• Tidak ada hasil yang ditemukan

Permasalahan Sosial Dari Perspektif Sosiologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Permasalahan Sosial Dari Perspektif Sosiologi"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Permasalahan Sosial Dari Perspektif Sosiologi

PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Dr. Argyo Demartoto, M.Si

(2)

Kemajemukan masyarakat di Indonesia tidak lagi dapat dipungkiri.

Kehidupan masyarakat yang selalu bersifat dinamis menyebabkan kondisi masyarakat selalu berubah, baik dari keeratan sosial, ketegangan, hingga perpecahan kerap mewarnai dinamika kehidupan masyarakat.

Kondisi masyarakat yang terdiri dari berbagai macam latar belakang menjadikan setiap individu dalam suatu kelompok masyarakat memiliki watak, sikap, sifat, serta pandangan hidup yang berlainan.

Walaupun di dalam masyarakat terdapat kesamaan, namun tetap saja berpeluang besar terjadinya suatu masalah sosial.

(3)

Sebuah masalah terjadi ketika apa yang diharapkan dan dicita-citakan tidak sesuai dengan realita yang terjadi.

Semakin tinggi tingkat heterogenitas sebuah masyarakat semakin tinggi pula sebuah wilayah terjadi masalah.

Masalah sosial juga dapat terjadi sebagai dampak

negatif dari adanya suatu perubahan sosial-

budaya dalam masyarakat.

(4)

Masalah sosial berhubungan erat dengan nilai- nilai sosial dan lembaga kemasyarakatan.

Dikatakan sebagai masalah sosial karena masalaha tersebut bersangkut-paut dengan hubungan antarmanusia dan di dalam kerangka bagian-bagian kebudayaan yang normatif.

Sehingga masalah sosial bersangkut-paut dengan

gejala-gejala yang mengganggu kelanggengan

dalam masyarakat.

(5)

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :

Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, prostitusi dll.

Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.

Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.

Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran

sesat, dsb.

(6)

UKURAN SOSIOLOGI TERHADAP MASALAH SOSIAl

Menurut Robert K. Merton  dan Robert A. Nisbet, dalam menentukan bahwa suatu masalah merupakan problema sosial atau tidak, digunakan beberapa pokok persoalan sebagai ukuran, yaitu:

1. Kriteria Utama masalah sosial yaitu tidak adanya penyesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai sosial dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan- tindakan sosial.

2. Adanya kepincangan-kepincangan antara anggapan- anggapan masyarakat tentang apa yang seharusnya terjadi, dengan apa yang terjadi dalam kenyataan pergaulan hidup.

(7)

a. KEMISKINAN

Menurut sejarah, keadaan kaya dan miskin secara berdampingan tidak merupakan  masalah sosial.

Kemiskinan muncul sebagai masalah sosial sejak berkembangnya perdagangan ke seluruh dunia dan juga ditetapkannya taraf kehidupan tertentu sebagai suatu kebiasaan masyarakat.

Pada waktu dulu setiap individu sadar akan kedudukan ekonomisnya, sehingga mereka mampu mengatakan apakah dirinya kaya atau miskin.

Kemiskinan dianggap sebagai masalah sosial apabila perbedaan kedudukan ekonomi para warga masyarakat ditentukan secara tegas.

Pada masyarakat yang bersahaja susunan dan organisasinya, kemiskinan bukan masalah sosial, karena mereka menganggap bahwa semua telah ditakdirkan, sehingga tidak ada usaha-usaha untuk mengatasinya.

Pada masyarakat modern yang rumit, kemiskinan menjadi suatu problema sosial karena sikap yang membenci kemiskinan tadi.

Bagi para urban yang gagal mendapatkan pekerjaan, kemiskinan tidak lagi

diukur dari kebutuhan

sekunder saja, tetapi disebabkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan primernya.

(8)

b. PENGANGGURAN

Pengangguran merupakan masalah sosial yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.

Pesatnya arus globalisasi dalam bidang ekonomi yang ditandai dengan adanya efisiensi dalam kegiatan ekonomi, misalnya penggunaan mesin-mesin produksi.

Hal itu menyebabkan berkurangnya penggunaan tenaga manusia.

Oleh sebab itu pengangguran makin tinggi.

Di negara negara berkembang, pada umumnya juga memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Sementara itu persaingankerja makin lama makin ketat, sehingga orang yang tidak memiliki keahlian (skill) akan kesulitan mencari kerja.

(9)

c. KEJAHATAN

Kejahatan disebabkan kondisi-kondisi dan proses-proses sosial yang sama, yang menghasilkan perilaku-perilaku sosial lainnya.

Orang yang menjadi jahat, disebabkan orang tersebut mengadakan kontak dengan pola-pola perilaku jahat dan juga karena dia mengasingkan diri dari pola-pola perilaku yang tidak menyukai kejahatan tersebut.

Pada masa modern seperti sekarang ini timbul kejahatan yang disebut white collar crime yaitu suatu kejahatan yang timbul akibat perkembangan ekonomi yang terlalu cepat dan menekankan pada aspek material–finansial belaka.

Kejahatan ini merupakan kejahatan yang dilakukan oleh pengusaha dan pejabat di dalam menjalankan peranan fungsinya.

Golongan tersebut menganggap kebal terhadap hukum dan sarana-sarana pengendalian sosial lainnya.

(10)

Untuk mengatasi masalah kejahatan dapat dilakukan dengan dua cara berikut:

1. Preventif, yaitu dengan cara menjauhkan diri dari pola-pola kejahatan dan mendekatkan diri dari pola-pola perilaku yang tidak menyukai kejahatan.

2. Represif, yaitu dengan cara rehabilitasi, seperti hal berikut.

a) Menciptakan program yang bertujuan menghukum orang tersebut.

b) Berusaha mengubah agar orang tersebut tidak jahat, misalnya dengan cara memberi pekerjaan atau latihan-latihan untuk menguasai bidang- bidang tertentu agar dapat membaur kembali dengan masyarakat umum.

(11)

d. Prostitusi

Prostitusi adalah gejala masyarakat yang ada dan timbul sejak zaman dahulu hingga sekarang.

Banyak permasalahan yang ditimbulkan oleh prostitusi, tidak hanya dalam bersifat materi tetapi non-material.

Masyarakat Indonesia dalam menanggapi prostitusi bermacam-macam, ada yang bersikap menolak dengan cara mengutuk keras dan memberikan hukuman beratkepada pelakunya.

Namun demikian ada juga masyarakat yang bersikap

netral dengan berperilaku acuh dan masa bodoh dengan

adanya prostitusi tersebut.

(12)

Di Indonesia terdapat suatu kawasan yang terkenal dengan nama Gang Dolly, gang Dolly ini merupakan kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak Pasar Kembang kota Surabaya Jawa Timur.

Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur “dipajang”

di dalam ruamgam berdinding kacamirip etalase.

Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara, lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand an Geylang di Singapura.

Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan

gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata

Surabaya bagi wisatawan manca negara.

(13)

Gang Dolly ini sudah ada sejak jaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang bernama Dolly Van Der Mark keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis.

Kawasan Dolly di kawasan tengah kota berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, ,dikawasan Putat Surabaya.

Kompeks lokalisasi Dolly menjadi sumber rejeki bagi

banyak pihak bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi

juga pemilik warung, penjaja rokok,tukang parker,

tukang ojek, dan tukang becak.

(14)

Di bawah pemerintahan Tri Risma Harini pada tanggal 19 Juni 2014 akhirnya lokalisasi ditutup.

Ditutupnya gang Dolly ini menuai pro dan kontra terutama bagi PSK, Mucikari, serta orang-orang yang mencari nafkah di area sekitar gang Dolly.

Tetapi setelah penutupan gang Dolly permasalahan prostitusi kemudian selesai begitu saja tetapi dengan ditutupnya gang Dolly pemerintah memiliki tugas baru, diantaranya banyak PSK yang masih menjalankan bisnisnya secara terselubung melalui suatu aplikasi yang diberi nama E-Dolly bahkan penghasilan mereka justru lebih banyak dari sebelumnya.

Jika penghasilan mereka di Dolly setiap bulan 10-20 juta, maka setelah Dolly ditutup dan mereka tidak terikat kontrak penghasilan mereka mencapai 50 juta perbulan.

(15)

Dari prespektif sosiologi penutupan gang Dolly tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah prostitusi di Indonesia.

Hal ini dikarenakan pemerintah mengatasi permasalahan

prostitusi selalu yang menjadi titik pemecahan masalah

adalah PSK nya, di mana PSK ditangkap, di beri sanksi,

serta diberi berbagai macam sosialisasi, padahal PSK ada

karena ada konsumennya, jadi untuk menangani masalah

prostitusi tidak hanya menitikberatkan di PSK tetapi pada

para “tamu langganan” yang kerapkali datang pun juga

menjadi titik pemecahan, bagi mereka tamu merupakan

orang terhormat, yang harus dilayani, namun bila mereka

bertamu dengan situasi dan kondisi seperti itu apa masih

bisa dikatakan orang-orang terhormat?

(16)

Selain itu pemerintah ketika menutup Dolly harus melihat kondisi Dolly.

Dolly tidak hanya untuk kegiatan prostitusi saja, karena ada juga banyak orang-orang yang mencari nafkah dengan cara halal di Dolly seperti laundry, berjualan sembako, warung kopi, dan lain sebagainya.

Contohnya para pedagang yang bekerjadi sekitar gang

Dolly tersebut tidak diberi ganti rugi sehingga mereka

kehilangan lapangan pekerjaan dan tidak adanya modal

untuk berdagang. Dampak selanjutnya terjadinya

peningkatan kriminalitas akibat pengangguran dan

semakin bertambahnya kemiskinan di wilayah Surabaya.

(17)

Untuk menghilangkan prostitusi memang sangat sulit bahkan tidak mungkin karena ini sudah ada sejak jaman purba, tetapi untuk memperkecil jumlah prostitusi sangat memungkinkan.

Semua aspek yang ada di lingkungan prostitusi

Dolly jika tidak ditangani dengan baik maka akan

menjadi permasalahan yang lebih besar lagi,

karena masyarakat itu dinamis bukan statis dan

harus di selesaikan dengan solusi yang

berkepanjangan dan dapat mensejahterahkan

semua pihak yang bersangkutan.

Referensi

Dokumen terkait

Uraian tugas kepala ruangan yang ditentukan oleh Depkes (1994) dalam melaksanakan fungsi perencanaan adalah (1) Merencanakan jumlah dan kategori tenaga keperawatan serta tenaga

Takkan yang mulia ini kita terfikir bahawa dia tetap tidak akan tetapi dengan manfaat yang diperdagangkan ke situ pun boleh meniru ubat original yang disiarkan di cakap, tarif psk

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan diatas, sehingga peneliti memilih untuk melakukan penelitian yang berjudul “PENGARUH KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA BIDANG AKUNTANSI,

Proses pembuatannya membutuhkan perangkat lunak yang mampu memodelkan struktur dan hubungan antar formasi geologi, mampu melakukan integrasi model dengan data sumur

ANALISIS PENGARUH DEVIDEND PAYOUT, LEVERAGE DAN TINGKAT SUKU BUNGA BANK INDONESIA TERHADAP INVESTASI PADA PERUSAHAAN YANG MASUK DALAM. KA TEGORI

Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah Propolis dengan konsentrasi 15% merupakan konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat terbentuknya plak pada

Dari satu segi, kita dapat melihat bahwa Pendidikan Agama Islam itu lebih banyak ditujukan pada perbaikan sikap mental yang akan berwujud dalam amal perbuatan, baik dalam

Pada siklus I tahap perencanaannya, yaitu mempelajari silabus mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas X tahun pelajaran 2015/2016 dengan kompetensi dasar