• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

7

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Teori Dasar 2.1.1. Bahaya api

Kehilangan harta dan jiwa yang diakibatkan oleh tidak terkendalinya api sudah diketahui banyak orang, dan sudah banyak pula upaya yang dilakukan selama ini untuk mengetahui bagaimana kebakaran dapat terjadi dan pola penjalaran apinya.

Timbulnya titik api terutama pada bahan organik, terjadi jika ada tiga faktor, yaitu bahan bakar, oksigen, dan panas yang hadir dalam jumlah tertentu dan sistem penyebarannya keseluruh gedung dapat terjadi melalui tiga mekanisme, yaitu secara konduksi, konveksi dan radiasi.

Pada saat terjadi kebakaran terdapat empat hal yang perlu untuk diperhatikan, yaitu: penghuni bangunan (manusia), isi bangunan (harta benda), struktur bangunan, dan juga bangunan-bangunan yang letaknya bersebelahan (Juwana, 2005).

Para arsitek dan tenaga profesional yang terkait dengan rancangan bangunan tinggi perlu melakukan analisa bagi rancangan bangunannya secara seksama, agar dapat terjamin tersedianya fasilitas yang memadai bagi pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran. Semua kemungkinan bahaya api perlu diantisipasi untuk menjamin adanya sistem yang baik sejak awal proses perancangan bangunan.

Untuk pengamanan terhadap kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan secara rinci dijelaskan dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum no 26/PRT/M/2008 tanggal 30 Desember 2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan. Yang terdiri atas kelengkapan tapak, sarana penyelamatan, sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif yang dijelaskan bagian berikut ini.

(2)

8

Universitas Kristen Petra

2.2. Kelengkapan Tapak

Pengaturan lingkungan bangunan gedung meliputi pengaturan blok dan kemudahan pencapaiannya (accessibility), ketinggian bangunan gedung, jarak bangunan gedung, dan kelengkapan lingkungan.

2.2.1. Lapis perkerasan dan jalur akses masuk mobil pemadam kebakaran Dalam tiap bagian dari bangunan gedung perkerasan harus ditempatkan sedemikian rupa agar dapat langsung mencapai bukaan akses pemadam kebakaran pada bangunan gedung. Perkerasan tersebut harus dapat mengakomodasi jalan masuk dan manuver mobil pemadam, snorkel, mobil pompa dan mobil tangga dan platform hidrolik serta mempunyai spesifikasi sebagai berikut :

a. Lebar minimum lapis perkerasan 6 m dan panjang minimum 15 m dan bagian-bagian lain dari jalur masuk yang digunakan untuk lewat mobil pemadam kebakaran lebarnya tidak boleh kurang dari 4 m

b. Lapis perkerasan harus ditempatkan sedemikian agar tepi terdekat tidak boleh kurang dari 2 m atau lebih dari 10 m dari pusat posisi akses pemadam kebakaran diukur secara horizontal

c. Lapis perkerasan harus dibuat dari metal, paving blok, atau lapisan yang diperkuat agar dapat menyangga beban peralatan pemadam kebakaran.

Persyaratan perkerasan untuk melayani bangunan gedung yang ketinggian lantai huniannya melebihi 24 m harus dikonstruksi untuk menahan beban statis mobil pemadam kebakaran seberat 44 ton dengan beban plat kaki (jack)

d. Lapis perkerasan harus dibuat sedatar mungkin dengan kemiringan tidak boleh lebih dari 1 : 8,3

e. Lapis perkerasan dan jalur akses tidak boleh melebihi 46 m dan bila melebihi 46 m harus diberi fasilitas belokan.

f. Radius terluar dari belokan pada jalur masuk tidak boleh kurang dari 10,5 m

(3)

9

Universitas Kristen Petra

g. Tinggi ruang bebas di atas lapis perkerasan atau jalur masuk mobil pemadam minimum 4,5 m untuk dapat dilalui peralatan pemadam tersebut

h. Lapis perkerasan harus selalu dalam keadaan bebas rintangan dari bagian lain bangunan gedung, pepohonan, tanaman atau lain tidak boleh menghambat jalur antara perkerasan dengan bukaan akses pemadam kebakaran.

j. Pada ke-4 sudut area lapis perkerasan harus diberi tanda.

k. Penandaan sudut-sudut pada permukaan lapis perkerasan harus dari warna yang kontras dengan warna permukaan tanah atau lapisan penutup permukaan tanah.

l. Area jalur masuk pada kedua sisinya harus ditandai dengan bahan yang kontras dan bersifat reflektif sehingga jalur masuk dan lapis perkerasan dapat terlihat pada malam hari.

2.2.2. Hidran halaman

Alat yang dilengkapi dengan slang dan mulut pancar(nozzle) untuk mengalirkan air bertekanan, yang digunakan bagi keperluan pemadaman kebakaran dan diletakkan di halaman bangunan gedung.

Rencana dan spesifikasi sistem hidran halaman :

a. Tiap bagian dari jalur untuk akses mobil pemadam di lahan bangunan gedung harus dalam jarak bebas hambatan 50 m dari hidran kota. Bila hidran kota tidak tersedia, maka harus disediakan hidran halaman

b. Dalam situasi di mana diperlukan lebih dari satu hidran halaman, maka hidran-hidran tersebut harus diletakkan sepanjang jalur akses mobil pemadam sedemikian hingga tiap bagian dari jalur tersebut berada dealam jarak radius 50 m dari hidran

c. Pasokan air untuk hidran halaman harus sekurang-kurangnya 38 liter/detik pada tekanan 3,5 bar, serta mengalirkan air selama 30 menit.

(4)

10

Universitas Kristen Petra

2.2.3. Jarak antar bangunan

Untuk melakukan proteksi terhadap meluasnya kebakaran maka ditentukan jarak minimum antar bangunan gedung :

Tabel 2.1. Jarak Minimum Antar Bangunan

2.2.4. Akses petugas pemadam kebakaran ke bangunan

a. Akses petugas pemadam kebakaran dibuat melalui dinding luar untuk operasi pemadaman dan penyelamatan. Bukaan tersebut harus siap dibuka dari dalam dan luar atau terbuat dari bahan yang mudah dipecahkan, dan senantiasa bebas hambatan selama bangunan gedung dihuni atau dioperasikan.

b. Akses petugas pemadam kebakaran harus diberi tanda segitiga warna merah atau kuning dengan ukuran tiap sisi minimum 150 mm dan diletakkan pada sisi luar dinding dan diberi tulisan "AKSES PEMADAM KEBAKARAN – JANGAN DIHALANGI” dengan ukuran tinggi minimal 50 mm.

c. Ukuran akses petugas pemadam kebakaran tidak boleh kurang dari 85 cm lebar dan 100 cm tinggi, dengan tinggi ambang bawah tidak lebih dari 100 cm dan tinggi ambang atas tidak kurang dari 180 cm di atas permukaan lantai bagian dalam.

d. Jumlah dan posisi bukaan akses pemadam kebakaran pada tiap lantai atau kompartemen kecuali lantai pertama dan ketinggian bangunan gedung tidak melebihi 60 m, harus ada 1 bukaan akses untuk tiap 620 m2 luas lantai, ataupun bagian dari lantai harus memiliki 2 bukaan akses pemadam kebakaran pada setiap lantai bangunan gedung atau kompartemen. Pada bangunan gedung yang di dalamnya terdapat

(5)

11

Universitas Kristen Petra

kompartemen-kompartemen atau ruang-ruang yang ukurannya kurang dari 620 m2 yang tidak berhubungan satu sama lain, maka masing-masing harus diberi bukaan akses.

e. Dalam suatu bangunan gedung atau kompartemen yang dilengkapi seluruhnya dengan sistem springkler otomatis, penentuan bukaan akses didasarkan atas perhitungan bukaan akses untuk 6.200 m2 pertama pada basis 620 m2 untuk tiap bukaan akses, dan selanjutnya diberikan tambahan bukaan akses berikutnya untuk luas lantai lebih dari 6.200 m2 dengan basis 1.240 m2. Untuk tiap bukaan akses tersebut harus didistribusikan pada dinding-dinding bangunan gedung yang berlawanan f. Bila bukaan akses lebih dari 1 (satu), maka harus ditempatkan berjauhan

satu sama lain dan ditempatkan tidak pada satu sisi bangunan gedung.

Bukaan akses harus berjarak minimal 30 m satu sama lain diukur sepanjang dinding luar dari tengah bukaan akses.

2.2.5. Akses petugas pemadam kebakaran di dalam bangunan

Pada bangunan gedung lainnya, masalah-masalah yang dihadapi saat mendekati lokasi kebakaran dan berada dekat lokasi kebakaran dalam upaya menanggulangi kebakaran, diperlukan persyaratan mengenai sarana atau fasilitas tambahan untuk menghindari penundaan dan untuk memperlancar operasi pemadaman.

Fasilitas-fasilitas tambahan ini meliputi lift untuk pemadam kebakaran, tangga untuk keperluan pemadaman kebakaran, dan lobi untuk operasi pemadaman kebakaran yang dikombinasi di dalam suatu shaft yang dilindungi terhadap kebakaran atau disebut sebagai saf untuk pemadaman kebakaran.

a. Bangunan gedung yang lantainya terletak lebih dari 20 m di atas permukaan tanah atau di atas level akses masuk bangunan gedung atau yang besmennya lebih dari 10 m di bawah permukaan tanah atau level akses masuk bangunan gedung, harus memiliki shaft untuk pemadaman kebakaran yang berisi di dalamnya lift untuk pemadaman kebakaran.

b. Jumlah minimum shaft untuk pemadaman kebakaran pada bangunan gedung yang dipasang springkler otomatis:

(6)

12

Universitas Kristen Petra

Tabel 2.2. Jumlah Minimum Shaft Pemadam Kebakaran

c. Penempatan shaft untuk pemadaman kebakaran harus sedemikian rupa, hingga setiap bagian dari tiap lapis atau tingkat bangunan gedung di luar level akses masuk petugas pemadam kebakaran, tidak lebih dari 60 m diukur dari pintu masuk ke lobi.

d. Semua shaft untuk petugas pemadam kebakaran, harus dilengkapi dengan sumber air utama untuk pemadaman yang memiliki sambungan outlet dan katup-katup di tiap lobi

e. Lift kebakaran diperlukan bila bangunan gedung memiliki lantai 20 m atau lebih di atas atau 10 m atau lebih di bawah level akses.

f. Semua shaft untuk petugas pemadam kebakaran, harus dilengkapi dengan sumber air utama untuk pemadaman yang memiliki sambungan outlet dan katup-katup di tiap lobi pemadaman kebakaran.

2.3. Sarana Penyelamatan 2.3.1. Akses eksit

Koridor yang digunakan sebagai akses eksit dan melayani suatu daerah yang memiliki suatu beban hunian lebih dari 30 harus dipisahkan dari bagian lain bangunan gedung dengan dinding yang mempunyai tingkat ketahanan api 1 jam.

Apabila lebih dari satu eksit disyaratkan dari bangunan gedung atau bagiannya, eksit seperti itu harus ditempatkan jauh satu sama lain dan harus disusun dan dibangun untuk meminimalkan kemungkinan terblokirnya semua eksit oleh suatu kebakaran atau kondisi darurat lainnya. Ditempatkan satu sama lain pada jarak minimal setengah jarak maksimum dari diagonal ruangan atau bangunan gedung yang dilayaninya diukur garis lurus dari ujung terdekat dari eksit atau pintu akses eksit .

Kurang dari 900 1

900 ~ 2000 2

Lebih dari 2000 2 ditambah 1 untuk tiap penamambahan 1.500 m² Luas lantai

maksimum (m²)

Jumlah minimum shaft pemadam kebakaran

(7)

13

Universitas Kristen Petra

Jarak tempuh ke eksit harus diukur pada lantai atau permukaan jalan lainnya, sebagai berikut:

(1) sepanjang garis tengah dari jalan dasar lintasan, mulai dari titik terjauh subyek hunian

(2) melengkung sekeliling tiap pojok atau penghalang dengan celah 305mm darinya

(3) berakhir pada salah satu berikut ini : (a) pusat dari jalur pintu

(b) titik lain pada mana eksit mulai.

Persyaratan kapasitas sebuah koridor, ditentukan dari beban hunian lantai yang menggunakan koridor tersebut untuk mencapai akses eksit untuk kemudian dibagi dengan jumlah eksit (sesuai persyaratan) yang berhubungan dengan koridor tersebut, dengan syarat kapasitas koridor tidak boleh lebih kecil dari kapasitas eksit yang menjadi arah tujuan koridor.

Lebar sarana jalan ke luar harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

(1) Tidak kurang dari yang disyaratkan untuk komponen sarana jalan keluar yang diberikan atau seluruh klasifikasi hunian bangunan gedung

(2) Tidak lebih kecil dari 915 mm.

2.3.2. Pintu kebakaran

Pintu-pintu yang langsung menuju tangga kebakaran dan hanya dipergunakan apabila terjadi kebakaran. Beberapa syarat yang perlu dipenuhi oleh pintu kebakaran, diantaranya adalah :

a. Setiap pintu pada sarana jalan keluar harus dari jenis engsel sisi atau pintu ayun. Pintu harus dirancang dan dipasang sehingga mampu berayun dari posisi manapun hingga mencapai posisi terbuka penuh, apabila pintu digunakan di dalam ruang eksit terlindung langsung membuka ke dalam ruang eksit terlindung.

b. Selama mengayun, setiap pintu pada sarana jalan ke luar harus menyisihkan ruang tak terhalangi tidak kurang dari setengah lebar yang disyaratkan dari gang, koridor, jalan terusan, atau bordes tangga, maupun

(8)

14

Universitas Kristen Petra

tonjolan yang lebih dari 18 cm terhadap lebar yang disyaratkan dari gang, koridor, jalan terusan atau bordes tangga apabila pintu membuka penuh.

c. Setiap pintu dan setiap jalan masuk utama yang disyaratkan untuk melayani sebuah eksit harus dirancang dan dibangun sehingga jalan dari jalur ke luar dapat terlihat jelas dan langsung. Setiap jendela yang karena konfigurasi fisiknya atau rancangan dan bahan yang digunakan dalam pembangunan gedungnya mempunyai potensi dikira pintu, harus dibuat tidak dapat dimasuki oleh penghuni dengan memasang penghalang atau pagar.

d. Pemisah harus mempunyai tingkat ketahanan api 2 jam, apabila eksit menghubungkan empat lantai atau lebih. Pemisah dengan TKA 2 jam harus dibangun dengan pasangan konstruksi yang tidak mudah terbakar atau bahan yang mudah terbakarnya terbatas dan harus ditunjang dengan konstruksi yang mempunyai tingkat ketahanan api sekurang-kurangnya 2 jam.

2.3.3. Tangga kebakaran

Tangga yang dilindungi oleh saf tahan api dan termasuk di dalamnya lantai dan atap atau ujung atas struktur penutup direncanakan khusus untuk penyelamatan bila terjadi kebakaran.

Pada saat terjadinya kebakaran atau kondisi darurat, terutama pada bangunan tinggi, tangga kedap api/asap merupakan tempat yang paling aman dan harus bebas dari gas panas dan beracun.

Di setiap bangunan gedung di mana tinggi yang dihuni melebihi 24 m, setiap tangga kebakaran internal harus dipresurisasi. Ruang tangga yang bertekanan diaktifkan secara otomatis pada saat kebakaran. Pengisian ruang tangga dengan udara segar bertekanan positif akan mencegah masuknya asap dari lokasi yang terbakar ke dalam ruang tangga. Tekanan udara dalam ruang tangga tidak boleh melampaui batas aman, karena jika tekanan udara dalam ruang tangga terlalu tinggi perlu ditempatkan beberapa kipas udara untuk memastikan bahwa udara segar yang masuk kedalam ruang tangga jauh dari kemungkinan masuknya asap.

(9)

15

Universitas Kristen Petra

Di setiap bangunan gedung di mana tinggi yang dihuni melebihi 24 m, setiap tangga kebakaran internal harus dipresurisasi. Dinding pemisah harus mempunyai tingkat ketahanan api 2 jam, apabila eksit menghubungkan empat lantai atau lebih.Penetrasi (tembusan) ke dalam, dan bukaan yang melalui pasangan konstruksi eksit terlindung harus dibatasi hanya untuk sebagai berikut :

(a) Konduit listrik yang melayani jalur tangga (b) Pintu eksit yang disyaratkan

(c) Saluran udara dan peralatan yang perlu untuk presurisasi tangga tersendiri

(d) Pemipaan air atau uap untuk memanaskan atau mendinginkan eksit terlindung

(e) Pemipaan springkler (f) Pipa tegak

(g) Penetrasi untuk sirkit alarm kebakaran, dimana sirkit dipasang dalam konduit metal dan penetrasi diproteksi.

Jumlah minimum sarana jalan ke luar dari setiap lantai atau bagian dari padanya selain untuk bangunan gedung yang sudah ada seperti diizinkan untuk seluruh klasifikasi bangunan gedung, harus sebagai berikut :

(1) beban hunian lebih dari 500 orang tetapi tidak lebih dari 1000 orang, sekurang-kurangnya 3 buah sarana jalan keluar

(2) beban hunian lebih dari 1000 orang, sekurang-kurangnya 4 sarana jalan ke luar.

Kapasitas total sarana jalan ke luar untuk setiap lantai, balkon, tempat duduk dengan deretan bertingkat, atau tempat yang dihuni lainnya, harus cukup untuk beban huniannya. Beban hunian setiap bangunan gedung atau bagiannya harus tidak boleh kurang dari jumlah orang yang ditetapkan dengan membagi luas lantai yang diberikan terhadap penggunaan oleh faktor beban hunian.

2.3.4. Eksit pelepasan

Semua eksit harus berakhir langsung pada jalan umum atau pada bagian luar eksit pelepasan. Pelepasan harus menuju ke jalan bebas dan tidak terhalang ke luar bangunan gedung, dan jalan seperti itu harus terlihat dengan jelas dan

(10)

16

Universitas Kristen Petra

teridentifikasi dari titik eksit pelepasannya. Eksit pelepasan harus ditata dan diberi tanda untuk membuat jelas arah dari jalan ke luar ke jalan umum.

Suatu jalan terusan eksit yang melayani sebagai pelepasan dari ruang tangga terlindung, harus mempunyai sekurang-kurangnya tingkat ketahanan api yang sama dengan proteksi bukaan yang tingkat proteksi kebakarannya seperti disyaratkan untuk ruang tangga terlindung.

2.3.5. Iluminasi dan penandaan sarana jalan keluar

Iluminasi sarana jalan ke luar harus disediakan untuk setiap gedung termasuk tangga, serambi, koridor, ram, eskalator dan terusan yang menuju ke suatu eksit. Iluminasi sarana jalan ke luar harus menerus siap untuk digunakan setiap waktu dalam kondisi penghuni membutuhkan sarana jalan ke luar.

Koridor dan jalur keluar harus dilengkapi dengan tanda yang menunjukkan arah dan lokasi pintu kebakaran. Tanda “EXIT” atau “KELUAR”

dengan anak panah menunjukkan arah menuju pintu kebakaran atau tangga kebakaran/darurat, dan harus ditempatkan pada setiap lokasi dimana pintu kebakaran terdekat dapat langsung terlihat.

Tanda “EXIT” harus dapat dilihat dengan jelas, diberi lampu yang menyala pada kondisi darurat, dengan kuat cahaya tidak kurang dari 50 lux dan luas tanda minimum 155 cm2 serta ketinggian tidak kurang dari cm (tebal huruf minimum 2 cm)

Penempatan tanda yang baru haruslah sedemikian sehingga tidak ada titik di dalam akses eksit koridor melebih jarak pandang atau 30 m, atau kurang dari tanda terdekat.

Setiap tanda yang diperlukan harus diletakkan dan dengan ukuran sedemikian, warna yang nyata dan dirancang untuk mudah dilihat dan harus kontras dengan dekorasi, penyelesaian interior atau tanda lainnya. Suatu tanda arah yang menunjukkan arah lintasan harus ditempatkan di setiap lokasi apabila arah lintasan mencapai eksit terdekat tidak jelas.

Tanda arah harus terbaca "EXIT' atau harus menggunakan kata lain yang tepat dengan huruf datar yang jelas berukuran sebagai berikut :

(11)

17

Universitas Kristen Petra

(1) Untuk tanda arah yang baru, tinggi huruf sekurang-kurangnya 15 cm, dengan lebar huruf sekurang-kurangnya 2 cm

(2) Kata "EXIT" dengan lebar huruf sekurang-kurangnya 5 cm, kecuali huruf "I" dan spasi minimum antara huruf harus sekurang-kurangnya 1cm

(3) Elemen simbol tanda arah lebih besar dari minimum yang ditentukan harus menggunakan lebar huruf, tulisan dan spasi yang proporsional dengan tingginya.

Iluminasi sarana jalan ke luar harus disediakan untuk setiap gedung termasuk tangga, serambi, koridor, ram, eskalator dan terusan yang menuju ke suatu eksit. Iluminasi sarana jalan ke luar harus menerus siap untuk digunakan setiap waktu dalam kondisi penghuni membutuhkan sarana jalan ke luar.

Apabila fasilitas pencahayaan darurat disyaratkan oleh penerapan ketentuan untuk semua klasifikasi hunian bangunan gedung, iluminasi dari tanda arah khusus yang disyaratkan harus ditambahkan untuk disediakan di bawah kondisi pencahayaan darurat.

Indikator arah harus memenuhi sebagai berikut :

(1) Indikator arah harus diletakkan di luar simbol “EXIT”, sekurang- kurangnya 1 cm (5/8 inci) dari huruf yang mana saja.

(2) Indikator arah harus tipe "Chevron"

(3) Indikator arah harus mudah diidentifikasi sebagai indikator pengarahan pada jarak 12 m (40 ft).

(4) Suatu indikator arah lebih besar dari minimum harus proporsional dinaikkan ketinggian, lebar dan jarak huruf.

(5) Indikator arah harus diletakkan pada akhir dari tanda arah untuk arah yang ditunjukkan.

2.4. Sistem Proteksi Pasif 2.4.1. Konstruksi tahan api

Tingkat ketahanan api (TKA) diukur dalam satuan menit, yang ditentukan berdasaarkan standar uji ketahanan api untuk kriteria sebagai berikut :

a. Ketahanan memikul beban (kelayakan struktur)

(12)

18

Universitas Kristen Petra

b. Ketahanan terhadap penjalaran api (integritas) c. Ketahanan terhadap penjalaran panas (isolasi)

Konsep konstruksi tahan api terkait pada kemampuan dinding luar, lantai dan atap untuk dapat bertahan terhadap api di dalam bangunan atau kompartemen.

Dahulu sistem yang mengukur ketahanan terhadap kebakaran dihitung dalam jumlah jam, dan kandungan bahan struktur tahan api. Namun sekarang, hal ini dianggap tidak cukup, dan spesifikasi praktis yang digunakan adalah suatu konstruksi yang mempunyai tingkat kemampuan untuk bertahan terhadap api.

Definisi ini menyatakan beberapa ketentuan yang terkait pada kemampuan struktur untuk menahan beban/bertahan terhadap api tanpa mengalami perubahan bentuk (deformasi) yang berarti, dan mencagah menjalarnya api keseluruh bangunan. Dengan demikian, setiap komponen struktur bangunan, dinding, lantai, kolom dan balok harus dapat tetap bertahan dan dapat menyelamatkan isi bangunan selang waktu yang disyaratkan, meskipun bangunan dalam keadaan terbakar.

2.4.2. Kompartemen

Kompartemen merupakan konsep yang penting dalam usaha penyelamatan manusia dalam menghadapi bahaya kebakaran. Gagasan dasarnya adalah menahan dan membatasi penjalaran api agar dapat melindungi penghuni atau pengguna bangunan dan barang-barang dalam bangunan untuk tidak secara langsung bersentuhan dengan sumber api. Pada bangunan tinggi, dimana mengevakuasi seluruh orang dalam gedung dengan cepat adalah hal yang mustahil, kompartemen dapat menyediakan penampungan sementara bagi penghuni atau pengguna bangunan untuk menunggu sampai api dipadamkan atau jalur menuju pintu kebakaran sudah aman.

2.5. Sistem Proteksi Aktif

2.5.1. Sistem deteksi dan alarm kebakaran

Sistem deteksi dan alarm kebakaran otomatis yang dirancang untuk memberikan peringatan kepada penghuni akan adanya bahaya kebakaran.

Pemasangan detektor panas harus memenuhi persyaratan :

(13)

19

Universitas Kristen Petra

- Untuk setiap luas lantai 46 m² dengan tinggi langit-langit 3 meter

- Jarak antar detektor tidak lebih dari 7 meter untuk ruang aktif, dan tidak lebih dari 10 meter untuk ruang sirkulasi

- jarak detektor dengan dinding minimum 30 cm Pemasangan detektor asap harus memenuhi persyaratan :

- Untuk setiap luas lantai 92 m²

- Jarak antar detektor maksimum 12 meter di dalam ruang aktif dan 18 meter untuk ruang sirkulasi

- Jarak detektor dengan dinding minimum 6 meter untuk ruang aktif dan 12 meter untuk ruang sirkulasi.

2.5.2. Pengendalian asap

Asap menjalar akibat perbedaan tekanan yang disebabkan oleh adanya perbedaan suhu ruangan. Pada bangunan tinggi, perambatan asap juga disebabkan oleh dampak timbunan asap yang mencari jalan keluar dan dapat tersedot melalui lubang vertikal yang ada. Perambatan ini dapat pula terjadi melaui saluran tata udara yang ada dalam bangunan.

2.5.3. Springkler

Peringatan dini kebakaran dengan menggunakan peralatan otomatis sangat diperlukan, agar barisan pemadam kebakaran dapat segera menanggulangi kebakaran yang terjadi. Suatu sistem pemadam kebakaran yang dipasang secara tetap/permanen di dalam bangunan yang dapat memadamkan kebakaran secara otomatis dengan menyemprotkan air di tempat terjadi kebakaran, sebelum api menjadi besar dan tak terkendali serta menimbulkan banyak kerugian pada manusia, bangunan dan isinya. Pada sebagian besar bangunan tinggi, springkler ini memberikan reaksi yang cepat pada saat terjadinya api dan memberikan waktu yang cukup bagi penghuni/pengguna bangunan untuk mengatur proses evakuasi.

Sistem springkler terdiri dari 3 klasifikasi sesuai dengan klasifikasi hunian bahaya kebakaran, yaitu :

- Sistem bahaya kebakaran ringan - Sistem bahaya kebakaran sedang

(14)

20

Universitas Kristen Petra

- Sistem bahaya kebakaran berat

Tabel 2.3. Ketentuan Jarak Maksimum Kepala Springkler

2.5.4. Pemadam api ringan

Alat pemadam api ringan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah dilihat dan dicapai serta tidak terhalang. semua jenis pemadam api ringan biasanya dikemas dalam bentuk tabung 2 kg.

Tabel 2.4. Penempatan PAR

2.5.5. Hidran kebakaran gedung

Jika diketahui secara lebih awal, maka kebakaran yang terjadi dapat ditanggulangi oleh penghuni/pengguna bangunan itu sendiri, sebelum api menjadi besar dan tak terkendali. Sangat penting untuk segera memberitahukan barisan/unit pemadam kebakaran tentang adanya suatu kebakaran.

Tabel 2.5. Jumlah Hidran per Luas Lantai Bangunan Jenis Bangunan Luas Jangkauan Jarak Maksimum

Industri 150 m² 15 m

Umum 100 m² 20 m

Perumahan 250 m² 25 m

Campuran 100 m² 20 m

Parkir 135 m² 25 m

Bangunan Tinggi 100 m² 20 m

Jenis Bahaya Kebakaran Jarak Maksimum (m)

Ringan 4,6

Sedang 4

Berat 3,7

Kelas 5,6,7,8 dan 9b 1 buah per 800 m² 2 buah per 800 m² Kelas 2,3,4 dan 9a 1 buah per 1000 m² 2 buah per 1000 m²

Kelas 1 dan 10 Tidak dipersyaratkan Tidak dipersyaratkan Klasifikasi

Bangunan

Bangunan Tertutup Jumlah per luas lantai

Bangunan Tertutup dengan Ruangan Terpisah Jumlah

per luas lantai

(15)

21

Universitas Kristen Petra

Lokasi dan jumlah hidran dalam bangunan diperlukan untuk menentukan kapasitas pompa yang digunakan untuk menyemprotkan air. Hidran perlu ditempatkan pada jarak 35 m satu dengan lainnya, karena panjang selang kebakaran dalam kotak hidran adalah 30 m, ditambah sekitar 5 m jarak semprotan air. Hidran/selang kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah terjangkau dan relatif aman, dan pada umumnya diletakkan di dekat pintu darurat harus dicat dengan warna merah.

Komponen hidran kebakaran terdiri dari : sumber air, pompa-pompa kebakaran, selang kebakaran, penyambung dan perlengkapan lainnya.

2.6. Hubungan Antar Konsep

Konsep sejak timbulnya bahaya api, sampai kemungkinan menjalarnya api hingga menimbulkan kebakaran yang merugikan proses yang berjalan linier, sehingga upaya yang harus dilakukan juga merupakan upaya mencegah atau membatasi proses tersebut. Sehingga upaya-upaya yang merupakan sistem proteksi kebakaran adalah untuk mencegah/membatasi serta menghambat terjadinya kebakaran. Untuk itu studi pemeriksaan terhadap keandalan sistem keselamatan bangunan senantiasa perlu dilakukan secara teratur agar bangunan senantiasa dalam keadaan aman terhadap bahaya kebakaran.

2.7. Malcolm Baldrige

Suatu sistem evaluasi dikembangkan oleh manajemen perusahaan untuk menilai tingkat efisiensi dan efektifitas dari penerapan sistem manajemen mutu di perusahaan.

Terdapat beberapa model sistem evaluasi salah satunya adalah dikenal dengan nama “Malcolm Baldrige National Quality Award”, dinamai sesuai dengan nama sekretaris perdagangan US saat itu yang mendukung usaha peningkatan kualitas dunia bisnis dalam menghadapi kompetisi global. Award diberikan pada perusahaan Amerika Serikat yang berprestasi dalam manajemen kualitas.

(16)

22

Universitas Kristen Petra

Baldrige criteria, kriteria-kriterianya dapat diadaptasi oleh semua organisasi profit/non-profit. Dalam hal ini kata “kualitas” diipersamakan dengan

“keselamatan/keamanan” sebai tujuan yang hendak dicapai didalam manajemen kebakaran. Dalam program untuk mencapai keselamatan, resiko menjadi ukuran menetukan penilaiannya.

2.8. Kerangka Pemikiran

Keputusan untuk menetapkan tingkat keandalan sistem proteksi kebakaran ini sangat bersifat kualitatif, dan memerlukan pengambilan keputusan oleh expert, maka untuk mendukung dalam analisisnya agar didapat hasil yang lebih obyektif, dipakai model Analitycal Hierarchy Process (AHP)

Konsep-konsep pokok (Saaty T.,1993) :

- Untuk menetapkan prioritas berbagai komponen, kita harus membandingkannya dalam pasangan menurut suatu kriteria. Suatu matriks merupakan kerangka yang paling baik untuk pembandingkan ini.

- Untuk memperoleh perangkat prioritas menyeluruh bagi suatu keputusan, kita harus mensintesis hasil dari pembandingan berpasangan itu. Yaitu, kita harus menggabungkan pertimbangan-pertimbangan kita untuk memperoleh suatu taksiran menyeluruh dari peringkat relatif prioritas- prioritas itu.

- Dalam suatu hirarki, elemen-elemen tingkat tertinggi biasanya mempunyai prioritas tertinggi. Ini adalah gugusan-gugusan yang menimbulkan elemen- elemen yang lebih kecil di tingkat-tingkat lebih rendah. Prioritas mereka dibagi melalui proses pembobotan diantara turunan mereka.

- Konsistensi suatu hirarki dapat diukur dengan mengalikan konsistensi dari setiap matriks dengan prioritas kriterianya dan menjumlahkannya. Hasil ini lalu dibandingkan dengan suatu bilangan serupa yang diperoleh untuk matrik-matrik acak dari ukuran yang sama. Rasio ini harus 10 persen atau kurang. Ketakonsistenan yang lebih besar menunjukkan kekurangan informasi, atau kekurangpahaman.

(17)

23

Universitas Kristen Petra

Dalam setiap kasus, kita akan memeriksa persoalan, menyusun hirarki, melakukan banding berpasangan (pairwise comparison), menetapkan prioritas, mensintesis prioritas menyeluruh dan memeriksa konsistensi.

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir

KESIMPULAN DAN SARAN INTERPRETASI

Hasil penilaian untuk masing-masing bangunan apartemen SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN :

- Perencanaan tapak - Sarana penyelamatan

BANGUNAN APARTEMEN METROPOLIS

BANGUNAN APARTEMEN

HIGH POINT

BANGUNAN APARTEMEN PUNCAK PERMAI Memasukkan masing-masing komponen sistem proteksi kebakaran

pasif dalam krietria-kriteria penilaian PENENTUAN KRITERIA PENILAIAN

MENGHITUNG NILAI KEANDALAN SISTEM PENYELAMATAN TERHADAP KEBAKARAN PADA BANGUNAN

Menghitung nilai keandalan sistem keselamatan masing-masing bangunan

PERHITUNGAN BOBOT PRIORITAS - Sistem proteksi pasif

Menghitung besarnya pengaruh dari masing-masing komponen - Sistem proteksi aktif

PENENTUAN HIERARKI

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga salah satu tujuan dari SIA dalam siklus pendapatan adalah untuk mendukung performance dari aktivitas bisnis perusahaan dengan memproses data transaksi secara efisien,

Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku, bahan penolong, dan biaya tenaga kerja (baik yang

Kotler (2003) menyatakan kepuasan pelanggan adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seseorang yang merupakan hasil dari perbandingan antara hasil yang diharapkan atas layanan

Penemuan tersebut sesuai dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Darwis (2012) yang juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara earnings management

Hal ini terjadi karena dengan melakukan upaya perencanaan pajak, perusahaan dapat melaksanakan kewajiban pajak dengan benar, di mana pajak yang dibayarkan berada

Metode Simplified Sequential Search Algorithm-Modified atau SSSA-Mod (Angkasaputra, K. & Sebastiano, F., 2018) adalah suatu metode dari modifikasi metode Simplified

XAMPP adalah perangkat lunak gratis, yang mendukung banyak sistem operasi, merupakan kompilasi dari beberapa program untuk menjalankan fungsinya sebagai server yang

Konsep-konsep tersebut mempunyai kaitan yaitu bahwa kepuasan dan kepercayaan yang terbentuk dari kualitas jasa yang dirasakan akan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan