BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gigitiruan dibuat tidak hanya sekedar mengganti gigi yang hilang saja tetapi harus mampu memenuhi syarat-syarat keberhasilan sebuah gigitiruan serta mampu mempertahankan kesehatan jaringan mulut yang masih tinggal. Sebuah gigitiruan yang baik dan memuaskan adalah gigitiruan yang dapat memperbaiki fungsi pengunyahan, memperbaiki fungsi estetik dan fonetik.
Kebutuhan penggunaan gigitiruan meningkat pada kelompok usia lanjut karena mengalami perubahan-perubahan fisiologis dalam rongga mulut nya termasuk kehilangan gigi. Usia lanjut yang biasa dikenal sebagai istilah lansia merupakan tahap akhir siklus kehidupan dari perkembangan normal yang dialami dan tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Salah satu contohnya adalah kasus kehilangan gigi karena perubahan kondisi fisik pada rongga mulut. Lansia rata-rata kehilangan gigi 10 sampai 20 buah, banyaknya jumlah pasien lansia yang tidak mempunyai gigi menyebabkan perawatan gigi diutamakan pada perawatan prostodontik. Resorbsi tulang alveolar merupakan masalah yang sering terjadi pada rahang tanpa gigi, baik pada rahang bawah maupun rahang atas. Resorbsi tulang alveolar dapat terjadi secara fisiologik dan patologik.
Diduga lamanya tekanan yang terjadi pada permukaan tulang akan berpengaruh pula pada respon yang akan timbul di jaringan tulang yang bersangkutan. Resorbsi tulang alveolar sering ditemukan pada pasien yang sudah lama kehilangan gigi sehingga mengakibatkan linggir alveolar menjadi datar atau jaringan lunak sekitarnya yang flabby. Dengan begitu akan mengakibatkan gangguan kenyamanan secara psikologik, fisiologik dan lama waktu pemakaian gigitiruan.1
secara fungsional dapat diterima dan menyebabkan trauma minimal pada jaringan. Selama bertahun-tahun, dokter gigi telah menyarankan pasien dengan rasa sakit pada mulut mereka untuk melepaskan gigitiruannya dan memakainya kembali apabila jaringan yang teriritasi telah sembuh atau kondisi telah dirasa nyaman.2
Menurut Lythe, tulang alveolar teresopsi di bawah area tertentu akibat tekanan berlebihan dari gigitiruan sehingga hal tersebut akan memicu terbentuknya tulang baru di area yang sama dan oleh karena itu diperlukan pembuatan gigitiruan baru yang sesuai dengan kondisi terkini. Gigitiruan yang didukung dengan liquid dapat menjadi suatu solusi permanen bagi pasien edentolous yang disertai diabetes, serostomia, atrofi ridge, iritasi mukosa, flabby ridge atau gigitiruan dengan kesesuaian yang buruk. Artikel ini melaporkan keberhasilan penanganan klinis atrofi flabby ridge menggunakan gigitiruan yang didukung oleh liquid.2
1.2 Tujuan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Atrofi Flabby Ridge 2.1.1 Definisi
Atrofi adalah pengecilan atau penyusutan jaringan otot atau jaringan saraf. Jaringan Flabby merupakan respon dari jaringan ikat yang mengalami hiperlplasia yang awalnya diakibatkan oleh trauma atau luka yang tidak dapat ditoleransi pada residual ridge.Makin tebal jaringan hiperplastik yang terbentuk, makin besar pula derajat flabby mukosa.3 Flabby Ridge adalah kondisi jangan lunak yang berlebih diatas alveolar ridge dan sering terdapat pada anterior superior karena masih adanya gigi anterior pada mandibula. Alveolar telah mengalami resorbsi yang banyak, dan digantikan oleh jaringan fibrous, yang juga bisa bersifat hypermobile tissue. Hal ini mengakibatkan hasil akhir pembuatan prothesa stabilitas dan fungsi fisiologisnya akan berkurang. Pada kasus yang ekstrim hampir seluruh alveolar ridge mengalami perubahan. 4
Ridge Alveolar dapat bergerak dan sangat tahan terhadap penggantian tulang melalui jaringan fibrosa. Flabby Ridge paling sering terlihat di bagian anterior rahang atas yang berlawanan dengan gigi anterior asli mandibula. histopatologi menunjukkan tanda fibrosis, inflamasi dan resorpsi dari tulang yang mendasarinya. Flabby ridge memberikan dukungan yang buruk untuk gigi tiruannya. Oleh karena itu, harus diangkat melalui pembedahan. Jika ada atrofi ridge yang ekstrim, penghilangan ridge keseluruhan akan menghilangkan vestibulum. Oleh karena itu, dalam kasus seperti itu disarankan untuk melestarikan jaringan karena Ridge yang kuat dapat membantu memberikan beberapa retensi untuk gigi tiruan.5
2.1.2 Etiologi Flabby Ridge1
a. Perubahan pada soket tulang alveolar pasca pencabutan. b. Trauma dari pemakaian gigitiruan.
c. Penurunan sisa alveolar secara bertahap.
d. Perubahan dalam profil jaringan lunak dan fungsi sendi temporomandibula. e. Perubahan dalam perbandingan relatif dari kedua rahang.
f. Kebiasaan-kebiasaan dan lamanya pemakaian gigitiruan.
g. Berbagai macam tekanan yang menyimpang, yang jatuh pada jaringan pendukung adalah penyebab yang utama (contohnya gigi asli anterior rahang bawah berlawanan dengan gigitiruan rahang atas), terutama pula parafungsional yang dilakukan oleh mandibula.
h. Tekanan-tekanan yang berlebihan pada segmen tertentu dari lengkung gigi disebabkan karena tidak adanya keseimbangan kontak dalam posisi eksentrik rahang.
2.1.3 Perawatan Atrofi Flabby Ridge
Perawatan lingir flabby agak kontroversial, namun dapat digolongkan dalam tiga pendapat. Pendapat pertama mengatakan bahwa lebih baik jaringan fibrosa diambil secara bedah pada setiap kasus, bila kesehatan pasien memungkinkan, pendapat kedua prostetik dengan retainer implant, dan pendapat ketiga adalah penanganan konvensional, dianggap bahwa tindakan bedah hendaknya sejauh mungkin dihindari karena jaringan fibrosa dapat berfungsi sebagai bantalan yang mengurangi trauma pada jaringan tulang di bawahnya. Bila jaringan lunak diambil, harus diganti dengan bahan basis gigitiruan yang lebih tebal dan berat, selain itu sulkusnya menjadi makin dangkal
.
6a. Pembedahan
Pembedahan dilakukan pada pasien dengan lingir flabby yang sudah sangat ekstrim. Mengurangi lingir yang atrofi dengan pembedahan menyebabkan lingir yang rendah dan datar atau lingir yang tajam dengan lapisan mukosa yang tipis. Jaringan yang diperoleh kurang memberikan bentuk yang menguntungkan kecuali kalau dilakukan vestibuloplasty dahulu untuk memperluas sulkus. Sebab tindakan bedah sering mengakibatkan hilangnya sulkus labialis.1,
Menurut Boucher (1994) hampir semua kasus flabby tissue dapat dibuatkan gigitiruan dengan baik tanpa tindakan bedah. Faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan gigitiruan lengkap pada penderita dengan linggir flabby antara lain yaitu teknik pencetakan. Tujuan utama pencetakan ialah untuk memperoleh retensi, kestabilan dan dukungan bagi gigitiruan yang berguna untuk menjaga kesehatan jaringan di dalam rongga mulut.
Masalah dalam mencetak pasien tidak bergigi umumnya dan pasien dengan jaringan flabby khususnya selain terletak pada teknik mencetak juga terletak pada konstruksi sendok cetak dan bahan cetak. Apapun jenis cetakan yang akan dibuat, sendok cetak merupakan bagian terpenting dari prosedur pembuatan cetakan. Sendok cetak tidak boleh menyebabkan distorsi atau perubahan bentuk pada jaringan dan struktur yang harus berkontak dengan tepi-tepi serta permukaan poles gigitiruan.
Pada kasus lingir flabby memerlukan modifikasi yang cukup sederhana pada desain sendok cetak yang memungkinkan operator untuk mendapatkan retensi dan stabilisasi yang cukup pada landasan gigitiruan yang berlawanan dengan gaya tilting yang meningkat akibat jaringan yang mudah bergerak ini.
Teknik Pencetakan Menurut Kawabe:1,6
Teknik cetakan menurut Kawabe dibagi atas 2 tahap yaitu: 1. Teknik pencetakan anatomis atau preliminary impression.
Pada pencetakan anatomis linggir flabby tissue dibuat dengan menggunakan teknik yang bersifat mukostatis atau non pressure impression. Bentuk dan ukuran sendok cetak yang digunakan adalah sendok cetak yang berukuran tidak terlalu besar ( tidak sama dengan sendok cetak untuk rahang yang edentulous), dengan dua ketebalan lilin sebagai tissue stop yang terletak pada sendok cetak untuk mendapatkan kestabilan.
Pencetakan dipakai teknik mencetak mukostatik yaitu teknik yang tidak mengubah bentuk jaringan. Sebab bila menggunakan teknik mukopressure dapat terjadi distorsi pada jaringan fibrosa saat dicetak, sehingga gigitiruan hanya akan cekat bila ada tekanan oklusal.
Gambar 2.1 (a) Dibawah tekanan oklusal, gigi tiruan atas terletak pas dan prosesus Alveolaris daerah anterior yang kenyal dalam keadaan tertekan (b) Saat gigi-gigi tidak berkontak, jaringan yang kenyal kembali kebentuk Semula dan mendorong gigitiruan ke bawah.
Saat gigi tidak berkontak, sifat elastis dari jaringan yang tertekan akan menekan gigitiruan ke bawah dan menyebabkan hilangnya retensi. Tambahan, bila tekanan oklusi yang terputus-putus (intermitten) menimbulkan efek pompa yang menimbulkan trauma pada jaringan.
Jika gigitiruan dibuat di atas model hasil cetakan mukostatik dari prosesus alveolaris yang kenyal dalam keadaan istirahat, maka gigitiruan akan tetap berkontak dengan jaringan saat gigi tidak dalam keadaan oklusi. Dengan demikian retensi pada kasus tersebut akan optimal. Dukungan terutama akan diperoleh dari palatum durum dan daerah keras lainnya, dan bukan dari jaringan yang kenyal.
2. Teknik pencetakan fisiologis atau secondary impression.
stabil. Bahan cetak silicone rubber disemprotkan menyeluruh pada labiolingual lingir flabby, kemudian sendok cetak dengan bahan cetak silicone rubber diletakkan perlahan-lahan pada lingir flabby dan tekanan hanya diaplikasikan pada daerah yang stabil juga sekalian membentuk cetakan fungsional yaitu menekan hanya pada bagian posterior juga membentuk border molding.
Prosedur ini memungkinkan untuk membuat keduanya yaitu cetakan yang bersifat mukostatik untuk lingir yang flabby dan cetakan yang mengunakan tekanan untuk mukosa yang stabil. Teknik pencetakan ini memungkinkan untuk mendapatkan retensi yang baik pada gigitiruan.
2.2 Liquid sebagai dukungan Protesa
Gigitiruan yang di dukung dengan liquid didasarkan pada teori bahwa ketika gaya yang diterapkan pada gigitiruan tidak ada, basisnya diasumsikan belum terbentuk selama pemrosesan. Tapi di bawah beban pengunyahan, basis menyesuaikan dengan bentuk modifikasi mukosa karena hidrodinamika liquid meningkatkan dukungan, retensi dan stabilitas. Juga akan ada distribusi tekanan optimal kekuatan mastikasi di area yang lebih besar yang mengurangi kelebihan jaringan.7
Indikasi:
a. Untuk rahang atas dan rahang bawah.
b. Jaringan yang mengalami inflamasi atau flabby.
c. Lesi Vesiculobullous seperti pemfigus, pemfigoid, eritema multiforme, OLP, dll.
d. Pasien dengan kelainan sistemik seperti diabetes mellitus. Tindakan pencegahan:
a. Ketebalan basis gigitiruan minimal harus 2mm.
b. Seal harus sempurna dan harus diperiksa mikroleakage. c. Instruksi perawatan gigitiruan harus diberikan kepada pasien.
minggu untuk follow up. Meskipun tidak perlu mengganti gliserin dari gigitiruan tetapi kita bisa mengisi ulang gigitiruan jika ada kebocoran.
d. Jika terjadi kebocoran, pasien harus memberitahukan ke dokter gigi dan gigitiruan harus diisi ulang.
Keuntungan:
a. Pelestarian residual ridge dengan distribusi kekuatan mastikasi yang optimal di atas luas permukaan yang lebih luas.
b. Retensi, stabilitas, dukungan dan kenyamanan yang lebih baik karena
f. Melindungi mukosa dari iritasi bakteri atau biokimia.
g. Mencegah rasa sakit kronis yang terjadi dari permukaan gigitiruan yang kaku seperti cyanoacrylate yang umum digunakan sebagai pelindung yang menutupi ulkus.
h. Memiliki efek cushioning/bantalan.7
BAB III LAPORAN KASUS
Pasien wanita berusia sekitar 58 tahun dirujuk ke Departemen Prostodontik Mahkota, Jembatan dan Implantologi Rumah Sakit Umum Gigi Mulut Jodhpur disertai edentolous penuh dan atrofi residual ridge di mandibula (Gambar 1), gigitiruan dengan dukungan liquid direncanakan di lengkung maksila untuk distribusi beban dan gigitiruan resin akrilik konvensional untuk lengkung mandibula. Cetakan pendahuluan lengkung maksila dan mandibula dibuat menggunakan alginat dan cetakan dituang dengan dental plaster, maka cetakan pendahuluan pun diperoleh. Setelah itu dilakukan border molding menggunakan low fusing compound (Green Stick Compound) dan cetakan fisiologis (akhir) menggunakan pasta cetak zink oksida eugenol untuk lengkung maksila (Gambar 2). Sendok cetak individual dipotong dari regio anterior dan disesuaikan di dalam mulut pasien (Gambar 3). Kemudian tempatkan sendok cetak individual di dalam mulut pasien dan cetak flabby ridge menggunakan light body (Gambar 4). Untuk lengkung mandibula, cetakan akhir dilakukan dengan bantuan teknik macord (Gambar 5). Relasi rahang dicatat dan tranfer face bow dilakukan pada artikulator (Wide Vue Hanau) (Gambar 6), kemudian dilanjutkan dengan pengaturan ulang gigi geligi (Gambar 7).
Gambar 3.2 Cetakan fisiologis Gambar 3.3 Sendok cetak individual yang dipotong dari regio anterior dan dicek di dalam mulut pasien
Gambar 3/4 Mencetak flabby ridge Gambar 3.5 Cetaka akhir dengan bantuan menggunakan light body teknik marcod utnuk lengkung mandibula
Gambar 3.7 Pengaturan ulang gigi geligi
Pembuatan gigitiruan jenis ini terdiri dari dua tahap prosedur laboratorium, pada tahap pertama dilakukan dengan polietilen fleksibel sebanyak 1 mm saat packing dan di tahap kedua lapisan polietilen kemudian dilepas dan polietilen fleksibel baru diadaptasikan pada permukaan jaringan dari gigitiruan sebanyak 0.5 mm. Perbedaan kedua ketebalan tersebut akan membetukan ruang yang akan diisi oleh liquid pada protesa.
Gambar 3.8 Penempatan lapisan polietilen fleksibel saat packing
Gambar 3.9 Menghilangkan lapisan polietilen fleksibel
Gambar 3.10 Penempatan lapisan polietilen fleksibel permanen
Gambar 3.12 Gliserin kemudian dialirakan melalui lubang yang telah dibuat
Gambar 3.13 Tampak depan
BAB IV PEMBAHASAN
Konsep gigitiruan yang didukung dengan liquid sama dengan konsep kasur air yang digunakan untuk perawatan cedera olahraga pada pasien yang diharuskan beristirahat di tempat tidur. Gigitiruan jenis ini memiliki distribusi tekanan yang optimal selama fungsi mastikasi. Basis gigitiruan diselimuti dengan bentuk tertentu, sangat erat, dibungkus dengan sebuah lapisan tipis liquid (Gambar 4.1). Desain ini akan berperan sebagai reline berkelanjutan untuk gigitiruan sehingga memiliki manfaat yang lebih dibandingkan desain gigitiruan yang ada. Jenis desain ini membantu untuk meningkatkan retensi karena adaptasinya rapat pada basis gigitiruan dengan permukaan mukosa di bawahnya. Ketika beban mastikasi diaplikasikan, lapisan ini dapat beradaptasi untuk memodifikasi bentuk mukosa karena plastisitas hidrodinamik dari liquid pendukung di bawah lapisan. Situasi ini berperan sebagai suatu pelapis lunak. Ketika berbagai jenis tekanan mastikasi tidak diaplikasikan, maka lapisan ini akan beradaptasi dengan jaringan ke posisi normalnya. Jenis aksi lapisan ini akan mempertahankana adaptasi yang rapat dari basis gigitiruan dengan jaringan yang dapat membantu untuk menambah retensi.
Gambar 4.1 Disribusi tekanan multiarah melalui liquid
BAB V PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
1. Damayanti S. Perawatan Pasien Lansia dengan Flat Ridge/Flabby Tissue. Bagian
Prostodonsia FKG Unpad. 2009. Tersedia pada
https://id.scribd.com/doc/94184218/.
2. Sharma R, Singh V, Jain S, Parekh N. Successful Clinical Management of Atrophic Flabby Ridge with Liquid Supported Prosthesis: A Case Report. Journal of Research in Dentistry 4(5):157-160. 2017
3. Shrivastava R, Deogade S, Mantri S. Liquid-supported denture- a boon to flabby ridges. Annals of Prosthodontics & Restorative Dentistry, January-March:3(1):38-41 38. 2017
4. Rupal S, Hardik P, Preeti K, et.al. Innovative Approach – Liquid Supported Denture: A Case Report. Sch. J. App. Med. Sci ; 2(5E):1835-1838. 2014
5. Nallaswamy D, Ramalingam K, Bhat V. Textbook Of Prosthodontic. Jaypee Brothers Medical Publishers (P) Ltd. 2003
6. Nurtani MM, Machmud E, Arief MS. Teknik pencetakan lingir datar dan pencetakan jaringan flabby menurut metode Kawabe: tinjauan pustaka. Bagian Prostodonsi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin
7. Shah DS, Nebhani AN,Vaishnav KC, et.al. Going Beyond the Conventional Approach - Liquid Supported Denture: A Case Report. Adv Hum Biol; 3(3):60-64. 2013