DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
LAPORAN KEUANGAN UNAUDITED
Untuk Periode Yang Berakhir 30 Juni 2021
Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 52-53
Jakarta Selatan 12950
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN
LAPORAN KEUANGAN UNAUDITED
Untuk Periode Yang Berakhir 30 Juni 2019
Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 52-53
Jakarta Selatan 12950
KATA PENGANTAR
Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai Pengguna Anggaran/Barang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya.
Kantor Direktorat Jenderal Industri Agro adalah salah satu entitas akuntansi di bawah Badan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggung-jawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Salah satu pelaksanaannya adalah dengan menyusun laporan keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasi, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan.
Penyusunan Laporan Keuangan Kantor Direktorat Jenderal Industri Agro mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat dalam Pemerintahan. Laporan Keuangan ini telah disusun dan disajikan dengan basis akrual sehingga akan mampu menyajikan informasi keuangan yang transparan, akurat dan akuntabel.
Laporan Keuangan ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna kepada para pengguna laporan khususnya sebagai sarana untuk meningkatkan akuntabilitas/ pertanggungjawaban dan transparansi pengelolaan keuangan negara pada Kantor Direktorat Jenderal Industri Agro. Di samping itu, laporan keuangan ini juga dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada manajemen dalam pengambilan keputusan dalam usaha untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Dokumen ini ditandatangani secara elektronik sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Jakarta, Juni 2021 A.n. Direktur Jenderal,
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro
Mohammad Ari Kurnia Taufik
NIP. 197505052003121010
ii
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i Daftar Isi ii Daftar Tabel iii
Daftar Isi
Pernyataan Tanggung Jawab iv Ringkasan 1
Ringkasan Laporan Keuangan 2
I. Laporan Realisasi Anggaran iv
II. Neraca v 4
III. Laporan Operasional vi
IV. Laporan Perubahan Ekuitas vii
V. Catatan atas Laporan Keuangan 8 5
A. Penjelasan Umum 8
B. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran 22
C. Penjelasan atas Pos-pos Neraca 34
D. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Operasional 53 E. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Perubahan Ekuitas 63
F. Pengungkapan Penting Lainnya 70
VI. Lampiran dan Daftar
LAPORAN KEUANGAN SEMESTER I Pernyataan Tanggung Jawab Direktorat Jenderal Industri Agro
Untuk Periode Yang Berakhir sampai dengan 30 Juni 2021
TELEPON 5252713,5255509 FAXIMILE 5252450
T JENDERA9 Ext. 4004, FAXIMILE 5251893
PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB
Laporan Keuangan Kantor Direktorat Jenderal Industri Agro yang terdiri dari:
Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan
Ekuitas, dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2021 sebagaimana terlampir, adalah merupakan tanggung jawab kami.
Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Dokumen ini ditandatangani secara elektronik sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Jakarta, Juni 2021 A.n. Direktur Jenderal,
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro
Mohammad Ari Kurnia Taufik
NIP. 197505052003121010
2
Laporan Keuangan Kantor Direktorat Jenderal Industri Agro untuk periode yang berakhir pada 30 Juni Tahun Anggaran 2021 ini telah disusun dan disajikan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan.
Laporan Keuangan ini meliputi:
1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara anggaran dengan
realisasinya, yang mencakup unsur-unsur Pendapatan-LRA dan Belanja selama periode 1 Januari 2021 sampai dengan 30 Juni 2021.
Realisasi Pendapatan Negara pada 30 Juni 2021 adalah berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak sebesar Rp 182.372.745.
Realisasi Belanja Negara per 30 Juni 2021 adalah sebesar Rp 22.169.644.203 atau mencapai 26,03 persen dari alokasi anggaran sebesar Rp 85.166.212.000.
2. NERACA
Neraca menggambarkan posisi keuangan entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada 30 Juni 2021.
Nilai Aset per 30 Juni 2021 dicatat dan disajikan sebesar Rp 18.613.948.442 yang terdiri dari Aset Lancar sebesar Rp 12.994.090.668; Aset Tetap (neto) sebesar Rp 5.567.970.274; dan Aset Lainnya (neto) sebesar Rp 51.887.500.
Nilai Kewajiban dan Ekuitas per 30 Juni 2021 masing-masing adalah sebesar Rp 9.709.644.293 dan Rp 8.904.204149.
3. LAPORAN OPERASIONAL
Laporan Operasional menyajikan berbagai unsur pendapatan-LO, beban, surplus/defisit dari
operasi, surplus/defisit dari kegiatan nonoperasional, surplus/defisit sebelum pos luar biasa,
pos luar biasa, dan surplus/defisit-LO, yang diperlukan untuk penyajian yang wajar.
3
Pendapatan-LO untuk periode sampai dengan 30 Juni 2021 adalah sebesar Rp 540.108, sedangkan jumlah Beban Operasional adalah sebesar Rp 19.043.834.689 sehingga terdapat Defisit dari Kegiatan Operasional senilai Rp (19.043.294.581).
Setelah digabung dengan Surplus/(Defisit) dari Kegiatan Non-Operasional sebesar
Rp 183.259.948, sehingga pendapatan entitas mengalami Defisit-LO sebesar Rp (18.860.034.633).
4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun
pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ekuitas awal pada tanggal 1 Januari 2021 adalah sebesar Rp 5.779.067.324 dikurangi Defisit-LO sebesar Rp (18.860.034.633) dan ditambah Transaksi Antar Entitas sebesar Rp 21.985.271.458
sehingga Ekuitas akhir pada tanggal 30 Juni 2021 adalah senilai Rp 8.904.304.149.
Nilai Ekuitas ini mengalami kenaikan sebesar Rp 3.125.236.825 dari tahun sebelumnya sebesar Rp 5.779.067.324.
5. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menyajikan informasi tentang penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Termasuk pula dalam CaLK adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapan-pengungkapan lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan.
Laporan Realisasi Anggaran untuk periode yang berakhir sampai dengan tanggal
30 Juni 2021 disusun dan disajikan berdasarkan basis kas. Sedangkan Neraca,
Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas untuk periode yang berakhir
pada 30 Juni 2021 disusun dan disajikan dengan basis akrual.
iv
I. LAPORAN REALISASI ANGGARAN
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Untuk Periode Yang Berakhir 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020
(Dalam Rupiah)
2019
ANGGARAN REALISASI REALISASI
PENDAPATAN B.1
Penerimaan Negara Bukan Pajak - 182,372,745 - 354,804,409 JUMLAH PENDAPATAN - 182,372,745 0.00 354,804,409
BELANJA B.2.
Belanja Pegawai B.3 17,280,665,000 8,409,822,215 48.67 11,110,166,977 Belanja Barang B.4 66,487,862,000 13,165,689,607 19.80 25,613,990,778 Belanja Modal B.5 1,397,685,000 594,132,381 42.51 377,095,000 Belanja Bantuan Sosial B.6 - - 0.00 - JUMLAH BELANJA 85,166,212,000 22,169,644,203 26.03 37,101,252,755
% thd Anggaran CATATAN
URAIAN 2020
v
II. NERACA
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
N E R A C A
Per 30 Juni 2021 dan 31 Desember 2020
(Dalam Rupiah)
CATATAN 30 JUNI 2021 31 DESEMBER 2020
Kas di Bendahara Pengeluaran C.1 8,952,591,800 - Kas di Bendahara Penerimaan C.2 - - Kas Lainnya dan Setara Kas C.3 - - Piutang Bukan Pajak C.4 - - Bagian Lancar TP/TGR C.5 - - Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran C.6 - - Penyisihan Piutang Tak Tertagih - Piutang Lancar C.7 - - Belanja Dibayar di Muka C.8 - 572,689 Pendapatan yang Masih harus Diterima C.9 - -
Persediaan C.10 4,041,498,868 121,893,500
Jumlah Aset Lancar 12,994,090,668 122,466,189
Tagihan TP/TGR C.11 - - Tagihan Penjualan Angsuran C.12 - - Penyisihan Piutang Tak Tertagih - Piutang Jangka Panjang C.13 - - Jumlah Piutang Jangka Panjang - -
Tanah C.14 - -
Peralatan dan Mesin C.15 18,458,329,067 18,317,993,928
Gedung dan Bangunan C.16 - - Jalan, Irigasi, dan Jaringan C.17 275,000 275,000
Aset Tetap Lainnya C.18 84,720,000 84,720,000
Konstruksi dalam pengerjaan C.19 - - Akumulasi Penyusutan Aset Tetap C.20 (12,975,353,793) (12,700,294,306)
Jumlah Aset Tetap 5,567,970,274 5,702,694,622
ASET LAINNYA
Aset Tidak Berwujud C.21 238,375,000 238,375,000
Aset Lain-Lain C.22 272,027,903,000 278,436,227,290
Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Aset Lainnya C.23 (272,214,390,500) (278,598,661,665)
Jumlah Aset Lainnya 51,887,500 75,940,625
JUMLAH ASET 18,613,948,442 5,901,101,436
Utang kepada pihak ketiga C.24 757,052,493 122,034,112 Uang muka dari KPPN C.25 8,952,591,800 - Beban yang masih harus dibayar C.26 - - Jumlah Kewajiban Jangka Pendek 9,709,644,293 122,034,112
9,709,644,293
122,034,112
Ekuitas C.27 8,904,204,149 5,779,067,324
JUMLAH EKUITAS DANA 8,904,204,149 5,779,067,324
18,613,848,442
5,901,101,436 URAIAN
KEWAJIBAN
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS ASET
ASET TETAP ASET LANCAR
KEWAJIBAN JANGKA PENDEK
JUMLAH KEWAJIBAN EKUITAS DANA
PIUTANG JANGKA PANJANG
vi
III. LAPORAN OPERASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
LAPORAN OPERASIONAL
Untuk Periode Yang Berakhir 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020
(Dalam Rupiah)
CATATAN 30 JUNI 2020 30 JUNI 2019
Pendapatan Negara Bukan Pajak Lainnya D.1 540,108 - 540,108
-
Beban Pegawai D.2 9,044,840,596 8,418,059,789
Beban Persediaan D.3 80,905,600 96,813,500
Beban Barang dan Jasa D.4 4,748,481,107 4,208,236,870
Beban Pemeliharaan D.5 596,110,272 344,479,269
Beban Perjalanan Dinas D.6 3,820,587,260 3,455,104,083
Beban Barang untuk Diserahkan kepada Masyarakat D.7 - 2,443,251,800 Beban Bantuan Sosial D.8 - -
Beban Penyusutan dan Amortisasi D.9 752,909,854 658,971,290
Beban Penyisihan Piutang Tak Tertagih D.10 - - 19,043,834,689
19,624,916,601
SURPLUS / (DEFISIT) DARI KEGIATAN OPERASIONAL (19,043,294,581) (19,624,916,601)
D.11
Pendapatan Pelepasan Aset Non lancar 179,386,000 318,936,999 Beban Pelepasan Aset Non Lancar - - Jumalah Surplus/(defisit) Pelepasan Aset Non Lancar 179,386,000 318,936,999 Pendapatan dari kegiatan Non Operasional Lainnya 3,873,948 35,867,410 Beban dari Kegiatan Non Operasional Lainnya - - Jumlah Surplus/(Defisit) Dari Kegiatan Non Operasional Lainnya 3,873,948 35,867,410 SURPLUS / (DEFISIT) DARI KEGIATAN NON OPERASIONAL 183,259,948 354,804,409
SURPLUS/DEFISIT SEBELUM POS LUAR BIASA (18,860,034,633) (19,270,112,192)
D.12 - - SURPLUS/DEFISIT LO (18,860,034,633) (19,270,112,192)
URAIAN
BEBAN
JUMLAH BEBAN
KEGIATAN NON OPERASIONAL
POS LUAR BIASA
KEGIATAN OPERASIONAL
JUMLAH PENDAPATAN PENDAPATAN
vii
IV. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
Untuk Periode Yang Berakhir 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020
(Dalam Rupiah)
URAIAN CATATAN 30 JUNI 2021 30 JUNI 2020
EKUITAS AWAL E.1 12,484,744,734 15,112,525,090
SURPLUS/DEFISIT LO E.2 (18,860,034,633) (19,270,112,192)
KOREKSI YANG MENAMBAH/MENGURANGI YANG BERASAL DARI DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN/KESALAHAN MENDASAR
E.3 - -
LAIN-LAIN
Koreksi Nilai Persediaan E.3.1 - - Koreksi Nilai Aset Tetap Non Revaluasi E.3.2 - - Koreksi Atas Beban E.3.3 - - Koreksi Lain-Lain / Hibah Masuk (Keluar) E.3.4 - -
TRANSAKSI ANTAR ENTITAS E.4 21,985,271,458 16,642,331,836
KENAIKAN/ PENURUNAN EKUITAS E.5 3,125,236,825 (2,627,780,356)
EKUITAS AKHIR E.6 15,609,981,559 12,484,744,734
8
V. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
A. PENJELASAN UMUM
A.1. RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT JENDERAL INDUSTRI AGRO
Rencana Strategis
Dalam rangka penanganan permasalahan mendasar
dalam sektor industri agro tahun 2021, Direktorat Jenderal Industri Agro akan melaksanakan beberapa program dan kegiatan yang diharapkan dapat menjawab permasalahan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk mewujudkan tujuan diatas Direktorat Jenderal Industri Agro mengacu pada arah kebijakan industri nasional dan rencana strategis Kementerian Perindustrian serta berdasarkan pada karakteristik dan ciri sub-sektor Industri Agro, maka pembangunan Industri Agro memiliki Visi “Terwujudnya Industri Agro Yang Bedaya Saing Global Pada Tahun 2025”.
Dalam rangka mewujudkan visi tersebut diatas, Direktorat Jenderal Industri Agro sebagai bagian dari kementerian Perindustrian sebagai institusi pembina Industri Nasional mengemban misi sebagai berikut :
Menjadi wahana pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat;
Menjadi pengganda kegiatan usaha produktif di sektor riil bagi masyarakat;
Menjadi wahana untuk memajukan kemampuan teknologi nasional;
Meningkatkan industri yang berbasis Sumber Daya Alam;
Pengembangan inovasi teknologi dan SDM yang kompeten;
9
Mendukung ketahanan pangan dan ketersediaan energi alternatif;
Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan
A.2. Pendekatan Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan Keuangan Tahun 2021 ini merupakan laporan yang mencakup seluruh aspek keuangan yang dikelola oleh Direktorat Jenderal Industri Agro. Laporan Keuangan ini dihasilkan melalui Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yaitu serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan dan pengikhtisaran sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada Kementerian Negara/Lembaga.
SAI terdiri dari Sistem Akuntansi Instansi Berbasis Akrual (SAIBA) dan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN). SAI dirancang untuk menghasilkan Laporan Keuangan Satuan Kerja yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Sedangkan SIMAK-BMN adalah sistem yang menghasilkan informasi aset tetap, persediaan, dan aset lainnya untuk penyusunan neraca dan laporan barang milik negara serta laporan manajerial lainnya.
Basis Akrual
A.3. Basis Akrual
Direktorat Jenderal Industri Agro menerapkan basis akrual
dalam penyusunan dan penyajian Neraca, Laporan Operasional,
dan Laporan Perubahan Ekuitas serta basis kas untuk penyusunan
dan penyajian Laporan Realisasi Anggaran. Basis akrual adalah
basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa
lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa
10
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.
Sedangkan basis kas adalah basis akuntansi yang yang mengakui pengaruhi transaksi atau peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Hal ini sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Dasar Pengukuran
A.4. Dasar Pengukuran
Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan.
Dasar pengukuran yang diterapkan Direktorat Jenderal Industri Agro dalam penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan adalah dengan menggunakan nilai perolehan historis.
Aset dicatat sebesar pengeluaran/penggunaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut. Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan.
Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah. Transaksi yang menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.
Kebijakan Akuntansi
A.5. Kebijakan Akuntansi
Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan Tahun 2021 telah mengacu pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Kebijakan akuntansi merupakan prinsip-prinsip, dasar-dasar,
konvensi konvensi, aturan-aturan, dan praktik-praktik spesifik yang
dipilih oleh suatu entitas pelaporan dalam penyusunan dan
11
penyajian laporan keuangan. Kebijakan akuntansi yang diterapkan dalam laporan keuangan ini adalah merupakan kebijakan yang ditetapkan oleh Badan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan yang merupakan entitas pelaporan dari Direktorat Jederal Industri Agro.
Disamping itu, dalam penyusunannya telah diterapkan kaidah- kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan pemerintahan.
Kebijakan-kebijakan akuntansi penting yang digunakan dalam penyusunan Laporan Keuangan Direktorat Jenderal Industri Agro adalah sebagai berikut:
Pendapatan-LRA
(1) Pendapatan- LRA
Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima pada Kas Umum Negara (KUN).
Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
Pendapatan-LRA disajikan menurut klasifikasi sumber pendapatan.
Pendapatan-LO
(2) Pendapatan- LO
Pendapatan-LO adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan tidak perlu dibayar kembali.
Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas
pendapatan dan /atau Pendapatan direalisasi, yaitu adanya
aliran masuk sumber daya ekonomi. Secara khusus
12
pengakuan pendapatan-LO pada Badan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan adalah sebagai berikut:
o Pendapatan Jasa Pelatihan diakui setelah pelatihan selesai dilaksanakan
o Pendapatan Sewa Gedung diakui secara proporsional antara nilai dan periode waktu sewa.
o Pendapatan Denda diakui pada saat dikeluarkannya surat keputusan denda atau dokumen lain yang dipersamakan
Akuntansi pendapatan-LO dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).
Pendapatan disajikan menurut klasifikasi sumber pendapatan.
Belanja
(3) Belanja
Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara yang mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam peride tahun anggaran yang bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
Belanja diakui pada saat terjadi pengeluaran kas dari KUN.
Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran, pengakuan belanja terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
Belanja disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja
dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan
13
fungsi akan diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Beban
(4) Beban
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban.
Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban; terjadinya konsumsi aset; terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.
Beban disajikan menurut klasifikasi ekonomi/jenis belanja dan selanjutnya klasifikasi berdasarkan organisasi dan fungsi diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
Aset
(5) Aset
Aset diklasifikasikan menjadi Aset Lancar, Aset Tetap, Piutang Jangka Panjang dan Aset Lainnya.
Aset Lancar
a. Aset Lancar
Kas disajikan di neraca dengan menggunakan nilai nominal.
Kas dalam bentuk valuta asing disajikan di neraca dengan menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca.
Investasi Jangka Pendek BLU dalam bentuk surat berharga disajikan sebesar nilai perolehan sedangkan investasi dalam bentuk deposito dicatat sebesar nilai nominal.
Piutang diakui apabila menenuhi kriteria sebagai berikut:
a) Piutang yang timbul dari Tuntutan Perbendaharaan/
14
Ganti Rugi apabila telah timbul hak yang didukung dengan Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak dan/atau telah dikeluarkannya surat keputusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
b) Piutang yang timbul dari perikatan diakui apabila terdapat peristiwa yang menimbulkan hak tagih dan didukung dengan naskah perjanjian yang menyatakan hak dan kewajiban secara jelas serta jumlahnya bisa diukur dengan andal
Piutang disajikan dalam neraca pada nilai yang dapat direalisasikan (net realizable value). Hal ini diwujudkan dengan membentuk penyisihan piutang tak tertagih.
Penyisihan tersebut didasarkan atas kualitas piutang yang ditentukan berdasarkan jatuh tempo dan upaya penagihan yang dilakukan pemerintah. Perhitungan penyisihannya adalah sebagai berikut:
Kualitas Piutang Uraian Penyisihan
Lancar Belum dilakukan pelunasan s.d.
tanggal jatuh tempo 0.5%
Kurang Lancar
Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Pertama tidak dilakukan pelunasan
10%
Diragukan
Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Kedua tidak dilakukan pelunasan
50%
Macet
1. Satu bulan terhitung sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga tidak dilakukan
pelunasan 100%
2. Piutang telah diserahkan kepada Panitia Urusan Piutang Negara/DJKN
15
Tagihan Penjualan Angsuran (TPA) dan Tuntutan Perbedaharaan/Ganti Rugi (TP/TGR) yang akan jatuh tempo 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca disajikan sebagai Bagian Lancar TP/TGR atau Bagian Lancar TPA.
Nilai Persediaan dicatat berdasarkan hasil inventarisasi fisik pada tanggal neraca dikalikan dengan:
harga pembelian terakhir, apabila diperoleh dengan pembelian;
harga standar apabila diperoleh dengan memproduksi sendiri;
harga wajar atau estimasi nilai penjualannya apabila diperoleh dengan cara lainnya.
Aset Tetap
b. Aset Tetap
Aset tetap mencakup seluruh aset berwujud yang dimanfaatkan oleh pemerintah maupun untuk kepentingan publik yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun.
Nilai Aset tetap disajikan berdasarkan harga perolehan atau harga wajar.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.06/2016 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara, pengakuan aset tetap didasarkan pada nilai satuan minimum kapitalisasi sebagai berikut:
a. Pengeluaran untuk per satuan peralatan dan mesin atau
aset tetap renovasi peralatan dan mesin yang nilainya
sama dengan atau lebih dari Rp 1.000.000 (satu juta
rupiah);
16
b. Pengeluaran untuk gedung dan bangunan atau aset tetap renovasi gedung dan bangunan yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah);
c. Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi tersebut di atas, diperlakukan sebagai biaya kecuali pengeluaran untuk tanah, jalan/irigasi/jaringan, dan aset tetap lainnya berupa koleksi perpustakaan dan barang bercorak kesenian.
Pemerintah melakukan penilaian kembali (revaluasi)
berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor
75 TA 2017 tentang Penilaian Kembali Barang Milik
Negara/Daerah dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
107/PMK.06/2020 tentang perubahan kedua atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118/PMK.06/2017
tentang Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kembali Barang
Milik Negara. Revaluasi dilakukan terhadap aset tetap
berupa Tanah, Gedung dan Bangunan, serta Jalan,
Jaringan, dan Irigasi berupa Jalan Jembatan dan Bangunan
Air pada Kementerian Negara/Lembaga sesuai kodefikasi
Barang Milik Negara yang diperoleh sampai dengan 31
Desember 2015. Termasuk dalam ruang lingkup objek
revaluasi adalah aset tetap pada Kementerian/Lembaga
yang sedang dilaksanakan pemanfaatan. Pelaksanaan
penilaian dalam rangka revaluasi dilakukan dengan
pendekatan data pasar, pendekatan biaya, dan/atau
pendekatan pendapatan oleh Penilai Pemerintah di
lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara,
Kementerian Keuangan. Berdasarkan pertimbangan
efisiensi anggaran dan waktu penyelesaian, pelaksanaan
penilaian dilakukan dengan survei lapangan untuk objek
17
penilaian berupa Tanah dan tanpa survei lapangan untuk objek penilaian selain Tanah.
Nilai aset tetap hasil penilaian kembali menjadi nilai perolehan baru dan nilai akumulasi penyusutannya adalah nol. Dalam hal nilai aset tetap hasil revaluasi lebih tinggi dari nilai buku sebelumnya maka selisih tersebut diakui sebagai penambah ekuitas pada Laporan Keuangan. Namun, apabila nilai aset tetap hasil revaluasi lebih rendah dari nilai buku sebelumnya maka selisih tersebut diakui sebagai pengurang ekuitas pada Laporan Keuangan.
Aset Tetap yang tidak digunakan dalam kegiatan operasional pemerintah yang disebabkan antara lain karena aus, ketinggalan jaman, tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi yang makin berkembang, rusak berat, tidak sesuai dengan rencana umum tata ruang (RUTR), atau masa kegunaannya telah berakhir direklasifikasi ke Aset Lain-Lain pada pos Aset Lainnya.
Aset tetap yang secara permanen dihentikan penggunaannya, dikeluarkan dari neraca pada saat ada penetapan dari entitas sesuai dengan ketentuan perundang- undangan di bidang pengelolaan BMN/BMD.
Penyusutan Aset Tetap
c. Penyusutan Aset Tetap
Penyusutan aset tetap adalah penyesuaian nilai
sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat
dari suatu aset tetap.
18
Penyusutan aset tetap tidak dilakukan terhadap:
a. Tanah;
b. Konstruksi dalam Pengerjaan (KDP); dan
c. Aset Tetap yang dinyatakan hilang berdasarkan dokumen sumber sah atau dalam kondisi rusak berat dan/atau usang yang telah diusulkan kepada Pengelola Barang untuk dilakukan penghapusan.
Penghitungan dan pencatatan Penyusutan Aset Tetap dilakukan setiap akhir semester tanpa memperhitungkan adanya nilai residu.
Penyusutan Aset Tetap dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus yaitu dengan mengalokasikan nilai yang dapat disusutkan dari Aset Tetap secara merata setiap semester selama Masa Manfaat.
Masa Manfaat Aset Tetap ditentukan dengan berpedoman Keputusan Menteri Keuangan Nomor:
295/KMK.06/2019 tentang Tabel Masa Manfaat Dalam Rangka Penyusutan Barang Milik Negara berupa Aset Tetap pada Entitas Pemerintah Pusat. Secara umum tabel masa manfaat adalah sebagai berikut:
Kelompok Aset Tetap Masa Manfaat
Peralatan dan Mesin 2 s.d. 20 tahun
Gedung dan Bangunan 40 s.d. 50 tahun Jalan, Jaringan dan Irigasi 5 s.d 50 tahun Aset Tetap Lainnya (Alat Musik Modern) 4 tahun
Penggolongan Masa Manfaat Aset Tetap
19 Piutang Jangka
Panjang
d. Piutang Jangka Panjang
Piutang Jangka Panjang adalah piutang yang diharapkan/dijadwalkan akan diterima dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan.
Tagihan Penjualan Angsuran (TPA), Tagihan Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) dinilai berdasarkan nilai nominal dan disajikan sebesar nilai yang dapat direalisasikan.
Aset Lainnya
e. Aset Lainnya
Aset Lainnya adalah aset pemerintah selain aset lancar, aset tetap, dan piutang jangka panjang. Termasuk dalam Aset Lainnya adalah aset tak berwujud, tagihan penjualan angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan, aset kerjasama dengan pihak ketiga (kemitraan), dan kas yang dibatasi penggunaannya.
Aset Tak Berwujud (ATB) disajikan sebesar nilai tercatat neto yaitu sebesar harga perolehan setelah dikurangi akumulasi amortisasi.
Amortisasi ATB dengan masa manfaat terbatas dilakukan dengan metode garis lurus dan nilai sisa nihil. Sedangkan atas ATB dengan masa manfaat tidak terbatas tidak dilakukan amortisasi.
Aset Lain-lain berupa aset tetap pemerintah disajikan
sebesar nilai buku yaitu harga perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan.
20
Kewajiban
(6) Kewajiban
Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.
Kewajiban pemerintah diklasifikasikan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
a. Kewajiban Jangka Pendek
Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban jangka pendek meliputi Utang Kepada Pihak Ketiga, Belanja yang Masih Harus Dibayar, Pendapatan Diterima di Muka, Bagian Lancar Utang Jangka Panjang, dan Utang Jangka Pendek Lainnya.
b. Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang jika diharapkan untuk dibayar atau jatuh tempo dalam waktu lebih dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan.
Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal, yaitu sebesar nilai kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung.
Ekuitas
(7) Ekuitas
Ekuitas merupakan merupakan selisih antara aset dengan
kewajiban dalam satu periode. Pengungkapan lebih lanjut dari
ekuitas disajikan dalam Laporan Perubahan Ekuitas.
21 Implementasi
Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual Pertama Kali
(8) Implementasi Akuntansi Berbasis Akrual Pertama Kali
Mulai tahun 2015 Pemerintah mengimplementasikan akuntansi berbasis akrual sesuai dengan amanat PP No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Implementasi tersebut memberikan pengaruh pada beberapa hal dalam penyajian laporan keuangan. Pertama, Pos-pos ekuitas dana pada neraca per 31 Desember 2014 yang berbasis cash toward accrual direklasifikasi menjadi ekuitas sesuai dengan akuntansi berbasis akrual.
Kedua, keterbandingan penyajian akun-akun tahun berjalan dengan tahun sebelumnya dalam Laporan Operasional dan Laporan Perubahan Ekuitas tidak dapat dipenuhi. Hal ini diakibatkan oleh penyusunan dan penyajian akuntansi berbasis akrual pada tahun 2015 adalah merupakan implementasi yang pertama.
Implementasi Metode Penilaian Persediaan First in First out (FIFO)
(9) Implementasi Metode Penilaian Persediaan
Sejak penerapan akuntansi pemerintahan berbasis akrual tahun 2015 hingga tahun 2020, pemerintah menggunakan metode Harga Perolehan Terakhir (HPT) dalam penilaian persediaan.
Dengan metode HPT, nilai persediaan ditentukan berdasarkan harga perolehan ataupun pembelian terakhir per satuan unit.
Konsekuensi dari penggunaan metode ini adalah setiap terjadi perubahan harga perolehan terakhir maka terjadi penyesuaian nilai persediaan yang telah ada.
Mulai Tahun Anggaran 2021, pemerintah akan
menerapkan metode penilaian persediaan First in First Out (FIFO)
sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan
(PMK) Nomor 234/PMK.05/2020 tentang Perubahan atas PMK
22
Nomor 225/PMK.05/2019 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Pusat. Dengan menggunakan metode FIFO, maka barang yang masuk terlebih dahulu dianggap sebagai barang yang pertama kali keluar. Sehingga nilai saldo persediaan dihitung berdasarkan harga perolehan masing-masing.
23
B. PENJELASAN ATAS POS-POS LAPORAN REALISASI ANGGARAN
Selama periode berjalan, Direktorat Jenderal Indsutri Agro telah mengadakan revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari DIPA awal. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan kegiatan sesuai dengan kebutuhan dan situasi serta kondisi pada saat pelaksanaan. Perubahan tersebut berdasarkan sumber pendapatan dan jenis belanja pada DIPA dengan rincian sebagai berikut:
ANGGARAN ANGGARAN
SEMULA SETELAH REVISI
Penda pa ta n
Penerimaan Perpajakan - - Penerimaan Negara Bukan Pajak - - Jumla h Penda pa ta n - - Belanja
Belanja Pegawai 18,756,665,000 17,280,665,000 Belanja Barang 81,523,312,000 66,487,862,000 Belanja Modal 2,371,873,000 1,397,685,000 Jumla h Bela nja 102,651,850,000 85,166,212,000
2021 Ura ia n
Anggaran Belanja Direktorat Jenderal Industri Agro
Dengan masih adanya penyebaran wabah COVID-19, terdapat anggaran Direktorat Jenderal Industri Agro yang dipangkas untuk dialihkan ke anggaran penanganan pandemi COVID-19 yang mencakup pergeseran anggaran pada beberapa output kegiatan, revisi administrasi pada susunan anggaran Direktorat Jenderal Industri Agro dan terdapat revisi penambahan kebutuhan Swab/PCR Test, dan vaksinasi untuk pegawai Direktorat Jenderal Industri Agro.
Kondisi pandemi COVID-19 yang masih terjadi tahun ini
tentunya berdampak pada kesehatan dan penurunan pertumbuhan
ekonomi, maka pemerintah melalui S-369/PB/2020 mengeluarkan
kebijakan Pemutakhiran Akun dalam rangka penanganan pandemi
COVID-19. Sehingga dari anggaran belanja barang di atas,
24
terdapat beberapa anggaran belanja dalam rangka COVID-19 sebagai berikut:
ANGGARAN ANGGARAN
SEMULA SETELAH REVISI
Belanja
Belanja Pegawai - - Belanja Barang 412,000,000 6,439,766,000 Belanja Modal - - Jumlah Belanja 412,000,000 6,439,766,000
2021 Uraian
Anggaran Belanja Dalam Rangka COVID-19
Realisasi Pendapatan Rp 184.372.745
B.1. Pendapatan
Realisasi Pendapatan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2021 adalah sebesar Rp 184.372.745. Pendapatan tersebut merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak. Rincian estimasi pendapatan dan realisasinya adalah sebagai berikut:
Pendapatan dari Penjualan Peralatan dan Mesin - - Pendapatan dari Pemindahtanganan BMN Lainnya - 179,386,000 Penerimaan Kembali Belanja Pegawai TAYL - 4,446,637 Pendapatan Lain-Lain - 540,108 Jumla h - 184,372,745 Uraian
2020
Angg aran Realisasi
Rincian Estimasi dan Realisasi Pendapatan
Realisasi Pendapatan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2021 adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan dari Penjualan Peralatan dan Mesin senilai total Rp 179.386.000 berasal dari setoran penjualan kendaraan
dinas operasional dengan bukti NTPN ED17B8N3DNL3UTLT
pada tanggal 30 April 2021. Adapun rincian hasil lelang adalah
sebagai berikut:
25
a. Motor Honda Kharisma NF 125 D dengan nomor polisi B 6763 PBQ tahun 2004 senilai Rp 2.359.000 (dua juta tiga
ratus lima puluh sembilan ribu rupiah).
b. Motor Honda Kharisma NF 125 D dengan nomor polisi B 6406 SQA tahun 2006 senilai Rp 2.560.000 (dua juta
lima ratus enam puluh ribu rupiah).
c. Motor Honda NF 12A1CF MT dengan nomor polisi B 3484 SQB tahun 2013 senilai Rp 3.805.000 (tiga juta delapan ratus lima ribu rupiah).
d. Mobil Ford Ranger XLT STO 2 SE MT dengan nomor polisi B 9502 WQ tahun 2008 senilai Rp 63.413.000 (enam puluh
tiga juta empat ratus tiga belas ribu rupiah).
e. Mobil Toyota Kijang KF 83 LGX dengan nomor polisi B 2699 MQ tahun 2003 senilai Rp 54.286.000 (lima puluh empat juta dua ratus delapan puluh enam ribu rupiah).
f. Mobil Honda City GD8 1.5 VTI MT dengan nomor polisi B 1151 WQ tahun 2004 senilai Rp 52.963.000 (lima puluh
dua juta sembilan ratus enam puluh tiga ribu rupiah).
2. Penerimaan Kembali Belanja Pegawai TAYL senilai Rp 4.446.637 merupakan pengembalian kelebihan pembayaran tunjangan kinerja pegawai tahun anggaran 2020 dengan bukti NTPN 90B901JNF31BDBQ1 pada tanggal 6 April 2021.
3. Pendapatan Lain-Lain senilai Rp 540.108 merupakan pengembalian kelebihan pembayaran kenaikan gaji berkala tahun anggaran 2020 dengan bukti SP2D 211821301001624 tanggal 17 Maret 2021.
Adanya pandemi COVID-19 tidak berdampak pada naik
turunnya Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) bagi Direktorat
Jenderal Industri Agro, karena bukan merupakan satuan kerja yang
26
menghasilkan PNBP sebagai sasaran kerja utamanya. Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak per 30 Juni 2021 mengalami penurunan 48,04 persen dibandingkan realisasi per 30 Juni 2020 sebesar Rp 354.804.409.
URAIAN TAHUN 2021 TAHUN 2020
NAIK (TURUN)
% Penerimaan Perpajakan - - 0.00 Penerimaan Negara Bukan Pajak 184,372,745 354,804,409 (48.04)
Jumlah 184,372,745 354,804,409 (48.04)
Perbandingan Realisasi Pendapatan
Realisasi Belanja Negara Rp 22.169.644.203
B.2. Belanja
Realisasi Belanja instansi per 30 Juni 2021 adalah sebesar Rp 22.169.644.203 atau 26,03 persen dari anggaran belanja sebesar Rp 85.166.212.000. Rincian anggaran dan realisasi belanja per 30 Juni 2021 adalah sebagai berikut:
Anggaran Realisasi %
Belanja Pegawai 17,280,665,000 8,409,822,215 48.67 Belanja Barang 66,487,862,000 13,165,689,607 19.80 Belanja Modal 1,397,685,000 594,132,381 42.51 Jumlah 85,166,212,000 22,169,644,203 26.03
Uraian 2021
Rincian Anggaran dan Realisasi Belanja
Komposisi anggaran dan realisasi belanja dapat dilihat dalam grafik berikut ini:
- 10,000,000,000 20,000,000,000 30,000,000,000 40,000,000,000 50,000,000,000 60,000,000,000 70,000,000,000
Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal
Anggaran Belanja
27
Dibandingkan dengan per 30 Juni 2020, realisasi belanja per 30 Juni 2021 mengalami kenaikan sebesar 30,43 persen.
Kenaikan realisasi yang signifikan terdapat pada belanja barang karena bertambahnya pembelian barang maupun jasa untuk kebutuhan penanganan pandemi COVID-19 yang akan dijelaskan selanjutnya pada bagian belanja barang. Perbandingan realisasi belanja dapat dilihat pada tabel berikut ini:
URAIAN REALISASI 2021
REALISASI 2020
NAIK (TURUN)
% Belanja Pegawai 8,409,822,215 7,646,498,023 9.98 Belanja Barang 13,165,689,607 8,166,649,222 61.21 Belanja Modal 594,132,381 1,183,989,000 (49.82)
Jumlah 22,169,644,203 16,997,136,245 30.43
Perbandingan Realisasi Belanja
Belanja Pegawai Rp 8.409.822.215
B.2.1. Belanja Pegawai
Realisasi Belanja Pegawai per 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020 masing-masing adalah sebesar Rp 8.409.822.215 dan
Rp 7.646.498.023 dengan rincian sebagai berikut:
URAIAN REALISASI
2021
REALISASI 2020
N AIK
(TURUN )
%
Belanja Gaji Pokok PNS 3,338,956,170 2,843,739,680 17.41
Belanja Pembulatan gaji PNS 51,585 39,029 32.17
Belanja Tunj. Suami/Istri PNS 230,134,246 201,675,152 14.11
Belanja Tunj. Anak PNS 42,680,378 37,746,260 13.07 Belanja Tunj. Struktural PNS 406,400,000 384,020,000 5.83 Belanja Tunj. Fungsional PNS 39,740,000 5,600,000 609.64
Belanja Tunj. PPh PNS 29,611,675 17,485,913 69.35
Belanja Tunj. Beras PNS 162,582,900 117,247,980 38.67
Belanja Uang Makan PNS 356,543,000 379,602,000 (6.07)
Belanja Tunj. Lain-lain - - - Belanja Tunjangan Umum PNS 91,190,000 69,350,000 31.49
Belanja Tunj. Khusus 3,711,932,261 3,589,992,009 3.40
Jumla h Bela nja Koto r 8,409,822,215 7,646,498,023 9.98
Pengembalian Belanja Pegawai - - -
Jumla h Bela nja 8,409,822,215 7,646,498,023 9.98
Daftar Belanja Pegawai
28
Belanja Pegawai adalah belanja atas kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun barang yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada pejabat negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal.
Realisasi belanja pegawai per 30 Juni 2021 mengalami kenaikan sebesar 9,98 persen dari 30 Juni 2020. Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar belanja mengalami kenaikan karena adanya penerimaan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang baru meliputi pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Belanja tunjangan fungsional PNS juga meningkat signifikan karena pada awal tahun 2021 ini ada penyesuaian/inpassing dari jabatan struktural ke jabatan fungsional.
Belanja Barang Rp 13.165.689.607
B.2.2. Belanja Barang
Realisasi Belanja Barang per 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020
masing-masing adalah sebesar Rp 13.165.689.607 dan Rp 8.166.649.722. Belanja barang merupakan belanja keperluan
pegawai baik di dalam kantor maupun keperluan di luar kantor
untuk kepentingan tugas yang diberikan selama tahun anggaran
tersebut. Realisasi Belanja Barang per 30 Juni 2021 mengalami
penurunan sebesar 61,21 persen dari Realisasi Belanja Barang per
30 Juni 2020.
29
URAIAN TAHUN 2021 TAHUN 2020
NAIK (TURUN)
%
Belanja Barang Operasional 1,787,509,917 1,482,980,517 20.53
Belanja Barang Non Operasional 1,360,896,269 1,974,218,300 (31.07)
Belanja Barang Persediaan 282,312,600 161,898,000 74.38
Belanja Jasa 1,600,074,921 751,038,053 113.05 Belanja Pemeliharaan 595,021,272 343,729,269 73.11 Belanja Perjalanan Dalam Negeri 3,820,587,260 3,313,778,540 15.29 Belanja Pejalanan Luar Negeri - 145,758,360 (100.00) Belanja Barang untuk diserahkan kepada Masy. 1,019,287,368 - - Belanja Barang Lainnya 2,700,000,000 - -
Jumlah Belanja Kotor 13,165,689,607 8,173,401,039 61.08
Pengembalian Belanja - (6,751,817) (100.00)
Jumlah Belanja 13,165,689,607 8,166,649,222 61.21
Perbandingan Belanja Barang
Kenaikan realisasi belanja barang yang cukup besar jika dibandingkan per 30 Juni 2020 salah satunya dikarenakan dampak pandemi COVID-19, yang menyebabkan pembelian barang maupun jasa untuk penanganan pandemi COVID-19 bertambah secara signifikan. Di samping itu kenaikan realisasi juga disebabkan upaya percepatan realisasi di Direktorat Jenderal Industri Agro yang berdampak pada peningkatan realisasi belanja perjalanan dalam negeri dan belanja barang untuk diserahkan kepada masyarakat pada tahun ini.
Selama pandemi terjadi, terdapat penambahan beberapa
akun khusus penanganan pandemi COVID-19 yang sebelumnya
belum pernah ada. Adapun realisasi belanja barang khusus
penanganan pandemi COVID-19 dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
30
AKUN URAIAN ANGGARAN REALISASI %
521131 Belanja Barang Operasional -
Penanganan Pandemi COVID-19 715,789,000 250,076,317 34.94 521241 Belanja Barang Non Operasional -
Penanganan Pandemi COVID-19 10,000,000 - 0.00 522192 Belanja Jasa - Penanganan
Pandemi COVID-19 3,013,977,000 605,565,662 20.09
526322
Belanja Barang untuk Bantuan Lainnya untuk Diserahkan kepada Masyarakat/Pemda dalam bentuk barang - Penanganan Pandemi COVID-19
2,700,000,000 2,700,000,000 100.00
Jumla h Belanja 6,439,766,000 3,555,641,979 55.21
Belanja Barang – Penanganan Pandemi COVID-19
Berdasarkan tabel diatas maka dapat dijelaskan jenis belanja selama pandemi COVID-19 yang terdapat pada realisasi anggaran belanja barang sesuai dengan Surat S-369/PB/2020 tanggal 27 April 2020 adalah sebagai berikut:
a. Belanja Barang Operasional – Penanganan Pandemi COVID-19 dengan realisasi belanja sebesar 34,94 persen dari anggaran yang telah diberikan digunakan untuk mencatat belanja seperti biaya komunikasi dalam bentuk pulsa telepon atau paket data untuk ASN, pengadaan masker/ hand sanitizer, penyemprotan desinfektan yang dilaksanakan secara swakelola di area kantor, pengadaan lisensi aplikasi video conference sampai dengan 1 tahun dan pembelian vitamin dan penambah daya tahan tubuh dan lain-lain.
b. Belanja Barang Non Operasional – Penanganan Pandemi COVID-19 yang belum terealisasi dari anggaran yang telah diberikan digunakan untuk mencatat biaya konsumsi rapat dalam kantor untuk peserta rapat yang hadir di kantor/satker penyelenggara dan lain-lain.
c. Belanja Jasa – Penanganan Pandemi COVID-19 dengan
realisasi belanja sebesar 20,09 persen dari anggaran yang
31
telah diberikan digunakan untuk pembayaran jasa penyemprotan desinfektan yang dilaksanakan oleh pihak ketiga, pelaksanaan Rapid Test/ PCR Swab Test dengan menggunakan pihak ketiga, honorarium narasumber melalui sarana teleconference/video conference, dan pelaksanaan vaksinasi bagi pegawai.
d. Belanja Barang untuk Bantuan Lainnya untuk Diserahkan kepada Masyarakat/Pemda dalam bentuk barang - Penanganan Pandemi COVID-19 dengan realisasi belanja sebesar 100 persen dari anggaran yang telah diberikan digunakan untuk mencatat pengeluaran barang bantuan lainnya untuk diserahkan kepada masyarakat/pemerintah daerah dalam bentuk barang. Pada tahun ini Direktorat Jenderal Industri Agro memberikan bantuan berupa masker kain sebanyak 900.000 buah.
Belanja Modal Rp 594.132.381
B.2.3. Belanja Modal
Realisasi Belanja Modal per 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020
masing-masing adalah sebesar Rp 594.132.381 dan Rp 1.183.989.000. Belanja modal merupakan pengeluaran
anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang
memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Realisasi
Belanja Modal mengalami penurunan sebesar 49,82 persen
dibandingkan 30 Juni 2020. Penurunan ini diakibatkan oleh
pembelian peralatan dan mesin, khususnya inventaris kantor yang
belum direalisasikan secara optimal hingga pada laporan keuangan
ini dibuat.
32
URAIAN T AHUN 2021 T AHUN 2020 NAIK
(TURUN) %
Belanja Modal Tanah 0 0 -
Belanja Modal Peralatan dan Mesin 594,132,381 1,183,989,000 (49.82)
Belanja Modal Gedung dan Bangunan 0 0 -
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan 0 0 -
Belanja Modal Lainnya 0 0 -
Jumlah Bela nja Kotor 594,132,381 1,183,989,000 (49.82)
Pengembalian - - -
Jumlah Belanj a 594,132,381 1,183,989,000 (49.82)
Perbandingan Realisasi Belanja Modal
Adanya pandemi COVID-19 tidak berdampak pada belanja modal Direktorat Jenderal Industri Agro karena tidak ada pengeluaran belanja modal untuk penanganan pandemi ini.
B.2.3.1. Belanja Modal Tanah
Realisasi Belanja Modal Tanah per 30 Juni 2021 dan 31 Desember 2020 masing-masing adalah sebesar Rp 0 dan Rp 0.
Realisasi ini tidak mengalami perubahan.
URAIAN TAHUN 2021 TAHUN 2020
NAIK (TURUN)
% Tanah - - - Jumlah Belanja Kotor - - -
Pengembalian Belanja Modal - - -
Jumlah Belanja - - -
Perbandingan Realisasi Belanja Modal Tanah
B.2.3.2. Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Realisasi Belanja Modal Peralatan dan Mesin per 30 Juni 2021 adalah sebesar Rp 594.132.381, mengalami
penurunan sebesar 49,82 persen bila dibandingkan dengan
realisasi per 30 Juni 2020 sebesar Rp 1.183.989.000.
33
URAIAN TAHUN 2021 TAHUN 2020
NAIK (TURUN)
%
Peralatan dan Mesin 594,132,381 1,183,989,000 (49.82)
Jumlah Belanja Kotor 594,132,381 1,183,989,000 (49.82)
Pengembalian - - -
Jumlah Belanja 594,132,381 1,183,989,000 (49.82)
Perbandingan Realisasi Belanja Modal Peralatan dan Mesin
Rincian belanja modal peralatan dan mesin adalah sebagai berikut:
1. Sepuluh buah Laci Box senilai total Rp 21.049.000;
2. Sepuluh buah Meja Kerja Kayu senilai total Rp 37.868.005;
3. Tiga puluh enam buah Kursi Besi/Metal senilai total Rp 73.227.576;
4. Dua buah Televisi senilai total Rp15.996.800;
5. Tiga belas buah P.C Unit senilai total Rp 198.990.000;
6. Tiga puluh buah Printer (Peralatan Personal Komputer) senilai total Rp 49.830.000;
7. Dua puluh sembilan Scanner (Peralatan Personal Komputer) senilai total Rp 197.171.000.
B.2.3.3. Belanja Modal Gedung dan Bangunan
Realisasi Belanja Modal Gedung dan Bangunan per 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020 masing-masing adalah sebesar Rp 0 dan Rp 0.
URAIAN TAHUN 2021 TAHUN 2020
NAIK (TURUN)
% Gedung Tempat Kerja - - - Jumlah Belanja Kotor - - -
Pengembalian Belanja Modal - - -
Jumlah Belanja - - - Perbandingan Realisasi Belanja Modal Gedung dan Bangunan
34
B.2.3.4. Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan
Realisasi Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan per 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020 masing-masing adalah sebesar Rp 0 dan Rp 0.
URAIAN TAHUN 2021 T AHUN 2020
N AIK (TURUN )
% Belanja Modal Jaringan - - - Belanja Modal Upah Tenaga Kerja dan
Honor Pengelola Teknis Jaringan - - - Juml a h Bela nja Ko to r - - - Pengembalian Belanja Modal - - -
Jum la h Bela nj a - - -
Perbandingan Realisasi Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan
B.2.3.5. Belanja Modal Lainnya
Realisasi Belanja Modal Lainya per 30 Juni 2021 dan 30 Juni 2020 masing-masing adalah sebesar Rp 0 dan Rp 0.
URAIAN JEN IS BELANJA TAHUN 2021 TAHUN 2020
N AIK (TURUN)
% Belanja Modal Lainnya - - - Juml a h Bela nj a Ko to r - - - Pengembalian Belanja Modal - - - Juml a h Bela nj a - - -
Perbandingan Realisasi Belanja Modal Lainnya
Belanja Bantuan Sosial Rp 0