• Tidak ada hasil yang ditemukan

3. METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "3. METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

15

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Sampel spons Petrosia (petrosia) nigricans yang digunakan untuk penelitian di laboratorium di peroleh di bagian barat daya Pulau Pramuka Gugusan Kepulauan Seribu DKI Jakarta pada kedalaman 7 meter. Perawatan spons yang telah difragmentasi dilakukan selama 3 bulan (September – November 2010) di Laboratorium Pusat Studi Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Jakarta Utara. Waktu pengambilan sampel sesuai dengan penanggalan Bulan Qomariyah selama satu bulan. Pengawetan dan pengamatan sampel spons dilakukan di Laboratorium Histologis Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2 di bawah.

Tabel 1. Bahan yang digunakan dalam penelitian

Bahan Kegunaan Spons jenis Petrosia (petrosia) nigricans Jenis yang diteliti

Formalin (4% dan 10%) Bahan pengawet, desilifikasi

Air destilasi Desilifikasi, bahan pencuci dalam pewarnaan

Air keran Desilifikasi, bahan pencuci dalam

pewarnaan

HCl (Asam Klorida) Bahan desilifikasi

Parafin bahan embedding dan blocking

Xylol bahan clearing

Etanol (70%, 80%, 90%, 95%, dan 100%) bahan dehidrasi dan rehidrasi

Enthellan perekat mounting

(2)

Tabel 2. Alat yang digunakan dalam penelitian

Alat Kegunaan Underwater camera (Canon A640) Dokumentasi

Alat selam (satu set) Mengambil sampel

Cutter dan pisau stainless steel Memotong jaringan spons

Plastik sample Menyimpan sampel spons

Kolam Pemeliharaan Wadah pemeliharaan

Kapal motor Transportasi pengambilan sample di alam

Cool box Wadah pengangkutan sampel

Jaring sample Wadah saat pengambilan sampel

Botol sample Tempat sampel air

Tali Polyetilen (benang kenur) Alat bantu aklimatisasi sampel Termometer lapangan, Refraktometer Mengukur suhu, salinitas

Kertas label Memberi nama sampel

Basket jaringan Tempat jaringan saat dehidrasi

Pinset dan jarum Alat bantu sectioning

Gelas objek dan cover glass Meletakan preparat awetan

Blok kayu Menempelkan hasil blocking

Korek Api Alat bakar

Mangkok Tempat air

Mikrotom Spencer 820 Alat bantu sectioning

Tutup pagoda Alat bantu blocking

Lemari pendingin Tempat penyimpanan sampel

Lemari asam Membantu pergantian larutan

Alat pemanas air Eyela Water Bath SB-650 Alat bantu sectioning

Embedding Console Tissue-Tek TEC Alat blocking

Inkubator Memmert Menyimpan hasil sectioning

EyelaSoft Inkubator SLI-450 Menyimpan parafin cair

Mikrometer objektif dan okuler Alat ukur

Mikroskop cahaya dan Stereo Olympus CH20 Mengamati jaringan

pensil dan spidol permanen Alat tulis

Optilab viewer Mikrofotografi

3.3. Prosedur Penelitian

3.3.1. Pengambilan sampel di alam

Spons Petrosia (petrosia) nigricans diperoleh dari alam yaitu di bagian barat daya Pulau Pramuka, Gugusan Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Spons di masukkan ke dalam cool box berukuran besar yang telah diisi air laut untuk dipotong menjadi ukuran ± 5 cm x 5cm. Sampel yang telah dipotong kemudian

(3)

ditusuk dengan jarum yang telah diikatkan benang kenur, setiap potongan diberi jarak ± 2 cm.

Gambar 3 menunjukkan rangkaian spons yang disusun pada benang lalu letakan kembali ke habitat awalnya dengan posisi tergantung pada karang mati atau artificial reef yang ada disekitarnya. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk membantu proses aklimatisasi spons sehingga dapat mengurangi tingkat stress pada spons. Proses aklimatisasi dilakukan selama satu bulan sebelum dibawa ke habitat buatan (kolam pemeliharaan).

Setelah aklimatisasi selama satu bulan spons dipindahkan ke kolam pemeliharaan. Pengemasan sampel spons menggunakan plastik transparan berukuran sedang, kemudian diberi oksigen dan dimasukkan ke dalam cool box yang berisi batu es.

Gambar 3. Aklimatisasi spons Petrosia (petrosia) nigricans di alam

3.3.2. Pemeliharaan spons Petrosia (petrosia) nigricans

Spons Petrosia (petrosia) nigricans ditransplantasi di habitat buatan berupa kolam dengan ukuran 5 m x 1,5 m x 1,5 m, ketinggian air dari dasar kolam 1 meter, dan diberi substrat rubble (Gambar 4).

(4)

Gambar 4. Kolam pemeliharaan spons Petrosia (petrosia) nigricans

Kondisi perairan kolam dengan kualitas air yang mendukung sangat penting bagi kehidupan spons. Kolam pemeliharaan merupakan habitat baru bagi spons sehingga sedemikian rupa diatur agar sama dengan habitat alaminya dan spons dapat bertahan hidup dengan jangka waktu yang lama. Kolam

pemeliharaan ini dilengkapi dengan aerator yang berguna untuk memberi sirkulasi udara di kolam, dan protein skimmer yang berguna sebagai perangkap amonia serta racun yang terkandung dalam air kolam. Kolam dilengkapi dengan dua pompa air yang diletakkan dibagian protein skimmer dan bak penyaringan. Air mengalir dan bersirkulasi selama 24 jam (Gambar 5).

Keramik

(5)

Spons diletakan di atas keramik yang terdapat di dasar kolam. Air kolam berasal dari filter Seaworld yang dialirkan dengan pompa berkapasitas besar ke Pusat Studi Ilmu Kelautan Ancol, Jakarta. Spons diaklimatisasi selama satu bulan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru (kolam pemeliharaan) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6, sehingga dapat mengurangi stres akibat perubahan kondisi dari lingkungan sebelumnya. Spons yang telah diaklimatisasi kemudian dipotong menjadi bagian yang lebih kecil sehingga berjumlah 12 fragmen.

(a) (b)

Gambar 6. (a) Aklimatisasi awal pemindahan spons Petrosia (petrosia) nigricans di kolam pemeliharaan, (b) Spons Petrosia (petrosia) nigricans di atas keramik di dasar kolam pemeliharaan

3.3.3. Pengukuran parameter lingkungan

Pengukuran parameter lingkungan dilakukan untuk mengetahui kondisi perairan pada lokasi penelitian berdasarkan standar baku mutu kualitas perairan (Lampiran 1). Parameter lingkungan yang diukur adalah parameter fisik dan kimia yang dilakukan secara in situ dan pengamatan melalui analisis laboratorium. Parameter fisik yang di ukur yaitu suhu dan salinitas, pengukuran dilakukan setiap minggu selama 5 minggu masa pemeliharaan spons di kolam. Pengukuran suhu

(6)

dilakukan dengan menggunakan termometer yang terpasang pada kolam pemeliharaan, sedangkan pengukuran salinitas menggunakan refraktometer dengan cara meneteskan contoh air kolam pada refraktometer kemudian bisa dilihat langsung besarnya nilai salinitas air kolam pemeliharaan. Parameter kimia yang di ukur yaitu nitrat, nitrit dan amonia. Pengukuran dilakukan sebanyak dua kali selama 5 minggu masa pemeliharaan spons di kolam, yakni pada awal

minggu pertama dan akhir minggu kelima. Contoh air untuk dianalisis kandungan kimia perairannya diambil dengan botol sampel kemudian disimpan ke dalam coolbox. Analisa kandungan nitrat, nitrit, dan amonia dilakukan di Laboratorium Produksi Lingkungan, MSP-IPB. Pengukuran parameter laut dilakukan juga sebagai kontrol pada setiap pengambilan sampel laut. Tabel 3 menunjukkan satuan, cara pengukuran, dan alat pengukuran parameter fisik dan kimia perairan yang di ukur.

Tabel 3. Parameter fisik dan kimia perairan yang di ukur

No Parameter Satuan Pengukuran Alat/Metode

Parameter Fisik

1 Suhu oC

in situ Termometer Hg

2 Salinitas PSU (Practical Salinity Unit) in situ Refraktometer

Parameter Kimia

1 Nitrat mg/l laboratorium Spektrofotometer

2 Nitrit mg/l laboratorium Spektrofotometer

3 Amonia mg/l laboratorium Spektrofotometer

3.3.4. Pengambilan sampel di kolam

Pengambilan sampel spons yang dipelihara di kolam dilakukan pada setiap fase bulan secara beraturan, yaitu fase bulan baru/mati, fase bulan ¼ , fase bulan ¾, dan fase bulan purnama. Sedangkan pengambilan sampel spons alam

(7)

pengambilan spons di kolam pada fase yang sama. Spons yang diambil harus dalam kondisi yang baik sebanyak tiga buah sampel dari fragmen yang berbeda pada setiap fase. Spons dipotong dengan ukuran 0,5 x 0,5 cm2. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam plastik sampel dan diawetkan dengan formalin 10% dan air laut dengan perbandingan 1:9 sebagai pengawet.

3.3.5. Pembuatan preparat awetan

Pembuatan preparat awetan dengan menggunakan metode histologis standar yaitu metode parafin dengan pewarnaan HE (Haematoxylin Eosin)

(Gunarso, 1989) (Lampiran 2). Berikut ini prosedur dalam histologis (Gambar 7),

Sampel spons Petrosia (petrosia) nigricans Difiksasi dalam larutan formalin 10%

Desilifikasi Dehidrasi

Gambar 7. Diagram alir proses standar histologis spons

3.3.6. Pengamatan laboratorium

Pengamatan preparat histologis dilakukan di Laboratorium Histologis Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor untuk mendapatkan beberapa data, antara lain:

1). Pengukuran diameter terpanjang dan diameter terpendek oosit Embedding dan Blocking Clearing Staining (pewarnaan) Sectioning (± 5µm) Mounting Mikrofotografi

(8)

Oosit yang diukur adalah oosit yang memiliki inti. Diameter terpanjang oosit diukur pada bagian yang paling panjang, sedangkan diameter terpendek oosit diukur pada bagian yang paling panjang (Gambar 8).

Gambar 8. Pengukuran diameter terpanjang dan diameter terpendek oosit

2). Pengukuran jumlah oosit

Pengukuran jumlah oosit yang ditemukan pada setiap lapang pandang.

3.4. Analisis Data

Jumlah dan ukuran oosit spons Petrosia (petrosia) nigricans dianalisis dengan melakukan pengamatan preparat histologis secara visual dengan mikroskop (perbesaran lensa 100x dan 400x) dan gambar hasil mikrofotografi berdasarkan fase bulan pada kolam pemeliharaan dan habitat aslinya (laut), kemudian membandingkannya dengan pustaka terbaru atau jurnal. Jumlah oosit diukur dengan menghitung rata-rata jumlah oosit terbanyak yang ditemukan pada lima lapang pandang di tiga sayatan berseri koloni sampel. Pengukuran diameter terpanjang serta diameter terpendek dilakukan dengan menggunakan alat

mikrometer. Rata-rata geometrik diameter di dapat dari akar perkalian antara diameter terpanjang dan diameter terpendek. Rumus yang digunakan yaitu (Permata et al., 2000):

... (1) diameter terpanjang diameter terpendek

(9)

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji-t untuk dua sampel dengan nilai α = 0,05 menggunakan Software Minitab 14. Analisis ini dilakukan untuk melihat pengaruh penggunaan metode transplantasi di lokasi transplantasi dengan habitat buatan (kolam) terhadap fungsi reproduksi spons Petrosia (petrosia) nigricans. Apabila nilai P < 0,05 maka terima Ho yang

berarti ada perbedaan nyata pada reproduksi seksual spons dalam hal ini terhadap pengaruh lokasi hidupnya (kolam dan laut), dan sebaliknya. Prosedur penelitian ditampilkan dengan diagram alir pada Gambar 9.

(10)

Analisis deskriptif

Analisis data Pengolahan data

Jumlah dan ukuran gamet spons alami Pengamatan preparat

jumlah dan ukuran gamet spons hasil transplantasi di

habitat buatan (kolam)

Pengambilan sampel spons

Petrosia (petrosia) nigricans

dari alam

Pembuatan preparat Transplantasi spons di

habitat buatan (kolam)

Pengambilan sampel spons

Petrosia (petrosia) nigricans dari

transplantasi di habitat buatan (kolam)

Sampel Petrosia (petrosia) nigricans dari alam

jumlah dan ukuran gamet spons alami jumlah dan ukuran gamet spons hasil transplantasi di habitat buatan (kolam)

Uji-t untuk dua sampel (Minitab 14) (Jumlah dan ukuran oosit)

Pvalue > 0,05 tidak ada perbedaan nyata pada fungsi reproduksi spons terhadap lokasi hidupnya Tolak H0 Pvalue < 0,05 Terima H0 ada perbedaan nyata pada fungsi

reproduksi spons terhadap lokasi

hidupnya

Gambar

Tabel 2. Alat yang digunakan dalam penelitian
Gambar 3 menunjukkan rangkaian spons yang disusun pada benang lalu  letakan kembali ke habitat awalnya dengan posisi tergantung pada karang mati  atau artificial reef yang ada disekitarnya
Gambar 4. Kolam pemeliharaan spons Petrosia (petrosia) nigricans
Gambar 6. (a) Aklimatisasi awal pemindahan spons Petrosia (petrosia) nigricans  di kolam pemeliharaan, (b) Spons Petrosia (petrosia) nigricans di atas  keramik di dasar kolam pemeliharaan
+4

Referensi

Dokumen terkait

Kertas konsep yang disediakan ini adalah untuk mengkaji perspektif majikan terhadap perbezaan gender sama ada graduan lelaki atau wanita yang dinilai dalam

Sekolah inklusif adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan bagi semua peserta didik pada sekolah yang sama tanpa diskriminasi, ramah dan humanis untuk

Syukur alhamdulillah kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayahnya-Nya kepada penulis, sehingga atas ridho-Nya penulis dapat

Bagi Peneliti Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut, terutama pada penelitian yang berkaitan

Dari keseluruhan hasil pengukuran tersebut, kecerahan perairan teluk Saleh masih memenuhi baku mutu air laut yang ditetapkan yaitu &gt;3 meter berdasarkan Kepmeneg LH, 2004

Widodo tidak mempedulikan argumen Muryati, dia semata-mata hanya berpatokan pada pandangan masyarakat yang dipercayainya benar, yaitu: bahwa istri yang baik adalah istri yang senang

adalah mampu meminimalisir derau yang terdapat pada citra yang dideteksi dan meningkatkan intensitas piksel tepi dari objek bergerak sehingga objek terdeteksi dengan jelas. Khususnya

Pengujian pengaruh kecintaan merek terhadap komitmen merek dijelaskan pada Tabel 9 yang menunjukkan bahwa keprcayaan merek memiliki pengaruh positif dan signifikan