• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERA GKA PEMIKIRA DA HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KERA GKA PEMIKIRA DA HIPOTESIS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

KERAGKA PEMIKIRA DA HIPOTESIS

Kerangka Pemikiran

Hasil penelitian Marwan (2008) dan Sooknanan et al. (2002) menunjukkan bahwa dosen perguruan tinggi merupakan aktor (pengambil keputusan) utama yang sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan ICT dalam proses pendidikan.

Dosen dalam adopsi inovasi inherent layak dijadikan sebagai aktor utama pengambil keputusan untuk meningkatkan tingkat adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan telaah berbagai hasil penelitian terkait dengan pemanfaatan ICT dalam dunia pendidikan diketahui bahwa keputusan adopsi inovasi oleh individu ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor internal (Marwan 2008, Chitanana et al. 2008) dan eksternal (Teo et al. 2007, Marwan 2008, Godschalk &

Lacey 2001). Faktor internal dosen terdiri atas keterampilan komputer dan kesiapan dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran berbasis ICT. Faktor eksternal dosen dijelaskan dengan dua kriteria, yaitu karakteristik inovasi dan karakteristik perguruan tinggi. Sesuai tahapan keputusan inovasi yang dikemukakan oleh Rogers (2003), faktor internal dan eksternal pengambil keputusan memiliki hubungan terhadap keputusan inovasi. Tingkat adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran dijadikan sebagai variabel terikat, sedangkan faktor internal dan eksternal dosen merupakan variabel bebas.

Faktor internal yang dijadikan variabel dalam penelitian ini adalah karakteristik dosen yang dibatasi pada dua indikator, yaitu keterampilan komputer dan kesiapan dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran berbasis ICT.

Faktor eksternal yang dijadikan sebagai variabel penelitian adalah karakteristik inovasi dan karakteristik perguruan tinggi. Variabel karakteristik inovasi dalam penelitian ini adalah lima karakteristik inovasi yang dikemukakan oleh Rogers (2003), yaitu keuntungan relatif, kerumitan, kesesuaian, kemudahan untuk dicoba dan kemudahan untuk dilihat. Variabel karakteristik perguruan tinggi dijelaskan oleh tiga indikator, yaitu dukungan pimpinan, sosialisasi keberadaan inherent, serta dukungan penyediaan sarana dan prasarana, pelatihan dan tenaga teknik.

Variabel tingkat adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran dilihat dari dua indikator, yaitu pemanfaatan fasilitas bahan ajar online dalam proses

(2)

pembelajaran dan pemanfaatan fasilitas video-conference dalam proses pembelajaran. Hasil akhir yang diharapkan dari adanya adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran adalah terwujudnya kegiatan pendidikan tinggi yang berkualitas. Namun demikian, penelitian ini tidak melihat sampai ke dampak akhir tersebut. Penelitian dibatasi atau hanya dilakukan sampai batas diketahuinya tingkat adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran khususnya di UBL.

Hubungan antar variabel dan dampak akhir dari proses adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran di UBL dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Kerangka pemikiran penelitian Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran penelitian (Gtambar 4), penelitian ini menguji tiga hipotesis mengenai hubungan antara variabel yang mempengaruhi tingkat adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran di UBL, yaitu:

H1 : Terdapat hubungan nyata positif antara karakteristik dosen dan tingkat adopsi inovasi inherent di UBL.

H2 : Terdapat hubungan nyata positif antara karakteristik inovasi inherent dan tingkat adopsi inovasi inherent di UBL.

H3 : Terdapat hubungan nyata positif antara karakteristik perguruan tinggi dan tingkat adopsi inovasi inherent di UBL.

Karakteristik Dosen (X1) X1.1. Keterampilan komputer X1.2. Kesiapan melaksanakan proses

pembelajaran berbasis ICT Karakteristik Inovasi (X2) X2.1. Keuntungan relatif

X2.2. Kerumitan X2.3. Kesesuaian

X2.4. Kemudahan untuk dicoba X2.5. Kemudahan untuk dilihat

Karakteristik Perguruan Tinggi (X3) X3.1. Dukungan pimpinan

X3.2. Sosialisasi keberadaan inherent X3.3. Penyediaan sarana dan prasarana X3.4. Pengadaan pelatihan

X3.5. Penyediaan tenaga teknik

Adopsi Inovasi Inherent (Y) Y1. Pemanfaatan

bahan ajar online Y2. Pemanfaatan

fasilitas video- conference

Pendidikan Tinggi yang

Berkualitas

H1

H2

H3

Keterangan: = Batasan penelitian

(3)

METODE PEELITIA

Desain Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk menguji hipotesis tentang hubungan tiga variabel (karakteristik dosen, karakteristik inovasi dan karakteristik perguruan tinggi) dengan tingkat adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran di UBL.

Ruslan (2008) menyatakan bahwa penelitian deskriptif dapat dilakukan guna meneliti gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih. Artherton dan Klemmack (1982) dalam Ruslan (2008) mengatakan bahwa penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survei dapat dilakukan untuk mencari hubungan dua variabel atau lebih. Nasution (2003) mengatakan bahwa penelitian survei dapat digunakan dalam penelitian yang bersifat eksploratif, deskriptif maupun eksplanatori. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian didesain sebagai survei deskriptif eksplanatori.

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan sejak September 2009 yang dimulai dari tahap penyusunan proposal. Pengambilan dan analisis data dilakukan selama dua bulan, yaitu pada Bulan Mei hingga Juni 2010. Pengambilan data penelitian dilaksanakan di UBL.

Populasi dan Sampel

Populasi adalah kumpulan semua hal (orang, perusahaan dan sebagainya) yang dipertimbangkan dengan baik. Karakteristik penting dari populasi adalah berisi semua elemen yang menarik perhatian. Populasi dapat dibatasi atau tidak dalam hal ukuran (Ashenfelter et al. 2003). Berdasarkan pengertian ini, maka populasi penelitian ini dibatasi pada dosen tetap Universitas Bandar Lampung yang mengajar pada jenjang pendidikan strata satu dan pernah memanfaatkan inovasi inherent.

Berdasarkan data Laporan Evaluasi Diri Berbasis Program Studi (EPSBED) yang dimuat dalam situs http://www.evaluasi.or.id diketahui bahwa jumlah dosen tetap yang mengajar di Program Studi Jenjang S1 UBL adalah sebanyak 103 orang yang mengajar pada 12 program studi jenjang S1. Dua program studi jenjang S1 UBL meliputi Program Studi Manajemen, Program

(4)

Studi Akuntansi, Program Studi Teknik Sipil, Program Studi Teknik Mesin, Program Studi Teknik Arsitektur, Program Studi Ilmu Hukum, Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Program Studi Ilmu Administrasi Niaga, Program Studi Teknik Informatika, Program Studi Sistem Informasi, Program Studi Ilmu Komunikasi dan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Perencanaan dan Pengembangan Pengembangan UBL 2010). Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 103 orang.

Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih untuk dianalisis.

Pemilihan sampel ini merupakan suatu hal yang sangat penting. Berbagai metode pengambilan sampel tersedia namun hal kunci yang harus diingat bahwa sampel dari sebuah populasi dapat menggambarkan tentang populasi tersebut (Ashenfelter et al. 2003). Berdasarkan hal ini, maka sampel penelitian adalah sebagian dari dosen tetap Universitas Bandar Lampung yang mengajar pada jenjang pendidikan strata satu dan pernah memanfaatkan inovasi inherent. Penarikan sampel dilakukan secara acak sederhana dan ditentukan sebesar 50 persen dari populasi sehingga jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 52 orang. Pengambilan sampel dilakukan sebesar 50 persen dengan maksud agar diperoleh data yang mendekati dengan kondisi yang sebenarnya.

Data dan Instrumentasi

Berdasarkan cara perolehannya, data yang diperlukan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder, yaitu:

1. Data primer, yaitu berupa pendapat dosen mengenai variabel penelitian yang diduga memiliki hubungan dengan adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran, termasuk data mengenai adopsi inovasi inherent dalam proses pembelajaran seperti yang tersaji pada Gambar 4. Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini dibuat dalam instrumen penelitian yang berbentuk kuesioner (Lampiran 1).

2. Data sekunder, yaitu berupa profil UBL dan data lain yang relevan dengan penelitian. Data sekunder ini akan diambil dari dokumen yang dikeluarkan oleh UBL maupun instansi lainnya yang relevan.

(5)

Definisi Operasional

Jogiyanto (2008) mengatakan bahwa variabel penelitian harus didefinisikan agar jelas makna dan pengukurannya. Definisi operasional dan indikator pengukuran dari variabel penelitian ini disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4 Definisi operasional dan indikator pengukuran variabel penelitian

Variabel Definisi Operasional Indikator Pengukuran

Keterampilan komputer

Tingkat keterampilan dosen UBL menggunakan komputer untuk proses pembelajaran

1. Kemampuan dosen menggunakan komputer dasar (Chitanana et al. 2008) 2. Kemampuan dosen menggunakan

internet (Chitanana et al. 2008) Kesiapan

melaksanakan pembelajaran berbasis ICT

Tingkat kesiapan dosen UBL dalam melaksanakan proses pembelajaran yang berbasis ICT dengan memanfaatkan inovasi inherent

1. Keperluan dosen mengikuti pelatihan pemanfaatan inovasi inherent 2. Keperluan dosen terhadap dukungan

tenaga teknik untuk memanfaatkan inovasi inherent

Keuntungan relatif

Tingkat inovasi inherent dirasakan lebih baik

dibandingkan dengan ide lain yang digantikannya

1. Peningkatan mutu proses pembelajaran (Premkumar dan Roberts 1999 dalam Teo et al. 2007)

2. Kemudahan pelaksanaan proses pembelajaran (Teo et al. 2007) 3. Peningkatan efektivitas proses

pembelajaran (Teo et al. 2007) 4. Pengurangan biaya operasional proses

pembelajaran (Teo et al. 2007) Kerumitan Tingkat kerumitan inovasi

inherent untuk dipahami dan digunakan dibandingkan dengan teknologi yang digantikannya

1. Kerumitan penggunaan (Grover 1993 dalam Teo et al. 2007)

2. Kerumitan pengembangan (Parthasarathy

& Bhattacherjee 1998 dalam Teo et al.

2007)

3. Kerumitan untuk dipelajari

(Parthasarathy & Bhattacherjee 1998 dalam Teo et al. 2007)

Kesesuaian Tingkat inovasi inherent dirasakan sebagai sesuatu yang konsisten dengan nilai–

nilai yang berlaku di UBL, pengalaman-pengalaman terakhir dan kebutuhan adopter

1. Nilai dan kepercayaan organisasi (Premkumar & Ramamurthy 1995 dalam Teo et al. 2007)

2. Infrastruktur teknologi informasi yang telah tersedia (Teo & Wong 1997 dalam Teo et al. 2007)

Kemudahan untuk dicoba

Tingkat kemudahan inovasi inherent untuk dicoba pada keadaan sumberdaya yang terbatas

1. Kemudahan inovasi inherent dicoba dengan menggunakan peralatan teknologi informasi yang telah tersedia di UBL 2. Keperluan peralatan tambahan untuk

mencoba inovasi inherent

(6)

Tabel 4 Lanjutan

Variabel Definisi operasional Indikator Pengukuran

Kemudahan untuk dilihat

Tingkat kemudahan inovasi inherent untuk dilihat dan disaksikan hasilnya oleh orang lain.

1. Kemudahan inovasi inherent dilihat dan diakses di seluruh ruang kampus 2. Kemudahan inovasi inherent dilihat

dan diakses di luar kampus Dukungan

pimpinan

Tingkat dukungan pimpinan puncak (top management) perguruan tinggi dalam pemanfaatan inherent untuk kepentingan proses

pembelajaran

1. Antusias pimpinan puncak dalam pemanfaatan inovasi inherent (Premkumar & Roberts 1999 dalam Teo et al. 2007)

2. Kesadaran pimpinan puncak akan keuntungan dari inovasi inherent (Teo et al. 2007)

3. Ketersediaan peraturan pemanfaatan inovasi inherent yang dibuat oleh pimpinan puncak

Sosialisasi keberadaan inherent

Tingkat sosialisasi keberadaan inovasi inherent di UBL

1. Sosialisasi inovasi inherent oleh pimpinan puncak

2. Sosialisasi inovasi inherent oleh pengelola inherent di UBL (Pusat Komputer)

3. Sosialisasi inovasi inherent oleh dosen Penyediaan

sarana dan prasarana

Tingkat penyediaan sarana dan prasarana yang dilakukan perguruan tinggi untuk mendukung pemanfaatan inovasi inherent

Ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung pemanfaatan inovasi inherent

Pengadaan pelatihan

Tingkat pengadaan pelatihan yang diselenggarakan UBL untuk mendukung pemanfaatan inovasi inherent dalam proses pembelajaran

Ketersediaan pelatihan bagi dosen untuk memanfaatkan inovasi inherent

Penyediaan tenaga teknik

Tingkat penyediaan tenaga teknik yang dilakukan oleh perguruan tinggi untuk mendukung pemanfaatan inovasi inherent

Ketersediaan tenaga teknik untuk membantu dosen dalam pemanfaatan inovasi inherent

Pemanfaatan bahan ajar online

Tingkat pemanfaatan fasilitas bahan ajar online inovasi inherent oleh dosen UBL dalam proses pembelajaran

1. Frekwensi dosen UBL mencari ide pembuatan bahan ajar

2. Frekwensi dosen UBL men-download bahan ajar

3. Frekwensi dosen UBL mengunggah bahan ajar

Pemanfaatan fasilitas video- conference

Tingkat pemanfaatan fasilitas video-conference inovasi inherent oleh dosen UBL dalam proses pembelajaran

1. Frekwensi dosen UBL mengikuti kuliah umum melalui fasilitas video- conference inovasi inherent 2. Frekwensi dosen UBL mengikuti

seminar melalui fasilitas video- conference inovasi inherent

(7)

Pengukuran variabel penelitian yang disajikan pada Tabel 4 dilakukan dengan menggunakan skala ordinal. Variabel keterampilan komputer, kesiapan dosen melaksanakan proses pembelajaran berbasis ICT, keuntungan relatif, kerumitan, kesesuaian, kemudahan untuk dicoba, kemudahan untuk dilihat, dukungan pimpinan, sosialisasi keberadaan inherent, penyediaan sarana dan prasarana, pengadaan pelatihan serta penyediaan tenaga teknik diukur dengan menggunakan empat alternatif jawaban, yaitu skor 1 = sangat tidak setuju, skor 2

= tidak setuju, skor 3 = setuju dan skor 4 = sangat setuju. Variabel pemanfaatan bahan ajar online dan pemanfaatan fasilitas video-conference inovasi inherent diukur dengan menggunakan empat alternatif jawaban, yaitu skor 1 = tidak pernah, skor 2 = kadang-kadang, skor 3 = sering dan skor 4 = selalu. Kategori pengukuran variabel penelitian ini terdiri dari empat kategori, yaitu sangat rendah, rendah, tinggi dan sangat tinggi.

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Nasution (2003) mengatakan bahwa alat ukur atau kuesioner penelitian pada umumnya harus memenuhi dua syarat utama, yaitu alat ukur tersebut harus valid (sahih) dan harus reliable (dapat dipercaya). Suatu alat pengukur dikatakan valid jika alat itu mengukur apa yang harus diukur oleh alat itu. Alat pengukur dikatakan reliable jika alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berlainan senantiasa menunjukkan hasil yang sama. Jadi alat yang reliable secara konsisten akan memberikan hasil ukuran yang sama.

Salah satu ukuran validitas untuk sebuah kuesioner adalah apa yang disebut sebagai validitas konstruk (construct validity). Kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan untuk mengukur suatu hal, dikatakan valid jika setiap butir pertanyaan yang menyusun kuesioner tersebut memiliki keterkaitan yang tinggi.

Ukuran keterkaitan antar butir pertanyaan ini umumnya dicerminkan oleh keajegan korelasi jawaban antar pertanyaan. Pertanyaan yang memiliki korelasi rendah dengan butir pertanyaan yang lain, dinyatakan sebagai pertanyaan yang tidak valid. Metode yang sering digunakan untuk memberikan penilaian terhadap validitas kuesioner adalah korelasi produk momen (moment product correlation, Pearson correlation) antara skor setiap butir pertanyaan dengan skor total, sehingga sering disebut sebagai inter item-total correlation. Formula yang

(8)

digunakan untuk menghitung korelasi produk momen tersebut adalah sebagai berikut:

Berdasarkan hasil uji kuesioner terhadap 10 orang, diketahui bahwa korelasi antar butir pertanyaan dengan skor total dari masing-masing variabel penelitian bernilai lebih besar dari 0,5 (Lampiran 2) sehingga instrumen penelitian ini dinyatakan sudah valid.

Jogiyanto (2008) mengatakan bahwa reliabilitas suatu alat ukur (kuesioner) menunjukkan akurasi dan ketepatan dari pengukurnya. Reliabilitas berhubungan dengan akurasi (accurately) dari pengukurnya. Suatu pengukur dikatakan reliabel jika dapat dipercaya. Supaya dapat dipercaya, maka hasil dari pengukuran harus akurat, presisi dan konsisten. Dikatakan konsisten jika beberapa pengukuran terhadap subyek yang sama diperoleh hasil yang tidak berbeda.

Besarnya tingkat reliabilitas dalam hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien reliabilitas.

Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur koefisien reliabilitas dari suatu alat ukur adalah melalui pendekatan koefisien konsistensi internal (coeficient of internal consistency) dari alat ukur. Koefisien korelasi yang tinggi menunjukkan konsistensi internal item-item di alat ukur. Ukuran koefisien konsistensi internal diukur dengan menggunakan koefisien Cronbach alpha.

Formula untuk menghitung koefisien Cronbach alpha adalah sebagai berikut:

ri= ∑ nj=1 xij- xi tj- t

∑ nj=1 xij- xi 2 ∑ nj=1 tj- t2

keterangan:

ri = korelasi antara butir pertanyaan ke-i dengan total skor

xij = skor responden ke-j pada butir pertanyaan i xi = rata-rata skor butir pertanyaan i

tj = total skor seluruh pertanyaan untuk responden ke-j t = rata-rata total skor

r = k

k - 1 1 - k Si2 i=1

ST2

keterangan:

r = koefisien Cronbach alpha k = banyaknya butir pertanyaan Si2

= ragam skor butir pertanyaan ke-i ST2

= ragam skor total

(9)

Berdasarkan hasil uji kuesioner terhadap 10 orang responden contoh diketahui bahwa nilai Cronbach alpha dari setiap variabel penelitian menunjukkan nilai Cronbach alpha berada pada kisaran 0,708 sampai dengan 0,821 (Tabel 5).

Mengingat nilai Cronbach alpha kuesioner penelitian bernilai lebih besar dari 0,666 maka dapat dikatakan bahwa kuesioner penelitian ini adalah reliabel.

Tabel 5 Koefisien Cronbach alpha hasil uji coba kuesioner

Variabel Penelitian Koefisien

Cronbach Alpha Karakteristik Dosen (X1):

X1.1. Keterampilan komputer 0,778

X1.2. Kesiapan melaksanakan proses pembelajaran berbasis ICT

0,809

Karakteristik Inovasi (X2)

X2.1. Keuntungan relatif 0,785

X2.2. Kerumitan 0,821

X2.3. Kesesuaian 0,806

X2.4. Kemudahan untuk dicoba 0,803

X2.5. Kemudahan untuk dilihat 0,842

Karakteristik Perguruan Tinggi (X3)

X3.1. Dukungan pimpinan 0,763

X3.2. Sosialisasi keberadaan inherent 0,818 X3.3. Penyediaan sarana dan prasarana

X3.4. Pengadaan pelatihan X3.5. Penyediaan tenaga teknik

0,763 0,812 0,708 Adopsi Inovasi inherent dalam proses pembelajaran (Y):

Y1. Pemanfaatan bahan ajar online 0,784

Y2. Pemanfaatan fasilitas video-conference 0,776

Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi langsung di lapangan, wawancara dan pengisian kuesioner. Data sekunder dikumpulkan dengan pengambilan basis data khususnya di UBL dan instansi lain yang relevan.

(10)

Analisis Data

Data primer penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif menggunakan nilai rata-rata skor jawaban responden yang dikonsultasikan dengan nilai interval atau rentang skor sesuai dengan jumlah alternatif jawaban dari kuesioner, sedangkan alat analisis inferensial yang digunakan adalah uji korelasi rank Spearman. Formula untuk menghitung korelasi rank Spearman adalah sebagai berikut:

rs =1- 6d2 n (n2-1)

keterangan:

rs = Nilai korelasi rank Spearman d2 = Selisih setiap pasangan rank

n = Jumlah pasangan rank untuk Spearman

Gambar

Gambar 4  Kerangka pemikiran penelitian  Hipotesis Penelitian
Tabel 4   Definisi  operasional  dan  indikator  pengukuran  variabel  penelitian
Tabel 4  Lanjutan

Referensi

Dokumen terkait

Qiyas menurut Ulama’ Ushul fiqh ialah menerangkan hukum sesuatu yang tidak ada nashnya dalam Alqur’an dan Hadits dengan cara membandingkan dengan sesuatu

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI

Dalam hal ini penulis ingin melihat bagaimana program kebijakan Rencana Strategis dari Dinas Pendapatan Propinsi Riau, Renstra juga dapat digunakan sebagai sarana untuk melakukan

Berdasarkan dari berbagai permasalahan di atas, peneliti menganggap bahwa pendekatan Rahmah dalam bimbingan dan konseling Islami layak diangkat dalam penelitian

menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang

Kendala yang dihadapi dalam penerapan strategi pembelajaran aktif Roda Keberuntungan pada pokok bahasan koloid di kelas XI SMA Negeri 5 Pekanbaru diantaranya

Tingkat kerentanan polusi airtanah dangkal di Kecamatan Tongas yang disimpulkan dari hasil pemetaan skor Indeks SINTACS adalah 48,691% Kecamatan Tongas berpotensi

Akibat yang terjadi adalah Pajak Keluaran atas Faktur Pajak Standar yang cacat, bagi pembeli atau pihak yang menerima penyerahan Jasa Kena Pajak atau Barang Kena Pajak Faktur