• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembentukan Citra Melalui Program Kemah Bakti Mahasiswa Ika Darma Ayu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pembentukan Citra Melalui Program Kemah Bakti Mahasiswa Ika Darma Ayu"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Diterima: Bulan Tahun. Disetujui:Bulan Tahun. Dipublikasikan:Bulan Tahun 93 DOI: 10.15575/reputation.v3i2.2359 Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung https://jurnal.fdk.uinsgd.ac.id/index.php/humas

Pembentukan Citra Melalui Program Kemah Bakti Mahasiswa Ika Darma Ayu

Cantika Khodijah

1*

, Paryati

1

, Lida Imelda Cholidah

2

1

Jurusan Ilmu Komunikasi Humas, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

2

Jurusan Ilmu Komunikasi Humas, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

*Email : [email protected]

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui desain program Kemah Bakti Mahasiswa, program yang terdapat pada Kemah Bakti Mahasiswa, citra yang ingin dibentuk Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung, dan usaha yang dilakukan untuk membentuk citra melalui program Kemah Bakti Mahasiswa.

Metode yang diterapkan peneliti yaitu studi kasus dengan pendekatan kualitatif dan paradigma konstruktivistik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa program Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung memiliki desain program yang terbagi menjadi tiga fokus yaitu melakukan pendekatan emosional ke warga, mengadakan berbagai jenis program, dan melakukan mini riset tentang gejala-gejala sosial di Desa. Citra yang diharapkan yaitu anggota yang bermasyarakat, peduli daerah, religius, dan beretika dengan usaha memberi stimulus pada pelaksanaan program KBM agar dapat dilanjutkan kepada proses pembentukan citra yang selanjutnya yaitu persepsi, kognisi, motivasi, sikap, dan menerima respon dari masyarakat tentang keberhasilan pembentukan citra Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung melalui program KBM.

Kata Kunci : Citra; Image Building

ABSTRACT

The purpose of this research is to determine the design of the Student Service Camp, the

program contained in the Student Service Camp, the image that Ika Darma Ayu Komisariat

UIN SGD Bandung wants to form, and the efforts made to shape the image through the

Student Service Camp. The method applied by researchers is a case study with a qualitative

approach and a constructivist paradigm. The results of the study concluded that the Ika

Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung Community Service Camp program has a

program design that is divided into three focuses, namely taking an emotional approach to

residents, holding various types of programs, and conducting mini-research on social symptoms

in the village. The image that is expected is that of members who are social, care for the region,

religious, and ethical by providing a stimulus to the implementation of the KBM program so

(2)

94 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108

that it can be continued with the image formation process, which is perception, cognition, motivation, attitudes, and receiving responses from the community about the success of image formation Ika Darma Ayu Commissariat UIN SGD Bandung through the KBM program.

Keywords: Image; Image Building PENDAHULUAN

Ika Darma Ayu Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung merupakan sebuah organisasi primordial berbasis massa mahasiswa yang berdiri sejak tahun 1986, organisasi ini berfokus pada penyamaan persepsi, visi, dan misi untuk membentuk program-program kerja kemahasiswaan yang sasarannya baik dalam ranah internal maupun eksternal. Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung yang merupakan organisasi daerah yang menyelenggarakan berbagai program kerja baik sasarannya untuk pihak internal maupun eksternal hingga nama baiknya makin terdengar di telinga masyarakat Indramayu khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Tentu saja jelas organisasi ini memiliki peranan untuk turut membentuk citra positif demi keberlangsungan organisasi yang berjalan ke ranah positif di masa depan.

Berdasarkan data pra-penelitian yang telah diakses melalui website diskominfo.indramayukab.go.id, program Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) merupakan kegiatan tahunan unggulan yang konsisten digagas mahasiswa yang tergabung dalam organisasi daerah Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung. Dimana program KBM yang meskipun hanya berlangsung selama satu bulan, selalu menyajikan berbagai kegiatan positif sehingga membentuk opini publik yang baik di mata masyarakat, yang pada akhirnya melahirkan rekam jejak positif di benak masyarakat desa yang telah di tempati untuk mengabdi.

Peneliti terlah mengikuti kegiatan Kemah Bakti Mahasiswa selama tiga tahun berturut-turut dan melihat fenomena di lapangan bahwa adanya opini positif dari masyarakat desa dalam pelaksanaan bentuk-bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh panitia KBM selama satu bulan penuh, yang kemudian bisa peneliti jadikan sebagai data pra observasi terhadap penelitian yang akan dilaksanakan ke depan. Adapun respon yang peneliti dapatkan dari para tokoh masyarakat juga pemuda-pemudinya mengakui keberadaan para mahasiswa Ika Darma Ayu Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung membawa kebanggaan tersendiri karena masih peduli dan ingat terhadap keadaan tanah kelahirannya. Hal itulah yang membuat Peneliti merasa tertarik untuk meneliti program KBM dan mencari tahu lebih dalam lagi mengenai usaha-usaha yang

dilakukan IDA UIN dalam proses pembentukan citra organisasinya melalalui program KBM tersebut.

Pembentukan citra tidak hanya tugas dari seorang Humas perusahaan,

melainkan anggota dari berbagai organisasi sudah mulai berjuang untuk

(3)

Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 95

membentuk citra dari masing-masing organisasinya. Citra merupakan satu dari banyaknya hal terpenting yang harus dicapai guna meningkatkan reputasi dan prestasi yang akan menentukan baik atau buruknya nama baik perusahaan maupun organisasi dipandangan pihak-pihak eksternal. Setiap perusahaan atau organisasi pasti menginginkan dipandang memiliki citra yang positif oleh pihak eksternal, akan tetapi tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mencapainya. Proses yang panjang harus dipersiapkan oleh pihak-pihak internal, tentunya mereka yang mengetahui skema pembentukan citra agar citra positif yang diharapkan bisa terpenuhi.

Adanya penelitian tentang pembentukan citra, sangat diperlukan guna memperoleh informasi yang lebih menyeleluruh karena sejauh yang peneliti ketahui bahwa bidang kehumasan selalu mengalami masa kemajuan untuk membangun suatu citra, hanya saja masih terbilang dini pada pembentukan citra di ranah organisasi daerah. Oleh karenanya, peneliti melakukan penelitian lebih lanjut agar dunia kehumasan khususnya di ranah organisasi daerah memiliki perkembangan yang arahnya lebih baik dalam bidang Ilmu Pengetahuan.

Adapun tinjauan tentang penelitian terdahulu dengan tema pembahasan yang sama yaitu Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Nurry Dinda Bella (2018) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan, skripsi dengan judul “Pembentukan Citra Oleh Humas PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Melalui Media Sosial Instagram”. Hasil dari penelitian tersebut yaitu bahwa kerja keras telah banyak diusahakan oleh pihak PT.Dirgantara Indonesia (Persero) dalam pembentukan ulang citra yang telah dibangun agar khalayak tersadar bahwasannya PT.Dirgantara Indonesia (Persero) eksistensinya masih tetap terjaga hingga sekarang. Perbedaannya yaitu terletak pada objek penelitian dan proses pembentukan citranya menggunakan media sosial bukan program.

Kedua, penelitian oleh Ade Septianto (2017) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, skripsi yang berjudul “Pengaruh Kuaitas Informasi Twitter Terhadap Pembentukan Citra Positif Kementerian Komunikasi dan Informatika”. Hasil dari penelitian tersebut yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara pengaruh kualitas penyebaran informasi melalui media sosial twitter terhadap proses

membentuk citra lembaga menjadi hasil dari penelitian tersebut.

Perbedaannya terletak pada metode penelitian, fokus penelitian, dan objek yang diteliti.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Nandaria Difri Rahelina Purba

(2017) Universitas Sumatera Utara, skripsi, dengan judul “Program Rumah

Pintar dalam Membentuk Citra Positif di Mata Publik (Studi Desktiptif Kualitatif

Tentang Program Rumah Pintar dalam Membentuk Citra Positif PTPP London

Sumatera Tbk dimata Publik Sekitar Kebun Begerpang)”. Hasilnya yaitu

(4)

96 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108

tanggapan yang baik atas kehadiran perusahaan yang didengar dari informan, telah menggambarkan bahwa adanya citra yang baik yang telah diperoleh perusahaan di mata khalayaknya. Perbedaannya terletak pada objek yang diteliti dan pendekatan yang digunakan.

Keempat, penelitian oleh Tasya Eliani Supit (2018), Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, skripsi, dengan judul “Pembentukan Citra Yayasan Pembina Masjid Salman ITB melalui Budaya Organisasi (Analisis Deskriptif pada Yayasan Pembinan Masjid Salman ITB)”. Hasil dari penelitian tersebut yaitu proses dalam membentuk citra dilakukan melalui elemen lain, yaitu behavioral yang sasarannya bukan hanya kepada internal tetapi eksternal juga.

Citra harapan yang sedang ditingkatkan oleh organisasi tersebut yaitu menjadikan masjid kampuus sebagai pelopor dalam pembangunan peradaban keislaman.

Nilai dasar yang dibentuk sejsak dini kepada internal perusahaan yaitu pada slogan Aman, Nyaman,dan Mengesankan secara lingkungan. Perbedaannya pada objek yang diteliti dan teori atau konsep yang digunakan.

Lokasi penelitian ini yaiiu pada organisasi daerah Ika Darma Ayu (Ikatan Keluarga Mahasiswa Indramayu) komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang beralamat di Kp. Babakan Desa, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan pra penelitian yang telah dilakukan, lokasi tersebut memiliki ketersediaan sumber data penelitian yang dibutuhkan peneliti dalam melakukan penelitian ke depannya.

Berdasarkan fokus penelitian tersebut, pertanyaan penelitiannya sebagai berikut: (1) Bagaimana desain program Kemah Bakti Mahasiswa yang digagas oleh Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung? (2) Bagaimana program- program yang terdapat pada Kemah Bakti Mahasiswa? (3) Bagaimana citra yang ingin dibentuk oleh Ika Darma Ayu Komsariat UIN SGD Bandung melalui program Kemah Bakti Mahasiswa? (4) Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung untuk membentuk citra melalui program Kemah Bakti Mahasiswa?

Metode yang akan digunakan pada penelitian inii yaitu metode studi kasus (case studies). Metode seperti ini dipilih karena sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti dan agar memudahkan peneliti dalam memberikan gambaran juga penjelasan dari hasil yang ditemukan di Ika Darma Ayu Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung tentang pembentukan citra melalui program unggulan Kemah Bakti Mahasiswa (KBM).

LANDASAN TEORITIS Teori Citra

Guna membangun suatu citra, diperlukan kesan yang positif dari sebuah

organisasi kepada publiknya. Oleh karenanya yang diperlukan yaitu pemberian

suatu informasi antara organisasi dengan publik agar ridak mengalami perbedaan

pandang. Adapun informasi yang dimaksud harus sesuai dengan kenyataan

(5)

Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 97

organisasi tersebut menurut Jefkins (1992: 33) diantaranya (1) Siapa pihak yang menjadi publik bagi organisasi tersebut, (2) Apa yang diketahui oleh mereka tentang organisasi tersebut, (3) Bagaimana pandangan mereka tentang organisasi tersebut, (4) Apa yang harus dilakukan organisasi untuk publiknya, (5) Mengapa organisasi harus melakukan hal tersebut, (6) Apa perbedaan organisasi yang dimaksud dengan organisasi lainnya.

Organisasi membutuhkan sebuah citra guna mendapatkan dukungan dari publiknya. Adapun kegiatan yang dilaksanakan seorang PR berorientasi pada pembentukan citra juga pembentukan publik internal.

Pembentukan Citra

Menurut Soemirat dan Ardianto (2002: 101-102) citra dapat terbentuk dari pengetahuan serta berbagai informasi yang diterima seseorang, memang komunikasi tidak secara langsung akan menimbulkan suatu perilaku, tetapi lebih cenderung mempengaruhi cara kita dalam mengorganisasikan citra tentang lingkungan. Masih dengan buku yang sama, Elvinaro menjelaskan bahwa proses pembentukan citra dalam ranah kognitif dijelaskan oleh John S. Nimpoerno dalam suatu laporan penelitian tentang Tingkah Laku Konsumen, sesuai dengan yang dikutip Danasaputra sebagai berikut:

Sumber: Model pembentukan citra

Nimpoeno dalam Soemirat dan Ardianto (2007: 115)

Model tersebut menunjukkan bahwa hal-hal yang berasal dari luar diolah dan diorganisasikan serta mempengaruhi respons. Stimulus (rangsang) yang didapat dari individu bisa diterima atau bahkan ditolak. Apabila stimulus yang diberikan mengalami penolakan, maka tidak bisa menjalankan proses selanjutnya.

Hal tersebut menjelaskan bahwa stimulus tidak berjalan efektif dalam mempengaruhi publik, karena tidak ditemukannya respons atau perhatian dari sasaran yang akan dituju. Namun jika stimulus diterima, maka tentu bisa melanjutkan ke proses selanjutnya. Empat komponen pembentukan citra (persepsi, kognisi, motivasi, dan sikap) diartikan citra individu terhadap rangsang atau menurut Walter Lipman disebut sebagai “Picture Our Head”. Apabila stimulus mendapatkan perhatian, maka individu akan bekerja keras dalam memahami stimulus yang diberikan.

Proses pembentukan citra dapat dipastikan akan menghasilkan sikap,

(6)

98 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108

pendapat, tanggaoan, serta perilaku tertentu. Agar mengetahui citra dari suatu perusahaan atau organisasi, diperlukan adanya penelitian. Melalui penelitian perusahaan atau organisasi tersebut dapat mengetahui hal-hal apa saja yang disukai dan tidak disukai, serta organisasi dapat mengambil langkah yang representatif guna peningkatan organisasi. Penelitian tentang citra memberikan informasi guna evaluasi kebijakan, menentukan strategi atau langkah praktis organisasi selanjutnya, memperbaiki adanya kesalah pahaman agar organisasi tersebut dapat bertahan bahkan dapat berkembang ke arah yang lebih baik lagi ke depannya.

Model Komunikasi SMCRE (source, message, channel, receiver, effect) Model komunikasi ini diperkenalkan oleh Everett M. Roger dan W.

Floyd Shoemaker dalam bukunya yang berjudul Communication of Innovation yang menyatakan “A common model of communictions process is that source, message, channel, receiver, and effect” (“Model umum dari proses komunikasi addalah sumber, pesan, saluran, penerima, dan efek”) (Ruslan: 2003).

Model proses komunikasi S – M – C – R - E dapat dipaparakn seperti penjelasan berikut (1) Source, merupakan seseorang atau pejabat kehumasan yang melakukan inisiatif dalam menyampaikan informasi kepada khalayak eksternal.

(2) Message, adalah suatu pesan yang disampaikan dari pengirim kepada penerima dapat berupa informasi,ide, atau gagasan. Message atau pesan yang disampaikan dapat dilakukan dengan dan atau tanpa tatap muka secara langsung tetapi maknanya dapat diterima dengan baik. (3) Receiver, merupakan kebalikan dari source. Dimmana receiver atau komunikan bertindak sebagai penerima pesan yang telah diberikan komunikator atau source. (4) Channel, dapat diartikan sebagai saluran penghubung komunikasi yang terjalin dari source kepada receiver atau khalayak dengan menggunakan media. Adapun media tersebut dapat digunakan

ketika jarak antara source dan receiver berjauhan atau bisa juga ketika jumlah receiver yang banyak guna memudahkan dalam proses penyampaian pesannya. (5) Effect, merupakan suatu pengaruh yang ditimbulkan pada receiver guna dapat mengetahui perbedaan sebelum dan setelah menerima informasi dari source.

Pengaruh yang ditimbulkan tersebut dapat berubah atas pengetahuan atau tingkah laku dan sebagainya sesusai dengan pesan yang telah disampaikan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa effect dapat mempengaruhi receiver pada proses komunikasi yang terjadi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini didapat dari hasil wawancara secara mendalam yang

dilakukan peneliti kepada ketiga narasumber yang dianggap mampu dalam

menjawab segala pertanyaan yang diajukan dan dapat memberikan tanggapan

secara jujur dan sejelas-jelasnya. Hasil wawancara mendalam juga dilengkapi

dengan data pendukung hasil observasi partisipasi aktif yang dillakukan oleh

(7)

Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 99

peneliti tentunya dengan cara mengamati objek yang ada di lapangan. Adapun objek yang secara fokus diteliti yaitu mengenai pembentukan citra organisasi Ika Darma Ayu Komisariat UIN Sunan Gunung Djati melalui program Kemah Bakti Mahasiswa (KBM).

Berdasarkan kesepakatan pengurus Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung yang telah disahkan pada rapat kerja pengurus 2020 tentang tujuan dilaksanakannya progam kerja dari bidang III Sosial dan Masyarakat tentang pelaksanaan program Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) XXVI menghasilkan kesepakatan bahwa Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung berharap akan terjalinnya silaturahmi antara mahasiswa dengan masyarakat dalam rangka pengembangan dan pengkajian keilmuan sesuai dengan problematika masyarakat. Dimana maksud dari pernyataan tersebut yaitu Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung berharap mendapatkan nama baik di publiknya.

Desain Program Kemah Bakti Mahasiswa Yang Digagas Oleh Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung

Setiap organisasi pasti memiliki program kerja dan tentu keberhasilannya sangat diperhitungkan diakhir masa jabatan kepengurusan dalam organisasi tersebut. Salah satu faktor keberhasilan suatu program tidak lepas dari adanya desain program yang dirancang dengan baik. Desain program merupakan langkah awal untuk menganalisis situasi atau latar belakang, merencanakan strategi dan struktur, serta menghasilkan persiapan rencana kerja yang matang. Program kerja yang diinisiasi oleh perusahaan atau organisasi telah banyak dilakukan di Indonesia. Program program tersebut dilakukan dalam upaya untuk mendorong peningkatan nalar intelektual maupun kesejahteraan masyarakat. Merencanakan suatu program kerja dalam suatu organisasi tidaklah mudah, acapkali program tersebut dinilai gagal atau tidak sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan. Hal tersebut sesuai dengan definisi desain program yang disampaikan oleh Ziliac (2012) dalam bukunya Basic of Project Planning Module, bahwa desain program merupakan langkah awal untuk menganalisis situasi, merencanakan strategi dan struktur, serta menghasilkan persiapan rencana kerja yang matang.

Begitu halnya dengan Ika Darma Ayu Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang memiliki desain program dalam merencanakan program- program kerja dalam kepengurusan. Tentunya dalam merancang desain program tersebut terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan agar desain program dapat dijalankan dengan baik yaitu mengidentifikasi program, formulasi program, perencanaan kerja, dan yang terakhir yaitu perencanaan monitoring dan evaluasi.

Sebelum mendesain suatu program, para pengurus Ika Darma Ayu Komisariat

(8)

100 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108

UIN SGD Bandung telah menerapkan langkah-langkah dalam pembuatan desain program yaitu diawali dengan mengidentifikasi program dengan cara membuat latar belakang pelaksanaan Kemah Bakti Mahasiswa.

Adapun yang menjadi latar belakang dilaksanakannya program Kemah Bakti Mahasiswa di Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung yaitu adanya fenomena culture shock yang sering dirasakan oleh para anggota yaitu kehilangan kebiasaan yang sudah mendarah daging selama di perantauan. Oleh karenanya pelaksanaan Kemah Bakti Mahasiswa dianggap sebagai salah satu solusi untuk mengurangi fenomena terssebut. Selanjutnya yaitu formulasi program dimana para konseptor mulai merancang bagaimana latar belakang dari program tersebut dapat dijalankan sesuai dengan tema serta tujuan diadakannya program Kemah Bakti Mahasiswa yang mana organisasi Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung sebagai source atau sumber untuk menyampaikan pesan kepada khalayak.

Tema program Kemah Bakti Mahasiswa XXVI seperti yang disampaikan oleh kedua narasumber pada penelitian ini yaitu “Ngebentuk Kepedulian Anggota Ika Darma Ayu klawan Bebaturan, Meduluran, Manunggal, lan Sinau sareng Masyarakat”. Tema tersebut menggunakan bahasa krama atau bahasa daerah yang halus, hal tersebut dimaksudkan agar setidaknya masyarakat menilai para peserta KBM atau anggota Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung bahwa mahasiswa sekarang itu masih bisa bebasan atau aktif berbahasa daerah.

Adapun inti dari tema tersebut yaitu adanya keinginan untuk lebih dari sekedar silaturahmi dengan masyarakat, tetapi juga bersaudara bahkan kental rasa kekeluargaannya dengan masyarakat setempat. Sedangkan untuk tujuan diadakannya Program Kemah Bakti

Mahasiswa XXVI itu ada empat, yaitu mengimplementasikan Tri Darma Perguruan Tinggi, silaturahmi mahasiswa dengan masyarakat, menumbuhkan rasa primordial, dan ingin membagi ilmu juga pengalaman kepada para anggota IDA UIN untuk mengamati gejala-gejala sosial di masyarakat Desa.

Mengadakan berbagai jenis program juga termasuk dalam desain program yang telah dirancang, dimana pengadaannya tidak sembarang melainkan harus dilakukan inventarisasi masalah kepada para warga, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan pemerintahan Desa. Program-program yang dilaksanakan pun harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan tentunya atas kemampuan para peserta Kemah Bakti Mahasiswa.

Melakukan penelitian atau mini riset dimana penelitian yang dimaksud hanya penelitian sederhana. Tujuannya tidak lain untuk pembelajaran para peserta Kemah Bakti Mahasiswa dan memberikan laporan kepada pemerintah Desa sebagai hasil yang telah didapat selama melaksanakan program-program.

Ika Darma Ayu Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam

pemaparan-pemaparan di atas telah melakukan langkah-langkah pembuatan

(9)

Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 101

desain program secara sistematis sesuai dengan teori yang telah ada sebelumnya dari mulai langkah awal hingga akhir tersusun dengan rapih.

Program-program Yang Terdapat Pada Kemah Bakti Mahasiswa

Setiap organisasi yang telah berkembang selama lebih dari satu dekade, pasti telah memiliki rancangan program-program kerja unggulan untuk keberlangsungan kemajuan organisasi di kemudian hari. Dalam hal ini adalah Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung yang mana memiliki salah satu program kerja unggulan bernama Kemah Bakti Mahasiswa. Program Kemah Bakti Mahasiswa berbasis pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung selama sebulan penuh, tentu memiliki program-program yang telah dirancang desainnya oleh para konseptor kegiatan di Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung sejak jauh-jauh hari sebelum waktu pelaksanaan.

Program-program yang dirancang tersebut telah dibagi fokusnya untuk lebih tepat sasaran. Hal tersebut sesuai dengan penjelasan yang disampaikan oleh Ketua Pelaksana Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) XXVI dan ketua umum Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung terdapat empat fokus bidang garapan yaitu keagamaan, kepemudaan, kemasyarakatan, dan kependidikan.

Bidang keagamaan meliputi program kunjungan mushola dan khutbah Jum’at bagi peserta KBM laki-laki terpilih. Program kunjungan mushola bentuk kegiatannya yaitu setiap hari untuk sholat Maghrib dan Isya seluruh peserta KBM diharuskan melaksanakan tugas berkunjung ke seluruh mushola yang ada di Desa Sukadadi. Tugasnya yaitu dimulai dengan membantu marbot mushola dalam membersihkan tempat ibadah, melakukan adzan dan sholat maghrib, mengajar ngaji anak-anak, kultum dengan jamaah, dan terakhir yaitu ikut sholat isya berjamaah. Sedangkan untuk khutbah Jum’at berhubung hanya sebulan pelaksanaan, maka hanya tiga laki-laki peserta KBM yang melakukan praktik khutbah secara langsung di masjid Desa.

Bidang kepemudaan meliputi program kajian kepemudaan, temu wicara pemuda, pelatihan kewirausahaan, dan perayaan hari kemerdekaan Indonesia.

Program kajian kepemudaan dan temu wicara pemuda merupakan bentuk kegiatan yang sama-sama mengumpulkan para pemuda di Desa untuk berkumpul bersama di balai Desa berdiskusi mengenai kemajuan daerahnya.

Pelatihan kewirausahaan dilakukan untuk mengasah potensi para pemuda dalam berkarya mandiri. Terakhir yaitu perayaan hari kemerdekaan Indonesia dimana para peserta KBM bekerja sama dengan Karang Taruna untuk memeriahkan perayaan 17 Agustus di Desa Sukadadi.

Bidang kemasyarakatan meliputi program pembagian sembako gratis, sosialisasi cuci tangan yang baik dan benar, serta program bagi-bagi masker.

Adapun program-program tersebut telah melakukan kerja sama dengan lembaga

(10)

102 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108

terkait seperti pembagian sembako kerja sama dengan Baznas Indramayu, sosialisasi cuci tangan bekerja sama dengan puskesmas Arahan, dan program bagi-bagi masker bekerja sama dengan pemerintah Desa Sukadadi.

Bidang kependidikan meliputi program griya sinau, rumah pintar, dan pelatihan tari tradisional. Griya sinau yaitu program partisipasi mengajar ke TK, SD, maupun Madrasah Diniyah dengan bersama-sama belajar dengan para guru agar para peserta KBM turut serta bisa mengajar anak-anak di Desa tersebut tentunya atas bimbingan dan pengawasan dari guru. Program rumah pintar yaitu program les privat untuk anak-anak yang main ke posko Kemah Bakti Mahasiswa. Terakhir yaitu program pelatihan tari tradisional untuk anak-anak dan pemudi Desa, adapun tari yang dilatih yaitu tari tradisional asal daerah Indramayu agar anak-anak dapat menjadi generasi penerus dari maestro tari di Indramayu selanjutnya atau bahkan bisa mendirikan sanggar tari di Desa Sukadadi.

Menurut hasil wawancara bersama ketua pelaksana Kemah Bakti Mahasiswa, adapun konsepan untuk program besarnya akan dijelaskan secara terpisah berdasarkan hasil rapat para konseptor. Pertama itu program inventarisasi masalah, dimana konsepan yang dibawa yaitu seluruh peserta KBM diharuskan menstimulus masyarakat dengan cara berkunjung ke rumah para

pamong Desa, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan masyarakat umum untuk menggali informasi seputar potensi maupun permasalahan yang ada di Desa Sukadadi. Kedua, yaitu program pembukaan KBM yang ke-26. Konsepnya itu seperti kegiatan formal pada umumnya yang mengundang para pemerintah Desa dan perwakilan masyarakat dari berbagai unsur yang kemudian berkumpul di balai Desa untuk mendengarkan maksud serta tujuan kami datang ke Desa Sukadadi ini. Selanjutnya yaitu untuk program griya sinau dan kunjungan mushola yaitu kegiatan membantu para pengajar untuk ikut serta mengajarkan adik-adik usia TK dan SD dalam belajar di sekolah dan mengaji di mushola.

Program berikutnya yaitu rumah pintar, dengan konsepan memberikan les belajar gratis di posko. Kemudaian program kajian kepemudaan dan temu wicara pemuda konsepnya dengan mengumpulkan pemuda-pemudi di balai Desa untuk berdiskusi tentang masa depan kemajuan Desa. Sedangkan untuk program lainnya seperti pembagian sembako gratis, perayaan 17 agustus, dan tabligh akbar yaitu seperti biasa hanya memberikan stimulus kepada masyarakat bahwa keberadaan peserta KBM telah mencapai puncaknya dengan terlibat langsung di program-program tersebut.

Hasil wawancara bersama ketua umum dan ketua pelaksana juga

menjelaskan bahwa beberapa program yang telah dirancang oleh para konseptor

ada yang tidak jadi dijalankan karena manusia bisa berencana, fenomena di

lapangan yang akan menentukan. Faktanya pada saat melaksanakan kegiatan

Kemah Bakti Mahasiswa, para peserta KBM diharuskan untuk melakukan

(11)

Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 103

inventarisasi masalah selama satu minggu di masyarakat, hal itu lah yang menjadi alasan mengapa rencana awal tidak selamanya sesuai dengan pelaksanaan di lapangan. Setiap program pasti memiliki konsepan agar program tersebut dapat berjalan sebagaimana yang telah digambarkan pada konsepan awal.

Pemaparan di atas telah menjelaskan bahwa tiap-tiap program pada kegiatan Kemah Bakti Mahasiswa memiliki konsep yang tentunya berbeda. Hal tersebut dikarenakan masing-masing program memiliki penanggung jawab untuk melaksanakan program tersebut dan memberikan rancangan konsep secara apik agar pelaksanaan program bisa lebih terlaksana dengan terarah. Pada pelaksanaan program KBM XXVI ini Ika Darma Ayu Komisariat UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah merealisasikan 14 program kerja dengan berfokus pada bidang keagamaan, kepemudaan, kemasyarakatan, dan kependidikan.

Citra Yang Ingin Dibentuk IDA UIN Melalui Program KBM

Menjalin hubungan yang baik dengan publik eksternal merupakan suatu keharusan bagi setiap organisasi, dengan begitu pihak eksternal secara tidak langsung akan memberikan gambaran mengenai setiap elemen yang menyangkut organisasi tersebut di dalam pemikirannya. Citra merupakan salah satu aspek penting yang harus diperoleh serta dijaga oleh seseorang, lembaga, atau organisasi. Setiap organisasi menginginkan memiliki citra yang baik di mata publiknya dan setiap organisasi akan memiliki citra sebanyak orang yang memandang.

Hal tersebut sesuai dengan definisi citra yang disampaikan oleh Katz dalam Soemirat dan Ardianto (2010: 111-114) dalam bukunya Dasar-dasar Public Relations, bahwa citra merupakan cara pandang orang lain mengenai suatu perusahaan, sebuah organisasi, atau suatu aktivitas lainnya. Begitu halnya dengan IDA UIN yang mana memiliki harapan agar mendapat citra yang positif di mata publik. Salah satu upayanya dengan mengadakan program kerja yang cakupannya untuk eksternal organisasi, yaitu program kerja Kemah Bakti Mahasiswa (KBM).

Seperti yang telah dijelaskan oleh Jefkins & Yadin (2004: 20-22) bahwa terdapat beberapa jenis citra yang bisa digunakan oleh suatu organisasi, salah satunya yaitu wish image (citra yang diharapkan). Setiap organisasi, perusahaan, maupuun lembaga bisa dipastikan memiliki harapan untuk membentuk citra organisasinya.

Begitu juga dengan IDA UIN, seperti hasil wawancara yang telah peneliti

peroleh dari informan Ketua Umum IDA UIN dan Ketua Pelaksana KBM dapat

disimpulkan bahwa citra yang ingin dibentuk ada empat, yaitu memiliki jiwa

sosial yang tinggi (bermasyarakat), memiliki tingkat kepedulian yang tinggi

dengan perkembangan daerah, religius, dan beretika yang baik.

(12)

104 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 Sumber: Hasil Olahan Peneliti

Gambar 1. Citra yang diharapkan Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung

Gambar 1 menunjukan gambaran umum citra yang diharapkan oleh Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung. Pertama, memilki jiwa sosial yang tinggi (bermasyarakat) artinya dengan hadirnya para peserta KBM sesuai dengan tujuan pelakasanaan program yaitu ingin membantu mencari solusi atas permasalahan yang ada di Desa. Seperti yang disampaikan oleh kedua narasumber bahwa pada saat awal keberangkatan para peserta KBM ke Desa Sukadadi yaitu melakukan proses inventarisasi masalah yang ada di Desa yaitu dengan melakukan wawancara langsung kepada perangkat Desa dan observasi langsung dengan cara silaturahmi ke rumah warga secara acak. Dari situlah data hasil wawancara ditulis untuk kemudian didiskusikan bersama seluruh peserta Kemah Bakti Mahasiswa agar menjadi kajian lanjutan bersama Kepala Desa dan atau pemerintahan setempat. Hal itulah yang menjadi titik tekan para mahasiswa untuk turut andil membantu masyarakat agar masukan-masukannya bisa segera direspon oleh para pemerintahan setempat.

Kedua, Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung ingin dipandang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi dengan perkembangan daerah artinya kehadiran para mahasiswa Ika Darma Ayu untuk melaksanakan KBM di Desa yang ada di Indramayu adalah sebagai salah satu bukti bahwa mereka tidak melupakan tanah kelahirannya. Itulah mengapa salah satu tujuan pelaksanaan KBM yaitu harus di Desa yang berlokasi di Kabupaten Indramayu, hal tersebut dikarenakan sebagai salah satu wujud cinta kasih dari pemuda pemudi Indramayu yang merantau untuk tetap peduli dan tidak melupakan jasa-jasa dari daerah asalnya.

Ketiga, mahasiswa yang religius yang artinya Ika Darma Ayu

berkomitmen untuk tetap menjaga nilai-nilai keagamaan yang melekat dari asal

komisariatnya yaitu kampus UIN SGD Bandung, dengan begitu secara tidak

langsung akan membantu mencitrakan lembaga kampus juga. Maksud dari ingin

(13)

Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 105

dipandang memiliki tingkat religius yang tinggi yaitu disetiap kegiatan dari program Kemah Bakti Mahasiswa yaitu diharapkan selalu mengutamakan nilai- nilai kesopanan, bisa dengan memberikan senyuman ketika berpapasan dengan masysarakat atau bahkan menjabat tangan dan memperkenalkan diri secara santun ketika berkunjung ke rumah warga. Selain itu, sisi religius yang ingin dibangun yaitu dengan mengisi tempat ibadah di Desa dengan menghidupkan kembali kegiatan keagamaan dari sisi yang berbeda dari biasanya, bisa dengan menghadirkan kreativitas perlombaan keagamaan dan lainnya.

Terakhir yaitu ingin dipandang memiliki citra bahwa mahasiswa itu beretika dan mengedepankan sopan santun setiap kali bermasyarakat di Desa selama melaksanakan program Kemah Bakti Mahasiswa. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, dalam hal ini Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung berharap bahwa anggotanya yang mana merupakan peserta dari program Kemah Bakti Mahasiswa ingin dipandang oleh masyarakat sebagai mahasiswa yang memiliki etika yang baik di masyarakat yaitu dengan ramah, murah senyum, mengucapkan kata-kata yang baik, menghidupkan masjid dan mushola, serta membagi ilmu kepada adik-adik di Desa dengan cara yang ramah.

Usaha-usaha Yang Dilakukan Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung Untuk Membentuk Citra Melalui Program Kemah Bakti Mahasiswa

Membentuk citra organisasi yang positif bukan merupakan perkara yang mudah untuk dilakukan. Tentunya membutuhkan berbagai usaha agar target citra yang diharapkan bisa terwujud. Adapun usaha yang dilakukan oleh Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung dalam membentuk citra organisasinya yaitu dengan memberi stimulus melalui setiap kegiatan dalam pelaksanakan Kemah Bakti Mahasiswa.

Menurut Chapliin dalam Walgito (2002: 68), stimulus yaitu sesuatu yang dapat mengenai reseptor serta menyebabkan aktiifnya organisme (individu).

Stimulus bisa datang dari dalam dan luar individu yang dimaksud, meskipun sebagian besarnya stimulus datang dari luar individu. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi stimulus agar kemudian dapat dipersepsi oleh masyarakat, yaitu:

Pertama, kekuatan stimulus. Cukup kuatnya stimulus, merupakan suatu syarat agar stimulus dapat dengan mudah dipersepsi oleh individu. Kekuatan stimulus itulah yang akan menentukan dapat dipersepsi atau tidaknya stimulus tersebut. Umumnya stimulus yang kuat akan lebih memberikan keuntungan untuk lebih direspons jika dibandingkan dengan stimulus yang memiliki tingkat kelemahan yang tinggi. Pada ranah ini

kekuatan stimulusnya bisa dibuktikan dengan setiap kali peserta KBM

ingin melaksanakan kegiatan, mereka memanfaatkan pengeras suara musholla

dan masjid untuk memberikan pengumuman perihal akan dilaksanakannya suatu

(14)

106 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108

kegiatan guna menarik perhatian masyarakat sekitar.

Kedua, perubahan stimulus. Stimulus yang itu-itu saja (monoton) kurang mendapat keuntungan, oleh karenanya perlu adanya suatu perubahan dari stimulus tersebut agar lebih menarik perhatian individu. Pemasangan identitas keberadaan Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung pada banner posko Kemah Bakti Mahasiswa merupakan salah satu bentuk perubahan stimulus, selain itu juga upaya meramaikan posko di rumah yang biasanya sepi tidak ada kehidupan juga dapat menarik perhatian masyarakat yang kemudian akan memunculkan rasa penasaran untuk kemudian membentuk persepsi.

Ketiga, pengulangan stimulus. Pada dasarnya stimulus yang mengalami pengulangan akan lebih menarik perhatian dibanding yang tidak mengalami pengulangan. Para peserta KBM dalam menginformasikan atau mengundang masyarakat untuk menghadiri kegiatan tidak hanya mengundang sekali saja, tetapi berkali-kali dan dengan metode yang berbeda. Adapun cara mengundangnya dengan memberikan undangan berbentuk fisik secara langsung ke rumah-rumah warga dan kemudian mensosialisasikan ulang kepada warga yang bersangkutan

Pada dasarnya proses pembentukan citra dimulai dengan penerimaan stimulus, ketika stimulus berhasil diterima maka bisa melanjutkan ke proses berikutnya yaitu persepsi. Stimulus-stimulus yang telah diterima masyarakat Desa Sukadadi kemudian membentuk persepsi masyarakat dan akhirnya sampai pada ranah bertambahnya kognisi atau pengetahuan dari masyarakat tentang Kemah Bakti Mahasiswa lebih mendalam. Proses berikutnya setelah kognisi sampai kepada masyarakat yaitu motivasi dan sikap yang kemudian membentuk respon di masyarakat mengenai keberhasilan pembentukan citra organisasi Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung melalui program Kemah Bakti Mahasiswa.

PENUTUP

Program Kemah Bakti Mahasiswa Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung memiliki desain program yang terbagi menjadi tiga fokus yaitu melakukan aktivitas nangga atau pendeketan emosional ke warga, mengadakan berbagai jenis program, dan melakukan penelitian atau mini riset tentang gejala- gejala sosial di Desa. Citra yang diharapkan oleh organisasi ini yaitu anggota yang memiliki jiwa sosial yang tinggi (bermasyarakat), peduli terhadap perkembangan daerah, religius, dan beretika baik tentunya dengan usaha memberi stimulus- stimulus pada pelaksanaan program Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) agar kemudian dapat diterima dan bisa dilanjutkan kepada proses pembentukan citra yang selanjutnya yaitu persepsi, kognisi, motivasi, sikap, dan akhirnya menerima respon dari masyarakat tentang keberhasilan pembentukan citra Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung melalui program Kemah Bakti Mahasiswa.

Berdasarkan hal-hal tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa adanya

program-program Kemah Bakti Mahasiswa dapat mendorong pembentukan

(15)

Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108 107

citra yang positif untuk Ika Darma Ayu Komisariat UIN

Sunan Gunung Djati Bandung di masyarakat Desa Sukadadi khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai pembentukan citra, saran untuk Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung yaitu hendaknya organisasi ini memasukkan bidang Humas ke dalam struktur kepengurusan agar dapat menjalankan sebagaimana mestinya fungsi-fungsi kehumasan di wilayah organisasi khususnya dalam hal melakukan proses pembentukan citra organisasi.

Sedangkan saran untuk akademisi yaitu penelitian ini hanya sebatas meneliti pembentukan citra Ika Darma Ayu Komisariat UIN SGD Bandung dalam ranah program Kemah Bakti Mahasiswa saja, masih banyak lagi yang perlu digali lebih dalam dan hendaknya penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan analisis yang lebih detail agar lebih menyeluruh dalam menggali informasi mengenai proses pembentukan citra yang dilakukan melalui program Kemah Bakti Mahasiswa (KBM).

DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku:

Jefkins, Frank dan Daniel Yadin. (2004). Public Relations. Jakarta: Erlangga.

Ruslan, Rosady. (2003). Metode Penelitian PR dan Komunikasi. Jakarta: PT.

Grafindo Persada.

Soemirat, Soleh dan Elvinaro Ardianto.( 2002). Dasar-dasar Public Relations.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

---. (2007). Dasar-dasar Public Relations.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

---. (2010). Dasar-dasar Public Relations.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Walgito, Bimo. (2002). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

Sumber Skripsi:

Dinda Bellia, Nurry. (2018). Pembentukan Citra Oleh Humas PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Melalui Media Sosial Instagram. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pasundan, Bandung.

Purba, Nandaria Difri Rahelina. (2017). Program Rumah Pintar dalam Membentuk Citra Positif di Mata Publik (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Program Rumah Pintar dalam Membentuk Citra Positif PT PP London Sumatra Tbk di Mata Publik Sekitar Kebun Begerpang). Skripsi. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Septianto, Ade. (2017). Pengaruh Kualitas Informasi Twitter Terhadap Pembentukan

Citra Positif Kementerian Komunikasi dan Informatika. Skripsi. Universitas

Pembangunan Nasional Veteran, Jakarta.

(16)

108 Tabligh: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 3 No. 2 (2020) 93-108

Supit, Tasya Eliani. (2018). Pembentukan Citra Yayasan Pembina Masjid Salman ITB

melalui Budaya Organisasi (Analisis Deskriptif pada Yayasan Pembina Masjid

Salman ITB). Skripsi. Program Studi Hubungan Masyarakat, UIN Sunan

Gunung Djati, Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

Draft assessments for the following countries were subject to consultation: India, Lao People´s Democratic Republic, Republic of Korea, Ukraine.. Stakeholders submitted comments

Model pembelajaran discovery learning merupakan model pembelajaran berbasis penemuan. Discovery learning adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa

Hasil kajian menunjukkan, bahwa : (1) Untuk penanggulangan aliran debris (pasir dan krikil) adalah dengan bangunan Sabo; (2) Aliran debris disebabkan oleh pengaliran air

Pesertanya tidak hanya mahasiswa S1 melainkan ada juga mahasiswa S2 yang berasal dari kampus yang terkenal akan risetnya seperti Cambridge University dan Seoul National

Karena terkait dengan Amdal, UKL-UPL, usaha dan/atau kegiatan pengelolaan lingkungan hidup, izin lingkungan hidup juga harus memperhatikan ketentuan

Proses penaakulan dalam Sejarah melibatkan proses membuat suatu kesimpulan logik yang terbaik berdasarkan kritikan terhadap sumber. Proses penaakulan terhadap

Biokaasulaitoksen omistajan tehtävänä on valita huoltokirjan laadinnan koordinoijaksi henkilö, jolla on riittävä asiantuntemus biokaasulaitoksen toiminnasta, huollosta

Tiga aspek Restorasi yaitu: (1) aspek kooperatif, artinya seringkali pengarang mempengaruhi pembaca, mengajak pembaca berkompromi, dengan menciptakan kembali realitas