• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN METODE EKSPERIMEN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENERAPAN METODE EKSPERIMEN

DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS

SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR

APPLICATION OF EXPERIMENTAL METHODS FOR

IMPROVING LEARNING OUTCOMES SOCIAL SCIENCES

STUDENT CLASS III ELEMENTARY SCHOOL

Erma Erawati1, Dudung Abdu Salam2

STKIP Muhammadiyah Kuningan, Jl. R.A Moertasiah Soepomo No.28B Kuningan Jawa Barat, 45511

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS materi pokok jual beli di Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan tahun pelajaran 2014-2015. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dimana penulis mengatur ke dalam populasi sampel. Sampel yang digunakan adalah siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan sebesar 32 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes pilihan ganda. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah uji normalitas, dan uji hipotesis (uji z). Berdasarkan perhitungan statistik diperoleh Z Hit (5,915)> Z daf (2,35). Ha diterima berarti ada pengaruh metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPS materi pokok jual beli Kelas III siswa SDN I Puncak Kecamatan Cigugur. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ada pengaruh metode eksperimen untuk meningkatkan hasil belajar IPS materi pokok jual beli Kelas III siswa SDN I Puncak Kecamatan Cigugur.

Kata kunci: eksperimen, metode, hasil belajar

Abstract

This study aims to determine the effect of the experimental method to increase learning outcomes IPS material purchase Class III students of SDN I Peak District of Cigugur between before and after using the experimental method. This study was an experimental study. The sampling technique used is total sampling where authors set into the sample population. Sample used is a Class III student of SDN I Peak District of Cigugur District Brass totaling 32 students. Data collection techniques used are multiple-choice tests. Data analysis techniques in this study is the normality test, and test hypotheses (z test). Based on statistical calculations obtained Z Hit (5,915)> Z daf (2.35), the Ha received means that there is the influence of the experimental method to increase learning outcomes IPS material purchase Class III students of SDN I highlight the District Cigugur confidence level (α) 0 , 05. The conclusion of this study is that there is

(2)

2 the influence of the experimental method to increase learning outcomes IPS material purchase Class III students of SDN I Peak District of Cigugur.

Keywords: experimental methods, learning outcomes

PENDAHULUAN

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan rumpun mata pelajaran yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, psikologi, dan ilmu politik. Fokus kajian IPS terdiri atas lingkungan sosial peserta didik yang paling dekat hingga lingkungan yang paling jauh. Dengan demikian, IPS sebagai rumpun pelajaran mempelajari masyarakat dengan segala persoalannya. Pada jenjang pendidikan dasar, IPS merupakan mata pelajaran terpadu dan bersifat tematis.

Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri. Kajian IPS dikembangkan melalui tiga pendekatan utama, yaitu functional-approach,interdicipliner-approach, dan multidiciplinerapproach. Pendekatan fungsional digunakan apabila materi kajian lebih dominan sebagai kajian dari salah satu disiplin ilmu sosial, dalam hal ini disiplin-disiplin ilmu sosial lain berperan sebagai penunjang dalam kajian materi tersebut. Pendekatan interdisipliner digunakan apabila materi kajian betul-betul menampilkan karakter yang dalam pengkajiannya memerlukan keterpaduan dari sejumlah disiplin ilmu sosial.

Pendekatan multidisipliner digunakan manakala materi kajian memerlukan pendeskripsian yang melibatkan keterpaduan antar/lintas kelompok ilmu, yaitu ilmu alamiah (natural science), dan humaniora. Selanjutnya materi IPS senantiasa berkenaan dengan fenomena dinamika sosial, budaya, dan ekonomi yang menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat baik dalam skala kelompok masyarakat, lokal, nasional, regional, dan global. Untuk jenjang SD/MI, pengorganisasian materi mata pelajaran IPS menganut pendekatan terpadu (integrated), artinya materi pelajaran dikembangkan dan disusun tidak mengacu pada disiplin ilmu yang terpisah, melainkan mengacu pada aspek kehidupan nyata (factual/real) peserta didik sesuai dengan karakteristik usia, tingkat perkembangan berfikir, dan kebiasaan bersikap dan berprilakunya.

Menurut depdiknas (2006: 5-6) dikemukakan bahwa IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu social. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat geografi, Sejarah,

(3)

3 Sosiologi dan Ekonomi, Dari ketentuan maka secara konseptual, materi pelajaran IPS di SD/MI belum mencakup dan mengakomodasi seluruh disiplin Ilmu sosial. Agar pelaksanaan pembelajaran IPS tersebut menjadi pembelajaran yang aktif, Inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), salah satu solusinya adalah dengan metode pembelajaran, diantaranya dengan menggunakan metode eksperimen yang dapat digunakan sebagai salah satu alternatif guru dalam mengajar di kelas, sebab metode tersebut bertujuan mendorong siswa melakukan suatu percobaan tentang suatu hal,mengamati prosesnya, serta menuliskan hasil percobaan, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru (Roestiyah,2008:80). Dengan demikian dalam konteks proses belajar mengajar, pengunaan metode dalam pengajaran begitu berarti manakala metode tersebut dapat mengantarkan siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Namun dalam kenyataanya masih banyak kendala yang timbul dari pengunaan metode yang dipraktekkan. Kendala tersebut timbul bukan karena salah dengan metodenya namun disebabkan ketidak tepatan isi materi dengan karakteristik metode yang dipraktekkan. Selain itu, metode juga harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak.

Secara psikologis metode tersebut sesuai dengan psikologi perkembangan siswa sebagaimana Menurut psikolog Jean Piaget dalam bukunya Farrah Dina dkk (pendidikan yang patut dan menyenangkan) menyatakan bahwa siswa SD terutama yang duduk di kelas 3 berumur sekitar 8 sampai 12 tahun, berada pada tahap oprasional kongkrit yang memiliki ciri-ciri berpikir secara kongkrit. Cara berpikirnya terbatas pada obyek yang diperoleh melalui pengamatan langsung (Farrah Dina, 2004:9). Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar tertentu. Menurut Syaiful Sagala mengutip pendapat Dimyati dan Mudjiono bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar (Syaiful Sagala, 2003:219).

Dengan demikian, pendidikan tidak mungkin terselenggara dengan baik bilamana para pendidik maupun para peserta didik tidak didukung oleh sumber belajar yang diperlukan, terlebih lagi dalam pembelajaran IPS yang merupakan syntetic science, karena konsep, generalisasi dan temuan-temuan penelitian ditentukan atau diobservasi setelah fakta terjadi menuntut adanya suatu media pendidikan, sumber pembelajaran, dan metode pembelajaran yang bisa meningkatkan interaksi dan motivasi belajar siswa.

Hal di atas memberikan gambaran bahwa kebanyakan guru lebih tepat mengajar secara tradisional dan konservatif. Tradisional karena melaksanakan tugas dengan mendasarkan diri pada tradisi atau apa yang telah dilaksanakan oleh

(4)

4 para guru terdahulu tanpa ada usaha memperbaiki dengan daya kreasi yang ada padanya. Konservatif karena bertindak secara kolot menurut cara-cara lama yang kurang atau tidak sesuai dengan perubahan dan kemajuan jaman. Akibatnya siswa dijejali dengan berbagai pengetahuan sesuai kehendak guru atau kurikulum karena siswa adalah ibarat botol kosong yang tidak diberi kesempatan berfikir, mengolah atau mencerna apalagi berkreasi, akhirnya mereka menjadi siswa yang pasif dan reseptif saja.

Pembelajaran konvensional (ceramah) untuk mata pelajaran IPS tentu kurang relevan dan akan menimbulkan verbalisme bagi pemahaman anak, padahal masih banyak guru, khususnya di SDN I Puncak Cigugur yang menyukainya. Mereka beralasan metode ini lebih mudah dilaksanakan. Sering peneliti masuk kelas di SDN I Puncak menemukan situasi yang kurang menyenangkan. Siswa terlihat bermain sendiri dan kurang memperhatikan penjelasan guru. Ada beberapa siswa yang dengan malas-malasan mendengarkan dan terlihat kurang fokus. Guru mencoba menghidupkan situasi, dan berhasil untuk saat tersebut, tetapi pada kesempatan berikutnya keadaan itu tidak berubah.

Di sisi lain peneliti melihat keadaan siswa yang selalu merasa jenuh ketika guru hanya berceramah saja dalam menyampaikan materi, khususnya pada mata pelajaran IPS materi jual beli. Siswa lebih memilih berbicara dengan temannya atau bermain-main sendiri. Dan ketika siswa diberi pertanyaan tentang materi yang diajarkan, hanya beberapa siswa saja yang mampu menjawab dengan baik. Sehingga timbul pertanyaan dibenak peneliti apa yang harus peneliti lakukan agar suasana kelas selalu menyenangkan, siswa menjadi termotivasi mengikuti pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan hasil/prestasi belajar siswa itu sendiri. Dari permasalahan tersebut peneliti tergerak untuk mencoba melibatkan siswa dalam pembelajaran IPS pada kegiatan aktif dengan maksud agar terjadi pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Peneliti mencoba menggunakan metode eksperimen, dengan asumsi bahwa metode ini satu jalur dengan materi IPS yang sebagian besar membutuhkan keterampilan sosial dan pengalaman langsung. Metode eksperimen ini dapat dijadikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh guru dalam mengembangkan pembelajaran IPS agar lebih menarik minat dan perhatian siswa, sekaligus memberikan makna bagi perubahan sikaf dan perilaku belajar siswa.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Dengan metode ini, diharapkan dapat mengukur pengaruh metode eksperimen terhadap peningkatan hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur.

(5)

5 Adapun desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah “One Group pretest-posttest design” yang merupakan bentuk desain dari penelitian eksperimen. Penelitian ini dilakukan pada satu kelompok siswa yang diberi nama kelas eksperimen. Kelompok eksperimen adalah kelompok yang diberi perlakuan dengan menerapkan suatu metode pembelajaran yaitu metode eksperimen. Sebelumnya siswa diberi pretest untuk mengetahui keadaan awalnya sebelum diberi perlakuan. Sesudah itu siswa diberi posttest untuk mengetahui keadaan sesudah diberi perlakuan berupa penerapan metode eksperimen. Menurut Sugiyono desain ini dapat digambarkan sebagai berikut :

One Group pretest-posttest design

Pre Test Treatment Post Test

O1 X O2 Keterangan :

O1 = Tes awal diberikan pada kelompok eksperimen O2 = Tes Akhir diberikan pada kelompok eksperimen X = Perlakuan metode eksperimen

Populasi pada penelitian ini adalah siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan yang berjumlah 32 siswa.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling, dimana penulis menetapkan populasi sebagai sampel penelitian sehingga sampel yang didapat adalah siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan yang berjumlah 32 siswa.

Dalam penelitian ini tes yang dibuat adalah tes membaca cepat. Tes ini dilakukan sebanyak 2 kali.

1. Pre Test

Merupakan uji awal sebelum dilakukan eksperimen pada sampel penelitian dan menjadi langkah awal dalam penyamanan kondisi kelompok eksperimen. Tes awal (pretes)dilakukan untuk mengetahui rata-rata hasil belajar IPS pada kegiatan jual beli. Tes awal kelas eksperimen dilakukan sebelum diberikan materi kegiatan jual beli dengan menggunakan metode eksperimen.

2. Post Test

Merupakan uji akhir eksperimen, yaitu setelah dilaksanakannya eksperimen. Tes akhir (posttes)dilakukan untuk mengetahui perkembangan kemampuan siswa setelah mendapatkan materi kegiatan jual beli dengan menggunakan metode eksperimen pada kelas eksperimen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data hasil pretest hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur dengan

(6)

6 menerapkan metode konvensional memperoleh nilai terendah sebesar 35, nilai tertinggi sebesar 60 dan memperoleh rata-rata sebesar 50,156 berada di bawah nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sebesar 68, hal ini membuktikan bahwa hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur masih rendah.

Berdasarkan perhitungan uji normalitas dengan chi kuadrat pre test hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur dengan menerapkan metode konvensional diperoleh χ² hit (3,682) < χ² daf (7,81) maka populasi penelitian tersebut berdistribusi normal. Hasil analisis dan pengolahan data posttest hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur setelah menerapkan metode eksperimen memperoleh nilai terendah sebesar 65, nilai tertinggi sebesar 95 dan memperoleh rata-rata sebesar 78,28 berada di atas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sebesar 68, hal ini membuktikan bahwa penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur. Hasil pengamatan terhadap kemampuan mengajar guru dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi jual beli yang terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir pada umumnya kinerja guru baik. Guru telah melakukan tahapan metode eksperimen dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial materi jual beli. Aktivitas belajar siswa termasuk kategori baik dimana siswa terlibat aktif dalam kegiatan apersepsi tentang materi jual beli, dan penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran tentang jual beli baik sekali.

Berdasarkan perhitungan uji normalitas dengan chi kuadrat posttest hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur setelah menerapkan metode eksperimen diperoleh χ² hit (5,535) < χ² daf (7,81) maka populasi penelitian tersebut berdistribusi normal. Perhitungan secara statistik diperoleh Z Hit (5,915) > Z daf (2,35) maka Ha yang diterima artinya terdapat pengaruh metode eksperimen terhadap peningkatan hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur pada taraf kepercayaan (α) 0,05.

Perhitungan statistik di atas hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh metode eksperimen terhadap peningkatan hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur dapat diterima pada taraf kepercayaan (α) 0,05. Hasil penelitian di atas, yang menunjukkan terdapat pengaruh metode eksperimen terhadap peningkatan hasil belajar IPS materi jual beli ditunjang oleh teori Sanjaya yang mengemukakan bahwa penggunaan metode eksperimen dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam menemukan dan memproses bahan pelajarannya, mengurangi ketergantungan siswa pada guru untuk mendapatkan pelajarannya, melatih siswa dalam menggali dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, memberi pengalaman belajar

(7)

7 seumur hidup, meningkatkan keterlibatan siswa dalam menemukan dan memproses bahan pelajarannya, mengurangi ketergantungan siswa pada guru untuk mendapatkan pengalaman belajarnya (Wina Sanjaya, 2010:129).

Diperkuat juga oleh teori Sumadi yang mengemukakan bahwa kelebihan metode eksperimen adalah membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa, membangkitkan motivasi belajar pada siswa, memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuan, membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan, dan siswa terlibat langsung dalam belajar sehingga termotivasi untuk belajar.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pengaruh metode eksperimen terhadap peningkatan hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:

Hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur sebelum menerapkan metode eksperimen memperoleh rata-rata sebesar 50,156 berada di bawah nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sebesar 70, sedangkan belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur setelah menerapkan metode eksperimen memperoleh rata-rata sebesar 78,28 berada di atas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sebesar 68.

Penerapan metode eksperimen dalam pembelajaran IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Cigugur dengan tahapan siswa menyimak prosedur pelaksanaan eksperimen, mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan, melakukan eksperimen atau percobaan kegiatan jual beli, mendiskusikan dan menyelesaikan lembar kerja siswa, mempresentasikan hasil eksperimen dan diskusi kelompok serta menyimpulkan materi pelajaran jual beli.

Terdapat pengaruh metode eksperimenterhadap peningkatan hasil belajar IPS materi jual beli siswa Kelas III SDN I Puncak Kecamatan Ciguguryang diterima pada taraf kepercayaan (α) 0,05. Hal ini dibuktikan dari perhitungan secara statistik diperoleh Z Hit (5,915) > Z daf (2,35) maka Ha diterima.

(8)

8

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zaenal. 2013. Strategi Pembelajaran Sekolah Terpadu. Surabaya : Prestasi Pustaka.

Arifin. 2000. Proses Belajar Mengajar. Surabaya : Kartika.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Darsono. 2000. Belajar danPrestasi Belajar Siswa. Surabaya : Kartika.

Detsy. 2004. Teknik Penilaian Prestasi Belajar Siswa. Bandung. Pustaka Setia Hamalik, Oemar. 2000. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Ibrahim dan Nur. 2005. Metode Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning). Bandung : Remaja Rosda Karya.

Irwanto. 2003. Proses belajar mengajar. Bandung : Alfhabeta.

Lie, Anita. 2002. Strategi PembelajaranCooperative Learning. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.

Mulyasa. 2005. Strategi Pembelajaran. Jakarta. Bumi Aksara.

Nasir, Muhammad. 2001. Metode Penelitian. Jakarta. Ghalia Indonesia.

Nasution. 2000. Proses Pembelajaran dan Prestasi Belajar Siswa. Jakarta : Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Lompat jauh adalah suatu bentuk gerakan melompat mengangkat kaki ke atas-kedepan dalam upaya membawwa titik berat badan selama mungkin di udara (melayang

Laporan akhir ini dibuat untuk memenuihi syarat menyelesaikan program Pendidikan Diploma III pada jurusan Teknik Elektro Program Studi Teknik Telekomunikasi

Yahudi dari al-Aws, orang-orang merdeka (di kalangan) mereka dan mereka sendiri, mempunyai kedudukan yang sama dengan orang- orang yang terikat dengan piagam ini dalam loyalitas

2006 2006 © © © [email protected] [email protected] [email protected] Arus Bolak-Balik (AC) dalam Induktor • Induktor memiliki sifat yang berbeda.

3.3 Diagram Kelas Keseluruhan +TampilMenuPembayaran() +TampilPilihanPembayaran() +PilihMenuTagihan() +PilihPembayaranPulsa() +PilihOperator() +TampilTagihan()

Adanya prioritas pengembangan program kerja sistem informasi/teknologi informasi secara lebih tepat dan berdaya guna yang disertai dengan penyiapan dukungan infrastruktur

JARING- JARING BALOK Jika suatu balok diiris (digunting) pada tiga buah rusuk alasnya dan atasnya, serta satu buah rusuk tegaknya, kemudian direbahkan sehingga

Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis tabulasi silang. Analisis deskriptif bertujuan untuk mengubah sekumpulan data