BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemiskinan merupakan prioritas pembangunan nasional karena kemiskinan merupakan masalah yang kompleks dan multidimensi, kemiskinan tidak terbatas sekedar pada ketikdakmampuan secara ekonomi. Akan tetapi, didefinisikan dalam strategi nasional penanggulangan kemiskinan sebagai “tidak terpenuhinya hak-hak dasar seseorang untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat”. Untuk itu, negara pada dasarnya berkewajiban membantu ketidakmampuan masyarakat memenuhi hak-hak dasar melalui serangkaian upaya penanggulangan.
Pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin tercatat oleh BPS sebanyak 36,1 juta jiwa atau 16,7% dari jumlah penduduk tergolong miskin. Pada tahun 2005, kondisi ini terus berlanjut, meski terjadi penurunan penduduk miskin menjadi 35,1 juta jiwa atau 16,0%.
Dengan kondisi jumlah penduduk miskin yang masih relatif besar tersebut, maka dalam RPJMN 2004-2009 pemerintah melakukan langkah-langkah 1) meningkatkan pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar bagi penduduk miskin, 2) memperluas akses masyarakat miskin terhadap pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar, 3) meningkatkan upaya penanganan masalah kurang gizi dan kerawanan pangan, 4) memberikan subsidi bahan pangan pokok dan makanan tambahan bagi ibu hamil, menyusui dan anak balita, 5) meningkatkan layanan kesehatan ibu hamil dan penyediaan bantuan tunai bagi rumah tangga sangat miskin.
Walaupun sudah dilakukan langkah-langkah tersebut di atas dan sebagai akibat dari kenaikan penarikan subsidi BBM oleh pemerintah jumlah penduduk miskin pada tahun 2006 menjadi 39,3 juta jiwa atau 17,75%, kemudian pada tahun 2007 terjadi penurunan menjadi 37,2 juta jiwa atau 16,58% dan pada tahun 2008 menurun menjadi 34,96 juta jiwa atau 15,42%.
Program yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mempercepat penurunan
jumlah penduduk miskin adalah dengan dikeluarkannya kebijakan Bantuan Langsung Tunai
(BLT) pada tahun 2005/2006 dan pada tahun 2008 yang ditujukan kepada kelompok yang
berdampak oleh kenaikan harga BBM dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
(PNPM) 2009 meliputi 4.768 kecamatan, secara keseluruhan, hasil dari kegiatan masyarakat yang didukung dana BLM program PNPM Mandiri terdiri dari lebih 152.800 kegiatan prasarana, ekonomi dan sosial seluruh Indonesia. Walaupun telah dilaksanakan semua program-program tersebut hingga akhir tahun 2008 persentase penduduk miskin masih mencapai 15,42% sementara itu target penurunan penduduk miskin sampai akhir tahun 2009 sebesar 8,2%.
Sejalan dengan kondisi tersebut dan masih jauhnya target pencapaian penanggulangan kemiskinan maka dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2009 dirumuskan tema utama pembangunan yaitu Peningkatan Kesejahteraan Rakyat dan Pengurangan Kemiskinan. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2009 merupakan pelaksanaan tahun kelima (tahun terakhir) dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009 dan merupakan kelanjutan dari RKP 2008. Penyusunan RKP merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang No. 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara dan Undang- Undang No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2004, penyusunan RKP mengacu kepada RPJMN. Di dalam RPJMN tahun 2004-2009 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 7, ditetapkan 3 agenda pembangunan, yaitu:
1, Menciptakan Indonesia yang Aman dan Damai.
2. Menciptakan Indonesia yang Adil dan Demokratis 3. Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat
Ketiga agenda tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain dan merupakan pilar pokok untuk mencapai tujuan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Prioritas 1 dalam RKP adalah Peningkatan Pelayanan Dasar dan Pembangunan Perdesaan dengan fokus 1) Pembangunan dan Penyempurnaan Sistem Perlindungan Sosial Khususnya Bagi Masyarakat Miskin, dan fokus 2) Penyempurnaan dan Perluasan Cakupan Program Pembangunan Berbasis Masyarakat, serta fokus 3) Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil.
1.2 Perumusan Masalah
Salah satu permasalahan utama pembangunan adalah masih besarnya jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan data BPS tahun 2009 jumlah penduduk miskin sebesar 14,15%. Sementara itu persentase penduduk miskin berdasarkan provinsi dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1.1
Persentase Penduduk Miskin Berdasarkan Provinsi Tahun 2006-2009
No Provinsi 2006 2007 2008 2009
Kep. Riau 12.2 10.3 9.2 9.5 2 Papua 41.5 40.8 37.1 37.5 3 Gorontalo 29.1 27.4 24.9 25.0 4 Irian Jaya Barat 41.3 39.3 35.1 34.7 5 Sulawesi Utara 11.5 11.4 10.1 9.8
6 Sulawesi Tenggara 23.4 21.3 19.5 18.9 7 Lampung 22.8 22.2 21.0 20.2
8 NTB 27.2 25.0 23.8 22.8
9 Maluku 33.0 31.1 29.7 28.2
10 Jambi 11.4 10.3 9.3 8.8
11 DI. Yogyakarta 19.2 19.0 18.3 17.2
12 Banten 9.8 9.1 8.2 7.6
13 Aceh 28.3 26.7 23.5 21.8
14 Jawa Barat 14.5 13.6 13.0 12 15 Sulawesi Selatan 14.6 14.1 13.3 12.3
16 Maluku Utara 12.7 12.0 11.3 10.4 17 Jawa Tengah 22.2 20.4 19.2 17.7 18 Sumatera Selatan 21.0 19.2 17.7 16.3 19 Sumatera Utara 15.0 13.9 12.6 11.5 20 Sulawesi Tengah 23.6 22.4 20.8 19.0 21 Sulawesi Barat 20.7 19.0 16.7 15.3
22 NTT 29.3 27.5 25.7 23.3
23 Jawa Timur 21.1 20.0 18.5 16.7 24 Bengkulu 23.0 22.1 20.6 18.6 25 Riau 11.9 11.2 10.6 9.5
26 Sumatera Barat 12.5 11.9 10.7 9.5
27 Bangka Belitung 10.9 6.5 8.6 7.5 28 Kalimantan Barat 15.2 12.9 11.1 9.3
29 DKI. Jakarta 4.6 4.6 4.3 3.6
30 Bali 7.1 6.6 6.2 5.1
31 Kalimantan Timur 11.4 11.0 9.5 7.7 32 Kalimantan Tengah 11.0 9.4 8.7 7.0 33 Kalimantan Selatan 8.3 7.0 6.5 5.1 Sumber: BPS 2010
Berdasarkan kondisi tersebut maka kebijakan pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan secara garis besar mencakup 1) strategi penanggulangan kemiskinan berupaya mengedepankan hak penduduk miskin untuk dipenuhi kebutuhan dasarnya, dalam strategi ini mendefinisikan kemiskinan sebagai “tidak terpenuhinya hak-hak dasar seseorang untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat”. Untuk itu, negara pada dasarnya berkewajiban membantu ketidakmampuan masyarakat memenuhi hak-hak dasar melalui serangkaian upaya penanggulangan., 2) pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah (RKP 2009) yang mengelompokkan program penanggulangan kemiskinan kedalam 3 kluster yaitu program penanggulangan kemiskinan yang langsung ke individu/rumah tangga miskin, kluster 2 adalah program penanggulangan kemiskinan dengan sasaran kelompok masyarakat miskin dan kluster 3 dengan sasaran UMKM.
Walaupun demikian, dengan penerapan kebijakan dan strategi tersebut, kinerja masing-masing provinsi dalam penanggulangan kemiskinan ternyata berbeda-beda, misalnya di Provinsi Kalimantan Barat memiliki persentase penurunan penduduk miskin yang cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya dimana penurunan penduduk miskin pada tahun 2009 dari tahun 2008 sebesar -16.00%, sementara itu salah satu provinsi yang memiliki tingkat persentase penurunan jumlah penduduk miskin yang tergolong rendah pada tahun 2009 dari tahun 2008 yaitu Provinsi Sulawesi Selatan sebesar -7.8%.
Dengan adanya perbedaan kinerja inilah maka membuat penulis tertarik untuk memfokuskan penelitian “Mengapa Pelaksanaan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan (dalam Perpres No. 38 Tahun 2008 tentang RKP 2009 ) di Kalimantan Barat Berbeda Dibandingkan dengan Provinsi Sulawesi Selatan”
Berdasarkan permasalahan di atas, maka untuk melihat mengapa kedua provinsi tersebut berbeda dalam penanggulangan kemiskinan, maka dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Evaluasi Relevansi: Bagaimana kesesuaian dokumen perencanaan pemerintah (RKP 2009) dan pemerintah daerah (RKPD 2009)?
2. Evaluasi Efektifitas Biaya: Bagaimana efektifitas penganggaran penanggulangan
kemiskinan?
3. Evaluasi Proses Pelaksanaan: Bagaimana proses pelaksanaan penanggulangan kemiskinan?
4. Evaluasi Keluaran: Bagaimana keluaran kegiatan penanggulangan kemiskinan?
5. Evaluasi Hasil: Bagaimana hasil pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan di daerah?
6. Aspek lainnya
Apakah ada kebijakan/program penanggulangan kemiskinan daerah yang menunjukkan kespesifikan daerah yang berhasil pelaksanaannya di Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan?