ANALISIS PUTUSAN HAKIM NOMOR: 284/Pdt.G/2015/PA.Prg TENTANG AHLI WARIS PENGGANTI
Teks penuh
Dokumen terkait
1) Orang yang menggantikan harus memenuhi syarat sebagai ahli waris. ia harus ada pada saat pewaris meninggal dunia. 2) Orang yang digantikan tempatnya harus sudah meninggal.
Proses peralihan harta dari orang yang telah meninggal kepada yang masih hidup dalam hukum kewarisan Islam ada tiga unsur yaitu pewaris, harta warisan dan ahli
Pengalihan harta warisan sesudah pewaris meninggal dunia merupkan suatu proses dalam setiap hukum waris, tetapi pengalihan harta sebelum pewaris meninggal dunia dan
Tetapi pada kenyataan sebagian adat masyarakat Gayo mengenal suatu istilah patah titi (tidak ada penggantian tempat) yaitu ahli waris meninggal terlebih dahulu dari pada pewaris,
Sementara itu, salah satu pertimbangan majelis Hakim dalam menetapkan para pemohon/penggugat sebagai ahli waris adalah Pasal 171 huruf (c) Kompilasi Hukum Islam yang
Persamaan Kedudukan ahli waris pengganti menurut Kompilasi Hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sama-sama terjadi apabila seorang ahli waris telah lebih dahulu meninggal
58 Menimbang, bahwa salah satu asas hukum kewarisan Islam adalah asas ijbari yang menentukan bahwa peralihan harta dari seorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya itu berlaku
Ahli waris Ahli waris adalahmenurut Pasal 171 huruf c KHI adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam