Page | 6 BAB II
KAJIAN TEORI
1. Literasi Matematika
Secara sederhana literasi matematika mempunyai makna kemampuan individu untuk mengetahui dan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari (Ojose, 2011). Berdasarkan maksud Ojose peserta didik yang ahli dalam literasi matematika mereka akan mudah terangsang pada konsep-konsep matematika dalam peristiwa yang dialaminya.
Menurut definisi PISA 2015 (OECD, 2017a)
“Mathematical literacy is an individual’s capacity to formulate, employ, and interpret mathematics in a variety of contexts. It includes reasoning mathematically and using mathematical concepts, procedures, facts and tools to describe, explain and predict phenomena. It assists individuals to recognize the role that mathematics plays in the world and to make the well- founded judgments and decisions needed by constructive, engaged and reflective citizens.”
Berdasarkan pendapat diatas literasi matematika merupakan kemampuan individu untuk merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan matematika di berbagai konteks. Termasuk penalaran matematis dan kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk mengambarkan, menjelaskan, dan memprediksi fenomena. Hal ini dibutuhkan individu untuk membantu menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat yang membangun, terlibat, dan reflektif (OECD, 2017b). Dengan pemahaman literasi matematika seorang individu akan lebih peka dalam membangun, terlibat, dan merefleksikan jalan pikiran yang masuk akal tentang matematika dalam hidup bermasyarakat. Literasi matematika dapat membantu pola pikir matematisnya berjalan dalam membuat keputusan.
Page | 7 Berikut bagan literasi matematika dalam praktiknya (OECD, 2010) dimana proses dan indikatornya adalah merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan/evaluasi:
Kata “merumuskan” dalam pengertian literasi matematika mengacu pada individu yang dapat mengenali dan mengidentifikasi peluang untuk menggunakan matematika dan kemudian menyediakan struktur matematika untuk masalah yang disajikan dalam beberapa bentuk kontekstual (OECD, 2010). Setiap individu dalam proses merumuskan situasi secara matematika diharapkan dapat memahami matematika untuk menganalisis, mengatur, menerjemahkan, dan menyelesaikan masalah dari kehidupan sehari-hari ke bahasa atau model matematika. Kata “menerapkan” mengacu pada individu yang dapat mengaplikasikan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika untuk memecahkan masalah yang dirumuskan secara matematika untuk mendapatkan kesimpulan/penyelesaian (OECD, 2017).
Setiap individu dalam proses menerapkan ini diharapkan melakukan prosedur matematika yang diperlukan untuk memperoleh hasil dan menemukan solusi matematika, misalnya melakukan perhitungan aritmatika, menyelesaikan persamaan, melakukan manipulasi simbolik, menjelaskan informasi matematika dari tabel dan grafik, serta menganalisis data. Sedangkan kata “menafsirkan” berfokus pada kemampuan individu untuk merenungkan solusi, hasil, atau kesimpulan matematika dan menafsirkannya dalam konteks masalah kehidupan sehari-hari, yakni
Masalah konteks
Masalah matematika
Hasil matematika Hasil konteks
merumuskan
menerapkan
menafsirkan evaluasi
Gambar 1. Bagan literasi matematika
Page | 8 menerjemahkan solusi atau kesimpulan matematika kembali ke dalam konteks masalah dan menentukan apakah hasilnya masuk akal dalam konteks masalah (OECD, 2010).
Berikut merupakan pedoman penskoran untuk tes kemampuan literasi matematika.
Tabel 1. Pedoman Penskoran Literasi Matematika No. Indikator Literasi
Matematika
Sub Indikator
1. Merumuskan Mampu mengubah masalah yang relevan kedalam berbagai bentuk matematika dengan tepat
2. Menerapkan Dapat melakukan perhitungan dengan baik dan jawaban tepat
3. Menafsirkan Menyimpulkan jawaban masuk akal dengan masalah dan jawaban tepat (Adaptasi Kusniati, 2018)
Mampu mengubah masalah yang relevan kedalam bentuk matematika dengan tepat maksudnya adalah mengubah atau merumuskan ke dalam bentuk simbol dan gambar matematika yang sesuai dengan materi bangun ruang sisi datar. Dari berbagai pemaparan tentang literasi matematika diatas peneliti menggunakan dari OECD 2017, literasi matematika merupakan kemampuan individu untuk merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan matematika di berbagai konteks, yaitu pada bangun ruang sisi datar.
2. Model Pembelajaran Kooperatif
Pada dasarnya pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai keberhasilannya dalam suatu KBM melibatkan kerja sama yang terjadi antar siswa (Sulasti, 2013). Pembelajaran kooperatif melatih siswa dalam berkemampuan kerja sama dan berinteraksi dengan sesama teman dalam menyelesaikan suatu masalah yang ada. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model KBM berkelompok yang memusatkan siswa dalam proses pembelajaran, yang menuntut siswanya agar lebih aktif dan dapat bekerja sama dengan anggota kelompoknya (Hartoto, 2016). Melalui model pembelajaran kooperatif ini
Page | 9 secara aktif dan bekerja sama siswa dapat memperoleh pengetahuannya dengan diskusi antar kelompok. Diskusi antar kelompok dalam model pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe, salah satunya adalah model Group Investigation .
3. Model Group Investigation
Model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ini dikembangkan oleh Sharan-Sharan pada tahun 1976 (Hija et al., 2016).
Model Group Investigation merupakan pembelajaran kerja sama yang menuntut kemampuan siswa dalam berkomunikasi dan keterampilannya dalam proses bekerja sama (Ayuwanti, 2016). Model GI ini penerapannya diskusi yang terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang memerlukan kemampuan siswa berkomunikasi dan keterampilan dalam bekerja sama antar kelompoknya.
Menurut Siti Khoirunisyah, Eko Purwanti, 2017 rencana pengorganisasian pembelajaran secara umum model Group Investigation yaitu sistem diskusi dengan satu kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil (4-5 orang) dengan ketua kelompok mengambil undian submateri karena tiap kelompok mendapat submateri yang berbeda. Kemudian ketua kelompok dan anggota berdiskusi tentang submateri yang didapat. Setelah itu ketua kelompok atau perwakilan kelompok yang lain mempresentasikan atau menjelaskan submateri masing-masing di depan kelompok lain.
Terakhir guru sebagai pembimbing pembelajaran mengevaluasi hasil pertemuan yang didapat. Model Group Investigation menekankan pada keikutsertaan dan keaktifan peserta didik dalam mencari sendiri informasi dengan bahan-bahan yang ada dan menuntut mereka aktif dalam berkomunikasi dengan kelompok.
Langkah-langkah Group Investigation menurut Ayuwanti, 2016 yaitu:
1. Mengidentifikasi topik yang akan didiskusikan dan mengatur siswa ke dalam kelompok diskusi (3-4 orang);
Page | 10 2. Perwakilan kelompok mengambil undian submateri yang akan
didiskusikan (sudah dibuat oleh guru);
3. Merencanakan diskusi dalam kelompok;
4. Melakukan diskusi;
5. Mempersiapkan presentasi;
6. Menyajikan presentasi;
7. Evaluasi.
Tabel 2: Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation
Berdasarkan langkah-langkah model GI literasi yang akan diteliti pada saat peserta didik melakukan diskusi bersama kelompoknya sampai mereka mempresentasikan hasil diskusinya, karena pada saat diskusi terdapat indikator-indikator literasi matematika dalam menyelesaikan masalah yang didapat.
No. Kegiatan Deskripsi Kegiatan
1. Pendahuluan a. Guru memberi salam, menanyakan kabar siswa, dan membacakan tujuan pembelajaran
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dengan model group investigation
c. Guru memberi tahu siswa topik dan subtopik yang akan dibahas
2. Inti a. Guru memberi arahan kepada siswa untuk membuat kelompok dengan anggota 3-4 orang b. Siswa memilih subtopik yang akan didiskusikan
dengan cara ketua kelompok atau perwakilan kelompok mengambil undian yang sudah dibuat oleh guru
c. Siswa melaksanakan diskusi untuk mnyelesaikan tugas berdasarkan tugas masing-masing kelompok d. Siswa mensintesis tugas/informasi yang diperoleh e. Siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan
kelas
f. Guru dan siswa bersama-sama melakukan evaluasi
3. Penutup a. Guru memberikan penghargaan kepada siswa untuk pembelajaran yang telah dilaksanakan b. Guru mengingatkan siswa untuk mempelajari
kembali materi yang didapat dan mengucapkan salam.
Page | 11 Model Group Investigation (GI) memiliki keuntungan dalam kegiatan belajar mengajar bagi siswa menurut Hartoto, 2016, antara lain:
a. Siswa dapat belajar dan bekerja dengan bebas;
b. Siswa belajar cara menyelesaikan suatu masalah;
c. Memberi semangat untuk berinisiatif, aktif, dan kreatif;
d. Membantu meningkatkan kerja sama dalam kelompok;
e. Belajar menghargai pendapat orang lain;
f. Melatih siswa dalam bertanggungjawab;
g. Meningkatkan partisipasi dalam membuat suatu keputusan.
Sedangkan kelemahan model GI menurut Ayuwanti, 2016 , yaitu: a) memerlukan waktu lumayan lama dalam proses pembelajaran, b) mahalnya sarana yang diperlukan, dan c) saat berdiskusi cenderung hanya satu orang yang aktif dan membuat temannya yang lain menjadi pasif.
4. Penelitian terdahulu
Analisis Kemampuan Literasi Matematika Berdasarkan Kecerdasan Emosional Siswa melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation karya Tasyanti, Wardono, and Rochmad (2018) memiliki rumusan masalah (1) menguji kualitas pembelajaran model kooperatif tipe group investigation materi aturan sinus, aturan cosinus, dan luas segitiga di SMA Negeri 2 Semarang; (2) menganalisa kemampuan literasi matematika ditinjau dari kecerdasan emosional siswa yang termasuk kategori tinggi, sedang, dan rendah. Selama pembelajaran siswa aktif dalam bertanya dan mendiskusikan materi bersama teman dan bimbingan guru membuat siswa lebih jelas dan paham materi aturan sinus, aturan kosinus, dan luas segitiga.
Dampaknya nilai kemampuan literasi siswa telah melebihi nilai KKM dan jumlah siswa pada kelas dengan pembelajaran kooperatif tipe group investigation yang tuntas KKM pun telah mencapai ketuntasan klasikal.
Pengaruh Model Pembelajaran Group Investigation (GI) Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa pada Materi Peluang Kelas X MIPA karya Hija et al. (2016) bertujuan untuk mengetahui
Page | 12 pengaruh model pembelajaran group investigation (GI) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi peluang kelas X MIPA SMA Negeri 1 Singkawang. Hasil penelitian tersebut menunjukkan: (1) data penelitian dianalisis menggunakan uji-t dua sampel diperoleht_hitung = 7,61, sedangkan t_tabel pada taraf signifikan 5%
dengan dk = 66 adalah 1,67 sehingga t_hitung > t_tabel. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas yang diberikan model pembelajaran GI lebih baik disbanding kelas yang diberikan pembelajaran konvensional. Dengan menggunakan uji effect size diperoleh nilai ES = 1,305 > 0,8 dengan kategori tinggi, sehingga menunjukkan bahwa model pembelajaran GI berpengaruh besar terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi peluang kelas X MIPA SMA Negeri 1 Singkawang; (2) hasil perhitungan aktivitas siswa diperoleh rata-rata sebesar 84,31% dengan kategorisangat aktif; (3) respon siswa terhadap model pembelajaran GI pada materi peluang sebesar 77,94% maka dapat dikategorikan kuat.
Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Investigasi Kelompok terhadap Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII MTsN Kota Padang karya Muhandaz (2015) mempunyai rumusan masalah yaitu “apakah kemampuan pemecahan masalah matematis siswa baik secara (1) keseluruhan, (2) siswa berkemampuan awal tinggi, (3) siswa berkemampuan awal sedang, dan (4) siswa berkemampuan awal rendah yang diajar dengan model kooperatif tipe investigasi kelompok lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional?”.
Berdasarkan hasil penelitian, didapat beberapa kesimpulan. Pertama, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional. Kedua, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa berkemampuan awal tinggi, sedang, dan rendah yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe investigasi kelompok lebih baik daripada siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.