1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan menjadi bagian terdepan dari pelayanan kesehatan yang menentukan kualitas pelayanan di tataran pelayanan di Rumah Sakit, 40% - 60% pelayanan rumah sakit adalah pelayanan eperawatan (Gillies, 1994).
Perawat sebagai profesi yang mempunyai kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan selama 24 jam secara berkesinambungan yang melibatkan klien, keluarga maupun profesi atau tenaga kesehatan yang lain. manajemen, guna tercapainya pelayanan keperawatan berkwalitas.
Untuk mewujudkan pelayanan keperawatan yang berkualitas, pengelolaan pelayanan keperawatan haruslah mendapat perhatian secara menyeluruh. Kualitas pelayanan keperawatan dalam tatanan pelayanan di Rumah Sakit dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor tersebut haruslah dapat dikelola secara efektif dan efisien dengan menggunakan proses manajemen, khususnya manajemen keperawatan
Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui tahap-tahap yaitu pengkajian (kajian situasional), perencanaan (strategis dan operasional), implementasi dan evaluasi. Manajemen keperawatan adalah suatu proses kerja yang dilakukan oleh anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara professional. Untuk menjalankan fungsi manajemen agar berhasil secara optimum seorang manajer keperawatan dituntut untuk dapat melakukan suatu proses yang meliputi 4 fungsi utama dari manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan kontrol.
1.2 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam pembuatan makalah ini, meliputi: A. Konsep Manajemen
B. Konsep Analisa SWOT C. Konsep MPKP
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan makalah ini, meliputi: A. Bagaimana konsep manajemen
B. Bagaimana konsep Analisa SWOT C. Konsep MPKP
2 1.4 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari makalah ini adalah mahasiswa mampu dan memahami:
A. Konsep Manajemen B. Konsep Analisa SWOT C. Konsep MPKP
1.5 Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari empat BAB, yaitu: BAB I Pendahuluan, BAB II Tinjauan Kasus, BAB III Pembahasan, BAB IV Penutup.
3 BAB II
TINJAUAN KASUS
2.1 Skenario Kasus Kajian Situasi Unit
Sebuah ruang perawatan penyakit dalam bedah (medikal bedah) rumah sakit tipe B dipimpin oleh seorang kepala ruangan berlatar belakang pendidikan ners. Metode penugasan yang ditetapkan pada ruang tersebut adalah MPKP pemula. Selama proses pelaksanaan tugas, kepala ruangan cenderung berkomunikasitop down/ memerintah, sementara hasil kajian dimensi tugas di ruang tersebut kategori tinggi dan dimensi pertimbangan pada kategori tinggi pula. Bawahan baik perawat primer maupun perawat pelaksana jarang dilibatkan untuk mendiskusikan masalah yang terjadi di ruangan tersebut. Tipe gaya kepemimpinan cenderung otoriter.
Ruangan ini merawat pasien-pasien kelas III, memiliki 80 tempat tidur dengan tingkat hunian sebesar 95%. Berdasarkan hasil survey sebelumnya diketahui rata-rata jam perawatan di ruangan tersebut adalah 4,5 jam/hari. Berdasarkan klasifikasi pasien yang dirawat diketahui rata-rata ada 10 pasien total care, 45 pasien partial care, dan 15 pasien minimal care. Jumlah tenaga perawat pelaksana termasuk perawat primer adalah 24 orang terbagi 2 tim. Komposisi tenaga keperawatan adalah kepala ruangan ners, dua ketua tim berpendidikan D3 keperawatan, sementara perawat pelaksananya 80% D3 keperawatan dan 20% lulusan SPK. Usia rata-rata perawat adalah 32 tahun dengan usia teruda 25 tahun dan tertua 51 tahun.
Hasil kajian mahasiswa profesi yang pernah praktek di ruangan tersebut ditemukan kepatuhan perawat pada SOP tindakan 90%, pelaksanaan supervisi keperawatan 85% baik, timbang terima sesuai SOP, ronde keperawatan dilakukan satu bulan satu kali. Pengetahuan perawat tentang metode MPKP 60% baik. Sudah terdapat leaflet 10 besar penyakit, 10 besar diagnosa keperawatan. Dokumentasi askep menggunakan check list dengan pencapaian 70%. Kelengkapan alat 75% sesuai standar depkes. Diagram struktur organisasi tidak sesuai dengan model MPKP, petunjuk arah dan denah sudah ada. Rumah sakit mendapat pendanaan APBD dan APBN untuk penyediaan gaji, sarana prasarana dan dana pengembangan karyawan. 5 km sebelah utara terdapat rumah sakit swasta dengan tingkat hunian 75%.
4 2.2 Metode Seven Jump (metode 7 langkah)
A. Langkah 1: kata-kata yang belum dimengerti 1. MPKP 2. APBD 3. APBN 4. Check list 5. Man 6. Methode 7. Material 8. Money 9. Marketing 10. Otoriter 11. Total Care 12. Partial Care 13. Minimal Care 14. Ronde keperawatan 15. Supervisi 16. Timbang Terima 17. Strenght 18. Weakness 19. Opportunity 20. Threat
Mendefinisikan kata-kata yang tidak dimengerti
1. Model Praktik Keperawatan Profesional, suatu sistem yang mengatur perawat profesional dalam memberikan suatu asuhan keperawatan.
2. Anggaran Pengeluaran Belanja Daerah 3. Anggaran Pengeluaran Belanja Negara
4. Alat obsevasi yang ditujukan untuk memperoleh data, berbentuk daftar berisi faktor-faktor berikut subjek yang ingin diamati observer, dimana observer dalam pelaksanaan observasi di lapangan tinggal memberi tanda checklist faktor-faktorsesuai perilaku subjek yang muncul dilembar obsevasi sehingga memungkinkan observer dapat melakukan tugasnya secara cepat dan objektif, sebab observer sudah “membatasi diri” pada ada idaknya aspek perbuatan subjek sebagai mana telahdicantumkan di dalam list.
5. Sumber daya manusia, perawat, dokter, dll
5 7. Suatu fasilitas yang akan digunakan dalam sistem (alat dan bahan sesuai
SOP).
8. Sumber dana suatu organisasi.
9. Pengelolaan suatu organisasi agar sistem berjalan lancar.
10. Kekuasaan/sewenang-wenang, gaya kepemimpinan yang bertindak sendiri, mengambil keputusan sendiri, tidak melibatkan anggota lain dalam mengambil keputusan.
11. Membutuhkan bantuan perawatan penuh, untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.
12. Membutuhkan bantuan perawatan sebagian, untuk memenuhi sebagian kebutuhannya.
13. Membutuhkan bantuan perawatan minimal, untuk memenuhi kebutuhannya. 14. Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien
yang dilaksanakan oleh perawat.
15. – proses dimana seorang pemimpin ingin mengetahui apakah hasil pelaksanaan pekerjaaan yang dilakukan bawahannya sesuai dengan rencana, perintah, tujuan/kebijakan yang telah ditentukan
- Suatu program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran.
16. Merupakan tekhnik atau cara untuk menyampaikan dan menerima suatu laporan yang berkaitan dengan keadaan klien.
17. Situasi atau kondisi yang menetapkan suatu kekuatan dari organisasi.
18. Situasi atau kondisi yang menetapkan suatu kelemahan dari organisasi/program saat ini.
19. Peluang yang dapat diraih agar program studi dapat tumbuh dan berkembang dan mampu mengalahkan pesaing-pesaingnya.
20. Situasi yang merupakan ancaman bagi organisasi yang akan datang dari luar organisasi yang akan datangdari luar organisasi dan dapat mengancam eksistensi organisasi di masa yang akan datang.
B. Langkah 2: membuat pertanyaan sesuai kasus
1. Kelompokkan data dalam 5 dimensi kajian yaitu man, methode, material, money, dan marketing
2. Kelompokkan masing-masing data dalam strenght, weakness, opportunity, dan threat
6 C. Langkah 3: menjawab pertanyaan
1. MAN
Kepala ruangan ners
Ketua tim berpendidikan D3 keperawatan Perawat pelaksana 80% D3 keperawatan 20% lulusan SPK
Usia rata-rata perawat adalah 32 tahun dengan usia termuda 25 tahun dan tertua 51 tahun
Gillis
a x b x c x d (d-e x f)
a = rata-rata jumlah perawatan perhari b =jumlah tempat tidur
c = BOR
d = jumlah hari dalam 1 tahun e = jumlah hari off dalam 1 tahun f = jam kerja tiap shift (7jam)
4,5 x 80 x 0.95 x 365 = 124830 =61,28 62 (365-74 x 7) 2037
PPNI
Hasil rumus Gills + Risk = 62 x 25 =16 100 = 16 + 62 = 78 Douglass Pagi: (15x0,17)+(45x0,27)+(10x0,36) = 18,3 Siang: (15x0,14)+(45x0,15)+(10x0,30) = 11,85 Malam:(15x0,07)+(45x0,10)+(10x0,20) = 16,55 18,3 + 11,85 +16,55 =46,7 47 METHODE
Kepatuhan perawat pada SOP tindakan 90% Pelaksanaan supervisi keperawatan 85% Timbang terima sudah sesuai SOP
Ronde keperawatan dilakukan satu bulan sekali
7 Pengetahuan perawat tentang metode MPKP 60% baik
Gaya kepemimpnan otoriter MATERIAL
Kelengkapan alat 75% sesuai standar depkes. Struktur organisasi tidak sesuai MPKP.
MARKETING
Petunjuk arah dan denah sudah ada
Sudah terdapat leaflet 10 besar penyakit, 10 besar diagnosa keperawatan 2. STRENGHT
Man
a. Kepala ruangan ners
b. Ketua tim berpendidikan D3 keperawatan c. Perawat pelaksana 80% D3 keperawatan d. Rata-rata usia perawat 32 tahun
Methode
a. Kepatuhan perawat pada SOP tindakan 90% b. Pelaksanaan supervisi keperawatan 85% c. Timbang terima sudah sesuai SOP
d. Ronde keperawatan dilakukan satu bulan sekali Material
Money
a. Rumah sakit mendapat pendanaan APBD dan APBN untuk penyediaan gaji, sarana prasarana dan dana pengembangan karyawan.
Marketing
a. Petunjuk arah dan denah sudah ada
b. Sudah terdapat leaflet 10 besar penyakit, 10 besar diagnosa keperawatan.
WEAKNESS Man
a. 20% lulusan SPK b. Usia tertua 51 tahun
8 Methode
a. Dokumentasi askep menggunakan checklist dengan pencapaian 70% b. Pengetahuan perawat tentang MPKP 60%
c. Gaya kepemimpinan otoriter
d. Diagram struktur organisasi tidak sesuai model MPKP
e. Bawahan baik perawat primer maupun perawat pelaksana jarang dilibatkan untuk mendiskusikan masalah yang terjadi di ruangan tersebut.
Material
a. Struktur organisasi tidak sesuai
b. Kelengkapan alat 75% sesuai standar depkes. Money: tidak ada
Marketing: tidak ada OPPORTUNITY Man
a. Tingkat hunian sebesar 95% Material: tidak ada
Money
a. Rumah sakit mendapat pendanaan APBD dan APBN untuk penyediaan gaji, sarana prasarana dan dana pengembangan karyawan.
THREAT
5 km sebelah utaraterdapat rumah sakit swasta yang tingkat huniannya 75%.
D. Langkah 4: membuat skema (tidak ada) E. Langkah 5: membuat tujuan
1. Mahasiswa mampu dan memahami tentang konsep manajemen keperawatan. 2. Mahasiswa mampu dan memahami tentang konsep SWOT.
9 BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Konsep Manajemen
A. Pengertian manajemen
Secara etimologis kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno ménagement, yang berarti seni melaksanakan dan mengatur. Sedangkan secara terminologis para pakar mendefinisikan manajemen secara beragam, diantaranya: Follet yang dikutip oleh Wijayanti (2008: 1) mengartikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Menurut Stoner yang dikutip oleh Wijayanti (2008: 1) manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya manusia organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Gulick dalam Wijayanti (2008: 1) mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan.
Schein (2008: 2) memberi definisi manajemen sebagai profesi. Menurutnya manajemen merupakan suatu profesi yang dituntut untuk bekerja secara profesional, karakteristiknya adalah para profesional membuat keputusan berdsarkan prinsip-prinsip umum, para profesional mendapatkan status mereka karena mereka mencapai standar prestasi kerja tertentu, dan para profesional harus ditentukan suatu kode etik yang kuat.
Terry (2005: 1) memberi pengertian manajemen yaitu suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pebgarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksudmaksud yang nyata. Hal tersebut meliputi pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, menetapkan cara bagaimana melakukannya, memahami bagaimana mereka harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usaha-usaha yang telah dilakukan.
Dari beberapa definisi yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk menentukan dan mencapai tujuan-tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Manajemen merupakan sebuah
10 kegiatan; pelaksanaannya disebut manajing dan orang yang melakukannya disebut manajer.
Manajemen dibutuhkan setidaknya untuk mencapai tujuan, menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan yang saling bertentangan, dan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas. Manajemen terdiri dari berbagai unsur, yakni man, money, method, machine, market, material dan information.
1. Man : Sumber daya manusia;
2. Money : Uang yang diperlukan untuk mencapai tujuan; 3. Method : Cara atau sistem untuk mencapai tujuan; 4. Machine : Mesin atau alat untuk berproduksi;
5. Material : Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan;
6. Market : Pasaran atau tempat untuk melemparkan hasil produksi; 7. Information : Hal-hal yang dapat membantu untuk mencapai tujuan. B. Fungsi-fungsi manajerial
Menurut Terry (2010: 9), fungsi manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian, yakni planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pelaksanaan), dan controlling (pengawasan) :
1. Planning (Perencanaan)
Planning (perencanaan) ialah penetapan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang digariskan. Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan, karena termasuk dalam pemilihan alternatif-alternatif keputusan. Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk masa mendatang.
a) Proses Perencanaan
Proses perencanaan berisi langkah-langkah: Menentukan tujuan perencanaan;
Menentukan tindakan untuk mencapai tujuan;
Mengembangkan dasar pemikiran kondisi mendatang; Mengidentifikasi cara untuk mencapai tujuan; dan
Mengimplementasi rencana tindakan dan mengevaluasi hasilnya. b) Elemen Perencanaan
Perencanaan terdiri atas dua elemen penting, yaitu sasaran (goals) dan rencana (plan).
Sasaran yaitu hal yang ingin dicapai oleh individu, kelompok, atau seluruh organisasi. Sasaran sering pula disebut tujuan. Sasaran
11 memandu manajemen membuat keputusan dan membuat kriteria untuk mengukur suatu pekerjaan.
Rencana adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan. Rencana biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwal, dan tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi penggunaanya.
c) Unsur-unsur Perencanaan
Suatu perencanaan yang baik harus menjawab enam pertanyaan yang tercakup dalam unsur-unsur perencanaan yaitu:
Tindakan apa yang harus dikerjakan, yaitu mengidentifikasi segala sesuatu yang akan dilakukan
Apa sebabnya tindakan tersebut harus dilakukan, yaitu merumuskan faktor-faktor penyebab dalam melakukan tindakan
Tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan tempat atau lokasi; Kapan tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan waktu
pelaksanaan tindakan
Siapa yang akan melakukan tindakan tersebut, yaitu menentukan pelaku yang akan melakukan tindakan; dan
Bagaimana cara melaksanakan tindakan tersebut, yaitu menentukan metode pelaksanaan tindakan.
d) Klasifikasi perencanaan
Rencana-rencana dapat diklasifikasikan menjadi:
Rencana pengembangan. Rencana-rencana tersebut menunjukkan arah (secara grafis) tujuan dari lembaga atau perusahaan;
Rencana laba. Jenis rencana ini biasanya difokuskan kepada laba per produk atau sekelompok produk yang diarahkan oleh manajer. Maka seluruh rencana berusaha menekan pengeluaran supaya dapat mencapai laba secara maksimal;
Rencana pemakai. Rencana tersebut dapat menjawab pertanyaan sekitar cara memasarkan suatu produk tertentu atau memasuki pasaran dengan cara yang lebih baik; dan
Rencana anggota-anggota manajemen. Rencana yang dirumuskan untuk menarik, mengembangkan, dan mempertahankan anggota-anggota manajemen menjadi lebih unggul (Terry, 1993: 60).
12 e) Tipe-tipe Perencanaan
Tipe-tipe perencanaan terinci sebagai berikut:
Perencanaan jangka panjang (Short Range Plans), jangka waktu 5 tahun atau lebih
Perencanaan jangka pendek (Long Range Plans), jangka waktu 1 s/d 2 tahun
Perencanaan strategi, yaitu kebutuhan jangka panjang dan menentukan komprehensif yang telah diarahkan
Perencanaan operasional, kebutuhan apa saja yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan perencanaan strategi untuk mencapai tujuan strategi tersebut
Perencanaan tetap, digunakan untuk kegiatan yang terjadi berulang kali (terus-menerus)
Perencanaan sekali pakai, digunakan hanya sekali untuk situasi yang unik.
f) Dasar-dasar Perencanaan yang Baik
Dasar-dasar perencanaan yang baik meliputi:
Forecasting, proses pembuatan asumsi-asumsi tentang apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang
Penggunaan skenario, meliputi penentuan beberapa alternatif skenario masa yang akan datang atau peristiwa yang mungkin terjadi
Benchmarking, perbandingan eksternal untuk mengevaluasi secara lebih baik suatu arus kinerja dan menentukan kemungkinan tindakan yang dilakukan untuk masa yang akan datang
Partisipan dan keterlibatan, perencanaan semua orang yang mungkin akan mempengaruhi hasil dari perencanaan dan atau akan membantu mengimplementasikan perencanaan perencanaan tersebut dan
Penggunaan staf perencana, bertanggung jawab dalam mengarahkan dan mengkoordinasi sistem perencanaan untuk organisasi secara keseluruhan atau untuk salah satu komponen perencanaan yang utama.
g) Tujuan Perencanaan
Untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan non-manajerial
Untuk mengurangi ketidakpastian Untuk meminimalisasi pemborosan; dan
13 Untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi
selanjutnya.
h) Sifat Rencana yang Baik
Rencana dikatakan baik jika memiliki sifat sifat-sifat sebagai berikut: Pemakaian kata-kata yang sederhana dan jelas;
fleksibel, suatu rencana harus dapat menyesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya
stabilitas, setiap rencana tidak setiap kali mengalami perubahan, sehingga harus dijaga stabilitasnya;
ada dalam pertimbangan; dan
meliputi seluruh tindakan yang dibutuhkan, meliputi fungsi-fungsi yang ada dalam organisasi.
C. Organizing (Pengorganisasian)
Organizing berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat, yaitu proses pengelompokan kegiatankegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer (Terry & Rue, 2010: 82). Pengorganisasian dilakukan untuk menghimpun dan mengatur semua sumber-sumber yang diperlukan, termasuk manusia, sehingga pekerjaan yang dikehendaki dapat dilaksanakan dengan berhasil.
a) Ciri-ciri Organisasi
Ciri-ciri organisasi adalah sebagai berikut: mempunyai tujuan dan sasaran;
mempunyai keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati adanya kerjasama dari sekelompok orang; dan
mempunyai koordinasi tugas dan wewenang. b) Komponen-komponen Organisasi
Ada empat komponen dari organisasi yang dapat diingat dengan kata “WERE” (Work, Employees, Relationship dan Environment).
Work (pekerjaan) adalah fungsi yang harus dilaksanakan berasal dari sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
Employees (pegawai-pegawai) adalah setiap orang yang ditugaskan untuk melaksanakan bagian tertentu dari seluruh pekerjaan.
Relationship (hubungan) merupakan hal penting di dalam organisasi. Hubungan antara pegawai dengan pekerjaannya, interaksi antara satu pegawai dengan pegawai lainnya dan unit kerja lainnya dan unit kerja pegawai dengan unit kerja lainnya merupakan hal-hal yang peka.
14 Environment (lingkungan) adalah komponen terakhir yang mencakup sarana fisik dan sasaran umum di dalam lingkungan dimana para pegawai melaksanakan tugas-tugas mereka, lokasi, mesin, alat tulis kantor, dan sikap mental yang merupakan faktor-faktor yang membentuk lingkungan. c) Tujuan organisasi
Tujuan organisasi merupakan pernyataan tentang keadaan atau situasi yang tidak terdapat sekarang, tetapi dimaksudkan untuk dicapai pada waktu yang akan dating melalui kegiatan-kegiatan organisasi (Handoko, 1995: 109). d) Prinsip-prinsip organisasi
Williams (1965: 85) mengemukakan pendapat bahwa prinsipprinsip organisasi meliputi :
Prinsip bahwa organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas Prinsip skala hirarki
Prinsip kesatuan perintah
Prinsip pendelegasian wewenang Prinsip pertanggungjawaban Prinsip pembagian pekerjaan Prinsip rentang pengendalian Prinsip fungsional Prinsip pemisahan Prinsip keseimbangan Prinsip fleksibilitas Prinsip kepemimpinan. e) Manfaat pengorganisasian
Pengorganisasian bermanfaat sebagai berikut:
Dapat lebih mempertegas hubungan antara anggota satu dengan yang lain Setiap anggota dapat mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung
jawab
Setiap anggota organisasi dapat mengetahui apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan posisinya dalam struktur organisasi
Dapat dilaksanakan pendelegasian wewenang dalam organisasi secara tegas, sehingga setiap anggota mempunyai kesempatan yang sama untuk berkembang
Akan tercipta pola hubungan yang baik antar anggota organisasi, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan dengan mudah.
15 D. Actuating (Pelaksanaan)
Pelaksanaan merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa, hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan bersama Terry (1993:62).
E. Controlling (Pengawasan)
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat utk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
a) Tahap-tahap Pengawasan
Tahap-tahap pengawasan terdiri atas: Penentuan standar;
Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan; Pengukuran pelaksanaan kegiatan;
Pembanding pelaksanaan dengan standar dan analisa Penyimpangan; dan
Pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan. b) Tipe-tipe Pengawasan
Feedforward Control dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah dan penyimpangan dari standar tujuan dan memungkinkan koreksi sebelum suatu kegiatan tertentu diselesaikan.
Concurrent Control merupakan proses dalam aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu sebelum suatu kegiatan dilanjutkan atau untuk menjamin ketepatan pelaksanaan suatu kegiatan.
Feedback Control mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah dilaksanakan.
16 3.2 Analisis SWOT
Analisa SWOT (SWOT Analysis) adalah suatu metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang menjadi kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threats) yang mungkin terjadi dalam mencapai suatu tujuan dari kegiatan proyek/kegiatan usaha atau institusi/lembaga dalam skala yang lebih luas. Untuk keperluan tersebut diperlukan kajian dari aspek lingkungan baik yang berasal dari lingkungan internal maupun eskternal yang mempengaruhi pola strategi institusi/lembaga dalam mencapai tujuan.
Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini, metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy. Metode SWOT pertama kali digunakan oleh Albert Humphrey yang melakukan penelitian di Stamford University pada tahun 1960-1970 dengan analisa perusahaan yang bersumber dalam Fortune 500. Meskipun demikian, jika ditarik lebih ke belakang analisa ini telah ada sejak tahun 1920-an sebagai bagian dari Harvard Policy Model yang dikembangkan di Harvard Business School. Namun pada saat pertama kali digunakan terdapat beberapa kelemahan utama di antaranya analisa yang dibuat masih bersifat deskripstif dan belum/tidak menghubungkan dengan strategi-strategi yang mungkin bisa dikembangkan dari analisa kekuatan-kelemahan yang telah dilakukan.
17 Analisis SWOT merupakan bagian dari proses perencanaan. Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses perencanaan tersebut, suatu institusi membutuhkan penilaian mengenai kondisi saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan institusi. Dengan analisa SWOT akan didapatkan karakteristik dari kekuatan utama, kekuatan tambahan, faktor netral, kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yang terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan, yaitu :
1. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi.
2. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang.
3. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada.
4. Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang, dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan.
A. Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT
Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT, secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan. Faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman.
a) Strength; faktor internal yang mendukung perusahaan dalam mencapai tujuannya. Faktor pendukung dapat berupa sumber daya, keahlian, atau kelebihan lain yang mungkin diperoleh berkat sumber keuangan, citra, keunggulan di pasar, serta hubungan baik antara buyer dengan supplier. b) Weakness; faktor internal yang menghambat perusahaan dalam mencapai
18 kurangnya sumber keuangan, kemampuan mengelola, keahlian pemasaran dan citra perusahaan.
c) Opportunity; faktor eksternal yang mendukung perusahaan dalam mencapai tujuannya. Faktor eksternal yang mendukung dalam pencapaian tujuan dapat berupa perubahan kebijakan, perubahan persaingan, perubahan teknologi dan perkembangan hubungan supplier dan buyer.
d) Threat; faktor eksternal yang menghambat perusahaan dalam mencapai tujuannya. Faktor eksternal yang menghambat perusahaan dapat berupa masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, meningkatnya bargaining power daripada supplier dan buyer utama, perubahan teknologi serta kebijakan baru.
Kekuatan dan Kelemahan. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya, misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama, maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Sehingga sama dengan kekuatan, tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. Peluang dan Ancaman. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility, sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan :
a) Low, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapaiannya juga kecil.
b) Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya.
19 c) Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang
tercapaianya besar.
Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Sehingga dapat dikatagorikan :
a) Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi.
b) Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil
c) Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya.
Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : a) Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity
yang besar dan major threats yang kecil
b) Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama
c) Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat d) Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high
threats.
Tujuan penetapan visi antara lain adalah : a) mencerminkan apa yang akan dicapai
b) memberikan arah dan fokus strategi yang jelas
c) menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategik d) memiliki orientasi terhadap masa depan.
Meskipun sifatnya adalah impian, visi harus memenuhi kriteria di antaranya adalah a) Dapat dibayangkan oleh seluruh anggota organisasi
b) Mengandung nilai yang diinginkan oleh anggota organisasi c) Memungkinkan untuk dicapai
d) Terfokus pada efisiensi, efektivitas dan ekonomis
e) Berwawasan jangka panjang tetapi tidak mengabaikan perkembangan zaman f) Dapat dikomunikasikan dan dimengerti oleh seluruh anggota organisasi.
20 Dari visi akan dituangkan cara yang digunakan institusi dalam mencapai visi. Secara konseptual cara tersebut akan tertuang dalam misi dan secara aplikatif akan terlihat dalam strategi.
B. Metode Survey
Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:
Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kualitatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi.
Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berkut:
1. Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden membrikan preferensi opini terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang.
2. Penilaian urgensi. Di sini responden diminta untuk menilai tingkat urgensi faktor tersebut untuk ditangani. Penilaian ini berhubungan dengan skala prioritas dalam menyelesaikan persoalan-persoalan pembangunan yang tercermin melalui faktor-faktor yang dinilai.
Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman (dari analisa eksternal).
1. Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan ”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa eksternal.
21 2. Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-peluang (W-O) dan kelemahan-kekuatan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT.
3. Membuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran. Prioritas strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT_ ST_ WO_ SO.
C. Fungsi SWOT
Menurut Ferrel dan Harline (2005), fungsi dari Analisis SWOT adalah untuk mendapatkan informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dalam pokok persoalan internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok persoalan eksternal (peluang dan ancaman).
Analisis SWOT tersebut akan menjelaskan apakah informasi tersebut berindikasi sesuatu yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya atau memberikan indikasi bahwa terdapat rintangan yang harus dihadapi atau diminimalkan untuk memenuhi pemasukan yang diinginkan.
Analisis SWOT dapat digunakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan analisis dalam usaha penetapan strategi. Umumnya yang sering digunakan adalah sebagai kerangka / panduan sistematis dalam diskusi untuk membahas kondisi altenatif dasar yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan.
22 Korelasi Antara Kekuatan Dan Kelemahan Dengan Peluang Dan
Ancaman. KONDISI INTERNAL Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses) K ek ua tan 1 ……. Kek ua tan N K ek ua tan 1 …. . K ek ua tan N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 K O N D IS I E K S TE R N A L Peluang (Opportunuties) Peluang 1 xxx ………… xx Peluang N X XXX Ancaman (Threats) Ancaman 1 xxx xxx ………. Xxx Ancaman N xxx KETERANGAN :
1. Narasi “Peluang 1”,”…”dan “Peluang n” diganti dengan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh institusi.
2. Narasi “Ancaman 1”,”…”dan”Ancaman n” diganti dengan ancaman yang harus dihadapi oleh institusi.
3. Narasi “Kekuatan 1”,”…”dan “kekuatan n” diganti dengan kekuatan yang dimiliki institusi 4. Narasi “Kelemahan” 1”,”…”dan”Kelemahan n”diganti dengan kelemahan yang dimiliki
oleh institusi.
5. Kolom 4 s/d 9 diisi dengan : xxx atau xx atau x, yang menunjukkan tingkat korelasi antara kekuatan dan kelemahan tersebut dengan peluang dan ancaman xxx = sangat terkait dan x = kurang/sedikit terkait.
23
1
4
8
6
5
2
3
7
Tingkat korelasi harus dilihat dari 2 sisi/arah, baik dari sisi kondisi internal maupun dari sisi kondisi eksternal. Tingkat korelasi dilihat dari : (1) adanya ketergantungan satu dengan lainnya, (2) adanya keterkaitan satu dengan lainnya.
Setelah table 4 selesai disusun, maka perlu dilakukan analisa lagi untuk identifikasi program-program yang dapat diusulkan untuk di impementasikan.untuk itu diperlukan pembuatan table 5.
Program2 Atau Strategi Yang Dapat Direncanakan Untuk Pengembangan Institusi. KONDISI INTERNAL Kekuatan (Strengths) Kelemahan (Weaknesses) Kekuatan ……….. Kekuatan N Kekuatan 1 ……… Kelemahan N K O N D IS I E K S TE R N A L Peluang (Opportunities) Peluang 1 ……… Peluang N Ancaman (Threats) Ancaman 1 ……… Ancaman N KETERANGAN
A. Kotak Nomor 1,diisi dengan peluang yang dapat dimanfaatkan oleh institusi. B. Kotak nomor 2, diisi dengan ancaman yang dihadapi oleh oleh institusi C. Kotak nomor 3, diisi dengan ancaman yang dimiliki oleh institusi
D. Kotak nomor 4, diisi dengan kelemahan yang dihadapi oleh oleh institusi.
E. Kotak nomor 5, diisi strategi yang dipresentasikan dalam bentuk program2 pengembangan yang dapat dipakai memanfaatkan peluang dengan mendaya gunakan kekuatan yang dimiliki.
24 F. Kotak nomor 6, diisi strategi yang dipresentasikan dalam bentuk program2 pengembangan yang dapat dipakai untuk mengurangi kelemahan dengan melihat peluang yang ada.
G. Kotak nomor 7, diisi strategi yang dipresentasikan dalam bentuk program2 pengembangan yang dapat dipakai untuk mengurangi dan mengantisipasi ancaman dengan mendaya gunakan kekuatan yang dimiliki.
H. Kotak nomor 8, diisi strategi yang dipresentasikan dalam bentuk program2 pengembangan yang dapat dipakai untuk mengurangi kelemahan dan ancaman yang dihadapi.
I. Pencantuman program2 pengembangan pada kotak 5,6,7 dan 8, harus diurutkan berdasarkan prioritas.
3.3 Konsep MPKP A. Pengetian
Model praktik keperawatan profesional adalah diskripsi atau gambaran dari praktik keperawatan yang nyata dan akurat berdasarkan kepada filosofi, konsep dan teori keperawatan.Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik keperawatan profesional (MPKP).
B. Tujuan Model Keperawatan
1. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
2. Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawata.
3. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan. 4. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan keputusan. 5. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi
setiap anggota tim keperawatan. C. Komponen MPKP
Ada lima komponen MPKP : 1. Nilai professional
2. Pendekatan manajemen
3. Metode pemberian asuhan keperawatan 4. Hubungan professional
25 D. Macam Metode Penugasan Dalam Keperawatan
Dalam pelaksanaan praktek keperawatan, akan selalu menggunakan salah satu metode pendekatan di bawah ini :
1. Metode fungsional.
Yaitu pengorganisasian tugas pelayanan keperawatan yang didasarkan kepada pembagian tugas menurut jenis pekerjaan yang dilakukan. Metode ini dibagi menjadi beberapa bagian dan tenaga ditugaskan pada bagian tersebut secara umum, sebagai berikut :
a. Kepala Ruangan, tugasnya :
Merencanakan pekeriaan, menentukan kebutuhan perawatan pasein, membuat penugasan, melakulan supervisi, menerima instruksi dokter. b. Perawat staf, tugasnya :
- Melakukan askep langsung pada pasien
- Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga keperawatan
c. Perawat Pelaksana, tugasnya :
Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang, pasein dalam masa pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL).
d. Pembantu Perawat, tugasnya :
Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk mandi, menbenahi tempat tidur, dan membagikan alat tenun bersih.
e. Tenaga Admionistrasi ruangan, tugasnya :
Menjawab telpon, menyampaikan pesan, memberi informasi, mengerjakan pekerjaan administrasi ruangan, mencatat pasien masuk dan pulang, membuat duplikat rostertena ruangan, membuat permintaan lab untuk obat-obatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala ruangan.
Kerugian metode fungsional:
- Pasien mendapat banyak perawat.
- Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan - Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan. - Pelayanan terputus-putus
- Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai Kelebihan dari metode fungsional : - Sederhana
- Efisien.
26 - Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai
tugas.
- Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana.
- Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staff atau peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.
Contoh metode fungsional
Perawat A tugas menyutik, perawat B tugasnya mengukur suhu badan klien. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien
2. Metode penugasan pasien/metode kasus
Yaitu pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan untuk satu atau beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas atau jaga selama periode waktu tertentu sampai klien pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan klien. Dalam metode ini staf perawat ditugaskan oleh kepala ruangan untuk memberi asuhan langsung kepada pasien yang ditugaskan contohnya di ruang isolasi dan ICU. Kekurangan metode kasus :
- Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara menyeluruh
- Membutuhkan banyak tenaga.
- Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan.
- Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penaggung jawab klien bertugas.
Kelebihan metode kasus:
- Kebutuhan pasien terpenuhi. - Pasien merasa puas.
- Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat. - Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai. 3. Metode penugasan tim
Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta
27 memiliki pengetahuan dalam bidangnya.Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien. Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.
Ketenagaan dari tim ini terdiri dari : - Ketua tim
- Pelakaana perawatan - Pembantu perawatan
Adapun tujuan dari perawatan tim adalah :
memberikan asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia.
Kelebihan metode tim:
- Saling memberi pengalaman antar sesama tim. - Pasien dilayani secara komfrehesif
- Terciptanya kaderisasi kepemimpinan - Tercipta kerja sama yang baik .
- Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal
- Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.
Kekurangan metode tim:
- Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya.
- Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat.
- Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
28 4. Metode Perawatan Primer
Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat. Tugas perawat primer adalah :
- Menerima pasien - Mengkaji kebutuhan
- Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi. - Mengkoordinasi pelayanan
- Menerima dan menyesuaikan rencana - menyiapkan penyuluhan pulang Konsep dasar :
- Ada tanggung jawab dan tanggung gugat - Ada otonomi
- Ada keterlibatan pasien dan keluarganya Ketenagaan :
- Setiap perawat primer adalah perawat bed. side.
- Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat - Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.
- Perawat profesional sebagai primer d.an perawat non profesional sebagai asisten.
Kepala bangsal :
- Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer - Orientasi dan merencanaka karyawan baru.
- Menyusun jadwal dinas
- Memberi penugasan pada perawat asisten. Kelebihan dari metode perawat primer:
- Mendorong kemandirian perawat.
- Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat - Berkomunikasi langsung dengan Dokter
- Perawatan adalah perawatan komfrehensif
- Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.
- Memberikan kepuasan kerja bagi perawat
- Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan.
29 Kelemahan dari metode perawat primer:
- Perlu kualitas dan
- kuantitas tenaga perawat,
- Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional. - Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain. 5. Metode Modul (Distrik)
Yaitu metode gabungan antara Metode penugasan tim dengan Metode perawatan primer. Metode ini menugaskan sekelompok perawat merawat pasien dari datang sampai pulang.
Keuntungan dan Kerugian
Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode perawat primer. Semua metode diatas dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi ruangan. Jumlah staf yang ada harus berimbang sesuai dengan yang telah dibahas pembicaraan yang sebelumnya.
E. Kelebihan Dan Kekurangan Dari Model Praktik Keperawatan Profesional Kelebihan model praktek keperawatan professional :
a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh. b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
c. Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan pada anggota tim
d. bila diimplementasikan di RS dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan
e. ruang MPKP merupakan lahan praktek yang baik untuk proses belajar f. ruang rawat MPKP sangat menunjang program pendidikan Nursing Kekurangan model praktek keperawatan professional :
a. Komunikasi antar anggota tim terutama dalam bentuk konferensi tim, membutuhkan waktu dimana sulit melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.
b. Akuntabilitas pada tim. c. Konsep beban kerja tinggi d. pendelegasian tugas terbatas
e. kelanjutan keperawatan klien hanya sebagian selama perawat penanggung jawab klien tugas
F. Karakteristik MPKP
1. Penetapan jumlah tenaga keperawatan 2. Penetapan jenis tenaga keperawatan
30 4. Penggunaan metode modifikasi keperawatan primer
G. Perencanaan Dalam MPKP
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang hal-hal yang akan dikerjakan dimasa mendatang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990). Perencanaan dapat juga diartikan sebagai suatu rincian kegiatan tentang apa, bagaimana masing-masing dan dimana kegiatan akan dilaksanakan.
Tanpa ada proses perencanaan, tidak akan ada kejelasan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh staff untuk mencapai tujuan orgnisasi. Melalui perencanaan akan dapat ditetapkan tugas-tugas staff, dan dengan tugas-tugas ini seorang pimpinan akan mempunyai pedoman untuk melaksanakan supervisi dan menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staff untuk menjalankan tugas-tugasnya. Perencanaan adalah suatu tugas prinsip dari semua manajer dalam divisi keperawatan. Suatu rencana yang baik harus berdasarkan pada sasaran, bersifat sederhana, mempunyai standart, fleksibel, seimbang dan menggunakan sumber-sumber yang tersedia lebih dulu. Dalam keperawatan, perencanaan membantu untuk menjamin bahwa klien akan menerima pelayanan keperawatan yang mereka ingini dan butuhkan dengan memuaskan.
Jenis-jenis perencanaan terdiri dari rencana jangka panjang, rencana jangka menengah dan rencana jangka pendek. Rencana jangka panjang disebut juga perencanaan strategis yang disusun untuk tiga sampai sepuluh tahun. Perencanaan jangka menengah dibuat dan berlaku satu sampai dengan lima tahun dan perencanaan jangka pendek dibuat satu jam sampai dengan satu tahun.
Perencanaan diruang MPKP adalah kegiatan perencanaan yang melibatkan seluruh perawat ruang MPKP mulai dari kepala ruangan, ketua tim dan anggota tim/perawat pelaksana. Perencanaan yang disusun oleh perawat yang terlihat di ruang MPKP disesuaikan dengan peran dan fungsi masing-masing.
1.
Kegiatan Perencanaan di ruang MPKPKegiatan di ruang MPKP meliputi perumusan visi, misi, filosofi, kebijakan dan standar kerja.
a. Perumusan visi, misi, filosofi,
Kegiatan di ruang MPKP meliputi perumusan filosofi, visi, misi, dan tujuan.
31 Filosofi adalah statemen yang mencerminkan nilai-nilai, visi, dan misi dari suatu organisasi. Filosofi memuat seperangkat nilai-nilai yang mengakar dan menjadi rujukan semua kegiatan dalam organisasi dan menjadi landasan dan arahan seluruh perencanaan jangka panjang. Pernyataan tertulis dari filosofi menunjukkan nilai-nilai dan keyakinan yang menyangkut administrasi keperawatan dalam institusi atau organisasi.
Nilai-nilai dalam filosofi dapat lebih dari satu yang mengemukakan pandangan praktisi dan manajer perawat tentang apa yang mereka yakini dari manajemen dan praktek keperawatan. Idealnya seluruh personal pegawai keperawatan harus berpartisipasi dalam menyeleksi suatu teori atau kerangka kerja konseptual dan filosofi untuk kepentingan praktek. Setelah hal ini disepakatai, para manajer dan seluruh spsesialis keperawatan mulai menyusun suatu pernyataan visi dan misi untuk mengarahkan dan mengintegrasikan aktifitas-aktifitas kelompok. Pernyataan filosofi adalah abstrak dan terdiri dari nilai-nilai kemanusiaan.
2) Visi
Langkah pertama dalam merencanakan manajemen keperawatan ada membuat kesepakatan terhadap visi dan misi yang akan dijadikan sebagai suatu hal yang dicita-citakan oleh organisasi. statemen visi dirancang untuk mengilhami dan memotivasi karyawan untuk mencapai suatu kondisi yang diinginkan.
Visi ini dirumuskan bersama oleh kepala ruang dengan memperhatikan masukan-masukan dari stakeholders dan visi seharusnya ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan ipteks dan masyarakat. Visi diruangan diturunkan dari visi rumah sakit yang merupakan pengembangan yang disesuaikan dengan ruang masing-masing.
3) Misi
Misi seharusnya memberikan arahan dalam mewujudkan visi dan dinyatakan dalam tujuan-tujuan yang dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu yang mengandung pokok pokok bentuk kegiatan utama yang dapat menjadi landasan hubungan kerja serta pengalokasian sumberdaya ke segenap pihak yang berkepentingan. Misi seharusnya
32 menjadi tolok ukur dalam evaluasi di seluruh unit kerja yang bisa di revisi secara berkala sesuai dengan perkembangan ipteks dan kebutuhan masyarakat. Misi bagian perawat harus berasal dari misi lembaga keseluruhan dan untuk memutuskan misi diruangan keperawatan para perencana harus terlebih dahulu menilai, lingkungan internal dan external bagian dari keperawatan. Untuk mengetahui bahwa misi yang dibuat realistic para perencana harus mengetahui ukuran dan karakter wilayah jangkauan wilayah, masalah-masalah sosial dan kesehatan yang umum serta kelebihan dan kekurangan para anggota staf keperawatan.
Setelah misi ditentukan para pimpinan keperawatan dan staff harus mengemukakan suatu pernyataan keyakinan untuk mendukung serta mengilhami aktifitas-aktifitas keperawatan. Pernyataan ini mencakup keyakinan para anggota mengenai sifat kehidupan, kesehatan, penyakit, lingkungan, pelayanan keperawatan dan hubungan antara perawat, pasien dan keluarga. Waterman (1982), mengemukakan bahwa nilai-nilai yang tersebar diantara karyawan menpunyai pengaruh yang lebih besar terhadap keberhasilan organisasi daripada melaksanakan struktur organisasi, sumber-sumber ekonomi, atau kemampuan teknologi.
4) Tujuan
Tujuan adalah pernyataan konkret dan spesifik dimana misi akan dicapai dan filosofi atau keyakinan berlangsung. Tujuan harus hidup yang memuat pernyataan konkret yang menjadi standar agar kinerja dapat diukur. Tujuan dalam keperawatan ini diperlukan dalam semua area dimana pelayanan keperawatan berlangsung. Tujuan memberikan abonement dari produk perawatan kesehatan yang diperlukan oleh pasien.
Setelah filosofi, visi dan misi bagian keperawatan dimunculkan, tujuan departemen harus dikembangkan untuk memenuhi visi dan misi yang dipilih sesuai dengan keyakinan-keyakinan yang dinyatakan oleh kelompok. Jika semua perawat telah menyetujui maka pernytaan-pernyataan visi, misi ini didistribusikan kesemua karyawan keperawatan dan dipasang disetiap unit keperawatan. Para manajer keperawatan berkewajiban menyebarkan visi dan misi akan dikenal luas untuk meningkatkan kreativitas serta membuat para karyawan terfokus pada upaya-upaya kearah pencapaian visi.
33 Hubungan selanjutnya dalam rantai perencanaan adalah setiap kepala perawat atau coordinator harus mengarahkan para perawat profesionalnya untuk mengembangkan pernyataan tentang filosofi, visi, misi dan tujuan unit keperawatan. Sebagai contoh jika filosofi organisasi mengacu kepada keyakinan agama, maka pernytaan visi, misi dan tujuan juga mencerminkan keyakinan yang sama. Jika visi departemen menyatakan maksud untuk menyiapkan maksud untuk menyiapkan pasien kearah perawatan diri , maka pernyataan visi, misi dan tujuan unit harus jiga menyebutkan maksud-maksud yang sama.
b. Menyusun Kebijakan,
Kebijakan adalah pernyataan yang menjadi acuan organisasi dalam pengambilan keputusan. Analisis kebijakan merupakan nasehat atau bahan pertimbangan pembuat kebijakan yang berisi tentang masalah yang dihadapi, tugas yang mesti dilakukan oleh organisasi yang berkaitan dengan masalah tersebut, dan juga berbagai alternatif kebijakan yang mungkin bisa diambil dengan berbagai penilaiannya berdasarkan tujuan kebijakan. Kebijakan yang disusun didalam ruangan MPKP antara lain adalah kedisiplinan, aturan dinas, rotasi, jenjang karir dan lain-lain.
c. Penyusunan Standart Kinerja,
Salah satu hal penting yang perlu mendapat perhatian ialah perumusan berbagai ketentuan formal yang harus ditaati oleh semua orang dalam organisasi. Secara popular sering dikatakan
bahwa ketentuan formal itu berperan sebagai peraturan permainan yang harus ditaati, Beberapa contoh ketentuan formal adalah standart hasil pekerjaan yang harus dipenuhi, yaitu hasil pekerjaan yang harus dipenuhi baik secara kuantitatif maupun kualitatif dan disiplin organisasi yang merupakan salah satu kewaiban yang harus ditunaikan oleh semua organisasi. Disiplin organisasi menyangkut banyak hal antara lain keterikan pada norma-norma moral danetika, keberadaan ditempat tugas sesuai dengan jam kerja yang berlaku dalam organisasi, kesediakan bekerja lembur apabila diminta, kewajiban melapor kepada atasan apabila seseorang terpaksa mangkir atau sakit, kesediaan ditempatkan. Dimanapun organisasi beroperasi dan dalam hal tertentu disiplin berpekaian.
34 Untuk menetapkan tingkat kinerja karyawan, dibutuhkan penilaian kinerja. Menurut Simamora (2004), semakin jelas standar kinerjanya, makin akurat tingkat penilaian kinerjanya. Masalahnya, baik para penyelia maupun karyawan tidak seluruhnya mengerti apa yang seharusnya mereka kerjakan. Karena bisa jadi, standar kinerja tersebut belum pernah disusun. Oleh karena itu, langkah pertama adalah meninjau standar kinerja yang ada dan menyusun standar yang baru jika diperlukan.
Minimal sebuah standar kinerja, harus berisi dua jenis informasi dasar tentang apa yang harus dilakukan dan seberapa baik harus melakukannya. Standar kinerja merupakan identifikasi tugas pekerjaan, kewajiban, dan elemen kritis yang menggambarkan apa yang harus dilakukan. Setiap standar/kriteria harus dinyatakan secara cukup jelas sehingga manajer dan bawahan atau kelompok kerja mengetahui apa yang diharapkan dan apakah telah tercapai atau tidak. Standar haruslah dinyatakan secara tertulis dalam upaya menggambarkan kinerja yang sungguh-sungguh. Standart yang harus ada di ruang MPKP antara lain adalah SAK (standar asuhan keperawatan), SOP (standar operasional prosedur) dan Protap (prosedur tetap).
d. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit menjadi faktor penting untuk meningkatkan pelayanan sekaligus penghematan bagi rumah sakit dan kini telah menjadi salah satu standar mutu sebuah "rumah sakit". Otomatisasi/komputerisasi sistim pelayanan dan sistim informasi manajemen merupakan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah ini. Banyak lembaga kesehatan dan rumah sakit telah mendapat manfaat dari peralatan canggih ini. SIM Rumah Sakit adalah solusi yang tepat untuk rumah sakit anda.
Sistem Informasi Manajemen merupakan prosedur pemrosesan data berdasarkan teknologi informasi dan diintegrasikan dengan prosedur manual dan prosedur yang lain untuk menghasilkan informasi yang tepat waktu dan efektif untuk mendukung proses pengambilan keputusan manajemen.
Sistem Informasi Manajemen saat ini merupakan sumber daya utama, yang mempunyai nilai strategis dan mempunyai peranan yang sangat penting sebagai daya saing serta kompetensi utama sebuah organisasi dalam menyongsong era Informasi ini.
35 H. Jenis Perencanaan yang diterapkan di MPKP
Jenis perencanaan yang diterapkan diruang MPKP adalah perencanaan jangka pendek yang terdiri dari rencana harian, bulanan dan tahunan.
1. Rencana Harian
Rencana harian adalah rencana aktifitas pada tiap shift yang dilakukan oleh perawat asosiet/perawat pelaksana, perawat primer/ketua tim dan kepala ruangan. Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan dilengkapi pada saat operan dan pre conference.
a. Rencana harian kepala ruangan
Isi kegiatan harian kepala ruangan meliputi semua kegiatan yang dilakukan oleh seluruh SDM yang ada di ruangan dalam rangka menghasilkan pelayanan asuhan keperawatan yang berkualitas. Kepala ruangan harus mengetahui kebutuhan ruangan dan mempunyai hubungan keluar dengan unit yang terkait untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Demikian pula dengan asuhan keperawatan, kepala ruangan sebagai narasumber utama atau konsultan untuk menjamin terlaksananya asuhan keperawatan pada semua tim di ruangan.
Berikut isi rencana harian kepala ruangan meliputi : b. Asuhan keperawatan
c. Supervisi Katim dan perawat pelaksana d. Supervisi tenaga selain perawat
e. Kerja sama dengan unit yang terkait b. Rencana Harian Ketua Tim
Isi rencana harian ketua tim antara lain:
a. Penyelenggaraan asuhan keperawatan pada pasien di tim nya
b. Melakukan supervisi perawat pelaksana untuk menilai kompetensi secara langsung dan tidak langsung, serta on the job tranning yang dirancang. c. Kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya.
Ketua tim sebaiknya hanya dinas pagi, karena pagi hari banyak kegiatan atau tindakan yang dilakukan dan merencanakan kegiatan sore dan malam. c. Rencana perawat pelaksana
36 Isi rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan untuk sejumlah klien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana harian perawat pelaksana shift sore dan malam agak berbeda jika hanya satu orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan sebgai ketua tim dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference perawat pelaksana akan membuat rencana yang ditunjukan pada tindakan keperawatan untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana catatan harian perawat pelaksana/assosiet pada shift sore dan malam agak berbeda jika hanya 1 orang dalam satu tim. Perawat tersebut akan berperan sebagai ketua tim PA/PP, sehingga tidak ada kegiatan pre dan post conference.
2. Rencana Bulanan
Ketua tim dan kepala ruangan membuat rencana bulanan berhubungan dengan peningkatan asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan.
a. Rencana Bulanan Kepala Ruangan
Setiap akhir bulan kepala ruangan melakukan evaluasi hasil ke empat pilar atau nilai MPKP dan berdasarkan hasil evaluasi tersebut, kepala ruangan akan membuat rencana tindak lanjut dalam rangka peningkatan kualitas hasil. Dalam fungsi perencanaan, kepala ruangan membuat laporan tentang evaluasi rencana harian yang dibuat oleh ketua tim dan perawat pelaksana. Kegiatan yang termasuk rencana bulanan karu
- Membuat jadual dan memimpin case conference
- Membuat jadual dan memimpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga - Membuat jadual dinas
- Membuat jadual petugas TAK
- Membuat jadual memimpin rapat bulanan perawat - Membuat jadual dan memimpin rapat tim kesehatan
- Membuat jadual supervisi dan penilaian kinerja ketua tim dan perawat pelaksana
- Melakukan audit dokumentasi - Membuat laporan bulanan
37 b. Rencana Bulanan Ketua Tim
Setiap akhir bulan ketua tim melakukan evaluasi tentang keberhasilan kegiatan yang dilakukan didalam timnya yaitu askep dan kinerja perawat pelaksana. Berdasarkan hasil tersebut, dibuat rencana tindak lanjut untuk perbaikan pada bulan berikutnya. Ketua tim membuat laporan evaluasi rencana kegiatan harian asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat pelaksana dan melaporkan hasil audit asuhan keperawatan serta melakukan perbaikan asuhan keperawatan dengan merencanakan diskusi langsung.Kegiatan-kegiatan yang mencakup rencana bulanan katim adalah: - Mempersentasikan kasus dalam case conference
- Memimpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga - Melakukan supervisi perawat pelaksana
c. Rencana tahunan
Setiap akhir tahun kepala ruang melakukan evaluasi hasil kegiatan dalam satu tahun yang dijadikan sebagai acuan rencana tindak lanjut serta penyusunan rencana tahunan berikutnya.
Rencana kegiatan tahunan mencakup :
a) Menyusun laporan tahunan yang berisi tentang kinerja MPKP baik proses kegiatan (aktifitas yang dilakukan dari 4 pilar praktek profesioanal) serta evaluasi mutu pelayanan
b) Melaksanakan rotasi tim untuk penyegaran anggota masing-masing tim c) Penyegaran terkait dengan materi MPKP khusus kegiatan yang masih rendah pencapaianya yang bertujuan mempertahankan kinerja yang telah dicapai MPKP bahkan meningkatkanya dimasa mendatang
d) Pengembangan SDM dalam bentuk rekomendasi peningkatan jenjang karir perawat (pelaksana menjadi katim, katim menjadi karu), rekomendasi untuk melajutkan pendidikan formal, membuat jadual untuk mengikuti pelatihan-pelatihan.
I. Pengorganisasian
Pengorganisasin adalah rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkanya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi dengan
38 mengintegrasikan semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh sebuah organisasi. Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah rumah sakit, puskesmas, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan dan lain sebagainya. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Dalam sistem kerjasama secara jelas diatur siapa menjalankan apa, siapa bertanggung jawab atas siapa, arus komunikasi dan memfokuskan sumber daya pada tujuan. Karakteristik sistem kerjasama dapat dilihat, antara lain 1) Ada komunikasi antara orang yang bekerjasama; 2) Individu dalam organisasi tersebut mempunyai kemampuan untuk bekerjasama; 3) Kerjasama itu ditujukan untuk mencapai tujuan.
Pengorganisasian sebagai proses membagi kerja ke dalam tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya, dan mengalokasikan sumber daya manusia, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi. Apabila serangkaian kegiatan telah disusun dalam rangka mencapai tujuan organisasi, maka untuk pelaksanaan kegiatan tersebut harus diorganisasikan. Agar organisasi dapat berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan secara efektif, maka dalam fungsi organisasi harus terlihat pembagian tugas dan tanggung jawab orang-orang atau karyawan yang akan melakukan kegiatan masing-masing.
Pengorganisasian diruangan perawatan MPKP menggunakan pendekatan sistem/metode antara lain adalah pembuatan struktur organisasi, daftar dinas dan daftar pasien.
1. Struktur organisasi
Pengorganisasian diruangan MPKP menggunakan pendekatan sistem/metode penugasan tim. SDM perawat diorganisasikan dengan menggunakan metode penugasan perawat primer dan tim keperawatan yang dimodifikasi. Perawat dibagi dalam tim sesuai dengan jumlah pasien diruangan. Jumlah pasien untuk tiap tim 8-10 orang, dan jumlah perawat antara 6-10. Struktur organisasi Ruang MPKP menggunakan sistem penugasan Tim-primer keperawatan. Ruang MPKP dipimpin oleh kepala