9 7 8 6 2 3 9 5 3 0 4 5 7
i
Kumpulan Puisi
H a t i
ii
KUMPULAN PUISI HATI
Hak Cipta ©2020 pada
Penulis Ni Made Intan Maulina
Cover Design Ni Made Intan Maulina
Editor Parwito
Pracetak dan produksi CV. ADM Bengkulu Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, baik secara elektronis maupun
mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penulis.
Penerbit:
CV. ADM Bengkulu
Jl. Kebun Veteran No. 12, Nusa Indah, Ratu Agung, Kota Bengkulu Email: [email protected]
Telp.: 0815 4123 4500
Cetakan I:2020 ISBN-978-623-95304-5-7
1. Hal.vi:14,5 X 20 cm I. Judul
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya, penulisan buku Kumpulan Puisi “HATI’ dapat terselesaikan dalam waktu dua minggu. Menulis puisi mungkin lebih sulit dibandingkan menulis artikel opini atau artikel ilmiah, karena penulisan puisi lebih melibatkan emosi dan imajinasi. Penulis menyadari bahwa menulis puisi itu tidak mudah, terlebih lagi bagi seorang penulis pemula yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sastra dan komunikasi. Namun berbekal imajinasi dan mengumpulkan keinginan hati untuk membuat sebuah karya yang sejak lama diinginkan, penulis mencoba merangkai kata demi kata menjadi sebuah untaian puisi.
Buku Kumpulan Puisi “Hati” menceritakan banyak kisah yang melibatkan emosi Penulis dalam imajinasinya. Perjalanan awal sebuah kisah asmara,
iv
lika-liku perjalanan, cobaan, rasa syukur dan harapan, doa serta asa di masa kelak. Buku ini khusus saya persembahkan kepada semua jiwa yang merasa terwakili oleh setiap kisah yang tertuang, persembahan dari hati, untuk damai diri.
Terima kasih Penulis ucapkan pada semua pihak yang membantu hingga terselesaikannya buku ini, atas inspirasi dan atas empati yang diberikan pada penulis. Akhir kata Penulis mohon maaf apabila karya ini masih banyak kekurangan dan kejenuhan. Dengan senang hati diharapkan kritik dan saran serta masukan yang membangun agar bisa lebih baik pada karya-karya berikutnya.
Denpasar, Desember 2020 Ni Made Intan Maulina
v
Persembahan dari Hati untuk Damai Diri
vi
PUISI
Kaulah jawabnya ... 1
Bait kehidupan ... 2
Pelangi di ujung kota ... 3
Keteduhan dalam keriuhan ... 4
Seikat dupa harapan ... 5
Tiada pinta yang kau tidakkan ... 6
Merindu dalam sendu ... 7
Singgasana hati ... 8
Semi cinta di pasir putih ... 9
Getar senandung hari suci ... 10
Senyum itu senyumku ... 11
Lenggang asmara kota hujan ... 12
Temani aku tanpa kata ... 13
Taman dalam gelap ... 14
Elangku kembali pulang ... 15
Ujar sang pengembara ... 16
Menggapai bayang ... 17
Ranting mimpi ... 18
Kau mata kau dunia ... 19
Satu kedip berjuta rasa ... 20
Damai ... 21
Sepiring dua sendok ... 22
vii
Istana di ujung tangga ... 23
Cita menatap dunia ... 24
Rindu ... 25
Asa suatu saat ... 26
Bisik sanubari ... 27
Jika memang waktunya ... 28
Maaf ku tak kuasa ... 29
Janji untuk mutiara ... 30
Tuan putri kecil ... 31
Gelayut hasrat ... 32
Ayunan di atas pasir ... 33
Letihmu sedihku ... 34
Jika waktu ... 35
Asal mula sebuah harap ... 36
Asa baru dari arang ... 37
Satu kelopak saja ... 38
Sangka yang salah ... 39
Rumput dan hujan ... 40
Apalah tanpamu ... 41
Sudah penuh olehmu ... 42
Sempat hati menjerit ... 43
Bayang pelindung... 44
Yakin akan mendekat ... 45
viii
Maafkan tak berdayaku ... 46
Selendang biru ... 47
Nama dalam doa ... 48
Mahkota bunga rumput ... 49
Istanamu... 50
Jejak sentuhan bahagia ... 51
Hampir pupus ... 52
Makna rindu ... 53
Bahagiamu bahagiaku ... 54
Hati yang berkata romantic ... 55
Dan terima kasih ... 56
1
Kaulah Jawabnya
padamu pemilik hati
jika kau mendengar daun bertanya siapa yang meniupku?
maka anginlah jawabnya padamu pemilik hati
jika kau mendengar pasir bertanya siapa yang menghempaskanku?
maka lautlah jawabnya padamu pemilik hati
jika kau mendengar rumput bertanya siapa yang menjulang tinggi?
maka gununglah jawabnya padamu pemilik hati
namun jika kau mendengar hati bertanya siapa pemilik hatinya?
maka Kau lah jawabnya
2
Bait Kehidupan
tatap haru album diri telah mengalir ratusan kisah mengalir indah mewarnai hidup bait kehidupan...
akan datang tanpa mengenal kesiapan akan datang tanpa mengenal permintaan akan datang tanpa mengenal penolakan bait kehidupan...
tak ada daya kumenolak tak ada daya kumengelak mengalirlah..
jalani apa yang bisa dijalani syukuri apa yang bisa disyukuri karena Dia, nyata
3
Pelangi di Ujung Kota
samar kabut menutupi pandang mata dua jiwa menapaki tangga merah hening langit seolah menyapa hai, kalian sedang apa?
satu jiwa menjawab, hai langit lihatlah kami kami ada disini menatapmu satu jiwa menjawab, hai langit lihatlah aku aku akan aman bersamanya langit melambai,
pergilah..
pergilah ke ujung kota
akan ada pelangi yang menanti pergilah..
ambil pelangiku untuk dua jiwa pergilah..
akan ada pelangi di ujung kota
4
Keteduhan dalam Keriuhan
pendar mata tak mampu padam riuh, sangat riuh
netra tak henti mencari dimana keteduhan itu raga tak henti mendamba dimana keteduhan itu tertatih dalam keriuhan asing angin berbisik mesra
menepilah sesaat,dia akan datang menepi, aku menepi
hingga dia sungguh datang menggenggam tangan dalam gelap membawa keteduhan dalam keriuhan
5
Seikat Dupa Harapan
kugenggam erat seikat dupa iya,dupa kehidupan
kulangkahkan kaki setapak demi setapak menancapkan dupa sebagai pertanda pertanda aku datang
pertanda aku senang pertanda aku riang
dendang langkah mengalun ringan mengitari liku jalan yg berukir aku tak sendiri
iya, aku tak sendiri
riangku karena bersamanya setiap tancapan dupaku
adalah dengan menyebut namanya dupa kehidupan dengan dia harapanku
6
Tiada Pinta yang Kau Tidakkan
kasih..
kuminta satu kecupan
kau berikan aku puluhan ciuman kuminta satu rangkulan
kau berikan aku satu pelukan kuminta satu janji
kau berikan aku satu bukti kuminta hatimu
kau berikan ragamu
tiada pintaku yang kau tidakkan maka mintalah duniaku
kan kuberikan seluruh hidupku
7
Merindu dalam Sendu
tersadar aku dalam gelap kugapai namun tak sampai kupinta namun tak bisa
melayang-layang jiwa dalam rindu menderu hati yang tiba-tiba sendu dimana aku menapak
bagaimana aku menapak menapak bumi tanpa sandaran apakah semua hanya khayalan kusadari aku merindu
merindu dalam sendu
8
Singgasana Hati
kepak sayap burung membawanya terbang jauh terbang, dia terbang jauh mencari
panas mentari menyambut lembut gedung-gedung kokoh seolah sebagai saksi terbang, dia terbang jauh mencari
hingga mentari mulai terbenam hingga mata mulai terpejam hingga harapan makin padam namun hatinya tak pernah goyah segala risau akan segera musnah karena dia selalu yakin
singgasana hatinya akan tetap menanti
9
Semi Cinta di Pasir Putih
angin malam menyibak rambut helaian demi helaian menutupi wajah tapak kaki mengukir jejak di pasir putih tersapu ombak menghapus jejak
pelukan hangat mengabaikan dinginnya malam genggaman erat seolah mengabadikan kenangan tersemi kisah di pasir putih
batu karang seolah menahan tuk jangan pergi
memandang langit memandang laut menatap kehidupan semi cinta itu ada
10
Getar Senandung Hari Suci
alunan kidung mengalun syahdu raga menyembah menyentuh bumi dua insan terlarut dalam sujud mata terkatup dalam hening
hati berbisik ada getar yang tak biasa menggiring langkah mengetuk jiwa dua insan saling menyapa
terlena dalam buaian kidung dua insan saling menggenggam terlena dalam senandung tengadah wajah menatap surya mengujar awal sebuah janji bersenandung di hari suci
11
Senyum itu Senyumku
edar pandang mencari tak henti hati memanggil dimanakah kekasih hati dimanakah pendamai diri terseok di kejauhan
setitik harap muncul mendekat tak sabar hati meminta beri aku satu senyuman dia datang..
dia datang..
dengan senyuman itu senyuman untukku senyum itu masih milikku
12
Lenggang Asmara Kota Hujan
danau kecil penuh teratai
rumput hijau menyelimuti pertiwi gadis kecil berlari riang
bersorak melenggang bagai di awan tatap bahagia menikmati kota hujan lonceng kecilnya bergemerincing pancuran air berlomba bernyanyi berlari lagi si gadis kecil
meraup wajah menghirup aroma bumi berputar kesana dan kemari
sungguh riang berpuas diri langit biru sebagai saksi langit biru sebagai bukti
satu kisah dari kota hujan telah terlahir
13
Temani Aku Tanpa Kata
mendekatlah di sisiku ulurkan sesaat jemari
sentuhlah sesaat hati yang rindu tuk tenang sanubari
tatap sesaat helaian rambutku rambut yang juga milikmu temani aku sesaat saja temani aku tanpa kata ujung tatap beradu pandang menerka dalamnya hati bicara temani aku sesaat saja temani aku tanpa kata
biarkan jiwa yang saling menyapa
14
Taman dalam Gelap
erat tangan tergenggam terayun dalam hangat derap kaki melangkah
nanar mata menjelajahi malam angin sepoi menyibak rambut cahaya bulan menuntun langkah menggiring asa menuju arah malam nun di kejauhan
lampu taman mulai melambai memanggil tuk bersinggah padanya deru nafas mulai memburu
terhenti langkah di taman itu ornamen taman bersahutan menawarkan tuk duduk sejenak gelap sungguh gelap
namun indah taman tak tertutupi
15
Elangku kembali Pulang
kepak sayapmu membelah angkasa melampaui luas samudra
menjelajah puluhan belah dunia getir hati menanti sang elang akankah dia kembali pulang nun jauh disana
elang memetik tulip dan sakura tak akan lupa pada janjinya akan menyelipkan bunga akan memasangkan mahkota hingga waktunya tlah tiba
pendamba resah bergolak dalam rasa penantian yang tak sia-sia
elangku kembali pulang
16
Ujar Sang Pengembara
kata siapa hidup tak berliku kata siapa hidup tanpa hal baru siapa yang sanggup menerka siapa yang sanggup menyangka bukankah hidup hanya sekali?
apa daya sebagai manusia
jika terhinggap rasa yang tak biasa wajib syukur yang kau ucap atas nafas dan darah yang menjalar melayakkan dirimu untuknya atas segala rasa yang ada
17
Menggapai Bayang
denting jam menyadarkan lamunan detik telah berganti menit
putaran waktu terasa melambat menanti hari menggapai mimpi jemari mulai mengusap lembar usang mencari-cari celah putaran memori tak kunjung juga ada bayang muncul setitik harapan mulai meredup sedikit menyayat ke dasar kalbu akankah berakhir haru
atau hanya sendu yang semu
18
Ranting Mimpi
kutatap arah barat
langit mulai berwarna jingga
mentari akan pulang ke peraduannya burung akan pulang bersama kawanannya di kejauhan sana
ada satu ranting ingin bercerita maka kudengarkan kisahnya terkisah dua burung merajut mimpi melontar harap merajut kasih bermimpi jika suatu hari nanti ada jalinan yang abadi akankah sama rasa di hati ranting tetap terdiam tanpa sanggah tanpa ucap turut terlarut dalam asa
sebagai penopang dua burung pemimpi
19
Kau Mata Kau Dunia
direngkuh pundakku di kesendirian kau ceritakan kisah dunia
dari kisah Napoleon hingga perang Baratayudha kau tunjukkan yang mana gunung dan lautan kau ajarkan cara menghitung rintik hujan kau tuntun aku di kegelapan malam
kau pilahkan aku yang mana putih dan hitam kau usap air mataku tanpa pinta
satu harap kau buat aku selalu bahagia karena kau mata juga dunia
20
Satu Kedip Berjuta Rasa
tersipu di kejauhan
menangkap satu kerling manja berdegup hati membuncah kerinduan ingin kutarik mendekat
menumpahkan segala rasa yang terasa lama tak bersua satu kedip saja
berjuta makna yang tertata hati meraung penuh damba inikah arti sebuah kerinduan
21
Damai
masih terasa hangat bisik lembut di telingaku saat kau ucap sayang berdesir hati penuh bunga masih terasa lembut elus jemari di rambutku
mengajarkan apa itu kelembutan masih terasa harum
aroma sorga kedamaian yang melekat di tubuhku oleh dekapanmu, sayang
22
Sepiring Dua Sendok
beradu sendok dan garpu dalam satu piring menyisakan suap yang tak berhasil tertangkap hening sesaat memikirkan daya
tuk habiskan suap terakhir garpu menyingkir
mempersilakan satu sendok hadir satu upaya telah tercipta
suap terakhir berhasil tertangkap sepiring dua sendok
akan selalu nikmat dengan suapannya
23
Istana di Ujung Tangga
tinggi menjulang istana di atas sana kokoh tangga melingkar tuk menggapai melewati rumput menyeberangi danau berkelok jalanan penuh suka cita diraih tangan menuju istana
menapaki tangga setapak demi setapak terhenti sesaat di setiap saung atas danau menikmati indahnya sekitar
diraih tangan kembali
menapaki hingga ke ujung istana menjadi saksi tuk dua sejoli
24
Cita Menatap Dunia
lirih ucap menoreh cita
menggenggam tangan menatap dunia memetik sakura menapak pagoda membelai panda melihat koala indah bayang terbuai asa menanti suatu saat itu akan tiba akankah hanya menjadi sekedar cita entahlah seperti apa
setidaknya itu cita yang sempurna
25
Rindu
saat raga tak saling bersandar mata tak saling menatap tangan tak saling menggenggam hanya bayang yang terasa menemani mencari2 kenangan dalam memori didesak memutar kembali
hanya tuk damai diri maraba entah harus kemana mencari entah dimana inikah rasa merindu
26
Asa Suatu Saat
mengepul debu tanah dideru angin membelah hutan bakau dalam sibakan pasir putih turut menghiasi jalan setapak pandang mencari-cari
adakah tepian air di tengah hutan tuk meraup wajah yang penuh peluh jalan setapak kian berliku
ingin kukayuh sepedaku lari namun ku tak bisa mengayuh satu tangan datang menggapai dibawa lari sepedaku kencang namun datang kembali dengan janji tulus
tuk ajarkan ku mengayuh sepeda
27
Bisik Sanubari
pelan samar terdengar bisikan tertiup lirih angin malam lembut belai jemari di telinga di atas sebuah ayunan tua indah cakap mengumandang mengucap nikmat saling pandang mengucap bahagia atas bincang yang tercipta dengan indah di atas sebuah ayunan tua
28
Jika Memang Waktunya
saat langit tak kuasa menahan awan turunlah hujan sebagai bukti
saat alam tak mampu menahan angin hadirlah badai sebagai bukti
jika bunga melayu dipapar terik mentari daun pun gugur tanpa pegangan berserah pada putaran waktu menjalani apa yang memang terjadi jika memang waktunya
akankah tau pilu atau rindu yang akan memghampiri
29
Maaf Ku Tak Kuasa
tanpa senyum ku memandang tanpa toleh dihampiri
tanpa suara ku disapa sadarkah kau Tuan berpalingku bukan tolakku saat kau berjalan
tetap kupandang punggungmu sadarkah kau Tuan
berpalingku adalah sakitku sakit untuk takut menyadari andai kau bukan milikku
30
Janji untuk Mutiara
kecil tak berkerlip di bawah sana menanti uluran malaikat hati menarik naik membasuh mutiara mengusap pelan dari lumpur hitam hingga perlahan bersih dan bersinar mutiara tersenyum tulus
mengucap pada malaikat hati
bertanya siapakah gerangan wahai malaikat malaikat hati menjawab
aku bukan siapa-siapa
tapi kan kujaga kau selalu mutiara maka mutiara tersenyum kembali dengan ujar menggetar hati,
dan ijinkanlah aku mengabdi selamanya
31
Tuan Putri Kecil
riang canda tawa membahana berlarian tanpa lelah
betapa gadis kecil itu bahagia ada mahkota bunga di rambutnya berlari lagi kesana dan kemari bagaimana tak bahagia
ada kalung dari daun pinus melingkar di lehernya gemerincing gelang tangan dan kakinya bersahutan membantah untuk diminta hening
betapa gadis kecil itu bahagia
cincin dari akar rumput menghiasi jarinya dipandangnya sambil menari-nari sungguh keindahan dalam kesederhanaan merasa jadi putri walau sesaat
32
Gelayut Hasrat
kokoh lengan itu mengundang hasrat tergerak tangan tuh meraihnya terlingkar kini tangan di lengan tak ingin lepas dalam gelayut manja merajuk bersandar
mengekor kemana arah melangkah sesaat saling tatap saling pandang dengan sunggingan senyum simpul kembali lengan bergoyang
gelayutnya tak juga lepas tangan itu tetap melingkar erat dan makin erat dalam gelayut
33
Ayunan di Atas Pasir
purnama menyembul di awan gelap menerangi gelap pantai malam berjalan beriring menapak pasir menuju ayunan di balik rerimbunan yang tersibak pelan mengayun tertiup angin menyambut sebuah kedatangan
hening dua insan tanpa suara hanya tatap dalam gelap dihantarkan cahaya purnama tutur pun mulai terucap memecah keheningan malam anggun tutur mengalun
mengucap janji tuk selalu menemani
34
Letihmu Sedihku
lunglai langkahmu menapak sendu pancaran sorot mata itu bibir yang biasa mengulas senyum tampak layu dan letih
sabdamu yang biasa mengalir bagai tersendat tak mampu keluar lemah tanganmu menggenggam mengukir iba di hatiku
bersandarlah disini
berhentilah sejenak dari letihmu kan kuusap pundak dan keningmu dari letih yang melanda
35
Jika Waktu
tahun kan berganti tahun jalan datar akan mulai berlubang rumput hijau pun akan mulai menguning desir hangat akan kah pula menjadi dingin saat ragamu mulai rapuh
tangan ini akan selalu memeluk kan kuceritakan banyak cerita
menghangatkan hati yang akan mulai sepi kan kupeluk
dan akan selalu kupeluk hingga waktu tak mengiyakan
36
Asal Mula Sebuah Harap
riuh mulut menyeruput segelas air lontaran banyak cerita mengalir panjang segelas air ditambah pula bungkusan roti menambah riuh suasana pagi
mata mengedarkan pandang dengan ceria menatap jalanan yang terlewati
tanpa sadar ada sepasang mata merpati menatap kunyah yang begitu nikmat berharap sedikit dibagi harap tuk bersama menikmati nikmat gelak merpati membahana bahagia melanjut kepakan sayap karna tlah dibagi nikmat dan harap
37
Asa Baru dari Arang
kusangka api kan padam
menyisakan debu yang kan terbang tanpa sisa tanpa cerita
tanpa sangka api tak meninggalkan debu karena yang terbakar adalah kayu menyisakan panas yang masih memburu biarkan api padam
biarkan tak ada debu biarkan masih ada arang tuk sebuah asa yang baru
38
Satu Kelopak Saja
kawanan kupu-kupu mengitar bunga saling kibas merebut sari bunga satu kupu-kupu terseok meringis di ujung daun tiga kupu-kupu tertawa
terbahak mendapatkan seutuh bunga sari bunga mulai terhisap
bunga melayu kelelahan
masih ada satu kupu-kupu dalam harap meringis tak berani meminta
terseok namun tak beranjak dalam tangis dalam harap berikan aku satu kelopak saja
39
Sangka yang Salah
ketus ucap tanpa rasa menuai bimbang dalam rasa ada apakah gerangan
dingin tak biasa tangan menyambut menuai tanya luar biasa
ada apakah gerangan mata yang enggan menatap
mengiris hati merasa tak pantas diri terbanting satu pinggan terjatuh baru mata itu mulai tergerak menatap perlahan memungut kepingan pinggan sambil berucap pelan
bukannya hati enggan
hanya cemburu menyergap tanpa permisi penuh kira miliknya bukan miliknya
40
Rumput dan Hujan
hujan menangis,risau hatinya
rintiknya menusuk rumput yang sedang tenang apa dayanya tak mampu membendung diri tuk turun hingga membasahi rumput rumput tersenyum menenangkan menawar segala resah sang hujan pelan hujan mulai mendekat bertanya lirih pada rumput sesalkah pada rintikku sesalkah pada basah olehku
41
Apalah Tanpamu
baru terbayang hanya terbayang
sudah luluh lantak hati nestapa jika bayang tak lagi meneduhi jika senyum tak lagi menyejukkan jika ucap tak lagi melindungi
bukan hati menyalahi putaran waktu nanti hanya diri yang merasa tak akan mampu apalah aku, tanpamu
42
Sudah Penuh Olehmu
jika hati adalah sebuah cawan kuingin terisi penuh agar tak bergolak tetes demi tetes embun mengkristal mulai menutup lapisan cawan
tak membiarkan setetes air pun ikut memenuhi kristal embun menguasai cawan
hingga penuh padat tanpa ruang hampa jika hati adalah sebuah cawan
dan kasihmu sebening embun
maka hatiku sudah penuh oleh kasihmu
43
Sempat Hati Menjerit
terduduk menatap jalan
sambil mendengar celoteh anak jalanan awal riang berubah menjadi garang anak jalanan bercerita
nun jauh disana ada perompak mencari peti penuh emas meraup harta membasmi jelata berdesir mendidih hati
kenapa perompak punya hati tega kutelisik siapa perompak itu awal garang menjadi berang perompak itu pahlawanku berlari aku mencari kesana kemari menuntut jawab atas tanya yang ada perompak mendekap dari belakang menjawab, aku tetap pahlawanmu
44
Bayang Pelindung
melintas sisi pantai menyeberang danau menuju pulau putih nan cantik
disambut nyiur dan deretan batu karang ikan menyembul dari bawah perahu berseru tuk arahkan kaki melangkah menapak mulai perjalanan
terik mentari mulai menyengat
namun bersamamu selalu terasa hangat lelah sesaat lalu bersujud
pejamkan mata melantunkan puja kau mendekat menjadi bayang
menutupi terik agar tak menghampiriku kau mendekat menjadi bayang
mengusap sedikit noda di keningku membasuh ubun-ubunku dengan air ucapku dalam hati,
tetaplah jadi bayangku
45
Yakin akan Mendekat
pejam mata mendengar hening senja menajamkan telinga menanti kedatangan saat deru langkah mulai terdengar di kejauhan mata ini juga tak kunjung terbuka
hanya hati yang mendengar makin tajam degup jantung mulai bergemuruh meyakinkan diri agar tak terlalu berharap namun hati kecil melontarkan keyakinan tetap pejamkan mata
jika memang ada yang tercipta sebagai kekasih saat waktunya kau membuka mata nanti dia tak akan jauh
dia akan ada di sampingmu
46
Maafkan tak Berdayaku
saat aku kesakitan
kau yang pertama mengobati saat tangis membasahi pipi
tanganmu yang pertama mengusap saat hujan mulai membasahi
kau bawakan payung sebagai peneduh namun satu kala kau menjerit
aku tersentak bimbang aku tak ada di sampingmu hati menjerit bersalah bagaimana aku telah bisa
membuatmu sendiri dalam tak berdaya akhirnya hanya bisa mengucap tulus maaf,maaf dan maaf
47
Selendang Biru
pelan bisiknya di sampingku esok kita berkelana
pakailah selendang biru selendang pemberianku
agar tak dingin angin menerpa kulitmu agar tak panas mentari menyayat kulitmu penuh senyum aku terharu
kan kupakai selendang itu esok kan kudendangkan kidung syahdu karena ini adalah pintamu
48
Nama dalam Doa
tegap penuh yakin gerakku meyakini ada doa menyertai doa tulus dari terkasihku yang mengumandang namaku dalam tiap doa seharinya tegap penuh yakin gerakku penuh terima kasih atas doamu yang tak pernah melupakan namaku dalam setiap doa dan asa
menemani rasa yakinku manjalani hari penuh harap
49
Mahkota Bunga Rumput
gelung rambut tertata apik mendasari mahkota putih berkilau
jubah biru menambah indah pandang mata jubah biru pemberian waktu itu
tak disangka mahkota putih meretak patah sedih hati kehilangan mahkota
sang perasa sang pendengar terkontak hatinya disiapkan mahkota pengganti
mahkota dari bunga rumput riang hati ini memakai kembali mahkota cantik yang penuh arti
50
Istanamu
kecil mungil rindang gubuk di pojok jalan itu kehangatan terpancar dari sinar lilin yang terpendar ragu melangkah mendekati
ragu pintu tak kan terbuka menyambut terdiam hening menanti
pintu kecil perlahan terkuak ada tangan hangat meraih
membimbing masuk ke kehangatan lama tak berkedip meyakinkan diri raga ini sudah di dalam kehangatan kehangatan istana mungil
kehangatan istanamu
51
Jejak Sentuhan Bahagia
senang hati menyentuh bunga bunga yang usai kau siram senang hati menapak pasir pasir yang usai kau sapukan senang hati merangkai tali tali yang usai kau jalinkan senang hati meraup air air yang usai kau timba segala yang kau sentuhkan
adalah bahagia untuk dikenangkan segala yang kau sentuhkan
adalah bahagiaku memilikinya
52
Hampir Pupus
hampir pupus asa
saat pandang menjadi layu tercabik hati merasa apalah aku getir siang dan malam menanti
berharap pandang layu merekah kembali berjalan beriring di sisi pantai
ucapmu sendu menyayat hati gumam mu meratapi kebersamaan andai tak ada badai
sungguh indah pantai ini bersamamu hati meronta bertanya
sesalkah ada diriku
53
Makna Rindu
cicit burung sore kembali ke sangkar
rembulan mulai menguap kembali ke peraduan putaran waktu bergulir sangat lambat
menanti mentari mengusik kelopak detik terasa menit, menit terasa jam beginikah nikmat rindu
makna belahan jiwa makin terasa saat diuji jarak dan waktu karena rindu itu sungguh berat
54
Bahagiamu Bahagiaku
sungging senyum manisku disambut tawa bahagiamu ratap tetes air mataku disambut perih turut hatimu arah langkah kecilku
dituntun derap langkah hebatmu setitik layu mataku
tanpa pinta kau siram dengan bahagia riangku adalah dambamu
terukir indah di sanubari dua kata pelipur lara darimu bahagiamu bahagiaku
55
Hati yang Berkata Romantis
kapan ada bunga berjajar kapan ada rayuan gombal datar senyum kesan hampa tanpa peluk gelayut manja tenang damai tutur kata sebagai pelipur dalam lara secarik puisi cinta hanya harap namun entah apa namanya semua terasa hangat walau hanya saling terdiam walau hanya saling pandang hati ini tlah memberi nama
56
Dan Terimakasih
akhirnya aku berucap terima kasih atas segala rasa terima kasih atas bahagia terima kasih atas selingan duka terima kasih atas kebersamaan terima kasih atas penerimaan terima kasih atas penantian terima kasih atas segala tulus i'm yours
no more space for another one for u, suamiku