PERHITUNGAN BIAYA PLTU PADA HASIL PERTANIAN DAN
MATERIAL BANGUNAN AKIBAT DAMPAK EMISI
Mochamad Nasrullah dan Wiku Lulus Widodo
Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir (PKSEN), BATAN Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta 12710 email: [email protected]
ABSTRAK
PERHITUNGAN BIAYA PLTU PADA HASIL PERTANIAN DAN MATERIAL BANGUNAN AKIBAT DAMPAK EMISI. Perhitungan biaya eksternalitas dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap sangat penting dilakukan. Kajian difokuskan pada PLTU yang menimbulkan dampak SO2 pada tanaman, pertanian dan
material bangunan. Model AGRIMAT dari International Atomic Energy Agency adalah model yang digunakan untuk menghitung dampak kerusakan lingkungan akibat pencemaran udara yang disebabkan oleh emisi SO2. Metode Analisis menggunakan Impact Pathways Assessment yaitu: menentukan sumber
karakteristik, Exposure Response Functions (ERF), Impacts dan Damage Costs, dan Monetary Unit Costs. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa SO2 yang dikeluarkan PLTU, jika nilai konsentrasinya 19,3 µg/m3,
biaya kerusakan mulai bernilai positip. Hal ini menunjukkan bahwa pada nilai konsentrasi tersebut, tanah di sekitar PLTU sudah mengalami penurunan kesuburan, dan ini akan merugikan bagi tanaman pertanian. Pada material bangunan, pencemaran SO2 menghasilkan biaya kerusakan. Semakin besar harga
kelembaban relatif maka biaya kerusakan pada material bangunan akan semakin tinggi. Sebaliknya semakin besar konsentrasi SO2 maka biaya kerusakan yang ditimbulkan pada material bangunan semakin kecil.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digabungkan dengan perhitungan biaya eksternal pembangkit listrik yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Pengenaan biaya eksternal telah dilakukan di negara-negara maju. Jika ini dilakukan di Indonesia, maka biaya pembangkitan listrik berbahan bakar fosil menjadi lebih mahal dan akan berimplikasi pada berkurangnya emisi gas rumah kaca. Di sisi lain, energi baru dan terbarukan diantaranya seperti nuklir, mempunyai peluang pada sistem bauran energi nasional.
Kata Kunci: biaya eksternalitas, pertanian dan material bangunan, biaya produksi listrik
ABSTRACT
CALCULATION OF COAL POWER PLANT COST ON AGRICULTURAL AND MATERIAL BUILDING IMPACT OF EMISSION. Calculation for externality cost of Coal Power Plant (CPP) is very important. This paper is focus on CPP appear SO2 impact on agricultural plant and material building. AGRIMAT'S model
from International Atomic Energy Agency is model one be used to account environmental damage for air impact because SO2 emission. Analysis method use Impact Pathways Assessment: Determining characteristic
source, Exposure Response Functions (ERF), Impacts and Damage Costs, and Monetary Unit Cost. Result for calculate shows that SO2 that issued CPP, if value of SO2 is 19,3 µg/m3, damage cost begins valuably
positif. It shows that the land around CPP has decrease prosperity, and it will disadvantage for agricultural plant. On material building, SO2 resulting damage cost. The increase humidity price therefore damage cost
on material building will increase cost. But if concentration SO2 increase therefore damage cost that is
appear on material building decrease. Expected this result can added with external cost on healt impact of CPP. External cost was done at developed countries. If it is done at Indonesia, therefore generation cost with fossil as more expensive and will get implication on issue cut back gases greenhouse. On the other side, renewable energy and also alternative energy as nuclear have opportunity at national energy mix system. Keywords: externality cost, agricultural and material building, generation cost
PENDAHULUAN
nventory pollutant seperti SO2 yang dihasilkan
dari proses pembakaran bahan bakar fosil seperti pembakaran batubara pabrik dan produksi listrik akan terpapar ke udara. Sebagian lainnya bercampur dengan O2 yang dihirup oleh makhluk
hidup dan sisanya akan langsung jatuh terdeposisi di tanah sehingga mencemari air dan mineral tanah. Selanjutnya SO2 yang terpapar ke udara akan
bercampur dengan uap air dan dan berubah menjadi
asam sulfat (H2SO4), kemudian akan turun
bersama-sama dengan hujan sebagai hujan asam. Jika H2SO4
bentuk butiran-butiran padat dan halus turun ke permukaan bumi akibat adanya gaya gravitasi bumi, maka peristiwa ini disebut dengan deposisi asam. Dampak dari hujan asam akan mempengaruhi kualitas air permukaan, merusak tanaman, melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan, serta bersifat korosif sehingga merusak material bangunan. Penurunan pH tanah
Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah – Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2016
akibat deposisi asam juga menyebabkan terlepasnya unsur aluminium dari tanah dan menimbulkan keracunan. Akar yang halus akan mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan air terhambat. Hal ini menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati. Hanya tumbuhan tertentu yang dapat bertahan hidup pada daerah tersebut, dan berakibat pada hilangnya beberapa spesies. Ini juga berarti bahwa keragaman hayati tanaman juga semakin menurun. Kadar SO2 yang
tinggi di hutan menyebabkan noda putih atau coklat pada permukaan daun, jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kematian tanaman tersebut. Mengingat dampak yang ditimbulkan, maka diperlukan usaha untuk mengendalikan pencemaran udara tersebut.
Pembangkitan listrik mengeluarkan berbagai macam polusi yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada lingkungan, kesehatan manusia, ekosistem alam, pertanian, dan material bangunan. Apabila biaya setiap kerusakan tidak dihitung dalam harga listrik, maka hal ini disebut biaya eksternalitas. Pada penelitian ini akan dikaji kerusakan dampak lingkungan yang akan mempengaruhi produksi hasil pertanian dan penurunan kualitas material bangunan. AGRIMAT merupakan salah satu modul dari AIRPACT yang digunakan untuk menghitung biaya eksternalitas akibat kerusakan dampak lingkungan yang akan berdampak pada hasil pertanian dan bangunan akibat emisi SO2.
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan estimasi biaya eksternalitas dari PLTU berbahan bakar batubara yang diakibatkan oleh pencemaran udara karena adanya emisi gas SO2.
LINGKUP DAN RENCANA
KEGIATAN
Penelitian dibatasi pada kondisi lingkungan kualitas udara disekitar kegiatan industri energi dan kelistrikan PLTU di Propinsi Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dampak terhadap populasi ini akan dianalisis dalam radius 100 km dari sumber lokasi. Pembahasan estimasi biaya eksternalitas hanya menghitung kerusakan lingkungan, pada hasil pertanian dan kualitas bahan dan bangunan didaerah yang terkena dampak. Hasil pertanian yang dikaji untuk kasus Indonesia akan diambil hasil pertanian seperti beras, jagung, kentang, ubi rambat, tebu. Sedangkan kualitas material bangunan yang dikaji untuk kasus di Indonesia yang akan dikaji adalah baja-lapis (galvanized steel), seng, batu kapur, batu pasir, batu alam dan cat.
TATA KERJA
Jenis dan Sumber Data
Sebelum data penelitian dianalisis, perlu dilakukan pengelompokkan data meliputi jenis dan sumber data yang digunakan pada model AGRIMAT. Hasil pengelompokkan data dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1. Jenis dan Sumber Data
No. Jenis Data Satuan
1. Tingkat emisi SO2 ton/tahun
2 Depletion velocity cm/detik
3 Konsentrat SO2 µg/m3
4 Ambient temperature °K
5 Relative humidity %
6 Produksi pertanian Ton/tahun
7 Material Bangunan (exposed surface) m2
8 Monetary unit costs of crop (market losses) US$ per ton 9 Monetary unit costs of damaged surface (repair costs) US$ per m2
Metode Analisis Data
Analisis dalam penelitian ini menggunakan metoda Impact Pathways Assessment (IPA) yaitu:
Menentukan Sumber Karakteristik
Dalam menentukan sumber karakteristik digunakan rumus :
)
exp(
2
uh
r
k
r
uh
Q
C
mix mix regional
(1) Q : tingkat emisi polutan tiap tahun (kg/detik),u : rata-rata kecepatan angin pada cerobong (m/detik),
hmix : tinggi the mixing layer height (m), r : Jarak downwind dari sumber (m) k : depletion velocity polutan (m/s). CReg : sumber karakteristik (kg/m3)
Dalam model AGRIMAT, u dan hmix mempunyai nilai yang telah ditetapkan yaitu 4 m/detik dan 560 m. Untuk menghitung incremental
concentrations adalah 100 x 100 km, dengan lokasi sumber emisi pada titik awal. Depletion velocity untuk SO2 mempunyai nilai antara 0.7 sampai 2.1
cm/detik.
Exposure Response Functions (ERF)
Exposure Response Functions (ERFs) dampak yang berhubungan dengan resiko yang diterima receptor (dalam kasus ini berbeda antara hasil pertanian dan material bangunan dalam mendapatkan suatu perubahan konsentrasi atmospheric dari partikel polutan (dalam kasus ini SO2). Untuk hasil pertanian (crops) dan material
bangunan, ERFs adalah hubungan non-linear, tergantung konsentrasi SO2 pada lokasi exposure
dan parameter meteorologi lain, termasuk temperature, relative humidity, precipitation dan tingkat ambient, dan pH. Untuk pertanian, suatu manfaat (negative damages) dimungkinkan jika konsentrasi SO2 cukup rendah (kurang dari 19
µg/m3). years C T or C T b T b RH C ERFslope back back back back back SO 10 ~ ); 10 ( 021 . 0 ) 10 ( 062 . 0 )] 10 ( 018 . 0 exp[ 10 15 . 0 78 . 0 4 2 (2) Untuk menghitung perubahan dampak digunakan rumus (ExternE 1998): Perubahan /tahun % =
3 2 2 2 2 3 2 2 / 39 259 . 0 067 . 0 / 39 35 . 9 241 . 0 m g C for C C m g C for C back SO back SO back SO back SO back SO (3) C SO2, back : background SO2 concentrationdalam µg/m3
RH back : background relative humidity dalam % T back : background ambient temperature dalam °C
Nilai positip berarti suatu kerusakan, sedangkan angka negatif berarti yang berhubungan dengan manfaat. Pada kasus dampak pertanian, pada tingkat SO2 rendah (kurang dari 19 µg/m3),
justru menguntungkan sebagai pupuk pertanian (fertilizer effect).
Dampak dan Biaya Kerusakan
Untuk menghitung dampak dan biaya kerusakan di persamaan [3]:
(4) Biaya Kerusakan = Dampak x Biaya Satuan
Moneter (5)
Untuk lebih rinci dalam memperkirakan, digunakan nilai terdekat kira-kira empat kotak (cells) dari sumber emisi; yang berjarak radius 100 km, dengan konsentrasi udara local CLocal. Untuk
satu sumber emisi pada lokasi awal dan tingkat emisi tiap tahun disebut Q yang dapat diperkirakan menggunakan model Gaussian plume.
(6)
22 3exp
2
1
2
Z E z Localh
r
u
Q
C
(7) hE : tinggi cerobong efektif (actual stack + plume rise) danαz : koefisien disperse vertikal.
Estimasi dampak (ImpactImproved) diformulasikan [3]
(8)
(9) Total Impact= Regional + Local impact (10)
Biaya Satuan Moneter
Biaya pada tiap hasil produksi/panen dan material bangunan pada penelitian untuk kasus Indonesia akan diambil harga pasar dalam nilai uang US$ 2007 per ton yang dihasilkan. Untuk material bangunan ditetapkan untuk kasus Indonesia akan diambil biaya pemeliharaan US$ 2007 per m2 permukaan material bangunan.
ASUMSI, JENIS DAN SUMBER DATA
Data Karakteristika Batubara dan
Emisi PLTU
Disamping energi listrik yang dihasilkan, pembakaran batubara pada pengoperasian PLTU akan menghasilkan sejumlah polutan berupa gas dan abu. Berdasarkan laporan dari AMDAL masing-masing PLTU, kualitas batubara yang akan digunakan berbeda-beda. Proses pembakaran akan menghasilkan polutan gas yang potensial mencemari kualitas udara ambien yang dikeluarkan melalui cerobong (stack), didominasi oleh gas SO2,
NOx dan CO, serta abu terbang (fly ash) atau
partikel debu (partikulat). Gas NOx dihasilkan
akibat adanya proses pembakaran yang membutuhkan udara (oksigen) yang disuplai dari udara yang mengandung unsur nitrogen sekitar 78%. Gas CO dihasilkan akibat pembakaran tidak sempurna terhadap unsur karbon batubara. Reaksi oksidasi (pembakaran) pada suhu tinggi antara batubara dengan oksigen O2 akan menghasilkan
Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah – Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2016
gas CO dan O2. Gas SO2 berasal dari adanya unsur
S pada batubara, sedangkan partikel debu berasal dari batubara. Berdasarkan sifat alamiah pembakaran batubara tersebut di atas, maka perkiraan besarnya emisi gas SO2, NOx dan debu
dapat dihitung dengan melakukan berbagai pendekatan matematika serta asumsi kelengkapan peralatan pengendali pencemaran yang akan digunakan. Rincian karakteristika batubara dan emisi PLTU dapat dilihat pada Tabel 2.
Data Aspek Lingkungan
Data aspek lingkungan merupakan data penting sebagai bahan masukan pada paket program AGRIMAT. Aspek lingkungan meliputi data seperti tingkat emisi SO2, depletion velocity, kosentrasi
SO2, temperatur ambien, relative humidity.
Data-data ini diperoleh berdasarkan studi amdal masing-masing PLTU Percepatan yang menjadi obyek pada penelitian ini. Rincian data aspek lingkungan untuk masing-masing PLTU dapat dilihat pada Tabel 3.
Dampak dan Biaya Kerusakan
Produk Pertanian
Dampak exposure particulates (PM10), NOx,
maupun ozone (O3) produksi pertanian pada
penelitian ini tidak dikaji. Sedangkan ERF menggunakan data yang telah dipraktekan pada model AGRIMAT dan direkomendasikan oleh studi
ExternE dari European Commission (ExternE 1998). ERF sulphur dioxide (SO2) ini digunakan
dalam memperkirakan dampak pada hasil produksi pertanian. Fungsi ini telah diaplikasikan pada produksi pertanian seperti beras, jagung, kentang, ubi rambat, tebu. Data produksi pertanian dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.
Material Bangunan
Material bangunan untuk kasus di Indonesia yang akan dikaji adalah baja-lapis (galvanized steel), seng, batu kapur, batu pasir, batu alam dan cat. Data material bangunan dapat dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.
Biaya Satuan Moneter
Biaya pada tiap hasil produksi/panen dan material bangunan pada penelitian untuk kasus Indonesia akan diambil harga pasar dalam nilai uang US$ 2007 per ton produk pertanian yang dihasilkan. Data biaya satuan moneter produksi pertanian dapat dilihat pada Tabel 6.
Untuk material bangunan untuk kasus di Indonesia akan diambil biaya kerusakan dalam mata uang US$ 2007 per m2 permukaan material
bangunan. Untuk data biaya satuan moneter, biaya kerusakan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 2. Karakteristika Batubara dan Emisi PLTU
Keterangan PLTU Labuhan [4] PLTU Lontar [7] PLTU Suralaya [5] PLTU Indramayu [8] PLTU Pacitan [10] PLTU Rembang [9] PLTU Tuban [6] Kebutuhan (ton/tahun) 2.294.784 3.650.000 2.106.780 4.927.500 2.106.780 3.504.000 2.628.000 Kandungan Sulfur (%) 0,33 0,42 0,33 0,35 0,47 0,33 0,47 Berat Atom S 32 32 32 32 32 32 32 Berat Mol SO2 64 64 64 64 64 64 64 Mol SO2 (mol) 0,00010313 0,0001297 0,0001031 3 0,00010844 0,000145 3 0,000103 0,0001453 Berat SO2 per 1 ton Batubara 0,0066 0,0083 0,0066 0,00694 0,0093 0,0066 0,0093 Kecepatan Alir Gas Buang 1,4 1,4 1,4 1,4 1,4 1,4 1,4
Tabel 3. Data Lingkungan PLTU Percepatan
Tabel 4. Data Produksi Pertanian PLTU Percepatan [11]
Tabel 5. Data Material Bangunan PLTU Percepatan [12]
Tabel 6. Harga Produksi Pertanian di Sekitar PLTU Percepatan [11]
Keterangan Satuan PLTU Labuhan [4] PLTU Lontar [7] PLTU Suralaya [5] PLTU Indramayu [8] PLTU Pacitan [10] PLTU Rembang [9] PLTU Tuban [6] Tingkat Emisi SO2 Ton/tahun 15.145 30.295 13.904 34.196 19.593 23.126 24.440 Depletion Velocity Cm/det 1,40 1,40 1,40 1,40 1,40 1,40 1,40 Konsentrasi SO2 µg/m3 10,65 5,46 12,54 5,65 2,04 11,16 8,90
Suhu Ambien ° Kelvins 304,91 306,85 304,52 300,50 301,95 300,50 307,74 Kelembaban relatif % 56,30 40,61 61,99 75,00 65,57 83,00 49,66 Parameter Ekonomi Satuan PLTU Labuhan PLTU Lontar PLTU Suralaya PLTU Indramayu PLTU Pacitan PLTU Rembang PLTU Tuban Produksi Pertanian Beras Ton/tahun 108.699 108.699 108.699 732.797 88.846 126.460 269.66 1 Jagung Ton/tahun 20.169 20.169 20.169 16.689 109.54 2 87.778 393.80 0 Kentang Ton/tahun - - - - 8,0 - -
Ubi Rambat Ton/tahun 125.021 125.021 125.021 222 792.11 5 39.214 6.365 Tebu Ton/tahun - - - 2.938 - - 1.680 Parameter Ekonomi Satuan PLTU Labuhan PLTU Lontar PLTU Suralaya PLTU Indramayu PLTU Pacitan PLTU Rembang PLTU Tuban Material Bangunan Baja Lapis m2 72,5 72,5 72,5 72,5 72,5 72,5 72,5 Seng m2 310,0 310,0 310,0 310,0 310,0 310,0 310,0 Batu Kapur m2 225,0 225,0 225,0 225,0 225,0 225,0 225,0 Batu Pasir m2 1.133,3 1.133, 3 1.133,3 1.133,3 1.133,3 1.133,3 1.133, 3 Batu Alam m2 1.060,0 1.060, 0 1.060,0 1.060,0 1.060,0 1.060,0 1.060, 0 Cat m2 62,5 62,5 62,5 62,5 62,5 62,5 62,5 Monetary Unit Cost Satuan PLTU Labuhan PLTU Lontar PLTU Suralaya PLTU Indramayu PLTU Pacitan PLTU Rembang PLTU Tuban Produksi Pertanian Beras US$/Ton 505,08 505,08 505,08 504,20 535,00 469,60 605,08 Jagung US$/Ton 280,00 280,00 280,00 195,40 230,00 221,00 350,00 Kentang US$/Ton 550,00 550,00 550,00 316,60 4800,00 5.690,00 - Ubi Rambat US$/Ton 120,00 120,00 120,00 157,10 360,00 1.708,00 360,00
Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah – Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2016
Tabel 7. Data Monetary Material Bangunan [12]
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengolahan data menggunakan model paket program AGRIMAT memberikan sejumlah hasil perhitungan. Hasil dan pembahasannya adalah sebagai berikut:
Biaya Kerusakan Tanaman Pertanian
Hasil perhitungan biaya kerusakan pada tanaman pertanian yang diambil dari data sekunder menunjukkan bahwa biaya kerusakan pada masing-masing PLTU besarnya dibawah 0 (negatif). Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat tertentu, pencemaran SO2 mengakibatkan tanah yang terkena
dampak menjadi subur, sehingga menguntungkan bagi tanaman pertanian. Daerah di sekitar PLTU Indramayu merupakan daerah yang paling banyak produksi pertaniannya dibandingkan daerah lain, sehingga dampak yang ditimbulkan juga paling banyak diuntungkan, dan ini ditunjukkan dengan paling besar nilai negatifnya dibandingkan daerah lain. Secara rinci hasil perhitungannya dapat dilihat pada Gambar 1.
Hasil perhitungan biaya kerusakan pada tanaman pertanian untuk total PLTU percepatan menunjukkan nilai negatif US$ 4.000.000 per tahun, artinya pencemaran SO2 dari semua PLTU
percepatan mengakibatkan dampak bagi tanah yang terkena menjadi lebih subur dari sebelumnya, sehingga berakibat menguntungkan bagi tanaman
pertanian tersebut. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 2.
Biaya Kerusakan Material Bangunan
Hasil perhitungan biaya kerusakan pada material bangunan menunjukkan bahwa biaya kerusakan pada masing-masing PLTU diatas 0 (positip) artinya pencemaran SO2 mengakibatkan
material bangunan yang terkena dampak menjadi rusak, sehingga merugikan bagi material bangunan. Biaya kerusakan material bangunan di sekitar lokasi PLTU Indramayu menunjukkan mendekati nilai US$ 2000 per tahun dan ini merupakan nilai terbesar dibandingkan PLTU lain. Hal ini disebabkan daerah di sekitar PLTU Indramayu merupakan daerah yang paling banyak bangunan rumah dibanding daerah lain, sehingga dampak yang ditimbulkan juga paling besar. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 3.
Biaya Kerusakan Material Bangunan Sesuai Data Total PLTU Percepatan
Hasil perhitungan biaya kerusakan material bangunan pada total PLTU Percepatan mendekati nilai US$ 3.885 per tahun. Sedangkan biaya kerusakan terendah mendekati nilai US$ 970 per tahun dan tertinggi bernilai US$ 15.538 per tahun. Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 1. Biaya Kerusakan Tanaman Pertanian masing-masing PLTU
Parameter Ekonomi Satuan PLTU Labuhan PLTU Lontar PLTU Suralaya PLTU Indramayu PLTU Pacitan PLTU Rembang PLTU Tuban Material Bangunan
Baja Lapis US$/m2 20,28 20,28 20,28 20,28 20,28 20,28 20,28
Seng US$/m2 106,59 106,59 106,59 106,59 106,59 106,59 106,59
Batu Kapur US$/m2 5,98 5,98 5,98 5,98 5,98 5,98 5,98
Batu Pasir US$/m2 189,00 189,00 189,00 189,00 189,00 189,00 189,00
Batu Alam US$/m2 - - - - - - -
Gambar 2. Biaya Kerusakan Tanaman Pertanian Total PLTU Percepatan
Gambar 3. Biaya Kerusakan Material Bangunan masing-masing PLTU
Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah – Penelitian Dasar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Nuklir 2016
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan dapat dikemukakan kesimpulan dan saran sebagai berikut:
Pencemaran SO2 yang dikeluarkan PLTU
batubara, pada tingkat konsentrasi tertentu, dapat memberikan keuntungan bagi tanaman pertanian pada semua produksi tanaman seperti beras, jagung, ubi rambat. Keuntungan akibat pencemaran SO2
tersebut dapat dilihat pada tanda negatif menunjukkan tanah semakin subur. Namun dalam perhitungan selanjutnya jika konsentrasi SO2
mengalami kenaikan hingga diatas 19,3 µg/m3, maka dampak pencemaran SO2 memberikan nilai
biaya kerusakan yang menunjukkan nilai positip, artinya tingkat kesuburan tanah menunjukkan penurunan dan ini merugikan bagi produksi pertanian.
Pencemaran SO2 yang dikeluarkan PLTU
tersebut akan menghasilkan biaya kerusakan pada material bangunan. Semakin besar harga kelembaban relatif maka biaya kerusakan yang ditimbulkan pada material bangunan akan semakin tinggi. Sedangkan semakin besar konsentrasi SO2
maka biaya kerusakan yang ditimbulkan pada material bangunan semakin kecil.
Di beberapa negara maju sudah ada yang memasukkan biaya eksternalitas ke dalam biaya pembangkitan listrik, dan diperkirakan pada masa depan biaya pembangkitan di Indonesia juga akan memasukkan biaya eksternalitas dalam komponen biayanya. Jika ini terjadi diperkirakan PLTN akan semakin kompetitif dibandingkan dengan pembangkit lain di Indonesia. Dokumen hasil penelitian ini sebaiknya digabungkan dengan penelitian tentang biaya eksternalitas dari aspek, selanjutnya diharapkan dapat dilakukan kajian antar kelembagaan yang lebih komprehensif untuk dapat diterapkan bagi kepentingan pemerintah, pengusaha, dan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Spadaro, J.V, Quantifying the Damage of Airborne Pollution : Impact Models, Sensitivity Analysis and Applications Ph.d. Dissertation, Ecole des Mines de Paris, Centre d’Energetique, 60 boul. St. Michel, F75272, Paris, Cedex 06, France. 1999.
2. Tiblad, J.Kucera, V, Mikhailov, A.A., Staistical Analysis of 8 Year Materials Exposure and Acceptable deterioration and Pollution Levela UN/ECE International Co-Operative Programme on Effects on Materials, Including Historie and Cultural Monuments,
Report No. 30, Swedish Corrosion Institute Stockholm, Sweden, 1998.
3. EXTERNE, Externalities of Energy. New Results to be published by ExternE Program of European Commission. Directorate general XII. Science R &D, 1998.
4. PT PLN, Laporan AMDAL Rencana Pembangunan PLTU 2 Banten Kapasitas 2 x (300-400) MW dan Jaringan Transmisi 150 kV Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, 2007.
5. PT Indonesia Power, Laporan AMDAL Rencana Pembangunan PLTU 1 Banten Dalam Rangka Pengembangan PLTU Suralaya, Propinsi Banten, 2007.
6. PT PLN, Laporan AMDAL Rencana Pembangunan PLTU 3 Jawa Timur, Kapasitas 2 x 350 MW, Kabupaten Tuban, Propinsi Jawa Timur dan Jaringan Transmisi 150 kV, 2007.
7. PT PLN, Laporan AMDAL Rencana Pembangunan PLTU 3 Banten Kapasitas 3 x (300-400) MW dan Jaringan Transmisi 150 kV, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten, 2007.
8. PT PLN, Laporan AMDAL Rencana Pembangunan PLTU 1 Jawa Barat Kapasitas 3 x (300-400) MW dan Jaringan Transmisi SUTT 150 kV Indramayu-Subang, 2007. 9. PT PLN, Laporan AMDAL Pembangunan
PLTU Tanjung Jati B Unit 3 dan 4 Kapasitas 2 x 660 MW Desa Tubanan, Kec. Kembang, Kab. Jepara, Propinsi Jawa Tengah, 2007. 10. PT PLN, Laporan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Pembangunan PLTU 1, dengan kapasitas 2 x 315 MW , Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur, 2007.
11. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Data dan Harga Produksi Pertanian, Departemen Pertanian, 2008.
12. Laporan Standar Nasional Indonesia, Bahan Material Bangunan, Jakarta, 2007.
TANYA JAWAB
Endro Kismolo (PSTA)
Kapan nilai 19,3 µg/m3 –SO
2 dicapai oleh
PLTU dalam memberikan andil pencemaran udara?
M. Nasrullah
– Nilai dicapai, jika data mencapai nilai 19, 3 µg/m3. Pada penelitian ini karena PLTU percepatan relatif baru, maka PLTU bertambah maka lama kelamaan akan mencapai nilai 19,3 µg/m3 boleh bisa melebihi.
Budi Setiawan
Apakah sudah di bandingkan dengan hasil nyata pertanian, pada beberapa daerah PLTU
Yang mempengaruhi tingkat kerusakan bahan bangunan itu “kelembaban relatif” atau
“konsentrasi SO2” (lihat di abstrak dan
kesimpulan).
M. Nasrullah
– Belum dibandingkan, hanya memperhitungkan data sekunder yang di masukkan pada model AGRIMAT.
– Yang mempengaruhi tingkat kerusakan bahan bangunan adalah konsentrasi SO2.