PENGARUH LIKUIDITAS, UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE DAN JAMINAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI PADA SEKTOR
KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
Oleh:
NI MADE SRI KRISTINA SARI NIM: 1215251148
PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA
i
PENGARUH LIKUIDITAS, UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE DAN JAMINAN TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI PADA SEKTOR
KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
Oleh:
NI MADE SRI KRISTINA SARI NIM: 1215251148
Skripsi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana Denpasar
ii
HALAMAN PENGESAHAN/PERSETUJUAN SKRIPSI
Skripsi ini telah diuji oleh tim penguji dan disetujui oleh pembimbing, serta diuji pada tanggal : 10 Juni 2016
Tim Penguji : Tanda tangan
1. Ketua : Dr. I. B. Panji Sedana, SE., MSi ………
2. Sekretaris : Drs. Ida Bagus Badjra, MM ………
3. Anggota : Putu Vivi Lestari, SE., MM ..……….
Mengetahui,
Ketua Jurusan Manajemen
Dr. I Gst Ayu Ketut Giantari, SE., M.Si NIP. 19611002 198601 2 002
Pembimbing
iii
PERNYATAAN ORISINALITAS
Saya menyatakan dengan sebenarnya bahwa sepanjang pengetahuan saya, di dalam Naskah Skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.
Apabila ternyata didalam naskah skripsi ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur plagiasi, saya bersedia diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Denpasar, 10 Juni 2016
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Leverage dan Jaminan Terhadap Peringkat Obligasi Pada Sektor Keuangan di Bursa Efek Indonesia” sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa bimbingan dan arahan dari berbagai pihak yang telah meluangkan waktunya dalam penyusunan skripsi ini. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. I Nyoman Mahendra Yasa, SE., M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
2. Ibu Prof. Dr. Ni Nyoman Kerti Yasa, SE.,MS selaku Pembantu Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
3. Ibu Dr. I Gst Ayu Ketut Giantari., SE., M.Si selaku Ketua Jurusan Manajemen dan Agoes Ganesha Rahyuda, SE. MT., Ph.D. selaku Sekretaris Jurusan Manjemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
4. Bapak Drs. Ketut Suardika Natha, M.Si, selaku Ketua Program Ekstensi Fakultas Ekonomidan Bisnis Universitas Udayana.
5. Ibu Ni Made Rastini, SE.,MM., selaku Koordinator Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
v
7. Bapak Drs. Ida Bagus Badjra, MM selaku Dosen Pembimbing atas bimbingan, masukan, serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 8. Ibu Putu Vivi Lestari SE., MM selaku Dosen Pembahas atas bimbingan,
masukan, serta motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 9. Bapak dan Ibu Dosen yang telah mendidik penulis selama ini sehingga
mampu menyelesaikan studi di Fakulas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana.
10.Orang tua (I Ketut Sudarna dan Ni Ketut Wartini) dan kakak (Ni Putu Desi Dewanti) yang telah banyak memberikan dorongan moril, materiil maupun spiritual sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
11.Wahyu Langgeng Prastyo, Pradnya Wati, Opri Sani, Giri Kusuma, Dyah Purnama, Mikhy Novari, Tya Viant, Olivia, Diah Mahayuni, Diah Mentari dan Gek Tresna yang telah membantu dan memberikan saran, kritik, semangat dan motivasi.
12.Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas bantuan dan dukungan yang diberikan selama penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan yang disebabkan karena keterbatasan kemampuan serta pengalaman, namun demikian skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi yang berkepentingan.
Denpasar, 10 Juni 2016
vi
Judul : Pengaruh Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Leverage Dan Jaminan Terhadap Peringkat Obligasi Pada Sektor Keuangan Di Bursa Efek Indonesia
Nama : Ni Made Sri Kristina Sari NIM : 1215251148
ABSTRAK
Salah satu bentuk pendanaan yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan menerbitkan obligasi. Pemeringkatan menjadi hal yang wajib bagi setiap obligasi yang diterbitkan dan ditawarkan pada penawaran umum karena peringkat yang diberikan merupakan salah satu acuan dari investor ketika akan memutuskan untuk membeli suatu obligasi. Sebelum diperdagangkan obligasi diperingkat terlebih dahulu oleh suatu lembaga pemeringkat yaitu PT. PEFINDO. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh likuiditas, ukuran perusahaan, leverage dan jaminan terhadap peringkat obligasi sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia.
Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia. Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari www.idx.co.id. Jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 20 obligasi perusahaan sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2014, dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah uji analisis regresi logistik dan pengolahan data menggunakan SPSS 13 for windows.
Hasil analisis menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh negatif dan signifikan terhadap peringkat obligasi. Ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap peringkat obligasi. Leverage berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap peringkat obligasi. Jaminan berpengaruh positif dan signifikan terhadap peringkat obligasi.
Perusahaan hendaknya lebih memperhatikan dan mampu meningkatkan nilai likuiditas perusahaan agar perusahaan memperoleh peringkat obligasi berkategori investment-grade karena para investor lebih tertarik untuk melakukan investasi pada obligasi di perusahaan yang berkategori investment-grade.
vii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR... . x
DAFTAR LAMPIRAN... xi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Rumusan Masalah Penelitian ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Kegunaan Penelitian ... 10
1.5 Sistematika Penulisan ... 10
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka ... 12
2.1.1 Pasar Modal ... 12
2.1.2 Obligasi ... 14
2.1.3 Peringkat Obligasi ... 17
2.1.3.1 Tujuan dan Manfaat Peringkat Obligasi ... 19
2.1.4 Likuiditas ... 21
2.1.5 Ukuran Perusahaan ... 23
2.1.6 Leverage ... 24
2.1.7 Jaminan ... 26
2.2 Hipotesis Penelitian ... 27
2.2.1 Pengaruh Likuiditas terhadap Peringkat Obligasi ... 27
2.2.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Peringkat Obligasi... 28
2.2.3 Pengaruh Leverage terhadap Peringkat Obligasi ... 28
2.2.4 Pengaruh Jaminan terhadap Peringkat Obligasi ... 29
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 31
3.2 Lokasi atau Ruang Lingkup Penelitian ... 31
3.3 Objek Penelitian ... 32
3.4 Identifikasi Variabel ... 32
3.5 Definisi Operasional Variabel ... 32
3.6 Jenis Dan Sumber Data ... 35
3.7 Populasi, Sampel, Dan Metode Penentuan Sampel ... 35
viii
3.9 Teknik Analisis Data ... 36
3.9.1 Statistik Deskriptif ... 37
3.9.2 Nilai Model Fit ... 37
3.9.3 Uji Hipotesis ... 38
3.9.4 Uji Koefisien Determinasi ... 39
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Sektor Keuangan di BEI ... 40
4.2 Hasil Penelitian dan Pengujian Hipotesis ... 42
4.2.1 Deskripsi Variabel Penelitian ... 42
4.2.2 Menilai Model Fit ... 45
4.2.3 Uji Model Regresi Logistik ... 46
4.2.4 Uji Koefisien Determinasi ... 49
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian ... 50
4.3.1 Pengaruh Likuiditas Terhadap Peringkat Obligasi ... 50
4.3.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Peringkat Obligasi... 51
4.3.3 Pengaruh Leverage Terhadap Peringkat Obligasi... 52
4.3.4 Pengaruh Jaminan Terhadap Peringkat Obligasi ... 53
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 55
5.2 Saran ... 56
DAFTAR RUJUKAN ... 57
ix
DAFTAR TABEL
No. Tabel Halaman
1.1 Rata-Rata Current Ratio (CR), Ukuran Perusahaan (SIZE) dan
Debt to Equity Ratio (DER) pada Perusahaan Sektor Keuangan
Di Bursa Efek Indonesia yang Menerbitkan Obligasi Periode
2012-2014 ... 7
3.1 Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria ... 36
4.1 Hasil Uji Statistik Deskriptif Variabel Independen (X1,X2 dan X3) . 43 4.2 Hasil Uji Statistik Deskriptif Variabel Dependen (Y) ... 44
4.3 Hasil Uji Statistik Deskriptif Variabel Independen (X4) ... 44
4.4 Hasil Uji Hosmer and Lemeshow Test ... 46
4.5 Menilai Keseluruhan Model (Iteration History a,b,c ) ... 46
4.6 Menilai Keseluruhan Model (Iteration History a,b,c,d) ... 46
4.7 Analisis Regresi Logistik ... 47
x
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Halaman
xi
DAFTAR LAMPIRAN
No. Lampiran Halaman
1. Definisi Peringkat Obligasi PT. PEFINDO ... 62
2. Populasi Sektor Keuangan di Bursa Efek Indonesia 2012-2014 ... 64
3. Sampel Sektor Keuangan di Bursa Efek Indonesia 2012-2014 ... 65
4. Perhitungan Current Ratio (CR) Periode 2012-2014 ... 66
5. Perhitungan SIZE Periode 2012-2014 ... 68
6. Perhitungan Debt to Equity Ratio (DER) Periode 2012-2014 ... 70
7. Perhitungan Jaminan Periode 2012-2014 ... 72
8. Hasil Pengujian Deskriptif ... 73
9. Hasil Uji Kelayakan Model... 74
10. Hasil Penilaian Keseluruhan Model ... 75
11. Hasil Pengujian Regresi Logistik ... 76
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sumber pembiayaan merupakan salah satu faktor terpenting dalam menjalankan suatu usaha. Salah satu bentuk pendanaan yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan menerbitkan obligasi. Obligasi adalah surat utang jangka panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisikan perjanjian antara pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi (Bursa Efek Surabaya, 2001).
Purwaningsih (2008) menyatakan bahwa, investasi pada obligasi banyak diminati oleh para investor karena obligasi memiliki pendapatan yang bersifat tetap yang diperoleh dari bunga yang akan diterima secara periodik dan pokok obligasi pada saat jatuh tempo. Bagi para emiten, obligasi merupakan sekuritas yang relatif lebih aman dibandingkan dengan saham karena biaya emisinya lebih murah dibandingkan dengan saham (Husnan, 2000). Investasi pada obligasi memang lebih aman, namun obligasi tetap memiliki risiko yaitu risiko tingkat suku bunga dan risiko perusahaan tidak mampu membayar kupon obligasi atau pokok hutang obligasinya. Risiko obligasi tersebut dapat diminimalisir melalui peringkat obligasi.
2
memberikan sinyal tentang probabilitas kegagalan hutang suatu perusahaan. Keamanan suatu obligasi ditunjukkan oleh kemampuan suatu perusahaan dalam membayar bunga dan melunasi pokok pinjaman sehingga pemodal mendapatkan informasi mengenai peringkat obligasi dengan menggunakan jasa agen pemeringkat obligasi tersebut (Fauziah, 2014). Pemeringkatan menjadi hal yang wajib bagi setiap obligasi yang diterbitkan dan ditawarkan pada penawaran umum (Tandelilin, 2010:250). Peringkat yang diberikan merupakan salah satu acuan dari investor ketika akan memutuskan untuk membeli suatu obligasi (Amalia, 2013).
Tandelilin (2010:251) menyatakan bahwa tingkat peringkat obligasi bervariasi dari satu lembaga pemeringkat ke lembaga pemeringkat lainnya. Di Indonesia terdapat 2 (dua) lembaga pemeringkat obligasi yaitu PT. PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia) dan PT. Kasnic Credit Rating Indonesia. Agen pemeringkat ini menilai dan mengevaluasi sekuritas hutang perusahaan yang diperdagangkan secara umum, baik dalam bentuk peringkat maupun perubahan peringkat obligasi yang selanjutnya diumumkan ke pasar modal. Secara umum peringkat obligasi dikategorikan menjadi dua yaitu kategori investment-grade (AAA, AA, A dan BBB) adalah kategori bahwa perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi utangnya dan kategori non investment-grade (BB, B CCC dan D) yaitu kategori perusahaan dikatakan tidak layak untuk berinvestasi bagi para investor.
3
investment-grade, sehingga menimbulkan suatu pertanyaan apakah peringkat obligasi
yang dinilai oleh agen pemeringkat di Indonesia akurat. Chan dan Jagadeesh (1999) dalam Estiyanti (2012) menyatakan bahwa, salah satu alasan mengapa peringkat obligasi yang dikeluarkan oleh agen pemeringkat biasanya mengalami gagal bayar karena agen pemeringkat tidak melakukan monitor tehadap kinerja perusahaan setiap hari.
Kamstra, dkk. (2001) menyatakan bahwa, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi baik dari faktor keuangan maupun non keuangan. Faktor keuangan meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, rasio
leverage, dan pertumbuhan perusahaan. Faktor non keuangan meliputi ukuran
perusahaan, jaminan, reputasi auditor dan umur obligasi. Penelitian ini menggunakan beberapa variabel yang memiliki pengaruh terhadap peringkat obligasi yaitu likuiditas, ukuran perusahaan, leverage dan jaminan. Penulis menggunakan variabel-variabel tersebut karena penelitian terdahulu hasilnya masih terdapat research gap.
4
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek kepada investor tepat pada waktunya.
Terdapat tiga jenis rasio likuiditas yaitu current ratio, quick ratio dan cash
ratio. Rasio likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan current ratio
(rasio lancar). Current ratio digunakan karena merupakan indikator terbaik untuk menilai sejauh mana perusahaan menggunakan aktiva-aktivanya dapat diubah menjadi kas dengan cepat untuk melunasi utang perusahaan. Karena apabila menggunakan quick ratio membutuhkan waktu yang relative lebih lama dalam mengkonversi nilai persediaan menjadi uang kas, dan pada cash ratio terdapat beberapa komponen dalam aktiva lancar tidak dengan mudah untuk segera diuangkan dan digunakan untuk memnuhi kewajibannya. Penelitian yang dilakukan oleh Purwaningsih (2008), Magreta dan Nurmayanti (2009) serta Kilapong dan Setiawati (2012) menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh negatif terhadap peringkat obligasi. Hasil tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Almilia dan Devi (2007), Raharja dan Sari (2008), Manurung et al. (2009) serta Susilowati dan Sumarto (2010) menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh positif terhadap peringkat obligasi perusahaan.
5
mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar bunga obligasi secara periodik serta melunasi pokok pinjaman yang dapat meningkatkan peringkat obligasi perusahaan. Elton dan Gruber (1995) menyatakan bahwa, perusahaan-perusahaan besar kurang berisiko dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan kecil. Semakin besar perusahaan, potensi mendeversifikasikan risiko unsystematic-nya semakin besar sehingga membuat risiko obligasi perusahaan tersebut menurun (Maylia, 2007).
Miswanto dan Husnan (1999) menyebutkan bahwa, ukuran perusahaan dapat diukur dengan menggunakan total asset, penjualan atau ekuitas. Proksi yang digunakan untuk mengukur ukuran perusahaan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan total aset yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Almilia dan Devi (2005) serta Magreta dan Nurmayanti (2009) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap peringkat obligasi perusahaan. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliana et al. (2011) serta Kilapong dan Setiawati (2012) yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif terhadap peringkat obligasi perusahaan.
6
Semakin rendah nilai leverage, maka semakin kecil aktiva yang didanai dengan utang, sehingga semakin baik peringkat yang diberikan terhadap perusahaan tersebut.
Proksi rasio leverage yang digunakan dalam penelitian ini adalah debt to equity
ratio. Debt to equity (DER) digunakan untuk melihat seberapa besar perusahaan
dibiayai oleh utang atau dibiayai oleh pihak luar perusahaan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Raharja dan Sari (2008), Magreta dan Nurmayanti (2009) serta Yuliana et al. (2011) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap peringkat obligasi. Penemuan tersebut tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Purmono (2005), Purwaningsih (2008) yang menunjukkan hasil bahwa leverage memiliki pengaruh yang positif terhadap peringkat obligasi.
Variabel terakhir yang digunakan dalam penelitian ini adalah jaminan. Berdasarkan jaminan obligasi dibedakan atas dua jenis yaitu obligasi yang dijamin dan obligasi yang tidak dijamin. Brister et al. (1994) mengatakan bahwa, investor akan menyukai obligasi yang dijamin dibandingkan dengan obligasi yang tidak dijamin. Karena apabila obligasi dijamin dengan menggunakan aset yang bernilai tinggi, maka rating obligasi akan semakin baik dan dengan menjaminkan aset yang dimiliki oleh perusahaan maka perusahaan tersebut dapat menekan risiko yang akan diterima.
7
tidak dijamin dengan aset khusus tidak diperhitungkan dalam menentukan peringkat obligasi. Penemuan tersebut tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2005), Rika (2011) dan Yuliana et al. (2011) yang menunjukkan bahwa jaminan berpengaruh positif terhadap peringkat obligasi perusahaan.
Tabel 1.1 Rata-Rata Current Ratio (CR), Ukuran Perusahaan (SIZE) dan Debt to Equity Ratio (DER) pada Perusahaan Sektor Keuangan di Bursa Efek Indonesia yang Menerbitkan Obligasi Periode 2012-2014
Variabel Tahun
2012 2013 2014
Rata-Rata CR (%) 3,96 3,28 3,73
Rata-Rata SIZE (%) 17,06 17,22 17,39
Rata-Rata DER (%) 7,65 7,46 7,06
Sumber : Lampiran 4,5,6
Berdasarkan Tabel 1.1 di atas menunjukkan rata-rata variabel current ratio pada perusahaan sektor keuangan yang menerbitkan obligasi selama tahun penelitian mengalami penurunan dari tahun 2012 ke tahun 2013 sebesar 3,96% menjadi 3,28%, namun meningkat pada tahun 2014 sebesar 3,73%. Rata-rata variabel ukuran perusahaan pada perusahaan sektor keuangan yang menerbitkan obligasi selama tahun penelitian mengalami peningkatan dari tahun 2012 sampai 2014 sebesar 17,06%, 17,22% dan 17,39%. Dan rata-rata variabel debt to equity ratio pada perusahaan sektor keuangan yang menerbitkan obligasi selama tahun penelitian mengalami penurunan dari tahun 2012 sampai 2014 yaitu 7,65%, 7,46% dan 7,06%.
8
pada sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Karena obligasi pada sektor keuangan mendominasi penerbitan obligasi korporasi sepanjang tahun 2012-2014. Pendapatan bunga tetap (kupon) yang tinggi menjadi daya tarik investor untuk memiliki obligasi sektor keuangan (Kontan Online, 29 Mei 2015).
Periode penelitian yang dilakukan adalah selama tiga tahun yaitu dari tahun 2012-2014. Periode tiga tahun dipilih karena termasuk penelitian terbaru. Data peringkat yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang dikeluarkan oleh PT. PEFINDO, karena emiten-emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia lebih banyak menggunakan PT. PEFINDO sebagai lembaga pemeringkat obligasinya berarti perusahaan telah memiliki kepercayaan yang tinggi atas penilaian agen rating tersebut.
Perbedaan hasil antara beberapa penelitian tersebut menunjukkan adanya masalah, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi. Oleh karena itu penulis bermaksud untuk mengkaji lebih lanjut mengenai peringkat obligasi dengan mengambil judul : “Pengaruh Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Leverage Dan Jaminan Terhadap Peringkat Obligasi Pada Sektor Keuangan Di Bursa Efek Indonesia”.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
9
1) Apakah likuiditas berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi pada sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia ?
2) Apakah ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi pada sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia ?
3) Apakah leverage berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi pada sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia ?
4) Apakah jaminan berpengaruh signifikan terhadap peringkat obligasi pada sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia ?
1.3Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh likuiditas terhadap peringkat obligasi pada sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia.
2) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh ukuran perusahaan terhadap peringkat obligasi pada sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia.
3) Untuk mengetahui signifikansi pengaruh leverage terhadap peringkat obligasi pada sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia.
10 1.4 Kegunaan Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dijelaskan, maka penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kegunaan sebagai berikut :
1) Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memperkaya kajian empiris yang berkaitan dengan investasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi di Bursa Efek Indonesia.
2) Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan berguna bagi perusahaan maupun investor yang ingin berinvestasi pada obligasi dan pihak-pihak lain sebagai tambahan informasi serta pertimbangan dalam melakukan investasi.
1.5 Sistematika Penulisan
Sebagai arahan dalam memahami skripsi ini, penulis menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
11
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS
Pada bab kajian pustaka dan hipotesis penelitian ini, peneliti menguraikan mengenai landasan teori yang berkaitan dengan pasar modal, obligasi, likuiditas, ukuran perusahaan, leverage dan jaminan serta penelitian sebelumnya yang melandasi penelitian ini.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada bab metode penelitian, peneliti menguraikan desain penelitian, lokasi penelitian, objek penelitian, identifikasi variabel, definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data serta teknik analisis data.
BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Pada bab ini peneliti menguraikan mengenai gambaran umum sektor keuangan di Bursa Efek Indonesia sebagai penerbit obligasi yang menjadi sampel dalam penelitian, deskripsi hasil penelitian sesuai dengan analisis yang dilakukan serta pembahasan mengenai hasil analisis tersebut.
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pasar Modal
Pasar modal merupakan lembaga perantara (intermediaries) dan sarana untuk
memobilitasi dana yang bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor yang
melakukan investasi. Pasar modal merupakan pertemuan antara pihak yang memiliki
kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara
memperjualbelikan sekuritas (Tandelilin, 2010:26). Riyanto (2001:47) menyebutkan
bahwa pasar modal adalah pasar dalam pengertian abstrak yang mempertemukan
investor dengan emiten (perusahaan yang menerbitkan surat berharga di pasar modal).
Husnan (2005:3) menyatakan bahwa, pasar modal dapat didefinisikan sebagai
pasar untuk berbagai instrumen keuangan atau sekuritas jangka panjang yang bisa
diperjualbelikan dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan
pemerintah, public aothorities, maupun perusahaan swasta. Berdasarkan definisi
tersebut, disebutkan bahwa di pasar modal diperdagangkan berbagai komoditas
modal sebagai instrument jangka panjang. Komoditas modal tersebut dibagi menjadi
dua kelompok yaitu modal sendiri dan hutang. Modal sendiri adalah surat berharga
yang bersifat penyertaan atau ekuitas seperti saham, waran, dan right. Sedangkan
hutang adalah surat berharga yang bersifat hutang atau disebut sebagai surat berharga
13
Instrument dari pasar modal adalah sebagai berikut.
1) Saham
Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang
atau institusi dalam suatu perusahaan. Saham adalah surat berharga yang
menerangkan bahwa pemilik surat tersebut adalah pemilik perusahaan yang
menerbitkan surat tersebut. Saham dibedakan atas dua jenis, yaitu :
(1) Saham biasa
Pemegang saham jenis ini mewakili kepemilikan di perusahaan sebesar
modal yang ditanamkan dan pemilik saham biasa mempunyai hak memilih
(vote) dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).
(2) Saham preferen
Saham preferen merupakan saham yang akan menerima dividend dalam
jumlah yang tetap. Biasanya pemiliknya tidak mempunyai hak dalam rapat
umum pemegang saham (RUPS).
2) Obligasi
Obligasi adalah surat berharga atau sertifikat yang berisi kontrak antara pemberi
pinjaman dengan yang diberi pinjaman. Surat obligasi adalah selembar kertas
yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberikan pinjaman sebagai
kreditor kepada perusahaan yang menerbitkan surat obligasi.
14
Right merupakan surat yang diterbitkan oleh perusahaan yang memberikan hak
kepada pemegangnya (pemilik saham biasa) untuk membeli tambahan saham
pada penerbitan saham baru.
4) Waran
Waran adalah hak untuk membeli saham biasa pada waktu dan harga yang sudah
ditentukan. Biasanya waran dijual bersamaan dengan surat berharga lain,
misalnya obligasi atau saham
2) Opsi
Opsi adalah surat pernyataan yang dikeluarkan oleh seseorang atau lembaga
(bukan emiten) untuk memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli
saham (call option) dan menjual saham (put option) pada harga yang telah
ditentukan sebelumnya.
2.1.2 Obligasi
Fahmi (2012:318) menyatakan bahwa, obligasi adalah surat berharga yang
dijual kepada publik yang disertakan dengan berbagai ketentuan yang menjelaskan
beberapa hal seperti nilai nominal, tingkat suku bunga, jangka waktu, nama penerbit
dan beberapa ketentuan lainnya. Darmadji dan Fakhruddin (2006:16) menyatakan
bahwa, obligasi merupakan surat berharga yang menunjukkan bahwa penerbit
obligasi meminjam sejumlah dana kepada masyarakat dan memiliki kewajiban untuk
membayar bunga secara berkala serta mempunyai kewajiban melunasi pokok hutang
15
Obligasi merupakan suatu instrumen pendapatan tetap (fixed income securities)
yang dikeluarkan oleh penerbit dengan menjanjikan suatu tingkat pengembalian
kepada pemegang obligasi atas dana yang diinvestasikan investor berupa kupon yang
dibayarkan secara berkala dan nilai pokok ketika obligasi tersebut jatuh tempo.
Manfaat dari obligasi adalah sebagai sebuah instrumen investasi yaitu memberikan
pendapatan tetap berupa kupon dan keuntungan atas penjualan obligasi.
Bursa Efek Indonesia membagi obligasi menjadi 4 jenis yang berbeda yaitu.
1) Dilihat dari sisi penerbit
(1) Corporate Bond yaitu obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan baik yang
berbentuk badan usaha milik negara atau badan usaha swasta.
(2) Goverment Bondyaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
(3) Municipal Bond yaitu obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk
membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik.
2) Dilihat dari sistem pembayaran bunga
(1) Zero Coupon Bond yaitu obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga
secara periodik namun bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh
tempo.
(2) Coupon Bond yaitu obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara
periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya
(3) Fixed Coupon Bondyaitu obligasi dengan tingkat bunga yang telah ditetapkan
16
(4) Floating Coupon Bond yaitu obligasi dengan tingkat bunga yang ditentukan
sebelum jangka waktu tersebut berdasarkan acuan tertentu sepertiAverage Time
Deposit (ATD)yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito baik dari
pemerintah ataupun swasta.
3) Dilihat dari hak penukaran atau opsi
(1) Convertible Bond yaitu obligasi yang memberi hak kepada pemegang obligasi
untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik
penerbitnya.
(2) Exchangeable Bond yaitu obligasi yang memberi hak kepada pemegang
obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham
perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
(3) Callable Bond yaitu obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk
membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
(4) Putable Bond yaitu obligasi yang memberikan hak kepada investor yang
mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu
sepanjang umur obligasi tersebut.
4) Dilihat dari segi jaminan atau kolateralnya
(1) Secured Bond yaitu obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari
penerbitnya atau pihak ketiga.
(2) Unsecured Bondyaitu obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu
17
Obligasi termasuk surat berharga dengan tingkat risiko yang relatif rendah,
namun obligasi tetap mengandung risiko, yaitu.
1) RisikoDefault
Risiko default adalah risiko perusahaan tidak mampu membayar kupon obligasi
atau tidak mampu mengembalikan pokok obligasi.
2) Risiko tingkat suku bunga
Pergerakan harga obligasi sangat ditentukan oleh pergerakan tingkat suku bunga.
Pergerakan harga obligasi berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga.
2.1.3 Peringkat Obligasi
Damadji & Fakhruddin (2006:18) menyatakan bahwa, dalam obligasi atau surat
utang terdapat istilah peringkat obligasi yaitu tingkat yang menggambarkan
kemampuan membayar perusahaan penerbit obligasi. Peringkat obligasi adalah
simbol-simbol karakter yang diberikan oleh agen pemeringkat untuk menunjukkan
risiko dari obligasi (Hartono, 2014:230). Peringkat obligasi memiliki arti yang sangat
penting bagi sebuah perusahaan dan investor, karena peringkat obligasi merupakan
indikator dari resiko gagal bayar dimana peringkat memiliki pengaruh secara
langsung yang dapat diukur pada tingkat bunga obligasi serta biaya utang perusahaan,
dan sebagian besar dari obligasi dibeli oleh para investor institusional bukan
individual (Brigham & Houston, 2010:302).
Tandelilin (2010:250) menyatakan bahwa, dalam menentukan peringkat
18
yaitu kemampuan perusahaan penerbit untuk memenuhi kewajiban finansialnya
sesuai dengan perjanjian, struktur dan berbagai ketentuan atau peraturan yang diatur
dalam surat hutang, dan perlindungan yang diberikan atau posisi klaim dari
pemegang surat hutang tersebut apabila terjadi pembubaran atau likuidasi serta
hukum lainnya yang mempengaruhi hak-hak kreditur.
Kliger & Sarig (2000) menyatakan bahwa, peringkat obligasi dapat
mempengaruhi nilai perusahaan secara keseluruhan baik bagi shareholders maupun
bagi bondholders. He Wang dan Wei (2007) menyatakan bahwa, kualitas keputusan
investor dipengaruhi oleh kualitas informasi yang diberikan oleh perusahaan dalam
laporan keuangan. Tujuan dari kualitas informasi tersebut adalah untuk mengurangi
asimetri informasi yang timbul ketika manajer lebih mengetahui informasi internal
dan prospek perusahaan dimasa yang akan datang dibandingkan dengan pihak
eksternal perusahaan.
Frost (2007) menyatakan bahwa, peringkat yang diberikan sangat penting
dalam setiap penerbitan obligasi. Peringkat obligasi digunakan oleh perusahaan
dengan tujuan untuk mengetahui kondisi obligasi dan posisi kinerja perusahaan
tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain. Perusahaan yang memperoleh
peringkat obligasi yang baik maka dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi serta
dapat meningkatkan kepercayaan investor. Karena perusahaan memiliki kemampuan
untuk membayar hutang obligasi dengan baik, maka para investor yang berinvestasi
pada obligasi perusahaan akan bertambah dan sumber dana yang diperoleh juga
19
terhadap aktivitas investasi dan pendanaan masa depan perusahaan serta profil risiko
dan kinerja masa depan perusahaan (Magreta & Nurmayanti, 2009).
Peringkat obligasi suatu perusahaan dapat memainkan peranan penting tidak
hanya dalam mengevaluasi akuntansi dan informasi keuangan untuk memberikan
rating, tetapi juga melalui penilaian sendiri dalam menambah informasi yang tersedia
untuk mengatur bondholders dan stakeholders lainnya dari perusahaan. Menurut
Al-Khawaldeh (2013), hal tersebut membuktikan bahwa investor memerlukan peringkat
obligasi untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam membuat keputusan yang
tepat.
Tandelilin (2010:250) menyatakan bahwa, dalam menentukan peringkat
obligasi terdapat beberapa komponen utama yang dilakukan oleh agen pemeringkat
yaitu kemampuan perusahaan penerbit untuk memenuhi kewajiban finansialnya
sesuai dengan perjanjian, struktur dan berbagai ketentuan atau peraturan yang diatur
dalam surat hutang, dan perlindungan yang diberikan atau posisi klaim dari
pemegang surat hutang tersebut apabila terjadi pembubaran atau likuidasi serta
hukum lainnya yang mempengaruhi hak-hak kreditur.
2.1.3.1 Tujuan dan Manfaat Peringkat Obligasi
Rahardjo (2004) menyatakan bahwa, tujuan dari proses pemeringkatan obligasi
adalah memberikan informasi akurat mengenai kinerja keuangan dan posisi bisnis
perusahaan yang menerbitkan obligasi dalam bentuk peringkat kepada calon investor.
20
perusahaan yang mengeluarkan obligasi (issuer). Peringkat obligasi yang baik akan
menguntungkan bagi issuer karena akan lebih dipercaya oleh investor dalam
berinvestasi. Hovakiamian et al. (2009) menyebutkan bahwa, dalam penelitiannya
membuktikan bahwa perusahaan mendapatkan keuntungan terbesar dari memelihara
ratingyang lebih tinggi. Lembaga pemeringkat obligasi biasanya menggunakan suatu
sistem dalam menulis kelas huruf yang menentukan kualitas dari obligasi perusahaan
(Kim dan Gu, 2004).
1) Manfaat peringkat obligasi bagi investor yaitu :
(1) Informasi risiko investasi
Tujuan utama dari investasi adalah untuk meminimalkan risiko dan
memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Adanya bond rating
diharapkan informasi risiko dapat diketahui lebih jelas posisinya.
(2) Rekomendasi investasi
Investor dapat dengan mudah mengambil sebuah keputusan investasi
berdasarkan hasil peringkat kinerja emiten obligasi tersebut. Sehingga
investor dapat melakukan strategi investasi apakah akan membeli atau
menjual sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
(3) Perbandingan
Hasil rating akan dijadikan sebagai patokan dalam membandingkan obligasi
yang satu dengan obligasi yang lainnya, serta membandingkan struktur yang
lainnya seperti suku bunga dan metode penjaminannya.
21 (1) Informasi posisi bisnis
Pihak perusahaan dapat mengetahui posisi bisnis dan kinerja usahanya
dibandingkan dengan perusahaan sejenis dengan melakukanrating.
(2) Menentukan struktur obligasi
Setelah keunggulan serta kelemahan manajemen diketahui, maka dapat
ditentukan syarat atau strukur obligasi yaitu tingkat suku bunga, jenis obligasi,
jangka waktu jatuh tempo, jumlah emisi obligasi dan berbagai struktur
pendukung lainnya.
(3) Mendukung kinerja
Kewajiban menyediakan singking fund atau jaminan kredit akan menjadi
pilihan alternatif apabila memperolehratingyang cukup bagus.
(4) Alat pemasaran
Memperoleh rating yang baik merupakan daya tarik perusahaan di mata
investor akan meningkat. Sehingga adanya rating dapat membantu sistem
pemasaran obligasi.
(5) Menjaga kepercayaan investor
Dengan rating yang independent mampu membuat investor merasa lebih
aman, sehingga investor akan memiliki kepercayaan terhadap perusahaan
tersebut.
22
Sartono (2002:116) menyatakan bahwa, likuiditas adalah kemampuan
perusahaan untuk membayar kewajiban finansial jangka pendek tepat pada waktunya.
Mamduh dan Halim (2000:77) menyatakan bahwa, rasio likuiditas mengukur
kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat asset lancar
perusahaan relatif terhadap kewajiban lancarnya. Harahap (2004:301) menyatakan
bahwa, rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan agar dapat
menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Kemampuan dalam melunasi
kewajiban jangka pendek secara tidak langsung berpengaruh pada kewajiban jangka
panjang yang baik yaitu pelunasan obligasi.
Almilia dan Devi (2007) menyatakan bahwa, perusahaan yang mampu
memenuhi kewajiban keuangannya tepat pada waktunya berarti perusahaan tersebut
dalam keadaan likuid dan mempunyai asset lancar lebih besar dibandingkan dengan
kewajiban jangka pendeknya. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan
utang lancar, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam menutupi
kewajiban jangka pendeknya (Harahap, 2004:301). Tingkat likuiditas yang tinggi
menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan. Semakin tinggi tingkat
likuiditas perusahaan maka semakin baik peringkat obligasi yang diberikan.
Kasmir (2012:136) menyatakan bahwa, terdapat dua jenis rasio yang dapat
digunakan dalam mengukur likuiditas perusahaan yaitucurrent ratiodanquick ratio.
Current ratiomerupakan rasio yang menunjukan sejauh mana aktiva lancar menutupi
kewajiban-kewajiban lancar. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang
23
Sedangkan quick ratio merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan
dalam memenuhi, membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek)
dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan(inventory).
2.1.5 Ukuran Perusahaan
Brigham & Houston (2006) mendefinisikan ukuran perusahaan sebagai
rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun,
ukuran perusahaan juga merupakan karakteristik suatu perusahaan dalam
hubungannya dengan struktur perusahaan. Ukuran perusahaan mempunyai korelasi
terhadap tingkat risiko kebangkrutan atau kegagalan sehingga ukuran perusahaan
mempunyai pengaruh terhadap peringkat obligasi.
Perusahaan yang besar pada umumnya akan memberikan peringkat yang baik
(investment grade). Elton dan Gruber (1995) menyebutkan bahwa, perusahaan besar
kurang berisiko dibandingkan dengan perusahaan kecil atau perusahaan kecil
memiliki risiko lebih besar dibandingkan dengan perusahaan besar. Karena semakin
besar ukuran perusahaan, potensi mendeversifikasikan resiko unsystematic-nya
semakin besar sehingga membuat risiko obligasi perusahaan menurun (Bagnaniet al.
(1996) dalam Maylia (2007).
Yuliana et al. (2011) menyatakan bahwa, ukuran perusahaan menunjukkan
banyak sedikitnya informasi yang dipublikasikan. Semakin besar ukuran perusahaan
maka perusahaan semakin banyak dikenal oleh masyarakat. Investor juga dapat
24
ketidakpastian yang dimiliki oleh investor, sehingga dengan demikian dapat
meningkatkan peringkat obligasi perusahaan.
Ogden (1987) menyatakan bahwa, total hutang dan ukuran perusahaan
memiliki korelasi kuat dan positif. Semakin besar ukuran suatu perusahaan semakin
besar potensi atau kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajibannya. Secara
tidak langsung akan berpengaruh pada peringkat obligasi, karena akan semakin besar
kemungkinan hutang obligasi tersebut terpenuhi. Yasa (2010) menyebutkan bahwa,
ukuran perusahaan yang semakin besar akan menunjukkan kemampuan perusahaan
menguasai pasar dan kredibilitas yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan
peringkat obligasi.
2.1.6Leverage
Leverage merupakan rasio keuangan yang menunjukkan seberapa jauh
perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak luar (Harahap, 2004:306). Dengan
mengetahui rasio ini, maka posisi perusahaan terhadap seluruh kewajibannya kepada
pihak lain, kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang bersifat tetap
dan keseimbangan nilai aktiva dengan modal dapat dinilai. Burton & Hardwick (1998)
menemukan bahwa, semakin rendah leverage perusahaan maka semakin tinggi
peringkat obligasi yang diberikan oleh perusahaan. Semakin besar leverage
perusahaan, semakin besar risiko kegagalan perusahaan. Hal ini mengindikasikan
perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi cenderung memiliki kemampuan
25
Myers (1997) menyatakan bahwa, perusahaan yang memiliki tingkat
pertumbuhan yang tinggi tidak menyukai pembiayaan yang akan meningkatkan
leveragemereka. Perusahaan akan menghadapi permasalahan dalamleverage apabila
perusahaan tersebut memiliki sejumlah beban atau biaya, baik dalam biaya tetap
operasi maupun biaya finansial merupakan beban atau biaya yang harus
diperhitungkan sebagai akibat dari perusahaan melakukan investasi, sedangkan biaya
finansial merupakan beban atau biaya yang harus diperhitungkan sebagai akibat dari
pelaksanaan fungsi pendanaan. Beban atau biaya tetap merupakan risiko dan
kewajiban yang harus ditanggung oleh perusahaan dalam pelaksanaan
keputusan-keputusan keuangan.
Salah satu alat yang dipakai untuk mengukur leverage adalah dengan
menggunakan debt to equity ratio (DER). DER digunakan untuk melihat seberapa
besar perusahaan dibiayai oleh utang atau pihak luar. Nilai leverage yang rendah
rendah menunjukan sebagian kecil dari aktiva yang dimiliki oleh perusahaan dibiayai
dengan hutang sehingga kecil risiko kegagalan perusahaan. Apabila tidak terdapat
leverageberarti perusahaan tersebut dibiayai dengan modal sendiri.
Leveragedibagi menjadi dua macam dalam manajemen keuangan yaitu :
1) Operating leverage
Operating leverage atau leverage operasi merupakan penggunaan aktiva dengan
biaya tetap dengan harapan bahwa penerimaan ataurevenue yang diperoleh oleh
penggunaan aktiva tersebut cukup untuk menutupi biaya tetap dan biaya variabel.
26
Financial leverage atau leverage keuangan adalah penggunaan sumber dana
dengan beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan
keuntungan yang lebih besar daripada beban tetap, sehingga akan meningkatkan
keuntungan yang tersedia bagi pemegang obligasi.
Keuntungan mengetahui rasioleverageadalah :
1) Dapat menilai kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak
lain.
2) Menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang bersifat tetap.
3) Untuk mengambil keputusan penggunaan sumber dana ke depan.
2.1.7 Jaminan
Berdasarkan jaminan obligasi dibedakan atas dua jenis yaitu obligasi yang
dijamin dan obligasi yang tidak dijamin. Obligasi dengan jaminan (mortgage bonds)
merupakan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dengan memberikan jaminan
berupa suatu asset real, sehingga jika perusahaan mengalami kegagalan dalam
memenuhi kewajibannya maka pemegang obligasi berhak untuk mengambil alih atas
asset tersebut. Obligasi tanpa jaminan (debentures atau unsecured bond) merupakan
obligasi yang diterbitkan tanpa menggunakan suatu jaminan asset tertentu. Tingkat
resiko yang terdapat dalam suatu obligasi tergantung dari jaminan yang diberikan
oleh perusahaan.
Bristeret al. (1994) menyatakan bahwa, investor akan menyukai obligasi yang
27
dijamin dengan menggunakan aset yang bernilai tinggi, maka rating obligasi akan
semakin baik sehungga obligasi tersebut dikatakan aman. Selain itu dengan
menjaminkan aset yang dimiliki oleh perusahaan untuk obligasi berarti perusahaan
tersebut dapat menekan risiko yang akan diterima oleh perusahaan.
2.2 Hipotesis Penelitian
2.2.1 Pengaruh Likuiditas terhadap Peringkat Obligasi
Wiagustini (2010:76) menyatakan bahwa, likuiditas merupakan kemampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya dalam jangka pendek dengan
dana lancar yang tersedia. Almilia dan Devi (2007) menyatakan bahwa, perusahaan
yang mampu memenuhi kewajiban finansialnya tepat pada waktunya berarti
perusahaan tersebut dalam keadaan likuid dan mempunyai asset lancar lebih besar
dibandingkan dengan kewajiban jangka pendeknya. Tingkat likuiditas yang tinggi
menunjukkan kuatnya kondisi keuangan perusahaan sehingga secara finansial akan
mempengaruhi prediksi peringkat obligasi. Semakin tinggi tingkat likuiditas
perusahaan maka semakin baik peringkat obligasi yang diberikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Almilia dan Devi (2007), Raharja dan Sari
(2008), Manurung et al. (2009) serta Susilowati dan Sumarto (2010) menunjukkan
bahwa likuiditas berpengaruh positif terhadap peringkat obligasi perusahaan.
Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya mengenai hubungan likuiditas dan
peringkat obligasi, menjadi dasar pengembangan hipotesis yang diajukan yaitu :
28
2.2.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Peringkat Obligasi
Brigham & Houston (2006) mendefinisikan ukuran perusahaan sebagai
rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun,
ukuran perusahaan juga merupakan karakteristik suatu perusahaan dalam
hubungannya dengan struktur perusahaan. Ukuran perusahaan dapat tercermin dari
total aset, penjualan maupun ekuitas yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Dengan
menggunakan ukuran perusahaan, para investor dapat mengetahui kemampuan
perusahaan dalam membayar bunga obligasi secara periodik serta melunasi pokok
pinjaman yang dapat meningkatkan peringkat obligasi perusahaan.
Penelitian Yuliana et al. (2011) serta Kilapong dan Setiawati (2012)
menunjukkan hasil bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif terhadap
peringkat obligasi perusahaan. Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya
mengenai hubungan ukuran perusahaan dan peringkat obligasi, menjadi dasar
pengembangan hipotesis yang diajukan yaitu :
H2 : Ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap peringkat
obligasi
29
Magreta dan Nurmayanti (2009) menyatakan bahwa, rasio leverage digunakan
untuk mengukur sejauh mana sebuah perusahaan menggunakan utang dalam
membiayai investasinya. Rendahnya nilai leverage menunjukkan bahwa sebagian
kecil aktiva didanai dengan utang dan semakin kecil risiko kegagalan perusahaan.
Semakin rendah rasio leverage perusahaan, maka semakin tinggi tingkat peringkat
yang diberikan pada perusahaan tersebut.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Raharja dan Sari (2008), Magreta
dan Nurmayanti (2009) serta Yuliana et al. (2011) menunjukkan bahwa leverage
berpengaruh negatif terhadap peringkat obligasi. Tingkat leverage yang tinggi
kurang baik karena tanggungan terhadap beban bunga utang. Sehingga menyebabkan
perusahaan tidak mampu untuk melunasi seluruh kewajibannya termasuk obligasi,
maka akan berpengaruh terhadap peringkat obligasi perusahaan yaitu menjadi kurang
baik. Berdasarkan teori dan penelitian sebelumnya mengenai hubunganleverage dan
peringkat obligasi, menjadi dasar pengembangan hipotesis yang diajukan yaitu :
H3 : Leverage perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap peringkat
obligasi
2.2.4 Pengaruh Jaminan terhadap Peringkat Obligasi
Berdasarkan jaminan obligasi dibedakan atas dua jenis yaitu obligasi yang
dijamin dan obligasi yang tidak dijamin. Brister et al. (1994) menyatakan bahwa,
investor akan menyukai obligasi yang dijamin dibandingkan dengan obligasi yang
30
bernilai tinggi, maka rating obligasi akan semakin baik sehingga obligasi tersebut
dikatakan aman. Selain itu dengan menjaminkan aset yang dimiliki oleh perusahaan
untuk obligasi berarti perusahaan tersebut dapat menekan risiko yang akan diterima
oleh perusahaan.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2005), Rika (2011) dan Yulianaet
al.(2011) menyatakan bahwa, perusahaan yang menerbitkan obligasi dengan jaminan
akan memperoleh peringkat yang lebih baik. Berdasarkan teori dan penelitian
sebelumnya mengenai hubungan jaminan dan peringkat obligasi, menjadi dasar
pengembangan hipotesis yang diajukan yaitu :