PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA
PERUSAHAAN TRANSPORTATION SERVICES DI BURSA EFEK INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Per syar atan Dalam Memperoleh Gelar Sar jana Ekonomi
J ur usan Manajemen
Diajukan Oleh :
R PANDJ I TJ AKRA KUSUMA
0812010204/FE/EM
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
J AWA TIMUR
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, DAN
Telah Diper tahankan Dihadapan Dan Diter ima Oleh Tim Penguji J ur usan Manajemen Fakultas Ekonomi Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur
Pada Tanggal 25 Mei 2012
Pembimbing Utama Tim Penguji :
Ketua
Dra. Ec. Nur janti Takarini, Msi Dr a. Ec. Suhar tuti, MM
Sekr etar is
Dr a. Ec. Nurjanti Takar ini, Msi Anggota
Univer sitas Pembangunan Nasional ”Veteran” J awa Timur
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah Nya yang diberikan kepada penyusun sehingga skripsi yang berjudul
“PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, DAN
PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN PADA
PERUSAHAAN TRANSPORTATION SERVICES DI BURSA EFEK
INDONESIA”.
Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat penyelesaian
Studi Pendidikan Strata Satu, Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Pada kesempatan ini penyusun ingin menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberi bimbingan, petunjuk serta bantuan baik spirituil
maupun materiil, khususnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP, selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak DR. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas
Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Jurusan Fakultas
Ekonomi Manajemen Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
4. Ibu Dra. Ec. Nurjanti Takarini, Msi, selaku Dosen Pembimbing Utama
yang telah memberikan saran, nasehat, kesabaran, serta bantuan
bimbingan skripsi kepada peneliti sehingga peneliti bisa
menyelesaikan tugas skripsi ini dengan baik.
5. Seluruh Dosen dan staff dosen Jurusan Manajemen yang telah
memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama menjadi
mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
6. Kepada kedua orang tuaku beserta keluarga besar orang tuaku yang
telah memberikan dukungan baik moril ataupun materil.
7. Berbagai pihak yang turut membantu dan menyediakan waktunya demi
terselesainya skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah disusun dalam
skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat berharap saran
dan kritik membangun dari pembaca dan pihak lain.
Akhir kata, Penulis berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Surabaya, Mei 2012
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
ABSTRAKSI ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJ AU PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teori ... 8
2.1.1 Penelitian Terdahulu... 8
2.2 Landasan Teori ... 10
2.2.1 Pengertian Manajemen Keuangan ... 10
2.2.2 Laporan Keuangan ... 12
2.2.2.1 Arti Pentingnya Laporan Keuangan ... 12
2.2.2.3 Pengertian Laporan Keuangan ... 12
2.2.2.4 Sifat Laporan Keuangan ... 13
2.2.2.5 Bentuk Laporan Keuangan ... 13
2.2.3 Analisa Laporan Keuangan ... 14
2.2.3.1 Tujuan Analisa ... 14
2.2.3.2 Analisa Pembandingan Laporan Keuangan ... 14
2.2.4 Teori yang melandasi kebijakan perusahaan dalam meningkatkan Nilai perusahaan ... 15
2.2.4.1 Trade-Off Theory ... 16
2.2.4.2 Pecking Order Theory ... 16
2.2.5 Nilai Perusahaan ... 19
2.2.6 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Nilai Perusahaan ... 20
2.2.6.1 Firm size (Ukuran Perusahaan) ... 20
2.2.6.2 Leverage ... 21
2.2.6.3 Profitabilitas ... 24
2.2.7 Pengaruh Antar Variabel ... 25
2.2.7.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan 25 2.2.7.2 Pengaruh Leverage terhadap Nilai Perusahaan ... 27
2.2.7.3 Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan ... 29
2.3 Kerangka Konseptual ... 31
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 32
3.1.1 Variabel Terikat atau Variabel Dependen (Y) ... 32
3.1.1.1 Nilai Perusahaan (Y) ... 33
3.1.2 Variabel Bebas atau Variabel Independen (X) ... 33
3.1.2.1 Ukuran Perusahaan ... 34
3.1.2.2 Leverage ... 34
3.1.2.3 Profitabilitas ... 34
3.2 Teknik Penentuan Sampel ... 35
3.2.1 Populasi ... 35
3.2.2 Sampel ... 35
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 36
3.3.1 Jenis Data ... 36
3.3.2 Sumber Data... 36
3.3.3 Metode Pengumpulan Data ... 37
3.4 Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 38
3.4.1 Analisis Regresi Linier Berganda ... 38
3.4.2 Uji Asumsi Klasik ... 39
3.4.2.1 Uji Normalitas ... 40
3.4.2.2 Autokerelasi ... 40
3.4.2.4 Heteroskedastisitas ... 42
3.4.3 Uji Hipotesis ... 43
3.4.3.1 Uji Signifikan Simultan (Uji - F)... 44
3.4.3.2 Uji Secara Parsial (Uji – t) ... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ... 46
4.1.1 Sejarah Singkat PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 46
4.1.2 Visi dan Misi PT. Bursa Efek Indonesia ... 48
4.1.3 Struktur Organisasi Pt. Bursa Efek Indonesia (BEI) ... 48
4.1.4 Perkembangan Jasa Transportasi Di Indonesia ... 49
4.1.5 Sejarah Perusahaan Obyek Penelitian... 53
4.1.5.1 PT. Arpeni Pratama Ocean Line Tbk ... 53
4.1.5.2 PT Berlian Laju Tanker Tbk ... 54
4.1.5.3 PT. Centris Multi Persada Pratama ... 56
4.1.5.4 PT. Humpuss Intermoda Transportasi ... 58
4.1.5.5 PT. Indonesia Air Transport ... 58
4.1.5.6 PT. Mitra International Resources ... 60
4.1.5.7 PT. Panorama Transportasi ... 61
4.1.5.8 PT. Pelayaran Tempuran Emas ... 63
4.1.5.9 PT. Rig Tenders ... 65
4.1.5.11 PT. Steady Safe ... 68
4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 69
4.2.1 Nilai Perusahaan ... 69
4.2.2 Ukuran Perusahaan ... 71
4.2.3 Leverage ... 73
4.2.4 Profitabilitas ... 75
4.3 Analisa dan Pengujian Hipotesis ... 77
4.3.1 Uji Normalitas ... 77
4.3.2 Uji Outlier ... 78
4.3.3 Analisis Regresi ... 79
4.3.4 Uji Asumsi Klasik ... 81
4.3.4.1 Uji Multikolineritas ... 81
4.3.4.2 Uji Heteroskedatisitas... 82
4.3.4.3 Uji Autokorelasi ... 84
4.3.5 Pengujian Hipotesis ... 86
4.3.5.1 Uji F test (UJI F) ... 86
4.3.5.2 Uji t test (UJI t) ... 87
4.4 Pembahasan ... 88
4.4.1 Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan ... 89
4.4.2. Leverage terhadap Nilai Perusahaan ... 90
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 93
5.2 Saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Nilai Perusahaan (PBV) ... 4
Tabel 4.1 Nilai Perusahaan (PBV) pada tahun 2007-2010 ... 70
Tabel 4.2 Ukuran Perusahaan (SIZE)Tahun 2007-2010 ... 72
Tabel 4.3 Leverage (LEV) Tahun 2007-2010 ... 74
Tabel 4.4 Profitabilitas Tahun 2007-2010... 76
Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Uji Normalitas ... 78
Tabel 4.6 Hasil Perhitungan Uji Outlier ... 78
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Analisis Regresi ... 79
Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Multikolineritas ... 81
Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Uji Heterokedatisitas... 84
Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Uji Autokorelasi ... 86
Tabel 4.11 Hasil Perhitungan Uji F ... 87
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Hasil Uji Statistik Durbin Watson ... 85
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Tabulasi Data
Lampiran 2 : Analisis Regresi Berganda dan Asumsi Klasik
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, LEVERAGE, DAN
Tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan kemakmuran
stakeholder, hal ini dapat dicapai dengan memaksimalkan nilai perusahaan. Tetapi terkadang perusahaan gagal untuk meningkatkan nilai perusahaan, yang salah satu penyebabnya adalah kurang cermatnya perusahaan dalam mengaplikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan. Hal tersebut membuat kinerja perusahaan di pandang buruk oleh stakeholdersnya. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel ukuran perusahaan, leverage, dan profitabilitas, terhadap nilai perusahaan yang di proksikan dengan PBV (Price Book Value).
Populasi dalam penelitian ini adalah Transportation Sevices yang go public di BEI. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini tidak ada sebab semua data sampel ada dalam anggota populasi, maka jumlah sampel perusahaan Transportation Sevices yang memiliki kelengkapan data sebanyak 11 perusahaan. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) Berupa laporan keuangan yang terangkum dalam Indonesia Capital Market Directory (ICMD). Sedangkan untuk pengujian data menggunakan analisis regresi linier berganda dengan asumsi klasik menggunakan program SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan (1) Ukuran Perusahaan mempunyai pengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, (2) Leverage mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan, dan (3) Profitabilitas mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belaka ng Masalah
Didirikan sebuah perusahaan memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa hal
yang mengemukakan tentang tujuan pendirian suatu perusahaan. Tujuan
perusahaan yang pertama adalah untuk mencapai keuntungan maksimal atau laba
yang sebesar-besarnya. Tujuan perusahaan yang kedua adalah ingin
memakmurkan pemilik perusahaan atau pemilik saham. Sedangkan tujuan
perusahaan yang ketiga adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin
pada harga sahamnya. Ketiga tujuan perusahaan tersebut sebenarnya tidak banyak
berbeda. Hanya saja penekanan yang ingin dicapai oleh masing-masing
perusahaan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Tujuan utama perusahaan, adalah meningkatkan nilai perusahaan.
Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan
para pemakainya seperti investor dan kreditor,sehingga nilai perusahaan akan
berkurang (Siallagan dan Machfoedz, 2006). nilai perusahaan akan tercermin
dari harga pasar sahamnya (Fama, 1978) dalam (Andr i R dan Hanung T, 2007).
Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI,2001) merumuskan
tujuan dari corporate governance adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi
semua pihak yang berkepentingan (Stakeholders). Corporate governance yang
mengurangi konflik keagenan.Dengan adanya tata kelola perusahaan yang baik,
diharapkan nilai perusahaan akan dinilai dengan baik oleh investor.
Menurut Sujoko dan Soebiantoro (2007) ukuran perusahaan mengalami
perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan
meningkat, pangsa pasar relatif menunjukkan daya saing perusahaan lebih tinggi
dibanding pesaing utamanya. Investor akan merespon positif sehingga nilai
perusahaan akan meningkat.
Singnally theory, Bhattacar ya (1979) dalam Sujoko dan Soebiantor o
(2007) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek
perusahaan yang bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai
perusahaan akan meningkat.
Selain dipengaruhi ukuran perusahaan, nilai perusahaan juga dipengaruhi
oleh profitabilitas, leverage. Peningkatan profitabilitas, apalagi jika disertai
leverage yang semakin tinggi akan menimbulkan financial distress sehingga nilai
perusahaan menurun. Balancing Theory, menyatakan bahwa ada keseimbangan
antara manfaat dan pengorbanan dalam kaitannya dengan hutang. Stigliz, (1976)
dalam Sujoko dan Soebiantoro (2007)
Perusahaan jasa transportasi digunakan dalam penelitian ini, karena
industri terbesar didunia adalah pada bidang jasa. Perusahaan ini merupakan
kelompok perusahaan yang cukup besar dan berkembang pesat di indonesia.
Perusahaan jasa transportasi memiliki persaingan yang sangat ketat, dalam hal ini
seperti ini agar bisa dapat melakukan pengelolaan fungsi-fungsi manajemen
dengan baik sehingga bisa lebih unggul dalam persaingan dan memenangkan
pasar. Di samping itu, perusahaan ini juga membutuhkan modal yang sangat besar
dan kuat untuk mendukung finansial perusahaan,agar dapat bersaing dalam
memberikan fasilitas jasa yang terbaik.
Nilai perusahaan diukur dengan Price Book Value (PBV) yang merupakan
nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi
perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Br igham, 1999)
dalam (Andr i R dan Hanung T, 2007).
Nilai perusahaan merupakan tingkat keuntungan yang dinikmati oleh
pemegang saham atas suatu investasi yang dilakukannya. Dibawah ini terdapat
tabel nilai perusahaan pada perusahaan Transportation Services yang go public
sehingga bisa dilihat dengan jelas naik turunnya yg dialami oleh perusahaan
tersebut. Data nilai perusahaan (PBV) yang digunakan dalam penelitian ini dapat
diperoleh secara langsung pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD
Tabel 1.1
Nilai Per usahaan (PBV) Pada Per usahaan J asa Tr ansportasi yang Go Publik di BEI Tahun 2007-2010 (Dalam rupiah)
(Sumber : ICMD 2010 dan 2011 dan diolah oleh penulis)
Dari data diatas terlihat dengan jelas bahwa nilai perusahaan dalam hal ini
dilihat dari PBV pada perusahaan jasa transportasi dari tahun ke tahun
menandakan adanya masalah nilai perusahaan yang cenderung berfluktuasi. Hal
ini dapat dilihat dari rata-rata nilai perusahaan pada perusahaan jasa transportasi
dari tahun 2007-2010 cenderung berfluktuasi.
No Nama Per usahaan Nilai Per usahaan
2007 2008 2009 2010
1. PT. Arpeni Pratama Ocean Line 1,085 0,334 0,532 -0,340
2. PT. Berlian Laju Tanker 4,744 0,567 0,663 0,616
3. PT. Centris Multi Persada Pratama 0,306 0,444 0,521 0,361
4. PT. Humpuss Intermoda Transportasi 2,090 1,596 2,157 3,165
5. PT. Indonesia Air Transport 1,024 0,612 0,622 0,641
6. PT. Mitra International Resources 192,489 65,690 -28,392 -8,669
7. PT. Panorama Transportasi 3,123 0,823 0,716 1,183
8. PT. Pelayaran Tempuran Emas 1,398 0,507 0,728 0,952
9. PT. Rig Tenders 0,826 0,379 0,697 0,740
10. PT. Samudera Indonesia 0,670 0,214 0,358 0,371
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa perusahaan Transportation
Services yang go publik di Bursa Efek Indonesia memiliki Nilai Perusahaan yang
berfluktuasi. Hal ini disebabkan karena sektor perusahaan transportasi kurang
mendapat perhatian dari investor yang mengakibatkan saham emiten perusahaan
transportasi kurang likuid sehingga saham emiten transportasi hanya bergerak
aktif di saat tertentu saja.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka penulis
tertarik untuk menulis skripsi dengan judul : “PENGARUH UKURAN
PERUSAHAAN, LEVERAGE, DAN PROFITABILITAS TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN PADA PERUSAHAAN J ASA TRANSPORTASI DI
BURSA EFEK INDONESIA”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan penelitian yang
akan diteliti adalah: “ Nilai perusahaan pada perusahaan Jasa Transportasi
menunjukkan kondisi yang berfluktuasi selama periode 2007-2011 dan terdapat
pengaruh yang tidak konsisten antara variabel ukuran perusahaan, leverage dan
profitabilitas, terhadap nilai perusahaan serta adanya ketidak konsistenan dari
hasil penelitian terdahulu sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut “.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka perumusan
1. Apakah Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan pada
perusahaan Transportation Services yang go publik di Bursa Efek Indonesia?
2. Apakah Leverage berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan pada perusahaan
Transportation Services yang go publik di Bursa Efek Indonesia?
3. Apakah Profitabilitas berpengaruh terhadap terhadap Nilai Perusahaan pada
perusahaan Transportation Services yang go publik di Bursa Efek Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Atas dasar perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan
pada perusahaan Transportation Services yang go publik di Bursa Efek
Indonesia.
2. Untuk mengetahui pengaruh Leverage terhadap Nilai Perusahaan pada
perusahaan Transportation Services yang go publik di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan pada
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan memberikan kegunaan dan kontribusi sebagai
berikut :
1. Bagi calon investor
Dengan adanya kajian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan pada
saat melakukuan investasi.
2. Bagi perusahaan
Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam mengaplikasikan
variabel-variabel penelitian ini untuk membantu meningkatkan nilai perusahaan serta
sebagai bahan pertimbangan emiten untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan
meningkatkan kinerja manajemen dimasa yang akan datang.
3. Bagi akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan
teori mengenai ukuran perusahaan, leverage, profitabilitas yang diterapkan
pada suatu perusahaan serta pengaruhnya terhadap nilai perusahaan.
4. Bagi penelitian yang akan datang
Penelitian ini dapat diharapkan dapat menjadi referensi atau bahan wacana di
bidang keuangan sehingga dapat bermanfaat untuk penelitian selanjutnya
mengenai nilai perusahaan pada masa yang akan datang khususnya pada
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teor i
2.1.1 Penelitian Terdahulu
Fakta empiris di Indonesia mengenai faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap nilai perusahaan telah banyak dilakukan dan masih menunjukkan
perbedaan hasil. Terdapat penelitian terdahulu yang telah dilakukan yang menguji
tentang nilai perusahaan yang dihubungkan dengan berbagai variabel independen.
1. Taswan dan Soliha dalam Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Vol. 9. No. 2,
September 2002, pp 149-163, dengan Judul Pengaruh Kebijakan Utang
Terhadap Nilai Perusahaan Serta Beberapa Faktor Mempengaruhinya, Dengan
menggunakan sampel perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ tahun
1993-1997 Sedangkan pemilihan sampel dengan menggunakan metode
purposive sampling dengan tipe judgment sampling yaitu pemilihan sampel
dengan mendasarkan pada kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan adalah
memililiki laporan keuangan selama periode penelitian, ada kebijakan dividen,
memiliki data jumlah pinjaman yang dimiliki, memiliki EBIT yang positif,
price book value lebih besar dari 1. Hasil investigasi menunjukkan sample size
sebesar 95 sample. Hasilnya menunjukkan bahwa kebijakan utang terhadap
nilai perusahaan serta beberapa faktor mempengaruhinya, hasilnya
perusahaan, sedangkan insider ownership, profitabilitas dan firm size terbukti
mempengaruhi nilai perusahaan.
2. Sujoko dan Soebiantor o dalam Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.
9. No. 1, Maret 2007, pp 41-48, dengan Judul Struktur Kepemilikan Saham,
Leverage, Faktor Intern, Dan Faktor eksternal Terhadap Nilai Perusahaan.
Dengan menggunakan sampel perusahaan manufaktur dan non manufaktur
yang terdaftar di BEJ tahun 2000-2004 Populasi dalam penelitian ini adalah
perusahaan yang terdaftar di BEJ. Pengambilan sampel dilakukan dengan
purposive sampling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kepemilikan
manajerial, keadaan pasar modal, pangsa pasar relatif tidak berpengaruh
signifikan terhadap leverage. Kepemilikan institusional, tingkat suku bunga,
profitabilitas berpengaruh negatif terhadap leverage. Pertumbahan pasar,
pembayaran dividen, ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap leverage.
Kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai
perusahaan. Kepemilikan manajerial, tingkat suku bunga, leverage
berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Keadaan pasar modal,
pertumbuhan pasar, profitabilitas pembayaran dividen, ukuran perusahaan,
pangsa pasar relatif berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
3. Andri dan Hanung dalam Simposium Nasional Akuntansi X, Makasar, 26 –
28 Juli 2007, pp 1-26, dengan Judul Analisis Faktor Yang Mempengaruhi
Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Dengan menggunakan sampel perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama periode 2001-2005.
mendapatkan sampel yang representatif sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
Kriteria perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah
:termasuk dalam jenis perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Jakarta selama periode 2001-2005, menerbitkan laporan keuangan untuk
periode yang berakhir 31 Desember selama periode pengamatan 2001-2005,
laporan keuangan disajikan dalam rupiah dan semua data yang dibutuhkan
untuk penelitian ini tersedia dengan lengkap. Hasilnya kepemilikan
institusioanal, ukuran perusahaan berpengaruh secara positif dan signifikan
terhadap nilai perusahaan. Komisaris, independen, KAP, leverage berpengaruh
secara signifikan dan tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Komite audit,
komisaris independen, kepemilikan manajerial, dan institusioanal, serta
leverage tidak berpengaruh terhadap kualitas laba.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemilikan
manajerial, kepemilikan institusional, kebijakan dividen dan kebijakan utang
terhadap nilai perusahaan dengan variable kontrol ukuran perusahaan,
pertumbuhan perusahaan, dan kinerja perusahaan terhadap nilai perusahaan.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Penger tian Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan atau sering disebut pembelanjaan dapat diartikan
semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan usaha-usaha mendapatkan
dana perusahaan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan
Menurut Husnan (2004:4) manajemen keuangan menyangkut kegiatan
perencanaan, analisis dan pengendalian kegiatan keuangan. Mereka yang
melaksanakan kegiatan tersebut sering disebut manajer keuangan. Meskipun
demikian, kegiatan keuangan tidaklah terbatas dilakukan oleh mereka yang
menduduki jabatan seperti Direktur Keuangan, Kepala Bagian Keuangan dan
sebaliknya, mungkin sekali melakukan kegiatan keuangan. Sebagai misal,
keputusan untuk memperluas kapasitas pabrik, menghasilkan produk baru jelas
akan dibicarakan dan diputuskan oleh berbagai Direktur, tidak terbatas hanya oleh
Direktur Keuangan. Banyak keputusan yang harus diambil oleh manajer keuangan
dan berbagai kegiatan yang harus dijalankan mereka. Meskipun demikian
kegiatan-kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kegiatan utama,
yaitu kegiatan menggunakan dana (allocation of funds) dan mencari pendanaan
(raising of fund). Dua kegiatan utama (atau fungsi) tersebut disebut sebagai fungsi
keuangan.
Manajemen keuangan merupakan bidang yang terluas dari tiga bidang
keuangan dan memiliki kesempatan karir yang sangat luas. Manajemen keuangan
sangat penting dalam semua jenis perusahaan, termasuk bank dan lembaga
keuangan lainnya serta perusahaan industri dan ritel. Manajemen keuangan juga
penting dalam kegiatan pemerintah, mulai dari sekolah, rumah sakit, hingga
departemen jalan raya (Brigham dan Houston, 2001:6).
Menurut Riyanto (2001) mendefinisikan manajemen keuangan sebagai
2.2.2 Laporan Keuangan
2.2.2.1 Arti Pentingnya Laporan Keuangan
Pada mulanya laporan keuangan bagi semua perusahaan hanyalah sebagai
alat penguji dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk laporan keuangan
tidak hanya sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi keuangan
perusahaan tersebut, dimana dengan hasil analisa tersebut pihak-pihak yang
berkepentingan mengambil suatu keputusan (Munawir, 2002:1).
2.2.2.2 Pihak yang Berkepentingan Ter hadap Posisi Keuangan
Pihak-pihak tersebut adalah para pemilik perusahaan, manajer perusahaan
yang bersangkutan, kreditur, bankers, para investor dan pemerintah (Munawir,
2002:2).
2.2.2.3 Penger tian Lapor an Keuangan
Akuntansi adalah seni dari pada pencatatan, penggolongan dan
peringkasan dari pada peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang
setidak-tidaknya sebagian bersifat keuangan dengan cara yang setepat-tepatnya dan
dengan penunjuk atau dinyatakan dalam uang, serta penafsiran terhadap hal-hal
yang timbul daripadanya. Dari definisi akuntansi tersebut diketahui bahwa
peringkasan dalam hal ini dimaksudkan adalah pelaporan dari peristiwa-peristiwa
keuangan perusahaan yang dapat diartikan sebagai laporan keuangan. (Munawir,
2.2.2.4 Sifat Lapor an Keuangan
(Munawir , 2002:6)
a. Fakta yang telah dicatat
b. Prinsip dan kebiasaan di dalam akuntansi
c. Pendapat pribadi
2.2.2.5 Bentuk Laporan Keuangan
a. Neraca
Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal
dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Jadi tujuan Neraca adalah untuk
menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu,
biasanya pada waktu di mana buku-buku ditutup dan di tentukan sisanya pada
suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender, sehingga neraca sering disebut
dengan Balance Sheet. (Munawir, 2002:13).
Bentuk Neraca :
1) Skonto di mana semua aktiva tercantum sebelah kiri/debet dan hutang
serta modal tercantum sebelah kanan kredit.
2) Vertical dalam bentuk ini semua aktiva nampak di bagian atas yang
selanjutnya diikuti dengan hutang jangka pendek, hutang jangka panjang
3) Bentuk neraca yang disesuaikan dengan kedudukan atau posisi keuangan
perusahaan. (Munawir, 2002:20).
b. Laporan Rugi Laba
Seperti diketahui Laporan Rugi Laba merupakan suatu laporan yang
sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh oleh suatu
perusahaan selama periode tertentu. (Munawir, 2002:26).
2.2.3 Analisa Laporan Keuangan
2.2.3.1 Tujuan Analisa
Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh
informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai
oleh perusahaan yang bersangkutan. Data keuangan tersebut akan lebih berarti
bagi pihak-pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan
untuk dua periode atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga dapat diperoleh
data yang akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil.(Munawir, 2002
:31).
2.2.3.2 Analisa Pembandingan Laporan Keuangan
Neraca menunjukkan aktiva, hutang dan modal perusahaan pada suatu saat
tertentu, dengan demikian Neraca yang diperbandingkan ( comparative balance
sheet ) menunjukkan aktiva, hutang serta modal perusahaan pada dua tanggal atau
lebih untuk suatu perusahaan, atau pada tanggal tertentu untuk dua perusahaan
akan dapat diketahui perubahan yang terjadi. Di mana
perubahan-perubahan di dalam neraca dalam suatu periode mungkin disebabkan karena :
a. Laba atau rugi yang bersifat operasionil maupun yang insidentil.
b. Diperolehnya aktiva baru maupun adanya perubahan bentuk aktiva.
c. Timbulnya atau lunasnya hutang maupun adanya perubahan bentuk hutang
yang satu ke bentuk hutang yang lain.
d. Pengeluaran atau pembayaran atau penarikan kembali modal saham, (adanya
penambahan atau pengurangan modal).
Sedangkan Laporan rugi laba menunjukkan penghasilan-penghasilan yang
diperoleh perusahaan, biaya-biaya yang terjadi serta laba atau rugi netto sebagai
hasil dari operasi perusahaan selama periode tertentu, sehingga Laporan rugi laba
yang diperbandingkan menunjukkan penghasilan, biaya, laba atau rugi netto dari
hasil operasi perusahaan dalam dua periode atau lebih. (Munawir,2002:38).
2.2.4 Teor i yang melandasi kebijakan perusahaan dalam meningkatkan Nilai Per usahaan
Upaya dalam memasukkan berbagai faktor dan menanggalkan satu per
satu dari berbagai ketidak sempurnaan pasar ini telah melahirkan dua teori
keuangan baru dari teori struktur modal (capital structure theory), yang saling
berlawanan, yaitu trade-off theory atau yang dikenal dengan balanching theory
dan pecking order theory (Myer s dan Majluf, 1984) dalam (Bambang dan Elen,
Meskipun kedua teori tersebut menyatakan bahwa keputusan financing
adalah relevan dalam kebijakan struktur modal pada kondisi pasar modal yang
tidak sempurna.
2.2.4.1 Tr ade-Off Theor y
Trade-off theory (Myer s, 1977;1984) dalam (Bambang dan Elen,
2010:3) memprediksi bahwa dalam mencari hubungan antara capital structure
dengan nilai perusahaan terdapat satu tingkat leverage (debt ratio) yang optimal.
Penggunaan utang akan meningkatkan nilai perusahaan sampai batas leverage
tertentu (optimal), dan sesudahnya penggunaan utang akan menurunkan nilai
perusahaan, karena penggunaan utang setelah leverage optimal akan
menimbulkan biaya kebangkrutan (bankruptcy cost) yang lebih besar. Menurut
teori ini, perusahaan-perusahaan besar pada umumnya cenderung kecil
kemungkinan untuk bangkrut, sehingga lebih mudah untuk menarik pinjaman dari
bank dibandingkan dengan perusahaan kecil.
2.2.4.2 Peck ing Or der Theor y
Pecking order theory adalah salah satu teori yang mendasari keputusan
pendanaan perusahaan. Myer s (1984) dalam Husnan (1996) mengemukakan
argumentasi mengenai adanya kecenderungan suatu perusahaan untuk
menentukan pemilihan sumber pendanaan yang berdasarkan pada pecking order
Myer s (1984) berpendapat bahwa keputusan pendanaan berdasarkan
pecking order theory yang dikemukakan pada tahun 1961 mengikuti urutan
pendanaan sebagai berikut:
a. Perusahaan lebih menyukai pendanaan dari sumber internal.
b. Perusahaan menyesuaikan target pembayaran dividen terhadap peluang
investasi.
c. Bila dana eksternal dibutuhkan, perusahaan akan memilih sumber dana dari
utang karena dipandang lebih aman dari penerbitan ekuitas baru sebagai
pilihan terakhir sebagai sumber untuk memenuhi kebutuhan investasi.
Pecking order theory adalah salah satu teori yang mendasarkan pada
asimetri informasi. Asimetri informasi akan mempengaruhi struktur modal
perusahaan dengan cara membatasi akses pada sumber pendanaan dari luar.
Myer s dan Majluf (1984) dalam Husnan (1996) menunjukkan bahwa dengan
adanya asimetri informasi, investor biasanya akan menginterprestasikan sebagai
berita buruk apabila perusahaan mendanai investasinya dengan menerbitkan
ekuitas.
Investor beranggapan bahwa penerbitan ekuitas baru dilakukan oleh para
manajer apabila saham perusahaan dinilai lebih tinggi. Baskin (1989) dan Myer s
(1984) dalam Husnan (1996) mengemukakan bahwa pemberitahuan penerbitan
ekuitas-ekuitas baru menyebabkan nilai perusahaan yang tercermin dalam harga
Perilaku pecking order selain dipengaruhi oleh adanya asimetri informasi
juga cenderung didorong dengan adanya pajak dan biaya transaksi. Ada beberapa
alasan yang menyebabkan biaya langsung dari retained earning akan lebih kecil
dari penerbitan ekuitas baru. Alasan pertama adalah terdapatnya penghematan
yang cukup besar dalam banker fees. Alasan yang kedua adalah perusahaan dapat
menekan dividen yang dapat dikenakan pajak pada saat ini dengan membatasi
penerbitan sekuritas. Dalam hal ini, dengan menetapkan jumlah utang dan
investasi tetap konstan, kenaikan dalam penerbitan ekuitas akan selalu
mengarahkan pada dividen yang lebih besar. Dividen yang lebih besar selanjutnya
akan menambah beban pajak pribadi. Oleh karena itu akan cukup beralasan
apabila perusahaan berusaha untuk menekan penerbitan ekuitas baru. Disamping
itu, menurut Bringham (1999), biaya pada umumnya lebih kecil jika perusahaan
menerbitkan utang dibandingkan menerbitkan saham baru. Perusahaan dalam
menerbitkan sekuritas eksternal akan lebih memilih utang dibandingkan saham
untuk mengurangi berbagai biaya yang timbul dari pemilihan antara utang dan
saham. Bringham (1999).
Dalam kaitannya dengan nilai perusahaan, pecking order theory telah
memberikan gambaran bahwa penggunaan utang akan memberikan manfaat
sekaligus biaya dan risiko sebagaimana dinyatakan oleh Bringham (1999) yang
mengemukakan bahwa penggunaan utang yang berbeban bunga memiliki
keuntungan dan kerugian bagi perusahaan. Sehingga penggunaan utang yang
optimal dan dipertimbangkan terhadap karakteristik spesifik perusahaan (asset,
gagal pemenuhan kewajiban sehingga perusahaan terhindar dari penurunan
kepercayaan investor yang berimplikasi pada menurunnya nilai perusahaan.
2.2.5 Nilai Per usahaan
Nilai buku per saham menentukan harga pasar saham yang bersangkutan.
Oleh karena itu, sebelum investor memutuskan untuk membeli atau menjual
saham, mereka harus memperhatikan nilai buku per saham yang bersangkutan dan
membandingkan dengan harga yang ditawarkan. Nilai buku per saham
mencerminkan nilai perusahaan, dan nilai perusahaan tercermin pada nilai
kekayaan bersih ekonomis yang dimilikinya (Halim, 2003:16)
Menurut (Br igham, 1999) dalam (Andri dan Hanung, 2007) nilai
perusahaan diukur dengan Price Book Value (PBV) yang merupakan nilai yang
diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai
sebuah perusahaan yang terus tumbuh.
Memaksimumkan nilai pasar perusahaan sama dengan memaksimumkan
harga pasar saham. Hal ini dapat dijelaskan secara sederhana sebagai berikut :
nilai perusahaan (V=value) adalah hutang (D=debt) ditambah modal sendiri
(E=equity). Jika diasumsikan hutang tetap, nilai perusahaan naik maka modal
sendiri naik. Naiknya modal sendiri akan meningkatkan harga per lembar saham
perusahaan. (Lukas setia atmaja, 1999:4)
Nilai perusahaan lazim diindikasikan dengan price to book value. Price to
book value yang tinggi akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan
perusahaan yang tinggi mengindikasikan kemakmuran pemegang saham juga
tinggi (Soliha dan Taswan, 2002) dalam (Fendi dan Rovila, 2011:119).
2.2.6 Faktor -Faktor yang mempengar uhi Nilai Per usahaan
2.2.6.1 Firm size (ukur an per usahaan)
Ukuran perusahaan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap nilai
perusahaan suatu perusahaan. Dalam hal ukuran perusahaan dilihat dari total
assets yang dimiliki oleh perusahaan, yang dapat dipergunakan untuk kegiatan
operasi perusahaan. Jika perusahaan memiliki total asset yang besar, pihak
manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan asset yang ada di perusahaan
tersebut. Kebebasan yang dimiliki manajemen ini sebanding dengan kekhawatiran
yang dilakukan oleh pemilik atas asetnya. Jumlah asset yang besar akan
menurunkan nilai perusahaan jika dinilai dari sisi pemilik perusahaan. Akan tetapi
jika dilihat dari sisi manajemen, kemudahan yang dimilikinya dalam
mengendalikan perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan.
Salah satu tolak ukur yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan
adalah ukuran aktiva dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang memiliki
total aktiva besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mencapai
tahap kedewasaan dimana dalam tahap ini arus kas perusahaan sudah positif
dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka waktu yang relatif
lama, selain itu juga mencerminkan bahwa perusahaan relatif lebih stabil
dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding perusahaan dengan total asset
Aktiva merupakan tolak ukur besaran atau skala suatu perusahaan.
Biasanya perusahaan besar mempunyai aktiva yang besar pula nilainya.
Secara teoritis perusahaan yang lebih besar mempunyai kepastian (certainty)
yang lebih besar daripada perusahaan kecil sehingga akan mengurangi
tingkat ketidakpastian mengenai prospek perusahaan ke depan. Hal tersebut
dapat membantu investor memprediksi risiko yang mungkin terjadi jika ia
berinvestasi pada perusahaan itu.
Perusahaan yang memiliki total aktiva besar menunjukkan bahwa
perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan dimana tahap ini arus kas
perusahaan sudah positif dan dianggap memiliki prospek yang baik dalam jangka
waktu yang relatif lebih stabil dan lebih mampu menghasilkan laba dibanding
perusahaan dengan total asset yang kecil (Indr iani, 2005) dalam (Andr i dan
Hanung, 2007). Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur melalui log total
aktiva.
Menurut Eugene F. Br igham dan J oel F. Houston (2001:117-119),
mengemukakan bahwa: “Ukuran perusahaan yaitu rata–rata total penjualan bersih
untuk tahun yang bersangkutan sampai beberapa tahun” .
2.2.6.2 Lever age
Penggunaan utang akan menurunkan beban pajak sejumlah bunga, di sisi
lain penggunaan utang juga akan menurunkan biaya modal saham. Namun
bayar akibat tingginya beban bunga dan pokok utang yang harus dibayar oleh
perusahaan. (Sr i dan Hardiningsih, 2011)
Menurut Sutr isno (2003:227) perusahaan dalam beroperasi selain
menggunakan modal kerja, juga menggunakan aktiva tetap, seperti tanah,
bangunan, pabrik, mesin, kendaraan, dan peralatan lainnya yang mempunyai masa
manfaat jangka panjang atau lebih dari satu tahun. Di samping itu untuk
memenuhi kebutuhan dananya perusahaan bisa menggunakan modal sendiri atau
modal yang berasal dari pemilik, dan bisa juga berasal dari pinjaman atau hutang.
Bila perusahaan menggunakan dana dari pinjaman, maka perusahaan secara rutin
akan membayar biaya bunga yang merupakan beban tetap bagi perusahaan.
Masalah leverage timbul karena perusahaan menggunakan aset yang
menyebabkan harus membayar biaya tetap dan menggunakan hutang yang
menyebabkan perusahaan menanggung beban tetap. Dengan demikian leverage
adalah penggunaan aktiva atau sumber dana di mana untuk penggunaan tersebut
perusahaan harus menanggung biaya tetap atau membayar beban tetap.
Menurut Brigham dan Houston (1997:59) dalam (Sri dan Har diningsih,
2011) setiap perusahaan menganalisis sejumlah faktor, dan kemudian menetapkan
struktur pendanaan yang ditargetkan. Target ini selalu berubah sesuai dengan
perubahan kondisi, tetapi pada setiap saat dibenak manajemen perusahaan
terdapat bayangan dari struktur dana yang ditargetkan. Jika tingkat utang yang
sesungguhnya berada di bawah target, mungkin perlu dilakukan ekspansi dengan
melakukan pinjaman, sementara jika rasio utang sudah melampaui target,
Menurut Riyanto (2001) dalam (Sr i dan Har diningsih, 2011) struktur
modal adalah perimbangan atau perbandingan utang dengan modal sendiri.
Keputusan struktur modal berkaitan dengan pemilihan sumber dana baik yang
berasal dari dalam maupun dari luar, sangat mempengaruhi nilai perusahaan.
Sumber pendanaan di dalam suatu perusahaan dibagi menjadi dua kategori yaitu
pendanaan internal dan pendanaan eksternal. Pendanaan internal dapat diperoleh
dari sumber laba ditahan dan depresiasi, sedangkan pendanaan eksternal dapat
diperoleh para kreditor atau yang disebut dengan utang dari pemilik, peserta, atau
pengambil bagian dalam perusahaan atau yang disebut sebagai modal. Proporsi
atau bauran dari penggunaan modal sendiri dan utang dalam memenuhi kebutuhan
dana perusahaan disebut struktur modal perusahaan.
Penggunaan hutang yang berbeban bunga mempunyai keuntungan dan
kelemahan bagi perusahaan. Keuntungan penggunaan hutang bagi perusahaan
diantaranya adalah : a) biaya bunga mengurangi beban pajak, b) bondholder hanya
mendapat bunga yang relatif tetap sehingga kelebihan keuntungan menjadi milik
perusahaan sepenuhnya, c) bondholder tidak memiliki hak suara sehingga pemilik
dapat mengendalikan perusahaan dengan dana yang lebih kecil. Penggunaan
hutang juga mempunyai kelemahan karena : a) hutang yang semakin tinggi
meningkatkan risiko insolvency, b) bila bisnis perusahaan tidak bagus,
pendapatan operasi menjadi rendah dan tidak cukup menutup biaya bunga, maka
kerugian ini dapat membahayakan perusahaan karena perusahaan terancam
2.2.6.3 Pr ofitabilitas
Kinerja keuangan diukur dengan profitabilitas, menurut Sartono (2001)
profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam
hubungannnya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Sedangkan
menurut Halim (2000) rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur
kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat
penjualan, asset, dan modal saham tertentu. Profitabilitas perusahaan yang tinggi
dapat menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajibannya.
Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam kegiatan
operasinya merupakan fokus utama dalam penilaian prestasi perusahaan
(analisis fundamental perusahaan) karena laba perusahaan selain
merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban bagi para
penyandang dananya juga merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan
yang menunjukkan prospek perusahaan di masa yang akan datang. Dari sini
permasalahannya menyangkut efektifitas manajemen dalam menggunakan
total aktiva maupun aktiva bersih seperti yang tercatat dalam neraca.
Efektifitas dinilai dengan menghubungkan laba bersih – yang didefinisikan
dengan berbagai cara – terhadap aktiva yang digunakan untuk menghasilkan
laba. Hubungan seperti itu merupakan salah satu analisis yang memberikan
gambaran lebih, walaupun sifat dan waktu dari nilai yang ditetapkan pada
profitabilitas adalah menghubungkan laba bersih (pendapatan bersih)
yang dilaporkan terhadap total aktiva di neraca.
Dalam penelitian ini, variabel profitabilitas yang digunakan adalah Return
on Equity. Return on Equity ini sering disebut dengan rate of return on Net Worth
yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal
sendiri yang dimiliki, sehingga ROE ini ada yang menyebut sebagai rentabilitas
modal sendiri. Laba yang diperhitungkan adalah laba bersih setelah dipotong
pajak atau EAT menurut Sutr isno (2003:255)
Sedangkan menurut Eugene F. Br igham dan J oel F. Houston
(2009:107), menyatakan bahwa: “Profitabilitas adalah hasil akhir dari sejumlah
kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahaan” .
Profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam
mengelola perusahaan (Petr onila dan Muklasin, 2003). Ukuran profitabilitas
dapat berbagai macam seperti : laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian
investasi / aktiva, dan tingkat pengembalian ekuitas pemilik. Angg (1997)
mengungkapkan bahwa rasio profitabilitas atau rasio rentabilitas menunjukkan
keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan.
2.2.7 Penga ruh Antar Var iabel
2.2.7.1 Penga r uh Uk uran Per usahaan(SIZE) Ter hadap Nilai Per usahaan
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar
yang menaruh perhatian pada perusahaan tersebut. Hal ini disebabkan karena
perusahaan yang besar cenderung memiliki kondisi yang lebih stabil. Kestabilan
tersebut menarik investor untuk memiliki saham perusahaan tersebut. Kondisi
tersebut menjadi penyebab atas naiknya harga saham perusahaan di pasar modal.
Investor memiliki ekspektasi yang besar terhadap perusahaan besar. Ekspektasi
insvestor berupa perolehan dividen dari perusahaan tersebut. Peningkatan
permintaan saham perusahaan akan dapat memacu pada peningkatan harga saham
di pasar modal. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dianggap
memiliki “ Nilai” yang lebih besar.
Menurut Sujoko dan Soebiantoro (2007) ukuran perusahaan yang besar
menunjukkan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan
merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.
Dalam penelitian (Andri dan Hanung, 2007) ukuran perusahaan
mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. hal ini
menandakan bahw a pasar lebih mengapresiasi perusahaan besar. Ukuran
perusahaan yang besar dapat menjadi indikasi bahwa perusahaan mempunyai
komitmen yang tinggi untuk terus memperbaiki kinerjanya, sehingga pasar akan
mau membayar lebih mahal untuk mendapatkan sahamnya karena percaya akan
mendapatkan pengembalian yang menguntungkan dari perusahaan tersebut.
Dalam penelitian Sujoko dan Soebiantoro (2007) ukuran perusahaan
mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa investor mempertimbangkan ukuran
perusahaan dijadikan patokan bahwa perusahaan tersebut mempunyai kinerja
bagus.
2.2.7.2 Penga ruh Leverage (LEV) Ter hadap Nilai Per usahaan
Leverage dapat dipahami sebagai penaksir dari resiko yang melekat pada
suatu perusahaan. Artinya, leverage yang semakin besar menunjukkan risiko
investasi yang semakin besar pula. Perusahan dengan rasio leverage yang rendah
memiliki risiko leverage yang lebih kecil.
Sebuah perusahaan dikatakan tidak solvabel apabila total hutang
perusahaan lebih besar dari pada total yang dimiliki perusahaan. Dengan semakin
tingginya rasio leverage menunjukkan semakin besarnya dana yang disediakan
oleh kreditur (Mahduh dan Hanafi, 2005).
Sehubungan dengan penggunaan leverage, struktur modal optimal dapat
diperoleh dengan adanya keseimbangan antara keuntungan tax shield dengan
financial distress dan agency cost. Dengan kata lain terjadi trade-off antara benefit
dengan biaya. Financial distress terjadi jika perusahaan mengalami kesulitan
dalam melunasi kewajiban utangnya, dimana perusahaan terancam kebangkrutan.
Karena itu financial distress perlu diperhitungkan karena mengurangi nilai
perusahaan. Penambahan utang akan meningkatkan tingkat risiko atas
arus pendapatan perusahaan, yang mana pendapatan dipengaruhi faktor
eksternal sedangkan utang menimbulkan beban tetap tanpa memperdulikan
terjadinya perusahaan tidak mampu membayar kewajiban berupa bunga dan
pokoknya. Risiko kebangkrutan akan semakin tinggi karena bunga akan
meningkat lebih tinggi dari pada penghematan pajak. (Sr i dan Har diningsih,
2011).
Salah satu teori yang mendasari keputusan pendanaan perusahaan adalah
pecking order theory, menurut Myer s (1984) dalam Sujoko dan Soebiantor o
(2007) yang mengemukakan adanya kecenderungan perusahaan untuk
menentukan pemilihan sumber pendanaan atas dasar hirarki risiko (pecking order
theory).
Dalam penelitian (Andr i dan Hanung, 2007) leverage mempunyai
pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. maka semakin besar
leverage perusahaan maka semakin rendah nilai perusahaan. Hal ini mungkin
disebabkan ketakutan pasar terhadap adanya kemungkinan kesulitan keuangan
yang akan dialami perusahaan.
Dalam penelitian Sujoko dan Soebiantor o (2007) leverage mempunyai
pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Manajemen akan
semakin berhati-hati dalam melakukan peminjaman, sebab jumlah hutang yang
terlalu tinggi akan menimbulkan risiko financial distress sehingga nilai
perusahaan akan menurun. Hasil penelitian ini mendukung teori struktur modal
model trade off yang menyatakan bahwa jumlah hutang yang semakin meningkat
2.2.7.3 Penga ruh Pr ofitabilitas Ter hadap Nilai Per usahaan
Profitabilitas Adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan profit
atau laba selama satu tahun yang dinyatakan dalam rasio laba operasi dengan
penjualan dari data laporon laba rugi akhir tahun. Profitabilitas dapat dihitung
dengan ROE (return on equity). ROE mencerminkan tingkat hasil pengembalian
investasi bagi pemegang saham. Profitabilitas yang tinggi mencerminkan
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi
pemegang saham. Dengan rasio profitabilitas yang tinggi yang dimilki sebuah
perusahaan akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya
diperusahaan. Tingginya minat investor untuk menanamkan modalnya pada
perusahaan dengan ROE yang tinggi akan meningkatkan harga saham. Semakin
tingginya profitabilitas perusahaan juga akan meningkatkan laba per lembar
saham (EPS atau earning per share) perusahaan. Adanya peningkatan EPS akan
membuat investor tertarik untuk menanamkan modalnya dengan membeli saham
perusahaan.
Kinerja perusahaan dalam mengelola manajemen dapat digambarkan
dengan profitabilitas. Angg (1997) dalam (Suhar li, 2006) menyatakan bahwa
rasio profitabilitas menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan
keuntungan. Profitabilitas merupakan salah satu yang faktor dapat mempengaruhi
nilai perusahaan.
Menurut (Sutr isno, 2003:255), ROE memberi ukuran kemampuan
tinggi ROE maka keuntungan yang diperoleh bagi pemegang saham tinggi dan
saham perusahaan tersebut akan diminati oleh investor sehingga harga saham
akan naik. Begitu sebaliknya, apabila ROE rendah maka keuntungan yang
diperolehpun semakin rendah, sehingga harga saham turun.
Singnally theory, Bhattacar ya (1979) dalam Sujoko dan Soebiantor o
(2007) mengemukakan bahwa profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek
perusahaan yang bagus sehingga investor akan merespon positif dan nilai
perusahaan akan meningkat.
Hasil penelitian yang dilakukan Sujoko dan Soebiantoro (2007)
profitabilitas mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai
perusahaan. Temuan penelitian ini mendukung Singnally theory, Bhattacarya
(1979) yang menyatakan bahwa perusahaan yang mempunyai earning yang
semakin meningkat merupakan signal bahwa perusahaan tersebut mempunyai
prospek bagus di masa yang akan datang. Prospek bagus tersebut akan direspon
positif oleh investor. Respon positif dari investor tersebut akan meningkatkan
2.3 KERANGKA KONSEPTUAL
Adapun kerangka teoritis ada pada gambar 1:
2.4 HIPOTESIS
2.4 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah, tinjau teoritis, dan beberapa penelitian
terdahulu seperti yang telah diuraiakan sebelumnya, maka hipotesis yang akan
diajukan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Ukuran Perusahaan (SIZE) mempunyai pengaruh positif terhadap nilai
perusahaan pada perusahaan Transportation Services di Bursa Efek Indonesia.
2. Leverage (LEV) mempunyai pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan pada
perusahaan Transportation Services di Bursa Efek Indonesia.
3. Profitabilitas mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan
perusahaan Transportation Services di Bursa Efek Indonesia.
Firm Size
(X1)
Profitabilitas
(X3) Leverage
(X2)
Nilai Perusahaan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Metode penelitian merupakan teknik atau prosedur yang sangat penting
dalam keseluruhan rancangan dan pelaksanaan penelitian dengan metode
penelitian, pekerjaan penelitian akan terarah sebab metode penelitian bermaksud
memberikan kemudahan dan kejelasan tentang apa dan bagaimana penelitian
dilakukan oleh peneliti . Metode merupakan cara yang ditempuh untuk mencapai
tujuan tertentu. Keberhasilan penelitian tergantung dari metode yang digunakan.
Agar suatu kegiatan penelitian diperoleh hasil yang baik, maka diperlukan metode
atau teknik ilmiah yang terencana dan dapat dipertanggung jawabkan.
Berdasarkan permasalahan dan hipotesis yang telah dikemukakan, maka
variabel-variabel yang akan diteliti dapat dikemukakan sebagai berikut :
3.1.1 Var iabel Ter ikat (Var iabel Dependent)(Y)
Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang tidak dapat
berdiri sendiri dan nilainya tergantung pada hasil pengamatan. Variabel terikat (Y)
3.1.1.1 Nilai Per usahaan (Y)
Nilai perusahaan lazim diindikasikan dengan price to book value. Price to
book value yang tinggi akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan
kedepan. Hal itu juga menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab nilai
perusahaan yang tinggi mengindikasikan kemakmuran pemegang saham juga
tinggi (Soliha dan Taswan, 2002) dalam (Fendi dan Rovila, 2011).
Formula untuk menghitung price to book value ditunjukkan sebagai
berikut (Br igham dan Ehr hardt, 2002) :
Price to Book Value =
3.1.2 Var iabel Bebas (Independen Variabel)(X)
Merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya
variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) dalam
3.1.2.1 Ukuran Per usahaan (SIZE)(X1)
Ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki
perusahaan. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini merupakan cerminan besar
kecilnya perusahaan yang nampak dalam nilai total aktiva perusahaan pada neraca
akhir tahun, yang diukur dengan len (Ln) dari total aktiva (Sujoko dan Ugy
Soebiantoro, 2007:45)
Size = Ln (Total Aktiva)
3.1.2.2 Lever age (LEV)(X2)
Leverage merupakan total hutang dibagi dengan total aset. Penelitian
(Siallagan dan Machfoedz,2006) dalam (Andr i dan Hanung, 2007) menyatakan
bahwa leverage dapat mengurangi konflik kepentingan antara manajer dan dengan
pemberi manajemen (bondholders). Dalam penelitian ini ukuran perusahaan dapat
menggunakan rumus sebagai berikut:
Leverage=
Aktiva Total
Hutang Total
3.1.2.3 Pr ofitabilitas (X3)
Profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam
mengelola perusahaan (Petr onila dan Muk hlasin, 2003 dalam (Suhar li, 2006).
dapat diukur menggunakan ROE (return on equity) yang merupakan tingkat
aktiva bersih perusahaan, sehingga perhitungan ROE sebuah perusahaan dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :
ROE =
Sendiri
Modal
Bersih
Laba
3.2 Tek nik Penentuan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan keemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2003:55).
Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan yang memiliki
kelengkapan data sebanyak 11 perusahaan yang bergerak dibidang Transportation
Sevices yang go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Periode
Pengamatan dilakukan selama 4 tahun yaitu mulai tahun 2007 – 2010.
3.2.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut (Sugiyono, 2003:56) . Dalam penelitian ini tidak menggunakan
teknik pengambilan sampel karena semua anggota populasi sudah dijadikan
sampel.
Adapun kesebelas perusahaan Transportation Sevices yang di tentukan
b) PT. Berlian Laju Tanker
c) PT. Centris Multi Persada Pratama
d) PT. Humpuss Intermoda Transportasi
e) PT. Indonesia Air Transport
f) PT. Mitra International Resources
g) PT. Panorama Transportasi
h) PT. Pelayaran Tempuran Emas
i) PT. Rig Tenders
j) PT. Samudera Indonesia
k) PT. Steady Safe
3.3 Tek nik Pengumpulan Data
3.3.1 J enis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data
yang diperoleh bukan langsung dari sumbernya dan bukan diusahakan sendiri oleh
penulis dan peneliti. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan
keuangan perusahaan Transportation Sevices yang go public di Bursa Efek
Indonesia pada tahun 2007 sampai tahun 2010.
3.3.2 Sumber Data
Dalam penelitian ini data bersumber dari PT. BURSA EFEK INDONESIA
(BEI) Berupa laporan keuangan yang terangkum dalam Indonesia Capital Market
Directory (ICMD) perusahaan Transportation Sevices yang telah dipilih sebagai
3.3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam rangka memperoleh data-data yang diperlukan, maka metode
pengumpulan data yang akan digunakan yaitu metode dokumentasi. Metode
dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang berkaitan dengan obyek
penelitian.
Teknik pengumpulan data yang digunakan selama penelitian sebagai berikut :
1. Studi Lapangan
Studi lapangan ini dimaksudkan untuk mendapatkan data sekunder yang
diperlukan. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi-instansi
yang terkait dalam penyusunan penelitian ini yaitu Bursa Efek Indonesia.
2. Studi Kepustakaan
Yaitu teknik pengumpulan data dengan jalan mempelajari buku-buku literatur
dan catatan yang berhubungan dengan penelitian ini.
3. Dokumenter
Yaitu suatu cara yang digunakan dalam pengumpulan data atau informasi yang
digunakan dengan cara mempelajari dokumen-dokumen perusahaan yang telah
3.4 Tek nik Analisis dan Uji Hipotesis
3.4.1 Analisis Regresi Linier Ber ganda
Analisis ini merupakan analisis data untuk pengujian hipotesis dengan
menganalisis regresi berganda. Analisis regresi berganda dalam penelitian ini
digunakan untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan (SIZE), Leverage
(LEV), dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan. Persamaan regresi untuk
melihat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan
persamaan:
Y =
Dimana :
Y = Nilai Perusahaan
X1 = Ukuran Perusahaan
X2 = Leverage
X3 = Profitabilitas
α = Konstanta
β1, β2, β3 = koefisien regresi
3.4.2 Uji Asumsi Klasik
Persamaan regresi tersebut di atas harus bersifat BLUE (Best Linier
Unbiased Estimator), artinya pengambilan keputusan melalui uji t tidak boleh
bias, untuk memastikan bahwa model yang diperoleh benar-benar memenuhi
asumsi dasar dalam analisis regresi yang meliputi asumsi, tidak terjadi
autokorelasi, tidak terjadi multikolinearitas, dan tidak terjadi heteroskedastisitas.
Menurut Sumodiningr at (2004: 115) sifat blue dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Best : Pentingnya sifat ini kelihatan bila diterapkan dalam uji signifikan baku
terhadap α dan ß, serta membuat interval keyakinan taksiran-taksiran
2. Linier : Sifat ini dibutuhkan untuk memudahkan perhitungan dalam
penaksiran
3. Unbiased : Bila jumlah sampel sangat besar, penaksir parameter diperoleh
dari sampel besar kira-kira lebih mendekati nilai parameter sebenarnya.
4. Estimate : e diharapkan sekecil mungkin.
Menurut Gujar ati (2007:183) untuk menghasilkan keputusan yang BLUE,
maka harus dipenuhi oleh regresi linier berganda, yaitu :
a) Nilai tengah (mean value) dan komponen pengganggu e yang ditimbulkan
dari variabel eksplanatory harus sama dengan nol.
b) Varian dari komponen pengganggu & harus konstan dalam memenuhi syarat
heteroskedasitas.
d) Variabel eksplanatory harus non stokastik atau kalaupun stokastik harus
menyebar bebas dari komponen pengganggunya.
Yang diasumsikan tidak terjadi pengaruh antara variabel bebas atau regresi
bersifat BLUE (Best, Linear, Unbiased, Estimator) artinya koefisien regresi pada
persamaan tersebut betul-betul linier dan tidak bias atau tidak terjadi
penyimpangan-penyimpangan persamaan.
3.4.2.1 Uji Nor malitas
Menurut Gujar ati (2007:164), menyataan bahwa uji normalitas adalah
untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan
dependennya memilki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.
Menurut Gujar ati (2007:165), salah satu uji persyaratan yang harus
dipenuhi dalam penggunaan analisis parametik yaitu uji normalitas data populasi.
3.4.2.2 Autokor elasi
Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota dalam data runtut waktu
(time series) atau antara space untuk data cross section. Adanya gejala
autokorelasi menggambarkan varians populasinya dan hasil regresi tidak dapat
digunakan untuk menaksir nilai variabel dependen pada nilai variabel independen
tertentu.
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model
regresi linier ada korelasi antara koefisien pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Identifikasi ada tidaknya gejala
bebas (k) dan jumlah data (n) sehingga dL dan dU dapat diperoleh distribusi daerah
keputusan ada atau tidaknya korelasi. Keberadaan autokorelasi dapat dites dengan
menghitung nilai Durbin Watson (d tes), dengan menggunakan rumus sebagai
berikut (Gujarati,2007:116-120) :
Keterangan :
d = nilai Durbin Watson
et = residual pada waktu ke t
et-1 = residual pada waktu ke t-1 (satu periode sebelumnya)
N = banyaknya data
3.4.2.3 Multikolinear itas
Fenomena adanya korelasi yang sempurna antara satu variabel bebas
dengan variabel bebas lain. Adanya multikolineritas menyebabkan standar error
cenderung semakin besar dengan meningkatnya tingkat korelasi antar variabel dan
standar error menjadi sangat sensitif terhadap perubahan data (Gujarati,
Menurut Widarjono (2003:131), mengemukakan bahwa Multikolinearitas
berarti adanya hubungan linier antara variabel independen di dalam regresi linier
berganda dalam suatu persamaan. Multikolinearitas merupakan korelasi variabel
independen dalam regresi berganda.
Dari diagnosis atau dugaan adanya multikolinearitas tersebut maka perlu
adanya pembuktian atau identifikasi secara statistik ada atau tidaknya gejala
multikolinearitas, ada beberapa metode deteksi:
a) Koefisien determinasi tinggi (R2), misalnya antara 0,7 dan 1. Dan uji parsial
tidak satupun yang signifikan.
b) Membandingkan tolerance yang didapat dari perhitungan regresi berganda,
apabila nilai tolerance < α maka terjadi multikolinearitas.
c) Dengan cara menghitung VIF (Variance Inflation Factor). VIF menyatakan
tingkat “pembengkakan” varians, apabila nilai VIF > 10 hal ini berarti terdapat
multikolinearitas.
Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dapat dilakukan dengan
menghitung VIF (Variance Inflation Factor) dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
VIF = var (
3.4.2.4 Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke