47 4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian
Obyek penelitian adalah Akademi Meteorologi Geofisika (AMG) Tangerang, Pondok Betung, Bintaro adalah Perguruan Tinggi Kedinasan di lingkungan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), yang mempersiapkan kader tenaga ahli tingkat madya, guna mendukung tugas Badan Meteorologi dan Geofisika sebagai lembaga acuan utama di Indonesia dalam memberikan informasi meteorologi, klimatologi, geofisika, dan kualitas udara, yang secara teknis akademik, pembinaanya dilakukan oleh Menteri Pendidikan Nasional dan secara teknis operasional dilakukan oleh Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika.
AMG didirikan di Bandung pada tahun 1955 dengan nama Akademi Meterologi dan Geofisika (AMG), kampusnya berada di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada tahun 1960, AMG dipindahkan ke Jakarta, kampusnya berada di Kantor Lembaga Meteorologi dan Geofisika (LMG) Jl. Arief Rakhman Hakim No. 3 Jakarta Pusat. Tahun 1960 – 1978 AMG dibawah Pusat Meteorologi dan Geofisika.
Pada tahun 1978, AMG berubah nama menjadi Balai Pendidikan dan Latihan Meteorologi dan Geofisika (BPLMG) dengan status berada di bawah Badan Diklat Departemen Perhubungan (KM. 55/OT/PHB-1978 31 Maret 1978).
Sejak tahun 2000, BPLMG berubah kembali menjadi AMG di bawah Badan Diklat Departemen Perhubungan (SK. Menhub No. KM 82 Thn 1999 Tgl 13-10- 1999), dan kampusnya pindah dan berlokasi di Jl. Perhubungan I No.5,Komplek Meteo DEPHUB, Pondok Betung,Bintaro. Dan sampai tahun 2004 AMG tetap dibawah Badan Diklat dengan SK Menhub No. 72 Thn 2002 Tgl 2-10-2002.
Terhitung mulai 1 Januari 2005 AMG berada dibawah Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), berdasarkan SK KBMG No. 003 Tahun 2004.
Alamat AMG sejak tahun 2000, BPLMG berubah kembali menjadi AMG di bawah Badan Diklat Departemen Perhubungan (SK. Menhub No. KM 82 Thn 1999 Tgl 13-10-1999), dan kampusnya pindah dan berlokasi di Jl. Perhubungan I No.5,Komplek Meteo DEPHUB, Pondok Betung,Bintaro. Dan sampai tahun 2004 AMG tetap dibawah Badan Diklat dengan SK Menhub No. 72 Thn 2002 Tgl 2- 10-2002.
Terhitung mulai 1 Januari 2005 AMG berada dibawah Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), berdasarkan SK KBMG No. 003 Tahun 2004.
Logo
Gambar 4.1
Logo BMKG
Sumber : bmkg.co.id
a. Bentuk Logo
Logo Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika berbentuk lingkaran dengan warna dasar biru, putih dan hijau, di tengah-tengah warna putih terdapat satu garis berwarna abu-abu. Dibawah logo yang berbentuk lingkaran terdapat tulisan BMKG.
b. Makna Logo
Makna dari logo BMKG menggambarkan bahwa BMKG berupaya semaksimal mungkin dapat menyediakan dan memberikan informasi meteorologi klimatologi dan geofisika dengan mengaplikasikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini dan dapat berkembang secara dinamis sesuai kemajuan zaman. Dalam menjalankan fungsinya, BMKG berupaya memberikan yang terbaik dan penuh keikhlasan berdasarkan pancasila untuk bangsa dan tanah air Indonesia yang subur yang terletak di garis kathulistiwa.
c. Arti Logo
1. Bentuk lingkaran melambangkan BMKG sebagai institusi yang dinamis;
2. 5 (lima) garis di bagian atas melambangkan dasar Negara RI yaitu Pancasila;
3. 9 (sembilan) garis di bagian bawah merupakan angka tertinggi yang melambangkan hasil maksimal yang diharapkan;
4. Gumpalan awan putih melambangkan meteorologi;
5. Bidang warna biru bergaris melambangkan klimatologi;
6. Bidang berwarna hijau bergaris patah melambangkan geofisika;
7. 1 (satu) garis melintang di tengah melambangkan garis khatulistiwa.
d. Arti Logo
1. Warna biru diartikan keagungan/ ketaqwaan;
2. Warna putih diartikan keikhlasan/ suci;
3. Warna hijau diartikan kesuburan;
4. Warna abu-abu diartikan bebas/ tidak ada batas administrasi.
4.1.1. Visi dan Misi Akademi Meteorologi dan Geofisika
Visi: Terwujudnya peserta didik mempunyai sumber daya manusia di
bidang meteorologi dan geofisika yang handal, berdaya saing dan memberikan nilai tambah melalui pendidikan dan pelatihan.
Misi:
1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat meteorologi dan geofisika yang memiliki kemampuan professional dibidang Meteorologi, Geofisika, Klimatologi dan Teknik Meteorologi/Geofisika.
2. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan di bidang Meteorologi, Geofisika, Klimatologi, dan Teknik Meteorologi/Geofisika serta mengupayakan penerapan untuk mrningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
3. Melaksanakan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan penerapan ilmu pengetahuan dalam bidang Meteorologi, Geofisika, Klimatologi dan Teknik Meteorologi/Geofisika.
4.1.2. Struktur Organisasi
Setiap akademisi memiliki struktur organisasi yang disesuaikan dengan tujuan dan bidang dari akademisi masing-masing. Struktur organisasi biasanya menunjukkan hubungan, fungsi, bagian, atau posisi ataupun kedudukan seseorang.
Gambaran struktur organisasi dari akademisi dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 4.2
Struktur Organisasi BMKG
Sumber : bmkg.co.id
Akademi meteorologi dan geofisika saat ini memiliki 4 (empat) jurusan,yaitu :
1. Jurusan Meteorologi
2. Jurusan Klimatologi 3. Jurusan Geofisika
4. Jurusan Teknik Meteorologi dan Geofisika (Instrumentasi)
Berikut penjabaran masing - masing jurusan :
1. Jurusan Meteorologi mengacu pada proses pembelajaran tentang cuaca, iklim, dan penerbangan.
2. Jurusan Klimatologi memiliki materi yang sama dengan Jurusan Meteorologi,Hanya ditekankan dalam proses pengolahan data jangka panjang.
3. Jurusan Geofisika mempelajari bumi,struktur bumi,tanah,batuan gempa, dan juga Tsunami.
4. Jurusan Teknik Meteorologi dan Geofisika (Instrumentasi) mempelajari mengenai peralatan yang dipakai dalam bidang meteorologi, geofisika, dan klimatologi. Lebih banyak berkutat tentang alat, sistem kerja, maintenance, kalibrasi, dan rekayasa.
4.2 Hasil Penelitian
Komunikasi merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak semua mahasiswa mempunyai kemampuan untuk memahami komunikasi antarbudaya, bahkan dalam sebuah organisasi yang memiliki keanekaragaman bahkan budaya yang dimiliki masih sangat erat melekat di masing-masing anggotanya sehingga terkadang mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi
antara anggota satu dengan lainnya sebabnya adalah tidak memahami budaya yang dimiliki anggotanya.
Penelitian tentang komunikasi antarbudaya antara mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang diAkademi Meteorologi Geofisika Tangerang ini didukung oleh data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara mendalam untuk mendapatkan informasi tentang pola komunikasi serta hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya yang ditemui oleh mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang diAkademi Meteorologi Geofisika Tangerang. Wawancara dilakukan pada hari selasa, 20 Januari 2015, dengan Key Informan Bapak Munawar Ali selaku dosen Akademi Meteorologi Geofisika. Selain itu, wawancara juga dilakukan pada hari Sabtu, 20 Desember 2014, dengan Informan mahasiswa etnis Makasar yaitu Misbahuddin, Agusmin Hariansah, Muhammad AlFatam Werdi Pabean dan mahasiswa etnis Palembang Rezfiko Agdialta, Eko Syarifudin, Lukman Saleh yang bersekolah di Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (AMKG). Selain itu, wawancara juga dilakukan pada hari Sabtu, 17 Januari 2015, dengan Bapak Drs. Riswandi, M.Si selaku Akademisi Komunikasi dari Universitas Mercu Buana sebagai Informan ahli. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan saat pertemuan terakhir sebelum mahasiswa menjalani Ujian Akhir Semester (UAS). Maka akan banyak sekali aktivitas komunikasi yang terjadi serta perkembangan komunikasi antarbudaya dan hambatan-hambatan komunikasi yang dihadapi mahasiswa tersebut.
Peneliti juga melakukan obersvasi yang memungkinkan peneliti melihat dan mengikuti keseharian para mahasiswa pada saat kuliah maupun dikosan,
dalam kompetensi broadcasting peneliti juga bekerja sama dalam meproduksi film pendek yang menjadi bagian penelitian observasi kegiatan komunikasi mereka.
sehingga dapat secara langsung melihat bagaimana pola komunikasi serta perkembangan dan hambtan-hambatan komunikasi antarbudaya yang ditemui oleh para mahasiswa tersebut.
4.2.1 Aktivitas Komunikasi Mahasiswa
Aktivitas komunikasi yang berlangsung pada mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang di Akademi Meteorologi Geofisika Tangerang meliputi komunikasi didalam kampus maupun diluar kampus dan bekerja sama untuk mencapai prestasi. Perbedaan bahasa dan budaya yang ada, menjadikan para mahasiswa ini kurang memahami komunikasi yang berlangsung, sehingga timbul salah paham diantara emahasiswa etnis Makassar dengan etnis Palembangatau menerima perbedaan-perbedaan tersebut, dan tidak semua mahasiswa mampu berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang murni karena masih tercampur dengan logat dan bahasa budaya mereka.
Setelah peneliti melakukan observasi dalam keseharian mereka didalam kampus maupun luar kampus, masing-masing mahasiswa menggunakan bahasa Indonesia dengan logat daerah mereka yang masih kental. Mereka terbiasa memakai logat daerah dan sulit untuk menghilangkannya. Salah satu contoh ketika peneliti dengan mahasiswa bekerja sama dalam pembuatan film pendek didalam kampus, komunikasi mereka saat berkerja sama adalah hal yang paling unik, karena mereka mempunyai tujuan yang sama dengan perbedaan budaya dan bahasa. Mereka tidak menghiraukan masalah perbedaan budaya dengan terus
berkomunikasi. Saat komunikasi tersebut mengalami masalah kesalahpahaman mereka berusaha untuk tetap memahami karakteristik, dan mereka tetap berperilaku baik terhadap satu sama lain.
Adapaun saat diluar kampus mereka melakukan aktivitas berkumpul dalam satu kosan. Mereka berkomunikasi dengan jati diri mereka masing-masing dan memperlihatkan karakteristik daerah masing-masing. Mahasiswa etnis Makassar yang cenderung keras dalam komunikasi akan terlihat lebih menguasai perkumpulan itu. Namun mahasiswa etnis Palembang yang terlihat cenderung sabar dan tetap dingin menghadapi mahasiswa etnis Makassar. Setiap bercanda dan berkomunikasi, mereka saling berdiskusi dengan baik tanpa merasa sulit berhadapan dengan perbedaan budaya tersebut. Sehingga aktivitas komunikasi tersebut dapat terus berlangsung.
Dalam penelitian ini hal pertama yang ditanyakan oleh peneliti kepada para informan mengenai pendapat mereka tentang komunikasi antarbudaya. Hal ini dinyatakan untuk dapat mendapatkan gambaran tentang pengetahuan para informan tersebut mengenai komunikasi antarbudaya, baik dalam sebuah
perkuliahan maupun dalam lingkungan sehari-hari.
Bapak Munawar Ali sebagai Key Informan memberikan pendapatnya mengenai komunikasi antarbudaya, yaitu:
“Kalo menurut saya, karena saya orang awam sepengetahuan saya mengenai definisi Komunikasi AntarBudaya ya artinya ada sebuah komunikasi diantara budaya-budaya yang berbeda.”
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang dilakukan orang-orang dengan
latar belakang budaya yang berbeda sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh para ahli.
Bapak Drs. Riswandi, M.Si selaku Akademisi Komunikasi dari Universitas Mercu Buana. Sebagai Informan ahli saat ditanya mengenai pendapatnya mengenai komunikasi antarbudaya berikut jawabannya:
“Ya kalo diliat dari sisi definisi atau batasan untuk pengertian komunikasi antarbudaya itu pesan-pesan yang disampaikan yang diterima oleh komunikan dan komunikator yang berbeda latar belakang kebudayaannya. Tapi bisa juga tidak hanya berbeda latar belakang kebudayaan, tapi juga sekarang pengertian KAB itu juga berbeda etnis, berbeda profesi, berbeda gender agak lebih luas pengertiannya jadi sekarang mencakup semuanya.”
Bapak Drs. Riswandi, M.Si juga menambahkan bahwa semua orang penting memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan banyak orang dengan latar belakang baik budaya dan bahasa yang berbeda.
“Mengapa penting memahami KAB, karena jika pemahaman orang-orang berbeda terhadap pesan-pesan komunikasi, artinya pemaknaannya berbeda bisa terjadi konflik bisa terjadi perpecahan, oleh karena itu penting memahami KAB gituu. Pointnya begitu iyaa.”
Pernyataan-pernyataan diatas membuktikan bahwa komunikasi antarbudaya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari, bukan saja dengan orang dari budaya yang sama namun juga dengan yang berbeda budaya. Selain itu, setiap individu harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya tersebut, sehingga dapat mengurangi kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
Selanjutnya, peneliti juga menanyakan mengenai kemungkinan para informan tersebut melakukan komunikasi dengan orang-orang yang berbeda
budaya dan bahasa terutama mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang diAkademi Meteorologi Geofisika Tangerang.
Agusmin Hariansah mahasiswa etnis Makassar memberi keterangan dengan etnis budaya mana saja pernah berinteraksi:
“ohh yaa.. papua ya memang sebenarnya sih lebih enak ke timur, karena kan makassar agak cenderung ke timur.”
Agusmin Hariansah juga menjelaskan bagaimana karakteristik etnis Palembang saat berkomunikasi :
”Kalo menurut saya palembang itu yaa.. salah satu daerah yang budayanya yang tidak berbelit-belit gitu yaa.. ya jadi bisa ini lah dengan kita ee..
dengan suku budaya makassar, enaklah buat ngobrol dalam bergaul, pokoknya semua ee.. koneklah.”
Begitu juga dengan Muhammad AlFatam Werdi Pabean dalam wawancara mengungkapkan hal yang serupa:
“Banyaak.. mulai dari aceh, orang batak, orang timur juga papua ambon kupang banyak dari kalimantan juga ada.”
Ketika ditanya mengenai interaksi dengan etnis Palembang juga menjelaskan:
“iyaa ada.”
Muhammad AlFatam memberikan penjelasan karakteristik etnis Palembang selama berkomunikasi:
“Pada umumnya mereka orangnya baik-baik, enak buat diajak ngobrol.”
Kemudian, Misbahudin menjelaskan juga dalam wawancara mengenai pengalaman berinteraksi dan karakteristik dari etnis budaya yang pernah berinteraksi:
“ Palembang, ya karakternya brutal, egois, tidak bisa mengontrol diri gitu.”
Selanjutnya, peneliti juga menanyakan mahasiswa etnis Palembang mengenai komunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan bahasa terutama dengan mahasiswa etnis Makassar.
Eko Syarifudin sebagai mahasiswa etnis Palembang menjelaskan pengalaman dalam berkomunikasi:
“Semuanya, tetapi khususnya lebih banyak ke makassar.”
Eko Syarifudin juga menjelaskan karakteristik etnis Makassar selama berkomunikasi:
“Yaa orangnya gimana ya, asik-asik sih baik-baik enak, diajak jalan, diajak becanda, diajak apapun enak.”
Selanjutnya, Lukman Saleh mahasiswa etnis Palembang memberikan keterangan dalam berkomunikasi:
“Paling sering sih dengan orang.”
Lukman Saleh juga menjelaskan karakteristik dari mahasiswa etnis Makassar:
“Orang makassar itu mereka orangnya baik ya humoris, ya baik-baik lah.”
Rezfiko Agdialta mahasiswa etnis Palembang juga menjelaskan pengalaman pernah berkomunikasi dari budaya lain:
” Dari Makassar.”
Rezfiko Agdialta juga menjelaskan Karakteristik dari mahasiswa etnis Makassar:
“Kalo menurut saya rata-rata orang makassar itu agak sedikit tinggi ya, tapi baik sih baik Cuma kadang-kadang kalo orang tidak tau kan mungkin jadi dikira marah padahal tidak.”
Pernyataan-pernyataan diatas membuktikan bahwa adanya aktivitas komunikasi antarbudaya antara mahasiwa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang. Dengan komunikasi antarbudaya para mahasiswa mengetahui karakteristik setiap etnis budaya. Dengan banyak melakukan aktivitas komunikasi antarbudaya, seharusnya menjadikan setiap individu tersebut dapat terbuka pemahamannya mengenai perbedaan budaya dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan mengurangi kesalahan dalam berkomunikasi terutama jika berhubungan dengan budaya lain.
Pertanyaan berikut ini ditanyakan kepada para Informan, bagaimana cara beradaptasi dengan teman yang berbeda budaya dalam kuliah, didalam kehidupan sehari-hari mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang, berikut adalah jawaban mereka:
Informan, Agusmin Hariansah mahasiswa etnis Makassar memberikan
pendapatnya:
“ee.. dalam beradaptasi yaa kita harus saling memahami dan mengerti satu sama lain, jadi kita harus saling menerima dan tidak boleh dimasukkan kedalam hati.”
Selanjutnya, Muhammad AlFatam Werdi Pabean juga menjelaskan cara beradaptasi dengan budaya lain, khususnya dengan etnis Palembang:
“ya dibawa santai aja, ya hadapi saja pasti kan dijalani.”
Begitu juga dengan Misbahudin menjelaskan cara beradaptasi dengan mahasiswa etnis Palembang:
“Ya dibawa senang saja.”
Begitu juga dengan mahasiswa etnis Palembang yang menjelaskan cara beradaptasi dengan perbedaan budaya tersebut, berikut adalah jawabannya:
Eko Syarifudin menjelaskan cara beradaptasi selama berkomunikasi:
“Ya biasaa ajak ngobrol apa segala macem bergaul dengan mereka ya begitulah.”
Selanjutnya Lukman Saleh mahasiswa etnis Palembang menjelaskan cara beradaptasi dengan perbedaan budaya tersebut:
“Ya saling membuka diri, saling berinteraksi dengan mereka, seperti itu.”
Kemudian Rezfiko Agdialta, menjelaskan cara beradaptasi:
“Caranya untuk beradaptasi itu adalah memahami lawan bicara, jadi kalo kita mau melakukan suatu jenis komunikasi yang baik kita harus memahami karakteristik lawan bicara kita.”
Pernyataan-pernyataan diatas menunjukkan bahwa mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang memiliki cara beradaptasi yang berbeda-beda. Hal tersebut juga bertujuan agar terciptanya hubungan komunikasi antarbudaya yang baik dengan perbedaan budaya.
Key Informan, Bapak Munawar Ali juga menjelaskan bagaimana cara
mengakrabkan mahasiswa yang berbeda budaya tersebut didalam kelas:
“E.. sejauh ini untuk mengakrabkan mereka karena memang tugas saya sebagai e.. dosen sekaligus pembina mental di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dimana hampir semua mahasiswanya itu hampir seluruh Indonesia ada hampir seluruh daerah mewakili e.. berbagai daerah di Indonesia itu ada, maka itu e.. salah satu karakteristik tersendiri bagi saya untuk
menyampaikan materi saya kepada berbagai mahasiswa dengan latar budaya yang berbeda tentu dengan cara yang berbeda-beda, misalkan kalo dari Indonesia bagian barat itu didominasi oleh melayu itu cenderung orangnya jauh, e.. istilahnya lebih terbuka, halus tapi terbuka, sedangkan untuk yang daerah tengah, jawa misalkan barat itu termasuk sorry.. jawa sumatera itu halus terbuka tapi jawa sendiri lebih cenderung tertutup menghindari konfrontasi, sedangkan untuk yang tengah sulawesi, NTT, NTB itu jauh lebih frontal terbuka sekali, fulgar. Ya mohon maaf tanda kutip lebih cenderung kasar, sedangkan yang untuk papua itu beda, papua itu sebenarnya, saya 15 tahun diPapua, sebenarnya itu e..
kasar. Kasar artinya keras orangnya wataknya keras kasar tapi dia tertutup, beda banget yang saya rasakan begitu, iyaa nah strategi saya adalah pertama e.. dari masing-masing mahasiswa yang berlainan daerah budaya itu, itu saya coba mereka kenal, kenal dengan kelebihan budaya dari masing-masing itu. Misalkan, yang dari Indonesia bagian barat itu saya menceritakan kelebihan-kelebihan dari budaya orang-orang yang Indonesia Barat kulturnya, ke khasannya, kedaerahannya, lingkungan dan e.. budaya lokalnya yang paling penting. Nah saya ceritakan mahasiswa yang didaerah Makassar, papua. Begitu juga untuk menarik e.. temen-temen dari Papua, saya menceritakan tentang kelebihan e..
buat daerah dari Papua, sehingga akhirnya mereka saling tertarik. Papua itu seperti apa sih? orang Papua juga begitu, orang Jawa ternyata begini ya. Nah dari situ mereka akhirnya terjalin komunikasi untuk pengen saling mengetahui, iya otomatis kalo saya memberikan e.. statement yang baik-baiknya kan pasti orang tertarik, lain kalo saya memberikan yang negatifnya kan orang cenderung untuk tidak mau. Yang kedua strategi saya dikelas itu, kalo kelompok itu saya acak seperti itu, jadi yang pertama saya kasih input ke mereka pemahaman e..
masing-masing budaya mempunyai kelebihan, masing-masing daerah punya kelebihan. Dan selanjutnya secara prakteknya saya gabungkan mereka, seperti itu. Supaya tidak kotak-kotak begitu, yang jawa ngumpul jawa, yang sumatera ngumpul sumatera. Kurang bagus untuk organisasi kami begitu.”
Dari pernyataan bapak Munawar Ali telah menjelaskan bagaimana mahasiswa yang berbeda budaya agar lebih akrab, dengan cara-cara tersebut akan membantu proses komunikasi antarbudaya dapat berjalan lebih baik lagi.
Dan bapak Munawar Ali juga menjelaskan bagaimana memulai komunikasi dengan Mahasiswa tersebut:
“ya itu tadi, saya menceritakan mengenai kelebihan-kelebihan dari daerah-daerah itu, karena kebetulan saya sendiri keliling ya keliling Indonesia pernah. Jadi saya pernah ke poso, saya pernah ke Sumatera eh..sorry saya pernah ke Ambon sampai ke Papua, Jawa hampir semua Jawa ya bukan singgah sehari dua hari tapi saya pernah hidup disana, jadi saya tahu karena kebetulan
saya punya temen juga satu Indonesia, jadi saya sedikit-sedikit memahami karakter mereka, karena ini diperlukan ketika kita menjadi pimpinan disuatu daerah tertentu, karena suatu saat bisa saja si mahasiswa pada karirnya nanti akan ditempatkan diseluruh Indonesia maka saya bekali mereka dengan pemahaman budaya lokal, ada istilah dimana bumi dpijak, langit dijunjung. Pasti kita harus mengenali budaya daerah itu.”
Pernyataan diatas menjelaskan banyak cara untuk memulai komunikasi dengan perbedaan budaya, dan yang terpenting kita harus mengetahui kelebihan- kelebihan dari setiap daerah. Sehingga para mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang mampu saling tertarik dengan kebudayaannya. Dan dengan ketertarikan dengan budaya lain dapat memulai komunikasi antarbudaya terjalin.
Informan ahli, bapak Drs. Riswandi, M.Si juga menambahkan dimana dan
kapan seseorang harus memahami Komunikasi AntarBudaya:
“dimana dan kapan, where dan when ya, dimana orang harus memahami KAB ya ketika mereka berinteraksi ya sebagai suatu bagian dari proses sosial, komunikasi antarbudaya itu ada ditengah-tengah masyarakat ya ditengah-tengah orang yang berinteraksi, kapan? Kapan KAB itu dipelajari, e.. bila terjadi komunikasi, kira-kira begitu ya pointnya.”
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti melihat bahwa mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang melakukan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari baik didalam kampus maupun diluar kampus, dan mereka mampu memahami karakteristik antar budaya saat berkomunikasi. Bukan hanya itu, mahasiswa juga mampu beradaptasi dengan cara mereka masing-masing agar dapat berhubungan baik khususnya dalam komunikasi antarbudaya. Dan terlihat dari penjelasan Bapak Munawar Ali bahwa ada cara untuk memulai komunikasi dengan mahasiswa tersebut dan juga untuk mengakrabkan mahasiswa berbeda budaya. Sehingga komunikasi antarbudaya mahasiswa etnis Makassar dan etnis
Palembang dapat berlangsung semakin baik. Dalam konteks waktu dan tempat bapak Drs. Riswandi, M.Si juga menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya dapat terjadi ditengah-tengah masyarakat dan waktunya ketika komunikasi terjadi, hal ini sama seperti mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang melakukan komunikasi antarbudaya didalam kampus maupun luar kampus, dan para mahasiswa harus memahami komunikasi antarbudaya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
4.2.2 Hambatan Komunikasi
Mengacu pada hasil wawancara dan observasi dengan para informan tersebut jelas terlihat bahwa mereka memiliki banyak hambatan dalam melakukan komunikasi. Hambatan-hambatan tersebut dapat muncul dari dalam dan luar orang tersebut. Sebelum itu, untuk menemukan hambatan-hambatan komunikasi yang dialami oleh mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang didalam kuliah, peneliti menanyakan kepada Key Informan mengenai apa saja hambatan dalam berkomunikasi yang mereka temui saat berada dalam lingkungan Akademi Meteorologi Geofisika (AMG) dan berikut adalah penjelasan bapak Munawar Ali:
“Oiyaa itu udah pasti. Kalo yang untuk barat itu cenderung diwakili Palembang dan Medan ya yang begitu banyak konfrontasi, kalo tengah itu memang Makassar, NTT, Ambon. Begitu dari timur, timur itu ya memang Papua ya. Tetapi untuk Palembang dan Makassar ini punya tipikal hampir sama wataknya sama-sama keras, ya dulu waktu saya taruna juga dua asal ini yang paling sering ribut, saya ngga tau kenapa itu sering mudah sekali marah dan ya itu tadi, terbuka dan kasar gitu.”
Selain itu bapak Munawar Ali juga menambahkan bahwa saat mengajar didalam kelas juga ada hambatan menghadapi mahasiswa yang berbeda budaya tersebut.
“Awalnya ada pasti, karena kan terutama yang semester-semester awal ya itu kan banyak yang dari berbagai daerah, berbagai daerah mereka akan membawa karakter daerahnya masing-masing. Trik saya ketika saya menghadapi hal seperti itu karena saya ngalamin hidup berpindah-pindah biasanya saya diamkan dulu, saya biarkan mereka keluar aslinya, kalo belum-belum saya langsung begini saya ngga tau dia itu seperti apa aslinya gitu, saya biarkan seolah-olah e.. awal-awal ngajar saya lepas atribut saya jadi sebenernya dosen itu harus pinter sandiwara ya, untuk mengetahui mahasiswa saya seperti apa, saya berusaha menjadi mereka dulu, setelah menjadi mereka ya mereka keluar tuh merasa akrab dengan dosennya, baru dia keluar asli-aslinya baru saya punya catatan sendiri-sendiri bahwa si ini seperti ini saya harus menangani dengan seperti ini, si ini seperti ini oh ini ngga usah, baru berikutnya saya terapkan aslinya saya gantian gitu, yang tadi merasa akrab dengan saya bisa jadi karena saya dalam rangka pengen membina dia oh saya harus tegas dengan anak ini saya harus galak, ohh kalo sama anak ini ngga bisa digalakin gitu, tapi yujuannya adalah supaya mereka berhasil, jadi dosen itu sebenarnya aktor yang paling bagus mas, sandiwaranya pinter hahaha.”
Selain itu peneliti menanyakan kepada para Informan yaitu mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang apa saja hambatan mereka saat berkomunikasi dengan perbedaan budaya. Mahasiswa etnis Makassar terlebih dulu menjelaskan hambatan komunikasi baik perbedaan bahasa atau makna terhadap budaya yang berbeda dengan mahasiswa etnis Palembang.
Agusmin Hariansah mahasiswa etnis Makassar memberikan penjelasan hambatan :
“Jadii ee.. jadi mohon maaf ya, kan bahasa palembang mungkin dia punya bahasa kotor ya, mohon maaf bahasa kotor yang kita tidak tahu artinya untuk suku budaya makassar, ee.. jadi mungkin dia sering ngata-ngatain kita toh orang tapi ee.. kita juga ini tidak tau artinya jadi kadang disitulah mulai muncul kesalahpahaman.”
Kemudian Muhammad AlFatam Werdi Pabean menjelaskan hambatan dalam komunikasi antarbudaya:
“Kalo kesalahpahaman udah banyak sih, ya utamanya itu orang batak, kan orang batak itu bahasanya kaya gimana kan ee.. bukan kasar sebenarnya
keras, jadi pernah pengalaman bicara sama mereka kaya salah paham gitu, maksud kita a dia jawabnya b.”
Selanjutnya Misbahudin mahasiswa etnis makassar juga memberikan penjelasan hambatan tersebut:
“Belom pernah, saya belom ada.”
Selain itu peneliti juga menanyakan kepada Mahasiswa etnis Palembang untuk menjelaskan hambatan komunikasi baik perbedaan bahasa atau makna terhadap budaya yang berbeda dengan mahasiswa etnis Makassar.
Eko Syarifudin mahasiswa etnis palembang menjelaskan hambatan yang dialami selama berkomunikasi:
“Pernah, apalagi kalo mereka ini pake bahasa daerahnya kan jadi kita tidak mengerti sering terjadi kesalahpahaman.”
Mahasiswa etnis Palembang, Lukman Saleh memberikan penjelasan mengenai hambatan komunikasi:
“Kalo perbedaan bahasa sih ya pernah lah, mungkin ya mereka ngejek kita ngga tau bahasanya, kita juga sebaliknya gitu, saling memahami.”
Rezfiko Agdialta mahasiswa etnis Palembang menjelaskan hambatan komunikasi:
“Iya pernah sih, kadang-kadang suka, contohnya temen saya orang makassar kan, kalo dia ngajakin makan itu bilangnya makang jadi kurang jelas gitu.”
Seperti yang sudah diungkapkan oleh para Informan bahwa hambatan paling utama yang mereka temui dalam berkomunikasi adalah bahasa. Kurang kemampuan memahami bahasa yang berbeda daerah, kurangnya penerimaan diri terhadap budaya lain menjadi salah satu sebab mengapa komunikasi yang terjalin tidak berjalan dengan lancar atau terhambat.
Selain bahasa, peneliti menanyakan mengenai hambatan-hambatan lain secara teoritis. peneliti mengajukan pertanyaan kepada bapak Drs. Riswandi M.Si, sebagai Informan ahli, apa saja hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya.
Berikut penjelasan bapak Drs. Riswandi M.si:
“Secara teoritis hambatan dalam KAB itu banyak sebenernya ya, mungkin saya bisa tunjuk hambatan itu bisa pertama adalah stereotyping, stereotyping itu adalah e.. adanya persepsi atau gambaran tertentu dari seseorang atau sekelompok orang yang bercorak negatif, jadi stereotip itu bisa memunculkan e..
pemahaman yang berbeda terhadap orang-oranag yang saling berinteraksi tadi, sehingga timbul lah perpecahan atau konflik, itu yang pertama stereotyping. Yang kedua hambatannya itu adalah prasangka gitu, jadi prasangka ini bisa menjadi hambatan terjadinya komunikasi antar orang-orang yang berbeda kebudayaan tadi, selain itu hambatan yang lain adalah e.. hambatan selain prasangka, stereotyping e.. mungkin juga sikap ya, sikap-sikap yang e.. cenderung e.. ingin menang sendiri seperti etnosentrisme begitu, couvunistik menganggap budaya sendiri yang menjadi tolak ukur, ini menjadi hambatan dalam terjadinya proses komunikasi antarbudaya ya saya kira begitu.”
Selain hal itu, dalam observasi peneliti juga menemukan dalam keseharian kedua etnis mahasiswa tersebut memiliki hambatan dalam komunikasi, ketika mereka bercanda saat berkumpul banyak memakai bahasa daerah masing-masing untuk meledek, seperti mahasiswa palembang yang meledek mahasiswa Makassar dengan bahasa Palembang, namun mahasiswa Makassar tersebut tidak mengerti maksud dari ledekan tersebut maka mahasiswa Palembang hanya tertawa melihat ledekan mereka tidak diketahui artinya oleh mahasiswa Makassar. Bukan hanya dalam bercanda kedua mahasiswa tersebut juga sering mengalami hambatan saat bekerja sama dengan peneliti membuat film pendek, mereka berkerja kelompok dengan masing-masing tugas. Kerja sama disini memerlukan komunikasi yang baik. Saat kedua mahasiswa tersebut berkomunikasi maka interaksi dengan logat bahasa masing-masing tercampur dan sering mengalami kesalahpahaman.
Sehingga penting sekali satu sama lain memahami komunikasi antarbudaya untuk mengahadapi perbedaan tersebut. Karena dengan perbedaan bahasa tersebut dapat menjadi hambatan dalam keseharian mahasiswa.
Berdasarkan pengamatan peneliti, hambatan komunikasi yang terjadi pada mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang terjadi bukan hanya didalam kuliah saja, tetapi dikehidupan sehari-hari juga mengalami hambatan. Banyak kesalahpahaman bahasa yang digunakan ketika berkomunikasi adalah hal yang sering terjadi.
4.2.3 Tindakan Mengatasi Hambatan Komunikasi Antarbudaya
Berdasarkan hambatan-hambatan komunikasi tersebut, perlu ada tindakan mengatasi hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya yang ada. Hal ini diperlukan agar semua pihak yang terkait dapat mencari cara dan jalan keluar untuk meminimalkan hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya tersebut.
Peneliti mencoba menanyakan kepada bapak Munawar Ali sebagai Key Informan mengenai langkah-langkah apa saja yang pernah ia tempuh untuk
mengatasi hambatan-hambatan dalam melakukan komunikasi antarbudaya dengan mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang didalam kelas. Berikut adalah jawabannya:
“Ya saya biasanya kalo dari dua tempat ini memang agak agak sulit ya, karena orang biasanya e.. lebih emosional ya, ya jujur aja memang lebih emosional. Saya sendiri punya staf waktu di Papua yang dari daerah Palembang dari daerah Makassar saya nanganinya agak susah, iya e.. susah diajak dialog gitu sulit, nah strategi saya adalah e.. kita memberikan kesempatan dia dulu, misalkan dia kan maunya apa kan biasanya maunya keras kita turuti, ketika dia tidak bisa melaksanakan ya kan, misalnya saya udah tau nih dia bakalan ngga bisa tapi dia gondok, daripada saya berdebat nanti ribut mending yaudah kamu kerjakan dan ternyata dia ngga bisa baru saya kasih contoh pekerjaan itu bahwa
ternyata begitu salah, Cuma saya ngga mau ribut aja kan gitu, itu memang tipikal budaya jawa ya ngga mau ribut, lebih baik kita ngalah dulu. Tapi tadinya kita sudah menduga bahwa dia pasti ngga akan bisa. Makanya yaudah kamu kerjain, nah ini dari sini kebanyakan terus teman-teman yang dari Makassar Palembang itu baru mulai menyadari begitu, baru mulai menyadari kesalahan bagi yang sadar tapi bagi yang tidak ya harus seperti itu, tapi bagi yang menyadari dia akan belajar.”
Para mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang juga telah melakukan berbagai usaha untuk mencoba mengatasi hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya.
Dalam observasi keseharian mahasiswa peneliti melihat mahasiswa berusaha mengatasi hambatan komunikasi dengan terus memahami karaketeristik masing-masing daerah. Mahasiswa Makassar yang berkomunikasi dengan mahasiswa Palembang tidak sembaranagan berbicara keras, karena mereka pernah mengalami konflik emosi yaitu ketika mahasiswa Palembang diledeki dengan bahasa etnis Makassar, kemudian mahasiswa Palembang yang tegas emosi dan terjadilah konflik. Dari observasi terlihat mahasiswa Makassar mengatasi hal itu dengan cara berkomunikasi secara pelan-pelan untuk menenangkan emosi. Dan mahasiswa Palembang tersebut akhirnya mentolelir sikap mahasiswa Makassar.
Dalam aktivitas bekerja sama dengan peneliti dalam membuat film pendek, banyak hal yang dilakukan mahasiswa untuk mengatasi hambatan komunikasi.
Mahasiswa Makassar dan Palembang berkoordinasi dengan bahasa Indonesia dan meminimalisir menggunakan bahasa daerah. Dengan cara itu mereka dapat berkoordinasi agar tugas setiap jabatan berjalan lancar.
Para mahasiswa tersebut mengatasi hambatan-hambatan tersebut dengan beradaptasi dengan perbedaan budaya serta berusaha mentolelir sikap mahasiswa
dari budaya yang berbeda. Peneliti menanyakan kepada mahasiswa etnis Makassar cara mereka mengatasi hambatan tersebut. Menurut Agusmin Hariansah, ia telah mencoba saling memahami satu sama lain untuk menerima perbedaan budaya tersebut.
“Jadi kita harus.. pokoknya kita harus menanamkan rasa ee.. mengerti tidak boleh keterlaluan kita harus saling memahami satu sama lain agar tidak terjadi kesalahpahaman.”
Selanjutnya Agusmin Hariansah menjelaskan sikap mentolelir terhadap mahasiswa etnis Palembang.
“Yaa tergantung juga, jadi dia bagaimana dalam cara bercandanya, apakah dia ee.. tidak berlebihan yaa pokoknya masih dalam batas normal, jadi masih bisalah di tolelir.”
Selain itu, Muhammad AlFatam Werdi Pabean sebagai mahasiswa etnis Makassar juga menjelaskan cara ia mengatasi hambatan tersebut.
“Ya kaya itu tadi, dibawa santai terus kalo bisa sering-sering diajak main bareng.”
Kemudian Muhammad AlFatam Werdi Pabean menambahkan sikap ia mentolelir untuk mengatasi hambatan komunikasi.
“Ya mungkin itu menurut dia sih bercanda ya, tapi kalo menurut kita sudah kasar gitu, tapi ya kita hargailahbagaimana cara mereka untuk bercanda dengan orang lain. Ya bisa ditolelir sih.”
Begitu juga dengan Misbahudin yang simple dalam mengatasi hambatan komunikasi tersebut.
“Ya ikuti saja.”
Berbeda dengan Misbahudin yang lebih simple bahwa tidak mentolelir terhadap sikap mahasiswa yang salah dalam komunikasi.
“Engga”
Selanjutnya peneliti menanyakan kepada mahasiswa etnis Palembang bagaimana cara mereka mengatasi hambatan-hambatan dalam komunikasi antarbudaya. Menurut Eko Syarifudin mengatasi hambatan tersebut dengan cara beradaptasi menghadapi perbedaan budaya dan mentolelir sikap mahasiswa yang salah ketika berkomunikasi.
“Ya begitu, seperti saya bilang sebelumnya ya bergaul dengan mereka, bercanda dengan mereka, bekerja dengan mereka.”
Eko Syarifudin menambahkan dengan singkat bahwa ia mentolelir kepada mahasiswa etnis Makassar.
“Mentolelir.”
Kemudian Lukman Saleh mahasiswa etnis Palembang yang menjelaskan mengatasai hambatan dengan membuka diri.
“Saya pribadi saling membuka diri, saling membuka diri lah intinya dengan sesama.”
Selain itu Lukman Saleh juga menjelaskan sikap tolelirnya dalam mengatasi hambatan komunikasi.
“Kalo saya sendiri sih mentoleri, karena perbedaan itu ibarat keindahan harus kita satu.”
Kemudian Rezfiko Agdialta menjelaskan dengan cara beradaptasi untuk mengatasi hambatan tersebut.
“kalo untuk beradaptasi, saya berusaha untuk memahami orang tersebut, memahami karakteristik orang tersebut dan e.. memahami kebudayaannya apakah itu bagaimana dia berbicara, bagaimana dia berperilaku gitu, mereka kan berbeda-beda kan.”
Berbeda dengan Rezfiko Agdialta menjelaskan mengatasi hambatan komunikasi dengan cara tidak mentolerir sikap yang salah dalam berkomunikasi dari mahasiswa etnis Makassar.
”Saya rasa, e.. saya tidak mentolelir hal tersebut, karena jika hal tersebut buruk kita harus mengingatkan, mengingatkan kalo hal tersebut buruk, walaupun mungkin didaerah dia hal tersebut baik.”
Peneliti melihat bahwa setiap mahasiswa memilih menggunakan cara yang berbeda untuk mengatasi hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya, yang terlihat adalah mereka saling beradaptasi dengan saling memahami satu sama lain, saling membuka diri, dan tetap menjaga hubungan baik secara dekat. Selain dengan beradaptasi, mereka juga memiliki sikap mentolelir dan tidak mentolelir terhadap kesalahan sikap mahasiswa yang berbeda budaya dalam berkomunikasi.
Hal tersebut menambah penjelasan bahwa mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang menggunakan cara yang berbeda-beda dalam mengatasi hambatan komunikasi antarbudaya
Jika dilihat langkah yang ditempuh oleh mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang tersebut cukup baik, sebagai langkah awal mengakrabkan hubungan diantara mereka.
Peneliti kemudian mewawancarai Bapak Drs. Riswandi M.Si, dosen komunikasi dari Universitas Mercu Buana. Peneliti menanyakan secara teoritis
bagaimana cara mengatasi hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya, sehingga semakin jelas apa cara yang efektif untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
“Bagaimana mengatasi hambatan-hambatan tadi ya e.. harus diubah mindsetnya diubah pola pikirnya atau persepsinya sehingga ada terjadi e..
pemahaman yang luas terhadap kebudayaan tadi secara universal, artinya orang- orang jangan menganggap bahwa kebudayaan menjadi sentral atau menjadi tolak ukur ketika menilai kebudayaan orang lain harus ada pemahaman yang luas, pemahaman yang koherensif bahwa manusia itu pada kalanya berbeda, oleh karena itu jangan pernah menjudge atau menilai orang lain dari sudut pandang kita sendiri saya kira itu intinya.”
Berdasarkan informasi dari Bapak Drs. Riswandi M.Si jelas bahwa cara mengatasi hambatan-hambatan komunikasi antarbudaya harus memiliki pola pikir yang baik, sehingga setiap individu mengetahui bahwa perbedaan budaya bukan lah tolak ukur untuk menilai individu yang lain. Dan dalam mengatasi hambatan tersebut juga harus mempunyai pemahaman yang luas tentang kebudayaan orang lain. Sehingga kita juga dapat menerima perbedaan budaya tersebut.
4.3 Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang di Akademi Meteorologi Geofisika (AMG) Tangerang dimulai dari pendapat para informan mengenai komunikasi antarbudaya, aktivitas komunikasi, hambatan-hambatan komunikasi akibat perbedaan budaya dan bahasa serta tindakan mengatasi hambatan dari komunikasi antarbudaya.
Definisi komunikasi antarbudaya menurut Samovar dan Porter, komunikasi antarbudaya terjadi diantara produsen dan penerima pesan yang latar belakang kebudayaannya berbeda. Penelitian ini mengambil contoh mahasiswa
etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang, dimana mereka memiliki budaya dan bahasa yang berbeda. Definisi yang disampaikan oleh para ahli sesuai dengan penelitian yang dilakukan yakni, komunikasi yang dilakukan oleh etnis budaya atau memiliki latar kebudayaan yang berbeda.
Berdasarkan data hasil penelitian yang peneliti lakukan pola komunikasi yang terjadi antara mahasiswa etnis Makassar dan mahasiswa etnis Palembang sebenarnya saling terbuka namun tidak efektif. Cara berkomunikasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mengalami ketidak efektifan saat berkomunikasi menggunakan bahasa yang berbeda. Faktor yang menjadi hambatan komunikasi adalah banyak yang melakukan komunikasi dengan bahasa daerah mereka padahal lawan bicara belum bisa memahami bahasa daerah tersebut. Mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang berbeda suku, budaya dan adat istiadat namun mereka saling terbuka dengan segala bentuk percakapan. Mereka tetap memandang positif cara berkomunikasi dengan bahasa daerah masing-masing.
Hambatan selain pemahaman bahasa juga adalah kesalahpahaman yang terjadi saat komunikasi. Kesalahpahaman ini mempengaruhi sikap mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang. Dari kesalahpahaman mahasiswa akan mempunyai kesalahan dalam bersikap karena perbedaan pengertian terhadap pesan yang diterima.
Seperti yang diketahui meskipun dalam ruang lingkup satu kesatuan dan juga berasal dari negara yang sama yaitu Indonesia tidak berarti setiap masyarakat memiliki gaya bahasa, budaya, maupun adat istiadat yang sama.
Dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut Mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang juga telah berusaha mengembangkan kemampuan komunikasinya dengan memahami karakteristik setiap individu yang diajak berkomunikasi dan juga memahami bahasa lawan bicara yang berbeda budaya.
Dan mereka juga terus beradaptasi agar komunikasi mereka saling memahami dan meminimalkan kesalahpahaman. Mahasiswa juga berbeda-beda dalam mentolelir sikap yang salah dari mahasiswa lain dalam berkomunikasi, ada beberapa mahasiswa yang mentolelir kesalahan tersebut karena kesalahpahaman. Tetapi ada juga yang tidak mentolelir sikap yang salah dari mahasiswa lain.
Ditambah lagi peran dosen didalam kuliah dalam menyatukan mahasiswa berbeda budaya agar dapat terjalin komunikasi yang baik. Dengan melakukan cara komunikasi memperkenalkan kelebihan dari masing-masing budaya, hal itu dapat membuat mahasiswa mempunyai ketertarikan untuk memahami budaya lain. Dan untuk mengatasi hambatan tersebut dengan cara memposisikan diri sebagai mahasiswa. Sehingga terciptanya keakraban antara dosen dengan mahasiswa.
Sehingga mampu mengarahkan dengan mudah mahasiswa untuk berkomunikasi dengan baik.
Memahami komunikasi antarbudaya pada akhirnya dibutuhkan agar kegiatan mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang dapat berjalan dengan baik dan kesalahpahaman akan perbedaan budaya tidak menjadi kendala dalam aktivitas sehari-hari selama mahasiswa dapat mengatasi hambatan-hambatan dalam komunikasi. Sehingga komunikasi mahasiswa etnis Makassar dan etnis Palembang akan mengalami perkembangan yang lebih baik lagi.