• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGALAMAN KEPUTUSASAAN PADA PECANDU NARKOBA DI PANTI REHABILITASI JOGJA CARE HOUSE YOGYAKARTA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh :

Valentinus Tri Prabowo NIM : 141114058

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2018

(2)
(3)
(4)

iv

HALAMAN MOTTO

“ Keberhasilan terbesar kita

Bukanlah karena kita tidak pernah gagal, Tetapi bagaimana kita bangkit

Setiap kali kita mengalami kegagalan ”.

(Pepatah China)

(5)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ilmiah ini bowo persembahkan bagi :

Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria

Ia lah Tuhanku yang Kuasa sebagai penerangku dan Bundaku yang selalu mengasihiku serta membimbingku ketika dalam kesulitan.

Orangtuaku tercinta

Bapak Almateus Jumbadi, S.Ag dan Ibu Irene Sumarni

Yang memberikan seluruh kasih sayang, dukungan, dan semangat yang luar biasa.

Kakakku dan keponakanku yang tersayang

Sarawati Ika Nugraheni, S.Pd dan Florentina Clancy Prameswari

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

PENGALAMAN KEPUTUSASAAN PADA PECANDU NARKOBA DI PANTI REHABILITASI JOGJA CARE HOUSE YOGYAKARTA

Valentinus Tri Prabowo 141114058

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pengalaman keputusasan yang dialami oleh pecandu narkoba. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui terjadinya keputusasaan, faktor-faktor yang menyebabkan keputusasaan dan dampak keputusasaan.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kulitatif. Subjek penelitian terdiri dari dua residen yang berasal dari panti rehabilitasi Jogja Care House. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara secara mendalam sesuai dengn pedoman yang telah dibuat. Analisis data yang digunakan yaitu dengan mereduksi data, mengelompokkan data berdasarkan kategori, memberi kode, dan mengnalisis data. Untuk mengukur keabsahan data peneliti menggunakan metode trianggulasi sumber, yaitu subjek, konselor subjek, dan pembimbing subjek.

Hasil penelitin ini menunjukkan bahwa keputusasaan pada pecandu berasal dari rasa takut, cemas, depresi dan didukung oleh pikiran yang memikirkan ketidakpastian di masa yang akan datang dan juga adanya konflik dalam diri setiap pecandu yang menyebabkannya merasa depresi dan membuat mereka kehilangan harapan. Terjadinya keputusasaan pada pecandu diakibatkan oleh tidak adanya keberdayan pecandu yang memiliki harapan, untuk mewujudkan harapannya tersebu serta rangkaian efek dari penggunaan narkoba itu sendiri.

Keputusasaan pada pecandu diakibatkan oleh faktor bawaan dari dalam dirinya serta keadaan lingkungan sekitar seperti keluarga, orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya serta masyaraka sekitar yang memandang sebelah mata, tidak menerima tentang keberadaan mereka dan pemberian black label, diskriminasi, serta adjustment. Keputusasaan pada pecandu bisa menuntun pecandu kembali menggunakan narkoba, dan juga membuat mereka memiliki pikiran untuk melakukan percobaan bunuh diri. Program rehabilitasi mampu menumbuhkan kondisi fisik, psikis, mental dan sosial pada diri pecandu narkoba.

Kata kunci : Pecandu narkoba, Keputusasaan, Rehabilitasi, Residen

(9)

ix ABSTRACT

THE EXPERIENCE OF DESPAIR ON DRUG ADDICTS AT JOGJA CARE HOUSE REHABILITATION CENTER IN YOGYAKARTA

Valentinus Tri Prabowo 141114058

This research aims to provide an overview of the experience of despair experienced by drug addicts. In addition, this study also aims to determine the occurrence of despair, the factors that cause despair, and the impact of despair.

This research is a qualitative research. The research subjects consistof two residents from Jogja Care House rehabilitation center. Data collection method used in this researchis in-depth interview that is in accordance with the guidelines that have been made. The data analysis steps are conducted by reducing the data, grouping the data by category, giving code to the data, and analyzing the data.

Theresearcher usessource triangulation method, namely subjects, subject counselors, and mentors of the subject to measure the validity of the data.

The results of this research indicate that the despair in drug addicts comes from fear, anxiety, depression. In addition, it is also backed by thoughts that think about future uncertainty and also the conflict within each drug addict that causes them to feel depressed and make them lose hope. The occurrence of despair in the addicts is caused by the lack of willingness of the addicts who have hope to realize their wish and the sequence of effects of drug use itself. The despair of the addicts is caused by innate factors from within themselves as well as the circumstances surrounding the environment such as family, people who are very influential in their life, people who see them as useless andpeople who do not accept their existence. Furthermore, the provision of black label, discrimination, and adjustment also encourage the feeling of despair within the mind of drug addicts.

Despair of the drug addicts can lead them to go back to drugs, and also make them have the mind to commit suicide attempts. The rehabilitation program is able to cultivate the physical, psychic, mental and social condition of the drug addicts.

Keywords: Drug addicts, Despair, Rehabilitation, Resident

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas pertolongan dan penyertaanNya dalam persiapan, pelaksanaan serta penyelesaian laporan penelitian dalam bentuk skripsi ini.

Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan dari program studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang tulus kepada :

1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Dr. Gendon Brus, M.Si., sebagai Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Sekaligus sebagai dosen pembimbing yang dengan sabar dan tulus telah memberikan waktu, motivasi, masukan, dan banyak pembelajaran berharga kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

3. Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berguna bagi penulis.

(11)
(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERSETUJUN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Pembatasan Masalah ... 6

D. Fokus Masalah... 6

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

F. Definisi Istilah ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

A. Perilaku Keputusasaan ... 9

1. Pengertian Keputusasaan ... 9

2. Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Perilaku Keputusasaan .... 10

B. Penyalahgunaan Narkoba ... 14

1. Pengertian Penyalahgunaan Narkoba ... 14

2. Jenis-jenis Narkoba dan Efeknya Bagi Pengguna ... 16

3. Kepribadian Penyalahguna Narkoba ... 23

C. Program Rehabilitasi ... 27

1. Pengertian Rehabilitasi... 27

2. Fase-fase dalam Rehabilitasi ... 28

D. Profil Jogja Care House ... 31

1. Sejarah Jogja Care House ... 31

(13)

xiii

2. Program Jogja Care House ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 34

A. Jenis Penelitian ... 34

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 34

C. Subjek Penelitian ... 35

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 35

1. Wawancara ... 35

E. Keabsahan Data ... 39

F. Teknik Analisis Data ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 43

A. Deskripsi Data ... 43

B. Pelaksanaan Penelitian ... 44

C. Hasil ... 45

D. Pembahasan ... 54

BAB V PENUTUP ... 62

A. Kesimpulan... 62

B. Keterbatasan Penelitian ... 63

C. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 65

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara ... 36 Tabel 4.1 Agenda Pelaksanaan Wawancara ... 45

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Surat Pengantar Penelitian ... 67

(16)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan batasan istilah.

A. Latar Belakang

Beberapa tahun terakhir pemerintah Indonesia telah menyatakan perang terhadap narkoba, terbukti dengan mulai bermunculan berita tentang penangkapan para pemakai dan penyelundupan barang haram tersebut yang ramai beredar di berbagai media seperti internet, televisi dan media cetak. Narkoba saat ini sudah menjadi istilah populer di tengah kalangan masyarakat Indonesia. Namun, masih banyak yang belum mengetahui atau memahami arti dari kata narkoba itu sendiri. Istilah narkoba adalah kependekan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Dalam arti luas narkoba adalah obat, bahan atau zat yang mana jika bahan itu masuk ke dalam tubuh manusia, melalui oral, dihirup maupun intervena (suntik), dapat berpengaruh pada sistem kerja otak atau susunan syaraf pusat.

Permasalahan penyalahgunaan narkoba pada saat ini sudah menjadi masalah yang luar biasa, maka diperlukan upaya-upaya yang luar biasa pula, tidak cukup penanganan permasalahan narkoba ini hanya diperankan oleh para penegak hukum saja, tapi juga harus didukung peran serta dari seluruh elemen masyarakat. Kenyataan itulah yang menjadi latar belakang berdirinya Badan Narkotika Nasional (BNN). BNN pun gencar

1

(17)

melakukan upaya-upaya preventif dan represif untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dari narkoba tahun 2015 yang merupakan target dari seluruh negara ASEAN.

Berdasarkan data penyalahgunaan narkoba di DIY pada tahun 2015 lalu tercatat ada 60.182 orang, 23.028 orang di antaranya usia muda yang masih coba-coba bersentuhan dengan narkoba, dan sisanya pengguna yang teratur memakai melalui jarum suntik dan tanpa jarum suntik. Banyaknya pengguna narkoba di DIY menempatkan DIY dalam rangking ke delapan setelah DKI Jakarta. Namun demikian, Soetarmono menyatakan, data penyalahgunaan narkoba pada 2015 itu sudah berkurang dibanding 2014 yang mencapai 62.028 orang (rangking 5 nasional). Sebanyak 83.952 penyalahguna di 2011, dan 68.981 orang (2008). Sementara total penyalahgunaan narkoba yang sudah direhabilitasi jumlahnya hanya 1.300an. menurut Soetarmono butuh waktu lima puluh tahun untuk membebaskan DIY dari penyalahgunaan narkoba. Oleh karena itu, pemberantasan jaringan narkoba terus dilakukan BNNP DIY.

Kecanduan narkoba bukan merupakan kejadian yang terjadi dengan begitu saja, melainkan akibat dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Dalam penelitian yang dilakukan Hawari (1990) menyatakan bahwa seorang akan terlibat ketergantungan narkoba, apabila terdapat interaksi antara faktor predisposisi, kontribusi dan pencetus. Faktor predisposisi adalah seseorang yang mengalami gangguan kepribadian yang ditandai tidak puas dengan dampak perilakunya terhadap orang lain di

(18)

rumah, sekolah atau tempat pergaulan sosialnya. Maka untuk mengatasi ketidakberfungsian secara wajar dan untuk menghilangkan kecemasan, maka seseorang cenderung menggunakan narkoba. Kemudian faktor kontribusi adalah kondisi keluarga yang tidak baik atau disfungsi keluarga.

Faktor pencetus adalah pengaruh teman kelompok sebaya dan ketersediaan serta mudahnya narkoba diperoleh (easssy availability) yang mempunyai andil masing-masing 81,3% dan 88% bagi seseorang untuk terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Bagi pecandu narkoba, hidup dengan menyandang status pecandu narkoba merupakan suatu penderitaan yang sangat berat. Mereka ditolak, dikucilkan, dan dianggap remeh dari kehidupan masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya stigma yang berkembang di masyarakat bahwa para pengguna narkoba identik dengan perilaku kekerasan dan kejahatan serta penyakit menular yang merusak sendi kehidupan. Stigma inilah yang kemudian membuat para pecandu narkoba menjadi rendah diri, frustasi, dan putus asa sehingga tak jarang para pecandu yang sudah menjalani program rehabilitasi memilih menjadi pecandu kembali atau memilih jalan pintas untuk bunuh diri (Thombs, 2010).

Pada kasus penyalahgunaan narkoba akan ada tahap perubhan pada pengguna narkoba itu sendiri yaitu tahap dimana sudah mulai terjadi perubahan fisik, psikis, dan sosial. narkoba yang masuk dalam tubuh melalui suntik, diminum, dihisap maupun dihirup akan masuk kedalam otak melalui pembuluh darah. Di dalam otak terdabat sel-sel penerima atau

(19)

reseptor yang mengikat zat tersebut. Sel penerima ini kemudian mepengaruhi kimiawi otak atau yang disebut neurotransmitter yang mana mempunyai fungsi untuk mengatur fungsi sel-sel otak dalam hal kemampuan berpikir, berperasaan, dan berperilaku. Sehingga bila ada gangguan produksi kimiawi tersebut, kemampuan otak dalam mengatur fungsinya akan terganggu dan akan terlihat perubahan dari berpikir, berperasaan dan berperilaku, Insano (2007: 4). Perubahan dalam berpikir, berperasaan dan berperilaku akan mempengaruhi perubahan secara fisik, psikis, dan sosial pengguna. Di tahap inilah yang memungkinkan munculnya keputusasaan pada pecandu narkoba.

Keputusasaan diartikan sebagai harapan negatif terhadap masa depan, yaitu pemikiran bahwa apa yang diharapkan tidak akan terwujud dan disertai keyakinan tidak ada kemungkinan untuk mengubah kenyataan menjadi seperti yang diharapkan. Keputusasaan didiskripsikan sebagi bagian dari tri tunggal kognisi negatif atau negative cognitive triad yaitu pandangan negatif terhadap diri, pengalaman hidup dan masa depan, yang memiliki gejala motivasional, kognitif dan emosional, Beck (1985: 21).

Menurut Abramson dkk (dalam Alloy 1988: 231), keputusasaan diartikan sebagai harapan negatif dan rasa tidak berdaya untuk mengubah kenyataan tersebut menjadi seperti yang diharapkan. Keputusasaan terjadi disaat seorang individu merasakan bahwa individu itu sudah jatuh dari harapan, kenyamanan, atau merupakan sukses yang mustahil.

(20)

Keputusasaan yang dialami oleh penyalahguna narkoba juga dapat dijadikan faktor penentu dari perilaku yang berujung pada perilaku bunuh diri (sucide ideation) mulai dari ide, percobaan, sampai dengan tindakan bunuh diri. Namun tidak semua keputusasaan dapat mendorong ide untuk melakukan tindakan bunuh diri hingga melakukannya, hal ini tergantung dari apa yang dialami oleh pecandu berdasarkan faktor psikologis, dan sosialnya yang berpengaruh dan farmakologis zat yang digunakan pada masa penyalahgunaan narkoba baik sebelum direhabilitasi maupun dapat terjadi saat direhabilitasi, Sri Haryati Denisa (2013: 32).

Kesimpulan dari pemaparan diatas dapat dipahami bahwa dalam kasus penyalahgunaan narkoba dan hidup menjadi seorang pecandu narkoba merupakan beban tersendiri bagi mereka, hal ini terjadi karena adanya stigma yang berkembang di masyarakat bahwa para pengguna narkoba identik dengan perilaku kekerasan dan kejahatan serta penyakit menular yang merusak sendi kehidupan. Stigma inilah yang kemudian membuat para pecandu narkoba menjadi rendah diri, frustasi, dan putus asa yang kemudian membuat pecandu memiliki keinginan untuk kembali memakai narkoba atau memilih untuk bunuh diri.

(21)

B. Identifikasi Masalah

Berawal dari latar belakang di atas terkait dengan keputusasaan pada pecandu narkoba dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagi berikut : 1. Narkoba telah masuk di lingkungan masyarakat dan disalahgunakan

oleh masyarakat

2. Daerah Istimewa Yogyakarta menempati posisi 5 dalam kasus penyalahgunaan narkoba pada tahun 2014 dan mengalami penurunan pada tahun 2015 menjadi peringkat 8 dalam sekala nasional

3. Narkoba mempengaruhi sistem kerja otak dan susunan syaraf manusia 4. Keputusasaan mudah dialami oleh pecandu narkoba

5. Kecanduan narkoba bukan merupakan kejadian yang terjadi dengan begitu saja, melainkan akibat dari berbagai faktor yang saling berkaitan C. Pembatasan Masalah

Fokus kajian penelitian ini diarahkan pada, keputusasaan yang dialmi pecandu narkoba, dan belum ada penelitian yang mengkaji menegenai keputusasaan pada pecandu tersebut. Maka peneliti fokus pada

“Pengalaman Keputusasaan Pada Pecandu Narkoba di Panti Rehabilitasi JOGJA CARE HOUSE Yogyakarta”

D. Fokus Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, fokus permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana keputusasaan pada pecandu narkoba ? 2. Bagaimana terjadinya keputusasaan ?

(22)

3. Faktor-faktor yang menyebabkan keputusasaan ? 4. Bagaimana dampak dari keputusasaan ?

5. Sejauh mana program rehabilitasi dapat membangkitkan semangat hidup pecandu ?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keputusasaan pada pecandu narkoba di panti rehabilitasi.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan manfaat, antara lain :

1. Manfat Teoritis

Memberikan sumbangan informasi bagi pengembangan pengetahuan program Bimbingan dan Konseling, terutama untuk keputusasaan pada pecandu narkoba.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat menabah bahan acuan dan dapat digunakan bagi semua pihak yang membutuhkan. Selain itu penelitian ini diharapkan, memberikan sumbangan kepustakaan yang merupakan informasi tambahan bagi yang membaca dan pihak-pihak yang memiliki permasalahan yang sama dan ingin melakukan penelitian lebih lanjut.

(23)

G. Definisi Istilah

Definisi operasional variabel-variabel yang terdapat dalam foks permasalahan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Keputusasaan

Keputusasaan adalah harapan negatif terhadap diri sendiri, dunia dan masa depan. Keputusasaan merupakan bagian yang paling spesifik dari depresi.

2. Pecandu Narkoba

Pecandu narkoba adalah seseorang yang menggunakan atau menyalahgunakan narkoba secara ilegal dan dalam keadan ketergantungan pada narkoba, baik secara fisik maupun psikis.

3. Rehabilitasi

Rehabilitasi adalah suatu rangkaian kegiatan profesional yang bertujuan memecahkan masalah, menumbuhkan, memulihkan dan meningkatkan kondisi fisik, psikis, mental dan sosial agar dapat menjalankan fungsi sosialnya. Rehabilitasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah rehabiliasi bagi pecandu narkoba.

4. Narkoba

Narkoba adalah obat, bahan atau zat yang mana jika bahan itu masuk ke dalam tubuh manusia, melalui oral, dihirup maupun intervena (suntik), dapat berpengaruh pada sistem kerja otak atau susunan syaraf pusat.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perilaku Keputusasaan

1. Pengertian Keputusasaan

Dalam buku SQ (Spiritual Inteligence) yang dituis oleh Zohar dan Marshall, (2000, 258), seorang filosof Denmark, Soren Kierkegard, menyebut keputusasaan sebagai “penyakit yang menuntut pada kematian”. Keputusasaan adalah pelepasan diri sepenuhnya dari kehidupan, atau semacam bunuh diri. Orang yang berputus asa telah menyerah, dia tidak dapat menemukan makna, benda, atau orang yang cukup berharga yang patut ditanggapinya. Hari-hari yang dilaluinya merupakan rangkaian kesamaan yang kelabu, malam-malamnya sering berupa peristiwa-peristiwa mengerikan. Kematian, tidak adanya kehidupan, tidak adanya tanggapan terhadap sesuatu yang hidup, menghantuinya.

Menurut Blumnthal dan Kupfer, (1990, 187) menunjukan pada umumnya penyalahguna narkoba akan mengeluh mengenai depresi perasan, tidur, gangguan selera makan, menurunnya energi, menurunnya dorongan seks, dan kehilangan potensi seksual, beserta perasaan tidak berdaya, kehilangan kendali, dan keputusasaan.

Sedangkan Vrester, (2012, 51) menyatakan bahwa hipotesisi sebelumnya menjelaskan suatu urutan lebih rendah terhadap perasaan negatif, disebut dengan keputusasaan, akan diasosiasikan dengan

9

(25)

kerentanan pola penyalahgunaan narkoba terhadap proses obat di dalam tubuh yang menyebabkan matirasa sebagai pengalaman dan memori yang menyakitkan serta pemulihan dari dihilangkannya pemberian reward terhadap penyalahguna narkoba.

Dari dua pengertian keputusasaan di atas, dapat disimpulkan bahwa keputusasaan yang dialami oleh penyalahguna narkoba merupakan suatu bentuk harapan negatif terhadap diri sendiri, dunia dan masa depannya. Selain itu juga keputusasaan merupakan komponen dari depresi yang berkaitan dengan keadaan emosional ketika individu merasa bahwa kehidupan berat dijalani dan kehilangan harapan serta diawali dari perasan bersalah terhadap diri sendiri, keluarga dan komunitasnya.

2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Perilaku Keputusasaan

Dalam teori Stimulus Respon yang dikemukakan oleh Dollard Mieler, (2006, 199). Disebutkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi munculnya suatu perilaku yaitu :

a. Faktor Internal (faktor dalam diri individu), meliputi stimulus yang sifatnya dorongan dari dalam diri individu.

b. Faktor Eksternal (faktor dari luar individu) meliputi stimulus yang berasal dari luar individu.

Dari teori yang dikemukakan oleh Dollard Mieler di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum munculnya suatu perilaku

(26)

keputusasaan pada seseorang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yag berasal dari dalam diri seseorang, yang dapat mempengaruhi perilaku keputusasaan.

Faktor yang mempengaruhi antara lain pola atribusi yang stabil dan global terhadap peristiwa negatif. Keyakinan akan munculnya konsekuensi dengan adanya peristiwa negatif, dan keyakinan tentang karakteristik diri sebagai penyebab timbulnya pristiwa negatif, pola atribusi depresogenik dan patokan terhadap kondisi situasional, Abramson dkk (1989, 360) terdapat dua macam keyakinan, yaitu keyakinan yang positif dan keyakinan yang negatif. Dimana keyakinan tersebut akan sangat mmpengaruhi seberapa besar munculnya perilaku keputusasaan pada seseorang.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari lingkungan sekitar yangmana dapat mempengaruhi munculnya perilaku keputusasaan. Faktor yang mempengaruhi ini antara lain dukungan sosial yang dapat datang dari anggota keluarga, seperti pasangan hidup, anak, orang tua dan sanak saudara. Selain itu dukungan dari teman, organisasi, keagamaan, pemerhati profesional dan organisasi sosial lainnya, Teylor dkk (1986, 608).

(27)

Kurangnya dukungan sosial akan sangat mempengaruhi munculnya perilaku keputusasaan tersebut.

Menurut teori keputusasaan yang dikemukakan oleh Abramson dkk (1986, 359) keputusasaan bermula dari negatif live event atau peristiwa negatif yang dipandang sebagai peristiwa yang sangat penting artinya. Ada juga prakondisi atau penyebab lain yang turut mempengaruhi, dan secara lengkap akan dijelaskan sebagai berikut : a. Sebab Pelengkap Proksimal

Keputusasaan mengandung dua elemen, yaitu harapan negatif terhadap terwujudnya harapan (negative outcome expectancy) dan rasa tidak berdaya untuk mampu mengubah kenyataan yang menyakitkan (helplessness expectancy) .

b. Sebab kontribusi – proksimal

Faktor-faktor etimologi yang menjadi sebab kontrbusi- proksimal bagi timbulnya keputusasaan- depresi adalah :

1) Pola atribusi yang stabil dan global terhadap peristiwa negatif.

Pola atribusi terhadap peristiwa negatif adalah suatu fungsi dari informasi situasional yang dihadapi. Pola atribusi yang stabil diartikan sebagai cara pandang terhadap informasi yang sifatnya menetap pada pola pikir individu. Pola atribusi yang global diartikan sebagai cara pandang yang menyeluruh.

Dalam menghadapi peristiwa negatif timbul anggapan bahwa peristiwa negatif tersebut akan mempengaruhi seluruh

(28)

kehidupannya. Pola atribusi tersebut disertai dengan tingkat kepentingan individu terhadap peristiwa negatif yang timbul.

2) Keyakianan akan munculnya konsekuensi negatif dengan adanya peristiwa negatif. Keyakinan ini terlepas dari atribusi kausal yang dibuat namun membuka peluang timbulnya depresi bila peristiwa terebut dinggap sangat penting dalam kehidupan, tidak dapat diperbaiki, tidak mungkin berubah dan tidak mempengaruhi seluruh aspek kehidupan.

3) Keyakinan tentang negatifnya karakteristik diri sebagai penyebab timbulnya peristiwa negatif. Keyakinan ini tidak terlepas dari atribusi kausal yang dibuat dan yang dikarakteristikan negatif adalah harga diri, kemampuan dan kepribadian.

4) Kurangnya dukungan sosial. Faktor ini juga turut ikut andil bagian dalam mencetuskan tumbuhnya keputusasaan dan pada akhirnya menyebabkan depresi.

c. Sebab kontribusi – distal

Ada dua faktor etimologi yang berada pada posisi ini dan mempengaruhi munculnya keputusasaan, yaitu:

1) Pola pikir depresogenik. Diartikan sebagai kecenderungan pola pikir yang dapat mengarah kepada timbulnya depresi. Beck dalam Williams, (1984, 32) mendefinisikannya sebagai asumsi terhadap peristiwa negatif yang menekan dan pengalaman

(29)

hidup, dalam suatu sekema kondisi yang negatif. Pola pikir depresogenik meliputi pola atribusi, pola keyakinan, akan munculnya konsekuensi negatif dan pola keyakinan akan negatifnya karakteristik diri. Pola pikir depresogenik merupakan diatesis komponen stres yang diartikan sebagai kompnen pencetus stres.

2) Patokan terhadap kondisi situasional. Patokan ini dapat menimbulkan keputusasaan dan pada akhirnya depresi bisa memiliki konsensus yang rendah. Konsensus yang rendah artinya individu memandang masalah yang menimbulkan peristiwa negatif sebagai kegagalan yang hanya terjadi pada dirinya. Konsistensinya tinggi, artinya kegagalan akan selalu muncul bila menghadapi masaah tersebut. Terakhir adalah daya pembeda yang mudah diartikan sebagai keyakinan bahwa kegagalan akan selalu terjadi dalam menghadapi masalah- masalah yang lain.

B. Penyalahgunaan Narkoba

1. Pengertian Penyalahgunaan Narkoba

Pada awalnya narkoba dikenal dan digunakan dalam dunia kedokteran sebagai obat penawar rasa sakit atau penenang.

Berdasarkan Dr. Sudirman MA, Sp, Kj (Alatas, 2003) prinsip dan kinerja obat tergantung pada :

(30)

a. Pendapat obat “baik” atau “buruk”, sebenarnya tidak ada obat yang buruk, hanya saja perilaku dan cara pemakaiannya saja yang buruk.

b. Setiap obat memiliki efek berganda, maksud dari pernyataan ini adalah efek obat tidak hanya terhadap satu bagian otak, namun juga ke bagian-bagian atau organ tubuh yang lainnya.

c. Tingkatan dan kualitas efek obat tergantun pada jumlah atau takaran obat yang digunakan.

d. Efek dari obat psikoaktif (bergantung pada riwayat sebelumnya dan apa yang diharapkan pemakainya).

Hawari (2000), mngungkapkan bahwa penyalahgunan narkoba merupakan pemakaian obat-obatan untuk diri sendiri tanpa indikasi medis, tanpa petunjuk atau resep dokter, baik secara teratur atau berkala sekurang-kurangnya selama satu bulan. Pada penyalahgunaan ini cenderung terjadi toleransi tubuh yaitu kecenderungan menambah dosis untuk mendapatkan khasiat yang sama setelah pemkaian berulang. Disamping itu penyalahgunaan narkoba menyebabkan pemakainya mengalami sindroma “withdrawal” apabia pemakaian diberhentikan. Kemudian, Hawari (2003) juga menjelaskan bahwa semua zat yang termasuk narkoba menimbulkan adiksi (ketagihan) yang pada gilirannya dapat berakibat pada ketergantungan baik ketergantungan fisik maupun psikologis.

(31)

2. Jenis-jenis Narkoba dan Efeknya Bagi Pengguna

Pada dasarnya, setiap zat atau narkoba mempunyai efek psikologis dan fisiologis tersendiri. Safarino (Pangesti, 2006) membagi zat ke sesuai dengan efek yang ditimbulkan dalam empat golongan yaitu stimulan, depresan, halusinogen, dan narkotika.

Pembahasan mengenai keempat golongan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Stimulan

Stimulan merupakan zat yang dapat menstimulasi pusat sistem syaraf. Stimulan bekerja dengan meningkatkan transmisi saraf dan aktifitas elektrikal pada sistem syaraf pusat. Ini menjadikan pengguna menjadi lebih waspada, aktif, lebih terjaga, lebih cemas dan gelisah karena pusat syaraf distimulasi lebih dari biasanya. Pada umumnya, stimulan meningkatkan rasa kepercayaan diri, menciptakan suatu perasaan euforia, dan membuat pengguna bisa melakukan apa saja. Namun jika distimulasi secara berlebihan, atau dirangsang secara terus menerus, perasaan tersebut akan dengan mudah berubah dan menjadikan pengguna mudah tersinggung, banyak bicara, curiga berlebihan, gelisah, insomnia, dan bahkan melakukan kekerasan, Brown dan King (Amriel, 2008).

Efek fisik yang timbul bila menggunakan narkoba jenis stimulan pada dosis kecil hingga sedang adalah stimulasi

(32)

berlebihan pada sistem syaraf yang menaikan energi pada otot, meningkatkan detak jantung, meningkatkan tekanan darah dan penurunan selera makan. Sebuah stimulan dapat mengakibatkan masalah pada jantung, pembuluh darah, kejang-kejang serta ayan, terutama jika digunakan dalam dosis besar atau si pengguna sangat sensitif.

Zat yang termasuk dalam golongan stimulan adalah kokain, amfetamin, nikotin dan kafein. Kokain merupakan obat perangsang yang paling manjur, perilaku yang lazim dibawah pengaruh kokain adalah hiperaktif, keriangan, bertenaga, ketajaman perhatian, percaya diri dan kegiatan seksual yang meningkat. Amfetamin merupakan stimulan yang paling kuat, sangat mirip dengan kokain tetapi jauh lebih bertahan lama dan lebih murah untuk digunakan.

Kandungan nikotin dalam tembakau merupakan suatu zat paling adiktif yang dapat menyebabkan ketergantungan psikologis pada rokok. Kafein dalam kopi dapat menjadikan lebih siap atau waspada, menghilangkan rasa kantuk atau kelelahan dan membantu berfikir.

b. Depresan

Depresan berfungsi untuk menurunkn fungsi pusat sistem syaraf secara keseluruhan dan pada akhirnya memberi efek tenang, relaksasi otot, membuat penggunanya mengantuk, bahkan koma (jika digunakan secara berlebihan).

(33)

Efek yang ditimbulkan secara fisik dalam dosis kecil dapat memperlambat detak jantung dan pernafasan, menurunkn energi dan koordinasi otot, dan menumpulkan panca indra. Secara mental, awalnya dosis yang kecil dapat berfungsi seperti stimulan karena menurunkan inhibisi, tetapi dengan semakin banyaknya pemakaian dan semakin besarnya dosis yang dipakai, efek depresan secara menyeluruh mulai mendominasi, menumpulkan pikiran dan memperlambat tubuh. Jeni depresan tertentu juga dapat memunculkn euforia atau suatu perasaan nyaman dan tenang.

Zat yang termasuk dalam kategori utama jenis depresan ini adalah sedative-hypnotics berupa barbitrat, benzodiazepin dan alkohol. Sedative-hypnotics merupakan obat yang biasanya diresepkan untuk mengurangi kemungkinan neurotik pada pasien- pasien yang tidak stabil untuk mengendalikan kecemasan, membantu pasien insomnia kronik untuk tidur, serta mengendalikan hipertensi dan epilepsy.

Obat-obatan ini memberi perasaan nikmat dan memberi efek sedasi (rasa mual, muntah, tremor) pada awal pemakaian.

Stimulasi temporer dan dan efek sedasi yang akhirnya muncul dalam penggunaan berlebihan atau jangka panjang dapat mengacu pada perubahan kepribadian dan emosi (mood swing, depresi, mudah tersinggung, perilaku menyebalkan serta manipulasi).

Benzodiazepin bergabung dengan bagian sel syaraf tertentu dalam

(34)

otak untuk meningkatkan mekanisme penghalang, yang menyebabkan keadaan tenang, kemunduran tanggapan fisik, mental dan emosional. Efek samping yang merugikan meliputi kelesuan, kebingungan, suasana hati yang berubah-ubah, mual, kepeningan, mimpi buruk dan bicara mencerca, kegelisahan, lekas marahdan permusuhan. Gejala putus zat dapat terjadi berupa perasaan ketagihan akan obat jenis ini, kegelisahan, gnggun tidur dan mungkin gangguan halusinasi dapat terjadi.

Alkohol memperlambat kegiatan susunan syaraf pusat dan dalam dosis rendah dapat menjadikan tenang dengan hambatan dikurangi. Setelah efek depresan mengambil alih, alkohol memperlambat kegiatan relaks, menekan pernapasan dan denyut jantung serta mengacaukan pikiran dan keputusan.

c. Halusinogen

Halusinogen adalah zat-zat yang dapat mendistorsi persepsi sehingga menimbulkan delusi atau halusinasi. Jika stimulan menstimulasi tubuh dan depresan menurunkan atau mendepresikannya maka halusinogen dapat bekerja sebagai stimulan dan depresan. Namun biasanya narkoba jenis ini mendistorsikan persepsi penggunanya mengenai dunia, dan menciptakan suatu dunia baru dimana logika digantikan oleh sensasi-sensasi yang terasa sangat mendalam. Brown dan King (Amriel, 2008) menambahkan jika individu mengkonsumsi

(35)

beberapa jenis obat secara sekaligus, akibatnya menjadi sangat tidak terduga dan berbahaya. Efek mematikan akan semakin kuat jika individu menggabungkan depresan dan analgesik pada saat yang sama. Efek mental yang diakibatkan oleh halusinogen adalah mendistori pesan dari dan ke otak pusat sensor indra di otak, sehingga banyak stimuli fisik, terutama visual menjadi lebih mendalam atau terganggu. Pesan bayangan (halusinasi) juga dapat diciptakan oleh otak.

Zat yang termasuk dalam jenis ini adalah magic mashroom (jamur kotoran sapi), ectasy, LSD, marijuana (ganja) dan inhalan.

Magic mashroom atau yang sering dikenal dengan jamur kotoran

sapi, karena memang jamur ini habitatnya berada dan muncul di kotoran sapi saja. Ectasy seringkali digambarkan sebagai narkoba yang bersifat merangsang. Dampak langsung penggunaan ectasy dapat berupa terlalu aktif “rush” hingga euforia, diikuti perasaan tenang dan peningkatan kesadaran hawa nafsu. Rasa segan menghilang, ada peningkatan pada harga diri dan percaya diri, dan peningkatan kepercayaan dan hubungan antar teman dapat terjadi.

LSD adalah halusinogen yang paling terkenal, efek LSD dapat berubh-ubah dari pengguna atau orang ke orang, dari peristiwa ke peristiwa dari dosis ke dosis. Secara fisik LSD tidak menimbulkan gejala putus zat tetapi ketergantungan kejiwaan dapat terjadi. Dampak yang ditimbulkan terhadap perilaku adalah

(36)

timbulnya rasa nikmat yang luar biasa, sangat tenang dan mendorong perasaan nyaman. Seringkali terjadi perubahan pada persepsi, pengelihatan, suara, penciuman, perasaan dan tempat.

Efek negatif yang ditimbulkan dari zat ini adalah hilangnya kendali emosi, disorientasi, depresi, kepeningan, perasaan panik yng akut dan perasaan yang tak terkalahkan yang mengakibatkan pengguna menempatkan diri dalam bahya fisik. Halusinogen lain dapat berupa jamur dan kecubung.

Marijuana atau ganja biasanya dihisap dalam bentuk lintingan rokok yang digulung dengan tangan atau menggunakan pipa. Seperti halnya rokok, ganja dapat menimbulkan efek sisa pembakaran yang mengakibatkan berbagai penyakit. Dampak terhadap perilaku pemakainya berbeda-beda, terkait dengan sifat penggunanya, jenis canabis dan kekerapan serta waktu penggunaan. Beberapa efek perilaku yang timbul antara lain rasa senang berlebihan, santai, keringanan rasa stress dan sakit, nafsu makan bertambah, malas, tak bergairah, atau tidak mempunyai motivasi dan konsentrasi hilang.

Inhalan adalah pelarut penghirup dan zat valatile substance yang dihirup melalui hidung dan mulut. Seringkali produk ini disemprotkan kedalam kantong plastik atau kain lap yang direndam dan kemudian dihirup atau dihirup langsung dari wadahnya. Zat ini kemudian masuk kedalam paru dan diserap kemudian larut dalam

(37)

peredaran darah yang kemudian membawa bahan kimia ini dengan cepat ke otak. Bahan ini melambatkan kinerja otak dan susunan syaraf pusat. Efek yang timbul dapat berupa kegembiraan, pening, keadaan setengah sadar, diorientasi, dan gangguan visual tak teratur serta bicara mencerca. Penggunaan jangka panjang, terutama produk minyak yang mengandung timbal, dapat mengakibatkan kerusakan otak, hati, ginjal dan terutama paru-paru.

Beberapa penghirup yang paling umum termasuk lem, bahan pengencer cat (tinner), penyemprot aerosol, produk minyak, cat dasar krom dan spidol.

d. Narkotika

Narkotika atau opiat adalah zat pemacu yang memulihkan rasa sakit. Pada banyak orang anrkotik menghasilkan perasaan euforia dan perasaan relaks, zat ini mencakup morfin, kodein, heroin (putaw). Efek penggunaan zat ini antara lain euforia berlebihan, rasa kantuk, lesu, wajah yang memelas, dan mungkin juga berjalan dengan kaki yang diseret. Gejala putus zat yang akut dapat terjadi setelah 8-12 jam pemakaian terakhir berupa withdrawl sympthom atau yang sering disebut dengan sakau.

Dari urain diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap jenis narkoba memiliki zat tersendiri dan memiliki efek yang berbeda-beda pada pemakainya. Perbedaan efek yang ditimbulkan ini disebabkan oleh karakter yang dibawa oleh narkoba itu sendiri

(38)

maupun penggunanya. Efek yang dibawa oleh narkoba dapat berupa perubahan fisik maupun psikologis pada penggunanya.

Sedangkan perbedaan efek narkoba karena penggunaannya disebabkan oleh perbedaan dosis, situasi penggunaan dan karkter bawaan pemakai narkoba.

3. Kepribadian Penyalahguna Narkoba

Kepribadian orang yang menyalahgunakan narkoba dapat digambarkan dengan menggunakan untuk hidup dan hidup untuk menggunakan. Jika dilihat dari sisi pemakaian maka kepribadian seorang pecandu memiliki kepribadian ganda, karena sudah terpolanya pemkaian, Srikandi (2007).

Dalam pemakaiannya pecandu selalu dalam keadaan halusinasi yang berkepanjangan dan ini mengakibtkan adanya kepribadian baru yang terpola karena penyakit adiksi. Kepribadian penyalahguna narkoba secara internal adalah low self esteem, pemberontak, pemarah dan keras kepala sedangkan secara eksternal mereka terlihat sombong, pembohong, pencuri, penipu dan manipulasi.

Seorang penyalahguna narkoba memiliki emosi yang mudah berubah.

Emosi dimunculkan melalui tingkah laku agresif yang berlebihan dan seringkali mengakibatkanya melakukan perilaku atau tindak kekerasan. Terutama bila seseorang tersebut pada dasarnya adalah orang yang mudah emosidan bertemperamen tinggi. Hal ini terjadi karena narkoba dapat mengakibatkan ekstrimnya mood atau perasaan

(39)

penggunanya, terutama jenis alkohol dan kelompok stimulan. Emosi seorang penyalahguna sangat labil dan cepat berubah, Jayasantika (2008).

Secara sederhananya, Amriel (2008) memetakan dinamika kepribadian penyalahguna narkoba ke dalam tiga kategori, yaitu dinamika perasan (afeksi), dinamika pikiran (kognisi), dan dinamika perilaku. Berikut adalah penjelasan mengenai dinamika kepribadian penyalahguna narkoba :

a. Perasaan (afeksi)

Berikut ini adalah beberapa ragam perasaan yang dialami oleh penyalahguna narkoba, sebagai manifestasi efek jangka panjang dalam menkonsumsi narkoba adalah sebagai berikut :

1) Kecemasan, mulai dari rasa takut hingga hilangnya kepercayaan dan paranoid (hilangnya kepercayaan terhadap pihak lain).

2) Hilangnya rasa percaya diri.

3) Amarah, bervariasi mulai dari perasaan terlalu sensitif hingga

mudah mengamuk yang disertai dengan

mengkambinghitamkan pihak lain.

4) Depresi, baik tampil dalam wujud perasaan tertekan dan ketidakberdayaan yang mendalam hingga keinginan untuk bunuh diri.

(40)

5) Rendah diri, ditunjukan lewat kecenderungan untuk merendahkan diri sendiri sehingga perasaan malu dan bersalah yang hebat.

6) Boredom, pola kecanduan menjadi tidak pernah berakhir, berputar-putar dengan alur adiksi yang sama.

b. Pikiran (kognisi)

Perubahan afeksi senantiasa disertai dengan perubahan kognitif.

Keduanya, perasaan dan pikiran, selalu berjalan beriringan. Akan tetapi, pengguanaan narkoba juga memunculkan pengaruh terhadap pikiran pemakainya. Walaupun kerap kali sudah ada kesadaran kognitif bahwa perilaku mereka keliru, kebanyakan distorsi pola pikir mereka bersifat difensif dan ditunjukan untuk memberikan rasionalisasi terhadap adiksi mereka, Amriel (2008).

Berikut ini adalah beberapa penampakan distorsi kognitif yang terjadi pada penyalahguna narkoba :

1) Pengingkaran terhadap realitas, meyakinkan diri sendiri dan pihak lain bahwa kecanduan yang mereka alami tidaklah seburuk kelihatannya.

2) Ketergantungan, meyakini bahwa pihak lain bertanggung jawab sekaligus dapat membantu (mirip dengan keyakinan mereka terhadap manfaat narkoba).

3) Obsesif, pemikiran terpusat dan repetitif seputar bagaimana mendapatkan narkoba.

(41)

4) Paham kebersamaan, penyalahguna narkoba biasanya merasa bahwa masalah yang ia hadapi jauh lebih kompleks daripada masalah-masalah orang lain.

5) Berandai-andai, adiksi merupakan kompensasi atas derasnya keinginan pecandu untuk mengubah dan mengatasi/

memperbaiki banyak hal.

6) Menyakiti diri sendiri, adiksi merupakan buah pemikiran untuk meredakan penderitaan.

7) Kmampuan mental, menurun bahkan menghilngnya konsentrasi dan daya ingat.

c. Perilaku

Dengan adanya dinamika kognitif dan afektif, para penyalahguna narkoba memiliki beberapa tipikal perilaku. Tipikal tingkah laku para penyalahguna narkoba meliputi :

1) Menghindar, mengisolasi diri sendiri dan menolak tanggung jawab.

2) Mengendalikan pihak lain, termasuk perilaku manipulatif, bahkan kekerasan.

3) Menyakiti diri sendiri, mulai dari melukai hingga usaha untuk bunuh diri.

4) Mengorbankan pihak lain, dilakukan sebgai usaha memenuhi kebutuhan akan anrkoba.

(42)

5) Menipu, ditunjukan untuk terus menerus mendapatkan narkoba dan menyelubungi perilaku kecanduan.

6) Sulit beradaptasi dengan lingkungan, termanifestasi kedalam perilaku-perilaku beresiko, misalnya kekacauan rumah tangga, melakukan aksi kekerasan terhadap anak sehingga menyisakan problem emosional berkepanjangan, prestasi buruk di sekolah maupun tempat kerja serta pelanggaran aturan lalu lintas.

C. Program Rehabilitasi 1. Pengertian Rehabilitasi

Rehabilitasi adalah upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai narkoba yang sudah menjalani program kuratif. Tujuannya agar tidak menggunakan narkoba lagi dan bebas dari penyakit bawaan yang disebabkan oleh bekas pemakaian narkoba (Partodiharjo, 2007).

Departemen Sosial RI (2003) melalui Dirjen Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban Napza mengemukakan bahwa, rehabilitasi sosial adalah suatu rangkaian kegiatan profesional yang bertujuan memecahkan masalah, menumbuhkan, memulihkan dan meningkatkan kondisi fisik, psikis, mental dan sosial, agar dapat menjalankan fungsi sosialnya

Rehabilitasi sosial penyalahguna narkoba adalah suatu proses berkelanjutan dan menyeluruh terhadap trauma yang mendalam, baik rasa ketagihan mental maupun fisik. Keberhasilan mengatasi hal

(43)

tersebut ada yang membutuhkan waktu relatif singkat, tetapi ada pula yang harus berjuang seumur hidup untuk menjinakkannya. Oleh karena itu rehabilitasi penyalahguna narkoba harus meliputi usaha-usaha untuk mendukung dari hari-ke hari dalam membuat perkembangan dan pengisisan hidup secara bermakana serta berkualitas di bidang fisik, mental, spiritual dan sosial (Somar, 2001).

2. Fase-Fase Dalam Program Rehabilitasi a. Induction

Induction merupakan tahap dimana resident masuk ke

dalam panti rehabilitasi setelah ia menjalani tahap intake (tahap pertama untuk mengenalkan calon residen dan memberikan informasi tentang panti kepada calon residen, keluarganya), kemudian residen diperkenalkan pada lingkungan baru (panti), yang meliputi tujuan, filosofi, norma, nilai, kegiatan, dan kebiasaan panti, yang dirancang secara umum dan khusus untuk memulihkan residen kembali ke masyarakat umum (keluarga sebagai basis utama) dengan fungsi dan peran sesuai kemampuan dan keterbatasan. Dalam tahap ini, pekerja sosial dan staff membimbing resident untuk menjalani proses pelayanan serta mengkondisikan resident untuk masuk tahap primary.

Kriteria seorang resident dianggap siap untuk memasuki fase primary apabila telah memenuhi beberapa kriteria, diantaranya :

(44)

1) Mengikuti tahap induction sesuai dengan target waktu yang telah ditentukan.

2) Residen memahami dan mampu menjelaskan berbagai filosofi yang digunakan di dalam panti.

3) Residen menunjukan niatnya untuk menjalani program residental beserta seluruh konsep nilai, norma, filosofi, dan kebiasaan (kooperatif).

4) Residen telah menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan oleh staf sebagai persyaratan masuk ke fase primary.

b. Primary

Primary merupakan tahap dimana residen memasuki proses

pelayanan. Tahap ini bertujuan untuk memperkuat kondisi stabil yang telah dicapai pada tahap Induction. Dalam tahap primary terdapat beberapa fase sesuai dengan kemampuan residen untuk menyelesaikan proses pelayanan, diantaranya :

1) Younger member (1-3 bulan)

Younger member merupakan fase awal pada program primary,

terdiri atas para residen yang dinilai telah siap untuk mengikuti proses pelayanan primary. Pada fase ini residen diharapkan dapat menjalankan berbagai konsep serta kegiatan yang telah diberikan pengertian selama masa Induction.

(45)

2) Middle peer (1-2 bulan)

Residen yang dinilai memenuhi berbagai target selama fase younger member selanjutnya memasuki fase middle peer. Pada

fase ini residen dapan menunjukan performa yang cukup baik sebagai role model untuk resident yang berada pada fase di bawahnya serta menunjukan perkembangan yang memuaskan dalam pelaksanaan program pelayanan sehari-hari.

3) Older member (1-2 bulan)

Resident middle peer yang secara konstan menunjukan perkembangan diri dan performa yang baik terutama untuk berbagi kewajiban yang menuntut tanggung jawab seorang pemimpin, maka mereka berhak mengikuti fase akhir program Primary, yaitu fase Older Member, pada fase ini residen

diharapkan menunjukan kemampuan kepemimpinan yang baik dan mampu menjadi panutan bagi keseluruhan residen yang berada pada rumah Primary.

c. Re-Entry

Re-entry dalam proses pelayanan ini adalah tahap dimana residen berlatih untuk bergabung dengan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah/kerja. Dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan interaksi residen dalam lingkungan sosialnya. Dalam tahap ini residen juga diajak untuk membuat

(46)

jadwal kegiatannya dengan panduan 50:50 (separuh jadwal dibuat oleh residen dan separuh jadwalnya lagi dibuat oleh panti).

D. Profil Jogja Care House 1. Sejarah Jogja Care House

Jogja Care House berawal dari keprihatinan atas tingginya

pengguna narkoba khususnya di Yogyakarta maka Eko Prasetyo mantan pekerja sosial di Dinas Sosial Yogyakarta berinisiatif mendirikan sebuah pusat rehabilitasi berbasis masyarakat pada tanggal 24 Desember 2013. Yang bertujuan menampung para pecandu narkoba yang ingin berhenti dan pulih dari kecanduan narkoba. Adapun metode yang digunakan adalah dengan menggunakan metode Therapeutic Community, hal yang paling utama adalah lingkungan keluarga. Karena

keluarga merupakan lingkungan terdekat pecandu. Maka dari itu, selain membantu pecandu Jogja Care House secara tidak langsung juga memberikan pelayanan konsultasi konseling keluarga, terutama keluarga para pecandu narkoba.

Tujuan dari konseling keluarga tak lain agar sebuah keluarga bisa bersatu untuk tujuan yang sama yaitu bebas dari adiksi dan harus saling menjaga dan memperhatikan satu sama lain. Karena persaudaraan dan solidaritas adalah unsur terpenting di dalam Therapeutic Community ini. Selain itu di Jogja Care House memiliki

visi tercapainya kehidupan yang sehat bagi seluruh pecandu penyalahguna narkoba sehingga mampu memenuhi target

(47)

profesionalitas yang tinggi melalui metode Therapeutic Community.

Misi rasa kepedulian tanpa batas bagi semua orang yang didirikan untuk membantu semua orang yang ingin bebas dari masalah penyalahgunaan dan ketergantungan pada narkoba dan meningkatkan kualitas hidup dan kualitas kepribadian dengan menciptakan kesempatan dan harapan baru demi mengembangkan hidup yang lebih baik.

2. Program Jogja Care House

Jogja Care House meliputi program Primary dan Re entry dimana nantinya pecandu mengikuti program sebagai berikut:

1) Fase program Primary

Terdiri atas fase orientasi yaitu masa persiapan bagi klien untuk mendalami dan mengerti program rehabilitasi yang disusun Jogja Care House. Kemudian fase induction yang berlangsung 1-

2 bulan dan setiap pecandu diberi kesempatan mempelajari Buku walking paper atau buku pegangan pecandu. Selama fase ini,

Pecandu dituntut jujur dan disiplin untuk mengikuti semua program, sanksi akan diberikan pada setiap pelanggaran dan setiap prestasi akan mendapat hadiah (reward) yang pantas.

Pecandu diperkenankan menerima kunjungan dan telepon dari anggota keluarga yang terdaftar dibawah pengawasan staff.

(48)

2) Fase program Re Entry

Terdiri atas Fase Dewasa setiap Pecandu harus bertanggung jawab dan bertugas pada fungsi kerja tertentu di lingkungan Jogja Care House. Mereka diperbolehkan pulang sendiri kerumah dengan durasi waktu selama 8 jam atau diperkenankan mengunjungi keluarga dengan durasi waktu selama 24 jam dengan pengawasan staff.

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini berisikan uraian tentang jenis penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, tahap-tahap penelitian, analisis data, validitas penelitian.

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk memperdalam permasalahan yang sudah ada di lapangan. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data sebenarnya, data yang pasti merupakan suatu nilai di balik data yang tampak (Sugiyono, 2012:15)

Peneliti menggunakan metode studi kasus ini dimaksudkan untuk memperoeh gambaran mengenai hopelessness pada pecandu narkoba secara mendalam. peneliti menggunakan desain penelitian studi kasus Creswell (2013), yang menyatakan penelitian studi kasus adalah penelitian yang dilakukan terhadap suatu objek, yang disebut sebagai kasus, dilakukan secara utuh, menyeluruh, dan mendalam, dengan menggunakan berbagai macam sumber data.

B. Tempat dan Waktu Penelitan

Penelitian ini dilakukan pada dua residen di panti rehabilitasi JOGJA CARE HOUSE, dan dilaksanakan pada bulan April 2018.

34

(50)

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah Bandi dan Andri, kedua subjek ini adalah residen (sebutan pasien pecandu narkoba yang sedang menjalani program rehabilitasi) di panti rehabilitasi JOGJA CARE HOUSE. Alasan memilih kedua subjek terebut karena berdasarkan informasi dari konselor panti rehabilitasi kedua subjek sering memperlihatkan dan menceritakan keputusasaannya, dan melakukan percobaan bunuh diri.

Peneliti sebelumnya sudah meminta ijin kepada kedua subjek yang ingin peneliti wawancarai, serta peneliti juga sudah membuat janji temu dengan konselor panti serta pembina panti rehabilitasi untuk dijadikan subjek penelitian dan sumber informasi pendukung. Dari ijin tersebut kedua subjek menyetujui dan bersedia diajak bekerjasama dalam penelitin ini dan konselor panti pun mengijinkan peneliti untuk mengambil data di panti rehabilitasi yang dikelolanya.

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Ada beberapa metode pengumpulan data pada penelitian kualitatif, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, (Sugiyono, 2010: 194).

Penelitian ini sendiri menggunakan metode wawancara secara mendalam.

1. Wawancara

Wawancara adalah alat untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan oleh penulis secara lisan. Informasi yang dibutuhkan berupa deskripsi umum kasus, latar belakang kehidupan keluarga, lingkungan fisik, sosiaekonomi, sosiokultural, pertumbuhan jasmani,

(51)

riwayat kesehatan, perkembangan kognitif, perkembangan sosial dab status sosial, ciri-ciri kepribadian.

Langkah-langkah yang dilakukan peneliti adalah menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan, menyiapkan pokok- pokok yang akan dibicarakan, menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan, dan mengidentifikasi tindak lanjut wawancara yang telah diperoleh (Sugiyono, 2010: 322). Selain itu peneliti menyiapkan alat rekam suara seperti tape recorder ataupun handphone untuk merekam hasil wawancara dengan subjek. Hasil wawancara sendiri akan dirubah dalam bentuk verbatim dengan cara menuliskan setiap kata perkata percakapan dalam wawancara tersetruktur. Panduan wawancara tersetruktur dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara

NO FOKUS MASALAH PERTANYAAN

1. Bagaimana keputusasaan pada pecandu narkoba

a. Apakah anda pernah mengalami putus asa ?

b. Bagaimana perasan anda ketika mengalami putus asa ?

c. Adakah hal yang menyebabkan anda mengalami putus asa ?

d. Jika anda mengalami putus asa, apa yang anda lakukan?

(52)

2. Bagaimana terjadinya keputusasaan

a. Bagaimana anda bisa masuk ke dalam dunia narkoba sehingga mengalami keputusasaan?

b. Apakah anda mengalami stress

sehingga anda terjun ke dunia narkoba dan membuat anda putus asa?

c. Jika anda mengalami stress apakah anda bisa menceritakan, hal apa yang membuat anda stress dan membuat anda putus asa? (lingkungan, diri sendiri, tersedianya obat)

d. Bisakah anda menceritakan jenis narkoba apa yang anda gunakan, dan bagaimana anda menggunakan narkoba tersebut pada saat anda mengalami stress sehingga menyebabkan anda mengalami keputusasan?

3. Faktor-faktor yang

menyebabkan keputusasaan

Internal :

a. Bisakah anda mencritakan

pengalaman negatif yang membuat anda putus asa?

b. Apakah anda memiliki ingatan yang kuat mengenai peristiwa-pristiwa negatif yng membuat anda putus asa?

Jika iya, apakah anda bisa menceritakannya?

Eksternal :

a. Bagaimana anda bisa mengalami keputusasaan seperti saat ini, apakah keluarga anda memiliki peran dalam hal ini?

(53)

b. Bagaimana anda bisa mengalami keputusasaan seperti saat ini, apakah teman anda memiliki peran dalam hal ini?

c. Bagaimana anda bisa mengalami keputusasaan seperti saat ini, apakah organisasi seperti dalam keagamaan anda memiliki peran dalam hal ini?

d. Bagaimana anda bisa mengalami keputusasaan seperti saat ini, apakah masyarakat sekitar anda memiliki peran dalam hal ini?

e. Jika iya, mengapa....bisa mempengaruhi anda?

4. Bagaimana dampak dari keputusasaan

a. Bagaimana Anda memandang kehidupan Anda setelah Anda merasakan hopelessness?

b. Apa yang Anda pikirkan dan rasakan ketika Anda mengalami hopelessness?

c. Bagaimana sikap dan tindakan Anda ketika Anda sudah benar-benar merasa hopelessness?

d. Apakah Anda merasa ingin kembali menggunakan narkoba atau memiliki pikiran untuk bunuh diri ketika mengalai hopelessness?

e. Bagaimana Anda meyikapi keinginan untuk menggunakan kembali narkoba tersebut atau keinginan bunuh diri karena hopelessness?

(54)

5. Sejauh mana program rehabilitasi dapat

membangkitkan semangat hidup pecandu

a. Jenis terapi apa yang anda ikuti di panti rehabilitasi saat ini?

b. Ada berapa tahap dalam metode TC?

c. Jenis konseling apa saja yang terdapat di dalamnya?

d. Manfaat apakah yang anda peroleh setelah mengikuti konseling tersebut?

e. Apakah anda mengalami perubahan dalam diri anda ketika mengikuti konseling tersebut?

f. Bagaimana cara anda untuk

mengontrol diri anda ketika mengalami keputusasaan?

E. Keabsahan Data

Supaya penelitian ini menjadi penelitian yang ilmiah, maka data yang diperoleh harus diisi keabsahannya melalui uji kredibilitas dan validitas internal serta uji kredibilitas yang dilakukan dengan triangulasi.

Sugiono (2013) mengungkapkan bahwa , triangulasi dalam pengujian kredibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat trianggulasi sumber, trianggulasi teknik pengumpulan data, dan waktu. Namun disini peneliti hanya menggunakan trianggulasi sumber.

Trianggulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data diperoleh dari tiga sumber, lalu peneliti mendeskripsikan data tersebut. Kemudian data yang sudah

(55)

dianalisis oleh peneliti menghsilkan suatu kesimpulan yang selanjutnya dimintakan kesepakatan (member check) dari tiga sumber data tersebut.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan catatan lapangan yang didapatkan melalui observasi secara langsung, sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan pada orang lain. Proses analisis data sendiri dimulai dari pembuatan verbatim melalui rekaman wawancara, reduksi data, coding, dan analisisnya.

Verbatim adalah percakapan wawancara dengan cara menuliskan setiap kata perkata jawaban dan pertanyaan yang sudah diajukan kepada subjek.

Sebelum menganalisis, peneliti melakukan proses reduksi data.

Selanjutnya peneliti menentukan coding untuk masing-masing aspek pada daftar pertanyaan berupa kode. Maksud dan arti kode itu sendiri hanya diketahui oleh peneliti. Selanjutnya peneliti membuat analisis berdasarkan data yang sudah ada, dan menyajikannya dalam bentuk teks deskriptif.

Menurut Prastowo (2014) secara umum langkah-langkah pengolahan dan analisis data dalam penelitian kualitatif adalah :

1. Langkah permulaan : Proses Pengolahan a. Editing

Pada tahap ini peneliti melakukan pemeriksaan terhadap jawaban- jawaban atau informasi yang diberikan responden pada saat

(56)

penelitian, hasil observasi dan dokumen-dokumen serta catatan- catatan yang lainnya yang didapatkan peneliti pada saat di lapangan. Tujuan dari editing adalah untuk memperhalus data selanjutnya adalah perbaikan kata dan kalimat, memberi keterangan tambahan, membuang keterangan yang berulang-ulang atau tidak penting, dan menterjemahkan ungkapan setempat ke dalam bahasa indonesia.

b. Pengkodean/koding (memberi kode)

Dalam tahap ini peneliti melakukan pencatatan judul singkat, serta memberikan tambahan yang dinilai perlu dan dibutuhkan. Tujuannya agar mudah dalam menemukan makna tertentu dari setiap tumpukan dan serta mudah enempatkannya ke dalam laporan.

c. Klarifikasi

Pada tahap ini peneiti menggolongkan-menggolongkan jawaban dan data lainnya menurut kelompok variabelnya.

Kemudian diklarifikasikan lagi menurut indikator tertentu seperti yang ditetapkan sebelumnya.

2. Langkah Lanjutan : Penafsiran

Penafsiran merupakan langkah terakhir dalam tahap analisis data. Pada tahapan ini, data yang sudah diberi kode kemudian diberi penafsiran. Peneliti segera melakukan analisis data dengan memperkaya informasi melalui analisis komparasi (perbandingan) sepanjang tidak

(57)

menghilangkan konteks aslinya. Hasilnya adalah pemaparan gambar tentang situasi dan gejala dalam bentuk pemaparan naratif.

(58)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Bab ini membahas deskripsi data, pelaksanaan penelitian, hasil penelitian dan pembahasan dari wawancara serta informasi-informasi yan telah diperoleh dari lapangan sebagai hasil studi fenomenologi seperti yang sudah dijelaskan sebelumya. Informasi diperoleh dari dua subjek serta informan-informan yang terkait , dan berkaitan dengan kode etik maka nama dua subjek serta informan- informan disamarkan agar identitas tidak diketahui.

A. Deskripsi Data

1. Wawancra Umum pada Responden Pertama (BK) a. Identitas Responden

Nama : Bandi Kresno (nama samaran)

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Anak ke (dari) : 1 (anak tunggal)

Pendidikan terakhir : SMA (pernah mengenyam

perguruan tinggi sampai semester7)

Umur : 34 tahun

Penampilan fisik : Tinggi 168 cm dan berat 75 kg

Suku Bangsa : Jawa

Mulai menggunakn narkoba : Saat masih duduk di bangku SMP Drug Choice : obat-obatan dan miras

Lama pemakaian : 14 tahun

43

(59)

2. Wawancra Umum pada Responden Kedua (AP) a. Identitas Reponden

Nama : Andri Prayoga (nama samaran) Jenis kelamin : Laki-laki

Agama : Katolik

Anak ke (dari) : 4 (dari 4 bersaudara) Pendidikan terakhir : SMA

Umur : 35 tahun

Penampilan fisik : Tinggi 169 cm dan berat 65 kg

Suku : Jawa

Mulai menggunakn narkoba : Saat masih duduk di bangku SMP Drug Choice : Putaw

Lama pemakaian : 14 tahun (tahun pertama pemakaian ditambah 2 tahun relaps)

Penyebab memakai narkoba : ingin coba-coba dan pergaulan

B. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian dengan subjek dilakukan di panti rehabilitasi.

Subjek penelitian merupakan 2 residen di panti rehabilitasi JOGJA CARE HOUSE peneliti melaksanakan penelitian dengan menggunakan metode

wawancara dan berikut ini adalah jadwal pelaksanaan wawancara :

(60)

Tabel 4.1. Agenda Pelaksanaan Wawancara

Nama Waktu Penelitian Tempat Penelitian

Bandi 07-04-2018

Pukul 13.00-14.00 WIB

Kamar Residen

Andri 12-04-2018

Pukul 13.30-14.30 WIB

Kamar Residen

Konselor Bandi

14-04-2018 Pukul 15.00-16.00

Ruang Kerja

Konselor Andri

15-04-2018 Pukul 15.00-16.00

Ruang Kerja

Pembimbing Bandi

17-04-2018 Pukul 18.30-19.15

Ruang Kerja

Pembimbing Andri

18-04-2018 Pukul 16.00-17.00

Ruang Kerja

C. Hasil Penelitian

Peneliti mewawancarai secara mendalam hal yang telah diberikan oleh subjek, konselor subjek, dan pembimbing subjek di panti rehabilitasi.

Wawancara dilakukan secara terstruktur dan tidak terstruktur. Peneliti sudah menyiapkan pedoman pertanyaan penelitian yang akan ditanyakan kepada subjek dan peneliti juga melakukan wawancara secara tidak terstruktur dengan memberikan pertanyaan lebih mendalam kepada subjek. Adapun hasil wawancaranya sebagai berikut :

(61)

1. Keputusasaan pada pecandu narkoba :

Keputusasaan pada pecandu narkoba bisa terjadi dan dilatar belakangi oleh berbagai masalah yang berbeda-beda, keputusasaan yang dialami oleh penyalahguna narkoba merupakan suatu bentuk harapan negatif terhadap diri sendiri, dunia dan masa depannya. Selain itu juga keputusasaan merupakan komponen dari depresi yang berkaitan dengan keadaan emosional ketika individu mulai kehilangan harapan serta diawali dari perasan bersalah terhadap diri sendiri, keluarga dan komunitasnya.

Pernyataan tersebut dapat dilihat pada hasil wawancara pada kedua responden seperti berikut ini, Bandi mengungkapkan bahwa keptusasaan yang dialaminya terjadi karena takut akan masa depannya sendiri dan ditambah dari kondisi keluarga besarnya yang tidak mau menerimanya

yaa..putus asa menurut saya itu, yaa tidak mungkin lah, seolah-olah besok yang akan datang itu serasa tidak mungkin bisa saya lewati mas (WKNBH 1-1)

yaa karena saya takut dan cemas akan masa depan saya sendiri mas terkadang sampai depresi saya memikirkannya, selain itu juga karena keluarga saya tidak ada yang mau menerima saya lagi (WKNBH 1-2)

Pernyataan Bandi ini berbeda dengan Andri dimana keputusasaan yang ia alami bersumber pada perdebatan pada dirinya sendiri dalam melawan kecanduannya pada narkoba dimana hal itu bersumber pada keadaan emosionalnya ketika ia mulai merasa kehilangan harapan

saya itu ya mas yang namanya melepaskan putaw itu sampai depresi, sampai sudah kaya orang gila itu lho mas, terus biasanya kalau pemakai putaw itu kaya mayat hidup itu lho mas (WKNAH 1-1)

Gambar

Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Wawancara ..................................................................
Tabel 3.1  Daftar Pertanyaan Wawancara
Tabel 4.1. Agenda Pelaksanaan Wawancara

Referensi

Dokumen terkait

Penggolongan skor item tingkat kemampuan komunikasi interpersonal pada mahasiswa semester tiga Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Sanata Dharma,

Penggolongan skor item tingkat kemampuan komunikasi interpersonal pada mahasiswa semester tiga Program Studi Bimbingan dan Konseling, FKIP, Universitas Sanata Dharma,

Konseling kelompok adalah proses pemberian bantuan kepada konseli secara berkelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan agar terentaskannya permasalah yang

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan teknik diskusi dalam layanan informasi efektif bagi proses pengembangan potensi diri siswa SMP

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kondisi lingkungan sekolah dengan

Teater dan ketoprak sudah banyak disinggung diawal, maka dalam pembahasan kali ini akan disinggung mengenai TSD dan juga ketoprak milik Universitas Sanata

Sebelum diberikan layanan bimbingan kelompok, diperoleh hasil penelitian tentang interaksi sosial siswa terisolir yaitu lebih dari separuh berada dalam

Jadi, Kunjungan Rumah merupakan suatu kegiatan pendukung dalam Bimbingan dan Konseling yang mana adanya kerjasama antara orangtua dengan guru BK agar diperoleh data atau keterangan