• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK. Kata kunci: Metode Orang Tua Mendidik Remaja Dalam Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRAK. Kata kunci: Metode Orang Tua Mendidik Remaja Dalam Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

v

TAPI SELO KEC. LINTAU BUO UTARA KABUPATEN TANAH DATAR” Jurusan Tarbiyah dan Ilmu keguruan IAIN Bukittinggi pada tahun ajaran 2018/2019.

Latar belakang peneliti melakukan penelitian ini bertitik tolak dari permasalahan yang ditemui dilokasi penelitian yaitu masih kurangnya perhatian orang tua dalam mendidik remaja, rendahnya pengetahuan orang tua dalam mendidik anak remaja dan keterbatasan waktu orang tua dalam mendidik anak remaja. Sedangkan tujuan penelitian ini sendiri adalah berusaha mendeskripsikan metode mendidik remaja dalam keluarga di Jorong Limau Manis Kenagarian Tepi Selo Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar.

Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakaan penelitian lapangan (Field research), yang bersifat deskriptif kualitatif, yang berlokasi di Jorong Limau Manis Kenagarian Tepi Selo Kecamatan Lintau Buo Utara.

Dengan orang tua yang memiliki anak remaja sebagai informan kunci dan remaja yang masih berusia sekolah sebagai informan pendukung , sedangkan alat pengumpulan data yang penulis gunakan adalah observasi dan wawancara. Serta teknik pengolahan datanya yaitu dengan reduksi data, display data dan editing.

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan terhadap orang tua dan remaja di Jorong Limau Manis, Kenagarian Tepi Selo Kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar, dapat diambil kesimpulan bahwa, metode mendidik remaja dalam keluarga sudah terlaksana, seperti memberikan teladan, memberikan pengawasan, pembiasaan, hukuman motivasi serta pengawasan. Namun metode orang tua yang sudah terlaksana tersebut masih belum maksimal diterapkan kepada anak. Orang tua masih kurang menyadari bagaimana pentingnya metode yang mereka berikan bagi anak-anaknya dalam mendidik anak remaja. Sehingga masih banyak anak remaja yang bersekolah yang sering berprilaku menyimpang. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan agama, keterbatasan waktu serta kesibukan orang tua dalam memenuhi kebutuhan anak.

Kata kunci: Metode Orang Tua Mendidik Remaja Dalam Melaksanakan Ibadah Puasa Ramadhan

(3)

Segala puji dan syukur peneliti ucapankan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan Taufik dan Hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam peneliti ucapkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam yang telah meninggalkan dua pedoman hidup menuju jalan yang diridhai Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.

Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat dan prosedur untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan Strata Satu dalam jurusan Pendidikan Agama Islam. Dalam penulisan skripsi ini peneliti banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, sehingga skripsi ini dapat selesai tepat pada waktunya. Oleh karena itu peneliti ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua Ayahanda tersayang Sudirman dan Ibunda tercinta Nurbaiti yang selalu memotivasi penulis dan selalu memberi semangat dalam keadaan suka maupun duka, yang tidak pernah lelah memberikan kasih sayang dan dukungan baik moril maupun materil serta perjuangan yang tak kenal lelah untuk masa depan dan kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan baik.

selanjutnya peneliti sampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Rektor IAIN Bukittinggi D.r Ridha Ahida, M.Hum dan wakil Rektor IAIN Bukittinggi Asyari, S.Ag, MSI, Novi Hendri, M.Ag, Dra. Hj. Nuraisyah, M.Ag. Dekan Dr.Zulfani Sesmiarti,M,Pd. dan

(4)

fasilitas kepada peneliti untuk menambah ilmu pengetahuan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

2. Bapak Dr. Nunu Burhanudin, Lc, MA dan Ibu Hayati, S.S. MA sebagai pembimbing skripsi peneliti, yang telah mengarahkan, membimbing, dan mengoreksi, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai kaidah ilmiah yang berlaku.

3. Bapak Dr. Nunu Burhanudin, Lc, MA sebagai penasehat akademik penulis yang telah membina penulis belajar selama belajar dan menuntut ilmu di IAIN Bukittinggi

4. Bapak dan Ibu Dosen serta karyawan dan karyawati IAIN Bukittinggi yang telah membekali peneliti dengan berbagai pengetahuan.

5. Bapak dan Ibu pimpinan serta karyawan dan karyawati perpustakaan IAIN Bukittinggi yang telah menyediakan fasilitas kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak wali nagari Tepi Selo M. Natsir Dt. Sangpahlawan dan Bapak Idris selaku Wali Jorong yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan observasi dan penelitian di Jorong Limau Manis 7. Serta ucapan terimakasih kepada sahabat penulis yang selalu

memberikan semangat di saat keputus-asaan datang, serta yang selalu

(5)

semangat dalam penyelesaian skripsi ini dan ucapan terima kasih kepada teman seperjuangan.

8. Serta ucapan terima kasih penulis untuk kakak dan adik penulis Siska, Popi Saputra, Petmawati dan Silvia Putri yang selalu memberikan semangat dan dukungan kepada penulis.

9. Masyarakat Jorong Limau Manis, terutama orang tua dan remaja yang telah bersedia meluangkan waktunya bagi penulis untuk melakukan wawancara.

Bukittinggi, Juli 2019 Penulis

EKI FITRIANTI NIM. 2114.169

(6)

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR LAMPIRAN... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Batasan Masalah ... 9

D. Rumusan Masalah ... 9

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 10

F. Penjelasan Judul ... 10

G. Sistimatika Penulisan ... 12

BAB II LANDASAN TEORITIS A. Remaja ... 13

1. Pengertian Remaja ... 13

2. Perkembangan Remaja... 17

3. Kepribadian Remaja... 21

B. Metode Mendidik Remaja ... 24

1. Pengertian Metode ... 24

2. Metode Mendidik Remaja... 26

3. Kendala Oleh Orang Tua Dalam Mendidik Remaja... 33

(7)

3. Faktor Keluarga Terhadap Perkembangan Anak ... 48

4. Tanggung Jawab Keluarga Terhadap Pendidikan ... 53

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 55

B. Lokasi Penelitian ... 56

C. Informan Penelitian ... 56

D. Teknik Pengumpulan Data... 58

E. Teknik Analisi Data... 60

F. Teknik Triangulasi Data ... 61

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Temuan Umum ... 62

1. Sejarah Nagari Tepi Selo ... 62

2. Kondisi Geografis dan Topografis Nagari ... 63

3. Jumlah Penduduk ... 64

4. Mata Pencaharian Penduduk... 65

5. Sarana dan Prasarana ... 67

6. Program Sosial Jorong Limau Manis... 68

(8)

a. Metode Keteladanan……….69

b. Metode Pembiasaan………..…74

c. Metode Hukuman……….76

d. Metode Motivasi………...78

e. Metode Pengawasan……….81

2. Kendala-Kendala yang Dihadapi Orang Tua Mendidik Remaja Dalam Keluarga a. Rendahnya Pengetahuan Agama Orang Tua……….…83

b. Keterbatasan Waktu……….….85

c. Kesibukan dalam Memenuhi Kebutuhan Ekonomi……….….87

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN... 89

B. SARAN ... 90 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(9)
(10)

1

Di dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tegaskan bahwa, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Adapun tujuan pendidikan ialah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai, serta menanamkan takwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.

Dasar untuk semua itu adalah firman Allah dalam Qs Al- An’am ayat 162 :





















Artinya: “Sesungguhnya sholatku, Ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Pendidik ( Pengasuh ) sekalian alam ”.

Jadi, tujuan akhir pendidikan Islam adalah membina manusia agar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara individual

(11)

maupun sebagai umat seluruhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam jika diringkas adalah mendidik manusia agar menjadi hamba Allah.1

Kedudukan pendidik dalam pendidikan adalah salah satu dari tiang utama terlaksananya pendidikan, tidak akan terjadi proses pendidikan tanpa adanya pendidik.2 Pendidik yaitu orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik. Dalam pendidikan Islam, Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik kompotensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotorik (karsa).3

Seorang pendidik harus memperlihatkan bahwa ia mampu mandiri, tidak bergantung kepada orang lain. Ia harus mampu membentuk dirinya sendiri. Dia bukan hanya bertanggung jawab terhadap anak didik, namun dituntut pula bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Begitu pula orang tua mereka juga seorang pendidik, orang tua memiliki peran penting dalam mendidik anak dan orang tua di berikan tanggung jawab dalam mendidik anaknya. Karena orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian, bentuk pertma dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.

Pada umumnya pendidikan dalam keluarga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan

1Http://kelembagaan.ristekdikti.go.id/wp.content/upload/2016/08/UU No 20 Tahun 2003.

2Haidar Putra Daulay, Pendidikan dalam Perspektif Filsafat, (Jakarta: Penamedia group, 2014), hal. 99

3Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2017), cet. ke 3, hal. 83

(12)

mendidik,melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu berwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.4

Orang tua turut berperan dalam pembentukan nilai, terutama dengan uraian dan keterangan mengenai keyakinan dalam agama yang dianutnya. Orang tua dapat membantu remaja dengan mengemukakan peranan agama dalam kehidupan masa dewasa, sehingga penyadaran ini dapat memberi arti yang baru pada keyakinan agama yang telah diperolehnya.

Keluarga memegang peranan penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya, terutama orang tua, yaitu ibu dan ayah.Sejak seorang anak lahir, ibunya selalu ada disampingnya. Bahkan, sejak dalam kandungan pun pendidikan harus mulai diberikan oleh orang tua, terutama ibunya, yaitu melalui metode pengikutsertaan anak. Demikian pula Islam memerintahkan agar para orang tua berlaku sebagai kepala dan pimpinan dalam keluarganya serta berkewajiban untuk memelihara keluarganya dari apai neraka,sebagaimana firman AllahSWT dalam surat At-Tahrim ( 66 ) ayat 6 :

4Aat syafaat,dkk, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja,… hal.62-63

(13)















































Artinya: “Hai orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah, terhadap apa yang di perintahkan Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.5

Tanggung jawab pendidikan yang perlu disandarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain sebagai berikut:

1. Memelihara dan membesarkannya. Tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan, karena memerlukan makanan, minuman, dan perawatan agar ia dapat hidup secara berkelajutan.

2. Melindungi dan menjamin kesehatanya, baik secara jasmaniah dan maupun rohaniah, dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan diri.

3. Mendidik dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga telah dewasa, ia mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain (hablun minan nas) serta melaksanakan kekhalifahannya.

5Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam,… hal. 83-86

(14)

4. Membahagiankan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim.Tanggung jawab ini di kategorikan juga tanggung jawab kepada Allah.

Dari hubungan dan tanggung jawab orang tua terhadap anak, maka tanggung jawab pendidikan itu pada dasarnya tidak bisa dipkulkan kepada orang lain, sebab guru dan pemimpin umat, umpamanya, dalam memikul tanggumg jawab pendidikannya hanyalah merupakan keikutsertaan.

Orang tua mendapat amanah untuk membesarkan dan mendidik anak akan diuji seberapa jauh ia dapat sesuai dengan sabar dan bertanggung jawab dalam mengemban amanah tersebut. Pertanggung jawaban itu tidak sekedar menyakut masa kini, tetapi melibatkan juga masa depannya. Oleh sebab itu, dimata orang tua, sang anak tidak saja tampil dalam kedudukanya sebagai anak pada umumnya, melaikan sebagai anak dari orang tua. Artinya, sebagai anak yang kehidupan dan peranya langsung melibatkan dan bergantung kepada orang tua yang bersangkutan yang harus dididik, dibimbing, dirawat, dan diarahkan agar kelak dapat melaksanakn tugas dan pola hidup sebagai manusia dewasa.

Pendidikan Islam yang diselenggarakan dalam lingkungan keluarga merupakan bimbingan dan pertolongan oleh orang tua kepada anaknya.

Yang diberikan secara sadar sesui dengan perkembangan jasmani (fisik) dan rohanianya (psikis) kearah kedewasaan yang sempurna. Dalam

(15)

mencari nilai-nilai hidupnya, anak diarahkan untuk dibimbing sepenuhnya oleh orang tua. Sebab, menurut ajaran islam saat anak dilahirkan berada dalam keadaan lemah dan suci (fitrah), sebagaimana sabda rasulullah SAW, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

ِﮫِﻧاَﺮﱢﺼَﻨُﯾ ْوَأ ِﮫِﻧﺎَﺴﱢﺠَﻤُﯾ ْوَأ ِﮫِﻧاَدﱢﻮَﮭُﯾ ُهاَﻮَﺑَﺄَﻓ ،ِةَﺮْﻄِﻔْﻟا ﻰَﻠَﻋ ُﺪَﻟْﻮُﯾ ٍدْﻮُﻟْﻮَﻣ ﱡﻞُﻛ

Artinya: “Anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang dapat menjadikanya Yahudi, Nasrani, atau Majusi’’ (H.R

Tirmidzi dalam Abdulla Nasih Ulwan,1995:49)

Seluruh uraian mengenai tanggung jawab orang tua dan para pendidik dalam pendidkan islam merupakan kajian aksiologis dalam pendidikan Karena fungsi dari orang tua dan para pendidik adalah menentukan masa depan generasi penerus agama, bangsa, dan negara.6

Tindakan dan sikap orang tua seperti menerima anak, mencintai anak, mendorong dan membantu anak aktif dalam kehidupan bersama, agar anak memiliki nilai hidup jasmani, nilai estetis, nilai kebenaran, moral dan nilai religius (keagamaan), serta bertindak sesuai dengan nilai- nilai tersebut, merupakan perwujudan dan peran mereka sebagai Pendidik.7 Dengan demikian keluarga merupakan salah satu lembaga yang mengemban tugas dan tanggung jawab dalam pencapaian tujuan pendidikan umum.

6Beni Ahmad Saebani,Ilmu Pendidikan Islam,(Bandung:Pustaka Setia , 2012), cet ke2, hal 218-219

7Hasbullah, Dasar- dasar Ilmu Pendidikan,… hal. 17-22

(16)

Berdasarkan observasi awal yang penulis lakukan pada tanggal 25 Juli 2018 di Jorong Limau Manis, Kecamatan Lintau Buo terlihat bahwa kurang rasa hormat remaja kepada orang tua, banyak remaja yang putus sekolah karena keadaan ekonomi, kemudian orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga mengabaikan pendidikan anak mereka dan begitu juga hasil wawancara dengan salah satu orang tua bernama Yenita di Jorong Limau Manis Kecamatan Lintau Buo mengatakan bahwa anaknya sering tidak mendengarkan perkatan orang tua bahkan melawan padanya kemudian rasa hormat anak kepada orang tua kurang.

Orang tua kurang menyadari bahwa pendidikan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Karena bagaimanapun anak tetap butuh pendidikan, perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Kita sering melihat orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan pada akhirnya mereka tidak mempunyai waktu untuk berkumpul mempunyai kesempatan untuk berbagi cerita kepada orang tua mereka. Bahkan ketika di dalam keluarga terdapat permasalahan, sering kali anak yang menjadi korban dari masalah tersebut. Ketika hubungan dalam keluarga tidak harmonis anak akan merasa bahwa keluarga tidak lagi merupakan tempat yang nyaman dan aman, sehingga anak akan cendrung mencari tempat pelarian yang menurutnya bisa memberikan rasa aman dan nyaman.

Berdasarkan data jorong limau manis Kenagarian Tapi Selo Kecamatan Lintau Buo, bahwa sahnya anak remaja yang berumur 13-20 tahun yang masih bersekolah terdiri dari:

(17)

Remaja yang masih sekolah

No Laki-laki Perempuan Jumlah

1 8 12 20

Sumber: Wawancara dengan jorong

Di Jorong Limau Manis Kenagarian Tapi Selo telah menyerahkan anaknya ke lingkungan sekolah, adapun tujuan orang tua menyekolahkan anaknya kesekolah tentu orang tua menginginkan anaknya menjadi anak berbakti dan patuh serta menjalankan syariat pendidikan islam. Ini lah yang kurang disadari oleh para orang tua. Mereka sepenuhnya memberikan pendidikan anak mereka ke sekolah. Karena tanpa mereka sadar, mereka juga mempunyai kewajiban dalam hal mendidik anak-anak.

Pendidikan tidak sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Karena bagaimana pun anak butuh pendidikan, perhatian dan kasih sayang dari orang tua.kita sering melihat orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjannya dan pada akhirnya mereka sangat jarang mempunyai waktu untuk berkumpul dan memperhatikan perkembangn anak-anaknya, sehingga anak tidak mempunyai waktu untuk curhat atau berbagi cerita kepada orang tua mereka. ketika orang tua mereka sering terlibat pertengkaran bahkan yang lebih parah yaitu percerain.

Berdasarkan latar belakang inilah peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Metode Mendidik remaja dalam kelurga di Jorong Limau Manis Kenagarian Tapi Selo Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar.

(18)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis mengidentifikasikan beberapa masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini, sebagai berikut:

1. Banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga mengabaikan pendidikan anak mereka

2. Kurangnya rasa hormat remaja terhadap orang tua 3. Banyak remaja yang berhenti sekolah

4. Metode yang digunakan keluarga tidak bervariasi C. Batasan Masalah

Agar tidak terjadi penyimpangan dan kesalahan dalam pembahasan penelitian ini, berdasarkan latar belakang masalah dan identifiksi masalah maka penulis perlu memberikan batasan masalah, yaitu metode mendidik remaja dalam keluarga di Jorong Limau Manis Kenagarian Tapi Selo Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah diatas maka dapat dirumuskan Permasalahan yang akan diteliti yaitu Bagaimana metode yang digunakan keluarga dalam mendidik remaja di Jorong Limau Manis Kenagarian Tapi Selo Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar.

E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Peneltian

(19)

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini untuk mendeskripsikan Metode Mendidik remaja dalam keluarga di Jorong Limau Manis Kenagarian Tapi Selo Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar.

2. Kegunaan Penelitian

a. Secara ilmiah, penulisan proposal ini untuk mempertajam kematangan, keilmuan, serta kemampuan untuk melahirkan sebuah karya ilmiah.

b. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat, terutama orang tua dalam cara mendidik anak remajanya

c. Menyadarkan kembali kewajiban orang tua alam rangka mendidik remaja, melinduungi dan mendampingi remaja dalam anggota keluraganya, di tengah-tengah kesibukan yang dikerjakanya.

F. Penjelasan Judul

Untuk menghindari adanya kekeliruan dalam memahami dan membaca proposal ini, akan di jelaskan istilah yang terdapat dalam judul proposal ini, diantaranya:

Metode : Dalam bahasa Arab, Metode disebut tariqah, artinya jalan, secara sistem atau ketertiban dalam mengerjakan sesuatu atau suatu cara kerja yang sistematik dan umum terutama dalam mencari kebenaran

(20)

ilmiah.8 Metode yang penulis maksud adalah suatu cara yang dilakukan oleh orang tua dalam mendidik remaja dalam keluarga.

Mendidik: Yaitu memberi atau melaksanakan pendidikan dalam arti pengg9unaan pengaruh dengan berbagai cara kepada anak dalam pertumbuhan dan perkembangan kea rah yang lebih dewasa. Jadi mendidik yang penulis maksud adalah cara keluarga mendidik remaja dalam keluarga.10

Keluarga: Merupakan kelompok sosial yang memiliki karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja sama ekonomi dan terjadi proses reproduksi . Keluarga yang penulis maksud disini adalah kedua orang tua.

Remaja: Masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa, atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa. Remaja yang penulis maksud disini adalah remaja yang berusia 12-18 tahun.11 Remaja juga bisa dikatakan sebagai usia transisi seorang indidu setelah ia meninggalkan masa anak-anak penuh dengan ketergantungan, tetapi ia juga belum mampu ke usia sendiri terhadap lingkungan masyarakat.12

G. Sistematika Penulisan

8 M.Arifin,Ilmu Pendidikan Islam,Suatu tinjauan teoritis dan praktis berdasarkan pendidikan interdispliner,(Jakarta:Bumi Aksara,1996), cet ke-4 hal 61

9Sri Lestari, Psikologi Keluarga,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group,(2012), cet ke- 1ha.l 3

10Saliman, Kamus Pendidikan dan Pengajaran dan umum,(Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal.143-144

11Aat Syafaat, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja, (Jakarta: PT Rajagrafindo, 2008), hal 87

12Agus susanto,psikologi perkembangan,(Jakarta: Rineka Cipta, 1996.), hal 163.

(21)

Bab.I : Pendahuluan yang berisikan, latar belakang masalah, identifikasih masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, penjelasan judul, dan sistematika penulisan.

Bab.II : Merupakan landasan teoritis yang berkaitan dengan Pengertian metode , metode mendidik remaja, kendala-kendala yang dihadapi orang tua dalam mendidik remaja. Pengertian remaja,perkembangan remaja,kepribadian remaja. Pengertian keluarga, peran dan fungsi keluarga, faktor keluarga terhadap perkembangan anak,tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan

Bab.III: Merupakan metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, lokasi penelitian, informan penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data,teknik keabsahan data.

Bab. IV: Hasil penelitian yang meliputi orang tua dalam mendidik dan kendala-kendala yang dihadapi oleh orang tua dalam mendidik remaja didalam keluarga

Bab.V :Penutup yang terdiri kesimpulan dan saran-saran

(22)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. REMAJA

1. Pengertian Remaja

Remaja berasal dari kata latin Adolecere (Kata bendanya Adolescentia) yang berarti remaja, yaitu “Tumbuh dan tumbuh dewasa’’ dan bukan kanak-kanak lagi. Remaja menurut Zakiah Dradjat adalah tahap peralihan dari masa kanak-kanak, tidak lagi anak-anak, tetapi belum dipandang dewasa. Masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kanak-kanak menuju dewasa, atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak- kanak sebelum mencapai masa dewasa.13

Kebanyakan ahli mengemukakan pembagian masa antara 12 dan 16 tahun adalah masa pubertas sedangkan masa 16 dan 20 tahun adalah masa muda.14 Atau peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa.15 Bukan hanya dalam artian psikologis tetapi juga fisik.16

13Aat Syafaat dkk, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja,… hal. 87

14Laden Marpaung, Kejahatan Terhadap Kesusilaan dan Masalah prevensinya, (Jakarta:

Sinar Grafika, 2008), hal. 86

15 Sri Rumini dan Siti Sundari, Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hal. 54

16 Sarlito Wirawan Saewono, Psikologi Remaja, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2012 ), cet-ke 12, hal. 62

(23)

Secara Psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak-anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak, Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa.17

Termasuk juga perubahan Intelektual yang mencolok, Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkanya untuk mencapai Integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataanya merupakan ciri khas yang paling umum dari periode perkembangan ini.18

Ada pun pengertian remaja menurut para ahli adalah:

a. Papalia dan Olds

Masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan.

b. Debrun

17Siti Sundari, Perkembangan Anak Dan Remaja, (Jakarta :PT. Rineka Cipta, 2004) hal.

53

18Listiwidayanti, Psikologi Perkembangan, ( Jakarta: Erlangga 1980), hal. 186

(24)

Remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak- kanak dan dewasa.

c. Anna frued

Pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan Psikoseksual dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.19

Penggunaan istilah remaja ada juga yang disebut dengan istilah puberty (Inggris), Puberteit (Belanda), Puberts (Latin), yang berarti kedewasaan yang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian. Ada pula yang menggunakan istilah Adulescentio (latin) yaitu masa muda, Masa remaja adalah masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki masa dewasa.20.

Terlepas dari kesulitan untuk merumuskan defenisi dan batas akhir masa remaja, namun dewasa ini istilah Andolesen atau remaja telah digunakan secara luas untuk menunjukkan suatu tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa, yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik yang umum serta perkembangan kognitif dan sosial, batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun.

19 Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, ( Jakarta: Prenamedia Group, 2011), hal.

219-220

20Sri Rumini dan Siti Sundari, Perkembangan Anak dan Remaja,… hal. 53-54

(25)

Rentang waktu usia ini biasanya dibedakan atas tiga yaitu : 12-15 tahun = masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan, dan 18-21 tahun masa remaja akhir .

Tetapi, Monks Knours, dan Hadianto membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu:

a. Masa pra remaja atau Pra pubertas (10-12 tahun) b. Masa remaja awal atau Pubertas (12-15 tahun) c. Masa remaja Pertengahan (15-18 tahun) d. Masa remaja akhir (18-21 tahun).21

Dalam ajaran agama Islam istilah remaja tidak dikenal secara khusus, karena memang belum jelas penjelasanya, begitu juga batasan usia remaja, yang dikenal adalah baliqh, Pertumbuhan akal merupakan hal yang abstrak dan berproses sejalan dengan perkembangan waktu sampai batas kesempurnaan dan kekurangan akal.

Dalam rentang umurnya yang panjang, manusia sejak dalam kandungan sampai dengan usia lanjut dapat dibagi dalam empat kelompok umur, yaitu kanak-kanak, remaja, dewasa dan tua.

Remaja adalah tahapan umur yang datang setelah masa kanak- kanak berakhir ditandai dengan pertumbuhan fisik yang cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu membawa akibat

21 Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hal.

190

(26)

yang tidak sedikit terhadap sikap prilaku, kesehatan serta kepribadian remaja.22

2. Perkembangan Remaja a. Perkembangan fisik

Masa remaja merupakan salah satu diantara dua masa rentangan kehidupan, dimana terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat. Masa pertama terjadi pada masa prenatal dan bayi23. Perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris, dan keterampilan motorik. Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, serta kematangan organ-organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh anak-anak ke orang dewasa yang cirinya ialah kematangan.

Perubahan fisik otak strukturnya semakin sempurna untuk meningkatkan kemampuan kognitif.24

Perubahan-perubahan fisik merupakan gejala primer dalam pertumbuhan masa remaja, yang berdampak terhadap perubahan- perubahan psikologis. Pada mulanya tanda-tanda dari perubahan fisik dari masa remaja terjadi dalam konteks Pubertas, kematangan organ-organ seks dan kemampuan reproduktif bertumbuh dengan cepat baik anak laki-laki ataupun anak perempuan mengalami

22Aat Syafaat dkk, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja,… hal. 91

23 Aat Syafaat dkk, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam mencegah kenakalan Remaja,… hal. 103

24Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan,… hal. 231

(27)

pertumbuhan fisik yang cepat, yang disebut growth spurt (percepatan pertumbuhan) dimana terjadi perubahan dan percepatan pertumbuhan diseluruh anggota bagian dan dimensi badan.

Pertumbuhan cepat anak perempuan terjadi 2 tahun lebih awal dari anak laki-laki. Umumnya anak perempuan mulai mengalami pertumbuhan cepat pada usia 10.5 tahun dan anak laki- laki pada usia 12.5 tahun. Bagi kedua jenis kelamin, pertumbuhan cepat ini berlangsung selama kira-kira 2 tahun.25Pertumbuhan fisik pada remaja jelas terlihat pada tungkai, tulang kaki dan tangan, otot-otot tubuh berkembang pesat sehingga anak kelihatan bertumbuh tinggi.26

b. Perkembangan Kognitif

Menurut piaget seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena prilaku adaptasi secara biologis mereka.

Dalam pandangan piageat remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, dimana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja telah mampu membedakan antara hal –hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide ini. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan apa yang diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara

25Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2006), hal.

190

26Rifa Hidayah, Psikologi Pengasuhan Anak, (Malang: Press, 2009), hal. 43

(28)

berfikir mereka sehingga memunculkan ide-ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berfikir, dan bahasa.27

c. Perkembangan Emosi

Masa remaja merupakan puncak emosional, yaitu perkembangan emosi yang tinggi, pertumbuhan fisik, terutama organ-organ seksual mempengaruhi perkembangan emosi atau perasaan dan dorongan baru yang dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta, rindu dan keinginan untuk berkenalan dengan lawan jenis.28

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjer. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru. Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun sebagian remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri dari pola prilaku baru dan harapan sosial yang baru.

Meskipun emosi masa remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan prilaku emosional, jadi

27Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan,… hal. 231

28 Aat Syafaat dkk, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja,… hal. 103

(29)

adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang berakhirnya awal masa remaja. Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya dengan cara gerakan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau bicara, atau dengan suara keras mengkritik orang-orang yang membuatnya marah.29 d. Perkembangan Moral

Moral merupakan suatu kebutuhan penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman untuk menemukan identitas dirinya, mengembangkan hubungan personal yang harmonis, dan menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi pada masa transisi, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakanya atas penilaian baik buruknya sesuatu.30

Pada masa ini muncul dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain.

Remaja berprilaku bukan hanya untuk memenuhi kepuasan fisiknya, tetapi juga psikologinya.

e. Perkembangan Kepribadian dan Sosial

Perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan kepribadian yang

29 Elizabeth B Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta: Erlangga, 1999), hal. 212- 213

30Desmita, Psikologi perkembangan,… hal. 206

(30)

penting pada masa remaja adalah ialah pencarian identitas diri, pencarian identitas diri adalah proses menjadi seseorang menjadi unik dengan peran yang penting dalam hidup.

Perkembangan sosial pada remaja lebih melibatkan kelompok sebayanya dibanding orang tua, dibandingkan dengan masa anak -anak, remaja lebih menghabiskan waktunya diluar rumah, seperti kegiatan sekolah, ekstrakurikuler, dan bermain dengan teman, dengan demikian peran kelompok teman sebaya sangatlah besar, kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan bersikap yang berkaitan dengan gaya hidup, bagi remaja teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus.31

Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial, Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluaga dan sekolah.32

3. Kepribadian Remaja

Menurut hakikatnya kepribadian itu berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, di dalam perkembangan itu terdapat pola-pola tetap dan khas sehinggga merupakan ciri khas yang yang

31Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan,… hal. 234

32Elizabeth B Hurlock, Psikologi perkembangan,… hal. 213

(31)

unik bagi setiap remaja, menurut Ngalim Purwanto, perkembangan kepribadian remaja dapat digolongkan sebagai berikut:

a. Faktor Biologis

Faktor ini berhubungan dengan keadaan jasmani, atau disebut dengan faktor fisiologis, meliputi pencernaan, peredaran darah, kelenjer-kelenjer, urat saraf dan sebagainya. Setiap anak sejak dilahirkan telah menunjukkan adanya perbedaan di dalam konstitusi tubuh individu itu sangat memengaruhi kepribadian individu. Namun dalam perkembangan dan pembentukan kepribadian selanjutnya, faktor-faktor lain seperti lingkungan dan pendidikan dapat dipungkiri peran dan pengaruhnya.

Faktor sosial yang dimaksud disini adalah masyarakat disekitar individu yang mempengaruhi individu tersebut. Yang termasuk faktor sosial disini adalah tradisi-tradisi, adat istiadat, dan peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat.33

Sejak lahir anak sudah mulai bergaul dengan orang sekitarnya. Pertama-tama keluarganya, terutama dengan ayah dan ibunya kemudian dengan anggota lainya seperti kakak dan adik.

Perkembangan anak pada masa bayi, peranan ayah dan ibu sangat penting dan sangat menentukan bagi kepribadian anak tersebut selanjutnya.

b. Faktor Kebudayaan

33Baharuddin, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Media Group, 2010 ), hal. 224

(32)

Diketahui bahwa kebudayaan itu tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Dapat pula mengenal kebudayaan tiap daerah dan negara yang berlainan. Di Negara kita sendiri dapat di ketahui bahwa cara hidup, adat istiadat, Kebiasaan-kebiasaan, bahasa, kepercayaan dari masyarakat suatu daerah atau masyarakat di daerah lainya.34

Kebutuhan akan bimbingan. Ini berarti orang tua harus menerima bakat dan kemampuan yang ada pada anak, Tetapi tetap dengan tertumpuh pada asas pokok, yaitu harus menerima anak apa adanya. Supaya kemampuannya berkembang, orang tua harus menciptakan ruang lingkup yang menggairahkan dan merasang.

Kemanpuan anak harus dikembangkan, bukan cita-cita orang tua dipaksakan kepada anak. Jelas bahwa bimbingan harus tegas, namun dengan sabar dan pengertian. Juga bimbingan harus didasarkan atas kepercayaan kepada anak, bukan atas kecurigaan.

Jadi bimbingan dari orang tua harus selalu menyesuikan diri dengan keadaan nyata si anak.

Kebutuhan untuk diakui. Artinya, orang tua harus menghargai pribadi seorang anak. Anak berhak dan memohon didekati penuh respek. Jelaslah bahwa anak pun mempunyai hak asasi dirumah, dikeluarga, disekolah. Hal konkret yang seing

34Muhibbin, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 52

(33)

dilupakan ialah bahwa dari pada memberi perintah orang tua dapat mengajukan permintaan.

B. METODE MENDIDIK REMAJA 1. Pengertian Metode

Metode atau metoda berasal dari bahasa Yunani, yaitu metha dan hodos. Metha berarti melewati dan hodos berarti jalan atau cara.

Metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bahasa Arab, metode disebut thariqah.35 Metode adalah cara yang di tempuh untuk mencapai tujuan secara singkat dan umum, metode sering dipahami sebagai cara atau jalan yang ditempuh oleh seseorang dalam melakukan suatu kegiatan36

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak.37 Mereka pendidik bagi anak-anaknya secara kodrat, mereka diberikan anugerah oleh pencipta berupa naluri orang tua. Karena naluri itulah timbulnya rasa kasih sayang dari orang tua kepada anak-anaknya, sehingga mereka merasa terbeban tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi, melindungi serta membimbing keturunan mereka.38

35Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2017 ), hal. 180

36 Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2000), hal. 24

37 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008 ), hal. 37

38Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003 ), cet-ke 7, hal. 216

(34)

Lembaga pendidikan keluarga menempatkan ibu dan bapak sebagai pendidik kodrati, hubungan kekeluargaan yang dekat dan didasari oleh kasih sayang serta perasaan tulus ikhlas merupakan faktor utama bagi para orang tua dalam membimbing anak- anaknya.39 Orang tua adalah ayah dan ibu dan orang yang dianggap tua (cerdik, pandai, ahli dan sebagainya.40

Orang Tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak- anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam lingkungan keluarga. Kedudukan ibu dan bapak dalam pendidikan di lingkungan keluarga sangat menentukan masa depan anaknya.41 Orang tua atau keluarga bukan hanya merupakan lingkungan pertama sejak kita dilahirkan, tetapi juga merupakan lingkungan paling lama untuk setiap anak tinggal.42

Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengarauh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, Ibunyalah yang selalu disampingnya dan peranan ayah nya juga sangat besar dimata anak-anaknya, di mata sang anak, ayah adalah seseorang yang tertinggi gengsinya dan terpandai diantara

39Hamdani, Dasar-Dasar Kependidikan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), hal. 56

40 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008), hal. 987

41Samsul Muni Amin, Menyiapkan Masa Depan Anak secara Islami, (Jakarta: Amzah, 2007) hal. 18

42Hartono dan Arnicun Aziz, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung :PT Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 131

(35)

orang-orang yang dikenalnya.43Jadi metode orang tua dalam mendidik anak adalah suatu cara yang dilakukan oleh orang tua agar pendidikan yang diberikan kepada anak dan dapat berpengaruh terhadap anak.

2. Metode Mendidik Remaja a. Metode Keteladanan

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang paling berpengaruh bagi anak. Anak pertama kali melihat, mendengar, dan bersosialisasi dengan orang tuanya, ini berarti bahwa ucapan dan perbuatan orang tua akan dicontoh anak- anaknya. Dalam hal ini Pendidik menjadi contoh terbaik dalam pandangan anak. Apa-apa yang menjadi prilaku orang tua akan ditirunya.

Jika orang tua sebagai Pendidik berprilaku jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama , rajin menuntut ilmu, bertanggung jawab, maka anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, cerdas, pemberani, dan mampu menjauhkkan diri dari perbuatan-perbuaatan yang dilarang Agama, namun jika Pendidik suka berbohong, khianat, durhaka, kikir penakut, hidup dalam kehinaan, maka anak tumbuh dalam

43Zakiah Dradjat, d kk, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Akasara, 2009), hal. 35

(36)

kebohongan, suka khianat, kikir, penakut da hidup dalam kehianaan.44

Keteladanan dalam pendidikan adalah cara yang paling efektif dan berhasil dalam mempersiapkan anak dari segi akhlak, membentuk mental dan sosialnya. Hal itu dikarenakan pendidik adalah panutan atau idola dalam pandangan anak dan contoh yang baik dimata anak. Anak akan mengikuti tingkah laku pendidiknya.

Keteladanan menjadi faktor yang sangat berpengaruh pada baik buruknya anak. Jika pendidik adalah seorang yang jujur dan terpercaya, maka anakpun akan tumbuh dalam kejujuran dan sikap amanah. Namun jika pendidik adalah seorang yang pendusta dan khianat maka anak juga akan tumbuh dalam kebiasaan ynag dusta dan tidak bisa dipercaya. Mudah bagi pendidik untuk memberikan satu pelajaran kepada anak, namun sangat sulit bagi anak untuk mengikutinya ketika ia melihat orang yang memberikan pelajaran tersebut tidak mempraktekkanya.45

b. Metode Pembiasaan

Pembiasaan merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengaplikasikan perilaku-perilaku yang belum pernah atau dilaksanakan menjadi sering dilaksanakan hingga pada akhirnya menjadi kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan yang baik seperti

44 Helmawati , Pendidik Sebagai Model, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016), hal.

179

45Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, (Depok: Fathan Prima Media, 2016), Cet ke 1 hal. 603

(37)

beribadah keepada Allah yang selalu dilaksanakan dalam keluarga akan menjadi kebiasaan pula bagi anak. Dengan pembiasaan beribadah dalam keluarga, anak akan rajin melaksanakan ibadah seperti halnya sholat, mengaji dan juga puasa. Orang tua yang terbiasa mengucapkan salam dan membiasakan pada anaknya tentu akan membentuk anak untuk terbiasa untuk mengucapkan salam.

Kebiasan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, karena ia menghemat banyak sekali kekuatan manusia.sudah menjadi yang sudah melekat dan spontan agar kekuatan itu dapat dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan dilapangan lain seperti untuk bekerja, memproduksi dan memciptakan. Tetapi, disamping itu, kebiasan juga merupakan faktor penghalang, terutama apabila tidak ada pergerakannya dan merubah menjadi kelambanan yang memperlemah dan mengurangi reaksi jiwa.46

Islam mempergunakan kebiasan itu sebagai salah satu teknik pendidikan lalu mengubah seluruh sifat baik menjadi kebiasan, sehingga siswa dapat menunaikan kebiasaan, tanpa terlalu payah tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan.47

Begitu juga orang tua yang hobi membaca dan mengajarkan anak untuk membaca. Orang tua yang membiasakan bergotong

46Aat Syafaat, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam mencegah kenakalan Remaja, (Jakarta:Rajawali Pers, 2008), cet-1. hal. 44

(38)

royong dalam menjaga kebersihan rumah akan menularkan kebiasaan tersebut bagi anak-anaknya. Sebab tidak diperhatikan dan diarahkan orang tua, anak yang tidak dibiasakan untuk makan dengan tangan kanan atau bahkan dengan tangan kirinya. Orang tua yang biasa melakukan kekerasan kepada anak akan menjadikan anaknya berprilaku kasar kepada orang lain. Kebiasaan baik yang dilakukan dalam lingkungan keluarga yang dicontohkan orang tua lama kelamaan akan menjadi kebiasaan yang baik pula bagi anak- anaknya, sedangkan kebiasaan buruk yang dilakukan oleh orang tua yang tidak shalat, atau yang tidak puasa. Maka tentunya anaknya akan banyak yang tidak sholat ataupun yang tidak puasa , begitulah anak-anak, akan melihat bahwa orang tua merupakan figur ideal bagi mereka. Maka segala kebiasaan mulai dari ucapan, tindakan atau tingkah laku orang tua selalu akan ditirunya dan menjadi kebiasaan mereka pula.48

c. Metode Hukuman

Hukuman merupakan metode terburuk, tetapi dalam situasi tertentu metode ini harus digunakan. Maka dari itu metode ini merupakan alternative terakhir yang dilakukan oleh orang tua untuk memperbaiki kesalahan anak. Janganlah menghukum atau memukul anak sampai si anak menjerit- jerit atau melolong-lolong, yang tentu saja amat sakit karena para ahli sepakat bahwa hukuman

48Helmawati, Pendidik Sebagai Model,… hal. 180-181

(39)

yang kejam akan membuat anak menjadi penakut, rendah diri, pemalas, dan pembohong.

Sebab-sebab diperbolehkanya sanksi antara lain:

a. Bila metode motivasi dan dorongan sudah diupayakan, tetapi tidak membuahkan hasil

b. Bila metode pemberian nasehat sudah dilakukan, tetapi tidak berhasil

c. Bila metode penolakan sudah dijalankan, tetapi tidak juga membuahkan hasil.

d. Bila metode ancaman sudah diterapkan, tetapi tidak berhasil

e. Benar-benar diperkirakan ada dampak positifnya dibalik sanksi pukulan.49

f. Pendidik tidak memukul dalam keadaan marah, karena itu dapat membahayakan bagi anak.

g. Saat memukul, hindari tempat-tempat yang vital, seperti kepala, wajah, dada, perut.

h. Tidak boleh memukul anak sebelum memasuki usia sepuluh tahun

i. Jika anak baru pertama kali melakukan pelanggaran maka berikan Ia kesempatan untuk memperbaiki diri dan meminta maaf dari apa yang telah dilakukanya, sambil

49 Aat Syafaat, Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Kenakalan Remaja,… hal. 47-48

(40)

meminta janjinya untuk tidak melakukanya lagi untuk kedua kalinya.50

d. Metode Motivasi

Manusia memiliki semangat yang terkadang naik turun, sehingga pada saat manusia dalam kondisi semangat nya turun ia perlu dimotivasi. Manusia memiliki potensi yang apabila dimotivasi ia akan menunjukkan kinerja yang lebih. Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya hendaknya memotivasi anak-anak agar berkembanglah seluruh potensi yang dimilikinya

e. Metode Pengawasan

Salah satu peran keluarga adalah tempat kita berlabuh, tempat berlindung, tempat mendapakan kasih sayang dan perhatian. Keluarga juga tempat saling memotivasi atau mendukung sesama anggotanya keberadaan anggota yang lain sebenarnya juga berfungsi sebagai pengawas bagi yang lainya.

Mereka akan rela berbagi dalam suka dan duka serta saling mengoreksi satu sama lain. Mereka akan selalu berada di samping kita, mendukung apapun ynag terjadi itulah keluarga.

Pertumbuhan dan perkembangan anak selalu harus dipantau. Perhatian dan pengawasan yang intens menjadi keniscayaan agar anak menjadi manusia yang manusiawi serta

50Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan anak dalam Islam,… hal. 697-699

(41)

bahagia dunia dan akhirat. Orang tua sebagai pendidik berkewajiban menjaga diri dan anggota keluarganya dari api neraka. Karena itu tumbuh kembang setiap anggota keluarga perlu diperhatikan dan diawasi agar selalu berada di jalan yang baik dan benar sehingga akan terhindar dari api neraka. Pengawasan yang efektif dapat membentengi anak dari pengaruh hal-hal negatif yang mempengaruhi jiwa melarang dari perbuatan jelek yang dapat menjerumuskan pada perbuatan hina.

Banyak orang tuanya bekerja siang dan malam mencari nafkah sehinngga mereka lupa memperhatikan dan mengawasi prilaku anak-anaknya. Akhirnya mereka sadar dan menyesal ketika anak-anaknya sudah terjerumus dalam penggunaan obat-obatan yang terlarang , terjerat kasus hukum, atau terjerumus dalam pergaulan bebas. Materi mungkin merupakan salah satu alat untuk mencapai kebahagiaan, tapi materi atau harta kekayaan yang berlimpah bukanlah segalanya.

Manusia tidak hanya butuh materi, setiap manusia memiliki jiwa, hati dan akal pikiran. Mereka juga membutuhkan perhatian yang tulus, sentuhan kasih sayang, teguran agar menjadi manusia yang lebih baik lagi dan motivasi yang utamanya dapat diperoleh dari keluarga. Pengawasan melekat yang ditujukan terutama pada anak membuat anak berhati-hati dalam setiap tindakan .51

51Helmawati, Pendidik Sebagai Model,… hal. 180-183

(42)

3. Kendala-Kendala yang Dihadapi Oleh Orang Tua Dalam Mendidik Remaja

a. Rendahnya Pengetahuan Agama orang tua

Pengetahuan Agama adalah merupakan salah satu kendala yang sangat menentukan dalam pelaksanaan metode mendidik anak di lingkungan keluarga. Orang tua yang beragama atau taat menjalankan ajaran Agama dan rumah tangga yang dibentuk atas dasar agama, besar kemungkinan akan dapat mendidik anak dengan baik.

b. Keterbatasan waktu

Keterbatasan waktu menjadi kendala bagi orang tua untuk melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perkembangan anak, kalau anak berkembang sendiri tanpa ada pengawasan oleh orang tua maka akan dikhawatirkan akan melakukan hal-hal yang negative.

Kesibukan-kesibukan kerja membuat energi orang tua habis terkuras sehingga tidak ada lagi tersisa untuk bisa beraktivitas bersama anak, seperti bermain atau bercerita, belum lagi kurangnya untuk mentransfer nilai-nilai moral, etika, dan spiritual anak

c. Kesibukan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi

Kesibukan orang tua adalah orang tua yang selalu bekerja di luar rumah dari pagi sampai sore hari. Di zaman individualis seperti sekarang kita menemukan banyak orang tua cenderung bersikap otoriter dalam menentukan waktu untuk bertemu anak-anaknya . Bahkan tidak jarang terjadi bahwa orang tua tidak memiliki waktu lagi

(43)

bercengkrama bagi anak-anaknya, sebab mereka telah merasakan kelelahan dalam memenuhi kebutuhan materi, tetapi pemenuhan kebutuhan materi tidak cukup, karena ada kebutuhan lain ynag tidak ada hubunganya secara langsung dengan materi, yaitu kebutuhan berbagi rasa dan melepaskan rasa rindu kepada mereka setelah seharian di tinggal kerja dan tidak bertemu.52

C. KELUARGA

1. PENGERTIAN KELUARGA

Keluarga itu terdiri dari ayah, ibu beserta anak-anaknya (kelurga inti), ayah dan ibulah yang disebut orang tua.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah orang tua adalah:

a. Orang yang sudah tua b. Ayah Ibu

c. Orang tua, orang yang dianggap tua (pandai, pintar).

Dalam penulisan proposal ini yang dimaksud orang tua adalah ayah dan ibu dari anak-anak hasil pernikahan (orang tua kandung).

Keluarga merupakan institusial yang terpenting yang merupakan inti sosial yang utama, melalui individu individu dalam masyarakat dipersiapkan nilai nilai kebudayaan, kebiasaan, dan tradisinya dipelihara kelanjutannya, dan melaui kebudayaannya juga dia dipindahkan dari generasi ke generasi berikutnya.

52Ferdinan M.Faud, Menjadi Orang Tua Bijaksana, (Yogyakarta: Tugu Publisher, 2005), hal. 83

(44)

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula mengeanl pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dan pendidik adalah terdapat pada kehidupan keluarga.

Keluarga menurut para pendidik merupakan lapangan pendidikan yang pertama,dan pendidikan adalah kedua orang tua.

Orang tua (bapak dan ibu) adalah pendidik kodrati. Mereka pendidik bagi anak-anaknya karena secara kodratibu dan bapak diberikan anugrah oleh Tuhan Pencipta berupa naluri orang tua. Karena naluri ini timbul rasa kasih sayang para orang tua kepada anak-anak mereka, hingga secara moral keduanya merasa terbeban tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi dan melindungi serta membimbing keturunan mereka.

Lingkungan pertama dalam Pendidikan Islam adalah lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga, orang tua menentukan pola pembinaan pertama bagi anak. Pendidikan anak mutlak dilakukan orangtuanya untuk menciptakan keseluruhan pribadi anak yang maksimal. Anak harus mengetahui yang jeni-jenis kebijakan dan keburukan, dapat memilih dan memilahnya sekaligus mengamalkannya. Melalui pendidikan terhadap anak khususnya, orangtua akan terhindar dari bahaya fitnah dan terhindar pula dari bahaya siksa api neraka. Sebagaimana firman Allah dalam surat At- Tharim ayat 6:

(45)















































Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malakait-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintakan.

Lingkungan keluarga diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada anak-anaknya karna anak adalah titipan Allah sebagai amanah yang wajib dijaga perkembanganya. Dalam konsepsi pendidikan Islam, anak-anak bagi keluarga atau orang tua adalah ujian yang berat dari Allah SWT. Pendidikan anak harus diutamakan, mendidik anak harus menggunakan strategi dan kiat-kiat yang dapat diterima oleh akal anak.anggota keluarga yang secara langsung bertugas sebagai pendidikan harus melakukan hal berikut:

1. Menjalankan ibadah dengan taat

2. Ikhlas dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai orang tua atau orang yang dituakan dalam keluarga

3. Memberi contoh keteladanan

(46)

4. Berbicara dengan bahasa yang satun 5. Mendengar pendapat anak-anaknya

6. Mengarahkan dan mengembangkan minat serta bakat anak-anaknya 7. Berpakain yang rapid an sopan agar ditiru oleh anak-anaknya 8. Menghargai waktu, jujur, sederhana, dan hemat.

9. Tidak sewenang-wenang atau pemarah dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, berlaku adil apa adanya

10. Senantiasa memberikan peluang dan kesempatan kepada anak- anaknya mengajukan pendapat

11. Sabar dalam menghadapi kenakalan anak didiknya.

Lingkungan keluarga menjadi tolak ukur keberhasilan anak dalam pendidikan. Terutama orang tua yang memikul tanggung jawab.

Terbesar dalam pendidikan anak sepatutnya mengembangkan potensi dirinya melalui keikutsertaanya dalam acara-acara yang bermanfaat, misalnya pengajian, beroganisasi, dan sebagainya.53

Pendidikan keluarga merupakan pendidik dasar bagi pembentukan jiwa keagamaan. Perkembangan W.H.Clark berjalin dengan unsur- unsure kejiwaan sehingga sulit untuk diidentifikasi secara jelas, karena masalah yang menyakut kejiwaan manusia demikian rumit dan kompleknya. Namun demikian melalui fungsi- fungsi jiwa yang sangat sederhana tersebut, agam terjalin dan terlibat didalamnya. Melalui jalinan unsur-unsur dan tenaga kejiwaan ini

53Hasan basri, Ilmu pendidikan Islam, (Bandung:Pustaka Setia,2010), cet 1, h115-116

(47)

pulalah agama itu berkembang (W.H Clarck:4). Dalam kaitan itu pulalah terlihat peran pendidikan keluarga dalam menanamkan jiwa keagamaan pada anak. Maka tidak mengherankan jika Rasul menekankan tanggung jawab itu pada kedua orang tua.54

Menurut Sudardja Adiwikarta berpendapat bahwa keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia (universe) atau suatu system sosial yang terpancang(terbentuk) dalam sistem sosial yang lebih besar.

Bentuk atau pola keluarga, yaitu 1) Kelurga batin/inti (Nuclear Family), yang terdiri atas suami/ayah, istri/ibu, dan anak- anak yang lahir dari perniakahan antara keduanya dan yang belum berkeluarga (termasuk anak tiri jika ada), 2) Keluarga luas (Extended Family), yang keanggotaannya tidak hanya meliputi suami, istri dan anak- anak yang belum berkeluarga, tetapi juga termasuk kerabat lain yang biasanya tinggal dalam sebuah rumah tangga bersama, seperti mertua (orang tua suami/istri), adik, kakak ipar atau lainnya, bahkan mungkin pembantu rumah tangga atau orang lain yang tinggal menumpang.55

Dari sudut pandang psikologi, keluarga selain mempertanyakan sejauh mana interaksi antar anggota keluarga dapat terlaksana tanpa hambatan, juga sejauh mana suatu kelurga manpu menyesuikan diri dengan perubahan struktur kelurga dan perubahan lingkungan, yang berpengaruh pada keberadaan dan fungsi keluarga. Interaksi antar

54Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2003) cet 7, h 216

55Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja,(Badung:PT : Remaja Rosdakarya, 2008) cet 9,h 36

(48)

keluarga sering menemui hambatan, misalnya apabila tidak ada pemahamn ciri perkembangan anggota keluarga. Misalnya, remaja dengan cirri perkembangan ingin merenggangkan ikatan dengan orang tua untuk melatih kemandiriannya, apabila otang tua tidak memahaminya, orang tua tidak akan memberiakn peluang kepada remaja dan tetap mempertahankan pola relasi yang sangat melindungi dan mengawasi seperti layaknya pada usia kanak-kanak.

Dengan demikian, perlu dipahami ciri perkembangan setiap anggota keluarga, agar interaksi antar anggota keluarga tidak terhambat.

Selain ciri perkembangan, ciri individual pun memengaruhi kelancaran interaksi antar anggota keluarga.

Dalam perubahan yang sangat cepat ini keluarga perlu mempertahankan keberadaannya sebagai tempat berpijak yang aman, agar anggota keluarga dapat bersama-sama menghadapi terpaan dari lingkungannya. Orang tua perlu mendampingi anak dalam mengola informasi, baik dari buku- buku, internet atau televisi, agar anak dapat menyeleksi dan mengola informasi secara benar. Orang tua perlu mempersiapkan anak untuk menghadapi tantangan masa depan yang diwarnai oleh kemajuan teknologi. Artinya, anak perlu dibekali dengan keakuratan, efisiensi dan perencanaan masa depan.

Beberapa tuntutan kepada orang tua untuk menjadi pendidik yang baik bagi para anaknya:

(49)

1. Mencintai dan dicintai adalah kebutuhan paling mendasar manusia.

Ini berarti secara konkret orang tua harus terbuka kepada anaknya untuk mengenalinya. Yang tidak dikenal mustahil dicintai. Jadi, perhatian sejati, bukan perhatian buatan. Perhatian berarti juga orang tua dapat dan harus tegas dan kalau perlu keras.

2. Anak mengharapkan dari orang tua perlindungan hingga meras aman kerasan. Jadi, percaya-mempercayai adalah syarat mutlak menciptakn suasana aman. Suasana keterbuakan yang menberikan kesempatan kepada anak ikut berbagi kebahagian, keberhasilan, namun juga kegagalan dan keperihatinan dari keluarga. Tidak perlu di tandaskan bahwa mustahil diciptakan suasana aman apabila ayah dan ibu bertengkar.

3. Setelah anak menyelesaikan apa yang diminta kepadanya, orang tua harus mengucapakan terimah kasih.

4. Kebutuhan akan disiplin.Anak adalah manusia yang harus di dewasakan. Orang tua sebagai teladan harus orang berdisiplin diri.

Seandainya tidak, mereka mustahil dapat medidik anaknya.Apabila anak melihat ibu dan ayah memang orang yang satu akan disiplin, ia akan menerima bahwa kepadanya dituntut disiplin juga. Bukan disiplin demi disiplin melainkan selalu disiplin sebagai salah syarat mutlak untuk dapat mencintai dan menghargai orang lain.56

2. Peranan dan Fungsi Keluarga

56Kanisius, Sekolah Mngajar Atau Mendidik, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), cet ke-6, hal.. 68-70

(50)

a. Peranan Keluarga

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tuayang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikan merupakan faktor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.

Keluarga juga dipandang sebagai institusi ( lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi). Terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadianya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow, maka kelurga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik- biologis maupun sosio pisikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan dari ( sel-actualization).

Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat tinggi bagi perkembangan emosi para anggotanya. (terutama anak).

Kebahagian ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsi secara baik . Fungsi dasar kelurga adalah memberikan rasa

Gambar

Tabel  jumlah  keseluruhan  penduduk  Nagari  Tepi  Seloberdasarkan jenis kelamin:

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa telah terjadi komunikasi yang aktif antara anak dengan orang tua, dimana orang tua tidak ingin mencampuri urusan anaknya dan

Keluarga merupakan salah satu faktor risiko penyalahgunaan NAPZA pada remaja, dimana orang tua yang kurang memiliki kelekatan dengan anak menjadi faktor penyebab remaja berisiko

Berdasarkan hasil wawancara di atas bahwa telah terjadi komunikasi yang aktif antara anak dengan orang tua, dimana orang tua tidak ingin mencampuri urusan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa orang tua yang memiliki jenis pekerjaan formal dan kurang interaksi dengan anaknya dapat

Berdasarkan hasil wawancara mengenai pola komunikasi orang tua dalam mendidik kesantunan berbahasa anak usia sekolah dasar menunjukan adanya berbagai jenis prinsip

Oleh karena itu peran orang tua dalam mendidik seorang anak apalagi remaja sangat diperlukan penanaman nilai, dan norma yang diberikan sejak dini dapat

Pada penelitian ini pola asuh orang tua yang baik dalam mendidik dan memberikan pola asuh yang baik terhadap anak atau remaja ditujukan pada item soal yang menunjukkan

Tidak bisa dipungkiri banyak orang tua dinegara kita yang semakin hari semakin gagal dalam mendidik anak, karena banyaknya masalah yang dihadapi dari anak-anak di usia remajadalah