• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERIAN SUSU SUPLEMEN TINGGI PROTEIN WHEY (L-men Platinum) MENINGKATKAN KADAR ESTROGEN DAN TESTOSTERON PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN DENGAN AKTIVITAS FISIK SEDANG.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMBERIAN SUSU SUPLEMEN TINGGI PROTEIN WHEY (L-men Platinum) MENINGKATKAN KADAR ESTROGEN DAN TESTOSTERON PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN DENGAN AKTIVITAS FISIK SEDANG."

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

i

TESIS

PEMBERIAN SUSU SUPLEMEN TINGGI PROTEIN

WHEY

(

L-men Platinum

) MENINGKATKAN KADAR

ESTROGEN DAN TESTOSTERON PADA TIKUS

PUTIH (

Rattus norvegicus

) JANTAN DENGAN

AKTIVITAS FISIK SEDANG

NI GUSTI AYU NYOMAN SRI ARYANI NIM: 1490761023

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(2)

PEMBERIAN SUSU SUPLEMEN TINGGI PROTEIN

WHEY

(

L-men Platinum

) MENINGKATKAN KADAR

ESTROGEN DAN TESTOSTERON PADA TIKUS PUTIH

(

Rattus norvegicus

) JANTAN DENGAN AKTIVITAS FISIK

SEDANG

Tesis Untuk Memperoleh Gelar Magister

Pada Program Magister, Program Studi Ilmu Biomedik,

Program pascasarjana Universitas Udayana

NI GUSTI AYU NYOMAN SRI ARYANI NIM : 1490761023

PROGRAM MAGISTER

PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK

PROGRAM PASCASARJANA

(3)

iii

Lembar Persetujuan

TESIS INI TELAH DISETUJUI PADA TANGGAL

15 Juli 2016

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. dr. Wimpie I. Pangkahila, Sp.And, FAACS Prof. Dr. dr. I. G. M. Aman, Sp FK

NIP. 194612131971071001 NIP.194606191976021001

Mengetahui

Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Direktur

Program Pascasarjana Program Pascasarjana Universitas Udayana Universitas Udayana

(4)

Tesis Ini Telah Diuji pada

Tanggal 15 Juli 2016

Panitia penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor

Universitas Udayana, No.

Ketua : Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And. FAACS

Anggota :

1. Prof. Dr. dr. I. G. M. Aman, Sp FK

2. Prof. Dr. dr. Alex Pangkahila, Sp

3. Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc, Sp.GK

(5)

v

Puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, karena

hanya atas karunia-Nya tesis yang berjudul “ Pemberian Susu Suplemen Tinggi

Protein Whey (L-men Platinum) Meningkatkan Kadar Estrogen Dan Testosteron Pada

Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Dengan Aktivitas Fisik Sedang” dapat

diselesaikan tepat pada waktunya dalam rangka menyelesaikan pendidikan di

program pascasarjana pada Program Studi Ilmu Kedokteran Biomedik Universitas

Udayana.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. I Ketut Suastika Sp PD-KEMD dan

Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. A.A Raka Sudewi,

SpS (K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti program

magister ini.

Perkenankanlah penulis menyampaikan rasa hormat, penghargaan dan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc,

Sp.GK selaku Ketua Program Studi Ilmu kedokteran Biomedik Universitas Udayana

sekaligus sebagai penguji dan Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS

sebagai Koordinator Anti-Aging Medicine Program Studi S2 Ilmu Kedokteran

Biomedik Universitas Udayana dan juga sebagai pembimbing I yang telah banyak

memberikan dorongan, semangat, bimbingan dan masukan kepada penulis selama

(6)

Penulis juga menyampaikan rasa hormat, penghargaan dan terimakasih yang

sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. dr. IGM Aman, Sp.FK, selaku pembimbing II,

Prof. Dr. dr. Alex Pangkahila, MSc, SpAnd. selaku penguji, Dr. dr. Ida Sri iswari,

Sp.MK, M. Kes selaku penguji, yang telah banyak memberikan bimbingan dan

masukan kepada penulis selama penyusunan tesis ini.

Penulis juga menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada Drs. I

Ketut Tunas, M.Si yang dengan sabar memberikan bimbingan, pengarahan dan

petunjuk dalam analisis statistik, Kepala Bagian Farmakologi FK UNUD dan Bapak I

Gede Wiranatha, S.Si dari Laboratory Animal Unit FK UNUD, para dosen pengajar

bagian Ilmu Biomedik FK Universitas Udayana, teman-teman sependidikan angkatan

IX AAM dan seluruh karyawan / staf bagian Ilmu Biomedik, serta semua pihak yang

telah membantu selama pendidikan, penelitian dan penulisan tesis yang tidak dapat

penulis sebutkan satu persatu, penulis ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya.

Terimakasih yang sebesar-besarnya juga penulis sampaikan kepada bapak tercinta

I Gusti Nengah Sukadana (alm), ibu tercinta Gusti Ayu Made Sukarti, kakak tercinta

dr. I Gusti Putu Suka Aryana, SpPD – Kger, FINASIM, I Gusti Made Suka Arnata

untuk segala dukungan, bantuan dan doanya.

Penulis juga menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya untuk suami

tercinta, dr. Putu Anda Tusta Adiputra, SpB (K) Onk, putra – putri tercinta Putu

(7)

vii

Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk bapak mertua tercinta, Prof. Dr. dr. I

Nyoman Adiputra, MOH, saudari ipar tercinta, Dr. Luh Made Indah Sri Handari

Adiputra S.psi, M.Erg, Nyoman Arih Atmawin Adiputra, Putu Hema Maharani atas

dukungan, bimbingan dan doanya.

Terimakasih sebesar-besarnya untuk sahabat-sahabat tercinta, dr. Ni Nyoman

Susiyati, dr. Widya Christine Manus, dr. Iftitah Yuniar serta sahabat-sahabat lainnya

yang selalu mendukung, menolong, memberikan semangat kepada penulis sehingga

penelitian ini bisa berjalan dengan lancar.

Penulis juga sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah ikut

membantu dalam pelaksanaan dan penyelesaian tesis ini, semoga Tuhan Yang Maha

Esa senatiasa melimpahkan berkat dan rahmat-Nya kepada mereka semua.

Denpasar, Juli 2016

Penulis

(8)

ABSTRAK

PEMBERIAN SUSU SUPLEMEN TINGGI PROTEIN WHEY

(L-MEN PLATINUM) DAPAT MENINGKATKAN KADAR ESTROGEN DAN TESTOSTERON PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

JANTAN DENGAN AKTIVITAS FISIK SEDANG

Susu suplemen tinggi protein whey dikonsumsi pria muda untuk membentuk otot dan menghilangkan lemak secara lebih cepat. Peningkatan ini bisa didapat melalui konsumsi susu suplemen tinggi protein whey dan dilakukannya aktivitas fisik. Analisis menunjukkan bahwa L-Men Platinum mengandung phytoestrogen dan estradiol. Tujuan dari penelitian ini adalah membuktikan bahwa pemberian susu suplemen tinggi protein whey (L-men Platinum) dapat meningkatkan kadar estrogen dan testosteron pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dengan aktivitas fisik sedang.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni dengan randomized pretest-posttest control group design menggunakan 14 ekor tikus putih jantan. Sampel kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol (P0) yang diberi aquadest + aktivitas fisik sedang, dan kelompok perlakuan (P1) yang diberi susu suplemen tinggi protein whey (L-men Platinum) + aktivitas fisik sedang. Susu suplemen tinggi protein whey diberikan dua kali sehari setiap hari dan aktivitas fisik sedang diberikan 3 kali dalam seminggu. Perlakuan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan diberikan selama 8 minggu. Darah diambil dari medial canthus sinus obitalis tikus sebelum dan sesudah perlakuan untuk pemeriksaan kadar estrogen dan testosteron. Analisis data meliputi analisis deskriptif, uji normalitas data, homogenitas data, uji komparasi dan analisis efek perlakuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok P0 terjadi peningkatan kadar estrogen dari 0,069±0,021 ng/ml menjadi 0,140±0,013 ng/ml dan juga peningkatan kadar testosteron dari 2,907±0,179 ng/ml menjadi 3,413±0,3849 ng/ml setelah 8 minggu perlakuan (p<0,01). Hal yang sama dapat diamati pada pada kelompok P1 dengan kadar estrogen dari 0,078±0,027 menjadi 0,388±0,066 ng/ml dan kadar testosteron yang meningkat dari 3,030±0,112 ng/ml menjadi 4,287±0,633 ng/ml (p<0,01). Analisis komparasi pada kelompok P0 dan P1 setelah 8 minggu perlakuan menunjukkan kadar estrogen berbeda secara signifikan dengan nilai p=0,000 (p<0,01) dan kadar testosteron juga berbeda secara signifikan dengan nilai p=0,009 (p<0,01).

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian aktivitas fisik sedang saja dapat meningkatkan kadar testosteron dan estrogen. Pemberian aktivitas fisik sedang dan susu suplemen tinggi protein whey dapat meningkatkan kadar testosteron dan estrogen lebih besar dibanding kelompok kontrol.

(9)

ix

Kata kunci: susu suplemen, whey protein, testosteron, estrogen, aktivitas fisik sedang

ABSTRACT

ADMINISTRATION OF HIGH WHEY PROTEIN SUPPLEMENTS (L-MEN PLATINUM) INCREASED ESTROGEN AND TESTOSTERONE LEVELS IN

MALE ALBINO RATS (Rattus norvegicus) WITH MODERATE PHYSICAL ACTIVITY

High whey protein supplements are consumed by young men who want to build muscle and lose fat more quickly. This improvement can be obtained through the consumption of high whey protein supplements and physical activity. The analysis showed that the dairy products L-Men Platinum contains phytoestrogens and estradiol. The purpose of this study was to prove the giving of high whey protein supplements (L-Men Platinum) can increase the levels of estrogen and testosterone in male albino rats (Rattus norvegicus) with moderate physical activity.

The research design used was a purely experimental with pretest-posttest randomized control group design using 14 white male rats. The samples were then divided into two groups: the control group (P0) were given aquadest and moderate physical activity, and treatment group (P1) were given high whey protein supplements (L-Men Platinum) and treated with moderate physical activity. High whey protein supplements given twice daily and moderate physical activity given three times a week. The treatment was done for 8 weeks for control group (P0) and treatment group (P1). Blood was collected from the medial canthus sinus obitalisis before and after treatment. Data analysis included descriptive analysis, normality test, homogenity test, comparison test and analysis of treatment effects.

The results showed that the group P0 experienced an increase in estrogen levels from 0.069±0.021 ng/ml to 0.140±0.013 ng/ml and testosterone levels from 2.907±0.179 ng/ml to 3.413±0.3849 ng/ml after 8 weeks of treatment (p<0.01). The same results can be observed in the group P1 with estrogen levels from 0.078±0.027 ng/ml to 0.388±0.066 ng/ml and testosterone levels increased from 3.030±0.112 ng/ml to 4.287±0.633 ng/ml (p<0.01). Comparison analysis on a group of P0 and P1 after 8 weeks of treatment showed significantly different levels of estrogen with a value of p = 0.000 (p < 0.01) and testosterone levels also differ significantly with p value = 0,009 (p < 0.01).

(10)

Keywords: milk supplements, whey protein, testosterone, estrogen, moderate physical activity

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ……… i

PRASYARAT GELAR ………. ii

LEMBAR PERSETUJUAN .………. iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ……….. iv

UCAPAN TERIMAKASIH ……….. v

ABSTRAK ………. vi

ABSTRACT ……….. vii

DAFTAR ISI ……….. viii

DAFTAR TABEL …. ………. xv

DAFTAR GAMBAR ……….. xvi

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ………. xvii

DAFTAR LAMPIRAN ……….. xx

BAB I PENDAHULUAN ……….. 1

I.1 Latar belakang ……….. 1

I.2 Rumusan Masalah ……… 8

I.3 Tujuan Penelitian ………. 8

I.4 Manfaat Penelitian ……… 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……… 10

2.1 Penuaan ………. 10

2.1.1 Konsep Anti-Aging Medicine ……… 11

(11)

xi

2.1.3 Teori Penyebab Penuaan ……… 12

2.1.4 Tanda dan Gejala Penuaan ………. 14

2.1.5 Peranan Hormon dalam Proses Penuaan …………. 14

2.2 Hormon Seks Steroid pada Pria ……..……… 17

2.2.1 Testosteron ………... ……….. 19

2.2.2 Estrogen ……….. 22

2.2.3 Mekanisme kontrol Hormon Seks Steroid Pada Pria ……… 24

2.2.4 Pengukuran Hormon Seks Steroid pada Pria ……… 27

2.2.5 Fungsi Hormon Seks Steroid pada Pria …………... 28

2.2.6 Penggunaan Hormon Seks Steroid untuk Pembesaran Otot pada Pria ………... 31

2.3 Aktivitas Fisik Sedang ………. 33

2.4 Protein Whey……… 38

2.4.1 Komponen Biologis Protein Whey……… 41

2.4.2 Mekanisme Kerja Protein Whey……… 42

2.4.3 Protein Whey dan IGF-1 ……...……….. 43

2.4.4 Indikasi Klinis Protein Whey ……….. 45

2.4.5 Susu Suplemen Tinggi Protein Whey (L-men Platinum) ..……….. 50

2.4.5.1 Kandungan Nutrisi Susu Suplemen Tinggi Protein Whey (L-men Platinum) ……… 51

2.4.5.2 Hasil Analisis Susu Suplemen Tinggi Protein Whey (L-men Platinum) ………. 52

2.5 Hewan Coba ……….. 52

(12)

PENELITIAN ……… 56

3.1 Kerangka Berpikir ………. 56

3.2 Konsep Penelitian ………. 59

3.3 Hipotesis Penelitian ……….. 60

BAB IV METODE PENELITIAN ………. 61

4.1 Rancangan Penelitian ……… 61

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ……… 63

4.2.1 Lokasi Penelitian ……… 63

4.2.2 Waktu Penelitian ……… 63

4.3 Penentuan Sumber Data ……… 64

4.3.1 Populasi Penelitian ………. 64

4.3.2 Kriteria Subjek ……… 64

4.3.2.1 Kriteria Inklusi ……… 64

4.3.2.2 Kriteria Eksklusi ………. 64

4.4 Penentuan Besar Sampel dan Cara pengambilan Sampel ……. 65

4.4.1 Penentuan Besar Sampel ……… 65

4.4.2 Tehnik Pengambilan Sampel ………. 66

4.5 Variabel Penelitian ……… 66

4.5.1 Klasifikasi Variabel ……… 66

4.5.2 Definisi Operasional variabel ………. 66

4.6 Bahan dan Instrumen Penelitian ……… 68

4.6.1 Bahan ………... 68

4.6.2 Instrumen ………. 68

4.6.3 Hewan Percobaan ……… 69

4.7 Prosedur Penelitian ……… 70

(13)

xiii

4.7.2 Pelaksanaan Penelitian… .………... 71

4.7.3 Cara Pembuatan Susu Suplemen Tinggi Protein Whey (L-men Platinum) ………. 73

4.7.4 Cara Pemberian Aktivitas Fisik Berlebih ……… 73

4.7.5 Prosedur Pengambilan Darah dan Pemeriksaan Kadar Hormon Estrogen dan Testosteron …………... 73

4.8 Alur Penelitian ………. 75

4.9 Analisis Data ………. 76

BAB V HASIL PENELITIAN ……… 77

5.1 Analisis Deskriptif ………. 77

5.2 Uji Normalitas Data ……… 78

5.3 Uji Homogenitas Data Antar Kelompok ………. 78

5.4 Uji Komparatibilitas ……….. 79

5.4.1 Analisis Komparatibilitas Antar Kelompok Sebelum Perlakuan ……….. 79

5.4.2 Analisis Komparatiblitas Antar Kelompok Sesudah Perlakuan 8 minggu ………. 80

5.5 Analisis Efek Perlakuan ……… 82

5.6 Analisis Rerata Perbedaan Kadar Estrogen dan Testosteron Sebelum dan Sesudah perlakuan ……….. 85

BAB VI PEMBAHASAN ……….. 87

6.1 Susu Suplemen Tinggi Protein Whey (L-men Platinum) dan Aktivitas Fisik Sedang meningkatkan Hormon Estrogen …… 87

(14)

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ……… 97

7.1 Simpulan ……… 97

7.2 Saran ………. 97

DAFTAR PUSTAKA ……….. 98

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Hormon, Organ Target dan Efek Fisiologisnya ………. 15

Tabel 2.2 Kelenjar/Organ yang Menghasilkan Hormon dan Fungsinya … 15

Tabel 2.3 Harga Normal Hormon Testosteron pada Pria ……….. 20

Tabel 2.4 Kadar Hormon Normal pada Pria Dewasa ………. 28

Tabel 2.5 Types of Commercially Available Whey Protein……….. 40

Tabel 2.6 Komponen Protein Whey……… 41

Tabel 2.7 Kandungan Nutrisi L-men Platinum (per100gram) ………….. 51

Tabel 2.8 Data Biologis Tikus Wistar ……… 54

Tabel 2.9 Kadar Hormon Estrogen dan Testosteron Normal pada Tikus Jantan ……… 54

Tabel 5.1 Hasil Analisis Deskriptif Data Kadar Estrogen ………. 77

Tabel 5.2 Hasil Analisis Deskriptif Data Kadar Testosteron ………. 77

Tabel 5.3 Hasil Uji Normalitas Data Kadar Estrogen Antar Kelompok … 78

Tabel 5.4 Hasil Uji Normalitas Data Kadar Testosteron Antar Kelompok . 78

Tabel 5.5 Hasil Uji Homogenitas Data Kadar Estrogen Antar Kelompok .. 79

Tabel 5.6 Hasil Uji Homogenitas Data Kadar Testosteron Antar Kelompok 79 Tabel 5.7 Perbandingan Rerata Kadar Testosteron dan Estrogen Antar Kelompok Sebelum Diberikan Perlakuan ……….. 80

Tabel 5.8 Perbandingan Rerata Kadar Testosteron dan Estrogen Antar Kelompok Sesudah Diberikan Perlakuan ……….. 81

(16)

Tabel 5.10 Komparasi Selisih Kadar Estrogen dan Testosteron

Posttest ………. 85

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Biosynthesis Hormon Seks Steroid ……… 19

Gambar 2.2 Aksis Hipotalamus-HIpofise-Testis ………... 25

Gambar 2.3 Sintesis Glutathione dari Cystein, Glutamat dan Glycine….. 43

Gambar 2.4 Jalur Molekuler Pengaruh Susu Tinggi Protein Whey - Kadar IGF-1 ……… 44

Gambar 2.5 L-men Platinum ……….. 51

Gambar 2.6 Tikus Putih (Rattus Norvegicus) ……… 53

Gambar 3.1 Konsep Penelitian ………... 59

Gambar 4.1 Skema Rancangan Penelitian ………. 61

Gambar 4.2 Bagan alur Penelitian ………. 75

Gambar 5.1 Kadar Estrogen Sebelum dan Sesudah Perlakuan .dan Antar Kelompok Sesudah Perlakua……….. 83

Gambar 5.2 Kadar testosteron Sebelum dan Sesudah Perlakuan dan Antar Kelompok Sesudah Perlakuan .……….. 84

Gambar 5.3 Rerata Perbedaan Kadar Estrogen Pretest-Posttest Antar Kelompok Perlakuan ……….. 86

(17)

xvii

DAFTAR SINGKATAN

AAM : Anti-Aging Medicine

AAS : Anabolic Androgenic Steroid

ABP : Androgen Binding Protein

ACTH : Adrenocorticotropic Hormone

ADH : Antidiuretic Hormone

ADP : Adenosine Diphosphate

Akt : Aktivasi kinase tirosin

ALPCO : American Laboratory Product ALPCO diagnostic

ANH : Atrial Natriuretic Hormone

ATP : Adenosine Triphosphate

BCAA : Branched Chain Amino Acid

BCAAs : Branched Chain Amino Acids

DES : Diethylstillbestrol

DHEA : Dehydroepiandrostenedione

DHEAS : Dehydroepiandrostenedione

DHT : Dihydrotestosterone

DNA : Deoxyribo Nucleic Acid

ELISA : Enzym-linked Immunosobent Assay

ERα : Estrogen Receptor Alfa ERβ : Estrogen Receptor Beta FDA : Food and Drug Administration

FITT : Frequency Intensity Type Time

(18)

FSH : Follicle Stimulating Hormone

GC : Gas Chromatography

GH : Growth Hormone

GHR : Growth Hormone Receptor

GnRH : Gonadotropin Releasing Hormone

GSH : Glutathione

GSK-3β : Glycogen Synthase Kinase

HIV : Human Imunodeficiency Virus

HPG : Hypothalamus Pituitary Gonad

3β - HSD : 3 beta – hydroxysteroid dehydrogenase

17β – HSD : 17 beta- hydroxysteroid dehydrogenase

Ig A : Imunoglobulin A

Ig G : Imunoglobulin G

IGF-1 : Insulin-Like Growth Factor 1

IPAQ : International Physical Activity Questionnaire

LC : Liquid Chromatography

LH : Lutheinizing Hormone

LHRH : Lutheinizing Hormone Releasing Hormone

METs : Metabolic Equivalent Task

m.TOR : Mammalian target of Rapamycin

P : Phosphors

PTH : Parathyroid Hormone

SD : Spraque Dawley

SHBG : Sex Hormone Binding Globulin

T3 : Triiodotyronine

T4 : Tiroksin

(19)

xix WPI : Whey Protein Isolate

WHO : World Health Organization

O

C : derajat celsius

cm2 : centimeter persegi

kgBB : kilogram berat badan

nmol/mg : nanomol per miligram

mg/100g : milligram per seratus gram

pg/ml : picogram per mililiter

ng/ml : nanogram per mililiter

ng/dL : nanogram per desiliter

nmol/L : nanomol per liter

ml : mililiter

mg : miligram

nm : nanometer

gr : gram

> : lebih besar dari

< : lebih kecil dari

± : lebih kurang

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Ethical Clearance………... 96

Lampiran 2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Kandungan Hormon pada susu L-men Platinum ………. 97

Lampiran 3 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Kadar Hormon Estrogen Dan Testosteron Sebelum dan Sesudah Perlakuan ………….. 98

Lampiran 4 Analisis Statistik ……….. 99

Lampiran 5 Dokumentasi Penelitian ………... 104

Lampiran 6 Hasil penelitian Pendahuluan ……….. 106

(21)

85

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu tahapan yang harus dilalui oleh setiap manusia adalah proses

penuaan. Proses penuaan mempengaruhi sistem hormon, tetapi gangguan hormon

(peningkatan atau penurunan hormon) yang bukan karena proses penuaan, dapat

menimbulkan gejala dan tanda yang sama dengan yang terjadi karena proses

penuaan.

Gangguan hormon merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi

terjadinya penuaan. Berbagai hormon saling berkaitan, bertambah atau

berkurangnya produksi hormon tertentu dapat mempengaruhi produksi hormon

lainnya. Pada usia muda, berbagai hormon bekerja dengan baik mengendalikan

berbagai fungsi organ tubuh, tetapi pada saat mengalami penuaan baik karena

bertambahnya usia ataupun karena mengalami gejala dan tanda penuaan, tubuh

mengalami penurunan level hormon. Akibatnya terjadi gangguan pada berbagai

fungsi tubuh (Pangkahila, 2011).

Seperti kita ketahui, pria usia muda sangat memperhatikan penampilan dan

menginginkan tubuh berotot tanpa lemak dengan cara yang cepat. Banyak cara

dilakukan dan hal ini dapat berpengaruh terhadap kondisi hormonal terutama

testosteron dan estrogen. Pria muda biasanya melakukan aktivitas / latihan fisik,

(22)

2

preparat anabolic androgenic steroid (AAS) yang bisa didapatkan di tempat -

tempat kebugaran (fitness) terutama oleh para bodybuilder dan atlit (Cribb, 2006).

Hormon estrogen terutama ditemukan dalam tubuh wanita, tapi memainkan

peran penting dalam tubuh pria juga, selain hormon testosteron. Estrogen pada

pria diproduksi dalam jumlah yang lebih kecil dan berperan dalam produksi libido

dan sperma. Perubahan hormonal seperti peningkatan kadar estrogen terutama

pada pria muda dapat menyebabkan terjadinya perubahan rasio androgen :

estrogen plasma yang mengakibatkan timbulnya gejala feminisasi (ginekomastia)

(Kumar, 2013).

Peningkatan hormon estrogen dapat disebabkan oleh mengkonsumsi suatu

produk yang mengandung estrogen, seperti penelitian yang dilakukan oleh Margo

(2015) pada susu Morinaga BMT soya yang mengandung phytoestrogen 12,09

mg/100gr dan menghasilkan peningkatan kadar estrogen 48,09% dibandingkan

kontrol. Bisa juga disebabkan oleh karena peningkatan testosteron yang kemudian

mengalami konversi menjadi estrogen oleh proses aromatase (Pangkahila, 2011).

Aktivitas fisik / olahraga yang dilakukan 3-4 kali seminggu dengan intensitas

sedang dapat meminimalkan produksi radikal bebas berlebihan serta

meningkatkan jumlah antioksidan endogen (Pangkahila, 2011). Penelitian

menunjukkan aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang mampu

meregulasi dan juga mempertahankan konsentrasi hormon testosteron pada tikus

dengan diabetes melitus mendekati konsentrasi pada tikus kontrol (Zulkarnain et

(23)

3

fungsi endokrin, salah satunya adalah meningkatkan kadar testosteron total (Liu et

al., 2009).

Aktivitas fisik ringan hingga sedang dapat memicu sekresi IGF-1 secara lokal

pada otot skelet yang berkontraksi, kemudian dilepaskan ke dalam sirkulasi secara

bertahap dan mempengaruhi ekspresi di jaringan target lainnya. Sel Leydig

merupakan salah satu target dari IGF-1 sehingga peningkatan IGF-1 dalam

sirkulasi selama aktivitas fisik akan memicu proliferasi serta sekresi testosteron

dalam sel Leydig (Hambrecht et al., 2005).

Penelitian Aizawa et al. (2008) pada tikus-tikus jantan yang diberi latihan

treadmill intensitas 30 m/menit selama tiga puluh menit dilaporkan mampu

meningkatkan konsentrasi testosteron dan enzim 3β-HSD/17βHSD dalam otot

skeletal. Peneliti ini berasumsi bahwa peningkatan kadar hormon tersebut dalam

otot skeletal akan ikut mempengaruhi kadar testosteron total sirkulasi namun

perubahan hormonal tersebut bervariasi setiap individu, dipengaruhi oleh jenis

aktivitas / latihan fisik, durasi, dan intensitas yang diberikan (Aizawa et al., 2008;

Liu et al., 2009).

Protein dikonsumsi untuk menjaga tubuh agar tetap sehat dan menjadi salah

satu faktor penting dalam sistem metabolisme. Protein dapat diperoleh dengan

mudah seperti pada telur ayam, daging unggas, daging sapi, ikan dan beberapa

olahan susu. Seiring dengan perkembangan teknologi, mengkonsumsi protein bisa

hanya dengan menelan pil, tablet, atau minum dari bubuk protein. Pil, tablet dan

bubuk protein biasanya dikonsumsi oleh seseorang yang sedang menjalankan

(24)

4

pilihan utama karena dinilai praktis dan memiliki fungsi yang sama dengan

konsumsi protein secara konvensional. Salah satu contoh protein instan ini disebut

dengan whey protein supplement (Cribb, 2006).

Aktivitas fisik yang dilakukan oleh para bodybuilders dan atlit sering

dikombinasi dengan mengkonsumsi protein whey untuk mendapatkan

pembentukan otot secara lebih cepat. Beberapa percoban klinis membuktikan

peningkatan dan pemulihan performa atlit didapatkan, dengan memasukkan

protein whey ke dalam diet (Cribb, 2006).

Protein whey mengandung berbagai macam asam amino esensial (histidine,

isoleucine, leucine, lysine, methionine, phenylalanine, threonine, tryptophan,

valine) maupun non esensial. Protein whey dicerna dan diabsorpsi lebih cepat

dibandingkan casein. Protein whey memiliki lebih banyak leucin sehingga

memiliki efek anabolik yang lebih besar dan leucin merupakan asam amino yang

berperan untuk menstimulasi sintesis protein otot post-pandrial (Pennings et al.,

2011).

Protein whey mengandung asam amino yang optimal untuk pertumbuhan otot,

terutama glutamine atau glutamic acid dan taurine. Protein whey juga

mengandung 26% BCAA (Branched Chain Amino Acid) untuk sintesis protein

baru. BCAA leucin ditemukan dalam konsentrasi tinggi terutama pada WPI (whey

protein isolate) yang secara langsung berperan untuk stimulasi sintesis protein.

Protein whey juga kaya akan asam amino cysteine dan methionine yang berperan

untuk meningkatkan fungsi imun melalui proses konversi intraseluler menjadi

(25)

5

Protein whey dalam beberapa penelitian telah terbukti meningkatkan kadar

IGF-1 dalam serum. Hoppe et al. (2009) menunjukkan bahwa pemberian susu

tinggi protein whey meningkatkan kadar IGF-1 hingga 15% pada 57 anak laki-laki

berusia 8 tahun. Peneliti lain juga menunjukkan bahwa pemberian susu tinggi

protein whey pada wanita tua berusia 70-80 tahun meningkatkan kadar IGF-1

serum hingga 8 % (Zhu et al., 2011). Kandungan asam amino triptofan yang

tinggi dalam protein whey dapat meningkatkan sekresi serotonin dan growth

hormone (GH) pada hipofisis sehingga ketika berikatan dengan growth hormone

receptor (GHR) pada hati merangsang diproduksinya IGF-1 (Melnik et al., 2011).

Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1) merupakan salah satu elemen kunci

yang mengatur pertumbuhan otot skeletal. Peningkatan masa otot akibat

suplementasi protein whey melalui aktivasi jalur IGF-1/Akt/mTOR,

GSK3β/FOXO. IGF-1 merupakan komponen awal yang merangsang aktivasi

kaskade protein Akt yang kemudian terlibat dalam aktivasi mammalian Target of

Rapamycin (mTOR) dan inaktivasi Glycogen Synthase Kinase 3β (GSK3β)

dengan target final adalah inaktivasi gen Forkhead box O (FOXO) yang mengatur

puluhan jalur metabolisme dalam sel terkait pertumbuhan dan proliferasi

(Schiaffino dan Mammucari, 2011).

Salah satu sel target IGF-1 adalah sel leydig. Peningkatan IGF-1

mengakibatkan peningkatan sekresi hormon testosteron oleh sel leydig

(Hambrecht et al., 2005). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Iran pada

Guilan University, mendapatkan bahwa dengan pemberian suplemen protein whey

(26)

6

kekuatan otot, berat badan dan testosteron darah bila dibandingkan dengan grup

plasebo (Arazi, 2011). Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Kalman et al.,

(2007) mendapatkan bahwa dengan pemberian protein whey, testosteron/estradiol

ratio menjadi meningkat.

Pembesaran otot dan peningkatan kekuatan otot didapatkan dari latihan,

pemberian protein yang memadai terutama protein whey dan sering juga

dikombinasikan dengan pemberian anabolik androgenik steroid (AAS) yaitu

testosteron. Testosteron merupakan hormon utama dalam pembentukan tubuh

(bodybuilding) dan latihan untuk pengaturan berat badan terutama untuk

pembentukan kekuatan dan otot. Penggunaan suplemen anabolik steroid menjadi

sangat popular pada tempat bodybuilding dan olahraga lain yang memerlukan otot

yang besar dan kuat. Suplemen steroid ini, termasuk juga natural testosteron atau

berbagai macam molekul natural atau sintetik yang bahan dasarnya testosteron

atau sebagai precursor anabolic hormone. Sebagai contoh adalah testosterone

enanthate, nandrolone, trenbolone, oxymethalone, stanozolol dan berbagai nama

yang beredar luas. Preparat ini sering ditambahkan ke dalam produk-produk susu

untuk fitness ataupun diberikan secara terpisah dan bisa dikonsumsi secara oral

atau secara injeksi 1-2 kali seminggu. Risiko berbahaya terhadap kesehatan bila

digunakan dalam jangka panjang dan dosis yang berlebihan, diantaranya adalah

perubahan yang membahayakan pada otot skeletal, efek psikologis seperti agresif

dan depresi, abnormalitas organ reporoduksi seperti infertilitas, virtualisasi dan

(27)

7

Penelitian dilakukan oleh Eid et al. (2014) untuk mengetahui efek

Nandrolone dan atau protein whey yang diberikan selama 3 bulan terhadap soleus

muscle dan testis pada albino rat jantan dewasa, dimana dalam penelitian ini juga

mengukur kadar testosteron dan didapatkan bahwa pada grup yang mendapat

Nandrolone atau Nandrolone + protein whey secara signifikan menurunkan kadar

testosteron. Sedangkan pada grup dengan pemberian whey protein saja, kadar

testosteronnya meningkat secara signifikan.

Salah satu susu suplemen tinggi protein whey yang menjadi favourite saat ini

di tempat - tempat kebugaran adalah L-men Platinum dan sering dikonsumsi

untuk dapat memberikan pembentukan otot secara lebih cepat. Protein whey

dalam susu ini tergolong Whey Protein Isolate (WPI) dimana bila dibandingkan

dengan Whey Protein Consentrate atau Whey Protein Hydrolisate, WPI

mengandung jumlah protein yang lebih banyak (90-95%) dengan jumlah lactose

yang rendah, lebih mudah dicerna dan diabsorpsi dan juga mengandung banyak

imunoglobulin dan sangat rendah lemak. Maka dari itu susu suplemen jenis WPI

ini banyak dikonsumsi untuk membantu pembentukan tubuh atletis dengan massa

otot kering tanpa lemak (Marshall, 2004).

Berdasarkan uraian di atas dilakukan analisis kandungan hormon pada susu

suplemen tinggi whey protein (L-men Platinum) di Laboratorium Analitik

Kampus Bukit Jimbaran, Universitas Udayana dan hasil analisisnya menunjukkan

bahwa produk protein whey tersebut mengandung pytoestrogen (0,092mg/100g)

(28)

8

kandungan pytoestrogen dan estradiol dalam produk protein whey tersebut dapat

menyebabkan peningkatkan kadar hormon estrogen dan testosteron.

1.2Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, dapat dibuat rumusan masalah penelitian

sebagai berikut :

1. Apakah pemberian susu suplemen tinggi protein whey (L-men Platinum)

meningkatkan kadar estrogen pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan

dengan aktivitas fisik sedang ?

2. Apakah pemberian susu suplemen tinggi protein whey (L-men Platinum)

meningkatkan kadar testosteron pada tikus putih (Rattus norvegicus)

jantan dengan aktivitas fisik sedang ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum :

Untuk mengetahui efek pemberian susu suplemen tinggi protein whey (L-men

Platinum) terhadap kadar hormonal pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan

dengan aktivitas fisik sedang.

1.3.2 Tujuan khusus :

1. Untuk membuktikan bahwa pemberian susu suplemen tinggi protein whey

(L-men Platinum) meningkatkan kadar estrogen pada tikus putih (Rattus

(29)

9

2. Untuk membuktikan bahwa pemberian susu suplemen tinggi protein whey

(L-men Platinum) meningkatkan kadar testosteron pada tikus putih (Rattus

norvegicus) jantan dengan aktivitas fisik sedang.

1.4Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Ilmiah

1. Untuk memberikan informasi ilmiah tentang pemberian susu suplemen

tinggi protein whey (L-men Platinum) dapat meningkatkan kadar

estrogen pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dengan aktivitas

fisik sedang.

2. Untuk memberikan informasi ilmiah tentang pemberian susu suplemen

tinggi protein whey (L-men Platinum) dapat meningkatkan kadar

testosteron pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dengan aktivitas

fisik sedang.

3. Sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut pada manusia (uji klinis)

sehingga dapat dijadikan konfirmasi kegunaan disamping efek

samping yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan susu suplemen

tinggi protein whey (L-men Platinum) ini.

1.4.2 Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk

dilakukannya penelitian lebih lanjut pada manusia sehingga dapat menjadi dasar

pengkajian ulang bagi masyarakat luas dengan didapatkannya bahwa pemberian

susu suplemen tinggi protein whey (L-men Platinum) dapat meningkatkan kadar

(30)

85

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penuaan

Setelah mencapai usia dewasa, seiring bertambahnya usia, secara alamiah

seluruh komponen tubuh tidak dapat berkembang lagi. Sebaliknya, justru terjadi

penurunan karena proses penuaan. Terjadinya penurunan hormon karena proses

penuaan atau yang memberikan gejala dan tanda seperti proses penuaan, terutama

penurunan hormon testosteron dapat menimbulkan gangguan fungsi seksual,

berkurangnya spermatogenesis, kelelahan, depresi, perasaan kacau, rasa panas dan

keringat malam hari, gangguan fungsi kognitif, menurunnya volume sel darah

merah, berkurangnya massa otot, peningkatan massa lemak dan sebagainya

(Pangkahila, 2011).

Banyak upaya yang dapat dilakukan, agar walaupun usia terus bertambah,

tetapi fungsi tubuh tetap dapat dipertahankan sehingga kualitas hidup tetap baik.

Pada akhirnya, usia hidup menjadi lebih panjang dalam keadaan sehat.

Perkembangan Anti-Aging Medicine (AAM) telah membawa konsep baru dalam

dunia kedokteran dimana manusia dapat hidup dengan kualitas yang prima

walaupun usia merambah naik. Bahkan proses penuaan dapat diperlambat, ditunda

atau dihambat dan usia harapan hidup dapat menjadi lebih panjang dengan

(31)

2

2.1.1 Konsep Anti-Aging Medicine

Anti-Aging Medicine (AAM) adalah bagian ilmu kedokteran yang didasarkan

pada penggunaaan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran terkini untuk

melakukan deteksi dini, pencegahan, pengobatan dan perbaikan ke keadaan

semula berbagai disfungsi, kelainan dan penyakit yang berkaitan dengan penuaan,

yang bertujuan memperpanjang hidup dalam keadaan sehat. Penuaan dapat

dianggap dan diperlakukan sama dengan penyakit, yang dapat dicegah, dihindari

dan diobati, sehinggga dapat kembali ke keadaan semula. Dengan demikian,

manusia tidak lagi harus membiarkan begitu saja dirinya menjadi tua dengan

segala keluhan, barulah mendapatkan pengobatan atau perawatan yang belum

tentu berhasil (Pangkahila, 2011).

2.1.2 Faktor Penyebab Proses Penuaan

Banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi tua melalui proses penuaan,

yang kemudian menyebabkan sakit dan akhirnya membawa pada kematian. Faktor

penyebab penuaan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor internal dan

faktor eksternal. Beberapa faktor internal ialah radikal bebas, hormon yang

berkurang, proses glikosilasi, metilasi, apoptosis, system kekebalan yang menurun

dan gen. Faktor eksternal yang utama ialah gaya hidup tidak sehat, diet tidak

sehat, kebiasaan salah, polusi lingkungan, stress dan kemiskinan. Kalau radikal

bebas dapat diatasi dengan antioksidan. Kalau gaya hidup tidak sehat

(32)

3

diatasi dengan pengobatan, maka penyebab penuaan yang penting telah

disingkirkan (Pangkahila, 2011).

Dengan melihat berbagai faktor di atas, kita dapat menentukan faktor mana

yang dapat dihindari atau diatasi agar proses penuaan dapat dicegah atau

diperlambat sehingga kualitas hidup dapat dipertahankan. Bermodalkan kesadaran

tentang pentingnya menjaga kesehatan dan menghindari berbagai faktor penyebab

proses penuaan dilengkapi dengan pengobatan, maka masyarakat mempunyai

kesempatan yang lebih besar untuk hidup lebih sehat dan berusia lebih panjang

(Pangkahila, 2011).

2.1.3 Teori Penyebab Penuaan

Umur harapan hidup manusia amat tergantung pada proses penuaan, dan

proses penuaan bukan kodrat tetapi disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:

aktivitas berlebih (Wear and Tear Theory), hormonal (Neuroendocrinology

Theory), genetic (The Genetic Control Theory) dan radikal bebas (The Free

Radical Theory) (Pangkahila, 2013). Banyak teori yang menjelaskan mengapa

manusia mengalami proses penuaan. Tetapi pada dasarnya teori tersebut dapat

dibagi menjadi dua kelompok, yaitu (Pangkahila, 2011):

1. Teori “pakai dan rusak” (wear and tear theory), meliputi kerusakan DNA,

glikosilasi, dan radikal bebas. Teori ini menyatakan tubuh menjadi lemah

lalu meninggal sebagai akibat dari penggunaan dan kerusakan yang

terus-menerus. Tetapi kerusakan ini tidak terbatas pada organ melainkan juga

(33)

4

merokok, minum alkohol dan hanya mengonsumsi makanan alami, dengan

menggunakan organ tubuh secara biasa saja, pada akhirnya terjadi

kerusakan. Penyalahgunaan organ tubuh membuat kerusakan lebih cepat.

Pada masa muda, sistem perbaikan dan pemeliharaan tubuh mampu

melakukan kompensasi terhadap pengaruh penggunaan dan kerusakan

normal dan berlebihan. Dengan menjadi tua, tubuh kehilangan

kemampuan memperbaiki kerusakan karena penyebab apapun. Teori ini

meyakini bahwa pemberian suplemen yang tepat dan pengobatan yang

tidak terlambat dapat membantu mengembalikan proses penuaan melalui

mekanisme merangsang kemampuan tubuh untuk melakukan perbaikan

dan mempertahankan organ tubuh dan sel.

2. Teori program.

Teori ini menganggap di dalam tubuh manusia terdapat jam biologik,

mulai dari proses konsepsi sampai ke kematian dalam suatu model

terprogram.

a. Teori terbatasnya replikasi sel, dengan setiap replikasi sel, telomere

memendek pada setiap pembelahan sel. Setelah sejumlah

pembelahan sel, telomere telah dipakai dan pembelahan sel

berhenti.

b. Proses imun, salah satu gambaran yang universal pada siklus hidup

ialah involusi kelenjar thymus, Kelenjar ini merupakan sumber sel

T, yang berperan penting pada system imun. Jumlah sel T tidak

(34)

5

c. Teori hormon, dimana hormon sangat berperan dalam berbagai

fungsi organ tubuh. Hormon yang dikeluarkan oleh beberapa organ

dikendalikan oleh suatu sistem poros dari

hypothalamus-hypophyse-gonad. Pada usia muda, hormon bekerja dengan baik

mengendalikan berbagai fungsi organ tubuh, tetapi pada saat tua,

tubuh hanya mampu memproduksi hormon lebih sedikit sehingga

levelnya menurun. Akibatnya berbagai fungsi tubuh menururn.

2.1.4 Tanda dan Gejala Penuaan

Proses penuaan dimulai dengan menurunnya bahkan terhentinya fungsi

berbagai organ tubuh. Akibat penurunan tersebut maka timbul berbagai tanda dan

gejala proses penuaan diantaranya (Pangkahila, 2011):

1. Tanda fisik: massa otot berkurang, lemak meningkat, kulit berkerut,

daya ingat berkurang, fungsi seksual dan reprodukdi terganggu,

kemampuan kerja menurun dan sakit tulang

2. Tanda psikis: menurunnya gairah hidup, sulit tidur, mudah cemas,

mudah tersinggung dan merasa tidak berarti lagi.

2.1.5 Peranan Hormon dalam Proses Penuaan

Kata hormon berasal dari kata Yunani “hormao” yang berarti bergairah atau

bangkit. Hormon memberikan pengaruh melalui struktur kimianya yang unik yang

dikenali oleh reseptor spesifik pada sel targetnya. Sekresinya dapat melalui

(35)

6

dalam kehidupan manusia sejak awal kehidupan manusia. Hormon diproduksi

oleh beberapa kelenjar yang ada dalam tubuh (tabel 2.1 dan tabel 2.2).

Tabel 2.1

Hormon, organ target dan efek fisiologisnya

Hormon Organ target utama Efek fisiologis utama

Hipofise

Kelenjar tiroid Merangsang sekresi hormon tiroid

Adrenocorticotropic

hormone (ACTH)

Cortex adrenalis Merangsang sekresi glucocorticoid

Prolactin Kelenjar mamma Produksi susu

Luteinizing hormone

(LH)

Ovarium dan testis Mengontrol fungsi seksual dan reproduksi

Follicle stimulating

hormone (FSH)

Ovarium dan testis Mengontrol fungsi reproduksi

Hipofise Antidiuretic hormone

(ADH)

Ginjal Konversi air

Posterior Oksitosin Ovarium dan testis Merangsang keluarnya susu dan kontraksi uterus, didapatkan saat ejakulasi, memfasilitasi transport sperma

(Sumber: Pangkahila, 2011)

Tabel 2.2

Kelenjar/Organ yang menghasilkan hormon dan fungsinya

Organ/Kelenjar Hormon Fungsi

Tiroid Tiroid Merangsang panas tubuh,

pertumbuhan tulang dan metabolism

Paratiroid Paratiroid Mengatur kadar kalsium dan

fosfat darah Medulla adrenalis Epinephrine,

norepinephrine

Memberikan pengaruh seperti rangsangan simpatis

Cortex adrenalis Cortisol, aldosterone Homeostatis glukosa, air, Na+ , K+

Pankreas Insulin Mengontrol penggunaan glukosa

Ovarium Estrogen, progesterone,

testosterone

Fungsi seksual dan reproduksi

Testis Testosterone Fungsi seksual dan reproduksi

Pineal body (epiphysis) Melatonin Mengatur pola tidur, menurunkan aktivitas motoric dan suhu tubuh

Thymus Thymus Berperan dalam system imun

(36)

7

Pada dasarnya fungsi berbagai hormon dalam tubuh dapat dikelompokkan

menjadi 4 yaitu:

1. diferensiasi seksual dan reproduksi

2. perkembangan dan pertumbuhan

3. mempertahankan lingkungan internal

4. pengaturan metabolisme dan suplai nutrisi

Sekresi hormon berkaitan dengan negative feedback control (kontrol umpan balik

negatif) melalui beberapa jalan. Hubungan umpan balik ini melibatkan poros

hipotalamus-hipofise yang mendeteksi perubahan konsentrasi hormon yang

disekresi oleh beberapa kelenjar endokrin perifer, atau satu kelenjar dapat

merasakan dan bereaksi terhadap perubahan di dalam variabel yang dikontrolnya.

Gangguan pada fungsi umpan balik tersebut mempunyai arti penting secara klinis

dan penting untuk diagnosis. Level hormon pada sirkulasi diatur oleh lima

mekanisme sebagai berikut:

1. Pelepasan hormon secara spontan atau basal

2. Hambatan umpan balik oleh hormon yang disintesis atau dilepas

3. Rangsangan atau hambatan pelepasan hormon oleh bahan yang diatur atau

tidak diatur oleh hormon yang sama

4. Pengaturan oleh circadian rhytms (ritme sirkadian) untuk pelepasan

hormon oleh system tertentu seperti otak

5. Rangsangan atau hambatan pelepasan hormon melalui otak sebagai reaksi

terhadap kecemasan, antisipasi aktivitas tertentu atau masukan sensoris

(37)

8

Penurunan level hormon seiring bertambahnya usia menimbulkan berbagai tanda

dan keluhan. Hormon yang levelnya menurun ialah testosteron, estrogen, growth

hormone, IGF-1, Renin, aldosterone, triiodothyronine (T3), DHEA, DHEAS.

Sebaliknya hormon yang levelnya meningkat dengan bertambahnya usia adalah

FSH, LH, Vasopressin, Insulin, Parathyroid hormone (PTH), Atrial natriuretic

hormone (ANH), dan Leptin. Beberapa faktor yang berakibat buruk bagi fungsi

hormon adalah kurang berolahraga, kurang tidur, nutrisi tidak cukup atau tidak

sehat, efek samping obat tertentu dan keracunan karena lingkungan yang tidak

sehat, termasuk yang melalui makanan dan udara. Hal ini menunjukkan bahwa

gaya hidup berpengaruh besar terhadap fungsi hormon. Gaya hidup yang sehat

meningkatkan fungsi hormon, sebaliknya gaya yang tidak sehat menghambat

fungsi hormon terhadap berbagai organ tubuh (Pangkahila, 2011).

Pada saat orang melakukan aktivitas yang melampaui kapasitas kerja

(overtraining / overworking) maka saat itu mulai terjadi radikal bebas dan terjadi

penurunan beberapa kadar hormon sehingga keadaan inilah yang mempercepat

proses penuaan (Pangkahila, 2013; Pangkahila dan Milas, 2015).

2.2 Hormon Seks Steroid pada Pria

Sintesis hormon seks steroid diproduksi secara primer oleh gonad dan

dilakukan oleh dua macam gonadotropic hormone yang dihasilkan oleh

adenohipofisis. Hipothalamus mengeluarkan GnRH dengan proses sekresinya

setiap 90-120 menit melalui aliran portal hipothalamohipofisial. Setelah sampai di

(38)

9

pengeluaran FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Lutheinizing

Hormone). Waktu paruh LH kurang lebih 30 menit sedangkan FSH sekitar 3 jam.

FSH dan LH berikatan dengan reseptor yang terdapat pada ovarium dan testis,

serta mempengaruhi fungsi gonad yang berperan dalam produksi hormon seks

steroid dan gametogenesis (Rahmanisa, 2014).

Hormon-hormon steroid seks pada pria yang terpenting dalam reproduksi

adalah testosteron, dihidrotestosteron (DHT) dan estradiol. Hormon seks wanita

dalam jumlah kecil ditemukan juga pada laki-laki dan sebaliknya hormon seks

laki-laki dijumpai dalam jumlah kecil pada wanita (Braunstein, 2011).

Testis mensekresi sebagian kecil dari DHT yang merupakan androgen poten

dan dehidroepiandrosteron (DHEA) yang merupakan androgen lemah. Selain itu,

sel Leydig juga mensekresi sebagian kecil dari estradiol, estrone, pregnenolon,

progesteron, 17α-hidroksipregnenolon, dan 17α-hidroksiprogesteron. Testis hanya

mengsekresikan 25% estradiol. Estradiol terutama dihasilkan dari konversi perifer

dari testosteron dan androstenedione, seperti tampak pada gambar 2.1 (Tsutsui et

al., 2010). Estrogen membantu mengatur sekresi Gonadotropin-Releasing

Hormone (GnRH) dan LH. Dihidrotestosteron (DHT) dan estradiol bukan hanya

dihasilkan dari testis, tetapi juga dapat dihasilkan dari konversi di jaringan perifer

dari androgen dan prekursor estrogen yang disekresi baik oleh testis maupun

(39)

10

Gambar 2.1 Biosynthesis Hormon Seks Steroid (Tsutsui et al., 2010).

2.2.1. Testosteron

Testosteron merupakan hormon seks pria yang paling penting dengan berat

molekul 288,41 Dalton. Testosteron disekresikan oleh sel-sel interstisial Leydig di

dalam testis. Testis mensekresi beberapa hormon kelamin pria, yang secara

bersamaan disebut dengan androgen, termasuk testosteron, dihidrotestosteron, dan

androstenedion. Testosteron mempunyai peranan pada banyak organ tubuh selain

sistem seksual dan reproduksi, yaitu pada otak, tulang, otot, lemak, sistem

hematopoiesis dan sistem imun. Hormon androgen tidak hanya diproduksi oleh

pria, melainkan juga oleh perempuan. Pada pria, lebih 95% hormon androgen

diproduksi di dalam testis oleh sel Leydig dan sisanya diproduksi oleh cortex

adrenalis. Pada perempuan, androgen diproduksi oleh ovarium (25%), kelenjar

adrenalis (25%) dan konversi perifer (50%) dari prehormon androstenedione dan

(40)

11

dalam ovarium (50%) sedangkan DHEA diproduksi hampir seluruhnya di kelenjar

adrenalis (90-95%). Testosteron jumlahnya lebih banyak dari yang lain sehingga

dapat dianggap sebagai hormon testikular terpenting, walaupun sebagian besar

testosteron diubah menjadi hormon dihidrotestosteron yang lebih aktif pada

jaringan target. Nilai rujukan normal testosteron total adalah 300-1000 ng/dl

seperti tampak pada tabel 2.3 di bawah ini (Rahmanisa, 2014).

Tabel 2.3

Harga Normal Hormon Testosteron pada Pria

Hormon Jenis kelamin Unit Konvensional (ng/dL) Testosteron Pria

(Disadur dari Greenspan dan Gardner, 2004)

Di dalam aliran darah testosteron terikat oleh protein serum dan sebagian

tidak terikat. Sebanyak 60% testosteron terikat kuat dengan binding protein utama

yaitu SHBG dan sekitar 38% terikat lemah dengan albumin dan cortisol binding

globulin. Sekitar 2% sirkulasi testosteron tidak terikat oleh protein serum tetapi

masuk ke dalam sel. Testosteron yang terikat secara biologis kurang berarti

dibandingkan dengan testosteron bebas. Testosteron yang terikat dengan SHBG

sebagian besar tidak berfungsi pada proses fisiologis. Testosteron diubah menjadi

dihidrotestosteron di dalam target jaringan testosteron yang spesifik. Metabolisme

testosteron terjadi di hepar. Testosteron dikonversi menjadi androstenedion dan

etiokolanolon. Testosteron masuk ke dalam membran sel dengan cepat dan di

dalam sel, testosteron berubah secara enzimatik menjadi androgen

(41)

12

5-reduktase-1. Pada pria, testosteron memegang peranan penting dalam

diferensiasi sistem organ genital pria pada saat pertumbuhan fetus dan masa

pertumbuhan. Fungsi organ yang dipengaruhi oleh testosteron seperti skrotum,

epididymis, vas deferens, vesika seminalis, prostat dan penis. Testosteron juga

berperan dalam pertumbuhan organ skeletal, laring yang berperan dalam

pembentukan suara pada pria dan kartilago epifisial serta mempengaruhi

pertumbuhan rambut pada daerah pubis, axilla, janggut, jambang, dada, abdomen,

dan daerah punggung, aktivitas kelenjar sebacea dan perubahan tingkah laku

(Rahmanisa, 2014; Batubara, 2010).

Kadar testosteron dapat meningkat oleh pengaruh estrogen, tamoxifen,

fenitoin, hormon tiroid, keadaan hipertiroidism dan sirosis, sedangkan kadarnya

menurun apabila terdapat pengaruh androgen eksogen, glukokortikoid, growth

hormone, keadaan hipotiroidisme, akromegali, obesitas dan hiperinsulinemia

(Braunstein, 2011; Pangkahila, 2011).

Diet dan gaya hidup merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat

mempengaruhi peningkatan testosteron. Diet suplemen tinggi protein whey

mengandung asam amino triptofan yang tinggi, yang dapat meningkatkan sekresi

serotonin dan growth hormone (GH) pada hipofisis sehingga ketika berikatan

dengan growth hormone receptor (GHR) pada hati merangsang diproduksinya

IGF-1 (Melnik et al., 2011). IGF-1 dapat meningkatkan sekresi testosteron oleh

sel leydig. Aktivitas fisik intensitas sedang juga dapat meningkatkan hormon

(42)

13

kemudian dilepaskan ke sirkulasi dan mempengaruhi salah satu sel target IGF-1

yaitu sel leydig (Hambrecht et al., 2005).

2.2.2 Estrogen

Estrogen merupakan hormon dominan pada wanita, pria juga memproduksi

hormon ini dan memanfaatkannya. Estrogen dapat memberikan efek fisiologis

melalui dua tipe reseptor estrogen yaitu ERα dan ERβ. ERα terutama pada system

reproduksi, ginjal, tulang, jaringan adipose dan hati. ERβ pada ovarium, prostat,

paru, saluran cerna, bladder, sel hematopoetik dan susunan saraf pusat (Faulds et

al., 2012). Estrogen pada pria dihasilkan oleh aromatisasi testosteron dari sel

Leydig dan sel germinal. Sel germinal lebih banyak memproduksi estrogen

dibandingkan sel Leydig. Pada testis terjadi konversi testosteron menjadi estradiol

melalui mekanisme aromatisasi sitokrom P 450 yang menyebabkan konsentrasi

estrogen tinggi dalam cairan testis dan seminal (Anwar, 2005).

Jumlah kadar estrogen pada pria dalam konsentrasi kecil dalam darah tepi

sekitar 2-180 pg/ml. Konsentrasi estrogen tinggi pada vena testicular dan

pembuluh limfenya, serta tinggi pada sistem reproduksi, tinggi pada semen dan

cairan testis. Ada tiga jenis estrogen utama dalam tubuh yaitu estron, estradiol

(estrogen paling kuat) dan estriol (Pangkahila, 2011; Rahmanisa, 2014). Pada saat

keluar dari sirkulasi, hormon steroid berikatan dengan protein plasma, dimana

estradiol berikatan dengan SHBG dan berikatan lemah dengan albumin. Estron

berikatan kuat dengan albumin. Sirkulasi estradiol secara cepat diubah menjadi

(43)

14

estron masuk kembali ke sirkulasi dan sebagian lagi dimetabolisme menjadi

hidroksiestrone yang dikonversi menjadi estriol (Anwar, 2005).

Pada pria, estrogen bekerja berkoordinasi dengan hormon androgen, tetapi

sebaliknya dapat juga bersifat sebagai antiandrogenik. Efek fisiologik testosteron

merupakan gabungan efek testosteron dengan estrogen, namun efek

androgeniknya lebih dominan karena rasio androgen dengan estrogen sangat

tinggi (250:1). Penurunan rasio ini dapat menyebabkan gejala feminisasi /

ginekomasti. Terlalu banyak estrogen pada pria terutama kombinasi dengan

rendahnya testosteron secara abnormal dapat menyebabkan meningkatnya

akumulasi lemak, begitu juga pada payudara wanita. Estrogen yg terbentuk pada

pria berasal dari male androgen testosteron dan adrostenedion sebagai akibat kerja

dari enzim aromatase. Bodybuilder terkadang menggunakan suplemen atau obat

untuk menghambat aromatase ini dan memperlambat atau menghambat produksi

estrogen, untuk menjaga lemak tubuh tetap rendah (Kumar, 2013).

Peningkatan hormon estrogen bisa disebabkan juga oleh konsumsi suplemen

yang mengandung phytoestrogen seperti pada penelitian yang dilakukan oleh

Bonora (2015) pada susu pengganti cair Pediasure. Susu Pediasure terbukti

mengandung estrogen sebesar 4,87 pg/g dan progesteron sebesar 5,11 pg/ng, dan

perlakuan susu ini pada tikus lepas sapih selama 21 hari dapat meningkatkan

kadar estrogen. Margo (2015) juga melalukan penelitian pada susu Morinaga

BMT soya yang mengandung phytoestrogen 12,09 mg/100gr yang menghasilkan

(44)

15

2.2.3 Mekanisme Kontrol Hormon Seks Steroid pada Pria

Pengaturan dari produksi androgen dan spermatogenesis diatur oleh sistem

kompleks mekanisme umpan balik yang melibatkan hipothalamus, hipofise

anterior, testis, dan target organ. Dalam hipothalamus, neurotransmiter akan

meregulasi sintesis dan pelepasan pulsasi GnRH (Gonadothropine Releasing

Hormone), yang dilakukan setiap 3 jam masuk dalam vena portal hipofise. GnRH

di hipofise anterior akan merangsang sekresi LH (Lutheinizing Hormone) dan

FSH (Follicle Stimulating Hormone). LH mempengaruhi sel Leydig yang

berikatan dengan reseptor spesifik membran dan menyebabkan sekresi testosteron.

Sebagai inhibisi, peningkatan kadar androgen akan menghambat sekresi LH dari

hipofise anterior melalui efek langsung pada hipofise dan hipothalamus.

Hipothalamus dan hipofise mempunyai reseptor androgen dan estrogen. Efek

inhibisi terutama diperantarai oleh estradiol yang dihasilkan dari aromatisasi

testosteron. FSH berikatan dengan reseptor spesifik pada sel-sel Sertoli di tubulus

seminiferus dan merangsang pembentukan Androgen Binding Protein (ABP).

FSH mempengaruhi tubulus seminiferus sel Sertoli untuk merangsang terjadinya

spermatogenesis. Sekresi FSH dihambat oleh inhibin yang dihasilkan oleh sel

Sertoli. Begitu juga yang terjadi pada LH, sekresi LH akan dihambat oleh inhibin

(45)

16

Gambar 2.2 Aksis Hipotalamus – Hipofise –Testis (Gingrich, 2010)

Pada alur reproduksi, terdapat 2 (dua) golongan hormon yang berperan, yaitu

hormon peptida dan hormon steroid. Masing-masing golongan tersebut memiliki

cara kerja yang berbeda untuk memberikan respon biologi. Yang termasuk

hormon peptida adalah Lutheinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating

Hormone (FSH), sedangkan yang termasuk hormon steroid adalah testosteron dan

estradiol. Reproduksi yang normal, tergantung pada kerjasama dari beberapa

hormon dan regulasinya harus dikendalikan dengan baik. Mekanisme

pengendalian yang utama adalah dengan cara pengendalian umpan balik (feedback

(46)

17

hormon itu sendiri, bahkan juga dapat mengendalikan hormon lain. Komponen

alur HPG (Hypothalamus Pituitary Gonad ) (Safarinejad, 2009):

A. Hipotalamus sebagai pusat dari alur HPG. Hipotalamus menerima

masukan rangsang dari pusat-pusat yang ada di otak, yang akan

mensekresi hormon yang merangsang atau menghambat pengeluaran

hormon-hormon lain. Secara anatomi, hipotalamus terhubung dengan

kelenjar pituitari, sehingga secara langsung hormon-hormon dari

hipotalamus bisa masuk ke kelenjar pituitari anterior. Hormon yang

berperan pada sistem reproduksi adalah gonadotropin releasing hormone

(GnRH) dan luteinizing hormone releasing hormone (LHRH). Fungsi

GnRH adalah untuk menstimulasi sekresi hormon LH dan FSH dari

kelenjar pituitari anterior.

B. Pituitary anterior GnRH merangsang produksi dan pengeluaran hormon

FSH dan LH dari kelenjar pituitari anterior. FSH dan LH berperan dalam

proses regulasi fungsi dari testis. Regulasi sekresi LH dilakukan oleh

androgen dan estrogen melalui umpan balik negatif. Didalam testis, LH

merangsang steroidogenesis dalam sel Leydig dengan cara menginduksi

konversi kolesterol menjadi pregnenolon dan testosteron. FSH terikat pada

sel-sel Sertoli dan membran sprematogonial dalam testis dan ini

merupakan stimulator utama dari pertumbuhan tubulus seminiferous saat

perkembangan. FSH sangat diperlukan pada proses inisiasi

(47)

18

utama adalah merangsang spermatogenesis untuk menghasilkan jumlah sel

sperma yang normal.

C. Testis, kesuburan dan kemampuan seksual seorang pria memerlukan

hormon-hormon eksokrin maupun endokrin dari testis. Semuanya berada

dalam kontrol alur HPG. Bagian intersisial testis mengandung sel-sel

Leydig yang berfungsi pada proses steroidogenesis. Tubulus seminiferous

memiliki fungsi eksokrin untuk memproduksi spermatozoa.

Produksi testosteron dikontrol secara umpan balik negatif pada alur HPG, dan

testosteron tersebut dimetabolisir menjadi 2 macam metabolit aktif yaitu

dihidrotestosteron (DHT) akibat katalisis dari 5-alfa-reduktase dan estrogen

estradiol, sebagai hasil reaksi dengan aromatase. DHT merupakan androgen yang

jauh lebih kuat daripada testosteron (Umam, 2010; Sutyarso, 2012).

Komponen aktif dari testosteron adalah testosteron terikat albumin dan

testosteron bebas yang kemudian diubah oleh enzim menjadi estradiol (dengan

aromatase) dan dehidrotestosteron (dengan 5-alfa reduktase) (Mustofa, 2010).

Fungsi testis dikontrol oleh 2 hormon gonadotropik yang disekresikan oleh

hipofisis anterior yaitu: LH dan FSH. Kedua hormon ini bekerja pada bagian testis

yang berbeda. LH bekerja pada sel Leydig (intersisial) untuk mensekresi

testosteron, sedangkan FSH bekerja pada tubulus seminiferus sel Sertoli yang

berpengaruh terhadap spermatogenesis (Sherwood, 2013).

(48)

19

Kadar Testosteron puncak terlihat pada pagi hari, sekitar 20-30% lebih tinggi

kadarnya dari pada malam hari (Kumar, 2013). Pengukuran immunoassays

testosteron dan estrogen mengukur konsentrasi kadar total serum. Metode yang

dipercaya adalah dengan immunoassays spesifik dikuti ekstraksi dari serum atau

gas chromatography (GC) atau dengan liquid chromatography (LC) digabung

dengan spektroskopi (Braunstein, 2011).

Tabel 2.4

Kadar Hormon Normal pada Pria Dewasa

Hormon Batas Normal

Testosteron total 260 –1000 ng/dL (9,0 –34,7 nmol/L)

Testosterone free 50 –210 pg/mL (173–729 pmol/L)

Dihidrostenedione 27 –75 ng/dL (0,9–2,6 nmol/L)

Androstenedione 50 –250 ng/dL (1,7–8,5 nmol/L)

Estradiol 10 –50 pg/mL (3,67–18,35 pmol/L)

Estrone 15 –65 pg/mL (55,5–240 pmol/L)

(Sumber: Braunstein, 2011)

2.2.5 Fungsi Hormon Seks Steroid pada Pria

Testosteron antara lain bertanggungjawab terhadap berbagai sifat

maskulinisasi tubuh. Pengaruh testosteron pada perkembangan sifat kelamin

primer dan sekunder pada pria dewasa antara lain:

a. Sekresi testosteron setelah pubertas menyebabkan scrotum, penis dan

testis membesar kira-kira delapan kali lipat sampai sebelum usia 20

(49)

20

b. Pengaruh pada penyebaran bulu rambut tubuh antara lain diatas pubis,

ke arah sepanjang linea alba kadang-kadang sampai umbilicus dan

diatasnya, serta pada wajah dan dada.

c. Menyebabkan hipertropi mukosa laring dan pembesaran laring.

Pengaruh terhadap suara pada awalnya terjadi “suara serak”, tetapi

secara bertahap berubah menjadi suara bass maskulin yang khas.

d. Meningkatkan ketebalan kulit di seluruh tubuh dan meningkatkan

kekasaran jaringan subkutan.

e. Meningkatkan pembentukan protein dan peningkatan massa otot.

f. Berpengaruh pada pertumbuhan tulang dan retensi kalsium.

Testosteron meningkatkan jumlah total matriks tulang dan

menyebabkan retensi kalsium.

g. Testosteron juga berpengaruh penting pada metabolisme basal,

produksi sel darah merah, sistem imun, serta pengaturan elektrolit dan

keseimbangan cairan tubuh.

Selain fungsi di atas, hormon testosteron berpengaruh pula pada fungsi-fungsi

yang lain, diantaranya pada fungsi seksual menjadi terganggu akibat testosteron

yang menurun, spermatogenesis terganggu, kelelahan, ganguan mood, perasaan

bingung, rasa panas (hot flush), keringat malam hari, serta perubahan komposisi

tubuh berupa timbunan lemak visceral (Pangkahila, 2011; Rahmanisa, 2014).

Jumlah sel spermatogenik sangat tergantung pada aktivitas tubuli seminiferi

yang dipengaruhi oleh sistem hormon, sehingga faktor endokrin mempunyai efek

Gambar

Tabel 2.1
Tabel 2.3
Tabel 2.5
Gambar 2.3 Sintesis Gluthatione dari Cysteine, Glutamate dan Glycine (Marshall,
+5

Referensi

Dokumen terkait

Judul Skripsi : Efektivitas Yoghurt Susu Kambing Berbagai Stater Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Putih Jantan ( Rattus norvegicus strain wistar ) Menyatakan dengan

Pengaruh Pemberian Susu Kedelai Hitam (Glycine Soja) Terhadap Penurunan Berat Badan pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus strain wistar) yang Diberi Diet Tinggi

Hasil penelitian: Menunjukan bahwa pemberian susu kedelai hitam terbukti dapat menurunkan kadar trigliserida tikus dengan hiperlipidemia, dimana semakin tinggi

Simpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak biji fenugreek dosis 120 mg/200 gramBB meningkatkan kadar estrogen secara bermakna pada tikus betina menopause

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul “ Kadar Kalsium Tulang Mandibula Tikus Wistar (Rattus norvegicus) Jantan yang Mengkonsumsi Susu Kambing

Hasil penelitian pemberian susu kedelai fermentasi pada usia kebuntingan 2 sampai dengan 11 hari, 12 sampai dengan 21 hari, atau masa laktasi 2 sampai dengan

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pemberian makanan pengganti cair, baik PediaSure® maupun Nutrisure Gold® dapat meningkatkan berat badan, kadar hormon estrogen dan kadar

hasil uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan analisis uji Mann-Whitney terhadap kadar kolesterol LDL setelah pemberian kefir susu sapi antar keempat kelompok