SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana pendidikan islam ( S. Pd. I) pada jurusan pendidikan agama islam fakultas agama
islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
HATMA SARI
105190102110
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2013
Puji syukur kepada Allah Swt atas Izin Nya dan limpahan Rahmat, Berkat, Hidayah Karunia-Nya kepada kita sekalian, serta salam dan shalawat atas junjungan Nabi Besar kita Muhammad Saw. Sebagai Uswatun hasanah dan Rahmatan lilalamin.
Dengan penuh kerendahan hati penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan kripsi ini banyak hambatan dan rintangan yang menghadang, sehingga wajarlah jika masih terdapat kekurangan dan kekeliruan. Namun, berkat tekad yang pasti dan usaha yang keras akhirnya rintangan bukanlah penghalang untuk menyelesaikannya.
Penulis menyadari pula bahwa penulisan skripsi ini, tidak mungkin terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan penuh kerendahan hati penulis menyampaikan kepada kedua pembimbing penulis, untuk itu penulis mngucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ayahanda Muh. Arifin Haris dan Ibunda Nurlina Kambacong tercinta, terima kasih atas semua doa, dukungan dan kasih sayangyang diberikan kepada saya sehingga memberikan semangat kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak DR. H. Irwan Akib M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
iv
4. Ibu Amirah Mawardi. S.Ag.M.Si ketua jurusan pendidkan agama islam
5. Bapak Drs.H. Mawardi Pewangi M.Pd.I dan kepada Ibu Amirah Mawardi. S.Ag.M.Si pembimbing yang telah memberikan arahan kepada saya dalam penyusunan skripsi ini.
6. Para Ibu dan Bapak Dosen yang selama ini telah banyak mengajarkan ilmunya sehingga sampailah saya sekarang menyelesaikan tugas skripsi saya.
7. Teman-teman Penulis khususnya Tirtha Richard yang memberikan dukungan moril dan kepada teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu nama-namanya.
8. Bapak Drs. H. Zainuddin M.Pd Kepala sekolah SMA Satria Makassar, atas Izin dan bantuannya dalam memberikan data dan keterangan siswa(i) di SMA Satria Makassar.
9. Seluruh keluarga besar penulis dimana pun berada, yang selalu member dukungan, semangat serta doanya saya ucapkan banyak terima kasih.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca demi perbaikan skripsi ini.
HATMASARI 105190102110, “pengaruh penampilan guru terhadap minat belajar siswa
di SMA Satria Makassar Kelurahan Rappocini Kecamatan Sulawesi Selatan” skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Makassar Di bimbing oleh Pembimbing Drs.H.Mawardi Pewangi M.Pd.I dan Amirah Mawardi,S.Ag.M.Si
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penampilan guru terhadap minat belajar siswa di SMA Satria Makassar.
Seluruh data primer yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui metode instrument pokok questioner atau angket, sedangkan observasi, wawancara, dan dokumentasi digunakan untuk melengkapi data yang dibutuhkan. Seluruh data yang dikumpul selanjutnya diolah dan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis inferensial.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa siswa di SMA Satria Makassar sepakat bahwa penampilan guru sangat mempengaruhi minat belajar siswa(i) terbukti bahwa dari hasil angket dengan menagmbil sampel siswa sebanyak 50 siswa yang menjadi objek 90% atau 40 siswa menyatakan bahwa penampilan guru sangat mempengaruhi minat belajar siswa di SMA Satria Makassar.
Salah satu penyebabnya antara lain guru sebagai suri tauladan dan panutan bagi seluruh siswa(i) dalam mengajar.selain itu Guru adalah seorang Pendidik yang setiap gerak geriknya diperhatikan dan di contohin oleh peserta didiknya,serta Guru dalam mengajar selalu diperhatikan jika kesan pertama Guru dalam mengajar baik maka akan baik pula penilain Peserta didik kepada Guru tersebut sehingga Minat Belajar Siswa meningkat dalam belajar. akan tetapi, jika kesan pertama guru dalam mengajar buruk maka akan mengurangi minat belajar peserta didiknya.
Halaman
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI . ... iii
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iv
KATA PENGANTAR . ... v
ABSTRAK . ... vii
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR TABEL . ... x BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah ... 4 C. Tujuan Penelitian ... 4 D. Manfaat Penelitian . ... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penampilan Guru... 6
B. Minat Belajar Siswa ... 12
C. Pengaruh Penampilan Guru Terhadap Minat Belajar Siswa ... 16
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 23
B. Lokasi Dan Obyek Penelitian ... 23
C. Variabel Penelitian ... 23
D. Definisi Operasional Variabel . ... 23
E. Populasi dan Sampel... 24
F. Instrument Penelitian ... 27
G. Teknik Pengumpulan Data ... 28
H. TeknikAnalisisData ... 31
BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN PENELITIAN A. Selayang Pandang Lokasi Penelitian . ... 33
1. Historikal SMA Satria Makassar ... 33
2. Visi Misi dan Tujuan SMA Satria Makassar ... 34
iv
B. Penampilan Guru di SMA Satria Makassar . ... 40 C. Minat Belajar Siswa di SMA Satria Makassar ... 48 D. Pengaruh Penampilan Guru Terhadap Minat Belajar
Siswa di SMA Satria Makassar ... 49 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 53 B. Saran ... 54 DAFTAR PUSTAKA... 56
Tabel Judul Halaman Tabel 1 Keadaan Populasi (Siswa dan Guru) ... 21 Tabel 2 Keadaan Sampel (Siswa) ... 23 Tabel 3 Apakah Siswa Suka Dengan Guru yang Berpenamilan
Baik, Rapi dan Sopan Dalam Mengajar ... 32 Tabel 4 Pendapat Siswa Mengenai Penampilan Guru di
SMA Satria Makassar ... 33 Tabel 5 Apakah Penampilan Guru dalam Mengajar
Mempengaruhi Minat Belajar Siswa... 34 Tabel 6 Bagaimana kesan pertama anda, jika ada Guru yang
tidak rapi, tidak sopan, dan tidak santun dalam mengajar .. 36 Tabel 7 Pendapat Siswa Mengenai Guru Berpenampilan Baik
Namun Pelajaran yang diajarkan Kurang Menyenangkan . 38
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Keberhasilan siswa dalam belajar merupakan salah satu tujuan esensial dari prosesi pembelajaran disekolah. Keberhasilan belajar ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mendukung kegiatan belajar belajar itu sendiri. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan tersebut adalah minat belajar siswa yang dapat dipengaruhi oleh profesionalisme seorang guru dalam melakukan pembelajaran dikelas. Guru sebagai manager dalam pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting, karena dapat menciptakan aktivitas, situasi, kondisi (ilkim belajar) yang baik dan menentukan prestasi prestasi siswa secara umum.
Guru didalam kelas biasanya akan ditanggapi oleh siswa dalam bentuk kesan terhadap guru. Kesan terhadap penampilan guru ini akan memberikan dampak pada minat belajar siswa, hanya saja dalam memberikan layanan pendidikan kepada para siswa bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi minat hanya saja dalam memberikan layanan pendidikan kepada siswa bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, ini terbukti dari realitas yang penulis temukan bahwa di SMA Satria Makassar Kecamatan Rappocini yaitu minat belajar siswa rendah padahal guru-guru terutama guru mat peljaran Pendidikan Agama
Islam telah berupaya dengan sekuat tenaga memanfaatkan sarana dan fasilitas yang ada untuk membangkitkan minat belajar siswa.
Hal ini tentu ada faktor lain yang menjadi penyebabnya dan memerlukan penelitian secara seksama, rendahnya minat belajar siswa ini dapat dilihat dari tingginya tingkat absensi siswa, tingginya presentase siswa yang bolos dan siswa yang jaran mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.
Rendahnya minat belajar siswa tersebut dilatar belakangi oleh berkesannya penampilan seorang guru dalam mengajar, penampilan guru yang dimaksud yaitu dirinya (secara fisik dan psikis). Kemampuan pembekalan dan profesionalnya, dan media suara, tulis dan media lain. Minat belajar siswa yang harus diperhitungkn oleh guru dalam usaha menghasilkan penagajaran yang menarik, bermakna, dan memberikan tantangan bagi siswa yaitu berupa perhatian, relevansi, kepercayaan diri dan kepuasan. Secara umum tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh penampilan guru terhadap meningkatkan minat belajar siswa di SMA Satria Makassar sebagai pimpinan pendidikan, guru menyediakan bantuan secara profesional dan keahlian kepada siswa dalam proses belajar mengajar, dan memfokuskan perhatian pada peningkatan minat belajar siswa.
Bagi guru Pendidikan Agama Islam tugas dan kewajiban seperti yang disebutkan di atas merupakan amanat tersebut wajib dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana Firman Allah Swt sebagai berikut Qs. An-Nisa (4 : 58)
Terjemahnya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hokum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknyakepadamu. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat”
( Depag RI : 2001 : 912 ).
Dari pengertian ayat diatas, tersirat bahwa menyampaikan amanah dan menetapkan hukum diantara manusia denganadil adalah Allah Swt, termasuk di dalamnya menyampaikan ilmu pengetahuan kepada siswa adalah suatu amanah yang wajib di sampaikan dengan baik dan benar oleh guru, menurut Usman, bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu kepada para siswa.Para siswa akan merasa enggan menghadapi guru yang tidak menarik, sehingga pelajaran pun tidak dapat diserap dengan baik.
Menurut penulis sendiri guru adalah pemegang amanah kedua untuk anak didik selain orang tua di rumah, guru yang baik maka baik pula anak didiknya kelak tidak hanya dari segi ahlaknya saja tetapi guru juga harus berpenampilan yang baik rapi dan berahlak agar menjadi contoh atau panutan untuk anak didiknya.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dikemukakan oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penampilan guru dalam mengajar di SMA Satria Makassar?
2. Bagaimana minat belajar siswa di SMA Satria Makassar?
3. Bagaimana pengaruh penampilan guru terhadap minat belajar siswa diSMA SatriaMakassar ?
C.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui :
1. Untuk mengetahui penampilan guru dalam mengajar di SMA Satria Makassar.
2. Untuk mengetahui minat belajar siswa di SMA Satria Makassar.
3. Untuk mengetahui pengaruh penampilan guru terhadap minat belajar siswa di SMA Satria Makassar.
D.Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ilmiah dan praktis atau menjadi bahan sumbangsih pemikiran bagi :
a. Pemerhati pendidikan, lembaga pendidikan lingkungan keluarga
maupun pihak aparat pemerintahan kelurahan, kecamatan, dan kabupaten.
b. Pihak penulis, sebagai kelanjutan penelitian, hasil penelitian dapat dijadikan sebagai bahan referensi terhadap masalah-masalah aktual di lapangan.
c. Masyarakat umum, menambah khasanah intelektual dan ilmu pengetahuan dan menjadi bahan bacaan ilmiah yang menyenangkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penampilan Guru
Sebelum membahas tentang pengaruh penampilan guru, saya akan membahas sedikit tentang syarat-syarat menjadi guru yang baik. Apakah kita termasuk guru yang baik, mari simak berikut ini, Dalam undang-undang RI No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen Bab IV pasal 8 tersebut ada 4 syarat bagi seorang guru, yaitu :
1. Memiliki Kualifikasi Akademik
Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang guru atau pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2. Memiliki Kompetensi
Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksankan tugas keprofesionalannya. Kompetensi guru menurut Undang-undang RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Bab IV pasal 8 Dinyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik, professional, dan sosial.
3. Sehat Jasmani Dan Rohani
Yang dimaksud sehat jasmani dan rohani adalah kondisi fisik dan mental penampilan guru yang memungkinkan guru dapat melaksanakan tugas dengan baik, kondisi kesehatan fisik dan mental tersebut tidak ditujukan kepada penyandang cacat. Seorang guru (pendidik) adalah merupakan petugas lapangan dalam pendidikan, faktor kesehatan jasmani adalah faktor yang menentukan terhadap lancar dan tidaknya proses pendidikan yang ada, dan disamping itu kesehatan jasmani dari seorang guru banyak memberikan pengaruh terhadap anak didik terutama yang menyangkut kebanggaan mereka apabila memiliki guru yang berbadan sehat dan indah dilihat dari segi penampilan dan kepribadian seorang guru.
ﻰﱠﻧَﺛُﻣْﻟا ُنْﺑ ٍدﺎﱠﻣَﺣَﻟﺎَﻗ ِنْﺑ ْنَﻌﯨَﯾ ْ ﺣَﯾ ٍرﺎَﻧﯾِدﺎًﻌﯾِﻣ َﺟ ُنْﺑ ُمﯾِھاَرْﺑِإ َ و ٍرﺎﱠﺷَﺑ ُنْﺑ ُدﱠﻣَﺣُﻣ َ وﻰﱠﻧَﺛُﻣْﻟا ُنْﺑﺎَﻧَﺛﱠدَﺣُدﱠﻣَﺣُﻣ َلﺎَﻗ َمﱠﻠَﺳ َ و ﻰﱠﻠَﺻ ﱢﻲِﺑﱠﻧﻟا ْنَﻋ ٍدوُﻌْﺳَﻣ ِنْﺑ ِدْﺑَﻌِﮭﱠﻠﻟا َﺔَﻣَﻘْﻠَﻌْﻧَﻋ ْنَﻋ ﱢﻲِﻌَﺧﱠﻧﻟا َمﯾِھا ْنَﻋ ﱢﻲِﻣْﯾَﻘُﻔْﻟاﺎَﻧَرَﺑ ْ ﺧَأ ٍدﺎﱠﻣَﺣ
”. َلﺎَﻣَﺟْﻟا ﱡبِﺣُﯾ ٌلﯾِﻣَﺟ َﱠ ﷲ ﱠنِإ“ :لﺎَﻗ ﻲِﻧَﺛﱠدَﺣﯨَﯾ ْ ﺣَﯾُﻧْﺑ Artinya :
“Menceritakan dari Muhammad Ibnu Mutsannah Muhammad Ibnu Basir dan Ibrahim Ibnu dinar Jami’ah yahya Ibnu Hammadi berkata lalu ia menceritakan yahya Ibnu Hammadi suatu hari Abdullah Mas’ud
mendengarkan Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah maha indah dan menyukai keindahan”, (HR.Muslim).
Dari hadist diatas tersirat bahwasanya Allah Swt menyukai keindahan, jadi sepatutnya seorang guru berpenampilan yang indah dihadapan peserta didiknya. Dengan tujuan agar pengajaran yang disampaiakan lebih menarik dan tidak menimbulkan rasa jenuh dalam proses belajar mengajar.
Guru yang mengidap penyakit yang menular sangat membahayakan anak didik, disamping itu guru yang berpenyakit tidak bergairah dalam mengajar, dan kerap kali absen yang merugikan anak didik.Sedangkan yang dimaksud sehat rohani menyangkut masalah keseluruhan bentuk rohaniah manusiawi hubungannya dengan masalah moral yang baik, moral yang lihur, moral yang tinggi, dimana seorang guru harus memiliki moral yang baik dan menjadi teladan bagi siswanya.Allah Swt Berfirman dalam Qs. Al-Ahzab (33) :21
ًرﯾِﺛَﻛ ْل َرَﻛَذ َ و
َم ْ وَﯾْﻟا َ و َﱠ ﷲ ُجْ رَﯾو َنﺎَﻛا ْنَﻣِﻟ ٌﺔَﻧَﺳَﺣ ٌة َ وْﺳُأ ِﱠﷲ ِلوُﺳَرﻲِﻓ ْمُﻛَﻟ َنﺎَﻛ ْدَﻘَﻟ
اَرِﺧآ
Terjemahnya :“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
( Depag RI : 1999 : 457 ).
Apa yang hendak disampaikan kepada murid untuk menyampaikan menuju tingkat martabat kemanusiaan yang luhur hendaklah lebih dahulu guru itu sendiri memiliki martabat tersebut, sebab nantinya menyangkut masalah kewibawaan bagi seorang guru. Adapun sifat-sifat yang dapat di golongkan ke dalam moral atau budi yang luhur antara lain berlaku jujur, berlaku adil terhadap siapapun, lebih-lebih terhadap dirinya, cinta kepada kebenaran, bertindak bijaksana, suka memaafkan, tidak pembenci, mau mengakui kesalahan sendiri, menjauhi dari perbuatan-perbuatan tercela. 4. Memiliki Kemampuan Untuk Mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional
Guru harus mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang RI No 20 tahun 2003 Tentang sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 :
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Karakteristik penampilan guru yang baik menurutMahmud Syamir Al Munir (2004:62).
a. Bebas dari penyakit menular atau yang menjijikkan.
b. Suara yang bersih dan tidak cacat berbicara, seperti gagap, cadel, atau volume suara yang lemah.
c. Memperhatikan penampilan, guru harus berpenampilan rapi, tapi harus dalam batasan yang wajar, tidak berlebihan.
d. Guru juga harus memperhatikan isi dari setiap mata pelajaran yang akan dia ajarkan kepada siswa.
e. Seorang pendidik juga harus berahlak baik kemudian seorang pendidik patut di jadikan contoh untuk anak didiknya.
Menurut penulis bahwasanya memerhatikan penampilan rapi, bersih tapi harus dalam batasan yang wajar, berikut ini penjelasan mengenai penampilan seorang guru dari berpakaian. Penampilan seorang guru bukan hanya dari kepribadian, pembawaan, keprofesionalan, dalam mengajar atau bertutur kata yang baik, Namun yang paling pokok dan penampilan seorang guru yakni cara berpakaian yang pantas bagi seorang guru. Adapun pengertian pakaian menurut Quraish (2010 : 1) pakaian adalah kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh atau tempat
tinggal.Manusia membutuhkan pakaian untuk melindungi dan menutup dirinya.Namun seiring dengan perkembangan kehidupan manusia pakaian juga digunakan sebagai simbol status, jabatan, atau pun kedudukan seseorang yang memakainya.Seperti ciri khas seorang guru dalam berpenampilan.Namun menurut Shihab (2005 : 21) pakaian bukan semata-mata masalah budaya dan model. Islam menetapkan batasan-batasan tertentu untuk laki-laki maupun perempuan, khusus untuk muslimah, memiliki pakaian khusus yang menunjukkan jati dirinya sebagai seorang muslimah bila pakaian yang pada umumnya bersifat lokal, maka pakaian muslimah bersifat universal. Dalam arti pakaian dapat digunakan oleh muslim/muslimah dimanapun ia berada. Apa lagi seorang guru dalam mengajar.
Menurut Oemar Hamalik ( 2007 :104 ) Masalah yang paling sering menimbulkan salah paham adalah anggapan kebanyakan orang menjadikan seragam pesantren tradisional sebagai mode busana muslimah, sehingga terkesan muslimah itu kampungan, kertinggalan zaman, tidak modern, out of date, dan sebagainya. Padahal, islam tidak mengharuskan muslimah mengenakan mode seperti itu. Islam hanya memberikan batasan-batasan yang harus ditutupi berikut ini standar mode busana muslimah seorang guru :
1. Pakaian harus menutup aurat.
2. Tekstil yang dugunakan bahan busana tidak tipis dan transparan (tembus pandang), karena kain yang demikian akan memperlihatkan bayangan kulit secara remang-remang.
3. Modelnya tidak ketat.
4. Sesuai dengan jenis kelamin (tidak menyerupai lawan jenis).
5. Bahannya, juga modelnya tidak terlalu mewah, berlebihan atau menyolok mata, dengan warna aneh-aneh hingga menarik perhatian orang.
Apa lagi seorang guru karena guru akan menjadi suri tauladan dan pusat perhatian peserta didiknya, menurut ajaran islam sebagamana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al- A’raf (7) : 26
ﺎًﺸﯾِرَو ْﻢُﻜِﺗ َٰءْﻮَﺳ
ىِر َٰﻮُﯾﺎًﺳﺎَﺒِﻟ ْﻢُﻜْﯿَﻠَﻋﺎَﻨْﻟَﺰﻧَأ ْﺪَﻗ َمَداَء ٓﻰِﻨَﺒَٰﯾ
َنوُﺮﱠﻛﱠﺬَﯾ ْﻢُﮭﱠﻠَﻌَﻟ ِﺖَٰﯾاَء ْﻦِﻣ ِﻟ َٰذ
َﻚ ٌﺮْﯿَﺧ َﻚِﻟ َٰذ ٰ ىَﻮْﻘﱠﺘﻟٱ ُسﺎَﺒِﻟَو
Terjemahnya :“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”.( Depag RI : 1990 : 428 ).
Dari ayat diatas dapat disimpulkanfungsi utamanya yaitu : 1. Sebagai penutup aurat
2. Sebagai perhiasan, maksudnya adalah sebagai perhiasan untuk memperindah penampilan di hadapan Allah dan sesama manusia. Sebagai perhiasan, seseorang bebas merancang dan membuat bentuk atau mode seta warna pakaian yang dianggap indah, menarik, serta menyenangkan, selama tidak melanggar batas-batas yang telah ditentukan.
3. Sebagai pelindung tubuh dari hal-hal yang merusak, seperti panas, dingin, angin kencang, sengatan matahari dan sebagainya.
Menurut Djamarah (2002:2), dalam kehidupan sosial pakaian menjadi salah satu tolak ukur derajat seseorang. Dari caranya berpakaian seseorang pertama kali dinilai, pakaian yang pantas dan sopan tentu mencerminkan kebaikan dan kesantunan si pemakai pakaian tersebut.Sebaliknya, pakaian yang terbuka seronok, atau semrawutan, seperti kaos dan celana ketat, rok mini, jean’s belel, tentu mencerminkan semwarutnya si pemakai pakaian tersebut.Dan penulis sepakata bahwasanya tidaklah patut seorang guru berpenampilan semwarutan sehingga menimbulkan penilaian yang buruk pada anak didiknya.Karena hal demikian membuat anak didik enggan mengikuti pelajaran guru tersebut.
B. Minat Belajar Siswa
1. Pengertian Minat Belajar Siswa
Pengertian minat belajar siswa menurut Mahfuds Salahuddin (2008: 32) adalah Minat belajar siswa terdiri dari dua kata yakni minat dan belajar, dua kata ini berbeda arti, untuk itu penulis akan mendefinisikan satu persatu, sebagai berikut :
Minat menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah cenderung hati yang tinggi terhadap suatu gairah keinginan.sedangkan menurut Crow dan
Crow,(1996:31) Minat belajar adalah interest biasa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda dan kegiatan.Minat belajar kecendurungan dengan tetap untuk memerhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.Minat belajar adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.
Secara terminologi minat belajar adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh, Slameto, (1995:180).Artinya bisa berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan atau pun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri.
Guru harus memahami dan menghayati para siswa yang dibinanya, karena wujud siswa tidak akan sama, ini disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dapat diketahui dari hasil belajar mengajar tersebut pada umumnya dikaitkan dengan tinggi rendahnya nilai yang dicapai siswa, berbagai hal sebagai keterampilan yang dimiliki. Serta guru harus mengembangkan suatu keterampilanyang juga dijadikan sebagai penggerak penemuan dan pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap.
Mengingat profesi guru merupakan pangilan hati nurani , maka dalam kondisi bagaimanapun guru harus selalu taat pada profesinya dan
melaksakan tugas dengan sebaik-baiknya, demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan sumber daya manusia.
Guru harus memahami dan menghayati para siswa yang dibinanya, karena wujud siswa pada setiap saat tidak akan sama, ini disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dapat di ketahui dari hasil belajar mengajar tersebut pada umumnya dikaitkan dengan tinggi rendahnya nilai yang dicapai siswa, daya serap siswa serta prestasi siswa yang berupa nilai hasil raport.
Menurut Sumadi Suryabrata (2002:233) “faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu faktor-faktor yang berasal dari siswa (faktor eksogen), dan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri siswa (faktor indogen) .”faktor yang terdapat dalam diri siswa adalah intelegensi motivasi, minat, bakat, kondisi fisik, sikap dan kebiasaan siswa. Sedangkan yang termasuk faktor yang berasal dari luar diri siswa adalah keadaan sosial ekonomi, lingkungan, sarana dan prasarana, guru dan cara mengajarnya, kurikulum dan sebagainya.
Menurut Jeane Rini P (2003:2) “prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes dan angka nilai yang diberikan oleh guru.” Di Indonesia alat ukur hasil evaluasi belajar disebut tes hasil belajar. Kedua tes ini digunakan untuk mengukur taraf keberhasilan sebuah program pengajaran dan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah mendayagunakan kemampuan kognitifnya.
Tetapi, dalam kenyataan menurut Daharnis (2006:43-44) “prestasi belajar menunjukkan masih banyaknya siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah.” Khususnya bila dikaitkan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Gejala umum yang terjadi dengan prestasi belajar yang muncul adalah rendahnya mutu kegiatan belajar siswa seperti adanya siswa yang beranggapan bahwa hasil pelajaran yang diperoleh tergantung nasib dan bukan usaha kerja keras. Apabila permasalahan tersebut dibiarkan maka dampaknya mutu pendidikan dan sumber daya manusia rendah, sehingga menimbulkan pengaruh rendahnya prestasi belajar yang diperoleh siswa.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, bisa disimpulkan bahwa minat belajar adalah kecenderungan jiwa yang relatif menetap kepada diri seseorang dan biasanya disertai dengan perasaan senang, menurut Bernard “Minat” timbul atau muncul tidak secara tiba-tiba, melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja, dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.
Sedangkan pengertian belajar menurut Ernest R Hicgard (2004:133) Belajar menurut Ernest R Hicgard adalah proses pembuatan yang dengan sengaja bisa menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan yang ditimbulkan sebelumnya.Menurut Gagne,(2006:41) belajar merupakan perubahan yang diperlihatkan dalam bentuk tingkah laku, yang keadaanya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang sempurna itu.
Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar itu menimbulkan suatu perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan perubahan itu dilakukan lewat kegiatan, atau usaha yang disengaja. Jadi, yang dimaksud dari minat belajar adalah aspek psikologi seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala, seperti gairah, keinginan, perasaan suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain, minat belajar itu adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (siswa) terhadap belajar yang ditunjukkan melalui keantusiasan partisipasi dan keaktifan dalam belajar.
C. Pengaruh Penampilan Guru Terhadap Minat Belajar Siswa
Penampilan dan cara mengajar yang di maksud dalam konteks ini berhubungan dengan sikap dan tingkah laku yang mengiringi aktivitasnya dalam proses belajar mengajar. Dengan pegertian lain penampilan guru merupakan pencerminan terhadap pesan dan kedudukan yang di milikinya. Hal ini berarti bahwa sebagai seorang guru, yang memiliki tugas dan fungsi antara lain sebagai pendidik dan pengajar. Sehubungan hal ini tersebut dinyatakan bahwa “seorang pengajar (guru) haruslah menempatkan dirinya sebagai pengajar dan berakting sebagai penagajar,dengan demikian semua gerak-gerik bagian tubuh si pengajar akan berpengaruh langsung terhadap daya serap siswa.
Guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai kependidikan walaupun kenyataannya terdapat dilakukan orang di luar pendidikan, Usman, (2004 :4) tugas guru dalam bidang kemanusiaan meliputi bahwa guru di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua, ia harus mampu menarik simpati sehingga menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikannya hendaknya dapat menjadikan motivasi bagi siswa dalam belajar, bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan yang pertama adalah tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya itu pada siswa.
Para siswa akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik pelajarannya tidak dapat diserap sehingga siswa mulai bosan dengan pelajaran yang diberikan oleh seorang guru, transformasi diri terhadap kenyataan di kelas atau di masyarakat perlu di biasakan sehingga setiap lapisan masyarakat dapat mengerti bila menghadapi guru. Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu guru tidak hanya sekedar menjadi pengajar tetapi betul-betul menjadi pedidik yang akan memindahkan nilai-nilai kepada anak didik, seorang guru sebagai model dalam upaya menanamkan dan membentuk siswa sikap terhadap siswa, terlebih dahulu ia harus menampakkan dalam tingkah laku yang baik. Sehingga dalam melaksanakan
kegiatan proses belajar mengajar berjalan secara efektif. Di samping itu guru harus mendapatkan hasil yang maksimal dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dapat di harapkan banyak pihak dan dapat membantu mempercepat tercapainya tujuan pendidikan.
Dengan demikian jelaslah bahwa guru mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar terhadap peserta ddidiknya, dan sangat penting dalam peranan meningkatkan kualitas pendidikan, guru harus mampu dalam meminimalisir pengaplikasian kegiatan belajar mengajar, sehingga dengan adanya area baru siswa akan mengadakan usaha untuk mengakomodasi yang akan mempermudah kegiatan belajar mengajar yang efektif. Guru dapat di pastikan semakin besar sumbangannya bagi perkembangan diri siswanya, sekaligus sebagai teladan bagi siswa.
Menurut Sutikno pengertian guru yaitu :
“Pengertian Guru yaitu Pengajar adalah orang yang menunjukkan pada siswa tentang pengetahuan, sehingga ilmu siswa tersebut menjadi sempurna”.
gaya mengajar adalah bentuk penampilan guru saat mengajar, baik yang bersifat kurikuler maupun psikologis. Gaya mengajar yang bersifat kurikuler adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran tertentu. Sedangkan gaya mengajar yang bersifat psikologis adalah guru mengajar yang disesuaikan dengan motivasi siswa, pengelolaankelas dan evaluasi hasil belajar. Makna gaya mengajar diatas, terkait dengan kurikuler, gaya mengajar yaitu gaya mengajar guru menuntut adanya perbedaan tujuan dan sifat antara satu bidang studi dengan bidang studi
yang lainnya. Tentunya berbeda gaya mengajar bidang studi agama dengan bidang studi biologi. Sedangkan yang terkait dengan psikologis memungkinkan banyak kesamaan dalam gaya mengajar, karena menyangkut pemberian motivasi pada siswa, cara pengelolaan kelas dan cara mengevaluasi hasil belajar yang sudah mempunyai kesamaan teori secara umum, walaupun terkadang juga menuntut perbedaan yang disebabkan oleh kondisi siswa antara wilayah satu dengan wilayah lainnya.Dalam surat An nisa 63 Allah berfirman:
Terjemahnya :
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang didalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (Depag RI : 2002 : 913.)
Berdasarkan ayat di atas, kata “Baligh” dalam bahasa Arab artinya sampai, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan), kata balig berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif dan efisien dapat diperoleh bila memperhatikan kondisi siswa.Dalam pembelajaran guru harus memiliki keterampilan dalam mengajar
salahsatunya yaitu variasi gaya mengajar. Apabila guru menggunakan variasi gayamengajar dengan baik maka akan siswa akan memiliki motivasi yang tinggi dalam belajar sehingga tujuan yang diinginkan akan tercapai. Istilah Al-Quran fii anfusihiim”, artinya penyampaian dengan “bahasa” masyarakat setempat.
Artinya dalam menyampaikan pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi siswa, sehingga komunikasi dalam proses pembelajaran dapat diterima siswa manakala guru menyentuh otak atau akal juga hatinya sekaligus. Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan lancar manakala ada interaksi yang kondusif antara guru dan siswa. Komunikasi yang arif dan bijaksana memberikan kesan mendalam bagi para siswa. Faktor guruikut menentukan dalam keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar, sehingga guru diharuskan untuk memiliki keterampilan dalam mengajar, salahsatunya adalah dalam variasi gaya mengajar. Sehingga siswa mampu mengamalkan apa yang disampaikannya tersebut.Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya mengajar guru merupakan caraatau metode yang digunakan guru ketika sedang melakukan pengajaran untuk mengatasi siswa agar tidak merasa bosan dalam proses belajar mengajar. Pada dasarnya gaya mengajar yang dimiliki guru adalah strategi yang digunakan guru untuk mentransfer informasi yang diberikan kepada siswa agar siswa memiliki motivasi belajar. Gaya mengajar merupakan salah satu hal yang sangat menentukan keberhasilan suatu proses belajar mengajar.
1. Tujuan Variasi Gaya Mengajar
Variasi dalam pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Variasi dalam pembelajaran bertujuan antara lain:
1) Meningkatkan perhatian siswa terhadap materi standar yang relevan 2) Memberikan kesempatan bagi perkembangan bakat siswa
terhadapberbagai hal baru dalam pembelajaran
3) Memupuk perilaku positif siswa terhadap pembelajaran
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan tingkatperkembangan dan kemampuannya.
Sangat mempengaruhi pada kebanyakan siswa yang di temukan para siswa(i) mengatakan penampilan guru terhadap miant belajar sangat mempengaruhi suasana belajar oleh siswa, secara psikolog siswa adalah anak didik yang selalu mencontoh kepada seseorang yang dianggapnya menarik perhatian mereka. Mereka mencari jati diri yang sempurna mereka berimajinasi kelak dan masa depannya seperti apa dan bagaimana dia berpenampilan.
Seorang siswa(i) akan menjadikan gurunya sebagai idola mereka dalam berpenampilan, faktor eksternal ini selalu terjadi pada anak didik jadi melihat hal tersebut guru diwajibkan berpenampilan yang baik sopan dan santun. Sehingga generasi yang akan datang mampu berpakaian yang baik, sopan dan santun pula karena mengidolakan seorang pendidik yang baik pula. Mereka akan mengingat sampai kapanpun dan dimana pun siswa(i) tersebut maka sebagai seorang pendidik berikanlah kesan yang baik dalam berpenampilan.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif, yaitu gambaran mengenai pengaruh penampilan guru terhadap minat belajar siswa di SMA Satria Makassar Kec Rappocini, Kel Banta-bantaeng.
B.Lokasi Dan Obyek Penelitian
Lokasi penelitian bertempat di kec Rappocini Kel banta-bantaeng kota Makassar adapun yang menjadi objek penelitian adalah siswa/siswi di SMA Satria Makassar.
C.Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel yakni variabel terikat dan variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengaruh penampilan guru sedangkan variabel terikat adalah minat belajar siswa/siswi di SMA Satria Makassar.
D. Definisi Operasional Variabel
“ Notoatmojo, dalam Zakariah (2010 : 35), definisi operasional variabel dimaksudkan untuk menguasai ruang lingkup yang di teliti agar tidak menjadi
penafsiran dalam penelitian dan untuk pengukuran atau pengamatan terhadap variabel yang bersangkutan serta perkembangan instrument”.
Untuk memudahkan memahami maksud yang terkandung dalam pada judul penelitian ini, maka penulis merasa perlu untuk memberikan pengertian pada beberapa kata istilah sebagai definisi operasional variabelnya :
1. Penampilan guru adalah dirinya secara psikis dan fisik berhubungan dengan sikap dan tingkah laku, keprofesioanalan, metode pengajaran serta cara menyampaikan pelajaran yang mengiringi aktivitasnya dalam proses belajar mengajar.
2. Minat belajar siswa adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap suatu gairah keinginan dan menimbulkan perasaan senang,ketertarikan, perhatian dan keterlibatan siswa.
3. Siswa adalah peserta didik yang berkewajiban untuk melaksanakan pendidikan yang baik dan berhak mendapatkan pendidikan yang layak sesuai dengan bakat dan kemampuannya.
E. Pupolasi Dan Sampel
1. Populasi
Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang populasi diantaranya :
Wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik yang tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.
Hadari Nawawi, menyatakan bahwasanya :
Sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi, secara sederhana diartikan sebgai sebagian populasi menjadi sumber data yang sebenarnya dalam suatu penelitian. Pengertian lain tentang populasi juga dikemukakan oleh Hadari Nawawi sebagai berikut :
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, nilai test atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian, dengan tetap mengacu pada landasan teoritis tersebut maka populasi yang penulis maksudkan dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa yang ada di SMA Satria Makassar.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah di SMA SatriaMakassar. Untuk lebih jelasnya lihat pada tabel berikut :
Tabel 1
Keadaan Populasi (siswa dan guru)
NO Responden Jenis Populasi Jumlah L P 1 Kelas I A 10 19 29 2 Kelas II IPA-IPS 17 14 31
3 Kelas III IPA-IPS 29 37 66
4 Guru 18 18
Total 74 70 144
Sumber Data : SMA Satria Makassar
1. Sampel
Pengambilan sampel di dasarkan atas sejumlah populasi tersebut di atas, yakni dengan mengambil 20% dari seluruh jumlah siswa di SMA Satria Makassar, Kec Rappocini, Kel Banta-Bantaeng.
Hal ini sesuai dengan yang dimaksud ida bagoes Mantra, Kasto :
Besarnya sampel tidak boleh kurang dari 10% dan ada pula peneliti yang lain mengatakan besarnya sampel minimum 5% dari sejumlah satuan-satuan elementer dari populasi.
Nana Sujana dalam Hadari Nawawi mengemukakan bahwa sampel adalah sebagian yang diambil dari ppulasi yang menggunakan caratertentu
Berdasarkan pendapat tersebut diatas maka penulis melakukan pengambilan sampel dengan sampel acak sederhana (simple random
sampling) yaitu dengan undian atau lotre. Dan masing-masing subjek di beri nomor urut sesuai dengan kertas gulungan yang berisi nomor-nomor subjek, kemudian dilakukan lotre, seperti cara yang sudah umum dikenal.
Adapun sampel dalam penelitian ini adalah SMA Satria Makassar,Kec Rappocini, Kel Banta-Bantaeng. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut ini :
Tabel 2 Keadaan Sampel NO Responden Jenis Kelamin Jumlah L P 1 Kelas II IPA-IPS 10 10 20
2 Kelas III IPA-IPS 15 15 30
Total 25 25 50
Sumber Data : SMA Satria Makassar
F. Instrument Penelitian
Salah satu kegiatan dalam perencanaan suatu penelitian adalah menentukan instrument penelitian atau tolak ukur yang digunakan dalam pengumpulan data sesuai dengan masalah yang hendak diteliti.Sugiono berpendapat bahwa instrument penelititan adalah alat yang digunakan mengukur fenomena alam atau maupun sosial yang diteliti.
Sedangkan Suharsimi Arikunto mengemukakajn bahwa instrumen pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya dengan berbicara masalah evaluasi. Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Pedoman observasi
Yakni penulis mengadakan pengamatan langsung dilapangan secara sistematis sesuai dengan pembahasan proposal.
2. Pedoman wawancara
Yakni suatu cara yang ditempuh untuk mendapatkan data dengan jalan mengadakan wawancara terhadap orang tua, Pembina siswa, guru, serta orang-orang yang mempunyai pengetahuan yang ada kaitannya dengan masalah yang dibahas.
3. Pedoman Angket
Yakni suatu metode pengumpulan data dengan cara membagikan daftar angket kepada objek penelitian hal ini kepada siswa, yang berisi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang ada kaitannya dengan masalah yang dibahas. 4. Dokumentasi
Yakni metode yang ditempuh untuk menentukan data dengan cara melakukan cara pencatatan arsip-arsip atau data yang ada kaitannya dengan masalah yang dibahas.
G.Teknik Pengumpulan Data
Penelitian adalah aktivitas ilmiah yang terarah, sistematis, dan mempunyai tujuan, bukan hanya mengumpulkan data secara kebetulan akan tetapi menghimpun data terencana dan sistematis.
Adapun prosedur pengumpulan data yang digunakan penulis adalah :
1. Library research (penelitian kepustakaan)
Yakni penelitian atau pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan membaca beberapa buku, serta mengkaji referensi yang ada kaitannya dengan pembahasan tersebut, dalam hal ini digunakan teknik yakni :
a. Kutipan langsung yakni teknik yang digunakan dengan jalan mengutip suatu pendapat atau keterangan yang di anggap penting dengan tidak mengubah redaksi atau teks aslinya.
b. Kutipan tidak lansung yakni teknik pengambilan data dengan memindahkan suatu pendapat atau keterangan yang kalimatnya disusun sendiri, namun tidak mengurangi maksud dan tulisan aslinya. 2. Field Research (penelitian Lapangan)
Yakni dengan cara pengumpulan data dengan turun langsung kelapangan untuk mendapatkan data-data yang ada kaitannya dengan pembahasan. Dalam penelitian ini penulis memakai teknik pengumpulan data yaitu :
a. Observasi
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melihat secara langsung pada objek yang di teliti, sambil mengadakan pencatatan adapun hal-hal yang di observasi adalah pelaksanaan nilai-nilai pendidikan islam terhadap siswa, oleh orang tua dan tokoh-tokoh agama di kecamatan Rappocini, Kelurahan Banta-Bantaeng.
b. Wawancara
Yaitu pengumpulan data melalui wawancara langsung kepada objek yang diteliti, metode ini sebagai pelengkap data yang diperlukan. Sutrisno Hadi menjelaskan bahwa :
Wawancara sebagai metode pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan tanya jawab sepihak yang di kerjakan dengan sistematis dengan berdasar kepada tujuan penelitian.
Metode wawancara mempunyai keistimewaan, yaitu wawancara dengan yan diwawancara berhadapan langsung, maka dengan demikian dapat diketahui dengan segera pendapat dari responden yang diwawancarai oleh penulis. Sehubungan dengan dengan penyusunan skripsi ini, para informan terdiri dari 6 orang diantaranya orang tua, Pembina siswa, guru-guru yang ada di kecamatan Rappocini, Kelurahan Banta-bantaeng, dengan menggunakan wawancara terpimpin dan tidak dipimpin.
c. Angket
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menyebarkan angket (daftar isian) kepada responden yang dipilih dan dianggap dapat mewakili kelompok yang diteliti.
Sehubungan dengan penelitian ini, maka untuk memperoleh data, penulis memberikan kepada sejumlah siswa yang dianggap dapat mewakili seluruh siswa yang ada di SMA Satria Makassar, kec Rappocini, Kel Banta-bantaeng. Pengambilan ini didasarkan pada sejumlah populasi tersebut di atas, yaitu dengan mengambil 20% dari seluruh siswa yang ada di SMA Satria Makassar, kec Rappocini, Kel Banta-bantaeng.
d. Dokumentasi
Yaitu suatu metode yang ditempuh untuk mengumpulkan data dengan cara melakukan dokumentasi, arsi-arsip serta catatan yang ada kaitannya dengan masalah yang akan di bahas.
H. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari sampel melalui instrument yang dipilih akan digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah :
1. Analisis kuantitatif yaitu pengelolahan data yang terdiri dari angka-angka yang kemudian ditabulasi atau didistribusikan dalam bentuk tabel, data ini diperoleh oleh penulis dari hasil tabulasi angket.
2. Analisis kualitatif yaitu datayang diperoleh secara kualitatif deskriptif yakni dalam bentuk gambaran atau lukisan, dalam analisis ini penulis mengolah data yang diperoleh dari berbagai sumber untuk mendapatkan nilai yang terkandung di dalamnya. Pengolahan data yang demikian itu bersifaturaian dengan jalan mengamati dan menyimpulkan berdasarkan hasil observasi dan interview, dengan bersifat dengan cara :
a. Induktif, yaitu metode yang membahas masalah dengan bertitik tolak dari fakta-fakta yang bersifat khusus, peristiwa yang konkrit untuk ditarik generralisasi yang bersifat khusus.
b. Deduktif, yaitu pengolahan data yang bertitik tolak dari pengetahuan atau permasalahan yang bersifat umum kemudian menguraikannya untuk mendapatkan pengertian yang bersifat khusus.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Selayang Pandang Lokasi Penelitian 1. Histrorikal SMA Satria Makassar
Berbicara gambaran umum SMA Satria Makassar merupakan lembaga pendidikan formal yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, dengan demikian dapat dipahami bahwa latar belakang berdirinya sekolah tersebut adalah usaha pemerintah. Kehadiran sekolah ini dapat menunjang kelangsungan pembangunan di bidang pendidikan. Dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa, sekolah cukup berjasa dalam membina generasi muda. SMA Satria Makassar yaitu suatu pendidikan formal yang dibangun atas dasar kemauan dan ketaqwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu kehadiran sekolah ini menjadi alternatif yang dapat diharapkan menjawab tentang kebutuhan SDM masa depan yang berahlak mulia, berwawasan dan berbudaya.
SMA Satria Makassar ini terletak di veteran selatan, Kecamatan Rappocini berdiri di areal tanah seluas 2000 M2. Pada awal didirikan
animo masyarakat begitu besar sehingga jumlah pendaftar mencapai 110 orang dengan tenaga pendidik 10 orang.
2. Visi, Misi dan Tujuan SMA Satria Makassar
a. Visi
Visi SMA Satria Makassar “mewujudkan peserta didik yang beriman, bertaqwa, cerdas, inofatif, berperestasi, kreatif dan mandiri yang berdasarkan akhlak muliah.
b. Misi
- Mewujudkan pembelajaran dan bimbingan kreatif
- Meningkatkan kinerja guru untuk mencapai guru professional
- Menumbuhkan semangat kerja seluruh warga sekolah
- Mengembangkan penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama
- Menumbuhkan sikap disiplin, tanggungjawab danm inovatif
- Menerapkan menejmen parsipatif dengan melibatkan warga sekolah
- Mengembangkan apresiasi dan perilaku budaya daerah sebagai landasan budaya bangsa
c. Tujuan
Jika misi dan visi terkait dengan langkah dengan jangka waktu yang relatif panjang, maka tujuan dikaitkan dengan jangka waktu menengah, dengan demikian tujuan pada dasarnya merupakan hadapan atau langkah untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.
Adapun tujuan penyelenggaraan SMA Satria Makassar sebagai berikut :
1) Meningkatkan iman dan taqwa terhadap Tuhan yangh Maha Esa yang berahklak muliah serta berbudi pekerti luhur.
2) Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan dan keterampilan siswa
3) Memberi bakat pengalaman untuk dapat mengetahui pendidikan yang lebih tinggi
3. Struktur Organisasi SMA Satria Makassar
Adapun struktur organisasi SMA Satria Makassar, dapat dilihat pada bagan di bawah ini :
STRUKTUR ORGANISASI SMA SATRIA MAKASSAR KEPALA SEKOLAH Drs. Zainuddin M.Pd BENDAHARA SEKOLAH Safaruddin S.Ag WAKIL KEPALA SEKOLAH Drs.Sahid M.Pd Wali Kelas I
Muhrim S.Pd Muliawati SEWali Kelas II S.Pd
Wali Kelas III Suryani S.Pd
S.Pd
STAFF DAN GURU
SISWA(i)
Dari struktur organisasi di atas dapat dipahami bahwa terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan baik jika ada hubungan kerja sama antara berbagai unsur, mulai dari kepala sekolah dan jajarannya sebagai mitra kerja sampai kepada orang tua peserta didik, masyarakat dan pemerintah sebagai penunjang terlaksananya pendidikan disekolah dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional, dengan terlaksananya suatu organisasi dalam dunia pendidikan maka dalam proses SDM dan pembelajaran pun bakal terlaksana dengan baik dan penuh dengan harapan yang baik pula buat peserta didik dan masyarakat sekitarnya.
4. Keadaan Guru Dan Siswa
a. Keadaan Guru
Pada dasarnya seorang pendidik mempunyai tanggung jawab penuh terhadap siswa atau anak didik dimana untuk kelanjutan masa depan bangsa ada pada siapa yang akan meneruskan cita-cita bangsa menuju masyarakat yang cerdas, begitupun para pendidik yang berjumlah 18 orang guru di SMA Satria Makassar. Adapun sistem yang dipakai eloh seorang pendidik adalah perjuangan itu sendiri dari pendidik dan dari siswa karena tidak hanya dalam kemasyrakatan saja siswa itu harus mengembangkan diri mereka tetapi juga yang paling utama adalah dalam bidang pendidikan, sama halnya ketika seorang pendidik ingin meneruskan pendidikan bangsa maka seorang pendidik harus mempunyai rasa tanggung jawab terhadap siswanya.
Untuk membina siswa memang diperlukan wadah khusus salah satunya yaitu sekolah agara lebih maju lagi hendaknya perlu pembinaan disekolah oleh para guru karena dirumah itu diberikan dasar-dasarnya saja, karena dirumah tidak diberikan maka sekolahlah tempatnya guru untuk memberikan ilmu kepada siswanya.
Guru adalah seorang pendidik yang mempunyai tugas yang penting untuk Negara dalam hal ini pendidik harus mengajarkan kepada anak didik atau siswa ilmu yang berguna untuk membangun bangsa yang sempurna dalam hal pendidikan yang berkelanjutan.
Hal-hal yang harus diperhatikan oleh guru adalah visi dan misi mereka sebagai tenaga pendidik dalam membangun citra bangsa dalam bidang pendidikan untuk menanamkan pemahaman dan sebuah pengetahuan kepada siswa untuk meneruskan kepada kemajuan pendidikan nantinya, bila seorang pengajar sudah mengembangkan tugas dan tanggung jawabnya maka yang harus dipertahankan adalah pengetahuan dan pemahamannya untuk menjadi tetap berguna, inilah citra guru yang ideal, di samping itu guru juga harus mengamalkan pengetahuannya juga sebagai pengganti orang tua murid disekolah dan menyelami jiwa muridnya.
Seperti yang dijelaskan oleh Prof. Pupuh Faturraman dan M.Sobri Sutikno bahwasanya :
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik sekolah, selain memberikan sejumlah ilmu
pengetahuan guru jugabertugas menanamkan nilai-nilai dan sikap kepada anak didik disekolah agar anak didik memiliki kepribadian yang pari purna dengan ilmu yang dimilikinya, guru membimbing anak didiknya dalam mengengan latar mengembangkan potensinya.
Setiap guru memiliki kepribadian yang sesuai dengan latar belakang mereka sebelum menjadi guru, kepribadian dan pandangan guru serta latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar sangta mempengaruhi kualitas pembelajaran. Guru adalah manusia yang unik yang memiliki karakter sendiri-sendiri. perbedaan karakter ini akan menyebabkan situasi belajar yang diciptakan oleh setiap guru bervariasi.
Menurut pupuh faturrahman (2001,:24) performance guru dalam mengajar dipengaruhi berbagai faktor, seperti tipe kepribadian, latar belakang pendidikan, pengalaman dan yang tak kalah penting adalah pandangan filosofi guru terhadap murid. Guru yang memandang anak didik sebagai makhluk individual yang tidak memiliki kemampuan akan menggunakan pendekatan metode teacher centered, sebab murid dipandangnya sebagai gelas kosong yang di isi apapun. Padahal tugas guru adalah membimbing, mengarahkan dan memotivasi anak didik dalam mengembangkan potensinya.
Keberhasilan atau kegagalan dalam proses belajar mengajar merupakan sebuah ukuran dalam proses pembelajaran.
b. Keadaan siswa
Peserta didik yang berjumlah 136 siswa di SMA Satria Makassar, dengan segala perbadaannya seperti motivasi, minat, bakat, perhatian, harapan, latar belakang sosio-kultura, tradisi keluarga, menyatu dalam system belajar dikelas. Perbedaan-perbedaan inilah yang wajib dikelola, diorganisir seorang guru, untuk mencapai proses pembelajaran yang optimal. Apabila guru tidak memiliki kecermatan dan keterampilan dalam mengelola perbedaan-perbedaan potensi peserta didik maka proses pembelajaran sulit mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Guru harus menyadari bahwa
perbedaan potensi bawaan peserta merupakan kekuatan maha hebat untuk mengorganisasi pembelajaran yang ideal, keragaman merupakan keserasian yang harmonis dan dinamis.
Sebagai peserta didik tentunya harus ada interaksi guru dengan siswa, peserta didik juga harus, memahami bahwa peserta didik sebagai makhluk individual dengan segala perbedaan dan persamaan dengan guru.
B. Penampilan Guru dalam Mengajar di SMA Satria Makassar
Penampilan guru dalam mengajar di SMA Satria Makassar seperti penampilan guru pada umumnya, yang memiliki ciri khas sebagai pendidik. Meskipun sekolah ini berbasisi metode sekolah umum tidak khusus seperti sekolah yang berbasis pada dasar Islam, namun pada pendidik di SMA Satria Makassar khususnya ibu guru semuanya menutup aurat atau mengenakan hijab hal tersebut diwajibkan untuk seluruh ibu guru yang ada di SMA Satria Makassar dan hal ini dipaparkan secara langsung oleh ibu yayasan Mochammad Nadzir ini dan kepala sekolah SMA Satria Makassar Drs. H. Zainuddin M.Pd beliau pun selalu mengingatkan agara para pendidik baik kepada bapak atau ibu guru yang mengajar selalu berpakaian menarik, rapi, sopan, dan santun dalam berpenampilan sehingga para siswa(i) tidak jenih atau bosan dalam kegiatan belajar. Disisi lain guru di SMA Satria Makassar
memiliki jadwal pakaian yang akan digunakan dalam mengajar setiap harinya, penampilan guru di sekolah ini selalu seragam setiap harinya misalnya seperti hari senin para guru diwajibkan mengenakan pakaian hijau PNS agar lebih berkesan rapi, kompak dan displin dan para siswa yang melihat guru-guru dapat menilai tiap guru rapid an displin dalam berpenampilan sehingga para siswa(i) dapat meneladanin penampilan guru di SMA Satria Makassar.
Tabel 3
Jawaban Responden Terhadap Siswa Suka Dengan Guru Berpenampilan Rapi, Sopan, Dan Santun Dalam Mengajar.
No Kategori Frekuensi Presentase
1 Sangat Suka 38 88 %
2 Suka 12 12%
3 Kurang Suka 0 0%
4 Tidak Suka 0 0%
Jumlah 50 100%
Sumber data : Hasil Tabulasi angket no 1
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa dari 50 siswa yang menjadi responden dalam penelitian sebanyak 88% atau 38 siswa yang mengatakan
sangat menyukai guru yang berpenampilan yang baik,sopan dan santun dalam mengajar dan suka 12% kurang suka 0% dan tidak suka 0% juga. Mengenai penampilan guru terhadap minat blajar siswa tentunya dari seluruh siswa di SMA Satria Makassar, semua siswa(i) akan menjawab penampilan guru yang baik, sopan dan santun dalam mengajar sangat disukai oleh seluruh siswa(i). seperti pada tabel berikut respon siswa(i) terhadap penampilan guru di SMA Satria Makassar.
Tabel 4
Jawaban Responden Terhadap Pendapat Siswa Mengenai Penampilan Guru di SMA Satria Makassar
No Kategori Frekuensi Presentase
1 Sangat Suka 43 97 %
2 Suka 7 3%
3 Kurang Suka 0 0%
4 Tidak Suka 0 0%
Jumlah 50 100%
Dari hasil tabel diatas membuktikan bahwa dari 50 siswa yang menjadi subjek peneliian sebanyak 97% atau 47 siswa yang mengatakan penampilan guru di SMA Satria Makassar sangat baik yang mengatakan suka sebanyak 3% atau 7 siswa yang mengatakan suka dan yang mengatakan kurang suka dan tidak suka sebanyak 0% penampilan guru yang rapi sopan dan santun dlam mengajar dapat dilihat pada seluruh pendidik di SMA Satria Makassar yang dapt dicontoh oleh siswa(i) dan pendidik dimanapun ia berada, berikut ini tabel yang membuktikan bahwa guru yan berpenampilan tidak rapi, tidak sopan dan tidak santun dalam mengajar kurang disukai siswa di SMA Satria Makassar dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :
Tabel 5
Jawaban Responden Terhadap Guru Yang Berpenampilan Tidak Rapi,Tidak Sopan Dan Tidak Santun Dalam Mengajar
No Kategori Frekuensi Presentase
1 Sangat Baik 0 0 %
2 Baik 0 0%
3 Kurang Baik 10 10%
Jumlah 50 100% Sumber data : Hasil Tabulasi angket no 4
Berdasarkan dari hasil tabel diatas membuktikan bahwa dari 50, siswa sebanyak 90% atau 40 siswa yang mengatakan bahwa penampilan guru yang tidak rapi, tidak sopan dan tidak santun dalam mengajar, yang mengatakan tidak baik 10% atau 10 siswa yang mengatakan sangat baik dan baik sebanyak 0% atau tidak adasiswa yang memilih, hal tersebut memperkuat bahwa penampilan guru sangat mempengaruhi minat belajar siswa(i) dalam proses belajar. Dan jika ada guru berpenampilan tidak rapi tidak sopan dan santun dalam mengajar akan mengurangi minat belajar siswa akan kesan pertama yang di berikan kurang menarik dan meninggalkan kesan yang sangat tidak baik pula, sehingga siswa enggan mengikuti mata pelajaran guru yang berpenampilan buruk tersebut dan minat belajar siswa semakin menurun.
Ditemui seorang siswa melalui wawancara singkat penulis seorang siswa menceritakan sedikit pengalamannya selama bersekolah tentang
guru-guru yang memiliki penampilan buruk dalam mengajar, siswa yang bernama Abdul Fadli ditemui di SMA Satria Makassar tersebut mengatakan.
Saya tidak memiliki keingintahuan pelajaran guru tersebut karena penampilannya kurang menarik dan penyampaian pelajarannya kurang menyenangkan dan memiliki volume suara yang agak kecil dalam mengajar, sesekali guru tersebut berpenampilan menarik namun tidak pantas dalam berpenampilan selayaknya seorang pendidik, seperti memakai make up yang berlibihan dalam waktu proses mengajar sehingga yang siswa perhatikan hanyalah make up, pakaian guru tersebut bukanlah pakaian yang pantas guru tersebut kenakan dalam proses belajar mengajar (Wawancara,Rabu 5 Maret 2014).
Hal ini sangatlah penting diperhatikan bahwasanya seorang pendidik mesti berpenampilan yang menarik, sopan dan santun namun yang sesuai dengan batasan-batasan berpakaian selayaknya seorang pendidik, tidak berlebihan dalam berpenampilan karena setiap gerak-gerik seorang pendidik akan dinilai oleh para siswa(i)nya. Sangatlah disayangkan pelajaran kurang diminati peserta didik hanya karena penampiloan seorang pendidik. Namun bagaimana jika seorang pendidik (guru) yang berpenampilan yang baik namun dalam proses mengajarnya kurang menyenangkan, apakah hal tersebut mengurangi penilaian yang baik terhadap seorang pendidik tersebut.
Tabel 6
Pendapat siswa terhadp Guru yang Berpenampilan Baik, Namun Cara Pengajarannya Kurang Menyenangkan
No Kategori Frekuensi Presentase 1 Sangat Mengurangi 40 90 % 2 Mengurangi 10 10% 3 Kurang Mengurangi 0 10% 4 Tidak Mengurangi 0 90% Jumlah 50 100%
Sumber data : Hasil Tabulasi angket no 5
Berdasar hasil penelitian tabel diatas membuktikan bahwa dari 50 siswa yang menjadi objek penelitian menyatakan bahwa sebnyak 9% siswa menyatakan penampilan guru yang baik haruslah sesuai dengan pengajaran yang dibawakan menyenangkan agar tidak mengurangi penilaian siswa(i) di SMA Satria Makassar, dari 10 siswa 10% yang mengatakan hal tersebut hanya mengurangi penilaian yang baik dan yang menjawab kurang dan tidak mengurangi sebanyak 0% atau tidak ada siswa yang memilihnya.
Untuk memperkuat hasil tabel diatas maka penulis melakukan wawancara dengan salah seorang siswa di SMA Satria Makassar, agar penelitian dan pembahasan ini lebih akurat. Aqil Muharram adalah ketua osis di SMA Satria Makassar ini menuturkan bahwa ia memiliki guru yang menjadi
idolanya karena penampilannya yang berkharisma sehingga ia berkeinginan menjadi seorang guru seperti yang ia idolakan, namun suatu hari guru tersebut yang sering disapa pak syafarudin ini memiliki volume suara yang tidak konstan dalam artian terkadang suaranya terlalu besar dan terkadang terlalu kecil sehingga penyampain pelajaran tidak optimal, disebabkan guru tersebut sakit yang dideritanya pada waktu beliau mengajar. Hal ini sangat dirasakan oleh pak syafaruddin dan pada waktu itu Aqil Muharram (siswa) memiliki penilaian yang kurang baik terhadap guru yang di idolakannya tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwasanya penampilan guru haruslah di imbangi dengan pengajaran dan penyampaian yang di berikan ke peserta didik dengan menyenangkan pula, kondisi guru yang prima dalam mengajar akan menimbulkan perasaan yang senang terhadap siswa dengan kata lain seorang pendidik dituntut agar selalu prima ( tidak sakit ) dalam mengajar. Pakar psikologi menuturkan keceriaan pendidik akan menimbulkan rasa ceria dalam hati peserta didiknya begitu pun sebaliknya.
C. Minat Belajar Siswa di SMA Satria Makassar
Setelah penulis melakukan penelitian dapat disimpulkan bahwa minat belajar siswa di SMA Satria Makassar menurun hal tersebut diketahui dengan
adanya junmlah siswa(i) yang membolos disaat jam pelajaran sedang berlangsung serta kurangnya perhatian para siswa(i) pada mata pelajaran yang berlangsung. Ditemui seorang siswa untuk dimintai keterangan penyebab seorang siswa bolos pada saat jam proses belajar mengajar berlangsung, sebut saja nama siswa tersebut Muh. Akbar ia menuturkan bahwa.
Saya terkadang membolos pada saat proses belajar nengajar berlangsung karena saya bosan melihat penampilan guru yang kurang menarik. Guru saya terkadang memakai pakaian yang semrawutan, tidak rapi dan terkesan tidak sopan, tutur siswa tersebut ( Wawancara, Rabu 5 Maret 2014).
Alasan yang dituturkan siswa tersebut menjadi salah satu hambatan dalam meningkatkan minat belajar siswa di SMA Satria Makassar. Adapun metode yang dikakukan oleh guru-guru di SMA Satria Makassar adalah sebagai berikut.
D. Pengaruh Penampilan Guru Terhadap Minat Belajar Siswa di SMA Satria Makassar.
Setelah penulis melakukan penelitian di SMA Satria Makassar, penulis dapat menyimpulkan bahwa pengaruh penampilan guru terhadap minat belajar siswa di SMA Satria Makassar sangat berpengaruh, karena penampilan guru itu dapat mengatasi kebosanan siswa, sehingga dalam proses belajarnya siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, keantusiasan, serta berperan serta secara aktif.
Para siswa akan enggan menghadapi guru yang tidak menarik pelajarannya tidak dapat diserap sehingga siswa mulai bosan dengan pelajaran yang diberikan oleh seorang guru, transformasi diri terhadap kenyataan di kelas atau di masyarakat perlu di biasakan sehingga setiap lapisan masyarakat dapat mengerti bila menghadapi guru. Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu guru tidak hanya sekedar menjadi pengajar tetapi betul-betul menjadi pedidik yang akan memindahkan nilai-nilai kepada anak didik, seorang guru sebagai model dalam upaya menanamkan dan membentuk siswa sikap terhadap siswa, terlebih dahulu ia harus menampakkan dalam tingkah laku yang baik. Sehingga dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar berjalan secara efektif. Di samping itu guru harus mendapatkan hasil yang maksimal dalam kegiatan belajar mengajar sehingga dapat di harapkan banyak pihak dan dapat membantu mempercepat tercapainya tujuan pendidikan.
Dengan demikian jelaslah hasil penelitian ini menyatakan bahwa pengaruh penampilan guru di SMA Satria Makassar sangatlah tinggi atau sangat berpengaruh dalm meningkatkan minat belajar siswa. Sehingga para guru di SMA Satria Makassar bersepakat menjalankan beberapa metode dalam meningkatkan minat belajar siswa di SMA Satria Makassar. Salah satu metode yang digunakan para guru di SMA Satria Makassar yakni berpenampilan yang baik,sopan,rapi dan pantas dikenakan oleh para guru
dalam proses belajar mengajar. Karena guru mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar terhadap minat belajar siswa khususnya di SMA Satria Makassar, dan sangat penting dalam peranan meningkatkan kualitas pendidikan, guru harus mampu dalam meminimalisir pengaplikasian kegiatan belajar mengajar, sehingga dengan adanya area baru siswa akan mengadakan usaha untuk mengakomodasi yang akan mempermudah kegiatan belajar mengajar yang efektif. Guru dapat di pastikan semakin besar sumbangannya bagi perkembangan diri siswanya, sekaligus sebagai teladan bagi siswa di SMA Satria Makassar salah satunya melalui penampilan guru tersebut. Untuk lebih jelasnya pengaruh penampilan guru terhadap minat belajar siswa di SMA Satria Makassar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 7
Jawaban Responden Terhadap Penampilan Guru Dalam Mengajar Mempengaruhi Minat Belajar Siswa di SMA Satria Makassar
No Kategori Frekuensi Presentase
1 Sangat Mempengaruhi 40 90 % 2 Mempengaruhi 10 10% 3 Kurang Mempengaruhi 0 0% 4 Tidak Mempengaruhi 0 0% Jumlah 50 100%
Berdasarkan hasil tabel diatas dari 50 siswa yang menjadi objek penelitian sebanyak 90% atau 40 siswa yang menyatakan bahwa mereka anggap bahwa penampilan guru sangat mempengaruhi minat belajar siswa dalam belajar di sekolah 10 siswa atau 10% mengatakan bahwa penampilan guru mempengaruhi minat belajar siswa dalam belajar di sekolah dan yang mengatakan kurang mempengaruhi dan tidak mempengaruhi sebanyak 0% atau tidak ada yang memilih.
Guru yang menjadi idola dan menjadi panutan siswa(i) adalah seorang pendidik yang berkarisma dan memiliki khas tersendiri dalam berpenampilan, guru tersebut akan selalu dikenang dan menjadi idola siswa(i) sehingga mata pelajaran yang dibawakan guru yang berpenampilan yang rapi, baik, sopan dan santun banyak diminati oleh siswa(i) dan hal tersebut mampu meningkatkan minat belajar siswa dan mempengaruhi minat belajar siswa(i) dan guru yang berpenampilan rapi, sopan dan santun dalam mengajar selalu ditunggu oleh siswa(i) karena menimbulkan kesan yang baik dan menyenangkan hati sehingga rasa keingin tahuan siswa(i) terhadap mata pelajaran meningkat tanpa harus di ingatkan.