• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

37 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan dan observasi, serta refleksi. Satu siklus terdapat sebuah kompetensi dasar berdasarkan sebuah standar kompetensi.

Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Alokasi waktu setiap siklus adalah 2 x 35 menit selama dua kali pertemuan.

Setiap siklus dilakukan sesuai dengan langkah-langkah model Contextual Teaching and Learning (CTL) yang terdiri dari tujuh langkah.

Langkah pertama, guru memperkenalkan media Cuisenaire Rods kemudian siswa diminta untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya mengenai materi tentang pecahan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah berikutnya, guru memberikan contoh bagaimana cara menggunakan media Cuisenaire Rods dalam menjumlahkan atau mengurangkan pecahan berpenyebut sama dan kemudian siswa diminta untuk menentukan aturan menjumlahkan atau mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda. Guru memberikan kesempatan pada siswa bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan kemudian memberikan contoh bagaimana cara menggunakan media Cuisenaire Rods dalam menjumlahkan atau mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda.

Kemudian siswa dibagi menjadi 5 kelompok untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru, siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masing-masing, dan siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari, serta guru memberikan latihan soal evaluasi kepada siswa di akhir pembelajaran.

(2)

4.1.1 Pelaksanaan Penelitian 4.1.1.1 Pelaksanaan Pra Siklus

Pra siklus merupakan situasi pembelajaran sebelum diterapkan tindakan dengan menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) menggunakan media Cuisenaire Rods dalam pembelajaran Matematika, diketahui bahwa dari 26 siswa, 15 siswa (57,69%) belum tuntas KKM, dan hanya 11 siswa (42,31%) yang dinyatakan tuntas KKM (64). Berikut ini disajikan perolehan hasil tes matematika pra siklus pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matemaika Pra Siklus Kelas IV SD Negeri Dukuh 03 Salatiga Semester II

Tahun Pelajaran 2015/2016

Nilai Frekuensi Persentase (%) Keterangan

≥ 64 11 42,31% Tuntas

< 64 15 57,69% Tidak Tuntas

Jumlah 26 100%

Nilai Rata-rata 61,77

Nilai Tertinggi 92

Nilai Terendah 30

4.1.1.2 Pelaksanaan Siklus I

Setelah diperoleh data pada pra siklus, maka peneliti melakukan diskusi dengan guru kelas IV mengenai tingkat kesenangan siswa dalam pembelajaran yang kemudian dilanjutkan melaksanakan siklus I.

1. Perencanaan

Perencanaan Siklus I ini terdiri dari dua perencanaan pertemuan, yaitu pertemuan I dan pertemuan II, maka hal-hal yang perlu direncanakan adalah sebagai berikut:

a. memilih dan memutuskan model pembelajaran yang perlu untuk digunakan dalam pembelajaran. Setelah dipertimbangkan, maka dipilih model Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai model pembelajaran;

b. menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berikut media Cuisenaire Rods ataupun yang direncanakan, termasuk lembar

(3)

observasi pembelajaran untuk digunakan dalam pembelajaran Matematika;

c. melakukan konsultasi dengan guru kelas, mengenai model pembelajaran yang dipilih, RPP dan media Cuisenaire Rods yang akan dilaksanakan dalam pembelajaran, maupun lembar observasi pembelajaran, termasuk menyepakati tindakan akan dilaksanakan dalam 2 siklus, di mana masing-masing siklus dilaksanakan dalam 2 pertemuan; dan

d. setelah mendapat persetujuan dengan guru kelas, dilakukan revisi dan mengecek kembali kelengkapan-kelengkapan baik RPP, media Cuisenaire Rods, serta lembar observasi yang akan digunakan dalam tindakan nanti.

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan pada siklus I ini terdiri dari dua pertemuan, yaitu pertemuan I dan pertemuan II. Masing-masing pertemuan berlangsung selama 70 menit (2 × 35 menit). Pertemuan I dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 26 Februari 2016 dan pertemuan II dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 27 Februari 2016.

Pertemuan I (26 Februari 2016) a. Kegiatan Awal

Kegiatan pembelajaran diawali dengan memberikan salam, mengabsensi dan melakukan apersepsi. Apersepsi disampaikan dalam bentuk pertanyaan, yaitu: “Bagaimana aturan menjumlahkan pecahan biasa berpenyebut sama dan berpenyebut tidak sama?” Setelah siswa menjawab apersepsi dengan benar, guru menyampaikan langkah-langkah dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam pembelajaran.

b. Kegiatan Inti

Kegiatan inti yang sesuai dengan langkah-langkah model Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: guru memperkenalkan media Cuisenaire Rods kemudian siswa diminta untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya mengenai materi tentang pecahan

(4)

yang ada dalam kehidupan sehari-hari, guru memberikan contoh bagaimana cara menggunakan media Cuisenaire Rods dalam menjumlahkan pecahan berpenyebut sama kemudian siswa diminta untuk menentukan aturan menjumlahkan pecahan berpenyebut berbeda, siswa dibagi menjadi 5 kelompok untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru dengan membuktikan langkah-langkah penyelesainnya menggunakan media Cuisenaire Rods, kemudian siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masing-masing.

Selama kelompok melakukan presentasi, tampak bahwa dalam anggota kelompok hanya ada beberapa siswa aktif, dan juga memberikan tanggapan. Setelah selesai presentasi, guru melakukan tanya jawab tentang materi pelajaran yang disampaikan, namun sebagian besar siswa lebih banyak diam daripada aktif dalam tanya jawab dengan guru. Setelah waktu tanya jawab selesai, guru mengajak siswa menarik kesimpulan dari materi yang dipelajari.

c. Kegiatan Akhir

Sebelum mengakhiri pelajaran, guru memberikan penguatan, meluruskan pemahaman siswa yang keliru, memberikan motivasi kepada siswa yang pasif untuk memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat ataupun menyanggah yang lain. Setelah itu, guru memberikan soal evaluasi siklus I pertemuan I kepada siswa.

Pertemuan II (27 Februari 2016) a. Kegiatan Awal

Kegiatan pembelajaran diawali dengan memberikan salam, mengabsensi dan melakukan apersepsi. Apersepsi disampaikan dalam bentuk pertanyaan: “Apa saja contoh pecahan yang ada di sekitar kita?”

Hal ini dimaksudkan untuk melatih keaktifan siswa dalam memberikan tanggapan, guru memberikan kesempatan kepada siswa, tanpa menunjuk lebih dahulu siapa yang harus menjawab. Namun, beberapa menit setelah guru menyampaikan pertanyaan, kelas tetap hening. Oleh karena itu, untuk mengatasi keheningan dan menghemat waktu, guru menunjuk salah satu

(5)

siswa menjawab pertanyaan. Selain itu guru juga menyampaikan langkah- langkah dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

b. Kegiatan Inti

Kegiatan inti yang sesuai dengan langkah-langkah model Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: siswa dapat menjelaskan konsep penjumlahan pecahan berpenyebut sama dan berpenyebut tidak sama, guru memberikan soal cerita mengenai penjumlahan pecahan dan meminta membuktikan cara mengerjakannya menggunakan media Cuisenaire Rods, guru memberikan kesempatan pada siswa bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan kemudian memberikan ulasan cara mengerjakan soal cerita menggunakan media Cuisenaire Rods dalam menjumlahkan pecahan, siswa dibagi menjadi 5 kelompok untuk menyelesaikan soal cerita yang diberikan oleh guru dengan membuktikan langkah-langkah penyelesainnya menggunakan media Cuisenaire Rods.

Gambar 4.1

Siswa Bekerjasama dalam Kelompok

Seperti pada pertemuan sebelumnya, selama proses diskusi, diskusi hanya didominasi oleh beberapa siswa, sementara sebagian siswa yang lain tidak terlibat sama sekali dan hanya pasif mendengarkan rekan- rekannya berdiskusi. Setelah itu, siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masing-masing. Selama proses presentasi dan tanya jawab, kelas belum menjadi maksimal, sebagian siswa masih tetap

(6)

menjadi penonton, karena mereka belum percaya diri dan takut dalam menyampaikan jawaban, gagasan, atau pun sanggahan. Mereka berpikir hasil diskusi kelompoknya belum tepat. Selanjutnya siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

c. Kegiatan Akhir

Sebelum mengakhiri pelajaran, guru tetap memberikan motivasi untuk siswa yang belum berani agar memiliki keberanian dalam bertanya. Guru juga meluruskan pemahaman beberapa siswa yang keliru mengenai materi yang diajarkan. Sebelum menutup pelajaran, untuk menguji pemahaman siswa dalam memahami materi dengan model Contextual Teaching and Learning, guru memberikan evaluasi dalam bentuk tes.

3. Observasi

Selama peneliti mengajar, guru sebagai observer merekam jalannya pembelajaran melalui lembar observasi yang telah disediakan. Item pernyataan pada lembar observasi sejumlah 10 item dengan berdasar pada model Contextual Teaching and Learning (CTL) menggunakan media Cuisenaire Rods. Dari rekaman tersebut dapat diketahui apa yang menjadi kelemahan dan kelebihan selama pembelajaran berlangsung, dimana kelemahan akan diperbaiki dan kelebihan akan tetap dipertahankan dalam pertemuan berikutnya. Hal-hal yang menjadi pengamatan selama proses belajar mengajar sebagai berikut:

a. Kinerja Guru

Mengamati kinerja guru, maka instrumen pengamatan yang digunakan adalah observasi guru dalam menerapkan model Contextual Teaching and Learning dengan menggunakan media Cuisenaire Rods pada pembelajaran Matematika materi menjumlahkan dua pecahan biasa yang berpenyebut sama dan dua pecahan biasa yang berpenyebut tidak sama.

b. Aktivitas Siswa

Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menerapkan model Contextual Teaching

(7)

and Learning dengan menggunakan media Cuisenaire Rods. Aktivitas itu antara lain keberanian siswa dalam bertanya, memberikan tanggapan, kemampuan bekerjasama dengan kelompok, kemampuan menyimak materi pelajaran yang diberikan, kemampuan menggunakan media Cuisenaire Rods, dan keberanian dalam menjadi perwakilan dalam presentasi.

c. Evaluasi

Evaluasi dilakukan setelah dilaksanakan pertemuan II pada siklus I. Evaluasi dimaksudkan untuk melihat perubahan ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Setelah diberi tindakan dengan menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) menggunakan media Cuisenaire Rods. Guru menanyakan kendala, pesan, dan kesan selama mengikuti pembelajaran melalui model Contextual Teaching and Learning dengan menggunakan media Cuisenaire Rods.

Berikut adalah jawaban siswa ketika diadakan evaluasi yaitu senang dengan adanya model Contextual Teaching and Learning karena bisa menggunakan media secara nyata dan dapat langsung mempraktikkannya dengan memberi warna pada kertas yang sudah disediakan guru, meningkatkan kreativitas siswa, dan bekerja sama dalam kelompok dengan cara berhitung. Guru juga memberikan evaluasi bahwa kita harus saling bekerjasama dalam kelompok dan memperhatikan kelompok yang sedang presentasi.

4. Refleksi

Setelah diberikan tindakan, maka pada kegiatan akhir, perlu dilakukan refleksi. Refleksi dimaksudkan untuk melihat kekurangan- kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran. Setelah melihat data temuan, maupun hasil diskusi dengan guru, maka hal-hal yang menjadi kekurangan selama siklus I sebagai berikut:

a. guru belum memaksimalkan kelas, sehingga diskusi masih didominasi oleh siswa yang aktif, sedangkan siswa lain yang pasif hanya menonton tanpa terlibat;

(8)

b. masih banyak siswa yang belum dapat memberikan jawaban ketika diajukan pertanyaan karena sebenarnya mereka belum paham dengan materi pembelajaran, tetapi pada saat diberi kesempatan untuk bertanya, mereka bingung bagian mana yang akan ditanyakan;

c. siswa masih belum memaksimalkan penggunaan media Cuisenaire Rods;

d. siswa masih belum memaksimalkan bertanya ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas karena siswa tidak percaya diri dan takut ditertawakan oleh teman-temannya; dan

e. masih banyak siswa yang belum terlibat dalam tanya jawab.

4.1.1.3 Pelaksanaan Siklus II 1. Perencanaan

Sebelum melakukan tindakan pada siklus II, maka disusun perencanaan yang akan dilakukan selama proses pelaksanaan tindakan pada siklus II. Hal-hal yang dipertimbangkan untuk dilakukan perbaikan adalah:

a. agar kelas dimaksimalkan, maka guru membagi peran siswa, di mana siswa pasif lebih banyak dilibatkan, sedangkan siswa yang aktif dilibatkan menjadi pendamping siswa aktif;

b. sebelum melanjutkan kepada pemaparan materi dan pembagian tugas, terlebih dahulu dilakukan tanya jawab untuk menguji pemahaman siswa. Siswa yang aktif diminta untuk membantu siswa pasif dalam menemukan jawaban pertanyaan; dan

c. agar siswa dapat terlibat dalam tanya jawab, siswa yang pasif dikoordinir untuk mengemukakan ide, sementara siswa yang aktif diminta untuk menanggapi.

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan pada siklus II ini terdiri dari dua pertemuan, yaitu pertemuan I dan pertemuan II. Masing-masing pertemuan berlangsung selama 70 menit (2 × 35 menit). Pertemuan I dilaksanakan pada hari Sabtu

(9)

tanggal 12 Maret 2016 dan pertemuan II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 16 Maret 2016.

Pertemuan I (12 Maret 2016) a. Kegiatan Awal

Pada pertemuan pertama, kegiatan diawali dengan memberikan salam, melakukan absensi, guru membuka pelajaran dan memberikan apersepsi.

Apersepsi disampaikan dalam bentuk pertanyaan, yaitu: “Bagaimana aturan mengurangkan pecahan biasa berpenyebut sama dan berpenyebut tidak sama?” Hal ini juga dimaksudkan untuk mengaktifkan siswa di awal pembelajaran. Selain itu, guru menyampaikan langkah-langkah dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

b. Kegiatan Inti

Kegiatan inti yang sesuai dengan langkah-langkah model Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: guru memberikan satu soal sederhana mengenai pecahan kemudian meminta siswa untuk menyelesaikannya. Guru menunjuk siswa yang aktif untuk membantu menemukan jawaban kemudian meminta siswa yang pasif untuk mengerjakan ke depan kelas. Guru memberikan pembenaran bagaimana cara menyelesaikan soal sederhana tadi dengan menggunakan media Cuisenaire Rods dalam mengurangkan pecahan berpenyebut sama kemudian siswa diminta untuk menentukan langkah mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda. Pada hal ini juga diberlakukan hal yang sama yaitu meminta siswa yang aktif mendampingi siswa yang pasif untuk menemukan jawaban, selanjutnya siswa pasif diminta untuk mengutarakan hasil jawaban.

Siswa dibagi menjadi 5 kelompok untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru dengan membuktikan langkah-langkah penyelesainnya menggunakan media Cuisenaire Rods. Sama seperti pada siklus sebelumnya, selama proses diskusi, guru menunjuk siswa yang aktif untuk menjadi ketua dalam kelompok. Siswa yang aktif ini juga membantu siswa yang lain untuk menemukan jawaban. Setelah siswa menemukan jawaban

(10)

atas pertanyaan, guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Siswa yang kurang aktif diminta untuk mempresentasikan, sementara anggota kelompok yang aktif ditugaskan untuk menanggapi jawaban, apabila ada tanggapan dari kelompok lain, dan siswa yang kurang menyimak diminta untuk mencatat hasil diskusi. Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

c. Kegiatan Akhir

Sebelum mengakhiri pelajaran, guru memberikan penguatan, meluruskan pemahaman siswa yang keliru, memberikan motivasi kepada siswa yang kurang aktif untuk lebih memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat ataupun menyanggah yang lain. Setelah itu, di akhir pembelajaran guru memberikan soal evaluasi kepada siswa.

Pertemuan II (16 Maret 2016) a. Kegiatan Awal

Pada pertemuan II, kegiatan diawali dengan memberikan salam, guru membuka pelajaran dan memberikan apersepsi. Sebelum siswa diberikan apersepsi, guru bertanya “Siapa yang masih ingat materi yang dibahas sebelumnya?” Setelah salah satu siswa mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan guru, selanjutnya guru menyampaikan apersepsi dengan cara bertanya “Apa saja contoh pecahan yang ada di sekitar kita?” Saat guru melontarkan pertanyaan sudah terlihat banyak siswa yang angkat tangan untuk menjawab. Setelah pertanyaan terjawab, selanjutnya guru menyampaikan lagkah-langkah dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

b. Kegiatan Inti

Kegiatan inti yang sesuai dengan langkah-langkah model Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: siswa dapat menjelaskan konsep pengurangan pecahan berpenyebut sama dan berpenyebut berbeda.

Guru memberikan soal cerita mengenai pengurangan pecahan dan meminta membuktikan cara mengerjakannya menggunakan media

(11)

Cuisenaire Rods, pada hal ini siswa terlihat aktif dan mengangkat tangan untuk mengerjakan maju di depan kelas. Guru memberikan kesempatan pada siswa bertanya tentang materi pelajaran yang disampaikan kemudian memberikan ulasan cara mengerjakan soal cerita menggunakan media Cuisenaire Rods dalam menjumlahkan pecahan, siswa terlihat antusias untuk bertanya kepada guru.

Gambar 4.2

Siswa Aktif dalam Tanya Jawab

Siswa dibagi menjadi 5 kelompok untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru dengan membuktikan langkah-langkah penyelesainnya menggunakan media Cuisenaire Rods. Sama seperti pada pertemuan sebelumnya, selama proses diskusi, guru menunjuk siswa yang aktif untuk menjadi ketua dalam kelompok. Siswa yang aktif ini juga membantu siswa yang lain untuk menemukan jawaban. Setelah siswa menemukan jawaban atas pertanyaan, guru meminta perwakilan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Siswa yang kurang aktif diminta untuk mempresentasikan, sementara anggota kelompok yang aktif ditugaskan untuk menanggapi jawaban, apabila ada tanggapan dari kelompok lain, dan siswa yang kurang menyimak diminta untuk mencatat hasil diskusi. Setelah semua kelompok selesai presentasi, guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

(12)

c. Kegiatan Akhir

Sebelum mengakhiri pelajaran, guru memberikan evaluasi berupa tes.

Hal ini digunakan untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus II.

3. Observasi

Selama peneliti mengajar, guru sebagai observer merekam jalannya pembelajaran melalui lembar observasi yang telah disediakan. Item pernyataan pada lembar observasi sejumlah 10 item dengan berdasar pada model Contextual Teaching and Learning (CTL) menggunakan media Cuisenaire Rods. Dari rekaman tersebut dapat diketahui apa saja yang telah diperbaiki dari pembelajaran siklus I. Hal-hal yang menjadi pengamatan selama proses belajar mengajar sebagai berikut:

a. Kinerja Guru

Mengamati kinerja guru, maka instrumen pengamatan yang digunakan adalah observasi guru dalam menerapkan model Contextual Teaching and Learning dengan menggunakan media Cuisenaire Rods pada pembelajaran Matematika materi menjumlahkan dua pecahan biasa yang berpenyebut sama dan dua pecahan biasa yang berpenyebut tidak sama, serta memecahkan masalah yang berhubungan dengan menjumlahkan pecahan biasa yang berpenyebut sama dan pecahan biasa yang berpenyebut tidak sama.

b. Aktivitas Siswa

Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menerapkan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menggunakan media Cuisenaire Rods.

Aktivitas itu antara lain keberanian siswa dalam bertanya, memberikan tanggapan, kemampuan bekerjasama dengan kelompok, kemampuan menyimak materi pelajaran yang diberikan, kemampuan menggunakan media Cuisenaire Rods, dan keberanian dalam menjadi perwakilan dalam presentasi.

(13)

c. Evaluasi

Evaluasi dilakukan setelah dilaksanakan pertemuan II pada siklus II. Evalusi dimaksudkan untuk melihat perubahan ketuntasan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika, setelah diberikan tindakan dengan menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL) menggunakan media Cuisenaire Rods. Guru menanyakan kendala, pesan, dan kesan selama pembelajaran menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL). Guru memberikan evaluasi bahwa pada siklus II ini pembelajaran sangat baik karena siswa dapat mengikuti instruksi dari guru, siswa tampak senang dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran. Siswa juga memberikan evaluasi bahwa mereka senang dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media Cuisenaire Rods, karena ini merupakan sesuatu hal yang baru dan tidak membuat bosan.

4. Refleksi

Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus II, diadakan refleksi.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dikatakan bahwa setelah melaksanakan perbaikan-perbaikan selama tindakan pada siklus II, pembelajaran yang diterapkan berhasil. Keberhasilan ini didukung oleh peningkatan kinerja guru dalam memperhatikan karakteristik tia-tiap siswa. Oleh karena itu, dengan memperhatikan karakteristik dan mempertimbangkan peran-peran yang harus dilakukan dalam melaksanakan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media Cuisenaire Rods, memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

4.1.2 Deskripsi Data Hasil Penelitian

Pada sub bab ini akan ditampilkan data hasil belajar matematika pada siklus I dan siklus II. Data yang ditampilkan adalah data apa adanya tanpa analisis tetapi dengan menggunakan teori dan penelitian yang relevan.

(14)

4.1.2.1 Deskripsi Data Hasil Belajar Matematika Siklus I

Setelah diadakan perbaikan pembelajaran ternyata ada peningkatan hasil belajar siswa. Adapun hasil belajar belajar siswa disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siklus I Kelas IV SD Negeri Dukuh 03 Salatiga Semester II

Tahun Pelajaran 2015/2016

No Kelas Interval Frekuensi Persentase

1. 91-100 7 26,92%

2. 81-90 3 11,54%

3. 71-80 6 23,08%

4. 61-70 5 19,23%

5. 51-60 5 19,23%

Jumlah 26 100%

Dari tabel di atas, dapat dilihat hasil belajar matematika bahwa dari 26 siswa yang mendapat nilai 91 sampai 100 sebanyak 7 siswa (26,92%), nilai 81 sampai 90 sebanyak 3 siswa (11,54%), nilai 71 sampai 80 sebanyak 6 siswa (23,08%), dan nilai 61-70 sebanyak 5 siswa (19,23%), serta nilai 51 sampai 60 sebanyak 5 siswa (19,23%). Hasil belajar tersebut dapat disajikan pada Diagram 4.1.

Diagram 4.1

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siklus I Kelas IV SD Negeri Dukuh 03 Salatiga Semester II

Tahun Pelajaran 2015/2016

0 1 2 3 4 5 6 7

91-100 81-90 71-80 61-70 51-60

Frakuensi

Kelas Interval

(15)

4.1.2.2 Deskripsi Data Hasil Belajar Matematika Siklus II

Hasil belajar matematika pada perbaikan pembelajaran siklus II yang disajikan dalam Tabel 4.3.

Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siklus II Kelas IV SD Negeri Dukuh 03 Salatiga Semester II

Tahun Pelajaran 2015/2016

No Kelas Interval Frekuensi Persentase

1. 91-100 9 34,62%

2. 81-90 5 19,23%

3. 71-80 10 38,46%

4. 61-70 0 -

5. 51-60 2 7,69%

Jumlah 26 100%

Berdasarkan Tabel 4.3, dapat dilihat hasil belajar siswa bahwa dri 26 siswa yang mendapat nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 2 siswa, jadi pembelajaran pada siklus II ini bisa dikatakan berhasil. Hasil belajar tersebut dapat disajikan dalam bentuk Diagram 4.2.

Diagram 4.2

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Siklus II Kelas IV SD Negeri Dukuh 03 Salatiga Semester II

Tahun Pelajaran 2015/2016

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

91-100 81-90 71-80 61-70 51-60

Frekuensi

Kelas Interval

(16)

4.1.3 Analisis Data

Ketuntasan bahwa analisis data dilakukan dalam dua tahapan yaitu analisis ketuntasan dan analisis komparatif.

4.1.3.1 Analisis Ketuntasan

Berikut adalah hasil belajar matematika melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menggunakan media Cuisenaire Rods yang tuntas sebanyak 20 siswa (76,92%) sedangkan yang belum tuntas dalam belajarnya atau mendapatkan nilai di bawah KKM yaitu < 64 sebanyak 6 siswa (23,08%). Hasil siklus I dengan nilai tertinggi adalah 100 dan nilai terendah adalah 55 dengan KKM 64. Hal ini berarti target keberhasilan siklus I sudah tercapai, karena hasil belajar tersebut meningkat. Perolehan hasil belajar matematika setelah tindakan pada siklus I disajikan pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4

Hasil Belajar Matematika Siklus I

No Nilai Frekuensi Persentase Keterangan

1. ≥ 64 20 76,92% Tuntas

2. < 64 6 23,08% Tidak Tuntas

JUMLAH 26 100%

Nilai Rata-Rata 77,31

Nilai Tertinggi 100

Nilai Terendah 55

Hasil belajar siswa pada tahap siklus I juga disajikan dalam bentuk diagram untuk melihat perbedaan persentase siswa yang tuntas dan tidak tuntas. Ketuntasan hasil belajar matematika pada tahap siklus I terlihat pada Diagram 4.3.

Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka siklus I dapat dikatakan sudah berhasil, sehingga dilaksanakan siklus II sebagai pemantapan. Hal ini membuktikan bahwa dengan penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) menggunakan media Cuisenaire Rods dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

(17)

Diagram 4.3

Hasil Belajar Matematika Siklus I

Selain itu, juga disajikan hasil belajar matematika siklus II dengan nilai tertinggi adalah 100 dan nilai terendah adalah 55. Berdasarkan nilai yang diperoleh siswa pada tes siklus II, jumlah siswa yang tuntas yaitu 24 siswa (92,31%) sedangkan siswa yang tidak tuntas yaitu 2 siswa (7,69%).

Untuk lebih memperjelas hasil belajar matematika pada pembelajaran siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5

Hasil Belajar Matematika Siklus II

No Nilai Frekuensi Persentase Keterangan

1. ≥ 64 24 92,31% Tuntas

2. < 64 2 7,69% Tidak Tuntas

JUMLAH 26 100%

Nilai Rata-Rata 85

Nilai Tertinggi 100

Nilai Terendah 55

Hasil belajar siswa pada tahap siklus II juga dapat dilihat dalam bentuk diagram untuk melihat perbedaan persentase siswa yang tuntas dan tidak tuntas. Ketuntasan hasil belajar matematika tahap siklus II disajikan pada Diagram 4.4.

0.00%

20.00%

40.00%

60.00%

80.00%

TUNTAS TIDAK TUNTAS TUNTAS TIDAK TUNTAS

(18)

Diagram 4.4

Hasil Belajar Matematika Siklus II

Berdasarkan Tabel 4.5 dan Diagram 4.4, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika pada siklus II mencapai batas ketuntasan yang sudah ditetapkan. Hal ini membuktikan bahwa dengan penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) menggunakan media Cuisenaire Rods dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

4.1.3.2 Analisis Komparatif

Berdasarkan hasil analisis ketuntasan yang telah dilakukan, berikut disajikan data analisis komparatif ketuntasan hasil belajar pra siklus, siklus I, dan siklus II dengan nilai KKM 64. Analisis komparatif adalah bentuk penyajian data dalam bentuk perbandingan frekuensi ketuntasan siswa mulai dari pra siklus, siklus I, dan siklus II. Hasil yang diperoleh dalam hasil komparatif ini, akan dibandingkan dengan indikator kinerja yang telah dibuat pada bab III.

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

80.00%

90.00%

100.00%

TUNTAS TIDAK TUNTAS

TUNTAS TIDAK TUNTAS

(19)

Berdasarkan dari hasil tes pada tahap pra siklus, siklus I, dan siklus II, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklus. Rata-rata kelas pada tes pra siklus aadalah 61,77, pada tes siklus I adalah 77,31 dan pada tes siklus II adalah 85. Tingkat ketuntasan pada siklus II dapat dijadikan kesimpulan bahwa penelitian tindakan kelas yang dilakukan peneliti berhasil. Perbandingan ketuntasan pra siklus, siklus I, dan siklus II disajikan pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6

Perbandingan Hasil Belajar Matematika Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

Perbandingan hasil belajar matematika pra siklus, siklus I, dan siklus II juga dapat dilihat dalam bentuk diagram untuk melihat perbedaan persentase siswa yang tuntas dan tidak tuntas. Perbandingan hasil belajar matematika pra siklus, siklus I, dan siklus II disajikan pada Diagram 4.5.

Diagram 4.5

Perbandingan Hasil Belajar Matematika Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II

No Keterangan Pra Siklus Siklus I Siklus II

f % f % f %

1. Tuntas 11 42,31% 20 76,92% 24 92,31%

2. Tidak Tuntas 15 57,69% 6 23,08% 2 7,69%

Nilai Rata-Rata 61,77 77,31 85

Nilai Tertinggi 92 100 100

Nilai Terendah 30 55 55

0.00%

10.00%

20.00%

30.00%

40.00%

50.00%

60.00%

70.00%

80.00%

90.00%

100.00%

PRA SIKLUS SIKLUS I SIKLUS II TUNTAS TIDAK TUNTAS

(20)

4.2 Pembahasan Hasil Penelitian

Dari hasil analisis komparatif yang telah dilakukan, maka diperoleh data bahwa mulai pra siklus, siklus I, dan siklus II terdapat ketuntasan klasikal yang ditetapkan dari sekolah sebesar 75%, siswa mengalami kenaikan yaitu 42,31% pada pra siklus, naik menjadi 76,92%

pada siklus I, dan naik lagi menjadi 92,31% pada siklus II serta jumlah persentase siswa yang tidak tuntas mengalami penurunan. Kenaikan secara klasikal dari pra siklus, ke siklus II, serta ke siklus II disebabkan karena guru mengajak siswa untuk aktif dalam menggunakan media sehingga siswa dapat mengkonstruksi dan menemukan secara mandiri suatu penemuan dari sebuah masalah.

Penemuan ini juga didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Candra Irawan Galih (2014) dan Yessy Pandanwangi (2014) bahwa melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan menggunakan media Cuisenaire Rods dapat meningkatkan hasil belajar matematika. Pembelajaran melalui model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media Cuisenaire Rods dapat meningkatkan hasil belajar matematika hal ini dipicu karena siswa terlihat antusias ketika guru memberikan contoh penggunaan media Cuisenaire Rods dan membangun kreativitas mereka dengan praktik secara langsung melalui pemberian warna yang telah ditentukan. Secara tidak sadar siswa telah melakukan beberapa perekaman informasi secara berkala yaitu mulai dari menemukan sendiri, diskusi, dan mencatat.

Hasil observasi pada pra siklus menunjukkan bahwa proses belajar mengajar belum sepenuhnya optimal, penyampaian materi masih menggunakan metode konvensional dan belum memaksimalkan penggunaan media pembelajaran sehingga siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, serta hasil belajar matematika rendah terbukti dengan masih banyak siswa yang belum mencapai nilai KKM. Bentuk solusi dari permasalahan ini adalah melalui penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media Cuisenaire.

(21)

Kemampuan siswa dalam menjumlahkan dan mengurangkan dua pecahan biasa berpenyebut sama dan dua pecahan biasa berpenyebut tidak sama pada siklus I masih belum optimal sedangkan aktivitas guru dalam melaksanakan model Contextual Teaching and Learning (CTL) sudah cukup baik. Pada awal siklus I, siswa belum terbiasa menggunakan model Contextual Teaching and Learning (CTL) karena model pembelajaran ini belum digunakan oleh guru, terlihat dari belum sepenuhnya siswa menyimak penjelasan materi yang disampaikan oleh guru dan belum mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan awalnya mengenai materi yang dipelajari. Pada saat guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dimengerti, hanya sedikit siswa yang berani bertanya. Selain itu, selama proses diskusi berlangsung, diskusi hanya didominasi oleh beberapa siswa, sementara sebagian siswa yang lain tidak terlibat sama sekali dan hanya pasif mendengarkan rekan- rekannya berdiskusi. Setelah itu, siswa diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya masing-masing. Selama proses presentasi dan tanya jawab, kelas belum menjadi maksimal, karena sebagian siswa masih tetap menjadi penonton selama proses belajar.

Gambar 4.3

Siswa Melakukan Presentasi di Depan Kelas

(22)

Pada akhir pertemuan, guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, namun siswa yang menjawab masih sama hanya beberapa saja. Selanjutnya, guru memberikan evaluasi berupa tes untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan siswa memahami materi yang telah diberikan. Hasil belajar yang diperoleh siswa mengalami peningkatan dari pra siklus, terbukti lebih banyak siswa yang mendapat nilai di atas KKM. Oleh sebab itu, peneliti dan siswa harus bekerjasama lebih baik lagi dalam pembelajaran di siklus II agar penerapan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan media Cuisenaire Rods dapat terlaksana dengan efektif.

Keadaan siswa pada siklus II ini jauh lebih baik. Proses belajar mengajar berjalan lancar karena antara guru dan siswa terjalin interaksi yang baik selama proses pembelajaran. Siswa dapat mengikuti seluruh instruksi dari guru sehingga pembelajaran lebih mudah dan menyenangkan karena semua siswa dapat terlibat. Siswa terlihat bersungguh-sungguh dalam memperhatikan penjelasan dari guru, sebagian besar siswa mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan awalnya mengenai materi yang dipelajari. Selain itu, siswa mampu menemukan sendiri pengetahuannya dengan materi yang akan disampaikan dan mereka sangat aktif untuk bertanya apabila ada materi yang belum mereka pahami. Pada saat dibagi dalam kelompok, kerja sama siswa pada tiap-tiap kelompok jauh lebih maksimal mereka saling bertukar pikiran dan terlihat menyenangkan karena mereka belajar sambil mempraktikkan penggunaan media Cuisenaire Rods dengan memberikan warna pada lembar jawab yang disediakan dan aturan pemberian warna yang sudah ditentukan. Siswa yang kurang aktif diminta untuk mempresentasikan, sementara anggota kelompok yang aktif ditugaskan untuk menanggapi jawaban, apabila ada tanggapan dari kelompok lain, dan siswa yang kurang menyimak diminta untuk mencatat hasil diskusi setelah itu guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan materi yang telah dipelajari.

(23)

Gambar 4.4

Siswa Mengerjakan Tes Evaluasi

Pada akhir pembelajaran, guru memberikan tes evaluasi, guna mengetahui peningkatan hasil belajar matematika pada siklus II ini.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, secara umum siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik karena terlihat sangat antusias dan bisa mengikuti seluruh instruksi dari guru, mereka senang karena mereka terlibat langsung dalam menggunakan media pembelajaran, aktif dalam bertanya, memberikan tanggapan, dan bersedia maju ke depan untuk mengerjakan soal. Selain itu, siswa sangat percaya diri saling bertukar ide/gagasan untuk menyelesaikan soal dan mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompok. Peneliti menyadari benar kekurangan-kekurangan pada setiap pembelajaran sehingga peneliti lebih optimal dalam mengarahkan dan membimbing siswa pada pada pembelajaran selanjutnya sehingga hasil belajar siswa juga jauh lebih baik seperti yang diharapkan.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa pelajaran dengan menggunakan model Contextual Teaching Learning (CTL) yang dipergunakan dalam mempelajari konsep pecahan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dilaksanakan dengan menggunakan tujuh langkah sebagai berikut: (a)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pembelajaran menggunakan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat meningkatkan pemahaman konsep pecahan pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dengan mengunakan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) dapat meningkatkan pemahaman siswa atas konsep penjumlahan

Pendekatan Contextual teaching and learning (CTL) Kemampuan pemahaman Konsep dalam menyelesaiakan soal pecahan dalam soal cerita. Menyelesaikan

Pada kegiatan inti, guru menjelaskan materi awal dengan menggunakan power point pada layar LCD, setelah itu guru membuat peta konsep di papan tulis yang berisi

Uji hipotesis dianalisis dengan menggunakan uji-t untuk mengetahui apakah Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dengan setting Think Pair Share (TPS)

Dengan penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning, proses belajar mengajar di MI Miftakhul ‘Ulum Mojoagung Plantungan Kendal menunjukkan peningkatan hal