PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG
REVIU RENCANA STRATEGIS
(RENSTRA)
TAHUN 2016-2021
DINAS PERDAGANAN DAN PERINDUSTRIAN
KABUPATEN BANDUNG
PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG
RENCANA STRATEGIS
TAHUN 2016 - 2020
DINAS PERDAGANGAN DAN PERINDUSTRIAN
KABUPATEN BANDUNG
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr wb.
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan sekalian alam yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita sekalian, shalawat dan salam senantiasa tercurah untuk junjunan kita, Nabiyullah Rosululloh Muhammad SAW, beserta kerabat, sahabat serta kita sekalian pengikut sampai akhir zaman. Alhamdulillah, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung dapat menyelesaikan penyusunan Perubahan Rencana Strategis (RENSTRA) Tahun 2016-2021.
Perubahan Renstra Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung Tahun 2016 – 2021 merupakan rangkaian perencanaan program dalam pembangunan Perdagangan dan Perindustrian di Kabupaten Bandung dalam jangka menengah, baik anggaran pembangunan maupun rutin serta sumber-sumber lainnya. Penyusunan Perubahan Renstra juga mengacu kepada Dokumen Perubahan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 dan Peraturan Perundangan serta Kebijakan Nasional, Provinsi, yang berkaitan dengan pembangunan Perdagangan dan Perindustrian.
Sangatlah disadari bahwa penyajian Dokumen Perubahan Rencana Strategis ini masih belum sempurna, serta masih banyak kekurangan yang disebabkan oleh keterbatasan yang ada pada kami. Namun demikian, diharapkan Reviu Rencana Strategis ini dapat memberikan gambaran yang jelas dan dapat dipergunakan sesuai dengan harapan.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Soreang, KEPALA DINAS
PERDAGANGAN DAN PERINDUSTRIAN KABUPATEN BANDUNG
Dra. Hj. POPI HOPIPAH, M.Si Pembina Utama Muda NIP. 19600722 199109 2 001
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 3
DAFTAR ISI 4
BAB I PENDAHULUAN 5
I.1. LATAR BELAKANG 5
I.2. LANDASAN HUKUM 8
I.3. MAKSUD DAN TUJUAN 10
I.4. SISTEMATIKA PENULISAN 11
BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD 12
II.1. TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI 12
II.2. SUMBER DAYA SKPD 24
II.3. KONDISI PRASARANA DAN SARANA 25
II.4. KINERJA PELAYANAN SKPD 32
II.5. TANTANGAN DAN PELUANG PELAYANAN PD 42
BAB III PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS 46
III.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN 46
III.2. TELAAHAN VISI, MISI DAN PROGRAM 51
III.3. TELAAHAN RENSTRA KEMENTERIAN/LEMBAGA 60
III.4. TELAAHAN RENCANA TATA RUANG DAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS
66
III.5. PENENTUAN ISU-ISU STRATEGIS 70
BAB IV TUJUAN DAN SASARAN 72
IV.1. TUJUAN JANGKA MENENGAH 72
IV.2. SASARAN 74
BAB V STRATEGI DAN KEBIJAKAN 79
V.1. STRATEGI DAN KEBIJAKAN 79
BAB VI RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN 81
BAB VII STRATEGI DAN KEBIJAKAN 96
BAB VIII
I.1 LATAR BELAKANG
Berdasarkan Undang-undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah terjadi perubahan tentang pembagian urusan pemerintahan. Salah satu perubahan krusial dari Undang-Undang tersebut adalah tentang pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah Pusat, Pemerintahan Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Perubahan pembagian urusan pemerintahan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas berdampak pada perubahan Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) yang harus mengikuti pembagian urusan pemerintahan pusat dan daerah sebgaimana yang tercantum pada lampiran Undang-undang 23 Tahun 2014 tersebut. Dampak dari hal tersebut salah satunya ialah terjadi perubahan Struktur Organisasi Tata Kerja (SOTK) pada Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung (Diskoperindag) sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah dibagi menjadi 2 (dua) Dinas yaitu Dinas Koperasi dan UKM, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Perubahan SOTK tersebut mengharuskan setiap Perangkat Daerah yang berubah untuk menyusun dan menyesuaikan Dokumen Rencana Strategis (Renstra) Perangkat Daerah masing-masing sesuai dengan pembagian urusan pemerintahan yang baru.
Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah disusun perencanaan pembangunan sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Perencanaan pembangunan daerah tersebut disusun oleh pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Perencanaan pembangunan daerah disusun secara berjangka (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah/RPJPD, Rencana
PENDAHULUAN
BAB I
Pembangunan Daerah/RKPD) dan dilaksanakan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam bentuk Rencana Strategis (Renstra) untuk jangka menengah (lima tahunan) dan Rencana Kerja (Renja) untuk jangka waktu tahunan sebagai pelaksanaan dari Renstra SKPD.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah mengamanatkan bahwa perencanaan daerah dirumuskan secara transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel, partisipatif, terukur, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan. Adapun perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/ daerah dalam jangka waktu tertentu.
Perencanaan pembangunan menengah daerah diwujudkan dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung, yang merupakan dokumen perencanaan Pemerintah Daerah selama 5 (lima) tahun ke depan. RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2016 – 2021 disusun sebagai acuan kelanjutan pembangunan Kabupaten Bandung 5 (lima) tahun sebelumnya, yaitu Tahun 2011 – 2015. Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung diharapkan mampu membangun struktur perekonomian yang lebih baik terutama dalam mengatasi masalah ekonomi yang ada di Kabupaten Bandung maupun pengaruh era globalisasi. Hal ini tergambar dalam misi Kabupaten Bandung yang ke-4 (empat) yaitu Menciptakan Pembangunan
ekonomi yang memiliki kunggulan kometitif, dalam salah satu tujuannya yaitu
terwujudnya peningkatan kontribusi ekonomi kerakyatan terhadap perekonomian daerah. Dalam mendukung terwujudnya misi unggulan tersebut, perlu disusun Rencana Strategis (Renstra) Dinas Perdagangan dna Perindustrian Tahun 2016 – 2021 sebagai perencanaan pembangunan yang memuat visi, misi, arah kebijakan, sasaran, program dan kegiatan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten.
Reviu atas dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 yang dimuat pada Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2016, dilakukan karena beberapa pertimbangan sebagai berikut: (1) adanya perubahan susunan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Bandung yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2016; (2) adanya penyelarasan terhadap Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010; dan (3) adanya perubahan dalam strategi, kebijakan, dan program pembangunan di sisa masa jabatan kepala daerah sebagai upaya percepatan pencapaian visi dan misi pembangunan Kabupaten Bandung tahun 2016-2021.
Ketiga pertimbangan reviu RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 ini dilakukan sesuai dengan Pasal 282 ayat 1, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 yang menegaskan bahwa perubahan RPJPD dan RPJMD hanya dapat dilakukan apabila: (1) hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan tidak sesuai dengan tahapan dan tatacara penyusunan rencana pembangunan daerah yang diatur dalam Peraturan Menteri ini; (2) hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa substansi yang dirumuskan, tidak seusai dengan Peraturan Menteri ini; (3) terjadi perubahan mendasar; dan/atau (4) merugikan kepentingan nasional.
Revisi RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021 merupakan penyempurnaan dari rencana pembangunan jangka menengah periode ketiga dari RPJPD Kabupaten Bandung Tahun 2005-2025. Revisi RPJMD selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) yang merupakan perencanaan tahunan dan menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Perangkat Daerah dan Rencana Kerja (Renja) Perangkat Daerah sampai dengan tahun berakhirnya masa jabatan Bupati terpilih.
Dengan adanya Revisi RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2016–2021 serta perkembangan situasi dan kondisi masyarakat maka diperlukan adanya reviu dokumen Renstra Dinas Perdagangan dan Perindustrian Tahun 2016-2021 sesuai dengan dokumen Revisi RPJMD Kabupaten Taun 2016-2021. Dari hasil review terhadap dokumen Renstra –yang ada, diperlukan beberapa penyesuaian terhadap dokumen Renstra Dinas Perdagangan dan Perindustrian khususnya pada indikator target capaian kinerja dalam rangka percepatan pemenuhan target capaian RPJMD sesuai dengan kewenangan Dinas Perdagangan dan
Perindustrian Kabupaten Bandung. Seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi masyarakat serta hasil dari review terhadap dokumen Renstra yang ada, diperlukan beberapa penyesuaian terhadap dokumen Renstra khususnya pada indikator target capaian kinerja dalam rangka percepatan pemenuhan target capaian RPJMD sesuai dengan kewenangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung.
I.2 LANDASAN HUKUM
Dalam penyusunan Rencana Strategis Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung Tahun 2016 – 2021, mengacu pada Undang-Undang, Peraturan Pemerintah maupun Peraturan Daerah yang berlaku, antara lain :
1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 164, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005-2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah; 5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 Tentang
Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern;
6. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 – 2019;
7. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2013 Tentang Pedoman Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern;
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Sebagaimana Telah Dirubah Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri No 59 Tahun 2007 Tentang Peruabahan Atas Perubahan Menteri Dalam Negeri No 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri No 86 Tahun 2017 Tentang Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evauasi Pembangunan Daerah, Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah;
10. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No 6 Tahun 2009 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat;
11. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No 24 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2025;
12. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No 25 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2009 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013;
13. Peraturan Gubernur Jawabarat No 72 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Perencanaan Pembangunan Tahunan Daerah;
14. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 8 Tahun 2005 Tentang Tatacara Penusunan Perencanaan Pembangunan Daearah (Lembaran Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2005 No 4 Seri D);
15. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No 2 Tahun 2006 Tentang Alokasi Dana Perimbanga Desa Dikabupaten Bandung Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan Pemerintah Kabupaten Bandung No 24 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Alokasi Dana Perimbangan Desa Di Kabupaten Bandung;
16. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomo 17 Tahun 2007 Tentang Urusan Pemerintahan Kabupaten Bandung (Lembaran Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2007 Nomor 17)
17. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007 Sampai Dengan 2027 (Lembaran Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2008 No 3);
18. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Bandung Tahun 2005-2025;
19. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung;
20. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2016-2021
21. Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No 12 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah;
22. Peraturan Bupati Nomor 47 Tahun 2016 Tentang Kebijakan Transisi Dalam Rangka Penataan Perangkat Daerah Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2016 Tentang Pembentukan Dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Bandung.
23. Peraturan Bupati Nomor 95 Tahun 2016 tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung;
I.3 MAKSUD DAN TUJUAN
Dokumen Revisi Rencana Strategis Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung tahun 2016-2021 ini disusun dengan maksud untuk memberikan arah terhadap operasional perencanaan, rencana kerja, kebijakan dan program satuan kerja Dinas Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung pada rencana kerja tahunan sampai dengan tahun 2021. Sedangkan tujuannya untuk mewujudkan keadaan yang diinginkan dalam kurun waktu lima tahun mendatang yang sejalan dengan visi, misi dan program Kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bandung Tahun 2016-2021.
I.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan Rencana Strategis SKPD adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang I.2 Landasan Hukum I.3 Maksud dan Tujuan I.4 Sistematika Penulisan BAB II GAMBARAN PELAYANAN PD
II.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi II.2 Sumber Daya SKPD
II.3 Kinerja Pelayanan SKPD
II.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan BAB III PERMASALAHAN DAN ISU STRATEGIS
III.1 Identifikasi Permasalahan
III.2 Telaahan Visi, Misi dan Program
III.3 Telaahan Renstra K/L dan Renstra Provinsi
III.4 Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah dan Kajian Lingkungan Hidup
III.5 Penentuan Isu-isu Strategis BAB IV VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN.
IV.1 Visi dan Misi PEMERINTAH DAERAH IV.2 Tujuan Sasaran Jangka Menengah SKPD BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
BAB VI BAB VII
RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN
KINERJA PENYELENGARAAN BIDANG DAN URUSAN BAB VIII PENUTUP
II.1 TUGAS, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI
Sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Bandung, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung bertanggung jawab dalam hal pembinaan dan pengembangan terhadap perindustrian dan perdagangan di Kabupaten Bandung, mempunyai tugas pokok merumuskan kebijakan teknis dan melaksanakan kegiatan teknis operasional dibidang perindustrian dan perdagangan yang meliputi pengembangan hasil industri pertanian dan kehutanan dan industri logam, mesin dan kimia, industri aneka, sarana dan pengembangan perdagangan, perdagangan dalam dan luar negeri, kemetrologian, energi sumber daya mineral khususnya soal pemanfaatan panas bumi serta melaksanakan ketatausahaan Dinas.
Rincian Tugas Fungsi dan Tata Kerja Dinas Daerah Kabupaten Bandung, maka tugas pokok dan fungsi unsur-unsur Dinas yang bertanggung jawab dalam hal adalah sebagai berikut:
1) Kepala Dinas
Mempunyai tugas pokok memimpin, merumuskan, mengatur, membina, mengendalikan, mengkoordinasikan dan mempertanggungjawabkan kebijakan teknis pelaksanaan urusan pemerintahan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan di bidang yang bertanggung jawab dalam hal Fungsi Kepala Dinas yang bertanggung jawab dalam hal adalah:
a. Perumusan kebijakan teknis sesuai dengan lingkup tugasnya.
b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum sesuai dengan lingkup tugasnya.
c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas sesuai dengan lingkup tugasnya. d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas
dan fungsinya.
GAMBARAN PELAYANAN PD
BAB II
2) Sekretariat
Sekretariat dipimpin oleh seorang sekretaris yang mempunyai tugas pokok memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan tugas-tugas di bidang pengelolaan pelayanan kesekretariatan yang meliputi pengkoordinasian, penyusunan program, pengelolaan umum dan kepegawaian serta pengolahan keuangan.
Dalam melaksanakan tugas pokok, sekretaris mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Penetapan penyusunan rencana dan program kerja pengelolaan pelayanan kesekretariatan.
b. Penetapan rumusan kebijakan koordinasi penyusunan program dan penyelenggaraan terpadu.
c. Penetapan rumusan kebijakan pelayanan administratif Dinas.
d. Penetapan rumusan kebijakan pengelolaan administrasi umum dan kerumahtanggaan.
e. Penetapan rumusan kebijakan pengelolaan kelembagaan dan ketatalaksanaan serta hubungan masyarakat.
f. Penetapan rumusan kebijakan pengelolaan administrasi kepegawaian. g. Penetapan rumusan kebijakan administrasi pengelolaan keuangan. h. Penetapan rumusan kebijakan pelaksanaan monitoring evaluasi dan
pelaporan pelaksanaan tugas Dinas.
i. Penetapan rumusan kebijakan pengkoordinasian publikasi pelaksanaan tugas Dinas.
j. Penetapan rumusan kebijakan pengkoordinasian penyusunan dan penyampaian bahan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas Dinas. k. Pelaporan pelaksanaan tugas pengelolaan pelayanan kesekretariatan. l. Evaluasi pelaksanaan tugas pengelolaan pelayanan kesekretariatan. m. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugas dan
fungsinya.
n. Pelaksanaan koordinasi / kerjasama dan kemitraan dengan unit kerja / instansi / lembaga atau pihak ke tiga di bidang pengelolaan pelayanan kesekretariatan.
Sekretaris membawahkan:
a. Sub Bagian Penyusunan Program. b. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian. c. Sub Bagian Keuangan.
3) Bidang Sarana Distribusi Perdagangan
Bidang Sarana Distribusi Perdagangan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang Sarana Distribusi Perdagangan yang mempunyai tugas pokok memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan tugas-tugas di bidang sarana distribusi perdagangan yang meliputi bina usaha perdagangan, pengembangan sarana distribusi, pengawasan pengelolaan sarana distribusi;
Dalam melaksanakan tugas dan pokok Kepala Bidang Sarana Distribusi Perdagangan menyelengarakan fungsi :
a. Penetapan penyusunan rencana dan program kerja pengelolaan sarana distribusi perdagangan.
b. Penyelenggaraan pelaksanaan tugas di sarana distribusi perdagangan.
c. Pengkoordinasian perencanaan teknis di bidang sarana distribusi perdagangan.
d. Perumusan sasaran pelaksanaan tugas di bidang sarana distribusi perdagangan.
e. Pembinaan dan pengarahan pelaksanaan tugas di bidang sarana distribusi perdagangan.
f. Pelaporan pelaksanaan tugas pengelolaan sarana distribusi perdagangan.
g. Evaluasi pelaksanaan tugas pengelolaan di bidang pengelolaan sarana distribusi perdagangan.
h. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
i. Pelaksanaan koordinasi / kerjasama dan kemitraan dengan unit kerja / instansi / lembaga di bidang sarana distribusi perdagangan.
Bidang Pengembangan Usaha Koperasi, membawahkan: a. Seksi Bina Usaha Perdagangan;
b. Seksi Pengembangan Sarana Distribusi;
c. Seksi Pengawasan Pengelolaan Sarana Distribusi.
4) Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dan Luar Negeri
Bidang Perdagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri dipimpin oleh seorang Kepala Bidang. Kepala Bidang Dalam Negeri dan Luar Negeri mempunyai tugas pokok memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan tugas-tugas di bidang pengelolaan perdagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri yang meliputi perdagangan dalam negeri, perdagangan luar negeri, dan pengawasan distribusi perdagangan.
Dalam melaksanakan tugas pokok, Bidang Perdagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri mempunyai fungsi :
a) Penetapan penyusunan rencana dan program kerja perdagangan dalam dan luar negeri.
b) Penyelenggaraan pelaksanaan tugas di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.
c) Pengkoordinasian perencanaan teknis dan pelaksanaan tugas di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.
d) Perumusan sasaran pelaksanaan tugas di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.
e) Pembinaan dan pengarahan pelaksanaan tugas di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.
f) Pelaporan pelaksanaan tugas di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.
g) Evaluasi pelaksanaan tugas di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.
h) Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
i) Pelaksanaan koordinasi / kerjasama dan kemitraan dengan unit kerja / instansi / lembaga atau pihak ketiga di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.
Bidang Perdagangan Dalam Negeri dan Luar Negeri membawahkan: a) Seksi Perdagangan Dalam Negeri
b) Seksi Perdagangan Luar Negeri c) Seksi Pengawasan Distribusi
5) Bidang Kemetrologian, Energi Dan Sumber Daya Mineral
Bidang Kemetrologian, Energi dan Sumber Daya Mineral dipimpin oleh seorang Kepala Bidang. Kepala Bidang Kemetrologian, Energi dan Sumber Daya Mineral mempunyai tugas pokok memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan tugas-tugas di bidang kemetrologian dan sumber daya energi yang meliputi standardisasi kemetrologian, pengawasan dan penyuluhan kemtrologian, dan sumber daya energi.
Dalam melaksanakan tugas pokok, Bidang Kemetrologian, Energi dan Sumber Daya Mineral mempunyai fungsi :
a. penetapan penyusunan rencana dan program kerja Bidang Kemetrologian, Energi dan Sumber Daya Mineral;
b. penyelenggaraan pelaksanaan tugas di bidang Kemetrologian dan Sumber Daya Energi;
c. pengkoordinasian perencanaan teknis dan pelaksanaan tugas di bidang Kemetrologian dan Sumber Daya Energi;
d. perumusan sasaran pelaksanaan tugas di bidang Kemetrologian danSumber Daya Energi;
e. Perumusan kebijakan kemitraan dan kerjasama
f. pembinaan dan pengarahan pelaksanaan tugas di bidang Kemetrologian dan Sumber Daya Energi;
g. pelaporan pelaksanaan tugas di bidang Kemetrologian dan Sumber Daya Energi;
h. evaluasi pelaksanaan tugas di bidang Kemetrologian danS umber Daya Energi;
i. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya;
j. pelaksanaan koordinasi / kerja sama dan kemitraan dengan unit kerja/ instansi dan lembaga lainnya.
Bidang Kemetrologian, Energi dan Sumber Daya Mineral membawahkan: a) Seksi Standardisasi Kemetrologian
b) Seksi Pengawasan dan Penyuluhan c) Seksi Energi dan Sumber Daya Mineral.
6) UPTD Pasar
UPTD Pasar dipimpin oleh seorang Kepala UPTD. Kepala UPTD Pasar mempunyai tugas pokok memimpin, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan melaporkan pengelolaan sebagian fungsi Dinas di bidang pengelolaan dan pengembangan pasar;
Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini Kepala UPTD Pasar menyelenggarakan fungsi :
a. penetapan penyusunan rencana dan program kerja pengelolaan dan pengembangan pasar;
b. perencanaan operasional kegiatan pengelolaan dan pengembangan pasar meliputi pelaksanaan pemeliharaan kebersihan, kemanan dan ketertiban pasar;
c. pengawasan dan pengendalain pelaksanaan pemelihaan kebersihan, kemanan dan ketertiban pasar;
d. pengawasan, pengendalian retribusi dan penyetoran hasil pungutan retribusi ke kas daerah;
e. pengembangan kemitraan pengelolaan dan pengembangan pasar; f. pelaksanaan pelaporan harga kebutuhan pokok masyarakat secara
berkala;
g. pelaksaaan pengawasan terhadap toko modern dan pasar rakyat milik desa, koperasi maupun sawasta/perorangan di wilayah binaannya; h. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas;
i. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya;
j. pelaksanaan koordinasi pengelolaan dan pengembangan pasar dengan sub unit kerja lain di lingkungan Dinas.
UPTD Pasar, membawahkan Sub Bagian Tata Usaha. Sub Bagian Tata Usaha.
1. Sub Bagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian Tata Usaha;
2. Kepala Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas pokok menyusun dan melaksanakan pengelolaan ketatausahaan UPTD di bidang pengelolaan dan pengembangan pasar;
3. Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini Kepala Sub Bagian Tata Usaha menyelenggarakan fungsi: a. penyusunan rencana operasional ketatausahaan pengelolaan dan
pengembangan pasar;
b. pelaksanaan pengelolaan urusan umum, kepegawaian, keuangan, sarana dan prasarana UPTD;
c. penyiapan bahan fasilitasi dan dukungan administrasi pengelolaan dan pengembangan pasar;
d. pemberian dan penyusunan bahan pengelolaan administrasi kepegawaian pengelolaan dan pengembangan pasar;
e. penatausahaan penarikan retribusi dan penyetoran hasil penarikan ke kas daerah;
f. penatausahaan pelaporan harga kebutuhan pokok masyarakat secara berkala;
g. pelaksanaan pembaharuan data pedagang pasar rakyat yang dikelola dan pasar rakyat milik desa, koperasi, dan swasta/perorangan di wilayah binaan secara berkala;
h. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas
i. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya;
7) UPTD Metrologi Legal
UPTD Metrologi Legal dipimpin oleh seorang Kepala UPTD. Kepala UPTD Metrologi Legal mempunyai tugas pokok memimpin, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan melaporkan pengelolaan sebagian fungsi Dinas di bidang metrology legal;
Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini Kepala UPTD Metrologi Legal menyelenggarakan fungsi :
a. penyusunan rencana/program pembinaan, pelaksanaan, pengelolaan dan pemeliharaan standar kerja;
b. pembinaan, pelaksanaan, pengelolaan dan pemeliharaan standar kerja;
c. pemeliharaan ketertelusuran standar kerja dan perlengkapannya; d. penyiapan bahan fasilitasi dan dukungan administrasi metrologi legal; e. pelaksanaan pengelolaan, pemeliharaan dan bertanggung jawab
terhadap penggunaan cap tanda tera;
f. penyusunan rencana/program tera dan/atau tera ulang alat-alatukur, takar, timbang dan perlengkapannya (UTTP);
g. pelaksanaan tera dan/atau tera ulang alat-alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya (UTTP);
h. pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan pelaksanaan tugas;
i. pelaksanaan penyuluhan, pengamatan, pengawasan dan penyidikan tindak pidana di bidang metrologi legal. pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar sesuai dengan tugas dan fungsinya;
j. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas;
k. pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai dengan bidang tugas dan fungsinya.
Sub Bagian Tata Usaha.
Sub Bagian Tata Usaha dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian Tata Usaha; Kepala Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas pokok menyusun dan melaksanakan pengelolaan ketatausahaan UPTD di bidang metrologi legal;
Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud Kepala Sub Bagian Tata Usaha menyelenggarakan fungsi :
a. penyusunan rencana operasional ketatausahaan metrologi legal; b. pelaksanaan pengelolaan urusan umum, kepegawaian, keuangan,
c. pelaksanaan pembaharuan data potensi alat UTTP dan data tera serta tera ulang secara berkala;
d. penyiapan bahan fasilitasi dan dukungan administrasi metrologi legal;
e. pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas;
f. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala UPTD sesuai dengan bidang tugasnya;
8) Bidang Industri Non Agro
Bidang Industri Agro mempunyai tugas pokok menyelenggarakan Pengkajian Bahan Kebijakan Teknis dan penyelenggaraan Fasilitasi Industri Agro.
Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Industri Agro mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan kebijakan teknis pengembangan Industri Agro; b. penyelengaraan fasilitasi pengembangan, pengendalian, pengawasan
monitoring dan evaluasi Industri Non Agro; Rincian Tugas Bidang Industri Non Agro :
a. menyelenggarakan program kerja Bidang Industri Non Agro;
b. menyelenggarakan kebijakan dan pertimbangan teknis usaha industri, perlindungan usaha industri, perencanaan program, teknologi, standardisasi, standard kompetensi sumberdaya manusia, permodalan, kelembagaan, sarana dan prasarana, informasi industri, pengawasan industri, monitoring, evaluasi dan pelaporan pada jenis Industri Non Agro;
c. menyelenggarakan penyusunan bahan fasilitasi dan koordinasi, pembinaan dan pengembangan, pengendalian dan pengawasan, monitoring dan evaluasi, pengaturan teknis serta pelayanan umum Industri Non Agro, perlindungan usaha industri, perencanaan dan program, teknologi, standardisasi, standard kompetensi sumberdaya manusia, permodalan, lingkungan hidup, kelembagaan, sarana dan prasarana, informasi industri, pengawasan industri, monitoring, evaluasi dan pelaporan;
d. menyelenggarakan pertimbangan teknis perijinan usaha Industri Non Agro;
e. menyelenggarakan fasilitasi pembinaan dan pengembangan, pengendalian dan pengawasan, monitoring dan evaluasi, pengaturan teknis dan pelayanan umum serta pertimbangan teknis di bidang usaha Industri Non Agro , perlindungan usaha industri, perencanaan dan program, teknologi, standardisasi, standard kompetensi sumberdaya manusia, permodalan, kelembagaan, sarana dan prasarana, informasi industri, pengawasan industri, monitoring, evaluasi dan pelaporan; f. menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan
pengambilan kebijakan;
g. menyelenggarakan koordinasi dengan Dinas dan unit kerja terkait; h. menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan Perintah pimpinanan. Bidang Industri Non Agro, membawahkan :
a. Seksi Industri Logam, Mesin dan Alat Transpotasi b. Seksi Industri Tekstil Produk Tekstil dan Aneka; c. Seksi Industri Kreatif dan Elektronika.
9) Bidang Industri Agro
Bidang Industri Agro mempunyai tugas pokok Menyelenggarakan Pengkajian Bahan Kebijakan Teknis dan penyelenggaraan Fasilitasi Industri Agro.
Dalam menyelenggarakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidang Industri Agro mempunyai fungsi :
a. penyelenggaraan kebijakan teknis pengembangan Industri Agro; b. penyelengaraan fasilitasi pengembangan, pengendalian, pengawasan
monitoring dan evaluasi Industri Agro; Rincian Tugas Bidang Industri Agro :
a. menyelenggarakan program kerja Bidang Industri Agro;
b. menyelenggarakan kebijakan dan pertimbangan teknis usaha industri, perlindungan usaha industri, perencanaan program, teknologi, standardisasi, standard kompetensi sumberdaya manusia, permodalan, kelembagaan, sarana dan prasarana, informasi industri,
pengawasan industri, monitoring, evaluasi dan pelaporan pada jenis Industri Agro;
c. menyelenggarakan penyusunan bahan fasilitasi dan koordinasi, pembinaan dan pengembangan, pengendalian dan pengawasan, monitoring dan evaluasi, pengaturan teknis serta pelayanan umum Industri Agro, perlindungan usaha industri, perencanaan dan program, teknologi, standardisasi, standard kompetensi sumberdaya manusia, permodalan, lingkungan hidup, kelembagaan, sarana dan prasarana, informasi industri, pengawasan industri, monitoring, evaluasi dan pelaporan;
d. menyelenggarakan pertimbangan teknis perijinan usaha Industri Agro; e. menyelenggarakan fasilitasi pembinaan dan pengembangan,
pengendalian dan pengawasan, monitoring dan evaluasi, pengaturan teknis dan pelayanan umum serta pertimbangan teknis di bidang usaha Industri Agro, perlindungan usaha industri, perencanaan dan program, teknologi, standardisasi, standard kompetensi sumberdaya manusia, permodalan, kelembagaan, sarana dan prasarana, informasi industri, pengawasan industri, monitoring, evaluasi dan pelaporan;
f. menyelenggarakan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan pengambilan kebijakan;
g. menyelenggarakan koordinasi dengan Dinas dan unit kerja terkait; h. menyelenggarakan tugas lain sesuai dengan Perintah pimpinanan. Bidang Industri Agro, membawahkan:
a. Seksi Industri Makanan, Minuman;
b. Seksi Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional;
c. Seksi Industri Hasil Hutan, Perkebunan dan Bahan Bangunan.
Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung mempunyai struktur organisasi Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung sebagai berikut :
II.2. SUMBERDAYA DINAS PERDAGANGAN DAN PERINDUSTRIAN KABUPATEN BANDUNG
Sumber Daya Aparatur pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Perindustrian dan Perdagangan saat ini memiliki aparat / personil dengan jumlah pegawai pada tahun 2017 sebanyak 256 pegawai negeri dengan rincian 192 pegawai pria dan 57 orang pegawai wanita. Keseluruhan SDM memiliki potensi dan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Struktur tingkat pendidikan SDM Dinas Perdagangan dan Perindustian Kabupaten Bandung terekam pada diagram berikut:
Gambar 2.2
Jumlah Pegawai Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung Menurut Pendidikan Tahun Juni 2018 (orang)
Sumber : Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Disperin Kab. Bandung
Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar SDM di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung berpendidikan terakhir SLTA/SMA kebanyakan ialah tenaga kerja teknis lapangan di UPTD Pasar. Sedangkan untuk SDM di Dinas mayoritas ialah berpendidikan Strata 1 / Sarjana. 9 59 3 108 27 50 0 20 40 60 80 100 120 JUMLAH
Tingkat Pendidikan Pegawai
Berikut ini jumlah aparatur yang terdapat pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung berdasarkan golongan ruang dan jenis kelamin :
Tabel 2.1
Jumlah Pegawai Berdasarkan Golongan dan Jenis Kelamin
NO GOLONGAN JUMLAH PEGAWAI JENIS KELAMIN P L 1 Golongan I A - 57 192 Golongan I B 4 Golongan I C 50 Golongan I D - 2 Golongan II A 34 Golongan II B 1 Golongan II C 84 Golongan II D - 3 Golongan III A 22 Golongan III B 11 Golongan III C 26 Golongan III D 14 4 Golongan IV A 8 Golongan IV B 1 Golongan IV C 1 Golongan IV D - Golongan IV E -
Sumber : Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Disperin Kab. Bandung
II.3. Kondisi Prasarana dan Saran
Kondisi Prasarana dan Sarana Dinas Dinas Perdagangan dan Perindustrian, prasarana dan sarana yang dimiliki meliputi ruang dan peralatan kerja, sarana telekomunikasi dan transportasi. Kondisi prasarana dan sarana yang tersedia cukup memadai namun masih perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan kinerja. Secara lengkap, jenis dan jumlah prasarana dan sarana yang dimiliki oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung dapat dilihat pada rincian dari masing-masing tabel dibawah ini:
Tabel 2.2
Kondisi Tanah dan Bangunan Dinas Perdagangan dan Perindustrian
Kabupaten Bandung
NO TANAH BANGUNAN LOKASI LUAS
(M2) KONDISI KET
TANAH
1. Pasar Baleendah Kecamatan Balendah 40.000 Baik
2. Desa Margahayu Kecamatan
Margahayu 6.000
Baik
3. Pasar Soreang Kecamatan Soreang 15.410 Baik
4. Pasar Baru Majalaya Kecamatan Majalaya 13.265 Baik
5. Pasar ST Majalaya Kecamatan Majalaya 4.050 Baik
6. Pasar Sayati Indah dan Margahayu
Kecamatan
Margahayu 13.587
Baik
7. Pasar Banjaran Kecamatan Banjaran 868 Baik
8. Pasar Banjaran Kecamatan Banjaran 2.258 Baik
9. Banjaran Kecamatan Banjaran 11.000 Baik
10. Majalaya Kecamatan Majalaya 420 Baik
11. Banjaran Kecamatan Banjaran 2227 Baik
12. Tanah Pasar Majalaya Kecamatan Majalaya 19520 Baik
13. Pasar Majalaya Kecamatan Majalaya 30.004 Baik
GEDUNG
14. Gedung Kantor Disperin
Jl. Soreang KM.17 Komp. PEMDA Kab.Bandung
1.250 Baik Kantor
Dinas 15. Gedung Pasar Margahayu
dan Sayati
Kecamatan
Margahayu 170.160 Baik
Kios Pasar 16. Gedung Pasar Majalaya Kecamatan Majalaya 758.055 Baik Kios
Pasar
17. Gedung Pasar Soreang Kecamatan Soreang 12.576 Baik Kios
Pasar 18. Gedung Pasar Cicalengka Kecamatan
Cicalengka 8.560 Baik
Kios Pasar
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar bangunan kantor kondisinya dibawah 80 persen. Hanya gedung tanah perkantoran dengan kondisi diatas 80 persen. Luas tanah beserta bangunan milik Dinas Perdagangan dan Perindustrian yang besar merupakan modal penting dalam mewujudkan capain kinerja kedepan. Oleh karena itu, beberapa aset yang belum tersertifikat dan terawat perlu mendapat perhatian khususnya dari instansi terkait di Kabupaten Bandung.
Tabel 2.3
Kendaraan Dinas Roda 2 dan Roda 4
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung Tahun 2015
NO JENIS
KENDARAAN MERK/TYPE
TAHUN
KENDARAAN JUMLAH Roda 4
1. Station Wangon Toyota Inova, 2014 1
2. Station Wangon Toyota Rush 2014 1
3. Station Wangon Isuzu 2014 1
4. Truck + Attachment -/- 1995 1
5. Truck + Attachment Local 2014 1
6. Truck + Attachment Isuzu 2014 1
7. Jeep Toyota Rush
F706M/T10m 2013 1
8. Jeep Suzuki Carry ST 100 1992 1
9. Jeep Suzuki Katana 1996 4
10. Jepp Isuzu / TBR S4 PRIC /
Mob Penumpang 1999 1
11. Jeep Suzuki Katana 1993 1
12. Mini Bus Isuzu / TBR 541 LM 25 2014 2
13. Mini Bus Suzuk Futura / ST 160 1999 1
14. Mini Bus Toyota Kijang 1993 2
15. Mini Bus Kijang / KF80 hijau 1998 1
16. Mini Bus Toyota Kijang SKF 1992 1
17. Mini Bus Toyota Kijang SKF 1999 1
18. Mini Bus Toyota Kijang 1994 1
19. Mini Bus Isuzu/Phanter 2001 1
20. Mini Bus Daihatsu Terios 2013 1
JUMLAH MOBIL 25
Roda 2
21. Sepeda Motor Honda / Astrea Ex
51185 1999 1
22. Sepeda Motor Suzuki / - 100 1993 1
23. Sepeda Motor Suzuki A Tornado
Astrea 1997 1
24. Sepeda Motor Honda GL Max 2001 1
25. Sepeda Motor Honda MCB – 97 2003 1
26. Sepeda Motor Suzuki Smash 2003 1
NO JENIS
KENDARAAN MERK/TYPE
TAHUN
KENDARAAN JUMLAH
28. Sepeda Motor Suzuki Smash 2004 2
29. Sepeda Motor Honda Supra fit 2005 1
30. Sepeda Motor Yamaha Vixon 2016 1
31. Sepeda Motor Yamaha Byson 2016 1
32. Sepeda Motor Honda GL 1992 1
JUMLAH SEPEDA MOTOR 13
Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung memiliki kendaraan dinas roda 4 sebanyak 20 unit dan jenis serta kendaraan roda 2 sebanyak 13 unitdengan berbagai merk dan jenis sebagai sarana tranportasi pendukung operasional dinas untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya selama ini, walaupun kebanyakan usia dari kendaraan tersebut sudah tua. Kondisi demikan diharapkan kedepannya menjadi perhatian bagi pihak terkait dari Pemerintah Kabupaten Bandung.
Sedangkan untuk peralatan kantor yang dimiliki oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian sebagai pendukung pelaksanaan tugas dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 2.4
Peralatan Kantor Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung Tahun 2016
NO NAMA BARANG JUMLAH SATUAN KONDISI
1. Komputer PC 19 Unit Baik
2. Monitor 19 Unit Baik
3. Printer 23 Unit Baik
4. Laptop 7 Unit Baik
5. Notebook 9 Unit Baik
6. Proyektor+attachment 4 Unit Baik
7. Mesin Ketik manual standar (14-16) 5 Unit Baik
8. Mesin Ketik manual longerman 2 Unit Baik
9. Mesin Ketik elektronik 2 Unit Baik
10. Mesin hitung manual 1 Unit Baik
NO NAMA BARANG JUMLAH SATUAN KONDISI
12. Filling besi / metal 7 Unit Baik
13. Scanner 3 Unit Baik
14. Trappo 1.000 watt 1 Unit Baik
15. Universal tester lain-lain 1 unit baik
16. Bejana Ukur 1 Unit Baik
17. Alat ukur lain-lain 1 Unit Baik
18. Timbangan BBI kapasitas 100 kg 3 Unit Baik
19. Timbangan sentisimal 1 Unit Baik
20. Brand kas 4 Unit Baik
21. Lemari kaca 1 Unit Baik
22. Papan Visuil 5 Unit Baik
23. Alat Penghancur Kertas 2 Unit Baik
24. Papan nama instansi 1 Unit Baik
25. Papan Pengumuman 3 Unit Baik
26. White board 1 Unit Baik
27. Dry seal 8 Unit Baik
28. Overhead projector 2 Unit Baik
29. White board elektronik 1 Unit Baik
30. Display 1 Unit Baik
31. Genset 2 Unit Baik
32. Lemari Kayu 3 Unit Baik
33. Meja kayu rotan 4 Unit Baik
34. Kursi kayu/rotan/bambu 2 Unit Baik
35. Meja rapat 2 Unit Baik
36. Meja tambahan 1 Unit Baik
37. Kursi tamu 7 Unit Baik
38. Kursi Putar 3 Unit Baik
39. Kursi lipat 6 Unit Baik
40. Meja komputer 1 Unit Baik
41. Meja biro 9 Unit Baik
42. Sofa 1 Unit Baik
NO NAMA BARANG JUMLAH SATUAN KONDISI
44. Tempat tidur busa (springbad) 1 Unit Baik
45. Kursi kerja 1 Unit Baik
46. Mesin penghisap debu (vacuum cleaner)
1
Unit Baik
47. Mesin potong rumput 2 Unit Baik
48. Lemari es 2 Unit Baik
49. AC unit 2 Unit Baik
50. AC split 4 Unit Baik
51. Kipas angin 1 Unit Baik
52. Kompor gas 1 Unit Baik
53. Alat dapur lainnya 1 Unit Baik
54. Tabung gas 1 Unit Baik
55. Dispenser 1 Unit Baik
56. Radio 1 Unit Baik
57. Televisi 5 Unit Baik
58. Lemari Besi 6 Unit Baik
59. Equalizer 1 Unit Baik
60. Loudspeaker 2 Unit Baik
61. Sound system 1 Unit Baik
62. Wireless 2 Unit Baik
63. Megaphone 2 Unit Baik
64. Mic conference 1 Unit Baik
65. Stabilisator 1 Unit Baik
66. Camera video 1 Unit Baik
67. Tustel 8 Unit Baik
68. Timbangan badan 1 Unit Baik
69. Tangga alumunium 1 Unit Baik
70. Kaca hias 1 Unit Baik
71. Dispenser 1 Unit Baik
72. Handy cam 3 Unit Baik
73. Alat rumah tangga lain-lain 3 Unit Baik
NO NAMA BARANG JUMLAH SATUAN KONDISI
75. Alat pemadam portable 7 Unit Baik
76. Alat pemadam kebakaran lain-lain 2 Unit Baik
77. UPS 1 Unit Baik
78. Server 1 Unit Baik
79. Meja kerja pejabat eselon V 1 Unit Baik
80. Meja kerja pegawai non struktural 2 Unit Baik
81. Kursi pejabat eselon IV 1 Unit Baik
82. Kursi kerja pegawai non struktural 1 Unit Baik
83. Kursi Kerja Pejabat Lain 1 Unit Baik
84. Kursi tamu di ruangan pejabat eselon III 1 Unit Baik
85. Lemari arsip untuk arsip dinamis 8 Unit Baik
86. Microphone / wireless mic 1 Unit Baik
87. Audio master control unit 1 Unit Baik
88. Peralatan studio visual lain-lain 3 Unit Baik
89. Stand microphone 1 Unit Baik
90. Tripod camera 1 Unit Baik
91. Loudspeaker 1 Unit Baik
92. Pesawat telephone 1 Unit Baik
93. Handy talky 2 Unit Baik
94. Facsimile 2 Unit Baik
95. Alat komunikasi radio ssb lain-lain 1 Unit Baik
96. Wrapping machine 1 Unit Baik
97. Timbangan elektronik 3 Unit Baik
98. Freezer 1 Unit Baik
99. Mixer 1 Unit Baik
100. Gelas ukur 1 Unit Baik
101. CCTV 2 Unit Baik
Dari sisi alat kantor dan rumah tangga, seluruh barang dalam kondisi baik. Alat kantor dan rumah tangga yang tersedia relatif lengkap dalam menunjang aktivitas kerja. Sehingga kondisi tersebut juga akan mendukung dinas koperasi dalam mencapai kinerjanya.
II.4. KINERJA PELAYANAN SKPD 1. Pertumbuhan Ekonomi
Sebagai pilar penting dalam mendorong perekonomian Kabupaten Bandung khususnya di sektor perindustrian dan perdagangan, capaian kinerja pelayanan perangkat daerah tidak terlepas dari hasil realisasi capaian indikator makro ekonomi Kabupaten Bandung salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi khususnya sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan. Pada tahun 2012 – 2016 stabilitas ekonomi makro di Kabupaten Bandung masih relatif stabil.
Untuk Produk Domistik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2013 sebesar 57,675 trilyun rupiah meningkat menjadi 3,393 trilyun rupiah tahun 2014 dan menjadi 61,068 trilyun rupiah.
Tabel 2.5 Laju Pertumbuhan dan Peranan Sektor Perdagangan dan Perindustrian terhadap PDRB Kabupaten Bandung Tahun 2012-2016
No Uraian / Sektor TAHUN
2012 2013 2014 2015 2016 A Urusan Industri
1 Laju Pertumbuhan Industri
Pengolahan 5,90% 5,98% 6,71% 5,77% 6,94%
2 Peranan 49,77% 50.97% 51,99% 52,06% 52,23%
B Urusan Perdagangan
1
Laju Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
7,86% 7,98% 5,66% 5,26% 5,90%
2 Peranan 14,40% 14,68% 14,38% 14,07% 13,79%
Melihat pada table diatas kondisi l a j u p e r t u m b u h a n s e k t o r i n d u s t r i d a n p e r d a g a n g a n t e r h a d a p P D R B Kabupaten Bandung mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun sejak tahun 2012, kondisi ini terus meningkat sampai tahun 2014, pertumbuhan tersebut di Kabupaten Bandung berada di atas 6 persen namun sempat mengalami
penurunan pada tahun 2015 baik sektor perdagangan maupun sektor perindustrian sebesar 5 %.Pada tahun 2015 di Kabupaten Bandung juga terkena imbas sehingga pertumbuhan ekonomi sedikit melambat dan hanya mencapai 5,77 persen untuk sektor industri pengolahan dan 5,26% untuk sektor perdagangan bila melihat data diata pada tahun 2012 sampai tahun 2014 laju pertumbuhan rata diatas 6 persen.
Hal ini terjadi karena dampak dari faktor eksternal dan kebijakan ekonomi dunia karena pada saat itu terjadi krisis diberbagai negara berkembang di benua eropa yang mempengaruhi terhadap permintaan ekspor barang dari Kabupaten Bandung terhadap negara-negara tujuan pasar eksport.
Kinerja pelayanan Dinas Perdagangan dan Perindustrian pada tahun 2011- 2015 Kabupaten Bandung secara garis besar dapat dilihat dari capain indikator kinerja baik dari indikator kinerja kunci mapun indikator kinerja lainnya seperti indikator kinerja utama, dan indikator kinerja dalam RPJMD periode sebelumnya. Selain itu kinerja pelayanan SKPD dapat dilihat sejauh mana serapan anggarannya.
TABEL 2.8
PENCAPAIAN KINERJA PELAYANAN DINAS PERDAGANGAN DAN PERINDUSTRIAN KABUPATEN BANDUNG
NO Indikator Kinerja sesuai Tugas dan Fungsi SKPD ***) Target NSPK Target IKK Target Indikator Lainnya
Target Renstra SKPD Tahun ke- Realisasi Capaian Tahun ke-
Rasio Capaian pada Tahun ke-
2012 2013 2014 2015 2016 2017 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2012 2013 2014 2015 2016 2017 1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 21 22 23 24 25 26 1 Tingkat fasilitas advokasi perlindungan konsumen (kasus) 10 35 40 40 10 35 20 - 100% 100% 50% - - -
2 Nilai eksport barang dan jasa ($) 746.381. 471,75 776.236. 731,00 807.286. 200,00 839.577. 648,00 845.601 .957,00 854.796. 852,00 833.686. 178,32 821.019. 618,92 777.105. 780,12 820.972. 744,55 824.819. 145,00 935.644. 158,00 112% 106% 96% 98% 98% 109% 3 Jumlah Pasar tradisional yang sudah ditata (Pasar) 3 2 6 4 6 3 3 2 3 4 5 6 100% 100% 50% 100% 83% 200% 4 Jumlah lokasi PKL yang sudah
ditata (lokasi) 2 2 2 2 1 0 2 2 2 2 - - 100% 100% 100% 100% 0% - 5 Jumlah unit usaha industri kecil dan menengah (IKM) 4.350 4.450 4.500 4.500 8.468 8.788 4.294 4.779 5.314 8.478 8.818 9.248 99% 107% 118% 188% 104% 105%
6 Persentase Alat UTTP bertanda
tera sah
n/a n/a n/a n/a n/a 5,00% n/a n/a n/a n/a n/a 12% n/a n/a n/a n/a n/a 240%
7 Persentase Kontribusi sub sektor Perdagangan Terhadap PDRB Kabupaten Bandung
n/a n/a n/a n/a n/a 6,00% 7,86% 7,98% 5,66% 5,26% 5,90% n/a n/a n/a n/a n/a n/a n/a
8 Persentase Kontribusi sub sektor Industri Terhadap PDRB Kabupaten Bandung
TABEL 2.9
ANGGARAN DAN REALISASI PENDANAAN DINAS PERDAGANGAN DAN PERINDUSTRIAN KABUPATEN BANDUNG
N
O Uraian ***)
Anggaran pada Tahun ke- Realisasi Anggaran pada Tahun ke- Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke-
2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 1 Program Perlindungan konsumen dan pengaman perdagangan 195.00 0.000 290.645. 003 195.195. 250 820.000.000 498.640.0 00 195.000. 000 289.986.7 73 19461025 0 788.509.0 00 424.188.0 00 100,00% 99,77 % 99,70 % 96,16 % 85,07% 2 Program peningkatan dan pengembanga n ekspor 150.35 0.000 543.450. 001 267.345. 500 135.000.000 498.640.0 00 148.515. 000 483.244.4 01 263.895.5 00 123.771.0 00 437.137.7 00 98,78% 88,92 % 98,71 % 91,68 % 87,67% 3 Program peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri 3.708. 337. 500 20.258.5 53. 505 9.372.76 1. 775 11.115.042. 746 17.533.68 6. 000 3.642.05 9. 250 9.513.857. 405 9.185.024. 250 7.792.905. 250 14.254.20 9. 300 98,21% 46,96% 98,00% 70,11% 81,30% 4 Program pembinaan pedagang kaki lima dan asongan 0 225.000. 000 136.200. 000 320.000.000 295.600.0 00 0 218.641.5 00 130.715.5 45 295.083.0 00 287.692.5 00 0,00% 97,17 % 95,97 % 92,21 % 97,32% 5 Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi 215.50 0.000 787.400. 002 704.470. 000 2.437.000.000 1.327.435. 000 215.150. 000 775.790.0 02 698.470.0 00 2.377.384. 495 1.318.516. 600 99,84% 98,53 % 99,15 % 97,55 % 99,33% 6 Program pengembanga n industri kecil dan menengah 627.72 5.000 610.917. 002 886.660. 000 932.000.000 1.110.068. 000 620.055. 000 609.587.0 02 851.799.0 00 903.658.2 50 280.728.0 00 98,78% 99,78 % 96,07 % 96,96 % 25,29% 7 Program peningkatan kemampuan teknologi industri 485.54 2.500 1.065.00 0. 001 640.605. 000 911.850.000 338.313.0 00 485.542. 500 1.063.375. 001 628.105.0 00 911.461.0 00 337.113.0 00 100,00% 99,85 % 98,05 % 99,96 % 99,65%
N
O Uraian ***)
Anggaran pada Tahun ke- Realisasi Anggaran pada Tahun ke- Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun ke-
2011 2012 2013 2014 2015 2011 2012 2013 2014 2015 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 8 Program penataan struktur industri 75.628 .000 0 95.350.0 00 0 34385000 75.628.0 00 0 74.060.00 0 0 34.685.00 0 100,00% 0,00% 77,67 % 0,00% 100,87% 9 Program pengembanga n sentra-sentra industri potensial 50.000 .000 112.650. 000 75.000.0 00 0 0 36.500.0 00 112.335.0 00 67.550.00 0 0 0 73,00% 99,72 % 90,07 % 0,00% 0,00% TOTAL 5.508. 083. 000 23.893.6 15. 514 12.373.5 87. 525 16.670.892. 746 21.636.76 7. 000 5.418.44 9. 750 13.066.81 7. 084 12.094.22 9. 545 13.192.77 1. 995 17.374.27 0. 100 85,40% 81,19 % 94,82 % 71,63 % 75,17%
Berdasarkan tabel kinerja diatas baik dari sisi kinerja program maupun keuangan menunjukan hasil yang baik. Dari sisi kienrja, capaian realisasi seluruh indikator kinerja sama dengan 100 persen bahkan ada beberapa indicator yang berhasil melampaui targetnya. Dari sisi kienrja keuangan selama tahun 2011–2015 menunjukan realisasi serapan anggaran rata-rata diatas 90 persen. Dengan capaian kinerja yang tinggi dan disertai oleh serapan anggaran tidak seratus persen dapat mengindikasikan penghematan anggaran dan kinerja perencanaan yang baik.
Berdasarkan RPJMD Kabupaten Bandung Tahun 2011-2015, Dinas Perdagangan dan Perindustrian mendapatkan tugas untuk melaksanakan program / kegiatan yang menjadi prioritas pembangunan daerah, sasaran prioritas pembangunan daerah yang menjadi tanggung jawab Dinas Perdagangan dan Perindustrian ialah “Meningkatknya pelaku Koperasi,
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (KUMKM) dan Pelaku Usaha Modal Besar” sesuai dengan penjabaran dari misi ke enam Bupati Bandung
dengan tujuan untuk meningkatkan kontribusi ekonomi kerakyatan terhadap perekonomian daerah.
Pada sasaran prioritas tersebut terdapat beberapa indikator kinerja daerah yang menjadi tugas dan kewajiban dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung dalam mencapai target indikator kinerja daerah yang telah ditetapkan tersebut. Adapun uraian mengenai target indikator kinerja adalah sebagai berikut:
a. Bidang Perindustrian
Kinerja sektor perindustrian apabila dilihat dari kontribusi terhadap PDRB atas dasar nilai berlaku tahun 2016 sebesar 6,94% dengan Nilai kontribusi sebesar Rp. 49.184.397,66 juta. Secara nominal rupiah terjadi peningkatan dari tahun ke tahun, tetapi secara prosentasi kontribusi peningkatannya masih kalah pesat dengan beberapa sektor lainnya sehingga terjadi penurunan. Berdasarkan data tahun 2017 seluruh jumlah industri di Kabupaten Bandung tercatat mencapai Unit Usaha baik industri besar, industri menengah, industri kecil maupun industri rumah tangga.
Pelayanan di bidang perindustrian lebih banyak kepada pembinaan, pendampingan dan fasilitasi terhadap IKM dalam pengembangan usaha termasuk penumbuhan wirausaha baru. Pembinaan yang dilakukan mencakup pembinaan proses produksi, desain dan kemasan, motivasi, manajemen usaha, peningkatan keterampilan, peningkatan teknologi sampai pada pembinaan promosi dan pemasaran.
Untuk fasilitasi yang diberikan antara lain fasilitasi kerjasama kemitraan, fasilitasi pengembangan teknologi, desain dan kemasan sampai dengan fasilitasi promosi dan pemasaran. Sedangkan pendampingan dilakukan agar proses pembinaan dan fasilitasi bisa berjalan secara efektif dan berkesinambungan.
TABEL 2.4
PERTUMBUHAN INDUSTRI DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2012-2015 Tahun Industri Kecil Industri Menengah Industri Besar Total 2012 4.077 103 114 4.294 2013 4.207 270 302 4.779 2014 4.642 370 302 5.314 2015 7.789 385 304 8.478 2016 8.304 397 117 8.818 2017 8.691 432 125 9.248
Bila memilihat data pda table diatas pertumbuhan industri di Kabupaten setiap tahun mengalami peningkatan, terutama utuk pertumbuhan industri di sektor industri kecil. Namun apabila melihat pada sektor industry besar justru mengalami penurunan, hal tersebut dikarenakan adanya perubahan regulasi tentang klasifikasi usaha industri dimana berdasarkan Peraturan Menteri Indutri No. 64/M-IND/PER/4/2016 tentang besaran jumlah tenaga kerja dan nilai investasi untuk klasifikasi usaha industri dimana adanya penyesuaian besaran nilai investasi dan tenaga kerja sehingga berdampak terhadap penyesuan data industri menengah dan besar.
b. Bidang Perdagangan
Kinerja sektor perdagangan dilihat dari kontribusi terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2014 sebesar 5,7 %. Khusus untuk sub sektor perdagangan besar dan eceran mengalami peningkatan dari tahun 2010 13.4% tahun 2010 menjadi 14.38% tahun 2014.
TABEL 2.1.
INDIKATOR CAPAIAN PERDAGANGAN DI KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2012-2017
No Indikator 2012 2013 2014 2015 2016 2017 1. Jumlah nilai eksporbarang dan jasa (US $) 833.686. 178,32 821.019. 618,92 777.105. 000,00 820.972. 744,55 824.819. 145,00 935.644. 158,00 2. Jumlah Pasar tradisional yang sudah ditata 5 4 2 3 5 3
Potensi perdagangan di Kabupaten Bandung antara lain : a) Pusat perbelanjaan / toko modern
• Minimarket : 485 outlet ( Indomart 202, Alfamart 180, Yomart 40, SB Mart 42, GriyaMart 8, Perorangan ).
• Yang belum ijin 50 outlet ( Indomart 25, Alfamart 10, SB Mart 9, Yomart 3, Perorangan 13 )
• Supermarket: 23 outlet.
• Jumlah toko modern yang sudah ijin 25 outlet. b) Pasar tradisional jumlahnya 2435 buah.
c) Jumlah tnada daftar Gudang yang memiliki ijin 348 unit d) Jumlah distributor dan pengecer pupuk bersubsidi 206 unit
Adapun layanan yang diberikan di bidang perdagangan antara lain adalah pembinaan terhadap kelompok-kelompok pedagang mulai dari Pedagang Kaki Lima sampai dengan pedagang ekspor-impor, monitoring dan updating data harga bahan pokok, monitoring arus perdagangan baik ekspor-impor maupun antar daerah, fasilitasi promosi dan pemasaran produk lokal, serta penerbitan SKA untuk produk ekspor.
c. Bidang Standarisasi Dan Perlindungan Konsumen Kegiatan yang banyak dilakukan terkait Standarisasi dan Perlindungan
Konsumen antara lain :
• Pengawasan barang elektronika dan keperluan rumah tangga, telekomunikasi dan informatika wajib mencantumkan label pada barang dalam Bahasa Indonesia.
• Pengawasan barang sarana bahan bangunan wajib mencantumkan label dalam bahasa indonesia.
• Pengawasan Jenis barang keperluan kendaraan bermotor wajib mencantumkan label dalam Bahasa Indonesia.
• Pengawasan Jenis barang yang telah diberlakukan SNI wajib. • Pengawasan barang yang elektronika dan keperluan rumah
tangga wajib pada kartu garansi dan petunjuk manual menggunakan Bahasa Indonesia.
• Pengawasan distribusi Pupuk bersubsidi ke Distributor dan pengecek Pupuk
• Ruang lingkup pengawasan lainnya antara lain :
1. Standar 4. Layanan Purna
Jual
2. Label 5. Cara Menjual
3. Klausula Baku 6. Cara Beriklan
• Menfasilitasi pengurusan perlindungan HAKI seperti hak merk, hak cipta dan hak paten
• Memfasilitasi uji standarisasi terhadap produk hasil industri untuk mengetahui standar yang digunakan
• Memfasilitasi sertifikasi halal produk makanan dan minuman IKM.
• Pembinaan standarisasi proses produksi.
d. Energi dan Sumber Daya Mineral
Gambaran umum kondisi daerah terkait dengan urusan energi dan sumber daya mineral yaitu sebagai berikut.
a. Energi
Potensi energi di Kabupaten Bandung terdiri dari panas bumi (geothermal), mikrohidro, biogas (limbah ternak), bahan bakar nabati (limbah organik) dan tenaga surya (PLTS).
- Panas Bumi
Terdapat 5 wilayah pengembangan yaitu wilayah Kamojang, Wayang Windu, Patuha, Cibuni, dan Darajat. Perolehan DBH panas bumi Kabupaten Bandung Tahun 2013 sebesar Rp.51.718.860.646,00 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar Rp.105.298.055.081,55, dan tahun 2011 sebesar Rp.53.860.362.127,00.
- Ketenagalistrikan
Pada tahun 2015, jumlah rumah tangga di Kabupaten Bandung yang menggunakan listrik PLN sebanyak 731.428 KK atau sekitar 82,86% dari total jumlah KK. Pemenuhan listrik penduduk Kabupaten Bandung, disamping dipenuhi oleh listrik PLN juga dipenuhi oleh tenaga mikro hidro. Tahun 2014 tercatat jumlah pengguna energi mikro hidro di Kabupaten Bandung sebanyak 34 KK (Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu) dan pengguna energi surya sebanyak 150 KK masing–masing sebanyak 50 KK yang terletak di Desa Mandalawangi Kecamatan Nagreg, Desa Sukaluyu Kecamatan Pangalengan, dan Desa Sugihmukti Kecamatan Pasirjambu.
TABEL 2.2.
Indikator Energi Dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Bandung Tahun 2012-2015
No Indikator 2012 2013 2014 2015
1.
Rasio elektrifikasi rumah
Merupakan urusan baru yang menjadi bagian dari tupoksi Dinas Perdagangan dan Perindustrian pada Tahun 2017 seiring dengan perubahan kewenangan urusan pemerintah daerah dan pusat sehingga hasil perubahan SOTK baru untuk urusan energi pemanfaatn panas bumi digabung dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian dengan level esselon IV. Sehingga data untuk capain kinerja Tahun 2010-2015 sangat minim dikarenakan pada tahun tersebut masih merupakan kewengangan Dinas Energi Sumber daya Mineral dan Pengairan Kabupaten Bandung.
II. 5 TANTANGAN DAN PELUANG PENGEMBANGAN PELAYANAN SKPD Sesuai visi dan misi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Periode 2016-2020 teridentifikasi sejumlah faktor penghambat dan pendorong pelayanan di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bandung yakni sebagai berikut :
II.5.1. FAKTOR PENGHAMBAT YANG MENJADI TANTANGAN
Walau telah dicapai berbagai perkembangan yang cukup penting dalam pengembangan perindustrian, perdagangan dan pertambangan di periode sebelumnya namun dirasakan belum tumbuh seperti yang diharapkan.
Permasalahan yang menghambat pertumbuhan ekonomi di sektor perindustrian, perdagangan dan pertambangan menjadi tantangan di tahun 2016-2021. Tantangan tersebut dipaparkan sebagai berikut :
• Industri dasar yang menjadi pemasok bahan baku dan bahan penolong, jumlah dan kemampuannya masih terbatas dan sama halnya dengan kemampuan produksi barang setengah jadi dan komponen, sehingga ketergantungan impor masih tetap tinggi.
• Masih terbatasnya populasi berteknologi tinggi dan kapasitas produksi masih belum optimal.
• Pengembangan kualitas produk dan kemasan yang belum maksimal.
• Kurangnya fasilitasi branding, promosi dan pemasaran produk. • Terganggunya penguasaan pasar domestik (khususnya akibat
beredarnya produk larang edar). • Masih rendahnya tertib niaga.
• Ketergantungan ekspor pada beberapa komoditi dan beberapa negara tujuan.
• Lemahnya penguasaan desain dan rancang bangun untuk pembangunan industri dan perdagangan dalam / luar negeri.
• Penerapan standar produk komponen dan bahan baku yang tersedia di pasar dalam negeri tidak atau belum memenuhi standar.
• Minimnya pelaku usaha yang melindungi usahanya dengan sertifikasi HKI.
• Keterbatasan infrastruktur (jaringan jalan, pelabuhan, listrik, pasokan gas).
• Arus barang impor ilegal yang tinggi (penyelundupan). • Suku bunga perbankan yang masih tinggi.
• Ketentuan limbah yang sering kali menyulitkan dunia usaha.
• Kurangnya keberpihakan serta kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri.
• Belum tersedianya perbankan yang khusus ditunjuk pemerintah untuk pembangunan industri per sektor (misalnya: bank khusus untuk agro, untuk industri, untuk migas, untuk IKM, dan lain sebagainya), dengan tingkat bunga kompetitif.
• Belum terjalinnya komunikasi/hubungan yang intensif antara hasil riset dari balai riset industri dalam negeri.
• Kelembagaan penyelenggara urusan energi dan sumber daya mineral belum memadai (bentuk instansi, peralatan pendukung dan sumber daya manusia);
• Regulasi yang ada belum memadai dan perlu penyesuaian dengan Peraturan Perundangan Yang baru.
• Kurangnya pengawasan dan penertiban pengusahaan kegiatan pertambangan
• Pengusahaan ketenagalistrikan baru terbarukan memerlukan biaya yang besar;
• Banyaknya pihak yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan pertambangan.
II.5.2. FAKTOR PENDORONG :
Penguatan pembangunan ekonomi diarahkan kedalam upaya untuk memperkuat struktur perekonomian yang lebih seimbang dan merata untuk kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan kondisi dan potensi daerah serta peluang yang ada dengan mengutamakan upaya-upaya pemulihan dan pengembangan perekonomian daerah melalui peningkatan kegiatan investasi serta mendorong dan memfasilitaskan upaya-upaya peningkatan produktivitas daerah dan pendapatan masyarakat.
Oleh karena itu pembangunan ekonomi lebih diprioritaskan pada pertumbuhan ekonomi yang berbasis ekonomi lokal yang mempuyai dampak yang luas (multiple effect) seperti sektor Perindustrian dan Perdagangan, karena sektor-sektor tersebut memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perekonomian daerah serta mempunyai kemampuan dalam menyerap tenaga kerja yang besar.
Dengan demikian sesuai dengan tugas dan fungsinya, peranan Dinas Perdagangan dan Perinduastrian Kabupaten Bandung sangat strategis dalam menggerakkan dan memperkuat pertumbuhan perekonomian daerah melalui pengawasan, pemantauan, evaluasi, pembinaan fasilitas pengembangan terhadap pelaku sektor Perindustrian, dan Perdagangan di Kabupaten Bandung.
Dalam mewujudkan peningkatan pertumbuhan perekonomian tersebut perlu dukungan birokrasi terkait dengan peningkatan pelayanan publik melalui upaya penataan struktur organisasi agar bisa efektif dan efesien, peningkatan kapasitas kelembagaan maupun aparat agar tercapai suatu birokrasi yang konduktif dalam upaya fasilitas layanan publik yang baik agar tercipta iklim konduktif yang dapat meningkatkan kinerja investasi dan ekonomi.
Adapun kondisi yang menjadi faktor pendorongnya adalah :
1. Potensi sumberdaya alam yang melimpah sangat mendukung pengembangan perekonomian.
2. Dukungan program dan sumber pendanaan dari pemerintah propinsi dan pemerintah pusat yang sangat besar sehingga meringankan beban APBD Kabupaten.