1 Oleh:
Abdul Muid
Abstraksi:
Lembaga Pendidikan Taman Pendidikan Al-Quran,(TPQ) Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik Jawa Timur, adalah wadah pendidikan yang dirancang untuk melakukan kajian dan pembinaan pendidikan Al-Qur’an yang diajar oleh beberapa guru yang sudah berpengalaman dan kompeten. Untuk mewujudkan cita- cita Pendalaman nilai-nilai Al-Quran itu perlu dibuatkan wadah yang bernama Taman Pendidikan Al-Qur’an. Sehingga terwujudlah Wadah yang bernama Taman Pendidikan Roudlotul Jannah.Harapan Pengurus TPQ, masyarakat dusun Gantang Baru jangan sampai tidak bisa membaca Al-Qura’an,karena warisan terbaik untuk anak-anak kita adalah mengaji, memahami, dan mampu membaca al-Quran dengan Fasih dan lancar. Adapun Wisata relegi adalah bagian dari strategi untuk menarik minat wali Santri untuk menitipkan anak-anaknya mampu membaca al-Qur’an di TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti.
Kata Kuncinya: Wisata Relegi,Metodologi Pembelajaran, dan TPQ Roudlotul Jannah.
I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada prinsipnya Pendidikan sebagi tempat proses belajar-mengajar
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi Siswa-Santri agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.Karakter religius yang ditampaknya dengan peningkatan spiritualitas menjadi satu kebutuhan rohani yang sangat dibutuhkan oleh manusia modern dan era melenial dewasa ini.
Karakter religius yang ditampaknya dengan peningkatan spiritualitas menjadi satu kebutuhan rohani yang sangat dibutuhkan oleh manusia modern.Saat ini manusia telah memasuki masa kebangkitan kemanusiaan dan peradabannya dimana kemanusiaan seseorang dapat diukur dengan tingkat spiritualitasnya dan bukan dengan fisik spiritualitasnya menjadi sebuah kekuatan yang dominan.1Lebih- lebih masalah-masalah yang senantiasa berdatangan seolah memberikan dampak negatif terhadap kehidupan manusia.Selain itu, spiritualitas seseorang dapat mempengaruhi keadaan jiwanya.
Keadaan jiwa seseorang dapat berubah sesuai dengan keadaan spiritual yang sedang dialami oleh seseorang. Semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang maka dirinya akan cenderung melakukan hal positif yang mengarah pada jalan kebaikan. Banyak cara yang dilakukan untuk membentuk karakter religius dalam diri seseorang; selain memberikan keteladan dan juga melakukan banyak ritual ibadah, atau cara lain yang dimungkinkan bisa meningkatkan karakter religius dalam diri seseorang, yakni wisata religi.
Apalagi menyangkut wisata religi atau yang kadang lebih dikenal sebagai wisata ziarah ataupun wisata spiritual, telah menjadi satu budaya bagi masyarakat muslim Indonesia sebelumnya. Namun sejauh mana proses pembentukannya,
1Muhaimin, paradikma pendidikan Isala, (Bandun:PT Remaja Rosdakarya, 2004), hal 287
maka penulis ini akan mencoba mendeskripsikannya lebih jauh.2
Oleh karena itu, karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan yang terwujud dalam pikiran,perasaan,perbuatannya berdasarkan norma-norma agama, hukum tata krama, budayadan adat. Karena yang melatarbelakangi Landasan Pemikiran dalam mengelola Taman Pendidikan Al-Qur’an Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik adalah memerlukan Strategi untuk menarik minat Wali Murid untuk ikut melestarikan dan mengembangkan TPQ Roudlotul Jannah melalui cara membudayakan wisata Relegi dalam rangka mencapai tujuan Pemahaman, penanaman moralitas Pendidikan Agama Islam dengan strategi cara tersebut.
B. Fokus Penulisan
Agar Penulisan ini dapat di lakukan lenbih fokus, sempurna dan mendalam maka penulis memandang permasalahan Penulisan yang di angkat perlu di verifikasi.
Oleh sebab itu, penulis membatasi diri hanya berkaitan dengan Wisata sebagai bentuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk meningkatkan Religiusitas peserta Siswa-santri di TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik Jawa Timur.
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan Paparan prolog yang dapat kita baca didalam mukaddimah tersebut maka tujuan Penulisan itu dapat dapat kita deskripsikan sebagai berikut :
1). Untuk mengetahui perkembangan aktifitas Siswa-Santri secara langsung dalam kegiatan wisata Religi di TPQ Roudlotul Jannah Gantang
Baru Boboh Menganti Gresik.
2) Untuk mengetahui seberapa tertariknya Siswa-Santri dalam meningkatkan
2Asmaun Sahlan,Mewujudkan Budaya Reigius Di Sekolah, (Malang: UIN Press, 2009), hal. 66
Religiusitas pada kegiatan siswa-santri di TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik.
3). Untuk mengetahui seberapa baik karakter religiusitas Siswa-Santri dalam penerapan metode pembelajaran Wisata Religi di TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik.
D. Kegunaan Penulisan
Hasil Penulisan ini diharapkan bermanfaat untuk kepentingan teoritismaupun kepentingan praktis.
a. Kegunaan teoritis, hasil Penulisan ini diharapkan dapat melengkapi atausebagai sumbangsih pemikiran terhadap khazanah ilmu pengetahuan ilmiah dalam pengetahuan bagaimana mewujudkan budaya religius di TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik.
b. Kegunaan praktis, hasil Penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :
1) Bagi TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik
Hasil Penulisan ini dapat dimanfaatkan olehTPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresiksebagai bahan masukan dan sumbangsih pemikiran untuk tercapainya tujuan pendidikan agamaIslam.
2) Bagi Lembaga Pendidikan TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresikdapat dijadikan sebagai suatu prestasi tersendiri dan sebagai masukan yang konstruktif bagi lembaga tersebut untuk memberikanyang lebih lagi dan menjadikan lebih antusiasnya masyarakat pada lembaga pendidikan di lembaga tersebut.
3) Bagi penulis
Hasil pembahasan Penulisan ini dapat dijadikan sebagaipenambahan wawasan pola fikir dan juga sebagai saranauntukmengaktualisasikan
berbagai macam ilmu pengetahuan serta sebagai salah satu pemenuhan tahap akhir dari persyaratan menyelesaikan tugas akhir.
E. Penegasan Istilah 1. Penegasan Konseptual
Untuk menghindari kesalah pahaman dalam memahami maksud dari Penulisan Journal ini, maka tema tulisan Journal ini dapat ditulis sebagai berikut: “STATEGI PENERAPAN METODOLOGI PEMBELAJARAN PAI DALAM MENINGKATKAN BUDAYA RELIGIUSITAS SISWA- SANTRI DI TPQ ROUDLOTUL JANAH GANTANG BARU-BOBOH-MENGANTI-GRESIK JAWA TIMUR ”, Oleh sebab itu, maka penulis perlu memberikan penegasan dari pokok istilah sebagai berikut :
a.Peran Guru Pendidikan Agama Islam adalah membina, mendidik memberi pengetahuan, membentuk sikap, kepribadian dan ketrampilan Siswa-Santri melalui pendidikan agama Islam.3
b. Budaya Religius adalah sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sukar diubah dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan tumbuh kembangnya kehidupan beragama yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan syari’at agama untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
2. Penegasan Operasional
a. Secara operasional peran guru PAI dalam mewujudkan budayareligius adalah membina dan mendidik Siswa-Santrimelaluipendidikan agama Islam dengan membiasakan sesuatu hal yang akanmembangun kereligiusan siswa-santri. Adapun peran guru dalammewujudkan budaya religius yaitu melalui kegiatan intrakurikulerdan kegiatan ektrakurikuler sebagai strategi dengan prosespelaksanaan menggunakan metode internalisasi dan integrasi PAI kedalam semua mata pelajaran maupun kegiatan.
3Amin Haedari, Pendidikan Agama di Indonesia Gagasan dan Realita, (Jakarta: Pus;itbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2010), hal.1
F. Kerangka Teoritik
Mendidik dan menjadikan Siswa-santri yang religius adalah kedaan yang sngat sulit, akan tetapi dalam menjadika murid yang religius itu dapat di lakukan khususnya di lakukan oleh guru Agama Islam salah satunya di TPQ, karena masing-masing dari Siswa-Santri terlahir di dunia ada yang baik, sedang dan buruk. Namun dalam setiap pada jiwa tentu adanya tuntunan yang khusus dalam penanaman religiusitas yang mendalam.
Dalam sudut pandang yang pernah sudah terlintas pada kebiasaan yg sudah perna saya lakukan dalam berwisata Religi, memang sangatlah penting dan harus dalam kebiasaan dalam mendidik dan secara metode yang harus di terapkan salah satunya dengan metode pembelajaran wisata religi.
G. Prosedur Penulisan
Dalam Penulisan membutuhkan rancangan atau langkah-langkah dalam kegiatan Penulisan.paling tidak ada tiga tahab utama dalam Penulisan yaitu :
1. Tahap dekripsi atau orientasi. Pada tahap ini, Penulis mendeskrepsikan.
Penulis baru mendata sepintas tentang informasi yang di peroleh.
2. Tahap reduksi. Pada tahap ini, Penulis mereduksi segala informasi yang di peroleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu.
3. Tahap seleksi. Pada tahap ini, Penulis menguraikan fokus yang telah di tetapkan menjadi lebib rinci kemudian melakukan analisis secara mendalam tentang fokus masalah.
H. Metode Penulisan
Menurut Gorman dan Claiton dalam buku yang berjudul metode ilmiah metode Penulisan kualitatif menerangkan bahwa riset kualitatif memproses pencarian gambaran data dari konteks kejadiannya langsung, sebagai upaya melukiskan
peristiwa sama dengan kenyataanya, yang berarti membuat sebagai kejadiannya seperti merekat, dan melibatkan Penulis yang partisipatif di dalam berbagai kejadiannya,serta menggunakan penginduksian dalam menjelaskan gambaran yang di amatinya.
1. Jenis dan Pendekatan Penulisan
Dalam Penulisan ini, Penulis menggunakan jenis Penulisan kualitatif, yaitu Penulisan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat di amati. Sejalan dengan definisi tersebut, kirk dan miller mendenifikan bahwa Penulisan kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.
SpesifikasiPenulisan ini adalah Penulisan deskriptif, data yang di kumpulkan umumnya berbentuk kata-kata, gambar-gambar dan kebanyakan bukan angka-angka, Kalaupun ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang.
Data yang di maksud meliputi trasnkip wawancara, catatan dan lapangan, foto-foto dan dokumen pribadi, nota dan catatan lainnya.Deskripsi atau narasitertulis sangat penting dalam pendekatan kualitatif, baik dalam pencatatan.
2. Sumber Data
a. Data Primer
Sumber data primer adalah data yang di peroleh langsung dari subjek Penulisan dengan menggunakan alat pengukur atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang di cari Sumber data primer dari Penulisan ini adalah Mujahidin selalu ketua Majlis Masjid Baiturrahim, Rio selaku ketua penyelenggara kegiatan wisata Religi, tokoh masyarakat seperti Hariono serta tour leader atau pembimbing lainnya yang menentukan metode dakwah melalui kegiata
wisata religi dan juga jama’ah Majelis Ta’lim Maziyatul Ilmi Masjid BaiturrahimGantang Baru Boboh Menganti Gresik.
b. `Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain, tidak langsung di peroleh dari subyek Penulisan. Dalam Penulisan ini, terhadap hal-hal yang berkaitan dengan Penulisan ini. Diantaranya buku-buku, karya ilmiah, jurnal, hasil-hasil pemikiran para ahli yang mengkaji tentang aktifitas dakwah, serta sumber-sumber lain yang ada relevansinya terhadap Penulisan ini.
3. Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi sebagai bahan untuk yang relevan dan obyektif. Dalam Penulisan ini adalah:
a. MetodeObservasi
Pada Penulisan kualitatif, observasi merupakan salah satu teknik mengumpulkan data. Observasi adalah pengumpulan data yang di lakukan dengan cara mengadakan pengamatan dan pencatatan sistematik fenomena- fenomena yang di teliti. 4Metode ini akan dilakukan secara langsung dan mengamati gejal-gejala yang ada kaitannya denga pokok masalah yang di
jumpai di lapangan.
Teknik ini di gunakan untuk mengetahui secara langsung mengenai metode- metode dakwah melalui kegiatan wisata religi yang diselenggarakan TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik.
b. Metode Wawancara (interview)
Wawancara merupakan sebuah percakapan antara dua orang atau lebih, yang pertanyaannya di ajukan oleh Penulis kepada subjek atau sekelompok subjek Penulisan untuk di jawab. Metode ini di lakukan untuk menggali data, alasan, opini, atas sebuah peristiwa, baik yang sudah ataupun yang
4Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach II, (Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM, 1994), hlm. 136
sedang berlangsung.
Metode ini di gunakan penulis untuk melakukan wawancara dengan KepalaTPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik sebagai penanggung jawab dan penyelenggara pengelola wisata religi serta kepada para Siswa-Santri untuk mendapatkan dan menggali data tentang sesuatu yang berkaitan denganpenyelenggaraan wisata religi dan metode dakwah melalui kegiatan wisata religi serta faktor pendukung dan penghambat penyelenggaraan wisata religi yang dilakukan TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik.
c. Dokumentasi
Penggunaan metode dokumentasi tidak kalah penting dengan metode-metode di atas. Dokumentasi yaitu mencari hal-hal atau variable yang berupa catatan traskip, bukti-bukti, surat, majalah, prasasti, notulen, agenda dan sebagainya. Dokumentasi yang dimaksud dalam peneltian ini adalah untuk memperoleh informasi dari dokumen-dokumen atau arsip, foto- foto,termasuk buku-buku tentang pendapat atau teori yang berhubungan dengan masalah Penulis akan diteliti.
d. Metode Angket
Metode angket atau Questioner adalah alat Penulisan berupa
daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden.
Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau menjawab pertanyaan yang diajukan.Metode ini digunakan untuk mengetahui dan memperoleh data tentang Usaha-usaha yang dilakukan kepemimpinan kepala TPQ khususnya dalam memberlakukan guru-guru dalam pelaksanaan pendidikan. Dan angket ini sebagai pernyataan yang ditujukan kepada TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik.
4. Metode Analisis Data
Analisis data menurut Patton adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar.
Bogdan dan Taylor mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema danmerumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide itu.5
Dengan demikian definisi tersebut dapat disimpulkan menjadi: analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dansatuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat ditemukan ide kerja seperti yang disarankan oleh data.
Untukmenemukan hasil Penulisan yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan maka analisis data dalam Penulisan ini akan menggunakan metode analisis deskriptif.
Untukmenemukan hasil Penulisan yang valid dan bisa dipertanggungjawabkan maka analisis data dalam Penulisan ini akan menggunakan metode analisis deskriptif.
Metode deskriptif dimaksudkan untuk mendeskripsikan suatu situasi atau area populasi tertentu yang bersifat faktual secara sistematis dan akurat.6 Kemudian data-data tersebut akan penulisdeskripsikan dengan menggunakan metode berfikir induktif yaituberangkat dari fakta-fakta atau peristiwa yang khusus, ditarikgeneralisasi yang bersifat umum.Metode analisisKualitatif Deskriptif Teknik Induktif disebut juga dengan modelinteraktif, yang terdiri dari beberapa komponen analisis yaitu: reduksidata, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Metode tersebut digunakan penulis untuk mendeskripsikan danmemperoleh informasi mengenai penyelenggaraan wisata religi danmengetahui metode-metode yang digunakan untuk berdakwah yang diselenggarakan jama’ah Majelis Ta’lim Maziyatul Ilmi Masjid Baiturrahim Gantang Baru Boboh Menganti Gresik serta menggunakan analisis SWOT untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan dakwah melalui wisata religi tersebut.
II.KAJIAN SIKAPRELEGIUSITAS TERHADAP PELAKSANAAN KEGIATAN
5Bogdan, Taylor (Moleong,2001), hal. 103.
6Sudarwan Danim, 2002. Hal. 41
DI TPQ ROUDLOTUL JANNAH GANTANG BARU BOBOH MENGANTI.
A. Landasan dan kajian secaraTeoretik Tentang Sikap Religiusitas 1. Pengertian sikap Religius
Mengenai pengertian sikap terdapat beberapa pendapat diantara para ahli.
Menurut kamus Chaplin bahwa sikap adalah suatu predisposisi atau kecenderunganyang relativestabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau untuk bereaksi dengan satu cara tertentu terhadap pribadi lain, objek atau lembaga atau persoalan tertentu.
Menurut M. Ngalim purwanto, Sikap atau attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatau perangsang, suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang terjadi.7 Sikap adalah kecenderungan yang relatif menetap yang beraksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Sikap adalah suatu persiapan bertintak/berbuat dalam suatu arah tertentu. Dibedakan ada dua macam sikap yakni sikap individual dan sikap sosial.
Sikap merupakan sebuah kecenderungan yang menentukan atau suatu kekuatan jiwa yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku yang ditunjukan kearah suatu objek khusus dengan cara tertentu, baik objek itu berupa orang, kelembagaan ataupun masalahbahkan berupa dirinya sendiri.
Dari Kajian hal tersebut dapat dikemukakan bahwa dalam pengertian sikap telah terkandung komponen kognitif dan juga komponen konatif, yaitu sikap merupakan predisposing untuk merespons, untuk berperilaku.
Attitude dapat juga diterjemahkan dengan sikap terhadap obyek tertentu yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan tetapi sikap tersebut disertai dengan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan obyek itu. Jadi, attitude bisa diterjemahkan dengan tepat sebagai sikap dan kesediaan beraksi terhadap suatu hal. Secara umum dalam studi kepustakaan diuraikan bahwa
7Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung:: PT Remaja Rosda Karya , 1990).
sikap sebagai salah satu dimensi yang dapat dijadikan sebagai penilaian dalam pelaksanaan keberagamaan seseorang.
Hanya dengan agama yang menganjurkan pemeliharaan keseimbangan antara dunia dan akhirat, manusia yang mempunyai dua dimensi akan mampu menetapkan pilihannya dan melaksanakan tanggung jawabnya di dunia ini dan di akhirat kelak .
Sedangkan religius, kata dasar dari religius adalah religi yang berasal dari bahasa asing religion sebagai kata bentuk dari kata benda yang berarti agama.
Menurut Jalaluddin, Agama mempunyai arti: Percaya kepada Tuhan atau kekuatan super human atau kekuatan yang di atas dan di sembah sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta, Ekspresi dari kepercayaan di atas berupa amal ibadah, dan suatu keadaan jiwa atau cara hidup yang mencerminkan kecintaan atau kepercayaan terhadap Tuhan, kehendak, sikap dan perilakunya sesuai dengan aturan Tuhan seperti tampak dalam kebiasaan dalam kehidupan.
Jadi dapat diketahui bahwa religius merupakan suatu sikap yang kuat dalam memeluk dan menjalankan ajaran agama serta sebagai cerminan dirinya atas ketaatannya terhadap ajaran agama yang dianutnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sikap religius adalah suatu keadaan diri seseorang dimana setiap melakukan atas aktivitasnya selalu berkaitan dengan agamanya. Dalam hal ini pula dirinya sebagai hamba yang mempercayai Tuhannya berusaha agar dapat merealisasikan atau mempraktekkan setiap ajaran agamanya atas dasar iman yang ada dalam batinnya.
Menurut Gay Hendrick dan Kate Ludeman dalam Ari Ginanjar, terdapat beberapa sikap religius yang tampak dalam diri sesorang dalam menjalankan tugasnya, diantaranya :
a. Kejujuran, rahasia untuk meraih sukses adalah selalu berkata jujur. Mereka menyadari, ketidak jujuran pada akhirnya akan mengakibatkan diri mereka sendiri terjebak dalam kesulitan yang berlarut-larut.
b. Keadilan, salah satu skill seseorang religius adalah mampu bersikap adil kepada semua pihak, bahkan saat dia terdesak sekalipun.
c. Bermanfaat bagi orang lain, hal ini merupakan salah satu bentuk sikap religius yang tampak dari diri seseorang. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain”.
d. Disiplin tinggi, mereka sangatlah disiplin. Kedisiplinan mereka tumbuh dari semangat penuh gairah dan kesadaran, bukan dari keharusan atau keterpaksaan.
e. Keseimbangan, seseorang memiliki sikap religius sangat menjaga keseimbangan hidupnya.30
f. Rendah hati, sikap rendah hati merupakan sikap yang tidak sombong mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak memkasakan kehendaknya.
Untuk mengukur dan melihat bahwa sesuatu itu menunjukkan sikap religius atau tidak, dapat dilihat dari karakteristik sikap religius. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan indikator sikap religius seseorang, yakni :
a. Komitmen terhadap perintah dan larangan Allah b. Bersemangat mengkaji ajaran agama
c. Aktif dalam kegiatan agama
d. Menghargai simbol-simbol keagamaan e. Akrab dengan kitab suci
f. Mempergunakan pendekatan agama dalam menentukan pilihan g. Ajaran agama dijadikan sebagai sumber pengembangan ide
2. Macam-macam Sikap Religius
Sikap berfungsi memotivasi untuk bertingkah laku, baik dalam bentuk tingkah laku nyata (over behavior) maupun tingkah laku tertutup (cover behavior).
Dengan demikian sikap mempengaruhi dua bentuk reaksi seseorang terhadap objek yaitu bentuk nyata dan terselubung.
Karena sikap dieproleh dari hasil belajar atau pengaruh lingkungan, maka bentuk dan sikap remaja dapat dibagi sebagai berikut : a. Percaya turut- turutan, b. Percaya dengan kesadaran, c. Percaya tapi agak ragu-ragu, d. Tidak percaya sama sekali
a. Kepercayaan Turunan
Kebanyakan remaja percaya kepada Tuhan dan menjalankan ajaran agama, karena mereka terdidik dalam lingkungan yang beragama. Oleh karena itu anak yang orang tuanya bergama, teman-temannya dan masyarakat sekelilingnya rajin beribadah, maka mereka ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama, sekedar mengikuti suasana lingkungan dimana dia tinggal, percaya seperti inilah yang dinamakan percaya turut-turutan.
Mereka seolah-olah apatis, tidak ada perhatian untuk meningkatkan agama, dan tidak mau aktif dalam kegiatn-kegiatan beragama.
b. Percaya dengan kesadaran
Selaras dengan jiwa remaja yang berada dalam masa transisi dari anak- anak menuju dewasa, maka kesadaran remaja dalam beragama berada dalam keadaan peralihan dimana kehidupan beragama anak menuju pada masa kemantapan beragama.
Disamping itu remaja mulai menemukan pengalaman dan penghayatan kebutuhan yang bersifat individual dan sukar digambarkan kepada orang lain, seperti pertobatan, keimanan. Hubungan dengan Tuhan disertai dengan kesadaran dan kegiatannya dalam masyarakat makin diwarnai dengan rasa keagamaan.
Mereka ingin menjadikan agama sebagai lapangan baru untuk membuktikan pribadinya.33
c. Percaya tapi agak ragu-ragu (bimbang)
Keraguan dalam kepercayaan remaja terhadap agamanya dapat dikategorikan dalan dua kondisi, yaitu :
1. Keraguan disaat mereka mengalami sebuah goncangan dan terjadi proses perubahan dalam pribadinya yang hal itu dianggap wajar.
2. Keraguan yang dialami setelah masa anak-anak menuju masa remaja saat sudah matang berfikir karena melihat kenyataan yang kontradiksi dengan apa yang dimiliki seperti terdapat penderitaan dan kemelaratan, kemerosotan moral kekacauan karena perkembangan ilmu tehnologi dan budaya yang berkembang.
Keraguan yang dialami oleh remaja bukan hal yang berdiri sendiri tetapi mempunyai psikis mereka dan sekalipun mempunyai hubungan dengan pengalaman dan proses pendidikan yang dilaluimasa kecilnyadan kemampuan mental dalam menghadapi kenyataan masa depan.
3. Pembentukan Sikap Religius
Pembentukan sikap tidak terjadi dengan sendirinya atau terjadi begitu saja.
Seseorang akan menampakkan sikapnya dikarenakan adanya pengaruh dari luar atau lingkungan. Manusia tidak dilahirkan dengan kelengkapan sikap, akan tetapi sikap-sikap itu lahir dan berkembang bersama dengan pengalaman yang diperolehnya.Terbentuknya sikap melalui bermacam-macam cara, antara lain:
a. Melalui pengalaman yang berulang-ulang, pembentukan sikap pada umumnya terjadi melalui pengalaman sejak kecil. Sikap anak terhadap agama dibentuk pertama kali di rumah melalui pengalaman yang didapatkan dari orang tua.
b. Melalui Imitasi, peniruan dapat terjadi tanpa disengaja, dapat pula dengan sengaja. Individu harus mempunyai minat dan rasa kagum terhadap mode, di samping itu diperlukan pula pemahaman dan kemampuan untuk mengenal model yang hendak ditiru.
c. Melalui Sugesti, seseorang membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang jelas, tapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandangannya.
d. Melalui Identifikasi, di sini seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya, meniru dalam hal ini lebih banyak dalam arti berusaha menyamai, identifikasi seperti siswa dengan
guru.
B. Metode Pembentukan Sikap Religius
Pembentukan Sikap Religius dapat dilakukan dengan metode, dimana metode dapat digunakan guru dalam mendidik sikap religius siswa diantaranya adalah :
a. Metode keteladanan ( uswah hasanah )
Metode keteladanan adalah metode influitif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk morel spiritual dan sosial anak. Sejalan dengan pendapat diatas, Achmad Patoni menegaskan sebagai berikut:
Metode Uswah Hasanah besar pengaruhnya dalam misi Pendidikan Islam, bahwa menjadi faktor penentu. Apa yang dilihat dan didengar orang lain dari tingkah laku guru agama,bisa menambah kekuatan daya didiknya, tetapi sebaliknya bisa pula melumpuhkan daya didinya, mana kala yang tampak adalah bertentangan dengan yang didengarnya.Metode Uswah hasanah seperti bersifat modelling. Jauhari, berdasarkan telaahnya membagi metode uswah kedalam dua jenis sebagai berikut : 1. Keteladanan disengaja maksudnya pendidik secara sengaja memberi contoh
yang baik kepada Siswa-Santri supaya dapat menirunya.
2. Keteladanan tidak sengaja maksudnya pendidik tampil sebagai figur yang dapat memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidik dalam hal ini guru harus memposisikan dirinya secara benar baik dalam berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah, dan sebagainya.
Jika guru menghendaki Siswa-Santri untuk bersikap baik, maka menurut metode ini guru harus memulai tidakannya sendiri, sehingga bisa dicontoh Siswa-Santri.
b. Metode pembiasaan.
Metode pembiasaan adalah suatu cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak berfikir, bersikap, bertindak sesuai dengan ajaran agama
Islam. Pebiasaan merupakan sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang- ulang agar sesuatu tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Muchtar menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan metode pembiasaan memerlukan pengertian, kesabaran dan ketelatenan pendidik pada Siswa-Santri.
c. Metode Nasihat
Metode nasihat ini merupakan metode yang paling sering digunakan oleh seorang pendidik. Metode nasihat ini digunakan dalam rangka menanamkan keimanan, mengembangkan kualitas moral meningkatkan spiritual siswa. Metode ini berpijak pada QS. Luqman ayat 13.Yang artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
Dari ayat diatas, Luqman dengan sangat bijak menasihati anaknya, dengan kasih sayang dan kelembutan. Hal ini terlihat dengan cara ia memanggil anaknya. Luqman juga menyisipkan religiusitas, sebagaimana ia jelaskan kepada anaknya mengenai pendidikan tauhid( mengesakan Allah dengan tidak
menyekutukannya).
Muchtar menguraikan hal-hal yang menyebabkan nasihat mudah diterima dan dilakukan oleh orang lain sebagai berikut :
1. Menggunakan bahasa yang sopan dan mudah dipahami.
2. Tidak menyinggung perasaan orang yang dinasihati.
3. Menggunakan bahasa yang sesuai umur, sifat dan tingkat kemampuan anak atau orang yang dinasihati.
4. Memperhatikan saat yang tepat untuk menasihati.
5. Memperhatikan tempat dalam menasihati.
6. Memberikan penjelasan mengenai sebab dan kegunaan pemberian nasihat.
7. Supaya lebih menyentuh hati nuraninya, dianjurkan untuk menngunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadist.
d. Metode memberi perhatian.
Metode memberi perhatian ini berupa pujian. Metode ini bisa diartikan metode yang bisa membuat hati Siswa-Santri merasa senang dan nyaman.40
e. Metode bercerita.
Metode cerita adalah suatu cara mengajar dengan cara meredaksikan kisah untuk menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Allah menceritakan kisah-kisah Nabi dan beberapa peristiwa yang dapat diambil sebagai pelajaran.
f. Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah suatu tehnik penyampaian materi atau bahan pelajaran dengan menggunakan pertanyaan sebagai setimulasi dan jawaban- jawabannya sebagai pengarahan aktivitas belajar.
g. Metode ceramah.
Metode ceramah adalah suatu bentuk penyajian bahan pelajaran yang dilakukan oleh guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa. Peranan siswa dalam hal ini adalah mendengarkan dengan teliti serta mencatat pokok penting yang dikemukakan oleh guru.
h. Metode Karya wisata.
Karya wisata merupakan metode interaksi edukatif. Dengan metode ini, kunjungan yang telah disiapkan oleh sekolah bertujuan untuk pembelajaran semisal penanaman keimanan tentang kekuasaan Allah dalam penciptaan alam semesta, dan lain-lain. Kewajaran penggunaan metode interaksi ini antara lain:
1. Apabila proses belajar mengajar dimaksudkan untuk memberi pengertian yang lebih jelas kepada murid dengan alat peraga langsung atau menamati secara langsung gejala-gejala alam.
2. Apabila akan membangkitkan pengahrgaan dan cinta terhadap lingkungan serta menghargai ciptaan Allah.
3. Apabila proses belajar mengajar dimaksudkan untuk mendorong murid untuk mengenal masalah lingkungan dengan baik.
4. Siswa dapat menjawab masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan dengan melihat, mendengar, mencoba, dan dapat membuktikan secara langsung.
i. Metode reward and punishment.
Metode reward and punishment atau metode penghargaan dan hukuman.
Metode penghargaan merupakan cara untuk memberikan stimulus atau motivasi atau dorongan kepada seseorang untuk melakukan hal tertentu sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Penghargaan yang diberikan dapat berupa pujian, hadiah dan berbagai hal lain yang berfungsi menyenangkan hati seseorang.
Pemberian hukuman merupakan metode pendidikan paling sensitif dan kompleks untuk mengubah perilaku seseorang. Dalam pendidikan, metode hukuman merupakan jalan terakhir setelah metode lainnya ditempuh, itu pun harus dilakukan dengan cara, kadar dan situasi yang tepat.
j. Metode menakut-nakuti
Metode ini dapt digunakan dalam mendidik anak atau masyarakat. Namun ia digunakan bukan untuk mengembangkan potensi, tetapi untuk mencegah jiwa
dari berbagai pelanggaran. Dengan kata lain, metode ini menakut-nakuti merupakan faktor pencegah pelanggaran, dan bukannya faktor pengembang potensi.
Dari pemaparan tersebut, metode ini tidak boleh asal dipakai, tanpa ada range tujuan yang jelas, metode ini digunakan untuk mencegah perbuatan melanggar anak yang berakibat buruk padanya. gambaran tentang neraka kepada anak yang belum tertib mengerjakan shalat fardhu dan lain sebagainya.
5. Faktor-faktor Yang Mendukung dan Menghambat Pembentukan Sikap.
Pembentukan sikap religius dipengaruhi oleh berbagai faktor baik faktor pendukung dan penghambat.
a. Faktor pendukung terbentuknya sikap religius :
1. Faktor yang berasal dari dalam diri (Internal) meliputi:
a. Kebutuhan manusia terhadap agama. Secara kejiwaan manusia memeluk kepercayaan terhadap sesuatu yang menguasai dirinya. Menurut Robert Nuttin, dorongan beragama merupakan salah satu dorongan yang ada dalam diri manusia, yang menuntut untuk dipenuhi sehingga pribadi manusia mendapat kepuasan dan ketenangan, selain itu dorongan beragama juga merupakan kebutuhan insaniyah yang tumbuhnya dari gabungan berbagai faktor penyebab yang bersumber dari rasa keagamaan.
b. Adanya dorongan dalam diri manusia untuk taat, patuh dan mengabdi kepada Allah SWT. Manusia memiliki unsur batin yang cenderung mendorongnya kepada zat yang ghaib, selain itu manusia memiliki potensi beragama yaitu berupa kecenderungan untuk bertauhid.
Faktor ini disebut sebagai fitrah beragama yang dimiliki oleh semua manusia yang merupakan pemberian Tuhan untuk hambaNya agar mempunyai tujuan hidup yang jelas yaitu hidup yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri yakni menyembah (beribadah) kepada Allah.
Melalui fitrahdan tujuan inilah manusia menganut agama yang kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan dalam bentuk sikap religius.
2. Faktor Eksternal (dari luar) meliputi:
a. Lingkungan keluarga. Kehidupan keluarga menjadi fase sosialisasi pertama bagi pembentukan sikap keberagamaan seseorang karena merupakan gambaran kehidupan sebelum mengenal kehidupan luar. Peran orang tua sangat penting dalam mengembangkan kehidupan spiritual.
a. Lingkungan TPQ, TPQ menjadi lanjutan dari pendidikan keluarga dan turut serta memberi pengaruh dalam perkembangan dan pembentukan sikap keberagamaan seseorang. Pengaruh itu terjadi antara lain: Kurikulum dan anak, yaitu hubungan (interaksi) yang terjadi antara kurikulum dengan materi yang dipelajari murid, hubungan guru dengan murid, yaitu bagaimana seorang guru bersikap terhadap muridnya atau sebaliknya yang terjadi selama di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas dan hubungan antara anak, yaitu hubungan antara murid dengan sesama temannya.
Melalui kurikulum yang berisi materi pelajaran, sikap keteladanan guru sebagai pendidik serta pergulatan antar teman TPQ dinilai berperan dalam menanamkan kebiasaan yang baik merupakan bagian dari pembentukan moral yang erat kaitannya dengan perkembangan jiwa keagamaan dan pembentukan sikap.
c. Sarana dan Prasarana, sarana dan prasarana adalah fasilitas yang ada pada suatu lembaga TPQ guna menunjang keberhasilan pendidikan.
Menurut Suharsimi arukunto, sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang digunakan dalam proses belajar mengajar, baik yang tidak bergerak
maupun bergerak sehingga pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien.
b. Faktor Penghambat terbentuknya sikap religius meliputi:
1. Faktor Internal : dalam bukunya, Jalaluddin menjelaskan bahwa penyebab terhambatnya perkembangan sikap keberagamaan yang berasal dari dalam diri (faktor internal) adalah:
a. Tempramen adalah salah satu unsur yang membentuk kepribadian manusia dan dapat tercermin dari kehidupan kejiwaannya.Keraguan. Konflik kejiwaan pada diri seseorang dalam hal keberagamaan akan mempengaruhi sikap seseorang akan agama seperti taat, fanatik atau agnostik sampai pada ateis.
b. Gangguan jiwa. Orang yang mengalami gangguan jiwa akan menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya. Konflik dan c. Jauh dari Tuhan. Orang yang hidupnya jauh dari agama, dirinya akan
merasa lemah dan kehilangan pegangan ketika mendapatkan cobaan dan hal ini dapat berpengaruh terhadap perubahan sikap religius pada dirinya.
d. Kurangnya kesadaran dari siswa. Kurang sadarnya siswa akan mempengaruhi sikap mereka terhadap agama. Pendidikan agama yang diterima siswa dapat mempengaruhi karakter siswa.
Menurut Jalaluddin : Ajaran agama yang kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja, sehingga mereka banyak meninggalkan Fungsi Kerohanian Islam yang sebenarnya adalah forum, mentoring, dakwah, dan berbagai susunan dalam Kerohanian Islam layaknya OSIS, di dalamnya terdapat ketua, wakil, dan lai- lain. Adapun fungsi ekstra kurikuler Kerohanian Islam yang ada di sekolah bisa dirumuskan sebagai berikut :
1. Dapat menundukkan keadaan jiwa seseorang sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pada jiiwa yang resah, yang penuh dengan konflik, keraguan bahkan kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan, keluarga, bahkan dalam melakukan aktifitas yang produktif.
2. Fungsi adanya kegiatan Rohani dapat membantu untuk mengecilkan volume kenakan siswa-santri TPQ Roudlotul Jannah Gantang Baru Menganti Gresik.
6. Fungsi dan Tujuan Kegiatan Ekstra Kurikuler Sie Kerohanian Islam
a. Pembinaan Syakhsiyah Islamiyah Syakhsiyah Islamiyah adalah pribadi- pribadi yang Islami Jadi Kerohanian Islam berfungsi untuk membina muslim teladan menjadi pribadi-pribadi yang unggul, baik dalam kapasitas keilmuannya maupun keimanannya.
b. Pembentukan Maslisut Ta’lim Maziyatul Ilmi.
Maksudnya adalah bahwa Kerohanian Islam dapat berfungsi sebagai ’base camp’ dari siswa-siswi muslim, untuk menjadikan pribadi maupun komunitas yang Islami. Sementara Tujuan pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler Sie Kerohanian Islam, Sebagai suatu ilmu tentu saja bimbingan rohani Islam mempunyai tujuan yang sangat jelas. Secara singkat tujuan bimbingan rohani Islam itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
a. Membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. b.
Memberikan pertolongan kepada setiap individu agar sehat secara
jasmaniah dan rohaniah. c.
Meningkatkan kualitas keimanan, ke-Islaman, keihsanan dan ketauhidan dalam kehidupansehari-hari .
d. Mengantarkan individu mengenal, mencintai dan berjumpa dengan esensi diri dan citra diri serta dzat yang Maha Suci yaitu Allah SWT.
2. Tujuan Khusus
a. Membantu individu agar terhindar dari masalah.
b. Membantu individu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya.
c.Membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.Bagaimanapun tujuan bimbingan rohani Islam adalah untuk menuntun seseorang dalam rangka memelihara dan meningkatkan kualitas keagamaannya baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah.
Setiap anak pada dasarnya mempunyai kebutuhan rohani. Kebutuhan rohani terdapat dalam iman, harapan, dan kasih sayang.
Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa tujuan program kegiatan ekstrakurikuler adalah untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan Siswa-Santri, mengenal hubungan antar berbagai mata pelajaran, menyalurkan bakat dan minat, serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya.
Di sisi lain, pembinaan manusia seutuhnya dalam kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di sekolah maupun di luar sekolah diharapkan mampu mendorong pembinaan sikap dan nilai-nilai dalam rangka penerapan pengetahuan dan kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran dalam kurikulum, baik program inti maupun program non inti. Rohmat Mulyana mengemukakan bahwa inti dari pengembangan kegiatan ekstrakurikuler adalah pengembangan kepribadian Siswa-Santri. Karena itu, profil kepribadian yang matang
dalam rangka untukmencapai tujuan utama dalam kegiatan ekstrakurikuler,sehingga sesuai dengan cita-cita yang diinginkan.
III.PENUTUP A. Simpulan
Berdasarkan paparan di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan dalam tulisan ini sebagai berikut :
1. Adapun untuk membentuk kerelegiusan Siswa-Santri TPQ Rodlotul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti, maka bisa dengan melakukan pendekatan dimana seorang guru harus bisa dan mampu memposisikan dirinya sebagai seorang guru, bertidak sebagai seorang tua, dan kapan guru harus menempatkan diri sebagai teman. Selain itu harus bisa menjadi informan, fasilitator, dan membimbing yang baik, serta mampu memilih strategi ataupun metode yang tepat dam pembelajaran. Adapun strategi guru pendidikan agama Islam dalam mewujudkan budaya religius di TPQ ROUDLOTUL JANNAH Gantang Baru Boboh Menganti Gresik adalah bisa melalui cara sebagai berikut :
a. Kegiatan Intrakulikuler 1 Metode Intrakulikuler a) Pendidikan dengan keteladanan b) Pendidikan dengan nasehat
c) Pendidikan dengan hukuman atau sanksi b. Kegiatan ekstrakulikuler
Untuk itu untuk melakukan strategi yang dilaksanakan dalam membentuk kereligiusan siswa-santri, maka dapat dilakukan konsep sebagai berikut:
a. Mengucapkan salam dan mencium tangan ketika bertemu dengan guru
b. Bertutur kata dan kalimat yang sopan
c. Rajin dalam beribadah (baik sholat wajib maupun sholat sunnah) 1) Sholat dhuha berjama’ah
2) Sholat dzuhur berjama’ah
d. Melaksanakn kegiatan hari besar Islam (PHBI)
e. Melakukan Kajian-Kajian Ke-Islaman dan Melaksanakan Infaq Jum’at 2. Proses pelaksanaan gurupendidikan agama Islam dalam mewujutkan budaya
religius di TPQ ROUDLOTUL JANNAH Gantang Baru Boboh Menganti Gresik:
a. Melalui kegiatan Intrakulikuler
1) Metode internalisai nilai keagamaan
2) Metede integrasi pendidikan agama dalam semua pembelajaran b. Melalui kegiatan ekstrakulikuler
1) Membudayakan beribadah wajib dan sunnah 2) Peringatan hari besar Islam (PHBI)
3) Kajian ke-Islaman dan Melaksanalan infaq Jum’at
3. Penerapan dalam metode wisata religi yang sudah diterapkan oleh Guru TPQ Roudltul Jannah Gantang Baru Boboh Menganti Gresik ini bisa di respon oleh Siswa-Santri dan dapat diterapkan melalui penbelajaran agama sebagai berikut :
a. Siswa-Santri dapat melakukan berdoa pada setiap kegiatan keagamaan b. Saling mengucapkan salam kepada guru khususnya kedua orang tua b. Membiasakan Shalat Berjamaah.
KAJIAN DAFTAR KEPUSTAKAAN
Amin Headari, Pendidikan guna di Indinesia Gagasan dan Realita, Jakarta : Pus ; itbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2010
Amin, Samsul Munir. Menyiapkan Masa Depan Anak Secara Islami. Jakarta:
AMZAH, 2007.
Sutrisno Hadi, Metodologi Reseach II, Yogyakarta ; Fak. Psikologi UGM, 1994.
Bogdan, taylor Moleong
J.P Chaplin, Kamus lengkap Psikologi, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung ; PT Remaja Rosda Karysa.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penulisan Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta, 1998.
Daradjat, Zakiah. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1990.
Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an Dan Terjemahnya. Bandung: CV Penerbit JArt, 2005.
Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Jalaluddin. Psikologi Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012.
Mansur. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.
Rachmat, Relasi dengan Tuhan Character Building III. Noor. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2004.
Rahim, Husni. Arah Baru Pendidikan Islam Di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001.
Sahlan, Asmaun. Mewujudkan Budaya religius di Sekolah, Upaya