6
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Laporan Keuangan
2.1.1 Pengertian Laporan Keuangan
Pada mulanya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji” dan pekerjaan bagi pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji tetapi sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi keuangan dari satu perusahaan. Beberapa pengertian menurut para ahli diantaranya adalah sebagai berikut :
Menurut Hery (2012:3) “Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengomunikasikan data keuangan atau aktivasi perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.”
Dalam pengertian sederhana, laporan keuangan menurut Kasmir (2012:7) adalah “Laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu.”
Sedangkan menurut Surya (2012:6) “Laporan keuangan adalah suatu pengajian tersruktur dari posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus suatu entitas.”
Berdasarkan pengertian-pengertian laporan keuangan tersebut diatas, maka yang dimaksud dengan laporan keuangan perusahaan menurut peneliti adalah hasil dari proses pelaporan keuangan melalui proses akuntansi yang penyajiannya terstruktur yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi kepada pihak
yang berkepentingan baik intern maupun ekstern dalam perusahaan. Dapat dipahami bahwa manajemen menyajikan laporan keuangan dan pihak luar perusahaan memanfaatkan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan. Sebuah laporan keuangan pada umunya terdiri dari: Neraca, Laporan laba rugi, Laporan perubahaan modal, Laporan arus kas, Catatan atas laporan keuangan.
2.1.2 Komponen Pembentuk Laporan Keuangan
Menurut Hanafi dan Halim (2009:12) secara umum ada tiga bentuk laporan keuangan yang pokok yang dihasilkan oleh suatu perusahaan:
1. Neraca
Neraca digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Neraca mengambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan pada suatu waktu tertentu (snapshot keuangan perusahaan), yang meliputi aset (sumber daya atau resources) perusahaan dan klaim atas aset tersebut (meliputi utang dan saham sendiri). Aset perusahaan menunjukkan keputusan penggunaan dana atau keputusan investasi pada masa lalu, sedangkan klaim perusahaan menunjukkan sumber dana tersebut atau keputusan pendanaan pada masa lalu. Dana diperoleh dari pinjaman (utang) dan dari penyertaan pemilik perusahaan (modal).
Aset/aktiva menampilkan daftar spesifikasi kekayaan perusahaan (kas, piutang, persediaan, aktiva tetap), sedangkan sisi pasiva menampilakan data spesifik orang atau badan (entity) yang memberikan dana untuk memperoleh aset tersebut (dan dengan demikian klaim terhadap aset tersebut), seperti supplier, pemerintah,
bank, pemegang saham. Dengan demikian menampilkan keseimbangan atau kesamaan antara keputusan investasi dengan keputusan pendanaan.
2. Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi merupakan laporan prestasi perusahaan selama jangka waktu tertentu. Dalam jangka waktu tertentu, total aset perusahaan berubahan disebabkan oleh kegiatan investasi, pendanaan, dan kegiatan oprasional: Aset bertambahan kalau perusahaan membeli pabrik baru atau mendirikan bangunan baru. Utang bertambah kalau perusahaan meminjam dana dari bank untuk membeli pabrik. Utang juga bertambah kalau perusahaan mengeluarkan obligasi untuk membiayai pendirian bangunan. Struktur modal dengan demikian akan berubah. Dalam kegiatan sehari-hari perusahaan memproduksi, kemudian menjual barang dagangan. Penjualan akan menghasilkan kas, menghasilkan keuntungan yang bisa ditahan atau bisa juga dibagi sebagai deviden. Kegiatan oprasional juga akan merubah struktur aset.
3. Laporan Aliran Kas
Komponen laporan keuangan yang ketiga adalah laporan aliran kas atau laporan perubahan posisi keuangan. Laporan ini menyajikan informasi aliran kas masuk atau keluar bersih pada suatu periode, hasil dari tiga kegiatan pokok perusahaan yaitu operasi, insevtasi, dan pendanaan.
Aliran kas diperlukan terutama untuk mengetahui kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya.
Sedangkan menurut Hery (2012:19) urutan laporan keuangan berdasarkan proses penyajiannya adalah sebagai berikut :
1. Laporan Laba Rugi (Income Statement) merupakan laporan yang sistematis tentang pendapatan dan beban perusahaan untuk satu periode waktu tertentu. Laporan laba rugi ini akhirnya memuat informasi mengenai hasil usaha perusahaan, yaitu laba/rugi bersih yang merupakan hasil dari pendapatan dikurangi beban.
2. Laporan Ekuitas Pemilik (Statement of Owner’s Equity) adalah sebuah laporan yang menyajikan ikhtisar perubahan dalam ekuitas pemilik suatu perusahaan untuk satu periode waktu tertentu (laporan perubahan modal). 3. Neraca (Balance Sheet) adalah sebuah laporan yang sistematis tentang posisi
aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan per tanggal tertentu. Tujuan neraca adalah untuk menggambarkan posisi keuangan perusahaan.
4. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows) adalah sebuah laporan yang menggambarkan arus kas masuk dan arus kas keluar secara terperinci dari masing-masing aktivasi, yaitu mulai dari aktivitas operasi, aktivitas invetasi, sampai pada aktivitas pendanaan/pembiayaan untuk satu periode waktu tertentu.
2.1.3 Rekening dalam Laporan Keuangan
Neraca (balance sheet) melaporkan aktiva, pasiva, dan modal pemegang saham pada suatu tanggal tertentu. Jika laporan laba rugi menggambarkan kinerja perusahaan, maka neraca menggambarkan posisi keuangan. Dengan menyediakan informasi mengenai aktiva, pasiva, dan modal pemegang saham, neraca dapat
dijadikan sebagai dasar untuk megevaluasi tingkat likuiditas, struktur modal, dan efiensi perusahaan, serta menghitung tingkat pengembalian aktiva atas laba bersih.
Menurut Kuswandi (2006:20) “harta (aktiva) atau kekayaan (aset) perusahaan adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan karena peristiwa masa lalu.” Dari sini manfaat ekonomi pada masa depan diharapkan dapat diperoleh perusahaan. Manfaat ekonomi masa depan dari harta adalah potensi untuk memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung berupa arus kas dan atau serta kas kepada perusahaan.
Harta perusahaan berasal dari transaksi atau peristiwa lain yang terjadi pada masa lalu. Perusahaan biasanya memperoleh harta melalui pembelian atau memproduksi sendiri, tetapi transaksi atau peristiwa lain juga dapat menghasilkan harta.
Harta dapat dibagi menjadi Harta Lancar, Harta Tetap, dan Harta Tetap Tidak Berwujud.
1. Harta Lancar (Current Assets)
Harta lancar adalah harta yang dalam satu masa pertempuran kegiatan pokok perusahaan yang normal (biasanya 1 tahun) diharapkan dapat dicairkan menjadi uang tunai, dijual, atau bisa dipakai.
Suatu harta diklasifikasi sebagai Harta Lancar, jika :
a. Diperkirakan akan direalisasi dan dimiliki untuk dijual kembali dan digunakan dalam jangka waktu siklus oprasi normal perusahaan.
b. Dimiliki untuk diperdagangkan atas untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca.
c. Berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi.
Harta lancar terdiri atas uang kas (Cash), surat-surat berharga (Marketable Securities), persediaan barang dan dagangan (Inventory), piutang dagang (Account Receivable), semua biaya yang dibayar di muka (Prepaid Expenses), harta lain yang tidak termasuk dalam penggolongan aktiva tetap.
2. Harta Tetap (Fixed Assets)
Harta tetap adalah kekayaan fisik yang digunakan dalam oprasi perusahaan dengan tujuan tidak untuk dijual. Penggunaannya lebih dari satu periode akuntansi atau satu tahun dan harga relatif mahal, misalnya tanah, bangunan, mesin, peralatan, kendaraan, dan sebaigainya.
Secara umum, harta terdiri atas harta tetap dan harta lancar. Ada yang menggolongkan harta tetap menjadi dua, yaitu harta tetap tidak berwujud (Tangible Fixed Assets) dan harta tetap yang tak berwujud (Intangible Fixed Assets) atau harta tetap yang bersifat abstrak.
3. Harta Tak Berwujud (Intangible Assets)
Harta tak berwujud adalah harta yang tidak mempunyai wujud fisik, yang dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administrasi, misalnya goodwill, hak paten, merek dagang (Trade Mark), hak cipta (Copyright), franchise, dan sebagainya
Nilai peroleh dari harta tetap tak berwujud adalah semua pengeluaran untuk memperoleh harta tersebut. Penyajian perkiraan ini dalam neraca sama seperti harta berwujud, yaitu harta yang diperolehan dikurangi akumulasi penyusutan (untuk harta tak berwujud dinamakan amortisasi).
Menurut Hery (2012:137) “utang (pasiva) adalah pengorbanan atas manfaat ekonomi yang mungkin terjadi di masa depan, yang timbul dari kewajiban entitas pada saat ini, untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lainnya di masa depan sebagai hasil dari transaksi atau peristiwa masa lalu.”
Utang dibagi dalam dua jenis, yaitu: 1. Kewajiban lancar
Kewajiban lancar adalah kewajiban yang diperkirakan akan dibayar dengan menggunakan aktiva lancar atau menciptakan kewajiban lainnya dan harus segera dilunasi dalam jangka waktu satu tahun atau dalam satu siklus operasi normal perusahaan, tergantung mana yang paling lama. Kewajiban lancar pada umumnya mencangkup berbagai pos, yaitu utang usaha, dan wesel jangka pendek, beban yang masih harus dibayar, pendapatan diterima dimuka, dan bagian utang jangka panjang yang lancar.
2. Utang jangka panjang
Utang jangka panjang adalah kewajiban yang diperkirakan tidak akan dibayar dalam waktu 12 bulan atau dalam satu siklus operasi normal perusahaan seperti: wesel jangka panjang, obligasi, hipotek, dan kewajiban sejenis lainnya yang tidak memerlukan penggunaan dana lancar untuk pembayarannya akan dilaporkan dalam neraca.
Menurut Kasmir (2012:32) posisi yang terakhir di sisi kiri “neraca adalah modal perusahaan atau ekuitas (equity).” Komponen modal terdiri dari antara lain modal disetor, laba ditahan, cadangan laba.
1. Modal disetor merupakan setoran modal dari pemilik perusahaan dalam bentuk saham dalam jumlah tertentu. Artinya, keseluruhan saham yang dimiliki oleh perusahaan yang sudah dijual dan uangnya harus disetor sesuai dengan aturan yang berlaku.
2. Laba ditahan (laba yang belum dibagi) merupakan laba atau keuntungan perusahaan yang belum dibagi untuk periode tertentu. Artinya ada keuntungan perusahaan yang belum dibagikan dividennya dan masih disimpan sampai waktu tertentu karena suatu alasan tertentu pula.
3. Cadangan laba merupakan bagian dari laba perusahaan yang tidak dibagi ke pemegang saham pada periode ini, akan tetapi sengaja dicadangankan perusahaan untuk laba periode berikutnya.
2.1.4 Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Kamir (2008:10) secara umum “laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan, baik pada saat tertentu maupun pada periode tertentu.”
Berikut ini beberapa tujuan pembuatan atau penyusutan laporan keuangan yaitu:
1. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.
3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.
4. Memberikan informasi tentang sejumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.
5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.
6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.
7. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan. 8. Informasi keuangan lainnya.
Tujuan khusus laporan keuangan menurut Hery (2012:4) adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum mengenai posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan lain dalam posisi keuangan. Sedangkan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dijelaskan tentang tujuan laporan keuangan yang isinya: “Tujuan laporan keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.”
2.1.5 Kegunaan Laporan Keuangan
Menurut Fahmi (2011:25) berdasarkan konsep keuangan maka “laporan keuangan sangat diperlukan untuk mengukur hasil usaha dan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu dan untuk mengetahui sudah sejauh mana perusahaan mencapai tujuannya.” Bahwa laporan keuangan pada dasarnya merupakan hasil proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi anatara data keuangan atau aktivasi perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivasi perusahaan tersebut. Sehingga laporan keuangan memegang peranan yang luas dan mempunyai suatu posisi yang mempengaruhi dalam pengembalian keputusan.
2.2 Analisa Rasio Laporan Keuangan 2.2.1 Pengertian Rasio
Menurut Joel G Siegel dan Jea K.Shim dalam Fahmi (2011:44) rasio dapat dipahami sebagai “hasil yang diperoleh antara satu jumlah dengan jumlah yang lainnya. Rasio sendiri merupakan hubungan antara satu jumlah dengan jumlah lainnya.”
Menurut Sugiono dan Untung (2008:56) analisarasio adalah “suatu angka yang menunjukkan hubungan antara unsur-unsur dalam laporan.”
2.2.2 Pengertian Rasio Keuangan
Pengertian rasio keuangan menurut Harapan (2013:297) mengatakan bahwa “Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos
laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan relevan dan signifikan (berarti).”
Menurut Hanafi dan Halim (2009:74) “rasio-rasio keuangan pada dasarnya disusun dengan menggabungkan angka-angka di dalam atau antara laporan laba rugi dan neraca.”
Sedangkan menurut James C Van home dalam Kasmir (2012:104) pengertian rasio keuangan merupakan “indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya.” Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.
2.2.3 Jenis-jenis Rasio Keuangan
Adapun jenis-jenis rasio keuangan menurut Kuswandi (2006:5) adalah: 1. Rasio Profitabilitas
Rasio ini menggambarkan kemampuan dalam menghasilkan laba secara relatif. Relatif di sini artinya laba tidak diukur dari besarnya secara mutlak, tetapi diperbandingkan dengan unsur-unsur atau tolak ukur lainnya, karena perolehan laba yang besar belum tentu menggambarkan kemampulabaan yang juga besar.
2. Rasio Likuiditas
Rasio ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajiban jangka pendeknya (likuiditasnya). Oleh karena itu, rasio ini menjadi penting bagi perusahaan, manajer keuangan,
bank, atau para pemasok yang memberikan kredit penjualan kepada perusahaan. 3. Rasio Solvabilitas
Rasio ini memiliki tujuan analisis atas rasio ini memberikan gambaran mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang.
2.2.4 Standar Industri Perusahaan
Menurut Kasmir (2012:143) pengukuran rasio dapat kita lihat kondisi dan posisi perusahaan yang terlihat dalam tabel berikut ini:
Tabel II.1
Tabel Standar Industri Perusahaan No Jenis Rasio Standar Industri Keterangan
1 Current Ratio 2 Kali Jika > 2 kali maka perusahaan dianggap baik
2 Quick Ratio 1,5 Kali Jika < 1,5 kali maka perusahaan dianggap kurang baik
3 Cash Ratio 50% Jika rata-rata industri rasio kas 50%, perusahaan berada dalam keadaan memuaskan, karena masih diatas rata-rata industri Sumber : Kasmir
Jika sebuah perusahaan memenuhi standar industri yang ada maka perusahaan dianggap likuid, tetapi jika sebuah perusahaan tidak memenuhi standar industri yang ada maka perusahaan dianggap tidak likuid.
2.3 Analisa Rasio Likuiditas 2.3.1 Pengertian Rasio Likuiditas
Menurut Kasmir (2011:110) rasio likuiditas merupakan “rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek (fred weston), dan menunjukkan atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan (likuiditas badan usaha) maupun di dalam perusahaan (likuiditas perusahaan).”
Sedangkan menurut Kasmir (2006:6) rasio likuiditas bertujuan untuk “mengetahui perusahaan dalam membayar kewajiban-kewajiban jangka pendeknya (likuiditasnya).” Oleh karena itu, rasio ini menjadi penting bagi pimpinan perusahaan, manajer keuangan, bank atau para pemasok yang memberikan kredit penjualan kepada perusahaan.
2.3.2 Jenis-jenis Rasio Likuiditas
Jenis-jenis rasio likuditas yang dapat digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan menurut Kasmir (2011:135) yaitu:
1. Rasio Lancar (current ratio)
Rasio lancar atau (current ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiaban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo.
Dalam praktiknya sering kali dipakai bahwa rasio lancar dengan standar 200% (2:1) yang terkadang sudah dianggap sebagai ukuran yang cukup baik atau memuaskan bagi suatu perusahaan. Artinya dari hasil rasio seperti itu, perusahaan sudah merasa berada di titik aman dalam jangka pendek.
Rumus untuk mencari rasio lancar atau current ratio dapat digunakan sebagai berikut:
Rasio Lancar (𝑐𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜) = Aktiva Lancar (𝑐𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡)
Utang Lancar (𝑐𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑙𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠)𝑥100% 2. Rasio Cepat (quick ratio)
Rasio cepat (quick ratio) atau rasio lancar atau acid test ratio merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi dan membayar kewajiban atau utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaan (inventory). Artinya nilai sediaan kita abaikan, dengan cara dikurangi dari nilai total aktiva lancar.
Dalam praktiknya sering kali dipakai bahwa rasio cepat dengan standar 150% (1,5:1) yang terkadang sudah dianggap ukuran yang cukup baik atau memuaskan bagi suatu perusahaan. Artinya dari hasil rasio seperti ini, perusahaan sudah merasa berada di titik aman dalam jangka pendek.
Rumus untuk mencari rasio cepat (qucik ratio) dapat digunakan sebagai berikut:
𝑄𝑢𝑖𝑐𝑘 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =Aktiva Lancar (𝑐𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑎𝑠𝑠𝑒𝑡) − Persediaan (𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦)
3. Rasio Kas (cash ratio)
Rasio kas (cash ratio) merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas tersedia untuk membayar utang. Ketersedian uang kas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas yang setera dengan kas.
Dalam praktiknya sering kali dipakai bahwa rasio kas dengan standar 50% yang terkadang sudah dianggap ukuran yang cukup baik atau memuaskan bagi suatu perusahaan. Artinya dari hasil rasio seperti ini, perusahaan sudah merasa berada di titik aman dalam jangka pendek.
Rumus untuk mencari rasio kas atau cash ratio dapat digunakan sebagai berikut:
Rasio Kas(𝑐𝑎𝑠ℎ 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜) = 𝑐𝑎𝑠ℎ 𝑜𝑟 𝑐𝑎𝑠ℎ 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡
Utang Lancar (𝑐𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑙𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠)𝑥100%
2.4 Hubungan Rasio Keuangan dengan Kinerja Keuangan
Menurut Warsidi dan Bambang dalam Fahmi (2011:45), maka “analisa rasio keuangan merupakan instrument analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditunjuk untuk menunjukkan perubahan dalam kondisis keuangan atau persentasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan.”
Rasio-rasio keuangan tersebut dapat digunakan oleh perusahaan untuk melihat kinerja yang dicapai serta sebagai sarana informasi keuangan bagi pihak eksternal.
Adapun bentuk informasi keuangan yang dapat dihasilkan melalui rasio-rasio tersebut antara lain :
1. Rasio Lancar (current ratio)
Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segereja jatuh tempo pada saat ditagih secera keseluruhan.
2. Rasio Cepat (quick ratio)
Rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi dan membayar kewajiban atau utang lancar dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaan.
3. Rasio Kas (cash ratio)
Untuk mengukur seberapa besar uang kas tersedia untuk membayar utang. Berdasarkan informasi-informasi tersebut perusahaan dapat mengambil kebijakan trategis yang dapat di aplikasikan untuk menjaga atau meningkatkan kinerja oprasionalnya.