Putusan KI Sulbar hal-1
KOMISI INFORMASI PROVINSI SULAWESI BARAT
PUTUSAN
Nomor : 30/XI/KI-SB/PS-A/2019
1. IDENTITAS
[1.1] Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat yang menerima, memeriksa dan menjatuhkan putusan dalam Sengketa Informasi Publik dengan Nomor Registrasi : 033/REG-PSI/KI-SB/IX/2019, yang diajukan oleh :
Nama : Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan
Alamat : Jl. Poros Mamasa Polewali Karangan, Desa Bombong Lambe, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa, Prov Sulbar
yang dalam persidangan di Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dihadiri oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum, selanjutnya disebut sebagai Pemohon,
Terhadap
Nama : Pemerintah Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa
Alamat : Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa yang dalam persidangan dihadiri oleh Zakaria.SB, selaku Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa dan selama persidangan didampingi oleh Kuasanya masing-masing Rosi Nurwardani S, STP selaku Kepala Bidang Pemerintahan Desa dan Sarana Prasarana Desa di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Mamasa dan Harun Nirwandi, S,STP, MM selaku
Putusan KI Sulbar hal-2 Kepala Seksi Kelembagaan Kerjasama Desa dan Sarana Prasarana di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Mamasa, berdasarkan Surat Kuasa nomor : 107/D.SK/X/2019, bertanggal 24 Oktober 2019, selanjutnya disebut sebagai Termohon.
[1.2] Telah membaca surat permohonan Pemohon;
Telah mendengar keterangan Pemohon;
Telah mendengar keterangan Termohon;
Telah memeriksa surat-surat Pemohon;
Telah memeriksa surat-surat Termohon;
1. DUDUK PERKARA A. Pendahuluan
[2.1] Bahwa Pemohon telah mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik pada tanggal 4 September 2019 melalui Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat, surat diterima pada tanggal yang sama dan terdaftar di Kepaniteraan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dengan registrasi sengketa nomor : 033/REG-PSI/KI-SB/IX/2019.
Kronologi
[2.2] Bahwa Pemohon telah mengajukan Permohonan Informasi Publik melalui surat nomor : 013/LSM-LPK/III/2019, yang ditandatangani oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan, bertanggal 2 Maret 2019, yang ditujukan kepada Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, surat diterima pada tanggal 08 Maret 2019 oleh Andarias selaku Kepala Dusun Ratte,dengan permintaan berupa :
1. Dokumen penggunaan dana desa tahun angaran 2017 dan tahun anggaran 2018.
2. Perencanaan dan pertanggungjawaban dana ADD dan DDS
[2.3] Bahwa permohonan permintaan informasi yang diajukan oleh Pemohon sebagaimana diuraikan pada paragraf [2.2], menurut Pemohon sampai batas waktu
Putusan KI Sulbar hal-3 yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan, tidak mendapatkan tanggapan atau jawaban dari Termohon;
[2.4] Bahwa selanjutnya Pemohon mengajukan surat keberatan dengan nomor : 014/LSM-LPK/IV/2019, yang ditandatangani oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan, bertanggal 27 April 2019, yang ditujukan kepada Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, surat diterima pada tanggal 10 Mei 2019 oleh Johanis, dimana isi surat tersebut menyatakan keberatan atas tidak diberikannya permintaan informasi sebagaimana telah dijelaskan pada paragraf [2.2];
[2.5] Bahwa hingga berakhirnya jangka waktu untuk memberikan tanggapan atau jawaban atas keberatan dari Pemohon sebagaimana dimaksud pada paragraf [2.4], Termohon juga tidak memberikan tanggapan atau jawaban;
[2.6] Bahwa atas dasar sebagaimana dimaksud pada paragraph [2.5], pada tanggal 4 September 2019, Pemohon mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat, melalui surat yang ditandatangani oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan, surat tersebut diterima dan terdaftar pada tanggal yang sama di Kepaniteraan dengan nomor registrasi : 033/REG-PSI/KI-SB/IX/2019;
[2.7] Bahwa pada tanggal 15 Oktober 2019 telah dilaksanakan sidang penyelesaian sengketa informasi publik di Kantor Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat, dengan agenda Sidang Pemeriksaan Awal yang dihadiri oleh Pemohon dan tanpa dihadiri oleh Termohon;
[2.8] Bahwa atas dasar ketidakhadiran Termohon sebagaimana telah diuraikan pada paragraf [2.7], Majelis Komisioner menunda persidangan pemeriksaan awal dengan memberikan kesempatan kepada Termohon untuk hadir kembali sehingga pada tanggal 29 Oktober 2019 dilaksanakan sidang penyelesaian sengketa
Putusan KI Sulbar hal-4 informasi publik dengan agenda yang sama di Kantor Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat, dihadiri oleh Pemohon dan Termohon;
Alasan atau Tujuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik [2.9] Bahwa alasan atau tujuan Pemohon mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik atas perkara a quo ini karena Termohon tidak menanggapi keberatan atau mengabaikan permintaan atas permohonan informasi;
Petitum
[2.10] Pemohon meminta kepada Majelis Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat untuk memutus sengketa informasi ini dengan memerintahkan kepada Termohon untuk memberikan dokumen yang diminta oleh Pemohon;
B. Alat Bukti
Keterangan Pemohon
[2.11] Menimbang bahwa dalam persidangan pada tanggal 15 Oktober 2019 dan 29 Oktober 2019 , Pemohon telah menyampaikan keterangan sebagai berikut ; 1. Pemohon membenarkan telah mengajukan Permohonan Informasi Publik
melalui surat nomor : 014/LSM-LPK/III/2019, yang ditandatangani oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan, bertanggal 2 Maret 2019, yang ditujukan kepada Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, surat diterima pada 08 Maret 2019 oleh Andarias selaku Kepala Dusun Ratte, dengan permintaan berupa :
a. Dokumen penggunaan dana desa tahun angaran 2017 dan tahun anggaran 2018; dan
b. Perencanaan dan pertanggungjawaban dana ADD dan DDS.
Pemohon juga membenarkan mengajukan surat keberatan dengan nomor : 014/LSM-LPK/IV/2019, yang ditandatangani oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan, bertanggal 27 April 2019, yang ditujukan kepada Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, surat diterima pada tanggal 10 Mei 2019 oleh Johanis.
Putusan KI Sulbar hal-5 2. Adapun tujuan Pemohon untuk meminta informasi adalah untuk memantau apakah hasil pembangunan yang telah dilaksanakan dan dipertanggungjawabkan oleh Desa Salukona sesuai dengan perencanaan dan dokumen penganggaran.
3. Meminta kepada Majelis untuk memutus perkara a quo, dan meminta agar Termohon memberikan informasi yang dimohonkan oleh Pemohon.
Surat-Surat Pemohon
[2.12] Bahwa Pemohon telah mengajukan surat-surat sebagai berikut :
Surat P-1 Surat Permohonan Informasi Publik yang ditandatangani oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan bertanggal 2 Maret 2019, yang ditujukan kepada Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, beserta lembaran penerimaan surat yang ditandatangani oleh Bongga M selaku Kepala Desa.
Surat P-2 Surat Keberatan yang ditandatangani oleh Roberth Pariakan selaku Pimpinan Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan bertanggal 27 April 2019, yang ditujukan kepada Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, beserta lembaran penerimaan surat yang dterima atas nama Johanis.
Surat P-3 Surat Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat bertanggal 4 September 2019.
Surat P-4 Fotokopi Akta Pendirian Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pembutu Keadilan, yang dibuat oleh Notaris Abu Afief Waris, SH . dengan nomor akta : 01 bertanggal 8 Juli 2019.
Surat P-5 Foto copy Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pembutu Keadilan oleh
Putusan KI Sulbar hal-6 Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia dengan nomor AHU-0008885.ah.01.07 tahun 2019, bertanggal 29 Agustus 2019.
Surat P-6 Fotokopi identitas Kartu Tanda Penduduk atas nama Roberth P Nomor KTP 7604043407680001 dengan alamat Lingkungan Pande Bassi, Sulewatang, Polewali.
Keterangan Termohon
[2.13] Menimbang bahwa dalam persidangan pada tanggal 29 Oktober 2019, Termohon menyampaikan keterangan sebagai berikut:
1. Termohon membenarkan telah menerima surat permintaan informasi dari Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan namun tidak diberikan karena Termohon sudah merasa cukup bertindak transparan selama ini dengan mengumumkan rencana anggaran melalui baligho yang dipajang didesanya.
2. Termohon tidak mengetahui adanya surat keberatan dan tidak ada staf desa yang bernama Yohanis.
3. Dalam pengajuan surat permintaan informasi Termohon merasa Pemohon tidak serius karena yang datang meminta informasi adalah anggota dari Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pemburu Keadilan.
4. Terhadap adanya persidangan di Komisi Informasi, Termohon menyerahkan sepenuhnya kepeda kuasa Termohon untuk mengikuti persidangan sampai tuntas dan mengambil langkah yang dianggap perlu.
Surat-Surat Termohon
[2.14] Bahwa Pemohon telah mengajukan surat-surat sebagai berikut :
Surat T-1 Surat Kuasa yang diterbitkan tanggal 24 Oktober 2019, dengan pemberi kuasa Zakaria.SB selaku Kepala Desa Batanguru, Kecamatan Sumarorong, Kabupaten Mamasa, dengan penerima kuasa atas nama Rosi Nurwardani S, STP selaku Kepala Bidang Pemerintahan Desa dan Sarana Prasarana Desa di Dinas
Putusan KI Sulbar hal-7 Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Mamasa dan Harun Nirwandi, S,STP, MM selaku Kepala Seksi Kelembagaan Kerjasama Desa dan Sarana Prasarana di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Mamasa.
3. PERTIMBANGAN HUKUM
[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan sesungguhnya mengenai Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, sebagaimana diatur pasal 35 ayat (1) huruf c, Undang-undang No.14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, selanjutnya disebut UU KIP,juncto pasal 5 huruf b Pasal 13 dan Pasal 36 ayat (1) dan (2) Peraturan Komisi Informasi No.1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, selanjutnya disebut Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP;
[3.2] Menimbang bahwa sebelum memasuki pokok permohonan, berdasarkan pasal 36 ayat (1) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP, Majelis Komisioner terlebih dahulu akan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
1. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat untuk memeriksa dan menjatuhkan putusan terhadap permohonan a quo ;
2. Kedudukan hukum atau legal standing Pemohon sebagai yang mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi Publik ;
3. Kedudukan hukum atau legal standing Termohon sebagai Badan Publik dalam sengketa informasi publik ;
4. Batas waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik.
Bahwa terhadap keempat hal tersebut, Majelis Komisioner mempertimbangkan dan memberikan pendapat sebagai berikut :
A. Kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat
[3.3] Menimbang bahwa Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki dua kewenangan yaitu Kewenangan Absolut dan Kewenangan Relatif.
Putusan KI Sulbar hal-8 Kewenangan Absolut
[3.4] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 4 UU KIP yang menyatakan : Komisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang ini dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi.
[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 5 UU KIP, juncto Pasal 1 angka 3 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan : Sengketa Informasi Publik adalah sengketa yang terjadi antara badan publik dan pengguna informasi publik yang berkaitan dengan hak memperoleh dan menggunakan informasi berdasarkan perundang-undangan.
[3.6] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan : Pasal 22 UU KIP :
Ayat (1)
Setiap Pemohon Informasi Publik dapat mengajukan permintaan untuk memperoleh Informasi Publik kepada badan Publik terkait secara tertulis atau tidak tertulis.
Ayat (7)
Paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permintaan, Badan Publik menyampaikan pemberitahuan tertulis yang berisikan :
a. informasi yang diminta berada di bawah penguasaannya ataupun tidak;
b. Badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui keberadaan informasi yang diminta;
c. penerimaan atau penolakan permintaan dengan alasan yang tercantum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17;
d. dalam hal permintaan diterima seluruhnya atau sebagian dicantumkan materi informasi yang akan diberikan;
Putusan KI Sulbar hal-9 e. dalam hal suatu dokumen mengandung materi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, maka informasi yang dikecualikan tersebut dapat dihitamkan dengan disertai alasan dan materinya;
f. alat penyampai dan format informasi yang akan diberikan; dan/atau g. biaya serta cara pembayaran untuk memperoleh informasi yang
diminta.
Ayat (8)
Badan Publik yang bersangkutan dapat memperpanjang waktu untuk mengirimkan pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), paling lambat 7 (tujuh) hari kerja berikutnya dengan memberikan alasan secara tertulis.
Pasal 26 ayat (1) UU KIP
Komisi Informasi bertugas menerima, memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi yang diajukan oleh setiap Pemohon Informasi Publik berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Pasal 38 ayat (1) UU KIP
Komisi Informasi Pusat dan Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota harus mulai mengupayakan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
[3.7] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan : Penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Komisi Informasi dapat ditempuh apabila:
a. pemohon tidak puas terhadap tanggapan atas keberatan yang diberikan oleh atasan PPID; atau
Putusan KI Sulbar hal-10 b. pemohon tidak mendapatkan tanggapan atas keberatan yang telah diajukan kepada atasan PPID dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak keberatan diterima oleh atasan PPID.
[3.8] Menimbang bahwa berdasarkan keterangan Pemohon dalam persidangan yang telah menempuh mekanisme untuk memperoleh informasi dan mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik sebagai berikut :
a. pemohon telah mengajukan permohonan informasi publik sebagaimana telah diuraikan dalam duduk perkara;
b. pemohon telah menempuh upaya keberatan kepada Termohon sebagaimana telah diuraikan dalam duduk perkara;
c. pemohon tidak mendapat tanggapan atau jawaban dari Termohon sebagaimana diuraikan dalam duduk perkara; dan
d. pemohon telah mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik kepada Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat sebagaimana telah diuraikan dalam duduk perkara.
[3.9] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [3.4] sampai paragraf [3.8], Majelis berpendapat bahwa sengketa a quo berada dalam kompetensi absolut Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat dan oleh sebab itu memiliki kewenangan untuk menyelesaikan sengketa a quo.
Kewenangan Relatif
[3.10] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 27 ayat (3) UU KIP menyatakan : Kewenangan Komisi Informasi provinsi meliputi kewenangan penyelesaian sengketa yang menyangkut Badan Publik tingkat provinsi yang bersangkutan.
[3.11] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (4) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan : Dalam hal Komisi Informasi Kabupaten/Kota belum terbentuk, kewenangan menyelesaikan Sengketa Informasi Publik yang
Putusan KI Sulbar hal-11 menyangkut Badan Publik tingkat kabupaten/kota dilaksanakan oleh Komisi Informasi Provinsi.
[3.12] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 3 UU KIP yang menyatakan : Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, atau organisasi nonpemerintah sepanjang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri.
[3.13] Menimbang bahwa pada bagian penjelasan Pasal 6 ayat (3) Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP menyatakan: Yang dimaksud dengan Badan Publik kabupaten/kota adalah Badan Publik yang lingkup kerjanya mencakup kabupaten/kota setempat atau lembaga tingkat kabupaten/kota dari suatu lembaga yang hierarkis. Contoh: Pemerintah Kabupaten/Kota, DPRD kabupaten/kota, Pengadilan tingkat pertama, Komando Distrik Militer, BUMD tingkat kabupaten/kota, Partai Politik tingkat kabupaten/kota, organisasi non pemerintah tingkat kabupaten/kota, RSUD tingkat kabupaten/kota, atau lembaga tingkat kabupaten/kota lainnya.
[3.14] Menimbang bahwa berdasarkan Undang-undang No 6 Tahun 2014 tentang Desa , dinyatakan bahwa :
Pasal 1
Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui
Putusan KI Sulbar hal-12 dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pasal 5
Desa berkedudukan di wilayah Kabupaten/Kota.
Pasal 23
Pemerintahan Desa diselenggarakan oleh Pemerintah Desa.
Pasal 25
Pemerintah Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan yang dibantu oleh perangkat Desa atau yang disebut dengan nama lain.
Pasal 26 ayat 1
Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.
Pasal 27
Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, Kepala Desa wajib Menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintahan Desa setiap akhir tahun anggaran kepada Bupati/Walikota;
Pasal 72
(1) Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari:
a. pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli Desa;
b. alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
c. bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota;
d. alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota;
Putusan KI Sulbar hal-13 e. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;
f. hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan g. lain-lain pendapatan Desa yang sah.
[3.15] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah No 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa :
Pasal 48 huruf a
Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak dan kewajibannya, kepala Desa wajib menyampaikan laporan penyelenggaraan Pemerintah Desa setiap akhir tahun anggaran kepada bupati/walikota.
Pasal 96
(1) Pemerintah daerah kabupaten/kota mengalokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota ADD setiap tahun anggaran.
(2) ADD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah setelah dikurangi dana alokasi khusus.
(3) Pengalokasian ADD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempertimbangkan:
a. kebutuhan penghasilan tetap kepala Desa dan perangkat Desa;
dan
b. jumlah penduduk Desa, angka kemiskinan Desa, luas wilayah Desa, dan tingkat kesulitan geografis Desa.
[3.16] Menimbang bahwa berdasarkan Peraturan Komisi Informasi Informasi Nomor 1 Tahun 2008 tentang Standar Layanan Informasi Publik Desa :
Putusan KI Sulbar hal-14 Pasal 1 angka 3
Badan Publik Desa adalah Pemerintah Desa, Badan Permusyawaratan Desa, Badan Usaha Milik Desa dan Badan Kerjasama Antar Desa.
[3.17] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraph [3.10] sampai dengan paragrap [3.16], Majelis berpendapat bahwa Termohon adalah Badan Publik Desa;
[3.18] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [3.10] sampai paragraf [3.16], Majelis berpendapat Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat memiliki kewenangan relatif untuk menerima, memeriksa dan memutus sengketa a quo.
B. Kedudukan Hukum / Legal Standing Pemohon
[3.19] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan : Pasal 1 angka 12 UU KIP
Pemohon Informasi Publik adalah warga negara dan/atau badan hukum Indonesia yang mengajukan permintaan informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Pasal 1 angka 7 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP
Pemohon Penyelesaian Sengketa Informasi Publik yang selanjutnya disebut Pemohon adalah Pemohon atau Pengguna Informasi Publik yang mengajukan Permohonan kepada Komisi Informasi.
Pasal 11 ayat (1) huruf a Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP
Pemohon wajib menyertakan dokumen kelengkapan Permohonan sebagai berikut:
a. identitas Pemohon yang sah, yaitu:
1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk, Paspor atau identitas lain yang sah yang dapat membuktikan Pemohon adalah warga negara Indonesia; atau
2. Anggaran dasar yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan telah tercatat di Berita Negara Republik Indonesia dalam hal Pemohon adalah Badan Hukum.
Putusan KI Sulbar hal-15 3. Surat kuasa dan fotokopi Kartu Tanda Penduduk pemberi kuasa
dalam hal Pemohon mewakili kelompok orang.
b. permohonan informasi kepada Badan Publik, yaitu:
1. Surat permohonan, formulir permohonan, tanda terima atau tanda pemberian/pengajuan permohonan informasi; dan/atau
2. Surat pemberitahuan tertulis dari Badan Publik atas permohonan informasi;
c. keberatan kepada Badan Publik, yaitu:
1. Surat tanggapan tertulis atas keberatan Pemohon oleh atasan PPID;
atau
2. Surat pengajuan keberatan disertai tanda pemberian/pengajuan, tanda pengiriman atau tanda terima; dan
3. dokumen lainnya, bila dipandang perlu.
[3.20] Menimbang bahwa Pemohon dalam permohonan penyelesaian sengketa informasi publik telah didaftarkan pada kepaniteraan Komisi Informasi Sulawesi Barat telah melampirkan dokumen sebagai berikut :
a. Fotokopi Akta Pendirian Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pembutu Keadilan, yang dibuat oleh Notaris Abu Afief Waris, SH . dengan nomor akta : 01 bertanggal 8 Juli 2019. Vide Bukti [P-4];
b. foto copy Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Lembaga Swadaya Masyarakat Lintas Pembutu Keadilan oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia dengan nomor AHU- 0008885.ah.01.07 tahun 2019, bertanggal 29 Agustus 2019. Vide Bukti [P-5]; dan
c. Fotokopi identitas Kartu Tanda Penduduk atas nama Roberth P Nomor KTP 7604043407680001 dengan alamat Lingkungan Pande Bassi, Sulewatang, Polewali. Vide Bukti [P-6].
[3.21] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan pada Pasal 11 ayat (1) huruf a angka 2 Perki No. 1 tahun 2013 tentang PPSIP telah menegaskan Pemohon wajib menyertakan dokumen kelengkapan Permohonan berupa identitas Pemohon yang
Putusan KI Sulbar hal-16 sah yaitu : Anggaran dasar yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan telah tercatat di Berita Negara Republik Indonesia dalam hal Pemohon adalah Badan Hukum.
[3.22] Menimbang bahwa Pemohon merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat sebagaimana keterangan dipersidangan, didukung dengan Vide bukti [P-4], Vide bukti [P-5] dan Vide bukti [P-6], sehingga syarat-syarat formil Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi dari Pemohon telah sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (1) huruf a angka 2 Perki No 1 Tahun 2013 tentang PPSIP.
[3.23] Menimbang bahwa berdasarkan uraian paragraf [3.19] sampai dengan paragraf [3.22], Majelis Komisioner berpendapat bahwa Pemohon memenuhi syarat kedudukan hukum atau legal standing sebagai Pemohon Penyelesaian Sengketa Informasi Publik dalam sengketa a quo.
C. Kedudukan Hukum / Legal Standing Termohon
[3.24] Menimbang bahwa kedudukan hukum Termohon dalam sengketa a quo telah diuraikan dan dipertimbangkan pada bagian kewenangan Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat paragraf [3.10] sampai dengan [3.18], maka pertimbangan tersebut juga berlaku secara mutatis mutandis dalam menguraikan dan mempertimbangkan kedudukan hukum Termohon.
[3.25] Menimbang berdasarkan paragraf [3.24], Majelis Komisioner berpendapat bahwa Termohon memenuhi syarat kedudukan hukum atau legal standing sebagai Termohon penyelesaian sengketa informasi publik dalam sengketa a quo.
D. Batas Waktu Pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi [3.26] Menimbang fakta persidangan yang telah diuraikan pada paragraf [2.2]
sampai paragraf [2.6] mengenai kronologi proses penyelesaian sengketa informasi mulai dari permohonan informasi, keberatan dan pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi di Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat.
[3.27] Menimbang bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan :
Putusan KI Sulbar hal-17 Pasal 22 ayat (7) UU KIP
Paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak diterimanya permintaan, Badan Publik yang bersangkutan wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis yang berisikan : a. informasi yang diminta berada di bawah penguasaannya ataupun tidak;
b. badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui keberadaan informasi yang diminta;
c. badan Publik wajib memberitahukan Badan Publik yang menguasai informasi yang diminta apabila informasi yang diminta tidak berada di bawah penguasaannya dan Badan Publik yang menerima permintaan mengetahui keberadaan informasi yang diminta;
d. penerimaan atau penolakan permintaan dengan alasan yang tercantum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
e. dalam hal permintaan diterima seluruhnya atau sebagian dicantumkan materi informasi yang akan diberikan;
f. dalam hal suatu dokumen mengandung materi yang dikecualikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17, maka informasi yang dikecualikan tersebut dapat dihitamkan dengan disertai alasan dan materinya;
g. alat penyampaian dan format informasi yang akan diberikan; dan/atau h. biaya serta cara pembayaran untuk memperoleh informasi yang diminta.
Pasal 35 ayat (1) UU KIP
Setiap Pemohon Informasi Publik dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada atasan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi berdasarkan alasan berikut :
a. penolakan atas permintaan informasi berdasarkan alasan pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17;
b. tidak disediakannya informasi berkala sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9;
c. tidak ditanggapinya permintaan informasi;
d. permintaan informasi tidak ditanggapi sebagaimana yang diminta;
e. tidak dipenuhinya permintaan informasi;
Putusan KI Sulbar hal-18 f. pengenaan biaya yang tidak wajar; dan/atau
g. penyampaian informasi yang melebihi waktu yang diatur dalam undang- undang ini
Pasal 36 ayat (1) UU KIP
Keberatan diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja setelah ditemukannya alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1).
Pasal 36 ayat (2) UU KIP
Atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) memberikan tanggapan atas keberatan yang diajukan oleh Pemohon Informasi Publik dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya keberatan secara tertulis.
Pasal 37 ayat (2) UU KIP
Upaya penyelesaian Sengketa Informasi Publik diajukan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterimanya tanggapan tertulis dari atasan pejabat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (2).
Pasal 13 huruf a Perki No. 1 Tahun 2013 tentang PPSIP
Permohonan diajukan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak tanggapan tertulis atas keberatan dari atasan PPID diterima oleh Pemohon.
[3.28] Menimbang bahwa pada persidangan, Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat melebihi jangka waktu pengajuan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi sebagaimana yang ditetapkan dalam UU KIP dan Perki No. 1 Tahun 2013.
Seharusnya Pemohon mengajukan Permohonan Penyelesaian Sengketa Informasi dalam jangka waktu 14 hari kerja setelah ditemukannya alasan untuk itu, dalam hal ini setelah melewati waktu 30 hari kerja bagi Termohon untuk menanggapi/menjawab keberatan Pemohon. Batas waktu kesempatan Termohon menanggapi keberatan Pemohon terhitung dari rentang waktu penerimaan keberatan yakni tanggal 10 Mei 2019, hingga berakhirnya 30 hari kerja bagi Termohon menanggapi keberatan Pemohon yaitu tanggal 19 juni
Putusan KI Sulbar hal-19 2019.Permohonan PSI yang diajukan Pemohon seharusnya di terima Panitera dari range waktu 19 juni 2019 hingga 9 juli 2019, yakni 14 hari kerja setelah berakhirnya kesempatan Termohon menanggapi keberatan Pemohon pada tanggal 19 Juni 2019. Pada faktanya Pemohon baru mengajukan permohonan penyelesaian sengketa informasi ke Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat pada tanggal 4 September 2019. Olehnya itu Majelis berkesimpulan bahwa waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi yang ditempuh Pemohon yakni dari range waktu 20 Juni 2019 hingga tanggal 4 September 2019 dilakukan selama 55 hari kerja, melebihi 41 hari kerja dari 14 hari kerja dari yang diatur dalam UU KIP juncto Perki Nomor 1 Tahun 2013.
[3.29] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [3.26] sampai dengan uraian pada paragraf [3.28], Majelis berpendapat bahwa permohonan a quo daluwarsa dalam hal waktu pengajuan Permohonan PSI sehingga tidak memenuhi ketentuan jangka waktu sebagaimana diatur oleh UU KIP dan Perki No. 1 Tahun 2013.
[3.30] Menimbang ketentuan Pasal 36ayat(2)Perki No. 1 Tahun 2013, mengatur;
Dalam hal permohonan tidak memenuhi salah satu ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),Majelis Komisioner dapat menjatuhkan putusan sela untuk menerima ataupun menolak permohonan.
[3.31] Menimbang bahwa terhadap perkara a quo, Majelis tidak melanjutkan proses persidangan ke tahapan pokok perkara dengan alasan tidak terpenuhinya jangka waktu sebagaimana diuraikan pada paragraf [3.28] sehingga Majelis Komisioner memutuskan untuk melakukan putusan sela.
4. KESIMPULAN
[4.1] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pada paragraf [3.28] Majelis Komisioner berkesimpulan :
1. Komisi Informasi Provinsi Sulawesi Barat berwenang untuk menerima, memeriksa dan memutus permohonan a quo.
Putusan KI Sulbar hal-20 2. Pemohon memiliki kedudukan hukum atau legal standing untuk
mengajukan permohonan dalam sengketa a quo.
3. Termohon memiliki kedudukan hukum atau legal standing sebagai Termohon dalam sengketa a quo.
4. Batas waktu pengajuan permohonan penyelesaian sengketa informasi publik tidak memenuhi jangka waktu yang telah ditentukan oleh Undang- Undang Keterbukaan Informasi PublikNo. 14 Tahun 2008 dan Peraturan Komisi Informasi No. 1 Tahun 2013.
5. AMAR PUTUSAN
[5.1] Menyatakan bahwa Permohonan Pemohon tidak dapat diterima.
Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Majelis Komisioner yaitu Rahmat selaku Ketua, Andry Pramono dan Dulhaj Muchtar Mahmud, masing- masing sebagai anggota, pada hari Selasa, tanggal 12 November 2019 dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari yang sama oleh Majelis Komisioner yang nama-namanya tersebut di atas dengan didampingi oleh Hj.Rosdiana.B, sebagai Panitera Pengganti, dengan tanpa dihadiri oleh Pemohon dan Termohon.
Putusan KI Sulbar hal-21 KETUA MAJELIS
ttd (RAHMAT)
ANGGOTA MAJELIS ttd
(ANDRY PRAMONO)
ANGGOTA MAJELIS ttd
(DULHAJ MUCHTAR MAHMUD)
PANITERA PENGGANTI ttd
(Hj.ROSDIANA.B)
Untuk salinan Putusan ini sah dan sesuai dengan aslinya, diumumkan kepada masyarakat berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan ketentuan pasal 59 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik.
Dikeluarkan di Mamuju
Pada Tanggal : 14 November 2019
PANITERA
DARMAWATI JUSUF