2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Media Online sebagai media massa
Menurut Romli, media online adalah saluran komunikasi berbentuk telekomunikasi dan media yang menyampaikan informasi secara online. Sedangkan jurnalisme online, menurut Romli (2012:64) adalah proses penyampaian informasi dengan internet sebagai sarananya. Pengertian media online terbagi menjadi 2 (dua), yaitu pengertian secara umum dan pengertian secara khusus.
a. Pengertian Secara Umum
Media online merupakan jenis-jenis atau media yang hanya dapat diakses melalui internet, dengan format-format tertentu. Media yang diakses berisikan teks, foto, video, dan suara.
b. Pengertian Secara Khusus
Media online terkait dengan konteks media massa. Media online secara khusus adalah media yang menyajikan karya jurnalistik (berita, artikel, feature) secara online. Menurut Romli, media online merupakan media massa yang tersaji secara online di situs web, yang membutuhkan koneksi internet untuk mendapatkannya (Romli, 2012:64). Situs Republika.com dan Kompas.com dapat digolongkan ke dalam media online, karena menampilkan karya jurnalistik berupa berita.
2.1.1 Pilar Jurnalisme Online
Menurut Thornburg, terdapat tiga pilar jurnalisme online. (Thornburg, 2011:8-27) a. Multimedia
Multimedia merupakan cara penyampaian informasi, dengan menggunakan lebih dari satu teknik penyampaian berita (teks, audio, gambar diam, gambar bergerak).
Seorang jurnalis dapat memilih cara-cara tersebut, bahkan dapat mengkombinasikan lebih dari satu teknik menyampaikan informasi. Multimedia dahulu berupa surat kabar dan majalah, serta televisi. Saat ini, para jurnalis biasanya memilih mengkombinasikan teknik-teknik tersebut dalam menceritakan sebuah pemberitaan.
Mereka melakukan lebih dari satu teknik tersebut agar membuat informasi yang
mereka beritakan menjadi lebih lengkap. Berita berupa teks dan video ditampilkan secara terpisah dalam media Republika.co.id dan Kompas.com. Namun peneliti akan meneliti berita berupa teks.
b. Interactive
Melalui koneksi internet, interaksi dapat berlangsung lebih cepat antara subyek dari sebuah berita (narasumber), jurnalis, dan juga khalayak. Situs berita menjadi interaktif, lebih dari sebuah percakapan. Para pembaca tak hanya pasif membaca, namun dapat memberikan masukan, bahkan menjalin hubungan dengan narasumber.
Mereka melakukan berbagai komunikasi secara langsung dan bersamaan dalam sebuah wadah maupun forum. Bentuk – bentuk interaktif dalam media online antara lain article comment, disscusion board, live chat, user-generate content, distributed reporting and crowdsourcing, dan third-party social site. Selain itu, menurut Stovall, interaktif berarti khalayak dapat mencapai organisasi berita, dan organisasi berita tersebut juga dapat mengerti lebih dalam mengenai khalayak tersebut (Stovall, 2004:11). Khalayak membuat akun pribadi dari situs berita tersebut. Segala informasi mengenai khalayak akan terekam dan tersimpan dalam database lembaga/organisasi berita tersebut. Akun tersebut nantinya dapat digunakan khalayak untuk berpartisipasi dalam pemberitaan.
c. On-Demand
On-Demand memungkinkan khalayak dapat memilih dan menetapkan waktu dan tempat, serta subyek dimana khalayak tersebut ingin mengonsumsi berita. On- Demand pada media online tidak hanya memungkinkan khalayak memilih waktu, tempat dan subyek yang diinginkan saja, namun juga dapat mengakses format berita yang diinginkan, yang dikembangkan melalui internet.
2.2 Berita
Selain itu, menurut Jakoeb Oetama , “berita” bukanlah fakta. Berita merupakan laporan mengenai fakta yang ditemukan dan dilaporkan oleh wartawan (Oetama, 2001:278 ). Tidak semua peristiwa dapat dijadikan berita. Segala peristiwa menarik yang dimuat oleh media massa (Wazis, 2012:30).
2.2.1 Nilai Berita
Peristiwa yang dimuat dalam berita biasanya mengandung nilai berita dan menjadi perhatian publik. Sebuah peristiwa dapat dikatakan bernilai apabila ia memenuhi ukuran-ukuran tertentu. Ukuran tersebut dinamakan sebagai nilai berita. Nilai berita, menurut Ishwara ( 2005, hal 33-34 ) dibagi menjadi 9.
a. Konflik
Peristiwa konflik kebanyakan layak dijadikan berita, karena biasanya ada kerugian dan korban yang ditimbulkannya. Selain itu, pemberitaan mengenai debat mengenai pencemaran, reaktor nuklir dan ratusan isu yang menyangkut kehidupan juga menarik perhatian pembaca. Peristiwa politik, menurut Nimmo (2005) mengandung nilai konflik sosial, dimana terjadi perbedaan antara setiap individu dalam melakukan proses komunikasinya. Aksi damai/demonstrasi 4 November kemarin dapat dikategorikan sebagai konflik.
b. Kemajuan dan Bencana
Dari sebuah peristiwa yang tidak layak berita, biasanya bermunculan sebuah peristiwa yang layak dijadikan berita, seperti peristiwa para imigran yang menjadi permasalah negara, kerusakan pembangkit tenaga nuklir Chernobyl di Rusia, dan sebagainya. Begitu pula bencana alam, atau peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.
c. Konsekuensi.
Setiap peristiwa yang layak berita dapat dijadikan konsekuensi. Konsekuensi umumnya diterima sebagi nilai berita, dan menjadi ukuran layak berita.
d. Kemashyuran dan Terkemuka
Umumnya disetujui bahwa nama membuat berita dan nama besar membuat berita lebih besar. Seorang yang besar dengan melakukan tindakan tertentu dapat dijadikan nilai berita, seperti seorang tokoh politik lokal yang sedang berjabat tangan dengan tokoh politik nasional. Bahkan beberapa tokoh pemerintahan seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah ikut terlibat dalam aksi 4/11 tersebut. Sebuah berita akan menjadi bernilai dan penting apabila tokoh yang ditulis tersebut memiliki pengaruh yang besar.
e. Saat yang Tepat dan Kedekatan
Saat yang tepat (timeliness) dan kedekatan (proximity) merupakan nilai berita yang menentukkan apakah sebuah berita layak untuk dijual. Kedua nilai inilah yang membedakan antara berita dan bukan berita. Kecelakaan lalu lintas pada hari ini lebih layak diberitakan daripada kecelakaan lalu lintas minggu lalu. Demikian pula kecelakaan setempat lebih bernilai untuk diberitakan daripada kecelakaan di kota lain.
f. Keganjilan
Kejadian yang sangat kontras, cara hidup yang ganjil, kebiasaan dan hobi yang tidak pada umumnya, serta ketahayulan dapat menarik minat pembaca. Oleh karenanya, keganjilan layak dijadikan berita.
g. Human Interest
Wartawan tidak hanya sekedar mengumpulkan fakta kejadian, namun juga menjelajahi lebih dalam mengenai unsur-unsur kemanusiaan dengan menambahkan hal-hal yang menyangkut emosi, fakta, biografis, kejadian-kejadian yang dramatis, deskripsi, motivasi, ambisi, kerinduan, kesukaan dan ketidaksukaan umum dari khalayak ( Ishwara, 2011 hal. 80 )
h. Seks
Seks dapat dijadikan nilai berita, apabila peristiwa tersebut terlibat orang- orang yang terkenal dan ternama, seperti kawin-cerai bintang film, dan sebagainya.
i. Aneka nilai
Menurut Ishwara, peristiwa yang melibatkan binatang yang menggugah hati seorang manusia, dapat dijadikan nilai berita.
2.2.2 Jenis berita
Berita yang ditampilkan dalam media massa memiliki berbagai jenis. Bila dilihat dari teknik penyajiannya, ada empat jenis berita (Tahrun, Houtman dan M.Nasir, 2016:73-75).
a. Berita Langsung (Straight News / Hard News / Spot News)
Berita langsung berisi informasi mengenai fakta yang terpenting, dan
disajikan apa adanya. Isi beritanya lugas dan to the point. Pada bagian awal berita, berisikan hal-hal yang inti / hal-hal yang menjadi pokok masalah suatu peristiwa, atau apapun yang dikatakan oleh tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Straight news kadang-kadang ditambah tafsiran penulis atau penyusunnya jika fakta yang terkumpul itu belum memberikan gambaran yang cukup jelas (Suhandang, 2005:104). Peristiwa yang diberitakan memiliki nilai kebaruan (timeliness). Fakta yang diberitakan pada masyarakat memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat, serta wajib dilaporkan media sebagai pelapor peristiwa penting yang harus diketahui masyarakat (Santana, 2009:283). Peristiwa 4 November 2016 memiliki pengaruh cukup besar di daerah-daerah di luar ibu kota, sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah isu nasional.
Prinsip penulisannya ialah piramida terbalik; hal-hal penting disajikan pada pokok berita (lead), sedangkan hal-hal yang kurang penting dan pelengkapnya diletakkan pada tubuh berita (body). (Sudiyati dan Widyamartaya, 2005:36).
b. Berita Ringan (Soft News)
Berita ringan merupakan berita yang tidak mengutamakan pentingnya suatu kejadian atau hangatnya berita, melainkan dari segi manusiawinya. Kejadian yang diberitakan bersifat human interest, memberi sentuhan perasaan kepada pembaca, tidak menyangkut aktualitas. Gaya bahasanya ringan, isi beritanya ringan, memuat kejadian orang biasa dalam situasi yang luar biasa, atau orang besar dalam situasi biasa. Penulisannya menggunakan susunan piramida tegak, dengan alur kronologis.
Kejadian yang diberitakan belum tentu penting. Peristiwa yang dimuat adalah peristiwa yang menarik
c. Berita Kisah (Feature News)
Feature dapat diartikan sebagai suatu ulasan, tinjauan, atau komentar mengenai masalah atau peristiwa yang sedang hangat diberitakan atau diperbincangkan oleh khalayak (Suhandang, 2004:109). Cara penyampaian sebuah peristiwa dalam feature news lebih diplomatis, serta membuka kesempatan bagi penulisnya untuk melakukan penafsiran, sehingga isinya lebih subyektif. Feature menurut Ishwara (2005 hal 59) merupakan penulisan cerita yang kreatif, subyektif,
yang dirancang untuk menyampaikan informasi dan hiburan kepada pembaca.
Feature juga dapat menyentuh emosi pembacanya seperti tertawa, terharu, geram, atau menarik nafas panjang. Selain itu, gaya penulisannya bebas, tidak tunduk pada teknik penyajian berita langsung.
Berita kisah dibagi menjadi empat jenis, yaitu profile feature, how to do it feature, science feature, dan human interest feature.
- Profile Feature, isinya menceritakan perjalanan hidup seseorang, sepak terjang seseorang dalam kegiatan tertentu maupun dalam kurun waktu tertentu.
- How To Do It Feature, menjelaskan cara orang melakukan sesuatu.
Informasi yang disampaikan berupa petunjuk bagi para pembacanya dalam melakukan kegiatan tertentu.
- Science Feature, merupakan tulisan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai oleh kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan, serta menggunakan data dan informasi yang memadai.
- Human Interest Feature, merupakan tulisan feature yang menonjolkan hal-hal yang menyentuh perasaan sebagai hal yang menarik, termasuk di dalamnya adalah hobi dan kesenangan.
d. Laporan Mendalam (Indepth Reporting)
Isi beritanya merupakan informasi lengkap, yang menjelaskan kaitan antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Latar belakang dibuat secara rinci, serta menjelaskan latar belakang dalam suatu peristiwa. Tidak sekadar informasi yang mendalam mengenai peristiwa, namun juga mengenai mengapa peristwa tersebut terjadi (Santana, 2007:288). Menurut Kamath (Santana, 2007), tujuan dari indepth reporting itu sendiri adalah mengabarkan kepada para pembaca mengenai keseluruhan apa yang terjadi dari kisah yang terjadi. Penyajiannya diupayakan benar- benar cover both side (dari berbagai sisi) sehingga pembaca mendapatkan informasi yang utuh.
2.2.3 Struktur Berita
Dalam rangka memengaruhi khalayaknya, unsur keindahan dalam
pemberitaan sangat diutamakan (Suhandang, 2004). Indah, dalam arti dapat dinikmat dan diminati oleh pembaca. Selain itu, struktur berita juga dapat membantu pembaca agar Naskah berita terdiri atas tiga unsur.
a. Headline ( Judul Berita )
Terdiri dari satu atau dua kalimat singkat, namun menginformasikan persoalan pokok / intisari yang diberitakan. Selain singkat, headline harus memiliki daya tarik tersendiri, yang mengundang khalayak untuk membaca pemberitaannya.
b. Lead ( Teras Berita )
Lead merupakan laporan singat yang bersifat klimaks dari peristiwa yang dilaporkannya, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu pembacanya. Lead harus dapat melukiskan peristiwa yang diberitakannya dapat memenuhi rasa ingin tahu khalayaknya. Lead pada berita terletak pada bagian awal suatu berita.
c. Body ( Tubuh atau Kelengkapan Berita )
Body menjelaskan kelengkapan keterangan yang belum tertulis pada bagian-bagian dalam lead. Keterangan tersebut dapat disajikan dengan menggunakan gaya bahasa yang dapat memikat khalayak untuk terus menikmati isi berita tersebut.
2.3 Demonstrasi
Demonstrasi dalam bernegara menurut Rahmat (2003:175), adalah cara untuk melakukan kontrol terhadap pemerintahan. Idealnya, demonstrasi tidak akan terjadi bila partai politik dalam sebuah negara dapat berhasil melaksanakan kepentingannya.
Fungsi penggalian aspirasi masyarakat seharusnya dilakukan oleh partai. Namun selama ini fungsi partai tidak berjalan semestinya, sehingga salah satu fungsinya diambil alih oleh para demonstran, dengan cara melakukan unjuk rasa di tempat yang strategis.
Para demonstran dalam Islam, dapat disebut sebagai partai politik jalanan.
Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF-MUI) dapat disebut sebagai politik jalanan, mengingat mereka yang menggagas adanya aksi 4 November 2016 (“GNPF MUI: Presiden Jokowi Tak Perlu Khawatir Demo 4 November”, November, 2016).
Mereka, secara tidak langsung, dapat dikatakan menjadi tempat penggalian aspirasi, yang seharusnya dilakukan oleh partai Islam di Indonesia seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), serta Partai Persatuan Nadhlatul Ulama (PPNU) (Haris, 2014).
Fungsi yang diemban oleh para demonstran dalam melakukan demonstrasi adalah adalah fungsi partai politik. Namun cara unjuk rasa seperti pemogokan, dan sebagainya, merupakan cara yang buruk dalam sebuah demokrasi yang ideal.
Demonstrasi seharusnya tidak terjadi bila partai-partai Islam di Indonesia mampu mengemban fungsinya dengan baik, sebagai sarana aspirasi bagi umat Islam.
Demonstrasi dapat dilakukan dengan menggunakan kekerasan maupun tidak (non-violence). Akan tetapi, bila sebuah partai politik berdemonstrasi dengan cara datang beramai-ramai ke suatu tempat, menurut M. Idadun Rahmat (2003), sebenarnya bisa dikatakan itu pilihan yang kurang baik.
Demonstrasi merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk memperjuangkan kebijakan yang merupakan amanah dari konstituennya, dan pada umumnya bersifat pressure. Partai politik tidak seharusnya melakukan demonstrasi. Namun bila partai politik berdemonstrasi dengan tujuan untuk show of force (unjuk kekuatan agar pihak lawan menjadi gentar), maka hal tersebut kurang tepat. Fungsi partai tersebut bukan lagi menjawab kebutuhan masyarakat, melainkan ke arah kepentingan partai itu sendiri.
2.4 Nilai Islam dalam Kancah Politik di Indonesia
M. Idadun Rahmat, dalam bukunya berjudul Islam Pribumi: Mendialogkan Agama, Membaca Realitas (2003:178-179), berkata bahwa nilai-nilai Islam harus menjadi rambu bagi seluruh aktivitas politik yang ada, seperti dalam kutipannya:
“Nilai-nilai Islam seperti kejujuran, amanah, menghormati, menghargai, dan sebagainya harus menjadi rambu-rambu yang seluruh aktivitas politik harus mengacu pada nilai-nilai itu. Dengan demikian, kecenderungan yang mengarah kepada mementingkan kepentingan kelompok dan golongan dan juga pribadi, menjadi terkontrol oleh kesadaran amanah” (halaman 179, par.2)
Di dalam Islam, fitnah sangat dilarang. Terdapat nilai “la yaskhar qaumun min qaumin ‘asa an yakuna khairan minhum” yang memiliki arti “janganlah satu kelompok tersebut menghina kelompok lain karena bisa jadi kelompok itu lebih baik darinya. Setiap umat Islam harus memiliki akhlak yang baik. Dengan akhlak tersebut, dapat membuat politik di Indonesia menjadi baik pula.
Para pemeluk agama Islam diharuskan melakukan kewajiban amar ma’ruf dan nahi munkar (“Etika Beramar Ma’ruf Nahi Munkar”, 2011, September).
Kewajiban yang dilakukan umat Muslim tersebut bukanlah semata-mata baik terhadap dirinya sendiri, meninggalkan kejahatan, melakukan amal yang saleh, tanpa peduli terhadap masyarakatnya.
Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, menurut Rahmat (2003 p.172) juga harus diterapkan dalam bernegara, yakni mengajak hal yang baik dan melawan hal yang mungkar. Hal tersebut harus dilakukan hingga menyentuh pada aspek sistemik dan kultural. Hingga kini, para ulama Islam menganggap bahwa negara yang menyediakan jalan bagi sebuah bentuk negara ideal adalah demokrasi. Demokrasi merupakan jalan terbaik bagi umat Muslim dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Masyarakat Muslim, dalam konteks amar ma’ruf nahi munkar, melakukan peran-peran aktif untuk mempercepat proses demokratisasi.
2.5 Berita dalam Pandangan Konstruksionis
Konsep konstruksi realitas pertama diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Dalam hasil penelitiannya, ia menyebutkan bahwa realitas tidak dibentuk secara ilmiah, bukan pula sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan, namun dibentuk dan dikonstruksi. Setiap individu bisa jadi berbeda-beda dalam memandang suatu realitas. Individu yang memiliki pengalaman, pendidikan tertentu, preferensi, dan lingkungan sosial akan menafsirkan realitas sosial itu sesuai dengan konstruksinya masing-masing.
Pandangan konstruksionis dalam berita berarti, berita bukanlah fakta yang tinggal ambil, ada, lalu dijadikan bahan berita, melainkan telah mengalami konstruksi. Setiap manusia memiliki obyek dalam dirinya dan membuat realitas
tertentu di dalam benaknya. Berbeda dalam pandangan positivistik yang menekankan bahwa fakta terjadi karena telah diatur oleh kaidah tertentu secara universal, fakta dalam pandangan konstruksionis merujuk kepada kreatifitas individu yang membuatnya.
Realitas atau fakta tersebut tergantung bagaimana ia dilihat oleh individu.
Pikiran dan konsepsi kita-lah yang menentukan fakta itu. Fakta yang sama bisa menghasilkan fakta yang berbeda-beda ketika ia dilihat dan dipahami dengan cara yang berbeda. Sebuah fakta bisa jadi benar semua – bila ada bukti dan argumentasi yang kuat – tergantung bagaimana cara individu melihatnya. Fakta yang satu dengan lainnya, yang tidak beraturan, kemudian dirangkai.
Berita bukanlah realita yang sesungguhnya, namun merupakan hasil dari konstruksi sosial dimana selalu melibatkan pandangan, ideologi, dan nilai-nilai dari wartawan ataupun media (Eryanto, 2002:25). Pemaknaan akan fakta tentunya dipengaruhi oleh nilai-nilai dan ideologi tertentu sehingga tidak mungkin merupakan cerminan dari realitas. Demikian halnya dengan peristiwa 4 November lalu. Ada banyak tokoh serta kejadian yang dapat diambil dan dimaknai secara berbeda oleh Republika, dengan ideologi penyebaran Islamnya dan Kompas, dengan ideologi humanisme-nya.
Dalam sebuah pemberitaan, wartawan berperan aktif dalam pembentukkan faktanya. Setiap wartawan menciptakan realita dalam pikirannya terkait dengan fakta yang dilihatnya, kemudian mencari data-data sesuai dengan konstruksi yang ia buat.
Namun, peran wartawan dalam mengkonstruksi realita tidak dapat lepas dari tempat dimana ia bekerja (Sudibyo, 2001:54). Pengetahuan dan pengalaman wartawan dalam mengkonstruksi realitas kemudian dibatasi oleh kebijaksanaan redaksi.
Kebijaksanaan redaksi bisa jadi bergantung pada kepentingan idealis, ideologis, politis dan ekonomis (Hamad, 2004:26).
2.6 Ideologi Media
Media dalam pandangan konstruksionis bukanlah hal yang netral. Melalui media-lah sebuah realitas dapat didefinisikan. Media berperan sebagai subyek dari
pembentukkan realitas itu sendiri terhadap khalayak (Sudibyo, 2001:55).
Ideologi, menurut Hall, merupakan sistem representasi yang disusun dari konsep ide, mitos dan citra (Widyawati, 2009:66). Sedangkan sistem representasi merupakan sistem makna yang merepresentasikan dunia kita dengan dunia yang lain.
Media dipandang sebagai instrumen ideologi, melalui mana satu kelompok menyebarkan pengaruh dan dominasinya kepada kelompok lain (Eriyanto, 2001:58).
Media justru bisa menjadi subyek yang dapat mengkonstruksi realitas berdasarkan penafsiran dan definisinya masing-masing, untuk disebarkan kepada khalayak.
Sebuah media yang lebih ideologis umumnya muncul dengan konstruksi realitas yang bersifat pembelaan terhadap kelompok yang sealiran, serta penyerangan terhadap kelompok yang berbeda (Hamad, 2004:26). Media massa akan menonjolkan fakta yang sesuai dengan ideologinya, dan akan mengaburkan fakta yang tidak sesuai dengan ideologinya. Seperti media Republika yang lahir dari kaum muslim, banyak memberitakan peristiwa 4 November dari sudut pandang cendekiawan muslim.
Sebaliknya, media Kompas memiliki ideologi yang berbeda – bila dilihat dari latar belakang berdirinya kedua media tersebut – cenderung mengemas peristiwa 4/11 dengan berbeda pula.
2.7 Model “Hierarchy of Influence” Shoemaker dan Reese
Setiap teks media yang tersusun atas seperangkat tanda – tanda yang membentuk bahasa – yang memiliki makna di dalamnya (Sobur, 2009:138). Teks media yang ada selalu memiliki ideologi dominan yang terbentuk melalui tanda tersebut. Hal tersebut berarti teks media membawa kepentingan tertentu yang lebih luas dan kompleks.
Kecenderungan setiap media dalam memproses informasi dapat diketahui dari pelapisan yang melingkupi isi media (Sobur, 2009:138). Model “Hierarchy of Influence” yang digagas oleh Pamela Shoemaker dan Stephen D. Reese, menjelaskan, bahwa setiap individu dalam setiap levelnya memiliki pengaruh dan saling berhubungan dalam organisasi media (Reese, 2007:30).
Gambar 2.1 Hierarchy of Influence Shoemaker & Reese
Tingkat Ideologis Tingkat Ekstramedia Tingkat Organisasi Tingkat Rutinitas Media Tingkat Individual
Menurut Shoemaker dalam Sobur (2009 p. 138), beberapa keterangan adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh dalam tingkat individual, di antaranya adalah karakteristik pekerja komunikasi, latar belakang personal, dan professional
2. Pengaruh tingkat rutinitas media. Apa yang dihasilkan oleh media massa dipengaruhi oleh kegiatan seleksi-seleksi yang dilakukan oleh komunikator, termasuk tenggat (deadline) dan rintangan wktu yang lain, keterbatasan tempat (space), struktur piramida terbalik dalam penulisan berita dan kepercayaan reporter pada sumber-sumber berita resmi dalam berita yang dihasilkan.
3. Pengaruh organisasional. Salah satu tujuan yang penting dari sebuah media adalah mencari keuntungan materiil. Tujuan-tujuan dari media akan berpengaruh pada isi yang dihasilkan.
4. Pengaruh dari luar organisasi media. Pengaruh ini meliputi lobi dari kelompok kepentingan terhadap isi media, pseudoevent dari praktisi public relations dan pemerintah yang membuat peraturan-peraturan di bidang pers.
5. Pengaruh ideologi. Ideologi merupakan sebuah pengaruh yang paling menyeluruh dari semua pengaruh. Ideologi, dalam konteks ini, didefinisikan sebagai mekanisme simbolik yang menyediakan kekuatan kohesif yang mempersatukan di dalam masyarakat (Shoemaker, Reese, 1991 dalam Sobur, 2009:139).
2.8 Konsep Framing
Gagasan framing diperkenalkan pertama kali oleh Beterson pada tahun 1955
(Sudibyo, Sobur 2009:161). Frame dianggap sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan kategori-kategori standar untuk mengapresisasi realitas (Sobur, 2009:162).
Analisis framing ini digunakan untuk membedah ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Framing digunakan juga untuk mengetahui bagaimana perspektif dan cara pandang yang digunakan wartawan ketika melihat isu. Cara pandang dan perspektif itulah yang akan menentukkan bagian fakta mana yang akan ditonjolkan dan fakta mana yang akan dikaburkan, serta arah dan tujuan berita tersebut (Eriyanto, 2002:27). Cara pandang tersebut dapat memengaruhi media dalam memilih narasumber, tokoh yang akan diwawancarai, yang ujungnya memihak pada suatu kelompok tertentu. Seperti media Republika yang cenderung memilih narasumber dari kaum muslim, seperti ustad maupun ormas-ormas Islam yang terlibat di dalamnya.
Menurut Eriyanto (2002:69), ada dua aspek dalam framing. Pertama, dalam proses pemilihan fakta / realitas. Wartawan memiliki perspektif dan cara pandang tertentu dalam memilih fakta. Dalam memilih fakta, ada dua hal yang dilakukan, yakni fakta mana yang diambil dan fakta mana yang dibuang. Penekanan yang dilakukan biasanya dengan memilih angle tertentu, memilih fakta tertentu dan melupakan fakta yang lain, memberitakan aspek tertentu dan mengabaikan aspek yang lain.
Kedua, dalam menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang dipilih tersebut akan disebarluaskan kepada khalayak. Fakta tersebut biasanya ditempatkan dengan kata, kalimat, dan preposisi kalimat, dengan bantuan aksentuasi foto dan gambar apa, dan sebagainya. Fakta yang telah dipilih, ditekankan dalam pemakaian perangkat tertentu, seperti:
a) penempatan yang mencolok (menempatkan fakta pada headline, ataupun fakta yang diletakkan di bagian belakang)
b) pengulangan kata
c) pemakaian grafis yang mendukung penonjolan
d) pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang/peristiwa yang diberitakan
e) asosiasi terhadap simbol budaya f) generalisasi, simplikasi
g) pemakaian kata yang menonjol, dan sebagainya.
Penonjolan yang dilakukan oleh media tersebut tidaklah dimaknai sebagai bias, tetapi secara ideologis sebagai strategi wacana: upaya menyuguhkan pandangan tertentu kepada publik agar pandangannya lebih diterima kepada khalayak (Sobur, 2009:164).
Untuk mengetahui bingkai yang dibuat oleh suatu media, diperlukan beberapa model untuk melihatnya. Dalam Eryanto (2007), ada beberapa model untuk melihat bingkai yang dibuat oleh media.
2.8.1 Model Framing Murray Edelman
Edelman menjajarkan framing sebagai kategorisasi: pemaknaan perspektif tertentu, dengan pemakaian kata-kata tertentu yang menandakan bagaimana peristiwa tersebut dipahami. Kategorisasi, bila diartikan sederhana, yakni suatu penyederhanaan, di tengah peristiwa yang kompleks. Gagasan utama dari Edelman adalah media dapat mengarahkan pandangan khalayak akan suatu isu dan membentuk pengertian mereka akan suatu isu. Realita yang digambarkan kepada khalayak hanyalah permainan dan atau refleksi ideologi semata.
Kategorisasi menurut Edelman berhubungan dengan ideologi. Pemaknaan kata tertentu dalam media bukanlah menggambarkan realita yang sebenarnya, melainkan sebuah kreasi agar realita tersebut tampak wajar dan rasional. Bahasa yang digunakan oleh media massa biasanya memperkuat ideologi dari media itu sendiri.
Kata-kata tertentu dalam media massa merupakan bentuk dari bingkai media itu sendiri. Penekanan kata yang ditulis oleh media merujuk pada citra tertentu.
Model Murray Edelman, dalam Eriyanto (2007), digunakan untuk mencari kecenderungan akan keberpihakan media terhadap isu yang digunakan.
2.8.2 Modal Framing Robert N. Entman
Entman menonjolkan dua dimensi dalam framing, yakni seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek realitas (Sobur, 2009:163). Seleksi isu berkaitan dengan pemilihan fakta. Wartawan berperan penting dalam proses penyeleksian isu yang menurutnya layak ditampilkan, ditonjolkan, dan dibuang. Namun pengambilan keputusan mengenai fakta apa yang akan ditonjolkan, tentu melibatkan ideologi yang dimiliki setiap wartawan dalam proses pembuatan berita.
Menurut Entman, framing dalam berita dilakukan dengan empat cara (Eriyanto, 2001:190-195):
a) Define problems (pendefinisian masalah), menekankan bagaimana sebuah peristiwa dipahami oleh wartawan. Setiap wartawan memiliki paradigma sendiri dalam memandang sebuah peristiwa.
b) Diagnose causes (memperkirakan penyebab masalah), merupakan elemen framing untuk membingkai siapa dan apa yang dianggap aktor dalam sebuah peristiwa.
c) Make moral judgement (membuat pilihan moral) adalah elemen framing yang digunakan untuk membenarkan / memberi argumentasi pada pendefinisian masalah.
d) Treatment recomendation, (menawarkan penyelesaian). Elemen ini dipakai untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan, mengenai jalan apa yang dipilih untuk menyelesaikan masalah.
Sedangkan penonjolan aspek tertentu dari suatu isu ini sangat berkaitan dengan penulisan fakta. Proses ini mau tidak mau sangat berhubungan dengan pemakaian bahasa dalam penulisan realitas. Bahasa – dalam hal ini umumnya pilihan kata-kata yang dipilih – dapat menciptakan realitas tertentu kepada khalayak. Kata-kata yang digunakan tidak hanya memfokuskan perhatian khalayak pada masa tertentu, tetapi juga membatasi persepsi khalayak dan mengarahkannya pada cara berpikir dan keyakinan tertentu. Kata-kata yang digunakan dapat membatasi seseorang melihat perspektif lain, menyediakan aspek tertentu dari suatu peristiwa dan mengarahkan bagaimana khalayak harus memahami suatu peristiwa.
2.8.3 Model Framing William A. Gamson dan Andre Modigliani
Konsep framing yang digagas oleh Gamson dan Modiglani tersebut adalah sebagai cara bercerita (story line), atau gugusan ide-ide yang tersusun sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna dari peristiwa yang berkaitan dengan suatu wacana (Eriyanto, 2007:223). Framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang tersebut menentukkan fakta apa yang akan diambil, ditonjolkan atau dihilangkan, serta hendak dibawa kemana sebuah berita tersebut.
Gamson dan Modiglani menyebut cara pandang tersebut sebagai sebuah kemasan (package). Kemasan (package) adalah rangkaian ide-ide yang menunjukkan isu apa yang dibicarakan dan peristiwa mana yang relevan. Kemasan tersebut dibayangkan sebagai struktur data yang mengorganisir sejumlah informasi yang menunjukkan posisi atau kecenderungan politik, dan yang membantu komunikator untuk menjelaskan muatan-muatan dibalik isu suatu peristiwa. Semua elemen dan struktur wacana tersebut mengarah pad aide tertentu dan mendukung ide sentral dari sebuah berita.
Ada dua perangkat bagaimana ide sentral ini diterjemahkan dalam teks berita.
Pertama, framing device (perangkat framing). Perangkat ini berhubungan dan berkaitan langsung dengan ide sentral / bingkai yang ditekankan dalam teks berita.
Perangkat tersebut ditandai dengan pemakaian kata, kalimat, grafik/gambar dan metafora tertentu. Kedua, yakni reasoning devices (perangkat penalaran). Reasoning devices (perangkat penalaran) berkaitan dengan kohesi dan koherensi dari teks tersebut, yang merujuk pada gagasan tertentu. Dasar pembenar dan penalaran tersebut bukan hanya meneguhkan suatu gagasan atau pandangan, melainkan lebih jauh membuat pendapat tersebut tampak benar dan sebuah kewajaran.
2.8.4 Model framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
Framing dimaknai sebagai suatu strategi atau cara wartawan dalam mengkonstruksi beritanya dan memproses peristiwa untuk disajikan kepada khalayak
(Eriyanto, 2007:253). Wartawan bukanlah agen tunggal yang menafsirkan peristiwa, sebab paling tidak ada tiga pihak yang saling berhubungan: wartawan, sumber dan khalayak. Setiap pihak menafsirkan dan mengkonstruksi realitas, dengan penafsiran sendiri dan berusaha agar penafsirannya yang paling dominan dan menonjol.
Perangkat framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki memiliki empat pendekatan dalam buku Eriyanto (2007):
Bagan 2.1 Skema Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
Sumber: Eriyanto, 2007 p.256
a). Struktur Sintaksis. Struktur tersebut merupakan struktur khas dalam wacana berita (Robot, 2010:39). Dalam pengertian umumnya, sintaksis berita merupakan susunan kata atau frase dalam kalimat, yang tersusun dalam headline, lead, latar informasi, kutipan sumber dan penutup (Eriyanto: 2007:257). Bagian tersebut tersusun dalam bentuk yang tetap dan teratur, sehingga membentuk sebuh skema yang menjadi pedoman bagaimana fakta hendak disusun. Bentuk sintaksis
pada umumnya adalah piramida terbalik (headline, lead, episode, latar dan penutup).
Elemen ini merupakan petunjuk yang berguna bagaimana wartawan memaknai peristiwa dan hendak kemana berita tersebut akan dibawa.
b). Struktur Skrip. Laporan berita sering disusun sebagai suatu cerita. Hal terebut disebabkan dua hal. Pertama, banyak laporan berita yang berusaha menunjukkan hubungan. Peristiwa yang tertulis dalam berita merupakan kelanjutan peristiwa sebelumnya. Kedua, berita umumnya mempunyai orientasi menghubungkan teks tertulis dengan komunal pembaca. Menulis berita, dalam taraf tertentu dapat disamakan dengan seorang yang menulis novel atau kisah lain. Selain itu, Teun van Dijk dalam Robot (2010:42), menuliskan bahwa struktur skrip merupakan story grammar, yakni suatu berita yang terdiri dari 5W+1H (what, who, when, where, why, how). Jadi, struktur skrip merupakan karakterisasi peristiwa berdasarkan kaidah penulisan pembaca. Dalam struktur skrip, seorang reporter tidak sekedar mengambil informasi dengan menggunakan kategori 5W+1H, tetapi mendalami karakteristik peristiwa yang diperlukan, sehingga ia bisa memutuskan dengan cara bagaimana peristiwa tersebut diliput.
c). Struktur Tematik. Menurut Pan dan Kosicki, berita merupakan sebuah penguji hipotesis: semua perangkat (peristiwa yang diliput, sumber yang dikutip, dan pernyataan yang diungkapkan) untuk membuat dukungan yang logis bagi hipotesis yang dibuat. Tema yang dihadirkan secara tidak langsung, atau kutipan sumber digunakan sebagai pendukung hipotesis. Pengujian hipotesis ini kita gunakan untuk menyebut struktur tematik dari berita. Beberapa elemen dari perangkat tematik ini adalah: pertalian atau jalinan kata, proposisi atau kalimat.
d). Struktur Retoris. Struktur ini menggambarkan pilihan gaya atau kata yang dipilih oleh wartawan untuk menekankan arti yang ingin ditonjolkan oleh wartawan.
Wartawan menggunakan perangkat retoris untuk membuat citra, meningkatkan kemenonjolan pada sisi tertentu dan meningkatkan gambaran yang diinginkan dari suatu berita. Struktur retoris dari wacana berita juga menunjukkan kecenderungan bahwa apa yang disampaikan tersebut adalah suatu kebenaran. Beberapa struktur retoris yang digunakan oleh wartawan adalah leksikon, pemilihan dan pemakaian
kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan suatu peristiwa. Pilihan kata yang digunakan semata-mata bukan karena kebetulan, melainkan untuk menonjoklkan suatu makna.
2.9 Nisbah Antar Konsep
Berita yang dimuat dalam media massa bukanlah realitas yang sebenar-benarnya.
Fakta yang dimuat di dalamnya telah dikonstruksi oleh wartawan maupun kebijakan redaksi dari media tersebut. Dalam proses pengkonstruksiannya, media melakukan framing atau pembingkaian, dimana ada fakta yang ingin ditonjolkan dan ada pula fakta yang ingin dikaburkan, atau dihilangkan.
Demonstrasi lahir dari adanya disfungsi dari peran partai politik itu sendiri dalam menanmpung aspirasi dari masyarakatnya. Fenomena 4 November memungkinkan media massa melakukan konstruksi atas fakta-fakta di lapangan, entah itu menonjolkan sisi partai politik maupun sisi tokoh yang mengikuti aksi 4 November tersebut.
Ideologi yang dimiliki setiap perusahaan media berperan penting dalam menentukan frame tersebut. Bila sebuah media menemukan fakta yang berlawanan dengan ideologinya, media tersebut cenderung mengaburkannya, bahkan melakukan penyerangan terhadap fakta tersebut melalui tulisan dan narasumber yang dipilihnya.
Sebaliknya, bila media tersebut menemukan fakta yang sesuai dengan ideologinya, media akan menonjolkan fakta tersebut, dan ditempatkan dalam headline. Media akan mencari narasumber yang mendukung fakta yang telah ia konstruksikan. Media tetap melakukan penonjolan pada fakta tertentu, dan mengesampingkan fakta yang lain, yang tidak sesuai dengan ideologi media. Pada akhirnya setiap media mencoba menyuguhkan paradigma baru dalam setiap berita yang ditampilkannya.
Media Islami akan menonjolkan fakta-fakta berbau Islami dalam fenomena 4 November, baik dari segi narasumber maupun peristiwanya. Sedangkan media yang memiliki ideologi humanisme cenderung mengambil sudut pandang dari sisi kemanusiaan dari sebuah peristiwa.
Penting bagi media massa memberitakan fenomena 4 November 2016 secara
objektif (tidak memihak), tidak manipulatif (menggunakan penonjolan tertentu untuk menutupi fakta yang lain), serta merupakan representasi opini dari khalayak. Bila khalayak tidak disuguhkan peristiwa yang sebenarnya, maka yang terjadi adalah penipuan publik, sehingga berdampak pada kredibilitas sebuah media massa.
Peristiwa aksi damai 4 November lalu menyangkut berbagai sisi serta melibatkan berbagai tokoh di dalamnya. Untuk mengetahui bagaimana media online Republika dan Kompas membingkai peristiwa 4 November, diperlukan model analisis framing yang dapat melihat bingkai tersebut. Model analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki digunakan untuk melihat bingkai tersebut secara menyeluruh dalam tubuh berita, mulai dari struktur sintaksis (headline, lead, kutipan narasumber dan penutup), skrip (5W + 1H), tematik (paragraf dan preposisi) hingga retoris (kata yang digunakan dan gambar serta caption). Model tersebut tak hanya melihat berita dari struktur teks saja, melainkan juga struktur retorisnya.
2.10 Kerangka Pemikiran
Berikut adalah kerangka pemikiran penulis mengenai bingkai berita peristiwa 4 November 2016 di media online Kompas dan Republika.
Aksi/Demonstrasi di Indonesia Sebagai Tindak Lanjut dari Kasus Basuki Tjahja Purnama Jumat 4 November 2016
Ideologi Kompas.com (Humanis) dan Republika.co.id (Islam)
Pembingkaian Berita Fenomena 4 November yang dibuat di Media Online Kompas.com dan Republika.co.id
Framing Model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
1. Struktur Sintaksis (headline, lead, kutipan sumber, penutup) 2. Struktur Skrip (5W +1H)
3. Struktur Tematik (paragraf dan proposisi) 4. Struktur Retoris (kata/idiom dan gambar/caption)
Bingkai Berita Peristiwa 4 November 2016 dalam Kompas.com dan Republika.co.id