12 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori
1. Pendidikan Karakter
a. Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter merupakan suatu hal yang tidak bisa lepas dari dunia pendidikan. Pendidikan karakter merupakan aspek terpenting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karakter suatu bangsa dipengaruhi oleh karakter yang di miliki oleh setiap masyarakat. Karakter yang baik dan berkualitas tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan perlu dibentuk melalui pembinaan sejak usia dini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring (2021) pengertian karakter yaitu sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang di miliki setiap orang dan menjadi pembeda di tiap individu. Jadi meskipun karakter sudah terbentuk, tetapi setiap individu memiliki karakter yang berbeda- beda. Karakter memiliki arti sebagai proses berpikir serta perilaku yang khas yang dilimiliki setiap orang untuk bekerja sama dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, bangsa dan negara.
Karakter merupakan dasar perilaku dalam acuan untuk melakukan interaksi antar manusia (Samani, 2012:41). Setiap individu pasti memiliki karakter yang terbentuk melalui pembiasaan yang berkesinambungan. Karakter merupakan sifat yang dimiliki seseorang untuk merespons situasi melalui moral yang diwujudkan dengan kegiatan langsung seperti melalui perilaku jujur, perilaku baik, sikap tanggung jawab, dan menghormati orang lain (Mulyasa, 2012:3).
Pendidikan karakter yaitu pendidikan yang memiliki tujuan utamanya adalah
karakter yang mulia (good character) peserta didik melalui praktik serta pengajaran nilai moral dan beradab dalam interaksi sesama manusia (Samani, 2012:44). Pendidikan karakter pada saat ini sudah menjadi hal yang wajib ada dalam setiap program kegiatan sekolah, tentunya mendukung dalam pengembangan emosional, pengembangan sosial, dan pengembangan etika peserta didik.
Terdapat tiga komponen karakter yang baik (components of good character), diantaranya adalah pengetahuan tentang moral (moral knowing),
perasaan tentang moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action).
Pengetahuan tentang moral (moral knowing) berhubungan dengan kesadaran moral (moral awareness), mengetahui nilai-nilai moral (knowing moral values), memahami sudut pandang orang lain (perspective taking), memahami nilai moral yang etis (moral reasoning), pengambilan keputusan (decision making), pengetahuan tentang diri sendiri (self-knowledge). Perasaan tentang moral ( moral feeling) berhubungan dengan hati nurai (conscience), harga diri (self-esteem),
empati (empathy), memilih kebaikan (loving the good), mengendalikan diri sendiri (self-control) dan kerendahan hati (humility). Tindakan moral (moral action)
merupakan perpaduan dari moral knowing dan moral feeling yang disatukan dalam bentuk kebiasaan (habit), kompetensi (competence), dan keinginan (will) (Lickona, dalam Mulyasa 2012:4). Tiga komponen tersebut perlu diperhatikan dalam pendidikan karakter, agar peserta didik dapat memahami, mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari dan tentunya peserta didik termasuk dalam kategori karakter yang baik.
14
Dalam penelitian ini menggunakan Teori dari Thomas Lickona, bahwa pendidikan karakter yaitu mengandung tiga unsur pokok yaitu mencintai kebaikan (knowing the good), mengetahui kebaikan (desiring the good) dan melakukan kebaikan (doing the good). Thomas Lickona juga menyebutkan bahwa terdapat dua nilai moral dasar yang wajib diberikan kepada peserta didik yaitu sikap tanggung jawab dan rasa hormat (Lickona, dalam Junaini 2017:40).
Pendidikan karakter yaitu suatu proses menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik misalnya pemahaman, kepedulian, kesadaran serta komitmen untuk melakukan kebaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, dan sesama manusia. Pemberian pendidikan karakter bisa melalui kegiatan di sekolah yang melibatkan komponen di dalam sistem pendidikan nasional, diantaranya yaitu kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, sarana dan prasarana serta kerja sama antar warga sekolah. Pendidikan karakter terintegrasi melalui pembelajaran yang terdapat pada kurikulum. Materi pembelajaran yang diajarkan kepada peserta didik berhubungan dengan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Demikian, pendidikan karakter tidak hanya dengan tatanan kognitif, tetapi dapat masuk kedalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2012:8). Pengertian pendidikan karakter dilihat secara luas dalam bidang pendidikan, terdapat teori yang dilihat dari segi interdisipliner diambil dari disiplin ilmu, psikologi, filsafat, pedagogi dan sosiologi. Pendidikan karakter juga dapat diartikan sebagai usaha yang disusun secara sistematis melalui pembiasaan peserta didik di lingkungan sekolah maupun di dalam kelas guna mencapai tujuan nilai-nilai karakter yang telah ditetapkan (Pattaro, 2016:8).
15
Ada tujuh alasan pentingnya pendidikan karakter yang harus disampaikan kepada peserta didik diantaranya yaitu : 1). Untuk menjamin peserta didik memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupan sehari-hari, 2). Peningkatan prestasi akademik, 3). Peserta didik dapat membentuk karakter yang kokoh di lingkungan sekolah, 4). Mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi hidup di lingkungan masyarakat, 5).Berlandaskan permasalahan hidup seperti permasalahan moral-sosial, tidak jujur,tidak sopan, kekerasan, pelanggaran seksual, dan penurunan etos kerja, 6). Mempersiapkan diri dalam berperilaku dilingkungan kerja, 7). Pembelajaran nilai-nilai yang berbudaya (Lickona, dalam Sudrajat 2011). Definisi pendidikan karakter yaitu sebagai upaya yang dilakukan untuk mempengaruhi peserta didik kearah yang lebih baik (Sudrajat, 2011). Dari beberapa definisi, dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan karakter yaitu proses mempengaruhi dan mendorong peserta didik untuk menanamkan serta menerapkan nilai pendidikan karakter melalui pembiasaan di lingkungan sekolah.
b. Tujuan Pendidikan Karakter
Pendidikan memiliki tujuan yaitu untuk membangun dan membentuk sikap, karakter, pola pikir, keterampilan dan cara berpikir siswa kearah yang lebih baik. Tujuan pendidikan karakter yaitu untuk memaksimalkan proses dan hasil menuju pembentukan karakter dan akhlak peserta didik yang baik, seimbang serta terpadu sesuai standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter yang diberikan kepada peserta didik diharapkan memaksimalkan kemampuan karakter yang baik sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (Mulyasa, 2012:9). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
16
1menyebutkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus ada di dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, pada pasal 3 menjelaskan bahwa, pendidikan nasional memiliki fungsi untuk mengembangkan dan membentuk watak peserta didik yang bermanfaat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa agar berkembang potensi yang dimiliki oleh peserta didik untuk menjadi manusia yang bertakwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan karakter memiliki tujuan untuk memaksimalkan nilai karakter bangsa melalui Pancasila, diantaranya yaitu mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik agar berpikiran baik, berhati baik serta berperilaku baik , membentuk karakter yang berlandaskan Pancasila dan menumbuhkan kemampuan sikap percaya diri serta menghargai sesama manusia (Kementerian pendidikan nasional, 2011:7).
Tujuan pendidikan karakter untuk memberikan dorongan terciptanya anak- anak yang baik yang tumbuh dengan karakter yang baik (Handayani, 2016).
Berlandaskan fungsi pendidikan Nasional yang mengacu pada UU RI No 20 tahun 2003 pasal 3, menyebutkan tujuan bahwa untuk tumbuh kembang potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, memiliki akhlak mulia, kreatif, berilmu, cakap, dan menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan demokratis. Tujuan pendidikan karakter yaitu:
1).Mengembangkan potensi peserta didik sebagai warga negara yang berbudaya serta memiliki karakter bangsa, 2).Mengembangkan pembiasaan peserta didik yang terpuji, 3).Menanamkan sikap kepemimpinan dan rasa tanggung jawab, 4).Mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik untuk menjadi seseorang yang kreatif, mandiri dan berwawasan kebangsaan, 5).Mengembangkan lingkungan belajar yang jujur, aman, jujur, penuh dengan kreativitas dan rasa
17
persahabatan (Gunawan, 2012). Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan potensi bangsa melalui pembiasaan peserta didik yang dilakukan sejak dini pada lingkungan sekolah yang melibatkan warga sekolah, keluarga serta masyarakat. Dari beberapa pendapat, dapat ditarik kesimpulan bahwa, tujuan pendidikan karakter yaitu memberikan dorongan kepada peserta didik untuk membentuk karakter yang berlandaskan agama, Pancasila, budaya dan tujuan nasional pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa serta kebermanfaatan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Ruang Lingkup Pendidikan Karakter
Ada 8 ruang lingkup pendidikan karakter menurut Zubaedi (2015:71), yaitu : 1). Dimensi pendidikan karakter yaitu memiliki visi dan misi mengembangkan nilai moral yang dimiliki oleh peserta didik.
2). Tahapan pendidikan karakter yaitu peserta didik dapat menerima pendidikan karakter sejak dini, jika nilai moral sudah ditanamkan kepada peserta didik sejak dini, maka dapat tumbuh dan berkembang menjadi orang yang memiliki karakter nilai moral yang sesuai dengan pendidikan.
3). Prinsip penyusunan materi pendididikan karakter yaitu pemberian pendidikan karakter tidak disampaikan melalui pembelajaran khusus, melainkan diimplementasikan melalui pembelajaran sehari-hari.
4). Peran keluarga dalam pendidikan karakter merupakan proses perkembangan yang melibatkan banyak pihak, seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat.
5). Peran seluruh komponen sekolah dalam pendidikan karakter yaitu pentingnya komponen sekolah dalam mensukseskan pendidikan karakter seperti kepala sekolah, guru, bagian administrasi, dan karyawan.
18
6). Peran pemimpin dalam pendidikan karakter yaitu mengajak anggotanya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
7). Peran media massa dalam pendidikan karakter yaitu televisi, internet dan koran dapat menayangkan kisah nyata tentang perilaku baik sehingga peserta didik dapat termotivasi untuk melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
8). Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karakter yaitu faktor insting (naluri) yaitu penggerak lahirnya tingkah laku seseorang, adat atau kebiasaan merupakan tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga membentuk suatu kebiasaan, keturunan (wirotsah/heredity) secara langsung dapat mempengaruhi pembentukan karakter yang dimiliki setiap orang, dan lingkungan merupakan salah satu faktor keberhasilan pendidikaan karakter.
Ruang lingkup pada satuan pendidikan, keberhasilan pendidikan karakter di sekolah dipengaruhi oleh pemahaman definisi pendidikan karakter, sosialisasi yang dilakukan secara tepat, menciptakan suasana yang kondusif, memberikan dukungan melalui fasilitas belajar yang memadai, menumbuhkan sikap disiplin peserta didik, memilih pemimpin yang dapat dipercaya, menghimbau para guru untuk memiliki sikap menjadi teladan untuk peserta didik dan melibatkan seluruh warga sekolah (Mulyasa, 2011: 13-40).
Ruang lingkup memiliki dua aspek yang harus ada di setiap manusia yaitu aspek ke dalam dan aspek keluar. Aspek ke dalam atau aspek yang disebut dengan potensi dalam diri yaitu aspek kognitif (olah pikir), aspek afektif (olah hati), psikomotor (olah raga) dan olah rasa (karsa). Dapat dijelaskan komponen yang ada di masing-masing ruang lingkup yaitu pada aspek kognitif (olah pikir) meliputi kecerdasan, berpikir kritis, kreatif, inovatif, memiliki rasa ingin tahu,
19
berpikir terbuka dan produktif. Dalam aspek afektif (olah hati) meliputi sikap beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersikap jujur, dapat dipercaya atau amanah, bersikap adil, bertanggung jawab, berani mengambil resiko, memiliki rasa empati, pantang menyerah, rela berkorban dan memiliki jiwa patriot. Dalam aspek olah rasa (karsa) meliputi sikap ramah, toleransi, sikap saling menghargai, peduli terhadap sesama, suka menolong, gotong royong, mengutamakan kepentingan umum, bersikap nasionalis, bangga menggunakan Bahasa dan produk asli Indonesia dan sikap bekerja keras. Sedangkan dalam aspek psikomotor (olah raga) meliputi kebersihan diri, sehat jasmani, sikap disiplin, sportif, Tangguh, memiliki daya tahan, bersahabat, kompetitif, ceria dan gigih (Depiyanti, 2014).
Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup pendidikan karakter yaitu terdiri dari empat aspek yaitu aspek kognitif (olah pikir), aspek afektif (olah hati), aspek psikomotorik (olah raga) dan aspek olah rasa (karsa) yang dikembangkan melalui visi dan misi sekolah, melalui penyusunan materi pendidikan karakter, melalui peran keluarga, melalui peran seluruh warga sekolah, melalui peran pemimpin sekilan dan peran pendukung pembelajaran seperti media massa.
2. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter
Kemendikbud mengumumkan program penguatan pendidikan karakter atau biasa disebut dengan program (PPK) yang dilakukan di sekolah. Penguatan pendidikan karakter (PPK) dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 yaitu satuan pendidikan yang bertanggung jawab dalam program penguatan pendidikan
20
karakter peserta didik yang berfungsi untuk memperkuat karakter peserta didik melalui olah pikir, olah hati, olah rasa dan olah raga yang melibatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Pada Bab II Pasal 6 Ayat 1 yaitu program penguatan pendidikan karakter (PPK) pada satuan pendidikan formal dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kegiatan kokurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.
Pengolahan karakter dalam olah hati (etik) yaitu terbentuknya individu yang memiliki iman dan takwa kepada Tuhan. Pada olah rasa (estetis) merupakan terbentuknya individu yang memiliki moral, sikap kebudayaan dan kesenian. Pada dalam olah pikir (literasi) yaitu individu yang memiliki kelebihan dalam bidang akademis dalam pembelajaran, sedangkan olah raga (kinestetik) yaitu individu yang dapat berbaur dan berpartisipasi aktif sebagai warga negara. Dengan adanya program penguatan pendidikan karakter dapat memberikan bekal kepada peserta didik yang berkarakter Pancasila di masa kehidupan yang akan datang (Anggraeni, 2018:21).
Dari beberapa penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penguatan pendidikan karakter yaitu program yang dilakukan di sekolah dengan tanggung jawab penuh pada satuan pendidikan yang berguna untuk memberikan penguatan karakter yang berlandaskan pancasila melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler yang melibatkan olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga.
b. Nilai-nilai Penguatan Pendidikan Karakter
Nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan secara khusus teridentifikasi berasal dari empat sumber yaitu agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan (Sudrajat, 2011). Perilaku di dalam kehidupan bermasyarakat
21
dan berbangsa tidak lepas dari aspek keagamaan. Negara Kesatuan Republik Indonesia memberlakukan prinsip kehidupan yang berlandaskan pancasila, dengan ini Pancasila menjadi dasar atau sumber nilai dari kehidupan. Nilai-nilai pendidikan karakter pada satuan pendidikan sudah teridentifikasi 18 nilai yang berasal dari agama, budaya, Pancasila dan tujuan pendidikan nasional yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, semangat kebangsaaan, komunikatif atau bersahabat, menghargai prestasi, gemar membaca, cinta kedamaian, peduli sosial, peduli lingkungan dan rasa tanggung jawab.
Terdapat sembilan pilar nilai yang perlu diberikan kepada peserta didik yaitu : 1). Cinta kebenaran beserta tuhan, 2). Memiliki rasa tanggung jawab, sikap disiplin dan mandiri, 3). Memiliki sikap dapat dipercaya atau amanah, 4). Hormat dan santun, 5). Peduli kepada sesama dan bekerja sama dalam hal kebaikan, 6).
Memiliki rasa percaya diri, kreatif dan pantang menyerah, 7). Memiliki sikap adil dalam kepemimpinan, 8). Sikap baik dan rendah hati, 9). Sikap bertoleransi dan cinta kedamaian (Ratna Megawati, dalam Zubaedi 2013:76).
Menurut Kemendikbud dalam kajian dan pedoman penguatan pendidikan karakter (PPK) (2016:13) menyebutkan bahwa ada 5 nilai utama karakter yang saling berhubungan untuk membentuk nilai karakter yang saling berkembang.
Lima nilai utama karakter bangsa yaitu:
1). Nilai karakter religius yang menjelaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dilakukan dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, menghargai perbedaan antar beragama, saling toleransi dalam melaksanakan ibadah, hidup damai dan rukun antar pemeluk agama.
22
2). Nilai Karakter Nasionalis seperti memaknai budaya bangsa sendiri, rela berkorban, cinta tanah air, berprestasi, patuh kepada hukum yang berlaku, menghormati keragaman budaya, suku dan agama.
3). Nilai Karakter Mandiri yaitu sikap yang tidak ketergantungan pada orang lain dengan menggunakan pikiran, tenaga, waktu untuk mewujudkan tujuan dan cita- cita yang ingin dicapai.
4). Nilai Karakter Gotong Royong merupakan perbuatan kerjasama untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama, mudah bergaul dan bersahabat dengan orang lain, membantu sesama manusia yang membutuhkan pertolongan.
5). Integritas merupakan tindakan yang didasari oleh kepercayaan berupa tindakan dan perkataan, seperti sifat jujur, menyukai suatu kebenaran, tidak korupsi, adil, memiliki tanggung jawab, keteladanan, menghargai tiap individu.
Memperkuat pendidikan karakter pada satuan pendidikan maka ada 18 nilai yang berasal dari agama, budaya, Pancasila dan pendidikan nasional yaitu religius, toleransi, disiplin, jujur, kreatif, kerja keras, demokratis, mandiri, semangat kebangsaan, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, cinta tanah air, bersahabat atau komunikatif, suka membaca, cinta damai, peduli sosial, peduli lingkungan dan tanggung jawab (Kementerian pendidikan nasional, 2011). Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter dalam pasal 3 menjelaskan bahwa pelaksanaan penguatan pendidikan karakter (PPK) yaitu dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter diantaranya yaitu nilai religius, toleransi, jujur, disiplin, bekerja keras, mandiri, kreatif, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,
23
menghargai prestasi, cinta tanah air, komunikatif, gemar membaca, cinta damai, peduli sosial, peduli lingkungan serta bertanggung jawab.
Disimpulkan bahwa dalam nilai-nilai penguatan pendidikan karakter terdapat lima nilai utama yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas, yang dikembangkan menjadi 18 nilai pendidikan karakter, diantaranya yaitu religius, toleransi, disiplin, jujur, kreatif, kerja keras, demokratis, mandiri, semangat kebangsaan, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, cinta tanah air, bersahabat atau komunikatif, suka membaca, cinta damai, peduli sosial, peduli lingkungan dan tanggung jawab.
c. Strategi Penguatan Pendidikan Karakter
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter dalam Pasal 1 disebutkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter yang disingkat dengan PPK merupakan suatu gerakan pada satuan pendidikan di bawah naungan tanggung jawab satuan pendidikan yang gunanya untuk memperkuat karakter peserta didik melalui sinkronisasi antara olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga yang melibatkan kerja sama antara satuan pendidikan, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).
Dalam arti lain penguatan pendidikan karakter ini yaitu program sekolah yang gunanya untuk memperdalam pendidikan karakter melalui kegiatan intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan kokurikuler yang melibatkan seluruh warga sekolah, masyarakat dan keluarga.
Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter dalam pasal 2 menjelaskan bahwa
24
Penguatan Pendidikan Karakter memiliki tujuan untuk memberikan bekal dan membentuk peserta didik agar menjadi generasi emas Indonesia tahun 2045 berdasarkan jiwa Pancasila dan pendidikan karakter yang positif untuk menghadapi perubahan masa depan, untuk meningkatkan ajang pendidikan nasional yang mengutamakan pendidikan karakter sebagai nilai utama penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik melalui pendidikan formal, nonformal dan informal dengan mengamati keragaman budaya Indonesia dan merenovasi serta memperkuat kemampuan pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, masyarakat dan lingkungan keluarga dalam melaksanakan penguatan pendidikan karakter.
Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter dalam pasal 4 menjelaskan bahwa penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter (PPK) terdiri atas PPK pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal, PPK pada satuan pendidikan jalur pendidikan nonformal dan PPK pada satuan pendidikan jalur pendidikan informal.
Sedangkan pada pasal 5 dijelaskan melalui penyelenggaraan diatas, maka menggunakan prinsip yang memusatkan pada perkembangan potensi peserta didik secara menyeluruh dan terpadu, keteladanan dalam menerapkan pendidikan karakter dalam masing-masing lingkungan pendidikan , dan menggunakan prinsip keberlangsungan melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Penyelenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada satuan pendidikan jalur pendidikan formal terintegrasi dalam kegiatan intrakurikuler, kegiatan kokurikuler,dan kegiatan ekstrakurikuler.
25
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 dalam pasal 6 dijelaskan bahwa PPK dengan jalur Pendidikan Formal dilaksanakan dengan prinsip manajemen berbasis sekolah atau madrasah dan merupakan tanggung jawab kepala satuan pendidikan formal dan guru.
Penyelenggaraan PPK melalui kegiatan intrakurikuler merupakan penguatan pendidikan karakter dilakukan melalui kegiatan materi pembelajaran, metode pembelajaran yang sesuai dengan muatan kurikulum berdasarkan peraturan perundang-undangan. Penyelenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) melalui kegiatan kokurikuler merupakan penguatan pendidikan karakter dilakukan melalui pendalaman atau kegiatan pengayaan kegiatan intrakurikuler sesuai dengan muatan kurikulum. Sedangkan PPK dalam kegiatan ekstrakurikuler merupakan penguatan karakter melalui nilai-nilai pendalaman potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kemandirian dan kerja sama secara optimal melalui kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah bakat dan minat serta kegiatan keagamaan.
Program penguatan pendidikan karakter (PPK) fokus pada struktur yang telah ditetapkan pada sistem pendidikan nasional, terdapat tiga struktur yang bisa memperkuat karakter bangsa yaitu melalui struktur program merupakan jenjang kelas, ekosistem sekolah dan penguatan kapasitas guru, melalui struktur kurikulum, antara lain kegiatan pembentukan karakter yang terimplementasi melalui pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan kokurikuler dan melalui struktur kegiatan antara lain, program yang menggunakan keseluruhan aspek (olah raga, olah pikir, olah rasa dan olah hati) dalam pembiasaan di kehidupan sehari-hari (Kemendikbud, 2016).
26
Strategi pendidikan karakter berhubungan dengan kurikulum . Strategi yang dilakukan yaitu dengan memadukan pendidikan karakter kedalam bahan ajar.
Strategi model tokoh yaitu semua warga sekolah, seperti tenaga pendidik, tenaga kependidikan, tenaga bimbingan dan konseling serta tenaga administrasi di sekolah harus bisa menjadi model tauladan yang baik (Samani, 2012:144).
Dalam Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional (2011:14) menjelaskan strategi yang digunakan dalam penerapan pendidikan karakter dapat dilakukan melalui langkah berikut :
1). Melakukan sosialisasi kepada stakeholders (lambaga, masyarakat dan komite sekolah).
2). Mengembangkan ke dalam kegiatan sekolah yang terintegrasi dalam mata pelajaran, terintegrasi dalam muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri.
3). Kegiatan pembelajaran.
4). Pengembangan budaya sekolah dan kegiatan belajar seperti kegiatan rutin, kegiatan spontanitas, pengkondisian dan keteladanan.
5). Kegiatan ko-kurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler.
6). Kegiatan sehari-hari di rumah serta lingkungan masyarakat.
Strategi dalam penguatan pendidikan karakter dapat dilakukan seperti yang dikemukakan oleh Zubaedi (2015:137) sebagai berikut: 1). Menggunakan metode belajar yang mengutamakan kegiatan partisipatif aktif dari peserta didik.
2).Membuat lingkungan belajar yang kondusif dan efektif pada saat pembelajaran.
3). Memberikan pembiasaan pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis dan berkesinambungan. 4). Menggunakan metode pengajaran sesuai kurikulum.
27
5). Semua pendekatan diatas menggunakan prinsip developmentally appropriate practices. 6). Menciptakan hubungan yang saling mendukung serta penuh
perhatian di dalam dan luar kelas. 7). Menjadi model serta tauladan yang positif bagi peserta didik. 8). Memberikan peluang kepada siswa untuk menjadi siswa yang aktif di dalam pembelajaran. 9).Memberikan pengajaran keterampilan sosial dan keterampilan emosional secara menyatu. 10). Menciptakan pembelajaran yang relevan dan penuh dengan makna. 11). Menekankan prinsip bahwa semua siswa harus di perhatikan dengan karakteristik yang berbeda beda, sehingga tidak ada siswa yang terabaikan.
Sesuai dengan penjelasan Kemendikbud dalam modul Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter , sekolah memfasilitasi sarana dan prasarana yang mendukung dalam kegiatan penguatan pendidikan karakter di sekolah (Kemendikbud, 2016). Sarana dan prasarana perlu dikembangkan seiring keperluan yang dibutuhkan oleh peserta didik, diantaranya yaitu ruang kelas, ruang laboratorium, ruang perpustakaan, ruang ibadah atau tempat kegiatan keagamaan, ruang kesenian atau ruang keterampilan, fasilitas tempat olahraga berupa lapangan, dan peralatan penunjang pendidikan.
Dari beberapa penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler dengan menggunakan struktur program, struktur kurikulum dan struktur kegiatan serta didukung dengan sarana dan prasarana sekolah. Penyelenggaraan penguatan pendidikan karakter berpusat pada perkembangan potensi peserta didik yang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh melalui pembiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah dengan strategi
28
yang digunakan yaitu pengajaran sesuai kurikulum, membuat lingkungan belajar yang kondusif, menciptakan hubungan yang saling mendukung di lingkungan sekolah, menjadi teladan untuk peserta didik dan memadukan keterampilan sosial dan keterampilan emosional dengan terpadu.
d. Prinsip Pengembangan dan Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)
Menurut Kemendikbud dalam modul yang berjudul Konsep dan Pedoman Penguatan Pendidikan Karakter ,menjelaskan tentang prinsip pengembangan dan Implementasi PPK. Dalam Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dapat dilaksanakan dan dikembangan dengan menggunakan Sembilan prinsip diantaranya :
1). Nilai moral universal. Program penguatan pendidikan karakter berfokus pada agama, keyakinan, kepercayaan, sosial dan budaya.
2). Holistik. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dilaksanakan dengan mengembangkan secara fisik (olah raga), intelektual (olah pikir), estetika (olah rasa), etika dan spiritual (olah hati) yang dilakukan secara menyeluruh melalui kegiatan intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan kokurikuler.
3). Terintegrasi. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dikembangkan dengan menghubungkan berbagai elemen pendidikan dalam proses pelaksanaan pendidikan.
4). Partisipatif. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) melibatkan seluruh warga sekolah seperti kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan dan komite sekolah.
29
5). Kearifan lokal. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) harus mampu mengembangkan dan memperkuat kearifan lokal agar bisa memberikan identitas jati diri peserta didik sebagai warga negara Indonesia.
6). Kecakapan abad XXI. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mengembangkan kecakapan yang dibutuhkan peserta didik, diantaranya kecakapan berpikir kritis, kecakapan berpikir kreatif, kecakapan berkomunikasi, dan kecakapan bekerja sama dalam pembelajaran.
7). Adil dan Inklusif. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dikembangkan dan dilaksanakan dengan adil tanpa diskriminasi, menghargai keberagaman dan tanpa adanya perbedaan antar manusia.
8). Selaras dengan perkembangan peserta didik. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dikembangkan dan dilaksanakan berjalan seimbang dengan perkembangan peserta didik dari segi biologis, psikologis, dan sosial.
9). Terukur. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dikembangkan dan dilaksanakan dengan prinsip keterukuran agar dapat diamati proses dan hasilnya secara keseluruhan (Kemendikbud, 2016).
Implementasi pendidikan karakter dapat berjalan efektif jika menerapkan 11 (sebelas) prinsip, diantaranya : 1). Mengenalkan nilai-nilai etik inti (ethical core values) seperti: kejujuran, kepedulian, rasa tanggung jawab, sikap adil, rasa
hormat kepada diri sendiri dan orang lain untuk landasan pembentukan pada pendidikan karakter, 2).Nilai karakter harus dikuasai secara keseluruhan, diantaranya perilaku, pemikiran dan perasaan, 3). Pendidikan karakter yang efektif membutuhkan pendekatan dan lebih mengenalkan nilai inti pendidikan karakter pada seluruh kehidupan di sekolah, 4). Sekolah merupakan komunitas
30
yang penuh kepedulian hubungan antar-siswa (antar-tingkat kelas dan satu tingkat kelas), antar-staf (guru kelas, guru BK, petugas UKS dan bagian administrasi), antara siswa dan staf dan antara staf dengan keluarga peserta didik. 5).
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan moral pada kehidupan sehari-hari, 6). Pendidikan karakter harus dilengkapi dengan kurikulum akademis yang bisa membantu peserta didik untuk mencapai kesuksesan. 7).
Pendidikan karakter harus bersifat nyata untuk menumbuhkembangkan motivasi peserta didik. 8). Semua staf di sekolah harus menjadi satu kesatuan komunitas yang memiliki moral untuk berlangsungnya pendidikan karakter yang dapat di pertanggung jawabkan. 9).Penerapan pendidikan karakter memerlukan kepemimpinan moral bagi peserta didik maupun staf yang ada di sekolah. 10).
Sekolah harus bisa bekerja sama dengan orang tua dan masyarakat untuk membangun karakter yang lebih luas. 11). Penilaian pendidikan karakter harus mencakup penilaian karakter sekolah, penilaian fungsi staf sekolah sebagai pendidik, dan penilaian peserta didik menerapkan karakter yang baik (Lickona, dalam Samani 2012:168) .
Pendidikan karakter di sekolah dapat berjalan secara efektif, jika mendapat dukungan dari sumber daya manusia yang profesional, dana sekolah untuk memberikan gaji kepada staf sesuai fungsinya, sarana dan prasarana yang cukup untuk pembelajaran peserta didik dan dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar (Mulyasa, 2012:41). Tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak, maka penguatan pendidikan karakter tidak dapat berjalan efektif.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada
31
Satuan Pendidikan Formal dalam pasal 2 ayat (1) dijelaskan bahwa penguatan pendidikan karakter mengimplementasikan nilai Pancasila diantaranya nilai religius, jujur, toleransi,bekerja keras, disiplin, mandiri, kreatif, memiliki rasa ingin tahu, demokratis, cinta tanah air, semangat kebangsaan, berprestasi, cinta damai, komunikatif, peduli lingkungan, gemar membaca, bertanggung jawab dan peduli sosial. Sedangkan dalam ayat 2 menjelaskan bahwa sebenarnya nilai pada ayat 1 merupakan bentuk dari lima nilai utama yang saling berhubungan diantaranya religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong,dan integritas yang menyatu dengan kurikulum.
Implementasi penguatan pendidikan karakter diantaranya: 1). Melalui keteladanan yang mencerminkan nilai-nilai karakter yang bisa menjadi panutan peserta didik. 2). Melalui pembelajaran di kelas yang mengembangkan aspek kognitif, afektif, kognitif dan psikomotor. 3). Melalui penerapan kedalam semua materi pembelajaran. 4). Melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler. 5).
Melalui pemberdayaan dan pembudayaan yang melibatkan seluruh warga sekolah dan melakukan tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. 6).
Melalui penguatan pada lingkungan terdekat hingga lingkungan yang lebih sehingga bisa membangkitkan karakter peserta didik (Darmuin, dalam Dalyono 2016). Dari beberapa kajian diatas, dapat disimpulkan bahwa implementasi penguatan pendidikan karakter dikembangkan dengan Sembilan prinsip yaitu nilai moral universal, holistic, terintegrasi, partisipatif, kearifan local, kecakapan abad XXI, adil dan inklusif, berjalan sesuai perkembangan peserta didik, dan terukur berlandaskan nilai Pancasila melalui pembelajaran di kelas, ekstrakurikuler dan kokurikuler.
32
e. Basis Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter
Gerakan penguatan pendidikan karakter (PPK) dilakukan dengan berbasis kurikulum yang digunakan di sekolah sesuai yang telah tercantum dalam modul kemendikbud tentang konsep dan pedoman penguatan pendidikan karakter (2016:10-12) terdapat tiga basis yaitu penguatan pendidikan karakter berbasis kelas, penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah dan penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat.
Penguatan pendidikan karakter (PPK) berbasis kelas yaitu mengimplementasikan kurikulum ke dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas melalui pembelajaran tematik, memperkuat dalam mengelola kelas atau memanajemen kelas, pemilihan metode pembelajaran dan evaluasi pembelajaran, serta mengembangkan muatan lokal sesuai kebutuhan daerah setempat.
Penguatan pendidikan karakter (PPK) berbasis budaya sekolah yaitu memprioritaskan pembiasaan nilai utama yang dilakukan dalam kegiatan sehari- hari disekolah, menunjukan sikap keteladanan di lingkungan sekolah, melibatkan semua warga sekolah, mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler, memberlakukan tata tertib dan aturan sekolah.
Penguatan pendidikan karakter (PPK) berbasis masyarakat yaitu menguatkan peran komite sekolah dan wali siswa sebagai penanggung jawab pendidikan, melibatkan potensi lingkungan yang ada di masyarakat seperti aktivis bidang seni budaya, tokoh masyarakat, dunia usaha dan industri sebagai sumber pembelajaran.
Pengimplementasian penguatan pendidikan karakter berbasis kelas merupakan penerapan nilai-nilai karakter dalam pembelajaran, guru berperan penting dalam
33
memanajemen kelas untuk membimbing, mengatur serta mengevaluasi peserta didik, mempersiapkan pembelajaran supaya berjalan aktif, efektif, inovatif, efisien dan menyenangkan dengan pemilihan metode pembelajaran yang tepat, dan memberikan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran (Damarullah, 2021:225).
Penguatan pendidikan karakter (PPK) berbasis kelas dilakukan untuk menyadari pentingnya pengembangan penguatan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran tematik di kelas, melalui metode pembelajaran yang dipilih, dan mengelola kelas. Penguatan pendidikan karakter (PPK) berbasis budaya sekolah dilakukan untuk menentukan strategi dalam membangun sistem sekolah dengan lebih baik, menentukan langkah-langkah budaya sekolah, memahami gerakan literasi dan menentukan strategi untuk menciptakan budaya literasi dan melakukan pendampingan kegiatan pembiasaan selama 15 menit dengan membaca. Penguatan pendidikan karakter (PPK) berbasis masyarakat penting dilakukan karena untuk membangun kemitraan dan keterampilan dengan masyarakat untuk program penguatan pendidikan karakter dan untuk mendesain kegiatan pembelajaran yang melibatkan tokoh masyarakat serta partisipasi orang tua guna melakukan penguatan pendidikan karakter (Anshori, 2017:70).
Dapat disimpulkan bahwa dalam gerakan penguatan pendidikan karakter (PPK) yang ada di sekolah memiliki tiga basis yaitu penguatan pendidikan karakter berbasis kelas, penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah dan penguatan pendidikan karakter berbasis masyarakat, dari ketiga basis diatas sangat penting dilakukan dilingkungan sekolah karena menyangkut dengan perkembangan penguatan pendidikan karakter peserta didik.
34 3. Strategi Kepala Sekolah
a. Definisi dan Tugas Kepala Sekolah
Kepala sekolah merupakan pemimpin di satuan pendidikan yang bertanggung jawab dan memiliki wewenang untuk mengatur, menyelenggarakan serta mengelola kegiatan di satuan pendidikan agar tercapainya tujuan yang ditetapkan (Andang, 2014:54). Menurut Permendikbud No 6 Tahun 2018 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah dalam pasal 1 ayat 1 menegaskan bahwa kepala sekolah merupakan seorang guru yang bertugas mengelola serta memimpin pada satuan pendidikan seperti Taman kanak-Kanak (TK),Sekolah Dasar (SD), Sekolah Dasar Luar Biasa (SLB), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Atas (SMALB) dan Sekolah Indonesia di Luar Negeri.
Kepala sekolah merupakan pemimpin pada satuan pendidikan yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan program pendidikan di lingkungan sekolah. Kepala sekolah juga menjadi acuan kebijakan di sekolah, yang harus menjalankan tugasnya dengan maksimal serta mampu menjadi pemimpin dengan terarah, bijaksana, serta mampu mencapai tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kepala sekolah mempunyai tugas serta tanggung jawab yang besar agar dapat menjalankan perannya secara maksimal. Kepala sekolah perlu mempunyai kepemimpinan dan kecakapan yang tepat (Ariyani: 2017).
Menjadi kepala sekolah yang cakap dalam berbagai hal , harus memiliki sejumlah kompetensi guna mencapai keberhasilan dalam kurikulum 2013.
Kompetensi tersebut yaitu pemimpin dalam pembelajaran, pemimpin dalam
35
lingkup sosial dan kepribadian, kompetensi dalam mengembangkan sekolah, kompetensi manajemen sumber daya, kompetensi kewirausahaan dan supervisor (Andang, 2014:195). Dari beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa, definisi kepala sekolah yaitu seorang yang memimpin dan bertanggung jawab dengan penuh pada satuan pendidikan.
Tugas kepala sekolah sebagai pemimpin satuan pendidikan harus memiliki sikap profesional yang tinggi, sehingga dapat mengelola organisasi sekolah secara maksimal (Andang, 2014:55). Tugas kepala sekolah yang ditegaskan dalam Permendikbud No 6 tahun 2018 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah disebutkan pada pasal 15 ayat 1 bahwa kepala sekolah bertugas penuh dalam melaksanakan tugas pokok sebagai manajer, pengembangan kewirausahaan, dan supervisi terhadap tenaga kependidikan dan guru, agar dapat berkembang serta meningkatkan mutu satuan pendidikan berdasarkan 8 standar nasional pendidikan.
Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan tugas kepala sekolah beserta prospek kerja, diantaranya yaitu :
1) Kepala sekolah sebagai pendidik.
Prospek kerjanya adalah menyusun program kerja, menyusun program pembelajaran di kelas, melaksanakan kegiatan belajar mengajar, melaksanakan analisis hasil belajar, melakukan evaluasi, melakukan program perbaikan serta program pengayaan, mendampingi lomba di luar sekolah (lomba kesenian, olahraga dan mata pelajaran), memberikan pelatihan kepada tenaga kerja administrasi secara rutin, mengarahkan staf untuk mengikuti
36
pertemuan (MGMP,MGP,MKKTUS), menghimbau para staf untuk mengikuti seminar, memberikan alternatif strategi pembelajaran yang efektif.
2) Kepala Sekolah Sebagai Manajer.
Prospek kerjanya adalah memiliki program jangka Panjang selama 8 tahun dalam bidang akademik atau non akademik, memiliki program jangka menengah selama 4 tahun dalam bidang akademik atau non akademik, memiliki program jangka pendek selama 1 tahun dalam bidang akademik atau non akademik dan RAPBS, memiliki sistem untuk memantau dan mengevaluasi terhadap pelaksanaan program secara sistematis dan berkala, memiliki susunan kepegawaian, memiliki susunan pegawai pendukung seperti bagian pengelola perpustakaan, membentuk panitia untuk kegiatan temporer (panitia ujian, panitia ulangan umum, panitia peringatan hari besar), memberikan penghargaan dan hukuman, memanfaatkan sumber daya manusia secara maksimal, merawat serta menjaga sarana prasarana sekolah.
3) Kepala Sekolah Sebagai Administrator.
Prospek kerjanya adalah memiliki data administrasi lengkap untuk proses belajar mengajar, memiliki data lengkap administrasi Bimbingan Konseling (BK), memiliki data administrasi belajar peserta didik di perpustakaan, memiliki data administrasi kesiswaan, memiliki data kegiatan ekstrakurikuler, memiliki data administrasi tenaga guru, memilih data karyawan (TU,laboran,teknisi,perpustakaan), mempunyai data administrasi keuangan secara berkala, mempunyai administrasi keuangan BP3, memiliki data administrasi gedung atau ruang, memiliki data administrasi peralatan laboratorium atau bengkel, memiliki data administrasi buku perpustakaan,
37
mempunyai data mesin di kantor, mempunyai arsip data surat keluar masuk, mempunyai kelengkapan administrasi surat keputusan atau edaran.
4) Kepala sekolah sebagai penyelia (supervisor).
Prospek kerjanya yaitu mempunyai program supervisi kelas (kegiatan belajar mengajar) dan BK (bimbingan konseling), mempunyai program supervisi kegiatan ekstrakurikuler, mempunyai program supervisi kegiatan lainnya (perpustakaan,ujian, laboratorium, EBTANAS dan administrasi sekolah), melaksanakan program supervisi pendidikan kelas dan akademik, melakukan program supervisi dadakan (non klinis), melakukan program supervisi kegiatan ekstrakurikuler, menggunakan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja guru serta karyawan, menggunakan hasil supervisi untuk mengembangkan satuan pendidikan.
5) Kepala sekolah sebagai pemimpin (leader).
Prospek kerjanya yaitu berperilaku jujur dengan guru serta karyawan, memiliki rasa percaya diri, tanggung jawab di lingkungan sekolah, berani mengambil keputusan, memiliki jiwa yang besar, bisa mengendalikan emosi, dapat dijadikan teladan atau panutan bagi warga sekolah, dapat memahami kondisi siswa, guru serta karyawan yang lainnya, menciptakan upaya untuk memperbaiki kesejahteraan staf tenaga kerja, dapat menerima usul dan kritik dari siswa,guru,karyawan dan wali murid siswa melalui pertemuan, mempunyai visi dan misi dalam satuan pendidikan yang dipimpin, dapat melaksanakan program dengan baik, dapat mengambil keputusan bersama warga sekolah untuk urusan ekstern pada satuan pendidikan, dapat
38
berkomunikasi dengan baik kepada siswa, guru, karyawan dan wali murid siswa.
6) Kepala sekolah sebagai inovator.
Prospek kerjanya yaitu mencari gagasan yang baru dan berbeda dari yang sebelumnya yang bersifat relevan, dapat mengimplementasikan gagasan baru dengan baik, bisa melaksanakan renovasi dalam bidang KBM/BK, dapat melaksanakan pembaharuan pada bidang tenaga guru serta karyawan, dapat melakukan pembaharuan di bidang ekstrakurikuler.
7) Kepala sekolah sebagai motivator.
Prospek kerjanya yaitu menyusun ruang kerja yang kondusif, dapat mengatur ruang pembelajaran untuk kegiatan belajar, ruang BK, ruang osis dan UKS, dapat mengatur tata letak perpustakaan untuk belajar peserta didik, dapat mengatur lingkungan sekolah yang nyaman,sejuk dan teratur, menciptakan hubungan yang harmonis antar karyawan, menciptakan rasa aman dan nyaman di lingkungan sekolah, menerapkan prinsip hukuman dan penghargaan, dapat mengembangkan motivasi eksternal dan internal bagi warga sekolah (Andang, 2014: 57).
b. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian pemimpin yaitu seseorang yang berada di depan untuk memberikan arahan, tuntunan dan bimbingan (Daring, 2021). Pemimpin bertugas membantu dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Istilah pemimpin dan kepemimpinan memiliki arti yang berbeda walaupun memiliki kata dasar yang sama. Kepemimpinan merupakan kemampuan mengajak anggota dalam
39
bekerja sama untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Kepemimpinan menjadi tolak ukur organisasi dapat mencapai tujuan yang di tetapkan (Stephen, dalam Andang 2014: 38).
Hakikat kepemimpinan yaitu proses memberi ajakan kepada anggota organisasi untuk mencapai tujuan, seni mengarahkan dan mempengaruhi anggota organisasi melalui rasa patuh, rasa hormat, rasa saling percaya serta bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, kemampuan memberikan inspirasi dan motivasi kepada anggota organisasi untuk mencapai tujuan, selalu menyertakan tiga hal yaitu pengikut, pemimpin dan kondisi tertentu, dan berpotensi mendorong anggota organisasi untuk mencapai tujuan (Andang, 2014:39). Kepemimpinan dalam satuan pendidikan merupakan kemampuan seorang pemimpin yang memberikan pengarahan kepada warga sekolah untuk bekerja sama mencapai tujuan.
Definisi kepemimpinan yaitu suatu proses kegiatan membimbing suatu kelompok atau organisasi, sehingga ada ketercapaian tujuan yang akan dicapai dalam kelompok (Bass dan Stigdill, dalam Ariani 2017:110). Hal serupa juga disampaikan oleh bahwa kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mengarahkan orang lain, untuk melakukan kegiatan dengan memimpin, mempengaruhi, membimbing orang lain untuk mencapai hasil yang diharapkan (Sutrisno, 2013:213). Dari beberapa ahli yang mengemukakan pendapat tentang definisi kepemimpinan, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yaitu suatu sikap yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam memimpin suatu organisasi yang mampu memimpin, mendorong dan mengajak untuk mencapai tujuan bersama.
40
c. Strategi Pengelolaan Sumber Daya Sekolah
Kepala sekolah memiliki kewajiban yang harus dilakukan dalam mengelola sumber daya sekolah dalam pendidikan karakter sesuai dengan pendapat Mulyasa (2012:71), ada 9 strategi yang harus dikelola oleh kepala sekolah yaitu:
1). Perencanaan dan evaluasi.
Hal yang perlu dilakukan sebelum melakukan perencanaan dan evaluasi yaitu melakukan analisis kebutuhan mutu untuk mengembangkan rencana peningkatan mutu pendidikan karakter. Setelah itu, dapat melakukan evaluasi secara internal. Evaluasi internal berarti mengevaluasi diri dengan jujur dan transparan sesuai dengan kondisi lapangan, biasa dilakukan oleh seluruh warga sekolah, guna memantau pelaksanaan penguatan pendidikan karakter.
2). Pengembangan kurikulum.
Mengembangkan kurikulum pendidikan karakter yaitu mengidentifikasi nilai karakter yang akan dikembangkan, mengembangkan silabus sesuai kebutuhan daerah dan kebutuhan karakteristik peserta didik melalui kewenangan kepala sekolah dan kewenangan daerah. Pelaksanaannya melalui penerapan nilai yang diberikan kepada peserta didik yang memuat nilai lokal, nilai nasional dan nilai global.
3). Pengembangan Pembelajaran.
Mengembangkan pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih metode, strategi, Teknik pendidikan karakter yang digunakan sesuai dengan karakter mata pelajaran, karakteristik peserta didik, karakteristik guru dan sumberdaya lingkungan dan sekolah yang tersedia.
41 4). Pengelolaan Ketenagaan.
Mengelola ketenagaan dapat dilakukan mulai dari menganalisis kebutuhan, melakukan perencanaan, melakukan rekrutmen, melakukan pengembangan, memberikan hadiah dan sanksi (reward and punishment), melakukan evaluasi terhadap kinerja pada tenaga kependidikan dan tenaga pendidik yang dilakukan secara berkesinambungan antara kerja sama dengan berbagai pihak dan antar lembaga.
5). Pengelolaan sarana dan sumber belajar.
Mengelola sarana dan sumber belajar dapat dilakukan mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, dan pengembangan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Kelengkapan sarana dan sumber belajar akan mempercepat dalam penerapan pendidikan karakter untuk peserta didik.
6). Pengelolaan keuangan.
Mengelola keuangan yaitu dilakukan sekolah dengan melakukan pengalokasian dan penggunaan dana sesuai dengan kebutuhan dalam menunjang pendidikan karakter.
7). Pelayanan peserta didik.
Pelayanan peserta didik dilakukan melalui penerimaan peserta didik, pengembangan, pembimbingan dan pembinaan, dan melakukan pemetaan sesuai minat dan bakat dan sekolah wajib mengembangkan kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik. Penerapan layanan untuk peserta didik dapat dilakukan oleh guru bimbingan konseling (BK) dan oleh wali kelas untuk mendukung pendidikan karakter yang maksimal.
8). Hubungan sekolah dengan masyarakat.
42
Penerapan pendidikan karakter, perlu ada dukungan antara sekolah dan masyarakat. Peserta didik mendapatkan pendidikan karakter di sekolah dan masyarakat menciptakan lingkungan yang kondusif guna membantu sekolah dalam mewujudkan penguatan pendidikan karakter.
9). Menciptakan iklim sekolah.
Terciptanya iklim sekolah atau biasa disebut lingkungan sekolah yang aman, tertib, dan sehat harus dipimpin oleh kepala sekolah agar terselenggaranya pendidikan karakter yang efektif. Hal tersebut menjadi tugas wajib kepala sekolah dalam keberhasilan dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dalam pelaksanaan penguatan pendidikan karakter.
Pendidikan karakter di sekolah melibatkan komponen yang harus dikelola dengan baik untuk mendukung pendidikan karakter secara maksimal, seperti yang disebutkan oleh Wati (2015:105), komponen tersebut yaitu isi dari kurikulum, kegiatan pembelajaran dan penilaian, pengelolaan sekolah, kegiatan ko-kurikuler, memperkuat sarana dan prasarana, pengelolaan pembiayaan dan kinerja seluruh warga dilingkungan sekolah. Hal sependapat juga disampaikan oleh Darmayanti (2014:229) bahwa ada beberapa komponen yang harus dipersiapkan dan dikelola dalam keberhasilan pendidikan karakter di sekolah yaitu kurikulum, sarana dan prasarana, dan tenaga pendidik.
Dapat disimpulkan dari beberapa pendapat tentang strategi pengelolaan sumber daya yang ada disekolah dalam pendidikan karakter yaitu melakukan perencanaan, evaluasi, pengembangan kurikulum, pengembangan pembelajaran, mengelola kinerja tenaga pendidik dan kependidikan, mengelola sarana dan
43
sumber belajar, mengelola keuangan, pelayanan kepada peserta didik, dan pengelolaan iklim sekolah.
d. Strategi Implementasi Pendidikan Karakter
Ada beberapa strategi dan pendekatan implementasi penguatan pendidikan karakter yaitu:
1) Pengintegrasian dalam mata pelajaran
Penerapan pendidikan karakter yaitu terintegrasi dalam penyusunan silabus dan indikator berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat pada kurikulum. Seperti mata pelajaran pendidikan agama islam dapat terintegrasi melalui kegiatan bersalaman dengan guru untuk melatih rasa hormat kepada guru, mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat terintegrasi melalui kegiatan berdialog dengan teman sebaya serta didampingi guru untuk menuntun peserta didik menjaga sopan santunnya.
2) Pengintegrasian melalui pembelajaran tematis
Penerapan pendidikan karakter melalui pembelajaran tematis yaitu pembelajaran yang menghubungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator yang berasal dari beberapa mata pelajaran. Ciri-ciri pembelajaran tematis yaitu tujuan utama terletak pada peserta didik, menyampaikan pengalaman secara langsung kepada peserta didik, memberikan konsep yang berasal dari berbagai mata pelajaran yang dikemas menjadi satu tema, bersifat fleksibel dan pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
3) Pengintegrasian melalui pembiasaan
Penerapan pembiasaan di sekolah dapat dilakukan dengan mengucap salam saat pembelajaran, kegiatan berdo’a sebelum kegiatan, pembiasaan angkat
44
tangan ketika hendak berbicara saat diskusi pada pembelajaran, pembiasaan bersalaman ketika bertemu guru, pembiasaan sholat berjamaah, dan baris dengan disiplin sebelum memasuki kelas.
4) Pengintegrasian melalui Ekstrakurikuler
Penerapan pendidikan karakter melalui ekstrakurikuler dalam pendidikan karakter yaitu melalui kegiatan kepramukaan, palang merah remaja, olahraga, Bahasa dan kesenian yang mendapatkan bimbingan oleh ahli yang berperan penting sebagai penguatan pendidikan karakter (Zaenul, 2012:45).
Strategi implementasi pendidikan karakter seperti yang diungkapkan oleh Mulyasa (2012:41) yaitu melalui:
1) Pengembangan kurikulum pendidikan karakter
Terdapat beberapa model yang telah dikembangkan dan diteliti oleh berbagai ahli pendidikan dan ahli kurikulum dari berbagai negara, diantaranya model administrative, model akar rumput (Grass-Roots), model demonstrasi, model sistemik dari beauchamp, model taba, model hubungan interpersonal dari Rogers, model penelitian tindakan, dan model teknis emerging.
2) Kebijakan dan kewenangan sekolah
Merealisasikan kewenangan yang harus diperhatikan yaitu:
a). Mengembangkan dan menyusun kurikulum pendidikan karakter.
Menyusun kurikulum yaitu silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memiliki nilai karakter untuk peserta didik, yang dikembangkan sesuai musyawarah dengan dewan pendidikan serta komite sekolah.
b). Pemilihan model yang sesuai dengan karakteristik sekolah. Misalnya model subjek matter dalam bentuk mata pelajaran tersendiri, model korelasi
45
dalam bentuk mata pelajaran yang sejenis, model integrasi dalam semua mata pelajaran, model gabungan dan model suplemen.
c). Menghasilkan perencanaan, pelaksanaan dan pertanggungjawaban.
Penerapan pendidikan karakter harus sesuai dengan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). Rencana sekolah dilakukan berdasarkan rencana jangka panjang yaitu tiga sampai lima tahun, rencana jangka menengah yaitu tiga sampai satu tahun, dan rencana jangka pendek yaitu satu tahun atau sering disebut juga dengan rencana tahunan. Untuk mencapai pelaksanaannya dilakukan melalui pengawasan eksternal dan internal sebagai penilaian dalam pertanggungjawaban laporan kemajuan sekolah.
3) Peran guru dalam memberikan pendidikan karakter
Peran guru dalam pendidikan karakter.Faktor utama dan terpenting dalam pelakasanaan pendidikan karakter yaitu guru. Dalam penerapan sehari-hari di sekolah guru harus bisa menjadi teladan yang baik sehingga dapat mempengaruhi peserta didik.
4) Peran kepala sekolah dalam keberhasilan pendidikan karakter
Keberhasilan kepala sekolah dalam memberikan pendidikan karakter.
Peran kepala sekolah dalam mengkoordinasikan dan menggerakan sumber daya pendidikan sangatlah penting, karena kepala sekolah merupakan pimpinan yang menentukan jalannya kemajuan sekolah dalam mempengaruhi, memberikan dorongan, memberikan motivasi guru, staf, peserta didik, wali murid, komite sekolah dan dewan pendidikan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan.
Strategi implementasi pendidikan karakter dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, seperti yang disebutkan oleh Amri (dalam Ramdhani,
46
2017:33) ada 4 pendekatan yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan karakter yaitu: a) Pendekatan penanaman nilai keteladanan, penguatan nilai positif, bermain peran dan tindakan sosial. b) Pendekatan kognitif yaitu mengajak peserta didik untuk berfikir tentang permasalahan moral yang ada disekitar mereka, sehingga keputusan yang diambil akan membuat mereka mengambil tanggung jawab. c) Pendekatan klarifikasi nilai yaitu meninjau perbuatan yang dilakukan peserta didik kemudian ditingkatkan secara bertahap untuk tumbuh kembangnya kesadaran yang dimiliki. d) Pendekatan pembelajaran berbuat yaitu memberikan kesempatan pada peserta didik untuk melakukan kegiatan yang mengandung moral yang dilakukan baik individu dan berkelompok.
Dari beberapa pendapat tentang strategi implementasi pendidikan karakter, dapat disimpulkan bahwa dalam menerapkan strategi implementasi pendidikan perlu dilakukan pengembangan kurikulum pendidikan karakter, membuat kebijakan dan kewenangan sekolah, terdapat peran guru dan peran kepala sekolah yang diterapkan dengan pendekatan yang pilih sekolah melalui kegiatan pembelajaran tematis, pembiasaan dan ekstrakurikuler.
B. Kajian Penelitian Yang Relevan
Terdapat beberapa penelitian yang relevan terkait dengan penelitian yang sudah ada sebelumnya. Penelitian yang sudah ada dapat dijadikan pendukung dalam penelitian yang akan dilakukan. Berikut beberapa penelitian yang relevan tentang strategi kepala sekolah dalam penguatan pendidikan karakter (PPK) sebagai berikut:
47
Tabel 2.1 Penelitian yang Relevan
Judul dan Penulis Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Judul:
Implementasi Strategi Kepala Sekolah Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik.
Penulis:
Santi susanti, Bukman Lian, Yenny Puspita, 2020.
Strategi kepala sekolah dalam pengimplementasikan penguatan pendidikan karakter yaitu:
1.Terintegrasi ke dalam kegiatan intrakurikuler.
2.Mengintegrasikan ke dalam ekstrakurikuler.
3.Mengintegrasikan ke dalam pembiasaan di sekolah.
Persamaan:
1.Penerapan penguatan pendidikan karakter berbasis kelas yaitu melalui kegiatan intrakurikuler.
2.Penerapan penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler.
3.Penerapan penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah.
Perbedaan :
1. Adanya penerapan nilai utama dan sub nilai pendidikan karakter.
2.Penelitian yang dilakukan sebelumnya dilakukan di SD Negeri 12 Betung Palembang, sedangkan penelitian dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatullah Kota Blitar.
Judul :
Strategi Kepala Sekolah Dalam Menanamkan Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Pusri Palembang
Penulis :
Eka Lestari, 2018.
Strategi kepala sekolah dalam menanamkan pendidikan karakter disekolah dasar pusri Palembang yaitu:
a.Strategi kepala sekolah dalam menanamkan nilai religius.
b.Strategi kepala sekolah dalam menanamkan nilai karakter kejujuran.
c.Strategi kepala sekolah dalam menanamkan nilai karakter disiplin.
Persamaan :
1.Penanaman nilai karakter religius, kejujuran dan sikap disiplin yang dilakukan melalui kegiatan pembiasaan disekolah.
Perbedaan :
1.Penanaman nilai karakter yang dilakukan melalui pembiasaan di sekolah yaitu berdasarkan lima nilai karakter utama berdasarkan pedoman penguatan pendidikan karakter yaitu religius,
nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas yang diimplementasikan melalui pembiasaan di sekolah.
2.Penelitian yang dilakukan sebelumnya dilakukan di SD Pusri Palembang, sedangkan penelitian dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatullah Kota Blitar.
48
Lanjutan tabel 2.1 Penelitian yang Relevan
Judul dan Penulis Hasil Penelitian Persamaan dan Perbedaan Judul:
Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar
Muhammadiyah Sleman . Penulis:
Hendro Widodo, 2018.
Peran kepala sekolah yaitu melakukan pembinaan dalam hal pemodelan (modeling), pengajaran (teaching) , dan penguatan karakter (reinforcing) yang baik terhadap semua warga sekolah. Nilai karakter yang dikembangkan di SD
Muhammadiyah sleman yaitu nilai religius, disiplin dan nilai motivasi berprestasi.
Persamaan : Nilai karakter yang
diterapkan yaitu nilai religius.
Perbedaan :
1. Nilai karakter yang diterapkan meliputi 5 nilai utama sesuai pedoman penguatan pendidikan karakter yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas.
2.Penelitian yang dilakukan di MI Hidayatullah Kota Blitar.
Sumber : Olahan Peneliti
Dari tabel diatas dapat disimpulkan, bahwa dari ketiga penelitian yang sudah ada sebelumnya penelitian dilakukan di SD Negeri, SD Muhammadiyah dan SD Swasta. Penerapan nilai-nilai karakter yang terintegrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, intrakurikuler dan pembiasaan di sekolah.
49 C.Kerangka Berpikir
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Kondisi Ideal
Pada tahun 2022, merupakan zaman yang di sebut dengan era society 5.0 yaitu era yang menggunakan teknologi canggih seperti internet menjadi hal yang utama. Seperti pembelajaran daring, berbelanja dan mencari informasi luas tanpa batas.
Kondisi Fakta
Penggunaan internet dapat di jangkau oleh seluruh kalangan. Fungsi internet selain mempermudah aktivitas manusia, dalam penggunaannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi peserta didik.
Fenomena
Penggunaan internet tanpa adanya filter yang sesuai dengan usia peserta didik dan kurangnya pengawasan orang tua akan berdampak pada perkembangan peserta didik, seperti mengetahui cara melakukan Tindakan kejahatan, menunda tugas sekolah, menganggu kesehatan mata dan menurunkan prestasi belajar.
Metode Penelitian
Fenomena tersebut dapat di cegah melalui penguatan pendidikan karakter yang di pimpin oleh kepala sekolah pada satuan pendidikan. Penelitian ini menggunakan Teknik wawancara kepada kepala sekolah, obervasi di lingkungan sekolah dan mendokumentasi kegiatan pembiasaan.
Hasil Penelitian
Analisis Strategi Kepala Sekolah Dalam Penguatan Pendidikan Karater Siswa MI Hidayatullah Kota Blitar
50 Keterangan :
Untuk mencapai tujuan pendidikan, timbul permasalahan yang dihadapkan pada era society 5.0 ini yaitu era teknologi informasi sudah menjadi hal yang wajib ada untuk mendampingi aktivitas manusia. Hal tersebut membawa dampak bagi perkembangan peserta didik, diantaranya yaitu menurunya gerakan literasi karena perkembangan pesat teknologi informasi yang tidak difilter sesuai usia peserta didik, kurangnya pengawasan orang tua, gangguan kesehatan mata, menunda tugas dan menurunkan prestasi belajar. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, diperlukan kegiatan penguatan pendidikan karakter yang dipimpin oleh kepala sekolah pada satuan pendidikan, agar peserta didik memiliki landasan yang kuat terutama karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan tanggung jawab. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tentang analisis strategi kepala sekolah penguatan pendidikan karakter siswa di MI Hidayatullah Kota Blitar
51