1 1.1 Latar Belakang Masalah
Setiap perusahaan pasti memiliki tujuan agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar sehingga dapat menghasilkan laba atau keuntungan yang lebih besar. Semakin besar suatu perusahaan, maka akan semakin kompleks pula aktivitas bisnisnya. Jika usaha atau bisnis yang dijalankan perusahaan semakin besar dan kompleks, dana yang dibutuhkan pun akan semakin besar. Ada berbagai cara bagi perusahaan untuk mendanai aktivitas bisnisnya misalnya dengan menggunakan keuntungan yang diperoleh pada periode sebelumnya, namun perusahaan tidak mungkin hanya mengandalkan dana yang berada dalam perusahaannya saja, tetapi perusahaan juga membutuhkan sumber dana lain yang berasal dari luar perusahaan. Salah satunya melalui pasar modal (Yaredeta, 2014: 1).
Menurut Jogiyanto ( 2003 : 11-15 ) pasar modal merupakan sarana perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan jangka panjang dengan menjual saham atau mengeluarkan obligasi. Perusahaan yang membutuhkan dana dapat menjual surat berharganya di pasar modal. Surat berharga yang baru dikeluarkan oleh perusahaan dijual di pasar primer (primary market). Surat berharga yang baru dijual dapat berupa penawaran perdana ke publik (initial public offering atau IPO) atau tambahan surat berharga baru jika perusahaan sudah going public (sekuritas
tambahan ini sering disebut dengan seasoned new issues). Selanjutnya surat berharga yang sudah beredar diperdagangkan di pasar sekunder (secondary market).
Pasar modal pada hakekatnya adalah pasar yang tidak berbeda jauh dengan pasar tradisional, dimana ada pedagang, pembeli, dan juga ada tawar menawar harga. Pasar modal dapat juga diartikan sebagai sebuah wahana yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang memyediakan dana sesuai aturan yang ditetapkan. Pasar modal diharapkan mampu menjadi alternatif pendanaan bagi perusahaan Indonesia dan dapat juga dilihat sebagai alternatif dalam berinvestasi. (Lestari, 2004:1).
Menurut Irham Fahmi (2009 : 150) investor dalam mengambil keputusan investasi selalu berusaha untuk meminimalisir berbagai risiko yang timbul, baik risiko yang bersifat jangka pendek maupun risiko yang bersifat jangka panjang. Investasi adalah suatu komitmen penetapan dana pada satu atau beberapa obyek investasi dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dimasa yang akan datang. Dua unsur yang melekat pada setiap modal atau dana yang diinvestasikan adalah hasil dan risiko. Dua unsur ini selalu mempunyai hubungan timbal balik yang sebanding. Umumnya semakin tinggi risiko, semakin besar hasil yang diperoleh dan semakin kecil risiko semakin kecil pula hasil yang akan diperoleh (Lastari, 2004:2).
Analisis terhadap nilai saham merupakan nilai mendasar yang harus dilakukan investor sebelum melakukan investasi. Dalam melakukan analisis dan memilih saham, terdapat 2 analisis yang banyak digunakan untuk menentukan nilai sebenarnya dari saham, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental (Jogiyanto, 2003 : 88).
Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harganya di waktu yang lalu, volume perdagangan dan indeks harga saham gabungan. Analisis teknikal lebih memperhatikan pada apa yang telah terjadi di pasar, daripada apa yang seharusnya terjadi ( Kodrat, 2010 : 2 ).
Analisis Fundamental merupakan alat yang digunakan untuk membantu menganalisis laporan keuangan perusahaan sehingga dapat diketahui kekuatan dan kelemahan suatu perusahaan. Pada analisis fundamental pendekatan utama yang digunakan oleh para analis sekuritas adalah informasi laporan keuangan yang membantu dalam pengambilan keputusan investasi. Informasi ini berupa informasi akuntansi yang terangkum dalam laporan keuangan yang menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan berbagai pihak. Bentuk informasi laporan keuangan tersebut berupa rasio-rasio yang digunakan untuk mengukur prestasi keuangan perusahaan yang dipublikasikan untuk kepentingan investasi ( Slamet, 2004 : 22 ).
Beberapa investor mengatakan bahwa analisa fundamental adalah salah satu cara terbaik untuk mengetahui tentang segala sesuatu mengenai pergerakan harga. Tujuan dasar analisa fundamental adalah untuk mendapatkan
pemahaman tentang parameter penting dari kinerja uang dari laporan arus kas, neraca, laporan laba rugi, dll untuk mengetahui tentang keadaan ekonomi suatu negara. Keuntungan dari analisa fundamental adalah jika ekonomi telah dilakukan secara konsisten dan menghasilkan keuntungan yang cukup besar, dan membuat prospek ekonomi jangka panjang yang cerah. Di lain pihak analis fundamental percaya bahwa pasar saham tidak benar-benar mewakili nilai sebenarnya dari valuasi perusahaan karena sifat spekulatif dari pedagang. Analis fundamental percaya pada konsep investasi dengan berpegangan pada saham yang bagus untuk jangka waktu yang panjang dan dapat memperoleh dividen dengan melihat investasi yang dilakukan pada perusahaan tersebut (www.forexim.com). Dalam penelitian ini faktor fundamental yang digunakan adalah Return On Asset (ROA), Price Earning Ratio (PER), Earning per Share (EPS), Debt to Equity Ratio
(DER).
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas terdapat fenomena gap. Menurut Abdul Halim (2005:12), apabila laba yang diperoleh perusahaan relatif tinggi, maka kemungkinan besar bahwa dividen yang dibayarkan juga relatif tinggi. Apabila dividen yang dibayarkan relatif tinggi, akan berpengaruh positif terhadap harga saham di bursa, dan investor akan tertarik untuk membelinya. Akibatnya permintaan akan saham tersebut menjadi meningkat, sehingga harganya juga akan meningkat. Teori diatas bertentangan dengan fakta yang ada di lapangan.
Indonesia tergolong negara dengan jumlah penduduk sangat banyak.
Seiring dengan jumlah penduduk yang besar, tingkat konsumsi masyarakat pun
ikut meningkat. Melihat besarnya tingkat konsumsi masyarakat, Indonesia bukan hanya menjadi target pasar produk-produk luar negeri yang potensial, tetapi juga sebagai target investasi para investor. Pilihan investasi di sektor konsumsi bisa menjadi alternatif isi portofolio ketika investasi di perusahaan sektor lain masih menunjukkan pelemahan kinerja. Misalnya, ketika sektor property mengalami penurunan kinerja cukup signifikan sejak BI rate dinaikkan dan akibat aturan LTV yang baru. Juga disaat harga komoditas tambang dan perkebunan belum menunjukkan kenaikkan harga, sehingga emiten-emiten perkebunan dan pertambangan masih akan menurun kinerjanya. Meredupnya kinerja perusahaan di sektor lain mendorong investor mulai mencari alternatif investasi pada sektor yang masih bisa tumbuh. Salah satunya adalah sektor konsumsi (www.seputarforex.com). Beberapa perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mengalami sebuah fenomena dimana harga saham perusahaan turun ketika laba bersih meningkat atau sebaliknya.
Dari seluruh perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Terdapat fenomena, yaitu pada Martina Berto Tbk (MBTO). Komisaris independen MBTO Kusyanto Kadiman mengungkapkan bahwa beliau terus didesak oleh para investor karena harga sahamnya tidak mengalami kenaikan dari tahun 2011 ke tahun 2012. Para investor mendesak perusahaan karena mereka melihat adanya peningkatan kondisi keuangan yaitu pada tahun 2012 perusahaan mencatat penjualan tumbuh 10,4%
menjadi Rp144,8 M, dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp131,84 M. Laba
bersih juga meningkat 9,4% menjadi Rp10,94 M dibanding tahun sebelumnya Rp10 M. Harga saham anak usaha produsen kosmetika Martha Tilaar Tbk (MRAT) itu memang stagnan di level Rp 410 per lembar saham. Dia mengaku, manajeman memang tidak bisa melakukan cara khusus untuk membuat harga saham naik (economy.okezone.com).
Seperti yang terjadi pada perusahaan Gudang Garam Tbk (GGRM) yang dilihat dari laporan yang dipublikasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dimana laba perusahaan tersebut meningkat 7.7% dari tahun 2012 hingga tahun 2013, namun harga saham menurun sebesar 25% di tahun yang sama. Kemudian pada perusahaan Langgeng Makmur Industri Tbk (LMPI) dimana laba perusahaan tersebut meningkat pesat hingga 131% pada tahun 2014 sebesar Rp 1.710.590.575 menjadi Rp 3.968.046.308 pada tahun 2015. Akan tetapi, pergerakan saham menurun sebesar 54% pada tahun 2014 sebesar Rp 175 menjadi Rp 113 pada tahun 2015.
Beberapa perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pun mengalami fenomena yang sama dimana harga saham turun ketika laba bersih meningkat atau sebaliknya, hal ini dilihat dari laporan laba bersih dan harga saham tahunan perusahaan-perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI.
Tabel 1.1
Laba Bersih dan Harga Saham Pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012 – 2015
Kode Emiten
LABA BERSIH HARGA SAHAM
2012 2013 2014 2015 2012 2013 2014 2015
SKLT 7,962,693,771 11,440,014,188 16,480,714,984 20,066,791,849 180 180 300 370 ULTJ 353,431,619,485 325,127,420,664 283,360,914,211 523,100,215,029 1,330 4,500 3,720, 3,945 GGRM 4,068,711,000,000 4,383,092,000,000 5,395,293,000,000 6,452,834,000,000 56,300 42,000 60,700 55,000 HMSP 9,945,296,000,000 10,818,486,000,000 10,181,083,000,000 10,363,308,000,000 59,900 62,400 68,650 94,000 DVLA 148,909,089,000 125,796,473,000 80,929,476,000 107,894,430,000 1,690 2,200 1,690 1,300 SQBB 135,248,606,000 149,521,096,000 164,808,009,000 150,207,262,000 10,500 10,500 10,500 10,500 INAF 42,385,114,981 (54,222,595,302) 1,164,842,606 6,565,707,419 330 153 355 168 KLBF 1,775,098,847,932 1,970,452,449,686 2,121,090,581,630 2,057,694,281,873 1,060 1,250 1,830 1,320 UNVR 4,839,145,000,000 5,352,625,000,000 5,926,720,000,000 5,851,805,000,000 20,850 26,000 32,300 37,000 MERK 107,808,155,000 175,444,757,000 181,472,234,000 142,545,462,000 152,000 189,000 160,000 6,775 LMPI 2,340,674,019 (12,040,411,197) 1,710,590,575 3,968,046,308 255 215 175 113 STTP 74,626,183,474 114,437,068,803 123,465,403,948 185,705,201,171 1,050 1,550 2,880 3,015 WIIM 77,301,783,553 132,322,207,861 112,304,822,060 131,081,111,587 760 670 625 430 TCID 150,373,851,969 160,148,465,833 174,314,394,101 544,474,278,014 11,000 11,900 17,525 16,500
Sumber ; www.idx.co.id dan www.sahamok.com (Data diolah sendiri)
Dari tabel diatas, beberapa perusahaan sektor industri barang konsumsi memiliki fenomena tersebut. Pada tahun 2014, perusahaan Merck Indonesia Tbk (MERK) mengalami kenaikan laba bersih yang sebesar 3,43%
pada tahun 2013 sebesar Rp 175.444.757.000 menjadi Rp 181.472.234.000 pada tahun 2014, akan tetapi saham menurun sebesar 15,34% pada tahun yang sama.
Kemudian Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mengalami peningkatan laba sebesar 71,17% pada tahun 2012 sebesar Rp 77.301.783.553 menjadi Rp 132.322.207.861 pada tahun 2013. Akan tetapi, pergerakan saham turun sebesar 11,84% , pada tahun 2012 sebesar Rp 760 menjadi Rp 670 pada tahun 2013.
Hal sebaliknya dialami oleh perusahaan Ultrajaya Milk Industry and Trading Company Tbk (ULTJ) yang mengalami kerugian bersih sebesar 8% pada
tahun 2012 sebesar Rp 353.431.619.485 menjadi Rp 325.127.420.664 namun harga saham meningkat sebesar 70,4% pada tahun 2012 sebesar Rp 1.330 menjadi Rp 4.500 pada tahun 2014. Hal serupa terdapat pada perusahaan Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang mengalami kerugian sebesar 1.26% pada tahun 2014 sebesar Rp 5.926.720.000.000 menjadi Rp 5.851.805.000.000 pada tahun 2015, namun harga saham nya meningkat sebesar 12,7% pada tahun 2014 Rp 32.300 menjadi Rp 37.000 pada tahun 2015.
Berdasarkan fenomena yang telah terjadi peneliti mempunyai keinginan untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi harga saham perusahaan. Menurut Husnan (2005) salah satu cara untuk memprediksi harga saham adalah dengan melakukan analisis fundamental melalui rasio keuangan. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (Harahap, 2006:297). Berikut merupakan presentasi dan nilai dari ROA, PER, EPS, dan DER, pada 4 perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia :
Tabel 1.2
Tabel Presentase dan Nilai ROA, PER, EPS, DER dan Harga Saham Perusahan Sektor Industri Barang Konsumsi Periode 2012 – 2015
Nama
emiten Tahun CEKA GGRM INAF DLTA
ROA
2012 5,68% 9,80% 3,57% 28,63%
2013 6,08% 8,63% -4,19% 31,19%
2014 3,19% 9,27% 0,09% 29,04%
2015 7,17% 10,16% 0,43% 18,49%
PER
2012 6,63 26,62 24,13 19,13 2013 5,30 18,67 -8,75 23,01 2014 22,60 21,67 -23,13 24,71 2015 3,77 16,44 79,62 21,68
EPS
2012 196,11 2.114,6 13,67 13.327,8 2013 218,71 2.228 -17,49 16.892,2 2014 137,81 2.804 0,37 17.898,7 2015 179,07 3.353,7 2,11 239,8
DER
2012 1,21 0,51 0,82 0,25
2013 1,02 0,72 1,19 0,28
2014 1,38 0,75 1,1 0,29
2015 1,32 0,67 1,58 0,22
Harga Saham
2012 1.300 56.300 330 255.000 2013 1.160 42.000 153 380.000 2014 1.500 60.700 355 390.000 2015 675 55.000 168 5.200 Sumber ; www.idx.co.id dan www.sahamok.com (Data diolah sendiri)
Pada tabel 1.2 diketahui bahwa terjadi fluktuasi ROA, PER, EPS, DER, dan harga saham pada periode 2012-2015. Tingkat ROA pada perusahaan Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (CEKA) pada tahun 2012 meningkat sebesar 5,68% menjadi 6,08% namun harga sahan menurun sebesar Rp 1.300 di tahun 2012 menjadi Rp 1.160 di tahun 2013, sedangkan tingkat ROA pada periode 2013 mengalami penurunan sebesar 6,08% menjadi 3.19% pada tahun 2014 akan tetapi
harga saham mengalami kenaikan dari Rp 1.160 menjadi Rp 1.500 pada tahun 2014. Kemudian tingkat PER perusahan Indofarma Tbk (INAF) pada tahun 2014 meningkat sebesar -23,13 menjadi 79,62% pada tahun 2015, namun harga saham menurun sebesar Rp 355 pada tahun 2014 menjadi Rp 168 pada tahun 2015.
Tingkat EPS pada perusahaan Gudang Garam Tbk (GGRM) yang meningkat sebesar Rp 2.114,6 pada tahun 2012 menjadi Rp 2.228 pada tahun 2013, namun harga saham menurun sebesar Rp 56.300 menjadi Rp 42.000 pada tahun yang sama. Kemudian tingkar DER pada perusahaan Delta Jakarta Tbk (DLTA) yang menurun sebesar 0,2 pada tahun 2012 menjadi 0,04 pada tahun 2013, namun harga saham meningkat dari Rp 255.000 menjadi Rp 380.000 pada tahun yang sama.
Berdasarkan fenomena yang telah terjadi, rasio keuangan merupakan salah satu alat analisis keuangan yang banyak digunakan yang menyatakan hubungan matematis antara dua kuantitas dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang sulit untuk dideteksi dengan mempelajari masing – masing komponen yang membentuk rasio keuangan (Subramanyam &
Wild, 2010: 42). Rasio keuangan atau financial ratio ini sangat penting gunanya untuk melakukan analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan. Bagi investor rasio keuangan dipakai dan dijadikan sebagai acuan dalam menganalisis kinerja suatu perusahaan (Irham Fahmi, 2011: 107). Nilai saham perusahaan tercemin dalam kinerja perusahaan, apabila kinerja perusahaan menunjukkan adanya prospek yang baik maka sahamnya akan dinimati investor dan harganya
meningkat. Hal ini meunjukkan adanya hubungan yang positif antara kinerja keuangan perusahaan dengan harga sahamnya.
Return on Asset (ROA) adalah rasio yang menunjukan hasil (return)
atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Selain itu, ROA memberikan ukuran yang lebih baik atas profitabilitas perusahaan karena menunjukan efektivitas manajemen dalam menggunakan aktiva untuk memperoleh pendapatan (Kasmir, 2012: 201). Semakin tinggi ROA suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan.
ROA perlu dipertimbangkan oleh investor dalam berinvestasi saham, karena ROA berperan sebagai indikator efisiensi perusahaan dalam menggunakan aset untuk memperoleh laba.
Price Earning Ratio (PER) adalah rasio yang digunakan untuk
mengidentifikasi besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan (Tandelilin, 2010: 375). Semakin tinggi PER menunjukkan semakin tinggi pula harga sahamnya.
Earning Per Share (EPS) atau pendapatan perlembar saham adalah
bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki (Irham Fahmi, 2009: 77). Sedangkan menurut Lukman Syamsuddin ( 2007 : 66 ) EPS merupakan rasio yang banyak diperhatikan oleh calon investor, karena informasi EPS merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan dapat menggambarkan prospek earning perusahaan masa depan. Pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan
calon pemegang saham tertarik akan EPS, karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa.
Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan tinggi, ada kemungkinan
harga saham perusahaan akan rendah karena jika perusahaan memperoleh laba, perusahaan cenderung untuk menggunakan laba tersebut untuk membayar utangnya dibandingkan dengan membagi deviden (Dharmastuti, 2004).
Sedangkan menurut Kasmir (2014) DER merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditur) dengan pemilik perusahaan.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang meneliti pengaruh fundamental terhadap harga saham memberikan hasil yang kontradikif. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham antara lain, faktor pertama yaitu Return On Asset (ROA), menurut penelitian yang telah dilakukan Alysa Amadhea Astary (2015) dan Alwi Abdul (2013) menyatakan bahwa variabel ROA berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Penelitian ini sangat bertolak belakang dengan penelitian Puput (2015) dan Hilmi (2016) yang menyatakan bahwa ROA tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Faktor kedua yaitu Price Earning Ratio (PER), menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Bram (2008),
dan Abied (2013) PER berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian berbeda ditunjukkan oleh Randicha (2015) dan Puput (2015) yang menyatakan bahwa variabel PER tidak berpengaruh terhadap harga saham. Faktor ketiga Earnings Per Share (EPS) menurut hasil penelitian yang telah dilakukan Husaini (2012), Puput (2015), dan Darnita (2012) EPS berpengaruh signifikan
terhadap harga saham. Namun hal tersebut bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Daniarto (2013) dan Hilmi (2016) yang menyatakan bahwa variabel EPS tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap saham. Faktor terakhir yaitu Debt to Equity Ratio (DER) menurut penelitian dari K.Fauziah, Darmanto, R.R.Hidayat (2014), dan Hilmi (2016) secara parsial DER berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Abied (2013) dan Puput (2015) bahwa variabel DER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Berdasarkan fenomena dan hasil beberapa penelitian terdahulu masih menunjukkan perbedaan hasil penelitian, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai ROA, PER, EPS, DER, dan harga saham pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dengan demikian peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan topik:
“ANALISIS FAKTOR-FAKTOR FUNDAMENTAL TERHADAP HARGA SAHAM”
(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2015)
1.2 Identifikasi Masalah
Sehubungan dengan hal tersebut maka untuk pengembangan penelitian terdahulu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham dan penelitian ini akan menganalisa tentang pengaruh Analisis Fundamental terhadap harga saham pada perusahaan sektor industri barang konsumsi, sehingga dalam penelitian ini muncul pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh analisis fundamental dengan menggunakan rasio ROA, PER, EPS, dan DER secara parsial terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.
2. Bagaimana pengaruh analisis fundamental dengan menggunakan rasio ROA, PER, EPS, dan DER secara simultan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh analisis fundamental dengan menggunakan rasio ROA, PER, EPS, dan DER secara parsial terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh analisis fundamental dengan menggunakan rasio ROA, PER, EPS, dan DER secara simultan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2015.
1.4 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka penelitian ini diharapkan dapat berguna dan bermanfaat bagi pihak lain yang berkepentingan, antara lain : 1. Kegunaan Pengembangan Ilmu
Penelitian ini diharapkan dapat berguna dalam menambah wawasan, kemampuan, dan pengetahuan, serta membandingkan antara teori dengan kondisi sebenarnya, yang diukur oleh Return On Asset (ROA) , Price Earning Ratio (PER), Earnings Per Share (EPS), dan Debt to Equity Ratio (DER)
yang berpengaruh terhadap perubahan harga saham.
2. Kegunaan Operasional
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukan bagi perusahaan dalam melakukan keputusan dalam menentukan atau memprediksi harga saham perusahaan. Sebagaimana informasi yang digunakan manajemen perusahaan mengenai laba bersih perusahaan dalam memprediksi harga saham pada perusahaan. Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan bagi investor dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan keputusan investasi pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Kegunaan Akademis:
1. Akademisi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang keuangan, khususnya mengenai pengaruh perkembangan ROA, PER, EPS, dan DER terhadap harga saham pada peusahaan manufaktur sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) baik secara parsial maupun simultan.
2. Peneliti
Penelitian ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman dalam bidang penelitian dan merupakan wujud dari aplikasi ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan.
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk memperoleh serta mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh, dikumpulkan, dan diolah pihak lain). Sumber data laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit yang diperoleh dari www.idx.co.id. Waktu penelitian dari bulan September 2016 s/d Desember 2016.