional 1. Jenis kelamin: keadaan tubuh yang dibedakan secara fisik dan biologis berdasarkan organ genitalia eksterna, dibedakan antara laki-laki dan perempuan.. Universitas Sumatera Utara.
(57) 37. 2. Usia adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun. Usia responden digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu a. Kelompok 1: 5 – 15 tahun b. Kelompok 2: 16 – 25 tahun c. Kelompok 3: 25 – 55 tahun 3. Fraktur tertutup Suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar 4. Lokasi fraktur Lokasi fraktur adalah lokasi patah tulang terbuka pada tulang panjang. Di bagi menjadi 4 lokasi yaitu : a. Humerus b. Radius ulna c. Femur d. Tibia fibula 5. Infeksi luka Infeksi luka adalah apabila secara klinis di temukan salah satu dari kriteria di bawah ini:(21) . Dijumpai adanya pus pada luka. . Pasien harus memiliki 4 atau lebih dari gejala atau tanda sebagai berikut : . Demam >38º dan atau terdapat gangguan kesadaran. . Bengkak pada daerah luka. . Kemerahan pada daerah luka. . Peningkatan nyeri pada daerah luka. . Hangat pada daerah luka. . Luka memproduksi cairan serous. 6. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan leukosit dan laju endap darah.. 7. CRP. Universitas Sumatera Utara.
(58) 38. CRP adalah protein fase akut yang dapat menggambarkan suatu respon fase akut pada inflamasi. Kadar CRP normal. : < 6 mg/ dl. Kadar CRP meningkat. : apabila dijumpai adanya peningkatan kadar CRP pada hari ke 4 dibandingkan hari ke 2. Kadar CRP tetap. : apabila kadar CRP hari ke 2 dan ke 4 sama. Kadar CRP menurun. : apabila dijumpai adanya penurunan kadar CRP pada hari ke 4 dibandingkan hari ke 2. 3.10. Analisis Data Data dikumpulkan dalam bentuk data mentah, lalu diurutkan secara. sistematis dan dianalisis melalui program analisis statistik berbasis komputer. Tahapan analisis meliputi : 1) Analisis univariat untuk mengetahui gambaran karakteristik untuk distribusi masing-masing variabel. 2) Analisis bivariat untuk mengetahui perbedaan antara kadar setiap CRP digunakan uji Anova. Dan untuk mengetahui perbedaan antara kadar CRP pasien tidak infeksi dengan pasien infeksi di gunakan uji. Independent. Samples T Test.. Universitas Sumatera Utara.
(59) 39. 3.11. Alur Penelitian. Fraktur Tertutup. Luka Infeksi. Tindakan Operatif. Pemeriksaaan - observasi luka. Luka Tidak Infeksi. CRP hari ke-2 Paska operasi. - Pemeriksaan Lab. CRP hari ke-4 Paska operasi. Gambar AlurPenelitian Penelitian Gambar 11.4.Alur. Universitas Sumatera Utara.
(60) 40. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Penelitian Seluruh data diolah dan disajikan dalam bentuk tabel kemudian selanjutnya diklasifikasikan menjadi 1) gambaran umum, 2) distribusi karakteristik demografi subyek kadar CRP pasien pasca operasi fraktur tertutup, 3) analisa pengaruh demografi dan klinis subyek terhadap kadar CRP. 4.1.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian a. Penelitian dimulai bulan Maret 2018 sampai dengan bulan Juli 2018 dengan mengambil data pasien dan melakukan pemeriksaan C-reactive protein antara pasien yang tidak mengalami infeksi dengan pasien yang mengalami infeksi paska operasi fraktur tertutup. b. Didapatkan jumlah total 18 subyek yang diteliti sampai analisa akhir, dengan dibagi dengan jumlah seimbang antara pasien yang mengalami infeksi dan yang tidak mengalami infeksi. 4.1.2 Karakteristik Subyek Penelitian Seluruh gambaran karakteristik subyek penelitian ditampilkan dengan sistimatika 1) gambaran umum, 2) distribusi karakteristik demografi subyek kadar CRP pasien pasca operasi fraktur tertutup, dapat dilihat pada tabel 1.. 40. Universitas Sumatera Utara.
(61) 41. a. Distribusi karakteristik demografi subyek yang menjalani operasi fraktur tertutup. Nilai CRP 3. 2.82.8. 2.8. 2.8. 2.8. 2.82.8. 2.82.8. 2.82.8. 2.82.8. 2.8. 2.5. 2 1.5. 1.4. 1.4. 1.4. 2. 3. 4. 1.4. 1 0.5 0 1. 5. Post Op H2. 6. 7. 8. 9. 7. 8. 9. Post Op H4. Grafik 1. Kadar CRP Pasien dengan Infeksi. Nilai CRP 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0. 1. 2. 3. 4 Post Op H2. 5. 6 Post Op H4. Grafik 2. Kadar CRP Pasien tidak Infeksi. Universitas Sumatera Utara.
(62) 42. Tabel 1. Distribusi karakteristik demografi subyek Variabel. Total. Perempuan, n(%). 4 (22.2%). Laki-laki, n(%). 14 (77.8%). Usia termuda. 7 tahun. Usia tertua. 54 tahun. Rerata usia. 26.61 ± 13.2 tahun. Rerata Suhu. 37.23°C ± 0.9°C. Rerata Leukosit. 11.86 ± 3.58 103/mm3. Rerata CRP 2 hari setelah operasi. 1.93 ± 0.83. Rerata CRP 4 hari setelah operasi. 1.74 ± 1.1. Lokasi fraktur Humerus. 1 (5.6%). Radius. 2 (11.1%). Femur. 3 (16.7%). Tibia. 10 (55.6%). Fibula. 2 (11.1%). Tabel 1. Menunjukan bahwa distribusi jumlah subyek penelitian pasien yang dilakukan operasi fraktur tertutup adalah sebanyak 18 subyek, 4 (22.2%) subyek perempuan, 14 (77.8%) subyek laki-laki. Dengan lokasi fraktur pada humerus sebanyak 1 (5.6%) subyek, radius 2 (11.1%) subyek, femur 3 (16.7%) subyek, tibia 10 (55.6%) subyek, fibula 2 (11.1%) subyek. Dengan usia termuda dari subyek penelitian 7 tahun dan usia tertua dari subyek penelitian 54 tahun dengan rerata dan standar deviasi sebesar 26.61 ± 13.2 tahun. Dari hasil data yang dikumpulkan didapatkan rerata suhu pada penelitian ini sebesar 37.23°C ± 0.9°C, leukosit 11.86 ± 3.58 103/mm3, CRP 2 hari setelah operasi 1.93 ± 0.83, CRP 4 hari setelah operasi 1.74 ± 1.1.. Universitas Sumatera Utara.
Gambar
Garis besar
Dokumen terkait
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan fraktur maksilofasial dan kelainan intrakranial pada CT-scan kepada di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
penyebab infeksi kulit di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik,.. Medan pada tahun 2015 berdasarkan jenis infeksi kulit primer
menyebabkan infeksi kulit di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2015. 1.3.2
Mengetahui proporsi infeksi opportunistik bakteri, virus, jamur, dan parasit pada penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2010. 1.4
Laporan hasil penelitian ini berjudul “ Proporsi Infeksi Opportunistik pada Penderita HIV/AIDS di RSUP Haji Adam Malik.. Tahun
Judul Tesis : Hubungan Motivasi Perawat dengan Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.. Nama Mahasiswa :
Judul Tesis : Hubungan Motivasi Perawat dengan Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.. Nama Mahasiswa :
penelitian yang berjudul : “ Hubungan Motivasi dengan upaya pencegahan kejadian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan “.. Setelah saya mendapat informasi