• Tidak ada hasil yang ditemukan

Petra Lustriadi 21020112130134 BAB 6

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Petra Lustriadi 21020112130134 BAB 6"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

108

BAB VI

LAPORAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

6.1 KONSEP DASAR PERENCANAAN

Konsep dasar perencanaan Gedung Pertunjukan di Semarang sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas kegiatan musik di Kota Semarang.

6.1.1 Program Ruang

Di dalam Time Saver Standard for Building, (De Chiara & Callener, 1987) di jelaskan besaran ruang sirkulasi makro sebagai berikut :

5 – 10 % = Standard minimum 20% = Keleluasaan sirkulasi

30% = Tuntutan kenyamanan dalam sirkulasi 40% = Tuntutan kenyamanan dalam psikologis 50% = Tuntutan spesifik kegiatan

70 – 100% = Keterkaitan dengan banyak kegiatan

Luas ruang yang diperlukan untuk setiap kegiatan berdasarkan beberapa jenis standar, studi banding dan dari asumsi pribadi. Acuan-acuan yang digunakan untuk analisis kebutuhan ruang ini adalah :

 DA : Neufert, Data Arsitek

 SB : Studi Banding

 A : Analisa

 DM : Dimensi Manusia dan Interior

Berikut merupakan tabel program ruang yang telah direncanakan untuk menjadi acuan dalam perancangan Gedung Pertunjukan Musik di Semarang.

 Kelompok Kursus Musik di Gedung Pertunjukan Musik

No Kelompok

Ruang Ruang Unit Standar Sumber

(2)

109

 Kelompok Ruang Publik No Kelompok

Ruang Ruang Unit Standard Sumber Kapasitas

Luas

 Kelompok Ruang Pertunjukan No Kelompok

Ruang Ruang Unit Standard Sumber Kapasitas

Luas Tabel 6.2 Luasan ruang untuk ruang publik

Tabel 6.3 Luasan ruang pertunjukan

(3)

110  Kelompok Ruang Pengelola Utama

No Kelompok

Ruang Ruang

Uni

t Standard Sumber Kapasitas

Luas

Ruang Ruang Unit Standard Sumber Kapasitas

Luas Tabel 6.4 Luasan ruang pengelola utama

Tabel 6.5 Luasan ruang perpustakaan

(4)

111  Fasilitas pelengkap

No Kelompok

Ruang Ruang Unit Standard Sumber Kapasitas

Luas

Menurut literatur Satuan Ruang Parkir (SRP) mengacu pada jumlah tempat duduk. SRP untuk 1000 tempat duduk adalah (minimal) 200 mobil. Sisanya motor dan bs musisi. 200 mobil 200 x (2,50 x 5,00) m2 2500 m2

Dengan begitu hasil penjumlahan kelompok ruang tersebut sebagai berikut:

No Kelompok Ruang Luas (m²)

6 Fasilitas pelengkap 537,12 m²

7 Area parkir 5470 m²

Luas keseluruhan 12.254,51 m²dibulatkan menjadi 12.300 m² Tabel 6.7 Jumlah Keseluruhan Luas Ruang

Tabel 6.6 Luasan ruang fasilitas pelengkap

(5)

112 6.1.2 Aspek Kontekstual

Dari hasil perhitungan bobot alternatif tapak, maka didapatkan lah alternatif tapak ketiga yang paling mencukupi.

No Kriteria Tapak Bobot (b) Nilai (n) Skor (b.n)

1 Pencapaian ke tapak 10 3 30

2 Kontur,perletakan dan bentuk 7 3 21

3 Lingkungan sekitar tapak,

fasilitas kota lainnya, dekat dengan DEKASE

9 3 27

4 Utilitas kota 8 3 24

Jumlah 12 102

Berlokasi di BWK II, Kecamatan Candisari dan Kecamatan Gajahmungkur dengan batas tapak, sbb:

Utara : Permukiman, perdagangan Selatan : Perdagangan Barat : SPBU, perdagangan Timur : Perdagangan

Gambar 6.1 Lokasi Tapak Terpilih

Sumber : maps.google.com

Peruntukan lahan sesuai RTRW ini adalah untuk kegiatan Pendidikan, Pelestarian kesenian dan lokasi strategis menghubungkan pusat kota dengan pinggiran kota. Sedangakan ketentuan bangunannya adalah sebagai berikut :

KDB : Maksimal 60%

KLB : 1,8 Luas : 14.600 m²

(6)

113 Berdasarkan peraturan bangunan setempat maka luas lahan yang boleh dibangun adalah = KDB X Luas Tapak

= 60% x 14600 m2 = 8760m2

Luas ruang total 12300 m2

Persyaratan ketinggian bangunan

= Luas program ruang total/ luas lahan yang boleh dibangun = 12300 m2 / 8760 m2

= 1,5 Lt= ≤ lantai

 (

memenuhi persyaratan) Persyaratan KLB

= luas total bangunan < KLB x Luas Tapak = 12300 m2 < (1,8 x 14600) m2

= 12300 m2 < 26280 m2

 (

memenuhi persyaratan)

6.2 PROGRAM DASAR PERANCANGAN 6.2.1 ASPEK KINERJA

6.2.1.1 Sistem Pencahayaan

Menggunakan sistem pencahayaan alami dan buatan. Pencahayaan alami dengan memanfaatkan sinar matahari dari bukaan-bukaan. Pencahayaan buatan berasal dari berbagai bentuk lampu LED. Serta terdapat lampu-lampu untuk keadaan darurat.

6.2.1.2 Sistem Akustik

Digunakan material-material penyerap bunyi dengan berbagai metode pemasangan disesuaikan dengan bentuk, visual dan kepadatan ruang. Auditorium dilengkapi sistem audio untuk meningkatkan fleksibilitas akustik terhadap pidato (MC) dan jenis pertunjukan musik lain. Serta terdapat sistem recording untuk dokumentasi Pertunjukan.

6.2.1.3 Sistem Penghawaan/Pengkondisian Ruang

Sistem penghawaan yang digunakan adalah alami dan buatan. Penghawaan alami diterapkan melalui sistem cross ventilation dengan mengaplikasikan alat-alat mekanis dan ventilasi alami. Untuk ruang-ruang yang menuntut tingkat kelembaban dan suhu tertentu diterapkan AC jenis sentral dengan sistem water cooling.

6.2.1.4 Sistem Jaringan Air Bersih

Sumber air bersih berasal dari sumur dan Perusahaan Air Minum (PAM)yang didistribusikan dengan sistem : Up Feed System (pendistribusian ke atas) dan Down Feed System (pendistribusian ke bawah).

6.2.1.5 Sistem Pembuangan Air Kotor

(7)

114 kemudian diolah sehingga dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman, dll. Jenis septictank yang digunakan adalah STP (Sewage Treatment Plant).

6.2.1.6 Sistem Jaringan Listrik

Sumber daya listrik utama berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan sumber daya listrik cadangan berasal dari generator dan sumber daya listrik lain berasal dari sinar matahari yang ditangkap panel surya.

6.2.1.7 Sistem Pembuangan Sampah

Tersedia tempat sampah tertutup yang terdiri atas; tempat sampah organik dan non organik. Sampah yang berasal dari bangunan dan lingkungan dikumpulkan pada tempat pembuangan sementara sebelum diangkut oleh truk dinas kebersihan ke tempat pembuangan akhir.

6.2.1.8 Sistem Pencegahan Kebakaran

Jaringan pengamanan bangunan terhadap kebakaran terdiri dari sistem detektor yang dilengkapi dengan alarm dan sistem pemadaman api. Sistem pemadaman yang diterapkan adalah sistem semi otomatis. Sistem pemadam kebakaran yang digunakan adalah sprinkler, fire hydrant, fire extinguisher, hydrant pillar, serta siamese untuk keperluan lingkungan sekitar.

6.2.1.9 Sistem Komunikasi

Sistem Komunikasi yang digunakan yaitu :

1. Komunikasi internal : Intercom, Speaker/sound system, Lokal Area Network (LAN)

2. Komunikasi Eksternal : Telepon, Faximile, Private Automatic Brand Exchange System (PABX)

6.2.1.10 Sistem Penangkal Petir

Sistem penangkal petir yang digunakan adalah sistem faraday. Penangkal petir berupa tiang-tiang kecil yang saling dihubungkan dengan seutas kawat dan disalurkan ke tanah.

6.2.1.11 Sistem Keamanan

Sistem pengamanan menggunakan pengawasan Closed Circuit Television (CCTV), alat deteksi bahan peledak (eksplosif detektor) dan alat deteksi bahan logam di badan berupa walk trough gate.

6.2.1.12 Sistem Transportasi Vertikal

(8)

115 6.2.2 ASPEK TEKNIS

 Bangunan mempunyai ketinggian maksimal 3 lantai, ketinggian setiap lantai maksimal adalah 5 m. Untuk bangunan utama yang bermassa besar menggunakan pondasi mini pile sebagai alternatif pemilihan sistem pondasi.

 Sistem struktur rangka sebagai struktur atas yang utama

 Sistem struktur rangka ruang / space frame sebagai struktur atap

6.2.3 ASPEK VISUAL ARSITEKTURAL

Gedung Pertunjukan Musik mencitrakan sebuah ekspresi arsitektur post-modern yakni bangunan monumental yang bersifat metafora terhadap musik. Adapun unsur yang berpengaruh adalah : simetris, dominasi unsur-unsur vertikal maupun horizontal, bentuk dan dimensi bangunan lebih menonjol dari sekitarnya pada jarak pandang tertentu.

Gambar

Tabel 6.1 Luasan ruang kursus musik
Tabel 6.4 Luasan ruang pengelola utama
Tabel 6.7 Jumlah Keseluruhan Luas Ruang
Tabel 6.8 Penilaian Tapak Terpilih

Referensi

Dokumen terkait

Berupa detektor kebakaran, alarm kebakaran, sistem air pemadam, hidran, sprinkler, APAR, monitor kebakaran dan sarana proteksi kebakaran lainnya.. Inspeksi rutin dengan

kebakaran aktif yang meliputi sistem deteksi dan alarm kebakaran, alat pemadam api ringan, springkler , sistem pompa, pipa tegak serta hydrant kebakaran di Gedung

Penempatan shaft untuk pemadaman kebakaran harus sedemikian rupa, hingga setiap bagian dari tiap lapis atau tingkat bangunan gedung di luar level akses masuk petugas

Sistem Pemadam Kebakaran yang digunakan pada bangunan yaitu Fire Alarm System dan Portable Fire Extinguisher System sebagai alat pencegahan aktif kebakaran,

Dari analisa terhadap kesesuaian dan ketidaksesuaian sistem pengamanan bahaya kebakaran aktif berupa sistem tanda bahaya kebakaran (fire alarm system), sistem

Sistem pasif diterapkan pada bahan bangunan gedung yang dilapisi dengan fire resistant coating yang mampu menahan api agar tidak menyebar saat terjadi

Sistem deteksi kebakaran IRM tersebut sering timbul bunyi alarm palsu seperti yang terjadi pada zona 1; 13; 41 dan 101, masing-masing terdiri dari rangkaian detektor asap ionisasi

Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan hidran, sistem sprinkler, detektor kebakaran, alarm kebakaran telah sesuai, namun masih terdapat beberapa ketidak sesuaian pada Alat Pemadam