• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR PER.24/MEN/XII/2008 TENTANG

METODE PENGHITUNGAN PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 15 ayat (4) Peraturan

Pemerintah Nomor 15 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh Informasi Ketenagakerjaan dan Penyusunan Serta Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja, perlu menetapkan Peraturan Menteri tentang Metode Penghitungan Persediaan dan Kebutuhan Tenaga Kerja;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh Informasi Ketenagakerjaan dan Penyusunan Serta Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 34, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4701);

3. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 31/P Tahun 2007;

4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.05/MEN/IV/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sebagaimana telah diubah, terakhir dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.14/MEN/VIII/2008;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN

TRANSMIGRASI TENTANG METODE PENGHITUNGAN PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA.

(2)

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :

1. Perencanaan Tenaga Kerja, yang selanjutnya disingkat PTK, adalah proses penyusunan rencana ketenagakerjaan secara sistematis yang dijadikan dasar dan acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan.

2. Persediaan tenaga kerja, adalah angkatan kerja yang tersedia, dengan berbagai karakteristiknya.

3. Kebutuhan tenaga kerja, adalah angkatan kerja yang diperlukan untuk mengisi kesempatan kerja yang tersedia, dengan berbagai karakteristiknya.

4. Neraca tenaga kerja, adalah keseimbangan atau kesenjangan antara persediaan tenaga kerja dengan kebutuhan tenaga kerja, dengan berbagai karakteristiknya.

5. Metode penghitungan persediaan tenaga kerja, adalah cara memperkirakan jumlah angkatan kerja secara statistika.

6. Metode penghitungan kebutuhan tenaga kerja, adalah cara memperkirakan jumlah kesempatan kerja secara statistika.

7. Penduduk Usia Kerja, yang selanjutnya disingkat PUK, adalah penduduk yang berumur 15 (lima belas) tahun dan lebih atau disebut tenaga kerja.

8. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, yang selanjutnya disingkat TPAK, adalah rasio antara angkatan kerja dengan penduduk usia kerja.

9. Angkatan Kerja, yang selanjutnya disingkat AK, adalah penduduk usia kerja yang bekerja, atau punya pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pengangguran yang akftif mencari pekerjaan.

10. Bekerja, adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, sekurang-kurangnya 1 (satu) jam tidak terputus dalam seminggu.

11. Penganggur Terbuka, adalah mereka yang mencari pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan serta yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja.

12. Tingkat Penganggur Terbuka, yang selanjutnya disingkat TPT, adalah rasio antara banyaknya penganggur terbuka dengan jumlah angkatan kerja.

13. Kesempatan kerja, adalah lowongan pekerjaan yang diisi oleh pencari kerja, dan pekerja yang sudah ada.

14. Produk Domestik Regional Bruto, yang selanjutnya disingkat PDRB, adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.

(3)

15. Produktivitas Tenaga Kerja, adalah rasio antara produk berupa barang dan jasa, dengan tenaga kerja yang digunakan, baik individu maupun kelompok dalam satuan waktu tertentu, yang merupakan besaran kontribusi tenaga kerja dalam pembentukan nilai tambah suatu produk, pada proses kegiatan ekonomi.

16. Menteri adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Pasal 2

Peraturan Menteri ini dipergunakan sebagai acuan bagi Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Departemen, dan pemerintah daerah dalam melakukan penghitungan persediaan dan kebutuhan tenaga kerja.

Pasal 3

Metode penghitungan persediaan, dan metode penghitungan kebutuhan tenaga kerja, sebagaimana tercantum dalam Lampiran I dan contoh penghitungan persediaan dan kebutuhan Tenaga Kerja tercantum dalam Lampiran II Peraturan Menteri ini, dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Peraturan Menteri ini.

Pasal 4

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 18 Desember 2008 MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

ttd

Dr. Ir. ERMAN SUPARNO, MBA., M.Si.

(4)

LAMPIRAN I

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR PER.24/MEN/XII/2008 TENTANG

METODE PENGHITUNGAN PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA

BAB I PENDAHULUAN

Pembangunan bidang ketenagakerjaan dewasa ini masih menghadapi berbagai permasalahan antara lain tingginya tingkat pengangguran, terbatasnya penciptaan dan perluasan kesempatan kerja, rendahnya produktivitas pekerja/buruh. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan suatu perencanaan tenaga kerja yang sistematis yang memuat pendayagunaan tenaga kerja secara optimal, dan produktif guna mendukung pembangunan ekonomi atau sosial secara nasional, daerah, maupun sektoral sehingga dapat membuka kesempatan kerja seluas-luasnya, meningkatkan produktivitas kerja dan meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 7 mengamanatkan bahwa dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan, Pemerintah dan pemerintah daerah harus berpedoman pada rencana tenaga kerja.

Rencana Tenaga Kerja memuat persediaan tenaga kerja, kebutuhan tenaga kerja, neraca tenaga kerja dan arah kebijakan, strategi dan program pembangunan ketenagakerjaan yang dirinci menurut berbagai karakteristik. Kebijakan dan program tersebut merupakan acuan bagi seluruh instansi, khususnya instansi pencipta kesempatan kerja/instansi pembina sektor sehingga dalam menyusun strategi dan pelaksanaan program di instansinya masing-masing dengan memperhatikan bidang ketenagakerjaan khususnya penciptaan kesempatan kerja, sehingga pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan tetap berjalan.

Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2007 tentang Tata Cara Memperoleh Informasi Ketenagakerjaan dan Penyusunan Serta Pelaksanaan Perencanaan Tenaga Kerja, Pasal 15 mengamanatkan bahwa penghitungan persediaan tenaga kerja dilakukan dengan pendekatan tingkat partisipasi angkatan kerja atau iuran pendidikan, penghitungan kebutuhan tenagakerja dilakukan dengan pendekatan kebutuhan tenaga kerja dan pendekatan pendayagunaan tenaga kerja, dengan mempertimbangkan tenaga kerja di pasar kerja internasional, serta penghitungan neraca tenaga kerja disusun dengan membandingkan antara persediaan dan kebutuhan tenaga kerja. Mengingat ragamnya penghitungan persediaan, kebutuhan dan neraca tenaga kerja, maka diperlukan Metode Penghitungan Persediaan dan Kebutuhan Tenaga Kerja.

BAB II

METODE PENGHITUNGAN PERSEDIAAN TENAGA KERJA

Penghitungan persediaan tenaga kerja menggunakan pendekatan TPAK dan pendekatan Kohort.

A. Pendekatan TPAK

1. Penghitungan persediaan tenaga kerja dengan pendekatan TPAK menggunakan data dan informasi antara lain:

a. PUK menurut Jenis Kelamin, Golongan Umur, dan Tingkat Pendidikan;

(5)

b. TPAK menurut Jenis Kelamin, Golongan Umur, dan Tingkat Pendidikan yang sudah ada;

c. AK menurut Jenis Kelamin, Golongan Umur, dan Tingkat Pendidikan.

2. Metode penghitungan a. Proyeksi Penduduk

Data proyeksi penduduk diperoleh dari lembaga atau instansi yang berwenang memproyeksikan penduduk.

b. Proyeksi PUK.

Proyeksi PUK merupakan selisih antara hasil proyeksi penduduk dengan penduduk yang berumur kurang dari 15 tahun. Cara menghitungnya menggunakan rumus:

Keterangan:

PUK = Hasil proyeksi PUK P = Hasil proyeksi penduduk

P< 15 = Hasil proyeksi penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun

Proyeksi PUK menurut golongan umur dihitung dengan menggunakan rumus sebagaimana tersebut di atas.

Proyeksi PUK menurut karakteristik selain golongan umur dilakukan melalui beberapa tahap:

1) Memproyeksikan PUK dengan menggunakan rumus linear sederhana yaitu y = a + b atau rumus pertumbuhan geometrik

Keterangan:

Y = Hasil proyeksi PUK a = Konstanta

b = Parameter x = Tahun

PUKt = Proyeksi PUK tahun t PUKo = Data dasar proyeksi PUK r = Laju pertumbuhan PUK

t = Jarak (selisih) tahun proyeksi (tn) dengan tahun data dasar (to) Untuk menentukan laju pertumbuhan PUK menggunakan rumus:

Keterangan:

r = Laju pertumbuhan PUK PUKn = Data PUK tahun akhir PUKo = Data PUK tahun awal

t = Jarak (selisih) tahun proyeksi (tn) dengan tahun data dasar (to) 2) Apabila jumlahnya tidak sama dengan hasil proyeksi PUK menurut golongan umur,

maka perlu mengalikan hasil proporsi penghitungan pada huruf a dengan jumlah proyeksi PUK menurut golongan umur.

(6)

c. Proyeksi TPAK.

Proyeksi TPAK dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

Regresi Linear Sederhana Keterangan:

Y = Proyeksi TPAK a = Konstanta b = Parameter

x = Tahun

Dalam memproyeksikan TPAK setiap kelompok dilakukan penghitungan tersendiri.

Untuk menghitung TPAK dalam kelompok jumlah tidak menggunakan rumus diatas tetapi dengan membandingkan proyeksi jumlah angkatan kerja dengan proyeksi jumlah PUK.

d. Proyeksi AK.

Untuk memproyeksikan AK diperoleh dengan mengkalikan antara proyeksi PUK dengan proyeksi TPAK dengan karakteristik dan tahun yang sama.

Dengan rumus :

B. Pendekatan Kohort

Pendekatan kohort dipergunakan untuk memperkirakan jumlah angkatan kerja pada kurun waktu tertentu dengan melihat keluaran pada tiap tingkat pendidikan yang akan masuk pasar kerja.

Penghitungannya dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

AK = Angkatan Kerja

PUKTS = PUK Tidak Sekolah yang diperkirakan masuk pasar kerja.

PUK SD = PUK SD yang keluar (drop out) dan lulus tetapi tidak melanjutkan dan diperkirakan masuk pasar kerja.

PUK SMTP = PUK SMTP yang keluar (drop out) dan lulus tetapi tidak melanjutkan dan diperkirakan masuk pasar kerja.

PUK SMTA = PUK SMTA yang keluar (drop out) dan lulus tetapi tidak melanjutkan dan diperkirakan masuk pasar kerja.

PUK Dip = PUK Dip yang keluar (drop out), lulus dan diperkirakan masuk pasar kerja.

PUK S1 = PUK S1 yang keluar (drop out), lulus dan diperkirakan masuk pasar kerja.

BAB III

METODE PENGHITUNGAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA

Penghitungan kebutuhan tenaga kerja dilaksanakan secara bertahap mulai dari penghitungan perkembangan ekonomi yang dilihat dari PDRB sampai kepada perkiraan kesempatan kerja.

A. Penghitungan PDRB

1. Data dan Informasi yang dibutuhkan:

a. PDRB berdasarkan harga konstan menurut lapangan usaha.

b. Perkiraan pertumbuhan ekonomi atau PDRB menurut lapangan usaha.

(7)

2. Tahapan Penghitungan

Metodologi yang digunakan untuk menghitung proyeksi PDRB adalah sebagai berikut :

a. Mentabulasi data historis PDRB menurut lapangan usaha berdasarkan harga konstan yang sama.

b. Menghitung Proyeksi PDRB menurut lapangan usaha, sampai dengan tahun proyeksi, dengan rumus :

Keterangan:

Pti = Proyeksi PDRB sektor – i;

Poi = Data dasar PDRB sektor – i;

ri = Perkiraan pertumbuhan ekonomi (PDRB) sektor – i;

t = Jarak (selisih) tahun proyeksi (tn) dengan tahun data dasar (to)

B. Penghitungan Kesempatan Kerja 1. Data dan Informasi yang dibutuhkan:

a. Penduduk yang bekerja menurut karakteristiknya.

b. PDRB berdasarkan harga konstan menurut lapangan usaha.

c. Perkiraan pertumbuhan ekonomi atau PDRB, menurut lapangan usaha.

2. Pendekatan.

Penghitungan kesempatan kerja dapat menggunakan pendekatan Input-Output, Ekonometrik, atau Elastisitas.

a. Pendekatan Input-Output.

Dasar pemikiran penggunaan pendekatan input-output dalam perencanan kebutuhan tenaga kerja adalah bahwa permintaan akhir efektif mempunyai pengaruh terhadap penciptaan kesempatan kerja di berbagai sektor produksi.

Penciptaan kesempatan kerja tersebut bersifat langsung terhadap sektor-sektor yang mendukung peningkatan produksi pada sektor pertama. Persamaannya dirumuskan:

Keterangan:

X = Matriks vektor output (I-Ad) -1 = Matriks leontief

Fd = Matriks vektor permintaan akhir b. Pendekatan Ekonometrik.

Pendekatan ekonometrik adalah untuk menjelaskan keterkaitan dan hubungan kuantitatif antara peubah (variable) makro ekonomi suatu daerah dengan penyerapan tenaga kerja, khususnya menurut lapanga usaha, dengan memperhatikan:

1) PDRB;

2) Nilai Tambah Bruto setiap lapangan usaha;

3) Nilai ekspor barang dan jasa;

4) Stok kapital;

5) Investasi fisik/pembentukan modal tetap bruto;

6) Penyerapan tenaga kerja di setiap sektor;

7) Total penyerapan tenaga kerja;

8) Faktor lainnya.

(8)

c. Pendekatan Elastisitas.

Elastisitas tenaga kerja merupakan rasio antara perubahan atau pertumbuhan kesempatan kerja dengan pertumbuhan PDRB menggunakan rumus:

Keterangan:

Ei = Elastisitas tenaga kerja sektor –i

rli = Laju pertumbuhan penduduk yang bekerja sektor –i pertahun (%) ryi = Laju pertumbuhan ekonomi (PDRB) –i pertahun (%)

Li = Jumlah penduduk yang bekerja sektor - i Yi = Jumlah PDRB sektor – i

n = Data tahun akhir o = Data tahun awal

t = Jarak (selisih) tahun proyeksi (tn) dengan tahun data dasar (to)

Proyeksi kesempatan kerja dengan pendekatan elastisitas dilakukan dengan tahapan:

1) Mentabulasi data historis penduduk yang bekerja dan PDRB berdasarkan harga konstan tahun yang sama, menurut lapangan usaha.

2) Menghitung laju pertumbuhan penduduk yang bekerja dan laju pertumbuhan PDRB setiap lapangan usaha menggunakan rumus:

3) Menghitung elastisitas setiap lapangan usaha menggunakan rumus:

Keterangan:

a. Jika elastisitas lebih besar dari 1 (satu), maka laju pertumbuhan kesempatan kerja sangat besar, sebaliknya laju pertumbuhan produktivitas minus.

b. Jika elastisitas kurang dari 0 (nol) atau minus, maka laju pertumbuhan kesempatan kerja minus, sebaliknya laju pertumbuhan produktivitas sangat besar.

c. Jika elastisitas antara 0 (nol) sampai dengan 1 (satu), maka laju pertumbuhan kesempatan kerja positif dan laju pertumbuhan produktivitas juga positif.

(9)

4) Menghitung laju pertumbuhan kesempatan kerja menurut lapangan usaha sampai dengan tahun proyeksi, yaitu mengalikan antara elastisitas perubahan dengan perkiraan ekonomi menurut lapangan usaha menggunakan rumus:

Keterangan:

rlai = Laju pertumbuhan kesempatan kerja baru sektor - i Eai = Elastisitas perubahan

ryai = Perkiraan laju pertumbuhan ekonomi sektor - i

5) Menghitung proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha, sampai dengan tahun proyeksi menggunakan rumus:

Keterangan:

KKti = Proyeksi kesempatan kerja sektor -i

KKoi = Data dasar penduduk yang bekerja sektor -i rlai = Laju pertumbuhan kesempatan kerja sektor -i

t = Jarak (selisih) tahun proyeksi (tn) dengan tahun data dasar (to) 6) Menghitung proyeksi tambahan kesempatan kerja menurut lapangan usaha

menggunakan rumus:

Keterangan:

TKKi = Tambahan kesempatan kerja sektor -i PKKi = Proyeksi kesempatan kerja sektor i PYBi = Penduduk yang bekerja sektor –i

7) Proyeksi kesempatan kerja menurut karakteristik selain lapangan usaha dilakukan melalui beberapa tahap:

a. Memproyeksikan kesempatan kerja dengan menggunakan rumus linear

sederhana ( ) atau rumus pertumbuhan

geometrik

Keterangan:

Y = Hasil proyeksi kesempatan kerja a = Konstanta

b = Parameter x = Tahun

KKt = Proyeksi kesempatan kerja tahun t KKo = Data dasar proyeksi kesempatan kerja rli = Laju pertumbuhan penduduk yang bekerja

t = Jarak (selisih) tahun proyeksi (tn) dengan tahun data dasar (to) Untuk menentukan laju pertumbuhan penduduk yang bekerja menggunakan rumus:

(10)

Keterangan:

rli = Laju pertumbuhan penduduk yang bekerja sektor–i pertahun (%) Li = Jumlah penduduk yang bekerja sektor - i

n = Data tahun akhir o = Data tahun awal

t = Jarak (selisih) tahun proyeksi (tn) dengan tahun data dasar (to) b. Apabila jumlahnya tidak sama dengan hasil proyeksi kesempatan kerja

menurut lapangan usaha, maka perlu mengalikan hasil proporsi penghitungan sebagaimana dimaksud pada huruf a dengan jumlah proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha.

C. Metode Penghitungan Produktivitas Tenaga Kerja

1. Data dan Informasi yang dibutuhkan

a. Penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha.

b. PDRB berdasarkan harga konstan menurut lapangan usaha.

c. Proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha.

d. Proyeksi PDRB menurut lapangan usaha.

2. Tahapan Perhitungan

Tahapan untuk menghitung produktivitas tenaga kerja dilakukan melalui :

a. Mentabulasi data historis PDRB dengan harga konstan dan proyeksi PDRB menurut lapangan usaha.

b. Mentabulasi data historis penduduk yang bekerja dan proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha.

c. Menghitung produktivitas tenaga kerja dengan membandingkan antara PDRB dengan penduduk yang bekerja atau kesempatan kerja menggunakan rumus:

BAB IV

KETENTUAN LAIN-LAIN

Untuk mengetahui keseimbangan/kesenjangan antara persediaan tenaga kerja dengan kebutuhan tenaga kerja diperlukan neraca tenaga kerja yaitu pengurangan antara proyeksi AK dengan proyeksi kesempatan kerja berbagai karakteristik dengan menggunakan rumus:

Keterangan:

NTK = Neraca tenaga kerja PAK = Proyeksi angkatan kerja PKK = Proyeksi kesempatan kerja

(11)

BAB V

KETENTUAN PENUTUP

Metode penghitungan persediaan dan kebutuhan tenaga kerja untuk memberikan kemudahan dan keseragaman penyusunan rencana tenaga kerja bagi Pemerintah dan pemerintah daerah.

Di tetapkan di Jakarta

pada tanggal 18 Desember 2008 MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

ttd

Dr. Ir. ERMAN SUPARNO, MBA., M.Si.

(12)

LAMPIRAN II

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

NOMOR PER.24/MEN/XII/2008 TENTANG

METODE PENGHITUNGAN PERSEDIAAN DAN KEBUTUHAN TENAGA KERJA

CONTOH PENGHITUNGAN A. Metode Penghitungan Persediaan Tenaga Kerja.

1. Proyeksi Penduduk.

Data proyeksi penduduk diperoleh dari lembaga atau instansi yang berwenang memproyeksikan penduduk.

Tabel 1

Proyeksi Penduduk Menurut Golongan Umur Provinsi/Kab/Kot X, Tahun 2008 - 2012 (dlm ribu)

Gol. Umur 2008 2009 2010 2011 2012

0 - 4 204,2 207,3 210,4 213,6 216,8

5 - 9 190,2 187,2 184,2 181,2 178,3

10 - 14 214,8 208,9 203,2 197,6 192,1

15 - 19 260,1 254,0 248,0 242,1 236,4

20 - 24 332,0 330,7 329,5 328,2 327,0

25 - 29 368,3 378,9 389,9 401,2 412,8

30 - 34 314,0 326,0 338,4 351,3 364,7

35 - 39 252,2 253,8 255,4 257,1 258,7

40 - 44 243,3 246,5 249,7 252,9 256,2

45 - 49 225,9 232,8 240,0 247,5 255,1

50 - 54 190,3 198,2 206,4 214,9 223,8

55 - 59 147,1 150,9 154,9 159,0 163,1

60 + 437,8 443,8 449,8 456,0 462,2

Jumlah 3.380,2 3.419,0 3.459,7 3.502,5 3.547,2

2. Proyeksi PUK.

Proyeksi PUK merupakan selisih antara hasil proyeksi penduduk dengan penduduk yang berumur kurang dari 15 tahun. Cara menghitungnya menggunakan rumus:

(13)

Hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 2

Proyeksi Penduduk Usia Kerja Menurut Golongan Umur Provinsi/Kab/Kot X Tahun 2008 - 2012 (dalam ribu) Golongan

Umur 2008 2009 2010 2011 2012

15 - 19 260 254 248 242 236

20 - 24 332 331 329 328 327

25 - 29 368 379 390 401 413

30 - 34 314 326 338 351 365

35 - 39 252 254 255 257 259

40 - 44 243 246 250 253 256

45 - 49 226 233 240 247 255

50 - 54 190 198 206 215 224

55 - 59 147 151 155 159 163

60 + 438 444 450 456 462

Jumlah 2.771 2.816 2.862 2.910 2.960

Proyeksi PUK menurut karakteristik selain golongan umur dilakukan melalui beberapa tahap:

Contoh PUK menurut Tingkat Pendidikan :

a. Mengumpulkan, dan mentabulasikan data masa lalu (historis) Tabel 3

Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Prov/Kab/Kot X Tahun 2003 - 2007

Tingkat

Pendidikan 2003 2004 2005 2006 2007

Maksimum SD 1.085 1.098 1.095 1.084 1.079

SLTP 522 523 536 574 624

SMTA 729 685 713 720 747

D1 - D3 76 97 91 89 109

Universitas 87 128 137 196 167

Jumlah 2.499 2.531 2.573 2.663 2.726

Sumber : -

b. Memproyeksikan

Memproyeksikan PUK dengan menggunakan rumus linear sederhana

(14)

Dimana :

Untuk memproyeksikan PUK menurut pendidikan, khusus yang berpendidikan maksimum SD, memerlukan tabel bantu sebagai berikut:

Tahun (x) y x2 xy

2003 1085 4012009 2173255

2004 1098 4016016 2200392

2005 1095 4020025 2195475

2006 1084 4024036 2174504

2007 1079 4028049 2165553

10025 5441 20100135 10909179

Proyeksi PUK yang berpendidikan maksimum SD, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

(15)

Untuk proyeksi PUK yang berpendidikan secara keseluruhan dilakukan setiap tingkat pendidikan, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 4

Proyeksi Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Provinsi/Kab/kot X Tahun 2003 – 2007 Tingkat

Pendidikan 2008 2009 2010 2011 2012

Maksimum SD 1,080 1,078 1,075 1,073 1,070 SLTP 632 658 683 709 734 SMTA 740 747 754 761 768 D1 - D3 110 116 121 127 133 Universitas 211 234 257 280 303

Jumlah 2,774 2,833 2,891 2,950 3,008

c. Mensinkronkan

Jumlah proyeksi PUK menurut Tingkat Pendidikan tersebut diatas jumlahnya tidak sama dengan proyeksi PUK menurut Golongan Umur, maka perlu mengalikan hasil proporsi penghitungan dengan jumlah proyeksi PUK menurut golongan umur.

Tabel 5

Proporsi Proyeksi Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Prov/Kab/Kota X Tahun 2008 -2012 (%)

Tingkat

Pendidikan 2008 2009 2010 2011 2012

Maksimum SD 38.95 38.05 37.19 36.36 35.57 SLTP 22.79 23.22 23.63 24.03 24.41 SMTA 26.68 26.38 26.09 25.81 25.55 D1 - D3 3.96 4.08 4.20 4.31 4.42 Universitas 7.62 8.27 8.89 9.49 10.06

Jumlah 100 100 100 100 100

Tabel 6

Proyeksi Penduduk Usia Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Prov/Kab/Kot X Tahun 2003 - 2007 (dalam ribu)

Tingkat

Pendidikan 2008 2009 2010 2011 2012

SD 1,079

1,071 1,064

1,058

1,053 SLTP 632 654 676 699 722 SMTA 739 743 747 751 756 D1 - D3 110 115 120 125 131 Universitas 211 233 254 276 298

Jumlah 2,771 2,816 2,862 2,910 2,960

(16)

Untuk memproyeksikan PUK karakteristik lainnya dapat menggunakan rumus diatas.

3. Proyeksi TPAK.

Proyeksi TPAK dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

Regresi Linear Sederhana ( );

Proyeksi TPAK menurut karakteristiknya dilakukan melalui beberapa tahap:

Contoh TPAK menurut Tingkat Pendidikan :

a. Mengumpulkan, dan menstabulasikan data masa lalu (historis) Tabel 7

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Prov/Kab/Kab X Tahun 2003 – 2007 (%)

Golongan

Umur 2003 2004 2005 2006 2007

15 - 19 25,68 23,10 24,25 26,49 25,70

20 - 24 49,93 50,40 53,14 51,44 61,12

25 - 29 76,62 81,88 81,37 79,00 79,04

30 - 34 83,50 85,67 86,90 81,43 84,84

35 - 39 86,25 91,65 87,29 87,28 86,90

40 - 44 89,69 91,75 88,53 87,95 89,41

45 - 49 89,24 89,14 91,16 91,52 87,51

50 - 54 87,17 84,37 91,50 87,21 86,28

55 - 59 84,44 83,23 86,43 81,73 86,43

60 + 62,55 74,49 60,14 58,62 57,94

Jumlah 70,30 71,73 71,95 70,30 71,69

Sumber : b. Memproyeksikan

Untuk memproyeksikan TPAK menurut Golongan Umur, khusus yang berumur 25 – 29 Tahun, memerlukan tabel bantu sebagai berikut:

Tahun (x) y x2 xy

2003 76.62 4012009 153470

2004 81.88 4016016 164088

2005 81.37 4020025 163147

2006 79.00 4024036 158474

2007 79.04 4028049 158633

10025 397.91 20100135 797812

(17)

Proyeksi TPAK menurut Golongan Umur, khusus yang berumur PUK 25 – 29 Tahun , Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Untuk proyeksi TPAK menurut Golongan Umur secara keseluruhan dilakukan setiap golongan umur, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 8

Proyeksi Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Prov/Kab/kab X Tahun 2008 - 2012 (%) Golongan

Umur 2008 2009 2010 2011 2012

15 - 19 26.93 26.81 26.70 26.58 26.46

20 - 24 60.23 59.34 58.46 57.57 56.68

25 - 29 80.17 80.37 80.56 80.76 80.95

30 - 34 84.00 83.84 83.69 83.53 83.38

35 - 39 86.95 86.65 86.34 86.03 85.73

40 - 44 88.16 88.71 88.06 88.22 88.37

45 - 49 86.41 87.30 86.76 84.98 85.18

50 - 54 83.11 84.72 84.18 83.64 84.18

55 - 59 85.20 85.44 85.69 85.20 86.49

60 + 57.26 56.58 55.90 55.22 54.54

Jumlah 71.89 72.17 72.07 71.90 72.07

Dalam memproyeksikan TPAK agar tidak memproyeksikan jumlahnya bersamaan dengan yang lain. Proyeksi TPAK dilakukan tersendiri dengan membandingkan proyeksi jumlah angkatan kerja dengan proyeksi jumlah PUK. Untuk memproyeksikan TPAK dengan karakteristik lainnya dapat menggunakan rumus diatas.

4. Proyeksi Angkatan Kerja.

Untuk memproyeksikan AK diperoleh dengan mengkalikan antara proyeksi PUK dengan proyeksi TPAK dengan karakteristik dan tahun yang sama.

Dengan rumus :

Sebagai contoh proyeksi AK Golongan Umur 25 – 29 Tahun adalah sebagai berikut:

AK2008 = 368 x 80,17% = 295 AK2009 = 379 x 80,37% = 305 AK2010 = 390 x 80,56% = 314 AK2011 = 401 x 80,76% = 324 AK2012 = 413 x 80,95% = 334

(18)

Untuk Proyeksi AK Golongan Umur secara keseluruhan, dihitung setiap golongan umur, seperti sebahgai berikut :

Tabel 9

Proyeksi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Prov/Kab/kot X Tahun 2008 – 2012 (dalam ribu) Golongan

Umur 2008 2009 2010 2011 2012

15 - 19 70 68 66 64 63

20 - 24 200 196 193 189 185

25 - 29 295 305 314 324 334

30 - 34 264 273 283 293 304

35 - 39 219 220 221 221 222

40 - 44 215 219 220 223 226

45 - 49 195 203 208 210 217

50 - 54 158 168 174 180 188

55 - 59 125 129 133 135 141

60 + 251 251 251 252 252

Jumlah 1,992 2,032 2,063 2,092 2,133

Untuk memproyeksikan AK dengan karakteristik lainnya dapat menggunakan rumus diatas.

B. Proyeksi PDRB

Proyeksi PDRB menurut karakteristiknya dilakukan melalui beberapa tahap:

1. Mengumpulkan, dan menstabulasikan data masa lalu (historis) Tabel 10

Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Dengan harga konstan 2000. Prov/Kab/Kot X Tahun 2003 – 2007

(dalam milyard rupiah)

Lapangan Usaha 2003 2004 2005 2006 2007

Pertanian

2.947,35 3.054,43 3.185,77 3.306,93 3.406,65 Pertambangan 119,43 120,44 122,33 126,14 132,05 Industri 2.325,24 2.394,34 2.463,23 2.481,17 2.510,23 Listrik,gas dan air 135,40 144,85 153,29 152,47 163,24 Bangunan 1.178,02 1.284,47 1.395,08 1.580,31 1.708,30 Perdagangan 3.099,80 3.285,59 3.444,83 3.569,62 3.769,02 Angkutan 1.437,07 1.582,19 1.673,35 1.761,67 1.868,57 Keuangan 1.408,89 1.507,89 1.623,21 1.591,89 1.666,95 Jasa 2.710,09 2.775,86 2.849,96 2.965,16 3.046,78 Jumlah 15.361,29 16.150,06 16.911,05 17.535,36 18.271,79 Sumber :

Data perkiraan laju pertumbuhan ekonomi diperoleh dari lembaga atau instansi yang berwenang memproyeksikan perkiraan laju pertumbuhan ekonomi.

(19)

Tabel 11

Perkiraan Laju Pertumbuhan Ekonomi

Menurut Lapangan Usaha Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 – 2012

Lapangan Usaha Pertumbuhan PDRB

2008 2009 2010 2011 2012

Pertanian 3,00 3,50 3,60 3,60 4,00

Pertambangan 3,00 4,00 4,20 4,30 4,30

Industri 4,00 4,00 4,10 5,00 5,20

Listrik,gas dan air 5,00 5,00 5,20 5,50 5,70

Bangunan 8,00 7,50 7,50 7,30 7,50

Perdagangan 6,00 6,50 6,50 6,70 7,00

Angkutan 7,00 7,10 7,10 7,30 7,50

Keuangan 5,00 5,20 5,20 5,50 6,00

Jasa 3,00 3,20 3,20 3,50 3,50

Jumlah 4,83 5,08 5,14 5,40 5,68

2. Menghitung Proyeksi PDRB menurut lapangan usaha, sampai dengan tahun proyeksi, dengan rumus :

Sebagai contoh Proyeksi PDRB Sektor Industri, tahun 2008 – 2012 adalah sebagai berikut :

Pt2008 = 2510,23 x (1 + 4,00/100)1 = 2610,64 Pt2009 = 2610,64 x (1 + 4,00/100)1 = 2715,06 Pt2010 = 2715,06 x (1 + 4,10/100)1 = 2826,38 Pt2011 = 2826,38 x (1 + 5,00/100)1 = 2967,70 Pt2012 = 2967,70 x (1 + 5,20/100)1 = 3122,02

Untuk proyeksi PDRB menurut Lapangan Usaha secara keseluruhan dilakukan setiap lapangan usaha, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 12

Proyeksi Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha, Kabupaten X Tahun 2008 - 2012 (dlm milyard)

Lapangan Usaha 2008 2009 2010 2011 2012

Pertanian 3.508,85 3.631,66 3.762,40 3.897,85 4.053,76 Pertambangan 136,01 141,45 147,39 153,73 160,34 Industri 2.610,64 2.715,06 2.826,38 2.967,70 3.122,02 Listrik,gas dan air 171,40 179,97 189,33 199,74 211,13 Bangunan 1.844,96 1.983,34 2.132,09 2.287,73 2.459,31 Perdagangan 3.995,16 4.254,85 4.531,41 4.835,02 5.173,47 Angkutan 1.999,37 2.141,33 2.293,36 2.460,77 2.645,33 Keuangan 1.750,30 1.841,31 1.937,06 2.043,60 2.166,22 Jasa 3.138,18 3.238,61 3.342,24 3.459,22 3.580,29

Jumlah 19.154,88 20.127,57 21.161,66 22.305,36 23.571,87

(20)

C. Metode Penghitungan Kebutuhan Tenaga Kerja

Inti penghitungan kebutuhan tenaga kerja, adalah proyeksi kesempatan kerja menurut karakteristiknya yang dilakukan melalui beberapa tahap:

1. Mengumpulkan, dan menstabulasikan data masa lalu (historis) Tabel 13

Penduduk Yang Bekerja, PDRB Menurut Lapangan Usaha Prov/Kab/Kot X Tahun 2003 – 2007

Lapangan Usaha KK PDRB (dlm milyard)

2003 2007 2003 2007

Pertanian 650,83 588,97 2.947,35 3.406,65 Pertambangan 9,89 35,55 119,43 132,05 Industri 213,96 250,91 2.325,24 2.510,23 Listrik,gas dan air 0,79 3,52 135,40 163,24 Bangunan 123,67 178,35 1.178,02 1.708,30 Perdagangan 367,39 402,11 3.099,80 3.769,02 Angkutan 40,17 57,16 1.437,07 1.868,57 Keuangan 14,11 41,32 1.408,89 1.666,95 Jasa 237,29 277,65 2.710,09 3.046,78

Jumlah 1.658,10 1.835,54 15.361,29 18.271,79

2. Menghitung laju pertumbuhan penduduk yang bekerja dan PDRB menurut lapangan usaha, dengan rumus elastisitas :

Sebagai contoh laju pertumbuhan penduduk yang bekerja dan PDRB dan elastisitas sektor industri adalah sebagai berikut :

Penduduk yang bekerja :

PDRB :

(21)

Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk yang bekerja, PDRB, elastisitas dan perubahan elastisitas seluruh lapangan usaha adalah sebagai berikut :

Tabel 14

Laju Pertumbuhan KK, PDRB dan Elastisitas TK Menurut Lapangan Usaha Prov/Kab/Kot X

Lapangan Usaha Laju Pertumbuhan Elastisitas Elastisitas

KK PDRB Perubahan

Pertanian -2,47 3,69 -0,67 -0,15

Pertambangan 37,70 2,54 14,82 0,50

Industri 4,06 1,93 2,10 0,75

Listrik,gas dan air 45,06 4,79 9,42 0,80

Bangunan 9,58 9,74 0,98 0,70

Perdagangan 2,28 5,01 0,46 0,40

Angkutan 9,22 6,78 1,36 0,80

Keuangan 30,82 4,29 7,18 0,80

Jasa 4,01 2,97 1,35 0,90

Jumlah 2,57 4,43 0,58

3. Menghitung laju pertumbuhan kesempatan kerja menurut lapangan usaha sampai dengan tahun proyeksi, yaitu mengalikan antara elastisitas perubahan (Tabel 14) dengan perkiraan ekonomi menurut lapangan usaha (Tabel 11) menggunakan rumus:

Sebagai contoh menghitung laju pertumbuhan kesempatan kerja sektor industri adalah sebagai berikut :

rl2008 = 0,75 x 4.00 = 3,00 rl2009 = 0,75 x 4.00 = 3,00 rl2010 = 0,75 x 4.10 = 3,08 rl2011 = 0,75 x 5.00 = 3,75 rl2012 = 0,75 x 5.20 = 3,90

Untuk menghitung laju pertumbuhan kesempatan kerja seluruh lapangan usaha adalah sebagai berikut :

Tabel 15

Perkiraan Laju Pertumbuhan Kesempatan Kerja

Menurut Lapangan Usaha Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 – 2012

Lapangan Usaha Pertumbuhan Kesempatan Kerja

2008 2009 2010 2011 2012

Pertanian -0,45 -0,53 -0,54 -0,54 -0,60

Pertambangan 1,50 2,00 2,10 2,15 2,15

Industri 3,00 3,00 3,08 3,75 3,90

Listrik,gas dan air 4,00 4,00 4,16 4,40 4,56

Bangunan 5,60 5,25 5,25 5,11 5,25

(22)

Perdagangan 2,40 2,60 2,60 2,68 2,80

Angkutan 5,60 5,68 5,68 5,84 6,00

Keuangan 4,00 4,16 4,16 4,40 4,80

Jasa 2,70 2,88 2,88 3,15 3,15

4. Menghitung proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha, sampai dengan tahun proyeksi menggunakan rumus:

Sebagai contoh proyeksi kesempatan kerja sektor industri, tahun 2008 – 2012 adalah sebagai berikut :

KK2008 = 250,91 x (1 + 3,00/100)1 = 258,44 KK2009 = 258,44 x (1 + 4,00/100)1 = 266,19 KK2010 = 266,19 x (1 + 4,10/100)1 = 274,78 KK2011 = 274,78 x (1 + 5,00/100)1 = 290,72 KK2012 = 290,72 x (1 + 5,20/100)1 = 303,81

Untuk proyeksi kesempatan kerja menurut lapanagn usaha secara keseluruhan dilakukan setiap lapangan usaha, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 16

Perkiraan Kesempatan Kerja Menurut

Lapangan Usaha Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 - 2012 (dlm ribu)

Lapangan Usaha

Proyeksi Kesempatan Kerja

2008 2009 2010 2011 2012

Pertanian 586,32 582,80 579,48 576,35 571,51 Pertambangan 36,08 36,99 37,84 38,71 39,54 Industri 258,44 266,19 274,78 290,72 303,81 Listrik,gas dan air 3,66 3,80 3,97 4,18 4,39 Bangunan 188,34 197,57 207,94 217,69 230,35 Perdagangan 411,76 423,29 434,29 446,98 461,64 Angkutan 60,36 63,84 67,46 71,73 76,49 Keuangan 42,98 44,83 46,70 49,09 52,24 Jasa 285,15 293,88 302,34 314,32 324,23

Jumlah 1.873,08 1.913,19 1.954,80 2.009,77 2.064,20

5. Menghitung proyeksi tambahan kesempatan kerja menurut lapangan usaha menggunakan rumus:

(23)

Sebagai contoh proyeksi tambahan kesempatan kerja Sektor Industri, tahun 2008 – 2012 adalah sebagai berikut :

KK2008 = 258,44 - 250,91 = 7,53 KK2009 = 266,19 - 258,44 = 7,75 KK2010 = 274,78 - 266,19 = 8,59 KK2011 = 290,72 - 274,78 = 15,94 KK2012 = 303,81 - 290,72 = 13,09

Untuk proyeksi tambahan kesempatan kerja menurut lapangan usaha secara keseluruhan dilakukan setiap lapangan usaha, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 17

Tambahan Kesempatan Kerja Menurut

Lapangan Usaha prov/kab/kot X Tahun 2008 - 2012 (dlm ribu)

Lapangan Usaha Proyeksi Kesempatan Kerja

2008 2009 2010 2011 2012

Pertanian (2,65) (3,52) (3,32) (3,13) (4,84) Pertambangan 0,53 0,90 0,85 0,87 0,83 Industri 7,53 7,75 8,59 15,94 13,09 Listrik,gas dan air 0,14 0,15 0,17 0,20 0,22 Bangunan 9,99 9,23 10,37 9,75 12,65 Perdagangan 9,65 11,53 11,01 12,68 14,67 Angkutan 3,20 3,48 3,63 4,26 4,76 Keuangan 1,65 1,86 1,87 2,39 3,15 Jasa 7,50 8,73 8,46 11,99 9,90

Jumlah 37,54 40,11 41,62 54,97 54,43

6. Proyeksi kesempatan kerja menurut karakteristik selain lapangan usaha dilakukan melalui beberapa tahap:

Memproyeksikan kesempatan kerja dengan menggunakan rumus linear sederhana

( ) atau rumus pertumbuhan geometrik

Contoh proyeksi kesempatan kerja menurut golongan umur : a. Mengumpulkan, dan menstabulasikan data masa lalu (historis)

Tabel 18

Penduduk Yang Bekerja Menurut

Golongan Umur Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 - 2012 (dlm ribu) Golongan

Umur 2003 2004 2005 2006 2007

15 - 19 48.46 55.56 54.10 54.48 58.21

20 - 24 140.78 140.85 137.89 130.00 157.87

25 - 29 182.32 168.44 230.51 230.04 235.18

30 - 34 217.97 189.18 229.02 217.66 238.74

35 - 39 209.02 208.71 212.48 218.06 215.36

(24)

40 - 44 188.30 215.56 201.41 209.08 213.78

45 - 49 166.65 174.74 181.53 188.29 184.09

50 - 54 141.50 147.90 147.23 143.60 150.70

55 - 59 111.58 106.51 113.36 112.00 123.53

60 + 251.52 294.37 250.19 251.73 258.11

Jumlah 1,658.10 1,701.80 1,757.70 1,754.95 1,835.54 b. Memproyeksikan.

Memproyeksikan kesempatan kerja menurut golongan umur dengan menggunakan rumus linear sederhana

Dimana :

Untuk memproyeksikan kesempatan kerja menurut golongan umur, khusus yang berumur 25 – 29 Tahun, memerlukan tabel bantu sebagai berikut:

Tahun (x) y x2 xy

2003 182 4012009 365179

2004 168 4016016 337546

2005 231 4020025 462165

2006 230 4024036 461460

2007 235 4028049 472000

10025 1046 20100135 2098350

Proyeksi kesempatan kerja golongan umur 24 – 29 tahun, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

(25)

Untuk proyeksi kesempatan kerja golongan umur secara keseluruhan dilakukan setiap tingkat pendidikan, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 19

Proyeksi Kesempatan Kerja Menurut

Golongan Umur Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 - 2012 (dlm ribu)

Golongan Umur 2008 2009 2010 2011 2012

15 - 19 57.67 58.50 59.33 60.17 61.00

20 - 24 185.74 183.40 181.06 178.72 176.38

25 - 29 259.49 276.23 292.96 309.69 326.42

30 - 34 239.52 255.94 258.89 267.49 277.17

35 - 39 212.65 216.68 215.95 215.21 214.48

40 - 44 210.53 210.77 215.16 214.61 214.86

45 - 49 193.59 198.43 203.28 208.12 212.96

50 - 54 157.80 164.91 167.71 174.82 179.77

55 - 59 122.21 127.99 131.66 133.89 136.91

60 + 252.34 246.58 249.81 247.10 243.42

Jumlah 1,891.55 1,939.42 1,975.80 2,009.81 2,043.38

c. Mensinkronkan.

Jumlah proyeksi kesempatan kerja menurut golongan umur tersebut diatas jumlahnya tidak sama dengan proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha, maka perlu mengalikan hasil proporsi penghitungan dengan jumlah proyeksi kesempatan kerja menurut lapangan usaha.

Tabel 20

Proporsi Proyeksi Kesempatan Kerja Menurut

Golongan Umur Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 - 2012 (dlm ribu)

Golongan Umur 2008 2009 2010 2011 2012

15 - 19 3.05 3.02 3.00 2.99 2.99

20 - 24 9.82 9.46 9.16 8.89 8.63

25 - 29 13.72 14.24 14.83 15.41 15.97

30 - 34 12.66 13.20 13.10 13.31 13.56

35 - 39 11.24 11.17 10.93 10.71 10.50

40 - 44 11.13 10.87 10.89 10.68 10.52

45 - 49 10.23 10.23 10.29 10.36 10.42

50 - 54 8.34 8.50 8.49 8.70 8.80

55 - 59 6.46 6.60 6.66 6.66 6.70

60 + 13.34 12.71 12.64 12.29 11.91

Jumlah 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00

Tabel 21

Proyeksi Kesempatan Kerja Menurut

Golongan Umur Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 - 2012 (dlm ribu)

Golongan Umur 2008 2009 2010 2011 2012

15 - 19 57.10 57.71 58.70 60.17 61.62

20 - 24 183.92 180.91 179.13 178.71 178.17

25 - 29 256.96 272.49 289.84 309.68 329.75

30 - 34 237.18 252.48 256.14 267.48 280.00

35 - 39 210.58 213.75 213.65 215.21 216.67

40 - 44 208.48 207.91 212.88 214.61 217.05

45 - 49 191.70 195.75 201.12 208.11 215.13

50 - 54 156.26 162.67 165.93 174.81 181.60

55 - 59 121.02 126.26 130.26 133.89 138.31

60 + 249.88 243.24 247.15 247.09 245.90

Jumlah 1,873.08 1,913.19 1,954.80 2,009.77 2,064.20

(26)

Untuk memproyeksikan PUK karakteristik lainnya dapat menggunakan rumus diatas.

D. Proyeksi Produktivitas Tenaga Kerja.

Proyeksi produktivitas tenaga kerja menurut lapangan usaha dilakukan dengan membandingkan antara proyeksi PDRB (Tabel 12 ) dengan penduduk yang bekerja atau kesempatan kerja (Tabel 16 ) menggunakan rumus:

Sebagai contoh proyeksi produktivitas tenaga kerja sektor industri, tahun 2008 – 2012 adalah sebagai berikut :

Untuk proyeksi produktivitas tenaga kerja menurut lapangan usaha secara keseluruhan dilakukan setiap lapangan usaha, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 22

Proyeksi Produktivitas Tenaga Kerja Menurut

Lapangan Usaha, Prov/Kab/Kot X Tahun 2008 - 2012 (Juta Rp/TK)

Lapangan Usaha 2008 2009 2010 2011 2012

Pertanian 5.98 6.23 6.49 6.76 7.09

Pertambangan 3.77 3.82 3.90 3.97 4.06

Industri 10.10 10.20 10.29 10.21 10.28

Listrik,gas dan air 46.87 47.32 47.65 47.82 48.05

Bangunan 9.80 10.04 10.25 10.51 10.68

Perdagangan 9.70 10.05 10.43 10.82 11.21

Angkutan 33.12 33.54 33.99 34.31 34.58

Keuangan 40.73 41.07 41.48 41.63 41.47

Jasa 11.01 11.02 11.05 11.01 11.04

Jumlah 10.23 10.52 10.83 11.10 11.42

E. Keseimbangan Tenaga Kerja

Untuk mengetahui keseimbangan/kesenjangan antara persediaan tenaga kerja dengan kebutuhan tenaga kerja diperlukan neraca tenaga kerja yaitu pengurangan antara proyeksi AK dengan proyeksi kesempatan kerja berbagai karakteristik dengan menggunakan rumus:

(27)

Perkiraan kelebihan angkatan kerja (penganggur terbuka) dan kekurangam angkatan kerja untuk golongan umur, khusus golongan umur 25 – 29 tahun, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Perkiraan kelebihan angkatan kerja (penganggur terbuka) dan kekurangam angkatan kerja untuk golongan umur secara keseluruhan dilakukan setiap tingkat pendidikan, Tahun 2008 – 2012 sebagai berikut:

Tabel 23

Perkiraan Penganggur Terbuka Menurut Golongan Umur Prov/Kab/Kota X, Tahun 2008 - 2012 (dalam ribuan)

Golongan Umur 2008 2009 2010 2011 2012

15 - 19 12.94 10.39 7.50 4.19 0.93

20 - 24 16.02 15.35 13.47 10.26 7.18

25 - 29 38.28 32.04 24.27 14.32 4.44

30 - 34 26.60 20.84 27.06 25.96 24.05

35 - 39 8.72 6.16 6.88 5.95 5.11

40 - 44 6.03 10.76 7.02 8.54 9.39

45 - 49 3.48 7.52 7.15 2.18 2.17

50 - 54 1.93 5.24 7.80 4.93 6.76

55 - 59 4.28 2.70 2.47 1.54 2.79

60 + 0.80 7.85 4.31 4.70 6.18

Jumlah 119.08 118.84 107.93 82.55 69.01

Untuk memperkirakan kelebihan angkatan kerja (penganggur terbuka) dan kekurangam angkatan kerja karakteristik lainnya dapat menggunakan rumus diatas.

Di tetapkan di Jakarta

pada tanggal 18 Desember 2008 MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

ttd

Dr. Ir. ERMAN SUPARNO, MBA., M.Si.

Referensi

Dokumen terkait

4$!$% Menera&amp;kan konse&amp;  &amp;eru)ahan materi dalam men#elesaikan )e)era&amp;a masalah dalam kehidu&amp;an seharihari$ Peserta didik da&amp;at menera&amp;kan

Sarana dan peralatan yang dibutuhkan untuk produk tepung ubikayu terdiri dari : Bak perendaman dan pencucian, pisau pengupas ubikayu, mesin penyawut atau perajang, atau chip,

65 Terbentuknya unit pengelola pengaduan masyarakat di seluruh SKPD Unit 4 4 10 12 12 42 Menurunnya kasus - kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang. 66

Pelanggaran Negara atas kewajiban yang telah diberikan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) ataupun Kovenan Internasional terhadap hal mencerdaskan kehidupan bangsa,

1) Kesesuaian pelaksanaan program dengan peraturan dan kebijakan perusahaan berkaitan dengan program tersebut. 2) Kesesuaian penerimaan dan penggunaan dana dengan

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman

Kelainan ini dapat dicurigai bila ditemukan adanya leukokoria (Refleks putih pada pupil dan dapat disebabkan karena kelainan pada retina, badan kaca, dan lensa), strabismus

Bioremediasi Tanah Bekas tambang Batubara dengan Sludge Industri Kertas untuk Memacu Revegetasi Lahan.. Pemanfaatan Bakteri Pereduksi Sulfat untuk Bioremediasi Tanah Bekas