• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFERAT HIPERPLASIA ENDOMETRIUM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "REFERAT HIPERPLASIA ENDOMETRIUM"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

HIPERPLASIA ENDOMETRIUM HIPERPLASIA ENDOMETRIUM

Andi Mey Pratiwi, Mono Valentino Yohanis

A. Pendahuluam

Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebih dari kelenjar, dan stroma disertai pembentukan vaskularisasi dan infiltrasi limfosit pada endometrium. Pertumbuhan ini dapat mengenai sebagian atau seluruh lapisan endometrium. Angka kejadian hiperplasia endometrium ini sangat bervariasi. Umumnya hiperplasia endometrium dikaitkan dengan perdarahan uterus disfungsi yang seringkali terjadi pada masa perimenopause, walaupun dapat terjadi pada masa reproduktif, pascamenars ataupun pascamenopause.1

Hiperplasia endometrium merupakan prekursor terjadinya kanker endometrium yang terkait dengan stimulasi estrogen yang tidak terlawan unopposed estrogen! pada endometrium uterus. "timulasi estrogen yang tidak terlawan dari siklus anovulatory dan penggunaan dari bahan eksogen pada wanita postmenopause menunjukkan peningkatan kasus hiperplasia endometrium dan karsinoma endometrium. #elainan ini biasanya muncul dengan perdarahan uterus abnormal. $esiko terjadinya progresifitas sangat terkait dengan ada atau tidak adanya sel atipik.%

The American Cancer Society A&"! memperkirakan ada '(.1(( kasus baru dari kanker rahim yang didiagnosis pada tahun %((), dimana *+  berasal dari endometrium. "istem klasifikasi dari hiperplasia

endometrium sudah dibuat berdasarkan kompleksitas dari kalenjar endometrium dan sel-sel atipik pada pemeriksaan sitologi. Hiperplasia atipikal sangat terkait dengan progresifitas menjadi karsinoma endometrium. Progresifitas dari hiperplasia endometrium, menjadi kondisi patologis yang lebih agresif sangat terkait dengan diagnosis awal pada

endometrium.)

Hiperplasia sederhana  simple hyperplasia! lebih sering mengalami regresi jika sumber estrogen eksogen dihilangkan.

(2)

agaimanapun, hiperplasia atipikal seringkali berkembang menjadi adenokarsinoma kecuali diintervensi dengan terapi medis. /erapi dengan penggantian hormon sedang dalam penelitian untuk menentukan dosis dan tipe dari progestin untuk melawan efek stimulasi berlebihan estrogen pada

endometrium. Hiperplasia endometrium biasanya didiagnosis dengan biopsy endometrium atau kuretase endometrium setelah seorang wanita

menemui dokter kandungan dengan perdarahan uterus abnormal.%,)

0odalitas terapi tergantung dengan usia pasien, keinginan untuk memiliki anak, dan keberadaan dari sel atipik pada bahan endometrium. Progestin telah sukses digunakan pada wanita dengan hiperplasia endometrium yang memilih untuk tidak dilakukan pembedahan.%,)

. efenisi

Gambar 1.

Gambar 1. Hiperplasia endometrium

Hiperplasia endometrium didefiniskan sebagai proliferasi dari kelenjar endometrium dengan bentuk dan ukuran yang ireguler dengan peningkatan pada rasio kalenjar2stroma. Hiperplasia endometrium lebih jauh diklasifikasikan menjadi hiperplasia sederhana dan kompleks berdasarkan kompleksitas dan kerumunan dari struktur kalenjar.),'

(3)

Gambar 2. Anatomi endometrium Gambar 2. Anatomi endometrium

Uterus adalah organ muscular yang berbentuk buah pir yang terletak di dalam pelvis dengan kandung kemih di anterior dan rectum di posterior. Uterus biasanya terbagi menjadi korpus dan serviks. #orpus

dilapisi oleh endometrium dengan ketebalan bervariasi sesuai usia dan tahap siklus menstruasi. 4ndometrium tersusun oleh kelenjar-kelenjar endometrium dan sel-sel stroma mesenkim, yang keduanya sangat sensitive terhadap kerja hormone seks wanita. Hormon yang ada di tubuh wanita yaitu estrogen dan progesteron mengatur perubahan endometrium, dimana estrogen merangsang pertumbuhan dan progesterone mempertahankannya.+

Pada ostium uteri internum, endometrium bersambungan dengan kanalis endoserviks, menjadi epitel skuamosa berlapis 4ndometrium adalah lapisan terdalam pada rahim dan tempat menempelnya ovum yang telah dibuahi. i dalam lapisan 4ndom etrium terdapat pembuluh darah yang berguna untuk menyalurkan 5at makanan ke lapisan ini. "aat ovum yang telah dibuahi yang biasa disebut fertilisasi! menempel di lapisan endometrium implantasi!, maka ovum akan terhubung dengan badan induk dengan plasenta yang berhubung dengan tali pusat pada bayi.+,6,7

8apisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan,agar hasil konsepsi bisa tertanam. Pada suatu fase dimana o vum tidak dibuahi oleh sperma, maka korpus luteum akan berhenti memproduksi hormon pro gesteron dan berubah menjadi korpus albikan yang menghasilkan

(4)

sedikit hormon diikuti meluruhnya lapisan endometrium yang telah menebal, karena hormon e strogen dan progesteron telah berhenti diproduksi. Pada fase ini, biasa disebut menstruasi atau peluruhan dinding rahim.+,6,7

1. "iklus endometrium normal

Pada masa reproduksi dan dalam keadaan tidak hamil, epitel mukosa pada endometrium mengalami siklus perubahan yang berkaitan dengan aktivitas ovarium. Perubahan ini dapat dibagi

menjadi ' fase endometrium, yakni

a. 3ase 0enstruasi eskuamasi! 3ase ini berla ngsung )-' ha ri. Pada fase ini terjadi pelepasan endometrium dari dinding uterus yakni sel-sel epitel dan stroma yang mengalami disintergrasi dan otolisis dengan stratum basale yang masih utuh disertai darah dari vena dan arteri yang mengalami aglutinasi dan hemolisis serta sekret dari

uterus, serviks dan kalenjar-kalenjar vulva.

7,9

b. 3ase Pasca Haid $egenerasi! 3ase ini berlangsung : ' hari hari 1-' siklus haid!. /erjadi regenerasi epitel mengganti sel epitel endometrium yang luruh. $egenerasi ini membuat lapisan endometrium setebal : (,+ mm.7,9

c. 3ase ;ntermenstrum Proliferasi! Pada fase ini endometrium menebal hingga : ),+ mm. berlangsung selama : 1( hari hari ke +-1' siklus haid!

1. 3ase proliferasi dini early proliferation phase! 3ase ini berlangsung selama : ) hari hari ke +-7!. Pada fase ini

terdapat regenerasi kelenjar dari mulut kelenjar dengan epitel

permukaan yang tipis. entuk kelenjar khas fase proliferasi yakni lurus, pendek dan sempit dan mengalami mitosis.7,9

%. 3ase proliferasi madya midproliferation phase! 3ase ini berlangsung selama : ) hari hari ke 9-1(!. 3ase ini

merupakan bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak dan tinggi. #elenjar berlekuk-lekuk dan bervariasi. "ejumlah stroma mengalami

(5)

edema. /ampak banyak mitosis dengan inti berbentuk telanjang nake nucleus!.7,9

). 3ase proliferasi akhir late proliferation phase! 3ase ini berlangsung selama : ' hari. 3ase ini dapat dikenali dari permukaan kelenjar yang tidak rata dengan banyak mitosis. ;nti epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi. "troma semakin tumbuh aktif dan padat.7,9

d. 3ase Pra Haid "ek resi! 3as e ini berlangsung seja k hari setelah ovulasi yakni hari ke 1' sampai hari ke %9. Pada fase ini ketebalan endometrium masih sama, namun yang berbeda adalah bentu k kelenjar yang berubah menjadi berlekuk-lekuk, panjang dan mengeluarkan getah yang semakin nyata. alam endometrium telah tersimpan glikogen dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi. 0emang, tujuan perubahan ini adalah untuk mempersiapkan endometrium untuk menerima telur yang dibuahi. 3ase ini terbagi menjadi dua, yakni

1. 3ase sekresi dini a lam fase ini endo metrium lebih tipis dari sebelumnya karena kehilangan cairan. Pada saat ini, endometrium dapat dibedakan menjadi beberapa lapisan yakni a. "tratum basa le yakni lapisan end ometrium bagian dalam

yang berbatasan dengan miometrium. 8apisan ini tidak aktif, kecuali mitosis pada kelenjar

b. "tratum spongiosum

yaitu lapisan tengah berbentuk anyaman seperti spons. ;ni disebabkan oleh banyaknya kelenjar yang melebar, berkelok-kelok dan hanya sedikit stroma di antaranya

c. "tratum kompaktum

yaitu lapisan atas yang padat. "aluran-saluran kelenjar sempit, lumennya berisi sekret dan stromanya edema e. 3ase sekresi lanjut 4ndometrium pada fase ini teb alnya +-6 mm.

dalam fase ini terdapat peningkatan dari fase sekresi dini, dengan endometrium sangat banyak mengandung pembuluh darah yang berkelok-kelok dan kaya akan glikogen. 3ase ini sangat ideal untuk

(6)

bertambah. "el stroma ini akan berubah menjadi sel desidua jika terjadi pembuahan.7,9

. Patogenesis

"iklus menstruasi normal ditandai dengan meningkatnya ekspresi dari onkogen bcl-% sepanjang fase proliferasi. cl-% merupakan onkogen yang terletak pada kromosom 19 yang pertama kali dikenali pada limfoma folikuler, tetapi telah dilaporkan juga terdapat pada neoplasma lainnya. Apoptosis seluler secara parsial dihambat oleh ekspresi gen bcl-% yang menyebabkan sel bertahan lebih lama. 4kspresi dari gen bcl-% tampaknya sebagian diregulasi oleh faktor hormonal dan ekspresinya menurun dengan signifikan pada fase sekresi siklus menstruasi. #emunduran ekspresi dari gen bcl-% berkorelasi dengan gambaran sel apoptosis pada endometrium yang dilihat dengan mikroskop elektron selama fase sekresi siklus menstruasi. ;dentifikasi dari gen bcl-% pada proliferasi normal endometrium sedang dalam penelitian tentang bagaimana perannya dalam terjadinya hiperplasia endometrium. 4kpresi gen bcl-% meningkat pada hiperplasia endometri um tetapi terbatas hanya pada tipe simpleks. "ecara mengejutkan, ekspresi gen ini justru menurun pada hiperplasia atipikal dan karsinoma endometrium. Peran dari gen 3as23as 8 juga telah diteliti akhit-akhir ini tentang kaitannya denga pembentukan hiperplasia endometrium. 3as merupakan anggota dari keluarga tumor necrosis factor /<3!2 <erve =rowth 3actor <=3! yang berikatan dengan 3as 8 3as 8igand ! dan menginisisasi apoptosis. 4kpresi gen 3as dan 3as 8 meningkat pada sampel endometrium setelah terapi progesteron. ;nteraksi antara ekspresi 3a s da n bc l- % da pa t dari hiperplasia endometrium. 4kspresi gen bcl-% menurun saat terdapat progesteron intrauterin sedangkan ekspresi gen 3as justru meningkat. "tudi diatas telah memberikan tambahan wawasan tentang perubahan molekuler yang kemu dian berkembang secara kl in is menjadi hiperplasia endometrium. ibutuhka n penelitian lebih lanjut untuk mengklarifikasi peran bcl % dan 3as23as8 pada patogenesis molekular terbentuknya hiperplasia endometrium dan karsinoma endometrium.*,1(

(7)

Hiperplasia endometrium ini diakibatkan oleh hiperestrinisme atau adanya stimulasi unoppesd estrogen estrogen tanpa pendamping progesteron 2 estrogen tanpa hambatan!. #adar estrogen yang tinggi ini

menghambat produksi =onadotrpin feedback mechanism!. Akibatnya

rangsangan terhadap pertumbuhan folikel berkurang, kemudian terjadi regresi dan diikuti perdarahan.*,1(

Pada wanita perimenopause sering terjadi siklus yang anovulatoar sehingga terjadi penurunan produksi progesteron oleh korpus luteum sehingga estrogen tidak diimbangi oleh progestero n. Akibat dari keadaan ini adalah terjadinya stimulasi hormon estrogen terhadap kelenjar maupun stroma endometrium tanpa ada hambatan dari progesteron yang menyebabkan proliferasi berlebih dan terjadinya hiperplasia pada endometrium. >uga terjadi pada wanita usia menopause dimana sering kali mendapatkan terapi hormon penganti yaitu progesteron dan estrogen, maupun estrogen saja. 4strogen tanpa pendamping progesterone unopposed estrogen! akan menyebabkan penebalan endometrium. Peningkatan estrogen juga dipicu oleh adanya kista ovarium serta pada wanita dengan berat badan berlebih.9,*

4. 3aktor $esiko

3aktor resiko Hiperplasia endometrium sama seperti pada kasus kanker endometrium, yang paling penting diantarany a adalah peningkatan Body Mass Index 0;! dan nulipara. 3aktor resiko yang lain yaitu anovulasi

yang bersifat kronik,late onset o menopouse? dan diabetes. "ecara teoritis kebanyakan dari kondisi tersebut dihubungkan dengan peningkatan

sirkulasi estrogen yang relatif dari progesteron. ukungan yang lebih kuat dihubungakan dengan unopposed terapi estrogen dalam perkembang an hiperplasia endometrium dan karsinoma endometrium. eberapa faktor resiko dari Hiperplasia endomtrium adalah sebagai berikut%,1(

@ 1. besitas

%. Choni! ano"ulatin dan P&" ). <ulipara dan infertil

'. /erapi estrogen

(8)

6. Hereditary <onpolyposis &olorectal &ancer H<P&&! 7. iabetes

3. #lasifikasi Hiperplasia 4ndometrium

Gambar 3.

Gambar 3.#lasifikai hiperplasia endometrium1%

"istem klasifikasi untuk hiperplasia endometrium dikembangkan berdasarkan karakteristik histologi dan potensi onkogenik

#lasifikasi Hiperplasia endometrium berdasarkan rganisasi #esehatan unia BH! /ahun 1**' berdasarkan pada kedua kompleksitas arsitektur kelenjar dan adanya nukleus atypia. terdiri dari empat kategori@ hiperplasia simpel, hiperplasia kompleks, hiperplasia simpel dengan atipia, hiperplasia kompleks dengan atypia.1)

Asosiasi sitologi atypia dengan peningkatan risiko kanker endometrium sudah dikenal sejak 1.*9+, #lasifikasi ;ntraepithelial <eoplasia 4ndometrium 4;<! adalah sistem alternatif nonmenklatur yang

(9)

diusulkan di tahun %((), tujuannya adalah untuk meningkatkan prediksi hasil klinis , meningkatkan inter-observer reproduktifitas dan mengurangi bias subjektif yang melekat pada klasifikasi BH 1**'. "kema 4;< diagnostik terdir i dari tiga kategori, Benign hiperplasia endometrium!,

premalignant diagnosis 4;< berdasarkan lima kriteria subjektif histologis! dan malignant kanker endometrium!, tetapi klasifika si ini tidak banyak digunakan di ;nggris.1)

erdasarkan $evisi terbaru /ahun %(1' klasifikasi BH. Hiperplasia endometrium dibedakan menjadi dua kelompok didasarkan pada ada atau tidak adanya sitologi atypia , yaitu hiperplasia tanpa atypia dan hiperplasia atipikal C kompleksitas arsitektur tidak lagi merupakan bagian dari klasifikasi . iagnosis dari 4;< dalam klasifikasi BH baru

dianggap digantikan dengan hiperplasia atipikal ./ujuan pembaruan klasifikasi hiperplasia endometrium berdasarkan BH %(1' menjadi dasar rekomendasi meskipun BH <omenklatur mengkategorikan morfologi hiperplasia yang sederhana atau kompleks.1)

Hiperplasia endometrium terbagi menjadi ) jenis berdasarkan morfologi pada pemeriksaan patologi anatomi, yakni @

1. Hiperplasia non-atipikal sederhana

isebut sebagai hiperplasia kistik atau ringan. /erdapat proliferasi jinak dari kalenjar endometrium yang berbentuk ireguler dan juga berdilatasi disertai , tetapi tidak menggambarkan adanya tumpukan sel

yang saling tumpang tindih atau sel yang atipik

%. Hiperplasia atipikal #ompleks neoplasia intraepitelial endometrium! /erdapat proliferasi dari kalenjar endometrium dengan tepi yang ireguler, arsitektur yang kompleks dan sel yang tumpang tindih tetapi tidak terdapat sel yang atipik. /erjadi peningkatan jumlah dan ukuran endometrium sehingga kelenjar menjadi berdesak-desakan, membesar dan berbentuk irreguler. entuk irreguler ini adalah manifestasi utama meninkatnya stratifikasi sel dan pembesaran nukleus serta mungkin meperlihatkan kompleksitas epitel permukaan yang permukaannya menjadi berlekuk-lekuk atau bertumpuk-tumpuk. =ambaran mitotik

(10)

sering ditemukan, pada bentuk yang paling parah, atipia sitologik dan arsitekturnya dapat sangat mirip dengan adenokarsinoma, dan untuk membedakan hiperplasia atipikal dengan kanker secara pasti harus dilakukan histerektomi.

). Atipikal @ /erdapat derajat yang berbeda dari nukleus yang atipik dan kehilangan polaritassnya

=. 0anifestasi #linis

Perdarahan uterus abnormal merupakan gejala yang paling sering muncul pada hiperplasia endometrium. 4fek estrogen yang tidak terlawan dari penggunaan eksogen atau siklus anovulatori menghasilkan hiperplasia endometrium dengan perdarahan yang banyak. Pasien yang lebih muda pada usia produktif biasanya muncul hiperplasia endometrium sekunder

akibat Polycystic #"arian Syndrome P&"!. P&" menghasilkan stimulasi estrogen yaang tidak terlawan secara sekunder ke siklus

anovulatori. Pada pasien yang lebih muda dapat juga terdapat peningkatan estrogen secara sekunder dari konversi perifer dari androstenedione pada jaringan adiposa pasien yang obesitas! atau tumor ovarium yang

mensekresikan estrogen pada granulosa cell tumors dan ovarian thecomas!. #onversi perifer dari androgen menjadi estrogen pada tumor yang mensekresikan androgen pada corteD adrenalis merupakan etiologi yang jarang dari hiperplasia endometrium. Pada pasien menopause dengan hiperplasia endometrium hampir selalu datang dengan perdarahan pervaginam. 0eskipun karsinoma harus dipertimbangkan pada usia ini, atropi endometrium merupakan penyebab yang sering dari perdarahan

pada wanita menopause. alam penelitian dengan %%6 wanita dengan perdarahan post menopause, 7  ditemukan dengan karsinoma, +6  dengan atrofi dan 1+  dengan beberapa bentuk hiperplasia. Hiperplasia dan karsinoma secara khusus memiliki gejala perdarahan pervaginam yang berat sedangkan pasien dengan atrofi biasanya hanya muncul bercak perdarahan. Pap "mear yang spesifik menemukan peningkatan kemungkinan deteksi kelainan pada endometrium. $esiko dari karsinoma

(11)

endometrium pada wanita post menopause dengan perdarahan uterus abnormal meningkat )-' lipat saat Pap "mear menunjukkan histiosit yang mengandung sel inflamasi akut yang difagosit atau sel endometrium yang normal. iarpun begitu, penemuan yang tidak sengaja dari histiosit pada

wanita postmenopause tanpa gejala tidak memiliki kaitan dengan peningkatan resiko hiperplasia endometrium ataupun karsinoma

endometrium.*,1(

Usia memiliki efek yang signifikan untuk menindak lanjuti kelainan pada A=& pap smear. Pada studi retrospektif pada %91 wanita dengan A=& papsmear, *( wanita )%! memiliki kelainan signifikan yang membutuhkan intervensi. Pada pasien dengan usia E +( tahun, hanya 7 pasien +! memiliki lesi non skuamosa sedangkan 1* pasien 1+! yang berusia F +( tahun memiliki lesi non skuamosa. Pasien diatas +( tahun dengan A=& pap smear memiliki kemungkinan 1) kali lipat

menderita kanker rahim dibandingkan wanita yang berusia kurang dari +( tahun.

H. iagnosis

Perdarahan uterus abnormal merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan oleh wanita dengan hiperplasia endometrium. Banita dengan perdarahan postmenopause, 1+ persen ditemukan hiperplasia endometriumdan 1( ditemukan karsinoma endometrium. Penemuan penebalan dinding uterus secara tidak sengaja dengan U"= harus diperiksa lebih lanjut untuk mendiagnosis hiperplasia endometrium. Pada sebuah penelitian dengan '6( wanita usia G '( tahun dengan perdarahan uterus abnormal, didapatkan hanya 6 wanita 1,)! yang mengalami hiperplasia endometrium. /idak ada kasus hipeplasia atipikal yang ditemukan pada kelompok wanita ini. Balaupun begitu, wanita dibawah usia '( tahun yang memiliki faktor predisposisi seperti obesitas dan P&" harus dievaluasi secara menyeluruh, biasanya dengan U"= dan terkadang dengan biopsi endometrium. Pada penelitian )6 wanita dengan P&", ketebalan endometrium kurang dari 7 mm dan interval antar menstruasi kurang dari ) bulan hanya terkait dengan proliferasi endometrium dan tidak ditemukan

(12)

adanya hiperplasia endometrium. anyak modalitas diagnostik yang telah diteliti untuk mendiagnosis secara optimal penyebab terjadinya perdarahan uterus abnormal dan untuk mengidentifikasi apakah pada pasien tersebut memiliki resiko untuk terjadinya hiperplasia atau karsinoma.),',+

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa hyperplasia endometrium dengan cara U"=, ilatasi dan #uretase, lakukan pemeriksaan Hysteroscopy dan dilakukan juga pengambilan sampel untuk pemeriksaan PA. "ecara mikroskopis sering

disebutSwiss cheese patterns$1(

1. Ultrasonografi

U"= menggunakan gelombang suara untuk mendapatkan gambaran dari lapisan rahim. Hal ini membantu untuk menentukan ketebalan rahim. U"= transvaginal merupakan prosedur diagnosis yang non invasif dan relatif murah untuk mendeteksi kelainan pada endometrium. Balaupun begitu, pada wanita postmenopause, efikasi alat ini sebagai pendeteksi hiperplasia endometrium ataupun karsinoma tidak diketahui. Pada percobaan P4P;  Postmenopausal %strogen&Progestin Inter"ensions!, dengan batas ketebalan

endometrium + mm didaptkan positive predictive value PP!, negative predictive value <P!,sensi tifitas, dan spesifisitas untuk hiperplasia endometrium atau karsinoma adalah *, **, *(, '9.U"= dapat digunakan sebagai panduan untuk menentukan jika wanita mengalami perdarahan post menopause P0! membutuhkan tes diagnostik yang lebih spesifik lagi seperti pipelle 40 atau kuret! untuk menentukan adanya hiperplasia atau karsinoma endometrium. Pada ))* wanita dengan P0, tidak ada wanita dengan ketebalan endometrium G ' mm yang berkembang menjadi karsinoma endometrium selama 1( tahun. Pada wanita pasca menopause ketebalan endometrium pada pemeriksaan ultrasonografi transvaginal kira kira E ' mm. Untuk dapat melihat keadaan dinding cavum uteri secara lebih baik maka dapat dilakukan pemeriksaan hysterosonografi dengan memasukkan cairan kedalam uterus.*,1(

(13)

%. Pipelle endometrial 'iopsy

Pengambilan sampel endometrium dengan pipelle merupakan cara yang ektif dan relatif tidak mahal untuk mengambil jaringan untuk diagnosis histologi pada wanita dengan perdarahan uterus abnormal. Pada penelitian prospektif, acak untuk membandingkan antara pipelle n I 1'*! dan kuretn I 1%6! pada wanita dengan perdarahan uterus abnormal, sampel jaringan yang kurang hanya 1%,9 dan *,+. Perbedaan ini tidak )( signifikan PE(,(+!. Pada kedua kelomp ok pasien, memiliki kesamaan diagnosis dengan diagnosis histerektomi

sebesar *6. "tudi sebelumnya menjelaskan wanita dengan banyak penyebab perdarahan uterus abnormal, bagaimanapun sangat penting

untuk dilakukan pemeriksaan pipelle 40 untuk membuat diagnosis yang benar. Pada penelitian meta analisis pada 7*1' pasien, pipelle memiliki sensitifitas ** untuk mendeteksi kanker endometrium pada

wanita post menopause, tetapi pada wanita dengan hiperplasia endometrium, sensitivitas menurun hingga 7+.*,1(

). Histeroskopi dan2atau ilatasi dan #uretase

Histeroskopi secara umum telah disepakati sebagai J gold standard K untuk mengevaluasi kavitas uterus. Polip endometrium dan

mioma submukosa dapat dideteksi dengan histeroskopi dengan sensitivitas *% dan 9%.Balaupun begitu, histeroskopi sendiri untuk mendeteksi hiperplasia dan atau karsinoma endometrium meghasilkan angka false-positive yang tinggi dan membutuhkan penggunaan dilatasi dan kuret untuk diagnosis. Pemeriksaan ini memiliki sensitivitas *9, spesifisitas *+, PP *6dan <P *9 bila dibandingkan dengan diagnosis hasil pemeriksaan jaringaan setelah histerektomi.*,1(

'. "onohisterografi

"onohisterografi merupakan pendekatan yang relatif baru untuk mendiagnosis penyebab dari perdarahan uterus abnormal. #euntungan dari sonohisterografi yang melebihi dari U"= transvaginal adalah kemampuannya yang lebih baik untuk mengevaluasi kelainan intrauterin seperti polip dan mioma submukosa.

(14)

Balaupun begitu, sonohisterografi sendiri memiliki nilai terbatas untuk mendiagnosis hiperplasia dan karsinoma endometrium.

40 dengan pipelle merupakan pembuktian yang efektif untuk mendiagnosis hiperplasia dan karsinoma namun memiliki sensitifitas yang rendah untuk mendiagnosa lesi yang jinak didalam uterus. eberapa penelitian telah mengkombinasikan transvaginal,sonohisterografi dan 40 dengan pipelle untuk mengidentifikasi penyebab dari perdarahan uterus abnormal dan secara spesifik perdarahan post menopause. ila dibandingkan dengan &-histeroskopi sebagai standar utama, transvaginal, sonohisterografi, dan 40 dengan pipelle memiliki sensitivitas lebih dari *'.Banita dengan perdarahan post menopause harus menjalani pemeriksaan fisik yang menyeluruh untuk menentukan sumber perdarahan. >ika pemeriksaan fisik tidak dapat menjelaskan penyebab perdarahan, U"=

transvaginal dapat digunakan sebagai panduan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Banita post menopause dengan penebalan dinding uterus F+mm! atau wanita dengan perdarahan persisten yang tidak bisa dijelaskan membutuhkan biopsi endometrium. iagnosis hiperplasia atau karsinoma endometrium pada pemeriksaan biopsi enometrium harus dievaluasi dengan & untuk memperoleh spesimen yang lebih luas

Pada sebagian besar kasus , terapi hiperplasia endometrium atipik dilakukan dengan memberikan hormon progesteron. engan pemberian progesteron, endometrium dapat luruh dan mencegah pertumbuhan kembali. #adang kadang disertai dengan perdarahan per

vaginam. esarnya dosis dan lamanya pemberian progesteron ditentukan secara individual. "etelah terapi ,dilakukan biopsi ulang untuk melihat efek terapi. Umumnya jenis progesteron yang diberikan adalah 0edroDyprogetseron acetate 0PA! 1( mg per hari selama 1( hari setiap bulannya dan diberikana selama ) bulan berturut turut.Pada pasien hiperplasia komplek harus dilakukan evaluasi dengan  L &fraksional dan terapi diberikan dengan progestin setiap hari selama 6

(15)

bulan.Pada pasien hiperplas ia komplek dan atipik sebai knya dilaku kan histerektomi kecuali bila pasien masih menghendaki anak. Pada pasien dengan tumor penghasil estrogen harus dilakukan ekstirpasi

;. iagnosis banding

Hiperplasia mempunyai gejala perdarahan abnormal oleh sebab itu dapat dipikirkan kemungkinan@ 1. #arsinoma endometrium %. Abortus inkomplit ). 8eiomioma '. Polip endometrium >. Penatalaksanaan

/erapi atau pengobatan bagi penderita hiperplasia, antara lain sebagai berikut@

1. /indakan kuratase selai n untuk meneg akkan diagnosa sekali gus sebagai terapi untuk menghentikan perdarahan

%. "elanjutnya adalah terapi progesteron untuk menyeimbangkan kadar hormon di dalam tubuh. <amun perlu diketahui kemungkinan efek samping yang bisa terjadi, di antaranya mual, muntah, pusing, dan sebagainya. $ata-rata dengan pengobatan hormonal sekitar )-' bulan, gangguan penebalan dinding rahim sudah bisa diatasi. /erapi progestin sangat efektif dalam mengobati hiperplasia endometrial tanpa atipik, akan tetapi kurang efektif untuk hiperplasia dengan atipi. /erapi cyclical progestin medroDyprogesterone asetat 1(-%( mg2hari untuk 1' hari setiap bulan! atau terapi continuous progestin megestrol asetat %(-'(

mg2hari! merupakan terapi yang efektif untuk pasien dengan hiperplasia endometri al tanpa atipik. /erapi continuous progestin dengan megestrol asetat '( mg2hari! kemungkinan merupakan terapi yang paling dapat diandalkan untuk pasien dengan hiperplasia atipikal atau kompleks /erapi dilanjutkan selama %-) bulan dan dilakukan biopsi endometrial )-' minggu setelah terapi

(16)

Endometrial Hyperplasia tanpa atipia (EH) Atipia hyperplasia (AH)

o $%&'(First line),(First line), Oral pro*esteron (Second Line)(Second Line)

Histere#tomi total + ,-O .iperl/#an #es//ran ata/ #ontraindi#asi pemedahan

.iperl/#an ,iopsi endometrial (E,) pada  EH 6 /lan dan AH 3 /lan

R

Reeggrreessii PPeerrssiisstteenn PPrrooggrreessiif f

tah/n Oral pro*esteron'stop setelah 6 /lan otal histere#tomi + ,-O i#a ter/s mener/s A,

i#a oser!asi *a*al ,eritah/ /nt/# HistReview terapiReview terapi ere#tomi total + ,-O i#a menetap setelah 12 /lan terapi medi#alAH  Histere#tomitotal + ,-O E

an oral pro*esteron   2 ne*ati! seara er/r/tan E,s selama inter!al 6 /lan ses/dah tah/nan re!ie E

eny/s/n "ollo /p ,/#anECEC  re!ie selama 6 /lan dan dishar*e EC EC

RELAPS RELAPS

ALGOR!"A PE#A!ALA$SA#AA# HPERPLASA E#%O"E!R&"

ALGOR!"A PE#A!ALA$SA#AA# HPERPLASA E#%O"E!R&"

;eteran*an

AH  atipial hiperplasia

A,  Anormal terine ,leedin* ,  ,ody ass nde<

,-O  ,ilateral -alpin*o'oophoretomy E,  Endometrial iopsy

). >ika pengobatan hormonal yang dijalani tak juga menghasilkan perbaikan, biasanya akan diganti dengan obat-obatan lain.

/anda kesembuhan penyakit hiperplasia endometrium yaitu siklus haid kembali normal. >ika sudah dinyatakan sembuh, ibu sudah bisa mempersiapkan diri untuk kembali menjalani kehamilan. <amun alangkah baiknya jika terlebih dahulu memeriksakan diri pada dokter. /erutama pemeriksaan bagaimana fungsi endometrium, apakah salurannya baik, apakah memiliki sel telur dan sebagainya.

'. Histerektomi 0etode ini merupakan solusi permanen untuk terapi perdarahan uterus abnormal. #husus bagi penderita hiperplasia kategori atipik, jika memang terdeteksi ada kanker, maka jalan satu-satunya adalah menjalani operasi pengangkatan $ahim dan ini terkait dengan angka kepuasan pasien dengan terapi ini. untuk wanita yang cukup memiliki anak dan sudah mencoba terapi konservatif dengan hasil yang tidak memuaskan, histerektomi merupakan pilihan yang terbaik. Penyakit hiperplasia endometrium cukup merupakan momok bagi kaum perempuan dan kasus seperti ini cukup dibilang kasus yang sering terjadi, maka dari itu akan lebih baik jika bisa dilakukan pencegahan yang efektif.

(17)

#. Prognosis

Gambar .

Gambar .Algoritma H4

8. Pencegahan

8angkah-langkah yang bisa disarankan untuk pencegahan, seperti @ 1. 0elakukan pemeriksaan U"= dan 2 atau pemeriksaan rahim seca ra

rutin, untuk deteksi dini ada kista yang bisa menyebabkan terjadinya penebalan dinding rahim.

(18)

%. 0elakukan konsultasi ke dokter jika mengalami gangguan seputar menstruasi apakah itu haid yang tak teratur, jumlah mestruasi yang banyak ataupun tak kunjung haid dalam jangka waktu lama.

). Penggunaan etsrogen pada masa pasca menopause harus disertai dengan pemberian progestin untuk mencegah karsinoma endometrium. '. ila menstruasi tidak terjadi setiap bulan maka harus diberikan terapi

progesteron untuk mencegah pertumbuhan endometrium berlebihan. /erapi terbaik adalah memberikan kontrasepsi oral kombinasi.

+. 0engubah gaya hidup untuk menurunkan berat badan.

.

0. #esimpulan

Hiperplasia 4ndometrium adalah suatu kondisi di mana lapisan dalam rahim endometrium! tumbuh secara berlebihan. #ondisi ini merupakan proses yang jinak benign!, tetapi pada beberapa kasus hiperplasia tipe atipik! dapat menjadi kanker rahim.

4ndometrium merupakan lapisan paling dalam dari rahim. 8apisan ini tumbuh dan menebal setiap bulannya dalam rangka mempersiapkan diri terhadap terjadinya kehamilan, agar hasil konsepsi bisa tertanam. >ika tidak terjadi kehamilan, maka lapisan ini akan keluar saat menstruasi.

Pada kebanyakan kasus hiperplasisa dapat diobati dengan obat%an yaitu dengan memakai progesteron. Progesteron menipiskan2menghilangkan penebalan serta mencegahnya tidak menebal lagi. <amun pemakain progesteron ini menimbulkan bercak spotting!.1(

Gambar

Gambar 2. Anatomi endometriumGambar 2. Anatomi endometrium

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita hiperplasia endometrium di RSUP Haji Adam Malik dan Departemen

Perbedaan ekspresi HOXA10 pada jaringan endometrium pasien endometriosis infertil dibandingkan jaringan endometrium normal. Sel endometrium normal diketahui berbeda dengan

Etiologi kanker endometrium hingga saat ini belum diketahui pasti, namun untuk kanker endometrium tipe endometrioid ( tipe 1 ) diduga merupakan proses yang diawali dengan

Tujuan pemberian terapi pada pasien dengan simple atau complex hyperplasia tanpa sel-sel atipik adalah untuk mengatasi perdarahan uterus yang abnormal dan mencegah agar

Hipotesis bahwa infertilitas menjadi faktor resiko untuk kanker endometrium didukung oleh penelitian- penelitian yang menunjukkan resiko yang lebih tinggi untuk

Saline Infusion Sonohysterography (SIS) dilakukan pada kasus kelainan endometrium (polip endometrium, hiperplasia endometrium, kanker endometrium, mioma uteri,

4ipotesis bah(a infertilitas menjadi faktor resiko untuk kanker endometrium didukung oleh penelitian- penelitian yang menunjukkan resiko yang lebih tinggi untuk nulipara

Pada beberapa penelitian tentang hiperplasia en- dometrium didapatkan ekspresi Bcl-2 pada hiper- plasia non-atipik simpleks lebih tinggi dibanding- kan kompleks dan pada