BAB II
LANDASAN TEORI
II.1Penerimaan Diri II.1.A Definisi
Germer (2009) menyatakan bahwa orang yang menerima dirinya adalah orang yang sadar bahwa dirinya mengalami sebuah sensasi, perasaan, maupun pikiran yang ada pada dirinya dari waktu ke waktu. Orang yang menerima dirinya juga mampu merangkul apapun yang muncul atau ada dalam dirinya, menerima dari waktu ke waktu sebagaimana yang ada pada dirinya. Definisi menurut Hurlock (1974) yang menyatakan bahwa penerimaan diri adalah tingkat dimana individu memiliki kesadaran mengenai karakteristik dirinya, mampu dan mau hidup dengan kondisi itu. Jersild dalam Hurlock (1974) juga menjelaskan mengenai penerimaan diri:
“The self-accepting person has a realistic appraisal of his
resorces combined with appreciation of his own worth ; assurance about standards and convictions of his own without being a slave to the opinions of others; and realistic assessment of limitations without irrational self-reaproach. Self-accepting people recognize their assets and are free to draw upon them even if they are not all that could be desired. They also recognize their
shortcomings without needlessly blaming themselves” (Jersild,
dalam Hurlock 1974, hal. 434)
Berdasarkan definisi di atas, maka Jersild menyimpulkan bahwa orang-orang yang menerima dirinya memiliki penilaian realistis terhadap sumber daya yang dimilikinya yang dikombinasikan dengan penghargaan atas dirinya sendiri; yakin akan standar dan diri sendiri tanpa harus dikendalikan oleh orang lain; dan memiliki penilaian realistis mengenai keterbatasan tanpa harus mencela diri sendiri. Orang yang menerima dirinya menyadari aset-aset yang dimiliki dan bebas untuk menggunakannya bahkan jika aset tersebut tidak diinginkan. Mereka juga mengetahui kelemahannya tanpa perlu menyalahkan dirinya.
Dari pernyataan beberapa tokoh di atas mengenai penerimaan diri, maka dapat disimpulkan bahwa penerimaan diri adalah suatu kondisi di mana individu sadar akan segala yang dimilikinya dan bersedia untuk hidup dari waktu ke waktu dengan apa yang dimilikinya tersebut baik itu berupa kelebihan ataupun kekurangan. Individu yang menerima dirinya akan merasakan kenyamanan pada apa yang dia miliki.
II.1.B Tahap Penerimaan Diri
Germer (2009) menyatakan bahwa proses penerimaan diri sebagai bentuk keadaan melawan ketidaknyamanan terjadi dalam tahapan-tahapan; ada pelunakan progresif, atau tidak ada perlawanan, untuk menghadapi penderitaan. Proses awal yang terjadi adalah rasa kebencian,
selanjutnya proses dimulai dengan keingintahuan akan masalah, dan jika hal-hal tersebut berjalan dengan baik maka akan berakhir dengan merangkul apapun yang terjadi dalam hidup seorang individu. Proses ini biasanya berlangsung lama dan alami. Individu tidak dapat maju ketahapan selanjutnya jika ia tidak merasa sepenuhnya nyaman pada satu tahapan. Tahapan-tahapan penerimaan diri tersebut adalah sebagai berikut.
Tahap 1: Aversion ─ kebencian/keengganan, menghindari, resisten Reaksi alami pada perasaan yang membuat tidak nyaman adalah kebencian atau keengganan. Kebencian/keengganan ini juga dapat membentuk keterikatan mental atau perenungan─mencoba mencari tahu bagaimana cara untuk menghilangkan perasaan tersebut.
Tahap 2: Curiosity ─ melawan rasa tidak nyaman dengan perhatian Pada tahapan ini individu mulai memiliki pertanyaan-pertanyaan pada hal-hal yang dirasa perlu untuk diperhatikan. Pertanyaan-pertanyaan yang biasanya muncul adalah “Perasaan apa ini?” “Apa artinya perasaan ini?” “Kapan perasaan ini terjadi?”.
Tahap 3: Tolerance ─ menanggung derita dengan aman
Toleransi berarti menanggung rasa sakit emosional yang dirasakan, tetapi individu tetap melawannya dan berharap perasaan tersebut akan segera hilang.
Pada tahapan ini individu membiarkan perasaan tidak nyamannya datang dan pergi.
Tahap 5: Friendship─merangkul, melihat nilai-nilai yang tersembunyi Individu melihat nilai-nilai yang ada pada waktu keadaan sulit menimpanya. Hala ini merupakan tahapan terakhir dalam penerimaan diri.
II.1.C Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Diri
Hurlock (1974) dalam buku Personality Development
mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri, seperti:
1. Pemahaman Diri
Pemahaman diri seseorang tidak ditentukan oleh kapasitas intelektualnya, tapi melalui kesempatan untuk menggali potensi dalam dirinya. Individu harus memiliki kesempatan untuk mencoba kemampuannya tanpa harus dihalangi oleh orang lain.
Pemahaman dan penerimaan diri berhubungan erat. Semakin baik seseorang memahami dirinya, semakin dapat ia menerima dirinya, dan sebaliknya. Kurangnya pemahaman diri dapat mengarah kepada kesenjangan antara konsep diri yang ideal dan gambaran yang ia terima melalui kontak sosial, yang membentuk dasar konsep diri.
2. Harapan yang Realistik
Ketika harapan seseorang untuk sebuah pencapaian bersifat realistis, maka kinerjanya akan meningkat sesuai dengan harapannya.
Hal ini akan berkontribusi kepada kepuasan diri yang sangat penting dalam penerimaan diri. Harapan dapat menjadi kenyataan ketika seseorang cukup memahami dirinya sendiri untuk dapat mengenali keterbatasan dan kekuatannya.
3. Tidak Adanya Hambatan di Dalam Lingkungan
Ketidakmampuan seseorang untuk mencapai tujuan hidup yang realistis dapat berasal dari hambatan yang berasal dari lingkungan yang tidak dapat dikendalikan, misalnya seperti diskriminasi ras, jenis kelamin, maupun agama. Ketika hal ini terjadi, seseorang yang mengetahui potensinya akan sulit untuk menerima diri. Ketika lingkungan mendorong seseorang untuk mencapai keberhasilan, maka ia akan puas dengan pencapaian yang membuktikan bahwa harapannya adalah suatu hal yang realistis.
4. Sikap-Sikap Anggota Masyarakat yang Menyenangkan
Seseorang yang mendapatkan sikap yang menyenangkan dari masyarakat lebih dapat menerima dirinya. Tiga hal yang mengarah kepada evaluasi sosial yang menyenangkan adalah tidak adanya prasangka terhadap individu dan anggota keluarganya; memiliki keahlian sosial; dan mau untuk menerima kelompok.
5. Tidak Adanya Gangguan Emosional yang Berat
Stres secara emosional dapat mengarah kepada ketidakseimbangan fisik dan psikologis. Ketidakseimbangan fisik yang diikuti oleh stres emosional dapat membuat seseorang bekerja
dengan kurang efisien, mengakibatkan kelelahan, dan bereaksi secara negatif kepada orang lain.
Tidak adanya stres dapat membuat seseorang melakukan yang terbaik untuk pekerjaannya. Selain itu, seseorang dapat menjadi lebih rileks dan bahagia. Kondisi sepeti ini berkontribusi kepada evaluasi sosial yang baik yang menjadi dasar bagi evaluasi dan penerimaan diri yang baik pula.
6. Pengaruh Keberhasilan
Pengaruh kegagalan dapat mengarah kepada penolakan diri, dan pengaruh kesuksesan dapat mengarah kepada penerimaan diri. Kegagalan yang seringkali dirasakan seseorang akan membuat kesuksesan diartikan lebih bermakna.
7. Identifikasi dengan Orang yang Memiliki Penyesuaian Diri yang Baik
Seseorang yang mengidentifikasikan dirinya dengan orang-orang yang menyesuaikan diri dengan baik dapat mengembangkan sikap yang positif terhadap hidup dan berperilaku yang mengarah kepada penilaian dan penerimaan diri yang baik.
8. Perspektif Diri
Seseorang yang dapat melihat dirinya sama seperti orang lain melihat dirinya memiliki pemahaman diri yang baik dibandingkan dengan seseorang yang perspektif dirinya cenderung sempit dan terdistorsi. Perspektif diri yang baik dapat mendukung penerimaan diri.
9. Pola Asuh di Masa Kecil yang Baik
Inti dari konsep diri yang menentukan penyesuaian diri seseorang di masa depan berawal dari masa kanak-kanak. Pengasuhan secara demokratis mengarah kepada pola kepribadian yang sehat. Selain itu pada pengasuhan ini, peraturan-peraturan yang dijelaskan kepada anak dapat membuat anak dihormati sebagai seorang manusia. Anak akan belajar untuk menghormati dirinya dan bertanggung jawab untuk mengendalikan perilakunya dengan kerangka peraturan yang telah ditetapkan.
10. Konsep Diri yang Stabil
Konsep diri yang stabil merupakan cara seseorang melihat dirinya dengan cara yang sama sepanjang waktu. Konsep diri yang baik mengarah kepada penerimaan diri, sedangkan konsep diri yang buruk mengarah kepada penolakan diri. Jika seseorang mengembangkan kebiasaan untuk menerima dirinya, maka hal itu akan menguatkan konsep diri yang baik sehingga penerimaan diri akan menjadi suatu kebiasaan bagi individu tersebut.
II.1.D Dampak Penerimaan Diri
Penelitian menunjukkan pengaruh yang luas dari penerimaan diri. Hurlock (1974) membagi dampak dari penerimaan diri menjadi dua kelompok besar – terhadap penyesuaian diri dan penyesuaian sosial.
1. Dampak Terhadap Penyesuaian Diri
Orang dengan penerimaan diri mampu mengenali kelebihan maupun kekurangannya. Salah satu karakteristik orang yang penyesuaian dirinya baik adalah ia dapat mengenali dan menekankan kelebihannya terlebih dahulu dibandingkan dengan kekurangannya.
Seseorang dengan penerimaan diri yang baik memiliki kepercayaan diri dan self-esteem yang baik. Ia mau untuk menerima kritikan. Ia bahkan membuat critical self-appraisals untuk membantunya mengenali dan memperbaiki kelemahannya.
Penerimaan diri diikuti dengan personal security. Hal ini mendorong seseorang untuk percaya bahwa ia dapat mengendalikan permasalahan hidup dan bahwa ia diterima oleh orang-orang penting di dalam hidupnya. Orang-orang yang menerima dirinya mampu mengevaluasi diri secara realistis sehingga ia dapat menggunakan kapasitas dirinya secara efektif.
Orang yang dapat menerima dirinya tidak mau menjadi orang lain. Ia puas dengan menjadi dirinya sendiri. Ia akan meningkatkan kualitas dirinya yang baik dan menghilangkan kuailtas diri yang buruk.
2. Dampak Terhadap Penyesuaian Sosial
Penerimaan diri seseorang diikuti oleh penerimaan oleh orang lain. Orang-orang yang mampu menerima dirinya tertarik untuk berhubungan dengan orang lain dan merasa empati – kemampuan
untuk menempatkan diri dalam pemikiran, perasaan, dan tindakan orang lain. Hasilnya, ia akan memiliki penyesuaian sosial yang lebih baik.
Orang-orang yang menerima dirinya memiliki toleransi kepada orang lain, mengabaikan kelemahannya. Toleransi juga sejalan dengan keinginan untuk menolong orang lain. Ia mau untuk membantu orang lain yang memerlukan bantuannya. Secara umum, semakin seseorang dapat menerima dirinya, ia akan lebih diterima orang lain di kehidupan sosial.
II.1.E Ciri-Ciri Orang yang Menerima Dirinya
Ciri-ciri orang yang menerima dirinya menurut Sheere (dalam Cronbach, 1963) adalah :
a. Mempunyai keyakinan akan kemampuannya untuk menghadapi kehidupannya.
b. Menganggap dirinya berharga sebagai seorang manusia yang sederajat dengan orang lain.
c. Berani memikul tanggung jawab terhadap perilakunya. d. Menerima pujian dan celaan secara objektif.
e. Tidak menyalahkan dirinya akan keterbatasan yang dimilikinya ataupun mengingkari kelebihannya.
Berdasarkan beberapa ciri di atas maka dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri orang yang menerima dirinya adalah orang yang merasa dirinya berharga dengan menerima kekurangan dan kelebihan dirinya serta berpikir objektif akan kritikan atau celaan yang diterimanya. Sehingga mempunyai keyakinan untuk menghadapi kehidupannya dengan bertanggung jawab akan setiap perilakunya.
II.2 Tunadaksa II.2.A Definisi
Tunadaksa berasal dari kata “tuna” yang berarti rugi atau kurang, dan “daksa” yang berarti tubuh. Menurut Direktorat Pendidikan Luar Biasa, istilah yang sering digunakan untuk menyebut anak tunadaksa adalah anak yang memiliki cacat fisik, tubuh atau cacat orthopedi. Dalam bahasa asing sering dikenal dengan istilah crippled, physically
handicapped, physically disable, dan sebagainya. Keragaman istilah yang
dikemuakakan untuk menyebutkan tunadaksa tergantung dari alasan para ahli yang menentukan. Meskipun istilah yang dikemukakan berbeda, tapi secara material pada dasarnya memiliki makna yang sama (Pendidikan, 2006).
Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 1980 tentang Usaha Kesejahteraan Sosial Bagi Penderita Cacat menyebutkan bahwa penderita cacat adalah seseorang yang menurut ilmu kedokteran dinyatakan memiliki kelainan fisik dan atau mental yang oleh karenanya dapat
menjadi rintangan atau hambatan bagi dirinya untuk melakukan kegiatan secara selayaknya. Undang-Undang No.4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat pada bagian penjelasan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan cacat fisik adalah kecacatan yang mengakibatkan gangguan pada fungsi tubuh, antara lain gerak tubuh, penglihatan, pendengaran, dan kemampuan berbicara (Raharjo, dalam Wrastari, 2003).
Menurut Mangunson (dalam Suranti, 2008) cacat fisik didefinisikan sebagai ketidakmampuan tubuh seperti keadaan normal. Berdasarkan ketiga definisi di atas, cacat fisik adalah kelainan fisik dan atau mental sehingga timbul rintangan dan hambatan yang mengakibatkan tubuh tidak mampu berfungsi secara normal.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tunadaksa yang sering juga disebut cacat fisik adalah seseorang yang memiliki hambatan fisik yang mengakibatkan munculnya beberapa gangguan pada fungsi tubuh, seperti gerak tubuh ataupun mental yang tidak dapat berfungsi secara normal.
II.2.B Penyebab Tunadaksa
Suhartono (dalam Suranti, 2008) menemukan sebab-sebab cacat fisik sebagai berikut:
1. Cacat sejak lahir karena proses kelahiran individu sudah dalam keadaan cacat.
2. Cacat non bawaan adalah cacat yang dialami individu bukan sejak lahir tetapi terjadi pada masa pertumbuhan yang disebabkan oleh penyakit, kecelakaan dan peperangan.
Menurut Koening (dalam Somantri, 2006), tunadaksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang merupakan keturunan, meliputi:
1. Club-foot (kaki seperti tongkat) 2. Club-hand (tangan seperti tongkat)
3. Polydctylism (jari yang lebih dari lima pada masing-masing tangan atau kaki)
4. Torticolis (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai ke muka) 5. Syndactylism (jari-jari yang berselaput atau menempel satu dengan
yang lainnya)
6. Cretinism (kerdil atau katai)
7. Mycrocepalus (kepala yang kecil, tidak normal)
8. Hydrocepalus (kepala yang besar karena adanya cairan) 9. Herelip (gangguan pada bibir dan mulut)
10.Congenital amputation (bayi yang dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu)
b. Kerusakan pada waktu kelahiran :
1. Erb‟s palys (kerusakan pada syaraf lengan akibat tertekan atau tertarik waktu kelahiran)
2. Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah)
c. Infeksi :
1. Tuberkolosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku)
2. Osteomyelitis (radang di dalam dan di sekeliling sumsum tulang karena bakteri)
3. Poliomyelitis (infeksi virus yang mungkin menyebabkan kelumpuhan)
4. Tuberkolosis pada lutut atau sendi lain
d. Kondisi traumatik :
1. Amputasi (anggota tubuh dibuang akibat kecelakaan) 2. Kecelakaan akibat luka bakar
3. Patah tulang
II.2.C Tunadaksa Akibat Kecelakaan Lalu Lintas
Koening (dalam Somantri, 2006) menyebutkan bahwa salah satu penyebab seorang individu menjadi penyandang tunadaksa adalah dikarenakan kecelakaan, yang mana salah satu bentuk kecelakaan adalah
kecelakaan saat berkendara yang sering dikenal dengan kecelakaan lalu lintas (Baltus, 1983).
Hawari (1996) menyatakan bahwa pada dasarnya cacat fisik karena kecelakaan merupakan sumber stres yang menimbulkan depresi. Orang yang mengalami kecelakaan terkadang dihadapkan pada ketidakpastian mengenai keadaannya, apalagi setelah dia mengetahui keadaan fisiknya yang tidak sesuai dengan harapannya. Keadaan seperti ini bisa menyebabkan depresi sebab dia sendiri belum siap secara mental untuk menerima keadaannya.
II.2.D Reaksi Terhadap Kondisi Tunadaksa
Berbagai reaksi yang timbul pada tunadaksa dipengaruhi oleh berbagai faktor (Hurlock, 1974), yaitu :
a. Usia ketika terjadinya cacat tubuh dapat mempengaruhi reaksi individu mengenai kondisi kecacatannya. Jika cacat tubuh terjadi pada awal kehidupan, biasanya penyesuaian yang terjadi akan sangat baik. b. Reaksi masyarakat cenderung lebih menyenangkan pada cacat tubuh
daripada cacat mental. c. Berat ringannya kecacatan. d. Pengakuan adanya perbedaan.
e. Sikap sosial atau masyarakat yang berakibat pada sikap individu. f. Sikap individu terhadap cacat yang ditentukan oleh sikap sosial.
II.3 Remaja
II.3.A Definisi
Pengertian remaja menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2007) adalah transisi perkembangan yang dimulai dari usia 10 atau 11 tahun hingga awal usia dua puluhan yang berhubungan dengan perubahan fisik, kognitif, dan psikososial. Masa remaja diawali dengan dimulainya pubertas, sebuah proses yang mengarah kepada kematangan seksual atau kesuburan – kemampuan untuk bereproduksi.
Remaja menurut Dariyo (2004) adalah masa transisi satau peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial yang berkisar di antara usia 12-13 tahun sampai 21 tahun. Thornburg (dalam Dariyo 2004) membagi remaja ke dalam tiga tahap, yaitu remaja awal (usia 13-14 tahun), remaja tengah (usia 15-17 tahun), dan remaja akhir (usia 18-21 tahun).
Berdasarkan definisi di atas, masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang diawali oleh masa pubertas di usia 10 hingga 21 tahun dengan perubahan pada aspek fisik, psikis, dan psikososial. Masa remaja juga terbagi ke dalam 3 tahap, yaitu remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir.
II.3.B Tugas Perkembangan Remaja
Pada tahap remaja, Havighurst (dalam Agustiani, 2006) menggambarkan delapan tugas perkembangan remaja yaitu:
1. Mencapai relasi baru dan lebih matang bergaul dengan teman seusia dari kedua jenis kelamin.
2. Mencapai maskulinitas dan femininitas dari peran sosial. 3. Menerima perubahan fisik dan menggunakannya secara efektif.
4. Mencapai ketidaktergantungan emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5. Menyiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga. 6. Menyiapkan diri untuk karir ekonomi.
7. Menemukan set dari nilai-nilai dan sistem etika sebagai petunjuk dalam berperilaku mengembangkan ideologi.
8. Mencapai dan diharapkan untuk memiliki tingkah laku sosial secara bertanggung jawab.
II.3.C Remaja Penyandang Tunadaksa
Kondisi tunadaksa dapat terjadi pada siapa saja tidak terkecuali remaja. Remaja penyandang tunadaksa akan memiliki permasalahan, salah satunya adalah permasalahan pada gambaran tubuh (body image), yang merupakan salah satu tugas perkembangan pada masa remaja. Somantri (2006) menjelaskan bahwa kondisi tunadaksa yang dialami pada remaja akan membawa pengaruh pada persepsi gambaran tubuh mereka, hal ini merupakan bentuk permasalahan dalam perkembangan kepribadian pada tunadaksa. Kekurangan pada bagian tubuh remaja
penyandang tunadaksa dapat membuat mereka menunjukkan sikap rendah diri, cemas, dan agresif.
Hill dan Mönks (dalam Mönks dan Knoers, 1999 : hal.268), menyatakan bahwa penyimpangan-penyimpangan pada masa remaja akan menimbulkan masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya, oleh karena itu kondisi tunadaksa pada masa remaja akan mempengaruhi penilaian diri remaja sedemikian rupa sehingga menghambat perkembangan kepribadian yang sehat. Conger (dalam Crider dkk., 1983), menyatakan bahwa cacat tubuh (tunadaksa) yang berat akan mempengaruhi penilaian diri remaja.
II.4 Penerimaan Diri pada Remaja Penyandang Tunadaksa karena Kecelakaan Lalu Lintas
Kondisi ketidaknormalan yang dialami oleh seorang remaja dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan psikisnya. Penyebab ketidaknormalan pada seorang remaja dapat terjadi karena bawaan lahir atau karena kejadian-kejadian selama masa hidup yang menimbulkan bekas yang tidak normal. Walaupun kedua penyebab tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan kehidupan seorang remaja, namun penyebab yang dikarenakan tidak bawaan dari lahir akan lebih buruk mempengaruhi perkembangan fisik dan psikis remaja tersebut. Hal tersebut dikarenakan seseorang yang sudah
merasakan keleluasaan dalam hidupnya akan berat menerima ketika dihadapkan pada keterbatasan (Patty & Johnson, 1953).
Salah satu kondisi yang membuat remaja menjadi tidak normal adalah kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas dapat memakan korban jiwa dan dapat juga meninggalkan bekas luka yang sangat parah, dalam hal ini seperti amputasi pada salah satu anggota tubuh. Kondisi ketidaknormalan karena amputasi ini dapat disebut cacat fisik atau tunadaksa.
Remaja tunadaksa karena kecelakaan lalu lintas akan mengalami berbagai macam dampak dari hilangnya salah satu anggota tubuhnya tersebut. Somantri (2006) menjelaskan dampak tunadaksa secara perkembangan sosial dan kepribadian, di mana secara perkembangan sosial anak tunadaksa akan memiliki konsep diri yang negatif akibat kerap kali mendapat ejekan dari lingkungan disekitarnya. Hal tersebut dapat membuat anak tunadaksa manarik diri dari lingkungan sekitarnya. Jika seorang remaja dibiarkan untuk tidak bergaul dalam lingkungan sekitarnya, maka remaja tersebut akan kehilangan kesempatan untuk bereksperimen mengenai peran dan ideologi yang berbeda-beda yang nantinya akan disesuaikan dengan dirinya (Schultz & Schultz, 1994). Dampak lainnya secara perkembangan kepribadian adalah anak tunadaksa kerap kali menunjukkan sifat rendah diri, cemas, dan agresif. Hal-hal tersebut dipengaruhi oleh terlihat atau tidak terlihatnya kecacatan yang dimiliki yang berkaitan dengan gambaran tubuh.
Kecacatan yang dialami oleh remaja penyandang tunadaksa karena kecelakaan lalu lintas harus bisa diterima oleh remaja tersebut. Penerimaan akan dirinya yang tidak lagi sempurna ini akan membantu remaja tunadaksa lebih mudah menjalani kehidupan dengan kecacatan yang dimiliki. Penerimaan diri dapat membantu penyandang tunadaksa menjalani hidupnya agar lebih bahagia dan sejahtera walaupun dengan kekurangan yang dimilikinya. Penerimaan diri menurut Germer (2009) adalah orang yang sadar bahwa dirinya mengalami sebuah sensasi, perasaan, maupun pikiran yang ada pada dirinya dari waktu ke waktu. Orang yang menerima dirinya juga mampu merangkul apapun yang muncul atau ada dalam dirinya, menerima dari waktu ke waktu sebagaimana yang ada pada dirinya. Pada seorang remaja yang sedang mengalami berbagai macam perubahan seperti fisik, mental, maupun kehidupan sosial, tentunya penerimaan diri ini sangat dibutuhkan agar memperoleh kebahagian (Hurlock, 1993).
Seseorang yang ingin menerima dirinya akan masuk dalam sebuah proses. Germer (2009) menjelaskan mengenai proses penerimaan diri yang dibagi ke dalam lima tahapan, yaitu tahap pertama adalah kebencian atau keengganan (aversion), pada saat seseorang dihadapkan pada kondisi tidak nyaman, maka orang tersebut akan merasa enggan atau benci pada hal yang membuatnya tidak nyaman tersebut. Tahap kedua adalah keingintahuan (curiosity), orang tersebut akan mulai untuk mencari tahu hal-hal yang berkaitan dengan perasaan tidak nyamannya tersebut seperti ada apa dengan perasaannya, apa yang terjadi, apa maksud dari perasaannya tersebut. Selanjutnya tahap ketiga
yaitu toleransi, individu tersebut mulai mengurangi perasaan tidak nyamannya, namun tetap mempunyai keinginan agar perasaan tersebut segera hilang. Tahap keempat adalah membiarkan perasaan datang dan pergi (allowing), individu membiarkan perasaan tidak nyamannya datang dan pergi sebagaimana mestinya. Tahap terakhir dari penerimaan diri adalah melihat nilai-nilai yang tidak terlihat (friendship), individu sudah mulai beradaptasi dengan perasaan tidak nyamannya tersebut dan mulai melihat hikmah dari kondisi atau kejadian yang memberikan perasaan tidak nyaman terhadapnya.
Pencapaian setiap tahapan penerimaan diri dapat dibantu dengan faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri yang dikemukakan oleh Hurlock (1974). Untuk bisa menerima dirinya seseorang harus paham akan dirinya sendiri. Hal tersebut merupakan faktor penerimaan diri yang oertama menurut Hurlock (1974). Orang yang memiliki pemahaman diri akan mengetahui potensi dalam dirinya yang dapat membantu untuk menciptakan konsep diri yang ideal untuk dirinya. Faktor kedua adalah harapan yang realistik, di mana harapan dengan pencapaian yang realistik akan memberikan kepuasan diri yang berpengaruh terhadap penerimaan diri. Faktor ketiga adalah tidak adanya hambatan di dalam lingkungan, seseorang yang tidak mempunyai hambatan dalam lingkungannya akan lebih mudah mengetahui potensi yang ada pada dirinya dan mudah untuk menerima dirinya. Seseorang juga akan lebih mudah menerima dirinya apabila mendapat perlakuan yang menyenangkan dari masyarakat. Hal tersebut merupakan faktor keempat dalam penerimaan diri. Selanjutnya faktor kelima adalah tidak adanya gangguan emosional yang berat,
orang yang tidak memiliki gangguan emosional seperti stres akan lebih bahagia dan dapat memberikan evaluasi sosial yang baik yang menjadi dasar dari evaluasi dan penerimaan diri yang baik pula. Orang yang berhasil dan memperoleh kesuksesan akan mengarah terhadap penerimaan diri. Hal tersebut merupakan faktor keenam penerimaan diri. Identifikasi terhadap orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan mengembangkan sikap positif pada diri seseorang yang nantinya berpengaruh terhadap penilaian dan penerimaan diri yang baik. Faktor kedelapan adalah perspektif diri, orang yang melihat dirinya sama seperti orang lain melihat dirinya dikatakan dapat mendukung penerimaan diri. Pola asuh dimasa kecil juga mempengaruhi penerimaan diri karena hal tersebut berkontribusi terhadap konsep diri seseorang. Faktor terakhir adalah konsep diri yang stabil, di mana dalam hal ini seseorang yang menerima dirinya akan mampu melihat dirinya dengan cara yang sama sepanjang waktu.
II.5 Kerangka Teoritis
Keterangan:
Kecelakaan Lalu Lintas pada Masa Remaja
Menarik diri dari lingkungan, konsep diri negatif, rendah diri, cemas, agresif (Somantri, 2006) Faktor-faktor yang
mempengaruhi Penerimaan Diri (Hurlock,
1974)
pemahaman diri, harapan yang realistik, tidak adanya
hambatan di dalam lingkungan, sikap-sikap anggota masyarakat yang menyenangkan, tidak adanya gangguan emosional yang berat, pengaruh keberhasilan, identifikasi dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik, perspektif diri, pola asuh di masa kecil yang baik, dan konsep diri yang stabil.
Tunadaksa Penerimaan Diri Tahapan Penerimaan Diri (Germer, 2009) Aversion Curiosity Tolerance Allowing Friendship Kondisi Traumatik: Amputasi : melihat proses penerimaan diri : dipengaruhi