BAB VI.
RENCANA PEMASARAN.
VI. 1. Tujuan dan Sasaran Pemasaran.
o Tujuan jangka panjang, sebagai berikut : 1. Pengembangan.
Pada perkembangan “Bamboe” akan dibuka cabang di kota lain selain Surabaya, berupa national chain restaurants pada jangka waktu 5 tahun.
2. Brand awareness.
“Bamboe” menjadi salah satu rumah makan tradisional yang terkenal karena rasa dan keunikan suasana dan atmosfer yang diciptakan sehingga menjadi salah satu brand image rumah makan tradisional dalam jangka waktu 5 tahun.
o Tujuan jangka pendek, sebagai berikut : 1. Perolehan Laba.
• Memperoleh laba operasional dari penjualan sedikitnya 20 % . 2. Kontribusi terhadap pemilik.
• Pemilik memperoleh pengembalian investasi dalam jangka waktu 3 tahun.
3. Kontribusi terhadap pelanggan.
• Menghidangkan menu – menu baru makanan dan minuman tradisional Indonesia, serta menghadirkan perbaruan suasana dan atmosfer dari rumah makan setiap tahunnya untuk menghilangkan kebosanan pelanggan dan menambah kenyamanan.
• Selalu mempertahankan kualitas dan citarasa makanan dan minuman yang ada dan disukai pelanggan.
4. Kontribusi terhadap karyawan.
• Selalu mengadakan pelatihan – pelatihan untuk meningkatkan keahlian dan kemampuan staf baik dalam pelayanan dan produksi makanan dan minuman setiap 1 bulan sekali.
• Memberikan penghargaan khusus bagi staf dengan prestasi kerja terbaik setiap 6 bulan sekali.
• Memberikan Tunjangan Hari Raya dan kenaikan upah sebesar 10% setiap tahun seiring dengan pertumbuhan tingkat penjualan.
VI. 2. Strategi Pemasaran.
VI.2.1. Segmentation.
Dalam menentukan segmen pasar, “Bamboe” memperhatikan beberapa dasar untuk dipakai, antara lain :
1. Faktor Demografik.
• Usia : 17 – 32 tahun ( primary market ) 33 – 64 tahun ( secondary market )
• Pendapatan : Rp 1,000,000,- – Rp 1,500,000,-
sebulan
• Pekerjaan : mahasiswa, karyawan, baik PNS
atau swasta
2. Faktor Psikografik.
• Kelas sosial : kelas menengah
• Gaya hidup dan : penggemar masakan tradisional Kepribadian Indonesia dan konsumtif
3. Faktor Perilaku.
• Peristiwa pembelian : pada saat makan siang dan makan
malam dan pada saat jamuan khusus seperti jamuan bersama rekan bisnis atau jamuan keluarga
• Keuntungan yang : makanan, minuman dan makanan dicari kecil tradisional yang kualitas dan
rasanya terjamin serta suasana unik yang nyaman dan natural.
• Sikap terhadap : penasaran dan tertarik untuk produk mencoba
VI.2.2. Targeting.
Untuk lebih spesifik, “Bamboe” membidik pasar sasaran sebagai berikut :
• Konsumen yang berumur 17 – 32 tahun sebagai primary market dan 33 – 64 tahun sebagai secondary market.
• Konsumen merupakan mahasiswa, karyawan baik PNS atau swasta.
• Berpendapatan Rp 750,000,- – Rp 1,000,000,- sebulan.
• Gemar mengkonsumsi makanan, minuman dan makanan tradisional Indonesia.
VI.2.3. Positioning.
Untuk menempatkan posisi suatu produk dalam pikiran konsumen diantara produk pesaing, produk tersebut harus memiliki keunggulan – keunggulan kompetitif terhadap pesaing – pesaingnya.
“Bamboe” merupakan rumah makan tradisional yang memiliki beberapa keunggulan kompetitif seperti rasa dan kualitas makanan tradisional Indonesia yang berkualitas dan diolah sesuai dengan resep kuno; menyediakan minuman dan makanan kecil tradisional Indonesia; suasana alami dan natural yang dihadirkan di rumah makan dan lokasi yang cukup strategis di Surabaya Barat.
Untuk itu “Bamboe” memiliki semboyan yang sesuai dengan masakan tradisional Indonesia dan suasana nyaman yang alami dan
natural yaitu “ Bamboe…saatnya kembali ke selera asal” yang memiliki arti rumah makan ini menyajikan masakan tradisional Indonesia yang diolah sesuai resep kuno.
VI. 3. Bauran Pemasaran.
VI.3.1. Penetapan harga.
“Bamboe” adalah sebuah rumah makan yang masih baru, untuk itu dalam menentukan harga jual produk dan jasanya didasarkan beberapa tahapan dalam siklus umur produk ( product life cycle ).
I. Tahap perkenalan.
Penetapan harga pada tahap ini dibagi menjadi 2 jenis, yaitu : a. Strategi harga untuk menembus pasar ( market penetration
pricing strategy ), penetapan harga yang bertujuan untuk melakukan penetrasi pasar dengan cara menentukan suatu harga jual produk atau jasa yang relatif lebih rendah dari para pesaing.
b. Strategi diskon harga ( volume discount pricing strategy ), pemotongan harga jual produk atau jasa untuk menarik pelanggan, seperti diskon harga pada masa promosi dan diskon harga dengan cara memberikan produk tambahan gratis untuk total pembelian dengan jumlah tertentu.
II. Tahap pertumbuhan.
Pada tahap ini, “Bamboe” mulai mengalami peningkatan penjualan. Untuk lebih meningkatkan laba dan tingkat penjualan, dapat dilakukan promosi menu – menu baru baik makanan, minuman dan makanan kecil dengan harga yang menguntungkan.
III. Tahap kedewasaan.
Pada tahap ini, tingkat penjualan pada posisi stagnan bahkan cenderung menurun. Dalam kondisi ini, “Bamboe” harus
berfokus untuk tetap bertahan, dengan menciptakan menu makanan, minuman dan makanan kecil yang lebih variatif dan berkualitas. Selain itu, juga perlu diadakan bermacam – macam promosi dan pemberian diskon harga untuk waktu – waktu tertentu. Pada masa ini, diskon harga yang diberikan merupakan strategi pemotongan harga untuk bertahan dalam bisnis ( discount based on time of purchase pricing strategy ).
IV. Tahap penurunan.
Pada masa ini, penurunan terjadi pada tingkat penjualan bahkan mencapai tidak ada penjualan sama sekali. Untuk mengatasi hal ini, maka faktor – faktor yang menyebabkan hal ini dianalisa. Kemudian diambil strategi – strategi untuk mengatasi penurunan ini. Untuk mempertahankan eksistensi
“Bamboe”, maka dilakukan pengurangan produk yang kurang digemari ( hal ini untuk mengurangi biaya produksi ). Selain itu, juga dilakukan penekanan terhadap harga jual hingga harga pokok penjualan. Pada tahap ini, strategi pemotongan harga sampai di bawah harga jual bahkan di bawah biaya produksi ( promotional pricing strategy).
VI.3.2. Produk atau jasa.
Rumah makan “Bamboe” menjual produk dan jasa, produk yang dijual adalah makanan, minuman dan makanan kecil tradisional Indonesia sedangkan jasa yang dijual adalah suasana dan atmosfer alami dan natural yang nyaman serta pelayanan yang ramah dari setiap staff “Bamboe” dari petugas keamanan hingga pramusaji.
Seperti yang dijelaskan di atas rumah makan “Bamboe”
mengkategorikan jasa dan produknya sebagai berikut : 1. Produk makanan dan minuman.
a. Produk makanan, terdiri atas :
• sup
• sayur
• ayam
• daging
• ikan
b. Produk minuman, terdiri atas :
• minuman tradisional, seperti legen, sinom, beras kencur dan temulawak.
• minuman dingin lainnya, seperti es kacang merah dan es kacang hijau.
c. Makanan kecil.
• jenis goreng – gorengan.
• jajan pasar.
2. Pelayanan profesional yang ramah.
a. Pelayanan yang ramah ( selalu dengan senyum dan salam sapaan).
b. Cepat dalam penyajian dan tepat sesuai dengan pemesanan pengunjung.
c. Antisipasi kebutuhan pengunjung yang selalu diperhatikan dan dipenuhi.
VI.3.3. Saluran distribusi.
Sebagai rumah makan yang baru, “Bamboe” belum memiliki cabang atau franchise system, sehingga tidak memerlukan saluran distribusi yang kompleks karena konsumen bisa langsung datang ke
rumah makan untuk memilih dan menikmati produk “Bamboe” secara langsung tanpa perantara ( zero level channel of distribution ).
Menurut Kotler (1999, pp. 478) “One of the most important aspects of distribution for hospitality organization is location. For businesses whose customers come to them, the business must be conveniently located”. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa suatu usaha yang bergerak di bidang jasa dalam hal ini usaha jasa makanan dan minuman harus memiliki lokasi strategis yang mudah dijangkau oleh konsumen. Saluran distribusi yang dibutuhkan
“Bamboe” adalah penempatan lokasi usaha yang strategis dan mudah dijangkau. Oleh sebab itu “Bamboe” memilih Surabaya Barat untuk mendirikan rumah makan, karena perkembangan Surabaya Barat yang pesat untuk usaha makanan dan minuman. “Bamboe” sudah menentukan lokasi usaha yang dianggap strategis dan sudah dijelaskan pada Bab I dan Bab II.
VI.3.4. Promosi.
Dalam mempromosikan produknya “Bamboe” menggunakan 2 macam bauran promosi yaitu iklan dan sales promotion, antara lain : 1. Iklan.
Untuk iklan digunakan 2 macam media, yaitu : a. Iklan media cetak.
Untuk iklan media cetak ini, media yang digunakan 2 macam yaitu :
1. Iklan surat kabar.
Berdasarkan hasil survei pendahuluan, banyak responden yang mengetahui sebuah informasi periklanan melalui surat kabar. Manajemen dari “Bamboe”
memutuskan untuk menggunakan surat kabar harian, sebagai berikut :
• “Jawa Pos” dengan ukuran iklan sebesar 8,5 cm x 2 kolom, yang dipasang sebanyak 8 kali dengan pembagian dari pembukaan dan dipasang setiap 2 minggu sampai selesai.
2. Iklan buletin.
Selain surat kabar, media buletin juga merupakan salah satu media periklanan yang cukup baik, untuk itu
“Bamboe” memilih buletin sebagai berikut :
• “Trading Post Surabaya” dengan ukuran 1/ 4 halaman yang dipasang sebanyak 2 kali dari pembukaan dan sampai selesai.
3. Iklan brosur.
Brosur juga salah satu media iklan yang akan dipergunakan, yaitu :
• Brosur “Glory Print” yang akan didistribusikan ke perumahan – perumahan elit Surabaya. Brosur akan berupa kolom iklan dengan ukuran 6,5 cm x 7,4 cm sebanyak 30.000 lembar untuk 3 wilayah dan terbit 3 kali. Brosur tersebut akan dibagikan dari pembukaan dan dibagikan sesuai dengan jumlah terbit sampai selesai.
4. Iklan spanduk.
Spanduk juga salah satu media iklan yang akan dipergunakan, yaitu :
• Spanduk yang digunakan akan menggunakan jasa
“OXCY Advertising”. Spanduk berukuran 90 cm x 300 cm sebanyak 1 buah di Jalan Mayjend Sungkono dan 1 buah di Jalan HR Muhammad. Kedua spanduk tersebut akan dipasang satu minggu sebelum pembukaan selama 7 hari.
b. Iklan media elektronik.
Selain iklan media cetak akan digunakan iklan media elektronik dan media yang dipilih adalah radio, dan yang dipilih adalah :
• Radio Global FM ( 90,90 FM ).
Promosi akan disiarkan 3 kali sehari selama 3 hari, ditayangkan sebelum pembukaan dan 3 kali sehari selama 4 hari sesudah pembukaan, iklan – iklan ini ditayangkan pada jam –jam kerja.
2. Sales Promotion.
Menurut Kotler, promosi penjualan adalah insentif jangka pendek yang diberikan untuk merangsang pembelian atau penjualan produk atau jasa. Sales promotion memiliki beberapa strategi penjualan, “Bamboe” memilih untuk menggunakan strategi sales promotion dengan menerapkan yang disebut premium. Premium adalah penawaran produk tertentu dengan harga lebih rendah atau gratis, setelah pembelian produk lain.
Dalam hal ini, “Bamboe” merencanakan untuk memberikan salah satu produk gratis untuk pembelian dalam jumlah tertentu.
VI. 4. Layanan Konsumen.
“Bamboe” menyediakan beberapa layanan purna jual kepada konsumennya sebagai berikut :
1. Pembayaran menggunakan kartu debit.
2. Memberikan satu buah complimentary menu, bagi yang mengadakan jamuan ulang tahun di rumah makan “Bamboe”.
VI. 5. Metode Penelusuran.
Metode penelusuran yang akan digunakan oleh manajemen “Bamboe”, antara lain :
1. Saran dan kritik dari pengunjung.
Untuk mengetahui saran dan kritik dari pengunjung maka “Bamboe”
menggunakan media formal dan informal. Untuk media formal “Bamboe”
akan membuat sebuah kartu kritik dan saran untuk pengunjung pada saat meminta nota pembayaran. Untuk media informal, pramusaji dapat berbincang – bincang kepada pengunjung untuk menanyakan pendapat pengunjung tersebut secara langsung.
2. Nota pembayaran.
Dari nota pembayaran ini akan dipantau setiap seminggu sekali dan dikumpulkan sebulan sekali untuk evaluasi menu makanan, minuman dan makanan kecil. Dari evaluasi ini dapat diperoleh menu yang digemari dan kurang digemari sehingga bisa dilakukan perubahan untuk memperbaiki menu – menu tersebut.