PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

19  Download (0)

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG

NOMOR 14 TAHUN 2006 T E N T A N G

PAJAK REKLAME

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUMAJANG

Menimbang : a. bahwa untuk efektifitas dan efisiensi serta mengoptimalkan penerimaan Pendapatan Asli Daerah dari sektor Pajak Reklame di Kabupaten Lumajang, perlu meninjau dan menyempurnakan kembali Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 1998 tentang Pajak Reklame ;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Pajak Reklame dengan Peraturan Daerah .

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 9) ;

2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209) ;

3. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3565) sebagaimana telah diubah pertama kali dengan Undang– Undang Nomor 9 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3565) sebagaimana telah diubah kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3984) ;

4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia

(2)

Tahun 1997 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696) sebagaimana telah diubah dengan Undang–Undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048) ;

5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang–undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389) ;

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4493) yang telah ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548) ;

7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4422) ;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258) ;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2952) ;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4138) ;

11. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 170 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pungutan Pajak Daerah ;

12. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 173 Tahun 1997, tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pajak Daerah ; 13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2001,

tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah ;

14. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130–67 Tahun 2002 tentang Pengakuan Wewenang Kabupaten dan Kota ;

15. Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 20 Tahun 2000, tentang Susunan Organisasi Pemerintah Kabupaten Lumajang sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 17 Tahun 2002 ;

16. Peraturan Daerah Kabupaten Lumajang Nomor 20 Tahun 2004, tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Lumajang .

(3)

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN LUMAJANG

dan

BUPATI LUMAJANG M E M U T U S K A N :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PAJAK REKLAME . BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Lumajang ;

2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Lumajang yang terdiri dari Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah ;

3. Pemerintahan Kabupaten adalah penyelenggaraan urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas – luasnya dalam sistim dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ;

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lumajang sebagai unsur penyelengara pemerintahan daerah ;

5. Bupati adalah Bupati Lumajang ;

6. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang ;

7.

Pejabat yang ditunjuk adalah Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Lumajang ;

8.

Kas Daerah adalah Kas Daerah Kabupaten Lumajang ;

9. Pajak Reklame yang selanjutnya disebut pajak adalah iuran wajib atas penyelenggaraan reklame ;

10. Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang menurut bentuk dan susunan dan corak ragamnya untuk tujuan komersial, dipergunakan untuk memperkenalkan, menganjurkan, atau memuji sesuatu barang, jasa atau orang, ataupun untuk menarik perhatian umum kepada sesuatu barang, jasa atau orang yang ditempatkan atau yangh dapat dilihat, dibaca, dan atau didengar dari sesuatu tempat oleh umum, kecuali yang dilakukan oleh Pemerintah ;

11. Panggung/lokasi adalah sarana atau tempat pemasangan reklame ;

12. Kawasan/zona adalah batasan wilayah tertentu yang disesuaikan dengan opemanfaatan wilayah yang dapat digunakan untuk lokasipemasangan reklame ;

13. Penyelenggara reklame adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame baik untuk atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain ;

(4)

14. Izin adalah izin penyelenggaraan/pemasangan reklame serta izin materi reklame ;

15. Reklame Skala Besar adalah reklame yang memiliki kriteria diantaranya : ukuran paling kecil 48 (empat puluh delapan) meter persegi dengan ketinggian 6 (enam) meter keatas untuk reklame Megatron.idoetron, dan papan dengan ukuran minimal 3 (tiga) meter persegi yang dipasang pada lebih dari 25 titik ;

16. Reklame Skala Sedang adalah reklame yang memiliki kriteria diantaranya : ukuran antara 12 (dua belas) meter persegi sampai dengan ukuran 47,99 (empat puluh tujuh koma sembilan puluh sembilan), dengan ketinggian antara 4 (empat) meter sampai dengan 5,99 (lima koma sembilan puluh sembilan) meter untuk reklame Megatron, Videotron dan papan dengan ukuran diatas 3 (tiga) meter persegi yang dipasang pada 100 (sepuluh) sampai dengan 24 titik ;

17. Reklame Skala Kecil adalah reklame yang tidak termasuk dalam kriteria Reklame Skala Besar maupun Reklame Skala Sedang ;

18. Reklame Tetap adalah reklame yang jangka waktu pemasangannya adalah minimal 1 (satu) tahun takwim ;

19.

Reklame Insidentil adalah reklame yang jangka waktu pemasangannya menggunakan perhitungan harian ;

20. Nilai Jual Obyek Pajak adalah keseluruhan pembayaran atau pengeluaran biaya-biaya yang dikeluarkan oleh pemilik dan atau penyelenggara reklame termasuk dalam hal ini adalah biaya atau harga beli bahan reklame, konstruksi, instalasi listrik, pembayaran, pemasangan, pengangkutan dan lain sebagainya sampai dengan bangunan reklame rampung, dipancarkan, diperagakan, ditayangkan, atau dipasang ditempat yang telah diizinkan termasuk biaya pemeliharaan ; 21. Nilai Sewa Reklame adalah nilai yang ditetapkan sebagai

dasar perhitungan penetapan besarnya pajak reklame ;

22. Nilai Strategis lokasi reklame adalah ukuran nilai yang ditetapkan pada titik lokasi pemasangan reklame tersebut berdasarkan kriteria kepadatan tata ruang kota untuk berbagai aspek kegiatan dibidang usaha;

23.

Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya ;

24.

Pajak terhutang adalah pajak yang harus dibayar dalam Masa Pajak, dalam Tahun Pajak atau dalam bagian Tahun Pajak menurut ketentuan peraturan perpajakan Daerah ;

25.

Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data obyek dan subyek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak kepada Wajib Pajak serta pengawasan penyetorannya ;

26.

Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SPTPD, adalah surat oleh Wajib Pajak digunakan

(5)

untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, Obyek pajak dan/atau bukan Obyek Pajak, dan/atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan perpajakan Daerah ;

27.

Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD, adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke Kas Daerah atau ke tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Bupati ;

28.

Surat Ketetapan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak ;

29.

Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDKB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah yang masih harus dibayar ;

30.

Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya disingkat SKPDKBT, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan ;

31.

Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKPDLB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang ;

32.

Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang selanjutnya disingkat SKPDN, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak ;

33.

Surat Tagihan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat STPD, adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda ;

34.

Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang–undangan perpajakan Daerah yang terdapat dalam Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil atau Surat Tagihan Pajak Daerah ;

35.

Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh Pihak Ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak ;

36.

Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh Wajib Pajak ;

37.

Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data dan/atau keterangan lainnya untuk menguji keputuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Daerah dan untuk tujuan lain dalam rangka

(6)

melaksanakan ketentuan peraturan perundang–undangan perpajakan Daerah ;

38.

Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan sacara untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan penyerahan barang dan jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi pada setiap Tahun Pajak berakhir ;

39.

Penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang perpajakan Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya .

BAB II

NAMA, OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK

Pasal 2

( 1 ) Dengan nama Pajak Reklame dipungut pajak atas setiap penyelenggaraan reklame ;

( 2 ) Obyek Pajak Reklame adalah setiap penyelenggaraan reklame ;

( 3 ) Obyek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi :

a. Reklame Megatron/Videotron/Large Elektronik Display (LED) ;

b. Reklame Papan/Billboard/Baliho ;

c. Reklame Kain ;

d. Reklame Melekat (Stiker) ; e. Reklame Selebaran ;

f. Reklame Berjalan, termasuk pada kendaraan ; g. Reklame Udara;

h. Reklame Film/Slide/poster ;

i. Reklame Peragaan ; j. Reklame Rombong ; k. Reklame Bersinar ;

l. Reklame Waal Painting/Shop Painting ; dan/atau

m. Flag Chain .

Pasal 3

Subyek Pajak Reklame adalah Orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan atau pemesanan reklame .

Pasal 4

Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame .

(7)

Dikecualikan dari obyek pajak adalah :

a.penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, warta harian, warta mingguan, warta bulanan dan sejenisnya ;

b. penyelenggaraan reklame lainnya. BAB III

DASAR PENGENAAN DAN TARIP PAJAK

Pasal 6

( 1 ) Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Sewa Reklame ;

( 2 ) Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dihitung berdasarkan penjumlahan Nilai Jual Obyek Pajak dengan Nilai Strategis ;

( 3 ) Ketentuan mengenai Nilai Sewa adalah didasarkan pada besarnya biaya pembuatan, pemasangan, pemeliharaan, pembongkaran, lama pemasangan, nilai strategis, lokasi dan jenis reklame ;

( 4 ) Hasil perhitungan nilai sewa sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dinyatakan dalam bentuk tabel dan ditetapkan dengan Keputusan Bupati .

Pasal 7

Besarnya tarip Pajak ditetapkan sebesar 20% (dua puluh persen).

BAB IV

WILAYAH PEMUNGUTAN DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK

Pasal 8

( 1 ) Pajak yang terutang dipungut di wilayah Kabupaten Lumajang ;

( 2 ) Besarnya Pajak terutang dihitung dengan cara mengalikan Tarip Pajak sebagaimana dimaksud pada pasal 7, dengan dasar pengenaan sebagaimana dimaksud pada pasal 6 .

BAB V

MASA PAJAK, SAAT PAJAK TERUTANG DAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH

Pasal 9

Masa Pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan 1 (satu) bulan takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati .

(8)

Pasal 10

Tahun Pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun takwim kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim .

Pasal 11

Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat penyelenggaran reklame .

Pasal 12

( 1 ) Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD ;

( 2 ) SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau Kuasanya ;

( 3 ) SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus disampaikan kepada Bupati selambat–lambatnya 15 (lima belas) hari setelah berakhirnya masa pajak ;

( 4 ) Bentuk, isi dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan oleh Bupati .

BAB VI

TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK

Pasal 13

( 1 ) Berdasarkan SPTPD sebagaimana dimaksud pada pasal 12 ayat (1), Bupati menetapkan Pajak terutang dengan menerbitkan SKPD ;

( 2 ) Apabila SKPD sebagamana dimaksud pada ayat (1), tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2 % (dua persen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD .

Pasal 14

( 1 ) Wajib Pajak yang membayar sendiri, SPTPD sebagaimana dimaksud pada pasal 12 ayat (1), digunakan untuk menghitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang terutang ;

( 2 ) Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutang pajak, Bupati dapat menerbitkan :

a. SKPDKB ;

b. SKPDKBT ;dan/atau

(9)

( 3 ) SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, diterbitkan apabila :

a. Berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terutang tidak atau dibayar, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak ;

b. SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah ditegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak ; dan/atau ;

c. Kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak yang terutang dihitung secara jabatan, dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak ;

( 4 ) SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang, akan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100 % (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut ;

( 5 ) SKPDN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, ditebitkan apabila jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau tidak terutang dan tidak ada kredit pajak ;

( 6 ) Kewajiban membayar pajak terutang dalam SKPDKB dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan b tidak atau tidak sepenuhnya dibayar dalam menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi berupa denda 2% (dua persen) sebulan ;

( 7 ) Penambahan jumlah pajak yang terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (4), tidak dikenakan apabila Wajib Pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan pemeriksaan .

BAB VII

TATA CARA PEMBAYARAN

Pasal 15

( 1 ) Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Bupati sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD ;

(10)

( 2 ) Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan pajak harus di setor ke Kas Daerah selambat–lambatnya 1 X 24 jam atau dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Bupati ;

( 3 ) Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dilakukan dengan menggunakan SSPD .

Pasal 16

( 1 ) Pembayaran pajak harus dilakukan sekaligus atau lunas ; ( 2 ) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberikan

persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur pajak terutang dalam kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan ;

( 3 ) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus dilakukan secara teratur dan berturut–turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar ;

( 4 ) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar ;

( 5 ) Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda serta tata cara pembayaran angsuran dan penundaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4), ditetapkan oleh Bupati .

Pasal 17

( 1 ) Setiap pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada pasal 16, diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan ;

( 2 ) Bentuk, jenis, isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada dalam (1) ditetapkan oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk .

BAB VIII

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK

Pasal 18

( 1 ) Surat Tegoran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran ; ( 2 ) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat

Tegoran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis, Wajib Pajak harus melunasi Pajak yang terutang ;

(11)

( 3 ) Surat Tegoran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dikeluarkan oleh Pejabat yang ditunjuk .

Pasal 19

( 1 ) Apabila jumlah pajak masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Tegoran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis jumlah pajak yang harus dibayar ditagih dengan Surat Paksa ;

( 2 ) Pejabat yang ditunjuk menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak tanggal Surat Tegoran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis .

Pasal 20

Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 2 X 24 jam sesudah tanggal pemberitahuan Surat Paksa, Pejabat yang ditunjuk segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan .

Pasal 21

Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi utang pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Pejabat yang ditunjuk mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara .

Pasal 22

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, Juru Sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak .

Pasal 23

Bentuk, jenis dan isi formulir yang digunakan untuk pelaksanaan penagihan Pajak Daerah ditetapkan oleh Bupati .

BAB IX

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK

Pasal 24

( 1 ) Bupati berdasarkan permohonan Wajib Pajak dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak ;

( 2 ) Tata cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Bupati .

(12)

BAB X

TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN

PENGURANGAN KETETAPAN DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 25

( 1 ) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk karena jabatan atau atas permohonan Wajib Pajak dapat :

a. membetulkan SKPD atau SKPDKB atau SKPDKB atau STPD yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan hitung, dan/atau kekeliruan dalam penerapan peraturan perundang–undangan perpajakan Daerah ;

b. membatalkan atau mengurangkan ketetapan pajak yang tidak benar ; dan/atau

c. mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan pajak terutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahannya ;

( 2 ) Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi atas SKPD, SKPDKB, SKPDBKT, dan STPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Bupati, atau Pejabat yang ditunjuk selambat–lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, atau STPD dengan memberikan alasan yang jelas ;

( 3 ) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk paling lama 3 (tiga) bulan sejak Surat Permohonan dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah harus memberikan keputusan ;

( 4 ) Apabila setelah lewat waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bupati atau Pajabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan, permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dianggap dikabulkan .

BAB XI

KEBERATAN DAN BANDING

Pasal 26

( 1 ) Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan kepada atau Pejabat yang ditunjuk atas suatu :

a.Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) ;

b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) ; c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan

(SKPDKBT) ;

d. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar (SKPDLB) ;

e.Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN) ; dan/atau

f. Pemotongan atau pemungutan oleh Pihak Ketiga berdasarkan peraturan perundang–undangan perpajakan Daerah yang berlaku ;

(13)

( 2 ) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),harus disampaikan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia paling lama (3) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB dan SKPDN diterima oleh Wajib Pajak, atau tanggal pemotongan/pemungutan oleh Pihak Ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dengan alasan yang jelas, kecuali apabila Wajib Pajak dapat menunjukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya ;

( 3 ) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal Surat Permohonan Keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah memberikan keputusan ;

( 4 ) Apabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Bupati atau Pejabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan ;

( 5 ) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunda kewajiban membayar pajak ;

( 6 ) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima sebagian atau seluruhnya, menolak atau menambah besarnya pajak terutang .

Pasal 27

( 1 ) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya Keputusan Keberatan ;

( 2 ) Pengajuan permohonan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak menunda kewajiban membayar pajak .

Pasal 28

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada pasal 26 atau banding sebagaimana dimaksud pada pasal 27 dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan .

BAB XII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

Pasal 29

( 1 ) Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk secara tertulis dengan menyebutkan sekurang – kurangnya :

a. Nama dan Alamat Wajib Pajak ; b. Masa Pajak ;

(14)

c.besarnya kelebihan Pembayaran Pajak ; dan/atau

d. alasan yang jelas.

( 2 ) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberikan keputusan ;

( 3 ) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilampaui Bupati atau Pejabat yang tunjuk tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar (SKPDLB) harus diterbitkan dalam waktu paling lama 1 (satu) bulan ;

( 4 ) Apabila Wajib Pajak mempunyai utang Pajak lainnya, kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang pajak dimaksud ;

( 5 ) Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP) ;

( 6 ) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah jangka waktu 2 (dua) bulan, Bupati atau Pejabat yang ditunjuk memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran pajak .

Pasal 30

Apabila kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan utang pajak lainnya sebagaimana dimaksud pada pasal 29 ayat (4) pembayarannya dilakukan dengan cara pemindah bukuan dan bukti pemindah bukuan juga berlaku sebagai bukti pembayaran.

BAB XIII

KEDALUWARSA PENAGIHAN

Pasal 31

( 1 ) Hak untuk melakukan penagihan pajak, kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak, kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah ;

( 2 ) Kedaluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tertangguh apabila :

a.diterbitkan Surat Tegoran dan Surat Paksa ; dan/atau

b. ada pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun tidak langsung .

(15)

BAB XIV

PEMBUKUAN DAN PEMERIKSAAN

Pasal 32

( 1 ) Wajib Pajak yang memenuhi kriteria tertentu wajib menyelenggarakan pembukuan ;

( 2 ) Kriteria Wajib Pajak sabagaimana dimaksud pada ayat (1), dan tata cara pembukuan diatur oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk .

Pasal 33

( 1 ) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan Daerah dalam rangka melaksanakan peraturan perundang–undangan perpajakan daerah ;

( 2 ) Wajib Pajak yang diperiksa wajib :

a.memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan obyek pajak yang terutang ;

b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan ; dan/atau

c.memberikan keterangan yang diperlukan ;

( 3 ) Tata cara pemeriksaan pajak diatur oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk .

Pasal 34

( 1 ) Setiap Pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain segala sesuatu yang diketahui atau diberitahukan kepadanya oleh Wajib Pajak dalam rangka jabatan atau pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang– undangan perpajakan daerah ;

( 2 ) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berlaku juga terhadap tenaga ahli yang ditunjuk oleh Bupati untuk membantu dalam pelaksanaan ketentuan peraturan perundang–undangan perpajakan daerah ;

( 3 ) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) adalah :

a. pejabat dan tenaga ahli yang bertindak sebagai saksi atau saksi ahli dalam Sidang Pengadilan ; dan/atau

b. pejabat dan tenaga ahli yang memberikan keterangan kepada pihak yang ditetapkan oleh Bupati .

( 4 ) Untuk kepentingan Daerah, Bupati berwenang memberi izin tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tenaga–tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2), supaya memberikan keterangan, memperlihatkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak kepada pihak yang ditunjuknya ;

(16)

( 5 ) Untuk kepentingan pemeriksaan di pengadilan dalam perkara pidana atau perdata atas permintaan hakim sesuai dengan Hukum Acara Pidana dan Hukum Acara Perdata, Bupati dapat memberi izin tertulis untuk meminta kepada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2), bukti tertulis dan keterangan Wajib Pajak yang ada padanya ;

( 6 ) Permintaan hakim sebagaimana dimaksud pada ayat (4), harus menyebutkan nama terdakwa atau nama tergugat, keterangan–keterangan yang diminta serta kaitan antara perkara pidana atau perdata yang bersangkutan dengan keterangan yang diminta tersebut .

BAB XV

KETENTUAN PIDANA

Pasal 35

( 1 ) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak yang terutang ;

( 2 ) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang terutang .

Pasal 36

Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada pasal 35 tidak dapat dituntut setelah melampaui jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat terutang pajak atau berakhirnya Masa Pajak .

Pasal 37

( 1 ) Pejabat yang karena kealpaannya tidak memenuhi kewajiban merahasiakan hal sebagaimana dimaksud pada pasal 34 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp.2.000.000,00 (dua juta rupiah) ;

( 2 ) Pejabat yang dengan sengaja tidak memenuhi kewajibannya atau seseorang yang menyebabkan tidak dipenuhinya kewajiban Pejabat hal sebagaimana dimaksud pada pasal 34 ayat (1) dan (2), dipidana dengan pidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun bulan atau denda paling banyak Rp.5.000.000,00 (lima juta rupiah) ;

(17)

( 3 ) Penuntutan terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), hanya dilakukan atas pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar .

BAB XVI P E N Y I D I K A N

Pasal 38

( 1 ) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang Peraturan Daerah, sebagaimana dimaksud dalam Undang–Undang Hukum Acara Pidana yang berlaku ;

( 2 ) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah :

a. menerima, mencari, mengumpulkan, dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang Peraturan Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas ;

b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana Peraturan Daerah ;

c. meminta keterangan dan barang bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang Peratauran Daerah ;

d. memeriksa buku–buku, catatan–catatan, dan dokumen– dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana dibidang Peraturan Daerah ;

e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen–dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut ;

f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Peraturan Daerah ;

g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan/atau dokumen yang dibawa sebagaimana yang dimaksud pada huruf e ;

h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Peraturan Daerah ;

i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi ;

j. menghentikan penyidikan ;

k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Perpajakan Daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan ;

( 3 ) Penyidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), memberitahukan dimulainya penyidikan dan penyampaian hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang–undang .

(18)

BAB XVIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 39

Pada saat mulai berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 1998 tentang Pajak Reklame (Lembaran Daerah Kabupaten Lumajang Tahun 1998 Seri A Nomor 03) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 40

Hal–hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Bupati .

Pasal 41

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Lumajang.

Ditetapkan di Lumajang Pada tanggal 18 Mei 2006

BUPATI LUMAJANG

ACHMAD FAUZI Diundangkan di Lumajang

Pada tanggal 22 Mei 2006

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN L U M A J A N G

ENDRO PRAPTO ARIYADI, SH Pembina Utama Muda

NIP : 510 058 267

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG TAHUN 2006 SERI B NOMOR 04

(19)

P E N J E L A S A N

A T A S

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG

NOMOR 14 TAHUN 2006

T E N T A N G

PAJAK REKLAME

I. PENJELASAN UMUM

bahwa untuk lebih memantapkan Otonomi Daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab, pembiayaan pemerintahan dan pembangunan Daerah yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah, khususnya yang berasal dari Pajak Daerah, pengaturannya perlu ditingkatkan lagi, sejalan dengan semakin meningkatnya pelaksanaan pembangunan .

bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah yang merupakan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemungutan Pajak Daerah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat sehingga wajib pajak dapat dengan mudah memahami dan memenuhi kewajiban retribusinya, maka Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 1998, tentang Pajak Reklame perlu ditinjau kembali dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini .

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 s/d Pasal 41 Cukup jelas .

Figur

Memperbarui...

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di